TARGET II – 1

TARGET II 1

 

 

Target II

|| hgks11’s storyline ©2013 ||

|| Lu Han, Hanna Park, L Kim || Supernatural, Fantasy, Thriller||

 || PG  || Series ||

 

IntroPart 1

 

 

Author’s POV

 

6 bulan telah berlalu semenjak kembalinya Hanna ke Seoul, Korea Selatan. Dan sudah 6 bulan pula hubungan Hanna dan Luhan berjalan baik. Pada hari itu, matahari tak malu-malu memperlihatkan sinarnya meskipun jarum jam masih menunjukkan pukul 07:00 A.M. Hanna, seperti biasa memeriksa loker miliknya, mengambil buku yang diperlukannya untuk jam kuliah paginya. Tiba-tiba sepasang telapak tangan menutup kedua mata vampir muda itu, membuatnya tak bisa melihat apa-apa.

“Yah, Krys—Luhan!” Hanna memukul pelan tangan Luhan yang masih menutupi kedua matanya, membuat putra mahkota vampir itu tertawa kecil. Kedua tangan Luhan kini berpindah melingkari pinggang mungil milik Hanna, memeluk vampir perempuan berstatus kekasihnya itu dari belakang.

“Kau mengiraku Krystal, eh?” Hanna memutar bola matanya malas.

“Yah, Luhan” Hanna berusaha melepaskan kedua tangan milik Luhan di pinggangnya, namun Luhan semakin menguatkan lingkaran tangannya. “Aniyo” Luhan menggelengkan kepalanya, sebuah senyum jenaka terlihat di wajahnya.

“Oucch!” Luhan memekik kesakitan begitu Hanna menginjak kaki Luhan keras, membuat Luhan refleks melepaskan tangannya dari Hanna dan memegang kakinya.

“Sampai nanti, Lu Han” Hanna memperlihatkan senyum jahil di wajahnya sekilas pada Luhan, sebelum mengunci loker miliknya dan berjalan meninggalkan Luhan.

Luhan mengacak rambut pirangnya pelan, dahinya berkerut tidak senang, namun ujung bibirnya tertarik membentuk sebuah senyum kecil, saat ia melihat Hanna yang sudah beberapa meter di depannya. “Sampai nanti, Hanna Park”

 

***

 

 

Hanna berjalan melewati lapangan sepak bola Seoul National University dengan headphone berwarna putih terpasang di kedua daun telinganya. Lapangan sepak bola pada hari itu tampak lebih ramai daripada biasanya, hiruk pikuk penonton pun sedikit menyusup ke telinga Hanna meskipun ia mengenakan headphone. Namun Hanna tidak sekalipun memperlambat langkahnya hanya untuk melihat apa yang terjadi di lapangan itu. Gadis berambut ikal panjang berwarna coklat itu terus melangkahkan kakinya menuju perpustakaan.

 

“Hanna!” Hanna mendongakkan kepalanya ketika ia mendengar namanya dipanggil seseorang. Hanna mematikan musik yang bermain dari telepon genggam miliknya, lalu mencari sosok yang memanggilnya. Di lain sisi lapangan sepak bola itu, Kai melambaikan tangannya pada Hanna lengkap dengan sebuah senyum jenaka di wajahnya. Hanna sempat terkejut melihat Kai yang tersenyum jenaka padanya, karena hell, seorang Kim Jongin yang berlidah tajam dan suka menyeringai, tersenyum? Sungguh sebuah pemandangan yang cukup langka.

Hanna menganggukkan kepalanya pada Kai, membalas sapaan Kai. Kedua bibir Kai kembali terpisah, ingin mengatakan sesuatu pada Hanna. Namun suara lelaki berkulit gelap itu tercekat di pangkal tenggorokkannya ketika melihat sebuah bola sepak yang mendarat di kepala Hanna. “Shit!” kutuk vampir muda itu melihat Hanna yang terjatuh. Dalam hitungan detik, Kai sudah berada di samping Hanna, membawa kekasih Luhan itu ke ruang kesehatan Seoul National University.

