The Superpowers [Episode 4] : Death Note and Sixth Sense

Superpower_baru
Title : The Superpowers Part 4 : Death Note and Sixth Sense
Author & Artwork : Songrieunnike
Rating : PG 15
Genre : Mystery, Adventure, Action
Length : Series (4/9) *mungkin* 😛
Cast :
[All Running Man Member]
Kim Jong kook
Song Ji Hyo
Gary
Haha (Ha Dong Hoon)
Yoo Jae Suk
Ji Suk Jin
Lee Gwang Soo
[Other Cast]

Jung Yong Hwa (CN Blue)

Disclaimer :
Cerita ini terinspirasi dari beberapa cerita yang udah terkenal dan juga terinspirasi dari episode2 yang ada di dalam variety Show Running Man. Karakter2 yang ada di sini juga hanya berdasarkan karakter yang dapat di tangkap oleh imajinasi author. Terkecuali tokoh2 antagonis di sini. Kalo tokoh2 antagonis, aku cuma ngarang sendiri. :P. Jadi, jika banyak hal yang tidak memuaskan, harap dimaafkan. 🙂

Attention : Setelah membaca, harap JANGAN lupa meninggalkan comment di kolom komentar. Dan jika reader merasa senang dan puas akan fanfic ini, harap menekan button “like”… 😀 FANFIC INI TIDAK DIPERUNTUKKAN KEPADA SILENT READER

======================

[Episode 1] [Episode 2]

[Episode 3 : Gary Special Edition]

Part Sebelumnya

Gary P.o.V
Sekarang… Aku tidak memiliki tenaga lagi… Mungkin sebentar lagi ajalku akan tiba. Tapi, mati di sini tidaklah buruk. Selama aku bersama Jihyo, tidak akan ada hal buruk yang terjadi bagiku. Bahkan, bagiku hari Senin adalah hari yang paling indah dalam hidupku. Karena, setiap hari Senin aku selalu bertemu Jihyo… Seperti hari ini…

Pandanganku sudah semakin buram… dan baru kusadari kelopak mataku penuh air mata… Kupejamkan mataku, sebutir air matapun mengalir membasahi lantai gua yang dingin dan keras ini…

Jihyo ya… Kita akan selalu bersama, bukan?

