[Chapter 6] The Second of Telepathy

Untitled-1-Recovered

Casts’ profile

Chapter 1 / Chapter 2 / Chapter 3

Chapter 4 / Chapter 5

[6th] The Second of Telepathy

AUTHOR: Ifaloyshee // MAIN CAST :  Kim Sumin (OC), Oh Sehun,  Kim Jongin (Kai), Im JinAh (Nana), Choi Junhoong (Zelo), Kim Hyelim (Lime) // GENRE : Fantasy, Romance, Supranatural, Drama // DISC         : The casts are not belong to me. The story-line, plot, ideas are come from my mind. Dont copy  this story without my permission. And dont copy my idea, be creative pls. // RATING: PG. [ bakal sering naik seiring bertambahnya part] , Profanity, bloody and the other things.

The Second of Telepathy; Chapter Six

Copyright ©2013 Ifaloyshee

All rights reserved

 

 

 

Prev part: “…….. Sumin tidak menyangka kalau Oh Sehun yang amat dibencinya malah menjadi Partner-nya dalam Praktikum kegiatan belajar untuk hasil akhir nilai dan hal itu berarti Ia harus meluangkan waktunya untuk bersama dengan Sehun dalam kurun waktu yang sesering mungkin agar nilainya bisa baik. Dan bersamaan dengan hal itu, dia ternyata ditolong oleh Sehun ketika sekelompok pria jahat hendak melakukan sesuatu yang hina padanya. Sumin tidak mengerti kenapa Sehun memiliki aura yang tidak asing untuknya dan ia mencoba mengabaikan hal itu. Di sisi lain, Sehun memaksa Zelo untuk memberitahu kepadanya tentang kematian Kai yang disebabkan oleh tangan kekasih Kai sendiri, Sumin. Dan akhirnya Sehun mengetahui kalau Kai sudah memberitahu tentang identitas masa kecilnya, Ken, kepada Sumin walaupun Sumin sampai saat ini belum mengetahui kalau Ken sebenarnya adalah Sehun.  Yang tersirat sebelum kematian Kai adalah betapa sosok Kai sangat berpengaruh pada Sumin, pria itu menghidupkan kembali perasaan Sumin yang hancur karena broken-home dan Kai juga memperbaiki hubungan tegang antara Sumin dan kakaknya—kim Myungsoo.”

***

Pintu menjeblak terbuka dan memperlihatkan sosok Lime disana, dibelakangnya berdiri Zelo yang langsung melebarkan matanya begitu mendapati Kai yang tergeletak tak berdaya diatas karpet. Lime terkesiap, ia hanya mampu menutupi mulutnya dengan satu tangan dan bahkan tidak memiliki cukup keberanian untuk menghampiri Kai.

Zelo melangkah masuk kedalam dengan derap kaki yang begitu pelan, masih mengantisipasi Sumin yang berdiri membelakanginya dalam diam layaknya patung. Begitu dirinya berada didekat Sumin, entah kenapa Zelo merasa aura dingin memenuhi udara disekitarnya, membuat Zelo mundur teratur kemudian menjauh. Ia berakhir dengan berdiri diam disebelah Lime.

Zelo menoleh kearah Lime yang terlihat akan mengucapkan sesuatu namun tidak bisa mengeluarkan suaranya—terlalu shock—dan tepat saat itu juga handphone Zelo bergetar, ia langsung mengambil dari balik sakunya.

“Yoboseyo?”

“Zelo! Dimana saudariku? Aku mendengar kalau Kai kepergok selingkuh dan—“

“Ballroom, hyung.”

Sambungan terputus, Zelo menurunkan handphone nya dengan tangan yang terkulai lemas. Helaan nafas berat terdengar setelahnya.

Tidak lama kemudian Myungsoo muncul dari balik pintu dengan peluh didahinya dan nafas yang memburu; ia berlari sepanjang koridor sekolah untuk mencari Sumin. Sebelumnya Myungsoo memiliki perasaan tidak enak dan ia yakin seratus persen kalau sesuatu terjadi pada Kai setelah berita tentang perselingkuhan Kai yang ia dengar dari rekannya—Myungsoo sengaja menyewa seseorang untuk mengawasi Kai dan Sumin.

Zelo mengatupkan bibirnya rapat – rapat ketika berhadap – hadapan dengan Myungsoo. Dengan mengedikkan kepalanya satu kali kearah tubuh Kai yang tergeletak, Myungsoo langsung menoleh dan melebarkan matanya kaget.

“Jangan katakan kalau aku terlambat..” gumam Myungsoo pelan, ia langsung berlari kearah Sumin dan membalikkan tubuh gadis itu dengan keras. Sumin terlihat sangat berantakan—wajah pucat pasi, tatapan nanar dan bibirnya bergetar. Ia tidak bisa terlihat lebih menyedihkan lagi dari saat ini. “Apa yang kau lakukan padanya?!” teriak Myungsoo tepat didepan wajah adik satu – satunya. Tidak kunjung menjawab, Myungsoo mengalihkan perhatiannya pada Kai lalu menghampiri tubuh Kai.

Kai yang masih mengenakan seragamnya itu tampak tenang. Pria itu memejamkan matanya dengan damai, tidak ada bercak darah dimanapun seolah dirinya sedang tertidur pulas. Ujung bibirnya sedikit tertarik namun Myungsoo tidak yakin kalau itu adalah sebuah senyuman. Myungsoo berjongkok lalu menumpukan lututnya, ia menyentuh leher Kai dan mencoba mencari detak nadi disana.

Lime langsung memegang lengan Zelo secara reflek, degup jantungnya berpacu cepat menunggu reaksi Myungsoo selanjutnya dan dalam hati dirinya melantunkan doa agar semua ini hanya mimpi saja. Ia bahkan tidak bisa mengira bagaimana hidup Sumin nanti tanpa sosok Kim Jongin. Zelo sama tegangnya, ia memeluk bahu Lime.

Setelah tidak menemukan detak nadi di leher Kai, Myungsoo beralih menyentuh dada Kai dan berkonsentrasi penuh. Namun hasilnya nihil. Saat ia mencari detak nadi di lengan Kai juga… nihil. Myungsoo menahan nafas nya selama beberapa detik lalu mengeluarkannya dengan teratur bersamaan dengan kalimat yang ia ucapkan.

“Dia meninggal.”

Terdengar teriakan melengking yang keluar dari mulut Sumin. Lutut gadis itu lemas dan langsung terduduk dengan menumpu pada kedua lututnya. Kedua tangannya menutupi wajah, meskipun begitu suara teriakannya masih terdengar jelas dan sangat menyakitkan. Zelo langsung merengkuh Lime kedalam pelukannya dan mengunci tubuh gadis itu erat sekali dalam dekapannya. Lime menutup kedua telinganya, tidak mau mendengar teriakan pedih Sumin. Tidak. Ia tidak tega. Ini terlalu sadis.

Lime masih menenggelamkan wajahnya didada bidang Zelo dan terisak disana ketika Zelo mengendurkan pelukannya perlahan. Lime membalikkan tubuhnya, mendapati Myungsoo yang saat ini menarik tangan Sumin dengan kasar dan memaksakan gadis itu untuk berdiri menghadapnya.

Sumin menangis tersedu – sedu didepan kakaknya yang kini menatapnya marah. Rasa bersalah, penyesalan, dan kecewa akan dirinya sendiri meliputi diri gadis itu.

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Sumin, berasal dari tangan kakaknya sendiri. Zelo hampir menghampiri Myungsoo untuk memaki pria itu namun tangan Lime menahannya. Lime menggeleng, memberi arti kalau masalah ini tidak berhak ia ikut campuri. Ia ataupun Zelo, tidak berhak.

Myungsoo tidak peduli dengan air mata yang menuruni wajah Sumin yang kini makin deras. Bahkan gadis itu diam saja ketika Myungsoo tadi menamparnya, ia mendongak lagi untuk bertatapan dengan Myungsoo. Kedua matanya kini sudah tampak bengkak.

“Jangan katakan kalau aku membunuhnya.”

Myungsoo menangkup wajah saudarinya itu, lalu menatapnya. “Kau membunuhnya.”

