Lucky – Part 1

Good or bad luck cover

Cast: Kim Jongin | Kang Ji-Kyung (Oc) | Park Chanyeol | Park Young-Geun| etc

Disclaimer: Fanfic ini terinspirasi dari sebuah anime yang judulnya aku lupa. ._.v cuman dibeberapa bagian ada scene yang sama, tapi kesananya itu hasil imajinasiku. ^^

Warning: Typo, cerita gaje, dan kekurangan yang lainnya. Maaf kalau ada yang tidak suka. DON’T LIKE DON’T READ!

Story

“Kau harus menjadi putri kebanggaan appa, Ji-Kyung.” Gadis yang dipanggil Ji-Kyung itu hanya menganggukan kepalanya sebagai jawaban kearah orang yang mengaku diri sebagai ayahnya itu, setelahnya dia kembali melanjutkan kegiatannya memakan roti yang sudah dilapisi selai coklat itu ke dalam mulutnya.

“Kau tidak boleh sampai membuat kita malu, kau harus menjadi gadis sempurna Ji-Kyung.” Sahut seorang wanita yang duduk di sebelah pria yang menyebut dirinya sebagai ‘ayah’ dan itu berarti wanita itu duduk berhadapan dengan JI-Kyung.

“Ne..” Sahut Ji-Kyung, menyimpan roti yang terlihat baru habis setengahnya itu kembali keatas piring. Dia lalu mendongak menatap wanita itu sambil tersenyum tipis, “…oemma.”

Wanita yang dipanggil ‘oemma’ oleh Ji-Kyung itu terlihat mengangguk puas, persis sama dengan apa yang dilakukan oleh ayahnya.

“Bagus, itu baru putri appa. Bagaimana dengan sekolahmu? Nilaimu tidak turunkan?” Tanya ayahnya, menatap putrinya itu lamat-lamat dengan mata yang disipitkan.

“Ani appa, aku masih menjadi peringkat pertama di kelas dan juga juara umum di sekolah.” Sahut gadis itu, menundukan kepalanya dalam-dalam.

Beberapa detik kemudian dia bisa mendengar ayah dan ibunya itu menghembuskan napas lega, “Kau harus mempertahankannya, kau harus tetap menjadi yang pertama. Kau tidak boleh membuat kami malu, kau mengerti?”

Lagi-lagi Ji-Kyung hanya bisa menganggukan kepalanya tanda mengerti, entah kenapa dia merasa terlalu takut hanya untuk menatap wajah kedua orang tuanya.

“Bagus, sekarang kau pergi ke sekolah jangan sampai terlambat. Ingat kau harus menjadi yang pertama.” Kali ini suara ibunya yang terdengar, kentara sekali nada memerintah di dalam suaranya. Dan kalau seperti itu mau tak mau Ji-Kyung harus menuruti kehendak mereka.

Ji-Kyung bangkit dari duduknya, membungkukan tubuhnya kearah ayah dan ibunya setelah itu ia berbalik dan berjalan keluar dari rumah mewah itu.

Di luar, terlihat supir pribadinya –yang selalu mengantarkannya setiap hari pulang dan pergi ke sekolah- sudah siap di samping mobil. Membuka pintu mobil sedan itu ketika melihat nona mudanya –Ji-Kyung- berjalan kearahnya.

“Silahkan nona.” Ujar Go ahjussi –sebutan yang biasa Ji-Kyung ucapkan- sopan, Ji-Kyung mengangguk dan masuk kedalam mobil itu. Setelah memastikan nona mudanya itu sudah masuk, Go ahjussi menutup pintu mobil dan berlari kecil memutari mobil dan membuka pintu kemudi lalu masuk kedalam, memasang seatbelt dan menyalakan mesin mobil.

Sebelum itu, pria berumur diatas tiga puluh tahun itu menyempatkan diri untuk melirik kearah kaca spion, memperhatikan Ji-Kyung yang hanya diam memandang keluar melalui kaca jendela mobil.

Go ahjussi menghela napas pelan, mengalihkan lagi pandangannya kedepan dan mulai melajukan mobil sedan itu meninggalkan pekarangan mewah –rumah yang menjadi tempatnya bekerja selama dua puluh tahun terakhir ini-

***

Seorang gadis terlihat berjalan dengan langkah cepat menaiki tangga, sesekali dia menghentakan kakinya kesal sehingga menyebabkan rambut panjang yang dia ikat seperti ekor kuda itu ikut bergoyang mengikuti tubuhnya yang juga ikut terhentak menandakan seberapa keras dia menghentak-hentakan kakinya itu.

