[Heavenly Hell] – The Secret Key

[Heavenly Hell] – The Secret Key

heavenly hell

Title : Heavenly Hell

Sub-title : The Secret Key

Author : kikiyeonniee

Cast :
EXO Sehun Oh
SNSD Kim Taeyeon
EXO Huang Zi Tao

Other Cast :
f(x) Krystal Jung
Super Junior Siwon Choi as Andrew Watson
AKB48 Oshima Yuko

Genre : Dark, Action, Mystery

Length : Chaptered 5/7

Rating : PG-15+

Disclaimer : all is mine except the cast. Some plot inspired by anime, novel, drama, and other

Previous story :

Prologue

The Man Called Demon (Chapter 1)

The Leader (Chapter 2)

The Another One (Chapter 3)

The Unknown Girl (Chapter 4)

The Secret Key (Chapter 5)

THE SECRET KEY

***
~While there is someone going. So someone else is coming~
***

-February 9th 2013. Kim’s Mansion, Boston. Massachusetts, USA-

“YUKO!”

Sehun tidak tahu bagaimana ia bisa berteriak sekencang itu tatkala melihat keadaan Yuko. Sehun sontak menarik kakinya dengan susah payah menuju tempat Yuko terbaring. Yuko nampak tersengal kepayahan menahan rasa sakit yang menderannya. Sebuah peluru telah berhasil melubangi dada kirinya. Darahnya mengalir deras seolah tak ada habisnya. Sehun menggenggam tangan Yuko. Menatap mata rekannya itu yang sudah begitu sayu di balik kelopak matanya.

Sehun menekan tombol transmitternya dengan gusar.

“SO to AW. Can you hear me?” pekik Sehun. Tidak dapat mengontrol volume suaranya.

Tapi tidak ada sahutan. Menandakan transmitternya berada diluar jangkauan. Sehun mendesis.

“Dia tidak bisa menembak dengan tepat di jantung… ugh.” sengal Yuko. Diakhiri dengan batuk kecil yang membuatnya memuntahkan darah dari mulutnya.

“Berhentilah bicara. Ini bukan waktu yang tepat, kurasa.” cegah Sehun gusar.

Yuko terkekeh kecil, diselingi dengan batuk. “Aku, ugh tidak akan mati semudah itu.”

“Kenapa kau begitu bodoh! Kubilang berhenti bicara!” pekik Sehun nyaris menjerit. Dan suasana itu bahkan tidak membuatnya sadar akan hal itu.

Yuko terkekeh lagi, “Tapi jika aku mati, mereka membalas kematian ini dengan… ugh, sesuatu yang lebih berharga.” Yuko melirik kecil ke sesuatu di balik punggung Sehun.

Sehun mengikuti arah pandang Yuko. Dimana seorang gadis tengah memeluk lututnya erat. Tubuhnya berguncang ketakutan. Sehun akhirnya menyadari siapa gadis asing itu. Gadis itu adalah gadis yang dibawa Z. Entah apa yang membawa otak Sehun berpikir bahwa gadis satu itu merupakan satu aset penting. Tapi bagaimana Z bisa seceroboh itu meninggalkan gadis berharga itu?

“Sehun.” panggil Yuko terengah. Sehun menunda argumen di otaknya. Kembali ingat akan Yuko yang tengah sekarat.

“Ada yang kau rasakan sekarang? Katakan apa yang bisa kubantu?” tanya Sehun bertubi.

Yuko tersenyum kecil, sembari menahan batuknya yang siap meledak kapan saja. Sehun merasakan kepalanya begitu buntu untuk memikirkan permasalahan yang seolah membebaninya dalam satu hentakkan. Ia ingin mengejar dua orang buronan itu, namun dilain sisi ia tidak mungkin se-kurang ajar itu meninggalkan Yuko yang mungkin begitu membutuhkannya dikala itu. Tapi di saat yang sama pula, ia ingin menghampiri sang gadis anonim itu untuk memintainya keterangan.

Dengan tarikan nafas yang begitu berat, Yuko berujar, “Ganbatte kudasai…”

Tanpa harus mahir dalam bahasa Jepang, Sehun tahu apa yang dikatakan Yuko. Sehun pun tahu apa maksud Yuko mengutarakan kalimat tersebut. Karena setelahnya, Yuko menutup matanya perlahan dengan damai. Mungkin ia tidak akan membukanya lagi selamanya…

***

-February 9th 2013. Kim’s Mansion, Boston. Massachusetts, USA-

Taeyeon menembak dada Yuko tepat di kiri. Tempat jantungnya berada. Taeyeon tersenyum dalam kegelapan. Ia selalu puas melakukan ini. Saat ia bisa menembak tepat di targetnya meski itu dalam keadaan apapun. Belum lagi ia mencari keberadaan Sehun, sebuah tangan mencekal pergelangan tangan kirinya.

