The Reason

The Reason

The Reason

Main Cast(s) : Park Chanyeol (EXO K) & Jung Yuhyeon (OC/YOU) || Genre : Fluff || Length : Ficlet (1082 words) || Rating : Teen || Author : Mira~Hyuga / MiraeLee (@cumiraw6)

Disclaimer : Just own the plot and Jung Yuhyeon, yg lain nyulik(?). Sedikit scene belongs to someone.

a/n : Sequel dari “Smile“. Enjoy! ^^

 

Jung Yuhyeon keras kepala, idealis, konsisten, dan sifatnya sangat bertolak belakang dengan Park Chanyeol. Ia bahkan terkesan membosankan.

Namun jika seorang pria sudah tertarik, itu pasti berhubungan dengan penampilan fisik sang wanita yang pertama kali terlihat.

Jung Yuhyeon cantik, itu yang pertama kali membuat Chanyeol menyukainya.

Jung Yuhyeon berbeda, itu yang selanjutnya, yang menambah ketertarikannya.

Senyuman Yuhyeon, itu yang paling berpengaruh. Yang benar-benar membuat Chanyeol jatuh hati sejak pertama kali melihatnya.

Penghujung musim gugur berarti empat bulan kurang dari dua tahun mereka berteman. ‘Masih berteman’, kalau Chanyeol boleh percaya diri, kekeke..

Selama ini laki-laki itu menunggu waktu yang tepat untuk menyatakan perasaannya. Sayangnya ia sendiri tak begitu yakin kapan waktu yang tepat itu. Ia tak bisa melihat ataupun menebaknya sendiri dari raut wajah Yuhyeon.

Ya, untuk hal ini Chanyeol berpikir suasana hati Yuhyeon menentukan segalanya.

Seperti saat ini.

Mereka dan banyak mahasiswa lain–termasuk Baekhyun, Jongin dan Jia–sedang menggunakan ruang latihan. Mereka menghentikan kegiatan mereka sejenak karena beberapa menit lagi waktu makan siang.

“Kalian duluan saja!” seru Chanyeol pada Baekhyun dan Jongin, sambil berjalan mendekati Yuhyeon yang duduk di salah satu sisi ruangan, sedang mempelajari skenario. Ia sempat melihat kedua sahabatnya itu tersenyum penuh arti dan Jongin memainkan alisnya sebelum keluar dari ruangan, meninggalkan Chanyeol dan Yuhyeon bersama beberapa mahasiswa lain.

“Kapan kau keluar untuk makan siang?” tanya Chanyeol seraya duduk memeluk lutut di hadapan Yuhyeon, tentu saja sambil tersenyum lebar.

“Hm.” Yuhyeon menatap Chanyeol lalu menggeleng.

Wae? Kau tidak akan makan siang?”

“Sedang tidak nafsu makan.”

“Kau sakit?”

Yuhyeon menggeleng lagi. Chanyeol masih tampak khawatir selama beberapa saat tapi kemudian percaya karena wajah gadis itu memang tampak segar seperti biasa. Ia akhirnya hanya mengangguk, “Hm, geurae?

“Seharusnya kau ikut saja dengan teman-temanmu tadi.”

“Aah..” Chanyeol mengibaskan tangan di depan wajahnya sambil terkekeh, “aku belum lapar, nanti saja.”

“Hm.”

Chanyeol nyengir lebar dan untuk selanjutnya hanya memerhatikan wajah serius Yuhyeon yang kembali menekuni naskah di tangannya.

Ini bukan perasaannya saja, kan? Jung Yuhyeon terlihat semakin cantik. Chanyeol tak berhenti menelusuri per detail wajah itu. Wajah berbentuk lonjong yang dihiasi alis yang cukup tebal dan rapi, kedua mata yang bulat dengan bulu mata panjang yang membentuk bayangan di pipinya yang tidak begitu tirus, hidung bangir, dagu yang lancip dan bibir merah muda yang tampak lembut.

Apa sekarang saat yang tepat? Err.. tidak, tidak. Nanti saja.

Atau sekarang?

Chanyeol bisa merasakan darah mengalir dengan cepat ke atas tubuhnya dan membuat wajahnya memanas ketika Yuhyeon mendongak, memergokinya sedang memerhatikan wajah gadis itu. Untuk sesaat Chanyeol melupakan sekitar dan baru menyadari ia baru saja memanggil Yuhyeon tanpa sadar.

Sebenarnya ini bukan kali pertama terjadi. Mereka sudah cukup familiar dengan ‘hal kecil’ seperti ini. Dan biasanya salah satu akan segera mengerjap sadar dan memalingkan wajah diikuti yang lain.

Namun sepertinya tidak untuk kali ini.

Chanyeol semakin tenggelam dalam iris hitam Yuhyeon, dan Yuhyeon tersihir tatapan laki-laki di hadapannya itu.

“Yuhyeon-ah.

.

“Menurutmu, bagaimana kalau aku menyukaimu?”

Bagus, kalimat itu meluncur begitu saja meninggalkan mulut Chanyeol tanpa kenal tempat dan suasana di sekitar mereka.

Karena pertanyaan itu, barulah Yuhyeon mengerjap berkali-kali dan mengalihkan tatapannya sebentar.

“…” Chanyeol memberanikan diri untuk tak mengalihkan pandangannya sedikit pun, meski jantungnya benar-benar sudah menggila. Dia sudah terlanjur membukanya, jadi ia harus mencapai intinya pula.

“…” kedua bola mata Yuhyeon bergerak-gerak gelisah.

“…”

“K-kenapa.. tiba-tiba..?”

.

“Hanya..” Chanyeol tak bisa mencegah tangannya bergerak mengusap tengkuknya, “..aku menyukaimu. Sejak kita bicara tentang musik beberapa bulan yang lalu, dan kau tersenyum padaku.” pria itu berdeham sekilas.

