Family Battle [ Chapter 1A — Kim vs Lee Family ]

Family Battle—Stroyline by AlinePark @angiiewijaya—

Main Cast

Kim Mi Jung [OC’s] as First Daughter from Kim Family
Lee Byung Hun or L.Joe [Teen Top] as Lee Byung Hun, First Son from Lee Family

Other Cast

Kim Myung Soo or L [Infinite] as Kim Myung Soo, First Son (Eldest) from Kim Family
Kim Ah Young or Yura [Girl’s Day] as Ah Young or Yura
Son Na Eun [A-Pink] as Kim Na Eun, Second Daughter from Kim Family
Lee Tae Min [SHINee] as Lee Tae Min, Second Son from Lee Family
Jung Soo Jung or Krystal [F(x)] as Krystal Kim, Third Daughter from Kim Family
Lee Ho Won or Hoya [Infinite] as Lee Ho Won or Hoya, Myung Soo’s Classmate
Kim Dong Jun [ZE:A] as Kim Dong Jun

Park Cho Rong [A-Pink] as Park Cho Rong or Mrs. Kim, Mi Jung’s Mother
Jung Soo Yeon or Jessica [SNSD] as Jessica Jung or Mrs. Lee, Byung Hyun’s Mother
Yoon Doo Joon [Beast] as Kim Doo Joon, Mi Jung’s Father

Cha Hak Yeon or N [VIXX] as Cha Hak Yeon, Myung Soo’s Classmate
Park So Jin [Girl’s Day] as Park So Jin, History Teacher
Jung Hye Rim or Jung Eun Ji [A-Pink] as Jung Eun Ji, Math Teacher
Jung Taek Woon or Leo [VIXX] as Jung Taek Woon, Myung Soo’s Classmate

Genre
Romance, etc.

Length
Series

Rating
Teenager

Family Battle
Chapter 1A — Kim vs Lee Family

Happy Reading

Wanita itu masuk ke dalam sebuah ruangan, dan mendapati seseorang yang sedang tidur di atas ranjang dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Wanita itu berjalan ke dekat jendela, yang berada di samping ranjang. Seketika, sinar matahari masuk ke dalam ruangan itu dan selimut langsung bergerak-gerak (?)

“HEH! CEPET BANGUN KIM MYUNG SOO! ENGGAK LIAT JAM BERAPA?!” teriak wanita itu, sukses membuat orang yang di dalam selimut langsung keluar. Oh, iya, tadi orangnya yang gerak, makanya selimutnya gerak (?)

Si laki-laki ganteng ini langsung ngeliat ke arah jam. Jam menunjukkan pukul tujuh pagi. “Baru jam tujuh, masih ngantuk tahu.”

“SEKOLAH MYUNGGGG, SEKOLAHHHH!” teriak wanita itu (lagi). “Aduh, anak gue ganteng, tapi kok begini.” gumamnya, sambil memijat-mijat keningnya.

“Hah? Kenapa? Aku ganteng ya tadi eomma bilang?” tanya Myung Soo.

“Serah!” jawab wanita yang dipanggil eomma itu, Cho Rong. “Udah mandi sana cepetan, daripada telat, kan kalo abis tiga kali telat kamu bisa dipulangin, terus dapet surat peringatan. Jangan sampe kamu telat meskipun cuma sekali.”

Seketika Myung Soo diam membeku dan eomma-nya keluar dari kamarnya.

“Aduh mampus, gue udah dua kali telat, belom ngasih tahu ya.” gumamnya.

Mari pindah tempat.

“EHH, JEPIT GUE MANA?! KRYSTAL, LO AMBIL LAGI YA?! KAYAK GA PUNYA JEPIT AJA SIH LU!” teriak seorang gadis dari dalam ruangan.

“EH, ENAK AJA NUDUH! AKU GA AMBIL TAHU!” jawab seorang gadis, yang juga berada di ruangan yang sama.

Cho Rong yang baru keluar dari kamar Myung Soo, langsung denger suara itu dan langsung menghela nafas penuh kepasrahan. Mendengar suara dua orang gadis yang sangat dikenalinya itu, menjadi salah satu daftar kesehariannya setiap pagi. Perjuangan seorang ibu memang ..

“Yeobooo! Pakein dasi dong, ribet nih!”

