Lucky – Part 2

Good or bad luck cover

Previous: Part 1|

Cast: Kim Jongin | Kang Ji-Kyung (Oc) | Park Chanyeol | Park Young-Geun| etc

Disclaimer: Fanfic ini terinspirasi dari sebuah anime yang judulnya aku lupa. ._.v cuman dibeberapa bagian ada scene yang sama, tapi kesananya itu hasil imajinasiku. ^^

Warning: Typo, cerita gaje, dan kekurangan yang lainnya. Maaf kalau ada yang tidak suka. DON’T LIKE DON’T READ!

 

Story

“Kai, Sehun mengundurkan dirinya untuk menjadi pemain utama dalam permainan basket minggu depan.”

‘Sedang apa dia duduk sendirian disana?’

“Dan sebagai ganti, Chanyeol akan menggantikannya menjadi pemain utama, bagaimana menurutmu?”

‘Ternyata sedang membaca sebuah buku, benar-benar gadis kutu buku.’

“Kai, kau mendengarkanku tidak sih?”

‘Terlihat serius sekali, aku ingin tahu buku apa yang sedang dibacanya.’

“Astaga, Kai?!”

“Eh? Apa? Kau bicara apa?” Kai tersentak kaget dan menyudahi tatapannya pada seseorang yang duduk di meja di sudut kantin yang terlihat serius membaca sebuah buku di tangannya.

Kai menoleh pada sahabat terbaiknya itu dan meringis salah tingkah, sementara Young-Geun memutar kedua bola matanya dan mendengus setelahnya.

“Kau terlihat aneh sekali beberapa hari belakangan ini, bahkan aku sering memergokimu sedang melamun.” Ujar gadis itu, menunjuk-nunjuk wajah Kai menggunakan garpu yang sedang dipegangnya.

Kai mendecih, lebih memilih untuk tidak menggubris ucapan Young-Geun dan memfokuskan dirinya memakan makanan yang belum sempat dimakannya –sejak dia memesannya- karena terlalu fokus memperhatikan gadis itu.

Ya, gadis yang tak lain dan tak bukan adalah Kang Ji-Kyung. Sejak pertama kali mereka –Kai dan Young-Geun- memasuki kantin, Kai sama sekali tidak bisa mengalihkan perhatiannya dari Ji-Kyung ketika dia tidak sengaja melihat gadis itu duduk menyendiri di kantin sekolah –seolah mengasingkan dirinya atau lebih tepatnya di asingkan oleh orang-orang disekitarnya- dia tidak tahu apa ada yang salah dengan otaknya.

Setelah kejadian dimana dia dicium secara tiba-tiba oleh gadis itu seminggu yang lalu, semuanya berubah. Pernah mendengar tentang istilah stalker? Orang yang secara diam-diam mengikuti seseorang dan memperhatikan semua aktivitas yang dilakukan oleh orang itu.

Yup, disadari atau tidak oleh Kai, selama seminggu ini pria itu terus saja memperhatikan Ji-Kyung –hampir semua aktivitas yang dilakukan oleh gadis itu- secara diam-diam tentunya. Dia tidak mengerti kenapa dia terlihat seperti seorang stalker sejak seminggu ini, Kai tidak tahu apa yang mendorongnya sehingga melakukan kegiatan stalker –sesuatu yang tidak akan pernah dilakukan Kai sebelumnya- hanya saja selama seminggu terakhir ini juga, pikirannya selalu tertuju pada gadis itu –pada kejadian tentang ciuman mereka-.

“Hah~ ini benar-benar membuatku gila.” Gumam Kai tanpa sadar.

“Membuatku gila, mwoya?” Selidik Young-Geun, menyipitkan kedua matanya memandang kearah Kai.

“Mwo?” Tanya Kai, sedikit berjengit kaget, tidak menyangka Young-Geun mendengar gumamannya.

“Kau benar-benar harus memeriksakan dirimu ke psikiater Kai, kau terlihat aneh.” Cibir Young-Geun.

Ya, aneh. Gadis itu benar-benar merasa heran dengan sikap Kai belakangan ini, kadang dia berpikir ‘Apa kepala Kai terbentur sesuatu sehingga menyebabkannya bersikap aneh seperti ini?’ bayangkan saja, dia jadi sering menghilang ketika mereka sedang latihan basket dan tak jarang Young-Geun mendapati sahabatnya itu tengah melamun –tidak tahu apa yang pria itu lamunkan- lalu hal terakhir yang membuatnya kesal adalah;

…Kai selalu tidak menanggapinya ketika dia sedang berbicara.

“Ha.Ha.Ha lucu sekali Park Young-Geun.” Dengus Kai, memutar kedua bola matanya jengah. Dia lalu melirik kearah sudut kantin –tempat dimana Ji-kyung duduk-, pria itu mengernyit ketika tidak mendapati siapa-siapa di meja itu, terlihat sudah kosong.

Kemana dia pergi? Batin Kai, berusaha melirik kanan dan kiri melalui ekor matanya berharap bisa melihat gadis itu. Tapi setelah beberapa saat dia mencoba mencari keberadaan Ji-kyung, dia tidak melihat gadis itu dimana-mana di kantin ini.

