My Younger Husband [Part – 10]

Title: My Younger Husband [Part – 10]

Author: wenzli (follow me: @Wenz_Li)

Genre: Romance

Rating: PG – 15

Length: Series

Pairing: Minho/Seungyeon, Minho/Hara, Jinki/Seungyeon

Main Cast:

  • Han Seungyeon
  • Choi Minho

Minor Cast:

  • Goo Hara
  • Lee Jinki
  • Other

Previous: [Part – 1] [Part – 2] [Part – 3] [Part – 4] [Part – 5] [Part – 6] [Part – 7] [Part – 8] [Part – 9]

Summary: Seungyeon yang patah hati karena ditinggalkan oleh kekasihnya tanpa sengaja melakukan hal yang tidak seharusnya ia lakukan, hingga memaksanya untuk menikah dengan Minho, lelaki yang 5 tahun jauh lebih muda darinya. Kehidupan rumah tangga Seungyeon dan Minho berjalan baik-baik saja—walaupun pernikahan mereka tidak diharapkan—hingga orang di masa lalu mereka kembali dan semuanya mulai berantakan, terutama mantan kekasih Minho yang sangat terobsesi untuk memilikinya kembali.

–=-=-=-

Ting Tong.

Bel tanda pergantian jam berdering sepanjang koridor gedung Haneul University. Minho tersenyum senang saat dosen yang mengajar di depan akhirnya keluar. Ia bangkit dari kursinya dan memasukkan buku-buku yang berserakan di meja ke dalam tas selempangnya. Baru Minho akan menyampirkan tasnya, Kibum dan Jonghyun langsung berkerumul di depan kursinya.

“Kau mau langsung pulang?” tanya salah satu dari mereka, Kibum.

Minho tersenyum lebar, “Ya, tentu saja.” jawabnya singkat sambil membenarkan posisi tasnya.

Bel pergantian jam tadi adalah akhir jam dari kelas kuliah Minho hari ini. Minho hanya ada jam kuliah sampai jam 2 saja. Jadi dia bisa pulang lebih awal sekarang.

“Sekarang hari jumat, kau tidak ikut kita main basket?” tanya Jonghyun.

Satu kali dalam seminggu, yaitu hari jumat, Minho dan  teman-teman biasanya memiliki jadwal sendiri untuk bermain basket bersama sepulang kuliah. Dulu Minho selalu ikut, bahkan tidak pernah absen sekalipun, dia salah satu dari yang paling semangat. Tapi sekarang…

“Ah maaf, aku tidak bisa ikut.” Jawabnya pelan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Jonghyun dan Kibum langsung mengerutkan kedua kening mereka dan berseru kompak, “Lagi?!”

Minho terkekeh pelan dan menjawabnya dengan anggukan kecil.

“Kau sudah tidak ikut main selama 3 minggu.” Kata Kibum mengerucutkan bibirnya dan melipat kedua tangan di dada.

Yeah, kalian tahu sendiri kan kalau aku sudah—”

“Sudah menikah?” potong Jonghyun. Minho hanya terkekeh menjawabnya. “Iya aku tahu Minho-ah. Tapi sekali ini saja, eoh? Mir dan Dongwoon akan ikut main bersama hari ini.” mohon Jonghyun.

Minho terlihat berfikir sejenak. Akhir-akhir ini, semenjak Minho berstatus sudah menikah dia jadi jarang meluangkan waktu untuk sekedar bermain basket bersama teman-teman mereka. Minho lebih sering memilih untuk cepat pulang dan bertemu dengan istrinya, waktu yang ia sisihkan untuk teman-temannya hanya sesekali saja saat ia benar-benar ingin bermain basket bersama mereka, itu pun hanya Minho lakukan sampai sore saja dan tidak sampai larut—seperti kebiasaan mereka dulu.

“Jangan-jangan istrimu melarang kau main bersama kita ya?” tanya Kibum sambil berdecak kecil.

Aniya!” sangkal Minho cepat. “Seungyeon sangat baik!” serunya, “dia tidak pernah melarang aku melakukan apapun!” lanjutnya lagi, kemudian ia terkikik kecil saat mendadak wajah malaikat Seungyeon muncul di kepalanya. Hanya membayangkan wajah Seungyeon saja membuat Minho tersenyum, apalagi jika bertemu dengannya.

Kibum dan Jonghyun saling pandang satu sama lainnya sebelum menatap Minho aneh, “Lalu kenapa?” tanya Kibum.

Minho tidak segera menjawab, ia malah tetap asyik terkikik membayangkan wajah manis Seungyeon saat malu-malu pagi tadi.

“Oi, Choi Minho! Kau baik-baik saja kan?” tanya Jonghyun aneh.

“Eh? Itu…” Minho tersadar dari lamunannya dan dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, gugup karena ketahuan oleh kedua temannya saat dia sedang asyik tersenyum sendiri.

“Kenapa tidak ikut bermain dengan kita?” tanya Kibum sekali lagi.

“Itu… aku hanya ingin cepat pulang saja.” Jawab Minho sekenanya. “Hm, sebagai suami yang baik aku ingin selalu menemani istriku dirumah.” Tambahnya lagi, kali ini nada bicara sedikit merendah, menahan malu, mungkin.

Jonghyun dan Kibum saling berpandangan tidak percaya. Sejak kapan Minho bisa mengeluarkan ekspressi seperti sekarang? Senyum-senyum sendiri, kemudian malu-malu? Mengerikan. Seperti remaja sedang jatuh cinta saja. Pikir Kibum dan Jonghyun bersamaan.

“Apa yang kalian lihat?” tanya Minho sewot saat Jonghyun dan Kibum menatapnya dengan tatapan sulit untuk diartikan.

“Kau sedang demam ya, Minho?” tanya Jonghyun aneh—sedikit takut juga karena Minho cekikikan sendiri dari tadi. Bahkan saat jam kuliah sedang berlangsung Jonghyun sempat lihat Minho senyum-senyum sendiri di kursinya, padahal dosen yang mengajar begitu membosankan baginya, membuatnya ngantuk dan ingin tidur. Tapi berbeda dengan Minho. Aneh!

Minho mendengus sebal. Kenapa semua orang berfikir hal yang sama kalau dia sedang demam? Mengingatkannya pada pertanyaan Seungyeon pagi tadi.

“Kau demam ya, Minho-ah?” bayangan Seungyeon muncul kembali.

Huft. Minho mendengus sekali lagi. Kemudian ia menatap Kibum dan Jonghyun bergantian.

“Sudahlah, aku pulang duluan ya. Aku titip salam pada Mir dan Dongwoon saja, maaf tidak bisa ikut main bersama.” Kata Minho akhirnya, ia tidak ingin berlama-lama dengan Kibum dan Jonghyun, karena sebentar lagi mungkin saja mereka akan lebih dari sekedar berfikir kalau dia sedang demam—mungkin ‘Apa kau mabuk—atau—kau sakit jiwa ya, Minho?’  pertanyaan itu bisa muncul. Ergh

Tangan Minho menggenggam erat tas selempangnya dan berjalan melalui Jonghyun dan Kibum yang masih terheran-heran menatapnya.

“Dia berubah ya?” tanya Kibum sambil masih mengamati punggung Minho yang sudah menjauh keluar dari kelas.

Jonghyun yang juga melakukan hal yang sama dengan temannya itu hanya menganggukkan kepalanya sekali, “Kau benar. Dia pasti sedang kasmaran.” Pendapatnya.

Kibum menoleh dan menatap Jonghyun setuju, “Kau benar, Jjong.” Katanya, kemudian keduanya terkekeh bersama.

“Tapi…” suara Jonghyun pelan, “…aku suka dia berubah.” Kemudian dia nyengir.