======================

PART 4

~~~ Author P.o.V ~~~

Lalu? Bagaimana dengan perjalanan ke arah utara? Masih ingat siapa yang berjalan ke arah utara???

Dua orang ini berjalan dalam diam. Sudah terlihat sekali, mereka kelihatan sangat bosan. Gwangsoo yang dari tadi tidak berani mengajak Jongkook untuk berbicara. Sedangkan Jongkook sendiri masih belum mau berbicara.

Akhirnya, rasa bosan Gwangsoo sudah pada pucaknya.
Tiba2, Gwangsoo bersiul-siul… Bener2 siulan yang ga jelas… Gara2, Gwangsoo tepat ada di belakang Jongkook, Jongkook ngerasa terganggu…
“YA!!!” Jongkook tiba2 tereak sambil ngeliat ke belakang
Gwangsoo kaget dan langsung diem…

Sebenernya Gwangsoo malah makin bosen ditambah jengkel. Terus dia nyoba sesuatu yang laen…
“Lalalalalalala… lalalala… lalalalaaa…” Gwangsoo nyanyi dengan nada seadanya yang mirip kayak lagunya Jongkook – Lovable (사랑수로워).
Tapi Jongkook malah makin terganggu dan…
“YA!” Jongkook tereak lagi sambil melototin Gwangsoo dengan tatapan berapi-apinya itu. “Apa kau tidak bisa diam???!!!” Jongkook makin galak sekarang.
Gwangsoo pun langsung diem dan makin jengkel…

Waktu mereka jalan bareng lagi, Gwangsoo tetep jalan di belakangnya Jongkook. Dan waktu itu Gwangsoo ngeliat kepalanya Jongkook, dan tangannya gatel banget. Dan tiba2… Tangannya Gwangsoo udah ngejambak rambutnya Jongkook dan ditarik ke belakang…

“AAAARRRGGH!!” Jongkook langsung tereak, “Nwa!! Nwaaa!!! (lepaskan)”
kata Jongkook sambil megangin tangannya Gwangsoo.
Tapi, setelah Gwangsoo ngelepasin cengkramannya, dia malah bisa kabur dan langsung lari. Tentu aja Jongkook langsung ngejar Gwangsoo. Tentu aja Gwangsoo susah ditangkep, ya gara2 dia punya kaki yang panjang2… ckckck…

Waktu mereka kejar2an mereka mirip banget Jerapah yang dikejar2 sama macan yang lagi kelaperan(??). Gwangsoo jerapahnya, Jongkook macannya… CKckckck…
Tapi, lama kelamaan si jerapah capek juga dan berakhir di terkaman si macan yang kelaperan #lho? Eh, maksudnya Gwangsoo akhirnya ketangkep sama Jongkook… Hihi…

Jongkook langsung melintir tangannya Gwangsoo dan neken lengen kanannya Gwangsoo pake jempol (kayak yang dilakuin Jongkook buat ngehukum Gwangsoo di episode 136 waktu mereka di Hanoi, Vietnam).

“Hahahaha…” sekarang Jongkook yang ketawa ngeliatin Gwangsoo ga berkutik.
Hyung… Hyung… sakit hyung…” kata Gwangsoo melas, tapi dia juga tetep berusaha buat ngelawan… Tapi ga bakalan bisa kena Jongkook lah…
Yaa… aku hanya ingin tenang dalam perjalan ini. Jadi, jangan ribut mulai sekarang… Arasseo? (mengerti?)” kata Jongkook.
Ne, hyung… ne… arasseo… arasseo…” kata Gwangsoo masih dengan melas.
Akhirnya Jongkook ngelepasin Gwangsoo.
Gwangsoo pun langsung megangin lengennya yg tadi di teken2 sama Jongkook, masih senut2…

Tiba2, terdengar suara “Grubaaak… grubaak… grubukgurbukgrubuk…” Sebenarnya itu adalah suara yang kecil soalnya ada di tempat yang jauh. Tapi, karena hutan ini sepi, jadi mereka bisa denger suara yang kecil sekal pun.
Hyung?! Kau dengar suara itu?” tanya Gwangsoo was2.
Eo… aku bisa mendengarnya…” kata Jongkook.
“Apakah itu pertanda sesuatu, hyung?” tanya Gwangsoo lagi.
“Hmmm… sebentar…” kemudian Jongkook memejamkan matanya sebentar…

Di dalam kepalanya dia seakaan meliahat jalan menuju asal suara tadi. Suara itu seperti suara benda2 keras yang menubruk papan2 kayu. Dari suaranya, benda itu tidak hanya satu. Jongkook melihat jalan menuju suber suara itu, dan ternyata suara itu berasal dari 2 buah peti kecil yang berguncang-guncang. Kedua peti itu memiliki aura yang misterius dan warna yang berbeda. Peti yang pertama memiliki warna aura merah dan yang satunya berwarna hitam.

Jongkook mulai membuka matanya…
“Hyung? Apa yang kau lihat?” tanya Gwangsoo pingin cepet tau.
“Ada dua buah peti kayu yang berguncang-guncang di dekat sini…” kata Jongkook, kemudian langsung berjalan, “Ke arah sini…”
Gwangsoo yang kebingungan tidak berani bertanya lebih lanjut, takut Hyungnya yang satu ini marah2 lagi…

Jongkook langsung berjalan menuju tempat kedua peti itu berada. Gwangsoo hanya berdiri diam saja melihat kedua peti itu berguncang-guncang dengan tatapan kosong dan bengong.
“Apa yang membuat kedua berbeda warna?” Gwangsoo menggumam.
“Karena aura kedua peti ini berbeda…” jawab Jongkook yang mendengar gumaman Gwangsoo dengan sangat jelas. Gwangsoo pun hanya menatap bengong hyungnya itu.

Tiba2, Jongkook melangkah maju mendekati peti yang beraura merah.
Hyung!! Apa yang kau lakukan?!” tanya Gwangsoo panik.
“Dekatilah yang beraura hitam itu… Peti yang itu milikmu…” kata Jongkook santai “Ppalli!! (cepat!)” kata Jongkook ga sabaran.

Gwangsoo yang dari tadi bingung dan takut, jadi tambah bingung dan takut. Tapi, karena Hyung-nya yang nyuruh, jadinya dia harus cepetan nurut, kalo enggak dia bisa ditelen hidup2 sama Jongkook (??). Akhirnya Gwangsoo pun pelan2 melangkah maju mendekati peti yang beraura hitam itu.

Ja… sekarang ayo kita pegang peti kita masing2 bersama-sama…” kata Jongkook tanpa memperhatikan Gwangsoo yang ketakutan sendiri.
Hyung…” Gwangsoo manggil Jongkook dengan suara takut.
“Dalam hitungan ketiga ayo kita sentuh bersama-sama…” kata Jongkook tanpa kawatir sedikitpun.
