Lucky – Part 4

Good or bad luck cover

Previous: Part 1| Part 2| Part 3|

Cast: Kim Jongin | Kang Ji-Kyung (Oc) | Park Chanyeol | Park Young-Geun| etc

Disclaimer: Fanfic ini terinspirasi dari sebuah anime yang judulnya aku lupa. ._.v cuman dibeberapa bagian ada scene yang sama, tapi kesananya itu hasil imajinasiku. ^^

Warning: Typo, cerita gaje, dan kekurangan yang lainnya. Maaf kalau ada yang tidak suka. DON’T LIKE DON’T READ!

 

Story

Seharusnya pagi ini Ji-kyung menuruti apa kata hatinya untuk tidak berangkat sekolah saja, murid teladan dan disayangi semua guru seperti dirinya tidak akan menjadi masalah kalau absen satu hari saja dengan memberikan alasan sakit, gurunya pasti akan mengerti.

Toh selama ini ia tidak terlalu banyak absen, bahkan selama dua tahun ia sekolah disini masih bisa dihitung dengan jari berapa kali ia tidak bisa mengikuti pelajaran. Tapi masalahnya terletak pada kedua orang tuanya, mereka pasti akan tahu kalau Ji-kyung sakit atau hanya pura-pura.

Mengingat sangat otoriter dan kerasnya mereka dalam mendidik putri ‘satu-satunya’ itu, dan dengan sangat terpaksa gadis itu membiarkan dirinya mengabaikan tentang niatannya absen sekolah hari ini dan tentang betapa malasnya ia untuk datang ke sekolah.

Bukan tanpa alasan kenapa ia sangat tidak ingin menampakan dirinya di sekolah elit ini, semenjak peristiwa kemarin dimana Kai dengan sangat seenaknya memeluk Ji-kyung di depan umum, gadis itu sudah menebak reaksi apa yang akan terjadi ke esokan harinya. Dan terbukti sekali tebakannya pagi ini, hampir semua murid yang berjalan masuk ke dalam gerbang sengaja menghentikan langkah mereka hanya untuk menatapnya ketika ia turun dari mobil yang rutin mengantarkannya.

Baru di luar gerbang saja orang-orang sudah menatapnya seperti ini, apalagi ketika ia sudah melangkah ke dalam. Sepertinya Ji-kyung harus menyiapkan diri ketika ribuan pasang mata menatapnya.

Glek.

Ji-kyung mulai tidak yakin untuk masuk ke dalam, untuk beberapa saat gadis itu hanya berdiam diri di depan mobilnya, membuat supirnya itu mengernyitkan dahi ketika tidak juga mendapati nona mudanya itu beranjak dari tempatnya. Dan pria berumur empat puluh tahunan lebih itu mulai memberanikan dirinya untuk bertanya.

“Anda tidak masuk nona?”

J-ikyung berbalik dan menatap supir keluarganya itu dengan tatapan memelas, setengah berharap supirnya akan mengerti kalau sekarang ia benar-benar ingin pulang.

“Nona sakit?” Tanya supir itu untuk kedua kalinya.

“Ajussi, aku-“ Ji-kyung tidak menyelesaikan kalimatnya begitu dengan tiba-tiba saja perkataan kedua orang tuanya terngiang lagi di kepalanya.

“Kau harus menjadi gadis yang sempurna Ji-kyung, jangan mengecewakan kami.”

Dengan menggigit bibir bawah pelan, Ji-kyung menutup kedua matanya sesaat. Tiba-tiba saja perasaan takut mulai menghinggapinya. Ia takut, ia tidak akan pernah mau mengecewakan kedua orang tuanya lagi setelah kejadian sepuluh tahun yang lalu.

“Nona Ji-kyung?”

Ji-kyung terlonjak dengan cepat begitu merasakan sebuah tepukan di bahunya. Ia kemudian menoleh dan mendapati supirnya itu menatapnya dengan khawatir.

“Nona baik-baik saja?”

Ji-kyung tersenyum tipis kemudian menggelengkan kepalanya, “Aku tidak apa-apa, aku berangkat dulu ajussi.” Ucap Ji-kyung dan setelah itu ia memantapkan dirinya untuk mulai melangkah memasuki gerbang. Memantapkan dirinya dari orang-orang yang sekarang mulai berbisik-bisik melihat kedatangannya.