Yeah, walaupun jadi jarang main basket lagi—” Tanggap Kibum. “—tidak masalah.” Dan mengangkat bahunya.

Keduanya saling pandang sekali lagi, ada jeda sebelum keduanya kembali terkekeh bersama, sebelum mereka berjalan keluar kelas karena Mir dan Dongwoon dari anak kampus lain sudah berdiri di depan kelas mereka dengan bola basket di tangan.

Sementara itu, Minho yang sudah berada di parkiran kampus tanpa pikir panjang langsung menstater motornya dan berbaur dengan jalanan kota Seoul yang padat di siang hari. Meski begitu hanya dalam waktu kurang dari 15 menit, Minho sudah sampai di halaman pinggir gedung tempat tinggalnya.

Ia berlari riang saat mulai menaiki satu persatu anak tangga yang akan membawanya ke rooftop, tempat dimana Seungyeon berada. Minho ingat betul jadwal ajar Seungyeon di hari jumat, gadis itu masuk jam 9 dan akan pulang jam 12, jadwalnya lebih singkat dan cepat dari jadwal kuliah Minho. Seungyeon selalu sudah berada di rooftop saat Minho pulang kuliah.

“Aku pulang!” seru Minho agak kencang saat sudah menapaki halaman depan rooftop. Sengaja. Berharap Seungyeon akan mendengar seruannya dan membukakan pintu untuknya. Tapi harapannya itu tidak menjadi kenyataan karena pintu rooftop sama sekali tidak terbuka.

Minho berjalan mendekati rooftop dan memutar knop pintu. Masih dengan senyuman lebarnya.

Klek.

“Eh?” Minho memiringkan kepalanya. “Pintunya terkunci?” gumamnya sedikit aneh.

Minho mencoba mengintip ke dalam rooftop dari celah jendela yang tirainya tak tertutup, mencoba menemukan Seungyeon disana. Mungkin saja gadis itu sedang tertidur, jadi dia mengunci pintunya dari dalam.

Tapi sepertinya tidak. Sosok Seungyeon tidak ada di dalam rooftop. Karena suasana di dalam sana sangat hening—dan juga gelap.

Minho mengela nafas berat, sedikit kecewa. Kemudian ia berjalan mendekati deretan pot bunga yang terjajar rapih di samping dinding, dia sedikit berjongkok disana dan tangannya meraba-raba di bawah sebuah pot bunga anggrek bulan. Mencoba menemukan sesuatu.

Dan ketemu!

Minho menarik benda kecil dari bawah sana. Sebuah kunci dengan gantungan boneka kelinci kini ada di tangan Minho. Itu kunci utama rooftop. Rooftop Minho memang hanya memiliki satu kunci, jadi mereka berdua harus menggunakannya bersama-sama. Menyimpannya di bawah pot anggrek bulan saat mereka berdua pergi, untuk berjaga-jaga apabila salah satu dari mereka pulang duluan.

Minho melirik jam tangannya, memastikan kalau sekarang memang sudah jam 2 lebih. Tapi kenapa Seungyeon belum pulang? Apa dia ada jadwal mengajar tambahan? Mengingat kalau Seungyeon adalah guru dari kelas 3 di Junsang, hal itu mungkin saja terjadi. Pikir Minho.

Ia membuka pintu rooftop dan masuk kedalam. Melemparkan tas selempangnya ke atas sofa lalu dia berbaring di ranjang dengan ponsel di genggamannya.

Tidak ada pesan masuk disana. Bahkan Seungyeon yang biasanya selalu memberi pesan singkat kalau dia pulang terlambat pada Minho pun tidak ada. Sedikit aneh sih, tapi Minho tidak memperdulikannya.

Ia mengetik satu pesan singkat untuk istrinya:

To: Seungyeonie

Seungie-ah kau pulang terlambat hari ini?

Pesan terkirim dan Minho dengan sabar menunggu balasan masuk di ponselnya. Ia sengaja tidak menelepon Seungyeon, bukan karena irit pulsa, tapi karena ia takut akan mengganggu Seungyeon dengan dering ponselnya kalau-kalau gadis itu memang sedang mengajar.

Cukup lama Minho menunggu, mungkin hampir 20 menit, hingga satu pesan masuk ke dalam ponselnya. Ia bergegas membukanya.

Dari Seungyeon.

Mianhae, hari ini aku ada jam mengajar tambahan. Aku pulang telat.

Minho tersenyum. Benar kan dugaannya. Seungyeon pasti ada jam mengajar tambahan makanya dia belum pulang sampai sekarang.

Minho mengetik lagi pesan balasan untuk Seungyeon.

Mau aku jemput? Kau pulang jam berapa, Seungie-ah?

Tidak perlu menunggu waktu yang lama untuk mendapatkan balasan dari Seungyeon kali ini.

From: Seungyeonie

Tidak perlu, aku pulang bersama Gyuri saja.

Minho sempat terlihat mendengus saat membaca pesan balasan dari Seungyeon. Sedikit kecewa mungkin karena tidak mendapat jawaban seperti yang di harapkannya.

To: Seungyeonie

Baiklah kalau begitu. Hati-hati ya, yeobo. Aku menunggumu 🙂

Minho tersenyum sendiri saat ia mengetikkan kata ‘yeobo’ di pesannya. Ia mendadak teringat kembali bagaimana ekspressi Seungyeon pagi tadi saat ia menggodanya dengan memanggil ‘yeobo’. Gadis itu malu dan wajahnya bersemu merah, tapi hanya di bagian pipi saja dan itu sangat manis. Membuat Minho gemas dan tidak tahan untuk tidak mencubitnya.

Minho bergulung ke sisi ranjang, masih dengan ponsel di genggamannya. Menunggu Seungyeon membalas pesannya. Ia ingin lihat bagaimana balasan dari gadis itu kalau dia menggodanya lewat sms?

Dan tak lama satu pesan masuk dari Seungyeon datang. Senyum Minho langsung melebar dan dengan cepat ia segera membukanya. Tak berselang lama senyum Minho terlihat sedikit memudar, karena ia hanya mendapati jawaban ‘Nde—Ya’ dari pesan singkat yang Seungyeon kirim.

“Ah, apa-apaan ini. Kenapa hanya ‘Ya’ saja? Kenapa dia tidak menanggapi aku memanggilnya ‘yeobo’?” gerutu Minho, terlihat jelas kalau ia sangat kecewa dengan balasan super singkat dari Seungyeon. Tapi tak berselang lama, karena di detik berikutnya cengiran lebar kembali menghiasi bibir tebal Minho, “Aah…” Minho menjentikkan jarinya di udara, “…dia pasti terlalu malu untuk membalasnya. Jadi hanya berani jawab  ‘Ya’ saja. Hihi.” Minho cekikikan sendiri membayangkan kalau Seungyeon sekarang sedang menahan pipinya yang memerah di depan murid-murid ajarnya di Junsang.

Minho memutuskan untuk tidak mengirimi Seungyeon pesan singkat lagi. Takut kalau dia akan mengganggu. Di letakkannya ponsel di atas nakas samping ranjang, kemudian dia bergulung ke sisi ranjang lainnya. Mengambil satu bantal yang tidak terpakai dan memeluknya di atas dada. Matanya menerawang menatap langit-langit rooftop yang tak bermotif, tidak asyik sama sekali untuk sekedar menjadi pemandangan yang dapat membuat Minho tersenyum, tapi kenyataannya berbanding terbalik, senyuman lebar—atau lebih tepatnya cengiran—justru terlihat jelas di bibir Minho saat semakin lama ia menatap ke arah langit-langit rooftop, seakan ada sesuatu disana yang bisa membuatnya gembira.