Gadis itu lalu menghentikan langkahnya di depan sebuah pintu kayu bercat coklat, dan melihat jam dipergelangan tangan kirinya.

06.52 am

Dengan menggeram kecil, gadis itu menarik hendel pintu dan mendorong pintu kayu itu sedikit kasar dan melangkah masuk kedalam kamar itu. Ia mendengus kesal begitu melihat orang yang dicarinya masih tertidur pulas diatas ranjangnya, tidak memperdulikan sinar matahari yang berusaha menerobos masuk tapi masih terhalang oleh tirai jendela yang belum juga dibuka.

Gadis itu menyimpan kedua tangannya di pinggang, ekspresinya terlihat sekali kalau dia sedang menahan kesal. Dengan langkah yang dia hentakan lebih keras dari tadi, gadis itu berjalan menghampiri orang yang membuatnya kesal setengah mati.

Ia mulai mencondongkan tubuhnya dan mendekatkan bibirnya disebelah telinga orang itu.

.

.

.

.

.

“KAAIII~ IREONAAAA~” Teriak gadis itu sekuat tenaga, dan hasilnya? Orang yang dipanggil Kai dan ternyata seorang laki-laki itu terperanjat dan langsung terjatuh dari ranjangnya.

“Aww~” Rintih pria itu, yang sekarang kita sepakat menyebutnya dengan Kai itu, mengelus kepalanya yang terbentur lantai. Beberapa detik kemudian Kai langsung menoleh dengan cepat kearah sang gadis dan memberikan tatapan tertajamnya.

“Apa kau ingin membuat telingaku tuli, hah?” Seru Kai, mengusap-ngusap telinganya yang masih terasa berdengung.

Gadis yang bernama Young-Geun itu mengerucutkan bibirnya kesal, “Kalau tidak seperti itu kau tidak akan pernah bangun.”

“Tidak adakah cara yang lebih halus selain- hey, sekarang jam berapa?” Tanya Kai panik ketika dia tidak sengaja melihat jendelanya yang masih tertutup tirai itu sedikit terang, Young-Geun hanya bisa berdecak dan kemudian mengendikan kepalanya kearah jam dinding yang tertempel di kamar itu.

Dengan cepat pria itu mengikuti arah pandang Younggeun dan terbelalak begitu melihat jarum pendek itu menunjuk arah tujuh dan jarum panjangnya menunjuk angka sepuluh.

“Astaga!” Dengan kecepatan yang bisa dibilang diatas rata-rata, Kai bangkit dari duduknya dan berjalan cepat mengambil handuknya dan bergegas masuk kedalam kamar mandi.

“Kenapa tidak ada yang membangunkanku?!” Teriak Kai dari kamar mandi.

“Siapa suruh kau bergadang semalaman hanya untuk menyelesaikan permainan game bodohmu itu.”

“Haisshh~”

***

Go ahjussi menghentikan mobilnya begitu mereka sampai di depan gerbang sekolah yang terlihat elite itu.

“Nona, kita sudah sampai.” Ujar pria paruh baya itu, menatap Ji-Kyung lewat kaca kecil diatasnya. Ji-Kyung menolehkan wajahnya kedepan dan mengangguk, setelah itu dia bergegas membuka pintu mobil dan keluar dari sana.

Mengeratkan pegangan tali tas di punggungnya, Ji-Kyung mulai berjalan memasuki halaman sekolah mewah itu.

Hannyoung high School, itulah nama sekolah tempat Ji-Kyung mengenyam pendidikannya sekarang. Sekolah yang memiliki bangunan mewah dan mempunyai banyak fasilitas ini dimasuki oleh murid-murid yang berasal dari kalangan terpandang –hampir semuanya- walau sebagian lagi karena mendapatkan beasiswa.

Sudah menjadi rahasia umum kalau Hannyoung high School adalah sekolah bergengsi dan menjadikannya sekolah favorite yang banyak diminati.

Ji-Kyung menghentikan langkahnya begitu dia sampai di depan kelasnya -2A- perlahan ia mengulurkan tangannya kearah hendel pintu dan menggeser pintu kelas itu.

Seketika saja ruangan kelas itu menjadi hening, semua siswa menghentikan kegiatannya –baik itu mengobrol, saling kejar-kejaran bahkan seorang siswa yang tengah menghapus papan tulis- mereka semua terdiam dengan mata tertuju pada Ji-Kyung.

Sementara gadis itu hanya bisa menundukan kepalanya dan berjalan menuju bangkunya –bangku paling depan- lalu mendudukan dirinya disana. Beberapa saat kemudian mereka –semua murid dikelas ini- kembali melanjutkan kegiatan mereka tapi tidak seberisik dan seramai sebelum Ji-Kyung masuk tadi.