Gadis itu benar-benar sudah meracuni otaknya.

Kring! Kring!

Dan bersamaan dengan itu bel tanda berakhirnya jam istirahat terdengar, Kai maupun Young-geun bangkit dan bergegas untuk menuju ke kelas mereka.

***

Kai yakin ada yang salah dengan otaknya sekarang. Ralat, semenjak seminggu yang lalu dia yakin otaknya benar-benar bermasalah. Kenapa otaknya tidak mau berhenti memikirkan tentang gadis itu, kenapa sekarang pikirannya selalu tertuju pada gadis itu, sosok datar yang terlihat misterius –menurutnya- dan hal itulah yang membuat Kai semakin tertarik padanya –selain peristiwa dimana dia tiba-tiba dicium oleh gadis itu-. Gadis itu benar-benar mengacaukan pikiran dan juga hidupnya selama seminggu belakangan ini.

Kai menggelengkan kepalanya beberapa kali. Sadarlah, berhenti memikirkannya. Astaga! Ada apa sebenarnya dengan otakmu Kai? Sengit pria itu pada dirinya sendiri.

“Benar-benar membuatku gila!” Rutuk Kai, mengacak rambutnya kasar.

.

.

.

.

.

.

Dan setelah beberapa detik kemudian dia benar-benar menyesali kelakuannya barusan.

Kenapa?

Karena sekarang semua teman-teman sekelasnya berbalik secara serentak dan menatapnya dengan kening yang dikerutkan. Termasuk Jungsoo soesangnim yang sekarang tengah menatapnya sambil melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap Kai dengan mata yang dia sipitkan –terlihat sangat menyeramkan di mata Kai sekarang-.

Glek.

“Apa yang membuatmu gila? Apa pelajaranku yang membuatmu gila?” Tanya guru berusia tiga puluh tahun itu, semakin menatap tajam kearah Kai.

Guru itu pasti salah paham, rutukan itu bukan Kai tunjukan untuknya. Dia menunjukannya untuk gadis itu, pria itu tidak sadar kalau dia mengucapkan kalimat itu dengan suara keras dan mengundang semua orang untuk menoleh kearahnya.

“B-bukan ssaem, aku t-tidak bermaksud seperti itu.” Ujar Kai tergagap.

Gosh! Dia tidak pernah berbicara gagap sebelumnya, dan dia juga yakin kalau sekarang wajahnya terlihat pucat pasi.

“Kalau begitu coba jelaskan kembali materi yang aku sampaikan tadi.”

Skakmat.

Jangankan untuk menjelaskan, Kai sama sekali tidak tahu materi apa yang sedang dijelaskan Jungsoo soesangnim tadi, karena dari awal guru itu masuk, Kai sama sekali tidak memperhatikannya.

Kai melirik Younggeun yang duduk di bangku di sebelahnya –meminta bantuan- tetapi gadis itu hanya mengangkat kedua bahunya dan menatap pemuda itu seolah mengatakan ‘Siapa suruh kau melamun’. Dan di detik itu juga rasanya Kai ingin menelan hidup-hidup gadis bernama lengkap Park Young-geun itu.

Bagaimana bisa sahabatnya itu tidak membantunya di saat seperti ini? Oh~ayolah, Kai tidak ingin mendapat detensi lagi.

Dengan gerakan lambat Kai kembali mengalihkan perhatiannya pada guru fisika itu, dia benar-benar tidak tahu apa yang harus diucapkannya sekarang. Teman-teman sekelasnya masih terlihat memperhatikan dengan seksama, bahkan ada beberapa siswa yang meneguk ludah tegang. Membuat suasana di kelas itu semakin terasa tegang.

“Aku…..tidak tahu.” Aku Kai jujur pada akhirnya, mengatakan kata ‘tidak tahu’ dengan suara sepelan mungkin. Dia lalu meringis, menunggu reaksi guru fisika itu yang akan terdengar beberapa detik lagi.

Kai mulai menghitung dalam hati.

Satu…

Dua…

Tiga…

Empat…

Li…

“KIM JONGIN KELUAR DARI KELASKU!”

See?

Kai menghela napas pasrah, tapi sebelum dia keluar dari kelas, Kai menyempatkan dirinya untuk mendelik tajam kearah sahabatnya yang dibalas Younggeun dengan juluran lidah, dengan mendengus pelan Kai mulai berjalan meninggalkan kelasnya itu.

***

Kring! Kring!

“Pelajaran berakhir sampai disini, jangan lupa untuk mengerjakan tugas yang tadi ssaem berikan.”

“Ne~” Koor murid-murid kompak.

Young-geun bergegas membereskan peralatan sekolahnya dan juga Kai, dia tidak terlalu memperdulikan ocehan Jungsoo soesangnim yang masih berada di depan, setelah selesai dengan barangnya –dan juga Kai- Younggeun memasukannya kedalam tas, menggendongnya dan berjalan  begitu saja keluar dari kelas yang menurutnya membosankan –karena tidak ada Kai-

Gadis itu berjalan di koridor sekolah sambil sesekali melirik kanan dan kiri mencari keberadaan Kai, gadis itu tersenyum tipis begitu dia melihat pria itu tengah menyandarkan tubuhnya di bawah pohon maple, terpejam sambil mendengarkan alunan musik –terlihat dari headset yang terpasang dikedua telinganya-.