Lagi-lagi, helaan nafas penuh kepasrahan dikeluarkan lagi oleh Cho Rong. Yang satu ini, juga masuk ke dalam daftar kesehariannya setiap pagi. Dengan langkah yang disentak-sentak, Cho Rong pergi ke ruangan, di mana pria itu berteriak.

Di sana, dia langsung nemuin seorang pria ‘sehidup-sematinya’ (suami maksudnya) lagi coba ngiket-ngiket dasi. Cho Rong mendekat ke arah pria itu.

“Hailah, musti belajar berapa tahun lagi sih buat ngiket dasi? Dari SMP gabisa-bisa perasaan deh.” kata Cho Rong, mengungkapkan aib dari suaminya itu, Doo Joon.

“Aishh, yeobo galak banget sih. Meski aku gabisa pake dasi, yang penting kan aku bisa iket hati kamu… Adaww! Kok kenceng banget ngiketnya?!”

“BODO! MAKAN NOH GOMBAL-GEMBEL!” jawab Cho Rong ketus, kemudian keluar dari kamar. Ia kemudian menuruni tangga, saking ga kuatnya berada di lantai atas. Kakinya membawanya ke meja makan, karena perutnya mendadak laper dan pengen sarapan. Sesampainya di sana, dia langsung nemuin seorang gadis berambut hitam panjang, yang lagi makan sepiring nasi goreng. Sesekali, tangannya menyingkirkan rambut belahannya itu. Cho Rong langsung menghampiri gadis itu.

“Pagi Mi Jung~” sapanya, sambil mengecup pipi gadis itu dari belakang.

“Ah, pagi eomma!” sapa gadis itu balik, baru menyadari kehadiran Cho Rong. Ya, gadis itu adalah Kim Mi Jung.

Cho Rong langsung duduk di depan Mi Jung, dan mengambil sepiring nasi goreng. Mi Jung melihat ke sekeliling.

“Yang lain mana?”

“Biasalah.” jawab Cho Rong, sambil memutarkan bola matanya. Mi Jung bisa membaca pikiran ibunya itu. Cho Rong mulai memakan nasi goreng di hadapannya.

“Eomma.” panggil Mi Jung tiba-tiba.

“Hm?”

“Ulangan Fisika minggu lalu aku dapet…,” Mi Jung menggantungkan kalimatnya sambil nyengir. “40.”

UHUK!!

Cho Rong langsung keselek sendok denger pernyataan putrinya itu.

“Aduh eomma, kalo laper jangan makan sendoknya juga!” kata Mi Jung dengan polosnya.

“Ini gara-gara kamu!” jawab Cho Rong, yang ternyata lehernya ga keganggu setelah sendok mendaftar diri menjadi yang akan dicerna.

“Lah, kok aku? Emang aku kenapa?”

“Ya masa dapet 40? Malu-maluin banget! Kebanyakkan nonton bola sih! Ujung-ujungnya juga MU yang kalah kan sama MC! Biarkan saja MC menang, yang penting eomma menang taruhan.” jawab Cho Rong, yang menyalahkan anaknya nonton bola, padahal emaknya pasang taruhan ..

“HAH?! MAMA TARUHAN?!” teriak Mi Jung, dengan mulut penuh nasi goreng. Bau kecap, telor, bawang, cabe, tercium sangat tajam.

“Enggak pake duit kok,” jawab Cho Rong. “waktu itu nemu kupon diskon tas Gue*s bareng si Jessica tuh, terus rebutan. Akhirnya, kita mutusin buat MU lawan MC yang menentukan. Eomma pilih MC, jadinya dapet deh~”

“Yailah, kupon diskon di jalan doang ternyata. Kalo misalnya duit kan, bisa minta uang jajan tambahan. Bisa beli jersey deh.” gumam Mi Jung, yang nyaris aja kesenengan, udah ngebayangin lemarinya ditambah satu jersey lagi.

Setelah percakapan emak dan anak itu, muncullah gerombolan yang lainnya dari lantai atas. Doo Joon si kepala keluarga muncul pertama dengan kecenya—meski gabisa ngiket dasi—. Kemudian disusul oleh dua gadis yang penampilannya nyolok banget. Yang satu, bandonya ijo muda terang, jamnya juga, softlens-nya juga, komplit ijo semua deh, tapi badannya untung enggak. Kalo yang satu, mirip-mirip, cuma serba pink, terus dikuncir, kuncirannya warna pink. Nah, yang terakhir adalah si cowok ganteng Myung Soo. Dia muncul dengan gaya muka ngantuk, rambutnya acak-acakkan, dasinya belom dipake. Sayang ganteng-ganteng begini ..

