THE PORTAL [ Part 3B : You Will Find Me ]

The Portal new

Title :

The Portal

 

Main Cast :

– A Pink’s Jung Eunji / Jung Hyerim as The Princess of Junghwa Kingdom

– INFINITE’s Lee Howon / Hoya as The Bodyguard

– A Pink’s Son Naeun / Son Yeoshin as the Good Witch

– INFINITE’s Kim Myungsoo / L as the Bad Witch

 

Genre : Fantasy, Romance, Friendship, and little bit Comedy (soon)

 

Other Casts :

– CNBlue’s Jung Yonghwa as The King / Eunji’s Father

– SNSD’s Seo Joohyun as The Queen / Eunji’s Mother

– BAP’s Jung Daehyun as The First Prince / Eunji’s brother

– F(x)’s Jung Soojung / Krystal as The Second Princess / Eunji’s sister

– BtoB’s Jung Ilhoon as The Second Prince / Eunji’s Brother

– SNSD’s Lee Soonkyu / Sunny as The Palace’s Witch

 

– EXO’s Kim Jongin / Kai as the handsome mysterious person

– EXO’s Do Kyungsoo / D.O as an ordinary boy

– EXO’s Byun Baekhyun as the Prince in another Kingdom

– A Pink’s Yoon Bomi as Eunji’s foster sister

– B2ST’s Yoon Doojoon & 4Minute’s Heo Gayoon as Eunji’s foster parents

– INFINITE’s Nam Woohyun as Naeun’s foster brother

– INFINITE’s Lee Sungyeol as Myungsoo’s best friend

– B2ST’s Son Dongwoon as Naeun’s Brother

– B.E.G’s Son Gain as Naeun’s Sister

– SNSD’s Kim Hyoyeon as the most mysterious witch in Junghwa

– A Pink’s Kim Namjoo as Hyoyeon’s foster daughter

 

Rating : PG15 – NC17

Type : Chaptered

 

Before Story :

Hilangnya Hyerim dan Yeoshin membuat seisi istana panik. Howon dengan terpaksa menyerahkan diri untuk bersedia mencari Hyerim atas paksaan Madame Sunny yang ternyata menginginkan Howon untuk membunuh L, yang akan pergi melakukan pencarian bersama Howon demi Yeoshin.

Sementara itu, Hyerim dan Yeoshin sendiri telah berhasil menemui Hyoyeon, penyihir terhebat di negeri mereka. Diluar dugaan, Hyoyeon yang notabene penyihir jahat memperlakukan  mereka dengan hangat dan baik. Setelah ditelaah, ternyata Hyoyeon telah menghidupkan sisi baik seorang manusia yang menjadi ibu kandung dari Namjoo, anak angkatnya. Hal tersebut berhubungan dengan teori dua sisi yang menjadi penemuan besar Hyoyeon, teori yang mengatakan bahwa semua penyihir jahat di negeri mereka akan menemukan sosok manusia yang memiliki kemiripan fisik dan sifat yang bertolak belakang dengan penyihir tersebut.

Hyerim dan Yeoshin akan segera membuktikan kebenaran teori tersebut karena mereka telah memasuki portal menuju dunia nyata. Namun masalah baru mencuat ketika L dan Howon menemukan mereka bahkan ikut memasuki portal tersebut dan menyusul mereka!

Apa yang akan terjadi selanjutnya? Seperti apa kehidupan baru Hyerim dan Yeoshin sebagai Eunji dan Naeun di dunia nyata? Siapkah Hyerim menjadi gadis biasa tanpa gelar putri Raja? Siapkah Yeoshin hidup sendiri tanpa dicintai oleh siapapun karena auranya yang telah dicabut oleh L? Dan akankah L serta Howon menjadi orang lain demi menemukan mereka?

Selamat datang di plot dunia nyata.

 

Selengkapnya :

Part 1 : I Hate My Life

Part 2 : Big Decision

Part 3A : I Will Find You

SPECIAL SUMMARY FOR NEW STORYLINE

NB : Maaf telat. Author kehilangan mood untuk menulis beberapa hari terakhir ini 😦

Sebagai gantinya, seperti biasa part ini cukup panjang.

Happy reading !

***

 

Author POV

Seoul, 17th of January 2014

Seoul Girls House, 06.00 AM …

 

“ Apa hanya aku satu-satunya orang yang merasa aneh memakai pakaian ini?”

“ Ck. Tidak, nona Eunji. aku juga.”

“ Hahaha! Kau lucu sekali memakai pakaian itu, nona Son!”

“ Hei, kalian kira itu kostum badut? Mengapa kalian bilang lucu?”

Sontak kedua gadis bernama Naeun dan Eunji itu tutup mulut ketika seorang wanita berdiri di depan pintu kamar mereka. Wanita itu meletakkan dua buah tas selempang berwarna merah dan kuning yang cukup norak di lantai kamar.

“ Pakai tas kalian, setelah itu sarapan bersama-sama. Barang-barang kalian sudah kumasukkan ke dalam koper dan sudah dikirim ke asrama. Ppaliwa, jangan sampai terlambat. Hari ini kalian sudah mulai MOS dan masuk asrama.”ucap wanita itu singkat lalu berbalik dan pergi.

“ Ini milikku!!” Eunji segera berlari menuju tas berwarna merah, mengambil dan memeluknya erat-erat setelah itu mehrong kearah Naeun yang terpaksa mengambil tas berwarna kuning norak yang tersisa.

Naeun memajukan bibirnya, namun ia tak ambil pusing. Ia segera mengambil tongkat dari balik punggungnya dan merubah warna tas itu menjadi warna ‘kebangsaan’ sihirnya, hitam. Setelah itu melenggang keluar kamar menuju tempat makan karena ibu panti serta gadis-gadis penghuni panti yang lain sudah menunggu mereka.

“…ya! tunggu! Pelan-pelan, aku tidak terbiasa memakai pakaian seperti ini!” Eunji berlari kecil dan memeluk lengan Naeun dengan lemas sembari sesekali menurunkan roknya yang hanya berukuran lima belas sentimeter itu.

“ Kau kira aku terbiasa? Ini seragam sekolah yang aneh. Roknya pendek sekali.” Naeun ikut mengeluh, “…coba saja sekolah sihirku di Junghwa berseragam seperti ini….”

“ Pasti sudah lama L memperkosamu.”potong Eunji dengan jahil dan setengah berbisik, membuat Naeun spontan menginjak kakinya.

“ YA! Jangan sebut namanya lagi!”teriak Naeun kesal, sejak menapakkan kaki di dunia nyata, Hyerim yang sudah bermetamorfosa menjadi Eunji ini memang sering menggodanya. Memang, Eunji terlihat bahagia meski harus tinggal di panti asuhan khusus perempuan seperti ini daripada berdiam diri di istana yang terasa seperti penjara. Lain halnya dengan Naeun yang masih dihantui ribuan pikiran dan resiko yang akan ia hadapi selama tinggal di dunia nyata. Apalagi jika sudah disinggung tentang L, ia bisa depresi mendadak.

“ Bagaimana bisa aku berhenti menyebut namanya? Ia orang terkenal di Junghwa. Dia penyihir yang tampan dan hebat. Dia suamimu, Son Yeoshin..~” Eunji masih menggodanya sembari terkekeh puas.

“ Dia bukan suamiku!” jawab Naeun tegas, meski kenyataannya memang demikian.

“ YA! kalian bicara apa?? cepat duduk!” wanita yang tadi mendatangi kedua gadis itu kembali memberikan teguran karena Naeun dan Eunji malah ‘bergunjing’ sendiri dan tidak sampai-sampai juga ke meja makan.

