THE PORTAL [ Part 4 : Another Me ]

The Portal new

Title :

The Portal

 

Main Cast :

– A Pink’s Jung Eunji / Jung Hyerim as The Princess of Junghwa Kingdom

– INFINITE’s Lee Howon / Hoya as The Bodyguard

– A Pink’s Son Naeun / Son Yeoshin as the Good Witch

– INFINITE’s Kim Myungsoo / L as the Bad Witch

 

Genre : Fantasy, Romance, Friendship, and little bit Comedy (soon)

 

Other Casts :

– CNBlue’s Jung Yonghwa as The King / Eunji’s Father

– SNSD’s Seo Joohyun as The Queen / Eunji’s Mother

– BAP’s Jung Daehyun as The First Prince / Eunji’s brother

– F(x)’s Jung Soojung / Krystal as The Second Princess / Eunji’s sister

– BtoB’s Jung Ilhoon as The Second Prince / Eunji’s Brother

– SNSD’s Lee Soonkyu / Sunny as The Palace’s Witch

 

– EXO’s Kim Jongin / Kai as the handsome mysterious person

– EXO’s Do Kyungsoo / D.O as an ordinary boy

– EXO’s Byun Baekhyun as the Prince in another Kingdom

– A Pink’s Yoon Bomi as Eunji’s foster sister

– B2ST’s Yoon Doojoon & 4Minute’s Heo Gayoon as Eunji’s foster parents

– INFINITE’s Nam Woohyun as Naeun’s foster brother

– INFINITE’s Lee Sungyeol as Myungsoo’s best friend

– B2ST’s Son Dongwoon as Naeun’s Brother

– B.E.G’s Son Gain as Naeun’s Sister

– SNSD’s Kim Hyoyeon as the most mysterious witch in Junghwa

– A Pink’s Kim Namjoo as Hyoyeon’s foster daughter

 

Rating : PG15 – NC17

Type : Chaptered

 

Before Story :

Hyerim dan Yeoshin telah memulai kehidupan baru mereka sebagai Eunji dan Naeun di dunia nyata dengan tinggal di sebuah panti asuhan dan bersekolah di SMA berformat asrama. Meski pada awalnya sulit menyesuaikan diri dengan kehidupan mereka yang benar-benar berbeda dari kehidupan mereka yang sebenarnya, mereka senang karena merasa telah jauh dari semua permasalahan di negeri mereka.

Sementara itu, L dan Howon yang juga ikut menyusul mereka sudah melakukan banyak tindakan dan berbagai macam cara untuk terus memantau dan menjaga mereka. Howon memulai kehidupan barunya setelah memutuskan untuk menyamar menjadi perempuan bernama Lee Jiwon dan menjadi siswi baru di SMA Eunji dan Naeun dengan tujuan agar ia bisa menjaga Eunji dengan lebih aman dan dekat.

L sendiri masih memikirkan bagaimana caranya mendekati Naeun karena ia tak ingin mengikuti jejak Howon. L yang masih ingin menikmati dunia nyata yang pernah ia mimpikan sejak dulu memutuskan untuk tidak terburu-buru menjemput Naeun untuk pulang ke negerinya.

Hingga takdir mempertemukannya dengan bukti teori dua sisi Hyoyeon. Ia mengenal Myungsoo, kembaran dirinya yang ternyata belum lama meninggal dunia. Ia mengenal sisi baiknya itu melalui pengumuman khusus yang disampaikan oleh senior di SMA Eunji dan Naeun saat MOS.

Mengetahui bahwa sisi baiknya itu sudah dinyatakan meninggal, L tidak mungkin menyiakan kesempatan. Apa yang akan ia lakukan?

 

Selengkapnya :

Part 1 : I Hate My Life

Part 2 : Big Decision

Part 3A : I Will Find You

Part 3B : You Will Find Me

 

NB : Part ini didominasi oleh flashback, jadi harap maklum kalau fontnya banyakan pake format italic 😀

Dan.. karena kemungkinan author untuk update lagi bisa agak lama, jadi part ini sengaja author buat panjang. Semoga puas ya! 🙂

***

 

Author POV

 

Rainy Monday in Seoul, 06.15 AM …

 

Gadis berparas cantik itu masih berdiri dengan tubuh menggigil di halte jalanan Gwangmoon. Ia terus memeluk tubuhnya yang dibalut seragam putri minim Junghwa High School, sedang tangannya terus memantau perpindahan waktu di jam tangan analog berwarna hitam yang melingkar cantik di pergelangan tangannya yang basah karena terciprat air hujan.

Gadis berparas cantik itu, Son Naeun.

Wajahnya tegang, menandakan bahwa ia sedang dirundung kepanikan. Jam sudah menunjukkan pukul enam lima belas pagi. Ia sudah terlambat lima menit untuk tiba di sekolah. Ia takut dihukum oleh senior-seniornya yang kejam dan biadab -meski mereka tak sebiadab suaminya, L-.

Dini hari tadi, saat Naeun sedang nyaman-nyamannya tidur di dalam kamar asrama, beberapa senior membangunkannya dengan satu set peralatan dapur ­­dan memerintahkannya keluar membeli obat untuk senior yang matanya terkena pilox kemarin. Padahal ia sudah diberondong banyak hukuman sepanjang siang, ternyata hukumannya itu masih berlanjut bahkan disaat ia seharusnya tidur nyenyak seperti siswa yang lain. Akhirnya ia terpaksa mandi di pagi buta, memakai seragamnya, dan keluar sebentar mencari obat di apotik -setelah bertanya kesana kemari apa yang dimaksud dengan apotik itu-.

Kalau boleh jujur, tentu saja Naeun merasa setengah hati melakukan semuanya. Mengingat insiden pilox tersebut murni kesalahan senior itu sendiri karena pada kenyataannya Naeun hanya diam dan pasrah saat kejadian itu terjadi. Namun mengapa ia yang disalahkan? Sekalipun ia seorang penyihir, ia tak mungkin tega berbuat sekeji itu pada seniornya, ia tahu pilox mengandung bahan kimia yang sangat berbahaya jika terkena mata. Kejadian itu sangat janggal bagi Naeun, seperti ada kekuatan sihir yang menggerakkan tangan senior itu sampai-sampai ia menyemprot pilox tersebut ke matanya sendiri.

Namun Naeun berhenti memikirkannya. Toh, ia sudah terlanjur dihukum.

Sekarang Naeun merutuki dirinya sendiri. Mengapa ia sampai-sampai meninggalkan tongkat sihirnya di dalam asrama? Ia takut Chorong, seniornya yang merupakan teman sekamarnya, melihat tongkat tersebut. Kalau tongkat itu dilihat orang lain, habislah dia.

Ia benar-benar menyesal tak memegang tongkat, ia jadi tak bisa mendatangkan payung, jaket, atau jas hujan untuk mempermudah jalannya ke sekolah. Sekarang ia hanya bisa pasrah menunggu hujan berhenti, meski rasanya mustahil karena air dari langit itu semakin deras saja datangnya. Gadis itu semakin merapatkan dirinya sendiri karena tubuhnya mulai menggigil kedinginan.

Perlahan, Naeun memajukan kedua tangannya, menampung air hujan di tangannya itu. Setelah penuh, ia meniup airnya sejenak lalu meminumnya. Rasa hangat menyapa tenggorokannya, lumayan. Ada untungnya menjadi penyihir, bisa merubah suhu air hujan hanya dengan satu tiupan.

Sembari menunggu hujan berhenti, Naeun melakukan kegiatan yang sama lagi untuk menghangatkan tubuhnya meski kurang maksimal.

 

Kegiatannya itu terhenti sejenak ketika dari seberang ia mendengar suara derap kaki yang berpadu dengan derasnya hujan dan suara genangan air yang terinjak. Sepasang kaki panjang yang mengenakan sepatu hitam mengkilat itu kini menempatkan dirinya tepat di samping Naeun, lalu sang pemilik kaki panjang itu melakukan hal yang sama dengannya -menampung air hujan, meniupnya, lalu meminumnya-.

Naeun menoleh dan mengangkat kepalanya pelan-pelan, memperhatikan lelaki yang tiba-tiba datang itu dari bawah ke atas.

Celananya, motif kotak-kotak dengan warna krem dominan. Celana siswa Junghwa High School. Identitasnya sebagai warga sekolah itu juga dipertegas dengan kemejanya yang sedikit terlihat melalui jaket putihnya yang tidak ditutup begitu rapat.