Tanpa nyapa Cho Rong maupun Mi Jung, mereka langsung duduk di meja makan buat menyantap nasi goreng yang tersedia.

“Eomma! Masa jepit aku diambil lagi sama Krystal! Jepit manik-manik pink kan favorit aku!” ujar si gadis yang dikuncir dan serba pink, Na Eun.

“Enak aja! Aku ga ambil jepit kamu tahu!” jawab gadis yang bernama Krystal, alias yang aksesorisnya serba ijo.

“Ya kalo ilang mah tinggal beli lagi.” jawab Cho Rong, kewalahan menghadapi dua putrinya ini.

“Eh, apaan yang ilang? Jepit manik-manik pinknya Na Eun? Kayaknya di kamar gue tuh.” ceplos Myung Soo tiba-tiba.

“Hah?! Kok bisa di kamar oppa?!” tanya Na Eun, shock.

“Nyolong kali, buat kerja malem.” jawab Mi Jung asal. Myung Soo langsung mau lempar nasi goreng ke arah adeknya itu, sedangkan adeknya malah buka mulut, berharap nasi gorengnya masuk ke dalem.

“Kamu kerja malem beneran?” tanya Doo Joon, dengan mata melotot.

“Enggaklah! Masa orang ganteng kerja gituan.” jawab Myung Soo.

“Hailah pede banget.” ujar Doo Joon.

“Tapi kan emang ganteng, kayak appa-nya.” jawab Myung Soo, modus. Doo Joon pose.

“Eh, udah ah, gajelas banget pagi-pagi!” ceplos Na Eun. “Emang kenapa bisa di kamar oppa sih? Aku aja ga inget apa-apa.”

“Kan waktu itu lu minta diajarin Matematika gara-gara si Mi Jung kagak bisa ngajarin begituan. Saking stressnya, lu lepas jepit lu, rambut lu diacak-acakkin kayak singa. Terus ketiduran, musti gue yang gendong. Berat banget tau ga badan lu.” jawab Myung Soo panjang lebar. Na Eun manyunin bibir, ngambek dibilang berat.

“Yailah Eun, lu mah emang udah ditakdirin berat. Gua aja lebih ringan dari lu.” ceplos Mi Jung, yang udah selese makan.

“Turunan eomma-nya si Na Eun..” jawab Doo Joon. Cho Rong natep garong, eh garang.

Mi Jung yang takut liat tatepan mata emaknya langsung nyengir. “Ah, udah ya, mau berangkat. Suasananya mendadak gaenak.”

Akhirnya, ia langsung meninggalkan meja makan dan pergi ke ruang tamu. Di sana, ia langsung memakai sepatunya dengan cepat. Selesai, ia langsung keluar dari rumahnya dan berniat untuk berjalan ke sekolah.

“Woi, Jung!”

Ketika di perjalanan, Mi Jung denger teriakkan seseorang dari belakang. Ia langsung menoleh ke belakang dan mendapati tiga orang laki-laki dengan seragam yang sama kayak dia. Tiga orang itu nyamperin dia.

“Eh, Jung, katanya ada murid baru, cewek!” kata si cowok yang mukanya agak unyu-unyu gitu, Jong Kok, eh Jung Kook.

“Lah, terus kenapa?” tanya Mi Jung, sambil terus jalan.

“Ya kan bisa aja cakep Jung! Lumayan kan, bisa aja ntar lebih dari temen, ya gak, ya gak?” jawab Jung Kook, dijawab oleh anggukan dari dua orang lainnya.

“Lu pada mikirnya cewek mulu ye! Ntar, lu bertiga naksir, terus entar berantem rebutin cewek lagi!” kata Mi Jung, sambil menunjukkan jari telunjuknya ke arah mereka bertiga.

“Yee, sirik ya lu Jung ntar ada saingannya?” kata satu orang lainnya, yang mempunyai rambut berwarna coklat, Sang Hyuk.

“Sirik? Ngapain dah! Lu kira gua kayak adek gua gitu?! Ga elit banget!” jawab Mi Jung, sambil bayangin Na Eun sama Krystal dengan gaya centil mereka.