“ Mianhae, hehe. Kau sih!” Eunji melempar death glare kearah Naeun.

“ Ya! kau yang memulai!” balas Naeun.

“ Ck, duduk!” wanita itu kembali mengeluarkan sisa kesabarannya, kedua gadis itupun akhirnya duduk dan mulai menyantap sarapan mereka.

 

“ Tuh kan, apa kubilang. Mereka berdua orang aneh.”

Beberapa anak gadis dengan seragam sekolah yang sama dan turut duduk di bangku meja makan mulai menggunjing kedua gadis yang baru saja menjadi penghuni baru panti asuhan mereka. Mereka saling merapat agar wanita -ibu panti mereka- itu tidak mendengar gunjingan mereka.

“ Kurasa dugaanmu benar. Semalam aku lihat mereka ketakutan mendengar telepon berdering.”

“ Aku juga mendengar mereka menyebut televisi sebagai ‘kotak aneh yang menyala’.”

“ Bukan hanya perilaku dan omongan mereka. Lihat saja penampilan mereka. Gadis bernama Naeun itu, dia selalu memakai pakaian serba hitam. Bahkan kata Bunda Yuri, seisi tasnya barang berwarna hitam semua. Dan gadis bernama Eunji itu, dia selalu memakai gaun. Saat ia baru datang kemari saja aku kira dia gadis yang baru saja kabur dari upacara pernikahan. Jangan-jangan seisi tasnya gaun semua.”

“ Mungkin saat rumah mereka terbakar hanya gaun dan barang-barang hitam itu yang bisa mereka selamatkan.”

“ Itu konyol. Aku saja masih tidak percaya mereka yatim piatu karena rumah mereka kebakaran. Kalau memang kebakaran, mengapa mereka tidak datang dengan wajah penuh dengan noda hitam?”

“ Kau benar. Kalau memang rumah mereka kebakaran, mengapa tidak ada berita di koran tentang itu? aku yakin mereka bohong.”

“ Mereka patut dicurigai.”

“ Betul. Dengar sendiri kan sekarang? Mereka suka membicarakan hal-hal aneh.”

 

 “ Ya! tidak ada selai darah manusia. Tidak enak! Eh..” Naeun buru-buru menutup mulutnya ketika semua mendadak menghentikan makan mereka karena merasa mual.

 

“ Nah! Dengar lagi kan sekarang? Darah manusia! Apa dia sudah gila???” gadis-gadis itu semakin bergunjing dan Eunji bisa mendengar semuanya dengan sangat jelas.

 

“ Heh! Kau gila?! Mana mungkin menu makanan disini dan di dunia sihir itu sama!” Eunji segera menginjak kaki Naeun.

“ Tapi.. tapi aku tidak suka roti seperti ini..ini tidak bisa dimakan.” jawab Naeun polos. Semua penyihir memang menyukai darah manusia namun mereka bukanlah kanibal, mereka suka meminumnya beberapa tetes jika dicampur dengan makanan saja untuk mempertajam ingatan mereka menghapal banyak mantra. Darah yang mereka konsumsi pun biasanya darah manusia yang sudah meninggal karena mereka tak mau mengusik manusia yang masih hidup.

Eunji tahu itu sejak dulu, namun ia lupa mengantisipasinya untuk Naeun.

“ Kenapa? Ada masalah?” Bunda Yuri, wanita yang sejak tadi hampir kehilangan kesabaran menghadapi kedua penghuni baru pantinya kembali bertanya.

“ Ng.. kami ingin sarapan di depan sambil menghirup udara segar. Apa boleh?” tanya Naeun beralasan, Eunji mengangguk.

Bunda Yuri mengangguk tanda mengizinkan, “ Kalau sudah selesai kalian boleh langsung masuk ke mobil.”

“ Gamsahamnida!” Eunji dan Naeun segera berdiri dan membawa sarapan mereka menuju ke teras depan.

“ Hei aku mau tanya!” Naeun berbisik pelan saat ia mulai berjalan menuju teras depan bersama Eunji.

“ Apa lagi??” tanya Eunji.

“ Mobil itu apa?”

“ Hah? Tidak tahu.”

“ Aku juga tidak tahu.”

“ Hahahahaha!” keduanya langsung tertawa dan saling memukul pelan, mengapa sekarang mereka harus merasakan bagaimana menjadi orang bodoh?

***

 

“ Ini sudah hari kedua kita menjadi gelandangan. Tak kusangka kau merasa betah, L.”

Howon meletakkan dua mangkuk mi ramen yang baru saja selesai direbus di atas rerumputan lalu mengambil handuk lusuh dari tasnya kemudian mengeringkan tubuhnya yang basah dan bertelanjang dada karena baru selesai mandi di sungai yang kebetulan memang tepat berada di depan tempat persembunyiannya dengan L sekarang.

Sang penyihir hebat nampak tak menghiraukannya, sehari semenjak memasuki dunia yang aneh bagi Howon ini, penyihir itu tidak tidur sama sekali, yang ia kerjakan hanya membaca buku di bawah pohon lalu menghilang setelah itu muncul lagi. Howon dianggapnya bodoh sehingga tak perlu tahu apa yang sebenarnya sedang ia kerjakan.

“ Hei! Kau sudah mandi ya?” Howon sedikit berteriak karena L memakai sesuatu yang asing di telinganya dan tetap berkutat dengan bukunya di bawah pohon. Penyihir itu juga nampak bertelanjang dada, sepertinya ia juga sudah selesai mandi.

“…”

“ YA! kau tidak lapar!? Cepat kemari! Nanti ramennya dingin!” Howon kembali berteriak, meski gemetaran karena yang diteriakinya adalah orang yang paling berbahaya di negeri Junghwa.

“ Cerewet. Kau ini laki-laki atau bukan??” L tiba-tiba muncul didepannya dan sedikit mengomel.

“ Ya, kapan kau berjalan kesini??” Howon kaget. L tidak menghiraukannya, ia kembali melanjutkan kegiatan membacanya sembari menunggu ramennya dingin.

“ Kau baca apa sih? Sejak kemarin sepertinya tidak lepas juga dari buku itu.” Howon nampak penasaran, “…apa dari buku itu kau tahu apa yang harus kita lakukan? Kau sudah tahu dimana Hyerim dengan Yeoshin?”

L menutup bukunya, merahasiakan banyak hal dari teman seperjalannnya ini rasanya tidak enak juga. Ia mendorong buku itu kearah Howon, membiarkannya berpikir dan menerka sendiri buku apa itu.

“ Wah, kukira buku ini sudah dimusnahkan oleh Raja. Aku tahu sedikit tentang buku ini dari orangtuaku yang dahulu melihat pengusiran Madame Hyoyeon. Aku juga sudah tahu pasti Hyerim dan Yeoshin menemukan buku ini di perpustakaan kerajaan makanya mereka berani kabur dan menemui Hyoyeon. Jujur, aku tidak menyangka kemarin bertemu Hyoyeon, seluruh tubuhku merinding..” jelas Howon, “…tapi kau berani sekali mengancam dan menyandera anaknya. Aku salut padamu, L. walaupun tindakanmu kurang manusiawi.”

L tertawa kecut, “ Baguslah kalau kau sudah bisa paham tentang ini, jadi aku tidak perlu repot-repot menjelaskan. Buku yang ada didepanmu itu adalah buku yang asli, buku yang dibawa Hyerim dan Yeoshin adalah penggandaannya yang disimpan di perpustakaan kerajaan.”

“ Mengapa buku yang aslinya ada padamu?”

