THE PORTAL [ Part 6 : Faithfulness ]

The Portal new

Title :

The Portal

 

Author : Citra Pertiwi Putri ( @CitraTiwie )

 

Main Cast :

– A Pink’s Jung Eunji / Jung Hyerim as The Princess of Junghwa Kingdom

– INFINITE’s Lee Howon / Hoya as The Bodyguard

– A Pink’s Son Naeun / Son Yeoshin as the Good Witch

– INFINITE’s Kim Myungsoo / L as the Bad Witch

 

Genre : Fantasy, Romance, Friendship, and little bit Comedy (soon)

 

Other Casts :

– CNBlue’s Jung Yonghwa as The King / Eunji’s Father

– SNSD’s Seo Joohyun as The Queen / Eunji’s Mother

– BAP’s Jung Daehyun as The First Prince / Eunji’s brother

– F(x)’s Jung Soojung / Krystal as The Second Princess / Eunji’s sister

– BtoB’s Jung Ilhoon as The Second Prince / Eunji’s Brother

– SNSD’s Lee Soonkyu / Sunny as The Palace’s Witch

– EXO’s Kim Jongin / Kai as Myungsoo’s brother

– EXO’s Do Kyungsoo / D.O as an ordinary boy

– EXO’s Byun Baekhyun as the Prince in another Kingdom

– A Pink’s Yoon Bomi as Eunji’s foster sister

– B2ST’s Yoon Doojoon & 4Minute’s Heo Gayoon as Eunji’s foster parents

– INFINITE’s Nam Woohyun as Naeun’s foster brother

– INFINITE’s Lee Sungyeol as Myungsoo’s best friend

– B2ST’s Son Dongwoon as Naeun’s Brother

– B.E.G’s Son Gain as Naeun’s Sister

– SNSD’s Kim Hyoyeon as the most mysterious witch in Junghwa

– A Pink’s Kim Namjoo as Hyoyeon’s foster daughter

 

Rating : PG15 – NC17

Type : Chaptered

 

Before Story :

Pada akhirnya, dengan cara dan peran masing-masing, Myungsoo dan Howon berhasil menemui kedua gadis yang menjadi tujuan mereka memasuki portal menuju dunia nyata, Naeun dan Eunji. Kini keempat remaja yang berasal dari negeri kerajaan itu bersekolah dan bertempat tinggal di asrama yang sama.

Ditengah kegalauannya karena Eunji mulai didekati oleh D.O, seniornya di kelas musik, Howon alias Jiwon mulai menyadari popularitas yang ia terima semenjak mengikuti audisi Seoul Dance Competition dan dikenal sebagai Hoya. Ia baru menyadari meski baru memasuki tahap audisi, sudah banyak yang mengenalnya bahkan memutuskan untuk menjadi penggemarnya. Termasuk Bomi, teman sekamarnya yang notabene membencinya (sebagai Jiwon).

L, yang harus berperan sebagai Myungsoo, selain bertemu dengan kedua orang yang harus ia anggap sebagai sahabat -Chorong dan Sungyeol-, ia juga harus berhadapan dengan saingannya di sekolah, yakni Woohyun. Masalah baru akan ia hadapi setelah Woohyun mengajaknya taruhan untuk menentukan siapa yang pantas menduduki jabatan President School, terlebih taruhan itu melibatkan istrinya, Naeun. Karena apabila gadis itu memanggil Woohyun atau Myungsoo dengan sebutan ‘oppa’, maka yang mendapatkan panggilan tersebut terlebih dulu adalah pemenangnya dan berhak menjadi president school.

Pada awalnya, L merasa optimis karena ia berhasil mendapatkan kepercayaan dari Naeun. Namun dendamnya mulai tumbuh ketika ia merasa ada sesuatu diantara Naeun dan ‘adik’nya, Kai. Maka tak heran jika L merasa sulit memperlakukan Kai selayaknya Myungsoo yang asli.

L pun harus mati-matian menahan sikap temperamennya ketika ia tahu Woohyun menjalankan misinya dengan terang-terangan.

Saingannya itu ikut mendekati Naeun.

 

Selengkapnya :

Part 1 : I Hate My Life

Part 2 : Big Decision

Part 3A : I Will Find You

Part 3B : You Will Find Me

Part 4 : Another Me

Part 5 : Over Protective?

 

NB : Late update? I’m so sorry 😦 semoga masih pada inget ceritanya yaa ^^

***

 

Part 6 >> Faithfulness *karena update lama, part ini panjang sekali. Happy reading!*

 

Author POV

05.00 AM

 

“ Buletin baru.. buletin baru~”

 

Pagi itu dengan jalan yang masih sempoyongan karena baru bangun tidur, Kai nampak berkeliling asrama sembari melempar buletin mingguan Junghwa High School yang ada di tangannya ke pintu-pintu kamar. Ini pertama kalinya ia menjadi loper buletin di sekolahnya, menggantikan Myungsoo. Biasanya, kakaknya itulah yang membagikan buletin-buletin tersebut ke setiap kamar untuk mendapatkan upah dari kepala sekolah.

Meski kini ‘Myungsoo’ sudah kembali, Kai tetap mengambil alih pekerjaan ini. Ia yakin penyihir jahat itu tidak mau melakukan pekerjaan semacam ini, harus bangun di pagi buta setiap hari selasa, berkeliling sampai kaki pegal sembari membawa tumpukan buletin untuk dilemparkan ke setiap pintu kamar asrama. Keuntungannya hanya ada dua, selain mendapat upah dari kepala sekolah, sang loper buletin juga bisa bebas memasuki asrama putri. Tetapi keuntungan yang kedua sama sekali tak berpengaruh bagi Kai, tujuannya memasuki asrama putri hanya untuk membagikan buletin karena tak ada siswi yang menjadi sasarannya, lelaki itu tak punya waktu untuk memikirkan perempuan.

Lelaki itu kini berada di asrama putri, berkeliling dan baru saja tiba di lantai enam dengan terengah-engah karena terpaksa menaiki tangga darurat sebab lift asrama putri sedang rusak. ­Berkali-kali ia menghapus peluh yang sudah bercucuran dari kening gelapnya, ternyata pekerjaan mendiang kakaknya yang satu ini betul-betul melelahkan.

 

“ Buletin baruuu~”

PLEK!!

“ Aw!”

“ Eh?” Kai terkejut karena satu lemparan buletinnya sepertinya mengenai kepala seseorang, seorang gadis tepatnya -karena ini asrama putri-, lelaki itu langsung bersembunyi di balik pot besar yang terletak di depan koridor. Matanya berjaga-jaga sekaligus ingin mencari tahu siapa gerangan yang sudah terkena lemparannya.

 

“ Heh! Siapa yang melempar ini!?” seorang gadis berponi dengan gaya preman melempar pandangan ke setiap sudut koridor.

Kai terdiam menatapnya, matanya tak berkedip. Bahkan ia tak bergeming ketika gadis itu semakin mendekati tempat persembunyiannya.

“…ya! jadi kau!?”

“ Hoh?” Kai melongo, pasrah beribu pasrah saat sang gadis akhirnya menemukannya. Ia berdiri dan masih tetap pada aksi bengongnya.

“ Kau! Kau yang melempar ini kan!?” gadis itu menunjukkan satu gulung buletin didepannya, dengan mudahnya Kai mengangguk dan..mehe-mehe ._.

“ I..iya. hehe.”

Gadis itu menaikkan sebelah alisnya, heran.

“ Naeun bilang lelaki bernama Kai ini sangat dingin dan pendiam, tapi mengapa sekarang dia memasang ekspresi seperti ini didepanku?”

“ Lain kali hati-hati! Kena kepalaku, tahu!” gadis itu menegur, merasa risih ditatap dengan aneh oleh lelaki yang sering disebut-sebut dekil itu.

Kai mengangguk buru-buru, “ Kukira.. belum ada yang bangun jam segini..”

“ Memang. Hanya saja mulai hari ini dan seterusnya aku akan selalu bangun jam segini, daripada terlambat gara-gara rebutan kamar mandi dengan teman sekamarku.”gadis itu sedikit curhat,

“…dan karena aku bingung harus berbuat apa kalau sudah siap begini, aku jalan-jalan saja keliling asrama sambil menunggu ruang makan buka, hehe.”sambung gadis itu.

Kai mengangguk-angguk tanda mengerti.

“…eh, kenapa aku jadi curhat padamu? Haha. Ya sudahlah, aku mau pergi. ambil ini.”gadis itu menyerahkan buletin yang ia pegang pada Kai.

“ Ehh.. itu milikmu. Setiap selasa tiap kamar memang dapat satu buletin.”jawab Kai.

“ Ooh, begitu..” gadis itu mengangguk mengerti, ia pun membuka gulungan buletinnya dan membaca berita yang ada disana.