Ok, mari kita skip bagian perjalanan. Sekarang, empat manusia itu sudah sampai di dalam kelas. Pas banget langsung bel ketika masuk. Jika biasanya setelah bel mereka masih ribut, kali ini enggak. Seorang wanita berambut panjang coklat plus poni ke depannya, masuk ke dalam kelas dengan anggunnya. Semua murid pun langsung duduk manis di tempatnya masing-masing.

“Selamat pagi semuanya.” sapanya, tidak lupa senyum mautnya (?) itu.

“Pagi Ms. Jung.” jawab anak-anak serempak. Kenapa ga panggilnya ‘songsaenim’? Si guru itu sendirilah yang minta, dengan alasan suka dipanggil ‘Ms’. Jung? Sudah ditebak, Jung Eun Ji si guru Matematika plus wali kelas dari kelasnya Mi Jung.

“Nah, pagi ini, kita punya berita penting,” ujar Eun Ji, sambil duduk di atas meja—udah khasnya dia—sambil menompang paha kanannya di paha kiri plus tangannya disilangkan di depan dada. “akan ada anak baru di kelas kita.”

“Wuihh, bener kan Jung, ada anak baru!” kata cowok tinggi nan item (?) yang duduk di belakang Mi Jung.

“Hailaih Kaitem, semangat amat lu.” jawab Mi Jung kepada temannya itu, Kai.

“Masuk!” kata Eun Ji.

Akhirnya, seorang gadis masuk ke dalam kelas. Yang cowok-cowok matanya langsung berbinar-binar ngeliatin itu cewek. Kai udah ngiler ampe banjir ke tempat Mi Jung. Setelah itu, si murid baru berdiri di depan kelas.

“Annyeong haseyo! Yura imnida! Mulai sekarang, aku akan bersekolah di sini! Mohon bantuannya!” katanya, sambil membungkukkan tubuhnya. Ternyata, namanya adalah Yura.

Yang cowok-cowok ngangguk-ngangguk serempak kayak dihipnotis. Yaiyalah gimana ga terpesona liat itu murid baru. Rambut panjang hitam plus poni, senyumnya merekah manis banget, kulitnya putih. Kakinya? Beuhh, mulusss.

“Yaudah, kamu duduk di samping sa—Kai! Jangan bikin kelas banjir!” baru aja Eun Ji pengen nunjukkin kursi kosong di depan Mi Jung, dia langsung liat lautan di lantai daerah sana. Para penduduk, eh murid-murid di sekitar udah pada ngangkat kakinya. Jung Kook yang kasian sama temennya langsung berusaha menampung banjir dari mulut temennya itu pake baskom—yang entah diambil darimana—.

“Yaudah, kamu duduk aja sekarang. Tempat kamu enggak kena banjir kok.” ujar Eun Ji.

Yura ngangguk. Meski dia sebenernya risih juga, masa bisa-bisanya orang ngiler sampe banjir. Akhirnya, dia langsung jalan dan duduk di tempat kosong yang ditunjukkin, dan itu ada di samping kanan Mi Jung. Kai makin gabisa tahan ilernya.

Nah, mari kita beralih, dari kelas 11-A, kelas Mi Jung, ke kelas 12-D, kelas Myung Soo. Di sana, udah ada guru yang gayanya ga jauh beda dari Eun Ji, anggun-anggun gimanaaa gitu. Dia baru aja mau nyuruh murid-murid buka buku, masuklah seseorang dari luar. Orang itu langsung diem membeku, ketika sadar bahwa udah ada guru di dalam kelas.

“Ahh—maaf saya telat Park Songsaenim.”

Guru yang dipanggil Park Songsaenim, alias Park So Jin, langsung berkacak pinggang. Dia natep Myung Soo tajem. “Kamu ini ya! Kenapa kamu telat lagi?!”

“Gara-gara adek saya Songsaenim.” jawab Myung Soo sambil nunduk.

Setelah sarapan, si Na Eun ke kamar Myung Soo buat ambil jepitan dan musti ganti jepitan dulu. Pastinya enggak dalam jangka waktu yang singkat. Setiap harinya, Myung Soo emang nganterin dua adeknya, karena adeknya gasuka jalan kaki dan maunya naik mobil. Karena bokapnya kerja, jadilah Myung Soo disuruh bawa mobil, meski dia lebih suka jalan kaki. Percuma bawa mobil tapi disuruh nungguin adeknya lama-lama.