“ Hyoyeon menyimpannya di rumahku, dulu kan dia tinggal disana. Dia bibiku, adik kandung Taeyeon, ibuku.”

“ Hah??? Ya! mengapa aku baru tahu??” Howon terkejut, “…wah, keluargamu keren. Isinya penyihir hebat semua.”lelaki itu berbinar-binar dengan wajah polos, “…tapi kenapa bukan Hyoyeon sendiri yang menyimpan bukunya ini?”

“ Tadinya saat diusir ia ingin membawa buku ini tetapi Taeyeon menyitanya. Ternyata maksud Taeyeon adalah agar aku bisa menyamai kekuatan Hyoyeon dengan mempelajari isi buku ini. Sejak usiaku enam tahun aku sudah mempelajarinya, dan setiap selesai mempelajarinya, aku selalu mengulangnya. Sampai akhirnya aku mengerti segala sesuatu yang ada di dunia nyata ini.”

Howon tercengang, “ Jadi kau sudah tahu bagaimana kehidupan manusia di dunia ini?”

L mengangguk.

“…tetapi, apa kau sudah pernah ke dunia ini sebelumnya?”tanya Howon lagi, L buru-buru menggeleng.

“ Ini adalah yang pertama kalinya. Bagaimana bisa aku ke dunia ini? Portalnya terbuat dari ramuan, sedangkan aku penyihir yang sama sekali tidak bisa membuat ramuan.”jawab L sedikit dongkol karena sangat membenci kekurangannya itu.

“…tetapi aku sudah punya gambaran karena Taeyeon pernah mengirimkan mimpi tentang dunia ini padaku, ibuku itu punya empat tato di tubuhnya, jadi ia mampu melakukan pengiriman mimpi karena ia adalah penyihir nomor empat di Junghwa. Taeyeon pernah memasuki dunia ini, tepat saat Hyoyeon memutuskan untuk tinggal disini. Entah ia sadar atau tidak, Taeyeon ikut masuk ke dalam portal dan membuntutinya selama dua tahun, makanya Taeyeon kenal dengan Namjoo, anak angkatnya. Nah, sebelum kembali ke negeri Junghwa Taeyeon mengirimkan mimpi tentang dunia ini padaku agar aku tidak kalah pengetahuan dengan Hyoyeon.”jelas L.

“…mimpi seperti itu hanya melibatkan benda-benda didalamnya, makanya ketika aku bangun tidur aku mendapati benda-benda ini didalam selimutku. Ini semua pemberian Taeyeon.”lanjutnya sembari membuka tas hitamnya dan mengeluarkan beberapa benda yang amat sangat asing dimata Howon.

“ Apa itu? talenan? Alat yang dipake buat alas motong sayur itu..” tanya Howon polos.

“ YA! ini namanya iPad! Talenan dari mana -_-“

“ Apa?? i..i..i..pet?”

“ iPad !!! duh.” L mencoba sabar, ia sedang tidak mood menjadi orang jahat sekarang.

“ Ooh.. lalu ini apa?” Howon menunjuk benda-benda yang lain.

“ Ini handphone, ini laptop, dan ini kamera, kamera ini adalah benda yang paling aku suka dan paling sering aku pakai. Masih banyak benda yang lain, tapi hanya ini yang muat di tasku.”

Howon menggaruk pelipisnya karena masih kebingungan, “ Apa gunanya benda-benda ini? Apa semua manusia di dunia ini memakainya?”

“ Hampir semua manusia di dunia ini memakainya. Kalau kau ingin tahu lebih banyak rajin-rajinlah membaca buku itu, disana semua yang ingin kau ketahui tentang dunia ini ada.”

“ Arasseo! Aku akan baca ini sering-sering, aku tidak mau jadi orang bodoh disini.” Howon mendekap bukunya dan tersenyum yakin, “…eh, lalu sekarang apa yang harus kita lakukan?? Kau sudah tahu dimana Hyerim dan Yeoshin?”

“ Hahaha.. Seoul Girls House, hanya berjarak satu kilometer dari tempat kita sekarang.” L tertawa remeh sembari menunjukkan foto sebuah bangunan sederhana kepada Howon.

“ Wow, kau melukis gambar ini? Bagus sekali, seperti nyata!”

“ Grrr -__- itu namanya foto! Aku mengambilnya dari kamera Polaroid.”

“ Ooh..” Howon pura-pura paham daripada L jengkel dan membunuhnya, yang harus ia pikirkan adalah kata ‘Seoul Girls House’ yang diucapkan L barusan.

“…Seoul Girls House? Tempat apa itu?”

“ Panti asuhan khusus perempuan. Hyerim dan Yeoshin disuruh Hyoyeon untuk tinggal disana.”

“ APA!? kalau begitu cepat kita susul mereka kesana!” Howon sudah hendak berdiri saja karena tak sabaran.

“ YA! tunggu dulu!” L mendudukkannya, “…aku belum selesai!”

“ Apa lagi???”

“ Semalaman saat kau tidur aku pergi dan mengawasi pembicaraan mereka lewat jendela kamar panti. Hyerim dan Yeoshin sudah memperbarui identitas mereka. Yeoshin menggunakan nama aslinya, Son Naeun. Sedangkan Hyerim merubah namanya menjadi Jung Eunji.”

Howon tercengang, “ Mereka… menjadi orang lain?”

“ Tentu saja. Mana mungkin mereka mengaku bahwa mereka penyihir dan putri raja, yang ada mereka ditertawakan. Manusia di dunia ini sangat sedikit yang mempercayai keberadaan kita.”

“ Lalu bagaimana mereka bisa diterima di panti itu? apa alasan mereka?”

“ Mereka mengaku sebagai yatim piatu yang baru saja mengalami kebakaran rumah yang menewaskan seluruh anggota keluarganya. Alasan yang sangat tepat, pemilik panti itu kasihan pada mereka dan akhirnya mau menampung mereka. Aku tidak menyangka Hyerim dan Yeoshin punya bakat akting yang sangat baik.”

“ Astaga.. lalu.. lalu apa alasanmu tidak langsung membawa mereka pulang?? Mengapa kau hanya mengawasi mereka!?” Howon nampak geregetan, “…coba saja tadi malam kau memberitahuku juga tentang ini, aku akan ikut denganmu ke panti itu!”

“ Heh, dasar pengawal kerajaan. Tidak semudah itu kita menjemput mereka, kau tidak ingat perkataan Hyoyeon sebelum kita pergi? mereka hanya akan bisa pulang jika mereka menginginkannya. Kenapa? Karena mereka yang menciptakan mantra rahasia portalnya. Dengan kata lain, hanya Yeoshin yang bisa membuka portal itu untuk kita pulang.”

“ A..apa!!?? aku.. aku baru tahu tentang mantra rahasia itu. jadi kita tidak akan bisa kembali ke Junghwa kecuali bersama Hyerim dan Yeoshin??” Howon terkejut dan berbagai pikiran langsung menghantuinya, terutama tentang ancaman Madame Sunny yang akan membocorkan hubungannya dengan Hyerim jika ia tak juga membunuh L.

L tertawa sinis, “ Hei, mengapa panik begitu? Ini akan menjadi pengalaman hidup yang paling mengasyikkan.”

“ Aku tahu, L. tapi..” Howon masih risau, jika saja ancaman Madame Sunny tidak terngiang-ngiang di telinganya tentu saja ia tak akan keberatan berlama-lama di dunia nyata demi Hyerim.

“ Ada sesuatu yang kau pikirkan?” L memalingkan wajah tampan Howon kearahnya lalu menatap mata Howon dengan tajam.

