Lucky – Part 3

Good or bad luck cover

Previous: Part 1| Part 2 |

Cast: Kim Jongin | Kang Ji-Kyung (Oc) | Park Chanyeol | Park Young-Geun| etc

Disclaimer: Fanfic ini terinspirasi dari sebuah anime yang judulnya aku lupa. ._.v cuman dibeberapa bagian ada scene yang sama, tapi kesananya itu hasil imajinasiku. ^^

Warning: Typo, cerita gaje, dan kekurangan yang lainnya. Maaf kalau ada yang tidak suka. DON’T LIKE DON’T READ!

Story

Kai sesekali mengusap peluh yang membasahi keningnya menggunakan punggung tangannya, ia tetap berusaha mempertaruhkan bola yang sedang di drabblenya itu dari jangkauan teman satu timnya, yang sekarang menjadi lawan tandingnya.

Kai lalu membawa bola basket itu menuju ke ring, mengarahkannya lalu melemparkannya dan…

Shoot. Bola itu berhasil masuk kedalam ring, jatuh, kemudian memantul dan beberapa saat setelahnya menggelinding keluar garis lapangan. Setelah merasa puas karena berhasil memasukan lebih dari belasan kali bola basket itu kedalam ring dan berhasil mengalahkan teman-temannya selama 40 menit pertandingan basket yang mereka lakukan, Kai lalu berjalan keluar lapangan dan duduk disisi lapangan, menerima sebotol air mineral yang disodorkan Younggeun padanya, kemudian meneguknya haus.

“Aku heran padamu, meskipun kau jarang sekali latihan kenapa permainan basketmu masih saja tetap hebat.” Keluh Baekhyun –pemuda yang menjadi lawan Kai tadi bersama empat orang lainnya- ia mengambil handuk kecil yang ada didalam tasnya untuk mengusap peluh yang membasahi wajah dan sekitar lehernya.

Kai yang mendengar itu hanya menyunggingkan senyum miringnya dan memperlihatkan tatapan angkuhnya.

“Jangan memujinya seperti itu Baekhyun, lihat ekspresi wajahnya sekarang. Terlihat sangat angkuh.” Cibir Chanyeol ikut duduk disebelah Baekhyun, ia lalu menerima botol air mineral yang disodorkan Younggeun.

“Thanks.” Sahut Chanyeol mengangkat sedikit botol air mineralnya, Younggeun hanya mengangguk tak acuh dan kembali melanjutkan kegiatannya –memberikan botol air minum- kepada ketiga temannya yang lainnya; Suho, Sehun dan Dio. Ah, dan juga Baekhyun yang terlewat.

Kai hanya mendengus menanggapi, ia kemudian kembali meneguk air mineral ditangannya tapi beberapa detik kemudian pemuda itu tersentak ketika tiba-tiba ia mengingat sesuatu. Dengan cepat Kai membuka tasnya dan mencari ponselnya dan setelah menemukan benda tipis itu, Kai kemudian melihat jam yang tertera diponselnya.

03.04 pm

“Astaga! Aku terlambat.” Gumamnya, dengan gerakan cepat ia memasukan barang-barangnya kembali kedalam tas kemudian menyampirkan tas hitam itu disebelah bahunya. Beranjak bangkit dari duduknya dan hal itu mampu mengundang teman-temannya untuk menoleh kearahnya tak terkecuali Younggeun.

“Kau mau kemana?” Tanya gadis itu, mewakili pertanyaan temannya yang lain yang pastinya sama dengannya yang ingin diajukannya pada Kai.

“Ruang Biologi.” Sahut Kai cepat, setelah itu pemuda tersebut dengan langkah tergesa keluar dari ruangan basket indoor itu. Meninggalkan teman-temannya yang saling menatap bingung.

“Ruangan biologi? Sejak kapan dia menyukai biologi?”

***

Ji-kyung berkali-kali menolehkan kepalanya kearah pintu yang terlihat masih tetap menutup, gadis itu seperti sedang menunggu sesuatu atau lebih tepatnya seseorang.

“Kemana dia?” Gumamnya tanpa sadar, tapi sedetik kemudian ia menggelengkan kepalanya untuk mengusir pemikirannya tersebut.

Kenapa aku harus memikirkannya, sudah bagus dia tidak datang, dia tidak akan menggangguku lagi, batin Jikyung. Kembali melanjutkan kegiatannya dengan ikan-ikan di aquarium itu.

Lebih tepatnya tidak akan mengganggu pikiranmu lagi, benar begitu kan Jikyung?

“Maaf, aku terlambat.” Tiba-tiba pintu ruang biologi terbuka cukup keras, seorang pria yang terlihat masih memakai baju basket lengkap dengan napas yang memburu seperti seseorang yang sudah berlari cepat dengan jarak yang jauh. Dan jangan lupakan, peluh yang masih terlihat dibeberapa bagian tubuhnya, khususnya disekitar leher dan wajahnya. Pemuda itu lalu berjalan masuk dan menutup kembali pintu tersebut.

