How To Steal A Kiss – 2nd. Double Trouble

7710502972

Title : How To Steal A Kiss –2nd. Double Trouble

Author : ohyeolliepop

Genre : Romance, School-life, (maybe) Comedy

Rating : T

Cast : Park Hyunjo (OC), All of EXO members, Choi Jinri [f(x)], Jung Soojung [f(x)], Park Cheonsa (OC)

Disclaimer : I own nothing but the storyline. Please be a good reader. Do not plagiarize.

Previous :  1st Choose The Target | 2nd Double Trouble

Park Hyunjo merasa sesuatu yang tidak beres sedang terjadi dalam hidupnya. Belakangan ini, ia sering mengalami hal-hal ganjil yang terasa aneh dan tidak biasa.

Pertama, Hyunjo mendapatkan nilai A di ujian mata pelajaran kalkulus. Hal ini jelas diluar dugaannya. Bagaimana tidak? Sebelumnya, ia paling lemah dalam mata pelajaran penuh angka yang memusingkan ini. Sel-sel dalam otaknya selalu menolak saat materi kalkulus mencoba untuk menelusup masuk. Belum lagi ditambah dengan guru pengajarnya yang menyeramkan dan mirip seperti lucifer –bedanya, lucifer yang ini tidak bertanduk dan tidak membawa garpu besar kemana-mana. Lucifer yang satu ini mengajar kalkulus– karena itu, nilai kalkulus Hyunjo tidak pernah lebih baik dari C-.

Yah, Hyunjo rasa kali ini keajaiban sedang berpihak kepadanya. Atau mungkin, guru pengajarnya terlalu banyak minum soju sebelum mengoreksi jawaban ujiannya.

Kedua, secara tiba-tiba orang tuanya yang tinggal di Busan mengirimkan uang dengan jumlah yang cukup banyak ke rekeningnya. Sebenarnya Hyunjo heran dan menaruh sedikit curiga, tapi akhirnya ia memutuskan untuk tidak mengambil pusing perihal masalah ini.

Untuk hal ini, Hyunjo menduga mendiang neneknya datang ke dalam mimpi orang tuanya dan meminta mereka untuk mengasihani putri mereka yang hidup serba pas-pasan di Seoul. (Oke, rasanya semua orang setuju bahwa imajinasi Hyunjo terlalu berlebihan).

Ketiga, ia terjebak dalam sebuah permainan bernama truth or dare. Awalnya Hyunjo hanya iseng menerima ajakan bermain dari teman-teman satu dormnya; Choi Jinri, Jung Soojung, dan Park Cheonsa. Ia kira permainan ini hanya permainan biasa yang menggunakan kartu –mungkin hanya seperti UNO–. Sialnya, truth or dare bukan permainan ringan seperti itu. Permainan yang satu ini jauh lebih berbahaya dan Hyunjo hampir mati berdiri karenanya.

Tentang ini, Hyunjo yakin hidupnya akan segera tamat. Benar-benar tamat dan tidak bisa diselamatkan lagi.

***

“Hey, apa yang kau lakukan?!”

Sebuah suara terdengar dan mau tak mau, Hyunjo memutar tubuhnya untuk melihat siapa yang bicara.

Astaga. Laki-laki yang berdiri tidak lebih dari dua meter di depannya ini baru saja di kenalnya saat istirahat tadi di kafetaria. Oh Se Hun. Ya, Hyunjo tidak mungkin salah. Orang ini memang benar Oh Se Hun!

Seketika tubuh Hyunjo menjadi lebih lemas dari sebelumnya. Ia juga merasa luar biasa gugup. Bagaimana tidak? Ia baru saja tertangkap basah sedang memukuli tembok oleh salah satu anggota EXO, ini jelas bukan pertanda baik untuk usahanya. Bagaimana jika Se Hun mengatakan pada teman-temannya ada seorang hoobae tidak waras yang memukuli tembok sekolah? Bagaimana jika akhirnya anggota EXO merasa takut padanya? Bagaimana jika…

“Hey, aku bicara padamu.” Kata-kata Se Hun membuyarkan lamunan Hyunjo yang sudah berlari kemana-mana. “Kenapa kau memukuli tembok seperti itu?”

Takut-takut Hyunjo menatap sunbaenimnya tersebut. Se Hun kelihatan sama seperti saat di kafetaria tadi. Tampan. Apa lagi? Ia mengenakan seragam sekolah yang sangat sesuai dengan badannya. Belum lagi jas sekolah berwarna abu rokok yang Se Hun sampirkan di bahu kanannya, membuat penampilannya semakin terlihat keren.