****

Zelo’s Apartment Balcony. 10PM.

“Semenjak kejadian itu, segalanya menjadi berubah. Memang tidak ada yang melihat bagaimana Kai terbunuh selainku, Myungsoo hyung dan Lime tentunya tapi tiga dari kami sama sekali tidak menyadarai bahwa ballroom itu memiliki CCTV jelek yang terpasang dipojok ruangan, ketika aku mendapati CCTV itu berkelip – kelip merah, aku tau bahwa ini akan menjadi masalah besar.”

“Semuanya menjauhi Sumin, menganggap aneh dirinya dan… tentu saja ia hampir dikeluarkan dari sekolah. Namun dengan banyak pertimbangan akhirnya Sumin tetap dipertahankan di Cheongnam. Tentunya karena dia salah satu asset berharga sekolah yang prestasinya tidak bisa dibuang begitu saja, dan Sumin itu selalu memiliki ide – ide yang unik untuk setiap karya ilmiah yang dia buat. Tidak ada yang berpikir sedalam dirinya jadi, kalau sekolah mengeluarkan Sumin maka kerugian besar pasti akan mereka tanggung.”

“setelah kejadian itu, Kai dibawa kerumah megahnya yang selalu tampak misterius dan tertutupi oleh pagar tembok yang tinggi. Kami tidak pernah tau kalau Kai memiliki rumah diSeoul, selama ini aku.. ataupun yang lain hanya tau kalau Kai hidup sendiri di Apartemennya dan ayahnya yang seorang mafia bekerja di luar Korea Selatan. Tapi tentang ibu Kai yang meninggal ketika melahirkan dirinya, seantero sekolah mungkin memang sudah tau. Bahkan Sumin mengatakan kalau dia tidak pernah datang kerumah Kai, dia hanya tau apartemennya saja. Sebatas itu. Setelahnya tidak ada kabar lagi dari Kai, ketika aku, Lime dan Sumin mengunjungi rumahnya, rumah tersebut sudah dihuni oleh keluarga lain dan keluarga Kai pindah ke Detroit. Mungkin ayahnya memutuskan untuk memakamkan Kai disana? Tidak ada yang tahu… sampai sekarang.”

“dan.. Sehun, kau harus tau kalau sampai sekarang aku masih beranggapan kalau Kai adalah pria brengsek. Memberi akses dia untuk menjadi kekasih Sumin mungkin adalah jalan yang salah. kau tau kan maksudku? Kai berselingkuh, dia ternyata memperlakukan Sumin sama saja seperti gadis lain yang sempat menjadi kekasihnya. Right? Dan aku rasa dia jauh lebih berbahaya dari sekedar ‘anak seorang mafia’ dan.. aku tidak tau kenapa aku membencinya karena mencampakkan Sumin, dia tidak tau saja seberapa Sumin mencintainya? Benar – benar bodoh si idiot jongin itu.”

“Tunggu…” Sehun yang sedari tadi diam kini mulai bersuara, memotong penjelasan lebar yang sedang diutarakan Zelo.

“Kenapa?”

“Aku berpendapat tidak sama denganmu.”

“Maksudmu, Sehun?”

Sehun mengerutkan alisnya, kedua tangannya bertaut satu sama lain menopang dagunya. Ia memutar tubuhnya untuk menghadap Zelo, mimiknya tampak serius. “Bukankah ini sudah jelas dari awal? Dia tidak mungkin menghianati Sumin, pasti ada maksud tersendiri dibalik hal itu.”

“kenapa tidak bisa? Dia melakukannya, Oh Sehun. Kai melakukannya.” Sahut Zelo lengkap dengan tawa remehnya.

“Kau tidak mengenalnya, Zelo.”

“Lalu hanya karena Kai adalah sahabat kecilmu makan kau beranggapan kalau Kai tidak menghianati Sumin?” Tanya Zelo sarkas. Ia mendanyadarkan tubuhnya lalu menghela nafas. “come on man, Mungkin Kai tidak sebaik yang kau pikirkan. Kau boleh saja beranggapan seperti itu karena ketika kecil Kai sangat baik? Tapi siapa yang tau kalau dia bisa berubah, kan? Dia bukan sahabat kecilmu lagi Oh Sehun.”

Brak!

Entah apa yang membuat Sehun langsung menggebrak meja, entah kenapa ia bisa merasa begitu marah karena ucapan Zelo barusan. Sehun memang memiliki Ego yang tinggi, dan dia tidak suka ketika pendapatnya ditentang karena menurutnya pendapatnya-lah yang paling benar. Oh Sehun memang seperti itu hanya saja dia tidak pernah menunjukkan pada siapapun secara langsung, dia lebih suka membuktikan secara nyata kalau pendapatnya itu yang paling benar. Namun saat ini? Sehun baru saja menunjukkan bad side nya tepat dihadapan Zelo—ia tidak pernah melakukan hal seperti ini pada Zelo sebelumnya.

“Yah! Kenapa kau marah?!”

“A..Aku..” Sehun mengusap wajahnya frustasi lalu menghela nafas keras. “Aku akan membuktikan padamu nanti.”

“Bukti… apa?” kata Zelo, tidak mengerti.

Sehun bangkit dari duduknya masih dengan mimic serius. Ia mendongak melihat bulan yang terlihat seperempat bagian dari celah – celah ranting pohon alih – alih menjernihkan pikirannya. Lalu Sehun ingat, ketika kecil dulu, ia selalu melihat bulan dengan Kai sambil tidur terlentang dilapangan setelah bermain bola sepanjang senja. Kai yang mengenal hidup Sumin sedalam itu, mengetahui apa yang terjadi dibalik topeng Sumin yang bertitelkan seorang gadis tangguh, Kai… sahabat kecilnya.. tidak mungkin kan melakukan hal kecil sebodoh—perselingkuhan—itu? Kai juga tidak bodoh untuk sengaja memancing kemarahan Sumin tanpa alasan jelas padahal ia tau kalau gadis itu bisa membunuhnya ketika sedang diliputi emosi. Sehun yakin soal ini.

“Bukti kalau Kai tidak menghianati Sumin.” Ucap Sehun, Final. Ia membalikkan tubuhnya lalu berjalan menuju kamar Zelo, mengambil ransel nya kemudian lenyap dibalik pintu. Zelo hanya bisa memandangi Sehun dengan tatapan bingung, ia benar – benar tidak mengerti.

***

Canteen. 11AM.

 

Rasanya baru kemarin ketika Zelo dan Sehun masih bermain playstation bersama sambil meneguk cola dan berbincang – bincang tentang sepak bola atau Sumin atau siapapun. They talk about everything. Namun sekarang situasinya berbeda. Sejak dua hari yang lalu semenjak malam di balkon itu, Sehun agak berjarak dengan Zelo dan lebih memilih untuk bergabung dengan sekumpulan pria elitist sekolah yang merupakan sahabat Kai. Zelo mungkin butuh penjelasan soal Sehun yang tiba – tiba saja akrab dengan pria – pria itu tetapi setiap kali dirinya mau menghampiri Sehun, Sumin langsung menariknya dan mengajaknya mengobrol atau membawanya ketempat lain seolah sengaja menghindari kontak antara Zelo dengan Sehun.

Benar – benar complicated. Zelo menggelengkan kepalanya pelan sambil memainkan sedotan orange juice-nya memikirkan hal ini, ia takut kalau Sehun tersinggung dengan kata – katanya pada malam itu? Zelo agaknya sedikit menyesal tentang opininya terhadap Kai, namun.. bukankah mereka sama – sama pria dan tidak terlalu memusingkan tentang perasaan kan? Mereka cenderung berbicara sesuai fakta menurut apa yang ada di dalam pikiran mereka.

wae?” Lime menyenggol lengan Zelo dengan sikunya, memandang Zelo dengan selidik.

“Kau ada masalah dengan Sehun? Dua hari ini ada yang berbeda dengan kalian seperti ada jarak yang nyaris membuatku berkesimpulan kalau kau dicampakkan olehnya…oh, ini terdengar seperti cerita sepasang gay.” Lime memutar bola mata dengan ekspresi jijik. “soalnya kau terlihat sedih Junhoong-ah, pria tidak pernah sedih kan kecuali kalau mereka patah hati.”

