FF : Oramanieyo… [CHAPTER 7]

oramanieyoooo

 

http://bang2bang.wordpress.com/

TEASER | TEASER 2 | CHAPTER 1 | CHAPTER 2 |  CHAPTER 3  |  CHAPTER 4 | CHAPTER 5 | CHAPTER 6A | CHAPTER 6B

Title : Oramanieyo…

Author : Hayamira

Genre : Romance, Friendship, Tragedy

Rating : PG 16

 Length : Chaptered / Series

Main Cast :

Jung Na Mi (OC)

Kim Him Chan ( B.A.P )

Kim Su Ho ( EXO-K )

Yong Jun Hyung ( BEAST )

Goo Ha Ra ( KARA )

Support Cast    :

Lee Sung Yeol ( INFINITE )

Byun Baek Hyun ( EXO-K )

Krystal Jung ( f(x) )

Disclaimer :

Cast belong to GOD and their entertaintment,  Ide cerita murni pemikiran author, tidak ada unsur plagiat.

Preview :

Alice meminta Himchan kembali ke sisinya. Himchan pun bingung mau memilih antara Nami, gadis dingin yang mempesona, atau Alice, yang datang menawarkan masa lalu yang selalu dirinya idam-idamkan. 

Disaat yang sama, Junhyung masih bingung menentukan siapa yang menjadi tersangka atas rentetan kejadian buruk yang menimpa Nami. Namun, sudah ada satu nama yang Junhyung yakini. Goo Hara.

 

-oOo-

Angin kencang berhembus dipagi hari. Dedaunan berguguran dari ranting pohon, menimbulkan kesan hujan daun kering yang apik. Daun pohon momiji memperlihatkan warna merah yang menyalanya, sementara pohon ginko dengan warna kuning keemasan seperti melawan warna menyala pohon momiji. Beberapa pohon lainnya masih mempertahankan warna klorofil mereka, hijau. Semua perpaduan warna pepohonan tersebut menimbulkan gradasi warna yang menarik. Langit tampak cerah, matahari tidak terlalu bersinar terik hari ini.

 

Jalan setapak di taman kota Sapporo pun tidak terlalu ramai, walaupun ibukota Hokkaido tersebut masih ramai dengan aktifitasnya.Di taman kota,hanya ada beberapa warga lokal atau turis yang berjalan santai denganseafood streetfood ditangan mereka. Mereka menikmati indahnya pemandangan ditaman kota. Ada juga yang duduk di kursi taman, memerhatikan setiap orang yang lewat. Persis seperti Himchan lakukan saat ini.

 

Himchan mengeratkan mantelnya. Suhu sekitar dua derajat celcius membuatnya merasa kedinginan, padahal dia sudah memakai mantel tebal untuk musim gugur. Himchan menghela napas, nampak kabut putih muncul dari mulutnya.

 

Ia sebenarnya tidak tinggal di Sapporo, namun di daerah Doto. Tepatnya di Prefektur Kushiro. Daerah timur Hokkaido yang tenang dengan pemandangan alam yang indah. Tapi, dia memutuskan untuk tinggal lebih lama di Sapporo, menikmati musim gugur. Sekaligus menjernihkan pikirannya.

 

Pilihan untuk berlibur di Hokkaido mungkin sebuah pilihan yang tepat. Pikirannya yang semrawut memikirkan Alice membuatnya harus mengambil jeda sejenak dari rutinitasnya. Lagipula, Alice juga punya jadwal pemotretan di Osaka untuk beberapa hari kedepannya, jadi tidak masalah.

 

Himchan memandangi sekelilingnya, dan segerombolan gadis remaja yang berlarian menarik perhatiannya. Himchan memerhatikan kemana gerombolan gadis itu pergi, memandangi mereka dari kejauhan. Gerombolan gadis itu pun menghilang, memasuki sebuah gedung besar.

 

Jeritan histeris terdengar, seperti mengelu-elukan nama seseorang. Rasa penasaran merasukinya, dan membuat kakinya melangkah ke kumpulan orang itu. Himchan berjalan mendekati gedung itu. Semakin dekat, semakin jelas jeritan histeris para penonton konser. Semakin dekat, semakin jelas apa yang dijeritkan mereka. Himchan mendengar lebih seksama.

 

“Byun…Baek…Hyun…Saranghaeyo….Byun…Baek…Hyun….Forever…”

 

Himchan mendengus geli begitu tahu siapa yang yang membuat para penonton menjerit histeris. Benar saja, di pintu masuk gedung itu terpasang poster super besar close-up penyanyi itu, yang membuat Himchan berdecak.

 

“Kalau aku memberitahu rahasiamu, bagaimana ya?” desis Himchan usil, namun dia tidak ingin melihat sepupunya mengurung diri dikamar selama tiga hari tiga malam tanpa makan dan minum apapun. Ia bermaksud menunggu Baek Hyun diluar, tapi dirinya sadar kalau Baekhyun tidak mungkin lewat pintu depan. Pasti dipenuhi dengan penggemar, dan akan menimbulkan kekacauan dan kemacetan. Jadi, Himchan mengurungkan niatnya dan melangkahkan kaki menjauh dari gedung itu.

 

Setelah Himchan keluar dari gedung, Himchan ingin ke warung takoyaki didepannya. Namun, seorang pria yang berdiri tepat dihadapan poster Baekhyun menarik perhatiannya. Pria itu memandangi poster tersebut dengan raut wajah yang sedih, lalu melirik jam tangannya. Pria itu tampak menghela napas, lalu menunduk.

 

Himchan pun menghampiri pria itu, berpura-pura melihat poster sepupunya itu. “Konser amal, ya?” kata Himchan berusaha berbasa-basi. Pria itu menoleh kesamping, dan menatap Himchan. Himchan pun menatap pria itu, lalu membungkuk dan tersenyum. Pria itu membalas senyum Himchan.

 

“Kenapa anda tidak masuk?”tanya Himchan memandangi tiket yang dipegang pria itu. Pria itu tiba-tiba menghela napas berat, dari wajahnya tergambar kalau dia sedih.

 

“Tiket ini tadinya tiket putriku. Dia sangat menyukai Baekhyun-san. Tapi, sekarang dia ada dirumah sakit, minggu lalu dia ditabrak dan tulang kakinya patah…”

 

Himchan terdiam sesaat mendengar cerita pria ini. Pantas saja wajahnya sedih, pasti putrinya tidak bisa menyaksikan konser idolanya. Himchan pun melontarkan pertanyaan, “Lalu, apa yang anda lakukan disini?”