Hyuuuuungg…” Gwangsoo makin ketakutan karena makin dia deket sama peti itu, peti itu berguncang makin keras.
Hana… (satu)”
“Hyung….” Gwangsoo udah pucet sendiri…
Dul… (dua)”
“Hyung-nim…” Gwangsoo makin pucet tapi tetep maksain diri buat pegang peti itu…
Set! (tiga)” akhirnya Jongkook sampe di hitungan ketiga dan mereka semua nyentuh peti itu dan peti itu berenti berguncang-guncang dan bahkan aura warna merah dan hitam udah ilang. Sekarang Gwangsoo bisa bernapas lega…

“Nah… sekarang kita bisa buka peti ini…” kata Jongkook dengan wajah yang sumringah gara2 penasaran sama isi peti itu…

Mereka ngebuka peti itu bareng2…
“Ngeeeeeekkkk….” suara engsel peti itu kayak berkarat banget, efek dari udah terlalu lama ada di situ.
Waktu tutupnya mulai kebuka, ada cahaya silau dari dalem peti itu. Setelah cahaya itu mulai hilang, mereka bisa liat apa yang ada di dalem peti itu.

“Uwaaaah…” kata Gwangsoo kesenengan ngeliat apa yang ada di dalem peti itu, “Hyung! Lihat ini! Sepatu!! Mosshita!! (keren)” Gwangsoo langsung ngambil sepatu itu. Sepatu itu adalah sepatu kets berwarna hitam dengan motif sulur berwarna putih. Gwangsoo pun langsung ngelepas sepatu yang lagi dia pake terus dia masukin ke ranselnya, dan dia langsung pake sepatu barunya itu…
“Uwaaaa…” Gwangsoo seneng banget sama sepatu itu yang entah gimana bisa ngepas sama ukuran kakinya yang panjang itu. Saking senengnya dia cuma bisa ngeliatin sepatu itu sambil senyum2.

Sedangkan Jongkook…
“Hmmm… sarung tangan?” kata Jongkook heran.
Ne? Sarung tangan? Wah… Hyung, cocok sekali kau dapat sarung tangan. Cuaca hari ini sangat dingin dan kau beruntung dapat sarung tangan…” kata Gwangsoo sok tau.
YA!” tiba2 Jongkook marahin Gwangsoo lagi, Gwangsoo langsung kaget. “Sarung tangan ini bukan sarung tangan penghangat!!!” kata Jongkook sambil melambai-lambaikan sarung tangan yang baru dia temuin dari dalem peti itu.
“Tapi, Hyung…” Gwangsoo mau jawab, tapi keburu Jongkook nyembur…
YA!” Jongkook tereak dan pengen mukul kakinya Gwangsoo (waktu itu posisinya Gwangsoo udah berdiri dan Jongkook masih jongkok), tapi waktu itu tiba2 Gwangsoo menghindar dengan cepet banget bahkan tanpa disadari Gwangsoo sendiri.

Eo?” Jongkook heran…
Eo??” Gwangsoo lebih heran.
Ya… bagaimana kau melakukannya?” tanya Jongkook penasaran.
Molla (entah)… aku hanya… refleks??” kata Gwangsoo ga yakin.
“Coba lakukan lagi…” kata Jongkook.

Terus, Gwangsoo nyoba buat lari ke sembarang arah. Tapi, sepersekian detik kemudian Jongkook ketiup angin gara2 Gwangsoo terlalu cepet dan dia udah ga tau lagi Gwangsoo ada di mana.

“Ya!!! Gwangsoo-ya!! Neo eodiya?? (kau ada di mana?)” kata Jongkook sambil teriak2 di dalem hutan… Karena kalo dipikir-pikir, sendirian di hutan kayak gini itu… ngeri juga…

============
Lee Gwangsoo P.o.V
============

Lee Gwangsoo death Note

Lee Gwangsoo death Note

Waaaah… kecepatan sepatu ini benar-benar menakjubkan… Aku benar2 heran dan kagum pada sepatu ini… Kelihatannya saja dari luar seperti sepatu pada umumnya. Tapi, ternyata sepatu ini… Jinjja

Karena aku terlalu gembira menggunakan sepatu ini, aku berlari terlaru jauh… Padahal, aku tidak merasa berlari terlalu lama. Dan tiba2 aku tersadar bahwa, aku tidak tau dimana aku berada. Di sini aku melihat bahwa tempat ini adalah tempat yang aneh… Di depanku ada tanah lapang. Di tengah2nya, ada lantai batu besar yang berbentuk bundar. Di atas lantai batu itu, terdapat meja2 persegi panjang besar yang berjajar mengelilingi di atas lantai batu itu. Kalu aku lihat sekilas, tempat ini seperti tempat pemujaan roh2 jaman dahulu. Tapi ketika aku menghitung meja persegi panjang yang mengelilingi itu, aku menyadari sesuatu… Ada 7 buah meja persegi panjang yang ada di situ… aku menelan ludahku dengan susah payah… Aku pun mulai memikirkan sesuatu yang tidak2…

Tiba2, hawa mengerikan datang ke tempat ini… Tempat ini yang sebelumnya terdengar suara2 burung dan hewan2 lain di hutan menjadi sunyi senyap tanpa suara apa pun… Aku menelan ludahku dengan susah payah lagi… Sial! Kenapa jadi begini???

Ketika aku menengok ke belakang, aku sontak langsung meloncat kaget melihat sosok yang entah sejak kapan ada di belakangku… Orang ini mengenakan jubah hitam seperti Yonghwa yang berjubah hitam sebelumnya. Tapi, yang ini mengenakan jubah hitam yang benar2 besar sampai menutupi kepalanya. Di wajahnya, dia mengenakan topeng yang berwarna perak. Dan dia membawa tongkat aneh yang sangat panjang di tangan kirinya.

Tapi, tanpa aku sadari… kakiku sudah tidak menyentuh tanah lagi… Orang ini sudah mencengkeram leherku sampai mengangkatku lebih tinggi… Dengan susah payah aku berusaha untuk tetap bernafas walaupun leherku tercekat oleh tangannya yang besar dan kuat itu…

Aku tidak pernah punya kemampuan untuk tau apa yang akan terjadi selanjutnya… Jongkook hyung-nim… Jebal

============
Kim Jongkook P.o.V
============

Kim Jong Kook - Sixth Sense

Kim Jong Kook – Sixth Sense

Sudah sekitar 5 menit Gwangsoo pergi sendirian dan belum kembali juga. Sebenarnya aku tidak tau aku ini kesal atau khawatir kepada Gwangsoo. Kesal karena aku ditinggal sendirian, dan khawatir mungkin terjadi sesuatu pada Gwangsoo.