 

 

 

 

“Sunggyu hyung!” seorang lelaki dengan tubuh tinggi melambaikan tangannya pada lelaki yang dipanggilnya Sunggyu, mengisyaratkan untuk mengoper bola padanya. Sunggyu mengoper bola sepak di kakinya pada lelaki berambut hitam itu, “Shoot! Myungsoo-ya!”

Ujung bibir lelaki bernama Myungsoo itu tertarik ke atas begitu bola yang dioper oleh Sunggyu sudah berada di depan kakinya. Myungsoo menatap Sungyeol—lelaki yang berusaha menghadangnya—dengan tatapan menantang. Dengan gesit kaki L—nama panggilan Myungsoo—menggiring bola melewati Sungyeol. Elf dengan tubuh tinggi itu memberengut saat L dengan mudahnya melewatinya. Sebuah senyum kemenangan perlahan muncul di wajah L begitu ia melihat gawang lawan yang sudah dekat dengannya. Di depan gawang, Hoya tampak bersiap-siap untuk menangkap bola yang akan ditendang L.

Satu, dua, tiga!’, L menghitung di dalam benaknya sebelum menendang bola di kakinya dengan sekuat tenaga. Hoya menepis bola tendangan L dengan keras, menyebabkan bola tersebut terpental tinggi ke atas langit, sebelum jatuh mengenai seorang gadis yang sedang berjalan di pinggir lapangan.

Shit!” rutuk L saat melihat gadis itu terjatuh. Tanpa berpikir panjang lagi, L segera menghampiri gadis tersebut, namun langkahnya terlalu lambat. Karena Kai sudah berada di samping Hanna dan membawanya ke ruang kesehatan.

 

***

 

 

“Hanna!”

BAAAM!

Hanna sedikit terlonjak kaget begitu pintu ruang kesehatan terbuka lebar dengan suara yang keras. Luhan tampak berdiri di ambang pintu. Rambut Luhan tampak berantakan dan nafasnya tak beraturan. Hanna dapat melihat kepanikan yang tersirat di wajah Luhan dengan jelas.

“Lu—“

“Kau baik-baik saja?”

“Aku baik-baik saja, Luhan”

“Syukurlah” helaan nafas lega terselip keluar dari bibir Luhan mendengar jawaban Hanna. Tangan Luhan terangkat mengelus pelan puncak  kepala Hanna, membuat ujung bibir Hanna tertarik ke atas. Semua kekhawatiran di benak Luhan hilang begitu saja saat ia melihat senyum di wajah Hanna. Di matanya, Hanna tampak begitu cantik dan indah. Hanna selalu membuatnya jatuh cinta lagi dan lagi setiap ia melihat senyuman mungil di wajah Hanna.

Tiba-tiba rahang Luhan mengeras saat matanya menangkap perban kecil di balik poni Hanna. Darah berwarna merah dapat terlihat di bagian tengah perban tersebut, membuat amarah di dalam diri Luhan semakin bergejolak.

 

“Siapa yang melakukan ini?!” Hanna menghela nafas melihat mata Luhan yang berkilat merah karena amarahnya. Hanna menggelengkan kepalanya pelan sambil memegang lengan Luhan. “Gwencahana Luhan. Lukanya sudah tertutup” Hanna meraih perban di keningnya dan melepasnya perlahan. Hanna dapat melihat sedikit kelegaan terpancar dari mata Luhan, namun amarah vampir itu belum juga padam. Hanna menggoyangkan pelan lengan Luhan, “Gwenchana” ujar Hanna menatap Luhan. Tatapan mata Luhan melembut melihat usaha Hanna yang berusaha meyakinkan dirinya bahwa Hanna baik-baik saja.

“Maaf, aku hanya khawatir. Aku tahu kau tidak bisa meminum sembarang darah, oleh karena itu aku tak ingin kau kehilangan darah sedikitpun” ujar Luhan menatap Hanna penuh kasih. Rasa hangat menyelimuti hati Hanna mendengar ucapan Luhan. Dengan jantung yang berdebar kencang di dalam dadanya, Hanna berusaha menatap balik ke arah Luhan. Namun gadis itu hanya menemukan jantungnya berdebar lebih kencang lagi saat sorot matanya bertemu dengan sorot mata Luhan.