Zelo menyeruput orange juice-nya. “Dasar sok tau.” Komentarnya singkat tanpa memandang kearah Lime.

“hei! Makannya jangan buat aku penasaran dan menebak – nebak. Aku tidak akan sok tau begini kalau kau mau bercerita kan?”

“Tidak ada yang salah dari aku dan Sehun.”

“Lalu..?”

“Mungkin dia punya teman baru.” Gumam Zelo sambil menoleh kesamping kanannya, kearah meja paling lebar yang berada ditengah kantin dengan kursi yang mengelilingi penuh oleh murid – murid elit yang duduk disana. Katakanlah mereka grup Kingkas. Yang selalu menjadi pusat perhatian disekolah terutama gadis – gadis yang haus akan pria keren disini, yang mati – matian mencari perhatian terhadap kingkas gang itu. Sehun duduk ditengah, tertawa lepas bersama yang lain. Disebelahnya Choi Minho—si pria jangkung yang luar biasa tampan, disamping kirinya Ljoe—si pria blonde yang fasih berbahasa inggris, didepannya Chen, Baekhyun, dan yang lain. Walaupun sepertinya Baekhyun tampak tidak terlalu senang, namun tidak tampak begitu kentara. Mereka sepertinya berteman dengan baik.

“dia seperti wujud Kai yang baru.” Ucap Lime tanpa sadar, selama ini ia berasumsi kalau Sehun memang mirip dengan Kai dari segi reputasi pria itu disekolah walaupun dari segi sifat tentu saja jauh berbeda.

Zelo menoleh kearah Lime dengan tatapan peringatan lalu mengedikkan kepalanya kearah Sumin yang sedari tadi duduk terdiam, sibuk membalikan lembar demi lembar novel Sugar Queen milik Sarah Addison Allen yang baru dibelinya kemarin.

“Ups..” gumam Lime sangat pelan lalu bibirnya terkatup rapat, ia memandangi Sumin diam – diam bersamaan dengan Zelo, mengantisipasi kalau gadis itu akan meledak sewaktu – waktu—karena tidak ada satupun yang boleh menyinggung tentang Kai dihadapannya. Namun Sumin masih diam saja, focus membaca walaupun entah dia benar – benar membaca atau sekedar pengalihan perhatian dari topic yang sedang dibicarakan oleh kedua sahabatnya.

“Sumin…” panggil Zelo hati – hati namun gadis itu tidak mendongak.

“Hm?”

“Err… bisakah kau bantu aku?”

“Uh huh. Apa?” Sumin belum juga mendongak dari bacaannya.

“Mulai hari ini kau mengerjakan praktikum dengan Sehun kan? Aku hanya ingin kau menyampaikan padanya tentang permintaan maafku.”

“maaf?”

“Ya, hanya maaf.”

Sumin menutup bukunya dalam satu sentakan lalu mendongak, menatap Zelo. “Sedangkan kau berbuat apa padanya sampai harus minta maaf?” terdengar nada tidak suka dalam perkataan Sumin namun hal ini sudah biasa bagi Zelo, ketika membicarakan Sehun, Sumin selalu begini.

“Itu masalah pria.” Zelo tersenyum canggung mencoba  mencairkan suasana.

“Tidak usah meminta maaf. Dia pikir dia siapa.”

Zelo menyandarkan punggungnya lalu melipat kedua tangannya, “girl, Kau tidak tau letak permasalahannya jadi sebaiknya jangan terlalu mengampangkan. Meminta maaf itu perbuatan wajar dan–”

Mind to tell me?” Sumin memotong perkataan Zelo.

Zelo hanya menghela nafas lalu bangkit berdiri dan memandang kearah satu persatu gadis dihadapannya yang sedang menatap penuh minat kearahnya, menanti jawaban. Zelo mengibaskan satu tangannya, “terkadang seseorang membutuhkan privasi, kan?” ucapnya sebelum berlalu meninggalkan Sumin dan Lime dalam kebingungan.

Lime menggelengkan kepalanya lalu megalihkan pandangan kearah Sumin yang masih memandang punggung Zelo dengan penuh rasa ingin tahu.

“Dasar kurang ajar.” Rutuk Lime pada Zelo yang sudah tidak duduk disampingnya lagi, sebal karena sifat Zelo yang kurang bisa terbuka sejak dulu dan hanya menyisakan keingin tahuan tak terjawab bagi Lime.

***

Kim Sumin’s Apartment. 8PM.

Sumin sedang menyalin materi tentang hedonisme dalam bentuk teks bahasa inggris yang terpampang di webpage dalam layar laptopnya ketika suara ketukan pintu terdengar. Dengan malas ia bangkit berdiri lalu melangkah menuju pintu dan membuka kenopnya.

Belum ada setengah pintu terbuka, Sumin hanya menilik dari balik celah pintu yang cukup lebar untuk mengetahui siapa yang datang. Postur tinggi jangkung dengan kulit putih pucat, rambut cepak yang ditutupi oleh topi Comme des garcons. Oh Sehun. Tanpa pikir panjang Sumin menutup pintunya kembali namun tangan Sehun secara reflek menahannya.

“Oi!”

Tidak memperdulikan teriakan Sehun, Sumin tetap berusaha mendorong pintu apartmentnya untuk menutup kembali namun tangan Sehun terlalu kuat menahan pintu sehingga Sumin terpaksa mengalah dan menghentikan aksinya.

“mau apa kau?”

“kau tidak ingat kita partner kelompok belajar?”

Sumin terdiam ditempatnya, merutuk dalam hati tentang betapa sial nasibnya bisa satu kelompok dengan pria yang tidak disukainya ini. Sedangkan Sehun dengan sabar menunggu diluar, memandang ekspresi datar Sumin dari celah pintu.

“kalau kali ini kau tidak membiarkanku masuk maka seterusnya aku tidak akan datang lagi.” Ancam Sehun.

“Siapa juga yang mengharapkan kedatanganmu? Cih.” Sahut Sumin sinis, tangannya masih menggenggam erat kenop pintu yang setengah terbuka.

“Kau mungkin tidak peduli dengan kedatanganku tapi bicara soal nilai… kau pasti peduli, Kim Sumin.”

Dengan perasaan dongkol Sumin menarik kenop pintu untuk membukanya semakin lebar lalu ia memiringkan badannya, memberi gesture pada Sehun untuk masuk kedalam.

Sehun tidak bisa menyembunyikan smirk-nya dan secara gamblang ia menunjukkannya didepan Sumin. Tanpa permisi ia melangkah masuk kedalam apartemen dan menghempaskan tubuhnya diatas sofa berwarna krem yang terletak diruang utama, dengan pemandangan kertas yang berserakan diatas meja dan sebuah laptop yang menyala disana. Sehun menunduk  kemudian menyeringai. “bukan suatu keputusan yang salah menjadikan kau sebagai partner ku.” Ucapnya memandangi kerta dihadapannya. “Kau rajin, dan cantik.”

Sumin mengabaikannya, ia duduk dan mulai kembali sibuk dengan kertas – kertas dihadapannya seolah Sehun bukanlah seorang tamu yang patut dilayani. Bosan dengan Sumin yang terdiam, Sehun bangkit berdiri dan melangkah menuju dapur. Sumin langsung mendelik kearahnya tapi ia tidak melontarkan protes apapun, terlalu kaget dengan tingkat ke-kurang ajaran Oh Sehun.

Sehun membuka kulkas lalu mengambil dua buah minuman kaleng dari dalam, tiga bungkus cokelat, lalu menutupnya kembali. Ia kembali duduk disamping Sumin dan menaruh semua snack nya dengan santai, tidak menyadari bahwa tatapan Sumin begitu tajam kearahnya. Masa bodoh.