Young-geun lalu beranjak menghampiri pemuda itu, berjongkok di hadapannya dan terdiam beberapa saat memperhatikan wajah sahabatnya. Tapi kemudian dia menggelengkan kepalanya dan mengulurkan tangannya berniat untuk melepaskan headset yang tersumpal dikedua telinga namja itu.

Tapi sebelum Young-geun berhasil melakukannya, tangan Kai lebih dulu memegang pergelangan tangan gadis itu.

“Apa yang akan kau lakukan?” Tanya namja itu, membuka kedua matanya dan menatap wajah Young-geun yang sekarang hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya. Bola mata gadis itu bergerak kesana kemari, terlihat gelisah atau….gugup? Entahlah.

“Berniat melepaskan headsetmu.” Sahut Young-geun, setelah beberapa detik ada jeda diantara mereka. Dia lalu menarik lengannya dari tangan Kai, setelah itu duduk di sampingnya.

Kai hanya mendengus sebagai respon dan kembali memejamkan matanya, kelihatannya dia masih kesal pada gadis itu.

“Kau marah padaku, Kkamjong?” Tanya Young-geun setelah beberapa menit mereka habiskan dengan hanya saling diam –teringat ketika dia sama sekali tidak membantu, ketika Kai di keluarkan dari kelas-. Tidak mendapat respon, Young-geun lalu menyenggol lengan Kai beberapa kali.

“Tidak.” Sahut Kai singkat, masih memejamkan kedua matanya.

“Lalu kenapa dari tadi kau hanya diam?”

“Karena aku ingin.”

“Kau marah, Kai~”

“Tidak.”

“Kau marah, akuilah itu.”

Kai mendecakkan lidahnya keras, dia lalu menoleh menatap sahabat menyebalkannya itu lamat-lamat, “Jadi kau mau kalau aku marah padamu?” Tanya Kai, mengangkat sebelah alisnya.

Young-geun menggeleng dengan cepat, “B-bukan begitu, aku hanya memastikan kalau kau benar-benar tidak marah padaku!” Jawab Younggeun cepat, terlalu cepat malah.

Kai memutar bola matanya bosan, “Aku tidak marah padamu, oke?” Jawab Kai malas.

Young-geun terlihat tersenyum tipis untuk beberapa detik dan didetik berikutnya dia datarkan kembali bibirnya, tidak ingin pria itu memergokinya tengah tersenyum.

Kai melihatnya…

Ya, Kai melihat Ji-kyung ketika dia tidak sengaja menatap kearah koridor, gadis itu tengah berjalan sambil membawa beberapa tumpuk buku tebal di dalam dekapannya dan seketika itu juga dia tidak bisa menahan senyumannya.

“Aku pergi dulu Youngie~” Kai beranjak dari duduknya, mengambil tasnya yang dibawakan Younggeun tadi dan menyampirkannya di bahu.

“Kau mau kemana?” Tanya Young-geun bingung.

“Kesuatu tempat.”

“Sekarang ada latihan basket, Kai!”

“Aku akan menggantinya dengan hari lain.” Sahut Kai, setelah itu dia mulai berjalan pergi.

“Ya! Kau benar-benar tidak marah padaku kan?” Teriak Young-geun, ketika melihat pria itu sudah mulai menjauh dari hadapannya.

“Aku bohong tadi, sebenarnya aku marah padamu.” Teriak Kai balik, mengangkat sebelah tangannya dan setelah itu dia benar-benar berjalan pergi, perlahan menghilang dari jarak pandang Younggeun.

“Ya! Dasar Kkamjong menyebalkan!” Sungut gadis itu kesal.

***

Kai tidak tahu kenapa dia bisa bangkit dan berjalan pergi begitu saja meninggalkan Young-geun, hanya karena melihat gadis itu. Kakinya seperti berjalan sendiri tanpa diperintah oleh otaknya, mengikuti gadis itu beberapa meter di belakangnya.

Kai cukup benci jika jiwa stalker yang tanpa disadarinya itu bangkit, pria itu mengernyitkan alisnya begitu melihat Ji-kyung masuk kesebuah ruangan.

“Bukankah itu ruangan biologi?” Gumam Kai, berjalan menghampiri ruangan itu. Diam berdiri di depan pintu, setahunya ruangan biologi ini juga dipakai sebagai ruangan klub biologi –salah satu eskul yang ada disekolah ini-.

Jadi gadis itu mengikuti eskul klub biologi?

Dengan ragu Kai menggeser pintu ruangan itu dan masuk ke dalamnya, pria itu bisa melihat Ji-kyung berjengit kaget melihat dirinya.

“Hai..” Sapa Kai kaku, dia tidak tahu ucapan apa yang harus dia lontarkan pada gadis itu, jadi hanya sapaan ‘Hai’ yang terlintas di otaknya sekarang.

Ji-kyung mengernyitkan alisnya selama beberapa detik, memandang Kai dari atas sampai bawah lalu kembali lagi keatas.