Lagi-lagi Hyunjo merasa familiar dengan wajah Se Hun. Ia mencoba mengingat dimana ia pernah bertemu dengan Se Hun sebelumnya. Hyunjo yakin ia sudah pernah bertemu dengan Se Hun sebelum ia masuk di sekolah ini, hanya saja ia tidak bisa mengingat dimana tempatnya.

“Dan sekarang, kau melamun.” Se Hun mendengus kecil. “Dengar ya, aku hanya tidak ingin kau memukuli tembok seperti itu. Kau tahu? Kau bisa melukai tembok tidak bersalah itu.”

Tepat setelah mengatakan kalimat terakhir, Se Hun menelusupkan tangan kirinya ke dalam saku celana dan berjalan melalui Hyunjo. Begitu saja, seakan barusan tidak terjadi apa-apa. Seakan ia tidak menyadari bahwa Hyunjo hampir pingsan dibuatnya.

Hyunjo masih diam, dirinya masih setengah bingung dan setengah tidak percaya pada apa yang baru saja dialaminya. Yang barusan itu benar Oh Se Hun, kan? Bukan Lucifer yang sedang menyamar atau apa?

Hyunjo menepuk keningnya sendiri dan mengutuk imajinasinya yang terlalu berlebihan. Tiba-tiba ia teringat bahwa ia belum menggubris perkataan Se Hun sedari tadi dan sekarang laki-laki itu sudah terlanjur pergi. Bodoh. Hyunjo menggigit bibir bawahnya kecewa. Seharusnya ia bisa memanfaatkan kesempatan tadi untuk berkenalan dengan Se Hun. Bukankah nama Se Hun masuk dalam daftar targetnya?

Masih merasa menyesal, Hyunjo memandang tembok yang tadi dipukulinya dengan nelangsa. “Tembok, kau tidak apa-apa, kan? Kau tidak terluka?”

Bagus. Sekarang Hyunjo mulai berbicara pada tembok seperti orang tidak waras dan Oh Se Hun adalah penyebabnya.

***

“Se Hun!”

Merasa namanya dipanggil, Se Hun menghentikan langkahnya dan menoleh. Dilihatnya seorang laki-laki dengan tubuh jangkung sedang berlari ke arahnya.

“Kau,” kata laki-laki itu dengan sedikit terengah-engah. Ia mengatur napasnya sebentar sebelum melanjutkan perkataannya, “Apa yang kau lakukan di lobi saat jam pelajaran seperti ini?”

Laki-laki itu –Chan Yeol– baru saja kembali dari toilet saat ia melihat teman baiknya, Se Hun, sedang berjalan di lobi sekolah. Akhirnya Chan Yeol memutuskan untuk menghampiri teman baiknya dulu sebelum kembali ke kelas astronominya.

“Bosan,” sahut Se Hun datar. Dari ekspresi wajahnya yang tanpa minat, Chan Yeol yakin bahwa kelas yang diikuti Se Hun tadi pasti kalkulus atau geografi. Pokoknya pelajaran yang sanggup membuat murid menguap lebih dari sepuluh kali selama satu jam.

“Kafetaria?” tawar Chan Yeol. Sebenarnya ia tidak suka membolos pelajaran, namun saat ini adalah pengecualian. Mungkin menemani teman baiknya yang sedang bosan tidak ada salahnya.

Se Hun mengangguk dan berjalan mendahului Chan Yeol menuju kafetaria. Langkah Chan Yeol yang lebar membuat ia dengan cepat menyamakan posisi dengan Se Hun. Karena sudah tiga tahun lamanya menjadi teman baik, Se Hun dan Chan Yeol sangat akrab. Tidak ada hari yang Se Hun lewati di sekolah tanpa candaan yang dibuat oleh Chan Yeol –dan sebenarnya oleh Baek Hyun juga–. Jadi Se Hun rasa mengobrol dengan Chan Yeol di kafetaria mampu mengusir rasa bosan yang sudah menyesakinya sampai ke ubun-ubun.

Sesampainya di kafetaria, Se Hun dan Chan Yeol menempati meja yang berada di tengah. Meja yang selalu mereka duduki setiap kali mereka berada di tempat ini. Meskipun tidak ada yang meresmikan, secara tidak langsung meja itu telah menjadi “meja milik EXO” karena tidak ada seorang murid pun yang duduk disana kecuali anggota EXO.

“Kau tidak ingin minum apa-apa?” tanya Chan Yeol. Se Hun menggeleng sekilas. Chan Yeol mengendikkan bahunya, “Baiklah. Kalau begitu aku mau ambil minuman dulu.”

Se Hun mengamati teman baiknya yang berjalan menjauh, sejurus kemudian ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kafetaria. Tempat ini terlihat sepi dan hening. Tidak heran, saat ini mata pelajaran sedang berlangsung.