Ketika Sehun menoleh karah Sumin, gadis itu langsung mengalihkan pandangannya dan kembali terpaku pada kertas. Sehun hanya bisa mengatupkan bibirnya rapat – rapat mendapati postur dihadapannya yang begitu sempurna. Ia tidak pernah tidak mengagumi wajah cantik Sumin, tidak peduli dalam ekspresi apapun, Sumin tampak cantik dengan mimic-nya yang tak terbaca, tak tersentuh, dan sulit untuk digapai. Kim Sumin seperti sebuah permata ditengah bongkahan es.

Mungkin Sumin merasa dirinya sedari tadi dipandangi oleh Sehun dan jujur ia tidak merasa nyaman dengan hal itu, Sumin meletakan pena-nya lalu bangkit berdiri. “Aku butuh kamar mandi sebentar.” Ucapnya kemudian berlalu.

Sehun mengalihkan pandangannya pada sebuah i-phone yang tergeletak diatas meja dengan tanpa aksesoris apapun, tanpa gantungan atau sekedar pelindung karet. Handphone milik Sumin. Sehun mengambilnya lalu mendapati kode kunci didalam layar. Iseng, ia mengetik ‘Kim Jongin’ dan.. gotcha! Ternyata kode tersebut cocok. Gadis ini benar- benar.

“Kau tidak bisa lebih tidak sopan dari ini, Oh Sehun.”

Sehun berjengit kaget, ia langsung meletakkan kembali handphone Sumin lalu mendongak, mendapati Sumin yang menatap tajam kearahnya. “Sorry..” Bisik Sehun lalu mengalihkan pandangannya. Merasa tidak enak.

Sumin hanya menggelengkan kepalanya lalu kembali duduk, ia meraih handphonenya. Bagaimana bisa Sehun membuka kode kunci Handphone-ku?! Serunya dalam hati. Tapi Sumin mencoba mengabaikan hal itu, ia meletakkan kembali handphonenya dan memberi Sehun selembar kertas.

“Kau bisa analisa bagian ini. Aku mengerjakan yang lain.”

Sehun menerima kertas tersebut lalu mulai membacanya, dan begitu cepat ide – ide cemerlang terlintas dipikirannya dan ia langsung menuliskannya. Sumin memandang takjub kearah Sehun—walaupun dengan baik ia bisa menyembunyikan keterkejutan itu—ia berasumsi kalau Sehun memang benar-benar pria yang cerdas.

Sumin baru sempat menuliskan dua paragraph dalam laptopnya ketika Sehun menyodorkan kertas kearahnya dengan selembar penuh tulisan, ia berhenti dan menatap Sehun sejenak dengan alis mengerut. “Kau serius?”

“Serius? Maksudmu serius?”

faster than I expected.” Gumam Sumin lalu kembali berkutat dengan keyboard laptop. “kau salin dirumah dengan komputermu, aku mengerjakan bagian ini.” Sehun menarik kembali tangannya lalu mengambil kertas lain dan menuliskan hal lain disana.

“Sumin-ah..”

“Hm?”

Katakanlah Sehun adalah pria paling ingin tahu yang pernah ada, walaupun ia sudah tau kalau pria – pria kurang ajar yang sewaktu itu hampir memperkosa Sumin adalah suruhan siapa tapi ia ingin tahu siapa mereka dari sudut pandang Sumin dan sejak entah kapan Sehun ingin bertanya namun ia tidak punya waktu untuk berbicara secara privat dengan Sumin. Mungkin ini saat nya?

“Siapa mereka yang sewaktu itu membekapmu sepulang sekolah?”

Sumin berhenti sejenak dari kegiatannya. Ia menarik napas. “Bukan siapa – siapa. Lupakan kejadian itu.”

“Kau tidak bisa melupakan hal itu begitu saja.”

“Kenapa tidak? Mengingat hal itu membuatku jengkel. Aku mungkin trauma seumur hidup sehingga aku berusaha melupakannya.”

Ya, Sumin benar, dirinya memang trauma dan Sehun tau itu hanya dengan melihat bola mata Sumin yang memancarkan rasa takut akan kejadian sewaktu itu yang masih terus terbayang. Sumin sendiri sebenarnya tidak akan pernah lupa, ingatan ketika Sehun melayangkan tinju kearah para pria brengsek itu masih terpatri jelas. Tapi Sumin benci memikirkan Sehun, Sehun yang mengingatkannya pada Kai.

“Maaf. Tapi ada satu hal yang sepatutnya kau tau, darimana mereka berasal maksudku.. Apakah mereka suruhan seseorang atau—“

“mereka hanya sekumpulan pria yang tidak sengaja menemukanku berjalan sendirian, lalu mengambil kesempatan.”

“kau yakin?”

“Kalaupun aku berbohong, aku tidak akan memberitahu yang sebenarnya karena kau…” Sumin memandang wajah Sehun dari mata sampai bibir, “Memang kau siapa.” Ia menghela nafas kemudian menggelengkan kepala. Sumin memasang earphone dikedua telinganya.

Sehun mengerti maksud Sumin begitu karena ia tidak mau diganggu—ataupun dilempari berbagai pertanyaan lain—Sehun mungkin sedikit menyesal karena ia sedikit memojokkan Sumin, seharusnya ia pura – pura percaya saja karena tanpa Sumin beritahu pun Sehun akan tau yang sebenarnya.

Malam itu, setelah Sumin terlarut dalam alunan melodi milik Lana Del Rey, dan Sehun yang sibuk dengan essay, mereka tidak mengucapkan apapun lagi untuk satu sama lain kecuali ‘selamat tinggal, sampai berjumpa lagi’ ketika Sehun melangkah keluar dari pintu apartemen.

***

Esoknya, ketika mentari sudah tampak kentara dari ufuk timur dan cahaya terang pagi hari menelusup lewat jendela – jendela yang terpasang didalam kelas, Zelo tidak henti – hentinya mengalihkan perhatiannya dari pintu mengantisipasi kedatangan Sumin. Dan begitu gadis itu muncul dengan wajah sedingin es, rambut panjang tergerai, Zelo langsung melompat dari atas meja lalu menghampirinya.

Otte? Apakah kau sudah menyampaikannya pada Sehun?”

Sumin memandang Zelo dengan ujung matanya, lalu kembali berjalan. “Aku tidak menyampaikan apapun.” Ucapnya sembari meletakkan ranselnya. Zelo memandang Sumin dengan sedikit merengut, agaknya ia cukup kecewa.

“Aku tidak pernah meminta apapun padamu, aku hanya mau kau mengatakan maafku padanya. Apakah itu sulit bagimu? Apakah itu cukup merepotkanmu?” Zelo menapakkan kedua tangannya diatas meja, menatap Sumin yang duduk dengan ekspresi acuh-tak-acuh.

“Bukan itu masalahnya. Aku mau membantumu, apapun. Tapi dalam hal ini… uhm bagaimana mengatakannya… aku hanya tidak sudi saja kau minta maaf segala pada Oh Sehun itu.”

“hei ini urusanku—“

“Jangan seperti banci, Junhoong.”

Zelo mendongak, menatap Sumin dengan tidak percaya.

“Maksudmu?”

“Begini, Jun. kau seperti seorang wanita yang butuh meminta maaf hanya karena hal – hal sepele dan… that’s not cool. Jika tidak ada masalah serius diantara kalian kenapa harus minta maaf segala?” ucap Sumin santai dan lepas, namun cukup mengesalkan bagi Zelo.

“kau tidak tau letak permasalahannya.”

“Ya, karena aku tidak tahu makannya aku berkesimpulan begitu. Lagipula kau tidak memberitahuku.”

Zelo memundurkan tubuhnya lalu menghela nafas. “Kau tidak tahu, dengan maka itu jangan berkesimpulan dulu.”

“Jun… you okay?” mendengar nada suara Zelo yang berbeda, Nampak gusar dan meninggi dari sebelumnya. Sumin yakin kalau Zelo agak terganggu karena ucapannya.

“No. im not okay, girl. Seharusnya aku memang tidak meminta bantuanmu dari awal.” Dengan itu, Zelo membalikkan tubuhnya lalu berjalan keluar kelas, meninggalkan Sumin yang duduk dengan mulut menganga kebingungan.

“Jun! Junhoong! Choi Junhoong!”

