THE PORTAL [ Part 5 : Over Protective? ]

The Portal new

Title :

The Portal

 

Main Cast :

– A Pink’s Jung Eunji / Jung Hyerim as The Princess of Junghwa Kingdom

– INFINITE’s Lee Howon / Hoya as The Bodyguard

– A Pink’s Son Naeun / Son Yeoshin as the Good Witch

– INFINITE’s Kim Myungsoo / L as the Bad Witch

 

Genre : Fantasy, Romance, Friendship, and little bit Comedy (soon)

 

Other Casts :

– CNBlue’s Jung Yonghwa as The King / Eunji’s Father

– SNSD’s Seo Joohyun as The Queen / Eunji’s Mother

– BAP’s Jung Daehyun as The First Prince / Eunji’s brother

– F(x)’s Jung Soojung / Krystal as The Second Princess / Eunji’s sister

– BtoB’s Jung Ilhoon as The Second Prince / Eunji’s Brother

– SNSD’s Lee Soonkyu / Sunny as The Palace’s Witch

 

– EXO’s Kim Jongin / Kai as the handsome mysterious person

– EXO’s Do Kyungsoo / D.O as an ordinary boy

– EXO’s Byun Baekhyun as the Prince in another Kingdom

– A Pink’s Yoon Bomi as Eunji’s foster sister

– B2ST’s Yoon Doojoon & 4Minute’s Heo Gayoon as Eunji’s foster parents

– INFINITE’s Nam Woohyun as Naeun’s foster brother

– INFINITE’s Lee Sungyeol as Myungsoo’s best friend

– B2ST’s Son Dongwoon as Naeun’s Brother

– B.E.G’s Son Gain as Naeun’s Sister

– SNSD’s Kim Hyoyeon as the most mysterious witch in Junghwa

– A Pink’s Kim Namjoo as Hyoyeon’s foster daughter

 

Rating : PG15 – NC17

Type : Chaptered

 

Author’s Note :

Annyeong readers, masih ingatkah dengan ff ini? Semoga masih ingat. Mohon maaf karena updatenya amat sangat ngaret, sebagai siswa kelas XII yang cantik dan imoedh(?), author mulai disibukkan dengan tugas dan waktu belajar ekstra karena ntar bakal ujian. Jadi kalo kelar aja ni ff baru update, hehe. Sebenarnya jumat kemarin author sudah ingin update tapi karena author kecelakaan jadi beberapa hari gabisa ngetik gara-gara jari lecet-lecet TT *lah curhat .-.*

Masih ingat dengan before storynya kan? Kalau gak ingat silahkan baca before storynya dulu ^^ :

 

Before Story :

Kejahatan dan kelicikan L sebagai seorang penyihir nampaknya sudah tak dapat diragukan lagi. Rencana beserta skenario yang ia susun berjalan dengan amat sangat mulus. Bahkan keisengannya menyuruh Howon alias Jiwon untuk mengikuti audisi dance dengan hanya menyihir lelaki itu menjadi manusia keren membuahkan hasil yang manis. Howon lolos audisi dan terpaksa memainkan peran barunya sebagai Hoya.

Sementara itu, keberhasilan L mengancam dan mengintimidasi Kai memudahkan jalannya untuk menyamar menjadi Kim Myungsoo, kakak kandung Kai yang merupakan sisi baiknya yang sudah meninggal dalam kecelakaan saat hiking. Bahkan ia tampil sebagai Myungsoo untuk pertama kalinya di depan istrinya sendiri, Naeun. Melalui pembicaraan hangat di halte bus ketika menunggu hujan berhenti, meski sempat merasa takut, Naeun akhirnya percaya bahwa ia adalah Myungsoo.

Namun kepercayaan dari Naeun bukanlah satu-satunya hal yang L cari. Ia akan tetap berusaha menjalankan perannya sebagai senior berhati malaikat hingga ia yakin bahwa Naeun jatuh cinta padanya suatu saat nanti.

 

Sementara itu, posisi Howon nampaknya sedang tidak nyaman. Ia terpaksa memalsukan identitas untuk yang kedua kalinya demi audisi dance yang ia ikuti secara dadakan. Ya, selain menjadi gadis perkasa bernama Lee Jiwon, Howon menambah nama aliasnya yakni Hoya, pria keren yang menarik perhatian seisi gedung audisi Seoul Dance Competition karena wajah tampan dan bakat dancenya.

Kehadiran Howon sebagai perempuan bernama Lee Jiwon di Junghwa High School memang membawa keuntungan karena ia ternyata ditakdirkan tinggal di satu kamar asrama yang sama dengan orang yang ia cintai -Eunji-. Namun baru ia sadari satu kerugian yang harus ia alami selama menjadi Jiwon.

 

Ia tak bisa berbuat apapun jika Eunji didekati oleh pria manapun.

 

Selengkapnya :

Part 1 : I Hate My Life

Part 2 : Big Decision

Part 3A : I Will Find You

Part 3B : You Will Find Me

Part 4 : Another Me

***

 

Part 5 >> Over Protective? *it’s a long long long long part(?), happy reading! ^^*

 

Author POV

 

“ Apa? jadi hujan yang turun dari pagi buta sampai sekarang adalah ulahmu?”

Lelaki tampan yang mengaku bernama Kim Myungsoo itu mengangguk dengan wajah tanpa dosa, membuat gadis jadi-jadian didepannya mendengus kesal.

“…ck, kau membuat kegiatan MOS terhenti juga, tahu.”lanjut si gadis jadi-jadian itu.

“ Memang itu yang aku inginkan. Kegiatan MOS tidak boleh berjalan sebelum aku datang. Aku juga melakukannya agar bisa berlama-lama dengan istriku di halte.”

“ Dasar egois.”

“ Kau baru tahu aku egois? Kasihan.”

Jiwon kembali mendengus kesal. Sebenarnya kekesalan yang ia alami bukan karena hujan yang ternyata diturunkan oleh Myungsoo, tetapi lebih kepada kejadian yang belum lama ia saksikan dengan mata kepalanya sendiri, dimana kekasihnya -Eunji- ditarik oleh senior lelaki untuk mengunjungi ruang bernyanyi.

 

“…kau kesal karena Hyerim didekati oleh lelaki lain?”

“ Hah? Darimana kau tahu?” Jiwon sedikit terlonjak ketika Myungsoo menyadarkan lamunannya.

“ Apa yang aku tidak tahu darimu, Lee Howon? Pikiranmu terlalu mudah untuk dibaca.”

Jiwon tertawa kecut, “ Sudahlah, tidak usah dibahas. Sekarang lebih baik kau hentikan hujannya. Tujuanmu sudah tercapai, kan?”

Myungsoo mengangguk. Namun ketika baru saja ia hendak mengeluarkan tongkat sihirnya, pintu ruangan panitia terbuka. Masuklah Woohyun, Chorong, dan Sungyeol. Tiga senior pemegang jabatan tertinggi setelah Myungsoo di kepengurusan intra sekolah Junghwa.

 

“ Sudah selesai kan mengobrol dengan Jiwon? Kami tahu kau sangat berterimakasih padanya karena sudah menolongmu di gunung. Tapi kami juga ingin mengobrol denganmu..” tanpa basa-basi Chorong duduk di samping Myungsoo, membuat Woohyun semakin dongkol. Sementara Sungyeol masih memasang wajah datarnya dan duduk disamping Jiwon.

“ Kurasa sudah saja. Sungkan berkumpul dengan para senior. Kalau begitu aku permisi.” Jiwon berdiri buru-buru karena Sungyeol memperhatikannya dengan tatapan mencurigakan.

Myungsoo mengangguk, “ Kalau ada sesuatu yang kau butuhkan, katakan saja pada kakak.”

Jiwon menahan tawanya, namun ia mengikuti permainan peran L.

“ Iya, Myungsoo sunbae. Terimakasih.”

*

 

“ Aigoo.. Son Naeun. Kau beruntung sekali!”

“ Bagaimana rasanya mengobrol dengan lelaki setampan itu?! pasti gemetaran..”

“ Aku iri padamu!”