“Ah! Aku ingin jelly anggur saja. Tolong berikan ekstra krim cokelat di atasnya, ahjumma. Aku lapar sekali. Rasanya sudah berabad-abad aku tidak mengisi perutku dengan makanan.”

Sebuah suara yang nyaring dari tempat pengambilan makanan menarik perhatian Se Hun. Ia menyipitkan matanya untuk melihat dengan jelas siapa gadis yang bicara panjang lebar tersebut. Gadis itu mengetuk-ngetukkan jemarinya di kaca etalase makanan, kelihatan tidak sabar menunggu tray makanannya diisi oleh jelly.

Gadis itu berdiri dengan posisi memunggungi Se Hun, sehingga Se Hun tidak dapat melihat siapa gadis itu. Sebenarnya tidak ada apa-apa, Se Hun hanya merasa penasaran saja. Gadis itu ada di kafetaria saat jam pelajaran, berarti gadis itu membolos.

“Terima kasih, ahjumma!” Setelah mendapatkan tray makanannya, gadis itu membalikkan badannya. Wajahnya berbinar, seolah-olah sedang mengatakan ‘aku siap makan!

Tiba-tiba Se Hun merasa tertohok. Gadis itu kan, gadis yang ditemuinya tadi di koridor kalkulus. Gadis yang memukuli tembok seperti seekor bison yang sedang mengamuk. Ya, Se Hun tidak salah lagi.

Gadis itu tampaknya tidak menyadari bahwa sepasang mata sedang mengamatinya. Dengan riang ia melangkah menuju ujung kafetaria, menempati sebuah meja disana, dan melahap jellynya dengan suka cita. Se Hun masih mengamati gadis itu dan ia tidak tahu kenapa. Se Hun bahkan tidak ingat bahwa ia belum berkedip sedari tadi.

“Se Hun! Apa yang kau lihat?” Suara Chan Yeol yang berat mengagetkan Se Hun. Entah sejak kapan laki-laki itu sudah duduk di depannya dengan gelas kertas berisi kopi yanga ada dalam genggamannya. “Gadis itu?” Chan Yeol menunjuk Hyunjo dengan dagunya.

Se Hun memberengut tidak suka dan cepat-cepat mengalihkan pandangannya. “Tidak,” sahutnya ketus.

Chan Yeol terkekeh samar karena reaksi yang diberikan oleh Se Hun. Sikapnya jelas menunjukkan bahwa ia sedang mengamati gadis itu. Se Hun hanya tidak suka jika tertangkap basah sedang mengamati seorang gadis.

“Kalau memang gadis itu yang kau lihat, sebenarnya juga tidak apa-apa.” Chan Yeol angkat bicara setelah menyesap pelan kopinya. “Sudah lama sekali aku tidak melihatmu tertarik pada seorang gadis. Ku kira kau memutuskan untuk berubah haluan dan jatuh cinta pada Lu Han.”

Sebuah pukulan ringan langsung dilayangkan Se Hun di lengan kiri Chan Yeol, membuat laki-laki itu meringis kecil. Pukulan itu tidak hebat, tapi cukup membuat lengannya berkedut sakit. “Kau memang tidak waras.”

Chan Yeol tertawa terbahak-bahak, ia memukul-mukul meja kafetaria dengan heboh. Se Hun sudah memakluminya. Sebagai king reaction, Chan Yeol memang selalu tertawa berlebihan seperti itu. “Setiap hari aku selalu ketakutan, membayangkan kau dan Lu Han akan datang ke malam perpisahan sebagai pasangan.”

Se Hun mendengus dan memutuskan untuk membiarkan Chan Yeol mengatakan apa saja yang ia ingin katakan. Percuma bila ia meladeni Chan Yeol, ia tetap akan kalah.

“Oke, oke. Aku bercanda,” kata Chanyeol, ia masih susah payah menahan tawanya. “Jadi, bagaimana?”

Kening Se Hun berkerut samar mendengar pertanyaan itu. “Bagaimana? Apanya yang bagaimana?”

Chan Yeol kembali menyesap kopinya sampai tersisa tinggal seperempat bagian saja, kemudian menjawab pertanyaan Se Hun. “Gadis itu. Kau tertarik padanya, kan? Kau akan mendekatinya atau tidak?”

“Aku tidak tertarik padanya,” desis Se Hun pelan. Diam-diam ia melirik Hyunjo dari sudut matanya. Gadis itu sedang menepuk-nepuk perutnya yang tampak kekenyangan dengan konyol.

“Oh, tidak!” Chan Yeol setengah berteriak. “Jadi selama ini benar, kau memang telah berubah haluan. Kau mencintai Lu Han. Ini tidak benar, sobat!”

Se Hun memutar bola matanya kesal. “Aku memang tidak tertarik pada gadis itu, tapi bukan berarti aku sudah berubah haluan. Ku kira kau perlu reparasi otak, Chan Yeol.”