–=-=-=–

Minho menggeliat bosan di atas ranjang. Sudah hampir 2 jam lebih dia menunggu Seungyeon, tapi batang hidung keberadaan istrinya sudah pulang tidak juga terlihat. Minho menghela nafas berat dan menghembuskannya sekaligus. Ia menoleh ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 5 sore, tapi Seungyeon masih belum pulang.

Minho bangkit dari posisi berbaringnya dan duduk di tepian ranjang. Ia melirik sekali kearah ponselnya yang tetap tenang di atas nakas. Kemudian menghela nafas panjang.

Huft. Tidak ada pesan.” Gerutunya.

Minho menopang dagunya dengan kedua tangan yang di letakkan di atas lutut. Lama-lama bosan juga hanya diam sendiri di rooftop dan tidak melakukan apapun. Bahkan daritadi dia berbaringpun dia sama sekali tidak merasa mengantuk hingga ingin tidur, yang ada rasa bosannya malah semakin bertambah.

Minho lagi-lagi menghela nafas berat sebelum kemudian mendengus.

Ia bangkit berdiri dan berjalan menuju konter dapur. Perutnya sedikit lapar karena dari siang tadi hanya di isi oleh sebungkus roti keju yang sengaja di belinya di kantin kampus. Ia membuka lemari dan mencari-cari makanan yang bisa mengganjal perutnya. Dan tidak ada apapun disana. Bahkan myulchi bogeum yang sengaja ia masak pagi tadi sudah habis tak bersisa oleh Seungyeon. Seorang gadis dalam masa kehamilah nafsu makannya memang meningkat pesat, Minho bisa melihat kenyataan itu terjadi langsung pada diri Seungyeon.

Ia tersenyum kecil, “Lagi-lagi teringat Seungyeon. Hihi.” Kemudian terkikik geli sendiri.

Sekarang Minho terlihat sedang menggerakkan jemarinya di udara. Melipat, menjentikkan dan menggoyangkannya, sembari ditemani dengan mulut yang berkomat-kamit mengucapkan deretan angka. Sesekali kening Minho berkerut, matanya menyipit dan bibirnya mengatup, menunjukkan seberapa keras dia sedang berfikir. Dan akhirnya….

Wah…” mata Minho melebar sempurna, antara ekpressi takjub, berbinar dan gembira, ketika ia melihat hasil akhir gerakan jemarinya yang—tangan kanannya—melipat 3 jari—sedangkan tangan kiri—melipat 2 jari, “2 bulan, 3 minggu!” seru Minho girang.

Ia segera berlari menuju tanggalan yang berada di sebelah pintu utama rooftop, membolak-balikkan lembaran-lembaran nama bulan lalu dan akan datang. Dan senyumnya mengembang sempurna saat ada sebuah lingkaran dengan spidol merah di salah satu tanggal di lembaran bulan berikutnya. Itu adalah tanggalan yang sengaja Minho lingkari untuk mengingatkannya tentang sesuatu yang sangat penting.

Kalian tahu apa itu? Tidak?

Yeah, itu adalah tanggalan yang Minho lingkari untuk mengingatkannya dengan check up kehamilan Seungyeon.

Bukan-bukan, bukan check up kehamilan rutin biasa, tapi check up yang sangat Minho tunggu-tunggu semenjak 2 bulan yang lalu. Itu adalah tanggal dimana dia—dan Seungyeon tentunya—bisa tahu apa jenis kelamin dari calon bayi mereka.

Ah… Minho menautkan kedua tangannya di udara—seakan-akan sedang memohon pada Tuhan—tidak terasa akhirnya usia kehamilan Seungyeon sudah hampir mencapai angka 3, “Aku ingin sekali anak laki-laki,” gumam Minho kemudian. Mata Minho berbinar, seakan ada bintang disana—bahkan untuk seorang lelaki, mata Minho kali ini terlihat lebih bersinar dan lebih bercahaya, di banding dengan seorang gadis yang sedang jatuh cinta, manis dan menggemaskan. Minho memang sangat (sangat, sangat, sangaaaat) tidak sabar menyambut kedatangan hari yang masih 1 minggu kemudian itu.

Entah sudah berapa lama Minho berdiri di depan tanggalan gantung itu, ia bahkan lupa kalau tadi dia sangat bosan menunggu kedatangan Seungyeon—atau ketika perutnya terasa lapar dan dia berdiri di depan konter dapur—dia benar-benar lupa karena antusiasmenya tentang hari yang akan datang itu.

Minho akhirnya tersadar dan menyandarkan punggungnya di dinding, masih dengan senyum lebar dan mata yang berbinar, sekarang dia sedang membayangkan betapa senangnya dia jika Kim Taeyeon—dokter yang menangani setiap check up kehamilan Seungyeon—akan mengatakan anaknya adalah laki-laki. Ah… sempurna sudah hidup Minho pada saat itu.

Minho berjalan ke sofa setelah dia menyalakan televisi sebelumnya.

Ia baru akan menyandarkan punggungnya dan menyingkirkan tas selempangnya yang di lempar asal tadi siang, saat matanya menangkap suatu benda yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

Sebuah kotak beludru merah dan satu amplop dengan warna senada ada di atas meja.

“Apa itu?” gumam Minho bingung.

Tangan Minho mencoba meraih kedua benda yang mencuri perhatiannya sekarang. Yang pertama ia pegang adalah kotak beludrunya. Ia membukanya perlahan dan matanya langsung melebar sempurna melihat isi yang ada di dalamnya.

Satu buah cincin berlian ada di dalam kotak beludru itu. Dari tampilannya saja—yang elegan dengan satu intan di tengah—Minho dapat menebak seberapa mahal harga cincin berlian itu.

Minho meletakkan kembali kotaknya di atas meja, kemudian beralih membuka amplop merah dengan tulisan tangan ‘To: Minho’ di luarnya. Perlahan tapi pasti, Minho mengeluarkan satu buah kartu undangan terlipat dengan satu lembar notes kecil ditempelkan di sisinya.

Minho mulai membaca notes dengan tulisan tangan itu—meskipun sebelumnya ia sempat mengerutkan kening karena merasa tak asing dengan tulisan tangan kecil dan sedikit miring disana. Hanya ada dua sampai tiga baris kalimat di notes itu, yang mengatakan:

Cincin ini untukmu, Minho-ah.

Pakailah saat kau datang ke rumahku malam ini.

(Aku berharap kau akan datang dengan mengenakan cincinnya.)

Minho semakin mengerutkan keningnya, tak ada nama pengirim di notes kecil itu, tapi Minho yakin, ia tahu siapa pemilik dari tulisan tangan tidak asing itu. Tapi dia tidak ingat siapa.

Malas berfikir terlalu keras, tangan Minho meraih undangan terlipat dengan motif mawar marun dan tulisan ‘Night Party’ di luarnya.

Membuka dan membacanya sekilas, mata Minho langsung melebar sempurna. Ada nama ‘Hara’ tercetak jelas di bawah undangan itu. Hati Minho berdenyut sesaat ia membacanya, sebelum kemudian pikirannya mendadak blank dan tangannya melemas.

Entah apa yang ada di pikiran Minho sekarang, ia tidak tahu pasti, yang jelas otaknya terasa kosong. Tidak dapat mencerna mengapa bisa pengirim undangan dan cincin berlian itu adalah Hara.

Untuk beberapa saat Minho terdiam, membiarkan tubuhnya membeku, otaknya kosong dan hatinya berdenyut tak karuan. Lalu terlepas dari pikiran siapa yang menerima kedua benda itu dan siapa yang mengirimkannya kemari—hingga ada di dalam rooftop—Minho tau betul ada satu nama yang mungkin saja sudah bertemu Hara dan berinteraksi langsung dengan gadis itu. Satu nama yang mulai di khawatirkan Minho saat ini.

“Seungyeon!” seru Minho.