Jikyung yang sedikit terkejut dengan kedatangan tiba-tiba pemuda itu, kembali mengendalikan ekspresinya kewajah datar. Ia memasang ekspresi seolah tidak peduli dengan kedatangan pemuda itu, walau sebenarnya dalam hatinya berbanding jauh dengan ekspresi yang diperlihatkannya sekarang.

“Tak apa.” Sahut gadis itu, mencoba untuk bersikap biasa.

“Aku tadi berlatih basket bersama teman-temanku dan aku sedikit melupakan bahwa aku sudah mengikuti klub biologi.” Ringis Kai, ya ia akui tadi dia benar-benar lupa. Kalau sudah menyangkut tentang basket ia pasti akan melupakan waktu dan juga hal-hal yang lainnya, termasuk tentang hal ini.

“Hmm, tidak apa-apa.” Sahut Jikyung, lagi-lagi mengeluarkan jawaban singkat. Ia terlihat menyibukkan dirinya pada ikan-ikannya, kembali terlihat tengah meneliti hewan air itu. Binatang favoritnya.

Suasana terlihat canggung untuk mereka berdua, Kai berusaha untuk mencari bahan obrolan untuk dibicarakan. Ia tidak suka kalau mereka sudah dalam keadaan ‘canggung’ seperti ini.

“Ah, ya, tiga hari lagi tim basketku akan bertanding dengan sekolah lain. apa kau akan menonton?” Tanya Kai, sangat berharap kalau jawaban yang akan dilontarkan gadis itu adalah ‘ya’.

“Aku…tidak tahu.” Sahut Jikyung masih tetap sibuk dengan ikan-ikannya dan hal itu mampu membuat Kai mendesah kecewa.

“Ini pertandingan yang sangat penting untuk tim basket kami, masa kau tidak ingin mendukung tim basket sekolahmu sendiri?” Bujuk Kai dengan bermodalkan alasan sekolah dan berharap gadis itu akan menjawab ‘ya’ atau setidaknya menganggukan kepalanya.

Kai tidak pernah memaksa seseorang sebelumnya, ketika ia mengajak teman-temannya bermain dan ketika mereka menolak, Kai tidak akan pernah memaksa lagi. Ini bukan sifatnya, dan ia tidak mengerti kenapa dia melakukannya sekarang; membujuk seseorang, lebih tepatnya seorang gadis? Cih!

Jikyung terlihat menghentikan aktivitasnya dan terdiam sesaat, terlihat tengah berpikir.

“Akan aku pikirkan.” Sahut gadis itu pada akhirnya. Mendengar hal itu Kai tidak bisa untuk tidak menarik kedua sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman. Hanya selama tiga detik, dan didetik berikutnya ia membuat bibirnya kembali datar. Ia tidak ingin terlihat terlalu senang, ingat disini dia masih mempertahankan gengsinya.

“Baiklah, pertandingannya akan diadakan di stadium Jamsil di Songpa jam tiga sore, kalau kau berencana ingin menonton.” Ucap Kai memberitahukan detail tempat yang akan menjadi tempat mereka bertanding.

“Hmm…” Gumam Jikyung menanggapi.

***

…Three days later…

Kai menghembuskan napas gugup, perlahan berjalan memasuki stadium Jamsil bersama teman satu timnya, pelatih dan juga Younggeun yang menjabat sebagai manager mereka.

Teriakan para penonton yang hadir di stadium itu yang kebanyakan siswa Hannyoung –sekolah Kai- yang sengaja hadir untuk mendukung tim basket sekolah mereka, siswa Paran –sekolah yang menjadi lawan mereka- tak kalah banyak juga yang hadir dan menyemangati tim basket sekolah mereka.

“Bermain dengan lepas, kerjasama, dan usahakan supaya lawan tidak menguasai permainan. Ingat, kerjasama.” Ucap pelatih mereka –Hyukjae- menasehati kepada lima pemainnya yang akan tampil; Suho, Dio, Baekhyun, Chanyeol dan Kai mengangguk mengerti.

“Ne, pelatih.” Sahut mereka kompak. Hyukjae mengulurkan tangannya dan disambut oleh mereka berlima, Younggeun dan Sehun yang menjadi pemain cadangan dan beberapa pemain lainnya yang juga menjadi pemain cadangan ikut bergabung.

“Hannyoung~ Fighting~~!!” Koor mereka kompak, dan disambut dengan teriakan siswa Hannyoung yang menonton dengan berteriak ‘Hannyoung Jjang’ ‘Hannyoung Jjang’ dengan cukup heboh.