“…hahaha.. Sunny ingin kau membunuhku? Hahahaha!!” L tertawa terbahak-bahak sampai memukul-mukul rerumputan, “…aku tidak menyangka dia selicik itu! hahahaha!!”

Howon masih mematung karena heran melihat reaksi L yang baru saja selesai membaca pikirannya dengan mudah.

“…ck, jadi yang kau bingungkan adalah bagaimana caranya kau membunuhku, begitu?” tanya L lagi sambil sesedikit masih tertawa, Howon mengangguk saja meski takut.

“…heh, dengar ya. Penyihir saja susah membunuhku, apalagi manusia biasa sepertimu. Dengan menjentikkan jari saja aku sudah bisa melayangkan nyawamu kalau kau berani mencoba membunuhku.”lanjut L sembari mengganti tawanya dengan tawa sinis.

“ Tapi.. tapi aku sama sekali tidak ada niat untuk membunuhmu!” jawab Howon cepat karena takut L membunuhnya duluan.

“ Aku tahu. Mana mungkin kau berniat membunuhku, itu namanya cari mati.”

“ Lalu.. b..bagaimana?”

L terdiam sejenak dan berpikir, kemudian memegang bahu Howon.

 

“ Aku punya banyak teman. Tapi kau adalah sahabatku yang pertama. Terserah kau ingin menganggapku sebagai sahabat juga atau tidak. Tapi untuk berhari-hari kedepan, berbulan-bulan kedepan, bahkan mungkin bertahun-tahun kedepan, kita akan selalu bersama demi mengejar dua perempuan yang kita cintai di dunia ini. Jadi sejahat-jahatnya diriku, aku tidak mungkin menyakitimu, mungkin aku akan hanya sulit menutupi kesombonganku didepanmu. Let’s be good partner, tidak perlu khawatir dengan ancaman Madame Sunny tentang hubunganmu dengan Hyerim. Orangtuamu akan baik-baik saja, aku jamin itu.”

 

Howon menatap L, terkejut karena kata-kata tersebut meluncur begitu saja dari mulut penyihir tampan yang terkenal jahat di negeri Junghwa itu. tanpa meminta persetujuan Howon memeluk L sejenak.

“ Terimakasih, L.”

“ Ya. kau patut merasa beruntung karena kau adalah orang kedua yang kuperlakukan dengan baik setelah Taeyeon.”jawab L, Howon mengangguk.

“ Apa kau tahu apa yang harus kita lakukan sekarang?”

“ Tentu. Kau makan saja dulu.”

“ Kau juga.”

“ Aku nanti sajalah.”

“ Lho, kenapa?”

“ Nafsu makanmu akan hilang kalau kau melihatku makan.”

“ Hah? Kau ini bicara apa? tidak akan, ayo kita makan sama-sama.” Howon mengangkat mangkuk ramennya dan mulai makan.

“ Benar ya tidak akan kehilangan nafsu makan?” L tersenyum sinis, ia pun mengambil mangkuk ramennya lalu mengambil sebilah pisau penuh darah dari tasnya dan meneteskan darah tersebut ke dalam ramennya.

“…untung darahnya belum kering, hahaha.”gumam L sembari tersenyum senang.

“ Eh..” Howon spontan menghentikan makannya, nafsunya hilang mendadak dan ia merasa ingin muntah, apalagi ketika L menjilati pisau itu sampai darahnya habis. Howon benar-benar tak sanggup melanjutkan makannya.

“ Sekarang kau tahu kan alasanku membunuh Namjoo?” L tertawa sinis sembari menyantap ramennya yang sudah tercampur darah dengan lahap, Howon semakin pucat menahan rasa mualnya.

 

“ Ternyata penyihir lebih mengerikan dari yang kukira..”

***

 

“ Ooh.. jadi ini yang namanya mobil.” Naeun menyentuh langit-langit kendaraan yang tengah ia naiki sekarang lalu mencolek-colek jendela dan lantainya dengan polos hingga sempat menjadi bahan perhatian anak-anak panti lain yang duduk di depannya.

“ Hampir mirip kereta kuda tapi pakai mesin. Suaranya lebih berisik.”sambung Eunji tenang karena ia masih sibuk membalut pergelangan tangannya dengan perban.

“ Benar. Eh.. kau baik-baik saja kan?” Naeun merasa bersalah karena pagi ini ia terpaksa meminta darah Eunji untuk menjadi ‘selai’ rotinya. Sahabatnya itu mengangguk.

“ Kalau perlu setiap hari juga tidak apa-apa. Daripada kau mati, nanti aku disini dengan siapa?” jawab Eunji sedikit menggoda, Naeun memukulnya pelan lalu memeluknya sejenak.

“ Aaa.. terimakasih yaa.. kau sahabatku yang terbaik.”

Eunji mengangguk, ia tersenyum dan membalas pelukan Naeun.

“ Ngomong-ngomong, MOS itu apa sih? Aku tidak mengerti mengapa sebelum sekolah harus ada MOS dulu.”tanya Eunji polos. Maklum, ia tidak pernah bersekolah formal, selama tinggal di istana ia belajar privat bersama ketiga saudaranya dengan guru pribadi. Lain halnya dengan Naeun yang bersekolah di sekolah khusus sihir, sayangnya ia yang sudah kelas dua SMA di sekolah sihir terpaksa mengulang dari kelas satu SMA di sekolah barunya sekarang untuk menyesuaikan identitas barunya dari Hyoyeon.

“ MOS itu Masa Orientasi Siswa. Siswa-siswa baru akan dikerjai habis-habisan oleh senior sebelum memasuki sekolah, katanya sih untuk melatih kedisiplinan. Tapi aku tidak tahu bagaimana MOS di dunia nyata. Kalau MOS di sekolah sihir benar-benar mengerikan, kita semua disuruh memakai dan membawa benda-benda aneh, senior bisa seenaknya menyihir adik kelas mereka menjadi kodok atau kadal, menyuruh adik kelas mereka meminum ramuan yang efeknya macam-macam. Pokoknya kejam. Aku pernah merasakannya, dan L adalah senior paling jahat dan biadab dalam urusan seperti itu, setiap adik kelas yang membuatnya jengkel akan langsung dibunuhnya.”jelas Naeun, “…sialnya, kenapa aku harus mengalami MOS lagi? Aku sudah cukup trauma. Semoga saja MOS di dunia ini tidak sekejam MOS di sekolah sihir Junghwa.”

“ Aih, jadi begitu.. duh, aku merinding mendengar cerita MOS di sekolah sihirmu. Semoga saja MOS disini tidak sama seperti itu. kau bisa sedikit bernafas lega karena kau tidak satu sekolah lagi dengan suamimu itu.”kata Eunji.

“ YA! berhenti menyebut dia suamiku!” Naeun menutup telinganya karena kesal, Eunji tertawa melihat tingkah sahabatnya itu.

“ Siapa suruh menikah muda, hahahaha..”

***

 

“ Ck, rajin sekali pemilik panti mereka. Baru saja kemarin mereka tiba, hari ini mereka sudah didaftarkan masuk sekolah. Sekolah asrama pula.” Howon sedikit kesal sembari terus berjinjit memperhatikan sosok Eunji yang tengah berbaris di lapangan dari balik tembok besar di samping sekolah, gadis itu nampak kebingungan karena baru kali ini merasakan yang namanya masuk sekolah. Sebagai pengawal yang merasa masih punya tanggung jawab terhadap sang putri raja, tentu Howon merasa khawatir dan tak akan membiarkan Eunji dikerjai oleh kakak-kakak kelasnya.