Sejak 5 menit yang lalu, aku hanya mondar-mandir menunggu Gwangsoo yang belum kembali juga. Aku memutuskan jika Gwangsoo tidak kembali juga dalam 5 menit ke depan, aku akan menyusulnya…

Tapi, tiba2 Gwangsoo kembali lagi dengan kecepatan yang luar biasa sampai membuat daun2 musim gugur berjatuhan karena angin yang diciptakan oleh Gwangsoo (lebih tepatnya, sepatunya).

“YAAA!!” aku langsung memarahinya, “kenapa kau lama sekali??!!”
Joisonghae (maaf [formal]) Hyung…” katanya sambil menyengir, “tadi aku terlalu senang dengan sepatu ini dan berlarian terlalu jauh…”
“YA! lebih baik kau jangan terlalu gembira seperti itu lagi… Jangan berlebihan” kataku…
Ne, Hyung” katanya patuh.
“Ya sudah… sekarang lebih baik kita segera menyelesaikan misi yang sangat sulit ini…” kataku mulai membicarakan tentang misi ini.
“Apa kau punya rencana untuk misi ini, hyung?” tanya Gwangsoo.
“Selama kau pergi tadi, aku sempat memikirnya sedikit…” kataku, “seperti yang kita ketahui, kita tidak bisa pulang tanpa mengalahkan orang yang dengan sengaja mengurung kita di hutan ini karena membutuhkan kita untuk membuatnya lebih kuat. Tapi, kita juga tau ada cara untuk mengalahkan orang ini…”
“Ya itu dengan menghancurkan 7 pecahan nyawa orang ini…” kata Gwangsoo meneruskan.
“Bingo!” kataku sambil menjentikkan jari, “kalau begitu kita harus segera mencari 7 pecahan nyawa ini dan segera menghancurkannya. Dan jika pecahan nyawa ini hancur satu persatu, pasti orang yang memiliki nyawa ini akan semakin melemah” kataku.
“Tapi, hyung… kita tidak tau seperti apa pecahan2 nyawa yang dimaksud ini…” kata Gwangsoo dengan ekspresi seperti biasanya, tatapan bodoh.
“Pasti akan ada sesuatu yang menjadikan ciri khas dari pecahan nyawa itu” kataku sambil berpikir.

Kemudian kami berdiri dalam diam selama beberapa saat… sampai aku merasakan bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi beberapa saat lagi…

“Gwangsoo-ya…” aku memegang lengan Gwangsoo yang kurus itu, “waspadalah… aku merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi sebentar lagi…”
Ne, Hyung ” jawabnya.
“Kau tidak takut?” tanyaku pada Gwangsoo.
“Tentu saja aku tidak takut karena kita berdua telah menemukan senjata kita masing2…” katanya dengan yakin.
“Baiklah jika kau tidak merasa takut… kita akan menghadapinya bersama…” kata Jongkook.
Ne, Hyung ” jawabnya.
“Dan jangan lupa, yang utama dan pertama, jangan hianati aku… arasseo? (mengerti?)” tanyaku padanya.
Ne, Hyung ” jawabnya dengan mengangguk.

Setelah beberapa saat kita dalam mode deffense, tiba2 awan menjadi mendung seperti ketika Yonghwa datang seperti saat yang sebelumnya. Kabut pekat pun menyergap sama persis seperti sebelumnya. Kita tidak dapat melihat apa2 dengan jelas di dalam kabut yang pekat seperti ini. Kita hanya bisa melihat dalam radius 3 meter saja.

“Hyung, kau sudah siap kan?” tanya Gwangsoo.
“Tentu saja, aku selalu siap menghadapi apapun” kataku yakin.

Sesosok bayanganpun keluar dari dalam kabut lagi. Sosok ini sangat tidak asing bagi mata kami lagi. Jelas2, ini adalah sosok yang kami temui beberapa jam yang lalu…

“Yonghwa-ya?” tanya Gwangsoo kepada sosok bertopeng itu.
“<Ne, Hyung-nim” katanya sambil tersenyum, tapi dia tidak melepas topengnya seperti sebelumnya. “Ku lihat kalian sudah mendapatkan senjata kalian masing2… ternyata informasi yang kalian dapatkan sangat berguna, bukan?” katanya masih dengan tersenyum.
“Tentu saja kau punya tujuan mengapa kau memberi kami informasi bagus ini, bukan?” kataku.
“Benar sekali… Itu dia yang aku maksudkan…” katanya.
“Lalu apa tujuanmu?” tanya Gwangsoo.
“Tentu saja agar aku punya teman untuk bermain-main” kata Yonghwa.
“Lebih baik kita cepat menyelesaikannyaaaaaa!!!!!” kataku sambil berlari dan mengepalkan tinjuku tepat ke wajahnya. Tapi sepersekian detik berikutnya, kepalan tinjuku sama sekali tidak menghantam apapun. Dia tidak ada di depanku, dia menghilang.
“YA!! Kenapa kau begitu pengecut? Jangan hanya bersembunyi di dalam kabut!!!” aku berteriak di dalam kabut ini.
“Gwangsoo-yah.. kau lebih baik bersiaga…” kataku pada Gwangsoo.
Tapi aku tidak mendapat jawaban dari Gwangsoo… Saat aku melihat ke tempat Gwangsoo tadi berdiri, aku tidak menemukan siapapun yang berdiri di sana…
“Gwangsoo-ya!! Neo eodi-ya??!!!” (kau ada di mana?) aku berteriak lagi di dalam kabut, kali ini sendirian…

============
Lee Gwangsoo P.o.V
============

Lee Gwangsoo death Note

Lee Gwangsoo death Note

“Gwangsoo-ya!! Neo eodi-ya??!!!” (kau ada di mana?) Aku mendengar suara Jongkook hyung yang mencariku di dalam kabut itu. Tapi sekarang…
“Gwangsoo-hyung… kau sudah menentukan pilihanmu kan?” Yonghwa yang berada di depanku berkata kepadaku. Sekarang kita berada di tempat yang bebas dari kabut.
Aku belum langsung menjawab, aku masih belum yakin dengan pertanyaannya barusan.
“Gwangsoo hyung? Kau harus menentukannya sekarang!” kata Yonghwa terus mendesakku.
“Tapi aku tidak bisa menghianati Jongkook hyung” kataku sambil menatap ke bawah.
“Jika kau tidak melakukannya, maka kau yang akan mati, hyung…” kata Yonghwa sungguh2…