Ji-kyung menghela napas pelan, yang harus ia lakukan sekarang hanya memasang wajah datar, menulikan pendengarannya dan menganggap mereka semua tidak ada. Toh, jarak dari koridor menuju ke kelasnya tidak terlalu jauh.

“Lihat, lihat, bukankah itu Ji-kyung si anak ketua yayasan yang kemarin di peluk oleh Kai?”

“Bukankah Kai itu bersama Young-geun?”

“Aigoo~ sebenarnya ada hubungan apa diantara mereka?”

“Jangan-jangan Ji-kyung merebut Kai dari Young-geun lagi?”

“Jinjja? Jahat, pantas saja Young-geun dan Kai sekarang jarang terlihat bersama.”

Ji-kyung memutar kedua bola matanya, mencoba untuk mengabaikan bisikan mereka –jelas-jelas itu bukanlah sebuah bisikan karena Ji-kyung masih bisa mendengarnya dengan sangat jelas. Gadis itu mempercepat langkahnya, tapi beberapa saat kemudian ia menghentikan langkahnya begitu ia melihat foto dirinya dan Kai yang tengah memeluknya terpampang dengan sangat jelas di mading sekolah.

Oh, apa tidak ada hal yang lebih buruk lagi selain ini? Rasa-rasanya Ji-kyung ingin menelan hidup-hidup siapa saja orang yang memasang foto itu disana, benar-benar tidak ada kerjaan sekali.

Hell, dia hampir melupakan betapa populernya seorang Kim Jongin di sekolah ini, terkenal dengan predikat pemain basket terbaik se-high school tahun ini membuat pria itu sangat disorot di seantero sekolah, termasuk mungkin soal asmara pemuda itu. Jadi jangan heran kenapa bisa ada foto mereka berdua disana. Gezz.

Ji-kyung menghela napas lega begitu ia sudah sampai di depan kelasnya, ia tidak pernah menyangka berjalan dari koridor sampai ke kelasnya akan terasa sangat panjang dan memakan waktu cukup lama dengan berpuluh-puluh pasang mata yang menatapnya.

Gadis itu mendengus kecil ketika pemandangan di dalam kelasnya tidak jauh berbeda dengan keadaan di luar, teman sekelasnya pun banyak yang berbisik-bisik dan menatapnya begitu ia datang. Apa sebegitu menghebohkannya kalau Kai memeluknya? Apa berpelukan adalah hal yang aneh?

Dengan kesal, Ji-kyung mendorong kursinya ke belakang sehingga menimbulkan bunyi derit yang memekakan telinga dan hal itu mampu membuat semua orang yang ada di kelas itu langsung terdiam karena terkejut. Ji-kyung tidak memerdulikan reaksi mereka dengan apa yang dilakukannya barusan, ia lebih memilih menghempaskan bokongnya di kursi dan mulai menenggelamkan dirinya ke dalam buku tebal yang baru saja dikeluarkannya dari dalam tas.

Oh sungguh hari yang sial! Rutuk gadis itu.

***

“Kai, orang-orang melihat kearah kita, tepatnya menatapmu.” Bisik Young-geun menyenggol lengan pemuda disampingnya. Kai –pemuda itu- hanya bergumam tidak jelas dan masih terlihat asik mendengarkan musik dari headset yang disumpalkan di kedua telinganya.

Young-geun yang melihat respon tak acuh sahabatnya hanya mendengus dan menggerutu pelan disepanjang jalan, sedikitnya gadis itu merasa sedikit aneh dengan tingkah murid-murid di sekolah pagi ini, mereka semua tidak berhenti memandang mereka berdua –Kai lebih tepatnya- disepanjang koridor.

Dan gadis itu juga mendengar para perempuan bisik-bisik ketika dirinya dan Kai melewati mereka. Ada apa sih? Gerutu gadis itu, benar-benar merasa penasaran sekaligus jengkel mendapat perlakuan seperti itu dari mereka. Walaupun secara teknis mereka menatap Kai, tapi tetap saja itu membuatnya jengkel. Karena secara tidak langsung ia berjalan di sebelah Kai.