 

***

 

 

L berdiri di sebelah air mancur di taman Seoul National University. Dengan kepala tertunduk, lelaki itu menendang pelan kerikil-kerikil kecil yang berada di sekitarnya. Perasaan bersalah masih menyelimutinya.

Hah… Kenapa aku terlahir sebagai seorang Elf?’, batinnya. L tidak menyukai bagian Elf di dirinya. Ia terus menerus diselimuti oleh perasaan bersalah saat ia melakukan sesuatu yang tidak semestinya. Dan terkadang, rasa bersalah itu membuat L frustasi. Ia tidak suka dengan sifat asli seorang Elf yang terlalu baik—menurutnya. Meskipun seorang Elf terkadang terluka dan tersakiti, namun seorang Elf tidak pernah menaruh dendam dan selalu mengalah.

Lagi-lagi, lelaki tampan itu menghela nafas. ‘Tapi, jika aku tidak terlahir sebagai seorang Elf, aku tidak akan bertemu dengan orang-orang seperti mereka’, pikir L begitu sosok 6 orang elf lainnya muncul di benaknya. Ya, bagaimanapun ia bersyukur karena memiliki sahabat yang sudah seperti seperti saudara baginya.

 

Tiba-tiba sebuah bayangan jatuh di depan L, membuat kedua alis lelaki itu bertaut. L mendongakkan kepalanya, dan ia tidak bisa mengalihkan pandangannya begitu ia melihat sosok yang berdiri di hadapannya. Seorang gadis dengan kulit putih pucat, wajah innocent seperti sebuah boneka, dan rambut ikalnya yang berwarna coklat berkilauan berdiri tepat di hadapan L.

Cantik..’, hanya satu kata itu yang dapat L pikirkan saat ia melihat gadis yang berdiri di depannya.

 

“Hey, apakah kau orang yang mengirim note ini?” L tersadar dari pesona Hanna ketika gadis itu melambaikan kertas biru di tangannya. ‘Ah, jadi dia yang terkena bolaku tadi’, batin L.

 

Flashback

 

L berlari ke arah ruang kesehatan begitu mendapat informasi bahwa gadis yang terkena bola sepak tadi sudah berada di ruang kesehatan Seoul National University. Bagaimana L bisa tahu? Hanya dengan menjentikkan jarinya dan melafalkan sihir, L sudah bisa melacak lokasi Hanna. Dia seorang Elf, ingat?

“Hosh.. hosh..” nafas L terburu saat ia sudah sampai di depan ruang kesehatan itu. Sekilas ia dapat melihat seorang lelaki berkulit gelap menunggu di dalam.

‘Aish, kenapa aku merasa harus meminta maaf pada gadis itu?’ L mengacak rambutnya frustasi karena perasaan bersalah yang menyelimutinya. L menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya. Lelaki itu menggelengkan kepalanya pelan, masih berdebat dengan dirinya sendiri di dalam hati.

 

‘Kau harus meminta maaf padanya! Itu salahmu!’

Tapi itu tidak disengaja!

‘Tetap saja, kau harus meminta maaf Myungsoo’

 

L menghela nafas pelan saat bagian Elf di dalam dirinya menang. Bibir lelaki itu terbuka, melafalkan sihir miliknya. Tanpa Kai ketahui, L masuk ke dalam ruang kesehetan tersebut dan menaruh sebuah note berwarna biru yang sudah berada di tangannya ke dalam tas milik Hanna. L segera melafalkan sihirnya lagi setelah menaruh note biru itu, pergi dari ruang kesehatan tersebut tanpa melihat wajah Hanna.

 

End of Flashback

 

 

Yeah, aku ingin meminta maaf” L menggaruk kepalanya, berusaha menenangkan jantungnya yang berdebar kencang. Hanna hanya menganggukkan kepalanya mengerti, lalu memutar badannya beranjak meninggalkan L. Kedua mata L melebar melihat tingkah Hanna yang sudah berjalan menjauhinya.

What the..? You’re seriously something, girl” gumam L pelan dengan sebuah seringai di wajahnya, ia menggelengkan kepalanya pelan. L berlari di belakang Hanna, berusaha menggapai lengan gadis itu.