Ia segera berlari meraih ponselnya di atas nakas. Menekan speed dial Seungyeon dengan tergesa. Menunggu dengan khawatir lebih dari 3 nada sambung monoton di dalam ponselnya.

Minho melirik jam dinding yang mulai menunjukan pukul 6 malam. Kenapa Seungyeon masih belum pulang?

Minho mengumpat kesal saat panggilannya di jawab oleh operator seluler yang mengatakan nomer yang sedang dia tuju berada di luar jangkauan. Sekali lagi—dengan tergesa—dan tangan yang mulai bergetar, Minho mencoba menghubungi nomer Seungyeon. Tanpa menunggu nada sambung monoton, operator di seberang sana sudah menjawab dengan jawaban yang sama seperti sebelumnya.

Minho terlihat menutup matanya sejenak, mencoba mengatur detak jantungnya yang mulai tak karuan. Pikiran acak tentang hal-hal buruk yang mungkin saja terjadi mendadak muncul dalam otaknya. Minho tahu betul Seungyeon bukan tipikal orang yang akan lupa mengecas ponselnya hingga baterainya habis dan Seungyeon juga bukan tipikal orang yang akan sengaja mematikan ponsel atau mereject panggilan masuk dari Minho. Tapi kali ini ponsel Seungyeon benar-benar sulit untuk dihubungi, bahkan hingga Minho mencoba meneleponnya untuk yang ke enam kali, tetap operator yang menjawab panggilan dari Minho.

Sebelah tangan Minho mengepal dan satunya lagi menggenggam ponsel dengan erat. Ia menghela nafas panjang dan menghembuskannya perlahan demi menahan gejolak hatinya yang semakin tak karuan.

Minho berhenti untuk menghubungi nomer Seungyeon, kemudian beralih mencari deretan kontak di ponselnya—yang sekiranya bisa mengetahui keberadaan gadis itu—dan kontak milik Gyuri menjadi pilihan pertama Minho.

Hanya butuh 2 nada sambung monoton untuk mendengar suara ceria Gyuri menjawab panggilan masuknya.

Yoboseyo, Minho-ah?” suara Gyuri terdengar.

“Gyuri noona!” Balas Minho dengan seruan kencang.

Nde? Ada apa Minho-ah? Tumben sekali kau menelepon?”

“Gyuri noona, maaf, apa Seungyeon ada bersamamu sekarang? Ah, maksudku apa dia masih ada di sekolah sekarang?” tanya Minho to the point, ia tidak mau berlama-lama untuk sekedar basa-basi.

“Seungyeon?” ada jeda dari suara Gyuri, terdengar agak bingung dan aneh, “Dia tidak bersamaku. Bahkan dia tidak datang mengajar hari ini. Kenapa?”

“Hah?” Minho terkejut dan dia terdiam untuk beberapa saat, mencoba mencerna maksud dan ucapan dari Gyuri, “Dia tidak datang ke sekolah?” tanya Minho memastikan.

Nde, waeyo? Apa dia tidak ada di rumah?” tanya Gyuri khawatir dari seberang sana.

Ada jeda terdengar saat Minho menahan nafasnya, “Kau tidak sedang bercanda padaku kan, noona?” tanggap Minho, berusaha menetralkan pikiran buruk yang mulai menjalar dalam otaknya.

“Untuk apa aku bercanda. Tidak ada untungnya untukku.” Jawab Gyuri. “Apa yang terjadi sebenarnya, Minho-ah? Seungyeon bilang dia sakit apa dia—”

“Sakit?!” seru Minho semakin khawatir dalam hati. Selebihnya Minho tidak dengar dengan baik apa yang Gyuri ucapkan. Rasa khawatir menyeruak keluar. Apa gadis itu benar-benar sakit? Lalu dimana dia sekarang?

“Minho-ya? Minho-ya hallo?” suara Gyuri tedengar dari ujung telepon.

Minho tersadar dari lamunannya dan teringat kalau dia belum mematikan sambungan teleponnya dengan Gyuri.

Nde Gyuri noona, gomawoyo.”

Minh—”

Klik.

Minho mematikan sambungan secara sepihak dan tidak mengindahkan panggilan bertubi-tubi Gyuri dari seberang telepon. Minho tidak mau menyimpulkan lebih dahulu kalau Seungyeon tiba-tiba menghilang dan dia tidak tahu keberadaannya dimana lalu dia memberi tahukan pada orang lain dan orang lain menjadi khawatir sama sepertinya. Minho masih harus berfikir positip, sampai benar-benar ia tahu apa yang terjadi pada Seungyeon.

Minho terdiam cukup lama setelah mematikan sambungan telepon Gyuri. Ia melirik jam dinding, sudah jam 6 lebih, sudah hampir malam.

Kemana Seungyeon? Kemana Seungyeon? Kemana Seungyeon? Kemana Seungyeon?

Satu pertanyaan sama terus berulang dalam otak Minho. Memenuhi seluruh ruang yang mungkin bisa di isi dalam pikirannya.

Tubuh Minho bergidik dan dia mulai panik saat pikiran-pikiran terburuk yang mungkin terjadi terbesit (lagi) dalam otaknya. Padahal dia sudah berusaha berfikir sepositip mungkin.

Tanpa pikir panjang—Minho tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan sekarang, kecuali diam—ia segera menyambar kontak motor sportnya dan berlari keluar rooftop. Tapi sebelum ia benar-benar berlari keluar, Minho menoleh kearah meja di depan televisi. Kotak beludru dan amplop merah itu masih ada disana, di tempat semula. Minho terlihat menggeram sekilas sebelum dengan kasar ia meraih kedua benda itu.

Dengan tergesa Minho berlari menuruni satu per satu anak tangga. Tidak memperdulikan ketika penghuni gedung yang sama dengannya sedang berjalan di anak tangga yang sama dan Minho menabraknya tanpa meminta maaf. Pikiran Minho benar-benar kacau sekarang, dia hanya berharap segera menemukan Seungyeon dimanapun gadis itu berada.

Brugh.

Aw…” untuk—entah yang keberapakalinya—Minho menabrak kasar orang yang berlalu lalang di anak tangga. Tanpa meminta maaf ia kembali terburu menuruni tangga.

Tepat di anak tangga terakhir, tepat ketika Minho memalingkan wajahnya ke kiri, tepat 1 meter di depannya, dia berdiri. Wajah cantik, rambut sebahu, dengan kemeja dan rok mini diatas lutut, penampilan yang tetap rapih meskipun sedikit agak kusut, dia ada disana, Han Seungyeon.

Seketika langkah Minho terhenti. Untuk sepersekian detik Minho merasakan waktu dan dunia disekitarnya juga ikut berhenti berputar, hanya menyisakan dirinya dan Seungyeon yang saling melempar pandang satu sama lain dalam diam. Sebelum ia akhirnya tersadar dan segera berlari cepat menuju gadis itu dan memeluknya untuk waktu cukup lama.

“Ya! Kau kemana saja huh?” teriak Minho kencang setelah melepaskan pelukannya, melampiaskan kekesalan pada gadis yang sudah membuat pikirannya kacau saat ini.

“Kau membuatku khawatir tahu!” teriak Minho lagi, kali ini sebuah senyuman jelas terlihat di wajahnya. Perasaan kesal dan pikiran kacau Minho terganti dengan perasaan lega karena akhirnya ia melihat gadisnya baik-baik saja saat ini. Bahkan Seungyeon sama sekali tidak terlihat sedang sakit.

Seungyeon tidak menjawab dan hanya menatap Minho datar.

“Kau sudah bohong padaku Seungie-ah!” Minho menarik salah satu ujung bibirnya, sambil meletakkan kedua tangan di bahu Seungyeon. “Kau bilang jam mengajar tambahan? Lalu pulang bersama Gyuri? Kau bahkan tidak berangkat ke Junsang sama sekali. Apa kau benar-benar sakit?” Minho tertawa kecil, seakan menang saat mengungkapkan semua kebohongan Seungyeon.