Langkahnya terhenti ketika kedua bola matanya menangkap sesuatu yang tertempel di mading; sesuatu yang membuat hatinya tiba-tiba mencelos sakit, sebuah foto dimana Kai yang sedang memeluk Ji-kyung setelah pertandingan basket kemarin.

Jadi inilah alasannya kenapa murid-murid menatap mereka sekarang?

“Kai…” Panggil Young-geun menarik ujung blazer pemuda itu sehingga membuat Kai berhenti berjalan.

“Hmm?”

Young-geun mengulurkan tangannya untuk menunjuk foto itu menggunakan telunjuknya dan Kai mengikuti arah tangan Young-geun. Pemuda itu memandang foto dirinya dimana ia sedang memeluk Ji-kyung itu selama beberapa detik, di detik berikutnya Kai mengangkat kedua bahunya dengan tampang tak peduli.

“Ternyata ada yang memotretnya.” Hanya itu tanggapan yang keluar dari mulut Kai membuat Young-geun sedikit membelalakan matanya memandang pemuda itu dengan berbagai ekspresi yang diperlihatkannya.

“Kau tidak marah?”

“Tidak.” Sahut Kai, kembali memasukan kedua tangannya ke dalam saku celananya, “Ayo kekelas.” Lanjutnya dan mulai berjalan kembali.

Young-geun masih diam bergeming menatap punggung Kai yang perlahan semakin menjauh dengan pandangan sendu.

“Tidak? Jadi kau menikmati ini Kai?” Lirih Young-geun pelan.

“Youngie, ppali, ah kau merepotkan.” Seru Kai ketika ia menyadari bahwa Young-geun tidak berjalan di sampingnya, gadis itu mengerjap kemudian mulai berjalan menghampiri Kai dan memukul punggungnya dengan keras.

“Ya! Kenapa kau memukulku? Haisshh~” Ringis Kai menatap gadis itu dengan kesal.

“Idiot, aku membencimu.” Sahut Young-geun enggan menatap mata pemuda itu. Kai mengernyit bingung tapi beberapa detik kemudian pemuda itu mendecakan lidahnya keras.

“Kau sudah memukulku tanpa alasan, mengataiku idiot dan sekarang kau membenciku? Astaga, apa otakmu sedang bermasalah?”

“Tidak, sudahlah, lupakan.” Jawab Young-geun ketus berjalan mendahului Kai, meninggalkan pemuda itu dengan kebingungannya.

“Gadis aneh.”

***

Pemuda itu tersenyum begitu ia menemukan dan melihat Ji-kyung sedang berjalan sambil menundukan kepalanya di koridor, tanpa menunggu lama ia berjalan menghampiri gadis itu.

Kai lalu menyentuh sebelah lengan Ji-kyung membuat gadis itu tersentak dan menoleh ke samping dan tidak mendapati siapa-siapa disana karena Kai berjalan terlebih dahulu memutari punggung Ji-kyung dan berhenti begitu berada dihadapannya dengan jarak yang cukup dekat.

“Annyeong!” Ucapnya dan mau tak mau Ji-kyung kembali terlonjak kaget begitu mendapati Kai sudah berada di hadapannya, tersenyum menatapnya.

“A-annyeong.” Sahut Ji-kyung balas tersenyum kaku.

“Kantin?”

“Eoh?” Jikyung mendongak dan menatap pemuda itu tapi kemudian menggelengkan kepalanya, “Aniyo, aku akan pergi ke perpustakaan.”

Kai mengangguk, “Keurae? Kalau begitu aku akan ikut bersamamu, kajja.” Kai menggenggam tangan Ji-kyung dan kemudian menariknya menuju ke perpustakaan. Mengabaikan tatapan orang-orang yang mulai memperhatikan kepergian mereka, termasuk Young-geun.

“Kalau kau menyukainya, seharusnya kau bilang padanya.”

Young-geun menoleh dengan cepat menatap Chanyeol yang berada di sampingnya dengan mata yang membulat terkejut.

“Bagaimana kau…,”

“Tahu?” Potong Chanyeol, ia terkekeh kemudian menyentil kening Young-geun pelan, “Hanya dengan melihat matamu saat menatapnya, aku bisa menyimpulkan bahwa kau menyukai pemuda itu.” Jelas Chanyeol mengangkat kedua bahunya terlihat tak acuh.