 

“Tadinya, aku ingin menggantikan putriku untuk menontonnya. Tapi, atasanku memanggil mendadak dan aku tidak bisa menyaksikan konsernya. Kalau terlambat saat konser tidak apa-apa, tapi aku tidak bisa memberikan putriku album baru Baekhyun-san lengkap dengan tanda-tangannya,” jawab pria itu mendesah pasrah. Himchan menatap pria itu, dia merasa iba dan terharu dengan pengorbanan pria itu. Apa daya, atasan yang membatalkan usaha pria itu untuk membahagiakan anaknya.

 

Pria itu menatap tiket dan album ditangannya, lalu memandangi Himchan lagi. Pria itu napak berpikir sesaat, lalu mengangguk sendirinya yang membuat Himchan bingung.

 

“Ini,” kata pria itu menarik tangan Himchan dan meletakkan tiket dan album ditangannya. Himchan memandangi pria itu dan yang ada di tangannya secara bergantian. Pria itu membalas tatapan Himchan dengan senyuman ramah, lalu membuka mulutnya untuk berkata “Ambillah. Kurasa kau menyukai Baekhyun-san juga.”

 

Himchan langsung tersedak mendengarnya, tapi dia berusaha menyembunyikannya. Dia tidak ingin terlihat tidak sopan dihadapan pria ini, itu saja. Himchan lalu menerima tiket dan album, lalu membungkuk.

 

Sebersit pikiran melintas di benaknya.

 

Kenapa dia tidak membantu pria ini?

 

Ah, Kim Himchan ! Kau Brilian! Seru Himchan dalam hati.

 

Ia pun berlari mengejar pria tadi dan memanggilnya. Pria itu menghentikan langkahnya, heran melihat Himchan yang mengejarnya.

 

“Dimana putri anda dirawat?”

Pria itu mengerutkan dahinya, “Untuk apa kau bertanya seperti itu, anak muda?”

“Aku hanya ingin mengetahuinya.”

“Di Sapporo Hospital.”

“Nama putri tuan?”

“Sayu Shinzo.”

“terakhir. Nama tuan?”

“Shinzo. Ryonosuke Shinzo.”

 

Setelah mengucapkan selamat tinggal, Himchan pun masuk kedalam gedung itu. Ternyata, konsernya sudah selesai. Sekarang acara fansign. Kebanyakan penggemar Baekhyun memang gadis remaja, yang ditangannya memegang satu atau lebih album baru Baekhyun. Himchan pun mengantri di barisan.

 

“Onee-san, suka Baekhyun-chan juga?” tanya seseorang fans didepannya. Himchan mendapatkan barisan paling belakang.

 

“Tidak… eh maksudku iya. Aku suka gaya musiknya.”

 

Himchan mengatakannya jujur. Sepupunya punya gaya music yang unik, dan Himchan menyukai itu.

 

Sembari menunggu, Himchan mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan ke Baekhyun.

 

To : Baekhyun Byun

From : Himchan Kim

 

Hey, setelah kau konser, temui aku di pintu selatan gedung konsermu. SECEPATNYA !

 

Himchan pun menekan tombol ‘kirim’. Beberapa menit kemudian, dari kejauhan, Baekhyun nampak mengerutkan dahinya dan memandangi sekelilingnya, seakan mencari-cari sesuatu.

 

Setelah lama mengantri, akhirnya tiba giliran Himchan sekaligus fans terakhir. Baekhyun yang tadinya tertunduk karena kelelahan, begitu menatap bahwa fans terakhirnya adalah Himchan, terbelak kaget dan nyaris jatuh kebelakang.

 

“Apa yang kau laku…”

 

Tanpa banyak bicara, Himchan menyerahkan album milik pria itu. Baekhyun menggeleng heran, lalu menanda tanganinya.

 

“Sayu Shinzo. Untuk Sayu Shinzo,” bisik Himchan menunduk dan mendekatkan wajahnya ke Baekhyun. Baekhyun mengangkat wajahnya, lagi-lagi terbelak kaget . Himchan tertawa kecil melihat sepupunya yang kaget, sementara Baekhyun mendengus kesal.

 

“Kau membaca pesanku, kan?” bisik Himchan lagi.

“Iya. Jauhkan wajahmu, byuntae.”

 

Himchan membelakkan matanya mendengar kata byuntae yang ditujukan untuknya, apalagi Baekhyun mengucapkan itu dengan suara yang sengaja dibesarkan. Ia melempar tatapan awas-kau-tunggu-pembalasanku ke Baekhyun, sementara Baekhyun sendiri tersenyum lebar melihatnya.

 

Hicmhan langsung melangkahkan kaki keluar, dan berjalan menuju pintu selatan gedung itu. Dia duduk menunggu Baekhyun. Ia mengambil ponsel dari sakunya. Mengecek apa ada pesan atau panggilan tidak terjawab. Wajahnya menggambarkan kekecewaan, dan langsung berubah begitu dia mengingat kalau ada seseorang yang tidak mengabarinya lebih dari 3 hari dan sukses membuat Himchan uring uringan tidak jelas.

 

Himchan buru-buru menelpon Jung Nami, memastikan bahwa gadis itu baik-baik saja. Seenaknya saja membuat orang khawatir tidak jelas.

 

Suara Baekhyun mengalihkan pandangannya. Sambil terus menunggu jawaban teleponnya, dia berjalan menghampiri Baekhyun. Tanpa banyak tanya lagi, Himchan segera menarik tangan Baekhyun langsung keluar dari tempat itu, tanpa memerdulikan Baekhyun yang memberontak dan berusaha melepaskan genggaman tangannya.

 

Sadar bahwa tingkah Baekhyun memancing keramaian, Himchan menghentikan langkahnya, lalu berbalik kebelakang dan menatap Baekhyun risih. “Bisa diam sedikit?”

 

“Tentui saja!” seru Baekhyun mengangkat kepalanya sedikit balik menatap Himchan. Dia lalu sadar, kalau mereka berdua menjadi bahan perhatian publik, langsung saja Baekhyun membungkuk meminta maaf dan membawa Himchan ke sudut jalanan.

 

“Kau…” Baekhyun geram menatap Himchan, “Sudah datang kesini tidak bilang-bilang, muncul tiba-tiba di konserku, lalu seenaknya menarikku kesana-kemari. Apa kau tahu aku belum minta izin pada manajerku, pada staffku, dan yang lainnya?” Baekhyun mengecilkan suaranya tapi tetap saja bernada ketus.

 

“Iya-iya. Aku tahu ini salahku. Tapi aku punya alibi kuat melakukannya,” gumam Himchan memandangi Baekhyun sambil lalu.

 

“Masih mau beradu argumen? Kau bisa dituntut…”

 

Himchan langsung memotong ucapan Baekhyun, “Aku melakukannya demi penggemarmu, bodoh.”

