She’s a Fantasy

pic

She’s a Fantasy

INFINITE Kim Sunggyu Kia

 

Author: @heavyhan

cr.pic: belongs to the owner

“Dia ada, Kia. Kau bisa melihatnya ‘kan?”

*

Sabtu, hari keempat Sunggyu dan Kia menempati sebuah apartemen baru. Sunggyu telah menerima gaji bulanan pertamanya sebagai pekerja kantoran, dan memutuskan menyisihkan gaji tersebut untuk menyewa apartemen yang lebih dekat dengan kantornya. Pun mungkin yang lebih penting, sedikit lebih nyaman ditempati. Karena jika ditanya apa alasan utama mereka pindah, merta mereka akan menjawab,

“Kami hanya ingin kamar mandi yang lebih lebar dari kardus lemari pendingin berpintu dua.”

Akhirnya, mereka menemukannya. Apartemen yang-sedikit-lebih mahal, dengan kamar mandi yang lebih leluasa untuk tempat badan bergerak. Juga, letaknya yang dapat ditempuh dua puluh menit dengan berjalan kaki menuju kantor, atau bisa saja hanya lima menit dengan berlari seperti lesatan pegasus di saat Kia terlambat bangun pagi, yang kemudian berimbas pada suaminya.

Apartemen mereka berada di lantai enam, memiliki balkon sempit yang berhadapan langsung dengan bangunan lain yang sepertinya juga berwujud rumah susun berjarak setalian jemuran.

Baik Sunggyu maupun Kia menyukainya. Mereka telah menginginkan hal ini sejak dulu. Karena menurut mereka, akan menyenangkan untuk dapat tinggal di sebuah bangunan tinggi yang memiliki balkon. Angkasa terasa lebih dekat di depan wajahmu, dan dunia menjadi bawahanmu setiap kali kau berdiri di sana.

Dan, di empat hari pertama mereka di tempat baru ini, telah tiga kali Sunggyu mendapati pemandangan tak biasa yang kemudian tak berhenti mengusik pikirannya. Di mana, di setiap pukul sebelas menuju tengah malam, matanya selalu menangkap sosok berbalut gelap yang tampak melompat-lompat menjejaki atap bangunan di seberang apartemennya.

Ia belum dapat menerka siapa sosok tersebut hingga malam ini ia kembali berdiri di balkon dan mengharapkannya kembali menampakkan diri, dan melakukan aksi yang sama.

“Sedang apa?”

Sunggyu memutar kepala sejenak pada asal suara-itu Kia- lantas buru-buru kembali beralih pada titik pandangnya sedari tadi. Pertanyaan dari Kia tak disahutnya segera. Ia justru menarik bahu istrinya untuk kemudian berada dalam rangkulnya.

“Hei?”

“Diam, dan tunggulah.”

Kia menelengkan kepala heran, lantas memilih menurut berdiri sejajar di samping Sunggyu. Ia turut diam, mengikuti arah pandang Sunggyu dan berhenti pada satu titik gelap di seberang. Atap bangunan.

“Apa sebenarnya yang kau li-,”

“Itu! Itu! Kau dapat melihatnya?!” Seruan dan cengkraman keras Sunggyu di bahu membuat Kia cukup tergagap hingga ia seperti linglung mengikuti cepat arah telunjuk Sunggyu yang sangat antusias. Namun, ia tak melihat apa-apa.

“Apa? Siapa?”

“Tentu saja yang melompat-lompat di atap itu, kau melihatnya ‘kan?” Sunggyu masih dalam hebohnya seraya tak berhenti menunjuk-nunjuk udara yang menurut Kia tak dapat ditemukan apapun di sana.

Selanjutnya, Kia menjadi merinding sendiri. Ia selalu tak suka jika harus menghadapi hal-hal berbau sosok misterius dan hantu. Melompat-lompat di atap? Bukankah itu aneh jika manusia yang melakukannya?

“Oh, berhentilah menakut-nakutiku.Aku tak melihat apa-apa.”

Sunggyu menurunkan telunjuknya setelah ia melihat sosok itu telah tak terlihat lagi. Penampakan tersebut hanya berlangsung kurang dari sepuluh detik, dengan sosok tersebut menyeberangi atap lantas hilang dalam gelap.

Ia kemudian memutar kepala pada Kia dan menatapnya intens.

“Kurasa, ia seorang gadis kecil.” Katanya dengan mimik serius seolah tak mendengar ‘rengekan’ Kia sebelumnya.

“Kau bercanda?! Tak ada apa-apa di sana.” Kia masih setia dengan yakin penglihatannya, meski jantungnya mulai bergetar karena takut.

Selanjutnya, Sunggyu menanggapi dengan ekspresi datar, lantas memilih menarik tubuh Kia meninggalkan balkon tanpa berucap lagi. Mengajak bicara isterinya yang penakut tak akan membuatnya bersemangat untuk mencari tahu akan sosok tersebut.

*

“Tiga ribu won untuk dua mangkuk ramennya, lima ratus won untuk bando merahnya.”

Kia terkejut mendengar pernyataan kasir kedai makanan yang ia yakini tertuju padanya. Ia mahfum mengenai ramen yang ia beli untuknya dan juga untuk Sunggyu (hari ini ia ingin menyantap makan malam di luar, dan di sinilah mereka berada), namun ia tak merasa membeli benda kedua yang dilaporkan oleh sang kasir.

Sejenak, ia memutar kepala menemukan sosok Sunggyu di meja pengunjung, dan ia tak menemukan satu bando pun yang dipegang laki-laki tersebut. Lagipula, untuk apa ia menyangka suaminya membeli bando? Atau mungkin lebih tepatnya, untuk siapa? Ia tidak menyukai benda-benda lucu semacam itu untuk kemudian menghiasi bagian tubuhnya. Pun, yang paling mengherankan, bagaimana bisa sebuah kedai makanan juga merangkap menjual aksesoris anak perempuan?