“Jadi berniat menyatakan perasaanmu?”

Bukannya menjawab pertanyaan –godaan Chanyeol, Young-geun malah memukul lengan pria itu cukup keras sampai membuat Chanyeol meringis sakit.

“Lupakan.” Sahutnya pendek setelah itu berjalan meninggalkan Chanyeol munuju ke lapangan basket.

***

Kai dari tadi tidak bisa untuk tidak mengalihkan perhatiannya dari gadis yang sekarang duduk di hadapannya itu. Rasanya ia tidak pernah merasa bosan untuk menatap gadis itu, apalagi melihat Ji-kyung yang terlihat serius membaca seperti sekarang. Seolah ia sedang asik dengan dunianya sendiri mengabaikan orang-orang disekitarnya, hanya ada ia dan buku yang sedang dibacanya.

Sesekali Ji-kyung mengerutkan kening dan mengerucutkan bibirnya ketika membaca, terhitung sudah empat kali gadis itu mengerutkan kening dan tiga kali mengerucutkan bibirnya sejak ia mulai membaca. Sungguh luar biasa Kai masih bisa menghitung hal seperti itu.

“Kai~ssi?”

“Hmm?”

“Bukumu terbalik.”

“A-apa?” Sentak Kai buru-buru menegakan duduknya kembali dan salah tingkah mengetahui buku yang sedang dibacanya –yang hanya dijadikannya alasan itu terbalik. Dengan cepat pemuda itu segera membalikan buku itu dan terlihat salah tingkah dengan mengusap tengkuknya beberapa kali.

Ji-kyung yang melihat itu hanya menggelengkan kepala dan terkekeh pelan, ia tahu kalau Kai dari tadi memperhatikannya dan sama sekali tidak membaca buku yang diambilnya secara asal dari rak, tapi Ji-kyung berusaha untuk tidak memerdulikannya dan bersikap tak acuh dengan serius membaca buku walaupun itu sulit karena dari tadi Kai tidak melepaskan pandangan darinya dan itu membuatnya gugup.

“Kau sepertinya sangat menyukai buku?” Tanya Kai membuka pembicaraan, pertanyaan bodoh sebenarnya karena dia juga sudah tahu jawabannya. Sepenuhnya ia sudah menutup buku yang sama sekali tidak dibacanya dan menyimpan buku itu di sebelahnya.

“Ne, aku sangat menyukai buku.” Sahut gadis itu sambil sesekali membalikan halaman yang sudah dibacanya.

Tanpa sadar Kai meringis, jauh berbeda sekali dengan dirinya. Ia tidak tahu kapan terakhir ia membaca buku, satu hari yang lalu, dua hari yang lalu atau malah satu minggu yang lalu. Yang ia sukai hanya bermain basket dan dance.

“Kau menyukai buku Kai~ssi?” Tanya Ji-kyung membalikan pertanyaan.

“Eh? Aku? Yah lumayan.” Jawab Kai diselingi kekehan garing darinya.

“Ah~” Angguk Ji-kyung, “aku sangat menyukai buku dengan tema-tema berat.” Ji-kyung menunjuk buku tebal yang sedang dibacanya. Kai menatap ngeri buku itu, kalau ia yang disuruh membaca buku itu sudah pasti Kai akan segera menolaknya tanpa perlu berpikir dua kali. Bayangkan saja, tebal buku itu saja bisa membuat Kai merasa mual apalagi ketika dia sudah membacanya.

Ia yakin rambutnya akan rontok saking ia terlalu berpikir keras.

“Kau menyukai buku apa Kai~ssi?”

Kai mengalihkan tatapannya dari buku tebal yang membuatnya mual itu lalu beralih menatap Ji-kyung.

“Buku musik?” Sahutnya asal sembari mengangkat kedua bahunya.

“Benarkah?” Tanya Ji-kyung sedikit antusias.

“Aku bisa sedikit rapp.”

“Joengmalyo? Woah~ daebak!” Puji Ji-kyung tulus, sepenuhnya melepaskan topeng dinginnya di hadapan Kai. Gadis itu tanpa sadar sudah mulai merasa nyaman dan santai ketika berada didekat Kai. Pemuda itu hanya meringis dan lagi-lagi mengusap tengkuknya beberapa kali.