Seolah tidak mau kalah siswa Paran yang hadir juga meneriakan ‘Paran’ ‘Paran’ tak kalah hebohnya. Pertandingan belum dimulai pun, keadaan didalam lapangan indoor ini sudah terasa panas.

Sudah menjadi rahasia umum kalau SMA Hannyoung dan Paran selalu menjadi rival dalam hal apapun, apalagi dalam basket. Dua sekolah elit ini seolah tidak mau saling mengalah, meskipun sekarang hanya pertandingan persahabatan yang selalu rutin diadakan setiap tahun antara dua sekolah ini. Dan tahun ini, Kai bersama yang lainnya bertekad untuk memenangkan pertandingan ini karena tahun kemarin mereka harus kalah dari Paran.

Kai bersama keempat pemain lainnya berjalan menuju ketengah lapang, gemuruh penonton semakin membahana ketika pemain basket Hannyoung dan Paran mulai masuk kelapangan. Mereka semua mulai menempati posisi masing-masing dan sekarang Kai mendapatkan tugas untuk maju kedepan dan menangkap bola yang dilemparkan wasit keatas tanda dimulainya pertandingan, jump ball.

Meskipun beberapa detik lagi pertandingan dimulai, Kai sesekali masih terlihat sibuk mencari seseorang dibangku penonton. Tidak perlu dijelaskan lagi siapa orang yang dari tadi dicari oleh pria itu. Ya, Kang Jikyung. Tapi meskipun Kai mencoba mencari gadis itu diantara puluhan siswa Hannyoung lainnya, Kai sama sekali tidak bisa menemukan Jikyung dimana-mana.

“Kai, konsentrasi bodoh!” Seruan keras Younggeun itu membuat Kai tersentak, ia lalu mengalihkan lagi tatapannya kedepan memandangi bola basket yang sekarang berada ditangan wasit dan beberapa detik kemudian bola basket itu dilempar keatas, Kai maupun lawan dari Paran sama-sama melompat untuk mendapatkan bola dan…

Prit!

Pertandingan basket pun dimulai.

***

Ji-kyung sama sekali tidak bisa berkonsentrasi dengan buku pelajaran yang sedang dibacanya, setiap satu menit sekali ia pasti akan mengecek jam di pergelangan tangan kirinya.

03.20 pm

Ia mendesah kecewa, dua babak pertandingan pasti sudah terlewati. Sekarang hanya tersisa dua babak lagi yang bisa ia tonton. Jikyung sangat ingin menonton pertandingan basket antara sekolahnya dengan sekolah Paran. Ia hanya ingin mendukung sekolahnya, bukan karena ajakan Kai waktu itu yang memintanya untuk menonton. Jikyung berkali-kali menekankan hal itu.

Tapi masalahnya, orang tuanya sedang berada dirumah dan ia yakin mereka tidak akan mengijinkannya untuk pergi walaupun itu untuk mendukung sekolahnya sendiri. Jikyung bangkit dari duduknya, sedikit merasa resah.

Ia berkali-kali berjalan mondar mandir dengan kuku jari yang ia gigit. Beberapa saat kemudian Jikyung menghentikan kegiatan mondar mandirnya, melangkah mendekati pintu, membukanya perlahan dan melongokan kepalanya untuk melihat keadaan diluar kamarnya.

Setelah merasa yakin kalau diluar terlihat sepi, Jikyung kembali kesamping ranjangnya menyimpang guling ditengah dan menutupnya menggunakan selimut, mencoba mengelabui siapa saja yang masuk kekamarnya kalau ia terlihat tengah tertidur.

Setelah itu Jikyung kemudian melangkah dengan pelan keluar dari kamarnya, berjinjit menuruni tangga mencoba untuk tidak mengeluarkan suara sekecil apapun, masih melirik kekanan dan kiri berjaga-jaga kalau orang tuanya datang dari arah mana saja dan mengejutkannya yang sedang berusaha keluar dari rumah dan sampai sejauh ini keadaan diruangan tengah masih terlihat sepi, gadis itu merasa heran karena tidak ada seorang pun pelayan yang selalu ada disana bertugas untuk menjaganya.

Dan Jikyung bersyukur untuk hal itu, karena sepertinya Tuhan membantunya untuk keluar dari rumah ini. Gadis itu baru bisa menghela napas lega begitu ia sudah berada diluar rumah, dengan tidak membuang waktu, Jikyung segera berlari, membuka gerbang rumah dan keluar dari rumah mewah itu. Mencegat taksi yang saat itu kebetulan lewat, masuk kedalam dan mengatakan tujuannya pada supir taksi.

***

Prit!