Astaga, mengapa Naeun baru tahu ada warga sekolah bertubuh jangkung dan kelewat wangi seperti ini? Siapa gerangan lelaki yang sepertinya tampan ini? Apakah sesama peserta MOS, atau mungkin.. seniornya?

Kalau dilihat dari postur dan kharismanya, sepertinya ia senior. Senior idaman tepatnya.

Naeun menyipitkan matanya, mencoba melihat wajah lelaki yang masih sibuk meminum air hujan itu dengan hati-hati agar tidak ketahuan. Meski rasanya sulit karena jarak mereka cukup dekat.

“ Ah, tidak.”

Naeun memilih mengalihkan pandangannya saja, takut sang lelaki yang sepertinya rupawan itu menyadari bahwa ia diperhatikan sejak tadi. Lebih baik ia berharap lelaki itu menoleh kearahnya tanpa diminta. Entah untuk mengajak ngobrol atau mungkin berkenalan.

 

“ Kenapa dia ada diluar juga? Apa dia juga dihukum senior untuk membeli sesuatu di luar? Atau.. dia.. adalah.. kakak.. senior? Ah, kalau begitu enak sekali jadi senior, bisa keluar masuk asrama sesuka hati.” pikir Naeun, “…dan mengapa sekarang ia melakukan hal yang sama denganku? Dasar tidak kreatif.”

Lelaki yang masih berdiri di samping gadis yang tengah menggunjing dirinya dalam hati itu hanya bisa tertawa kecil secara sembunyi-sembunyi. Tentu karena ia bisa mendengar dengan jelas apa yang dikatakan gadis itu meski hanya di dalam hati.

Namun ia tidak berkomentar, ia lebih memilih untuk menoleh kearah Naeun, mempertemukan mata elangnya dengan mata bening gadis itu hingga membuat gadis polos itu terkejut setengah mati.

 

“ Astaga! Tidak mungkin!” kata-kata itu meluncur begitu saja ketika Naeun akhirnya bisa melihat dengan jelas wajah lelaki yang ternyata memang benar-benar amat sangat dan betul-betul tampan itu.

“…tidak mungkin! Aku..aku pasti salah lihat!” Naeun mengerjap-ngerjapkan matanya, namun wajah lelaki itu tidak berubah dalam pandangannya, membuatnya paranoid dan trauma mendadak. Gadis itu buru-buru beringsut mundur hingga kakinya terpeleset oleh genangan air hujan.

 

“ Hei, awas!”

Beruntung lelaki itu langsung menahan tubuhnya yang nyaris membentur aspal dengan lengan kuatnya. Seulas senyum terukir di wajah tampannya saat melihat wajah Naeun dalam jarak dekat.

Aku-bertemu-istriku-lagi.

 

Naeun membuka matanya yang sempat terpejam karena pasrah saat terpeleset barusan. Sang lelaki segera berhenti tersenyum dan berusaha bersikap wajar.

 

“ Kau tidak apa-apa?”

 

Mata Naeun membesar mendadak, jantungnya berdebar tak karuan dan bumi serasa terbalik di dalam kepalanya saat melihat sosok lelaki tampan yang masih menahan tubuhnya dengan kuat itu dalam jarak dekat. Ia gemetaran. Lelaki itu memang benar-benar persis dengan…

 

“ L ?” Naeun mendesis, amat pelan karena rasa takut dan trauma yang sudah menguasainya. Namun dapat didengar jelas oleh lelaki itu.

 

“ Maaf, L siapa maksudmu?”

 

Naeun tersentak. Bagaimana bisa?

*****

 

Saturday, 18th of January 2014, 10.00 AM

 

Seluruh peserta MOS baru saja keluar dari ruangan multimedia, sebagian besar dari mereka terutama peserta perempuan keluar dengan mata sembab akibat terbawa suasana saat senior mereka yang dipimpin oleh Chorong bercerita banyak tentang Myungsoo, sunbae mereka yang masih hilang di gunung dan sudah dianggap meninggal karena tak juga ditemukan.

Tak hanya peserta MOS perempuan yang meneteskan air mata, tetapi peserta laki-laki juga demikian. Dan hanya satu yang mengalami hal itu, yakni Kai. Lelaki berkulit agak gelap dan berbadan sedikit dekil itu bahkan keluar dengan mata yang jauh lebih sembab dari para peserta MOS perempuan karena ia yang merasakan siksaan batin paling dalam.

Kai mempercepat langkahnya sembari menghapus airmatanya dengan saputangan yang diberikan oleh teman satu gugusnya tadi, sedang si pemberi saputangan terus mengejarnya.

“ Kai! Tunggu!” suara lembutnya sedikit meninggi karena Kai tak juga menghiraukannya, ia berlari kecil mengejar lelaki berkulit gelap yang semakin jauh berjalan didepannya itu.

“ Saputanganmu basah. Mau kukembalikan begini saja?” Kai berbalik dengan jengkel karena gadis itu berhasil menarik seragamnya.

“ Bukan.. bukan itu..”

“ Lantas apa!?”

Gadis bernama Naeun itu merogoh saku bajunya dan menemukan dua lembar uang disana, ia segera menyerahkannya pada Kai.

“ Aku tahu kau tidak punya uang. Jadi.. pakailah ini, beli seragam yang baru.”ucapnya hati-hati. Tujuannya murni karena ia tak ingin melihat Kai dihukum oleh para senior karena belum mengganti seragamnya yang disemprot pilox kemarin. Seandainya saja Kai tidak punya kakak yang merupakan sisi baik L, mungkin Naeun tak akan sepeduli ini padanya.

Apa ini artinya Naeun merindukan sosok L? tidak, tidak mungkin. Merindukan orang biadab itu? gila saja.

Kai tertawa sinis.

“ Aku bukan pengemis.”

“ Aku tulus menolongmu.”

“ Aku tidak butuh pertolongan.”

“ Kumohon, sekali ini saja.”

Naeun mendekat dan meletakkan uangnya di tangan Kai lalu menariknya ke koperasi untuk ditemani membeli seragam baru.

Bersamaan dengan itu, sepasang mata dari atas pohon yang terletak beberapa meter dari mereka memandangnya dengan semakin tajam. Tangan sang pemilik mata elang itu mengepal.

 

“ Kenapa kau begitu peduli padanya, Son Naeun? Aku benci melihatnya.”

*

 

“ Sedikit blash on, eyeliner.. dan.. lipst..aaaa!!”

Gadis bernama Lee Jiwon itu hanya bisa memasang poker face ketika lipstik yang sedang ia oles di bibirnya mencoret pipi kanannya akibat terkejut dengan suara jatuh yang agak keras di belakangnya. Dengan anggun ia berbalik dan terkejut melihat sesosok lelaki tampan berpakaian serba hitam kini berdiri didepannya.

“ Iiih! Ini toilet perempuan! Keluar!!!” ia meraih tas make-upnya yang ada di meja wastafel lalu memukul-mukul lelaki itu dengan benda tersebut.

“ YA!! bodoh!!! Kau juga laki-laki!!!” lelaki itu berteriak jengkel, sontak sang gadis menghentikan aksinya dan tertawa kecil.

“ Hihi. Mianhae, aku terlalu mendalami peran.”

Lelaki berpakaian serba hitam itu -L-, kini mondar-mandir di dalam toilet, menatap benci wajah tampan tiada taranya yang galau di kaca wastafel. Sementara manusia transgender yang ada didekatnya itu hanya bisa berdiri dengan manis karena takut dibentak lagi.

“ Tidak ada orang lain kan disini selain kau?” tanya L, Jiwon mengangguk cepat.

Ketika terdengar suara beberapa orang perempuan mendekati toilet, L segera berjalan menuju pintu dan mengayunkan tongkatnya.

“ Aaaaa!!!”

“ Ya! apa yang kau lakukan?” Jiwon terkejut karena perempuan-perempuan di luar itu tiba-tiba berteriak, ia segera berjinjit dan melihat lewat kaca pintu. Terlihat beberapa orang siswi terjatuh di depan pintu toilet lalu akhirnya berlari ketakutan dan tak jadi masuk.

“ Supaya mereka tidak masuk.”jawab L enteng, setelah itu ia mengunci pintu toiletnya.