***

School Backyard. 2PM

Mungkin hanya segelintir siswa yang tahu kalau dibelakang gedung utama Cheongnam, nyaris tertutup oleh pohon – pohon Maple yang lebat ketika musim semi, terdapat sebuah taman yang tidak terlalu luas namun sejuk dan bersih. Biasanya digunakan oleh klub pecinta alam beberapa kali dalam sebulan, atau sekedar untuk observasi kelas Biologi, selebihnya tidak banyak disentuh oleh siswa. Ada sebuah kolam yang tidak cukup lebar diantara bungan dandelion dan sebagian permukaan airnya ditutupi oleh teratai.

Sumin biasa duduk disini, menyandar pada batang pohon dengan kedua kaki lurus dan menyilang, mendengarkan music dengan earphone-nya lalu memandang kearah pemandangan alam didepannya. Atau memejamkan mata sambil bersenandung kecil tentang lagu kesukaannya. Karena disini begitu tentram, tenang, tidak ada yang menatapnya dengan intimidasi, tidak ada pikiran orang yang begitu random untuk dibaca olehnya. Ia merasa begitu manusia, bukan sebagai monster pembunuh kekasihnya sendiri.

Kejadian pagi tadi masih belum surut, Zelo masih kesal padanya dan Sumin benar – benar tidak tau ia harus bagaimana. Zelo bahkan tidak mau berbicara padanya meskipun gadis itu sudah meminta maaf berkali – kali, Lime bahkan sudah angkat tangan. Ia harus bagaimana.

Mungkin besok Zelo sudah kembali normal lagi padanya, besok mereka berdua akan menjadi akrab lagi, mengobrol, pergi kekantin, bercanda, mungkin. Tapi Sumin benar – benar tidak tahan berdiam – diaman seperti ini dengan sahabatnya sendiri. Ia menyesal. Tapi tidak tau harus berbuat apa lagi.

Sumin membuka matanya ketika mendengar ada suara gemerisik disebelahnya, dan ia butuh mengerjapkan mata dua kali untuk memastikan ada murid lain yang duduk disebelahnya, menekuk lutut dengan pandangan lurus kedepan. Ia nyaris berseru saking terkejutnya karena Sehun tiba –tiba sudah duduk disebelahnya.

Sehun terlihat mengucapkan sesuatu, namun Sumin tidak bisa mendengarnya. Buru – buru Sumin melepas earphonenya lalu menegakkan punggungnya kemudian memandang Sehun dengan sangsi. Sudah terlanjur malas untuk mengucapkan apapun, Sumin hanya menghela nafas. Mungkin dirinya butuh tempat baru untuk mendengarkan musik.

“Seon saem tidak menemukanmu dalam kelas Music, tidak ada yang tahu keberadaanmu, dan karena aku partner, maka ia menyuruhku mencarimu. Aku berpikir akan mengajakmu kembali kekelas begitu menemukanmu, tapi sepertinya kau lebih nyaman disini.”

“Aku tidak suka kelas music.” ….Karena mengingatkan pada melodi, tangga nada, notasi yang harus dibaca, sebuah grand piano besar disebuah apartemen di gangnam, dengan kertas berisi notasi nada diatasnya, milik Kai. Berurusan dengan notasi membuat hati Sumin perih, karena memori tentang Kai yang sangat jelas selalu muncul.

“Mungkin kau hanya tertarik pada deretan Matriks dan Integral.”

“Mungkin.” Gumam Sumin hampir tanpa suara, dalam hati ia berkata betapa kelas music menjadi salah satu favouritnya. Dulu. Tidak lagi.

Sehun melemparkan kerikil – kerikil kecil dengan random kearah kolam, tanpa tujuan apapun, kedua matanya masih memandang lurus kedepan. Kedua tangannya bertumpu pada lututnya yang menekuk diatas rumput.

“Maaf.”

Sumin menoleh, apa yang barusan Sehun katakan?

“Aku minta maaf,” Kini Sehun menolehkan wajahnya untuk menatap Sumin. Dari kedua bola mata pria itu yang berwarna kecokelatan, Sumin menangkap ketulusan disana. “Maaf karena aku membuatmu bertengkar dengan sahabatmu.” Sehun kembali memandang kedepan, kearah kolam dengan permukaan air yang tenang.

“Bukan.. bukan salahmu.”

“Itu salahku, aku terkesan menjauhi Zelo padahal aku tidak bermaksud begitu. Belakangan ini aku baru merasa kalau aku selalu bersama – sama dengan Zelo dan mengabaikan yang lain. Aku hanya ingin berteman dengan yang lain juga, bisa katakan padanya kalau itu hanya salah paham?”

Sumin terdiam selama beberapa waktu, memikirkan tentang sifat dari seorang Oh Sehun yang baru saja ia ketahui. Mungkin pria ini baik? Tapi Sumin benci dengan fakta bahwa ia tidak bisa membaca pikiran Sehun. Sumin tidak pernah percaya pada kata – kata. Kemudian ia hanya bisa mengangguk kecil. “Ya. Akan aku sampaikan.”

“terkadang seseorang bisa menjadi lebih sensitif kalau ditinggalkan, pria juga. Jadi Zelo tidak sedang ber-over acting.”

Sumin tidak menjawab apapun, ia sibuk memainkan earphone-nya sambil menunduk. Bukan karena socially awkward, ia justru sedang merenung pada fakta bahwa setelah ini pasti Zelo akan menghabiskan waktu lebih banyak dengan Sehun lagi. Padahal setengah mati Sumin tidak suka dengan Sehun, ia sendiri masih tidak tau kenapa—mungkin satu – satunya alasan karena Kai.

“Kenapa kau tidak suka kelas Musik?” Tanya Sehun yang kin menolehkan wajahnya kearah Sumin penasaran.

Sumin menghentikan aksinya memainkan kabel earphone untuk berpikir sejenak kemudian menggulung kabel tersebut mengitari iPodnya, lalu ia letakkan diatas rok. “Hanya..tidak suka.” Jawabnya tanpa memandang sama sekali kearah Sehun.

“Se-simpel itu.”

“Ya.”

“Setiap suatu hal yang tidak kita sukai pasti memilik alasan dibaliknya kan? Dulu, aku tidak suka dengan Biologi karena setiap kali mempelajari tentang darah, aku selalu ingat kalau didalam darahku ada sesuatu yang berbeda dari manusia pada umumnya. Walaupun aku tidak menyesal menjadi supernatural, tapi aku menyesal menjadi lemah. Seharusnya dengan supernatural-ku aku bisa melindungi kakakku.. namun aku tidak bisa, dengan maka itu dia melakukan sebuah kesalahan besar. Tapi.. sesuatu yang sudah terjadi tidak bisa diperbaiki lagi. Itu terdengar cukup aneh, kan. Biologi dan supernatural.”

Kakak? Jadi selama ini Sehun memiliki Kakak? Sumin tidak pernah tau tentangnya, ya, lagipula ia juga tidak mau tau. Tapi mendengar penyesalan yang tersirat dalam kalimat Sehun barusan membuatnya penasaran.

“Memang ada apa dengan kakakmu?” Pertanyaan itu terlontar begitu saja. Ia hanya ingin tau… sedikit.

Dari ujung mata Sumin, ia pun bisa menangkap raut kesedihan diwajah Sehun walaupun pria itu tersenyum. “Tidak.. tidak apa-apa. Dia baik – baik saja.”

Sumin hanya bisa mengangguk walaupun jawaban Sehun sungguh mengecewakannya.

“Aku hanya tidak mau kejadian itu terulang lagi. Aku menghormatinya sebagai hyung-ku walaupun eksistensinya dibenci.”

Sumin benar – benar tidak tau kemana arah pembicaraan Sehun, kalau memang kakak Sehun—atau siapapun itu—baik – baik saja kenapa sampai dibenci? Sumin tidak tau tapi ia ingin tau. Dan masalahnya, ia tidak punya cukup keberanian untuk bertanya pada Sehun. Alhasil, ia hanya bisa menerka – nerka sambil memandangi bunga dandelion yang baru saja dipetiknya. Memainkan kapas putih bunga itu dengan ujung jarinya.