“Aku sudah menembak satunya. Ayo kita pergi.” bisik Tao sangat perlahan di telinga Taeyeon.

Taeyeon menyerit bingung. Kenapa Tao mengajaknya dan bukan membawa gadis itu yang merupakan prioritas utama? Belum lagi Taeyeon mengutarakan itu, Tao telah mendekap tubuh kecilnya. Menyeretnya beberapa langkah. Taeyeon merasakan sensasi terbang setelah itu. Ia tahu apa yang Tao lakukan. Mereka menggunakan trampolin lagi untuk misi ini. Dan itu akan berhasil. Mereka mendarat dengan mulus diatas trampolin yang sudah Taeyeon siapkan.

Tao menarik lengan Taeyeon dengan gusar menuju ke sebuah gerbang satu daun pintu. Gerbang kecil yang sangat jarang dipakai karena berada di belakang Mansion. Di balik gerbang tersebut terparkir sebuah van hitam milik Tao. Pikiran Taeyeon begitu runyam untuk memikirkan tingkah Tao yang telah memporak-porandakan rencananya yang telah tersusun rapi. Jadi Taeyeon hanya diam terpaku tanpa bisa berujar apapun. Sibuk mengatasi rasa ingin berteriaknya.

Van itu berderum menjauh dari kawasan luas Mansion Taeyeon. Menuju kaki bukit dimana tempat itu adalah persembunyian sementara milik Taeyeon dan Tao. Tempat itu lebih menyerupai rumah kecil yang dulunya sering digunakan Taeyeon untuk menikmati masanya sendiri. Namun karena akhir-akhir ini Taeyeon jauh lebih sering menghabiskan waktunya diluar rumah, rumah kecil itu terbengkalai begitu saja.

Van berhenti di depan rumah itu. Taeyeon lekas-lekas membuka safety belt-nya dan keluar dari van tersebut. Taeyeon menarik nafas berkali-kali secara dalam. Sukar sekali untuk menetralisir rasa dongkol di dadanya. Taeyeon berkacak pinggang. Jika Tao tidak ada di tempat yang sama dengannya tatkala itu mungkin Taeyeon sudah menangis menjerit-jerit lantaran kesal.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Tao dari balik punggung Taeyeon.

[PLAK!]

Nafas Taeyeon memburu bahkan membuat bahu dan dadanya naik turun dengan kentara. Telapak tangannya terasa panas seusai sebelumnya beradu dengan pipi kiri Tao. Bisa ia lihat betapa merahnya pipi Tao saat ini. Namun bukan itu yang patut Taeyeon khawatirkan masa tersebut.

“Tidak apa-apa, katamu? Kau tahu apa yang kau telah kau lakukan?” pekik Taeyeon, ia tercekat di akhir kalimat.

Tao terpekur melihat reaksi Taeyeon yang begitu hebat. Ia langsung kehabisan kata-kata begitu saja. Taeyeon bukan tipe yang temperamen kendati ucapannya sangat menusuk jika ia mau.

“Aku sudah memanipulasi CCTV di rumahku, telah memberi anjing penjaga obat tidur, telah menyiapkan trampolin, menembak orang itu dengan tepat. Itu adalah rumahku dan aku adalah orang yang paling tidak mungkin dicurigai untuk membunuh orang. Rencanaku sudah begitu rapi. Yang kau harus lakukan hanyalah membawa gadis itu kepada Boss. Kenapa kau malah meninggalkan gadis itu disana!!” amarah Taeyeon begitu terungkapkan dengan kalimatnya yang panjang itu.

Tao terdiam. Menatap tanah. Tidak memperdulikan pipinya yang mungkin sebentar lagi akan lebam. Atau mengkhawatirkan makian Taeyeon yang begitu membahana. Seolah Tao telah melakukan hal yang benar dan tidak mengakui bahwa ia salah.

“Aku tidak mungkin kembali saat kau mulai menyeretku pergi. Karena dalam misi kita, satu detik saja adalah penting. Kau mengacaukan waktu berhargaku dan kini mampu memasang wajah tak bersalah seperti itu?” lanjut Taeyeon menggebu.

Tao tetap membisu. Membuat Taeyeon kehilangan kesabarannya sedikit demi sedikit, “Demi Tuhan, Huang Zi Tao! Jangan abaikan aku!”

“Aku melindungimu, kau puas?” tandas Tao tajam.