“ Memangnya kau mau apa? kau mau memperkosa aku?? Tolong L.. jangan.. cukup Yeoshin, jangan aku.. aa..~” Jiwon mundur beberapa langkah karena ketakutan.

“ Ck, bodoh!” L menoyor kepalanya dengan kesal, “…aku masih normal!”

“ Tapi sekarang aku perempuan, cantik malah.”

“ Bicara sekali lagi.” L memelototinya, Jiwon langsung menunduk.

“ Jadi..sebenarnya ada apa kau kesini?” tanya Jiwon hati-hati, “…oh iya, tadi saat di ruangan itu aku melihat gambar seorang sunbae yang mirip sekali dengan….”

“ Ya! ya! aku tahu! Makanya aku mendatangimu, aku butuh bantuanmu.” L memotong.

“ Bantuan.. apa? memang sebenarnya ada apa?”

L mendekat untuk membisikkan rencananya.

“ Ya! jangan dekat-dekat, aku masih perawan!”Jiwon melindungi tubuh mulus dan dada besarnya dengan takut-takut.

“ Ck! Kau perjaka, bodoh!”

“ Oh iya ._.”

L mencengkeram bahu Jiwon dengan kuat lalu membisikkan sesuatu di telinga ‘gadis’ itu.

“ Kau kenal Kai, kan?”

“ Eung.. anak yang berkulit gelap dan dekil itu? yang kemarin telat datang itu? memang… kenapa?”

“ Bantu aku menculiknya. Sekarang.”

“ A..apa!? untuk apa?”

“ Aku memperhatikannya sejak tadi. Dan ternyata dia adalah adik dari Myungsoo, sisi baikku yang sudah mati itu.”

“ Hah??? Jadi.. jadi kau ingin..”

“ Nanti saja! Bantu aku menculiknya sekarang!” L memotong karena sudah tak sabaran, Jiwon nampak berpikir keras karena ragu.

“ Kau tidak bisa melakukannya sendiri? Kau kan penyihir hebat.”

“ Aku tidak mungkin menculiknya dengan sihirku. Dia ada disini, bahkan sialannya dia sedang bersama Yeoshin sekarang. Kalau aku menculik dia dengan sihirku, Yeoshin bisa mengetahui keberadaanku dengan mudah.”

“ Jadi kau ingin aku yang menculiknya?”

“ Gadis pintar, kau tahu maksudku.”

“ Ya! bagaimana aku melakukannya!?”

“ Aku tidak mau tahu. Pokoknya bawa dia ke belakang sekolah atau belakang asrama. Kutunggu lima belas menit dari sekarang. Kalau tidak, mati kau.”

Seketika itu juga L menghilang dan hanya menyisakan asap di hadapannya, jantung Jiwon berdebar keras. Ia harus menculik Kai atau…

L akan membunuhnya.

*

 

Jiwon menyusuri koridor sekolah dengan wajah tegang, tak tahu apa yang harus ia lakukan untuk menculik Kai. Menculik secara diam-diam harus pakai strategi, menculik terang-terangan dan frontal tidak mungkin, bisa-bisa ia dicap sebagai siswi yang baru keluar dari rumah sakit jiwa.

 

“ Lee Jiwon!”

“ Eh?”

Ia berbalik, nampak seorang gadis cantik berponi berdiri di bangku taman sekolah yang tepat berada di luar koridor. Ia melambaikan tangannya kearah Jiwon, membuat jantung lelaki setengah perempuan itu mendadak berdebar keras dan merasakan fatamorgana.

Mata mereka bertemu, hingga hawa sejuk tiba-tiba menyapa seluruh tubuh Jiwon, daun-daun pepohonan di taman nampak berguguran dalam pandangannya, angin berhembus dengan lembut hingga membuat rambut gadis cantik didepannya itu terurai dengan indahnya.

Gadis cantik dan berponi itu, Jung Hyerim.

Tuan Putrinya, kekasihnya. Dan tentunya, orang yang ia cari, orang yang menjadi tujuan utamanya.

Akhirnya… bertemu.

 

“ Hei! Kemari!” gadis yang kini disapa Eunji itu kembali berteriak bahkan menepuk tangannya karena Jiwon hanya mematung memperhatikannya dari jarak beberapa meter. Masih menikmati fatamorgananya, mungkin.

“ Nde!” Jiwon segera berlari dengan menghampiri gadis itu, membungkukkan badannya sembilan puluh derajat lalu berdiri dengan tegapnya.

“…ada yang bisa saya bantu, Tuan Put..eh..”

“ Apa??”

“ T..tidak.” Jiwon segera menutup mulutnya. Bodoh, mengapa kebiasaannya memberi penghormatan selayaknya seorang pengawal terhadap Tuan Putrinya masih saja terbawa sampai ke dunia ini? Jika Eunji menyadarinya, penyamarannya akan segera terbongkar.

Eunji masih diam, menatap sosok Jiwon dari atas ke bawah berulang-ulang.

“ Kau.. Lee Jiwon-ssi..? siswi baru itu..”

“ Benar sekali, tuan pu.. eh.. m..maksudku.. ya.. aku.. aku Lee Jiwon.”

Lee Howon. Dasar kau lelaki tolol, mengapa mengulang kesalahanmu lagi?– Jiwon merutuki dirinya sendiri dalam hati. Peluh dingin mulai bercucuran dari permukaan wajahnya yang notabene sudah diberinya make-up di toilet barusan. Berhadapan dengan putri Raja Yonghwa tanpa bersikap hormat dan formal tentu saja sangat sulit. Jiwa seorang pengawal sudah benar-benar terpatri dalam dirinya.

“ Oh, berarti aku tidak salah.” Eunji tersenyum meski wajahnya masih sedikit menyiratkan kebingungan. Konyol rasanya jika ia mempertanyakan gender Jiwon yang sudah jelas-jelas memakai bando dan rok pendek sepertinya. Namun perawakan Jiwon yang sangat jarang bahkan sepertinya tak dimiliki oleh gadis lain -tinggi dan kekar- membuatnya bingung. Mengapa bentuk tubuhnya benar-benar menyerupai… Howon? Eh, maksudnya.. laki-laki.

Ya Tuhan, mengapa dengan melihat Jiwon Eunji tiba-tiba merasa rindu dengan pengawal kerajaan bernama Lee Howon yang telah menyimpan separuh hatinya itu? padahal.. tidak ada hubungannya, kan?

Jiwon bertahan, mencoba sanggup menahan tatapan Eunji yang begitu lama mengarah kepadanya. Jika saja bisa, ia ingin memeluk gadis itu lagi, menciumnya, lalu membawanya pulang ke istana. Tapi semua tidak semudah membalikkan telapak tangan. Mereka bukan penyihir yang bisa membuka portal itu.

“ Darimana kau tahu.. namaku?”tanya Jiwon seraya berusaha meredam dalam-dalam suara baritonnya. Ia terpaksa berbicara dengan suara perut dan dipastikan ia akan menderita selama menjadi Jiwon karena perubahan suaranya itu.

“ Nah..jadi begini..” Eunji sedikit terkekeh, “…kepala asrama sudah tahu ada siswi baru. Jadi beliau memberikan kamar untukmu. Ini kuncinya.”

Jiwon menerima kunci dengan nomor 183 itu dengan hati-hati, ia kembali membungkuk tanda berterimakasih. Sekali lagi, naluri pengawal kerajaannya masih sangat kuat.

“ Gamsahamnida..”

“ Ng.. ne, cheonma. Eh.. kamarmu itu sama dengan kamark….”

“ Eh!”

Eunji tak jadi menyelesaikan kata-katanya ketika Jiwon memekik mendadak. Seorang siswa berlari melintasi mereka dan melompati pagar belakang taman, kabur dari lingkungan sekolah. Eunji sadar Jiwon tak hanya terkejut tetapi juga panik mendadak karena siswa yang melompati pagar belakang taman itu adalah si hitam dan dekil, Kai.

“ A..ada apa?” tanya Eunji yang masih belum sepenuhnya paham, ia kebingungan melihat Jiwon yang kini gelisah setengah mati.

“ M..maaf. aku harus pergi, sampai jumpa!” dengan berat hati Jiwon pamit dan tanpa pikir panjang ia mengangkat roknya sedikit dan berlari kencang menuju pagar belakang dan melompatinya dengan mudah untuk mengejar Kai.

Eunji terkejut.