“ Seharusnya aku saja yang keluar beli obat tadi pagi!”

Naeun tertawa kecil mendengar ocehan teman-teman perempuan sesama peserta MOSnya. Mereka semua iri padanya karena ia datang satu payung bersama Myungsoo. Nampaknya aura senior mereka yang baru menampakkan diri setelah dinyatakan hilang beberapa hari yang lalu itu kuat sekali, wajah tampannya dalam sekejap berhasil mendapatkan tempat khusus di hati semua peserta MOS perempuan. Termasuk Naeun, mungkin.

Gadis itu melemparkan pandangannya kearah seorang lelaki berkulit agak gelap yang duduk memojok sendirian di ruang kelas. Rasa bingung menyelimutinya.

Bukankah seharusnya ia senang karena kakaknya kembali? Mengapa ia tetap murung seperti itu?

Meski masih agak ragu, Naeun berdiri dan menghampirinya. Saat dilihat dari dekat ternyata lelaki yang sering dipanggil Kai itu sedang menulis sesuatu di buku kecilnya.

 

“ Tak kusangka kau punya buku harian juga.”

“ Eh!”

Kai buru-buru menutup buku hariannya dan menyimpannya rapat-rapat, setelah itu menatap Naeun dengan kesal.

“ Mau apa kau?”tanyanya dingin, namun tak sedingin kemarin. Tentu saja, karena ia sudah tahu Naeun adalah seorang penyihir, ia takut Naeun dendam dan mencelakainya jika ia berperilaku terlalu menyebalkan.

“ Ng.. aku hanya ingin.. mengucapkan.. selamat.”jawab Naeun dengan nada sedikit awkward, “…selamat.. karena.. kakakmu.. sudah kembali.”

“ Ooh. Itu. y.. ya.. terimakasih.”jawab Kai seadanya, sedikit bingung juga mengapa Naeun tidak bisa menyadari kalau yang kembali itu sebenarnya adalah suaminya sendiri. Apa karena Myungsoo berhasil meyakinkannya saat di halte tadi? Mungkin saja.

“ Kuharap kau tidak murung lagi seperti kemarin. Kudengar dari teman-teman SMPmu, sebenarnya kau orang yang ceria. Aku ingin melihatmu seperti itu. tidak ada alasan untuk murung lagi, kan?”

Kai sedikit tersenyum mendengar perkataan Naeun. Gadis didepannya ini benar-benar sangat baik. Kai sampai berpikir betapa tidak adilnya dunia ini, mengapa gadis sebaik Naeun harus menikah dengan orang sejahat L? seandainya saja Kai juga penyihir di negeri yang diceritakan L itu, mungkin ia tak akan menyiakan kesempatan untuk menikahi Naeun jauh sebelum L melamarnya.

Ah, hentikan. Itu hanya dongeng absurd di kepala Kai. Saat ini lelaki itu bahkan tidak tertarik sedikitpun pada Naeun, tentu karena aura gadis itu sudah diambil oleh L.

“ Hmm.. ini, tolong kembalikan pada kakakmu. Katakan padanya aku sangat berterimakasih.” Naeun melepas jaket putih yang masih ia pakai, diserahkannya jaket itu pada Kai.

“ DIluar masih hujan dan udara masih dingin. Pakai saja dulu.” Kai menolak.

“ Aniya.. aku tidak enak meminjamnya lama-lama. Kembalikan saja pada kakakmu, aku malu mengembalikannya sendiri.” Naeun memaksa, setelah itu ia melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.

“…aku harus ke ruang panitia sekarang, hukuman dari Woohyun sunbae gara-gara kejadian kemarin masih harus kujalankan hari ini. Aku harus membersihkan ruang panitia. Permisi.” Naeun pun berpamitan dan berbalik.

“ Hei, perempuan. Eh, maksudku.. Na..eun.”

“ Ya?” Naeun berbalik kembali, wajahnya nampak berseri karena Kai akhirnya mau menyebut namanya.

“ Ini, terimakasih. Sudah kucuci..” Kai meletakkan sebuah saputangan di tangan Naeun, lalu ia sendiri melepas jaket abu-abu yang ia pakai.

“…kalau tidak enak memakai punya Myungsoo hyung, pakai saja punyaku.” Kai menyampirkan jaket abu-abu miliknya itu di bahu Naeun. Meski cara lelaki itu menyampirkan jaketnya tidak selembut Myungsoo, namun tetap berhasil membuat Naeun blushing.

“ Ng.. tapi bagaimana dengan….”

“ Jangan menolak. Sana ke ruang panitia.” Kai membalikkan badan Naeun dan sedikit mendorong gadis itu agar menjauh darinya.

Naeun menurut. Meski kesal dengan perilaku Kai, gadis itu tetap tersenyum dalam hatinya karena tahu lelaki itu ada baiknya juga.

*

 

“ Jadi bagaimana? Kau mau kan bergabung di ekskul kami?”

Eunji masih diam, memperhatikan setiap sudut ruang musik yang memang bagus dan menyenangkan. Ia belum begitu fokus dengan pertanyaan D.O, sang senior yang sejak tadi memaksa untuk merekrutnya kedalam ekskul musik.

“ Ng.. aku.. masih.. bingung.”jawab Eunji pelan, tawaran D.O sebetulnya amat menggiurkan, dengan mengikuti ekskul musik Eunji bisa menyalurkan bakatnya dengan segala kelengkapan alat musik yang ada di ruangan musik sekolahnya ini, meski tak semewah ruangan musik di istananya dimana semua alat musik yang ada terbuat dari emas dan kristal.

Lalu apa yang membuat putri raja itu bingung ingin ikut atau tidak?

Jawabannya satu, ia kehilangan semangat hidupnya. Semua itu tentu bermuara dari Howon yang tak juga datang dan menemukannya. Sebelum mengenal Howon, Eunji selalu bersemangat untuk bermusik. Namun setelah ia mengenal lelaki itu, semangatnya untuk bermusik seakan-akan bergantung pada Howon. Terlebih kini tujuannya untuk terus bernyanyi dan bermusik semata-mata agar Howon yang mendengarkan dan menikmatinya.

Maka itu, sekarang Eunji berpikir. Jika ia bernyanyi dan bermusik setiap hari di ruangan musik sekolahnya, apa yang akan ia dapatkan? Kepuasan dan kesenangan hanya akan ia dapatkan jika Howon mendengar lantunannya.

 

“ Aku tidak pernah seperti ini pada hoobae yang lain. Baru kali ini saja aku mendesak seorang hoobae untuk mengikuti ekskulku, suaramu benar-benar mengagumkan. Aku tidak akan rela jika kau menolak tawaran ini.” D.O melanjutkan sesi perekrutannya dengan kata-kata yang mengandung unsur pemaksaan. Membuat Eunji bingung menjawabnya.

“…kau tahu? Di sekolah ini jika ingin mengikuti suatu ekskul, siswa atau siswi harus mengikuti tes dari senior ekskul terlebih dahulu. Dan khusus untukmu, tidak ada tes. Aku akan langsung memasukkanmu ke ekskul musik ini. Sebenarnya ini suatu pelanggaran, tetapi kurasa tidak perlu ada tes untukmu, aku sudah mendengar merdunya suaramu.”kata D.O lagi, membuat Eunji sedikit terkejut.

“ Jadi.. sebenarnya aku harus tes dulu?” tanya Eunji memastikan.

“ Ya. tapi tidak usahlah. Ini rahasia kita berdua, jika kau mau masuk ekskul ini kau tidak perlu tes.”

“ Wah. Kalau begitu.. aku m….”

 

“ Oooh.. begitukah, Do Kyungsoo? Seenaknya memasukkan siswi baru ke ekskul kita tanpa tes?”

 

Sebuah suara dari belakang mengagetkan Eunji dan D.O. ketika keduanya berbalik, nampak seorang gadis bertubuh mungil dengan rambut pirang panjang berdiri sembari bertolak pinggang tanda marah. D.O segera berdiri untuk mengklarifikasi.

 

“ Luna, dengarkan aku dulu..”