~~~ Flashback ~~~

Aku berlari untuk mengetes kemampuan sepatu yang baru aku temukan dari peti misterius itu. Ternyata kemampuan sepatu ini benar2 hebat. Aku berlari dengan kecepatan angin topan. Karena saking senangnya dengan sepatu ini, aku tidak memperhatikan kemana aku berlari.

Saat aku berhenti, aku tidak tau dimana tempat ini. Tempat ini sangat menyeramkan. Ketika aku berbalik ke belakang, ternyata ada sesosok berjubah hitam yang juga menutupi kepalanya. Orang ini tidka lebih tinggi dari aku, dia memakai topeng berwarna hitam yang hanya menutupi setengah wajahnya. Aku bisa melihat bahwa laki-laki ini memiliki jambang, jenggot dan kumis yang lebat. Hidungnya mancung dan bibirnya tipis itu sedang menyeringai dengan sangat mengerikan.

Aku pun merasakan sesuatu yang sangat mencekam sekarang, terutama dari sosok laki-laki berjubah hitam yang ada di depanku ini. Aku merasa seperti mengenal orang ini, tapi aku sama sekali tidak bisa menebak siapa orang ini…

Hanya sekitar 5 detik aku terdiam dan ketakutan sedang berkecamuk di dalam diriku. Selama 5 detik itulah aku ditatap oleh sepasang mata hitam dibalik topeng itu dengan sangat tajam, 5 detik yang membuatkan sulit bernafas. Setelah 5 detik itu berlalu, tiba2 orang itu sudah mencengkeram leherku dengan satu tangan dan mengangkatku ke udara. Cengkramannya sangat kuat. Sekarang aku yakin, ada sesuatu yang mengangkatnya ke udara karena kakikupun juga tidak menapak ke tanah. Sekarang, aku benar2 sulit untuk bernafas…

“Gwangsoo-ya…” tiba2 orang itu berkata kepadaku dengan suara yang pernah aku dengar. Akupun hanya merintih dan mengerang sambil memegangi tangan orang itu.
“Tepat sekali kau sudah ada di sini…” katanya degan suara yang serak, “sekarang kau akan menjadi pelayanku, Gwangsoo-ya…”

Tiba2, tubuhku benar2 terasa panas, jantungku berdebar sangat keras bahkan aku bisa mendengarnya dengan sangat jelas. Dadaku benar2 sakit dan sesak. Aku tidak tau apa yang terjadi pada diriku. Tapi, aku juga merasa mual dan rasanya aku akan muntah. Entah bagaimana, aku merasakan aura hitam keluar dari pori2 kulitku dan rasanya sangat sakit…

“Aaaaarrrghhh…” aku mengerang kesakitan.
“Gwangsoo-yah…” katanya sambil tersenyum penuh kemenangan, “sekarang kau akan merasakan sakit yang tak terelakkan…” aku merasakan cengkramannya dileherku semakin kuat membuatku semakin kesakitan.