Sehun menoleh kearah Sumin lalu menilik jam tangannya sebentar, “Mau makan siang bersama?”

Mau makan siang bersama?  Visualisasi seorang Kim Jongin yang mengenakan seragam, masuk kedalam kelas lalu menumpukan kedua telapak tangannya diatas meja Sumin sambil memandangi gadis itu. “Mau makan siang bersama?” Tawar Kai, saat itu. Pertanyaan yang persis dengan apa yang diucapkan Sehun barusan.

Entah emosi apa yang membawa Sumin langsung berdiri dari posisinya, menjatuhkan bunga dandelion begitu saja lalu menggelengkan kepalanya pelan. “No thanks.” Ucapnya terlalu dingin, ia langsung berbalik dan berjalan meninggalkan Sehun.

Sehun hanya mampu memandangi sosok Sumin yang berjalan cepat membelakanginya. Apakah ada yang salah dengan perkataan Sehun barusan? Kenapa Kim Sumin seperti itu?

it’s really hard to get your heart, even your attention… Yuko.” Ucap Sehun pada sebuah kerikil yang dipegangnya, keras, tidak terpecahkan, seperti hati Sumin. Mungkin inilah karma yang Sehun dapatkan karena mengabaikan Sumin saat kecil dulu.

***

“Baekhyun! Byun Baekhyun!”

Sehun baru saja menyelesaikan rutinitas-nya sebagai kapten Basket, ia masih mengenakan kaus dan celana basket dan langsung memanggil Baekhyun yang berjalan didepan, membelakanginya. Baekhyun berbalik, mendapati Sehun yang tersenyum kearahnya.

Dilihat dari ekspresi Baekhyun, pria itu tidak begitu suka diinterupsi oleh kehadiran Sehun saat ini walaupun baekhyun sedang tidak ada kepentingan apapun. Dan dikoridor ini hanya ada mereka berdua yang bertatapan canggung satu sama lain.

wae?”

Tanya baekhyun kurang ramah, Sehun melangkahkan kakinya mendekat lalu menyeka keringat nya dengan sebuah sapu tangan.

“Kenapa kau selalu menghindar setiap kali aku berusaha untuk berbicara berdua denganmu?”

“kalau kau memanggilku hanya untuk bertanya begitu, lebih baik aku pergi saja.” Baekhyun nyaris berbalik badan namun teriakan Sehun menahannya.

“Hei.”

“aku yakin kalau tidak ada hal penting diantara kita yang perlu dibicarakan lagi, Sehun.”

“Mereka mencarimu. Hanya itu yang ingin aku sampaikan.”

“Mereka?”

“teman-mu. Teman kita. Dua tahun kau tidak kembali ke Macau, mereka mengira kalau kau tidak akan pernah kembali—“

“Ya. Mereka benar. Aku tidak akan pernah kembali kesana.” Baekhyun memotong perkataan Sehun secara sepihak, ia merasakan nyeri di dadanya ketika mengingat tentang Macau. Dan segala memori disana. Baekhyun mual dan ingin muntah saat ini juga, ia sungguh benci pada Macau.

“Sehun..” Baekhyun menghela nafas. “Mereka percaya padamu, mereka tidak bereaksi apapun kan ketika kau memberitahu bahwa Luhan membunuh noona? Dasar keparat. Bagaimana aku bisa menyebut mereka teman kalau tidak ada sedikitpun rasa simpati mereka untukku?”

Sehun terdiam, ekspresinya nampak gelisah dan ia tidak tau harus berucap apa. Kebohongan ini sudah dipendamnya terlalu lama dan ia tahu kalau ia salah, dengan maka itu Sehun ingin mengatakan pada Baekhyun kalau Baekhyun salah paham. “hei, mereka tidak tahu apapun.”

Tidak meleset dari dugaan Sehun kalau baekhyun akan sangat marah tentang hal ini. Ekspresi Baekhyun tampak kaget dan rahangnya mengeras, baekhyun tampak emosi. Dan hal itu sangat kentara.

“Brengsek, Oh Sehun.”

Kedua tangan Baekhyun sudah mencengkeram bahu Sehun saat ini. Bola matanya berubah menjadi merah pekat dan menatap tepat ke pupil mata Sehun, memberikan sensasi panas dikedua mata Sehun. Baekhyun menurunkan tangannya, mencengkeram lengan Sehun dengan kuat. “brengsek kau. Kau…tidak pernah memberitahu mereka? Benar kan Sehun?! Mereka tidak tau kalau Luhan lah yang membunuh Noona-ku?!” Baekhyun menggeretakkan giginya karena kelewat emosi. Selama ini ia berkesimpulan kalau teman – temannya di Macau tidak bersimpati pada kematian Noona-nya karena mereka lebih memihak pada Sehun. Baekhyun salah soal hal ini, bagaimana mereka mau bersimpati sementara Sehun tutup mulut tentang aib kakaknya?

“Aku hanya berusaha melindungi Luhan hyung.” Sehun mendorong tubuh baekhyun lalu meringis, merasakan nyeri dilengannya yang kini berlumur darah. Namun secepat kilat darah tersebut meresap lagi kedalam tubuhnya.

“Sungguh terpuji, Oh Sehun. Kau melindungi kakakmu dengan membohongi mereka semua? Lalu pernahkah kau berpikir tentang kematian Noona karena Luhan yang terkutuk itu?! Dia saudariku satu – satunya! Bajingan kau! Aku akan pastikan mereka mengetahui hal ini! Aku akan pastikan hal itu!”

“Tidak ada yang boleh membencinya lagi, Byun baekhyun. Semua orang membencinya saat ini, kecuali aku dan mereka… teman – temanku.”

Satu pukulan keras mendarat di wajah Sehun, Baekhyun mendorong bahu Sehun dengan emosi meluap – luap. “Persetan. Mereka mungkin tidak berani menyakiti si terkutuk Luhan itu, tapi mereka akan membencimu jika mengetahui hal ini. Mereka membencimu, dan kakakmu. Sudah digariskan dalam takdir kalau eksistensi seorang Demon memang patut dibenci!”

“Patut dibenci..” Sehun mengelap darah diujung bibinya kemudian tersenyum miris. “tau apa kau soal Demon? Hanya sebatas membunuh manusia. Hanya sebatas itu kan? Kau tidak tau seberapa besar penyesalan yang dirasakan oleh Luhan hyung. Dia tidak pernah sengaja melakukan hal itu.”

“Persetan dengan hal itu. Dia membunuh noona, itu pointnya.”

“Tidak bisakah kau sekedar melupakan hal itu? Sorry, maksudku.. memaafkan. Mereka saling mencintai dan Noona-mu sudah menerima konsekuensi untuk menikah dengan Luhan hyung jadi ia pasti tau nyawanya menjadi ancaman. Kau berlebihan.”

Baekhyun mengepalkan tangannya, mungkin salah satu sifat Sehun yang tidak pernah berubah adalah seberapa protektif pria itu terhadap orang – orang yang ia sayangi dan nyaris tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Sehun selalu ingin melindungi Luhan, membenarkan bahwa Luhan tidak bersalah, walaupun faktanya berimplikasi. Sehun hanya tidak ingin siapapun menyakiti Luhan.

“Aku mungkin berlebihan, tapi kau pengecut. Kau bahkan tidak bisa memiliki simpati sedikitpun pada Noona-ku. Kau egois, bajingan Oh Sehun! Aku ingatkan padamu, Demon adalah makhluk terkutuk. Selamanya. Sama hal nya dengan si bitch itu.”

bitch?”

Kim Sumin. Siapa lagi? Dia cantik, pintar, tubuhnya menggoda, dia tidak murahan. Kau pasti suka padanya? Aku tau itu. Tapi dia membunuh sahabat terbaikku, Kai. Dia lebih hina dari seonggok sampah.”

Sedetik kemudian tubuh Baekhyun sudah merapat kearah dinding disampingnya, sedangkan Sehun berdiri dihadapan Sehun dengan tatapan marah. Bola matanya yang semula cokelat almond kini menjadi merah pekat. Seperti warna segumpal darah. Lewat kedua matanya, ia memberika rasa sakit di kepala Baekhyun. Rasanya seperti tersengat listrik.