“Tunggu!” Hanna menolehkan kepalanya dan memberikan tatapan miliknya pada L saat lelaki itu memegang lengan Hanna. L menelan ludahnya, ia dapat merasakan rambut-rambut kecil di sekujur tubuhnya sekilas berdiri.

“Siapa namamu?” ‘hanya itu yang bisa kau katakan Myungsoo?’ L merutuk dalam hatinya. Kedua alis Hanna bertaut mendengar pertanyaan L. ‘Tidak mungkin aku memberitahukan namaku begitu saja pada orang asing seperti dia’, batin Hanna. Hanna ingin langsung pergi dan tak menjawab pertanyaan L, namun genggaman tangan L di lengan Hanna semakin kuat. Hanna memutar kedua bola matanya sekilas lalu menghela nafas.

 

“Hanna Park” ujar Hanna singkat, tak ingin berlama-lama dengan orang asing di depannya.

“Lepaskan lenganku. Aku harus pergi” Hanna menggerakkan lengannya, berusaha melepaskan genggaman tangan L.

“Kim Myungsoo” L menyebutkan namanya begitu genggamannya di lengan Hanna melonggar. Hanna memberi tatapan aku-tidak-bertanya-namamu pada L, namun lelaki itu hanya tersenyum membalas tatapan Hanna. Hanna menggelengkan kepalanya pelan, sebelum ia pergi meninggalkan L. ‘Luhan akan marah jika ia tahu ada seorang lelaki lagi yang tertarik padaku’, batin Hanna sambil menggelengkan kepalanya pelan.

“Hanna Park.. nama yang cantik” gumam L pelan. Kedua ujung bibir lelaki itu tertarik ke atas, membentuk sebuah senyum yang dapat melelehkan setiap perempuan yang melihatnya. ‘Kuharap kita bertemu lagi secepatnya, Hanna.’

 

***

 

 

“Hannaaaa!!” Hanna disambut dengan sebuah pelukan oleh Krystal begitu ia melangkahkan kakinya di Baskin Robin.

“Krys-tal!” “Oops, mian Hanna” Krystal tersenyum tiga jari pada sahabatnya itu setelah ia melepaskan pelukannya. Hanna memutar kedua bola matanya malas sambil menarik kursi, namun kedua ujung bibirnya tertarik ke atas sedikit.

“Hai Hanna!” Sehun menyapa Hanna riang yang dibalas anggukan oleh Hanna. Lay, Kai dan D.O bergantian menyapa Hanna. Hanna menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri, namun ia tidak menemukan sosok yang dicarinya.

“Mencari Luhan, eh? Dia sedang berada di mansionnya” ujar Kai yang duduk di sebelah Hanna. Hanna menganggukkan kepalanya pelan.

“Terima kasih tadi kau membawaku ke ruang kesehatan, meskipun sebenarnya kau tak perlu” alis Kai terangkat mendengar ucapan Hanna. ‘Tidak perlu?’, batin Kai. Sebuah seringai jahil muncul di wajah Kai.

“Tidak perlu? Kau yakin? Aku melihatmu terjatuh hanya karena sebuah bola sepak” ujar Kai yang membuat Hanna menatap tajam ke arahnya. Seringai di wajah Kai semakin melebar melihat respon Hanna.

“Aku tidak selemah itu, Kim Jongin” sahut Hanna. Kai mengedikkan kedua bahunya, “Ya ya ya, terserah apa katamu, Your Highness”. Hanna terdiam sebentar mendengar panggilan Kai untuknya, sebelum gadis itu membuang wajahnya dari Kai. Kai mengalungkan lengannya di pundak Hanna, seringai jahil tak pernah hilang dari wajahnya. “Hey, calm down Hanna. Kau harus terbiasa dipanggil seperti itu. Sebentar lagi kau akan menjadi ratu vampir, bukan?”

“Aku hanya seorang vampir biasa Kai” gumam Hanna pelan, berusaha menyembunyikan rasa malunya. Mulut Kai terbuka ingin menggoda Hanna lagi, namun niatnya langsung berubah menjadi debu begitu Luhan tiba-tiba menyingkirkan lengannya dari pundak Hanna dengan kasar.