Tangan kirinya (tangannya yang tidak mencengkram leherku) terangkat ke udara seperti akan menerima sesuatu. Rasa sakit ini makin menjadi-jadi, dan aku pun juga tidak dapat berteriak karen ini terlalu sakit. Sakit ini menjalar ke seluruh tibuhku, dan aku benar2 merasakan sesuatu dari tubuhku yang ditarik keluar.

Ada sesuatu yang membuat mulutku menganga lebar, dan dengan sangat sakit aura berwarna hitam pekat keluar dari mulutku seperti gas berwarna hitam. Kemudian aura hitam itu berkumpul ke tangan kiri orang itu, berputar-putar dan menggumpal kemudian membentuk sebuah kristal berwarna hitam mengkilat seperti mutiara hitam yang ukurannya sebesar bola tenis.

Sekarang mutiara hitam itu ada di genggaman tangan kirinya. Cengkraman tangan kanannya pun semakin mengendur dan akhirnya melepasnya dari leherku. Aku langsung terjatuh ke tanah dengan terbatuk-batuk dan memegangi dadaku yang masih terasa nyeri. Rasa sakit itu berangsur-angsung menghilang. Aku yakin mutiara hitam itu adalah sesuatu yang sangat penting dari diriku.

Orang berjubah itu tersenyum lagi.
“Gwangsoo-yah…” katanya, “aku tau bahwa kau ini adalah seorang penghianat yang ulung”
Mworagoyo? (apa kau bilang?)” aku sangat tidak terima dengang pernyataan itu. Walaupun dalam Running Man aku memiliki predikat penghianat, tapi untuk hal seperti ini aku tidak ingin menghianati orang yang seharusnya aku lindungi.
“Sekarang, aku yakin kau akan menuruti apa yang akan aku perintahkan kepadamu. Karena aku sudah mengambil setengah nyawamu…” kata orang itu sambil mengacungkan mutiara hitam yang ada di tangan kirinya.
“Mwo??!!” kata2nya sulit untuk dipercaya,”Jadi kau bilang kau…”
“Benar… yang tadi baru saja keluar dari tubuhmu itu adalah nyawamu… Aku memang sengaja tidak mengambil seluruh nyawamu, jadi aku hanya mengambil setengah nyawamu” kata orang itu sambil melihat apa yang ada di tangan kirinya itu.
Mwoya? Jeongmalyo? (Apa? Benarkah?)” aku benar2 sulit untuk mempercayainya. Jadi, mutiara hitam itu adalah, setengah nyawaku?? Jinjja

“Sekarang kau tidak punya pilihan lain selain menuruti perintahku” katanya dengan penuh kemenangan.
Aku mencoba untuk menyerangnya dengan tendangan kakiku yang baru saja dilengkapi dengan sepatu super cepat. Tapi, orang itu tadi sudah menghilang sebelum kakiku sempat menendang bayangannya.
Aku sudah tidak tau di mana orang itu lagi.

Tapi, tiba2 rasa sakit itu muncul lagi. Dadaku, perutku, kepalaku, tanganku dan kakiku benar2 merasakan kesakitan yang janggal dan aneh yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Rasanya seperti ditusuk oleh sesuatu dan rasanya jika merasakan tusukan seperti ini, seharusnya aku sudah berdarah-darah, tapi kulitku baik2 saja. Aku hanya tersungkur di tanah dengan terengah-engah.

“Kau sekarang sudah tau rasanya, Gwangsoo-yah…” aku mendengar suara orang itu lagi. Orang itu tiba2 muncul di depanku sambil membawa mutiara hitam itu. Ternyata orang itu menyayat-nyayat mutiara itu dengan sebilah pisau. Mutiara itu tidak terlihat retak atau tergores. Tapi, rasa sakit itu, aku yang merasakannya.