Taeyeon membulatkan matanya lebar. Kalimat Tao tidak seperti seseorang yang menyatakan cinta. Ia mengungkapkannya dengan ringan namun tegas seolah memang itu yang selayaknya ia lakukan.

“Huh?” tanya Taeyeon.

“Definisi suka, senang, dan cinta adalah berbeda. Dari tiga kata itu aku memilih senang. Aku senang berada di sisimu. Terlepas tidak ada satupun momen diantara kita yang patut dianggap menyenangkan. Hanya saja, kau tahu? Aku tidak punya siapapun di dunia ini. Prioritasku bukan gadis itu, tapi kau.” jelas Tao tenang.

Kalimat Tao mampu membuat Taeyeon membisu. Hening sejenak lantaran Taeyeon tengah memikirkan kalimat yang diucapkan Tao. Semua kalimat Tao diakui Taeyeon sebagai realita. Dimana mereka berdua memiliki relasi yang tidak dimiliki orang lain. Bukan karena cinta. Perasaan yang jauh lebih sederhana, yang mewakili rasa kesepian mereka. Tao dan Taeyeon tidak memiliki siapapun yang bisa dijadikan sebagai sandaran kokoh. Mereka harus berdiri sendiri melawan takdir dan menemukan kenyamanan tersendiri tatkala mereka bersama. Taeyeon menghela nafas dan menggeleng kecil.

“Hentikan perkataan bodohmu, anak kecil. Jika kau tidak memprioritaskan gadis itu, maka prioritaskanlah misi ini.” desis Taeyeon mengancam.

Ia melengang pergi. Persis seperti hidupnya, Taeyeon hanyalah mengutarakan kalimat yang penuh dengan kemunafikan.

***

-February 9th 2013. Kim’s Mansion, Boston. Massachusetts, USA-

Mayat Yuko telah dibawa ke dalam van. Tempat kejadian perkara telah dibersihkan. Semua kegaduhan telah dibereskan tanpa merusak acara pesta malam itu. Pihak kepolisian meminta kerja sama dari para pelayan untuk membereskan keadaan dan merahasiakan yang terjadi di sana. Suasana semua orang yang ada di sekitar van begitu mendung. Bahkan saat Sehun kembali dan menggendong seorang gadis yang pingsan.

“Dia adalah gadis itu, Sir.” ujar Sehun pada Andrew yang sebelumnya tengah berusaha menenangkan Krystal.

Andrew menoleh. Wajahnya begitu terpukul membuat perasaan bersalah Sehun tumbuh dengan cepat. Andrew mengamati wajah gadis itu sejenak.

“Wajahnya sangat tidak asing, kau tahu?” bisik Andrew serak.

Sehun mengangguk bersemangat. Sangat setuju dengan pendapat Andrew. Seharusnya itu adalah kali pertama Sehun dan gadis itu bertemu. Tapi, Sehun merasa seperti pernah bertemu dengan gadis tersebut sebelumnya entah dimana. Dan rupanya itu juga dirasakan Andrew.

“Seperti pernah bertemu di suatu tempat.” balas Sehun.

Andrew mengangguk lemah, “Bawa dia ke mobilku.”

Sehun mengangguk untuk yang kedua kalinya. Ditinggalkannya Andrew bersama Krystal yang saat itu tengah menyeka air matanya.

“Maafkan aku Krys, ini salahku.” sesal Andrew.

Krystal menghentikan tangisnya sejenak, “Kau tidak perlu menyalahkan dirimu terus menerus, Sir. Yuko datang ke misi ini tanpa direncana. Tidak ada yang tahu tentang kedatangan mendadaknya.”

Andrew menggeleng, “Tidak, betapapun Yuko tidak ada disana. Maka Sehunlah yang ada dalam bahaya. Mungkin ia yang terbunuh jika Yuko tidak ada. Lagipula, Sehun juga terkena tembakan di kakinya. Aku tahu itu meski ia berbohong untuk itu.”

Krystal terdiam. Perkataan Andrew sedikit ada benarnya. Dan Krystal mengakui hal tersebut.

“Maka dari itu. Kali ini aku akan memerintahkan kalian untuk benar-benar mundur. Aku tidak ingin sesuatu terjadi lagi pada kalian.” tegas Andrew.

“But, Sir.” potong Krystal.

“Tidak! Yang kita hadapi sekarang kurasa bukan lagi organisasi itu. Sesuatu yang jauh lebih bahaya dari segi manapun.” tukas Andrew.