“Bisa kau tunjukan kemampuanmu itu?” Pinta Ji-kyung, ia penasaran akan seperti apa kalau Kai nge-rapp. Pemuda itu menggeleng kemudian menunjuk sebuah papan yang bertuliskan, ‘ini perpustakaan, tolong jangan berisik.’ Disampingnya.

Ji-kyung terkekeh salah tingkah, “Ah, aku lupa.” Sahutnya malu. Kai tersenyum, cukup terhibur dengan ekspresi malu yang diperlihatkan gadis itu.

Dan tak lama setelah itu bel sekolah berbunyi, menandakan jam istirahat sudah berakhir. Baik Ji-kyung maupun Kai sama-sama mulai membereskan buku yang mereka baca –walaupun Kai yang hanya membawa satu buku. Setelah itu mereka berdua bangkit dan mulai berjalan meninggalkan perpustakaan dan kembali ke kelas masing-masing.

***

Seminggu sudah berlalu sejak hari menghebohkan itu, sejak itu pula hubungan Ji-kyung dan Kai semakin dekat dan akrab. Mereka sering menghabiskan waktu di lab biologi dengan kegiatan club mereka. Ji-kyung mulai beranggapan kalau sekolah bukan tempat terburuknya lagi selain rumahnya sejak pemuda itu masuk ke dalam ke hidupannya, memberikan warna yang berbeda untuknya.

Ia juga sudah tidak lagi peduli pada pandangan orang-orang yang melihat kedekatan mereka, Kai juga sudah mengatakan kalau ia tidak perlu memerdulikan tanggapan orang untuknya. Mereka adalah kumpulan orang yang tidak ada kerjaan, itu adalah ucapan Kai tempo hari padanya.

Kalau kalian bertanya apa seorang Kai untuknya. Jikyung akan langsung menjawab, Kai adalah penyelamatnya.

Orang yang perlahan mulai mengangkatnya dari dunia kesendirian dan keheningan. Kai satu-satunya orang yang ingin mengenal dan berteman dengan dirinya, pemuda itu tidak pernah memandang Ji-kyung dengan status keluarganya. Ia menganggap Ji-kyung adalah Kang Ji-kyung, seperti gadis kebanyakan.

Kai juga orang yang istimewa untuknya, entah sejak kapan tapi Ji-kyung mulai menyadari Kai adalah orang yang istimewa dan berarti untuknya. Kai…..penyelamatnya.

Lain lagi dengan Ji-kyung, selama seminggu ini Young-geun sudah memikirkan hal ini baik-baik. Terlebih karena perkataan Chanyeol di suatu hari yang mengatakan ‘Terbukalah pada perasaanmu, jangan menyangkal perasaanmu dan jujur pada perasaanmu sendiri itu terasa lebih baik’.

Pemuda itu sok bijak –menurut Young-geun. Tapi berkat pemuda itulah ia sadar bahwa ia menyukai sahabat kecilnya itu, Young-geun hanya ingin jujur bahwa ia menyukai Kim Jongin. Dan rencananya Young-geun ingin mengatakan semua perasaannya itu pada Kai hari ini.

Dengan menghembuskan napas sekali, Young-geun mulai mengambil smartphonenya berniat untuk menghubungi pria itu, tapi sebelum melaksanakan semua niatannya itu poneslnya terlebih dahulu berdering dengan id call ‘Kai’ di layar ponselnya dan mau tak mau membuat Young-geun terlonjak kaget.

“Kai?” Sahut Young-geun, ia berusaha untuk menormalkan detak jantungnya yang berdetak dengan cepat.

“Youngie!”  Pekik Kai diseberang sana, membuat Young-geun mengernyitkan alisnya tidak terbiasa mendengar pekikan seperti itu terlontar dari mulut Kai.

“Ada apa?”

“Aku ingin bertemu di cafe yang biasa. Kau mau kan?” Ucap Kai diseberang sana terdengar tidak sabar.

“Aku juga ingin bertemu denganmu, ada hal yang ingin aku bicarakan.” Jawab Young-geun, ia tidak menyangka Kai juga ingin bertemu dengannya sekarang. Kebetulan yang sangat manis.

“Bagus, aku tunggu kau sekarang.” Sahut pemuda itu.

“Oke.”