“ Apa?! jangan bilang kau punya maksud pribadi makanya kau memasukkan dia tanpa tes ke ekskul kita!” gadis bernama Luna yang juga merupakan senior dan panitia MOS itu langsung menuduh. Ia termasuk senior yang galak dan disegani, maka itu Eunji hanya diam seribu bahasa.

“ Tidak! Tidak seperti itu, Lun. Aku sudah dengar suaranya dan..suaranya memang sangat bagus.”

“ Oh ya?” Luna menatap Eunji sinis dari bawah ke atas, “…lalu apa dia bisa memainkan alat musik?”

Eunji buru-buru mengangguk, D.O tersenyum cerah melihatnya.

“ Itu tes dariku agar kau bisa masuk ekskul kami. Cepat mainkan alat musik yang kutunjuk sambil bernyanyi dan buatlah aku terkesan.” Luna menunjuk sebuah piano klasik di sudut ruangan.

Tanpa banyak bicara, Eunji menuju piano tersebut. D.O mengikutinya.

“ Kau bisa melakukannya?” bisik D.O.

“ Sedikit.”jawab Eunji seadanya, membuat D.O waswas karena ia takut Luna tidak terkesan. Sebagai siswi yang paling banyak menyumbang trofi untuk sekolah di bidang musik khususnya menyanyi, Luna memang cukup perfeksionis.

 

Eunji duduk di depan piano tersebut, memejamkan matanya sejenak dan berdoa semoga permainannya tidak buruk. Hingga entah mengapa wajah Howon tiba-tiba melintas lagi dalam pikirannya, membuatnya sedikit kacau karena lagi-lagi rasa rindu timbul dalam hatinya.

“ Tidak. Jangan sekarang.” Eunji mencoba menepis rasa rindunya demi membuktikan pada Luna bahwa ia tidak pantas diragukan.

Gadis itu membuka matanya, hingga yang pertama kali ia lihat adalah sosok bongsor Jiwon berdiri di luar jendela ruang musik menatapnya dengan kedua jempol terangkat tanda memberinya semangat.

Ah, gadis itu memang teman yang baik. Walaupun sedikit aneh.

Eunji mulai mempertemukan jemari tangannya dengan tuts piano, menyanyikan lagu yang ia nyanyikan saat bersama Jiwon tadi dari awal hingga akhir. Membuat D.O dan Luna yang berdiri disampingnya mendadak speechless.

 

“…I love you for a thousand more..”

 

Eunji mengakhiri lagunya, setelah itu buru-buru menghapus cairan bening yang lagi-lagi keluar dari pelupuk matanya. Sepanjang lagu ia terus teringat akan sosok Howon. Beruntung penampilannya didepan kedua kakak seniornya ini tidak berantakan.

“ Wow! Kau sangat…..”

 

“ JUNG HYERIM! SARANGHAE!!!”

 

D.O dan Luna tak jadi melanjutkan perkataan mereka ketika mereka mendengar suara asing yang entah datang dari mana.

Eunji yang terkejut mendengar nama aslinya disebut segera melempar pandangan kesekitarnya. Hingga ketika ia menatap jendela, sosok Jiwon sudah menghilang dari sana…

***

 

“ Apa?! tidak! Tidak bisa. MOS ini tetap aku yang memimpin!”

Dengan geram Woohyun terus melawan perkataan Chorong, atmosfer ruangan panitia mulai memanas hanya karena permasalahan jabatan yang menurut Chorong harus diubah karena Myungsoo sudah kembali. Sementara orang yang diperdebatkan -Myungsoo- hanya bisa diam dan pasrah, karena memang seperti itulah pembawaan yang harus ia tunjukkan agar semua orang percaya bahwa ia memang Myungsoo yang baik hati.

Sungyeol menjadi salah satu orang yang diam seribu bahasa juga semenjak duduk di sofa ruangan. Namun tatapan matanya membuat Myungsoo merasa sangat risih. Bagaimana tidak? Lelaki berwajah konyol dan berkacamata besar itu terus memperhatikannya tanpa berkedip, membuat Myungsoo ingin menjadikannya sebagai sasaran bunuh. Padahal kata Kai, Sungyeol adalah sahabat terdekat Myungsoo. Tapi kenapa ia sama sekali tidak excited dengan kemunculan Myungsoo?

Baiklah, Myungsoo tahu pasti ada yang tidak beres. Mungkin saja Sungyeol mencurigainya. Tetapi saat ini Myungsoo tak ingin mempermasalahkannya karena hal itu sangat mudah ia atasi. Apa sih yang tidak bisa ia lakukan? Memperalat sesama penyihir saja ia bisa, apalagi manusia biasa.

 

“ Baik. Baiklah, kau tetap menjadi ketua panitia MOS. Tetapi untuk kapten ekskul basket dan jabatan president school kembali diduduki oleh Myungsoo. Selesai.” Chorong akhirnya mengalah.

“ Tidak bisa! Baru saja beberapa hari yang lalu setelah dia dinyatakan mati aku diresmikan menjadi kapten basket dan president school yang baru. Tanpa ada peresmian, Myungsoo tidak bisa seenaknya menggeser aku!” Woohyun masih tak terima, membuat Chorong semakin naik pitam.

“ Tapi kau kan hanya wakilnya, kau hanya mengambil alih jabatannya jika dia tidak ada. Sekarang dia sudah kembali, jadi kau harus kembali menjadi wakil!” Chorong melawan, namun Woohyun buru-buru menggeleng.

“ Tanpa ada proses, aku tidak akan rela Myungsoo menempati jabatanku!”

“ Heh! Tapi kan….”

“ Sudahlah, sudah..” Myungsoo menahan Chorong yang sudah berdiri dan hendak menghajar Woohyun, “…kalian tidak usah bertengkar. Saling membenci lama-lama malah bisa pacaran lho.”

“ Mereka kan memang sudah berpacaran, Myung.” Sungyeol segera buka suara dengan datar, kecurigaannya semakin kuat. Bagaimana mungkin Myungsoo sebagai sahabat yang biasanya menerima segala curahan hati Chorong tentang Woohyun malah berkata seperti itu sekarang?

“ I..iya. aku kan memang sudah pacaran dengan laki-laki sialan ini.”kata Chorong bingung, “…kenapa kau….”

“ Ah, eh.. m..maksudku.. ya.. begitulah. Maaf, kepalaku memang masih sedikit sakit jadi kadang-kadang amnesia.” Myungsoo buru-buru mengklarifikasi meski tak dapat dipungkiri wajah tampannya terlihat panik.

“ Oh begitu. Aku mengerti. Ya sudahlah, maaf.” Chorong akhirnya kembali duduk dan mengatur nafasnya, mengurungkan niatnya untuk memukul Woohyun meski kesabarannya sudah keluar jauh dari batas.

“ Jika Woohyun menginginkan proses agar aku bisa kembali ke jabatanku, aku akan terima apapun proses yang ia inginkan.”kata Myungsoo lagi, mencoba bersikap selayaknya seorang Myungsoo yang suka mengalah dan penyabar.

“ Bagus. Kalau begitu aku ingin kita duel one by one untuk mendapatkan posisi kapten basket sekolah. Bagaimana?” Woohyun langsung menantang dengan wajah licik karena yakin akan menang, Myungsoo tak mungkin bisa mengalahkannya karena terlihat masih luka-luka akibat kecelakaan di gunung itu.

Tak heran, tangan Chorong mulai mengepal kembali tanda protes.

“ Tidak bisa! Myungsoo masih cedera dan dia tidak mung……”

“ Sudahlah, Chorong. aku terima tantangannya.” Myungsoo memotong. Untuk apa ia takut pada tantangan Woohyun? Selama berada di negeri Junghwa ia adalah pemain basket andalan di sekolah sihirnya, bahkan bola yang ia gunakan adalah kepala manusia. Lantas apa susahnya bertanding dengan bola karet biasa?

“ Tapi bagaimana dengan lukamu?” tanya Chorong khawatir.

“ Sudah pulih, kok. Tenang saja.”

Chorong akhirnya mengangguk, meski matanya masih saja melotot kearah Woohyun.