Ji-Kyung menghela napas berat, ini sudah biasa untuknya. Biasa ketika teman-teman sekelasnya terdiam seperti tadi ketika dia datang kekelas, seolah-olah dia adalah orang yang akan mengeluarkan seorang murid dari sekolah kalau mereka tidak melakukan itu. Bukan hanya teman sekelasnya saja, tapi hampir seluruh murid di sekolah ini menjaga jarak dengannya.

Contohnya, ketika Ji-Kyung akan pergi ke kantin, orang-orang dengan sendirinya akan menyingkirkan diri mereka –memberi jalan untuk gadis itu lewat- dan Ji-Kyung tahu kenapa mereka semua melakukan itu, karena dirinya adalah putri dari ketua yayasan di sekolah ini. Hanya karena sebuah status keluarganya,  dia tidak mempunyai teman di sekolah ini, hanya karena sebuah status secara tidak langsung dia dijauhi oleh semua orang di sekolah ini.

Dan hanya karena sebuah status hidupnya tidak bahagia.

Kring~ Kring~

Bel sekolah pertanda jam masuk terdengar dan itu membuyarkan lamunan Ji-Kyung. Gadis itu mengerjapkan matanya beberapa kali dan membetulkan posisi duduknya. Tak lama Park Jungsoo soesangnim –guru fisika mereka- masuk kedalam kelas, semua murid memberi salam setelah itu mengeluarkan buku catatan mereka dari dalam tas masing-masing tanpa disuruh sebelumnya.

“Baiklah anak-anak, sonsaengnim akan membagikan hasil tes kalian minggu lalu.” Suara pembuka guru muda itu membuat aura kelam tersendiri untuk murid-murid yang yang ada di ruangan itu, mereka terlihat cemas dengan hasil tes yang akan mereka dapatkan.

Tidak terkecuali Ji-Kyung, gadis itu sedikitnya merasakan hal yang sama dengan apa yang dirasakan murid-murid lain sekarang. Meskipun sebelumnya dia selalu mendapatkan nilai sempurna disetiap mata pelajaran, tapi entah kenapa sekarang dia merasa takut kalau dia akan mendapatkan nilai yang buruk.

“Bae Suzy..” Jungsoo ssaem terlihat mulai membagikan kertas tes fisika itu, gadis yang dipanggil Bae Suzy itu terlihat bangkit berdiri dan berjalan menghampiri guru fisika itu dan mengambil kertas tesnya.

Beberapa detik kemudian Ji-Kyung bisa melihat Suzy menyunggingkan senyum cerah dan berbisik kearah temannya.

“Aku mendapatkan sembilan puluh.” Kalimat itulah yang tertangkap oleh indera pendengaran Jikyung. Ternyata Suzy~ssi mendapatkan nilai sembilan puluh.

“Kang Daesung.”

Ji-Kyung kembali mengalihkan pandangannya ke depan, begitu Jungsoo ssaem memanggil nama seorang murid lagi.

Kang Daesung…berarti setelah ini namaku dipanggil.

Pria bernama Kang Daesung itu bangkit begitu merasa namanya dipanggil, dia lalu berjalan menghampiri Jungsoo soesangnim dan mengambil kertas tesnya. Tidak seperti Suzy yang tersenyum cerah, kali ini Daesung memperlihatkan ekspresi kecewa dan itu membuat Jikyung mengernyitkan ekspresinya bingung.

Kenapa? Apa nilainya buruk?

Ji-Kyung tetap memperhatikan Daesung sampai laki-laki itu kembali duduk di bangkunya.

“Kenapa mukamu kusut seperti itu? Kau mendapatkan nilai berapa?”  Ji-Kyung bisa mendengar temannya Daesung yang gadis itu ketahui bernama Seungri itu bertanya.

“Aku mendapatkan nilai tiga puluh.”

“Kang Ji-Kyung.”

Bersamaan dengan ucapan Daesung, Jungsoo soesangnim memanggilnya, dengan cepat gadis itu bangkit berjalan menghampiri guru fisika itu dengan perasaan cemas.

***

Gadis itu duduk sendiri di salah satu bangku yang berada didekat jendela di lantai dua di ruangan biologi, menatap lembaran kertas putih yang tercoreti dengan berbagai rumus hasil tulisan tangannya itu dengan  ekspresi yang sangat datar, memandangi angka yang tertulis dengan tinta merah itu lamat-lamat.