Suara tiupan peluit dari wasit yang mengatur jalannya pertandingan ini terdengar, menandakan kalau babak ketiga baru saja berakhir. Skor sementara 45-40 dengan skor tertinggi dipegang oleh sekolah Paran. Kedua anggota tim basket berjalan kesisi lapangan, dengan cekatan Younggeun membagikan setiap minum pada para pemain.

Masih ada waktu sepuluh menit untuk mereka istrirahat.

“Sehun, kau masuk menggantikan Dio.” Seru Hyukjae, Sehun mengangguk dan terlihat mulai bersiap-siap. Pria berumur dua puluh enam tahun itu lalu mengalihkan pandangannya pada Kai.

“Jongin, ada apa denganmu? Permainanmu terlihat buruk sekali. Kau terlihat tidak berkonsentrasi, apa ada hal yang kau pikirkan?” Tanya Hyukjae.

Ya, ada, Kang Jikyung.

Kai menggeleng, “Jwosonghamnida pelatih, aku tidak akan melakukannya lagi.”

“Baiklah, jangan menyerah. Masih ada satu babak lagi, kita hanya berbeda lima poin saja. Kita pasti bisa mengunggulinya.” Seru Hyukjae memberi semangat, ia menepuk satu persatu bahu pemainnya mencoba menyalurkan semangat.

“Jongin, kuharap kau bisa berkonsentrasi.” Pesan Hyukjae, Kai mengangguk dan pada saat itulah ia melihat seorang gadis terlihat tengah terburu-buru berlari menuju kemari lewat bahu pelatihnya.

Perlahan-lahan sosok itu semakin jelas, berhenti begitu ia sudah sampai disisi lapangan. Kai tersenyum lebar menatap gadis sekarang terlihat tengah mengatur napasnya akibat berlari dari tadi untuk sampai kesini.

Kau datang juga akhirnya, batin Kai.

“Kai, ayo, pertandingan akan segera dimulai.” Seru Suho sang kapten, Kai mengangguk dengan cepat begitu melihat Suho sudah berada ditengah lapangan sementara dirinya masih tetap berada dipinggir lapangan. Dan pada saat itulah Jikyung mendongak, menatap Kai yang juga sedang menatapnya.

“Hannyoung jjang~”

“Hannyoung jjang~”

“Hannyoung jjang~”

“Gomawo.”

Jikyung mengernyit ketika dia tidak begitu mendengar jelas apa yang diucapkan Kai karena tertutupi suara siswa Hannyoung yang mulai heboh menyemangati. Kai kemudian berbalik dan berjalan maju ketengah lapangan.

Seperti babak pertama tadi, pemuda itu kembali maju kedepan, berhadapan dengan lawannya untuk mendapatkan bola basket yang akan dilempar wasit sebentar lagi.

Syutt~

Prit!

Kai melompat dan berhasil menangkap bola, ia kemudian mendribble bola itu. Mengopernya kearah Chanyeol yang terlihat kosong, pria jangkung itu mendribble bola sebentar kemudian mengoper bola itu pada sang kapten Suho, begitu lawan mulai menghalangi pergerakannya.

Mendapat lemparan bola, Suho mendribblenya sesekali melakukan crosscover untuk mengelabui musuh. Setelah berada didepan ring, pria yang mempunyai kulit putih susu itu melemparkan bola kearah ring denga teknik lay up dan…

Shoot. poin untuk tim Hannyoung.

“Kyaa~ Suho oppa~~” Teriak histeris siswi wanita mulai terdengar ketika melihat pria yang mempunyai julukan ‘Angel’ itu memasukan bola dan menambah poin untuk sekolah mereka.

Seolah tidak mau kalah, salah satu pemain Paran merebut bola dari Sehun dan mendribblenya, tapi dengan gerakan cepat Baekhyun mengejar pemain itu dan berusaha untuk mendapatkan bola dan….berhasil.

Tidak mau membuang kesempatan, Baekhyun segera menyerang balik mendribblenya beberapa kali kemudian mengopernya pada Kai. Tidak membuang waktu, pemuda itu segera mengarahkan bolanya dan melemparkannya kedalam ring.

Shoot.

Kai tersenyum bangga ketika ia berhasil memasukan bola kedalam ring, sesekali ia melirik kearah seorang gadis yang terlihat tengah memperhatikan pertandingan mereka. Kai kemudian mengalihkan lagi tatapannya dan ber-high5 ria dengan Chanyeol dan Baekhyun.

“Kerja bagus, sobat.” Ujar Baekhyun tersenyum lebar. Kai ikut tersenyum kemudian berlari, menghalangi lawan yang sekarang tengah memegang bola.

Dan selanjutnya tim basket sekolah Hannyoung berkali-kali memasukan bola kedalam ring, entah itu oleh Chanyeol, Sehun, Baekhyun, Suho ataupun Kai. Pertandingan pun berakhir atas kemenangan tim Kai dengan skor 52-57.

Prit!