Chan Yeol menahan dirinya agar tidak tertawa lagi. Ia menghabiskan kopinya dalam sekali tegukan, meremas gelas kertasnya sampai menjadi gumpalan kecil, kemudian melemparkannya ke tempat sampah. “Oh, ayolah. Dekati gadis itu.”

“Jadi ini semacam paksaan atau apa?” tanya Se Hun dengan nada tidak suka yang dibuat-buat.

“Bagaimana jika ini sebuah taruhan?” Chan Yeol balas bertanya. Ia menekankan intonasi suaranya saat mengatakan kata ‘taruhan’. “Kau dekati gadis itu dan jika berhasil..” Chan Yeol menggantungkan kalimatnya, kelihatan sedang berpikir. “Kau boleh mengambil seluruh koleksi album musikku.”

Se Hun kelihatan terkejut dengan taruhan yang ditawarkan oleh Chan Yeol. Sebenarnya ia tidak ingin bertaruh untuk apapun, tapi.. Kebanyakan album musik milik Chan Yeol adalah edisi terbatas yang tidak ia miliki.

Se Hun tersenyum samar. “Bersiaplah kehilangan koleksi album musikmu, Park Chan Yeol.”

***

Hyunjo menghempaskan tubuhnya yang terasa pegal ke atas pembaringannya yang nyaman. Matanya menerawang menatap langit-langit dormnya yang berwarna putih. Sejurus kemudian ia memejamkan matanya dan menarik napas dalam-dalam.

“Hyunjo? Itu kau?” Samar-samar terdengar suara Jinri. Beberapa detik kemudian gadis itu keluar dari kamar mandi dengan handuk basah yang menggulung rambutnya. “Baru pulang?”

“Mm-hmm,” sahut Hyunjo malas-malasan.

“Semua orang pulang terlambat hari ini. Soojung ada rapat kelulusan, Cheonsa latihan drama, dan kau… Kau pulang telat kenapa?” tanya Jinri. Ia mendekati Hyunjo dan duduk di ujung pembaringan gadis itu.

Hyunjo membuka matanya dan kembali menatap langit-langit dengan putus asa. “Aku harus menyelesaikan masalahku dengan Lucifer lebih dulu.”

Alis Jinri bertaut heran. “Masalah? Masalah yang tadi? Gara-gara kau senyum-senyum sendiri?”

Hyunjo mengangguk. “Ya, biar bagaimanapun aku harus minta maaf secara resmi. Jadi aku menemui Lucifer dan dia memberiku hukuman. Memang tidak salah jika kita memanggilnya Lucifer.”

Jinri tergelak mendengar gerutuan Hyunjo. Ia menepuk-nepuk pipinya yang terasa dingin karena habis mandi. “Hyunjo, bagaimana dengan targetmu? Kau sudah menentukan siapa saja orangnya?”

Hyunjo terkesiap dan langsung meloncat bangun dari tidurnya. “Astaga, aku lupa!” pekik Hyunjo. Ia segera menyambar tas sekolahnya dan mengeluarkan note tempat ia mencatat nama-nama targetnya. “Aku baru punya tiga target,” keluh Hyunjo.

Jinri mengambil alih note itu dari tangan Hyunjo. “Kris, Se Hun, Lu Han..” Ia bergumam pelan. “Kau masih harus memilih dua nama lagi.”

Hyunjo mengerang pelan dan mengambil guling, kemudian memukul-mukul guling tanpa dosa itu. “Aku tidak tahu siapa lagi yang harus ku jadikan target.. Ah, sekarang hidupku menyedihkan sekali. Lucifer, dare dari Cheonsa, apa masih yang lebih buruk dari ini?”

Jinri menatap Hyunjo iba sekaligus prihatin. Melihat Hyunjo yang sudah hopeless seperti itu, rasanya ia perlu turun tangan untuk membantu gadis itu menentukan target. “Bagaimana dengan.. Su Ho?”

“Ia kelihatan kaku. Tidak,” sahut Hyunjo.

“Tapi ia bisa mengajarimu kalkulus.” Jinri menyanggah keputusan Hyunjo.

“Tidak, tidak. Kalkulus akan tetap menjadi momok yang mengerikan, siapapun pengajarnya,” tolak Hyunjo.

Jinri menyerah dan berusaha mencari nama lain. Kira-kira siapa anggota EXO yang memiliki kepribadian cocok dengan Hyunjo? “Aha!” Jinri menjentikkan tangannya dan mengerling.

“Apa? Kau baru menemukan sesuatu yang lebih hebat dari penemuannya James Watt?” tanya Hyunjo malas.

Jinri mengerucutkan bibirnya. Memutuskan untuk tidak menggubris komentar pedas Hyunjo, ia berkata, “Chan Yeol. Ia tepat sekali untuk dijadikan target.”