“Nuguseyo?”

Kai membuka matanya sedikit lebih lebar, terkejut dengan respon yang diberikan Ji-kyung.

‘Nuguseyo?’ dia tidak mengingatku? Dia tidak mengingat tentang ciuman itu? Yang benar saja!

“Aku Kai.” Sahut Kai singkat, entah kenapa dia merasa kesal sekarang.

Ji-kyung hanya menatap Kai dengan ekspresi datarnya, “Mau apa kesini….Kai~ssi?”

“Mengikuti klub biologi?” Sahut pria itu ragu, dia tidak yakin dengan ucapannya sekarang. Mengikuti klub Biologi? Dia bahkan tidak menyukai pelajaran itu! Jadi kenapa sekarang dia mengatakan ingin masuk klub itu? Salahkan saja pada mulutnya yang tiba-tiba berbicara seperti itu.

“Kau yakin?”

“Tentu saja.” Sahut Kai mencoba untuk tersenyum, walau dalam hatinya dia merutuki kebodohannya.

Ji-kyung menghela napas kemudian mengangguk, “Baiklah, kau diterima masuk klub biologi.” Sahut gadis itu berjalan menghampiri aquarium yang terlihat terisi beberapa ikan.

Kai menatap punggung Ji-kyung dan kemudian mengangkat kedua bahunya, tidak yakin dengan keputusannya sendiri. Dia lalu memandang ruangan itu dan mengernyit begitu menyadari sesuatu.

“Hey, kenapa tidak ada orang lain selain kau disini?” Tanya Kai. Ya, tidak ada orang lain. Di ruangan ini hanya ada mereka berdua, bukannya sebuah klub seharusnya di ikuti banyak orang?

“Mereka tidak ingin mengikuti klub ini dan jangan panggil aku dengan sebutan ‘hey’, aku mempunyai nama. Kang Ji-kyung.” Jawab gadis itu tanpa mengalihkan perhatiannya dari aquarium itu dan sekarang terlihat tengah mencatat sesuatu di atas kertas. Mungkin pengamatan dari ikan yang ada di dalam aquarium itu.

Kai mengangguk, sebenarnya dia sudah tahu nama gadis itu dari kertas ulangan yang ditemukannya waktu itu, tapi tadi dia tidak mau terlihat terlalu tahu tentangnya.

“Kenapa mereka tidak ingin mengikuti klub ini?” Tanya Kai ingin tahu, biasanya dia tidak terlalu peduli dengan urusan orang lain. Tapi sekarang, entah kenapa Kai ingin tahu sekali.

“Karena mereka tahu akulah ketuanya.” Jawab Ji-kyung.

Kai terdiam memandangi gadis itu, dia tahu, sebagai murid di sekolah ini –hampir semua murid di sekolah- menjauhi Ji-kyung, hanya karena dia anak ketua yayasan di sekolah ini. Dan menurut Kai, apa yang salah dari anak ketua yayasan? Dia hanya gadis normal seperti gadis kebanyakan dan yang membedakannya dari gadis lain hanya karena dia mempunyai sebuah status.

“Kai-ssi, kenapa kau hanya diam saja disitu? Bukannya kau ingin mengikuti klub ini?” Kai mengerjap dari lamunannya begitu mendengar suara Ji-kyung yang terkesan dingin itu terdengar oleh gendang telinganya.

“Tentu saja, jadi apa yang harus aku lakukan sekarang?”

“Lakukan apa saja yang ingin kau lakukan, klub ini bebas.” Kai mengangguk dan mulai menaruh tas yang dari tadi tersampir di bahunya, dia kemudian berjalan kearah kotak kaca yang di dalamnya terdapat semut dan memandanginya –karena tidak tahu apa yang harus dikerjakannya-

Satu hal yang dipahaminya sekarang, dia hanya ingin lebih dekat lagi dengan gadis bernama Kang Ji-kyung itu.

***

Young-geun berkali-kali mengerucutkan bibirnya dan menghentak-hentakkan kakinya kesal. Gadis tomboy itu lalu memasuki lapangan basket indoor dengan wajah kesal, salahkan semuanya pada pria pemilik nama Kim Jongin yang membuatnya kesal hari ini.

“Hai, manager~” Young-geun menolehkan wajahnya dengan malas kearah pria tinggi yang melambai padanya dengan semangat.

“Tidak perlu berlebihan seperti itu, Chanyeol-a.” Dengus Young-geun, menaruh tas selempangnya di bangku, “Bagaimana latihannya?” Lanjut gadis itu, memberikan air mineral kepada pria bernama Chanyeol yang terlihat kelelahan.

Chanyeol menerimanya dengan cepat dan meneguknya haus, “Seperti biasa, lancar.” Sahut pria itu setelah sebelumnya menghabiskan setengah isi botol itu.

“Baguslah.” Jawab Young-geun, mengambil beberapa botol air mineral, berjalan menghampiri beberapa orang yang terlihat duduk di tengah lapangan dengan keringat yang hampir membasahi tubuh mereka.

Tanpa banyak bicara, gadis itu mulai membagikan botol air mineral kepada para pemain yang ada di lapangan itu.

“Thanks Manager~”

“Gomawo.”