Sedikit tidak mempercayai dengan penglihatannya sekarang, berharap angkanya bisa berubah dengan sendirinya. Tapi itu mustahil, seberapa lama pun dia memandangi kertas tes fisika itu tetap saja nilainya tidak akan berubah. Tetap akan tertulis…

‘0’

Ji-Kyung tidak pernah menduga kalau dia akan mendapatkan nilai itu, nilai yang tidak pernah didapatkan gadis itu sebelumnya tapi sekarang dia harus mendapatkannya. Apa yang salah dengan jawabannya? Dia merasa dia mengisi jawabannya dengan benar, tapi kenapa dia harus mendapatkan nilai nol?

‘Kau tidak boleh mengecewakan kami, kau harus jadi yang pertama.’

‘Kau harus menjadi gadis yang sempurna.’

‘Jangan mengecewakan kami.’

‘Jadilah gadis sempurna.’

‘Ingat, sempurna!’

‘Sempurna..’

‘Sempurna..’

‘Sempurna..’

Ji-Kyung menutup kedua matanya, lebih tepatnya menekan kedua matanya kuat-kuat. Berharap dengan itu, suara kedua orang tuanya akan hilang dari pikirannya. Bagaimana kalau mereka sampai mengetahui hal ini? Bagaimana kalau mereka marah?

Bagaimana kalau dia tidak bisa menjadi gadis sempurna yang selalu di inginkan kedua orang tuanya? Bagaimana?

Gadis itu membuka matanya perlahan dan bersamaan dengan itu setetes cairan bening jatuh membasahi pipi putihnya. Dia hanyalah seorang gadis biasa, dia tidak mungkin bisa menjadi gadis sempurna yang selalu mendapatkan nilai bagus, menjadi juara kelas, dan gadis yang tidak akan pernah membuat kedua orang tuanya malu.

Dia hanyalah seorang manusia biasa yang akan melakukan sebuah kesalahan dan mempunyai banyak kekurangan, kenapa orang tuanya harus menuntutnya untuk menjadi sempurna? Kalau saja dia punya sedikit keberanian untuk menanyakan alasan ‘kenapa dia harus menjadi gadis sempurna’ kepada orang tuanya, dia pasti akan melakukannya, tapi sayang dia terlalu takut hanya untuk menanyakan hal itu.

Ji-Kyung hanya bisa diam, mengangguk mengerti dan mematuhi semua perintah  dan tuntutan kedua orang tuanya, karena sebagai putri satu-satunya dari keluarga kaya membuat dia berpikir kalau dia harus berusaha keras menjaga nama baik keluarganya dan tidak membuat mereka berdua kecewa.

Ji-Kyung mengusap air mata di pipinya, dia tidak boleh menangis! Kau akan terlihat lemah kalau kau menangis seperti itu. Sugesti Ji-Kyung pada dirinya, dia lalu melipat kertas tes itu menjadi sebuah pesawat, membuka jendela dan menerbangkannya begitu saja keluar. Berharap dengan begitu kertas yang dia lipat membentuk pesawat itu akan terbang jauh.

***

“Kau harus bertanggung jawab Kai, karena kau aku harus mendapat hukuman juga!” Dengus Young-Geun, memasukan bola basket terakhir yang berhasil dibersihkannya. Dia lalu bangkit meregangkan kedua lengannya yang terasa pegal karena terlalu lama mengelap bola.

“Kenapa aku harus bertanggung jawab? Aku tidak memintamu untuk membangunkanku tadi.” Sahut Kai tidak terima, memasukan bola terakhir yang berhasil dibersihkannya kedalam keranjang, “Fuih~ akhirnya selesai juga.” Lanjut pria itu, mengelap keringat yang menetes di keningnya.

Young-Geun berdecak keras, sepertinya gadis itu masih sangat kesal. Siapa yang tidak akan merasa kesal, setelah berhasil membangunkan Kai dari tidur berlebihannya itu –menurut Young-Geun- gadis itu harus merelakan telinganya mendengar ceramah panjang lebar dari Jang soesangnim –guru yang terkenal di seantero sekolah akan kedisiplinannya itu- dan gadis itu tidak habis pikir kenapa mereka harus terlambat di hari Jang soesangnim mengajar dikelas mereka.

Dan setelah ceramah panjang lebarnya itu, Jang soesangnim terlihat masih belum puas dan akhirnya memberikan detensi dengan menyuruh mereka membersihkan semua bola, bukan hanya bola basket tapi juga bola sepak dan bola volly dan semua itu jumlahnya tidak bisa dibilang sedikit.

Yang lebih parahnya lagi mereka harus membersihkan bola-bola itu di lapangan basket outdoor di tengah panasnya sinar matahari dan mereka baru menyelesaikan detensinya sekarang, ketika waktu sudah menunjukan pukul empat sore.

Sudah berapa lama mereka ada disana?