Seungyeon menghela nafas panjang. Melirik tangan Minho di bahu dari sudut manik matanya, ia dapat melihat jelas Minho menggenggam kotak beludru dan amplop merah disana.

Minho meletakkan satu punggung tangannya di atas kening Seungyeon, memastikan apa gadisnya itu benar-benar sakit atau tidak.

“Tuh kan, kau bohong, Seungie-ah! Kau tidak sakit.” Minho menyeringai nakal meskipun diam-diam dalam hatinya ia benar-benar merasa lega karena suhu tubuh Seungyeon baik-baik saja.

Seungyeon menghembuskan nafas sekaligus, sempat terlihat kalau gadis itu menggigit bibir bawahnya sebelum ia berusaha sebisa mungkin menatap wajah Minho dengan senyum terbaik yang bisa ia berikan, “Mianhaeyo, aku lelah Minho-ah. Aku masuk dulu.”  Jawab Seungyeon—masih dengan tersenyum—kemudian menepis pelan tangan Minho di keningnya.

Seungyeon menundukan kepalanya sekali sebelum berjalan melalui tubuh Minho—sebagai tanda hormat.

Seketika Minho merasakan hatinya mencelos begitu tubuh Seungyeon melewatinya. Entah kenapa Seungyeon terasa dingin, bahkan ketika gadis itu berbicara sopan dan tersenyum padanya tadi. Hati Minho bergemuruh.

“Tunggu!” reflek satu tangan Minho menarik pergelangan tangan Seungyeon tanpa berbalik. Seungyeon menghentikan langkahnya. Keduanya terdiam cukup lama. Hening. Baik Seungyeon maupun Minho, keduanya sama sekali tidak mengatakan apapun.

Perlahan Minho berbalik. Menatap punggung Seungyeon yang berdiri membelakanginya.

“Apa yang terjadi?” tanya Minho. Ia tahu ada sesuatu yang tidak beres dari Seungyeon. Entah apa itu, Minho tidak yakin, tapi ia dapat merasakan perubahan sikap Seungyeon—meskipun sedikit—dan gadis itu menyembunyikannya.

Seungyeon diam tidak menjawab.

Minho maju 2 langkah, berdiri tepat di depan Seungyeon dan menatapnya lekat.

“Apa yang terjadi Seungie-ah?” tanya Minho sekali lagi—dengan suara lembut.

Seungyeon menundukkan kepalanya, menatap satu tangan Minho yang masih menggenggam benda yang menjadi alasan ia menghindari tatapan Minho.

Merasa dihindari, kemudian satu tangan Minho meraih dagu Seungyeon, memaksa gadis itu untuk menatapnya.

“Apa yang terjadi huh?” tanya Minho—lagi. “Bilang padaku?” Minho mencoba meyakinkan Seungyeon bahwa apapun dapat ia bagi bersama dengan Minho.

Seungyeon menarik kedua sudut bibirnya ke atas, tersenyum kecil, “Aniya. Tidak terjadi apa-apa, Minho-ah.” Seungyeon menggeleng sekali. Kemudian lagi-lagi gadis itu menepis tangan Minho pelan. Berusaha berjalan melewati Minho (lagi) setelah sebelumnya ia sempat melirik benda di tangan Minho dari sudut manik matanya.

Minho akhirnya menyadari sesuatu, alasan mengapa Seungyeon bersikap seperti sekarang ini. Dengan segera ia menahan lengan Seungyeon dan menarik tubuhnya hingga berbalik. Bertatapan langsung dari mata ke mata dengan Minho.

“Bohong!” seru Minho. “Kau tidak pandai berbohong Mrs. Choi.” Minho terkekeh pelan. “Kau marah padaku karena ini?” Minho mengangkat kotak beludru dan amplop di tangannya tepat ke depan wajah Seungyeon.

Hati Seungyeon bergemuruh kencang. Tanpa sadar kedua tangannya mulai mengepal dan dia menggigit bibir bawahnya sendiri demi menahan gejolak yang sudah sampai hingga ke parunya.

“Apa yang terjadi, eoh?” tanya Minho lagi. Namun Seungyeon tetap diam tidak menjawab. Minho menghela nafas panjang, “Apa Hara datang kemari?”

Degh.

Tepat. Ketika Minho menyebut nama Hara, mata Seungyeon melebar sempurna dan hatinya berdenyut lebih cepat dari sebelumnya. Sesak. Kenapa ia harus mendengar nama gadis itu langsung dari bibir Minho?

“Apa yang dia lakukan padamu? Apa dia mengatakan sesuatu, eoh?” tanya Minho mulai khawatir ketika mendapati perubahan wajah Seungyeon. Minho tahu, Hara mungkin saja sudah melakukan sesuatu yang buruk pada Seungyeon hingga gadisnya itu hanya diam saja.

“Ya! Seungie-ah!” teriak Minho frustasi. Kedua tangannya mencengkram erat bahu Seungyeon. “Bilang padaku, apa yang sudah Hara lakukan, eoh? Apa dia menyakitimu?!” bentak Minho kencang, hingga tanpa sadar tubuh Seungyeon mulai bergetar ketakutan dengan perubahan sikapnya.

Minho sadar kalau ia tidak seharusnya melakukan hal ini pada Seungyeon, bagaimanapun posisi Seungyeon adalah orang yang tersakiti disini, “Mi-mianhae.” Ucap Minho menyesal. Ia mengendurkan cengkraman tangannya di bahu Seungyeon.

Seungyeon memberanikan diri mendongakkan kepala, menatap Minho dengan mata berkaca-kaca.

Waeyo?” tanya Seungyeon mengawali ucapannya. Minho diam dan hanya menatap dalam mata Seungyeon, memberikan kesempatan gadis itu melanjutnya kalimatnya—atau pertanyaannya.

Waeyo? Kenapa kau begitu penasaran dengan apa yang telah ‘kekasih’mu itu lakukan padaku, eoh?” Seungyeon mengulum senyum di ujung bibirnya. “Dia… tidak melakukan apapun padaku, dan dia tidak menyakitiku, Minho-ah.” Seungyeon tersenyum tipis. “Dia hanya—mengatakan ‘kenyataan’ padaku.” Kemudian memutar bola mata menjauhi tatapan Minho. Seungyeon ingin sekali menangis saat ia mengucapkan kalimat terakhirnya. Mengingatkannya kembali pada kenyataan apa yang telah Hara katakan padanya.

Minho terdiam cukup lama, mencerna semua deretan kalimat Seungyeon. Hatinya teriris perih saat ia menangkap luka tersirat jelas dari tatapan lemah Seungyeon. Kesalahpahaman pasti terjadi disini.

“Dengarkan aku, Seungie-ah,” Minho mencoba mendapat perhatian dari tatapan Seungyeon, “Semua yang terjadi hanya kesalahpahaman Seungie-ah.” Minho mengelus lembut pipi Seungyeon, mencoba membuat Seungyeon menatap kedua bola matanya, “Apapun. Apapun yang Hara katakan padamu, jangan pernah mempercayainya. Pecayalah padaku, eoh?” Minho memaksa Seungyeon menatap kedua bola matanya, meyakinkan pada gadis itu kalau dia bisa di percaya dan jangan mempercayai Hara.

Sayang… lagi-lagi, Seungyeon menjauhi tatapan Minho. Melepaskan kontak mata mereka.

Menepis lengan Minho perlahan kemudian ia berbalik. Mencoba menghapus genangan air mata di pelupuknya, sebelum ia memberanikan diri menatap Minho sembari tersenyum.

Mianhae, aku lelah Minho-ah.”

Seungyeon berjalan melewati tubuh Minho. Menaiki satu persatu anak tangga.