“ Lalu.. proses apa yang kau inginkan untuk jabatan president school?” tanya Myungsoo tenang pada Woohyun, sebisa mungkin ia tahan sikap temperamentalnya menghadapi saingan beratnya di sekolah itu, ia tak boleh sedikitpun menunjukkan sisi jahatnya.

Woohyun nampak berpikir, ruangan panitia sunyi seketika.

 

“ Sillyehamnida..”

Seisi ruangan menoleh kearah pintu ketika mendengar ucapan salam dari sana. Seorang gadis berjaket abu-abu dan membawa sapu dengan wajah innocent nampak memasuki ruangan pelan-pelan lalu membungkuk dengan sopan kearah para seniornya dan membalas senyuman dari salah satu seniornya, Myungsoo. Lelaki itu sangat ramah, membuat Naeun tidak merasa tegang berada di tengah-tengah para senior yang sedang berkumpul saat ini.

 

“ Naeun? Bagus kau datang tepat waktu. Bersihkan mulai sebelah sana.” Woohyun menunjuk sudut ruangan, Naeun mengangguk, ia segera berjalan menuju sudut ruangan dan mulai menyapu lantainya mulai dari sana.

“ Hei, kenapa dia bersih-bersih disini?” Myungsoo protes dengan sedikit mengeraskan suaranya berharap Naeun mendengarnya dan merasa dibela.

“ Haha. Myungsoo.. kami tahu kau datang satu payung dengannya tadi pagi, mungkin kalian sudah saling kenal. Tapi hoobae kita yang bernama Son Naeun ini sudah membuat kekacauan di MOS hari pertama. Makanya kami menghukum dia.”jelas Chorong.

“ Pasti insiden pilox itu..” tebak Myungsoo dalam hatinya, “…hahaha, nasib Yeoshin di Junghwa dan di dunia ini sama saja malangnya. Padahal insiden kemarin kan ulahku..”

“ Memangnya kekacauan apa yang dia buat?” tanya Myungsoo pura-pura tak tahu.

“ Kemarin saat para senior menyemprot pilox ke seragam hoobaenim, dia justru yang menyemprot pilox ke seniornya sampai kena mata, lho.”jelas Chorong.

“ Hah? Tidak mungkin, kelihatannya ia gadis yang baik.” Myungsoo menoleh sejenak kearah Naeun yang masih sibuk menyapu, membuat gadis itu tersenyum malu.

Chorong hanya mengangkat bahunya, “ Tapi insiden itu benar-benar terjadi. Sekarang Dongwoo berhenti menjadi panitia dan istirahat di UKS asrama karena matanya masih luka.”

“ Benarkah?” Myungsoo tak percaya, ia kembali menoleh kearah Naeun yang kini menunduk sedih. Lelaki itu tersenyum sembari mengedipkan matanya, lalu berbisik pelan,

“ Jangan khawatir. Aku percaya kau tidak melakukannya.”

Naeun tersenyum tanda berterimakasih, ia merasa tenang dan lega karena ada yang berpihak padanya.

 

“ Hah sudahlah, lalu yang tadi bagaimana?” Woohyun membuka pembicaraan, “…dengan cara apa kita memperebutkan posisi president school?”

“ Voting sajalah dari seluruh warga sekolah.”saran Sungyeol.

“ Tidak mau, itu terlalu repot. Aku malas kampanye.”Woohyun buru-buru menolak.

“ Malas kampanye atau takut kalah?” celetuk Chorong.

“ Heh!”

“ Sudah sudah jangan bertengkar lagi.. aku setuju dengan Woohyun, voting memang merepotkan. Kita harus pakai cara lain.” Myungsoo menengahi, membuat Naeun yang mendengar pembicaraan mereka tersenyum kagum karena Myungsoo benar-benar sosok yang baik dan penyabat.

Suasana ruangan hening sejenak, hingga Woohyun yang sejak tadi memperhatikan Naeun yang sedang menyapu tiba-tiba mengajak Myungsoo, Chorong, dan Sungyeol untuk merapat agar hoobae yang sedang menjadi tukang sapu di ruangan mereka tidak mendengarnya.

 

“ Kim Myungsoo, aku tahu apa yang harus kita lakukan demi jabatan president school itu.”kata Woohyun.

“ Apa?” tiga orang yang lain langsung bertanya dengan tak sabar terutama Myungsoo.

Sekali lagi, Woohyun melirik kearah Naeun yang masih sibuk menyapu.

“ Gadis itu. siapa yang berhasil membuat gadis itu memanggil salah satu dari kita dengan sebutan ‘oppa’, maka dia yang berhak menjadi president school.”

“ Hah!?? Kau gila!? Ide macam apa itu!?” Chorong langsung protes karena Woohyun dengan seenaknya menjadikan Naeun sebagai barang taruhan.

“ Kenapa? Kau cemburu, sayang?” Woohyun tersenyum setan, membuat Chorong semakin dongkol.

“ Dasar playboy cap tomcat. Bawa-bawa cewek segala jadi taruhan.”celetuk Sungyeol.

“ Biar saja. Aku ingin perebutan jabatan ini dilakukan dengan cara yang tidak biasa. Kau sanggup kan, Myungsoo?” Woohyun tersenyum licik kearah rivalnya itu.

Myungsoo tertawa dengan lebih licik dalam hatinya. Berani-beraninya Woohyun menjadikan istrinya sebagai barang taruhan. Baiklah, mungkin ini bisa menjadi cara untuk mempermudah Myungsoo mendekati Naeun. Semoga saja istrinya yang tidak pernah sudi memanggilnya dengan sebutan oppa di negeri Junghwa mau memanggilnya dengan sebutan itu di dunia yang kini mereka tempati.

Lelaki itu menghela nafasnya dan mengangguk dengan tenang.

 

“ Baiklah, aku sanggup.”

***

 

03.15 AM

 

“ Hah? Jadi kau sudah masuk ekskul musik?” Naeun nampak tak percaya mendengar cerita Eunji sepanjang perjalanan pulang mereka menyusuri koridor sekolah menuju asrama.

Sahabatnya itu langsung mengangguk dengan semangat, “ Padahal D.O sunbae hanya mendengar suaraku sedikit saat aku bersama Jiwon di koridor tadi pagi. Iya kan?” Eunji menoleh ke sebelah kanannya, kearah seorang ‘gadis’ yang ikut berjalan beriringan dengannya. Gadis bernama Lee Jiwon itu mengangguk saja.

“ Wah, suaramu memang punya daya tarik tersendiri. Kurasa lelaki manapun yang mendengar suaramu bisa langsung jatuh cinta. Seperti Ho…”

“ Ya! jangan sebut namanya, aku jadi semakin rindu padanya.” Eunji memotong dengan nada sedih, Naeun tertawa kecil. Sedangkan Jiwon yang sejak tadi berjalan dalam diam hanya bisa tersenyum getir dalam hatinya.

“ Howon, Lee Howon. Pengawal istana yang tampan itu..~” Naeun justru semakin menggoda Eunji, wajah Eunji mendadak memerah.

“ Yaaa!! Jangan sebut namanyaaa!” Eunji semakin sedih dan tentu saja malu pada temannya -Jiwon-, tapi untung saja temannya itu sepertinya bukan tipe orang yang suka banyak tanya dan ingin tahu urusan orang lain.

“ Howon Howon.. Howon Howoooon..” Naeun malah semakin meledek, Eunji beberapa kali mencubit sahabatnya itu dengan gemas.

“ Iiih!! Kau ini!” Eunji merajuk, “…aku tahu kau sedang senang hari ini, makanya meledek aku.”

“ Hahaha, tahu darimana aku senang?” Naeun tertawa. Eunji benar, ia memang sedang happy hari ini. Baru saja beberapa jam mengenal Myungsoo, hidupnya yang hitam kelam mendadak berwarna. Tetapi ada yang lebih dari itu, yang membuatnya semakin senang dengan hari ini adalah jaket abu-abu dari Kai yang masih dipakainya.

“ Kelihatan dari wajahmu. Berbinar-binar.. berbunga-bunga karena sunbae tampan yang persis dengan L, suami…. Aw!” Eunji menghentikan kata-katanya karena Naeun menginjak kakinya.