Hyunjo kelihatan tertarik dengan nama yang diajukan Jinri. Ia menatap gadis itu dengan kening yang berkerut samar. “Oh ya?”

“Yap!” balas Jinri. “Chan Yeol adalah orang yang sangat menyenangkan dan kurasa ia cocok sekali denganmu.”

“Sebenarnya, aku mencari target tidak untuk dijadikan pasangan. Ini semua karena dare Cheonsa, kau ingat?” Hyunjo berusaha mengingatkan Jinri agar teman baiknya itu tidak lupa apa tujuannya membuat target sebelumnya.

Jinri melengos kecewa, namun sedetik kemudian ia kembali cerah. “Tidak ada masalah. Menurutku Chan Yeol mungkin untuk didapatkan ciumannya.”

Hyunjo menopang dagunya dengan kedua tangan yang ia tumpukan pada pahanya. Ia kelihatan sedang menimbang-nimbang, apakah harus memasukkan Chan Yeol ke dalam daftar target atau tidak. “Oke, Chan Yeol. Siapa lagi?”

Jinri tersenyum puas karena Hyunjo setuju untuk memasukkan Chan Yeol ke dalam target. Sekarang tinggal memilih satu target lagi.

“Hmm.. Tao?” gumam Jinri pelan.

“TIDAK!” respon Hyunjo cepat, di luar dugaan Jinri. Hyunjo menatap Jinri dengan wajah shocked. Jinri tidak mungkin tega menyuruhnya untuk mendapatkan ciuman dari laki-laki menyeramkan itu, kan? “Tidak, tidak. Tao. Tidak,” kata Hyunjo sambil menggeleng-gelengkan kepalanya seperti orang ketakutan.

Jinri kebingungan melihat Hyunjo yang bereaksi seperti itu, seakan-akan ia baru saja mengusulkan Lucifer untuk dijadikan target. “Setahuku tidak ada yang salah dari Tao. Kenapa kau ketakutan seperti itu?”

“Ah, kau tidak mengerti,” ucap Hyunjo pelan. Ya, Jinri memang tidak tahu bagaimana rasanya diberikan tatapan yang mematikan oleh Tao. Rasanya sangat mengerikan. Hyunjo yakin dengan tatapan seperti itu, Tao bisa membunuh seekor hamster lucu hidup-hidup.

“Baiklah, lupakan tentang Tao.” Jinri mengalah. “Bagaimana dengan Baek Hyun?”

Hyunjo lagi-lagi bertopang dagu –mungkin itu memang posisi favoritnya saat sedang berpikir–. “Sebenarnya, kupikir Kai lumayan juga.”

Jinri menaikkan sebelah alisnya. Barusan ia menyebut nama Baek Hyun, namun Hyunjo justru membahas Kai. Mungkin otak gadis itu sedikit korslet karena banyaknya masalah yang didapatkannya belakangan ini.

“Jadi, Kai?” Jinri memastikan.

Hyunjo mengangguk sekilas. “Yap. Tidak apa-apa kan, kalau aku memasukkan Kai dalam target?”

Jinri tertawa. “Tentu saja tidak apa-apa. Kecuali jika kau ingin memasukkan Lay ke dalam daftar, itu beda cerita.”

Hyunjo meringis mendengarkan perkataan Jinri yang terdengar seperti sebuah peringatan. Semacam ‘jauhi Lay’ yang disampaikan dengan cara yang lebih halus.

“Kau tenang saja, Jinri-ya,” kata Hyunjo. “Aku tidak akan mendekati Changsa Princemu seujung kuku pun.”

***

Suara keramaian yang riuh rendah terdengar dari kelas home economics di ujung koridor. Tidak banyak murid yang mengisi kelas itu, hanya dua belas orang saja. Namun mereka sanggup membuat keributan seakan-akan ada lima puluh orang yang mengisi ruangan kelas tersebut.

Mereka adalah EXO.

Ya, saat jam istirahat seperti ini, EXO tidak selalu pergi ke kafetaria. Kadang-kadang mereka menempati sebuah kelas untuk dijadikan tempat berkumpul. Murid-murid lain yang kebetulan sedang menempati kelas itu tentu saja akan menyingkir keluar dengan sendirinya tanpa diminta.

“Mari bersulang untuk Kai, yang baru saja mengencani putri dari kepala sekolah!” teriak Baek Hyun dengan lantang. Ia mengacungkan sebotol air mineral dengan tangan kanannya.

Kai tertawa hambar melihat tingkah Baek Hyun yang kekanakan. Ia baru saja memberi tahu laki-laki itu bahwa ia berhasil pergi kencan dengan Sooyoung –putri kepala sekolah mereka– beberapa detik yang lalu dan sekarang Baek Hyun sudah berkoar-koar di tengah kelas.