“Jangan kau sentuh lagi soulmateku” ujar Luhan menatap tajam ke arah Kai. Kai mendecakkan lidahnya melihat tingkah Luhan. “Tenang saja, Crown Prince. Aku tahu pheromonesku lebih menarik darimu, tapi aku tidak tertarik pada gadismu.” Luhan menggeram pelan melihat sebuah seringai di wajah Kai. Ia tidak suka mengakui bahwa pheromones Kai memang bisa mengalahkan pheromones miliknya hampir di setiap saat. Hanna yang melihat kelakuan childish kedua vampir di sampingnya itu hanya menggelengkan kepalanya pelan.

 

“Hey, apa pesanan kalian? Biar aku yang pesankan” dé jàvu seketika menghampiri Hanna begitu Sehun berkata seperti itu. Untuk sesaat, meja itu diisi dengan keheningan, ada aura sedih yang menyelimuti mereka. Hal ini selalu terjadi setiap mereka datang ke tempat itu. Tempat di mana banyak kenangan mereka semua berada.

“Baekhyun..” lirih Krystal pelan seperti terbawa angin. Hanna melingkarkan lengannya di lengan Luhan, membuat namja di sebelahnya itu menoleh ke arahnya. Hanna menyandarkan kepalanya di pundak Luhan, helaan nafas terselip keluar dari bibir Luhan.

“Hey, Sehun Krystal. Cepat pesankan pesanan kami. Aku sudah sangat lapar” ujar Luhan memecah keheningan. Sehun dan Krystal bangkit dari tempat duduk mereka, lalu berjalan ke arah counter. Kai, D.O, dan Lay tersenyum pada Luhan, seakan-akan berkata terima-kasih, yang hanya dibalas dengan anggukan oleh Luhan.  Luhan menoleh lagi pada gadisnya yang masih memeluk lengannya.

“Kenapa kau baru datang?” pertanyaan Hanna membuat kedua alis Luhan bertaut. ‘Apa mak—ah, aku terlambat datang kemari’, batin Luhan begitu menyadari maksud dari pertanyaan Hanna. Luhan menggoyangkan lengannya pelan, “Kau tahu, lelaki tampan di sebelahmu ini sebentar lagi akan menjadi pemimpin para vampir bukan? Tentu saja aku sibuk, sweety” Hanna menatap Luhan dengan malas, lalu menggelengkan kepalanya. “Narsis” ujar Hanna singkat. Luhan mengangkat kedua bahunya, sebuah senyum usil terpampang jelas di wajahnya.

“Meskipun begitu kau tetap mencintaiku bukan?”

Your wish

“Ouch, I’m hurt. Kenapa kau tega sekali Hanna? Kau tahu aku tidak bisa hidup tanpamu. Aku hanya bisa mencintaimu seumur hidupku” senyum jenaka di wajah Luhan semakin lebar, membuat Hanna mendecakkan lidahnya. “Sweet talker. Kenapa kau tidak pernah berubah Lu Han?”

Luhan mengendikkan kedua bahunya acuh. Hanna menghela nafas, Luhan belum menjawab pertanyaannya. Gadis itu menyikut pelan tubuh Luhan, memberi isyarat agar Luhan menjawab pertanyaannya dengan serius.

“Apa yang kau lakukan di mansionmu?” tatapan Luhan melembut melihat wajah Hanna yang penuh dengan perhatian. Luhan mengacak pelan rambut di puncak kepala Hanna, sebelum sebuah senyum lemah terbentuk di wajahnya.

“Ayahku ingin bertemu denganku, dan.. Kris” Hanna menganggukkan kepalanya mengerti begitu nama Kris keluar dari bibir Luhan. Ia tahu bahwa Luhan sangat membenci Kris, namun lelaki itu masih harus terus menerus memeriksa kondisi Kris dari waktu ke waktu.

Cheer up, playboy. Don’t be too preoccupied with that” ujar Hanna memberikan senyuman terbaik miliknya pada Luhan. Berharap Luhan akan merasa lebih baik dan tidak terlalu memikirkan Kris.

Yeah, sure. Your Highness” ujar Luhan, mengecup sekilas bibir Hanna.