“ Ya ampun, perempuan macam apa dia? Macam wonder woman.” Eunji tak habis pikir, ia yang notabene gadis tomboy saya belum tentu bisa melompati pagar tinggi itu secepat Jiwon.

 

“ Kai!! Kai!” dari kejauhan terlihat Naeun berlari namun berhenti ketika sampai di dekat Eunji karena sudah kelelahan dan pasrah melihat Kai yang sudah berhasil kabur.

“ Ya! ada apa sih?” tanya Eunji tak mengerti, ia membantu Naeun menghapus peluhnya, “…kau yang membuat anak dekil itu kabur?”

“ Bukan!” jawab Naeun cepat, “…saat beli seragam di koperasi tadi dia memang sudah gelisah. Pas selesai pakai seragamnya dia langsung lari tanpa sebab, bilang terimakasih padaku saja tidak.”

“ Dasar. Sudah dekil, tidak tahu terimakasih pula. Bukankah sudah kubilang kau tidak usah terlalu peduli padanya?” Eunji jadi ikut kesal, “…apa karena dia adik dari sisi baik L?”

Naeun mengangguk polos, Eunji memutar bola matanya.

“ Terserah kau lah, kalau aku menasihatimu kau tidak akan menurut juga.”kata Eunji malas, ia sudah yakin Naeun akan semakin peduli pada anak dekil itu setelah pengumuman tentang Myungsoo -sisi baik L- di ruang multimedia tadi. Padahal kalau dipikir-pikir, untuk apa Naeun peduli pada Kai? Toh anak dekil itu tak akan tahu juga kalau Naeun punya suami yang sangat mirip dengan kakaknya yang sudah mati itu.

“ Kau sedang apa disini?” Naeun mengalihkan pembicaraan.

“ Aku tadi bertemu Lee Jiwon, peserta MOS yang baru itu.”

“ Ooh.. yang katanya siswi perkasa itu ya.”

“ Hah? Maksudmu??”

“ Hahaha..” Naeun tertawa kecil, “…kau tahu? Banyak yang membicarakannya, lho. Lihat saja postur tubuhnya, lebih menyerupai laki-laki dengan otot sebesar itu. tapi wajahnya lumayan manis.. dan.. agak tebal dengan make up.”

“ Hahahaha!! Kau benar.” Eunji ikut tertawa, “…dia juga sangat polos. Tapi tadi.. saat melihat Kai dia ikut mengejar.”

“ Hah?? Benarkah? Apa dia kenal dengan Kai?”

Eunji mengangkat bahunya, “ Ah, sudahlah. Eh, kau tahu? Kepala asrama meminta agar Jiwon sekamar dengan aku dan Bomi, lho. Eh..”

Gadis itu teringat sesuatu.

 “…YA!!! LEE JIWON!!! DIA MEMBAWA KUNCI KAMARKU!!!!!

**

 

“ Sudah jam dua belas! Sebentar lagi!”

Kai mempercepat langkahnya meski posisinya sudah cukup jauh dari sekolah, tangannya menggenggam erat sebuah kertas, satu telinganya diganjal oleh headset, membuatnya sesekali berhenti dan bergerak mengikuti irama musik yang mengalun melalui headset tersebut.

 

“ Kurasa dia sudah gila.”

“ Tidak, pasti ada alasan mengapa ia menari-nari sendirian seperti itu.”

“ YA! L ! kau mengagetkan aku!” Jiwon terkejut karena L sudah berdiri di belakangnya yang kini bersembunyi di balik pohon mengawasi kemana perginya Kai.

L tak peduli, mata tajamnya terus menatap Kai tanpa berkedip.

“ Kita harus apa sekarang?” tanya Jiwon gelisah, “…aku tidak mengerti apa yang harus kita lak….”

“ Ikut aku.” L tiba-tiba menghilang dan berpindah ke pohon berikutnya yang lebih dekat dengan Kai. Jiwon kebingungan karena tak tahu harus berpindah lewat mana agar tidak ketahuan, akhirnya ia lebih memilih diam menunggu L yang bertindak duluan.

Tangan dingin L nampak meremas sebuah kain hitam, perlahan ia melangkah menuju lelaki berkulit gelap itu.

 

“ Sialan, mengapa aku tiba-tiba merinding..” Kai merasakan hawa aneh menjalari seluruh tubuhnya secara tiba-tiba, ia pun memilih untuk segera lanjut berjalan.

Namun sayang, baru saja berjalan selangkah, matanya mendadak ditutup dengan sebuah kain oleh orang misterius dari belakang. Membuatnya berontak setengah mati karena panik dan tentu saja takut.

“ YA!! SIAPA KAU!!?? LEPASKAN AKU!!!” Kai mencoba melawan dan melepas tutup matanya, membuat L mengumpat karena kewalahan menghadapinya. Jiwon segera keluar dari persembunyiannya dan membantu L dengan menahan kedua tangan Kai sekuat-kuatnya hingga membuat lelaki itu tak dapat berbuat apa-apa lagi.

“ Ikut aku. Sekarang.”ucap L dingin sembari menarik Kai dengan kasar, Kai terus menggeleng dan berusaha bertahan.

“ Tidak mau! Aku harus audisi sekarang!! Lepaskan aku!!”jawab Kai keras.

L pun merampas kertas yang ada di genggaman Kai, membacanya sejenak lalu tersenyum licik sembari menatap Jiwon.

“ Ganti isi formulirnya dengan data dirimu. Kau saja yang ikut audisinya.” L meletakkan kertas tersebut di tangan Jiwon. Namun tentu saja ‘gadis’ itu tidak mengerti apa maksudnya.

“ Audition of Seoul Dance Competition?” Jiwon membaca isi kertas tersebut, “…jadi.. aku.. aku harus..”

“ Cepat sana audisi!” L memotong dengan galak, karena takut akhirnya Jiwon berlari dengan membawa kertas tersebut.

“…heh tunggu!” L tiba-tiba memanggilnya lagi, Jiwon berbalik.

“ Apa lagi??”

L mengarahkan tongkatnya beberapa detik kearah Jiwon, namun yang disihir tak mengerti apa-apa dan hanya bisa pasrah.

“ Sudah. Pergi sana!” L mengusirnya lagi, Jiwon segera pergi tanpa tahu apa yang telah L lakukan dengan sihir padanya barusan.

“ Heh, kau siapa sih!!?” Kai yang masih ditahan oleh L semakin mengamuk karena formulir audisinya dirampas begitu saja.

“ Nanti kau tahu.” L menjawab dengan sinis, ia segera menarik Kai menuju tempat yang sepi.

*

 

“ Nama? Duh.. masa’ Lee Jiwon? Berarti aku audisi sebagai waria..” sepanjang jalan Jiwon bingung mengisi formulirnya, “…atau Lee Howon? Ah.. berbahaya kalau aku mengungkapkan identitas asliku.”

Ditengah kebingungan yang tengah melandanya, mata Jiwon melotot seketika saat melihat pantulan bayangan dirinya di sebuah kaca jendela rumah yang kebetulan sedang ia lintasi. Ia segera berhenti sejenak dan menatap refleksi dirinya itu lekat-lekat karena tak percaya.

“ A.. astaga apa yang terjadi??” Jiwon terkejut mendapati dirinya yang kini kembali seperti semula. Menjadi laki-laki.

Namun, ada yang berbeda.

“ Pakaian macam apa ini?? Macam preman..”

Ia kebingungan melihat penampilannya yang benar-benar seperti orang aneh bagi dirinya sendiri. Memakai kaos oblong hitam yang memperlihatkan otot lengan besarnya dan celana jeans yang sobek sana-sini. Tak hanya itu, ia tak mengerti juga mengapa satu telinganya kini di-piercing dengan anting berwarna hitam pula. Di lehernya pun terdapat kalung silver panjang yang menjuntai hingga perutnya.

Satu lagi, rambut bob-nya kini berubah cepak dengan sedikit jambul kemerahan.

 

“ Astaga, mengapa aku sekeren ini? Hebat sekali L. tapi.. apa maksud dia merubahku seperti ini?”

Ia menoleh kearah jalanan besar yang ditempeli banyak poster dan satu baliho yang semuanya berisi tentang pembukaan audisi kompetisi dance yang seharusnya Kai ikuti. Lokasi audisinya tak jauh dari tempat ia berdiri sekarang. Dengan ragu Jiwon mulai melangkah menuju tempat yang dijejali banyak orang tersebut dan masuk ke dalam antrian yang paling sedikit untuk mengambil nomor audisi meski masih tak tahu apa yang akan ia tampilkan saat audisi.