Xiu Min menyambar botol air mineral yang berada di tangan Baek Hyun dan menenggaknya habis. “Selamat!”

Kyung Soo yang sedang membaca buku tentang teknologi memandang Kai dan teman-temannya acuh tak acuh. Menurutnya pergi kencan dengan putri kepala sekolah bukanlah prestasi yang patut diberi ucapan selamat.

Sementara itu Tao, Chen, dan Lay sudah mengerumuni Kai dan bertanya dengan cara apa Kai mendekati Sooyoung yang terkenal galak. Kai menolak untuk menjelaskan dan bilang, tentang cara mendekati gadis itu rahasia besar seorang Kim Jong In.

Kris tertawa mendengar keangkuhan Kai dan siapapun bisa menangkap nada meremehkan dari tawanya. Bagi Kris tidak ada cara tertentu untuk mendekati gadis manapun, karena selama ini gadis-gadis lah yang berjuang untuk mendekatinya.

Su Ho dan Lu Han hanya diam sambil sesekali tertawa melihat tingkah teman-teman mereka.

Se Hun duduk di meja paling ujung, kelihatan paling tidak berminat untuk mengikuti percakapan yang ada. Ini peristiwa yang langka terjadi, karena biasanya hanya Kyung Soo yang terlihat seperti itu. Chan Yeol yang heran lantas mendekati Se Hun.

“Apa yang kau makan terakhir kali?” tanya Chan Yeol.

Kening Se Hun berkerut samar. Entah hanya perasaannya saja atau tidak, tapi Chan Yeol terdengar seperti ibunya. “Ramen,” sahut Se Hun singkat.

“Ramen kemasan? Apa kau sudah mengecek tanggal kadaluarsanya?” tanya Chan Yeol lagi.

Se Hun memilih untuk mengangguk sebagai jawaban.

“Bagaimana dengan minuman? Apa yang kau minum terakhir kali?” Chan Yeol masih terus bertanya dengan mimik wajah serius.

Se Hun mendengus, ia mulai merasa terganggu. “Kau ini kenapa, sih?”

Chan Yeol mengendikkan bahunya sekilas, kemudian duduk tepat di sebelah Se Hun. “Aku hanya memastikan kau tidak keracunan makanan. Habisnya daritadi kau diam saja.”

Se Hun tidak menjawab dan justru mendesah malas sebagai gantinya. Ia tidak keracunan makanan. Tidak sakit. Tidak kenapa-kenapa. Ia hanya memikirkan taruhan konyol yang ia sanggupi kemarin. Apakah keputusannya sudah benar? Ia merasa sudah melakukan sesuatu yang keliru. Itulah penyebabnya ia menjadi lebih pendiam hari ini.

Chan Yeol melirik Se Hun. “Apakah ada hubungannya dengan taruhan kemarin?” tanyanya pelan, agar tidak seorang pun bisa mendengarnya. Soal taruhan itu memang baru mereka saja yang tahu. Chan Yeol belum memberitahukannya kepada anggota EXO yang lain karena ia rasa Se Hun masih ragu-ragu. “Jika kau tidak yakin, batalkan saja,” sambung Chan Yeol ringan.

Chan Yeol merasa ia tidak punya hak apapun untuk membuat Se Hun menyetujui taruhannya. Lagipula ia hanya iseng dan tidak punya maksud apapun. Soal koleksi album musiknya, sebenarnya Chan Yeol juga ragu apakah ia rela memberikannya pada Se Hun jika Se Hun berhasil.

Se Hun mendesah sekali lagi.

“Aku bisa menyumpal mulutmu dengan botol air mineral jika kau terus mendesah menyebalkan seperti itu,” gerutu Chan Yeol.

“Apa yang sedang kalian bicarakan?” Tahu-tahu Lay sudah ada di depan Se Hun dan Chan Yeol. Ia duduk di atas meja dan menatap kedua temannya itu dengan penasaran. “Daritadi ku lihat kalian bicara sambil bisik-bisik dan itu tidak bagus. Kalian harus memberitahukannya padaku.”

Chan Yeol tertawa sambil memukul lengan Se Hun pelan. “Lihat, temanmu ini sudah berubah menjadi gadis yang haus gosip!”

Lay memberengut tidak suka, namun Se Hun kelihatan tetap datar. Ia tidak berkomentar sedikit pun.

“Se Hun? Kau sakit?” tanya Lay heran. Tidak biasanya Se Hun bersikap seperti ini.

“Ku rasa ia keracunan makanan, tapi ia bilang tidak,” jawab Chan Yeol tanpa diminta.