“…Karena..” Aku peduli padamu.

“Karena?” Kai terlihat mengangkat sebelah alisnya menunggu kelanjutan ucapan sahabatnya, sahabat yang sudah bersamanya sejak kecil.

“Sudahlah, aku ingin membeli minum. Kau mau?” Tawar Young-Geun mengalihkan pembicaraan, Kai mengangguk cepat sebagai respon.

“Tentu saja, tenggorokanku terasa kering dari tadi.”

Young-Geun mengerucutkan bibirnya mendengar ucapan Kai, gadis tomboy itu lalu berjalan pergi berniat membeli minuman untuk mereka berdua.

Sepeninggalan Young-Geun, Kai menyandarkan tubuhnya di sisi keranjang yang sudah terisi oleh bola yang sudah dibersihkannya bersama Young-Geun. Pria itu kembali mengusap peluh di keningnya, detensi yang diberikan Jang soesangnim benar-benar keterlaluan.

Kai lalu berusaha memejamkan matanya, menunggu sahabatnya itu kembali dan membawakan minuman yang sangat dibutuhkannya sekarang.

Pluk!

Pemuda itu mengernyit begitu merasakan sesuatu jatuh mengenai kepalanya, ia lalu membuka matanya dan mendapati sebuah kertas kapal berada di hadapannya. Pria itu lalu menolehkan kepalanya kekanan dan kiri, mencoba mencari siapa orang yang melemparnya dengan kapal kertas ini. Tapi tidak ada siapa-siapa sejauh matanya memindai(?) mengingat sekarang sudah sore dan murid-murid sudah pulang.

Kai mengalihkan lagi tatapannya pada kapal kertas itu, memiringkan kepalanya untuk meneliti kertas kapal misterius yang tiba-tiba jatuh mengenai kepalanya. Karena penasaran Kai membuka lipatan kertas itu dan dia mengernyit begitu melihat berbagai macam rumus fisika tertulis di kertas itu.

Ia sedikit melebarkan matanya begitu dia melihat angka ‘nol’ terlihat jelas di atasnya, menggunakan tinta merah semakin membuatnya mencolok.

“Kang Ji-Kyung.” Kai membaca nama yang tertera di kertas tes itu, dia lalu mengerutkan alisnya dalam. Sepertinya dia pernah mendengar nama itu, namanya tidak asing di telinganya.

.

.

.

.

.

“Kang Ji-Kyung? Bukankah dia putri dari ketua yayasan sekolah ini dan orang yang menjadi juara umum di sekolah?” Seru Kai, mendekatkan kertas itu untuk melihat lebih jelas nama yang tertulis di atasnya. Kang Ji-Kyung, benar dia tidak salah baca, nama itulah yang tertera di atas kertasnya.

Dengan cepat Kai mengedarkan pandangannya, dan ketika dia mendongak disanalah –diatas, lantai dua lebih tepatnya di ruangan biologi- Kai melihat seorang gadis duduk didekat jendela, menatap datar kesatu arah. Entah apa yang dia tatap.

Kai bangkit, mulai berjalan bermaksud untuk menghampiri gadis itu. Dia tidak mengerti, kenapa kakinya begitu saja berjalan memasuki gedung sekolah, menaiki tangga dan berjalan kearah ruang biologi.

Berhenti begitu dia sampai di depan ruangan itu, ia mengeratkan cengkramannya di kertas tes yang dipegangnya dan perlahan mengulurkan tangannya untuk menarik hendel pintu dan mendorongnya.

Kriet~

Kai mendorong pintu itu pelan, dan yang pertama kali matanya lihat adalah seorang gadis –Ji-Kyung- yang tengah terduduk di sisi jendela, memandang lurus-lurus kesatu arah entah apa objek yang dipandangi gadis itu, pria itu juga tidak mengetahuinya.

Perlahan Kai berjalan menghampiri Ji-Kyung dan berhenti di hadapan gadis itu, sepertinya Ji-Kyung sama sekali tidak menyadari kalau ada orang di ruangan itu selain dirinya.

“Hey..” Panggil Kai, dan pada saat itulah Ji-Kyung menoleh menatap Kai dan sedikit tersentak kaget ketika mendapati seseorang sudah berada di hadapannya. Tapi beberapa detik kemudian Ji-Kyung merubah ekspresinya kembali kesemula –datar- lalu mengangkat sebelah alisnya menatap Kai.

“Ini..,” Kai mengulurkan kertas tes milik Ji-Kyung kehadapan pemiliknya, “…Ini milikmu bukan?” Lanjut pria itu.

Ji-Kyung bergeming, mendongak menatap kertas itu dan Kai secara bergantian, “Bagaimana kau mendapatkannya?”