Pip

Sambungan terputus, Yong-geun kembali memasukan ponselnya ke dalam saku hoodie yang dikenakannya. Meyakinkan dirinya kalau ini adalah satu-satunya kesempatan untuk menyatakan perasaannya pada pemuda itu. Dengan keyakinan seperti itu Young-geun mulai melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya menuju ke cafe favorit mereka yang berjarak hanya beberapa blok dari rumahnya.

Tidak terlalu jauh sebenarnya.

***

Kai melambaikan tangannya begitu melihat gadis yang sedari tadi ditunggunya memasuki cafe. Young-geun yang melihat lambaian tangan Kai segera berjalan kearah meja pemuda itu dan duduk di hadapannya.

“Kai!”

“Younggeun!”

Sahut mereka bersamaan, saling ingin menyampaikan keinginan masing-masing. Beberapa detik kemudian mereka terkekeh bersamaan.

“Kau duluan.” Ucap Kai, Young-geun menggeleng.

“Kau yang pertama.”

“Kau tidak pernah mengenal istilah ladies first?”

“Oh, kau sudah memakai istilah seperti itu sekarang padaku?” Cibir Young-geun, Kai hanya mendengus sebagai balasan.

“Oh baiklah.” Sahut Kai menyerah, pemuda itu kembali mengukir sebuah senyuman, “Younggeun~a?”

“Ya?”

“Sepertinya aku jatuh cinta pada Ji-kyung.” Ucap pemuda itu, tidak memperhatikan perubahan suasana yang terjadi pada gadis itu. Young-geun diam mematung, perlahan sudut bibir yang awalnya melengkung membentuk senyuman itu perlahan turun membentuk garis lurus.

Ia tidak mendengarkan lagi kelanjutan ucapan Kai, karena ucapan pemuda itu seakan hanya desingan angin yang masuk ke dalam telinganya. Perlahan Young-geun menggerakan sebelah tangannya keatas untuk menyentuh dadanya, terasa sakit disana. Gadis itu tidak pernah menyangka akan terasa sesakit ini.

Young-geun mencoba menghirup napas, kenapa oksigen disekitarnya terasa menyusut membuatnya kesulitan bernapas juga. Kenapa semua hal terasa ikut membuatnya sakit?

“Apa aku harus mengatakan perasaanku pada gadis itu? Young, hey, Park Young-geun?” Young-geun mengerjap begitu merasakan sebuah tepukan halus di lengannya, gadis itu kemudian memaksakan sebuah senyuman.

“Tentu saja, kau ingin Ji-kyung diambil orang? Cepat sana katakan perasaanmu.” Ujar Young-geun, mengangguk-anggukan kepalanya dan melempar senyuman yang terlihat seperti orang yang sakit gigi.

“Kau menangis Youngie?” Tanya Kai mengulurkan tangannya untuk menyentuh pipi Young-geun tapi gadis itu terlebih dahulu menepisnya.

“Eoh? Ini…eh..air mata bahagia. Ternyata sahabatku yang idiot jatuh cinta juga.” Kelit Young-geun, mengusap air mata di pipinya dengan kasar. Ia juga tidak menyadari sejak kapan air mata itu jatuh?

“Jangan menangis Youngie. Wajahmu tambah jelek kalau kau menangis.” Ucap Kai mencibir tapi kemudian mengacak pelan rambut Young-geun benar-benar tidak menyadari perubahan ekspresi yang diperlihatkan gadis itu.

“Aku pergi dulu, kau memang yang terbaik. Aku merasa lebih percaya diri sekarang.” Ujar Kai untuk terakhir kalinya sebelum benar-benar pergi dari cafe itu, Young-geun hanya bergumam pelan menanggapi.

Setelah memastikan pemuda itu telah pergi, Young-geun kemudian menundukan kepalanya, menggigit bibir bawahnya keras menahan isakannya supaya tidak keluar.

***

Ji-kyung mengerjap untuk yang kesekian kalinya, memperjelas penglihatannya pada layar ponsel yang berdering memperlihatkan nama Kai sebagai ID caller si penelfon.

“Yeoboseyo?” Sahut Ji-kyung ragu, ia masih meragukan kalau yang menelfonnya sekarang adalah pemuda itu.