 

JUNGHWA BOARDING HIGH SCHOOL’S HEADLINE NEWS

 

Vice President School Junghwa High School, Nam Woohyun, umumkan bahwa ia akan mengangkat siswi Son Naeun sebagai adiknya!

 

Belum selesai berita besar tentang kembalinya President School Junghwa High School, Kim Myungsoo. Kini sekolah kita kembali mendapat berita yang cukup mengejutkan.

Nam Woohyun, wakil President School mengumumkan bahwa ia akan menjadikan siswi bernama Son Naeun sebagai adik angkatnya!

Son Naeun adalah siswi kelas 10 yang masih menjadi peserta ospek sekolah. Berdasarkan pengumuman yang Woohyun sampaikan di website resmi Junghwa High School dini hari, Woohyun mengatakan bahwa Naeun adalah sosok perempuan yang sangat tepat untuk dijadikan seorang adik.

Bahkan dengan nekat, Woohyun mengungkapkan bahwa ia akan memberi Naeun perlakuan khusus dibanding hoobaenim yang lain!

Hari ini, wartawan buletin akan mencoba meminta keterangan dari siswi Son Naeun. Apakah ia benar-benar diangkat menjadi adik dari vice president school kita? jika benar, maka bisa dipastikan ia akan sangat beruntung, karena itu artinya ia akan menjadi anggota keluarga Nam, keluarga terkaya di Korea Selatan.

 

“ ASTAGA!! APA INI!!!??” gadis itu terkejut bukan main membaca berita tersebut, sama halnya dengan Kai. Kalau bukan karena gadis itu mungkin ia tak akan membaca isi buletin yang sejak tadi ia lempar ke setiap pintu kamar.

“…Naeun, mengapa ia tidak bilang padaku soal ini?!” gadis itu nampak gusar, merasa tidak rela Naeun diadopsi seenaknya tanpa diskusi dengannya dulu.

“ Memangnya kenapa dia harus bilang padamu?”tanya Kai kepo.

“ Dia sahabatku.”jawab gadis itu lemas, ia mengacak-acak rambut berponinya yang padahal sudah tersisir rapi.

“…terimakasih buletinnya, aku harus pergi.”gadis itu membungkukkan badannya pada Kai, lalu melangkahkan kakinya menuju tangga.

“ Ya. eh.. hei!” Kai memanggilnya.

“ Apa lagi?”gadis itu berhenti sejenak dan berbalik.

“ Ng.. siapa namamu?”

Gadis itu tersenyum tipis.

 

“ Jung Eunji.”

***

 

Sshh..fiuh~

 

Gumpalan asap mengepul dengan tebalnya di halaman belakang asrama putra yang masih gelap pagi buta itu. Tak hanya gelap, udara dingin pun menusuk tulang.

Seorang lelaki yang sudah berseragam lengkap dan bersandar di tembok halaman kini menyalakan rokoknya yang ketiga, sesekali berjaga-jaga jika gadis yang ditunggunya datang.

L -atau Kim Myungsoo-, lelaki itu. Ia tengah menanti Naeun yang sudah berjanji hendak mengobati cederanya pagi ini karena nanti sore ia akan duel basket dengan Woohyun. Dan mereka sepakat untuk melakukan pengobatan di pagi buta secara mendadak karena hari ini Naeun tidak sekolah, gadis itu terpaksa izin karena seragamnya terbakar dan tak bisa dipakai, semalam ia tak jadi membeli seragam karena Woohyun mengajaknya berbicara terlalu lama.

 

Sembari menghisap batang tembakaunya, Myungsoo membolak-balik buletin yang ia dapatkan di depan pintu saat keluar kamar. Wajah tampannya menyunggingkan senyum sinis bercampur remeh ketika melihat berita utamanya. Woohyun terlalu ambisius mengalahkannya sampai-sampai harus mengangkat Naeun sebagai adiknya hanya untuk mendapatkan sebutan ‘oppa’ dari gadis itu.

Yah, sebenarnya Myungsoo bisa bernafas lega karena setidaknya Woohyun tidak memacari Naeun. Jabatan president school sama sekali bukan hal yang Myungsoo kejar. Tak masalah jika Woohyun memenangkan jabatan itu, yang menjadi urusan Myungsoo sekarang adalah mengawasi perlakuan Woohyun terhadap Naeun. Jika Woohyun tidak memperlakukan Naeun selayaknya seorang adik, Myungsoo bersumpah akan menghabisinya sampai mati.

 

“ Mianhae. sudah menunggu lama, sunbae?”

“ Aigo! Ehk!”

 

Myungsoo terkejut dan tersedak asap rokoknya sendiri. Lelaki itu buru-buru membuang batang tembakau itu lalu menginjaknya kuat-kuat.

Sial, mengapa ia tidak tahu Naeun muncul tiba-tiba? Biasanya ia sudah bisa menyadari keberadaan Naeun dalam jarak beberapa meter. Entah, barangkali karena terlalu asyik merokok. Myungsoo memang tak bisa bebas menikmati batang tembakaunya seperti dulu setelah memutuskan untuk menjadi lelaki baik-baik.

Naeun meletakkan tas kecilnya di atas rerumputan lalu duduk disana, ia mengangguk kecil tanda meminta Myungsoo untuk duduk didepannya.

Dengan sedikit salah tingkah, lelaki itu menurut. Lalu memperhatikan beberapa cairan obat milik Naeun yang diyakininya sudah dicampur berbagai jenis ramuan oleh gadis itu.

“ Ng.. aku mencium asap rokok.” Naeun sedikit mengendus dengan polosnya, “…sunbae..merokok?”

“ Hah? T..tidak!” Myungsoo buru-buru menjawab, “…tidak ada asap rokok. Aku tidak menciumnya.”

“ Hm.. mungkin hanya perasaanku saja ya. syukurlah kalau sunbae tidak merokok.” Naeun tersenyum kecil, senang karena Myungsoo tak sama seperti L, suaminya yang suka merokok bahkan mabuk-mabukan.

“ Ehm, aku lupa mengatakan sesuatu padamu.” Myungsoo mengalihkan pembicaraan.

“ Sesuatu? Apa?”

“ Selamat Pagi.”

“ Ooh..” gadis itu tertawa kecil, “…selamat pagi juga, sunbae.”

“ Bagaimana tidurmu semalam? Mimpi indah?”

Naeun tertawa lagi, tak menyangka Myungsoo begitu perhatian padanya hingga hal sekecil itu saja dipertanyakan.

“ Ng.. haruskah aku menjawab jujur?”

“ Tentu saja. Kecuali kau tega membohongi seniormu.”

“ Hahaha, baiklah.. semalam tidurku tidak begitu nyenyak.”

“ Benarkah? Kalau begitu sama denganku.”

“ Oh ya? mengapa sunbae juga tidak nyenyak tidurnya?”

“ Kau mau tahu?”

“ Tentu saja!”

“ Aku memikirkan seseorang.”

“ Oh ya? ng.. siapa?”

“ Seseorang yang baru saja aku kenal, tetapi udara dingin berhasil membuat aku dan dia berpelukan.”

Wajah Naeun mendadak bersemu merah, ia kira Myungsoo tidak lagi mengingat-ngingat hal bodoh itu. Naeun benar-benar merasa seperti perempuan murahan semalam, hanya karena ketampanan Myungsoo yang menyerupai L, gadis itu pasrah saja dipeluk bahkan hampir dicium. Sayang, Woohyun menghancurkan semuanya.

“ Untuk apa kau memikirkan..aku?” tanya Naeun pelan.

“ Aku penasaran setengah mati dengan apa yang Woohyun bicarakan padamu. Tapi kurasa aku sudah menemukan jawabannya.” Myungsoo meletakkan buletin yang ia pegang diatas paha Naeun.

“…jadi itu yang dia bicarakan padamu semalam?” Myungsoo berbasa-basi, membuat Naeun merasa tak nyaman karena hal itu dibahas.

“ Aku mengambil tempat disini agar aku bisa menghindari wartawan sekolah yang akan menanyaiku tentang hal itu. Jadi kumohon, sunbae. Jangan dibahas.” Naeun menjawab dengan sedikit kesal.

“ Kalau aku ternyata adalah wartawan sekolah, bagaimana?”

“ Mwo? jadi sunbae adalah wartawan sekolah?”

“ Hahaha..” Myungsoo tertawa kecil dan mengacak-acak rambut indah Naeun, “…tidak, aku bercanda. Aku senang menggodamu, kau terlihat lucu kalau sudah panik.”

“ Ah..” Naeun tersenyum malu, wajahnya mendadak bersemu merah.

“…sudahlah, aku ingin mengobati luka sunbae sekarang.”gadis itu mengalihkan pembicaraan, ia mempersiapkan beberapa cairan obat yang sudah ia campur dengan ramuan yang ia buat secara rahasia kemarin malam, ramuan yang ia jamin bisa menyembuhkan cedera Myungsoo agar kakak kelasnya itu bisa mengimbangi Woohyun saat duel nanti sore.