Jiwon menatap formulirnya sekali lagi, berusaha membangun rasa percaya diri dengan penampilannya yang sama sekali tak biasa itu. Ia memutar bolpoinnya, mulai mencoret nama Kai dari formulir itu lalu menuliskan namanya.

“ Ho.. ah, jangan.. bukan Howon. Ho…..” lelaki tampan itu berpikir keras memikirkan nama palsu keduanya setelah Jiwon. Ia semakin panik karena sebentar lagi gilirannya mengumpulkan formulir dan mendapat nomor audisi.

 

“ Next!” panitia audisi menyuruhnya maju, dengan gemetaran ia maju dan membungkukkan badannya dengan sopan, membuat semua orang kebingungan sekaligus kagum.

Lelaki-sekeren-itu-mau-membungkukkan-badannya-dengan-sopan?

Mengagumkan. Tapi siapa yang tahu kalau lelaki tampan yang sedang menjadi pusat perhatian karena penampilan kerennya ini sedang dilanda kebingungan hanya karena sebuah nama?

 

“ Siapa namamu?” tanya sang panitia, bak petir yang menyambar kedua telinga Howon ketika mendengarnya, ia masih berpikir.

“ Ng.. namaku.. Ho..”

“ Ho..?”

“ Ng…”

“ Hei, kajja! Banyak yang mengantri. Siapa namamu!”

“ Hoya! Hoyaaa!!”

“ Hoya?”

“ Hah? Hoya?”

“ -_-“

“ Eh.. i..iya.. Ho.. Hoya.”akhirnya ia pasrah dengan nama yang refleks ia keluarkan dari mulutnya barusan karena kaget, ia segera menulis nama barunya itu di formulir lalu diserahkannya kertas yang sudah sedikit lusuh itu kepada panitia.

“ Ini nomormu. Silakan ke ruang tunggu. Semoga sukses.”setelah menulis namanya, sang panitia menyerahkan nomor audisinya.

 

Howon keluar dari antrian, lantas menatap ribuan orang yang menunggu untuk masuk ruang audisi. Rasa bingung masih bersemayam di otaknya.

 

“ Sekarang, aku harus berbuat apa?”

***

 

BRUK!

“ Arrgh! Sakit!”

Kai mengusap-usap lengan kanannya yang keseleo akibat dorongan kasar L yang membuatnya membentur sebuah dinding. Merasa tak lagi ditahan, Kai buru-buru melepaskan ikatan penutup matanya lalu mengedarkan matanya ke seluruh penjuru bangunan angker tempat ia berdiri sekarang.

“…m..mana manusia sialan itu??” Kai bingung bercampur takut, “…mana mungkin aku diculik hantu. Tidak.. pasti dia ada disini.”

“…heh!!! Brengsek!! Keluar kau!!!!! Apa maksudmu menculikku hah!!??? Hadapi aku sekarang!!!”Kai berteriak lantang sembari menyingsingkan lengan kemejanya meski kakinya gemetaran.

“…”

Belum ada sahutan. Emosi Kai semakin tersulut, kini ia memasang kuda-kuda.

“ KELUAR KAU SEKARANG!!!! MANUSIA SIALAN! AKU SUDAH SIAP MENGHABISIMU!”

 

“ Dasar anak kecil.”

 

“ Hah?” Kai sontak goyah ketika suara bariton yang menggema memasuki gendang telinganya, matanya kembali mencari-cari sumber suara tersebut. Bukan apa-apa, namun suara itu sama sekali tak asing baginya. Suara bariton itu adalah suara yang paling familiar baginya.

 

“ Disini. Bodoh.”

 

Kai berbalik, matanya membesar mendadak ketika menangkap sosok lelaki tampan berpakaian serba hitam bak malaikat maut tersenyum licik kearahnya seraya melipat kedua tangannya dengan angkuh. Jemarinya memainkan sebuah tongkat yang diyakini Kai memiliki kekuatan magis. Namun bukan tongkatnya yang menjadi pusat perhatian Kai, tetapi wajah tampan lelaki itu. Benar-benar mirip bahkan sama sekali tak ada bedanya dengan orang tersayang yang belum lama meninggalkannya.

 

“ Myungsoo hyung?”

Kai bergetar, bulir-bulir cairan bening sebesar biji jagung keluar dari pelupuk matanya dan menetes membasahi lantai rumah angker tempatnya berpijak. Kakinya perlahan mendekat kearah lelaki itu, meski perasaan ragu luar biasa menjalarinya karena sang kakak tak pernah berpenampilan seseram dan seangkuh lelaki didepannya ini.

Tetapi persetan dengan semuanya, lelaki didepannya benar-benar menyerupai Myungsoo, kakak kandungnya.

“ Aku merindukanmu, hyung! Kau kembali!”

Kai memeluknya dan menangis kemudian, membuat sang lelaki yang dipeluk tertawa sinis. Setelah merasa agak risih ia pun bersuara.

 

“ Aku bukan hyung-mu.”

 

“ A..apa?” Kai melepas pelukannya meski tak rela, ditatapnya wajah lelaki tampan itu, “…kau.. kau bohong! Hyung, aku sedang tidak ingin bercanda. Aku memang rindu pad…..”

“ Aku. Bukan. Hyung-mu.”lelaki itu mengulang perkataannya dengan jeda di setiap katanya untuk mempertegas ucapannya itu, ia membalas tatapan Kai dengan lebih tajam, agar anak dekil yang sudah mencuri hati istrinya itu sadar bahwa ia sama sekali tidak bertemu dengan hyungnya.

Kai terdiam sejenak, mencoba mengamati lekuk wajah lelaki misterius itu dengan teliti.

Lelaki itu benar. Kai mulai menangkap beberapa hal yang berbeda dari lelaki itu jika dibandingkan dengan kakaknya.

Mereka benar-benar sama persis, sama sekali tak ada perbedaan. Seperti menggunakan satu tubuh itu untuk berdua. Orang yang tak tahu mungkin menganggap lelaki itu memanglah Myungsoo, namun tidak dengan Kai, yang menemukan kejanggalan setelah menatap lelaki itu lama-kelamaan.

Mata lelaki itu amat tajam, menyiratkan kejahatan dan kelicikan yang membuat seluruh tubuh Kai merasa merinding. Berbanding terbalik dengan mata kakaknya -Myungsoo- yang selalu menatap setiap orang terutama Kai sendiri dengan tatapan teduh dan menenangkan yang senantiasa memberi perasaan damai bagi siapapun yang melihatnya. Senyuman mereka pun berbeda. Jika Myungsoo selalu menarik kedua ujung bibirnya untuk menyenangkan perasaan orang-orang yang melihatnya, lelaki itu hanya menarik satu ujung bibirnya untuk membuat takut orang yang melihatnya. Senyumannya begitu sinis dan menyeramkan.

Ada lagi perbedaan yang cukup nyata. Kai tahu Myungsoo tak pernah memiliki tato satupun di kulitnya, sedangkan lelaki didepannya ini memiliki tato aneh berbentuk seperti akar tanaman di lehernya, menambah kesan seram pemiliknya. Lagipula, Myungsoo sangat jarang memakai baju berwarna hitam seperti lelaki misterius didepannya ini.

 

“ Kau..siapa?”tanya Kai seraya pelan-pelan menjauh dengan perasaan takut.

“ Sebelumnya.. aku ingin tanya, apa kau percaya dengan dunia sihir?” lelaki itu balik bertanya dengan datar, Kai kebingungan.

“ Memang..kenapa?”

“ Karena aku adalah seorang penyihir.”

“ HAH!?” Kai terbelalak, “…tidak, tidak mungkin!”

“ Jadi kau tak percaya?”

“ Aku tidak percaya.”

Lelaki itu tertawa sinis, ia langsung mengayunkan tongkat sihirnya kearah Kai lalu mengarahkannya ke arah lain dengan cepat hingga Kai merasa tubuhnya terangkat dan menghantam dinding.

 

“ Arrggh!!”

Dalam hitungan detik, kini Kai terduduk dan bersandar di dinding dengan tangan dan kaki terikat dengan tali kencang yang hampir menghentikan peredaran darah di dalam tubuhnya. Mengapa ia bisa terikat secepat ini?