 

Mulut Baekhyun terbuka, dia heran dengan ucapan Himchan barusan. Demi penggemarnya? Apa matahari terbit sebelah barat? Atau para ibu hamil sudah diperbolehkan makan ikan fugu? Apa dunia sudah berubah? Ada yang salah dengan sepupunya.

 

“Jangan menatapku seperti itu,” Himchan seolah bisa membaca pikiran Baekhyun. Dia lalu beranjak berdiri, dan menghampiri mesin penjual minuman. Sejak tadi, dia merasa haus.

 

Setelah menghilangkan dahaganya, dia pun kembali duduk disamping Baekhyun yang masih bingung. Baekhyun punh membuka mulutnya untuk bertanya, “Oke, jelaskan. Apa yang terjadi disini? Apakah ibu hamil sudah boleh makan ikan fugu? Atau hukum gravitasi berbalik dari bawah ke atas?”

 

Himchan menggeleng. “Kau tidak membiarkanku bicara, sih.”

“Bicaralah!” Baekhyun pun berteriak mulai kehabisan kesabaran.

 

“Pertama, aku datang kesini untuk mengistirahatkan diri, karena aku ada masalah dan aku tidak tahu harus kemana. Orang pertama yang terpikirkan itu kau.” Baekhyun serasa ingin tertawa terbahak-bahak mendengarnya, tapi dia menahannya.

 

“Kedua, aku ke konsermu tadi karena ada seorang penggemarmu, sangat menggemarimu, tapi tidak bisa datang karena kecelakaan. Karena itu, aku mau kita menjenguknya,” kata Himchan lalu berhenti sejenak. Dia menatap sinis Baekhyun, dia tahu sepupunya pasti menertawakannya. “Kau mau tidak?”

 

Baekhyun pun mengangguk, “Tentu. Untuk penggemarku. Tapi, aku tidak yakin kalau untuk kau.”

 

Himchan sepertinya salah kalau dia mau membagi ceritanya dengan sepupunya ini.

 

 

-oOo-

 

Sungyeol harus menghela napasnya dan berusaha berpikir jernih. Berkali-kali dia menatap dan memerhatikan setiap huruf yang ada di kertas itu. Padahal, itu tulisannya. Tulisan tangannya, tapi dia ragu akan diagnosanya sendiri.

 

Dia sudah melakukan riset ini lebih dari 10 kali, menganalisa setiap gejala dan mencocokkannya dengan literatur miliknya. Awal riset ini, dia tidak membenarkannya. Tapi, setelah sekian percobaan dan analisa, mau tak mau Sungyeol harus memutuskan.

 

Dosis obat-obatan Nami harus ditingkatkan. Dan, Nami didiagnosa menderita depresi serta semi-trauma yang akan membuat mentalnya semakin jatuh. Dengan kata lain, saling berhubungan erat dengan otaknya. Berkaitan penting dengan skizofrenia milik dia.

 

Bukannya Sungyeol tidak mau, tentu saja dia bersedia apabila tidak memikirkan efek samping. Dosis yang sekarang Sungyeol berikan mungkin belum seberapa, namun jika dia menambahkannya lagi, otomatis sistem-sistem ditubuhnya akan ikut terganggu. Insomnia yang Nami alami saja sudah membuat Sungyeol harus benar-benar menekan dosis obat. Sekarang, justru harus menambah dosis dan menambahkan obat baru. Dirinya cemas.

 

“Apa… Terjadi sesuatu?”

 

Suara Junhyung membuyarkan pikirannya.Dia lupa, ada Junhyung dihadapannya. Sungyeol menatap Junhyung cemas. Tanpa kata-kata, dia menyodorkan kertas itu ke hadapan Junhyung. Sungyeol tidak mampu melihat wajah Junhyung saat membaca kertas itu. Dia menundukkan kepalanya dalam-dalam.

 

Benar saja, Junhyung langsung heran soal dosis obat Nami yang dinaikkan. Junhyung lalu menatap Sungyeol seakan meminta penjelasan akan semua ini. Sungyeol pun mengangkat kepalanya perlahan, dan menatap Junhyung dalam.

 

“Aku menambahkan dosis obat nya, karena kinerja sistem syarafnya justru semakin menurun dari sebelumnya. Juga karena aku melihat Nami tertekan. Depresi…Ya, semacam itu.”

 

Junhyung menatap Sungyeol kesal. Mana mungkin dia mau menambah dosis obat Nami? Sungyeol lah yang paling tahu efek samping obat-obatan itu. Sungyeol lah yang paling mengerti tentang keadaan Nami dengan obat itu. Dan sekarang, dia mau menambahkannya?

 

“Kau psikiater. Dokter jiwa. Apa kau tidak salah mendiagnosa? Aku bisa menuntutmu jika melakukannya. Kau harusnya yang paling tahu hal itu.”

 

“Kalau riset yang dilakukan kurang dari 5 kali, kau bisa menuntutku dan berkata seperti tadi. Tapi ini lebih dari 10 kali! Aku juga sudah meminta teman-temanku sesama psikiater untuk menganalisisnya, hasilnya sama. Keakuratannya 92%. Dalam dunia kedokteran, itu sudah angka mutlak!”

 

Sungyeol mendesah pelan. Dia lalu beranjak, dan mengambil buku disamping mejanya. Lalu, dia membuka halaman yang sudah ditandai, dan menyodorkannya kembali ke Junhyung. “Bacalah,” kata Sungyeol.

 

Baris demi baris kalimat itu membuat Junhyung semakin mengerutkan keningnya ketika membacanya. Dan, ketika selesai, Sungyeol sudah siap dihadapannya.

 

“Kau tentu saja tahu, Nami akhir-akhir ini sering melamun. Bukan berdelusi. Melamun.”

 

Junhyung mengangguk pelan, membenarkan perkataan Sungyeol. Sungyeol melanjutkan kalimatnya, “Dia seperti tertekan. Ada beban yang berat menggantung di pundaknya. Ada sebuah rasa yang tidak bisa dia rasakan. Kau tahu itu, kan?”

 

“Tapi, itu bukannya gejala skizofrenia?”

 

“Awalnya aku berpikir demikian. Tapi, melihat kinerja sistematika syaraf otaknya, aku menarik diagnosaku tadi. Karena kinerja nya menurun. Semuanya menurun. Lalu, aku mencari tahu, mencocokkan, membandingkan, dan akhirya membuat kesimpulan. Itulah, yang tadi barusan kau baca.”

 

Junhyung seakan tidak percaya. Jadi, psikis Nami sedang menurun? Nami depresi?

 

“Rentetan kejadian peneroran yang dia alami adalah faktor utama penyebab rasa tertekan yang muncul di alam bawah sadarnya. Lalu, tiba-tiba dia bisa beremosi, bisa bebas berekspresi dan lainnya…”

 

Junhyung berkilah, memotong opini Sungyeol, “Bukankan itu bagus? Emosi dan lainnya, itu kan tujuan obat-obatan itu diberikan.”