“ Apapun keputusanmu. Aku mendukungnya, asal itu terbaik untukmu.”

Naeun yang sudah mulai mengobati luka Myungsoo pun tersenyum, “ Terimakasih, sunbae.”

“ Asal berjanjilah padaku satu hal.”

“ Berjanji..apa?”

“ Karena aku tidak bisa melarangmu untuk terlalu dekat dengan Woohyun, jadi aku hanya memintamu berjanji untuk tetap dekat denganku. Meski aku yakin jika sudah menjadi adik Woohyun, kau pasti lebih dekat dengannya daripada denganku.”

Naeun mengangguk cepat, “ Aku janji, sunbae. Mau jadi adik Woohyun sunbae atau tidak, aku tak akan pernah berniat menjauhi sunbae. Asal sunbae juga berjanji satu hal padaku.”

“ Baiklah, janji apa?”

“ Berjanjilah untuk membuat Kai tersenyum lagi. Sunbae kan sudah kembali, seharusnya Kai sudah bisa ceria, kan?”

Myungsoo terdiam sejenak. Mengumpat dalam hatinya ‘mengapa Naeun begitu perhatian pada anak dekil itu?’

“ B..baiklah. itu memang sudah kewajibanku sebagai seorang kakak.”jawab Myungsoo seadanya, “…sunbae rasa.. kau punya perhatian khusus pada adikku itu. Kau menyukainya?”

“ Aku tidak tahu.” Naeun menunduk malu. Perasaannya memang masih abu-abu. Perhatian dan kebaikan Myungsoo membuatnya ragu menentukan pilihan hatinya. Pesona Myungsoo sulit ditolak, apalagi lelaki itu jauh lebih ramah ketimbang Kai yang lebih terkesan kurang ajar pada siapapun. Mungkin jika orang lain yang berada di posisi Naeun, mereka akan lebih memilih menyukai Myungsoo.

Tetapi hati Naeun berkata lain. Kai dan segala keburukannya mendapatkan tempat tersendiri dalam hati gadis itu, entah apa alasannya.

Apa ini yang disebut cinta yang sesungguhnya? Dimana Naeun tak tahu apa alasannya tertarik pada Kai.

 

Mungkin. Karena cinta tak bersyarat, muncul dan berjalan alami tanpa alasan.

***

 

06.15 AM

 

“ Hei, kita bertemu lagi!”

Eunji menoleh, dilihatnya sosok loper buletin yang ditemuinya kurang lebih sejam yang lalu di koridor asrama. Lelaki berkulit eksotis itu nampak telah rapi dengan seragamnya, kedua tangannya memegang satu nampan berisi sarapan pagi.

“…boleh aku duduk disini?”

Sekarang wajah Eunji nampak heran, “ Kau tidak lihat di ruang makan ini ada ratusan kursi yang menganggur? Baru sedikit yang datang..”

“ Aku tahu.. tapi aku ingin disini.”jawab Kai, lelaki itu. Bahkan tanpa meminta persetujuan lagi, ia duduk disamping Eunji, membuat gadis itu sedikit menggeser duduk dan nampan makanan miliknya untuk memberi tempat.

“ Kau tidak dengan hyungmu?” tanya Eunji bingung.

“ Myungsoo hyung? Tadi aku sempat menyusul dia ke kamarnya, tapi dia sudah tidak ada. Mungkin ada urusan sendiri.”

“ Memangnya dia kemana?”

Kai mengangkat bahunya, “ Bahkan Sungyeol sunbae pun tidak ada. Jadi aku tidak bisa tanya siapa-siapa kemana Myungsoo hyung pergi.”

“ Ooh, begitu.”

“ Kau..sendirian saja?”

“ Aku sebenarnya sedang menunggu Jiwon, Bomi, atau Naeun. Tapi Jiwon dan Bomi sepertinya masih di asrama. Mereka pasti bertengkar lagi, entah itu rebutan kamar mandi atau beres-beres kamar. Mereka tidak pernah akur..” Eunji sedikit mengeluh, “…dan Naeun, tadi aku ke kamarnya tapi kata Chorong sunbae dia pergi entah kemana. Padahal katanya hari ini dia izin tidak sekolah karena seragamnya terbakar.”

“ Mwo? seragamnya terbakar? Bagaimana bisa?”

“ Chorong sunbae bilang semalam koper Naeun terbakar, tapi apinya tidak tahu berasal dari mana.”

“ Hah? Aneh..”

Eunji mengangguk saja, ia masih rungsing. Ia benar-benar ingin meminta keterangan dari Naeun mengapa sahabatnya itu sampai-sampai ingin diangkat menjadi adik oleh Woohyun.

“ Hei, sarapan. Jam tujuh kita sudah harus baris di lapangan.” Kai memecah lamunan Eunji, heran karena gadis itu tak juga menyentuh sarapan paginya yang sudah mulai dingin.

“ Kau saja dulu. Aku sedang tidak nafsu.”

“ Ya! jangan begitu, nanti kau sakit.”

Eunji hanya tersenyum tipis. Mengapa Kai begitu berbeda? Eunji yakin lelaki itu tak pernah sebaik ini pada orang lain selain dirinya. Apa lelaki itu punya kepribadian ganda? Entahlah. Tetapi hal ini membuat Eunji jadi sedikit takut.

 

“ Annyeong, Jung Eunji. Selamat Pagi.. Rajin sekali jam segini sudah datang.”

“ Nde, sunbae. Annyeong haseyo..”

Setelah Kai, seseorang kembali menyapa Eunji hari itu, suaranya tak kalah ramah bahkan senyumannya yang begitu manis membuat Eunji sedikit melupakan kerisauannya.

D.O, sang sunbae yang kemarin merekrutnya kedalam ekskul musik. Lelaki itu mengambil tempat disebelah Eunji. Membuat gadis itu akhirnya diapit oleh dua lelaki -Kai dan D.O-.

Eunji sedikit risih namun ia berusaha untuk tetap ramah. Sedangkan Kai sudah menampakkan wajah kesalnya yang begitu kentara ketika D.O seperti mengabaikan keberadaannya di meja makan

“ Hari ini akan ada kegiatan apa, sunbae?”tanya Eunji berbasa-basi.

“ Hari ini kalian akan memilih ekskul dan melaksanakan tes untuk masuk ekskulnya. Tapi kau kan sudah kemarin, jadi hari ini kau bisa santai saja. Besok juga sudah penutupan MOS kok.”jelas D.O.

“ Ah, syukurlah. Tapi.. aku masih bisa memilih ekskul yang lain kan?”

“ Tentu saja. Setiap siswa maksimal mengikuti tiga ekskul.”

“ Wah. Bagus kalau begitu. Aku ingin ikut klub sepakbola!”

EHEK! EHEK!

Sontak Kai dan D.O tersedak sarapan yang sedang mereka santap.

“ Sepakbola? Kau serius?!” tanya Kai tak habis pikir.

“ Tentu saja. Memang kenapa?”tanya Eunji yang juga tak habis pikir mengapa kedua lelaki itu sampai tersedak mendengar perkataannya barusan.

“ Tapi tidak ada tim sepakbola putri di sekolah ini.”jawab D.O, “…lebih baik kau pilih ekskul yang…..”

“ Aku masuk tim putra saja. Beres.”potong Eunji. membuat D.O dan Kai geleng-geleng kepala.

 

PRANG!

“ Eh!” ketiga orang yang duduk di bangku meja makan itu mendadak terkejut ketika mendapati seorang ‘gadis’ datang bergabung dan duduk di hadapan mereka, meletakkan nampan makanannya dengan sedikit keras.

Jiwon, dengan wajah sebal ia menatap kedua lelaki yang seenaknya mendekati Tuan Putrinya. Atau lebih tepat lagi, kekasihnya. Namun sebagai seorang perempuan, ia berusaha untuk bersikap sewajarnya.

“ Hai. Akhirnya kau datang..” Eunji tersenyum lega karena akhirnya ada juga ‘sesama perempuan’ yang datang menemaninya, “…mana Bomi?”

“ Bomi masih di asrama, aku meninggalkannya.”jawab Jiwon.

“ Hah, sudah kuduga..” Eunji geleng-geleng kepala, “…ya sudahlah, sarapan.”

“ Kelihatannya kau sendiri belum menyentuh makananmu.” Jiwon melirik nampan makanan Eunji yang masih utuh.

“ Aku sedang tidak nafsu.”

“ Ya! jangan begitu. Kau mau kelaparan ya?” Jiwon protes. Tentu karena ia mengkhawatirkan kesehatan Eunji. Tanpa izin ia mengambil alih makanan Eunji, menyendoknya lalu mengarahkannya ke bibir kecil Eunji yang masih terkatup rapat.