Krystal menatap mata Andrew yang menyiratkan kesungguhan. Ia menghela nafas pendek. Krystal tidak tahu lagi bagaimana ia harus menghadapi ini. Ia ingin menemani Andrew hingga akhir. Tapi di lain sisi, ia tahu bahwa belum ada yang mampu mengingkari perintah Andrew selama ia menjadi Inspektur.

“Sir.” panggil Sehun setelah kembali mengantarkan gadis tersebut. Krystal dan Andrew menoleh bersamaan.

“Ah, Sehun. Baiklah, ayo kita ke kantor sekarang juga.” ujar Andrew dengan nada aneh. Seolah ingin menutupi perbincangan sebelumnya bersama Krystal.

Sehun menyerit bingung sejenak. Ia menatap Krystal, meminta penjelasan. Tapi Krystal sedang berjibaku dengan tatapan kosongnya ke tanah. Sehun kembali menatap Andrew.

“Well then, aku akan ikut van…”

“Tidak, kau ikut mobilku. Biarkan Krystal bersama polisi lainnya. Ada yang ingin kubicarakan denganmu.” sela Andrew memotong kalimat Sehun.

Sehun mengangkat alisnya. Tapi seusai itu Sehun mengangguk kecil dan mengikuti tubuh Andrew yang sudah mulai berjalan mendahului Sehun menuju mobilnya. Saat mereka sudah sampai di sebelah mobil, Sehun hendak membuka pintu kursi kemudi. Namun Andrew mendahuluinya. Sehun terkesiap, namun tanpa mengatakan apapun Sehun mengitari mobil dan masuk ke mobil. Duduk di sebelah kursi kemudi. Sehun menolehkan kepalanya ke belakang, ia sedikit terkejut saat melihat gadis itu sudah terbangun.

“Bagaimana keadaanmu? Apa kau baik-baik saja, nona?” tanya Sehun.

Gadis itu terperangah. Menatap Sehun dengan sorot mata rapuh. Bola matanya bergerak-gerak menandakan bahwa ia bingung.

“D… dimana?” tanya gadis itu.

Sehun tersenyum, “Kau ada di mobil Inspektur Watson, nona. Sekarang ini kau bisa beristirahat sementara kami akan membawamu ke kantor. Well, menanyakan beberapa pertanyaan.”

“Dimana?”

Sehun memiringkan kepalanya. Ia baru saja memberikan jawaban kepada gadis itu dan setelahnya Sehun kembali mendapat pertanyaan yang sama. Jadi Sehun hanya terdiam seraya memasang raut pias.

“Apa, atau siapa yang kautanyakan dimana?” tanya Sehun pada akhirnya.

“Where is he?” balas gadis itu dengan pertanyaan juga.

Sehun mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi, “He?”

Gadis tersebut mengangguk kecil pada Sehun. Kali ini ia menunjukkan bahwa ia merespon pertanyaan Sehun. Sehun memutar otaknya untuk merangkum jawaban atas segala himpunan pertanyaan di benaknya. Sehun tau bahwa gadis di hadapannya adalah seorang penting tempat dimana informasi berada. Jadi mungkinkah seseorang yang gadis tersebut cari adalah seorang penting di organisasi hitam itu? Sehun baru saja membuka mulutnya ketika Andrew menginterupsi kegiatannya.

“Oke, cukupkan perbincangan ini. Biarkan aku konsentrasi menyetir. Kau punya banyak waktu nanti di kantor, Sehun Oh.” hardik Andrew.

Sehun menghela nafas. Lantaran kalimat yang sudah berada di ujung lidahnya terpotong dengan tegas oleh atasannya itu. Sehun mengembalikan tatapannya lurus ke jalan. Menatap jalanan licin yang baru saja diguyur oleh hujan.

“Bolehkan aku tanya namamu saja, nona?” cetus Sehun tanpa mengalihkan tatapannya dari jalanan.

Senyap. Nampaknya gadis itu enggan memberikan namanya kendati untuk seorang yang menolongnya itu. Atau mungkin karena otak gadis itu belum sepenuhnya bisa berjalan dengan lancar. Mobil Andrew berderum halus dan tenang membelah jalanan kelabu yang suram. Mereka semua menikmati suara hembus nafas mereka masing-masing. Seraya menatap keluar jendela mobil dengan sendu.

Sedikitnya, Sehun tidak ingin membiarkan Andrew menyetir dengan tangannya sendiri. Suasana hati Andrew pasti jauh lebih buruk dibanding siapapun yang ada di Mansion tersebut. Termasuk Sehun sekalipun. Padahal Sehun sudah merasa begitu putus asa menghadapi kegagalan misinya untuk sekian kalinya.