 

Sungyeol menggeleng, menatap keluar jendela. “Tidak. Selama ini, dopamin di otak Nami kurang, itu tujuan memberikannya obat-obatan agar merangsang  zat itu diproduksi. Sekarang, dia mulai menunjukkan emosinya, namun terlalu berlebihan sehingga dopamin tersebut diproduksi berlebihan. Kadar transtiretin nya juga meningkat drastis. Aku takut akan menimbulkan penyakit lain. Jung Nami tidak boleh beremosi berlebihan.”

 

“Itulah sebabnya akhir-akhir ini dia lebih sering menyendiri. Kau tidak merasakan perubahan sikapnya?”

 

Suasana hening. Sungyeol melanjutkan kata-katanya, “Aku hanya menghindari Nami mengalami gangguan jiwa depresif.”

 

Junhyung tahu tentang gangguan depresif itu. Dia hanya tidak menyangka, Nami harus mengidapnya juga jika memang benar. Bahkan skizofrenia pun membuat Nami lelah. Junghyung merasakan sakit saat Nami harus meminum obatnya. Tidak seharusnya Nami melalui ini.

 

Dengan sentakan, Junhyung berdiri dan menghela napasnya. Dia membuka mulutnya dan mengatakan sesuatu, “Pasti ada yang membuatnya depresi.”

 

“Kejadian teror itu, kan?”

“Tidak,” Junhyung menggeleng. “Pasti ada yang membuatnya semakin parah…”

 

Sungyeol pun berpikir sesaat. Memikirkan hal yang menjadi penyebabnya. Lalu, melintas kejadian yang Junhyung belum tahu, atau lebih tepatnya belum mengetahui secara detail. Sungyeol pun mencocokkannya lagi dengan serentetan kejadian yang tersangkut.

 

“Himchan…”

“Kim Himchan…”

 

Keduanya pun saling berpandangan. Mereka memikirkan orang yang sama. Sungyeol tertawa pelan. “Bagaimana kita bisa mengatakan nama yang sama?”

 

Junhyung mengangkat bahunya.

 

“Mungkin, bukan Himchan secara langsung. Namun…”

 

Sungyeol menatap Junhyung. Junhyung tahu, sepertinya kali ini dia berpendapat sama dengan Sungyeol.

 

“Nami menyukai Himchan, dan itulah yang membuatnya depresi,” gumam Sungyeol lagi. Junhyung tidak mengerti. Di bagian mananya yang harus Nami depresikan?

“Kenapa harus depresi? Apa salahnya menyukai Himchan?”

 

Sungyeol tersenyum simpul, membenarkan letak kacamatanya. Ternyata, Junhyung memang tidak tahu.

 

“Tidak ada yang salah kalau saja tidak ada orang lain yang menyusup diantara mereka berdua. Kau paham maksudku?” Sungyeol melontarkan pertanyaan yang Junhyung langsung bisa menjawabnya.

 

“A…Lice?”

 

Junhyung terlihat ragu, Namun ketika disambut dengan anggukan cepat Sungyeol, Junhyung pun yakin. “Himchan itu menyukai Nami, sudah sangat jelas. Nami juga menyukai Himchan. Tidak ada yang salah diantara keduanya, sampai ada Elis… Lisa… siapa?”

 

“Alice,” kata Junhyung membenarkan. Sungyeol menganguk, lalu melanjutkan perkataannya, “Kurasa Himchan perlu menetapkan hatinya.”

 

Junhyung yang masih bingung, diam sesaat. Memikirkan perkataan Sungyeol tadi, dan berusaha mencari jalan keluarnya. Setelah dia mendapatkannya, Junhyung langsung mengerti maksud Sungyeol apa.

 

“Biar aku yang bicara pada Himchan.”

 

Keduanya pun mengangguk setuju. Kesepakatan telah dicapai. Mereka melakukan ini demi Nami, ya demi Nami.

Sebelum keluar dari ruangannya, Sungyeol kembali bertanya ke Junhyung, “Apa kau… sama sekali tidak punya pacar?”

 

Sungyeol segera menutup mulutnya rapat-rapat begitu melihat tatapan tajam Junhyung yang seakan ingin membunuhnya, menahan tawanya dan mengalihkan pandangannya.

 

 

-oOo-

“Ugh…”

 

Nami nyaris saja jatuh ke tanah karena tidur, kalau asistennya tidak membangunkannya untuk mengantarkan makan siangnya. Hari ini, dia dan beberapa pegawainya ada di kuil tua di pelosok Osaka. Mereka ada pemotretan sebuah majalah, dan busana rancangan Nami lah yang digunakan. Nami juga diminta menjadi stylist.

 

Yang tidak ia sangka, Alice Song lah model utama majalah itu. Dia harus bekerja sama, menata gaya rambut dan asesories yang akan Alice pakai. Mungkin, dia bisa lebih nyaman bekerja dengan Alice seandainya Nami tidak tahu cerita apapun tentang Alice.

Nami selalu menepis setiap ada bisikan halus yang mengatakan kalau dia cemburu. Dia siapanya Himchan, sampai harus cemburu? Setiap Nami melihat Alice, bayangan Himchan memeluk Alice terus membayangi, dan itu membuatnya sesak. Rasa nyeri dhatinya semakin menjadi-jadi, tak bisa Nami kontrol.

 

Karena kelelahan dengan pikirannya sendiri, Nami pun tertidur. Ia mengerjapkan matanya, memandangi sekelilingnya dan menguap. Pikirannya lelah. Nami lalu mengecek handphonenya, ada sms Junhyung. Dia selalu mengingatkan dirinya untuk minum obat-obatannya.

 

Nami tersenyum. Perhatian Junhyung memang kadang berlebihan, tapi dia tahu maksud lelaki itu baik. Sesungguhnya, Nami juga merindukan omelan Junhyung yang sudah 3 hari dia tidak dengarkan.

 

“Nami.”

 

Sebuah suara memanggilnya. Nami menoleh dan kaget. Ternyata Alice, dengan makan siang di tangannya, berjalan mendekati Nami. Tanpa diminta, dia pun duduk disamping Nami. Dia tersenyum lebar ke Nami, “Ayo kita makan sama-sama.”

 

Dia harus menghapus kenangan itu, batin Nami. Setidaknya, dia harus bersikap profesional dalam bekerja. Tidak melibatkan perasaan pribadi ataupun masalahnya. Dia seharusnya bersikap seperti itu. Membunuh perasaannya sendiri dan bersikap layaknya seorang desainer yang profesional. Ya, seperti itu.