“…buka mulutmu.”titah Jiwon, membuat Eunji terkejut. Tak hanya Eunji, tetapi juga D.O dan Kai yang sudah asyik sarapan duluan sejak tadi.

“ Eh.. t..tidak usah. Aku bisa sendiri.” Eunji malu. Baru kali ini ada yang mau menyuapinya. Naeun yang notabene sahabat terdekatnya saja tidak pernah menyuapinya makan.

“ Aku tidak percaya. Cepat buka mulutmuuu~ Menu makan siang nanti belum tentu seenak ini lho.” Jiwon mendesak, akhirnya Eunji membuka mulutnya dan mulai menikmati sarapan paginya dengan suapan Jiwon.

“ He, Kau yakin? Tim sepakbola putra sekolah ini benar-benar tim yang diperhitungkan. Mereka tim yang sangat kuat dan sering menang di pertandingan luar. Memangnya kau bisa mengimbangi kekuatan mereka?” D.O kembali membuka pembicaraan.

“ Sunbae meragukan aku?”Eunji kesal.

“ Kau mau masuk tim sepakbola?” tanya Jiwon tak percaya, Eunji mengangguk dengan semangat.

“ Hah? Yang benar?? Apa tidak ada ekskul yang lain?”

“ Ada sih, tapi aku pilih itu. memangnya kenapa sih? Kenapa kalian semua sepertinya meragukan aku?” Eunji semakin sebal, “…pokoknya aku tetap masuk ekskul itu. kalau mau ada tes, aku siap!”

“ Kenapa ngotot sekali?” tanya Jiwon tak habis pikir. Ternyata sifat tomboy putri kerajaan Junghwa ini tak juga hilang dan terbawa sampai ke dunia nyata.

“ Aku ingin sekali ikut sepakbola karena..” Eunji menundukkan kepalanya, nampak sedih karena sedang mengingat sesuatu.

 

“…aku.. punya memori tersendiri dengan olahraga itu..”

 

Jiwon terdiam, ia tahu Eunji mengingatnya. Mengingat Howon. Mengingat pertemuan pertama mereka dahulu, mengingat saat dimana Howon mengajarinya bermain sepakbola bersama hingga berujung pada ciuman pertama mereka yang tak disengaja.

Ya, Eunji mengingat semua itu dengan jelas, sama halnya dengan Jiwon.

“ Sepertinya memori itu sangat berarti ya bagimu, sampai-sampai kau mengotot ingin ikut.”ucap Jiwon sengaja.

“ Ya. sangat sangat berarti.”jawab Eunji pelan, kemudian menghapus titik-titik air yang mulai keluar dari matanya. Ia harus kuat, ia tak mengizinkan dirinya untuk menangis.

 “ Kalau begitu aku ikut sepakbola juga ah!” Kai buka suara, membuat D.O dan Jiwon mendadak jengkel.

“ Heh, kau punya basic?” D.O mencoba menjatuhkan karena tak terima.

“ Tidak. Tapi aku akan berlatih!”

“ Kenapa tiba-tiba ingin ikut sepakbola juga?” tanya Jiwon sinis, merasa Eunji terancam jika Kai ikut-ikutan.

“ Mungkin saja aku bisa mengembalikan memorinya.” Kai melirik Eunji sekilas, membuat gadis itu tertawa kecil.

 

Jiwon meremas sendok dan garpunya kuat-kuat, mengumpat dalam hatinya.

“ Tak akan kubiarkan kau mendekati kekasihku. Tidak akan.”

*

“ Ya! sunbae.. aku malu.. aku makan di asrama saja.” Naeun mencoba melepaskan tangan Myungsoo yang masih menariknya menuju ruang makan sekolah. Sunbaenya itu memaksanya untuk sarapan bersama, Naeun berkali-kali menolak karena ia tak memakai seragam, ia takut dimarahi oleh penjaga ruang makan atau mungkin petugas disana.

“ Tak akan ada yang memarahimu. Kalaupun ada, aku yang akan bertanggung jawab.”kata Myungsoo tenang, “…ayolah, aku tidak enak menarikmu seperti ini. Aku tak mau tanganmu terluka.”

Hah, sejak kapan seorang L memikirkan terluka atau tidaknya tangan Yeoshin? ini lucu, biasanya seorang L tak pernah peduli dengan luka-luka di tubuh Yeoshin akibat perbuatan kasarnya.

Myungsoo tertawa sendiri, ternyata susah menjadi orang sabar. Jika ia adalah L, mungkin sudah ia tarik tangan Naeun sampai patah kalau istrinya itu tak juga menurut.

Karena tenaga Myungsoo lebih besar, ia berhasil mengajak Naeun memasuki ruang makan. Setibanya disana Myungsoo menatap seisi ruangan dengan tajam, mencoba menghipnotis semua orang yang ada didalam sana agar mereka melihat Naeun memakai seragam, bukan pakaian bebas.

Berhasil. Mereka memasuki ruang makan tanpa ditegur oleh petugas.

“ Kenapa aku tidak ditegur yah? Padahal aku kan pakai baju b…..”

“ Sudahlah. Kenapa kau malah berharap ditegur?” potong Myungsoo. Naeun tersenyum kecil.

“ Permisi, boleh aku bergabung?”

“ Eh?”

Myungsoo dan Naeun menoleh keasal suara. Seorang lelaki jangkung berkacamata besar dan berwajah sedikit konyol berdiri disamping meja mereka dengan membawa nampan berisi sarapan paginya.

Lee Sungyeol. Sahabat Myungsoo, Myungsoo yang asli, tentunya.

“…kenapa diam? Kau jahat, Myung. Kau lebih memilih duduk dengan yeoja ini daripada denganku?” Sungyeol melanjutkan perkataannya, meski nadanya terdengar aneh.

“ Hah? Eh.. t..tidak. tentu saja tidak. Kajja, duduk disini!” Myungsoo buru-buru menyiapkan tempat duduk untuk Sungyeol, lelaki itupun duduk dan meletakkan nampannya.

“ Hei, adik baru Woohyun. Senang kan jadi adik orang kaya? Bisa keluar masuk sekolah seenaknya tanpa harus pakai seragam.” Sungyeol menggoda Naeun dan sukses membuat gadis itu terkejut.

Namun siapa yang tahu bahwa Myungsoo lebih terkejut? Bukankah ia sudah menghipnotis semua orang agar melihat Naeun memakai baju seragam? Tapi mengapa Sungyeol bisa melihat gadis itu dengan pakaian bebas?

“…kau tidak ditegur petugas?”Sungyeol bertanya lagi, Naeun menggeleng dengan polos. Sementara Myungsoo nampak gusar. Mengapa Sungyeol tidak terkena hipnotisnya? Ini aneh.

“…haha, mungkin karena kau adik Woohyun.” Sungyeol tertawa kecil, Naeun melirik Myungsoo. Myungsoo hanya mengangguk kecil tanda memintanya untuk tenang saja.

“ Maaf aku tidak sempat mengajakmu. Sejak subuh aku sudah bangun dan bertemu Naeun, dia mengobati lukaku agar nanti sore bisa tanding basket dengan Woohyun.” Myungsoo mengalihkan pembicaraan dan meminta maaf pada Sungyeol.

“ Ooh.. begitu.” Sungyeol merespon dengan singkat, ia kembali menggoda Naeun. “…heh, Myungsoo ini lawan kakakmu. Kenapa kau malah mengobatinya? Seharusnya biarkan saja dia tetap terluka, biar Woohyun yang menang.”

Naeun menggeleng pelan, “ Aku belum resmi menjadi adik Woohyun sunbae, kok. Aku belum bilang ya atau tidak.”

“ Oh ya? memang apa yang kau pikirkan? Dengan bilang ya saja, kau sudah bisa menjadi orang terkaya di Korea Selatan.”

“ Tidak semudah itu..”jawab Naeun pelan. Memang, disaat tawaran itu datang padanya bahkan dari Woohyun langsung, ia masih berpikir ribuan kali untuk menerimanya. Entah, di satu sisi ia ingin memperbaiki hidupnya dengan tinggal di keluarga kaya, tetapi di satu sisi ia takut sesuatu terjadi padanya jika ia bersedia menjadi adik angkat Woohyun. Apalagi ia yakin Woohyun pasti punya maksud dan tujuan pribadi.

“…sudahlah, jangan dibahas. Naeun tak ingin membicarakan hal itu. iya kan?” Myungsoo menengahi, Naeun mengangguk.

“…oh iya, tadi subuh saat ingin menemuiku, kau tidak dilihat pengawas kan?” sekarang Myungsoo yang mengajak Naeun bicara.

“ Ng.. syukurlah, tidak. Tapi..” Naeun menggantung jawabannya.

“ Tapi apa?”

“ Tadi subuh itu aku merasa seperti diikuti oleh seseorang..”

