The Kid

tumblr_mb8c8nF51q1rxg6n5o1_500_large

Lenght: 871 word count

Cast: Kim Sunggyu, Kim Myungsoo, Yuki (OC)

Warning: Just a fiction, dont take it so serious^^ and, forgive me for miss editing/typo.

The Kid

Hari-hari ini Sunggyu bingung. Semua ini berkaitan dengan sang adik, lelaki muda itu masih ingat betul bagaimana sang adik kecil itu berlari keluar rumah seusai pulang sekolah dengan lincahnya. Kontras sekali dengan suasana hariannya selama ini, yang selalu dirumah hanya untuk berdiam diri atau membuat origami bewarna-warni di ruang tengah.

Awalnya, Sunggyu mengira, mungkin sang adik memiliki kawan baru dan selalu bermain dengan orang itu hingga fajar menyingsing. Bukan seperti dulu, hanya tumpukan origami dan game portable yang bahkan tidak bisa diajak berbicara. Tidak dipungkiri, Sunggyu cukup senang dengan pemikiran itu, ini lebih baik dari pada adiknya bermain dengan benda tidak bernyawa. Maka Sunggyu membiarkannya.

Dia akan mengangguk sambil tersenyum ketika sang adik mulai meminta izin padanya untuk bisa keluar. Hingga pada akhirnya dia mengetahui tujuan sang adik akhir-akhir ini.

Tembok tua yang menjadi pembatas antara sungai dengan jalanan di belakang taman. Sebuah tempat yang tidak banyak di jamah anak kecil, jangankan anak kecil, orang dewasapun enggan. Sunggyu tidak habis pikir, mengapa Myungsoo selalu mengunjungi tembok tua yang tidak pernah terjamah itu? Dia yang sudah dewasa saja selalu bergidik ngeri ketika berada disana.

“Kesana lagi?”

Sunggyu bertanya sembari menaut alis melihat adiknya dengan riang mengangkat tubuh dari kursi. Berniat berkunjung pada tempat sakral itu setelah makan siang usai.

Melihat sang adik mengangguk dengan semangatnya, air muka Sunggyu semakin bingung.

Sebenarnya apa yang menunggu Myungsoo disana?

“Ya Myungsoo! Tunggu sebentar!”

Mendengar teriakan Sunggyu, Myungsoo yang sudah berlari kepintu depan berhenti. Anak kecil itu menatap kesal pada Sunggyu, layaknya tengah diburu waktu.

“Apalagi Hyung? Aku harus segera ke tembok tua itu?”

Kesalnya. Sunggyu segera beranjak dari duduknya, mendatangi Myungsoo yang sudah kelihatan tidak sabar. Entah bagaimana caranya, kini jantung Sunggyu terpompa lebih cepat, mungkin dia takut terjadi apa-apa dengan sang adik—mengingat tempat itu sedikit… yah, walau sudah beranjak dewasa, Sunggyu mengakui tempat itu seram.

“Sebenarnya apa yang kau lakukan disana?”

Tanyanya. Menatap dalam legam Myungsoo yang lebih rendah darinya. Sunggyu melihat kernyitan halus pada raut sang adik. Seperti menanyakan, kenapa Hyung ingin tahu?

Tapi—sunggyu mengabaikannya. Figurnya adalah sebagai seorang kakak yang melindungi sang adik.

“Menemui teman baruku, namanya Yuki.”

Jawab Myungsoo datar, kemudian berbalik menuju rak sepatu. Sunggyu mengekorinya dari belakang. Memakai sepatunya pula. Dalam kepalanya, lelaki itu sudah merangkai kata agar Myungsoo mau mengizinkannya ikut. Setidaknya tidak diusir saja itu sudah lebih dari cukup.

Tujuannya hanyalah satu, memastikan siapa teman Myungsoo. Dan sepertinya Myungsoo-pun tidak keberatan—sebenarnya dengan sedikit paksaan—

Siang semakin menyingsing, Sunggyu dan Myungsoo telah sampai pada objek yang mereka tuju. Tembok itu terlihat begitu rapuh dan seram menurut pandangan mata Sunggyu. Entah ada apa dengan otaknya, lelaki itu gelisah semenjak mendarat kan kaki pada pintu belakang taman.

Sejak kapan jalan ini ada?

Pikirnya melihat sebuah jalan setapak yang berada dibalik tembok.