Yuhyeon terdiam, tak tahu harus melakukan apa. Ia bahkan tidak pernah berpikir Chanyeol tertarik padanya. Selama ini ia lihat, sikap Chanyeol padanya dan pada mahasiswi lain tidak berbeda. Justru Chanyeol seperti lebih menjaga jarak dengannya. Tapi kenapa..?

“Kenapa?” tanya Yuhyeon setelah melihat sorot mata Chanyeol yang sekilas mirip dengan yang dimiliki ayahnya.

“Aku suka melihatmu tersenyum.” setengah dari happy virus Chanyeol telah kembali, “Dan entah sejak kapan, aku ingin menjadi alasanmu tersenyum.”

Yuhyeon terpana selama beberapa detik, “Park Chanyeol.”

Park Chanyeol selalu jadi yang pertama. Orang pertama yang marah padanya hanya karena pertemanan, orang pertama yang menyatakan suka padanya, dan orang pertama yang begitu menyukai senyumnya hingga seperti ini.

“Aku serius.” ujar Chanyeol dengan senyum cerah yang mengembalikan debaran cepat jantung Yuhyeon yang sesaat lalu sudah mereda. Sesaat kemudian, tatapan lelaki itu kembali menghangat.

“Kau bagaimana, Yu?”

Wajah gadis itu semakin memanas dan ia tak tahu apa yang harus dilakukannya di saat seperti ini. Selama satu menit ke depan, tak ada sahutan apapun dari Yuhyeon sebagai respon atas pertanyaan itu.

Lagi, Chanyeol mengusap tengkuknya dengan gugup, “Hm.. apa aku.. harus memberimu waktu untuk berpikir?” tanyanya lalu memiringkan kepala, “Atau kau tidak merasakan hal yang sama? Hehe.. maaf, sepertinya kau bingung sekarang.”

Yuhyeon kembali terdiam. Ia bahkan tak yakin dengan perasaannya sendiri, “Park Chanyeol.”

Jeda cukup lama yang membuat Chanyeol mengerutkan kening sambil berharap debar jantungnya tidak terdengar keluar.

“Apakah dua hari.. tidak terlalu lama?” tanya Yuhyeon ragu-ragu.

Chanyeol tersenyum lebar lalu mengusak pelan rambut Yuhyeon, “Hm, tidak masalah. Aku akan menunggumu.”–dan happyvirus-nya mengembalikan suasana seperti semula.

>>><<<

“Yuhyeon-ah, ayahmu bilang kau tak perlu menunggunya pulang. Langsung naik ke kamarmu, cuci muka, cuci kaki dan gosok gigi setelah itu beristirahatlah.”

Yuhyeon hanya mengangguk menanggapi ocehan panjang tantenya, “Selamat malam.”

“Eoh, mimpi indah, Sayang.”

Yuhyeon beranjak dari tempatnya duduk lalu  menaiki satu-persatu anak tangga ke lantai dua. Dan meski tahu Yuhyeon sudah meninggalkan ruang keluarga, bibinya itu terus mengoceh tanpa henti, “Sepertinya dia sangat sibuk, eoh? Suaranya di telpon sedikit sengau. Mungkin pilek karena terlalu capek. Padahal aku sebelumnya sering berpesan untuk jaga kesehatan, atau paling tidak jangan gila kerja seperti ini. Tapi apa yang mempan untuk ayahmu yang keras kepala itu, Yuhyeon-ah? Aigo, tabiat, tabiat. Ia mirip kakekmu dulu…”

Sepertinya ocehannya masih panjang karena setelah Yuhyeon sampai di kamar dan menutup pintu, suara bibinya masih terdengar dari luar.

Setelah menyelesaikan ‘ritual sebelum tidur’ di kamar mandi, Yuhyeon kembali ke kamarnya dan mengambil ponsel di atas nakas karena melihat LED-nya berkedip-kedip. Satu pesan masuk.

[Yuuu~huu~ jangan lupa latihan sebelum tidur.

Sender : Park Chanyeol]

Pesan itu mengingatkan Yuhyeon pada naskahnya dan peristiwa tadi siang, antara dirinya dan Chanyeol.. yang… membuatnya bingung lagi.

Tenang, masih ada satu hari lagi.

Gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya lalu menarik napas dalam dan mulai menyentuh layar ponselnya untuk membalas pesan Chanyeol. Tapi beberapa detik kemudian ia berhenti dan tertegun. Saat mengubah fokus matanya sedikit, tanpa sengaja Yuhyeon melihat bayangan wajahnya sendiri yang terpantul di layar ponsel. Wajahnya yang sedang dihiasi senyum. Entah sejak kapan.

“Aku suka melihatmu tersenyum.”

“Dan aku ingin menjadi alasanmu tersenyum.”

.

FIN

48 responses to “The Reason

  1. wihh ad sequelnya Smile,kirain bakan gantung gitu aja.. hehhehe ^^
    suka sama karakternya channie disini.. >♥<

  2. Pingback: That Poor Barista | FFindo·

  3. Pingback: The Girl Belongs to The Man | FFindo·

  4. Ich thor kau buatku tersenyum gaje malem” gini.. nnti klo kucingku liat trus berpikir klo majikannya gila gimana thor hehehe /emng dah gila/..Akh Park Dobiku kau sangat sangat romantis nak >///< Ngak kuat ma karakter yeol disini bisa" mati diabetes xD
    Lanjott~

    • Yah, tapi seenggaknya yg lihat dirimu senyum2 sendiri itu kucing, bukan hantu #loh
      Aih Park Dobiii…. Teganyaaaa ;;A;; *peluk chanyeol* lanjuuut! Makasih loh :* *ketcup*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s