 

***

Sebelumnya, di kediaman keluarga Lu

 

 

 

“Luhan”

“Ya aboeji? Ada apa?” Luhan duduk di sofa yang berada di dalam ruangan ayahnya. Kedua alis Luhan terangkat melihat ekspresi keras yang terpampang di wajah Mr. Lu. Luhan mulai merasa tidak tenang duduk di atas sofa berwarna merah itu. Instingnya mengatakan bahwa akan ada sesuatu yang terjadi lagi.

Werewolf” lirih Mr. Lu pelan. Tubuh Luhan menegang saat kata-kata itu terselip keluar dari bibir ayahnya. Waktu seperti terhenti begitu saja. Luhan menggelengkan kepalanya. Ia pasti salah dengar bukan? Werewolf? Untuk apa mereka muncul lagi?

Seakan bisa membaca pikiran Luhan, Mr. Lu menghela nafas sebelum berbicara lagi.

“Mereka akan datang, Luhan. Mereka ingin membalaskan dendam nenek moyang mereka terhadap kita.” Mr. Lu memijat pelan kedua pelipisnya. Ia merasa lelah dengan semua tanggung jawab yang ia panggul. Ia merasa sudah waktunya untuk menurunkan tahta miliknya pada Luhan, namun ia harus bersabar sebentar lagi sampai Luhan lulus dengan topi sarjana di atas kepalanya.

“Ka..pan? Kena..pa?” lirih Luhan pelan. Tatapan Mr. Lu melembut melihat ekspresi wajah Luhan yang tampak clueless dan helpless. Luhan terlihat seperti tersesat di sebuah labirin yang rumit.

“Aku tidak tahu. Mereka belum datang, tapi mereka akan datang dalam waktu dekat. Kita harus waspada. Beritahu Sehun, Lay, Kai dan D.O untuk selalu siaga. Karena mereka dapat datang kapan saja” Mr. Lu bangkit dari tempat duduknya, berjalan menghampiri Luhan yang masih terlihat linglung. Vampir dengan usia yang sudah berkepala 30 itu menepuk pelan pundak Luhan, membuat Luhan mendongakkan kepalanya.

“Jangan khawatir, Luhan. Aku tahu kau bisa mengatasi mereka jika mereka benar-benar datang. Tenanglah” ujar Mr. Lu tersenyum pada anaknya itu. Luhan menganggukkan kepalanya pelan, “Terima kasih, abeoji. Aku akan selalu waspada” Luhan tersenyum tipis pada ayahnya, memberi isyarat ia akan baik-baik saja.

 

Mr. Lu duduk melangkahkan kakinya ke sebelah Luhan, lalu duduk di atas sofa berwarna merah itu. Matanya menerawang ke atas langit-langit, “Bagaimana kabar Kris?”

Kedua mata Luhan terbelalak untuk beberapa saat.

 

‘Kris? Ah, aku hampir lupa dengannya.’

 

“Dia baik-baik saja. Namun aku belum sempat pergi melihatnya lagi semenjak bulan lalu, abeoji” Mr. Lu hanya menganggukkan kepalanya dalam diam mendengar ucapan Luhan. Luhan yang melihat sekilas tatapan khawatir di wajah ayahnya, menghela nafas. Sebenarnya ia benci harus selalu memeriksa keadaan Kris dan tak boleh membunuh Kris. Ia benci pada Kris yang telah mempermainkan Hanna dan membunuh Baekhyun. Namun ia tidak bisa membunuh Kris begitu saja seperti ia membunuh teman-teman Kris. Bagaimanapun Kris masih sepupunya, bukan?

 

“Aku akan pergi melihat Kris sekarang. Aku pamit, abeoji” dengan begitu Luhan beranjak dari sofa dan melangkahkan kakinya keluar dari ruangan ayahnya. Luhan berjalan dengan langkah berat ke ruang bawah tanah, di mana Kris dikurung dengan penjagaan dan pengamanan yang ketat. Satu persatu anak tangga terlewati oleh Luhan, membawanya semakin dekat dengan keberadaan Kris. Di depan jeruji besi di mana Kris dikurung, terlihat dua orang vampir yang tengah berjaga.