L hanya bisa terpaku, menatap istrinya yang baru kali ini terlihat dibalut oleh pakaian berwarna cerah dan…seksi. Ia bisa bernafas lega karena semenarik apapun penampilan Naeun, gadis itu tidak akan pernah disukai oleh lelaki manapun kecuali dirinya, yang sudah berkuasa atas auranya. L meremas tongkatnya pertanda gatal ingin menyakiti siapapun senior yang berani mengerjai Naeun nanti.

*

 

Eunji dan Naeun saling menatap sedih ketika barisan mereka dipisahkan karena berbeda gugus. Susunan gugus didasarkan pada penampilan para siswa baru mulai dari yang good-looking hingga yang bad-looking alias jelek atau tidak menarik. Yang membuat Eunji kesal adalah bergabungnya Naeun dengan gugus berpenampilan terjelek. Seharusnya sahabatnya itu  bergabung dengannya dalam gugus siswa berpenampilan paling menarik. Mungkin ini adalah awal dari efek hilangnya aura Naeun sampai-sampai senior memandangnya sebagai orang yang tidak menarik.

Sedang Naeun sendiri pasrah dengan keadaannya karena ia sudah menduga sebelumnya, ia mencoba sabar.

Kegiatan MOS terhenti sejenak ketika seorang lelaki berseragam sama muncul di gerbang sekolah dan berjalan menuju lapangan dengan wajah datar meski tahu ia sudah terlambat hampir tiga puluh menit.

“ HEI! CEPAT LARI!!! MENGAPA LELET SEKALI! SUDAH TAHU TERLAMBAT!!” seorang senior pemegang predikat President School di Junghwa High School sekaligus ketua panitia MOS yang tadi memperkenalkan dirinya sebagai Nam Woohyun berteriak keras di megaphone yang ia pegang karena kesal dengan anak lelaki itu.

Anak lelaki itu tidak peduli, ia tetap berjalan seperti biasa hingga membuat seisi lapangan menunggu. Woohyun mengepalkan tangannya, namun seorang gadis cantik berponi yang berdiri disampingnya langsung mengantisipasi.

“ Aku di gugus mana?” sesampainya di lapangan anak lelaki itu bertanya dengan datar tanpa meminta maaf atas keterlambatannya. Membuat Woohyun semakin naik pitam.

“ Kaaauu..! kau….”

“ Sshhh.. sudah ah!” gadis berponi yang tadi sempat memperkenalkan dirinya sebagai wakil ketua panitia bernama Park Chorong itu menahan Woohyun yang kebetulan adalah kekasihnya. Ia segera merangkul anak lelaki itu.

“ Kami tahu siapa dirimu, dan kami mengerti bagaimana perasaanmu. Tapi sunbae minta, tetaplah tertib dan taat pada peraturan jika kau benar-benar ingin sekolah disini. Arasseo?”ucapnya lembut, anak lelaki itu tetap memasang tampang datarnya tanda tak mau dinasehati.

“ Dimana gugusku?” ia mengulang pertanyaannya. Chorong mencoba sabar, ia mencoba memilih gugus yang tepat untuk anak lelaki yang tengah ia kasihani itu.

“ Sana!” Woohyun menunjuk gugus paling ujung dengan emosi, tanpa banyak bicara anak lelaki itu berjalan santai menuju gugus yang dipilihkan seniornya itu.

“ YA! Nam Woohyun, kau gila!? Dia tidak pantas bergabung dengan siswa-siswa bad-looking seperti itu!” Chorong nampak protes.

“ Dia berkulit gelap dan dekil, aku tidak suka melihatnya.”jawab Woohyun terang-terangan di megaphone, membuat hampir seluruh siswa tertawa. Sang pemilik kulit gelap dan memang sedikit dekil itu nampak tak peduli, ia tetap memasang wajah datarnya yang tanpa ia sadari telah menarik perhatian seorang gadis yang berdiri disampingnya sejak tadi.

 

“ Jahat! Bisakah kau sedikit kasihan padanya? Ia sedang tertimpa musibah yang musibahnya itu adalah musibah kita juga.” Chorong mulai marah, Woohyun tertawa sinis.

“ Bagi kalian musibah, tapi bagiku itu kabar gembira.”jawab Woohyun sarkastis, membuat Chorong yang sekarang naik pitam.

“ Terserah! Silakan bilang itu kabar gembira, tapi aku akan tetap mengumumkannya agar semua siswa baru tahu tentang ini.”

“ Ck, kubilang tidak usah!” Woohyun berusaha merampas megaphonenya yang direbut Chorong.

“ Tidak mau!” Chorong menjauhkan benda itu hingga terjadilah aksi rebutan memalukan antara ketua dan wakil panitia MOS yang notabene adalah sepasang kekasih itu.

“ HEH! Sudah sudah! Kalian ini seperti anak kecil saja! Tidak malu dengan adik-adik kelas kalian!?? Lagipula kalian ini sudah tunangan, lulus dari sini langsung menikah. Apa masih pantas seperti ini??” seorang lelaki berwajah konyol bernama Lee Sungyeol yang juga seorang siswa senior dan menjadi panitia MOS segera menghampiri mereka dan melerai dengan galak.

“ Aku bisa membuang cincin tunangannya kapan saja!” ucap Woohyun emosi.

“ Lebih baik kujual saja cincinnya, daripada dibuang. Dasar pemboros! Mentang-mentang orang kaya!” balas Chorong.

“ Mata duitan!”

“ Biarin!”

“ YAA!!! BERHENTI!” Sungyeol kembali berteriak, Woohyun dan Chorong akhirnya diam meski wajah mereka tak henti-hentinya memasang tampang mengejek.

“…Chorongie, besok kita akan umumkan tentang ini pada adik-adik kelas. Woohyun benar, maksudku jangan sekarang. Besok saja ya?” kata Sungyeol pelan, Chorong mengangguk pasrah.

“…dan kau, tolong jaga perasaan kami yang sedang berduka. Terutama aku, sahabatnya. Aku tahu kau senang dengan ini. Tapi kumohon sekali lagi, jaga perasaan kami.” Sungyeol menepuk bahu Woohyun, namun Woohyun segera menyingkirkannya dan mendengus dengan sinis.

“ Kembali ke tempatmu, kau hanya seksi dokumentasi, tidak pantas berdiri di tengah lapangan.”ucap Woohyun datar. Sungyeol menurut, tanpa banyak bicara ia kembali ke tempat duduknya.

 

Naeun melirik lelaki berkulit gelap dan dekil disampingnya sekali lagi, ia masih tetap diam dengan wajah datarnya, nampak tak peduli walau sepertinya ia tahu keributan yang terjadi di lapangan bermuara dari dirinya.

“ Hai, aku Naeun.”

Dengan wajah polos Naeun mengulurkan tangannya untuk mengajak lelaki itu berkenalan.

Ia hanya melirik sekilas, tanpa menjabat tangan gadis itu ia menjawab dengan nada datar yang nyaris tak terdengar.

 

“ Aku Kai.”

*****

 

10.00 AM

 

“ Ck! Aku tidak tahan! Aku tidak terima melihat Hyerim diperlakukan seperti itu! arrrghh!!” Howon mencengkeram batang pohon yang tengah ia duduki bersama L siang itu. Mereka berpindah tempat persembunyian karena hari semakin panas dan mereka butuh tempat yang teduh untuk mengawasi dua perempuan -Hyerim dan Yeoshin- yang mereka cintai itu.

Lain halnya dengan L yang bisa bertindak sesuka hati jika melihat Naeun mulai diusili oleh senior-seniornya hanya dengan tongkat sihir atau tangan kosongnya. Saat ini Howon benar-benar iri dengan L.