“Kertas ini terjatuh begitu saja di atas kepalaku.” Sahut Kai singkat, “…Kau mendapatkan nilai nol?” Tambah pria itu, dia masih belum mempercayai. Kang Ji-Kyung, gadis yang terkenal sebagai putri dari ketua yayasan sekolah dan gadis yang terkenal karena menjadi juara umum selama dua tahun terakhir ini……

….Mendapatkan nilai nol?

Sulit dipercaya!

“Bukan urusanmu.” Sahut Ji-Kyung ketus, menyambar kertas tes miliknya dan berjalan pergi.

“Bagaimana kalau orang lain mengetahui ini ya?”

Ji-Kyung menghentikan langkahnya secara spontan ketika mendengar suara pria itu.

“Bagaimana reaksi mereka kalau tahu putri ketua yayasan mendapatkan nilai nol dalam tes fisika?”

Ji-Kyung masih bergeming.

‘Bagaimana kalau mereka tahu?’

Dan jawabannya, Ji-Kyung tidak akan membiarkan mereka tahu.

Ji-Kyung berbalik dengan cepat, berjalan kearah Kai dan berhenti di hadapan pria itu, beberapa detik kemudian gadis itu melakukan hal yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya bahkan di pikirkannya.

Ia baru saja mencium bibir pemuda itu selama beberapa detik dan kemudian melepaskan bibirnya dari bibir Kai dan pergi begitu saja meninggalkan ruangan ini.

Dan bagaimana dengan reaksi Kai?

Selama beberapa saat pemuda itu masih diam mematung dengan mata yang terbelalak kaget, apa yang barusan gadis itu lakukan padanya?

“Kai, ternyata kau disini.”

Kai sedikit terperanjat, tersadar dari rasa keterkejutannya dan menoleh ke sumber suara. Young-Geun mencebikan bibirnya, berjalan kearah pemuda itu dan setelahnya menjitak kepala Kai keras, “Aku mencarimu kemana-mana.” Dengus Young-Geun.

Kai hanya meringis dan mengusap-ngusap kepala yang barusan di jitak Young-Geun dengan kejam, “Maaf.”

“Sudahlah, tapi kenapa kau ada disini? Dan sejak kapan kau suka mengunjungi ruang biologi?” Tanya Young-Geun setengah mengejek, Kai hanya memutar kedua bola matanya dan mengambil sebotol air mineral yang d ipegang oleh Young-Geun lalu meminumnya.

“Itu tidak penting. Ayo pulang, ini sudah sore.” Ajak Kai mengalihkan pembicaraan, pria itu lalu berjalan pergi meninggalkan ruangan itu.

Younggeun terlihat masih bingung, tapi beberapa detik kemudian dia mengangkat kedua bahunya dan berjalan keluar menyusul Kai yang terlihat sudah jauh.

“Tunggu, Kai.” Ujar gadis itu, berusaha mensejajarkan langkahnya dengan langkah besar pria itu. Mereka lalu berjalan beriringan keluar dari gedung sekolah, sebenarnya Young-Geun masih penasaran kenapa Kai bisa ada di ruangan biologi itu. Tidak mungkin kalau Kai sengaja datang kesana, karena sepengetahuannya namja itu tidak begitu menyukai semua hal-hal yang menyangkut biologi dan teman-temannya.

Young-Geun melirik Kai melalui sudut matanya, percuma memaksa Kai untuk memberitahukan alasannya kalau pria itu tidak ingin menjawabnya. Hah~ kalau seperti ini dia terpaksa menelan bulat-bulat rasa penasarannya.

Mereka akhirnya sampai diluar gedung sekolah, tepatnya di halaman parkir dimana motor sport hitam Kai terparkir, Young-Geun kemudian menyipitkan matanya berusaha melihat lebih jelas seseorang yang berada di gerbang sekolah.

“Bukankah itu Kang Ji-Kyung?” Tebak Young-Geun, menunjuk kearah direksi seorang gadis yang terlihat tengah menunggu seseorang di gerbang sekolah.

“Eh?” Kai menoleh dan ikut melihat arah pandang Young-Geun, untuk sesaat dia diam mematung melihat gadis itu. Ingatan tentang mereka yang berciuman –kalau boleh dibilang seperti itu- berputar lagi dalam ingatan pria itu seperti sebuah roll film.

“Tidak biasanya putri ketua yayasan kita pulang sore dari sekolah. Benarkan Kai?” Ujar Young-Geun, meminta persetujuan pria itu. Orang yang ditanya hanya mengerjap, kemudian menoleh kearah gadis itu salah tingkah.