 

Nami mengangguk mengiyakan. Selama makan, Alice terkesan ramah dan asik diajak bergaul. Karisma bersinar. Auranya bersahabat. Dia mudah membuat suasana menjadi menyenangkan. Nami perlahan tidak canggung dan mulai bercakap ria dengan Alice. Membicarakan apapun. Mereka berdua menghabiskan waktu makan siang dengan bagus.

 

Tapi, waktu itu tidaklah berjalan lama. Setelah selesai, saat Nami menyesap teh Earl Grey, Alice pun mulai berbicara serius. Wajahnya berubah, auranya juga berubah.

 

“Kau…” Alice memain-mainkan gelasnya. Alice terlihat gugup dan sulit mencari kata untuk memulai. Nami melirik, ada apa dengannya?

 

Kenapa kau terlihat panik? Aku bukan kanibal, kok.

 

“Apa?”

 

“Ah, tidak…” Alice mengibaskan tangannya dan tersenyum canggung. Suasana pun menjadi kaku. Nami sibuk dengan gelasnya, Alice dengan pikirannya. Alice terus mencari kata yang tepat.

 

“Kau punya hubungan apa dengan Himchan?” tanya Alice mulus. Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutnya. Alice sempat merasa menyesal, namun itulah sebenarnya yang ingin dia tahu.

 

Nami berhenti meminum tehnya. Dia terdiam sesaat. Berpikir apa yang akan dia katakan ke Alice. Apa jawabannya. Dia harus memikirkannya baik-baik.

“Tidak ada,” jawab Nami menggeleng pelan.

 

“Benarkah?” tanya Alice. Nami mengangguk. Memang tidak ada apa-apa antara dirinya dan Himchan, bukan?

 

Memang tidak ada yang terjadi. Ya, itu benar.

 

Alice menatap Nami, “Tapi, kau terlihat sangat dekat dengan dia. Apa mungkin kau… Pacarnya?”

 

Nami menggeleng lagi, “Kau bercanda?” lalu dia tertawa pelan. Dirinya bukan pacar Himchan. Mereka hanya sebatas teman, tidak lebih. Nami harus tahu batasan diri dan bisa mengendalikan dirinya sendiri. Kenyataannya seperti itu, Nami harus bisa menghadapinya.
Walaupun, hatinya tiba-tiba nyeri. Walaupun rasa sesak itu menghujam dadanya bertubi-tubi. Dia kuat, ya Jung Nami itu kuat.

 

Toh, apa salahnya kalau Alice menanyakan soal hubungan mereka? Tidak ada yang salah. Alice hanya ingin tahu sebagai teman lama, Nami meyakinkan. Tidak ada yang harus disembunyikan dari ini semua. Bahkan, jika Alice menanyakan perasaannya terhadap Himchan.

 

Memang apa yang kau harapkan dari Himchan? Tidak ada, Jung Nami.

 

Nami akan menjawab bingung, karena memang dia bingung dengan perasaannya sendiri. Dia tidak bisa langsung memutuskan. Perlu pedalaman atas diri sendiri, sampai ia bisa menyatakan kalau dirinya memang punya rasa terhadap Himchan.

 

“Syukurlah…”

 

Nami semakin bingung dengan sikap Alice. “Kenapa memangnya?” tanya Nami karena tak tahan dengan sikap Alice yang membingungkan barusan.

 

“Aku memintanya ikut ke New York dan hidup seperti dulu lagi,” kata Alice polos. Senyumnya mengembang. Dia lalu menatap Nami, “Bagaimana?”

 

Nami terpaku. Dia mencerna setiap kata Alice teliti.

 

Membawa Himchan pergi…

 

Hidup seperti dulu…

 

Di New York…

 

Kau bercanda…

 

Ya, Bercanda…

 

Kau bercanda, kan?

 

Kau mau membawanya pergi? Setelah kau membuangnya begitu saja?

 

Jangan bawa dia pergi… Bukan hanya kau yang membutuhkannya…

 

Kumohon…

 

“Ya. Kalian pasangan serasi.”

 

Nami tahu, dirinya akan menyesali perkataan itu.

-oOo-

 

Setelah menjenguk fans berat Baekhyun, Himchan dan Baekhyun pun singgah disalah satu kedai ramen di Sapporo. Untungnya, mereka datang disaat sedang sepi pengunjung. Setelah memesan, mereka menunggu di meja mereka. Secangkir ocha panas yang asapnya mengepul ada dihadapannya.

 

Ocha disini refill?” tanya Himchan memandangi gelas ocha nya. Sebelum Baekhyun menjawab, pelayan sudah membawakan pesanan mereka dan satu teko ukuran sedang.

 

Baekhyun melirik tekonya, “Itu refillnya.”

 

Mereka pun menyantap makanan mereka sampai habis. Setelah makanan mereka tandas dan tak tersisa, Baekhyun pun memulai percakapan. Mulutnya sudah gatal ingin bertanya ke sepupunya. Dan, memang sepupunya harus menjelaskan sesuatu.

 

“Apa alasanmu datang ke Sapporo? Apa kau punya masalah? Kenapa kau tiba-tiba muncul dihadapanku? Kenapa tidak menelpon atau memberitahu dulu? Kau tinggal di mana, sampai tidak bisa….”

 

“Wow!” Himchan berteriak memotong sederetan pertanyaan Baekhyun. Baekhyun hanya bisa mengatupkan mulutnya rapat. Seperti itu, batin Himchan melihat sepupunya yang lebih tenang sekarang. Dia pun menarik napas dalam, dan menjawab rentetan pertanyaan untuknya.

 

“Aku kesini ingin liburan. Sesaat. Dan, ya, aku punya masalah. Mungkin kau bisa membantuku. Kedua, aku tidak memberitahumu karena ponselmu nonaktif, pesan yang kukirim juga tidak terkirim. Dengan apalagi aku harus memberitahumu? Mungkin aku harus bertelepati sambil mengatakan ‘duhai sepupuku, aku akan kesana untuk berkonsultasi’ begitu?”

 

“Hmmpphh….” Baekhyun menahan tawanya melihat Himchan dengan tingkah konyolnya barusan. “Jangan tertawa,” balas Himchan yang melihat Baekhyun menertawainya.

 

“Kau lucu. Konyol, seorang editor in chef bisa juga melakukan hal konyol itu.”

“Dan kau adalah penyanyi yang kesibukannya melebihi Perdana Menteri atau mungkin Ratu Elizabeth.”

 

Baekhyun mendesis, “Kenapa kau jadi menyerangku?”

 

Himchan tidak memerdulikannya dan kembali meneruskan lagi ceritanya, “Aku butuh bantuanmu. Aku tidak tahu harus menyelesaikan ini dengan siapa. Kau tahu, Appa bukanlah orang yang tepat untuk berkonsultasi. Eomma, Hah… Aku tidak mau membuatnya repot. Jadi, satu-satunya yang masuk akal bisa diajak adalah kau.”