Minho membeku di tempatnya berdiri. Dia telah gagal. Dia gagal membuat Seungyeon percaya padanya!

Minho mengepalkan tangannya geram. Rahangnya mengeras dan giginya bergemeletuk. Ia berbalik dan melangkah cepat menyusul Seungyeon. Menarik tangan Seungyeon kasar, puncak emosi Minho sudah mencapai ubun-ubunnya. Ia tidak tahu secara keseluruhan apa yang telah Hara katakan pada Seungyeon hingga gadisnya menjadi seperti sekarang, yang jelas ia dapat menyimpulkan satu hal, apapun itu, yang telah Hara lakukan pasti sangat menyakiti hati Seungyeon.

“Ikut aku!” seru Minho dingin.

–=-=-=–

Satu tangan Minho meremas erat kotak beludru dan amplop sedangkan satu tangan lainnya menarik pergelangan tangan Seungyeon untuk mengikuti langkahnya. Seungyeon terlihat berjalan tertatih, tak mampu menyamai langkah besar kaki Minho. Membuatnya meringis beberapa kali merasakan sakit dari cengkraman tangan Minho.

Seungyeon sudah menyerukan nama Minho berkali-kali, mencoba membuat lelaki itu berhenti melangkah dan menatap kearahnya, tapi sial, Minho sedang tidak dalam mood untuk mendengarkan panggilan Seungyeon. Dia terus berjalan, tanpa menoleh sekalipun kearah Seungyeon yang terluka.

Mereka berdua akhirnya sampai di depan sebuah gerbang besi menjulang yang membatasi jalanan dengan sebuah istana megah di dalam sana.

Sekali lagi, tanpa memperdulikan sekitarnya, Minho terus menarik Seungyeon hingga keduanya memasuki halaman megah dengan berbagai jenis kendaraan roda empat yang terparkir disana, ada lampu berkelap-kelip yang sengaja dihias pada pepohonan di tengah dan pinggir taman. Bahkan ada satu karpet merah yang membentang dari pintu gerbang hingga pintu istana.

Seungyeon sempat bertanya-tanya dalam hati kemana Minho akan membawanya saat ini. Suasana di sekitarnya sekarang benar-benar asing. Dan Seungyeon mulai ragu ketika Minho sudah menariknya mendekat kearah istana yang menjadi pusat dari tempat itu. Namun, di saat itulah Seungyeon sadar dimana dia berada sekarang.

Ini adalah Istana Hara!

Seungyeon tahu itu dari deretan papan dengan rangkaian bunga yang terjajar rapih disepanjang jalan di depan pintu utama. Disana banyak sekali ucapan selamat yang di tujukan untuk seseorang dengan nama lengkap Goo Hara.

Tubuh Seungyeon mulai bergetar hebat. Pikirannya kacau ketika ia bertanya, mengapa Minho membawanya kesini sekarang? Terlepas dari pikiran Seungyeon tidak tahu-menahu tentang hubungan Minho dan Hara, dia juga merasa dia tidak seharusnya ada disini saat ini—terlebih bersama Minho.

Disisi lain, Minho sama sekali tidak peduli dengan Seungyeon yang mulai pucat di belakangnya. Yang dia tahu sekarang adalah membuktikan pada gadis itu kalau apapun yang ia dengar dari mulut Hara adalah kesalahpahaman.

Minho ingin Seungyeon mempercayainya seutuhnya, tanpa ragu sedikitpun.

Minho jadi ingat, ia sudah pernah mengatakan pada Hara kalau hubungan mereka sudah berakhir dan dia pikir Hara mengerti dan tidak akan mengganggu hidupnya lagi. Tapi apa sekarang? Apa yang sebenarnya gadis itu inginkan dari kehidupan Minho?

Minho masih menarik tangan Seungyeon hingga ia sampai tepat di depan pintu utama istana Hara yang terbuka lebar. Menampakkan sekumpulan gadis-gadis high class dengan dress berwarna-warni dan para pria dengan setelan jas yang membalut tubuh mereka.

Minho tidak peduli seberapa ramainya istana Hara saat ini. Ia tetap masuk ke dalam dan berteriak kencang, meskipun Seungyeon terlihat enggan dan mencoba melepaskan diri dari cengkraman Minho.

“Ya! Goo Hara!” teriak Minho saat ia berada tepat di tengah kerumulan manusia high class itu.

Seungyeon menarik lengan baju Minho. Mencoba memohon pada Minho, untuk tidak melakukan apapun di tempat yang sangat asing baginya. Meskipun ia tahu itu hanya sia-sia. Emosi Minho sudah benar-benar memuncak hingga sampai ke ubun-ubun.

Seorang gadis yang berada di antara kumpulan gadis-gadis high class tersenyum ceria dan ia segera meletakkan gelas wine-nya sembarang kemudian berjalan cepat menghampiri sosok Minho.

“Minho-ah, kau akhirnya datang juga?” kata Hara senang. Seakan tidak tahu betapa kesal dan marahnya Minho saat ini. Bahkan Hara berpura-pura tidak melihat Seungyeon ketika gadis itu bersembunyi di balik tubuh Minho.

“Aku sudah menunggumu lama loh.” Kata Hara lagi ketika dia sudah berdiri tepat di depan Minho. Hara mencoba meraih satu tangan Minho yang bebas—tidak sedang menggenggam lengan Seungyeon—tapi segera di tepis kasar oleh Minho.

Minho mengulum senyum dan berdecak sekali melihat sikap santai Hara yang seakan tidak sadar apa yang telah di perbuatnya. Atau mungkin Hara memang tidak sadar apapun?

“Apa maksud dari ini semua, huh?” tanya Minho penuh emosi sambil mengacungkan kotak beludru dan amplop di tangannya tepat ke depan wajah Hara. “Apa yang telah kau lakukan pada ISTRI-ku huh!” seru Minho kencang. Semua orang menatap Minho takut. Beberapa saling berbisik dengan orang disampingnya dan beberapa mulai bergossip tentang apa yang sedang terjadi disini.

Aura gelap jelas terpancar dari tubuh Minho.

Wajah Hara pucat seketika, saat ia mendengar jelas Minho menekan kalimatnya pada kata ‘ISTRI-ku’.

“Minho…” Seungyeon berbisik pelan sambil menarik ujung lengan baju Minho. Berusaha membuat Minho menoleh kearahnya—atau setidaknya membuat Minho menyadari kalau dia masih ada di sampingnya saat ini—karena Seungyeon mulai ragu, apa Minho menyadari keberadaannya disini atau tidak.

Tapi kali ini beruntung, Minho akhirnya menoleh—meskipun hanya sekilas—kearah Seungyeon, dan Minho masih menyempatkan diri tersenyum di tengah-tengah ledakan emosinya dan menatap Seungyeon dengan tatapan lembut, seakan meyakinkan Seungyeon kalau semuanya akan baik-baik saja.

Wajah Hara terlihat semakin memucat ketika ia melihat adegan di depannya saat ini, tapi dengan cepat ia menutupinya, kemudian berusaha tersenyum semanis mungkin demi menghadapi wajah emosi Minho yang kali ini sedang menatapnya tajam.

“Apa ada yang ingin kau jelaskan padaku tentang ini, Goo Hara-ssi?” tanya Minho dingin sembari mengacungkan lagi benda di tangannya.

Hara menelan ludahnya sendiri, “A-aku tidak mengerti apa maksudmu Minho-ah? Kenapa kau begini?” wajah Hara terlihat mulai panik—tapi tetap berusaha ia sembunyikan—sembari ia meraih telapak tangan Minho di udara.

“Berhenti berpura-pura tidak tahu apapun, Hara!”

Brak.