“Ji-kyung, ini aku Kai. Aku ingin berbicara sesuatu denganmu. Bisakah kau keluar rumah?” Seru Kai diseberang sana. Ji-kyung mengernyit heran, untuk apa Kai menyuruhnya keluar rumah di tengah hujan seperti ini?

“Ji-kyung? Hey, kau mendengarku?”

“Eoh, ne…kau berada dimana sekarang?”

“Di depan gerbang rumahmu.”

“Kau hujan-hujanan?” Tanya Ji-kyung terkejut dan sebagai balasan Kai hanya terkekeh, “Tunggu, aku akan segera kesana.” Ujar Ji-kyung panik, mematikan sambungan ponselnya dan mulai berjalan keluar dari kamarnya.

Bersyukur karena sekarang orang tuanya sedang tidak berada di rumah. Ji-kyung mempererat pegangannya pada gagang payungnya begitu angin berhembus menerpa dirinya ketika ia membuka pintu. Dengan langkah cepat, Ji-kyung membuka pintu gerbang dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling mencari keberadaan pria itu.

Kai terlihat menyenderkan tubuhnya di motor sportnya dan memasukan kedua tangannya di saku celana dengan tubuh yang basah kuyup.

“Astaga! Kau bisa sakit Kai.” Gerutu Ji-kyung menghampiri pemuda itu, Kai hanya menampilkan senyumnya melihat ekspresi cemas gadis itu.

“Kau seperti ibuku kalau menggerutu seperti itu.” Sahut Kai, menegakan posisi tubuhnya menjadi berdiri.

“Tentu saja, ibumu pasti akan sama khawatirnya jika melihatmu basah kuyup seperti ini.” Balas Ji-kyung.

“Jadi kau mengkhawatirkanku?”

“Tentu sa- tidak.” Ralat Ji-kyung cepat memalingkan mukanya, Kai menarik sudut bibirnya ke samping memperlihatkan sebuah senyuman miring. Pemuda itu lalu menggenggam sebelah tangan Ji kyung dan menatap gadis itu serius. Ji-kyung dengan ragu balas menatap Kai, pemuda itu benar-benar aneh sekarang.

Kai menggerakan bola matanya ke samping.

“Eoh?” Ji-kyung ikut menoleh kesamping mengikuti arah pandang pemuda itu, tapi sepertinya itu hanya siasat Kai saja. Buktinya ketika Ji-kyung menoleh ke samping Kai malah mencium pipinya dengan tiba-tiba membuat Ji-kyung menoleh kembali dengan cepat dan membulatkan kedua matanya.

“Aku menyukaimu.” Ucap Kai, tersenyum memandang Ji-kyung.

“Hah?” Respon gadis itu menjatuhkan payung yang sedang di pegangnya dengan spontan dan seketika saja air hujan membasahi tubuhnya, membuat baju yang dikenakannya menjadi basah.

“Kau bilang….apa?” Tanya Ji-kyung memastikan, ia hanya takut kalau dirinya hanya salah dengar saja.

“Saranghae.” Ulang Kai memeluk tubuh Ji-kyung dan mendekapnya erat-erat. Ji-kyung masih tetap bergeming mencerna semua ini dengan baik. Ia sudah tidak peduli kalau sekarang jantungnya berdetak dengan cepat, perasaan mual yang menyenangkan seketika menyerangnya, seperti ada jutaan kupu-kupu yang berterbangan di dalam perutnya.

Beberapa detik berlalu, gadis itu kemudian membalas memeluk tubuh Kai dan menarik kedua ujung bibirnya untuk tersenyum. Ia hanya ingin mempercayai semua ini sekarang, Ia hanya ingin mempercayai kalau Kai mempunyai perasaan yang sama dengannya. Bahwa ternyata pemuda itu juga balas menyukainya.

“Naddo saranghae, Kim Jongin.”

***

Yang ingin dilakukan Younggeun sekarang hanya berlari, berlari sampai sejauh mana kakinya membawanya. Sampai sejauh mana kakinya kuat berlari. Ia tidak menyangka efek rasa sakit yang ditimbulkannya akan sebesar ini.

Kai, orang pertama yang dicintainya sekaligus orang pertama yang menolaknya secara langsung. Miris, eh? Ia tidak peduli kalau sekarang hujan membasahi sekujur tubuhnya. Ia juga bersyukur karena hujan mampu menyamarkan tangisnya.