Peluit tanda berakhirnya pertandingan pun membuat siswa Hannyoung bersorak senang atas kemenangan tim basket sekolah mereka. Kelima tokoh utama yang membawa mereka kedalam kemenangan, berpelukan satu sama lain untuk merayakan kemenangan mereka.

“Kita menang.”

“Ya.” Sahut mereka kompak. Setelahnya tim Hannyoung atau pun Paran saling berjabat tangan dan membungkuk. Tim Paran sepertinya menerima kekalahan mereka, terlihat dari mereka yang memberikan selamat untuk tim Suho.

“Good job, anak-anak.” Seru Hyukjae mengacungkan kedua jempolnya, mereka berlima berbalik kemudian tersenyum kearah pelatih mereka.

Dan bersamaan dengan itu Kai menatap Younggeun yang berdiri bersebelahan dengan Jikyung, pemuda itu memberikan senyumnya untuk mereka berdua, Kai perlahan maju menghampiri mereka, ia mengalihkan tatapannya pada Jikyung dan tersenyum untuk yang kesekian kalinya kearah gadis itu. Perlahan jarak diantara mereka bertiga semakin menipis, Younggeun masih terlihat mempertahankan senyumnya menyambut kedatangan pria itu, sementara Jikyung hanya tersenyum tipis tapi kemudian…

Greb!

Kai memeluk tubuh Jikyung erat, dan hal itu mampu menyedot semua perhatian penonton pada mereka berdua, siswa Hannyoung maupun Paran sama-sama terdiam melihat pemandangan dimana Kai yang memeluk Jikyung secara tiba-tiba.

Sementara gadis itu hanya membelalakan matanya tidak percaya, hanya bisa diam terlalu terkejut ketika menerima pelukan Kai yang tiba-tiba.

“Terimakasih.”

“Eh?”

“Terimakasih kasih karena kau telah datang.” Ucap Kai lembut, menarik tangan Jikyung untuk keluar dari stadium itu tanpa perlu repot-repot untuk mengganti baju basket yang masih dikenakannya terlebih dahulu.

Kai tidak menyadari, akibat dari perbuatannya itu seorang gadis yang sedari tadi berdiri bersebelahan dengan Jikyung terdiam mematung, dadanya terasa bergemuruh tidak enak ketika menyaksikan kejadian barusan. Ia merasakan rasa sakit di ulu hatinya, seperti ada berjuta-juta jarum yang menusuk hatinya. Menyakitkan.

Younggeun mencoba untuk menahan air mata yang sekarang berada dipelupuk matanya untuk tidak terjatuh, tapi tidak bisa. Seberapa keraspun ia berusaha menahan air matanya untuk tidak keluar, tapi tetap saja cairan bening itu jatuh meuruni pipinya.

Pluk!

Tiba-tiba saja Younggeun merasakan sebuah handuk kecil jatuh diatas kepalanya, menutupi kepalanya juga menutupi air matanya dari pandangan orang-orang yang sekarang mulai terlihat ramai kembali.

Younggeun mendongak, dihadapannya Chanyeol tengah tersenyum sambil menengadahkan telapak tangannya kehadapan gadis itu. Younggeun mengernyit bingung menatap Chanyeol.

“Mana botol air minumku manager, pemainmu ini kehausan.” Sahut Chanyeol menjawab kebingungan Younggeun. Mau tak mau gadis itu terkekeh dan meninju pelan lengan Chanyeol.

“Dasar, kau ini.”

***

Yang dilakukan Jikyung sekarang hanya diam membiarkan Kai akan membawanya kemana. Ia terlalu terkejut hanya untuk berontak pada pemuda itu, ia terkejut dengan apa yang dilakukan Kai padanya.

Kai menghentikan langkahnya secara tiba-tiba dan hal itu harus membuat Ji-kyung menubruk punggung Kai. Ternyata Kai menghentikan langkahnya ditempat dimana ia memparkirkan motornya, pemuda itu lantas berbalik dan menatap Ji-kyung.

“Tunggu disini, ok?”

Ji-kyung hanya mengangguk tidak mengerti ketika Kai menyuruhnya untuk tetap diam disini. Setelah mendapat anggukan dari Ji-kyung, Kai dengan cepat berjalan pergi meninggalkan gadis itu sendiri.

Ji-kyung melirik kanan dan kirinya, lalu menatap jam di tangan kirinya.

04.55 pm

Ji-kyung menghela napas, hari sudah sore dan harusnya sekarang ia pulang sebelum kedua orang tuanya menyadari keabsenannya di rumah. Apakah ia boleh meninggalkan Kai dan pulang kerumahnya mengabaikan pesan Kai untuk menunggunya disini? Apakah boleh?

Sekarang ia hanya ingin segera pulang, terhindar dari apa saja yang mampu menyebabkan kedua orang tuanya marah padanya.