“Inspektur, bukankah tadi kau bilang ada sesuatu yang ingin kau sampaikan?” tanya Sehun kemudian. Memecah keheningan yang telah tercipta selama beberapa mil perjalanan tadi.

Andrew seolah terkesiap. Teringat oleh janjinya yang nyaris ia lupakan. Andrew menarik oksigen melalui hidungnya dengan rakus. Lalu menghembusnya dengan kasar. Sehun menyadari situasi yang tidak menyenangkan itu lalu berujar,

“Well, itu tidak akan menjadi masalah jika kau tidak ingin membicarakannya saat ini. Aku tidak ingin mengganggu konsentrasimu menyetir.” serbu Sehun dengan rentetan kalimat.

“Berhentilah.” potong Andrew.

“I’m sorry?”

“Aku mencabut perintahku pada kalian semua untuk menumpas organisasi itu. Mungkin ini adalah batas dimana kita harus berhenti.” desah Andrew lirih.

Sehun terdiam. Tetap pada pandangannya ke arah jalanan yang mengkilap. Ia tahu betul Andrew akan memerintahkan mereka untuk berhenti cepat atau lambat. Sehun tidak mengiyakan atau menolak kalimat Andrew. Nampaknya pula Andrew tidak berniat untuk menanti kalimat Sehun untuk menimpali kalimatnya.

***

-February 9th 2013. Boston Police Office, Boston. Massachusetts, USA-

Sehun membuka pintu mobil lalu melangkah dengan hati-hati. Ia berusaha sebisa mungkin menyembunyikan rasa nyeri akibat luka goresan peluru di tungkai bawahnya. Sehun sudah membalutnya dengan kain dan mengganti celananya. Ia tidak ingin Andrew atau siapapun mengkhawatirkannya. Sehun baru saja keluar dari Rumah Sakit dan tahu betul perasaan saat dirinya begitu dikhawatirkan seolah ia menjadi yang paling rapuh diantara yang lain.

Sehun berjalan menuju pintu belakang mobil. Membukakan pintu untuk gadis itu. Yang ia lihat pertama kali dari gadis itu adalah perubahan raut wajahnya yang begitu drastis. Seolah waktu yang singkat selama perjalanan sebelumnya telah berhasil memantapkan hatinya. Wajah gadis itu penuh dengan kesungguhan dan kemantapan. Gadis tersebut turun dari mobil dan berjalan mendahului Sehun.

Sehun membuntuti gadis itu tanpa membuka mulutnya. Sekitar lima langkah mereka berjalan, gadis itu berhenti.

“Jessica.” ujar gadis itu seperti menggumam. Tapi masih dapat didengar oleh Sehun.

Sehun tidak merubah rautnya, “Jessica?”

“Ya, Jessica.”

The Secret Key 3

***

-February 10th 2013. Charles’s Riverbank, Boston. Massachusetts, USA-

Taeyeon menepikan mobil hitamnya ke pinggiran sungai Charles tanpa berani menoleh kepada seseorang disampingnya. Misi yang biasanya ia jalankan dengan mulus, juga segala kesiapan yang rapi. Kini ia harus menekan rasa kecewanya lantaran misi kali ini benar-benar gagal berantakan. Sang big boss telah ada di sampingnya. Duduk tercenung menikmati langit Boston yang dengan perlahan berubah menjadi cerah. Rautnya sama sekali tidak menunjukkan bahwa ia marah terhadap hasil dari misi kali ini. Tapi Taeyeon sendiri berpikir bahwa kemungkinan orang disampingnya itu bahkan tidak pernah memiliki emosi yang berarti.

“This mission’s failed, hasn’t it?” gumam big boss.

Taeyeon meneguk ludahnya sembunyi-sembunyi sebagai bentuk persiapannya sebelum menjawab, “Yes, it has.”

Big boss membiarkan suasana menjadi hening. Namun suasana itu bukan membuat Taeyeon semakin tenang, justru memicu detak jantung Taeyeon untuk semakin berpacu cepat. Sebelumnya di organisasi mereka, banyak orang yang tiba-tiba saja menghilang tanpa kabar jika misi yang mereka jalani gagal. Taeyeon sendiri tidak pernah memikirkan kenapa mereka bisa menghilang begitu saja. Karena pada masa itu, Taeyeon selalu menjalankan misinya dengan akhir yang manis. Dan karena pada dasarnya Taeyeon tidak peduli akan hal itu. Termasuk jika kematian adalah hal paling mungkin terjadi diantara orang-orang gagal itu.