Namun Baekhyun hanya bisa tertawa meremehkan, walaupun ia tidak memungkiri kalau kepalanya pusing luar biasa. “Kenapa? Kau marah? Dia hina, dengan maka itu seantero sekolah membencinya. Ikuti saja kami, Sehun-ah. Membenci Kim Sumin bukanlah suatu dosa. Lakukan saja.”

Kali ini Sehun yang diliputi emosi, namun ia tidak menunjukkan ekspresi tegang diwajahnya, hanya ekspresi sedinging es yang bisa ia tunjukkan pada Baekhyun. “Sekali lagi kau mengatainya didepan mataku, aku akan pastikan kau mati ditelapak tanganku.”

Baekhyun mengeluarkan tawa menyebalkan nya lagi, kali ini lebih nyaring. “Coba saja kalau kau bisa membunuhku. Atau kalau kau mau, lakukan saja. Maka kau akan satu level dengan kakakmu, dengan Kim Sumin. Kalian bisa membentuk sekelompok psikopat.”

“Cukup.”

Sehun menghentikan telepati-nya terhadap Baekhyun. Ia menghela napas. “cukup, Byun Baekhyun.” Dengan itu, Sehun berbalik lalu meninggalkan Baekhyun. Ia tidak mau lepas control lalu menghabisi Baekhyun, bisa fatal. Menghindar mungkin salah satu cara yang paling baik.

“Coba saja kalau kau bisa menggantikan posisi Kai dihati gadis itu. Aku berani bertaruh kau hanya akan mendapatkan tatapan dinginnya saja.” Sehun mengepalkan tangannya mendengar cemooh Baekhyun dibelakang sana, lengkap dengan tawa remehnya.

Lihat saja. Aku pasti akan mendapatkan Yuko.

***

Sehun’s house. 6PM.

 

Sore harinya, tepat ketika mentari sudah menelusup ke ufuk barat dan langit Seoul berwarna oranye sementara bulan sudah menampakkan wujudnya  dengan malu – malu, Sehun melemparkan ranselnya ke atas sofa berwarna cokelat tua lalu menghempaskan tubuhnya disana, bersandar pada sisi sofa untuk melepas lelah.

Ia memandangi Tv Plasma dihadapannya yang menyala, mungkin ahjumma yang bekerja sebagai pembantu dirumah ini lupa belum mematikannya. Ketika Sehun menyampirkan tangannya kepinggiran sofa, ia mendapati sebuah tuxedo berwarna hitam. Sehun langsung mengambil tuxedo tersebut dan memandanginya sesaat. Dirinya tidak membawa satupun tuxedo dari Macau dan lagipula ukurannya terlihat lebih kecil.

Setelah beberapa detik otak lelahnya berpikir tentang kepemilikan tuxedo ini, barulah Sehun menyadari siapa pemiliknya. Ia langsung bangkit dari duduknya lalu berjalan tergesa – gesa kearah ruang tengah, melewati beberapa ornament – ornament mahal yang terpajang disekitar ruangan dan sebuah perapian, Sehun menilik ke ruang tengah dimana terdapat sebuah rak buku besar yang hampir dua kali lebih besar dari lemari pakaian dan sebuah piano berwarna cokelat yang berumur lebih tua darinya.

Alunan River flows in you mengalun pelan dan sangat indah, membuat hati siapa saja terenyuh mendengarnya.

Didalam keluarganya, Sehun tau kalau satu – satunya yang dapat bermain piano dengan sangat baik hanyalah kakaknya. dan saat ini Luhan sedang duduk sambil memainkan  tuts-tuts piano. Xi Luhan. Pria berwajah pucat, namun sempurna.. nyaris seperti porcelain doll. Wajahnya memiliki kemiripan yang cukup kentara dengan Sehun.

“Hyung?”

Luhan menghentikan permainannya lalu menoleh kearah Sehun dengan seulas senyuman.

“I miss this Piano. Just arrived? Go take a rest.” Luhan menghampiri Sehun lalu menepuk pundaknya pelan.

Luhan tidak mahir berbahasa Korea, dia terlalu lama tinggal di Macau dan terbiasa dengan Kantonis serta English. Walaupun ia luar biasa cerdas, tapi menggunakan hangul serta mandarin tidak terlalu disukainya.

“Why you here?”

Luhan berjalan menuju kursi piano lalu duduk sedangkan Sehun mengikuti langkah hyung-nya lalu berdiri menyandar pada piano. “To make sure that you’re safe.” Jawab Luhan, mengambil beberapa kertas berisi notasi.

“Hyung, im safe.”

“Good to hear.”

“Yeah,”

“Apakah ada seseorang yang melukai lenganmu?” Luhan memandang kearah lengan Sehun yang sama sekali tidak terdapat luka disana, tampak sehat seperti biasanya. Tapi Luhan bisa tau… Ia tahu kalau seseorang pasti baru saja meninggalkan luka berdarah disana.

nope. Hanya—“

“You’re not safe, brother.” Luhan menyentuh lengan Sehun kemudian memegangnya, mengamatinya beberapa saat lalu melepaskannya lagi. Luhan hanya mengangguk – ngangguk saja, sepertinya ia memaklumi.

“Aku dengar kau satu sekolah dengan Baekhyun?”

“Ya. Kami bertemu lagi.”

“jadi luka itu..”

“Ya, Baekhyun yang membuatnya. Setidaknya aku tidak apa – apa.”

Luhan hanya tersenyum, lebih ke seringaian namun ia tidak memusingkan lagi hal itu. Tentang Baekhyun. Ia kembali mengalihkan perhatiannya pada tuts piano didepannya dan selembar kertas berisi notasi nada dengan judul “Sweetarts”

Sehun pun diam, ia tidak perlu menceritakan apapun karena menurutnya persoalan tentang Baekhyun dan Noona-nya bukanlah topik lepas yang bisa dibicarakan secara ringan dengan Luhan. Tidak ada yang berani menyinggungnya karena sama halnya dengan Sumin, Luhan trauma hebat. Walaupun tampak tidak kentara dan nyaris baik – baik saja, tapi Sehun bisa membaca perasaan hyung­-itu dan segala penyesalan yang ada didalamnya.

Dia memilih untuk berdiri diam sambil memperhatikan Luhan yang sedang meletakkan kertas notasi di atas tuts piano kemudian mulai memainkan melodi yang tidak pernah Sehun dengar sebelumnya, yang terdengar lembut dan indah. Luhan memejamkan matanya, merasakan setiap melodi dari tuts yang ia tekan membuat darahnya berdesir lebih cepat dari sebelumnya.

“Aku membuat lagu ini untuknya, di Anniversary  yang ke -3.”

Sehun tentu saja tau siapa yang dimaksud –nya ­oleh Luhan. Seumur hidup mungkin Luhan tidak pernah lupa bagaimana ia hanya bisa memainkan piano, memeluk, dan mencium satu – satunya gadis yang Ia cintai sampai mati. Walaupun wanita itu hanya nama, namun Luhan masih tetap mencintainya. Walaupun hal itu tidak menutup kemungkinan kalau rasa menyesal masih tetap ada. Sampai kapanpun.

“Ketika Mingzi berulang tahun yang ketiga nanti, aku akan memberikan hadiah berupa instrument ini. Cool, isn’t it brother?”

Sehun hanya mengangguk. Kemudian ia teringat pada Mingzi. Ya… Mingzi, apakah Luhan membawa gadis kecil itu?

“Hyung,  Mingzi?”

Luhan membuka matanya kemudian mengedikkan kepalanya kebelakang. “Dia sedang dikamar. Ah, aku lupa memberitahumu kalau aku membawanya.” Setelah mendengar pernyataan tadi, Sehun secepat kilat berlari ke kamar yang tidak jauh dari ruang tengah, kamar milik Luhan.

Sesampainya disana Sehun membuka pintu kemudian mengintip dari celah pintu, senyumnya merekah begitu melihat seorang gadis kecil yang terduduk diatas ranjang dengan sebuah boneka Pororo ditangannya. Menggoyangkan kedua tangan Pororo tersebut dengan jari – jari mungilnya.