“Tidak. Aku tidak apa-apa.” Akhirnya Se Hun angkat bicara. Suaranya terdengar dingin. Sejurus kemudian ia bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan kelas home economics, membuat kesebelas anggota EXO yang lain melongo tanpa bisa dicegah.

“Dia kenapa?” Tao terlihat bingung. Ia melongokkan badannya untuk mengintip kemana Se Hun pergi. Ternyata ia pergi ke arah lobi sekolah.

“Apa Se Hun sedang PMS?” tanya Chen polos.

“Laki-laki tidak PMS, sobat.” Kyung Soo menurunkan buku yang sedang dibacanya dan menatap Chen seakan berkata ‘apa kau bercanda’.

Lu Han menggaruk tengkuknya. Sebenarnya tidak gatal, ia hanya merasa sesuatu yang tidak beres sedang terjadi pada teman baiknya itu. “Ku rasa dia hanya tidak enak badan.”

“Dia bilang dia tidak apa-apa,” sanggah Lay.

“Kalau begitu pasti sedang terjadi sesuatu.” Baek Hyun bergumam pelan. “Mari kita cari tahu.”

***

Hyunjo melangkahkan kakinya dengan hati-hati di ruang guru. Tujuannya saat ini adalah secepatnya menemukan Lucifer, kemudian keluar. Begitu menemukan Lucifer duduk dengan tenang di mejanya yang terletak di sudut ruangan, Hyunjo segera menghampirinya.

Songsaenim memanggil saya?” tanya Hyunjo sopan.

Lucifer memandang –atau mungkin lebih tepatnya mendelik– Hyunjo. “Tentu saja. Mana mungkin saya memanggil orang tuamu?”

Lucu sekali. Hyunjo tersenyum masam menanggapi entah gurauan entah sindiran dari gurunya yang menyebalkan ini.

“Park Hyunjo. Tingkat dua. Membuat kekacauan saat pelajaran.” Lucifer membaca sesuatu dari kertas yang dipegangnya. Kekacauan? Ia hanya tersenyum saat pelajaran dan Lucifer menyebutnya sebagai kekacauan? Berlebihan sekali.

“Hukuman tugas telah dikerjakan dan dikumpulkan, itu berarti… Tinggal hukuman tambahan,” ujar Lucifer lagi.

“Maaf, songsaenim? Hukuman tambahan?” Hyunjo bertanya untuk memastikan ia tidak salah dengar saat Lucifer menyebutkan ‘hukuman tambahan’.

“Ya,” balas Lucifer tegas. “Hukuman tambahan untukmu adalah menjadi asisten guru saat mengajar murid tingkat tiga.”

Demi Tuhan! Lucifer memintanya untuk menjadi asistennya saat ia mengajar murid-murid tingkat tiga? Yang benar saja! Kalau saja Hyunjo tidak ingat bahwa meracuni orang adalah perbuatan keji dan melanggar hukum, mungkin ia sudah menjejali Lucifer dengan obat serangga. Hidupnya sudah cukup menderita tanpa hukuman tambahan itu!

“Kau mulai menjalankan tugasmu sebagai asisten guru mulai besok. Ini jadwal pengajaran kalkulus tingkat tiga. Aku sudah memastikan jadwalnya berbeda dengan jadwal pelajaranmu sehingga kau tidak perlu membolos pelajaran lain.” Lucifer berkata dengan panjang lebar tanpa menyadari bahwa sudah terjadi perubahan pada air muka Hyunjo.

Menyadari tidak ada lagi yang bisa ia lakukan, Hyunjo hanya mengangguk. “Baik, songsaenim.”

Selamat datang, hidup yang semakin menderita.

***

“Hukuman tambahan? Kau bercanda,” desis Jinri dengan tidak percaya. Saat ini ia dan Hyunjo sedang menghabiskan waktu di kafetaria, menunggu Soojung dan Cheonsa yang sedang mengisi tray makanan mereka. Sebenarnya Cheonsa adalah orang yang paling Hyunjo hindari untuk saat ini, tapi ia tidak mungkin selamanya menghindari gadis itu.

“Aku serius, Jinri-ya. Ah, rasanya hidupku benar-benar mengerikan. Aku ingin mengakhirinya saja,” rengek Hyunjo. “Tapi bagaimana cara mengakhirinya? Minum obat serangga? Baunya kan tidak enak, lalu mungkin rasanya pahit. Tidak keren kalau harus mati karena obat serangga. Lompat dari tingkat tertinggi gedung sekolah? Oh, tidak, tidak. Aku takut ketinggian. Bagaimana? Aku harus apa?”

Jinri mengusap keningnya mendengar lolongan Hyunjo yang menyedihkan. Gadis itu benar-benar butuh bantuan, setidaknya agar ia merasa sedikit lebih baik. Sayangnya Jinri tidak tahu apa yang bisa ia lakukan. “Memangnya hukuman tambahannnya apa?”