Sunggyu notabene adalah orang yang tidak suka berburuk sangka dan berpikiran positif. Makanya, dia hanya terdiam sembari mengikuti langkah kaki sang adik. Melewati tikungan-tikungan kecil. Layaknya terhipnotis, keduanya sama sekali tidak berpikir. Bagaimana bisa ada tikungan lebih dari sepuluh dalam sebuah tembok rapuh berukuran kecil.

Satu tikungan terakhir. Sunggyu mengedipkan matanya cepat.

Kalau saja Sunggyu hari itu tidak segera mencubit dan menepuk pipinya. Mungkin dia akan mengira ini hanyalah dunia khayal. Sejak kapan ada sebuah pohon maple di dekat kanal sungai? Sejak kapan ada bangku antik di bawah pohon tersebut?

Nyatanya, apa yang dilihatnya dapat dia pegang dan rasai. Artinya ini nyata, begitu pula ketika ada sesosok anak perempuan kecil yang menatapnya dari arah pohon maple. Sunggyu tidak tahu pasti bagaimana caranya Myungsoo sudah berada disana, bermain dengan gadis kecil berambut pirang itu. Dengan mata kepalanya Sunggyu melihat gadis itu membisikkan sesuatu pada Myungsoo.

Hyung ini Yuki. Kau sudah bisa pulangkan sekarang?”

Terakhir, Sunggyu benar-benar ingat dia telah melangkah menuju pohon maple di balik tembok sembari berpikiran tentang membawa Myungsoo pulang tepat waktu dan berjanji juga pada dirinya sendiri untuk melarang sang adik kesana lagi. Bukan berada di sini. Terbaring di luar tembok dan dibangunkan oleh petugas keamanan yang bekerja di taman dengan pusing yang luar biasa menyiksa.

“Kau kenapa tertidur disini?”

Sunggyu masih mengerjab-ngerjabkan matanya perlahan. Bagaimana bisa dia berada disini? Dan kemana Myungsoo? Seketika adik kecilnya yang dia ikuti kemari tadi terbersit dalam otak Sunggyu. Lelaki itu ingat betul tadi dia kemari bersama Myungsoo, dan nyatanya, adik kesayangannya kini raib. Tidak ada dimana-mana sejauh matanya memandang.

 “K-kenapa aku disini? Dan mana jalanan kecil dibalik tembok ini?”

“Kau bicara apa?”

“Aku tadi masuk ke dalam jalan setapak di tembok ini! Adikku di sana!”

“Adik? Jalan?”

Sunggyu mengangguk, “Tadi ada jalan di sini, dan—adikku bermain di dalam sana bersama anak kecil bernama Yuki…”

“Yuki?”

Sunggyu mengangguk lagi tidak menyadari intonasi yang mulai berubah pada si-petugas keamanan.

Ronanya mulai panik. Lelaki itu bahkan sudah beranjak dan tidak perduli dengan pusingnya. Dia memaksakan mencari jalan yang ditunjukkan oleh Myungsoo tadi. Jalanan kecil dibalik sang tembok, namun nihil…

Tidak ada tikungan maupun jalan kecil disana.

“Tidak ada gunanya kau mencari jalan itu kembali. Ada baiknya carilah kuil, dan berdoa. Semoga adikmu pulang dalam keadaan bernyawa.”

Mendengarnya tulang-belulang Sunggyu serasa lemas. Lelaki itu jatuh terduduk, menatap nanar si tembok lapuk yang selalu dia hindari. Penyesalan itu hadir. Kini Sunggyu sadar arti kata, jaga orang yang kau cintai sebelum dia pergi dari hadapmu selamanya.

Dan—bulirpun jatuh—

END

i don’t know, i feel so akward in the end ugh -__-” maybe im too tired this day kekeke. Btw, this fic is a game that me and my friend played. jadi, aku sama temenku bikin fic perhari nya dengan tema yang berbeda, kebetulan yang aku post disini temanya “Tembok” xD oh ya, dan jumblah kata dibatesin, makanya pendek key, i think im talking too much. see you next time.

Advertisements

31 responses to “The Kid

  1. bikin saya banyak berpikir tentang misteri yang ditabur #halah sama author .__.

    feel-nya dapet, dan dengan ending yang menggantung… bikin cerita ini dapet rating yang bagus dari saya. latihan lagi biar lebih mantep ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s