Sekali lagi Minho menepis tangan Hara. Kali ini ia melempar kasar kotak dan amplop di tangannya, hingga membuat bunyi cukup keras dan cincin dalam kotak itu terpelanting keluar.

Hara terkejut melihat reaksi berlebihan Minho sekarang. Ini pertama kalinya Hara melihat jelas wajah marah Minho. Awalnya Hara hanya berpura-pura tidak mengetahui apapun dan berfikir positif, tapi ia jelas tahu kalau Minho benar-benar marah padanya sekarang.

“Apapun yang sudah kau katakan pada Seungyeon, aku harap kau tidak akan pernah mengatakan apapun lagi! Kita sudah berakhir Hara! Aku dan kau sama sekali tidak ada hubungan apapun! Aku sudah bahagia dengan kehidupanku saat ini. Jadi… jangan pernah mengganggu hidupku dan hidup istriku, Seungyeon, lagi!” ancam Minho.

Hara membeku di tempatnya berdiri, tapi Hara masih tetap berusaha memanggil Minho dengan suara sepelan mungkin, “Minho-ya…” panggil Hara.

Minho menoleh kearah Hara dan melemparkan tatapan tajam, seakan ia ingin membunuh Hara sekarang juga kalau ia berani bicara sesuatu padanya.

Hara menggigit bibir bawahnya. Takut.

Sedangkan Seungyeon tidak berani berkata apapun saat ini, hanya bersembunyi di balik punggung lebar Minho. Perasaan bersalah mendadak menyelusup ke hati kecil Seungyeon. Kenapa semua jadi seperti ini? Apa ini karena dirinya?

Seungyeon menundukkan kepalanya dalam. Andai ia tidak menjawab dan mengungkit Hara pada Minho tadi, apa semua akan tetap seperti ini?

“Ya! Choi Minho!”

Di tengah kegalauan hati Seungyeon, ketakutan Hara dan emosi Minho, suara teriakan berat seorang lelaki paruh baya terdengar. Minho segera menoleh mencari asal pemilik suara yang—sepertinya—ia kenal.

“Siapa yang mengajarimu bersikap tidak sopan di rumah orang lain seperti sekarang, huh?”

Mata Minho melebar sempurna saat ia menemukan sosok arogan seorang lelaki paruh baya turun dari atas tangga dengan ditemani sepasang suami istri yang mengekor di belakangnya.

“Apa aku pernah mengajarimu sikap tidak sopan seperti ini, huh?” tanya lelaki itu lagi.

Kali ini Minho yang membeku di tempatnya, tidak percaya dengan pemandangan di depannya saat ini.

“Choi Jungwoo! Kenapa pria tua itu ada disini?” gumam Minho dalam hati.

Jungwoo—yang tidak lain adalah paman dari Minho, ayah dari Siwon dan Sulli—melangkah dengan arogan mendekati ketiga orang (Minho, Seungyeon dan Hara) yang menjadi pusat perhatian di tengah kerumulan.

Jungwoo terlihat tersenyum sekilas pada Hara dan mengusap puncak kepala gadis itu, sebelum beralih menatap geram kearah Minho dan seorang gadis yang bersembunyi di belakangnya, Seungyeon.

Jungwoo menarik salah satu ujung bibirnya dan berdecak kecil, “Apa begini sikapmu pada ‘calon tunangan’-mu sendiri, Choi Minho?” tanya Jungwoo sembari tertawa meremehkan.

Kedua bola mata Minho melebar sempura, “A-apa? Calon tunangan!?”

Jantung Seungyeon berhenti berdetak untuk sepersekian detik saat mendengarnya. Bohong!

Jungwoo tertawa kencang melihat keterkejutan terlihat jelas di wajah Minho, “Kau masih belum tau kalau malam ini kau dan Hara akan melakukan pertunangan, eoh?” kata Jungwoo. Ia melangkah mendekat kearah seorang pelayan dan mengambil segelas wine, lalu meneguknya sedikit.

Minho berdecak, lalu ikut tertawa dengan Jungwoo, membuat lelaki tua itu menghentikan tawanya dan menatap Minho tajam.

“Jangan bercanda denganku, Choi Jungwoo!” kata Minho santai, mengulum senyum.

Jungwoo terlihat kesal saat Minho memanggil nama lengkapnya tanpa embel-embel apapun sebagai seorang keponakan kepada pamannya. Tidak sopan! Tapi Jungwoo menahan kekesalannya dengan menggerak-gerakkan gelas wine di tangannya.

“Bertunangan?” Minho melanjutkan perkataannya, lalu ia tertawa meremehkan, “Aku sudah menikah!” Minho mengacungkan lengannya—yang sedari tadi tidak lepas mencengkram erat lengan Seungyeon—ke udara, seakan menunjukkan pada dunia kalau mereka adalah sepasang suami istri, “dengannya!” lanjut Minho tanpa ragu.

Seungyeon tidak berani mengangkat kepala saat ini untuk melihat ekspressi apa yang orang-orang lontarkan untuk menatapnya. Ia hanya mampu menundukkan kepala dan menatap wajah Minho takut.

Ini adalah pertama kalinya ia melihat perubahan drastis dari sikap Minho. Minho yang biasanya selalu manis dan menyenangkan, saat ini menghilang entah kemana. Tergantikan oleh sisi gelap yang baru Seungyeon sadari hari ini. Tapi ada sedikit rasa senang saat Minho mengatakan pada semua orang kalau dia adalah istrinya. Seungyeon pikir Minho sudah lupa akan keberadaannya disini.

Minho menoleh sekilas kearah Seungyeon, memastikan kalau Seungyeon baik-baik saja saat ini. Ia tersenyum saat kedua mata mereka bertemu. Wajah Seungyeon agak pucat, ia pasti ketakutan sekarang. Minho jadi merasa bersalah.

Ia menurunkan tangannya dan merangkul pundak Seungyeon, merapatkan tubuh gadis itu padanya. Seakan berkata—jangan takut Seungie-ah, aku ada disini, bersamamu!.

“Cih!” Jungwoo berdecak sekali. Membuat Minho menoleh pada pria tua itu. “Kau bilang sudah menikah? Lucu sekali Choi Minho! Aku tidak merasa sudah memberi restu pada keponakanku untuk menikah!” Jungwoo menatap tajam Minho dan Seungyeon bergantian.

Minho balas menatap tajam kearah Jungwoo, tapi ia tidak membalas perkataan pak tua itu.

“Sekalipun benar kau sudah menikah, bercerai adalah pilihan yang pantas!” Jungwoo terkekeh santai sambil meminum habis wine di tangannya.

Jantung Seungyeon lagi-lagi berhenti berdetak saat mendengarnya.

“Aku hanya akan merestui keponakanku menikah dengan puteri keluarga Goo.” Kata Jungwoo melanjutkan kalimatnya.

Minho kali ini mendelik tajam kearah siapa orang yang dimaksud oleh Jungwoo. Hara terlihat berdiri tak jauh dari dirinya dan Jungwoo, gadis berdress hitam itu menautkan kedua tangannya di depan dan memberanikan diri tersenyum simpul pada Minho.

Minho berdecak kesal. Lelucon apa yang sedang terjadi disini? Dia dan Hara? Cih! Ini tidak lucu sama sekali!

“Baiklah, bagaimana kalau sekarang kita mulai pertunangannya?” kata Jungwoo tiba-tiba sambil meletakkan gelas wine kosongnya ke meja, lalu memungut kotak beludru dan cincin yang Minho lemparkan ke lantai. “Sepertinya kedua belah pihak sudah setuju untuk bertunangan, iya kan?” Jungwoo menatap bergilir kearah Minho, Seungyeon, Hara dan sepasang suami istri yang dari tadi berdiri tak jauh di belakangnya.