“Thank you.”

Terdengar beberapa sahutan ketika Young-geun membagikan botol air mineral, dan gadis itu hanya menyahutnya dengan gumaman kecil.

“Kau terlihat sedang kesal manager, ada apa?” Tanya pemuda bernama Baekhyun penasaran.

“Tidak ada, hanya ingin kesal saja. Tidak boleh?” Jawab Young-geun ketus.

“Aiihhh~ galaknya uri manager.” Ledek Chanyeol, merangkul pundak Young-geun akrab.

“Haisshh~ jangan merangkulku, badanmu penuh dengan keringat dan itu sangat bau.” Sungut gadis itu, melepaskan rangkulan Chanyeol di pundaknya dengan sedikit agak kasar.

Beberapa orang yang melihat tingkah mereka berdua hanya terkekeh, teman bertengkar Young-geun itu Kai tapi di waktu-waktu tertentu Chanyeol juga teman yang asik untuk diajak bertengkar.

“Ah~ya, dimana Kai? Aku tidak melihat anak itu dari tadi.” Tanya sang kapten, Suho penasaran.

Young-geun memutar kedua bola matanya malas, “Aku tidak tahu, jangan tanyakan padaku. Cepat latihan sana!”  Titah Young-geun sambil bersungut kesal.

Kelima orang yang berada disana bergidik ngeri sesaat dan mulai berdiri, memulai kembali latihan mereka.

“Jangan marah-marah seperti itu nona Park, nanti kau akan cepat tua.”

“Park Chanyeol, kau mengajak ribut denganku?” Geram Young-geun, melemparkan bola basket kearah pria jangkung itu. Tapi dengan mudah Chanyeol dapat menghindarinya dan setelahnya dia terkekeh geli melihat air muka Young-geun yang terlihat kesal. Dan kekehan Chanyeol itu semakin membuat gadis itu naik pitam.

Sebenarnya Young-geun tidak berniat menjadi manager di klub basket pria, niat awal Young-geun adalah menjadi salah satu pemain di klub basket putri. Thanks to Kkamjong idiot aka Kai yang menyeretnya untuk menjadi manager di klub basket ini dengan alasan ‘Aku malas mencari orang lain untuk menjadi manager, selagi ada kau kenapa harus orang lain’.

Alasan seenaknya ala Kai dan itu membuat Younggeun harus menahan dirinya untuk tidak mencakar muka Kai waktu itu. Dan disinilah sekarang Younggeun berada, lapangan basket, menjadi manager dari enam orang idiot –menurut Younggeun- dengan Chanyeol dan Kai yang selalu membuatnya kesal. Setiap hari.

***

Prang!

“Ya! Kenapa kau memecahkan kotaknya?” Seru Ji-kyung, berjalan menghampiri Kai.

“Aku tidak sengaja.” Jawab Kai membela diri, dia tidak menyangka ketika dia mengangkat kotak yang berisi katak didalamnya itu akan terasa licin dan terlepas begitu saja dari tangannya.

“Yaaa~ kataknya terlepas.” Ucap gadis itu, berjongkok mencoba menangkap katak yang sekarang tengah melompat-lompat menjauhi mereka, “Jangan hanya diam, bantu aku.” Lanjut gadis itu kesal.

Kai mengendikan bahunya dan mulai berjongkok, mencoba menangkap katak yang terlepas hasil perbuatan tidak sengajanya.

“Bukan disana, kataknya di bawah meja.” Ujar gadis itu, berjongkok berusaha menangkap katak yang sekarang berada di bawah meja. Gadis itu melongokan kepalanya ke dalam meja berniat untuk menangkap katak itu, tapi ketika dia mencoba menangkapnya, katak itu malah melompat keluar.

Duk!

“Aww~” Ji-kyung meringis begitu merasakan kepalanya terantuk meja ketika dia akan bangkit, mengingat kepalanya masih berada di bawah meja. Kai malah terkekeh geli melihat kejadian itu, sesuatu yang langka dan patut ditertawakan menurutnya.

“Itu tidak lucu, jangan tertawa.” Dengus Ji-kyung, mengerucutkan bibirnya dengan muka yang memerah. Ini pertama kalinya dia terlihat bodoh di depan seseorang dan ini pertama kalinya juga dia ditertawakan oleh seseorang terlebih ditertawakan oleh seorang pria.

Kai langsung menghentikan tawanya dan terlihat salah tingkah, mengusap tengkuknya beberapa kali. Ji-kyung berdecak pelan, memutar kedua bola matanya dan setelah itu mulai mencari kembali katak yang sekarang entah berada dimana keberadaannya.

Sedikit merasa bersalah, Kai kemudian ikut membantu mencari katak menyusahkan –menurut Kai- itu. Kai maupun Jikyung sama-sama tersenyum senang begitu melihat katak itu berada disudut ruangan, dengan langkah cepat mereka berdua menghampiri hewan amfibi itu.

“Tertangkap kau.” Ucap mereka berbarengan, mengulurkan salah satu lengan mereka masing-masing berniat menangkap katak yang sekarang berada dihadapan mereka tapi kemudian….

Duk!