“Kenapa kau ingin tahu sekali sih?” Sahut Kai, walau tidak dipungkiri kalau pandangan matanya masih tertuju kearah gerbang sekolah.

Young-Geun berdecak, “Kau ini, ayo pulang.” Ajak gadis itu, menepuk keras lengan Kai.

Kai meringis sekaligus mengakhiri tatapannya pada gadis itu, dia lalu memakai helm dan menyerahkan helm yang satunya pada Young-Geun. Setelahnya, Kai menaiki motor sportnya, beberapa detik kemudian pria itu bisa merasakan Young-Geun ikut menaiki motornya. Kai menyalakan mesin motornya dan mulai melaju meninggalkan pelataran sekolah.

Entah kenapa Kai menurunkan kecepatan laju motornya ketika dia akan melewati gerbang sekolah. Mereka bertatapan, Kai maupun Ji-Kyung saling bertatapan untuk beberapa saat namun harus berakhir karena Jikyung membuang muka kearah lain dan dengan itu Kai kembali memacu kecepatan motornya meninggalkan sekolah ini.

Sepeninggalan mereka –Kai dan Young-Geun- Ji-Kyung berkali-kali menatap jam di tangan kirinya. Sudah hampir lima belas menit Ji-kyung menunggu disini, tapi supirnya itu tak kunjung datang juga. Dan sudah beberapa kali Jikyung berusaha menghubungi ponsel Go ahjussi, tapi selalu tidak aktif.

Gadis itu memutuskan untuk menunggu, kalau selama lima menit supirnya itu tidak datang kemari dia terpaksa akan menaiki bis walaupun resikonya dia harus berjalan menuju ke halte yang jaraknya lumayan jauh dari sekolah.

***

Kai menghentikan motor sportnya begitu mereka sampai di depan rumah Younggeun.

“Awas saja kalau besok aku datang kerumahmu dan melihatmu masih tertidur nyenyak. Aku benar-benar akan membunuhmu!” Ancam Young-Geun, memberikan helm milik Kai yang di pakainya.

Kai mendecih, “Seperti kau bisa membunuhku saja.” Cibir Kai.

“Ya! Kim Jongin kau benar-benar cari mati denganku.” Sungut Young-Geun kesal, berniat memukul namja itu tapi Kai lebih dulu memegang kedua tangannya.

“Arra, arra, aku tidak akan membuat kita terlambat lagi sahabatku yang cantik.” Sahut Kai mengalah –hanya untuk kali ini- dia lalu melepaskan pegangannya pada tangan Young-Geun dan beralih mengacak rambut gadis itu sambil tersenyum manis –yang menurut Young-Geun itu terlihat aneh-

“Kau terlihat senang sekali.” Kata Young-Geun.

Kai menghentikan gerakan tangannya yang sedang mengacak rambut gadis itu dan juga menurunkan kembali sudut-sudut bibirnya yang tadi melengkung membentuk senyuman.

“Benarkah?”

Young-Geun memutar kedua bola matanya dan berusaha menurunkan tangan Kai dari atas kepalanya, “Seorang Kai jarang sekali memperlihatkan senyumannya dan kau memperlihatkannya sekarang.”

Kai tertegun, benarkah? Dia tidak menyadari kalau dia sedang tersenyum tadi, dia hanya teringat gadis itu dan tindakan tidak terduganya –ciuman mereka- dan kenapa hanya memikirkan itu membuatnya tersenyum?

Entahlah, dia hanya merasa senang. Itu saja.

“Tsk, dari tadi kau ingin tahu sekali urusan orang lain. Sana masuk rumah!” Titah Kai, menggerak-gerakan telapak tangannya. Gerakan yang sering dilakukan ketika ‘mengusir’ seseorang.

“Arraseo!” Sahut Young-Geun setengah kesal, dia kemudian berbalik dan berjalan masuk ke dalam rumahnya.

Setelah memastikan Young-Geun sudah masuk kedalam rumahnya, Kai menggelengkan kepalanya beberapa kali, “Sepertinya aku sudah mulai gila.” Gumamnya pada dirinya sendiri, setelah itu dia mulai menyalakan motornya kembali dan melaju pergi menuju ke rumahnya yang hanya beberapa blok dari rumah Young-Geun.

***

“Aku pulang..” Seru Ji-Kyung pelan, menutup kembali pintu rumahnya. Dia terpaksa menaiki bis untuk pulang, karena setelah dia menunggu selama lima menit Go ahjussi masih belum juga datang menjemputnya. Karena menaiki bis, dia jadi semakin terlambat sampai rumah.

“Dari mana saja kau?”