 

“Masalah seberat apa yang kau alami?”

 

“Anu… Itu…” Himchan malah menggaruk kepalanya canggung. Dari tingkah lakunya saja, Baekhyun bisa menebak. Pasti masalah cinta. Tapi, dengan siapa? Himchan adalah orang yang sangat tertutup jika menyangkut asmara.

 

“Asmara?”

Himchan mengangguk pelan. Wajahnya pun berubah, lebih serius.

 

Baekhyun memicingkan mata, “Gosip terakhir yang aku dengar, katanya kau sudah bertunangan dengan seorang model blasteran. Aduh, siapa ya namanya? Elisa…. Elica….”

 

“Alice.”

 

Baekhyun mengangguk membenarkan, “Ya, Alice.” Baekhyun pun kembali meneruskan, “Tapi, bukannya kau sudah putus?”

 

Himchan mengangguk cepat. Lalu, apa maksudnya ini? pikir Baekhyun. Apa hubungan semuanya… Ah.

 

“Dia memintaku kembali, seperti dulu. Mengertilah,” gumam Himchan.

 

Baekhyun memicing. Lalu, apa masalahnya? “Lalu, apa? Kau baru saja berpisah beberapa bulan yang lalu, kan? Kembali saja kalau begitu, kalau kau masih menyayanginya.”

 

“Itu mungkin kalau aku tidak bertemu seseorang…” mata Himchan menerawang. Pandangannya kosong, sorot matanya tiba-tiba sedih dan kehilangan.

 

“Siapa?” Baekhyun penasaran dengan sosok orang itu.

 

Himchan menghela napas. Dia harus mengatakannya.

 

“Nami. Jung Nami”

 

Baekhyun tersentak kaget, namun dia bisa mengendalikan dirinya. Dengan wajah yang masih menunjukkan kekagetan yang besar, dia mendekatkan wajahnya dan berbisik, “Maksudmu…. Jung Nami yang kakaknya Nana?”

 

Himchan mengangguk lemas. Dia pun menceritakan bagaimana Alice dengan tiba-tiba datang di kehidupannya, memintanya kembali dan sebagainya. Dan, bagaimana Nami mengambil alih hatinya, menjadikan gadis itu salah satu orang terpenting di hidupnya. Bagaimana hidupnya yang tidak karuan, seakan gadis itu yang menjadi pusat gravitasi hidupnya. Bagaimana Himchan bingung akan perasaannya sendiri.

 

Baekhyun yang mendengarkannya dengan seksama pun tahu kekalutan hati dan kejenuhan pikirannya, dimana ada setumpuk tugas di dunia kerja yang harus dikerjakan, sementara di kehidupan pribadinya ada dua gadis yang membuat sepupunya bingung.

 

“Menurutku, rasa sukamu terhadap Nami nuuna itu hanya sebatas moment,” Baekhyun membuka percakapan setelah mendengarkan seluruh cerita Himchan.

 

“Maksudmu?” Himchan mengerutkan dahinya, dia tidak mengerti.

 

“Kau hanya terbawa suasana, kau tahu?  Waktu itu hatimu kosong, kau ditinggal pergi tunanganmu sendiri, kau mengungsi ke Tokyo untuk menghindari mantan tunanganmu, dan kau bertemu Nami nuuna. Lalu, kau pun melimpahkan perhatian yang selama ini selalu kau berikan terhadap Alice, ke Nami nuuna. Kau hanya menjadikan Nami nuuna sebagai pelarian, tidak lebih. Sekedar moment, cinta sesaat.”

 

Apakah itu benar? Apakah rasa yang dia miliki untuk Nami hanya sesaat? Dirinya menjadikan Nami sebagai pelarian atas kegagalannya dengan Alice?

 

Himchan membungkam mulutnya rapat-rapat. Ada sebuah relung dihatinya yang membenarkan semua perkataan Baekhyun, berusaha meyakinkan Himchan dan membisikkan bahwa itu semua benar. Mana mungkin orang merasakan rasa cinta yang mendalam, padahal jangka waktunya tidak sampai satu tahun? Akal Himchan menalarinya.

 

Hati Himchan jelas menolak semua perkataan Baekhyun. Baekhyun tidak pernah melihat mereka berdua, bukan? Bagaimana mereka menghabiskan waktu bersama, bagaimana Himchan begitu peduli pada Nami melebihi dirinya sendiri, bagaimana Himchan memandang Nami dan lainnya.

 

Himchan memejamkan matanya. Dia pun menghela napasnya dalam dan memutuskan untuk mengikuti apa kata akalnya, bukan hatinya.

 

“Kau tahu apa yang harus kau lakukan,” kata Baekhyun menepuk pundak Himchan.

 

Begitu sampai di Tokyo, Himchan harus membereskan ini semua, batinnya mantap. Dia langsung menghubungi Nami besoknya, memintanya untuk bertemu di coffee shop langganan mereka. Himchan harus mengatakannya kepada gadis itu. Gadis itu harus tahu.

 

Himchan memberitahu Alice terlebih dahulu. Tentu saja Alice senang setengah mati, sampai memeluk Himchan erat. Himchan tersenyum melihat gadisnya kembali lagi dipelukannya.

 

Sekarang, sisa Jung Nami.

 

Berkali-kali Himchan menolak bisikan hatinya yang kuat, berusaha tetap berdiri kokoh dengan ideology dan pemikiran realistisnya. Dia harus tegas tentang siapa yang dia pilih. Dan dia sudah memilih. Dia harus mengatakannya, agar Nami tidak sakit hati dan terus menderita.

 

Ya, itu yang harus dilakukannya.

 

Langkahnya getir saat semakin mendekati coffee shop itu. Dia tidak bisa membayangkan sosok Nami yang sedih, yang berusaha menahannya, yang mengatakan jangan pergi. Tapi, sekali lagi, dia harus sadar. Itu tidak realistis. Toh, memang tidak ada hubungan apa-apa antara dirinya dan Nami.

 

Himchan hanya perlu menguatkan niatnya, walaupun Nami menangis didepannya. Dirinya tidak ingin menyakiti Nami lebih lama, terjebak dalam cinta sesaat yang pada akhirnya akan menyakiti Nami.

 

Kakinya melangkah masuk kedalam bangunan cukup tua disudut jalan Harajuku itu. Dilihat, Nami yang membelakanginya, duduk dengan kepala tertunduk. Dia mengenakan coat hitam dan boots hitam. Rambutnya dibiarkan tergerai. Syal cokelat muda tergulung di lehernya rapi.

 

Dia pasti memesan caramel latte dengan gula 50%. Oh, Himchan mencelos. Dirinya bahkan hapal apa yang Nami minum. Nami begitu spesial untuknya.