Kepala mereka berbenturan satu sama lain, benturan pertama untuk Kai dan benturan kedua kalinya untuk Jikyung.

“Kenapa kau menghalangiku?” Tanya Kai, meringis merasakan ujung pelipisnya berdenyut sakit terbentur dengan kepala gadis itu.

“Aku tidak menghalangimu, aku ingin menangkap katak itu. Kau yang menghalangiku.” Sahut Ji-kyung sewot, dia mengusap-ngusap kepalanya. Benar-benar terasa lebih sakit dari benturannya yang pertama.

Mereka berdua lalu bertatapan selama beberapa saat, Kai tidak bisa melepaskan tatapannya dari gadis yang sekarang berhadapan dengannya itu. Pemuda itu menelusuri lekuk wajahnya, matanya yang bulat dan hidungnya yang mancung dan jangan lupakan bibirnya yang tipis, bibir yang pernah bersentuhan dengan bibirnya. Berusaha mengingat dan menyimpan bentuk wajah gadis itu dimemori otaknya.

Ji-kyung memalingkan wajahnya –sekaligus mengakhiri tatapan diantara mereka- gadis itu lalu bangkit berdiri dan menepuk-nepuk seragamnya dengan agak canggung. Begitupun dengan Kai, pria itu ikut bangkit berdiri dan mengusap tengkuknya beberapa kali. Atmosfer kecanggungan terasa jelas diantara mereka.

“Tangkap kataknya!” Titah Ji-kyung keras, terlalu keras malah. Dia sengaja menaikan volume suaranya untuk menghilangkan kecanggungannya sendiri. Kai mendengus pelan dan mau tak mau mulai berbalik dan berusaha untuk menangkap katak yang tidak sengaja dilepaskannya itu.

Sementara itu, entah kenapa Ji-kyung merasa tertarik untuk memandangi punggung Kai yang terlihat bergerak-gerak. Punggungnya terlihat lebar dan kekar….

Aisshh~ apa yang aku pikirkan?

Ji-kyung menggelengkan kepalanya beberapa kali, mencoba menghilangkan imajinasi liarnya tentang namja itu.

“Ini, aku berhasil menangkapnya.” Ucap Kai tiba-tiba dan itu sedikit banyak mengejutkan Ji-kyung. Gadis itu lantas menatap tangan Kai yang sedang memegang katak itu lalu mendongak keatas menatap wajahnya.

“Bisa kau taruh ditempatnya?” Titah Ji-kyung untuk kedua kalinya.

Kai berdecak, “Perempuan benar-benar mahluk merepotkan.” Gumamnya, tapi masih mampu di dengar oleh gadis itu.

“Apa?” Sahut Ji-kyung.

“Tidak, tidak ada apa-apa.” Jawab Kai berjalan dan mengambil kotak kaca baru dan memasukan katak itu ke dalamnya.

Menurutnya perempuan benar-benar mahluk merepotkan, mereka selalu marah-marah tidak jelas, menyuruhnya seenaknya dan yang paling membuat Kai malas; mereka mahluk paling cerewet. Tidak ibunya, tidak Young-geun dan sekarang harus ditambah lagi dengan gadis itu. Setidaknya dia bersyukur di lahirkan sebagai seorang laki-laki.

“Ini sudah sore, sebaiknya kita pulang.” Usul Ji-kyung, Kai membalikan tubuhnya menatap gadis itu, kemudian beralih menatap jam di pergelangan tangan kirinya.

“Yah, memang sudah sore.” Setuju pria itu, Ji-kyung mengangguk, “Kalau begitu aku pulang duluan.” Pamit Ji-kyung, mengambil tasnya kemudian menyampirkannya di bahu kanannya, berbalik dan mulai berjalan pergi.

“Tunggu, bagaimana kalau kita jalan bersama sampai gerbang sekolah?” Tawaran Kai terlontar begitu saja dari mulutnya, Ji-kyung menghentikan langkahnya secara serentak dia terlihat berpikir untuk beberapa saat menimang-nimang tawaran namja itu dan pada akhirnya dia mengangguk menyetujui.

“Ne..” Sahut gadis itu, Kai tersenyum dan kemudian berjalan berdampingan dengan Ji-kyung menuju gerbang sekolah. Mereka berjalan dalam diam, sesekali Kai melirik Ji-kyung lewat ekor matanya.

Tanpa ia sadari, Kai menyunggingkan sebuah senyum tipis. Satu hal yang baru saja disadarinya sekarang, ternyata gadis itu tidak sedingin dan sedatar yang orang-orang lihat. Dia sama dengan gadis yang lainnya, dia hanya gadis kesepian yang sangat membutuhkan perhatian dari orang-orang.

Mereka lalu menghentikan langkahnya ketika mereka sudah sampai di pelataran sekolah.

“Sudah sampai.” Ucap Kai basa-basi.

“Ne, kalau begitu aku pergi dulu.” Sahut gadis itu, mengendikan kepalanya kearah supirnya yang sudah menunggu dengan sabar diluar.