“Ming!”

Sehun langsung menghambur keatas ranjang lalu mengangkat Mingzi, menggoyangkannya lalu menjatuhkannya lagi keatas selimut. Gadis kecil itu berteriak kecil lalu mendongak, menatap Sehun dengan kedua mata beningnya yang mengerjap beberapa kali. Rambutnya yang keriting sepanjang telinga dengan pipi tirus, hidung mungil dan bibir tipis, mirip sekali dengan Luhan. Dan ia sangat lucu.

“gege?” gumam Mingzi. Anak satu – satunya dari Luhan dan Byun Sora. Gadis kecil berumur dua tahun yang terlampau disayangi oleh Luhan begitupula Sehun.

Sehun tersenyum lalu mencium pipi Mingzi dua kali. “Kau suka Pororo?” tanyanya sambil menunjuk boneka Pororo berwarna hijau yang tergeletak di atas selimut.

Mingzi mengikuti arah jari Sehun kemudian mengangguk lucu.

***

Canteen. 10AM.

Satu minggu setelahnya, Baekhyun tidak menunjukkan tindakan – tindakan spesifik yang menunjukkan kalau dirinya amat membenci Sehun. Ia seperti biasanya, mengabaikan Sehun dan ikut berkumpul dengan gang Kingkas, mengobrol tentang ini-itu, keduanya seolah berpura – pura tidak ada hal yang terjadi diantara mereka berdua.

Seperti siang ini, Kingkas gang duduk di meja tengah kantin seperti biasanya. Menjadi pusat perhatian siapapun yang berada di kantin, terutama gadis – gadis yang haus akan pria – pria tampan sekaligus kaya raya. Dan yang tidak mengejutkan lagi, Sumin duduk di meja agak diujung dengan rekannya. Zelo dan Lime tentu saja. Zelo dan Sehun sudah kembali bermain bersama walaupun tidak sesering sebelumnya karena belakangan ini Zelo sibuk dengan kompetisi dance sebaliknya Sehun sibuk dengan basket.

“Kau tau siapa yang memiliki kaki ter-jenjang di Cheongnam?” tiba – tiba Minho mencondongkan kepalanya ke tengah meja, sedikit berbisik. Lalu yang lain langsung sibuk berpikir. Belum ada dua detik, Ljoe menepuk meja lalu berucap.

“Kim Sumin!” serunya dengan wajah sumringah.

Chen mengibaskan tangannya. “Tidak… tidak… ada yang lebih jenjang lagi.”

“Alice!” Seru Minho.

“Mungkin Hyuna.” Baekhyun mengedikkan bahu.

She’s hot!” Minho menggelengkan kepalanya dengan senyuman menjijikan, Baekhyun langsung memukul kepalanya dengan sumpit.

“uhm.. Sooyoung.” Usul Sehun.

“Ya! Dia yang paling jenjang!” Ljoe menunjuk Sehun lalu mengacungkan jempolnya.

“Tidak…Tidak…” Chen lagi – lagi menyangkal, ia memandang remeh kearah semua pria yang sedang menatap kearahnya. “Masih ada lagi.”

nugu?”

Chen mencondongkan kepalanya lalu member gesture kepada mereka agar lebih merapat. “Kalian ingin tau siapa?”

Semuanya mengangguk.

Chen berdeham lalu menatap mereka bergantian. “dia… Choi Minho.”

“YAH!!!” keempatnya serentak berteriak kearah Chen lalu kembali pada posisi duduk masing – masing. Ljoe menoyor kepala Chen yang saat ini tertawa terbahak – bahak sambil memegangi perutnya. Walaupun tidak begitu lucu…tapi Chen terus tertawa.

“Sial kau.” Rutuk Minho lalu meneguk cola-nya.

Sehun hanya menggelengkan kepalanya.

“Baekhyun.”

Ljoe, Minho dan Chen sedang sibuk bercanda satu sama lain ketika suara seorang gadis terdengar memanggil Baekhyun. Sehun yang ikut tertawa kecil dengan lelucon teman – temannya diam – diam melirik kearah Baekhyun yang kini memposisikan duduknya, hampir membelakangi Sehun. Dan didepan baekhyun, terdapat gadis berambut blonde dengan tubuh kurus dan tinggi. Rok yang jauh diatas lututnya dan seragam ketat. Im Jinah.

Nana menundukkan tubuhnya untuk berbisik ke telinga Baekhyun, pelan sekali sampai Sehun sendiri tidak bisa menerka apa yang mereka bicarakan. Dan keduanya supernatural maka Sehun tidak bisa membaca pikiran mereka. Sayangnya.

Baekhyun hanya mengangguk – angguk saja, menyeringai, mengangguk lagi lalu keduanya ber high-five. Dan yang lebih mengejutkan, Nana mencium pipi Baekhyun. Jadi Sehun berkesimpulan kalau mungkin keduanya berkencan?

Kemudian Nana berlalu, Baekhyun kembali memutar posisi duduknya seperti semula. Tatapannya hampir bertemu dengan Sehun dan cepat – cepat Sehun mengalihkan pandangannya kearah lain.

Dan saat itu juga secara kebetulan… ia memandang kearah Sumin yang juga sedang memandang kearahnya. Tatapan mereka bertemu diudara selama beberapa menit.

TBC

 

Hai udah keitung uhm… lebih dari satu bulan dan malah hampir 2 bulan ff ini ga berlanjut, gatau harus bilang apa…. Yang pasti im really sorry to make all of u waiting too long. Karena belakangan ini sibuxxxx bukan menyibukan diri tapi emang sibuk ya belajar lah, ulangan lah, tugas lah banyak pokoke. Nyakitin sih jadi anak kelas 12 super sibux.

Oya, karena terlalu lama…………………. Aku ga yakin kalo kalian semua masih inget sama ceritanya wkwk if you mind re-read the previous chapters ya. Kalo ngga Tanya aja ke ask.fm aku tapi kalo nanyanya berujung ke spoiler part depan gabakal aku jawab >:-)

Btw……GOOD NEWS! Naskah The Telepathy 1 udah masuk penerbit dan lagi dalam proses pencetakan. Mohon doanya yaaa! Jangan lupa beli karena terjangkau dan p-u-a-s. system yg aku pake self-publishing jadi dijual lewat online doang (kalau masuk toko buku harus cetak >1000 eks dan aku belum berani) Pokoknya nanti kalau The telepathy 1 sukses penjualannya, aku bakal bukuin The Second of telepathy juga. Jadiiii ayo dikoleksi! XD

Don’t forget to leave your comment, dear! (ps: thx buat yg suka nagihin di twitter ya siapapun kalian ❤ )

 

Advertisements

183 responses to “[Chapter 6] The Second of Telepathy

  1. Berhubung udah lama gabaca akhirnya musti baca ulang ff nya wkwk tapi gapapa ffnya gangebosenin kok wkwk. Lanjut thot!!!

  2. Demon’ side yg ada pada diri Sumin & Luhan buat mereka merasa menyesal n brsalah. Ckck 😐 lanjut!

  3. Hai, aku Nana salam kenal. Dua jempol untuk ff yang satu ini. Keren banget, aku suka gaya bahasanya, simpel dan mudah untuk dipahami. Seingatku, aku sepertinya udah baca ff ini jadi aku ingin mastiin dengan langsung baca part 6 nya setelah lihat pemberitahuan koment salah satu reader di ffindo, tapi karena aku udah lama bacanya sehingga aku juga lupa apakah aku pernah koment atau nggak, tapi klau aku sebelumnya nggak koment, dimaafin yah :), buka berarti aku nggak ngehargain karya author tapi aku mungkin nggak sempat waktu itu.
    ok, izin lanjut bacanya yah. Oh iya ff ini sampai part berapa yah?

  4. nana dijadiin jahat yyyyaahhhh! jgn dong thor…..
    keren bgt ffnya mianhe aku ga bisa komen semua,
    prtama kli nyasar kesini ktemu ff yg amazing bgt mski bias dijadiin jahat tpi good job buat authornya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s