Gadis itu lalu menghentikan langkahnya di lapangan basket umum, mulai memasuki lapangan basket itu. Terdiam menatap ring di depannya, di tempat  inilah Kai pertama kali mengenalkannya tentang basket sewaktu mereka kecil, di tempat inilah Kai mengajarkan basket padanya, di tempat inilah Young-geun mulai menyukai basket dan di tempat inilah semua kenangan tentang mereka terekam dengan sangat jelas.

Young-geun kemudian mulai melangkahkan kakinya untuk mengambil bola basket yang tergeletak begitu saja di depannya, mulai mendribblenya dan memasukannya ke dalam ring. Ia ingin terus bermain, bermain sampai lelah dan bermain sampai anggota tubuhnya itu tidak dapat digerakan lagi. Berharap dengan itu akan sedikit membuat rasa sakit hatinya berkurang.

Setengah jam, satu jam, dua jam telah berlalu. Tapi Young-geun masih tetap bermain, walaupun sekarang napasnya terlihat tersengal dan memburu. Tubuhnya mulai menggigil kedinginan, kakinya mulai terasa mati rasa.

“Oh, asataga. Park Young-geun apa yang kau lakukan disini?” Seseorang merebut dengan paksa bola basket di tangan Young-geun, gadis itu mendengus berusaha merebut kembali bolanya dari tangan lelaki itu tapi karena tenaganya yang sudah terkuras habis, ia hanya berkali-kali menangkap udara kosong dan pada akhirnya Young-geun menyerah dan hanya berdiam diri saja menatap hampa lelaki di depannya.

“Wajahmu pucat, aku antar kau pulang.”

“Tidak, tinggalkan aku sendiri.”

“Kau gila, bagaimana aku bisa meninggalkanmu sendiri melihat tubuhmu yang menggigil kedinginan seperti itu?!” Untuk pertama kalinya seorang Park Chanyeol membentak Young-geun.

“Sudah kubilang tinggalkan aku sendiri!” Bentak Young-geun tak kalah keras, akibat dari itu rasa pusing mulai menyerang kepalanya.

“Never, aku akan menjadi manusia idiot kalau aku meninggalkanmu di tengah hujan seperti ini.” Sahut Chanyeol keras kepala, Young-geun memutar kedua bola matanya. Ia mulai merasa kepalanya semakin berat dan pandangannya mengabur, tapi gadis itu berusaha untuk bertahan.

“Oh sejak kapan seorang Chanyeol menjadi pemaksa seperti ini?” Sinis Young-geun.

“Sejak sekarang, ketika kau bertindak bodoh seperti ini.”

Young-geun mulai mengangguk-anggukan kepalanya tidak jelas, kepalanya terasa sangat berat dan penglihatannya pun berkunang-kunang. Beberapa detik kemudian gadis itu terjatuh ke dalam pelukan Chanyeol.

“Oh tidak….YOUNGGEUN?!” Seru Chanyeol panik menahan tubuh Young-geun untuk tidak terjatuh.

~To be Continue~

71 responses to “Lucky – Part 4

  1. Pingback: Lucky – Part 7 | FFindo·

  2. Woah.. Ini keren thor, aku sampek mau ngeluarin air mata. Haha 😀 soalnya kasian liat Younggeun :(. Eh.. Ternyata si Jikyung juga suka sm Kai, nambah kasian lagi Younggeun. Untung ada Chanyeol yg memberi semangat sm nolong Younggeun. Dan lagi..lagi..lagi.. aku semakin pensaran. Okay “keep writing and hwaiting thor!!!” 🙂

  3. Pingback: Lucky – Part 8 | FFindo·

  4. aw Kai-Ji Kyung akhirnya pacaran. YEHET !
    duh Young Geun kenapaa? dia pingsan gitu ya?

  5. Uda younggeun sm chan aja, ga peka bgt sih younggeun, hnnng, si kai jg jahat amat sih wktu di cafe, ga peka juga, hnngg fighting n keep writing…

  6. Ah senangnya Jongin menyatakan perasaannya ke Jikyung 😀 omona! Young Geun sadarlah ada Chanyeol yg selalu perhatian sm kamu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s