“Nona?”

Kia kembali berfokus pada kasir tersebut, merogoh dompetnya dan mengeluarkan sejumlah uang seharga dua mangkuk ramen.

“Kurasa bando yang anda maksud, bukan milikku. Bisakah kau memeriksa lagi? Aku hanya memesan dua mangkuk ramen, dan dua botol soju-yang menurut tulisan di pintu kedai diberikan secara gratis hari ini.

Kasir itu menurut, memeriksa sejenak lantas kembali mengangkat wajahnya, kini dengan kerut samar di dahi.

“Bando ini juga masuk dalam pemesanan. Bando merah dengan tempelan dua sulaman bunga matahari. Mungkin memang bukan anda yang memesan, Nona. Tapi suami anda, untuk anak perempuan di sampingnya itu.”

Kalimat kasir tersebut lagi-lagi membuat Kia memutar kepala untuk kembali tertuju pada meja pengunjung tempat Sunggyu duduk. Matanya membola, kini mendapati seorang bocah perempuan dengan gaun merah, tengah duduk tepat di samping Sunggyu. Di kepalanya telah melekat sebuah bando yang persis sama dengan deskripsi sang kasir. Dan, mereka berdua tampak mengobrol dengan asyik. Seperti dua orang beda usia yang telah mengenal sejak lama.

Ini aneh, dan bulu kuduknya meremang perlahan.

Kia melangkah hati-hati untuk dapat mendekat pada Sunggyu dan gadis kecil itu. Jantungnya menjadi semakin kencang saat kedua mata bocah tersebut memancang wajahnya. Kedua matanya mengingatkan ia pada sepasang mata suaminya.

“Oh, sudah selesai? Ayo pulang.” Sunggyu tersenyum lebar, lantas bangkit seraya meraih tangan bocah tersebut dan tangan Kia di genggaman lain, bersiap meninggalkan meja.

“T-tunggu,”

“Namanya Kim Soobi, dia yang beberapa hari ini kulihat melompat-lompat di atap bangunan seberang apartemen. Dia, puteri kita.”

Sejenak, Kia menjadi sesak dan darahnya berhenti bergerak. Ia lantas menarik tangannya dari genggaman Sunggyu dengan kasar.

“Kita … tak pernah memiliki seorang anak, kau tahu itu!”

“Kau salah, Kia. Dia puteri kita, puteri pertama kita. Dia yang kau katakan akan memiliki sepasang mata yang sama denganku, dan rambut ikal sepertimu. Dia yang cantik, namun juga keras kepala sepertiku, hobi melompat-lompat dan berteriak-teriak sepertimu. Dia, puteri kita.”

Kia mulai menangis, keras tanpa henti. Menolak pernyataan Sunggyu, dan meyakini kebenaran yang ia alami. Mereka pernah membicarakan hal tersebut, memang. Namun itu dulu, saat perutnya membuncit untuk enam bulan dan mengempis setelah ia terjatuh di taman belakang.

Dan Kim Soobi, tentu ia masih ingat bahwa ialah yang mengajukan nama tersebut jika pada akhirnya anak yang lahir adalah seorang perempuan.

Namun, ia tak bisa menerima. Jika Sunggyu membuatnya gila dengan khayalan-khayalannya mengenai anak yang tak sempat lahir itu.

Kia terus menangis, bahkan wajahnya telah tertutupi air mata seluruhnya. Ia terisak, tubuhnya bergetar, namun kemudian terhenti saat sebuah telapak mengusap-usap kepala dan wajahnya. Tangan yang tampak gusar menenangkannya, yang ternyata justru membangunkannya dari tidur.

“Sung-gyu, Sung-gyu, huhu.” Ia terus terisak dengan perlahan membuka mata. Dalam sedetik, ia seolah terbawa ke dimensi lain yang sama sekali berbeda dengan di mana ia berada beberapa saat yang lalu.

Ia direngkuh kuat, oleh tubuh yang ia yakini adalah milik suaminya. Ia telah sadar di mana ia sekarang. Namun, tangisnya tak juga berhenti. Ia terisak, meski tak sekeras sebelumnya. Ia merasakan sekitar matanya basah, dan tak sampai membanjiri wajahnya seperti yang ia rasakan sebelumnya. Debaran jantungnya yang keras menjadi lebih tenang setelah beberapa saat ia mendapat penenangan dari tangan Sunggyu.

“Sung-gyu,”

“Aku di sini, Kia, aku di sini.”

“Soo-bi,”

“Kau melihatnya juga? Puteri kita, kurasa kita telah bermimpi hal yang sama tentangnya.”

Kia tak lagi berkalimat, selain semakin menenggelamkan kepalanya dalam rengkuh Sunggyu, berusaha mengingat wajah cantik milik calon anak mereka dalam mimpinya tadi.

END

Advertisements

18 responses to “She’s a Fantasy

  1. Sbnerny pas Sunggyu blg liat ank perempuan melompat diatap, aku menduga itu ank mereka tp aku gak menduga trnyata sbnerny mreka kehilangan putrinya.
    Miris bgt, aku suka gambaran dan perumpamaan Soo-bi yg mirip Sunggyu. Rasanya ini pas bgt buat pasangan yg mendambakan anak diantara mreka. Daebak…i love it

  2. pas bagian melompat-lompat itu aku merinding thor… dan ternyata itu anak mereka. aku ngerti dan baru ngeh pas udah end… kreatif thor aku suka, meskipun ga panjang hehehe tapi aku suka! daebak!! di tunggu ff selanjutnya. SMANGAT!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s