Meski sudah emosi tingkat tinggi, Howon tetap melanjutkan kegiatannya ‘menonton’ acara MOS tersebut. Matanya dan mata coklat L semakin memicing ketika para senior dengan tega menjemur semua siswa baru di tengah lapangan sambil mengocok sebotol spray dan menyemprotkannya kearah para siswa baru hingga seragam para siswa malang itu menjadi kotor dengan warna dari spray tersebut.

“ Ini adalah ucapan selamat datang dari kami, adik-adik! Hahahahaha!! Selamat datang di Junghwa High School dan selamat membeli seragam baru lagi! Hahaha!” para senior nampak tertawa puas.

 

“ Bodoh! Seragam baru langsung disemprot pilox!” L emosi, ia mulai berjaga-jaga ketika salah seorang senior mendekati Naeun dan bersiap hendak menyemprot seragam gadis itu.

“ Hah? Apa? balok?” Howon bingung.

“ Pilox! Pilooox!” L berteriak dua kali, Howon pura-pura mengerti saja daripada L mengamuk, L sudah cukup emosi melihat para panitia MOS yang berani macam-macam pada istrinya, Naeun.

Howon hanya bisa menatap Eunji dengan prihatin dan tentu saja masih dibayangi perasaan tak terima, bagaimanapun juga Eunji adalah seorang putri raja yang tentu saja tak pantas menerima perlakuan seperti ini. Namun nampaknya Eunji tidak mengeluh atau menangis, Howon tahu ia gadis yang kuat.

“ Nah. Mampus! Rasakan!” L mengayunkan tongkatnya dengan wajah penuh dendam kearah lapangan hingga gaduh pun tercipta karena sang senior yang hendak menyemprot pilox kearah seragam Naeun justru menyemprot wajahnya sendiri hingga matanya pedih luar biasa, acara semprot menyemprot pun terhenti karena semua panik dengan sang senior yang berguling-guling kesakitan di tengah lapangan. Naeun terkejut, tak mengerti apa yang terjadi.

 

“ Naeun! Kau menyihirnya?” Eunji segera berlari kecil kearah Naeun karena bingung, Naeun buru-buru menggeleng.

“ Tidak! Aku saja tidak membawa tongkat!”

“ Lalu kenapa dia bisa seperti itu?”

Naeun mengangkat bahunya karena tak tahu sama sekali. Satu sisi ia merasa sedikit lega karena ia tak perlu membeli seragam baru, seragamnya masih bersih dari pilox, lain halnya dengan seragam Eunji yang sudah dipenuhi pilox sana sini.

“ Hah, untung aku masih punya uang dari Hyoyeon untuk membeli seragam baru.”ucap Eunji pasrah, “…MOS itu ternyata mengerikan ya. tapi aku menikmatinya kok, hehe.”

Naeun tertawa kecil, “ Kau benar. Setidaknya MOS ini tidak separah di sekolah sihirku. Walau tadi pagi aku sempat bingung dengan apa yang terjadi.”

“ Ooh.. yang anak laki-laki itu ya? dia satu gugus denganmu kan?”

“ Hayoo.. membicarakan Kai ya?” seorang gadis muncul dari belakang Eunji.

“ Eh.. siapa dia?” tanya Naeun.

“ Ooh.. ini Bomi. Teman satu gugusku.” Eunji memperkenalkan gadis itu pada Naeun, mereka pun berkenalan.

“ Membicarakan Kai ya?” Bomi mengulang pertanyaannya, Eunji dan Naeun terpaksa mengangguk.

“ Hahaha. Dia jadi seperti orang psycho sekarang. Aku temannya di sekolah menengah, dulu dia tidak seperti itu. dia orang yang ceria bahkan sering melawak di kelas. Tapi sekarang berubah seratus delapan puluh derajat.”

“ Mengapa dia jadi begitu?” tanya Naeun penasaran, sementara Eunji tidak begitu peduli karena tidak kenal.

“ Ah, aku tidak enak membicarakannya disini. Nanti sajalah. Eh, ke koperasi yuk beli seragam baru. Mumpung diberi waktu istirahat tuh. Sekalian, ada yang ingin kubicarakan denganmu.” Bomi menggaet lengan Eunji, “…Naeun, kau mau ikut?”

“ Ng.. ik.. eh..” Naeun tak jadi menerima ajakan Bomi ketika mendengar samar-samar suara Woohyun memanggil dan menunjuk dirinya lalu mengkodenya untuk segera datang ke ruang panitia.

“…duh, mampus. Pasti gara-gara senior yang nyemprot matanya tadi.” Naeun sedikit ketakutan, “…kalian saja ke koperasi. Aku dipanggil panitia.”

“ Ada apa?” Eunji mendadak khawatir, Naeun mengangkat bahunya dengan cemas, ia pun segera berlari kecil kearah Woohyun.

*****

 

Night, 09.15 PM

 

“ Yah, mengapa tidak dari kemarin sejak kita datang ke dunia ini kau membuat rumahnya? Kenapa baru sekarang?”

Howon membereskan barang-barang butut dari dalam tasnya sembari terus bertanya. Malam itu mereka tidak lagi menjadi gelandangan, L telah menemukan tanah kosong -yang notabene sebenarnya milik orang- dan membuat rumah diatas sana hanya dalam waktu lima belas menit -seperti yang ia lakukan saat memenangkan pertandingan sihir di negeri Junghwa-. Hal ini membuat Howon semakin kagum saja dengan L.

“ Rumah ini dalam waktu satu minggu akan musnah kalau tidak dihuni oleh perempuan. Makanya, sebenarnya aku malas membuatnya.”jawab L yang masih sibuk menyusun beberapa lembar kertas di atas meja.

“ Loh, mengapa bisa begitu? Mengapa harus dihuni oleh perempuan?”

“ Karena mantra pembuat rumah ini diciptakan oleh perempuan.”

“ Hah? Jadi bukan kau yang menciptakan mantranya??”

“ Ya! tidak usah keras-keras!” L melotot, Howon langsung menunduk ketakutan.

“ Lantas.. siapa yang menciptakan mantranya?”

“ Dengan berat hati.. Hyoyeon.”jawab L kesal, “…aku tahu mantra ini dari Taeyeon agar aku bisa memenangkan pertandingan sihir kemarin. Makanya, rumah yang aku buat di negeri Junghwa itu kujadikan rumah masa depanku dengan Yeoshin karena jika Yeoshin tinggal disana rumahnya tidak akan musnah.”

“ Nah, sekarang kan Yeoshin pergi. jadi.. rumah itu musnah?”

“ Tidak. Untuk sementara waktu Taeyeon tinggal disana. Rumah itu jangan sampai musnah karena didalamnya aku menyembunyikan sebelas peti emas it…. Eh!” L buru-buru menutup mulutnya meski rasanya percuma karena mata Howon sudah membesar tanda mendengar apa yang ia katakan barusan.

“ Sebelas peti emas kerajaan, maksudmu?” tanya Howon dengan syok dan emosi tertahan yang menjadi satu, akhirnya ia tahu siapa pencuri emas itu.

“ Hah. Ya! ya! aku yang mencurinya dari kerajaan, makanya sekarang keluargaku kaya.” L akhirnya jujur saja karena Howon tak bisa juga berbuat apa-apa.

“ Tapi..tapi kenapa..” Howon tak tahu harus berbuat apa sekarang, ingin marah takut dibunuh, ingin diam tetapi kesalnya sudah mencapai ubun-ubun. Masalahnya, jika L tidak melakukan pencurian ini, Hyerim tidak perlu dijodohkan apalagi sampai kabur begini.