Kai mengernyit begitu melihat Ji-kyung hanya berdiri diam di depan mobilnya, tidak masuk kedalam. Ji-kyung diam selama beberapa saat tapi beberapa detik kemudian dia membalikan badannya dan menatap Kai. Terlihat menggigit bibir bawahnya, ragu apakah dia harus mengatakannya atau tidak. Tapi pada akhirnya dia mulai menggerakan bibirnya untuk mengatakan sesuatu.

“Gomawo.” Ucap Ji-kyung pelan tapi masih mampu di dengar oleh Kai, gadis itu lalu membungkukan sedikit tubuhnya dan tersenyum tipis kearah namja itu setelahnya. Kai tidak bisa untuk tidak membalas senyuman gadis itu, entah kenapa sudut-sudut bibirnya tertarik begitu saja membentuk sebuah senyuman.

Ji-kyung lalu membuka pintu mobilnya dan masuk ke dalam kemudian tak lama mobil sedan itu melaju meninggalkan pelataran sekolah.

Dilain tempat, seorang gadis tiba-tiba menghentikan langkahnya dengan serentak ketika dia melihat sesuatu atau lebih tepatnya seseorang tertangkap oleh matanya. Kai –sahabatnya- tengah berjalan berdampingan dengan seorang gadis lalu dia melihat Kai ikut tersenyum ketika gadis itu tersenyum padanya.

Jenis senyuman yang belum pernah diperlihatkan Kai padanya, dan gadis itu tidak mau mengakui kalau sekarang hatinya terasa berdenyit sakit. Entah kenapa.

“Kenapa berhenti berjalan?” Chanyeol menghentikan langkahnya dan mengernyit heran melihat Younggeun terdiam dengan pandangan lurus kedepan, kesatu titik yang sedang dipandanginya.

“Hey, Young-geun-a?” Panggil Chanyeol, menyenggol lengan Young-geun. Tapi gadis itu tetap diam bergeming.-

“….”

Chanyeol mengerucutkan bibirnya ketika tidak mendapat respon dari temannya itu, dia lalu mengikuti arah pandang Young-geun dan pada saat itu juga pria itu bisa mengerti kenapa gadis itu tidak merespon perkataannya.

“Younggeun-a?” Tegur Chanyeol sekali lagi, menepuk bahu gadis itu pelan. Dan baru sekaranglah Young-geun menoleh, menatap pria jangkung itu sambil mengerjapkan matanya beberapa kali mencoba menghilangkan genangan air mata yang ada disudut matanya –yang entah sejak kapan muncul tanpa disadarinya-

Chanyeol menghela napas, kemudian mengulurkan tangannya menepuk puncak kepala Young-geun.

“Ayo pulang.” Ajak namja itu, menarik tangan Young-geun untuk mengikutinya.

***

Kai tidak bisa menghilangkan senyumannya meskipun mobil yang ditumpangi Ji-kyung sudah tidak terlihat lagi oleh jarak pandangnya, namja itu lalu membalikan tubuhnya dan langsung mengernyit melihat Young-geun dan Chanyeol tengah berjalan berdampingan –dengan tangan Younggeun yang ditarik oleh Chanyeol- menuju tempat parkir dimana motor Chanyeol dan motornya berada disana.

“Youngie-a, Chanyeol.” Panggil Kai setengah berteriak, berjalan –setengah berlari- menghampiri mereka.

“Mwo?” Sungut Young-geun, mendelik kearah pria itu.

Kai berjengit, “Aku hanya memanggil kalian, kenapa kau marah?” Balas Kai setengah kesal, Young-geun memutar kedua bola matanya kemudian mendengus kasar. Tidak membalas perkataan Kai dan memilih untuk diam.

“Kemana saja kau? Kenapa tidak latihan? Kau tahu tidak pertandingan akan segera dilaksanakan.” Gerutu Chanyeol ikut-ikutan.

“Itu..”

“Sudahlah, dasar Kkamjong idiot. Aku pulang bersamamu Chanyeol-a.” Potong Young-geun cepat menekankan kata ‘idiot’, lalu menjitak kepala Kai dengan keras –melampiaskan kekesalannya pada pria itu, kemudian menaiki motor Chanyeol dan pergi meninggalkan Kai begitu saja.

Kai meringis memegangi kepalanya, jitakan gadis itu kali ini benar-benar lebih keras dari jitakan gadis itu sebelum-sebelumnya.

“Kau mencari masalah denganku, Park Younggeun-ssi.” Geram Kai setengah mendesis, dia lalu menaiki motornya dan melaju pergi keluar dari pelataran sekolah mereka.

***

“Sudah sampai.” Chanyeol menghentikan motor sportnya di depan rumah Younggeun.

“….”

“….”

“….”

“Sudah sampai, Young-geun-a.” Ulang pria itu menaikan sedikit volume suaranya.

“Eh? Sudah sampai?” Gumam Young-geun setengah tersadar dari lamunannya, dia lalu turun dari motor pria itu dan memberikan sebuah senyuman untuk Chanyeol sebagai tanda ucapan terimakasih.

Chanyeol mendengus setengah mengejek, “Jangan pernah mengharapkan orang yang tidak akan pernah menoleh padamu, karena semua itu akan sia-sia.” Ucap Chanyeol, memandang Young-geun lamat-lamat.