 

Ternyata ada satu lagi gelas dihadapan Nami. Gelas yang masih mengepulkan asap itu pasti berisi espresso kesukaan dirinya. Nami bahkan tahu minuman kesukaan Himchan apa. Mereka saling mengetahui. Saling mengingat.

 

Tidak, itu hanya rasa suka yang sesaat, bantah Himchan lagi. Himchan pun berjalan mendekati Nami dan langsung duduk dihadapan gadis itu. Gadis itu melamun. Himchan mengamati wajahnya.

 

Dia merindukan wajah tanpa ekspresi itu. Wajah kuat, sinar mata yang hangat tapi dalam, untaian poni Nami yang jatuh menutupi wajahnya, senyumnya yang datar.

 

Semuanya.

 

Dia pasti akan merindukan gadis ini.

 

“Nami,” Himchan menyapa. Nami mengangkat kepalanya memandangi Himchan tanpa ekspresi.

 

“Ya?”

 

Himchan kaget begitu melihat pipi Nami yang semakin menirus, lingkar hitam dibawah matanya makin dalam dan mencekung. Matanya tidak terlihat sehat. Wajahnya pucat.

 

“Apa kau sakit?”

 

Nami menggeleng pelan. “Kau tidak perlu mengkhawatirkanku seperti itu,” katanya dengan nada rendah. Himchan bagai tertusuk saat mendengarnya.

 

“Syukurlah kau baik baik saja.”

 

Mereka berdua pun diam. Saling menatap, tapi tidak mengeluarkan sepatah kata. Sampai akhirnya, Himchan yang membuka percakapan pertama kalinya. Sambil menutup mata, dia mengatakannya.

 

“Aku akan kembali ke New York dan hidup bersama Alice.”

 

Himchan mengatakannya, akhirnya. Himchan membuka matanya pelan. Terlihat Nami menunduk memainkan foam caramel latte-nya. Tidak ada ekspresi kaget atau sedih diwajahnya.

 

Dia lalu mengangkat kepalanya, tersenyum kepada Himchan. Senyum yang lebar. Senyum yang Himchan sukai, namun entah kenapa dia tidak bisa menyukai senyuman Nami disaat seperti ini. Terkesan dipaksakan.

 

“Selamat, ya. Kalian serasi.”

 

Himchan terdiam. Dia mengangguk lemah, “Ya.”

 

“Jangan lupakan Tokyo,” gumam Nami lagi. Mata Nami memandangi mata Himchan. Himchan gemetar. Tubuhnya dingin dan kaku. Sorot mata gadis didepannya terlihat kelam dan sedih. Oh, Himchan rasanya ingin menarik kata-katanya kembali dan ingin memeluk gadis ini, tidak akan pernah melepaskannya lagi. Tapi, inilah yang disebut godaan. Tekadnya akan goyah. Himchan memalingkan muka.

 

“Bagaimanapun, Tokyo sudah memberi banyak cerita.”

 

Nami menggumam.  Dia terus menunduk, tidak menatap Himchan. Himchan benar-benar merasakan pergolakan batin yang luar biasa di dirinya.

 

Himchan pun beranjak berdiri, dan akan meninggalkan tempat itu namun Nami yang memanggilnya membuat Himchan berhenti.

 

“Himchan,” Nami memanggil namanya.

 

Himchan berdiri terpaku. Nami kembali menatapnya.

 

“Terima kasih untuk semuanya,” kata Nami lagi.

 

Himchan merasa matanya memanas. Himchan hanya mengangguk, dan keluar secepatnya dari coffee shop itu. Dia segera berlari dan berlari sampai ke flatnya.

 

Sesampainya di flat, Himchan langsung masuk ke kamarnya dan mengunci pintunya dari dalam. Tubuhnya langsung ambruk. Tenaganya hilang entah kemana.

 

Wajah Nami yang mengatakan terimakasih, saat Nami tersenyum, saat semua kenangan Himchan dan Nami kembali terputar. Himchan merasa dadanya sesak. Sangat sesak. Matanya panas dan berkaca-kaca.

 

“Maaf.”

 

 

-oOo-

Dibalik jajaran pakaian yang berbaris rapi memenuhi ruangan itu, Nami menengok langit yang gelap. Awan yang bergerombol berwarna abu-abu kelam, sementara sinar matahari berusaha menyerobos awan tebal itu seakan memberikan cahaya kepada penghuni bumi yang ia sinari. Seperti memberikan harapan.

 

Persis dengan dirinya sekarang. Entah berharap kepada apa, Nami tetap menggantungkan harapannya. Sekali saja, dalam hidupnya, dia ingin egois. Dia ingin berharap, tidak mengalah atau berputus asa.

 

Gaun yang ada ditangannya langsung dia pindahkan ke sekumpulan gaun-gaun lain yang akan kliennya pakai. Maki Horikita akan menggunakan gaun buatannya di acara MTV Music Award yang akan diadakan 2 minggu lagi. Dan, beberapa hari yang lalu stylist pribadi aktris itu menghubungi Nami dan memintanya menyediakan gaun yang cocok untuk Maki.

 

Nami duduk setelah memisahkan apa yang dia kerjakan tadi.  Dia merenggangkan otot-ototnya yang kaku dan lelah setelah bekerja setengah harian ini. Dia harus ekstra bekerja karena akhir-akhir ini banyak undangan Fashion Week berbagai negara yang datang di kantornya. Sebuah peluang besar akan menentukan kesuksesan besar. Dan kesuksesan besar akan berbanding lurus dengan usaha yang telaten, giat dan tekun juga, kan?

 

Nami pun mulai bekerja dengan laptopnya, memilih tema apa yang akan dia rangkul untuk setiap fashion week tersebut. Dia harus mencocokkan dengan tema umum acaranya. Nami terus menatap layar laptopnya seraca intens ketika ponselnya berdering memecah konsentrasinya.

 

“Ya?”

“Ini aku, Alice.”

“Hai Alice, ada apa menelponku?”

“Aku punya kabar gembira!”

 

Nami diam sesaat. Gembira?

 

“Apa itu?”

 

Terdengar Alice menarik napasnya terlebih dahulu. Nada bicaranya menggambarkan perasaannya, senang.

 

“Aku memintanya kembali. Himchan. Dan….”

 

Nami terdiam. Matanya terpejam.

 

Tidak, jangan. Kumohon, jangan katakan itu…

 

“Kami akan segera pindah ke New York.”

 

Nami membuka matanya. Tangannya lemas, seluruh tubuhnya lemas seketika. Hatinya bagai dihantam baja, lukanya tidak terlihat tapi benar-benar sakit. Bagai sebuah tamparan keras yang meluluh lantakkan harapannya. Harapannya kini terhempas ke tanah.