“ Oh ya?”

EHEK!

Sungyeol mendadak tersedak sarapan yang sedang ia santap, membuat Myungsoo langsung curiga.

“ Seseorang..siapa?”tanya Myungsoo heran. Atau lebih tepatnya,pura-pura heran. Karena ia yakin pelakunya adalah lelaki yang kini duduk disampingnya.

“ Aku juga tidak tahu. Yang aku lihat hanya.. sweater orang itu.. warna biru.” jawab Naeun jujur.

Myungsoo melirik kearah tas Sungyeol yang sedikit terbuka, sebuah sweater berwarna biru tampak berada didalam sana.

“…aku sedikit takut, tapi untungnya ia menghilang saat aku sudah tiba di halaman belakang.”sambung Naeun.

“ Mungkin hanya orang iseng. Tenang saja.”jawab Myungsoo tenang. Dalam hatinya ia sudah menyusun rencana untuk mengetahui apa maksud dan tujuan Sungyeol, “…ya sudah, kalau begitu sarapanlah..”

Naeun diam, ia tak bisa makan tanpa darah manusia, tepatnya darah Eunji, yang biasanya ia minta setiap pagi. Kini matanya mencari-cari dimanakah gerangan sahabatnya itu.

“ Ah iya, aku lupa kami butuh darah. Mana banci itu?” batin Myungsoo, ia jadi ikut mencari Jiwon, hingga matanya dan mata Naeun menangkap sosok Jiwon dan Eunji yang tengah sarapan bersama Kai dan D.O.

“ Kenapa Kai begitu dekat dengan Eunji?” perasaan Naeun mendadak tak enak, namun ia bisa bernafas lega ketika melihat Eunji berdiri dan meninggalkan Kai lalu berjalan kearah mejanya, Jiwon pun mengikutinya dari belakang. Sementara Kai tetap diam dan makan dengan D.O, tak ada niatan untuk menemui Myungsoo.

“ Ya! Akhirnya kau datang, aku sudah lapar..”

Naeun tersenyum cerah ketika Eunji menghampiri mejanya, Eunji masih memasang wajah datarnya.

“ Tidak ada darah untuk hari ini jika kau belum menjelaskan apa maksud dari ini!” Eunji sedikit berbisik lalu meletakkan buletinnya dengan sedikit kasar ke atas meja, membuat Naeun tersentak.

“…kau ingin diangkat oleh keluarga konglomerat tanpa bicara padaku? Bagus ya, itukah yang namanya sahabat?”

Naeun panik, baru kali ini ia melihat Eunji marah sampai sebegininya.

“ Eunji.. Sumpah, aku sama sekali tidak tahu menahu soal ini!”jawab Naeun sekenanya.

“ Tidak mungkin! Kau kira aku bodoh? Tidak ada asap kalau tidak ada api! Mengapa kau sampai-sampai hendak diangkat menjadi adik oleh Woohyun sunbae?!” nada suara Eunji masih saja tinggi, tentu karena ia tersinggung sebab Naeun sama sekali tidak mengatakan apapun tentang hal itu padanya.

“ B..bukan begitu.. tapi..tapi aku belum sempat bilang..” jawab Naeun gugup, rasanya takut bercampur sakit melihat Eunji marah padanya. Dalam hati ia mengumpat mengapa di sekolah mereka harus ada yang namanya buletin.

“ Oh ya? atau kau tak memberitahuku karena takut aku tidak setuju?” tanya Eunji semakin sinis. Jujur, sebenarnya ia marah tak hanya karena tersinggung, tetapi juga tak rela jika memang Naeun resmi menjadi anggota keluarga lain, karena itu artinya sahabatnya itu tak akan lagi ke panti asuhan bersamanya jika mereka diperbolehkan keluar asrama setiap malam minggu. Apalagi keluarganya adalah keluarga kaya, ia takut Naeun menjadi sombong dan akhirnya melupakan dirinya. Pikiran Eunji memang cenderung negatif, dan ia takut hal itu terjadi.

“ Akan kujelaskan semuanya.” Naeun meraih tangan Eunji, mengajak sahabatnya itu untuk bicara berdua. Meninggalkan Myungsoo, Jiwon, dan Sungyeol disana…

*

 

Evening, 04.30 PM

 

“ NAM WOOHYUN! NAM WOOHYUN!”

“ KIM MYUNGSOO! KIM MYUNGSOO!”

 

Lapangan basket Junghwa High School dijejali warga sekolah sore itu. Duel basket antara Myungsoo dan Woohyun yang awalnya direncanakan untuk dilaksanakan secara rahasia saja ternyata malah menyebarluas keseluruh warga sekolah hingga akhirnya menjadi tontonan seru sore itu, bahkan para siswa berbagi kubu supporter.

Duel sudah memasuki babak kedua setelah di babak pertama Woohyun unggul beberapa angka dari Myungsoo. Naeun menyaksikannya dari balkon lantai tiga gedung sekolah, ia tak berani menampakkan diri di sekitar lapangan karena masih tak mau ditanyai tentang berita yang ada di buletin tadi pagi.

 

“ Astaga. Kau disini rupanya.”

Sebuah suara mengagetkannya. Chorong, ia menghampiri Naeun dan berdiri disamping adik kelasnya itu.

Naeun mengangguk saja, seharian ini ia merasa tak enak dengan Chorong. Tentu karena Woohyun yang hendak mengangkatnya sebagai adik. Naeun tak tahu apakah sebagai kekasih Woohyun Chorong setuju atau tidak.

“…aku mencarimu sejak tadi. Kulkas di kamar kita sepertinya rusak.”kata Chorong lagi.

“ Rusak bagaimana?”tanya Naeun pelan.

“ Kulkasnya tidak dingin. Malah hangat dan semakin panas.. aneh kan?”

“ A..apa!?” Naeun terkejut. Pasti ini karena tongkat sihirnya yang masih ia simpan di dalam freezer, ternyata masih juga mengeluarkan panas. Ia harus segera mengamankannya sebelum Chorong yang menemukannya duluan.

“ Sudahlah, santai saja.. Woohyun akan membelikan yang baru.” Chorong tertawa kecil, membuat Naeun merasa tak enak lagi. Gadis itupun lebih memilih untuk melanjutkan kegiatannya menyaksikan duel Myungsoo dan Woohyun yang semakin seru saja, tak heran jeritan warga sekolah terus bersahut-sahutan.

 

“…kau beruntung, Son Naeun.” Chorong bicara lagi, dan kali ini membuat Naeun bingung.

“ Beruntung..apa?”

“ Kau bisa menikmati kekayaan keluarga Woohyun tanpa harus banyak berkorban. Sebenarnya tidak ada alasan untukmu berpikir dulu menerima tawaran Woohyun atau tidak, kau akan menyesal kalau menolaknya.”

Naeun masih tak mengerti dengan arah pembicaraan Chorong, hingga akhirnya sang sunbae bicara lagi.

“…keluarga Nam Woohyun itu kaya sekali,apapun yang kau inginkan pasti bisa kau dapatkan jika bisa menikmati kekayaannya. Aku sudah bisa merasakannya. Tapi aku tidak sama sepertimu, Naeun. Aku harus banyak berkorban untuk itu.”

“ Memang.. sunbae berkorban apa?”

Chorong nampak murung, ia menunduk sejenak.

“ Nanti kau akan tahu, Son Naeun.”

“ Kenapa harus nanti?”

“ Karena sekarang bukan waktu yang tepat.”

Naeun akhirnya diam, meski ia sangat penasaran. Ia juga jadi heran mengapa hari ini Chorong jadi kelihatan misterius. Apa ia sedang ada masalah? Entahlah.

“ Kau tidak turun? Myungsoo pasti butuh disemangati agar bisa menang.”kata Chorong lagi.

“ Sudah banyak yang menyemangati Myungsoo sunbae, kurasa aku disini saja. Lagipula sepertinya sahabatku belum datang ke lapangan.”jawab Naeun.

“ Hmm..sahabatmu? Jung Eunji itu?”

“ Iya, sunbae kenal dengannya?”

“ Aku baru bertemu dengannya tadi pagi. Coba cari dia sekarang, mungkin sudah datang.”

Naeun mengangguk, ia menunduk, mencari Eunji melalui balkon hingga bisa ditangkapnya sosok sahabatnya itu berdiri di sisi kiri lapangan basket bersama dengan…

Kai?

Perasaan Naeun mulai tak enak lagi. Ini sudah yang kedua kalinya ia melihat Eunji dekat dengan Kai. Naeun bahkan tak tahu kapan mereka berkenalan.

“ Ayo turun, sunbae.” Naeun akhirnya mengajak Chorong untuk turun. Ia tak bisa membiarkan Eunji bersama Kai. Atau Kai bersama Eunji..

*

“ Ah! akhirnya bisa keluar juga!”