 

Your Highness” mereka membungkukkan badan mereka pada Luhan. Luhan menganggukkan kepalanya pelan, “Aku ingin melihatnya”. Kedua vampir penjaga itu segera membuka jeruji besi  di hadapan Luhan.

‘Kau bisa menahan emosimu, kau bisa Lu Han!’

 

“Kau datang?” sebuah senyum mengejek terlihat jelas di wajah Kris begitu Luhan menampakkan batang hidungnya di depan Kris. Sebelah alis Luhan terangkat, tatapan Luhan menjadi dingin. Luhan menatap namja tinggi di hadapannya itu dengan tatapan benci.

Yeah, what do you expect?” ujar Luhan dengan nada mengejek. Bibir Luhan melengkung ke atas sebelum ia membalikkan badannya dan berjalan keluar dari ruangan gelap yang dikelilingi jeruji besi itu.

Hope we’ll meet again, soon Lu Han. Tunggu pembalasanku” lirih Kris menyeringai.

 

***

 

 

“Sungjong! Turunkan vas itu!” wajah Sunggyu merah padam melihat vas bunga yang tengah melayang di tengah-tengah rumah mereka. Sungjong yang sedang bermain dengan vas bunga itu hanya mengendikkan kedua bahunya acuh, tidak memperdulikan sahutan Sunggyu. Sunggyu memutar kedua bola matanya malas sebelum ia duduk di sofa. Sebuah helaan nafas terselip keluar dari bibir Elf itu, membuat L yang duduk di sebelahnya memiringkan kepalanya ke arah Sunggyu.

“Aku bosan” ujar Sunggyu singkat, menjawab ekspresi L yang diberikan padanya. L menganggukkan kepalanya pelan, “Aku juga”.

“Aku juga”

Me too!”

Yeah..

Sahutan demi sahutan tiba-tiba terdengar dari berbagai sudut rumah berwarna putih itu, ikut menyatakan kebosanan yang menyelimuti mereka semua.

“Apakah kita tak ada jadwal ke kampus hari ini?” tanya Woohyun yang tiba-tiba sudah berada di sebelah Sunggyu. Sunggyu mengangkat kedua bahunya, “Tidak ada, mungkin?” jawab Sunggyu tidak yakin. Bibir L melengkung ke atas mendengar ucapan Sunggyu. Kedua bola mata Elf tampan itu mengerling gembira.

“Aku ada kelas hari ini. So, goodbye losers” ujar L beranjak dari posisi duduknya. L menjentikkan jarinya sekali, dan sebuah tas sudah terselempang di badannya. L melangkahkan kakinya keluar dari rumah tersebut.

“Kuharap hari ini aku akan bertemu denganmu, Hanna Park” sebuah senyum lembut muncul di wajah L seiring dengan matanya yang menerawang ke langit-langit. Ntah mengapa ia mempunyai firasat ia akan bertemu lagi dengan Hanna pada hari itu.

Tangan L menyentuh dada sebelah kirinya, merasakan jantungnya yang berdetak cepat hanya karena sebuah nama. L tersenyum sekilas sekali lagi, sebelum ia melafalkan sihirnya dan menghilang terbawa angin.

 

 

 

 

———————————

A.N.: Hiyaaaa! Mianhaaaee >< ini part 1 keluarnya lama banget T^T

Dan seperti biasa… maaf alurnya cepeet ;___; sama kayak target yang pertama, aku ga berniat target II ini bakalan panjang chapnya.. maafkan aku ;___;

Trus makasih banget chingudeul responnya di intro kemarin :’) aku terharu bangeet makasiiih {}{}

Semoga part ini ga mengecewakan *amiiin :’)

 

 

 

68 responses to “TARGET II – 1

  1. woaaaaa aku baru baca author …
    seperti biasa ceritanya tetap menarik dan asiik ,, ok aku bakal teleport ke part selanjutnya^^

  2. kris force bound blood ama luhankan ya?
    mati enggakknya trgntung luhan donk???
    ckhkck
    lagi sih pake trbawa dendammmm >„<

  3. wah myungsoo suka hanna?? harus hati”nih.. luhan entar ngamuk wkk..
    luhan kayaknya di part ini dann selanjutnya bakal lebih protektif ke si hanna wkk..
    next thor.. ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s