“ Ssst! Jangan sebut suami-suami lagi, apalagi menyebut nama penyihir biadab itu.” Naeun kesal, Jiwon tertawa kecil secara sembunyi-sembunyi, tergelitik mendengar Naeun menyebut L sebagai penyihir biadab.

 

“ Naeun!”

 

Ketiga gadis yang tengah berjalan itu seketika menoleh ke asal suara, terlihat sosok lelaki tinggi berwajah tampan berlari kecil kearah Naeun, mengambil posisi di samping gadis yang dipanggilnya lalu menyamakan langkahnya untuk ikut berjalan beriringan.

Naeun dan Eunji segera membungkuk, memberi hormat karena lelaki itu adalah senior mereka.

“ Annyeong, Myungsoo sunbae.”ucap mereka sopan, dalam hati berkata, “ Baru saja dibicarakan, eh malah muncul orangnya.”

“ Heh, hormat.” Myungsoo melotot kearah Jiwon, membuat lelaki setengah perempuan itu kesal dan ikut membungkuk meski terpaksa.

“ Sialan, aku lebih tua darinya dan aku harus menghormatinya sebagai senior? Dasar penyihir sialan.”

Mereka kembali berjalan bersama-sama, Myungsoo dan Jiwon saling menyentil tangan satu sama lain secara sembunyi-sembunyi di belakang punggung Naeun dan Eunji. Maklum, semenjak resmi menjadi sahabat layaknya kedua gadis yang mereka cintai, L dan Howon jadi suka jahil-jahilan seperti ini. Apalagi sekarang mereka berkumpul bersama Naeun dan Eunji, mungkin aksi saling sentil ini cara mereka menunjukkan kesenangan yang tidak bisa mereka perlihatkan.

“ Mianhae, ada apa sunbae memanggilku?” tanya Naeun pelan, Myungsoo tersenyum tipis lalu menyodorkan gelas plastik berisi teh hangat yang sejak tadi dipegangnya kearah gadis itu.

“ Ini, untukmu. Minumlah.”

“ Hah? Untukku? Kenapa….”

Myungsoo mengangguk, “ Aku kan tahu sejak tadi pagi kau kedinginan selama menunggu di halte, dan tadi siang kau kelelahan membersihkan ruangan panitia. Jadi hanya ini yang bisa kuberikan untuk membuatmu segar kembali.”

“ Ehek! Ehek! Ohok! Ohok!” Jiwon pura-pura batuk untuk meledek Myungsoo, tanda kagum juga karena akting sang penyihir kejam bisa sehebat ini. Sementara yang diledek hanya bisa membatin dalam hatinya.

“ Awas kau Lee Howon, awas.”

“ Ya! kau kenapa?” Eunji nampak khawatir pada Jiwon yang sejak tadi diam dan mendadak batuk. Jiwon buru-buru menggeleng.

“ Jiwon memang punya riwayat TBC, jadi suka batuk begitu.”celetuk Myungsoo, “…sebagai kakak angkatnya aku sudah tahu penyakitnya.”

“ Sialan, dia membalasku.” batin Jiwon. Seenaknya saja Myungsoo mengatainya punya riwayat TBC, masalahnya Jiwon tidak tahu TBC itu penyakit apa -_-

“ TBC itu apa sih?” Eunji berbisik pada Naeun, Naeun menggeleng dengan polos karena tidak tahu juga.

“ Duh, dasar penduduk Junghwa. Hal sekecil itu saja tidak tahu.”Myungsoo tertawa miris dalam hatinya.

“ Ah yasudahlah. Ng.. ini benar-benar.. untukku?” Naeun mengalihkan pembicaraan sembari menatap segelas teh dari Myungsoo.

“ Ya, cepat minum. Nanti dingin.”

Naeun sedikit ragu, masalahnya ia tidak bisa meminum sesuatu yang tidak mengandung darah manusia, seperti biasa. Myungsoo tahu hal tersebut, maka itu sebelumnya ia memberi beberapa tetesan darah di minuman tersebut. Darah siapa lagi yang ia gunakan kalau bukan darah Jiwon yang sempat ia minta beberapa mili liter untuk persediaan makanannya.

“ Aigoo.. kau tidak tahu cara meminumnya? Kajja, minumlah. Jangan menolak.” Myungsoo mengarahkan sedotannya kearah Naeun. Ah, ia benar-benar perhatian.

Akhirnya, dengan malu-malu Naeun menyedotnya sedikit, wajahnya berbinar seketika karena teh tersebut cocok dengan lidahnya.

Bagaimana bisa? Mana mungkin Myungsoo sunbae meneteskan darah manusia ke dalam teh ini? Pikiran itu berputar-putar di kepala Naeun. Namun gadis itu tak ingin mempermasalahkannya, ia menikmati minuman itu sampai habis.

 

“ Terimakasih, sunbae. Aku sudah segar sekarang.” Naeun berterimakasih, Myungsoo mengangguk dan tersenyum. Eunji menyenggol Naeun, meledek sahabatnya yang benar-benar diberi perhatian khusus oleh sang sunbae tampan. Sementara Jiwon masih diam seribu bahasa, sedikit tidak rela darahnya diminum seenaknya.

“…oh iya, mana.. Kai?”

Sontak wajah Myungsoo tertekuk seketika saat mendengar pertanyaan Naeun. Untuk apa gadis itu mencari Kai?

“ Dia sudah ke asrama duluan. Memang kenapa?” tanya Myungsoo, berusaha tenang meski tahu Jiwon mulai menertawakannya dengan sembunyi-sembunyi.

“ Ooh.. tidak apa-apa. tolong bilang padanya kalau aku masih pinjam jaketnya.”

“ Eh?” Myungsoo baru sadar Naeun memakai jaket abu-abu milik Kai, ia kira gadis itu masih memakai jaket putih miliknya.

“…lho? Mengapa kau memakai jaketnya? Bukannya aku sudah..”

“ Mian, sunbae. Aku sudah mengembalikan jaketmu, aku menitipkannya pada Kai. Tapi dia malah meminjamkan jaketnya padaku.”jelas Naeun sembari tertawa kecil.

“ Wah, gitu-gitu Kai perhatian juga ya.”celetuk Jiwon, tentu atas unsur memanas-manasi Myungsoo. Apalagi Eunji mengiyakan.

“ Ah.. jadi.. begitu ya.. ya ampun padahal pakai saja jaketku dulu.”kata Myungsoo pelan, Naeun menggeleng.

“ Maaf, aku tidak enak meminjamnya lama-lama.”

“ Tapi.. daripada kau memakai jaket Kai. Adikku itu jarang sekali mencuci pakaian, jaket ini sudah tiga bulan tidak ia cuci.”

“ HAH!? Benarkah??” Naeun terkejut, ia buru-buru melepas jaketnya dan menyodorkannya pada Myungsoo, “…ini, kembalikan saja padanya. Katakan bahwa aku berterimakasih.”

“ Hahaha…!” Eunji dan Jiwon tertawa karena reaksi Naeun begitu cepat. Myungsoo juga tertawa dalam hatinya, tertawa licik karena fitnahnya berhasil.

****

 

“ Disini! Pasti disini!”

Dengan wajah tegang, Kai membuka satu per satu laci lemari di kamar asrama Myungsoo. Tangannya langsung meraup beberapa lembar uang dengan berbagai mata uang yang ada di dalam sana lalu memasukkannya ke dalam kantongan hitam yang sudah ia siapkan. Ia juga mengambil dompet, buku tabungan, cek, laptop, dan kamera beserta lensa-lensanya yang ada di dalam sana. Yang jelas, semua barang berharga milik sang kakak ia masukkan ke dalam kantongan hitamnya.

 

“ Heh dekil, Myungsoo mengajarimu mencuri?”

 

Sontak Kai menghentikan aksinya ketika Sungyeol menegurnya. Seniornya yang satu ini memang sahabat terdekat bahkan teman sekamar Myungsoo. Ia mengizinkan Kai untuk masuk, tetapi ia tidak menyangka Kai masuk untuk mengambil semua barang berharga milik Myungsoo.