Ketika Ji-kyung berniat melangkahkan kakinya untuk pergi dari situ, sesuatu yang dingin menempel di pipinya membuatnya tersentak kaget.

“Jjan~” Ujar Kai –orang yang menempelkan minuman kaleng dingin itu kepipi Ji-kyung. Ji-kyung meringis kemudian mengusap pipinya yang terasa sangat dingin untuk beberapa saat tadi.

“Untukmu.” Kai menyodorkan kaleng cola dingin itu untuk Jikyung, pemuda itu juga memegang sekaleng cola yang sudah dibuka itu ditangan kanannya. Sepertinya itu miliknya. -Dengan ragu Ji-kyung menerima cola itu.

“Khamsahamnida.”

Kai hanya mengendikan kepalanya kemudian kembali meneguk cola itu, sementara Ji-kyung hanya memegang kaleng cola itu menggunakan kedua tangannya tanpa berniat untuk membuka kaleng dan meminum minuman bersoda itu.

“Kau pergi tadi hanya untuk membelikanku sekaleng cola?” Tanya Ji-kyung membuka pembicaraan, setelah beberapa saat mereka hanya diam.

“Ya.”

“Tapi sejujurnya aku tidak haus dan tidak sedang ingin meminum sesuatu.”

“Tapi aku haus, ya sudah, sekalian saja aku membeli dua.”

Tanpa sadar Ji-kyung mengerucutkan bibirnya kesal dan tidak berniat untuk meneruskan perdebatan kecil mereka.

“Terimakasih.” Sahut Kai tiba-tiba.

Ji-kyung menoleh, “Untuk apa?”

“Karena membiarkanku memelukmu tadi.”

“Ya~” Ji-kyung memukul pelan lengan Kai dengan rona merah yang menghiasi wajahnya dan pemuda itu hanya terkekeh menanggapinya.

“Bercanda, aku hanya ingin berterimakasih karena kau sudah datang kesini.”

“Kau sudah mengatakannya dua kali- dan hey, aku datang kesini bukan karena kau. Tapi aku kesini untuk mendukung sekolahku.” Elak Ji-kyung, Kai mendengus. Apapun alasan gadis itu datang kesini ia akan tetap merasa senang.

“Hmm…boleh aku pulang sekarang?” Tanya Ji-kyung, Kai menoleh dan menghentikan tegukannya pada kaleng cola itu.

“Pulang? Apa perlu aku antar?” Tawar Kai.

Ji-kyung menggeleng, “Aniyo, aku bisa naik taksi atau…bus.”

“Kau yakin?” Tanya Kai ragu.

“Ne.”

“Tapi aku tidak yakin, masa aku membiarkanmu pulang sendiri sementara aku bisa mengantarmu pulang.” Insting Kai sebagai pria mulai muncul.

Ji-kyung mengangkat sebelah alisnya, “Sejak kapan kau menjadi temanku?”

Dan pada saat itu juga rasanya Kai ingin menjatuhkan dirinya ke dasar jurang, pemuda itu lalu mengusap tengkuknya beberapa kali.

“Ah, kalau begitu Kim Jongin imnida, atau kau boleh memanggilku dengan sebutan Kai. Senang berkenalan denganmu, bolehkah aku menjadi temanmu?” Kai membungkukan badannya setelah itu mengulurkan tangannya kehadapan gadis itu.

Ji-kyung mendengus geli dan mau tak mau menyambut uluran tangan Kai, kemudian saling berjabat tangan.

“Kang Ji-kyung imnida, tapi aku rasa aku tidak bisa menjadi temanmu.” Sahut Ji-kyung dengan ekspresi polos yang diperlihatkannya.

Beberapa detik kemudian gadis itu tertawa lepas ketika melihat ekspresi horror yang diperlihatkan pemuda itu. Ia sampai harus memegang perutnya menahan sakit. Astaga! Ini pertama kalinya Ji-kyung tertawa lepas seperti ini didepan orang lain.

“Bercanda, ekspresimu itu sangat lucu. Kau tahu?”  Seru Ji-kyung setelah beberapa saat ia mencoba untuk menghentikan tawanya, ia bahkan menghembuskan napas beberapa kali.

“….”

“Kenapa kau menatapku seperti itu?” Tanya Ji-kyung agak gusar, ketika Kai hanya menatapnya dan tidak menjawab pertanyaan sebelumnya.

“Hey, Kai-ssi? Apa aku terlihat jelek tertawa seperti tadi?” Ji-kyung semakin resah ketika tidak juga mendengar sahutan Kai, seharusnya tadi ia tidak tertawa lepas seperti itu. Mungkin saja Kai tersinggung dengan tawanya tadi.

Kai menggeleng, “Tidak sama sekali, kau cantik tertawa seperti itu.”