“Mana surat izin masuk dari guru piket?” tanya So Jin, sambil menyodorkan tangannya. Myung Soo kasih surat izin masuknya. “Inget ya, tandanya, kamu udah ga punya kesempatan lagi Myung Soo, karena kamu udah telat tiga kali. Makanya, kayak Taek Woon dong, disiplin.” tambah So Jin, sambil mamerin murid kesayangan nan tercintanya, Jung Taek Woon. Myung Soo cuma ngangguk. Mau ngakak sebenernya salah satu temen deketnya itu ditaksir berat sama guru Sejarah sekaligus wali kelasnya.

“Yaudah, duduk kamu sana. Jangan bikin jam pelajaran kita berkurang.” perintah So Jin. Myung Soo pun cuma jalan ke tempat duduknya.

Pas udah duduk di tempatnya, bukannya ngeluarin buku Sejarah, dia malah langsung ngadep ke belakang. Di belakangnya udah ada Taek Woon yang lagi pura-pura ga denger ejekkan dari temen di sampingnya. Cha Hak Yeon. Itulah nama orang yang ada di samping Taek Woon.

“Woon, lu serius amat sih. Lagi merhatiin pelajaran atau gurunya?” ejek Hak Yeon, sambil nahan ngakak.

“Tau Woon. Jangan salting dong Woon lu dipuji begitu.” ikut Myung Soo.

“HEH! MYUNG SOO! UDAH TELAT MASIH BERISIK! HAK YEON JUGA! UDAH KETUA KELAS, MALAH GA BECUS!” teriak So Jin tiba-tiba. Sontak, dua manusia yang sebelumnya sibuk ngejekkin Taek Woon langsung liat ke arah depan. Perhatian para murid pun langsung ke arah mereka berdua. Sedangkan laki-laki yang berada di pojok, lagi nahan ketawa ngeliat dua temen sekelasnya itu dimarahin ama So Jin.

“Maaf Songsaenim.” kata Myung Soo sama Hak Yeon berbarengan.

“Kalian jangan ganggu temen-temen kalian yang mau belajar ya!” tegas So Jin, yang kemudian kembali menerangkan pelajaran.

“Yailah, temen-temen atau Taek Woon doang.” gumam Hak Yeon. Myung Soo cekikikkan. Taek Woon diem.

Nah, Taek Woon ini emang cuma diem aja kalo udah diejekkin temen-temennya. Dia serius ke depan karena emang mau serius belajar, bukan mau liatin So Jin. Dia ini emang flatttt banget. Tatapannya tajem. Banyak anak-anak cowok takut sama dia. Tapi, dia sebenernya baik kok, pipinya tembem-tembem gituuuu. Tapi, emang jarang keliatan senyum, flat, dan irit ngomong.

“APA TADI KATAMU HAK YEON?!” teriak So Jin, yang ternyata mendengar kalimat terakhir dari Hak Yeon.

Yura jalan sendirian ke kantin, karena dia emang belum ada temen sama sekali. Beberapa temen cewek pada menghilang termasuk Mi Jung. Beberapa malah ngejauhin dia gara-gara ngiri si Yura ini cantik. Sebenernya masih ada cowok-cowok, tapi dia gamau.

Baru aja dia pengen masuk ke dalam kantin ..

BUARRR!

“HAHAHAHA”

Tubuh Yura udah basah gara-gara disiram oleh murid-murid dari lantai atas. Yura mulai emosi dengan perlakuan yang dia dapetin. Baru aja dia pengen marahin, tiba-tiba, ada seseorang berdiri di sampingnya sambil marah-marah ke arah atas.

“EH, WOY TAE MIN! BANCI BANGET SIH LU NYIREM-NYIREM ANAK ORANG! SINI LO KALO BERANI, LAWAN GUE!” teriak itu cowok.

Yura mendadak diem. Tae Min? Aku ga salah denger kan?

Anak-anak kelas 11-B langsung ngacir denger teriakkan itu cowok. Dong Jun.

Dong Jun langsung noleh ke arah Yura. Dia nyengir kambing. “Eh, kamu anak baru ya? Duh, emang tuh pada suka jail bia—“

“Apaan sih nolong-nolong aku! Kenal aja enggak!” kata Yura, yang emang gasuka aja dari cara ngomong Dong Jun. Akhirnya dia pergi ninggalin Dong Jung.

Tae Min ya. Familiar.

Seperti biasa. Myung Soo and the gang, makan siang di kantin. Oh, ya, anggotanya juga ada cowok yang namanya Lee Ho Won atau biasa dipanggil Hoya. Dia ini cowok yang tahan ngakak dipojokkan pas Myung Soo sama Hak Yeon dimarahin So Jin.