“ Nanti aku jelaskan, sunbae. Aku tidak punya banyak waktu sekarang!” jawab Kai panik, ia masih terus sibuk memasukkan barang-barang tersebut kedalam kantong hitamnya.

“ Aku akan melaporkanmu pada ketua asrama karena telah mencuri kalau kau tidak mau menjelaskan padaku sekarang.”ancam Sungyeol, membuat Kai geram.

“ Pasti akan kujelaskan, sunbae. Tapi nanti! Kumohon pengertiannya!” Kai mencoba menahan emosinya, ia tak mau Sungyeol menghambat rencananya.

“ Tidak mau, jelaskan sekarang.”

“ Grr..” Kai memutar bola matanya, ia pun merogoh saku seragamnya dan mengeluarkan sebuah kaset tip kemudian menyerahkannya pada Sungyeol.

“…ambil ini, dan jangan bilang Myungsoo hyung kalau aku mengambil barang-barangnya.”

“ Kaset apa ini?”

“ Dangdut. Kau.. suka.. tidak?”

Sungyeol tersenyum lebar, ia pun mengambil tape kecilnya, memasukkan kaset tersebut lalu memasang headphonenya.

“ Lanjutkan kegiatanmu.”

 

Kai menghela nafas lega karena Sungyeol kini pergi tidur sambil memutar kasetnya dan tak memperdulikannya lagi. Ia kembali menjarah isi laci Myungsoo yang lain.

 

“ I know what you did there, Kim Jongin.”

 

“ Mampus!”

Kai menepuk keningnya, suara berat Myungsoo tiba-tiba mengusik kedua rongga telinganya. Pelan-pelan ia berbalik, didapatinya sosok sang ‘hyung’ berdiri tepat didepannya. Rasanya ingin ia sembunyikan kantong hitamnya yang sudah sesak dengan barang-barang berharga itu, tetapi sepertinya sudah terlambat.

Myungsoo mengarahkan mata elangnya menuju Sungyeol yang sedang berbaring di atas tempat tidur, mencoba memastikan apakah orang itu sudah tidur atau belum. Melihat Sungyeol yang sepertinya belum begitu pulas, Myungsoo mengurungkan niatnya untuk menyiksa Kai di dalam kamarnya.

“ Siapa yang menyuruhmu masuk kesini, Kai?” tanya Myungsoo tenang, berusaha menjadi kakak yang baik dan tak suka menuduh agar Sungyeol tidak semakin curiga padanya.

“ Ng.. aku..aku..” Kai gugup, Myungsoo memang terdengar lembut namun wajahnya sudah terpampang sadis di hadapan Kai. Peluh dingin bercucuran dari pelipis lelaki berkulit gelap itu.

“ Kalau kau ingin sesuatu kau bisa bilang padaku. Tidak perlu seperti ini, adikku. Arasseo?” Myungsoo menasihatinya dengan baik, namun wajahnya semakin sadis tanda siap menyiksa Kai karena sudah berani mencuri barang-barangnya.

“ T.. tapi L, ini..”

“ L? siapa L? aku Myungsoo, kakakmu.” Myungsoo mendekat dan menginjak kaki Kai dalam-dalam karena anak itu berani menyebut nama aslinya.

“ Bodoh. Sudah kubilang jangan pernah sebut nama asliku.” Myungsoo berbisik dengan emosi tertahan, Kai mengangguk sembari menahan rasa sakit di kakinya yang diinjak oleh Myungsoo.

“…kita selesaikan di luar saja, tidak enak disini. Sepertinya Sungyeol ingin tidur.” Myungsoo berucap lagi sembari menarik tangan Kai, ia tak tahan berpura-pura baik, emosi dalam dadanya sudah bergejolak karena tindakan Kai.

 

Hingga ketika Myungsoo dan Kai keluar, Sungyeol membuka matanya.

 

“ Akan kucari tahu siapa sebenarnya dirimu, Kim Myungsoo.”

***

 

“ KYAAAAAAAAA!!!! JADI INI YANG NAMANYA HOYA!!!!!?????? GANTENG BANGET YA TUHAN!!!!! AAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!!!!”

“ ARRRGGHHH YOON BOMI!!! BERISIK!!!!”

 

EHEK!
Jiwon yang tengah menggosok gigi di dalam kamar mandi mendadak tersedak mendengar keributan Bomi dan Eunji di luar. Bomi menyebut namanya? Apakah audisinya ditayangkan ulang di ‘kotak aneh’ bernama TV itu?

Gawat, bagaimana kalau Eunji melihatnya?

Jiwon buru-buru memasang wig-nya dan menaikkan handuknya menutup perut sixpacknya. Dengan mulut yang masih penuh busa odol ia membuka pintu kamar mandi dan menongolkan kepalanya, ikut melihat kearah ‘kotak aneh’ bernama TV yang sedang ditonton Bomi.

Benar saja, rekaman ia saat audisi dua hari yang lalu diputar di dalam kotak aneh itu. Bomi terlihat amat antusias menyaksikannya, sedangkan Eunji nampak berbaring di atas tempat tidur dengan posisi tiarap dan menutup kedua telinganya dengan bantal. Gadis itu sama sekali tidak menonton TVnya, sepertinya ia tidak akan pernah terbiasa menatap benda yang ia sebut kotak aneh itu berlama-lama karena radiasinya. Maklum, sekaya apapun dirinya, di dalam istana kerajaan Junghwa tidak ada yang namanya TV.

 

“ YA AMPUN PANTES AJA BARU AUDISI FANSNYA UDAH BEJIBUN!!! GANTENG BEGINI!!. AAAHHH!!!” Bomi makin histeris, “…udah ganteng sopan pula! Pake bow segala ama dewan juri!! Aaaahhh cowok idaman!!!!”

“ Iiih apaan sih!” Eunji makin kesal dan tidak bisa istirahat, Jiwon terus berjaga-jaga jangan sampai gadis itu melihat TV barang sekilas.

“ Makanya liat coba!!! Ganteng banget tau!!!”

“ Gak mau!” tolak Eunji cepat, karena baginya di dunia ini lelaki paling tampan tetaplah Lee Howon, kekasihnya. Lagipula ia tidak suka dengan radiasi TV.

“ Syukurlah..” Jiwon menghela nafas lega karena Eunji tak tertarik melihat TV.

“ HUAAAAAA KOMPETISI BABAK PENYISIHANNYA DUA MINGGU LAGI!!! MASIH LAMA DONG, AAAHH PENGEN LIAT HOYAAAAA!!!! POKOKNYA AKU DUKUNG DIA!!!!”

Jiwon tertawa kecil, tidak menyangka Bomi sesuka itu padanya. Ia bahkan tak percaya sudah punya banyak fans. Bukankah ini baru audisi?

Ia kembali masuk ke kamar mandi, menanggalkan wignya dan menurunkan handuknya, lantas menatap tubuh atletisnya di depan kaca.

“ Kalau aku sudah punya banyak fans, semoga saja bisa mudah untuk menang.”lelaki itu tersenyum optimis.

“…tapi babak penyisihan dua minggu lagi, aku bahkan belum mempersiapkan apa-apa..”

Ia menyambar iPod dan headphone pemberian Myungsoo, memakainya dan memutar lagu yang sudah ia persiapkan untuk penampilan pertamanya di babak penyisihan nanti. Dengan menggunakan gayung sebagai property, ia mulai menari dengan bebas di dalam kamar mandi.

 

“ Yeah, my name is Hoya!”

***

 

BRUK!

 

“ Sshh..” Kai mencoba menahan rasa sakitnya, Myungsoo menghempaskannya ke lantai dapur asrama. Ketika ia berusaha mengamankan kantong hitamnya, Myungsoo sudah mengambilnya duluan.

“ Apa maksudmu mengambil ini semua, hah?” tanya Myungsoo geram, Kai mencoba tenang.

“ Itu.. itu semua barang peninggalan Myungsoo hyung. Aku ingin menggunakannya..”

“ Ingin menggunakannya? Jadi kau menganggap aku tidak berhak atas barang-barang ini?”

“ Tentu saja, kau kan bukan….”