Blush!

Ji-kyung menundukan kepalanya dalam-dalam, pipinya terasa menghangat sekarang. Ia yakin pipinya terlihat merona merah dan itu sangat konyol menurutnya.

“Aku harus pulang.” Ujar Ji-kyung cepat, mulai beranjak pergi tapi baru selangkah ia berjalan tangan Kai menahannya.

“Biar aku antar, kau temanku sekarang.” Kata Kai, J-ikyung akan membuka mulutnya bersiap untuk menolak tapi pemuda itu lebih dulu memotongnya, “Tidak ada penolakan nona Kang.” Lanjut pria itu.

Ji-kyung mengatupkan lagi mulutnya dan menggembungkan pipinya, sesuatu yang baru diperlihatkannya sekarang. Entah kenapa topeng dingin yang selama ini membelenggunya perlahan-lahan pecah di hadapan pemuda ini, memperlihatkan sifat asli gadis itu yang sudah disembunyikannya selama delapan tahun terakhir ini.

“Ayo…” Ajak Kai dan mau tak mau dengan sedikit ragu Ji kyung menaiki motor Kai dan duduk di belakang pemuda itu.

“Pegangan, kau bisa terjatuh nanti.” Ji-kyung mencibir pelan, ia lalu memegang ujung baju Kai yang sebenarnya masih memakai pakaian basket itu, hanya saja sekarang ia memakai jaket yang barusan dikenakannya.

Perlahan motor sport itu mulai melaju pergi, berbaur dengan kendaraan lainnya di jalanan Seoul yang sore ini terlihat ramai.

***

“Pulang?”

“Tentu saja, aku ingin pulang.” Sahut Yong-geun ketus, mengambil tasnya dan berjalan keluar dari stadium Jamsil ini, meninggalkan orang-orang yang terlihat masih bersorak-sorai merayakan kemenangan tim basket sekolahnya.

Moodnya benar-benar rusak parah sekarang hanya karena melihat Kai memeluk seorang gadis yang Young-geun tahu bernama Ji-kyung itu. Stop, jangan membahas lagi kejadian yang akan membuat mood gadis itu semakin buruk.

Chanyeol menghela napas melihat kepergian gadis itu, dengan cepat ia mengejar langkah Young-geun setelah sebelumnya berpamitan pada pelatih dan anggota timnya.

“Hey, tunggu Young-geun~a.” Seru Chanyeol mempercepat langkah kakinya, ia lalu menangkap pergelangan tangan gadis itu membuat Young-geun menghentikan langkahnya tiba-tiba karena tarikan pemuda itu.

“Mwo?” Sengit Young-geun berbalik menatap Chanyeol. Chanyeol menghela napas untuk yang kesekian kalinya.

“Aku hanya mencegahmu untuk tidak menabrak tiang.” Sahut Chanyeol, menunjuk tiang besi yang berada beberapa senti lagi di hadapan gadis itu. Young-geun mengerucutkan bibirnya, kemudian mendengus setelahnya.  

“Thank you.” Ucap gadis itu malas dan Chanyeol hanya mengangkat kedua bahunya sebagai balasan.

“Wajahmu itu sudah jelek dan semakin jelek ketika kau cemberut seperti itu.” Kata Chanyeol, pria itu kemudian menarik kedua ujung bibir Young-geun sehingga memperlihatkan senyum yang terlihat dipaksakan.

“Tersenyum, ok?”

“Isshh~ tapi aku tidak ingin.” Sahut Young-geun, menggelengkan kepalanya berusaha untuk membuat tangan Chanyeol terlepas dari sudut bibirnya.

“Aku mempunyai penawaran untukmu.” Ucap pemuda itu dengan senyuman misteriusnya, Young-geun hanya mengangkat sebelah alisnya menunggu pemuda itu melanjutkan kata-katanya kembali.

“Kalau aku bisa membuatmu tersenyum, aku ingin meminta sesuatu darimu.” Lanjut pria itu, Young-geun memutar kedua bola matanya bosan.

“Kalau nyatanya kau tidak bisa membuatku tersenyum, bagaimana?” Tantang Young-geun, merasa tertarik dengan penawaran yang ditawarkan pemuda itu.

“Kau bisa meminta sesuatu dariku.” Sahut pemuda itu cepat.

Young-geun terlihat menyeringai, “Kau harus menari lagu Gee milik SNSD, otteo?” Ucap Young-geun menngangkat kedua alisnya tinggi-tinggi, “Di lapangan basket outdoor.” Sambungnya dan hal itu mampu membuat Chanyeol membuka setengah mulutnya horror.

“Andwae!”

“Ya sudah, aku tidak akan menerima tawaranmu.” Ujar Young-geun tak acuh. Chanyeol terlihat mendesis untuk beberapa saat, tapi kemudian ia menatap Young-geun percaya diri. Ia tidak akan pernah menari Gee di lapangan basket, karena ia yakin ia bisa membuat gadis itu tersenyum.