 

Nami tidak bisa berharap lagi.

 

“Kebetulan Himchan juga punya tawaran di majalah lain. Hebat, bukan?’’

“Ya. Hebat sekali. Selamat, ya.”

 

Dada Nami sesak. Dia tidak sanggup berbicara lebih lama lagi. Ponselnya terjatuh ke lantai. Dia duduk, matanya menatap kedepan dengan nanar. Lebih dari itu semua, hatinya sakit. Sakit sekali sampai Nami kesulitan bernapas. Sesak dan sakit disaat bersamaan.

 

Diluar, Hujan yang cukup deras mengguyur kota Tokyo. Menghapuskan harapan yang tadinya Nami gantungkan, membawanya pergi bersama tetesan hujan dan angin.

 

Lalu Himchan ingin bertemu dengannya di coffee shop langganan mereka, Nami menurut dan melangkahkan kakinya tapi pikirannya sama sekali tidak disana.

 

Nami memesan caramel latte dan espresso. Dia ingat apa yang selalu dipesan Himchan. Sewaktu Nami terlambat , Himchan pasti memesankan caramel latte begitupun sebaliknya, jika Nami lebih dahulu sampai, dirinya akan memesankan espresso untuk Himchan. Dan mereka menghabiskan waktu berdua, bercakap apapun, menikmati waktu senggang diantara kesibukan dan jadwal padat yang mereka miliki.

 

Itu dulu. Kenangan yang berlalu sangat cepat, tanpa bisa Nami mengingat lebih jauh lagi.

 

Nami terduduk. Dia memainkan foam minumannya. Pikirannya kacau. Tidak ada yang bisa Nami sampaikan. Semuanya kacau.

 

Tidak lama setelah Nami duduk, Himchan datang. Nami tidak mau melihat wajah Himchan, tidak mau melihat kedua bola matanya secara langsung.

 

I guess I have disappeared to you
I believed we would be okay this way
But your eyes are so awkward, I can’t look at you
So I’m just staring at your second button

 

“Nami,” panggil Himchan. Nami, dengan kekuatan dan dorongan yang seadanya, mengangkat kepalanya, menatap orang dihadapannya. Dia hanya berharap air matanya tidak jatuh, atau dia tidak terlihat sedih sama sekali.

 

Himchan tidak mengatakan apapun, dahinya mengerut memerhatikan wajah Nami. “Apa kau sakit?”

 

Nami menggeleng. Dia tidak sakit.

 

“Syukurlah kalau kau baik-baik saja.”

 

Lalu keduanya pun terdiam. Berbalutkan sunyi, saling menatapa mata satu sama lain, berusaha mencari jawaban dari setitik harapan. Sekecil apapun itu. Sampai akhirnya Himchan membuka suara.

 

“Aku akan pindah ke New York dengan Alice.”

 

Aku sudah tahu

 

Nami tidak sanggup bersuara ataupun mengatakan sepatah kata. Lidahnya kelu. Dia hanya bisa memainkan foam minumannya, memandangi foam itu sedih.

 

Himchan tidak boleh melihatku sedih

 

Nami perlahan mengangkat wajahnya, menatap Himchan, berusaha tegar dan tidak terlihat sedih. Ia menyunggingkan senyuman dan mengucapkan selamat. Berusaha berbahagia atas kabar itu. Menyembunyikan fakta sebenarnya.

 

I guess I’m not good enough for you
I thought nothing would ever happen to us
Don’t you have anything else to say now?
Do I just let you go like this?

 

“Jangan lupakan Tokyo…”

 

Nami tidak menatap Himchan. Tapi sorot matanya pasti terlihat menyedihkan.

 

“Bagaimanapun juga, Tokyo sudah memberikan banyak kenangan untukku,” Himchan menjawab pelan. Nami mengangkat kepalanya lagi, menatap Himchan, memanggil nama Himchan dan mengucapkan satu-satunya kata yang pantas diucapkannya, sekaligus mengakhiri semuanya.

 

“Terima kasih untuk semuanya.”

 

Nami langsung menunduk setelah mengucapkannya. Menatap meja dengan pandangan yang kosong. Dan, inilah kisahnya. Kisah yang cukup manis untuk dikenang, tapi tidak untuk dipertahankan.

 

Goodbye, the days I used to love you, goodbye, it’s up to here
Even if I can’t see you, even if it’s hard, it’ll be better than being exhausted
I will start again

 

Kisahnya berakhir disini.

 

 -oOo-

Next Part Review : 

“Kondisi Nami semakin memburuk. Apalagi kasus ini, kasus baru ini, yang membuatnya mengalami gejala trauma depresif. “

“Apa yang harus dilakukan?”

“Kita bawa Nami menjauh. Jauh dari jangkauan lingkungan yang bisa mengingatkannya terhadap trauma dan kejadian ini.  Sekaligus, menyembuhkan skizofrenia nya secara total.”

Junhyung tampak tidak yakin. “Mau dibawa kemana Nami?”

“Sebuah negara dengan tingkat kesejahteraan dan kesehatan terbaik di dunia,” kata Sungyeol .

Hi ._.

sorry for late update. i am so busy rite now. 

sorry for doing some typo too orz. feel free to correct me, feel free for asking and please gimme your comment and your opinion. 

xoxo

Hayamira

36 responses to “FF : Oramanieyo… [CHAPTER 7]

  1. entah kenapa ngerasa klo keputusan himchan itu jg karna gegabah..entah ya, soalnya dy sendiri msh ngerasa ga yakin..dan nami…kenapa hidupmu miris gitu sih? T^T walau ad junhyung dan sungyeol tapi tetep aj..kepergian himchan bener2 bikin drop nami..
    btw itu teaser2 part selanjutnya, okeee..gatau kenapa kepikiran klo nami bakal ketemu himchan lagi di new york ..kkk~

  2. Himchan nappeun namja :@
    akhirnya setelah sekian bulan nungguin, ffnya datang juga…
    Omo itu Naminya jangan2 mau dibawa ke New York lagi sama Sungyeol…
    Ikan fugu tu apa ya thor?
    Kok ibu hamil gak boleh makan?
    Hehe maaf oot…

  3. Pingback: FF : Oramanieyo… [CHAPTER 8] | FFindo·

  4. Nah, ternyata aku juga terlewat part yang ini 헤헤
    Aku kecewa sama Himchan, dia pasti salah.
    Mungkin dgn perginya Nami dia akan menyadari bahwa Nami lah yang seharusnya disisinya bukan Alice.
    Teruskaan! Keep writing and fighting! ^^

  5. Pingback: Bloody Camp [Act 1] | FFindo·

  6. Pingback: FF : Oramanieyo… [CHAPTER 9] | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s