“ Masih tidak percaya?” lelaki itu mendekat dan berlutut didepannya, Kai masih diam, ribuan pertanyaan berkecamuk dalam otaknya namun ia tak berani lagi mengungkapkannya satupun karena takut diperlakukan kasar lagi.

 

“…Namaku L.”lelaki itu memperkenalkan dirinya dengan singkat.

“ L..? L saja?” tanya Kai pelan. L mengangguk.

“ Kau bingung mengapa aku mirip dengan kakakmu?”

“ Kau tahu tentang kakakku?”

“ Tentu saja.”

“ Bagaimana bisa?”

L mengeluarkan buku yang selalu ia bawa dan membuka halaman tentang Teori Dua Sisi lalu meletakkannya di lantai, menyuruh Kai untuk membacanya.

Kening gelap Kai berkerut, ia paham dengan teorinya namun masih merasa sulit untuk mempercayainya. Ia tidak menyangka kalau mendiang kakaknya yang berhati malaikat punya kembaran berupa penyihir sejahat L.

“ Aku.. sulit mempercayainya.”

“ Aku akan membuatmu semakin percaya jika kau mau bekerja sama denganku.”

“ Kerja sama..apa?”

“ Hmm.. begini..” L nampak berpikir, “…saat ini, siapa saja keluargamu yang masih hidup?”

Kai menggeleng, “ Tidak ada. Sejak Myungsoo hyung pergi, aku hidup sebatang kara.”

“ Bagus. Lebih dari yang kuharapkan.” L tersenyum licik, “…lalu, kau punya rumah?”

Kai mengangguk, “ Rumah kontrakan.”

“ Darimana biasanya kalian dapat uang?”

“ Memangnya kenap….”

“ Jawab saja!”

“ A.. anu.. Myungsoo hyung.. dia atlit basket dan sering dapat uang jika timnya menang. Dan setiap malam minggu saat semua siswa Junghwa boleh keluar asrama, dia bekerja menjadi fotografer keliling di taman hiburan.”

L tercengang, dari cerita Kai saja ia bisa menarik kesimpulan bahwa sosok Myungsoo adalah seorang pekerja keras. Pantas saja menjadi idaman di sekolahnya.

“ Kau sendiri? Apa kau juga mencari uang?”

Kai menggeleng dengan penuh penyesalan, “ Aku terlalu mengandalkan Myungsoo hyung dan tidak pernah punya niat untuk mencari uang. Bahkan aku menggunakan uang tabungan Myungsoo hyung untuk melanjutkan sekolah.  Dan setelah Myungsoo hyung tiada, mau tidak mau aku harus mencari uang sendiri. Tidak mungkin aku bergantung pada uang tabungan Myungsoo hyung yang suatu saat pasti akan habis. Makanya.. tadi aku ingin mencoba ikut audisi Seoul Dance Competition, mungkin saja skill dance yang kumiliki bisa membuatku menang dan mendapatkan banyak uang..”

 

Suasana hening sejenak..

 

“ Tidak perlu khawatir lagi soal itu. aku akan membiayai hidupmu.”kata L tiba-tiba, membuat Kai terkejut.

“ Apa!? kukira orang jahat sepertimu tidak punya rasa k….”

“ Tunggu, aku belum selesai!” L memotong dengan kesal, Kai pun diam.

“…aku akan mengurusmu dan menjamin semua keperluan hidupmu. Dengan satu syarat yang sangat mudah.”lanjut L.

“ Syarat apa?”

“ Kau tidak boleh menganggap aku sebagai pengganti Myungsoo. Tetapi kau harus menganggap aku adalah Myungsoo. Kau harus katakan pada semua orang kalau kakakmu ternyata masih hidup, dan orangnya adalah aku.”

“ HAH?! Kau.. kau gila!?” Kai terkejut dan tentu saja berat hati melaksanakannya karena bagaimanapun juga Myungsoo dan L benar-benar bertolak belakang sifatnya.

“ Aku tidak gila, tapi aku cerdas dalam memanfaatkan kesempatan.” L berdalih, “…sekali lagi kau mengataiku gila, akan kubunuh kau.”

“ Tapi apa maksudmu melakukan ini semua?”

L menarik nafas, kemudian mulai menceritakan tentang kehidupannya dan pernikahannya dengan Naeun pada Kai hingga lelaki berkulit gelap itu mengerti tujuan L yang ingin menyamar menjadi Myungsoo.

 

“ Jadi Naeun adalah penyihir? Dan dia sudah menikah denganmu?”

Lagi-lagi Kai merasa sulit untuk percaya. Apa karena status Naeun yang sudah menjadi istri L yang membuatnya sulit untuk tertarik pada gadis itu? atau karena alasan lain? Entahlah, yang jelas ia tak percaya L dan Naeun sudah menikah di usia yang masih amat sangat muda.

“ Ya. aku ingin menipu Naeun agar suatu saat aku mudah membawanya pulang ke negeri kami. Aku membutuhkannya.”jawab L singkat, “…jadi.. kau mau kan bekerja sama denganku?”

“ Hmm.. aku…..”

*****

 

“ Nah. Sudah kuduga kau disini!”

Setelah memeriksa beberapa ruangan rumah gaib mereka yang sudah mulai pudar karena tak dihuni oleh wanita, Howon, eh.. Hoya, akhirnya menemukan L yang sedang berdiri membelakanginya di kamar terbelakang. Entah apa yang sedang dilakukan oleh penyihir itu.

L tak menjawab, ia masih sibuk membereskan barang-barang yang tak pernah Howon lihat sebelumnya. Ia nampak melepas baju hitamnya lalu menggantinya dengan sebuah kemeja berwarna pink yang membuatnya mengumpat berkali-kali karena tak suka dengan warnanya yang terlalu cerah.

“…hei L, sebenarnya kau sedang a…..”

“ Sudah selesai audisinya?” L memotong seraya kembali memasukkan barang-barang barunya ke dalam tas yang juga tak pernah dilihat oleh Hoya sebelumnya.

“ S..sudah.”jawab Hoya ragu, ia mehe-mehe sendiri mengingat apa yang ia lakukan di tempat audisi tadi.

“ Bagaimana?”

“ Ya.. begitulah. Saat masuk ruangan ada dua orang pria dan satu orang wanita dengan tatapan laser duduk didepanku lalu memintaku untuk menari. Saat aku mendengar musik menyala, aku bergerak saja sesuka hatiku sesuai permintaan mereka.”

L tertawa miris, mengapa sang pengawal istana ini benar-benar polos? Ia tak bisa membayangkan betapa lugunya Hoya ketika ia disuruh ini-itu oleh dewan juri.

“ Lalu bagaimana?” L semakin tertarik mendengar kelanjutannya.

“ Lalu aku diberi amplop ini.” Hoya mengeluarkan sebuah amplop berwarna biru tua dan menatapnya dengan bingung.

“ Apa isinya?”

“ Belum kubuka.. aku.. takut.”

“ -__- takut apa? buka saja. Cepat!”

Hoya pun membuka amplopnya, matanya membesar seketika saat membaca tulisan yang ada di amplop tersebut.

“ S..S..Selamat.. Anda.. m..masuk ke tahap.. s..selanjutnya. sampai jumpa di Seoul Hotel tanggal 25 Januari untuk memulai pelatihan. A..apa ini?” Hoya tak mengerti dan tentu saja tak menyangka.

“ YA!! KAU LOLOS AUDISI!” L excited mendadak, ia berbalik dan langsung memeluk Howon erat-erat.

“…tidak sia-sia aku menyihirmu menjadi pria keren dan tampan. Bodoh-bodoh begini kau bisa diandalkan juga!” L tertawa dalam pelukannya, membuat Hoya kesal dan sedikit meninju perut sahabatnya yang terkenal jahat itu.

“ Jadi aku harus bagaimana setelah ini, L?”tanyanya bingung. L tertawa lagi.

“ Bekerja keraslah karena ini artinya kau kembali menjadi orang lain. Kau harus memenangkan kompetisi dance ini, Hoya.”

“ Hoya? Kau tahu nama baruku?”

“ Aku membaca pikiranmu.”

“ YA! dasar lancang!”

“ Hahaha..”

Mereka semakin erat berpelukan, seakan sama-sama sedang merasakan bahagia yang teramat sangat, padahal bertemu Eunji dan Naeun saja belum.