“ Kenapa? Kau mau marah padaku? Kau pasti semakin marah kalau aku cerita tentang hubunganku putri raja yang satunya, Krystal. Aku memanfaatkan dia untuk mencuri emas itu lalu meninggalkannya dan menikahi Yeoshin. Kejahatanku tidak bisa diragukan lagi, kan?” L menjelaskan semuanya dengan santai agar Howon tidak tanggung-tanggung kesalnya.

“ Kauuu…” Howon mulai mengangkat tangannya, namun L segera menahannya.

“ Berpikir dulu seribu kali kalau mau marah padaku. Seharian aku sudah repot membuat berkas-berkas palsu agar kau bisa sekolah di sekolah Hyerim dan Yeoshin besok. Aku sudah berkeliling kesana kemari mencari orang yang bisa kuhipnotis untuk berpura-pura menjadi wali muridmu. Dan aku juga sudah membuat rumah agar kita tidak jadi gelandangan lagi di dunia ini. Kau masih mau marah padaku? Terserah, kau juga yang akan rugi.”

Howon terdiam, L memang sudah berbuat banyak dan ia tentu tidak bisa bertahan hidup di dunia nyata seperti ini tanpa L. ia menurunkan tangannya yang sudah hampir melayangkan tinju ke wajah tampan L, ia memilih pasrah dan meredam amarahnya.

“ Jadi bagaimana? Aku sudah bisa sekolah besok?” Howon mengalihkan pembicaraan seraya mengatur nafasnya, L mengangguk.

“ Tinggal satu langkah lagi, kau tinggal kuubah menjadi Lee Jiwon, seperti yang kau inginkan.”jawab L, “…tapi.. apa kau yakin dengan keputusanmu?”

Howon mengangguk cepat. Ia memang telah membuat keputusan gila tadi siang. Saking emosinya melihat tindakan semena-mena para senior saat MOS pada Eunji, ia ingin masuk sekolah itu juga. Selain ingin melindungi Eunji, hitung-hitung bisa dapat tempat tinggal karena sekolah itu berformat asrama. Dan alasannya ingin menyamar sebagai perempuan sangat simple, ia ingin mengawasi Eunji dengan lebih dekat dan mudah. Seiring berjalannya waktu nanti, Howon berharap ia bisa pelan-pelan membuka kedoknya dan mengajak Eunji untuk pulang ke kerajaan.

L bersedia membantu dan mengurus semuanya dengan cepat dan cerdas, buktinya sekarang ia sudah mengantongi seragam siswi serta peralatan lengkap yang siap dipakai oleh Howon besok. Ia sendiri nampaknya belum punya rencana khusus untuk mendekati Yeoshin, atau mungkin ia sudah memikirkannya. Howon tak tahu pasti, yang jelas L tak ingin mengikuti jejaknya karena ia tak mau menjadi waria.

 

“ Sebenarnya ini agak sulit. Untuk merubah seorang lelaki menjadi mirip perempuan itu mutlak memerlukan ramuan. Dan demi mengabulkan keinginanmu, aku membuatnya.”kata L sedikit ragu, “…saat dulu pertama kali membuat ramuan, ramuan yang kubuat langsung meledak karena salah takaran. Aku sudah belajar ribuan kali membuat ramuan tetapi selalu saja gagal. Inilah salah satu alasan mengapa aku begitu tergila-gila pada Yeoshin, ia pembuat ramuan yang hebat dan aku butuh keahliannya itu. sepertinya aku memang sudah ditakdirkan untuk menjadi penyihir yang tidak bisa membuat ramuan.”

Howon jadi agak ragu meminum ramuan buatan L setelah mendengar pengakuan penyihir tampan itu, tetapi jika ia hanya memasang wig di kepalanya dan memasang kapuk (?) di dadanya, penyamarannya akan mudah ketahuan, apalagi badannya keras dan berotot.

“ Kuambil dulu.” L berjalan ke dapur untuk mengambil ramuannya.

DOR!!

“ Eh! Apa itu?” Howon terkejut dan segera berlari ke dapur.

 

“ Ramuanku, meledak.”

“ -___-“

***

 

Keesokan harinya, 07.00 AM..

 

“ Cepat sana masuk! Masuk ke ruang guru. Menghadap saja sebentar habis itu langsung boleh ikut MOS.” L sedikit mendorong tubuh seorang ‘gadis’ berambut sebahu berseragam Junghwa High School yang sejak tadi nangkring dengan manja di lengannya.

“ Iih eke atut masuk sendirian, temenin eke dong boo..~”

“ Ck! Nyusahin aja ih!” L mengacak-acak rambutnya dengan gusar. Sebenarnya ini salahnya karena ramuannya jauh dari kata sempurna. Mantra yang ia ucap saat membuat ramuannya benar, tubuh berotot Howon berubah menjadi langsing dan semampai, tetapi bahan ramuannya salah hingga akhirnya aksen serta kelakuan Howon malah berubah seperti waria sesungguhnya. Kalau begini semua orang akan tahu penyamaran Howon dengan mudah.

“ Yey kenapa sih marah-marah terus, ntar gantengnya ilang loh..”

“ Yaaa!! Jangan pegang-pegang!” L semakin geli ketika sang ‘Lee Jiwon’ mencolek-colek wajah tampannya dan memeluknya erat-erat, ia buru-buru mengeluarkan tongkat dari balik punggungnya dan terpaksa menyihir gadis jadi-jadian itu agar kembali ke wujud semula.

“ Aaaw! Eh.. eh..” Howon terkejut mendapati otot lengan dan otot perutnya kembali, hanya rambut sebahunya dan kulit mulusnya saja yang tidak berubah. Semua bulu yang ada di tubuhnya pun masih hilang.

“ Nah, begini lebih baik daripada seperti tadi.”gumam L, “…sudah sana masuk!”

“ Heh, kau gila!? Badan kekarku nampak begini!” Howon protes dan merasa tidak percaya diri meski sempat berkaca dan wajahnya lumayan ‘cantik’ meski gantengnya sulit ditutupi.

“ Seragamnya sudah kusihir jadi longgar. Jangan banyak bicara, cepat masuk, Lee Jiwon!” L mendorongnya kuat-kuat memasuki sekolah, setelah itu ia menghilang.

“ Ya Tuhan..” Howon masih tak percaya ia harus senekat ini.

“…demi Jung Hyerim, aku pasti bisa!”

*****

 

“ Ooh.. jadi kau pindahan dari Busan..”

“ Iya, hehe..”Howon alias Jiwon berusaha menutupi kegugupan yang sejak tadi menjalari seluruh tubuhnya, ia bersyukur karena semua orang yang ditemuinya percaya bahwa ia adalah perempuan. Sepertinya L sudah meliputinya dengan mantra pelindung agar penyamarannya tak mudah diketahui.

Kini ia sudah bergabung dengan siswa-siswi baru untuk mengikuti MOS, namun ia belum menemukan Naeun maupun Eunji karena ditempatkan di gugus yang berbeda. Sejak tadi Jiwon gelisah mencari-cari kedua gadis itu terutama Eunji, yang menjadi tujuan utamanya.

Saat ini seluruh siswa yang mengikuti MOS dikumpulkan di dalam ruang multimedia oleh senior mereka, sepertinya akan ada pengumuman yang akan disampaikan oleh senior mereka itu lewat beberapa tayangan slideshow, yang sama sekali tidak dimengerti oleh Eunji, Naeun, apalagi Jiwon, yang saat memasuki ruang multimedia saja sudah kebingungan sendiri melihat benda-benda elektronik yang ada di dalam sana.