“Sepertinya memang salah membebankan masalah pribadi kepada kalian, orang-orang organisasi. Aku sudah menafsirkan kegagalan ini akan terjadi.” gumam sang Big Boss lagi. Taeyeon tidak melihat senyum kecil yang biasa orang itu sunggingkan.

Taeyeon hanya mengangguk untuk menimpalinya. Karena ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan saat ia mendengar kalimat melankolis seperti itu.

“Aku tahu Z akan berakhir demikian. Ia tidak sekuat dirimu.” gumam Big Boss.

Taeyeon menjilat bibir atasnya sebelum menjawab, “Dia hanya kesepian… sepertiku.”

Big Boss tersenyum kecil, “Apakah itu artinya kau lebih kesepian daripada dirinya? Mengingat kau lebih kuat dari Z.”

Taeyeon terkesiap, “Bukan itu maksudku. Ini hanya bentuk simpati tidak berarti. Dia hanyalah manusia tidak berguna yang kesepian.” tandas Taeyeon pedas.

“Tapi kau tidak seperti dia.” gumam Big Boss.

Salah, pikir Taeyeon. Taeyeon sangat sama dengan Tao. Mereka tidak perlu alasan untuk melakukan sesuatu sekalipun itu membunuh. Karena mereka melakukan semua itu karena seseorang. Jika Tao melakukannya agar bisa bersama Taeyeon, seseorang yang ia anggap sebagai kakak. Maka Taeyeon melakukan semua hal yang bahkan membahayakan nyawanya untuk sang boss.

Taeyeon menghela nafas untuk menutup pemikiran di otaknya, “Apa ini adalah sebuah akhir?”

Big Boss menggulirkan bola matanya untuk melirik Taeyeon. Namun bibir tipisnya tetap rapat tertutup. Tidak mengatakan apapun.

Lanjut Taeyeon, “Kau memberikan kami sebuah misi, dimana itu sebenarnya adalah masalah pribadi yang seharusnya kau selesaikan sendiri. Apakah itu artinya kau kekurangan misi?”

Big Boss mendenguskan tawanya sekilas. Satu sudut bibirnya terangkat naik. Matanya kembali menyorot langit dengan tenang.

“Bisa dibilang demikian.” jawab sang big boss.

Taeyeon menggigit bibirnya. Selama beberapa tahun ia mengabdi pada organisasi itu, ia selalu penasaran dengan akhir yang akan ia capai. Apakah sebuah keberhasilan yang gemilang untuk menguasai pasar gelap seluruh dunia? Ataukah sebuah kelembapan sel tahanan lantaran kegiatan mereka tercium oleh polisi.

“Seems like i have to finish this revenge by myself.”

Sesungguhnya Taeyeon bukanlah orang yang akan tertarik dengan urusan orang lain, namun entah kenapa pernyataan tersebut membuatnya mampu menoleh dan bertanya, “Revenge?”

Sang big boss tersenyum kecil seperti biasa. “Kurasa disinilah waktu yang tepat untuk mengeluarkan salah satu AS kesayanganku.”

***

-February 10th 2013. Boston Police Office, Boston. Massachusetts, USA-

“Namamu Jessica, Nona?” ujar Sehun memecah keheningan setelah sekian lama ia menunggui gadis di depannya menghabiskan santapan paginya.

Gadis yang disebut Jessica itu menggulirkan bola matanya yang berwarna coklat ke arah Sehun. Matanya besar, dengan bola mata bulat menatap Sehun dengan pandangan sulit diartikan. Jessica mengangguk mengiyakan pertanyaan yang dilontarkan Sehun.

“Sebenarnya banyak yang akan kutanyakan padamu, Nona. So, may I?” timpal Sehun atas anggukan itu.

Jessica mengangkat kedua bahunya, “Well, itu tergantung konteks dari pertanyaanmu.”

Sehun menaikkan satu alisnya. Gadis dihadapannya ia rasa sangat berbeda dengan gadis yang ditemuinya di Mansion itu. Meski pada kenyataannya mereka adalah orang yang sama. Jessica dihadapannya sangat kritis terhadap apa yang dikatakan Sehun dan terkesan cerdas. Berbeda jauh dengan Jessica yang pertama ia temui. Dimana pada saat itu hanya seorang gadis rapuhlah yang terlihat dimata Sehun. Sehun menduga bahwa ada kemungkinan bahwa Jessica memiliki trauma akan suatu hal yang semalam terjadi di Mansion itu.

“Apa yang sebenarnya kau lakukan semalam di Mansion itu?” Sehun membuka pertanyaan pertama.

“Menemui seseorang, that’s all.” jawab Jessica ringan. Tidak sewajarnya orang yang tengah menjalani interogasi.