Seorang lelaki tampan nampak sedang mengambil nafas sejenak setelah upayanya memanjat pagar belakang asrama berhasil mulus. Diliriknya jam analog yang melingkar di pergelangan tangannya.

“ Aigoo! Sudah jam empat lebih! Aku terlambat!”

Lelaki itu akhirnya memulai perjalanannya, sesekali menoleh dengan sebal kearah suara ribut yang berasal dari lapangan basket sekolah.

“ Grrr.. Kim Myungsoo, bukannya mengantarku ke karantina malah main basket!” umpat lelaki itu, “…coba kalau ada dia, mungkin saja aku bisa langsung terkirim ke karantina hanya dengan satu mantra. Tidak harus jalan kaki seperti ini. Jalan kaki kapan sampainya? Ck, ah sudahlah.. sudah terlanjur. Aku memang harus jalan kaki..”

 

“ YA! itu Hoya!”

“ Benar! Itu Hoya yang ikut audisi Seoul Dance Competition itu kan!?”

“ Waahh!! Ganteng banget!!”

“ Hoyaaaa!!!!!!”

 

“ Ah, eh?” lelaki yang disebut-sebut sebagai Hoya itu mendadak gelagapan, banyak gadis dan ibu-ibu dari berbagai arah berlari menuju kearahnya.

“ HOYA!!!! HUAAA GANTENG BANGET!!!”

“ Kyaaa!!!!!!” Hoya buru-buru berlari sekencang-kencangnya karena gerombolan gadis dan ibu-ibu itu mengejarnya sembari terus berteriak dengan cempreng, membuat kuping yang diteriaki sakit luar biasa.

 

BRUK!!!

“ YA! jalan hati-hati!”

Karena berlari terlalu kencang, Hoya menabrak seorang gadis yang sedang berjalan menggunakan skateboard hingga terjatuh.

“ Eh, maaf. Maaf.. kau tidak apa-apa?” Hoya hendak menolong gadis itu, tetapi gadis itu berdiri sendiri dengan mudah dan membersihkan pakaian ala premannya yang sedikit kotor.

“ Aku tidak apa-apa. tapi gara-gara kau aku telat ke karantina, tahu!!” gadis itu kesal, namun Hoya malah tersenyum lebar.

“ Jadi kau mau ke karantina juga? Karantina Seoul Dance Competition? Aku juga ingin kesana!”

“ Eh..?” gadis itu mengangkat kepalanya dan melihat dengan jelas siapa lelaki yang sudah menabraknya itu.

“…astaga!!! Hoya!” pekik gadis itu tak percaya, “…kau Hoya kan!?”

Hoya mengangguk, “ Astaga.. rupanya kau kenal juga denganku.”

“ Aku juga tidak mengerti kenapa kau bisa langsung terkenal padahal baru audisi, padahal aku juga lolos audisi dan ikut ditampilkan di TV kemarin, tapi hanya sedikit yang kenal denganku.”

Hoya tertawa kecil karena gadis itu malah curhat dan tak lagi marah-marah.

“ Eh, kenapa aku malah curhat? Aku harus ke karantina sekarang! Kita sudah telat!” gadis itu menaiki skateboardnya lagi, namun Hoya menahannya.

“ Ya! bagaimana kalau kita kesana..sama-sama? Aku takut sendirian, nanti dikejar-kejar lagi..”

Karena kasihan dengan wajah tampan Hoya yang memelas, gadis itupun mengangguk dan turun dari skateboardnya.

“ Kajja, sebelum kau dikejar lagi.”gadis itu menjinjing skateboardnya dan menarik tangan Hoya.

Hoya mengangguk, ia dan gadis itupun berangkat ke karantina dengan berlari karena sudah terlambat.

“ Hei, kau..” Hoya mengajak gadis itu bicara ditengah lari mereka.

“ Apa??” tanya gadis itu ngos-ngosan.

“ Siapa namamu?”

“ Namaku..” gadis itu memutus perkataannya karena lelah mengatur nafasnya.

 

“…Bang Min Ah. kau boleh memanggilku Minah.”

***

 

 “ Kau darimana saja sih? Aku menunggumu.”Eunji sedikit menarik tangan Naeun agar merapat padanya.

“ Aku diatas..”jawab Naeun seadanya, ia melirik Kai yang ada di sebelah Eunji, “…kau janjian dengan Kai kesini?”

“ Hah? Tidak! Dia yang menghampiriku tadi.”

“ Kemana Jiwon dan Bomi?”tanya Naeun, mengalihkan pembicaraan.

“ Jiwon tidak menonton, tadi sih dia masih di kamar. Kalau Bomi sedang membeli minuman, sebentar lagi dia datang.”

“ Ooh.” Naeun mengerti, ia pun kembali menyaksikan duel Myungsoo dan Woohyun tanpa berteriak seperti penonton yang lain karena bingung hendak mendukung siapa. Ternyata kedua lelaki terkenal di Junghwa High School ini memang pemain basket kelas berat dan sulit mengalahkan satu sama lain.

 

“ Hei.”

“ Eh?” Naeun terkejut, seseorang menghampirinya.

“…Sungyeol sunbae? Ada apa?”tanya gadis itu bingung.

“ Myungsoo masih kalah dari Woohyun. Kalau nanti bola basket mereka keluar lapangan, kau lempar saja bola ini biar mereka pakai. Mungkin dengan bola ini Myungsoo bisa semangat.” Sungyeol memberikan sebuah bola basket kepada Naeun, setelah itu berbalik dan pergi dengan mengajak Chorong.

Wajah Naeun berkerut ketika memperhatikan bola yang ia pegang, bingung dengan bolanya yang digambari oleh Sungyeol dengan mata, hidung, dan mulut. Apa maksud Sungyeol? Mengapa ia bilang bola itu bisa membuat Myungsoo lebih semangat?

“ Kenapa Sungyeol sunbae gambar seperti ini ya? apakah biar menyerupai kepala orang?”tanya Eunji polos.

“ Ah, kau ini bicara apa? ini dunia modern, mana ada kepala menjadi bola seperti di dunia sihir.”

Eunji mengangkat bahunya, “ Eh, itu bolanya keluar lapangan!”

“ Oh ya?” Naeun menoleh kearah yang ditunjuk Eunji. Bola yang digunakan Myungsoo dan Woohyun terlempar jauh keluar dari lapangan. Myungsoo menepuk tangannya, meminta bola yang dipegang Naeun.

Naeun segera melemparnya, Myungsoo menangkapnya dan wajah tampan lelaki itu nampak tersenyum lebar ketika melihat gambar wajah pada bola yang ia terima. Ia tahu ini pasti perbuatan Sungyeol yang memang tengah mencurigainya.

Tetapi persetan dengan itu, yang penting sekarang Myungsoo bisa balas dendam dengan Woohyun yang masih mengunggulinya.

 

Duel kembali berlanjut, Myungsoo benar-benar membuktikan tekadnya untuk balas dendam. Sejak mereka memakai bola pemberian Sungyeol itu, Myungsoo terus mencetak angka dan tak membiarkan Woohyun merebut bolanya, bahkan lelaki itu mulai mengeluarkan cara bermainnya yang kasar. Membuat duelnya dengan Woohyun semakin memanas.

“ Kenapa Myungsoo sunbae mendadak garang begitu?” Eunji heran melihat Myungsoo yang nampak tak seperti biasanya. Saking kasarnya, duel Myungsoo dan Woohyun lebih seperti duel baku hantam daripada basket. Para siswa yang tadinya menonton sambil duduk kini mulai berdiri karena tegang.

Naeun menggeleng tak mengerti, gadis itu menoleh kearah Sungyeol yang berdiri tak jauh darinya. Ia diam, nampak sangat konsentrasi memperhatikan gerak-gerik Myungsoo.

“ Mungkin karena ingin mengejar angka jadi dia terpaksa kasar begitu.” Naeun berusaha untuk positive thinking, meski tak dapat dipungkiri ia jadi sedikit takut melihat Myungsoo sekarang.

“ Tapi dia sudah unggul jauh dari Woohyun sunbae sekarang..”kata Eunji, “…tapi kenapa masih saja bermain kasar? Myungsoo sunbae kasar begitu jadi kelihatan seperti L…..”

 

BUK!!!

Perkataan Eunji terhenti mendadak ketika bola basket yang berasal dari tangan Myungsoo dengan amat sangat keras mendarat dan menghantam jidat lebarnya yang tertutup poni(?).

BRUK..

Karena syok dan tak tahan dengan rasa sakitnya, Eunji jatuh pingsan. Naeun terkejut, namun ketika ia hendak menolong Eunji, Kai lebih sigap mengangkat tubuh sahabatnya itu. bahkan D.O yang berdiri di tempat agak jauh berlari kencang dan datang menghampiri ketika tahu Eunji yang pingsan.