 

“ Harap tenang adik-adik. Hari ini sebelum MOS kedua dimulai, kami ingin mengumumkan sesuatu terlebih dahulu. Jadi harap tenang dan jangan berisik!” Chorong memberi peringatan lewat mikrofon, semua peserta MOS pun diam dan duduk dengan tenang.

“ Cepat saja.”kata Woohyun malas dan sedikit menyindir kearah Sungyeol yang masih mempersiapkan slide mereka.

“ Sudah siap kok. Jangan banyak bicara.” Chorong yang menjawab, ia mengibaskan rambutnya dengan sengaja ke wajah Woohyun dengan judes setelah itu menghampiri Sungyeol yang sudah siap untuk menampilkan slideshownya.

 

“ Oke. Baiklah adik-adik, langsung saja.. yang ingin kami sampaikan pada kesempatan kali ini adalah..” Chorong memulai penyampaiannya, tak peduli dengan Woohyun yang memilih santai dan bersandar di pojok ruangan dengan headset ditelinganya karena malas mengikutinya.

 

“…sekolah kita sebenarnya sedang diselimuti kabar duka. Minggu kemarin, tepatnya tanggal 10 Januari, para pengikuti ekskul Pecinta Alam dinyatakan hilang di Gunung dalam perjalanan hiking mereka disebabkan oleh cuaca ekstrim. Total ada tiga belas orang siswa yang hilang dalam hiking ini..” Chorong memulai pengumumannya.

Semua siswa yang baru tahu nampak terkejut dan mereka merasa miris ketika melihat beberapa gambar yang ditampilkan oleh Sungyeol melalui LCD, tampak beberapa jenazah yang sudah ditemukan tim SAR dijajar di halaman sekolah beberapa hari yang lalu sebelum MOS diadakan.

“ Tim SAR melakukan pencarian lima hari berturut-turut dan mereka berhasil menemukan dua belas jasad senior kalian. Hanya satu yang masih dinyatakan hilang sampai saat ini, yaitu Kim Myungsoo sunbae, President School Junghwa yang sebenarnya. Jika saat ini ia ada, mungkin ia yang memimpin jalannya MOS, bukan wakilnya yang menyebalkan itu. dan mungkin peranku disini hanya sebagai sekretaris, bukan seorang wakil.” Chorong melirik sinis sesaat kearah Woohyun, lelaki itu tak peduli dan hanya bisa membuang muka.

“…berikut kami tampilkan profil senior-senior kalian yang meninggal dalam kegiatan hiking kemarin.” Chorong menatap layar dan menampilkan profil serta foto para mendiang teman-temannya yang tewas dalam kegiatan rutin ekskul Pecinta Alam yang diadakan setiap tahun itu.

Hingga ketika slide menampilkan nama Myungsoo, Chorong meneteskan airmatanya begitu juga dengan Sungyeol dan panitia yang lain, terkecuali Woohyun yang justru tertawa senang melihatnya.

“ Terakhir, satu-satunya yang masih dinyatakan hilang dan tidak dicari lagi karena sudah dinyatakan meninggal..” Chorong memutus kalimatnya karena airmatanya semakin deras, “…senior yang paling patut diteladani di sekolah ini, Kim Myungsoo, President School kita. Seperti yang kalian lihat pada profilnya, ia adalah orang yang paling banyak memiliki prestasi untuk sekolah ini dalam berbagai bidang. Ia juga sosok sunbae yang baik dan anti senioritas. Seandainya saja MOS kalian dipimpin olehnya, kalian akan lebih banyak mendapat didikan yang baik, bukan siksaan seperti kemarin.” Chorong kembali menyindir Woohyun.

“ Tidak perlu berandai-andai, dia sudah mati.”ucap Woohyun santai sembari tertawa sinis, membuat semua yang ada di dalam ruangan merasa jengkel.

“ Awas kau.” Chorong semakin benci saja dengan kekasihnya itu.

“ Haish, sudahlah.” Sungyeol menenangkannya, ia mengambil alih mikrofon dari tangan Chorong.

“…nah, adik-adik.. apa kalian mau lihat wajah President School kita?” tanya Sungyeol.

Semua siswa baru nampak antusias terkecuali Kai, yang menunduk seraya menggeleng terus menerus dan meneteskan airmatanya. Naeun yang kebetulan duduk di sampingnya mengeluarkan sapu tangannya dan menyerahkannya pada lelaki itu.

“ Kau kenapa?” tanya Naeun pelan, Kai tak menjawab karena masih tak sanggup mengontrol airmatanya yang semakin deras. Naeun tidak memaksakan pertanyaannya, ia membiarkan Kai menangis sepuasnya dulu.

“ Sebenarnya aku sedih melihatnya. Tetapi kita tampilkan saja..” Sungyeol menekan keyboard laptopnya hingga layar besar ruangan multimedia menampilkan gambar seorang lelaki berusia sekitar 18 tahun yang sangat tampan. Seluruh siswa baru nampak takjub dan mengagumi wajah tampannya tak terkecuali siswa laki-laki.

Lain halnya dengan Eunji, Howon, dan tentu saja Naeun yang nyaris pingsan di tempat ketika melihat wajah lelaki bernama Kim Myungsoo itu dengan jelas.

 

“ Dia.. sisi baik L ! teori dua sisi itu benar..” Naeun dan Eunji masih menatap foto itu dengan tak percaya, sedangkan Howon diserang rasa bingung yang luar biasa. Bagaimana bisa President School dan siswa teladan sekolah mereka memiliki fisik yang persis dengan penyihir paling jahat dan licik di negeri Junghwa?

*

 

Seorang lelaki yang sejak tadi berada di atas pohon dekat jendela ruangan multimedia masih menatap gambar ‘kembarannya’ yang ternyata bernama Kim Myungsoo itu. Kini ia tahu alasan mengapa ia sangat jahat, mungkin karena sisi baiknya yang sudah mati ini, entahlah. L terus menatap gambar Myungsoo dan buku Hyoyeon tentang teori dua sisi yang ada dipangkuannya  secara bergantian, hingga senyum licik mengembang di wajah tampannya.

 

“ I know what to do. Wait me, Son Naeun …”

 

To be Continued

 

Pukul 2 pagi, akhirnya author kelar juga nulis part ini. Mohon maaf kalau banyak kekurangan dan mengecewakan readers. Author janji akan lebih baik lagi di part selanjutnya.

Berhubung author kembali disibukkan dengan sekolah, jadwal update ff mungkin akan labil (?), tetapi author akan usahakan update seminggu sekali dan ngepost sesuai jadwal tapi malem kayak gini ._. terimakasih atas semangat yang kalian kirim untuk author 😀

 

Sampai jumpa di part berikutnya!! Untuk kelanjutan dari OSIR, tunggu-tunggu saja yaa.. 😀

Like and Comment juseyo!!! Jika ada plot yang kurang dimengerti kalian boleh bertanya ^^

 

Next >> Part 4 : Another Me

176 responses to “THE PORTAL [ Part 3B : You Will Find Me ]

  1. Pingback: THE PORTAL 2 [[PART 8 : Sacrifices [PRE-FINAL]] | FFindo·

  2. Pingback: THE PORTAL 2 [[PART 8 : Sacrifices [PRE-FINAL]] | citrapertiwtiw·

  3. bagussssssss…
    puas banget sama ff yg long chap kek gini xD
    wkkkk~
    ecieeee L yg cuman bisa ngestalk naeun
    next chap author xD

  4. Pingback: THE PORTAL 2 [Part 9 : The Real Ending] [FINAL] – FFindo·

  5. Pingback: THE PORTAL 2 [Part 9 : The Real Ending] [FINAL] [LATEPOST] | citrapertiwtiw·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s