Ji-Kyung menghentikan langkahnya hendak menaiki tangga menuju ke kamarnya ketika dia mendengar suara ibunya bertanya. Ji-kyung menoleh dan menatap ibunya, disana ibu bersama ayahnya tengah duduk di salah satu sofa dan menatapnya tajam.

“Aku…” Ji-Kyung kehilangan kata-katanya, dia tidak tahu jawaban apa yang harus diberikannya pada orang tuanya.

“Tidak biasanya kau pulang setelat ini, apa sesuatu terjadi di sekolah?” Kali ini suara ayahnya yang menimpali.

“…..” Jikyung tidak bergeming, dia hanya menunduk dan meremas kedua tangannya. Dia takut, ya dia takut pada orang tuanya dia akui itu.

“Kau tidak membuat masalahkan di sekolah?” Tanya ibunya, semakin membuat gadis itu tersudut.

Ji-Kyung mendongak dan takut-takut menatap kedua orang tuanya, “T-tidak oemma.” Jawab gadis itu pelan.

Tidak ada suara setelahnya dan itu membuat Ji-Kyung semakin takut. Apa orang tuanya mengetahui tentang nilai tes fisikanya? Bisa saja kan Jungsoo soesangnim memberitahukan tentang nilainya pada ayahnya yang notabene adalah ketua yayasan di sekolahnya itu.

“Pergi ke kamar, ganti bajumu setelah itu belajar.” Titah ibunya tegas, Ji-Kyung menghembuskan napas lega secara tidak kentara. Jungsoo ssaem ternyata tidak memberitahukan nilainya pada ayahnya.

Gadis itu mengangguk kemudian membungkukan badannya kearah ayah dan ibunya setelah itu bergegas menaiki tangga menuju ke kamarnya. Setelah masuk ke dalam, Ji-Kyung menutup pintu kamarnya pelan dan menjatuhkan dirinya dibalik pintu.

Dia tersenyum miris, disaat orang tua lain menyambut kepulangan anaknya dengan senyuman cerah, orang tuanya menyambutnya dengan tatapan tajam hanya karena dia pulang terlambat. Disaat orang tua lain menyuruh anaknya untuk segera makan, orang tuanya menyuruhnya untuk segera belajar.

Menuntutnya untuk menjadi seorang yang sempurna dan selalu menjadi orang yang pertama. Ji-Kyung iri pada gadis seusianya yang mempunyai orang tua yang selalu menyayanginya secara tulus, rasanya dia rela menukarkan semua fasilitas dan status keluarga yang di milikinya. Dia rela menukarkan semua itu dengan sebuah…

….kehangatan keluarga.

Kadang Ji-Kyung berpikir, seperti apa rasanya sebuah kehangatan keluarga, seperti apa rasanya ketika ayah dan ibunya tersenyum tulus padanya. Dia hanya ingin merasakan itu, apa itu sebuah permintaan yang sulit?

Gadis itu menyusut air mata di pipinya, yang entah sejak kapan jatuh. Bangkit berdiri dan mulai membuka buku apa saja yang harus dibacanya. Kalau orang tuanya menginginkannya untuk belajar dan menjadi gadis yang sempurna, dia akan melakukannya. Dia akan terus belajar, belajar dan belajar sampai orang tuanya puas padanya kalau itu mampu membuat mereka memberikan sebuah kehangatan dan kasih sayang sebuah keluarga untuknya.

-To be Continue-

.

.

.

Author’s note:

Seperti biasa gaje. ._. terus kayaknya judul sama ceritanya kagak nyambung ya? Bodo ah, pusing nyari judul dan yang terlintas dipikiran aku ya judul ini. :p sebenernya bias aku di EXO itu Kris dan kenapa aku malah jadiin Kai main cast? Bodo~ suka-suka author. Oh~ya, kayaknya partnya gk bakal banyak-banyak paling juga sampe lima atau paling banyak sampe tujuh. Kayaknya segitu aja bacotannya, dan sekarang waktunya untuk…

Komen~

Komen~

Komen~

94 responses to “Lucky – Part 1

  1. aigooo kasian. orang tuanya terlalu keras bagus sih caranya tapi gak gtu juga kali. ekhem sepertinya kai mulai gila haha

  2. orang tua nya terlalu keras. Bisa-bisa Ji Kyung stress kalo belajar terus, oiya kenapa Ji Kyung dapet nilai 0 ? ada masalah apaa? huaa ini seruuu

  3. Emang sih hidup lebih dr cukup itu enak tp kalau efeknya kek Jikyung, yaaa mending hidup sederhana tp bahagia 🙂

  4. Pingback: Rekomendasi FF EXO School Life Part 1 | zeunbae·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s