“ Minggir!! Dia harus ke UKS!” Kai nampak panik, semua orang yang menghalangi pun memberinya jalan. Bomi yang kerepotan membawa minuman dan Chorong yang sedang mengobrol dengan Sungyeol juga kelihatan terkejut dan pergi mengikuti Kai serta D.O ke UKS.

 

Naeun terpaku. Tak ikut ke UKS.

Hatinya terasa sakit melihat pemandangan itu, sama sakitnya ketika melihat Eunji terkena bola sedemikian kerasnya barusan. Kai nampak sangat panik, menunjukkan kepeduliannya pada Eunji didepan matanya.

Mata Naeun mulai berkaca-kaca, namun buru-buru ia hapus. Ia merasa tak sanggup ke UKS karena dengan begitu ia akan melihat lagi segala bentuk perhatian Kai pada sahabatnya itu. Tak hanya Kai, Chorong yang notabene baru kenal dengan Eunji saja terlihat amat panik barusan.

Eunji memang beruntung, sangat beruntung. Banyak sekali yang perhatian dan sayang padanya. Tak seperti Naeun yang lebih sering dipermainkan orang dan tidak diperhatikan sejak lahir.

Naeun menegakkan kepalanya setelah memastikan airmatanya tak berhasil jatuh. Hingga terlihat seorang lelaki tampan berkaos basket dengan bersimbah keringat berdiri didepannya. Membuat Naeun sadar dan ingat bahwa masih ada yang perhatian padanya.

Myungsoo. Kakak kelasnya itu. Meski belum lama saling mengenal, ia sudah mendapatkan tempat tersendiri di hati Naeun, sebagai orang yang peduli padanya.

Sekarang, lelaki itu nampak kelelahan. Ia dan Woohyun memutuskan untuk istirahat dulu setelah melihat Eunji yang jatuh pingsan barusan.

“ Bilang pada sahabatmu itu, aku minta maaf. Aku tidak sengaja.”kata Myungsoo dengan nafas terengah-engah. Naeun buru-buru mengangguk. Sebenarnya ia ingin marah pada Myungsoo karena sudah membuat Eunji pingsan -dan membuat Kai menggendong Eunji-, tapi melihat Myungsoo yang nampak sangat kelelahan seperti ini, ia jadi tak tega.

Naeun justru mengeluarkan saputangan dari tasnya dan mulai menghapus keringat yang mengucur di wajah dan tangan Myungsoo, membuat hati lelaki tampan itu berdesir, ia merasa beruntung memiliki istri sebaik Naeun. -Atau lebih tepatnya, Yeoshin.-

“ Sunbae masih kuat?”tanya Naeun khawatir, “…jangan terlalu memaksakan. Sunbae sudah lebih unggul, kok. Aku yakin sunbae pasti menang.”

Myungsoo tersenyum kecil, “ Sebenarnya aku sudah lelah. Tapi aku tidak akan lengah, angka bisa saja berubah. Woohyun bukan lawan yang mudah.”

“ Tapi kasihan sunbae. Apa yang bisa kulakukan untuk mengembalikan energi sunbae? Aku hanya bawa jus jeruk, tapi tidak enak.”kata Naeun polos sembari menunjukkan sebotol jus jeruk dari dalam tasnya, ia mengatakan jus itu tidak enak karena sudah ia campur dengan darah, seperti biasa.

“ Tidak apa-apa. aku minta sedikit.”

“ Tapi..”

“ Ayolah Son Naeun, aku haus.”

Dengan keraguan yang luar biasa, Naeun akhirnya menyerahkan botol jusnya pada Myungsoo. Myungsoo buru-buru membuka dan meminumnya….sampai habis.

“ Yah, habis. Maaf..” Myungsoo sadar ia telah menghabiskan jusnya, namun Naeun justru terdiam, tidak menyangka. Ia kira meminumnya satu teguk saja Myungsoo sudah hendak muntah. Tapi ternyata lelaki itu justru menghabiskannya.

“ T..tidak..tidak apa-apa..”jawab Naeun gugup. Ia masih tak habis pikir, terbuat dari apakah lidah Myungsoo? Mengapa sangat cocok dengan minuman penyihir yang selalu memakai darah? Entahlah.

 

“ HEI! Cepat lanjutkan duel dan jangan dekati adikku!!”

Myungsoo menoleh, Woohyun berteriak dengan sedikit kasar kepadanya. Naeun hanya menggeleng pelan.

“ Support aku ya. tinggal satu set lagi.” Myungsoo menepuk bahu Naeun lalu berlari lagi ke lapangan dengan energi baru. Energi yang didapatnya dari jus jeruk dan tatapan mata si pemilik jusnya..

***

 

Langit sore yang cerah mulai menggelap. Duel Myungsoo dan Woohyun baru saja selesai.

Myungsoo keluar sebagai pemenang dengan perolehan angka yang cukup jauh dari Woohyun. Seusai duel ia dinyatakan resmi menjadi kapten basket Junghwa High School dan mendapat sambutan meriah dari seluruh siswa dan sukses membuat Woohyun merasa iri dan sedikit tidak terima.

Sebelum semua siswa bubar, Woohyun kini nampak memegang megaphone dan meminta seluruh siswa untuk merapat di lapangan, mengelilinginya. Tak ada yang tahu apa yang ingin ia sampaikan.

Kai, Chorong, D.O, dan Bomi yang masih menunggui Eunji di UKS menyaksikan dari jendela, penasaran dengan apa yang ingin dilakukan oleh Woohyun. Terlebih ketika lelaki itu menyuruh Naeun untuk maju ke tengah dan berdiri disampingnya.

 

Naeun nampak malu dan gugup, dikelilingi para siswa Junghwa High School dan dirangkul oleh Woohyun. Sedangkan Myungsoo yang ikut berdiri ditengah gerombolan siswa hanya bisa diam dan berusaha untuk sabar.

“ Baik. Pertama-tama.. aku mengucapkan selamat untuk Myungsoo yang berhasil menduduki posisi kapten basket dan mengalahkan aku..” Woohyun mulai berbicara melalui megaphonenya.

“…kemenangan Myungsoo tak hanya karena dendamnya ingin membalasku yang sempat unggul darinya di set pertama, tetapi juga karena semangat yang diberikan gadis yang ada disampingku ini padanya saat duel tadi. Kalian kenal siapa gadis cantik yang ada disampingku ini?” tanya Woohyun, seluruh siswa mulai rusuh dan menyebut-nyebut nama Naeun, membuat gadis itu semakin malu.

“…ya, kalian benar. Nama gadis cantik ini adalah Son Naeun.” Woohyun tersenyum sekilas pada Naeun, “…aku tak tahu ada hubungan apa ia dengan Myungsoo. Tetapi yang jelas, ia memiliki kesempatan untuk menjadi anggota keluarga besar Nam, keluargaku.”

Seluruh siswa semakin riuh saja, merasa iri dengan Naeun yang akan diadopsi oleh keluarga konglomerat. Meski gadis itu belum menyatakan kesediaannya.

“…dan sekarang, di tempat ini, di hadapan kalian semua dan tentunya didepanku, ia akan menyampaikan keputusannya. Apakah ia mau menjadi adikku atau tidak.”

“ Apa!?” Naeun terkejut mendengar perkataan Woohyun, “…aku..aku belum siap.”

“ Bukankah aku bilang aku hanya memberimu waktu kurang dari 24 jam untuk memikirkanya?”ucap Woohyun enteng.

Naeun memucat, ia menatap Myungsoo, lelaki itu hanya mengangguk dan tersenyum, memberinya ketenangan.

“ Berikan keputusanmu.” Woohyun menyerahkan megaphonenya pada Naeun, membuat gadis itu semakin takut dan gugup saja. Sebenarnya ia sudah tahu apa keputusannya, hanya saja ia masih takut mengucapkannya.

“ A..aku..aku..” Naeun gugup setengah mati, seandainya ada Eunji sekarang, mungkin ia bisa sedikit tenang karena sahabatnya itu sudah tahu apa keputusannya.

Suasana lapangan nampak sunyi mendadak, seluruh siswa tegang menunggu jawaban Naeun.

 

“ Aku..bersedia.. menjadi adik.. Woohyun sunbae..”

 

“ HUAAAAA!!!!!!!!!” lapangan riuh kembali, lebih riuh dari sebelumnya. Menyoraki Naeun dengan berbagai macam ucapan, ada yang memberi selamat, tak sedikit juga yang meneriaki gadis itu matre dan mata duitan.

Naeun tersenyum lega meski telinga dan hatinya terasa sakit mendengar teriakan siswa-siswi yang menghinanya, Woohyun semakin erat merangkulnya.

“ Karena kau adikku sekarang, mulai saat ini panggil aku dengan sebutan….”