“ Bukankah aku sudah memintamu untuk menganggapku sebagai Myungsoo?! Aku tidak suka jika kau menganggapku sebagai pengganti dia. Kau ingat itu kan!?”

Kai diam, yang jelas ia tidak rela jika barang-barang peninggalan kakaknya dipakai seenaknya oleh L. ia tahu penyihir jahat itu akan menggunakannya untuk hal-hal aneh. Apalagi barang berharga Myungsoo terbilang banyak dan bernilai besar. Tentu, itu adalah hasil kerja keras Myungoo sebagai atlit basket dan fotografer keliling dari taman ke taman. Kai tak mau hasil kerja keras kakaknya terbuang sia-sia.

“ Barang-barang ini milikku.” Myungsoo mengamankan kantong hitam itu, “…jika kau perlu sesuatu kau bisa bilang padaku.”

“ Tapi.. tapi kan..”

“ Apa!?”

“ Mau kau apakan barang-barang itu?”

“ Hmm..” Myungsoo membuka kantong tersebut dan melihat isinya.

“…kalau kamera ini, aku akan gunakan untuk melanjutkan pekerjaan kakakmu. Kebetulan aku juga suka dengan dunia fotografi.”

“ Kukira penyihir sepertimu tidak tahu apa-apa tentang kamera.”

“ Jangan anggap aku bodoh, dasar dekil.”

“ Huh.. lalu?”

“ Uang yang ada akan kugunakan untuk menjamin hidup kita berdua. Dan untuk.. bersenang-senang dengan Naeun.”

“ Tapi kelihatannya dia bukan gadis matre.”

“ Darimana kau tahu? Kau memperhatikannya?” mata elang Myungsoo menatapnya tajam sekarang, Kai gelagapan.

“ Tidak.. aku.. aku hanya..”

“ Jangan pernah mencoba perhatian apalagi sok baik padanya. Dia istriku!” Myungsoo melempar jaket abu-abu yang ia pegang pada Kai lalu menghilang dengan membawa kantong hitam tersebut dan hanya meninggalkan asap di ruangan itu.

 

Kai menghela nafas panjang.

 

“ Bagaimana bisa aku menganggapnya sebagai hyungku jika perlakuannya padaku saja jauh berbeda dari Myungsoo hyung yang sebenarnya?”

***

 

Night, 11.45 PM

 

“ Astaga, apa yang terjadi!!??”

 

Naeun mendadak terbangun dari tidurnya, suara teriakan Chorong membuatnya mendadak panik. Ada apa teman sekamar sekaligus seniornya itu berteriak tengah malam begini?

Gadis itu buru-buru bangkit dari tempat tidur dan menghampiri Chorong yang berdiri membelakanginya, matanya membesar seketika saat mendapati Chorong tengah berusaha memadamkan api yang membakar kopernya.

“ Ya ampun!! Koperku kenapa bisa terbakar begini!??” Naeun terkejut, mengapa kopernya tiba-tiba terbakar seperti ini? Siapa yang membakarnya?

“ Mana kutahu. Untung aku belum tidur dan melihatnya, kalau tidak bisa-bisa kamar kita ikutan terbakar!” sahut Chorong, “…ambil air lagi! Aku sudah bolak-balik menyiram kopernya tapi apinya keluar lagi keluar lagi!”

“ Rendam saja ke bak mandi!” kata Naeun.

Chorong setuju, ia dan Naeun buru-buru mengangkat koper yang mulai diselimuti api itu menuju kamar mandi dan menenggelamkan koper tersebut di dalam bak mandi.

 

Csss..

Api tersebut mati dengan mudahnya meski membuat air dalam bak menjadi sangat panas. Tetapi setidaknya Naeun dan Chorong sudah bisa bernafas lega. Sekarang Naeun yang kebingungan mengurus isi kopernya yang sepertinya sudah terbakar semua.

“ Apa lagi yang harus kita lakukan?” tanya Chorong.

“ Biar aku saja yang mengurusnya, sunbae bisa tidur lagi. Maaf sudah merepotkan.”kata Naeun sungkan. Chorong mengangguk dan keluar dari kamar mandi.

Naeun mengangkat kopernya dari bak dan membuka koper tersebut. Benar saja, beberapa pakaiannya terbakar habis, sisanya setengah terbakar. Hanya ada satu benda yang tidak ikut terbakar.

Tongkat sihirnya. Atau lebih tepatnya, tongkat sihir milik L yang telah ia curi sebelum ia memasuki dunia nyata.

Perlahan Naeun mengambilnya, namun segera ia lepas ketika rasa panas meradang di permukaan kulitnya ketika memegang tongkat tersebut.

Pasti. Pasti tongkat itu yang membuat kopernya terbakar.

Tapi mengapa hal itu bisa terjadi? Yang Naeun tahu, tongkat yang ia pegang hanya akan terasa panas apabila pemilik aslinya berada tak jauh dari tongkat tersebut.

Lantas mengapa tongkat itu menjadi sangat panas sekarang?

***

 

Dengan terpaksa, malam itu juga Naeun keluar dari kamarnya dan berjalan menuju koperasi asrama yang buka 24 jam. Ia ingin membeli baju olahraga dan beberapa potong seragam baru karena pakaian-pakaian sekolahnya itu terbakar. Gadis itu keluar dengan tubuh yang lagi-lagi kedinginan karena jaketnya ikut terbakar di dalam koper. Ingin mendatangkan jaket dengan sihir, gadis itu tidak bisa menggunakan tongkatnya yang masih terasa panas. Bahkan kini gadis itu meletakkan tongkatnya di dalam kulkas kamarnya setelah ia balut dengan puluhan lembar kertas agar Chorong tidak curiga.

 

“ Bagaimana bisa tongkatnya panas? Apalagi sampai sepanas itu dan membakar koperku. Mana mungkin L ada disini..” Naeun terus berpikir sepanjang jalan, ia masih tak habis pikir mengapa tongkatnya bisa berubah panas. “…apa mungkin karena sisi baik L ada disini? Tidak. Tidak mungkin. Tidak ada hubungannya, Hyoyeon tidak menjelaskan hal itu dalam teorinya.”

 

“ Hai, nona. Malam begini sedang apa berada di luar?”

 

Naeun terkejut, dan ketika ia menoleh sosok lelaki tampan yang ia temui di halte tadi pagi nampak berjalan disampingnya.

“ Myungsoo sunbae?” Naeun tersenyum malu, “…aku ingin ke koperasi, beli seragam.”

“ Mwo? mengapa larut malam begini?” tanyanya bingung.

“ Koperku terbakar, seragam-seragamku juga jadi ikut terbakar.”jelas Naeun singkat, ia tidak mungkin menceritakan perihal tongkat itu pada Myungsoo, yang notabene ia anggap sebagai manusia biasa.

“ Terbakar? Bagaimana bisa?”

Naeun mengangkat bahunya. Namun Myungsoo segera menatap gadis itu lekat-lekat, membaca pikirannya.

“ Sial. Aku baru ingat tongkatku akan memanas jika aku ada didekatnya.”

Lelaki itu sedikit panik setelah membaca pikiran istrinya itu, ia harus mencuri tongkatnya secepatnya, bagaimanapun caranya sebelum Naeun mencurigainya.

 

“ Hmm.. aneh ya bisa mendadak terbakar seperti itu. ya sudahlah, kutemani ke koperasi. Kebetulan aku juga ingin kesana.” Myungsoo mengalihkan pembicaraan.

“ Terimakasih, sunbae. Kalau boleh tahu kau mau apa ke koperasi?”

“ Aku ingin membeli kaos basket. Besok sore Woohyun mengajakku duel one by one untuk memperebutkan posisi kapten di tim basket sekolah.”

“ Mwo?” Naeun terkejut. Ia baru tahu Myungsoo adalah atlit basket. Benar-benar persis seperti L, di sekolah sihir Junghwa, suaminya itu senang bermain basket meski menggunakan kepala manusia sebagai bolanya.

“ Kenapa? Wajahku tidak meyakinkan sebagai atlit ya?” Myungsoo sedikit bercanda, Naeun tertawa dan buru-buru menggeleng.