“Menemui seseorang? Apa itu Z?” timpal Sehun dengan pertanyaan selanjutnya.

“Laki-laki berambut hitam itu? Ya.” sahutnya tenang.

“Kenapa kau bertemu dengan Z? Apa kau tahu jika Z adalah salah satu anggota organisasi ilegal yang tengah diincar oleh polisi?” serbu Sehun.

Jessica mengambil udara sejenak, “Urusan bisnis antara aku dan dia. Dan ya aku tahu dia anggota organisasi.”

“Bisnis? Membeli senjata atau sejenisnya? Bisakah kau memberitahuku?” lagi-lagi Sehun melontarkan pertanyaan dengan bertubi.

“Apa urusan internalku wajib kubeberkan padamu?” sahut Jessica dengan nada tidak peduli.

Sehun menghela nafas, “Tapi ini penting.”

“Tidak, kurasa itu saja sudah cukup.” tandas Jessica tajam.

Sehun melebarkan matanya, ia sudah cukup muak dengan sikap Jessica yang begitu angkuh, “Kuberitahu kau, selama ini adalah urusan organisasi itu. Aku berhak tahu, Ms. Jessica!”

“Maka aku juga akan memberitahumu, Mr. Detective. Bahwa ini bukan lagi organisasi itu. Organisasi yang kau sebut-sebut itu sudah tamat bagaikan mainan. Yang kauhadapi kini adalah sesuatu yang lebih menantang. Sesuatu yang membahayakan nyawamu!” jerit Jessica melengking.

Sehun hanya terpaku menatap Jessica yang sebelumnya meraung di wajahnya. Ia menyadari sepenuhnya dan mengerti keseluruhan ucapan Jessica. Tapi ada suatu yang menahannya seolah ingin menghadapi sesuatu yang bahaya itu.

“Aku memohon padamu, kumohon berhentilah. Pasti Inspekturmu itu sudah memberitahumu. Sebuah penyesalan akan datang saat kau tidak menginginkannya.” lanjut Jessica.

Sehun mendenguskan tawanya sebelum menjawab, “Sepertinya kau begitu mengerti seluk beluk orang-orang itu.”

Sehun merasa kalimatnya tidak akan terjawab saat menyadari Jessica sudah memalingkan bola matanya ke arah jendela. Tangan kirinya menopang dagu sekaligus menutup sebagian besar bibirnya. Seolah mengisyaratkan bahwa dirinya sudah enggan membuka mulutnya lagi. Sehun mendesah kesal. Ia menarik tubuhnya untuk menyandar pada sandaran kursi. Mengikuti arah pandang Jessica ke arah gedung-gedung pencakar langit berbaris rapi.

Beberapa menit berselang dengan penuh keheningan. Jessica bergumam tiba-tiba, “Begitulah…”

“Huh?” Sehun menimpali dengan satu kata pendek penuh dengan perasaan bingung.

Jessica menatap Sehun lagi. Ia tersenyum getir, “Sebuah kebohongan membuahkan kebohongan pahit lainnya.”

Untuk sepersekian detik, Sehun mencerna kalimat itu tanpa kata. Setelahnya ia tidak menanggapi kalimat itu dan menyapukan pandangannya kembali kearah jendela.

***

-February 11th 2013. Boston’s Police Office, Boston. Massachusetts, USA-

Andrew memijit pelipisnya dengan frustasi. Keadaannya saat ini benar-benar kacau. Mengingat sudah dua hari ia ada di ruangannya tanpa melakukan hal yang berarti selain makan dan pergi ke kamar kecil. Ruangannya gelap gulita tanpa penerangan. Ia sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya ia lakukan. Atau paling tidak akan ia lakukan.

Sejatinya, Andrew tengah menunggu seseorang yang sebentar lagi akan datang kepadanya. Andrew tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan hingga pada akhirnya ia memanggil orang tersebut. Berjibaku dengan pemikirannya yang seolah tak berujung, Andrew tidak menyadari seseorang masuk ke ruangannya melalui pintu yang tengah ia punggungi. Orang itu masuk tanpa suara lantas menatap sekelilingnya. Ia mendengus prihatin lantas menekan saklar lampu.

[CLICK]

Andrew terlonjak kaget. Ia memutar kursinya secepat kilat dengan tegang. Namun ketegangan itu berangsur normal dengan cepat saat Andrew menyadari siapa orang yang menyalakan lampu. Bahunya perlahan turun. Andrew mendesah lega.

“Kau sudah datang…” sapa Andrew dengan suara parau.

Lelaki dihadapannya itu menggaruk tengkuknya malas, “Hanya begitu kalimat selamat datangmu?”