“ Oppa. Woohyun oppa..” Naeun memotong sembari mengangguk pasti, Woohyun tersenyum puas dan menatap Myungsoo lalu tertawa sinis karena ia telah berhasil memenangkan taruhan mereka.

“ Tenang.. tenang semuanya, masih ada satu hal yang harus aku sampaikan.” Woohyun meminta seluruh siswa untuk kembali tenang.

Suasana lapangan kembali sepi, Woohyun mengambil nafas sejenak.

 

“ Alasanku mengangkat Naeun sebagai adikku sebenarnya bukanlah karena aku ingin memiliki seorang adik. Aku sudah cukup bahagia menjadi anak tunggal. Tetapi karena suatu keadaan, aku harus mengangkatnya menjadi adikku.” Woohyun bicara lagi, membuat para siswa dilanda rasa bingung.

“…langsung saja. Dalam pendudukan jabatan President School, aku dan Myungsoo sebenarnya adalah president dan wakilnya. Tetapi saat Myungsoo masih hilang dan dinyatakan meninggal, akulah yang naik menjadi president school. Setelah Myungsoo kembali, aku tidak mau melepas jabatanku itu dan mengadakan taruhan yang melibatkan siswi bernama Son Naeun ini untuk perebutan jabatan, dan Myungsoo menyetujui taruhan ini. Dan ini adalah caraku untuk memenangkan taruhannya. Jadi mulai saat ini, akulah president school Junghwa High School, dan Kim Myungsoo yang kalah taruhan adalah wakilku.”

 

Seluruh siswa mendadak terkejut, yang tadinya merasa iri dan kesal pada Naeun kini justru merasa kasihan karena gadis itu hanya dijadikan ‘barang’ taruhan. Tetapi ada juga yang menganggap taruhan itu membawa keberuntungan bagi Naeun karena ia akhirnya diadopsi oleh keluarga kaya.

Naeun terkejut, ia menatap Woohyun, namun ‘kakak baru’nya itu hanya tersenyum licik, merasa tak bersalah sama sekali mengumumkan hal itu didepan banyak siswa.

Kini Naeun menatap Myungsoo dengan perasaan kecewa yang mendalam, membuat lelaki itu risau seketika. Naeun pasti marah padanya, pasti.

Naeun tak dapat menahan airmatanya, ia berlari menerobos gerombolan siswa dan menangis. Gadis itu berlari menuju asrama.

Myungsoo tak tinggal diam, ia segera berlari mengejar sosok Naeun yang sudah menghilang dengan cepat..

***

 

Night, 10.20 PM

 

Suasana asrama putri nampak sepi, sebagian besar siswa sudah tidur, bisa dilihat dengan banyaknya lampu-lampu kamar yang sudah mati.

Dengan mata yang terus berjaga-jaga, seorang lelaki dengan pakaian preman terlihat sedang mengganti pakaiannya dengan piyama perempuan di bawah tangga.

Siapa yang tahu kalau lelaki itu adalah calon artis yang sebelum jadi artis saja sudah naik daun? (?)

Ya, dia Hoya. Atau Jiwon, karena ia sudah pulang dari pelatihan dan menginjak asramanya lagi.

“ Huh, untung tidak ada orang lewat.”ia bernafas lega ketika selesai memakai piyama dan wig di kepalanya. Ia segera keluar dari tempat persembunyiannya dan berjalan menuju kamarnya yang terletak di lantai 6.

 

Sementara itu di tempat lain..

Seorang gadis baru saja keluar dari ruang kesehatan sekolah dan berjalan lemas menuju asramanya, tak peduli dengan lelaki dekil dan berkulit gelap yang tidur di sofa menjaganya.

Jung Eunji, gadis itu. Sepanjang jalan ia masih memegangi kening lebarnya yang masih biru dan benjol, ia masih merasa pusing, tetapi ia tak betah berada di UKS lama-lama.

Hingga matanya menangkap sosok seseorang ketika ia tiba di salah satu belokan koridor asrama, orang itupun melihatnya dan nampak bingung bercampur kaget melihat keningnya.

 

“ Eunji! kau kenapa?” orang itu bertanya dengan nada yang terdengar sangat khawatir, ia menahan tubuh Eunji yang berjalan sempoyongan.

“ Hah?” Eunji masih bengong, matanya yang berkunang-kunang pelan-pelan menatap wajah orang yang bertanya padanya itu.

 

“ Howon?”

 

“ Eh.. a..apa?” orang itu terkejut, ia segera mengecek wig di kepalanya. Terpasang. Tapi mengapa Eunji melihat wujud asli dirinya? Apa karena kepalanya yang sedang pusing hebat? Entahlah.

“ Howon.. kau Lee Howon. Kekasihku..” Eunji mengelus wajahnya, menatapnya dengan tatapan sayu. Membuat Jiwon merasa takut penyamarannya ketahuan.

“ Kau.. kau salah. Aku Jiwon..”ia berusaha berdalih, namun Eunji menggeleng.

“ Kau Lee Howon, jangan pura-pura. Aku merindukanmu..~”

Sekarang Eunji memeluknya. Satu sisi Jiwon merasa sangat senang, tetapi di satu sisi ia benar-benar takut ketahuan.

“ Kepalaku dihantam bola basket tadi sore. Sakit..” adu Eunji manja, membuat Jiwon akhirnya tahu mengapa Eunji jadi sedikit ‘error’ sekarang.

“ Aigo.. siapa yang melempar bolanya?” tanya Jiwon sedikit emosi, dalam hati berniat mencelakai orang yang sudah tega melempar bola basket itu pada Eunji.

“ Myungsoo.. Myungsoo sunbae.”

“ Hah? Myungsoo? Eh.. mungkin dia tidak sengaja, hehe.” Jiwon membatalkan niatnya, mana berani ia mencelakai Myungsoo, yang ada ia yang celaka nantinya.

“ Iya. Tapi aku senang melihatmu, Howon.” Eunji mengalihkan pembicaraan dan tersenyum menatap Jiwon.

“ Tapi.. tapi aku bukan..”

“ Kau kemana saja? Aku rindu padamu..aku tahu kau akan menemukan aku.. aku tahu kau mencintaiku..” Eunji memeluknya lagi dengan lebih erat, membuat jantung Jiwon berdebar semakin keras, namun debaran keras itu lebih banyak berasal dari rasa paniknya.

“…kau tahu kan sudah lama kita tidak melakukannya? Ayo kita lakukan sekarang..”

“ Lakukan..apa?” Jiwon makin panik, Eunji semakin mengaco saja, sepertinya benturan yang ia terima terlalu keras hingga membuat otaknya bekerja tidak benar.

Eunji membungkukkan tubuh Jiwon agar sejajar dengan tinggi badannya, mengusap kepalanya sejenak hingga sukses membuat wig Jiwon terlepas dan jatuh ke lantai.

Cup~

Eunji mencium bibirnya, dalam dan semakin dalam. Howon tak bisa menikmatinya karena panik dengan wignya yang jatuh ke lantai, bagaimana jika setelah berciuman Eunji sadar dan syok melihat dirinya?

 

Ini akan menjadi masalah besar.

 

_To be Continued_

 

Kelar juga part yang mekso ini (?) ~

Maaf ya kalo part ini serada belibet juga, author sempet putus asa nulis part ini karena banyak konfliknya (siapa suruh konflik banyak-banyak -_-). Tapi author lega akhirnya bisa juga walaupun begini(?), kekeke~ 😀

As usual, LIKE and COMMENT sangat-sangat dibutuhkan! Author akan lebih seneng dan semangat kalau komen kalian panjang :3 *modus*

Sebelumnya, disini author ingin minta maaf yang sebesar-besarnya karena jarang bahkan tidak lagi membalas komen readers. Bukan berarti author tidak membaca, author membaca semua komentar kalian bahkan berulang-ulang saking senengnya apalagi yang long comment 🙂 ingin rasanya author balas satu per satu tapi waktunya tidak memungkinkan. Jadi sepertinya author hanya akan membalas komen yang ada pertanyaannya, jadi harap maklum yaa. Author tetap berharap readers tetap rajin memberi komentar setelah selesai membaca ff, karena komentar kalian adalah sumber semangat author yang paling utama! ^^

[!!]  Mohon untuk tidak lagi menanyakan kapan updatenya, author sibuk dengan kegiatan sekolah karena sudah kelas 12. Intinya, kalau udah selesai pasti author update ^^

Akan ada beberapa kejutan di part berikutnya, jadi.. sampai jumpa di next part^^ jangan jadi silent readers yaa :’) ~

 

Next >> Part 7 : Something New

 

Advertisements

147 responses to “THE PORTAL [ Part 6 : Faithfulness ]

  1. Pingback: THE PORTAL 2 [Part 9 : The Real Ending] [FINAL] – FFindo·

  2. Pingback: THE PORTAL 2 [Part 9 : The Real Ending] [FINAL] [LATEPOST] | citrapertiwtiw·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s