“Eh, katanya ada anak baru loh!” kata Hak Yeon, mulai pembicaraan.

“Hah? Iye?! Siape-siape?!” tanya Myung Soo, semangat.

“Gua gatau namanya. Adek kelas sih, katanya cakep, tapi masuk kelas adek lu.” jawab Hak Yeon, sambil ngunyah.

“Kok bisa sih masuk C? Aneh.” jawab Myung Soo.

Hak Yeon angkat bahu. Taek Woon cuma diem, dengerin pembicaraan kedua temennya. Hoya bengong sambil makan.

“Woy! Nape lu Ya?! Siang-siang bengong!” kata Hak Yeon, sambil nepuk pundak temennya itu.

“Hoh?” jawab Hoya. Kali ini, dia lagi liatin ke arah yang lain.

Hak Yeon yang penasaran, langsung liat ke arah yang dilihat Hoya. Ternyata, ada cewek lagi jalan gitu ke kantin. Dia sendirian. Semacam, kayak gaada temennya.

“Wuihh, siapa tuh? Cakep banget! Kok gue belum pernah liat ya?” ujar Hak Yeon. Myung Soo ikut-ikutan liat.

“Anak baru. Yura namanya.” jawab Hoya, sambil masih liatin itu cewek.

“Hah? Yang masuk kelas adek gue?” tanya Myung Soo.

“Gatau deh,” jawab Hoya. “masa tampang begitu bisa masuk ke kelas A? Ga banget.”

“Yee, bisa aja kali. Cewek-cewek kelas C tuh justru cakep-cakep kalo lu perhatiin. Cuma karena emang nilainya anjlok-anjlok kali, makanya bisa masuk situ.” jawab Hak Yeon.

Myung Soo diem, mikirin nasib adeknya. Emang, di sekolah mereka, ada pembagian kelas-kelas. A itu biasa aja, tapi rata-rata kelas A manapun pasti kompak. Kalo kelas B, adalah kelas yang otaknya ‘wow-wow’ tapi paling dibenci. Kalo D itu kelas paling bagus, meski bukan pinter teori, mereka rata-rata praktek atau di talenta pinternya. Misalkan, pelajaran IPA mereka jago praktek dan lebih bagus buat disuruh lomba daripada B. Terus, rata-rata pada pinter olahraga sama musik. Ya contohnya itu adalah Myung Soo. Dari pergaulan, mereka pun bisa bergaul sama siapa aja.

Nah, kalo C, mereka termasuk agak buangan karena nilai mereka rata-rata di bawah KKM. Tapi, di antara kelas C lainnya, kelas Mi Jung yang paling parah. Mereka bisa aja ga ikut pelajaran sesuka mereka, keluar dan pergi. Banyak guru yang jauh lebih baik mengundurkan diri daripada dipaksa jadi wali kelas dari kelas Mi Jung. Cuma Eun Ji yang bisa nerima mereka semua dan emang kelas mereka paling suka sama Eun Ji, meski pelajaran yang diajarin itu Matematika. Mereka sama sekali enggak pernah kabur dari pelajaran guru itu. Yang membingungkan, gaada yang tahu apa alesan Eun Ji mau jadi wali kelas dari 11-C.

“HAHAHAHA”

Tiba-tiba, kedengeran ketawa kenceng banget dari arah ujung kantin. Semua pun langsung nengok, termasuk Myung Soo, dkk. Ternyata, Yura yang baru aja diperhatiin Hoya, tubuhnya udah basah dan di atas ada beberapa murid yang lagi megang ember. Ternyata, mereka jugalah yang lagi ketawa kenceng-kenceng.

“Eh, itu anak 11-B ya yang nyiremin si Yura?” kata Hak Yeon.

Hoya merhatiin ke atas. “Iya 11-B! Ada si Tae Min tuh! Wah, udah main rusuh aja.” kata Hoya, sambil siap-siap berdiri mau nolongin Yura. Tapi, ada sosok lain (?) yang udah nyamperin Yura. Dia keliatannya marah-marahin para anak-anak kelas 11-B, termasuk Tae Min.

“Ya, lu kalah cepet. Si Dong Jun dateng duluan.” kata Myung Soo, yang sadar kalo si Hoya mau nolongin Yura.

Hoya duduk lagi. “Tau tuh! Sok jadi jagoan banget! Maen futsal aja maennya nge-kick melulu!” kata Hoya, penuh amarah.