“ Sekarang tolong kembalikan aku jadi Jiwon. Aku harus kembali ke sekolah sebelum dicincang para senior.”kata Hoya kemudian, ia jadi waswas kalau ingat dengan sekolahnya yang hari ini ia tinggalkan begitu saja.

“ Ck. Tenang saja, kau tidak akan disiksa oleh seniormu.”jawab L santai.

“ Mengapa kau bisa memastikannya?”

L melepaskan pelukannya dan memperlihatkan seragam Junghwa High School yang kini ia kenakan.

 

“ Karena sekarang aku adalah seniormu, Lee Jiwon.”

 

                                                         -END OF FLASHBACK-

 

Lelaki tampan dan gadis cantik itu masih berdiri di halte setelah beberapa saat yang lalu sang lelaki tampan menjelaskan bagaimana ia bisa kembali bersekolah hari ini. Perbincangan mereka beberapa saat yang lalu dirasa cukup lama, selama hujan yang tak juga berhenti dari tadi pagi.

Naeun menggerakkan kakinya menuju tempat duduk halte, berharap dengan duduk disana ia bisa mendapat sedikit udara yang hangat. Seluruh permukaan kulitnya sudah memucat dan beku akibat kedinginan dalam waktu yang cukup lama. Sementara lelaki tampan itu masih betah berdiri, menatap jalanan yang tertutup kabut tebal sembari dengan sengaja membasahi tangannya dengan air hujan.

Naeun mengeluarkan sebuah buku kecil dari tasnya dan mulai menulis sesuatu disana sembari menatap punggung lelaki tampan itu sejenak secara sembunyi-sembunyi.

 

“ Namanya Kim Myungsoo. Kelas XII-1. Ia seniorku di Junghwa High School. Dan satu hal yang penting, ia adalah wujud dari sisi baik suamiku, L.

Ternyata teori dua sisi yang ditulis oleh Hyoyeon memang benar adanya. Dan aku merasa beruntung bertemu dengan Myungsoo sunbae, yang kuanggap seperti wujud sempurna L jika saja ia mau merubah sifat jahatnya.

Mereka benar-benar sama. Pada awalnya aku takut dan trauma melihat Myungsoo sunbae, tetapi keramahannya, senyum tulusnya, dan mata teduhnya membuatku merasa nyaman dan tenang. Tidak seperti saat aku bersama L, dimana aku selalu diliputi oleh ketakutan akan kekejamannya.

Aku kira Myungsoo sunbae benar-benar sudah meninggal akibat kecelakaan yang ia alami di gunung saat hiking minggu lalu seperti yang diumumkan Chorong sunbae kemarin. Tetapi kenyataannya tidak demikian.

Myungsoo sunbae kembali, meski dengan beberapa bekas luka di wajah dan lengannya. Namun semua rasanya tidak masalah, wajahnya tetap tampan dan menawan, persis seperti L. Myungsoo sunbae mengatakan padaku bahwa ia satu-satunya korban hiking yang selamat dari kecelakaan itu namun ia dinyatakan menghilang karena telah diselamatkan dan dirawat oleh salah satu warga yang tinggal di sekitar lokasi kecelakaan. Yang mengejutkan adalah, ternyata orang yang menyelamatkan Myungsoo sunbae adalah Jiwon, yang kini menjadi anak baru di Junghwa High School atas desakan Myungsoo sunbae yang ingin membalas budi dengan menyekolahkan siswi perkasa itu.

Cerita Myungsoo sunbae benar-benar seperti drama. Tetapi apa alasanku untuk tidak mempercayainya? Ia tidak mungkin berbohong. Ia lelaki berhati malaikat dan Kai sangat beruntung memiliki kakak seperti dia.

Sekarang ia masih ada bersamaku, menikmati suara hujan yang tak juga berhenti turun dari langit. Aku ingin bicara banyak dengannya, tapi aku malu. Ia seniorku dan aku harus menghormatinya meski ia sempat protes karena tadi aku memperkenalkan diriku dengan bahasa yang terlalu formal.

Semoga saja setelah ini aku bisa berbicara tanpa rasa canggung padanya, aku ingin bertanya banyak tentang Kai padanya.

Karena entah, saat pertama kali melihat Kai, aku merasakan gejala aneh di permukaan hatiku. Apa aku jatuh cinta padanya…?

 

“ Sedang apa?”

“ YA!” Naeun terkejut dan segera menutup bukunya lalu buru-buru memasukkan benda itu ke dalam tasnya, Myungsoo kini berdiri di depannya, tersenyum sejenak lalu mengambil tempat duduk di sampingnya.

“ Boleh kan aku duduk disini?”

“ Tentu saja, sunbae.”

Mereka kembali diam satu sama lain. Naeun bolak-balik menatap jam tangannya sedangkan Myungsoo nampak asyik mengotak-atik ponselnya, benda yang paling Naeun benci karena tak tahu bagaimana cara menggunakannya.

 

“ Semua warga sekolah menungguku. Kai sudah memberitahu mereka kalau aku kembali.” Myungsoo memecah keheningan, “…aku bisa saja ke sekolah sekarang. Aku membawa payung. Tapi setelah tahu ada hoobae yang masih menunggu hujan reda, aku tidak tega meninggalkannya.”

“ Maksudmu.. aku?” tanya Naeun pelan karena merasa tak enak.

Myungsoo mengangguk, “ Aku tidak mungkin meninggalkanmu.”

“ M.. memangnya kenapa? Aku tidak apa-apa, sunbae. Kau bisa ke sekolah duluan jika kau mau.”

“ Tidak. Kecuali kau mau kita bersama-sama ke sekolah dengan payungku. Hanya saja.. sejak tadi aku masih malu mengajakmu ke sekolah bersama.” Myungsoo tertawa kecil, “…tapi sekarang aku tak mau membuat warga sekolah semakin lama menungguku. Jadi.. ayo kita ke sekolah sekarang.”

“ Tapi.. aku..” Naeun masih ragu, hujan masih sangat lebat dan tubuhnya sudah betul-betul kedinginan.

Myungsoo melepas jaket putihnya dan tanpa banyak bicara ia menyampirkannya di bahu Naeun. Setelah itu ia menggosok-gosokkan kedua tangannya beberapa kali, lalu menempelkan kedua tangannya itu di pipi Naeun. Membuat wajah gadis itu tak hanya terasa hangat tetapi juga bersemu merah.

“ Maaf kalau aku lancang. Aku melakukannya agar kau merasa sedikit hangat.” Myungsoo meminta maaf, Naeun buru-buru mengangguk.

“…kalau begitu kajja, kita ke sekolah sekarang.” Myungsoo membuka payungnya dan menarik Naeun agar merapat dengannya.

 

Kedua kaki sepasang pengantin muda itupun mulai menyapa genangan air hujan, berjalan dengan kecepatan sedang menuju sekolah mereka…

***

 

Seluruh peserta MOS Junghwa High School masih berdiri memenuhi setiap koridor gedung sekolah, menunggu hujan berhenti. Kegiatan MOS dihentikan sejenak karena Chorong mengotot ingin menunggu kedatangan Myungsoo setelah mendengar kabar dari Kai. Ia sampai basah kuyup berdiri di dekat gerbang menunggu kedatangan sahabatnya itu bersama Sungyeol, setelah beberapa saat yang lalu berkelahi lagi dengan Woohyun yang sepertinya merasa sangat marah karena Myungsoo kembali ke sekolah.

 

Eunji masih bersandar di tiang depan laboratorium setelah beberapa saat yang lalu adu mulut dengan Bomi. Sejak hari sabtu kemarin ia memang bertengkar dengan teman sekamarnya yang sebenarnya sudah punya rencana untuk mengangkatnya sebagai saudara itu. Masalah mereka sebenarnya sangat sepele bagi Eunji, yakni soal Jiwon yang sabtu kemarin membawa kunci kamar mereka sehingga mereka harus menunggu kedatangan Jiwon sampai malam karena Jiwon harus menjalani hukuman dulu dari senior. Kendati Jiwon sudah meminta maaf, Bomi nampaknya masih sangat kesal dengan siswi baru itu, sedang Eunji sendiri sudah tak ingin mempermasalahkannya karena merasa ia yang telah salah memberikan kunci kamar itu pada Jiwon.

Kedua mata bening putri kerajaan Junghwa itu kembali mengedar ke segala arah untuk yang kesekian kalinya, mencari Naeun yang sampai saat ini tak juga kembali. Ia merasa risau dan kesepian karena Bomi ikut meninggalkannya entah kemana.