Andrew mengabaikan kalimat itu. Ia justru sibuk mencari file di sebuah tumpukan kertas yang menggunung di samping mejanya. Setelah ia menemukannya, Andrew melemparkannya di meja.

“Kau bisa membacanya. Itu file tentang organisasi ilegal yang sedang kukejar.” jelas Andrew dengan nada enggan.

Laki-laki jangkung itu mengulurkan tangannya untuk mengambil file tersebut. Nampak tidak tersinggung dengan perlakuan Andrew padanya. Seolah sudah terbiasa pada hal itu.

Seraya membuka map itu, lelaki itu bergumam, “Aku tidak mencium aroma keberhasilan atas misi pengejaran organisasi ini.”

Andrew mengendikkan bahu. Ia harus memaksa diri untuk tidak menyangkal kalimat itu.

“Kau tidak sebaik Inspektur Watson Senior, dude. Tapi kuakui kau hebat karena belum tewas sampai saat ini.” serang pemuda itu tajam.

[BRAK]

“Berhentilah mengatakan hal buruk tentang Dad!” bentak Andrew keras.

Laki-laki itu menghela nafas, “Tak dapat dipungkiri, kau memang memiliki sifat diktator dan temperamen milik Dad. Tapi nampaknya kau harus menahannya sementara karena kedatanganku kemari adalah atas permintaan tolongmu.”

Andrew menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi. Ia membuang nafas dengan kasar.

“Baiklah, aku benar-benar minta tolong padamu. Jadi lakukan yang terbaik, oke?” pinta Andrew dengan nada yang lebih lunak.

Laki-laki tersebut mengangkat kedua bahunya, “Sebenarnya aku lebih tertarik membantumu mengejar organisasi itu daripada melakukan pekerjaan yang kau minta. Tapi, well… Aku akan tetap mengerjakannya dengan baik.”

“Bagus, aku berharap padamu,” jawab Andrew puas.

Untuk kedua kalinya, laki-laki itu mengendikkan bahunya tidak peduli. Dengan tangan kanannya, ia mengangkat file yang belum selesai ia baca.

“Aku bawa ini.” ujar laki-laki tersebut.

Andrew mengangguk, diikuti berbaliknya laki-laki tersebut. Namun saat baru sekitar tiga langkah lelaki tersebut melangkah, ia berhenti.

Laki-laki itu bergumam, “Ahya, perlu kau ketahui. Aku melakukannya bukan karena aku adalah adikmu. Aku melakukannya sebagai FBI, Kris Robert Watson.”

THE SECRET KEY 2

***
END of The Secret Key
***

Jajajajajajaaaa….
Ini saatnya kalian berhenti berfikir bahwa sang big boss adalah Kris. Hahaha. Sebenernya Kris udah saya persiapkan dari awal untuk peran ini meski saya pernah berfikir buat jadiin Kris sebagai big boss. evil-smile-onion-head-emoticon

tahukah kalian saya susah banget ngupload part ini? sm*rtfren sinyalnya luar biasa, dan akhirnya setelah perjuangan keras (?)hell-yes-onion-head-emoticon

Sorry for being soooooo late. Gomenasai
Ada banyak alasan kenapa part ini begitu terlambat. Karena sudah mulai sekolah, karena sekolah saya sedang HUT, karena saya tergoda untuk nonton anime daripada nerusin ini (?),embarrassed3-onion-head-emoticon karena komen menurun, dan blablabla

So, how was it? Liat kan chapternya? Semakin mendekati ending. Tapi saya malah nambah cast #ditampar
Janji deh, ini terakhir kalinya nambah cast. Ini juga karena castnya ada yang almarhum. Hehe

Jangan lupa komennya yaa. Sedih banget loh saya kemarin pas liat komennya menurun, depressed1-onion-head-emoticonmakanya sampai sekarang blm di reply. Terserah kalian deh mau komen kayak gimana. Mau menghujat, pendek, panjang, blablabla. Yang penting komen aja saya seneng banget.

Sincerely,
Kikiyeonniee

82 responses to “[Heavenly Hell] – The Secret Key

  1. Finally my baby jessjung appeared with kris!!! Yeaayy..
    Masalah pribadinya sama jessica ya. Hmm. Makin penasaran apa yg dimiliki jessica sama big boss nya di masa lalu 😦

  2. Pingback: [Heavenly Hell] – The Last Destination | FFindo·

  3. Yeay aku sudah ounya pemikiran kalau sang bigboss tak lain tak bukan seorang GD~ =)
    Kris jd adiknya Siwon UoU

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s