“Emang rese tuh anak-anak kelas 12-B. Anak-anak kelas B emang rese, mau yang manapun. Apalagi si Byung Hun tuh. Beuhh, apa banget Matematika gua kalah sama dia. Adeknya juga tuh si Tae Min, pake bully anak orang.” jawab Myung Soo, yang malah keikut emosi juga.

Tiba-tiba, mereka liat si Yura marah-marah ke Dong Jun. Seketika Hoya ngakak.

“Bahh, mampus noh! Gaya kepedean ditolak juga!” teriak Hoya.

“Lu seneng banget. Naksir ya?” tanya Taek Woon, yang akhirnya angkat bicara juga. Daritadi, dia keheranan sama sifat Hoya.

“Eh? Enggaklah! Gue kan cuma seneng aja si Dong Jun ditolak begitu.” jawab Hoya, salting.

“Yee, boong aja lu! Kalo gitu mah, ngapain lu daritadi merhatiin itu cewek. Malah pengen nolongin lagi.” ceplos Myung Soo. Hak Yeon ngangguk.

“Ehh—ya gue kan cuma pengen nolongin. Lu tau kan, gue paling kesel sama anak-anak kelas B manapun.” jawab Hoya, makin salting.

Setelah selesai makan, mereka bubaran pisah-pisah. Karena masih ada waktu dan daripada bosen, Myung Soo milih buat jalan ke depan gudang. Di sana ada batasan yang menghadap ke arah lapangan, tempat sepi yang enak buat bengong.

Mengira gaada orang, ternyata ada sesosok  orang yang bisa dia liat. Seorang cewek sekilas lagi duduk gitu.

Lah, itu kan si anak baru yang disirem tadi. Ngapain ya?

Merasa penasaran dengan apa yang dilakuin Yura, dia ngintip lagi. Ternyata, di situ ga cuma ada Yura. Ada sosok laki-laki yang sangat dikenalinya. Laki-laki itu lagi ngasih Yura sehelai handuk putih kecil.

Eh, ngapain si Byung Hun? Wah, gabisa didiemin.

Akhirnya, Myung Soo langsung samperin mereka berdua. Dengan kasar, dia langsung narik tangan Yura. Myung Soo langsung narik tuh cewek ke belakangannya.

“Eh, ngapain lo deketin dia? Gara-gara adek lo noh, makanya dia basah kuyup gini! Gausah deket-deketin dia ye! Awas lo!” teriak Myung Soo. Setelah itu, ia pergi sambil menarik Yura.

Mereka berdua langsung berjalan entah ke mana. Yura yang bingung, langsung memaksa diri berhenti, dan Myung Soo otomatis juga berhenti.

“Kenapa kamu narik aku jauh banget? Emang orang itu kenapa sih?” tanya Yura, bingung.

Myung Soo agak salting. Dia langsung lepas tangan Yura. Dia menghadap ke arah cewek itu dan menatapnya tajem. “Nih, lu denger ya,  lu gausah deket-deket kelas B. Mereka tuh rese-rese, ok? Lagian dia itu kakak dari orang yang nyirem lu tadi. Yaudah, itu aja pesen gue. Gue balik ke kelas dulu.”

“Kakak?”

Langkah Myung Soo terhenti, dia langsung noleh ke belakang. “Iya, kenapa?”

Yura langsung menggeleng. “Enggak kok, nanya aja.” jawabnya. “Kalo boleh tahu, kenapa pada kesel sama kelas B? Dan kenapa kamu termasuk? Kamu punya dendam?”

Myung Soo diem. Dia berpikir sebentar, kemudian langsung membalikkan tubuhnya berniat untuk pergi. “Pokoknya ada aja.”

Myung Soo jalan dengan dinginnya. Yura hanya menatap punggung cowok itu dengan tatapan bingung.

Cho Rong jalan bareng Jessica sambil megang kupon diskon tas Gue*s yang didapetinnya. Cho Rong sama sekali gabisa nahan senyum kemenangannya. Sedangkan Jessica, dia cemberutttttt terus sedaritadi, ga terima kalo kalah.

“Nih, liat, gue yang dapet kan?! Ahh, sekarang gue bisa beli tuh tas yang harganya kemahalan!” kata Cho Rong, sambil jalan masuk ke dalam mall. Lagi-lagi, Jessica cuma maksain kakinya buat jalan masuk ke dalam.