 

“ Eunji, temanmu masih marah padaku?”

“ Eh..” Eunji segera menegakkan tubuhnya ketika melihat Jiwon datang menghampirinya, ia mengangguk pelan.

“ Untuk kesekian kalinya. Aku minta maaf.. lain kali.. kau tidak perlu membelaku lagi.” kata Jiwon pelan, ia merasa tak enak karena telah membuat Eunji dan Bomi bertengkar, apalagi ia sendiri sadar bahwa kemarin ia sedikit mengotot soal pembagian tempat tidur di dalam kamar yang notabene hanya punya dua tempat tidur itu, ia ingin punya tempat tidur sendiri karena ia tak mungkin tidur seranjang dengan Bomi apalagi Eunji. Bagaimanapun juga ia bukanlah seorang perempuan.

“ Tidak apa-apa.” Eunji tersenyum kecil, “…kemarin Bomi marah karena kami menunggumu terlalu lama di luar kamar. Karena kunci kamarnya ada padamu Bomi jadi tidak bisa menonton acara kotak aneh yang ia tunggu-tunggu.”

“ Kotak aneh?”

“ Ng.. maksudku.. TV.” Eunji segera meralat kalimatnya dengan kikuk, namun siapa yang tahu kalau lawan bicaranya juga tak kalah kikuk darinya karena ia juga tak tahu apa-apa tentang TV.

“ Ooh.. memang acara apa?”

“ Bomi bilang ia ingin menonton acara audisi kompetisi dance yang disiarkan langsung hari sabtu kemarin.”

“ HAH?” Jiwon terbelalak kaget, ia langsung berpikir.

Bagaimana-bisa-acara-audisi-itu-ditonton-dalam-sebuah-kotak-bernama-TV?-bagaimana-caranya?

Ah, persetan dengan itu. Yang penting Jiwon lega karena penampilannya di audisi kemarin tidak disaksikan oleh Eunji, jika saja Eunji melihatnya mungkin ia sudah jantungan karena melihat Howon.

Suasana hening sejenak, hingga tiba-tiba Eunji sedikit menggoda Jiwon.

 

“ Sebaiknya kau pergi ke tempat lain. Aku ingin bernyanyi sendirian disini, nanti kau mual mendengar suaraku.”

“ Mwo?” Jiwon terkejut, ia segera menggeleng.

 

“ Tidak. Kau salah, Jung Hyerim. Aku justru merasa damai mendengar suaramu. Bahkan tidak mendengar suaramu sehari saja rasanya bagaikan hidup tanpa musik selama ribuan tahun. Hidupku terasa menyedihkan tanpa nyanyianmu.”

 

“ Hei.. mengapa melamun?” Eunji melambaikan tangannya didepan wajah Jiwon, ‘gadis’ itu langsung tersadar.

“ T..tidak. sudahlah.. bernyanyi saja, tidak apa-apa.”sahut Jiwon dengan nada yang mengandung sedikit unsur ketidak-sabaran, karena nyanyian seorang Hyerim adalah hal yang paling ia rindukan saat ini.

Senyum tipis mengembang dari wajah Eunji, ia mengambil nafas sejenak.

 

“ Aku hanya ingin bernyanyi sedikit untuk orang yang saat ini sedang kutunggu kedatangannya..” gumam Eunji pelan, namun bisa didengar oleh Jiwon. Membuat ‘gadis’ itu berpikir apakah orang yang dimaksud Eunji adalah dirinya, Lee Howon?

 

I have died everyday, waiting for you..

Darlin’ don’t be afraid I have loved you

For a thousand years, I’ll love you for a thousand more..

 

Eunji melantunkan sepenggal lagu itu dengan penuh perasaan karena sosok Howon kembali memenuhi jiwa dan perasaannya. Tanpa sadar airmatanya menitik satu demi satu, membuat hati sang pendengar nyanyiannya tersayat-sayat.

Seandainya saja Eunji tahu bahwa Howon tak akan mungkin lama meninggalkannya, seandainya saja gadis itu tahu bahwa sekarang Howon berdiri disampingnya. Entah, entah kapan Howon mengungkapkan semuanya. Ia baru memasuki tahap awal dan ia berjanji akan melindungi Eunji apapun yang terjadi pada gadis itu.

 

“ Ah, aku sensitif sekali.” Eunji tertawa kecil seraya menghapus airmatanya, “…bagaimana suaraku?”

Jiwon tersenyum senang karena Eunji meminta pendapatnya.

“ Suaramu….”

 

“ AMAZING!”

Jiwon tak jadi melanjutkan perkataannya karena sebuah suara mengagetkannya dan Eunji. Suara seorang lelaki yang dibarengi dengan tepuk tangan berkali-kali dari belakang.

Sontak Eunji dan Jiwon berbalik, terlihat sesosok lelaki dengan kartu tanda panitia MOS di lehernya berdiri tepat didepan mereka. Wajah manisnya menunjukkan rasa kagum luar biasa terhadap Eunji. Perlahan ia mendekat dan mengacungkan jempolnya kearah gadis itu.

“ Suaramu benar-benar mengagumkan. Bagaimana kalau sekarang kau bergabung dengan ekskulku?”tawarnya tak sabaran, membuat Eunji sedikit bingung dan melirik sejenak kearah Jiwon yang nampak tak suka melihatnya.

“ Tapi sunbae.. ekskul ap…”

“ Tentu saja ekskul menyanyi!” lelaki itu memotong, “…kajja, kau wajib ikut! Aku adalah ketua ekskulnya dan aku tidak akan menyia-nyiakan suaramu.”

“ Ng..”

“ Kalau begitu sekarang kau lihat ruang latihan ekskulnya, kau pasti akan senang disana. Kajja!”merasa sebagai senior yang bebas berbuat apapun, lelaki itu mulai menarik tangan Eunji agar gadis itu mau ikut dengannya.

Dengan segala kepolosan dan keluguannya, akhirnya Eunji menurut setelah berpamitan sejenak pada Jiwon yang tanpa ia ketahui sudah menyimpan gejolak emosi dalam dadanya.

 

Tangan Jiwon mengepal, namun segera ia kendurkan lagi mengingat identitasnya sebagai perempuan di sekolah ini. Ia menatap benci kearah punggung sang kakak senior yang kini bergandengan dengan Eunji menuju tempat latihan bernyanyi itu. Jiwon tahu siapa dia.

Senior itu.. Do Kyungsoo alias D.O, salah satu pembina gugusnya.

 

-To be Continued-

 

Akhirnya… terselesaikan juga part yang rumit ini, semoga tidak membingungkan readers yah. Maaf juga karena author ngaret postingnya. Selain butuh pemikiran matang di setiap part, seperti yang author katakan kemarin, author juga sekarang harus membagi waktu menulis dengan waktu sekolah dan tugas-tugas author.

Jadi harap maklum yah.. gak ada jadwal-jadwalan lagi untuk update ff mulai saat ini, jadi kalau sudah selesai ya author posting. Kalau belum, mohon kesabarannya untuk menunggu ^^

 

COMMENT and LIKE for this part is really needed !! Tanggapan readers adalah sumber semangat author. Sampai jumpa di part berikutnya! ^^

 

NEXT >> Part 5 : Over Protective?

Advertisements

149 responses to “THE PORTAL [ Part 4 : Another Me ]

  1. Pingback: THE PORTAL 2 [Part 7 : Dream] | citrapertiwtiw·

  2. Aku bayangin howon tuh, ya jadi howon trus pake wig dengan seragam rada ketat tapi rata/?
    Abisnya bingung mo bayangin gimana lagi :3

  3. Pingback: THE PORTAL 2 [[PART 8 : Sacrifices [PRE-FINAL]] | FFindo·

  4. Pingback: THE PORTAL 2 [[PART 8 : Sacrifices [PRE-FINAL]] | citrapertiwtiw·

  5. jeballlllllll….
    myung-eun so sweet vanget di halte..
    alalaahhhh makin gemes sama naeun yg malu pendiam xD
    greget sama L yg jd kalem kek myungsoo xD
    babat habis 5part/.

  6. Pingback: THE PORTAL 2 [Part 9 : The Real Ending] [FINAL] – FFindo·

  7. Pingback: THE PORTAL 2 [Part 9 : The Real Ending] [FINAL] [LATEPOST] | citrapertiwtiw·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s