Sementara gadis itu mengerutkan alis dan melemparkan tatapan bingung pada Chanyeol, “Apa maksudnya itu?”

“Kau tahu maksudku.”

“Aku tidak mengerti.”

“Sudahlah, sana masuk ke dalam rumahmu hari sudah sore.” Titah Chanyeol mengalihkan pembicaraan. Dia lalu mengendikan kepalanya kearah rumah Young-geun, menyuruh gadis itu untuk cepat masuk.

Young-geun menggembungkan pipinya kesal, tapi kemudian dia menuruti perintah Chanyeol untuk segera masuk kedalam rumahnya.

“Kau akan semakin terluka, bodoh.” Gumam Chanyeol, menatap gadis itu berjalan sampai kerumahnya.

—–

“Chanyeol!” Chanyeol menoleh kearah sumber suara begitu merasa namanya dipanggil, tapi kemudian…

Duk!

Orang itu yang tak lain adalah Kai malah melemparkan bola basket kearah Chanyeol tepat kearah kepalanya, menyebabkan pemuda yang mempunyai tinggi di atas rata-rata itu meringis sakit selama beberapa saat.

“Itu sakit Kkamjong, kau mau memecahkan kepalaku dengan melemparkan bola basket keras itu tepat ke kepalaku?” Gerutu Chanyeol kesal, masih memegangi kepalanya yang masih terasa berdenyut sakit.

Kai hanya tersenyum polos menyebalkan dan menghampiri salah satu teman dekatnya itu –selain Young-geun- lalu duduk di sebelahnya, ikut memperhatikan teman-temannya di bawah –lapangan- yang sedang latihan basket diatas baku penonton –tempat dimana dia dan Chanyeol duduk sekarang-

“Kau berlebihan sekali, kepalamu tidak akan pecah hanya karena aku melemparkan bola basket.” Sahut Kai santai, seolah-olah dia tidak pernah melemparkan bola basket ke kepala Chanyeol.

“Kkamjong idiot.” Ejek Chanyeol, cukup geram dengan ekspresi datar yang diperlihatkan Kai.

“Hey, itu panggilan Young-geun padaku. Kau tidak boleh menirunya, kau tidak kreatif sekali.” Sahut pemuda itu, sesekali memperlihatkan senyum miring andalannya itu.

“Sesukamu sajalah, Kim Jongin.” Cuek Chanyeol, mengalihkan perhatiannya kembali ke bawah – melihat teman-temannya yang sedang latihan-

Begitupun dengan Kai, dia mengalihkan perhatiannya ke bawah kearah teman-temannya sambil memain-mainkan bola basket yang sedang dipegangnya. Hening beberapa saat, sampai Kai menghentikan kegiatannya –memainkan bolanya- dan menoleh kearah Chanyeol. Teringat tujuan awalnya datang kesini dan menemui Chanyeol.

“Aku ingin mengatakan sesuatu padamu.”

“Apa?” Sahut Chanyeol tak acuh.

“Kurasa aku jatuh cinta.” Jawab Kai cepat dan didetik itu juga Chanyeol menoleh dengan cepat menatap Kai.

“Mwo?” Reaksinya cukup terkejut.

Kai memutar bola matanya, “Tidak perlu berlebihan seperti itu, aku hanya sedang jatuh cinta bukan ingin membunuhmu.”

“Siapa?” Tanya Chanyeol, sekarang semua perhatiannya terpusat pada pemuda itu.

“Siapa apanya?” Tanya Kai balik bertanya, tidak mengerti.

“Orang yang kau sukai itu.” Sahut Chanyeol, entah kenapa dia sedikit merasa cemas. Semoga saja bukan gadis yang tengah dipikirkannya sekarang.

Kai menarik sudut-sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman, “Kang Ji-kyung.” Sahutnya pelan.

Tanpa disadari, ekspresi wajah Chanyeol berubah menjadi lebih rileks, mereka terdiam selama beberapa saat. Chanyeol terlihat mengerutkan kedua alisnya, berpikir siapa gadis yang mempunyai nama ‘Kang Ji-kyung’ disekolah ini yang mampu membuat seorang Kim Jongin yang mempunyai hati sedingin es itu bisa jatuh cinta.

Dan Chanyeol sedikit melebarkan matanya ketika mengetahui siapa gadis yang bernama ‘Kang Ji-kyung itu’

“Kang Jikyung….putri ketua yayasan?”

“Ya..”

Tanpa Chanyeol sadari, dia menatap kebawah –menatap kearah seorang gadis yang terlihat sibuk dengan aktivitasnya memberikan minum pada pemain basket- dengan ekspresi yang sulit diartikan.

—–

Chanyeol menghela napas begitu dia mengingat kembali pertemuannya dengan Kai tempo hari, dimana pemuda itu mengatakan bahwa dia sedang ‘jatuh cinta’ dan dia tidak tahu bagaimana reaksi Young-geun kalau sampai gadis itu mengetahuinya.

Dengan pikiran yang dipenuhi oleh Young-geun dan Kai, Chanyeol mulai menyalakan mesin mobil dan melaju meninggalkan pekarangan rumah mewah milik Young-geun.

-To be Continue-

56 responses to “Lucky – Part 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s