“Bagaimana? Kau merasakannya dengan baik…” katanya senang.
“Kau ini benar2 orang yang licik…” kataku dengan luapan emosi yang benar2 ingin aku keluarkan.
“Diamlah!” tiba2 dia membentak, “kau tidak ingin aku mengambil semua nyawamu yang tersisa, kan? Gwangsoo-yah?”
“…” aku hanya diam sambil menelan ludah.
“Sekarang dengarkan aku” katanya, “aku hanya ingin kau membunuh Kim Jongkook. Kau akan dengan mudah membunuhnya dengan menggunakan Death Note yang kau miliki. Iya, kan?” katanya.
“Tentu saja, aku tidak akan menghianati orang yang yang seharusnya aku bantu dan lindungi” kataku.
“Lihat saja nanti. Kau tidak akan tahan jika kau merasakan sakit itu lagi. Jika aku memcahkan mutiara ini, tentu saja kau akan merasakan kesakitan yang lebih hebat, dan tentu saja kau akan kehilangan separuh nyawamu” katanya dengan mata berkilat-kilat, “Aku akan merasa sangat senang jika aku melihatmu menghianati Kim Jongkook”

“Sekarang… kembalilah kepada Kim Jongkook dan katakan tidak ada yang terjadi di sini dan lakukan apa yang aku perintahkan jika kau tidak ingin kehilangan setengah nyawamu” katanya sambil semakin menjauh dari pandangan dan akhirnya dia menghilang ditelan oleh kabut yang tiba2 datang dan setelah itu menghilang.