“Call.”

***

“Disini?” Tanya Kai, menghentikan motornya di depan sebuah rumah mewah yang terlihat dua kali lipat lebih besar dari rumahnya itu.

“Ne.” Sahut gadis itu, turun dari motor Kai, “Terimakasih.” Lanjut Ji-kyung membungkukan sedikit tubuhnya.

“It’s okay..” Jawab Kai, Ji-kyung kemudian mengangguk setelah itu berbalik dan berjalan pergi menuju ke rumahnya.

“Ji-kyung?”

“Hmm?” Sahut gadis itu, menoleh menatap Kai sekaligus menghentikan langkahnya.

“Sampai bertemu besok di sekolah.” Ucap Kai, Ji-kyung mengangguk dan tersenyum simpul untuk laki-laki itu.

“Ne.”

Kai ikut tersenyum dan kemudian mulai menyalakan kembali mesin motornya, perlahan motor itu mulai melaju meninggalkan rumah mewah itu dan meninggalkan Ji-kyung yang masih tersenyum memandang kepergian Kai.

Setelah memastikan pemuda itu sudah tidak terlihat dijarak pandangnya, Ji-kyung kemudian berbalik dan melanjutkan kembali langkahnya. Ia sesekali menggigit bibir bawahnya, detak jantungnya sekarang berdetak dengan cepat. Ji-kyung sangat takut kalau sekarang orang tuanya menyadari kalau ia tidak berada di kamarnya, ia sangat takut kalau orang tuanya akan menyambutnya dengan tatapan tajam mereka dan mengatakan hal ini itu yang mampu membuat gadis itu menunduk takut.

Dengan perlahan Ji-kyung membuka pintu rumah mereka, menghela napas begitu ia tidak melihat kedua orang tuanya yang biasanya selalu duduk manis di sofa depan. Dengan langkah perlahan Ji-kyung berjalan mengendap-ngendap memasuki rumahnya.

Menaiki tangga rumahnya sepelan mungkin, berusaha untuk tidak menimbulkan suara.

“Nona Ji-kyung.” Ji-kyung tersentak kaget, kalau bukan karena keseimbangannya yang bagus ia yakin dia pasti sudah tergelincir jatuh ketika tiba-tiba ia mendengar namanya dipanggil.

Gadis itu menoleh pelan dan seketika menghembuskan napasnya lega, “Ahjumma.” Sahutnya, ternyata yang memanggilnya barusan adalah Lee ajumma –salah satu pelayan di rumah ini.

“Kau membuatku takut, aku kira ahjumma, appa dan oemma.” Tambah gadis itu, memegangi detak jantungnya yang berdetak cepat efek dari keterkejutannya barusan.

Pelayan berumur empat puluh tahunan itu membungkukan tubuhnya, terlihat menyesali perbuatannya yang membuat nona mudanya itu terkejut.

“Jwosonghamnida, agassi.”

“Gwanchana, ahjumma.” Sahut Ji-kyung mengibas-ngibaskan tangannya, “Appa dan oemma kemana? Aku tidak melihat mereka dari tadi.” Tanya gadis itu.

Pelayan itu mendongakan kepalanya menatap Ji-kyung, “Tuan dan nyonya sedang pergi ke Jeju-do, besok pagi mereka baru pulang kesini, nona.”  Jawab pelayan Lee.

Ji-kyung mengangguk, dia kemudian memberikan senyum tipis untuk pelayan itu, “Ne, kalau begitu aku kekamar dulu.” Ujar Ji-kyung, berbalik dan berjalan menaiki tangga. Tanpa sadar ia menghembuskan napas lega, baru kali ini ia merasa senang ketika orang tuanya pergi untuk urusan bisnis mereka.

~To be Continue~

67 responses to “Lucky – Part 3

  1. Pingback: Lucky – Part 7 | FFindo·

  2. Ahh.. Kurasa benar jika Younggeun menyukai Kai.”Entahlah” 😐 kasian juga lama2 jd Jikyung, jd kyk tertekan banget, ada bagus buruknya jugak sih sikap ortunya. Eh iya thor, aku sampek gk sadar kalo udah keburu ada tulisan ‘to be continued’ aja :), saking serunya baca :D. Dan lagi2 aku semakin pensaran. Okay “keep writing and hwaiting thor!!!” 🙂

  3. Pingback: Lucky – Part 8 | FFindo·

  4. Young Geun emang suka kan sama Kai? terus Chanyeol suka sama Young Geun gitu yaa?
    duuudddduuuhh itu Kai-Ji Kyung sweet masa, tapi kasian juga sih ya sama Young Geun /sabar ya/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s