“ Haha..aniya.. hanya saja aku khawatir. Sunbae kan masih cedera dan luka-luka karena kecelakaan di gunung itu. apa bisa bertanding dengan Woohyun sunbae?”

“ Aku akan berusaha. Lagipula aku rindu bermain basket.”

“ Hmm.. kalau begitu besok pagi aku masih sempat mengobati luka sunbae. Itu sih kalau sunbae mau.”tawar Naeun, ia berpikir untuk membuat ramuan yang bisa mengobati luka Myungsoo agar sunbaenya itu bisa bertanding dengan Woohyun.

“ Haha.. apa tidak merepotkan?” Myungsoo tertawa kecil. Bagaimana tidak? Biru dan lebam di tubuhnya hanya luka buatan sihirnya, bukan luka sesungguhnya.

“ Tidak. Pokoknya besok aku obati ya, aku jamin sunbae bisa bertanding dengan lancar setelah kuobati.”kata Naeun.

Myungsoo akhirnya mengangguk. Karena Naeun mau mengobatinya, Myungsoo rela menjadikan luka buatannya itu menjadi luka sungguhan.

“ Terimakasih ya. kau baik sekali. Aku jadi semakin tidak percaya kalau kau sudah menyemprotkan pilox ke mata seniormu sendiri.” Myungsoo menepuk bahu Naeun, gadis itu tersenyum.

“ Terimakasih juga, sunbae. Karena sudah percaya padaku.”

“ Hmm.. eh, bahumu dingin sekali. Kenapa keluar begini tidak pakai jaket?”

“ Jaketku juga terbakar.”

“ Ya ampun. Ini, pakailah.”untuk kedua kalinya Myungsoo melepas jaketnya dan menyampirkannya di bahu Naeun, “…kau boleh meminjamnya lama-lama.”

Naeun tertawa kecil, “ Terimakasih, sunbae. Lalu kau bagaimana? Apa tidak kedinginan?”

“ Dingin sih..” lelaki itu tertawa kecil, “…tetapi jaket menurutku kurang efektif memberikan kehangatan. Yang paling ampuh menghangatkan tubuh seseorang adalah sebuah pelukan.”

Naeun mengangkat alisnya, tidak menyangka Myungsoo berkata demikian.

“ Hmm.. kurasa kau benar, sunbae.”

“ Lalu..”

“ Apa?”

“ Boleh aku.. memelukmu?”

“ A..apa?”

Myungsoo menghentikan langkahnya dan langkah Naeun, padahal koperasi sudah tak jauh dari tempat mereka berhenti. Lelaki itu menghadapkan tubuh Naeun dan menatap gadis itu dalam. Ia benar-benar merindukan hal ini. Bahkan ini adalah saat yang indah baginya karena Naeun tidak menangis dan ketakutan seperti dulu saat masih di negeri Junghwa. Naeun justru ikut menatapnya dan tersenyum kecil mengagumi wajah tampannya.

Tanpa banyak bicara, Myungsoo mendekapnya, erat dan semakin erat. Mencoba menahan diri untuk tidak melakukan hal yang lebih dari itu meski rasanya sulit karena bagaimanapun juga ia sudah menjadi suami Naeun, yang seharusnya sudah melakukan semuanya di malam pertama pernikahan mereka. Myungsoo bahkan masih memakai cincin pernikahan mereka meski sudah berada di dunia yang lain, sama halnya dengan Naeun. Namun keduanya sama-sama belum menyadari hal itu.

Perlahan, tangan Naeun mulai melingkar di pinggang Myungsoo. Gadis itu membalas pelukannya, mencoba membayangkan jika ia dekap saat ini adalah L. membayangkan hal semacam itu rasanya seperti uji nyali baginya, namun ia bisa tersenyum jika membayangkan orang sejahat itu memeluknya dengan penuh kelembutan seperti ini.

Myungsoo memisahkan dagunya dan bahu kiri Naeun namun tak melepas dekapannya. Mata elangnya yang biasanya tajam kini menatap mata bening Naeun dengan begitu teduh. Perlahan tapi pasti, ia mulai mengarahkan bibirnya menuju bibir cherry Naeun yang selama ini menjadi obsesinya. Gadis itu memejamkan matanya, menunggu sentuhannya.

 

“ Hei, apa yang kalian lakukan?”

 

Keduanya tersadar, mengubur dalam-dalam niat mereka untuk berciuman di tempat sepi seperti ini. Seorang lelaki yang tak asing memergoki mereka.

 

“ Jadi begini caramu menjalankan taruhan kita, heh?” lelaki itu berbisik pelan di telinga Myungsoo, membuat Myungsoo mati-matian menahan emosinya. Jika saja bisa ingin ia bunuh Woohyun yang sudah seenaknya menggagalkan momen langkanya bersama Naeun.

“ Mianhae, sunbae. Kami.. kami hanya sedang ingin ke koperasi sama-sama.”jelas Naeun meski ia sedikit panik, bagaimana jika Woohyun menyebarkan apa yang dilihatnya ke seluruh penjuru sekolah? Bisa-bisa ia diamuk banyak siswi karena ‘bermesraan’ dengan sunbae idaman di sekolah mereka.

“ Oh ya? koperasi sudah didepan mata, kenapa harus berhenti disini?”tanya Woohyun sarkastis, membuat Naeun semakin panik.

“ Sedang apa kau disini?” tanya Myungsoo dengan nada sewajarnya.

“ Aku? Hari ini aku piket, jadi aku hanya berkeliling asrama karena tidak diperbolehkan tidur.”

“ Ooh. Ya sudah, kau boleh berkeliling lagi.”

“ Meninggalkanmu berdua dengannya disini? Hah, kau kira aku bodoh? Aku juga bisa memanfaatkan kesempatan.” Woohyun berbisik licik, ia lantas menarik tangan Naeun.

“…gadis cantik, bisa kita bicara sebentar?” tanya Woohyun manis, membuat Naeun sedikit bingung. Myungsoo semakin tersiksa menahan emosinya. Menjadi orang baik ternyata tidak selamanya enak baginya.

“ Bicara disini saja.”kata Naeun polos.

“ Tidak bisa. Ini sangat pribadi. Lagipula dia musuhku, mana mungkin aku membiarkannya mendengar pembicaraan kita?”jawab Woohyun.

“ Bagaimana?” tanya Naeun pelan kearah Myungsoo.

“ Aku tunggu kau di koperasi. Bicaralah dengannya, siapa tahu dia memang ada perlu denganmu.” Myungsoo tersenyum tulus lalu meninggalkan mereka dan masuk kedalam koperasi duluan.

Naeun menatap Woohyun sekarang, lelaki itu mengeluarkan senyum andalannya dan menarik tangan Naeun untuk sedikit menjauh.

 

“ Aku ingin memberimu satu penawaran yang sangat menarik, Son Naeun.”

 

_To be Continued_

Yeay! Part 5 akhirnya kelaaar~ ._. bagaimana readers? Penasarankah dengan part berikutnya? Hehe. Author perkirakan mungkin akan banyak Hoya-Eunji moments di next part. Dan jika kalian belum puas dengan moment Myungsoo-Naeun, author juga akan menambahnya ^^

LIKE AND COMMENT PLEASE ! harap jangan jadi silent readers yaa, hargai author yang sudah meluangkan waktu yang semakin sempit untuk melanjutkan ff ini. Komentar kalian adalah sumber semangat author 🙂

 

Sampai jumpa di part berikutnya!

 

Next >> Part 6 : Faithfulness

Advertisements

175 responses to “THE PORTAL [ Part 5 : Over Protective? ]

  1. ecieeee..
    myungsoo cemburu memanja sama kai
    wkkkk xD

    ehhhh.. ehh ngapain sihh si woohyun ngerusak suasana saja.. untung si L gak kumat/ditabok L xD

    next chat kak author

  2. Pingback: THE PORTAL 2 [Part 9 : The Real Ending] [FINAL] – FFindo·

  3. Pingback: THE PORTAL 2 [Part 9 : The Real Ending] [FINAL] [LATEPOST] | citrapertiwtiw·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s