Sekarang aku sendirian di sini… Dan kata2 terakhirnya sebelum dia menghilang,Lakukan apa yang aku perintahkan jika kau tidak ingin kehilangan setengah nyawamu

~~~ Flashback END~~~

Hal ini benar2 membuatku frustasi. Tentu saja aku tidak ingin merasakan rasa sakit itu lagi. Tapi tentu saja aku juga tidak mau menghianati Jongkook hyung. Dia yang selalu memintaku untuk tidak menghianatinya, aku tidak boleh mengingkari janjiku. Karena janji adalah janji.

“Hyung… sekarang cepat keluarkan Death Note yang kau miliki…” kata Yonghwa memecah lamunanku.
“Tapi… aku tidak bisa melakukannya…” kataku dengan ragu2.
“Lakukanlah, Hyung… atau kau akan kehilangan separuh nyawamu” kata Yonghwa mengingatkanku.
“Aiish… aku benar2 tidak bisa melakukannya..” kataku.
“LAKUKANLAH!!” sekarang Yonghwa sudah berteriak kepadaku karena sudah kehilangan kesabarannya.
“TIDAK AKAN!!” kataku dengan nada yang tidak kalah tinggi.

Tiba2 aku merasakan sebuah tendangan yang telak di dadaku yang membuatku terjungkal beberapa meter ke belakang. Aku terbatuk-batuk sambil berusaha untuk berdiri dan menahan rasa sakit yang diakibatkan tendangan itu.

Yonghwa berada beberapa meter di depanku dan bersiap untuk menyerangku lagi. Kemudian dia berlari ke arahku, dan aku pun sudah siap untuk menghajarnya, tapi sesuatu yang sangat besar menghantam Yonghwa dengan sangat telak. Ternyata, benda yang tadi menghantam Yonghwa adalah sebuah batu yang sangat besar. Aku melihat ke arah dari mana batu itu berasal. Ternyata, Jongkook Hyung lah yang melemparnya.

“Gwangsoo-yah…” kata Jongkook Hyung..”kenapa kau pergi sendirian tanpa mengajakku? Eo?” katanya.
Joisonghaeyo
(maaf), Hyungkataku.
“Baiklah, gwaenchanha (tidak apa2)”
kata Jongkook Hyung. “Lebih baik sekarang kita menghadapinya bersama.”
Ne, Hyung
kataku. Tapi tiba2 rasa sakit itu datang lagi, “Uhuukkk… uhuuugh…” aku terbatuk-batuk memegangi dadaku yang sangat sesak dan sakit.
“Gwangsoo-ya? Gwaenchanha?
tanya Jongkook hyung yang khawatir.
Gwaenchanha, hyung”
kataku.

Tiba2, dari arah batu yang tadi dilempar oleh Jongkook Hyung, Yonghwa bangkit dengan menggulingkan batu yang tadi menimpanya. Perhatianku dan Jongkook hyung beralih kepada Yonghwa.

“Gwangsoo hyung…” kata Yonghwa, “Jadi sekarang kau tidak akan melakukan yang sudah diperintahkan oleh, Tuanku?”
“Tentu saja! Aku tidak akan pernah melakukan hal busuk itu!!” kataku dengan lantang. Dan setelah mengatakannya, aku benar2 merasakan tubuhku ditusuk-tusuk lagi, “AAAARRRGGGHHH!!!” aku hanya mengerang menahan sakit ini.
“Gwangsoo-ya? Wae geurae?? (Kau kenapa?)” aku mendengar Jongkook kebingungan melihat keadaanku.
“Jongkook-hyung, kau tidak perlu tau apa yang sedang terjadi… Kau akan tau nanti” kata Yonghwa.
“Tentu saja aku tau apa yang sedang terjadi… Dan Gwangsoo tidak akan menghianatiku, aku percaya bahwa Gwangsoo tidak akan menghianatikku” kata Jongkook hyung dengan sangat yakin.

Jongkook hyung langsung memulai duel bersama dengan Yonghwa. Beberapa kali Yonghwa terpukul dan menghantam batu dan pohon di sekitarnya. Namun, Jongkook hyung pun juga mengalami hal yang lebih baik dari itu.

Aku segera mengambil death note yang ada di dalam sakuku. Aku membuka halaman pertama yang kosong dan menggenggam pena bertinta perak itu. Kemudian aku mulai menggoreskan pena itu pada kertas hitam itu, “정” (Jung), nama depan Yonghwa, Jung Yonghwa, bukannya nama Kim Jongkook. Tiba2, aku merasakan kesakitan yang luar biasa di seluruh tubuhku.
“AAAAAAAARRRGHHH!!!” aku berteriak dengan sangat keras. Tapi aku tetap berusaha menggenggam pena itu dengan erat. Aku harus melanjutkan menulisnya… “용” (Yong)… Rasa sakit yang aku alami semakin menjadi-jadi… Tanganku benar2 sakit saat aku mencoba menggerakannya… “AAAAAAAAAAAAAAAAARRRGHHH!!!” aku hanya bisa berteriak dan menahan rasa sakit ini… Tinggal satu huruf lagi yang harus aku tuliskan… Aku mencoba menggoreskan pena itu lagi di atas kertas hitam ini. Pelan2 aku menggoreskannya sampai aku bisa menuliskan,”화”(Hwa). Sekarang aku merasakan kesakitan yang benar2 sakit,
“Jung Yonghwa!!!! Jugeosseo!!! (matilah!!!)” aku berteriak sekeras mungkin, kemudian semuanya menjadi gelap.

============
Kim Jongkook P.o.V
============

Kim Jong Kook - Sixth Sense

Kim Jong Kook – Sixth Sense

Aku baru saja terjengkang karena mendapat tendangan dari Yonghwa. Tapi, aku lihat Yonghwa berteriak sangat kesakitan. Apa yang terjadi?? Kemudian Yonghwa tergeletak di tanah. Aku mendekati Yonghwa dan memeriksa denyut nadinya dan aku mendapati nadinya sudah tidak berdenyut.

Kemudian aku memutuskan untuk kembali ke tempat aku meninggalkan Gwangsoo. Aku yakin bahwa Gwangsoo lah yang melakukan ini. Namun, yang aku dapati adalah Gwangsoo yang sedang tergeletak di tanah dengan pena perak di tangan kanannya dan Death Note di tangan kirinya.

“Gwangsoo-ya!!!” kataku sambil berlari ke arah Gwangsoo. Aku melihat keadaan Gwangsoo yang sangat memprihatinkan. Wajahnya sangat pucat dan terdapat lingkaran hitam di bawah matanya, dan juga hidungnya mengeluarkan darah.
“Gwangsoo-ya!! Irona! (Bangunlah!)” kataku sambil mengguncang guncag tubuh Gwangsoo yang sama sekali tidak bergerak.

Pandanganku beralih ke Death Note. Ternyata yang membunuh Yonghwa adalah Gwangsoo, dia yang menuliskan nama Yonghwa di buku ini. Gwangsoo-yah… Mianhae, Gwangsoo yah… Aku tidak tau, kau akan menjadi seperti ini hanya karena kau ingin menepati janjimu padaku untuk tidak menghianatiku. Gomawo, Gwangsoo-ya…

======TO BE CONTINUED======

Hiyaahhh!!
Gimana? Gimana? Gimana? Itulah perjalanan Horangi (macan) dan Girin (jerapah) di awal. Itulah kesetiaan Gwangsoo ke Jongkook. Kira2, apa yang selanjutnya bakalan terjadi sama member Running Man yah? Apakah orang yang udah mengurung mereka di hutan itu bakalan menang? Ato member Running Man yang bakalan menang? Hahaha… itu masih belom ada yang tau, kecuali Author pastinya… 😛 #dilemparsendal.

Sebenernya, aku pengen nambahin scene berantemnya lebih banyak kayak di partnya Gary. Tapi, gara2 takutnya nanti kepanjangan, jadinya cuma ada dikit scene berantemnya… hehehe…

Tapi, semoga part kali ini bisa bikin puas reader yah… Oh iya, jangan lupaya, kalo udah baca, tinggal like dan komennya aja nih… Jangan lupa yah… Ayolah, like dan comment yang reader tinggalkan adalah motivasi bagi author buat melanjutkan ff ini… Hehehe.. 😀 Oh iya, maaf juga ya kalo updatenya lama banget… ^^v Maklum,author lagi menjalani kelas 12… 😛

Gomawo readers… 🙂
Gomawo Running Man… 😀

21 responses to “The Superpowers [Episode 4] : Death Note and Sixth Sense

  1. Pingback: The Superpowers [Episode 6] : I’m the ACE! | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s