Minho sama sekali tidak mengeluarkan argumen apapun untuk menolak perkataannya, jadi Jungwoo pikir ini waktu yang tepat untuk melaksanakan alasan utama mengapa acara ‘Night Party’ ini dilakukan.

Kedua orang tua Hara—yang adalah sepasang suami istri yang sedari tadi berdiri di belakang Jungwoo—berjalan mendekat kearah Hara, merangkul anak gadis semata wayang mereka.

“Aku harap, Hara akan bahagia bersama orang yang dicintainya. Maafkan kami karena dulu pernah melarang hubungan kalian berdua. Kali ini, aku merelakan puteriku untuk bersamamu, Minho-ah.” Kata Ayah Hara sambil menepuk pelan pundak Minho.

“Ini, cincin pertunanganmu, Minho-ah.” Jungwoo menjulurkan kotak beludru berisi cincin ke depan Minho.

Minho membeku di tempatnya berdiri. Jantungnya berdenyut semakin tak beraturan. Kakinya terasa lemas dan tangannya bergetar. Pikirannya kacau, Minho benar-benar tidak tahu apa yang sedang terjadi disini. Lelucon macam apa ini?

Seungyeon menggigit bibir bawahnya. Nafasnya terasa sesak dan pendengarnya mengabur. Satu katapun tak dapat di cerna baik oleh otak Seungyeon. Hanya dapat merasakan sesak yang semakin menjadi dan pening di kepalanya. Dia tidak tau apa yang harus di lakukannya sekarang. Minho hanya diam, tidak lagi menolak atau memberontak seperti sebelumnya.

Seungyeon ingin sekali menangis, sekarang semua orang seolah-olah tidak menyadari keberadaannya disini.

Siapa Seungyeon? Apa posisinya disini? Istri seorang Choi Minho? Hei, Minho bahkan tidak mengatakan apapun lagi saat ini. Lihat, pria tua di depan sana adalah salah satu yang tidak menganggap Seungyeon adalah istri dari Minho. Seungyeon bukan apa-apa di tempat asing ini.

Dalam satu gerakan cepat,

Srek.

Seungyeon memutuskan untuk melepas rangkulan tangan Minho di bahunya, membuat Minho segera menoleh dan menyadari Seungyeon menggigit bibir bawahnya dengan mata berkaca-kaca.

“Seungie-ah…” Minho yang sempat larut dalam lamunannya tersadar kalau Seungyeon masih ada disampingnya saat ini. Minho benar-benar khawatir ketika bulir bening pertama lolos di pipi Seungyeon. Gadis itu menangis dalam diam. Pikiran Minho semakin kacau sekarang. Ia tidak tahu kalau ia ada di posisi Seungyeon saat ini, apa yang akan gadis itu pikirkan. “Seungie-ah, kenapa kau mena—”

Mianhae.”

“—ngis?”

Seungyeon mundur selangkah ketika Minho hendak menyentuh bahunya. “Sepertinya aku tidak seharusnya ada disini, Minho-ah.” Bola mata Seungyeon bergerak tak beraturan, menahan agar tangisnya tak semakin menjadi. “Aku permisi.” Hanya kata itu yang dapat Seungyeon ucapkan sebelum ia memilih berjalan cepat keluar istana megah Hara. Berjalan tak tentu arah ketika beberapa gadis tak sengaja di tabraknya kasar. Ia tidak peduli, Seungyeon ingin cepat-cepat keluar dari istana mengerikan itu sekarang juga. Semakin lama Seungyeon ada disana, semakin Seungyeon sadar posisinya yang bukan siapa-siapa.

Seungyeon menangis!

Minho baru akan berlari mengejar Seungyeon ketika tangan pria tua menyebalkan itu menahan langkahnya.

“Kalau kau mengejarnya, hubungan keluarga kita berakhir!” ancam pria tua itu.

Minho menggertakkan giginya dan menatap kearah Jungwoo tajam.

Kenapa jadi seperti ini? Minho datang kemari untuk menyelesaikan kesalahpahaman yang terjadi antara dirinya dan Hara pada Seungyeon. Tapi kenapa berakhir seperti ini?

Minho terjebak!

Arrggghhh!” Minho mengerang kesal dan mengacak rambutnya frustasi.

–=-=-=–

Seungyeon menatap nanar lapangan basket di depannya. Pandangan matanya mulai mengabur, tertutupi oleh derasnya air mata yang terus mengalir. Seungyeon tidak tahu dia harus kemana lagi sekarang, pikirannya benar-benar kacau, tidak bisa berkerja dengan baik, tapi dia masih ingat kalau dia tidak akan mau kembali ke rooftop dan dia tidak mungkin kembali ke rumah—kalau dia tidak mau membuat ibunya khawatir melihat kondisi mengenaskannya saat ini—dan terlebih, ia tidak mau bertemu dengan Minho. Tidak mau!

Jadi berakhirlah dia disini. Di taman kompleks, sendirian memandangi lapangan basket yang sepi dengan lampu temaram.

Seungyeon menekuk lulut dan memeluknya. Menenggelamkan kepalanya sebelum kemudian tangisnya pecah di tengah malam sepi itu.

Seungyeon selalu berfikir kalau hidupnya sudah cukup bahagia hanya dengan keluarga kecilnya bersama dengan Minho. Ia tidak pernah berfikir kalau suatu hari, seseorang—orang lain—di kehidupan Minho yang sama sekali tidak Seungyeon ketahui akan muncul seperti sekarang.

Seungyeon cukup tahu posisinya saat ini.

Iya, dia memang sudah menikah dengan Minho. Dia memang istri dari Minho. Dia juga… mulai belajar mencintai Minho. Seungyeon bahkan rela melepas apapun dari kehidupannya dimasa lalu demi Minho.

Tapi kemudian ia menyadari mengapa pernikahan ini bisa terjadi…

Dia menikah dengan Minho bukan karena cinta, bukan karena keinginan mereka berdua, tapi karena keadaan yang memaksa mereka untuk bersama. Karena sebuah kesalahan besar yang telah mereka lakukan.

Seungyeon tahu, statusnya yang sudah menikah dan adalah istri dari seorang Choi Minho hanyalah status saja. Hanya status—dan tidak lebih.

Seungyeon kembali menangis mengingat kejadian mengerikan beberapa menit lalu dan pikiran-pikiran menyedihkan yang terlintas di dalam kepalanya. Sekarang ia benar-benar sendirian. Tanpa siapapun.

Sendirian. Tanpa ada Minho disampingnya…

–=-=-=–

TO BE CONTINUE

–=-=-=–

Maaf, aku post lanjutannya agak sedikit telat dari waktu yang aku janjikan (1 minggu). Tapi aku buat part kali ini lebih panjang dari part sebelumnya loh. Hehe :p

Ah ya, karena aku buat part ini agak sedikit ngebut juga, jadi maaf kalo feel di part kali ini berantakan banget dan jalan ceritanya terkesan kecepetan dan maksa, soalnya aku rada bingung waktu harus nulis dari sisi Minho. Itu susah banget (menurutku) -.-”

Hm, soal ff ini yang bakal ending di part 20-an, itu cuman boongan kok. Jangan pada shock duluan ya. Hehe :p  Mungkin part 13 atau 15an juga bakal tamat kayaknya (doain aja ya). Kkkkk XD

Ayo yang udah selesai baca, bagaimana pendapat kalian tentang part kali ini? AndWhat would you do if you’re Seungyeon in this fanfic? You’d cry too, wouldn’t you? Or would you do anything else? Come on, let’s shared your opinion with me! 😀

–=-=-=–

Advertisements

171 responses to “My Younger Husband [Part – 10]

  1. Author lanjutin dong…
    Masih Gagal move on ni dr yg satu ini.
    Searching ga nemu, downloadnya jg ga nemu adanya cm triller.
    Lanjut dong please, pengen tau endingnya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s