“Menjadi asisten guru saat Lucifer mengajar murid tingkat tiga,” sahut Hyunjo pelan. Ia menggores-gores meja dengan kukunya, persis seperti kucing yang akan bertengkar.

Tiba-tiba mata Jinri berbinar. “Kau tahu? Masalahmu yang baru bisa menyelesaikan masalah lamamu!”

Alis Hyunjo bertaut heran. “Apa maksudnya? Aku tidak mengerti. Bahasa yang kau gunakan membingungkan.”

Jinri berdecak kesal. “Ck, kau tahu? Jika kau menjadi asisten guru saat Lucifer mengajar murid tingkat tiga.. Itu artinya kau memiliki kesempatan yang besar untuk mendekati anggota EXO. Iya, kan?”

“ASTAGA!” Hyunjo berteriak. “Bagaimana bisa aku tidak menyadarinya? Kau genius! Ya, ya, benar. Benar sekali. Aku bisa memanfaatkan hukuman ini untuk mendekati anggota EXO. Oh, ini hebat! Aku tidak perlu minum obat serangga atau terjun dari lantai tertinggi!”

Jinri memutar kedua bola matanya. “Lagipula siapa yang menyuruhmu minum obat serangga dan semacamnya?”

Hyunjo terkekeh samar. Ia merasa begitu lega, karena satu masalahnya sudah siap untuk diselesaikan. Ia mengedarkan pandangan dan..

Set.

Tatapan itu lagi. Sejak kapan Tao berdiri disana –di tengah kafetaria– sendirian? Kenapa pula Tao menatap Hyunjo seperti itu?!

-to be continued-

Annyeong^^

Maaf banget kalo chapter lanjutan dari How To Steal A Kiss ini lama dipublishnya. Gini deh kalo udah tingkat akhir SMA, banyak tugas dan ulangan. Oke, ini curhat.

Untuk chapter-chapter berikutnya aku nggak bisa janji bisa update cepet sesuai dengan permintaan kalian, tapi pasti aku usahain yang terbaik kalo kalian juga dukung dengan cara komentar di ff ini #duh #kode

Oh iyaa, berhubung di komentar kemarin banyak yang panggil aku THOR, kok kesannya nggak enak banget yah. Soalnya setahu aku si thor itu gini :

thors hammer and mighty thor

Dan aku nggak seperti itu T^T

Jadi kalo seumuran panggil aja aku ‘syad’, kalo kalian lebih muda panggil aku ‘eonnie’, kalo kalian lebih tua panggil aku dongsaeng atau chingu atau apa aku nggak tau *langsung buka kamus indonesia-korea*

Udah deh, segitu aja ngomongnya. Ntar kebanyakan ngomong kalian justru malezzz pake z. Maaf karena aku nggak bisa bales komentar kalian satu persatu. Tapi aku udah baca semuanya kok, makasih yaa^^

p.s. : untuk hasil voting ‘Shout Out Your Bias’, here’s the result :

 

Chan Yeol : 43

Kai : 46

Baek Hyun : 40

Tao : 35

Chen : 4

Xiu Min : 4

Lay : 15

Su Ho : 21

Kyung Soo : 17

 

Karena itu yang terpilih jadi next targetnya Hyunjo adalah Chan Yeol dan Kai. Tapi member EXO yang lain nggak akan menghilang dari ff ini kok, bakalan tetep muncul. Chapter kedua ini belum menceritakan perjuangan Hyunjo, masih sambungan dari prolog lah. Makasih~

Advertisements

270 responses to “How To Steal A Kiss – 2nd. Double Trouble

  1. muahahah ini exo bisaan aja candanya
    eh btw, jadi asisten guru keak gitu duh pasti awkward bangett.
    tapi emang bisa jadi lebih deket sama exo sih, eciee /apaan
    btw Luc beneran rese ehe
    nice kak!

  2. Ngakak lucifer kejem banget 😀 eh sebenernya sehun kenapa sih? Terus tao juga sok nyeremin gtu? Padahal kek anak kecil banget 😀 penasaran 😉

  3. Kyaaaaa…
    hyunjoo seneng bgtz tuh bsa ngajar kelas 3 dmn dy bsa mempermudah jalannya dy dlm menjalankan dare dr cheonsa itu, ya ampun mudah2an dy bsa dpt kissnya kai, aq lbh setuju klw dy milih kai…
    next dh ke chapter selanjutnya…

  4. bagus deh bukan Kyungsoo. because Kyungsoo is mine *plak 😀 Jalan ceritanya semakin seruuuu aaa!!!!!! ga nyesel ngeluangin waktu buat baca ff ini 😀 Aku langsung ke part selanjutnya aja deh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s