Akhirnya, mereka berdua pergi jalan buat cari toko Gue*s. Sesampainya di sana, Cho Rong dengan pedenya langsung liat-liat tas. Para pegawai yang ngeliatin langsung pada takjub dan muncul suatu pendapat dari otak mereka.

Wuihh, ibu-ibu tajir mau borong nih.

Jessica lagi-lagi cuma cemberut dan iri banget liat tatapan para pegawai, yang kayaknya demen banget liat gaya si Cho Rong. Coba aja waktu itu gue pilih MC.

Selain dapet kupon diskon, yang kalah musti temenin yang menang pas beli tas. Bahh, malu banget si Jessica pas tau MU kalah. Cho Rong ampe berkali-kali telfon mau pamer, dia sengaja ga angkat dan kalo dia ditanya, dia berniat ngejawab ‘udah tidur’.

Setelah cukup lama, Cho Rong akhirnya langsung bawa tas ke kasir. Sebenernya, daritadi dia udah ketemu tas yang dia pengen, tapi beralasan pengen bikin Jessica makin panas, dia liat-liat yang lain deh. Sekarang, salah satu pegawai lagi masukkin tasnya ke dalam bag. Cho Rong mengeluarkan beberapa lembar uang dan kupon diskon yang dia dapet. Pegawai itu ambil uang tersebut dan mengecek kuponnya.

“Maaf nyonya, tapi kupon ini udah ga berlaku.”

“WHATTT?!”

Jessica yang liat suasana di kasir jadi aneh, langsung samperin dengan semangat. “Kenapa-kenapa? Ada apa-ada apa?”

Cho Rong ga jawab. Sialnya, duitnya kurang. Tangan Jessica langsung ambil kupon itu dan mengeceknya. Seketika dia ngakak.

“Astagaaa, ternyata emang lebih baik kalah dulu.” katanya, sambil tetep ngakak.

Pas makan malem, mukanya Cho Rong beteeee banget. Para penghuni lainnya juga jadi makan dengan canggung, liat sendok-garpunya Cho Rong bukan dipake buat makan, malah buat ngaduk-ngaduk nasi doang.

“Kamu kenapa sih? Mukanya cemberut banget.” kata Doo Joon sambil ngunyah.

Perhatian keempat anak mereka langsung ke arah pembicaraan. Cho Rong menghela nafas sambil ngaduk-ngaduk nasinya.

“Uang belanjaku abis.”

Nasi dari mulut Doo Joon langsung keluar. “HAH?! KOK BISA?!”

Cho Rong masih cemberut. “Kan sebelumnya aku taruhan tuh sama Jessica rebutin kupon tas diskon. Aku dapet gara-gara MC menang. Akhirnya, tadi aku berencana beli. Ternyata, kupon diskonnya ga berlaku, jadi aku musti habisin uang belanja aku.”

“Bahh, taruhan lagian. Malu sendiri kan jadinya.” ujar Doo Joon sambil makan lagi.

“Tau nih eomma, akrab dong sama besanan sendiri. Nanti nasib aku sama Tae Min oppa gimana.” kata Na Eun.

“Enak aja! Tae Min punyaku!” sewot Krystal.

“APA?!” teriak Myung Soo-Mi Jung barengan.

“Maksud lo, gue musti sodaraan ama si cowok lenje itu?! GA! BIG NO!” teriak Mi Jung. Dia lupa masih ada nasi menggumpal di dalam mulut.

“Tau lu! Gue juga disuruh sodaraan sama Byung Hun gitu?! Aduh, gue pindah jauh-jauh deh! Kalian nikahan gue kagak bakal dateng!” ikut Myung Soo sadis.

“Ihh, oppa sama eonnie kejam banget sih. Dukung napa!” kata Na Eun, diikuti oleh anggukan Krystal.

Mi Jung sama Myung Soo mendadak nyanyi lagu barunya Bangtan—Jung Kook rapiin rambut—.

“Everybody say NO~”

“Lebay ah! Tae Min oppa kan pinter!” sewot Krystal.

“Pinter? Aduh gua mendadak gaenak badan nih.” kata Mi Jung sambil megangin perutnya.

“Eh, udah, udah. Kalian nih ribut aja.” Kata Doo Joon, berusaha nenangin keempat anaknya itu.

“Eh, oppa, emang Byung Hun siapa tadi lu bawa-bawa? Kayaknya gue ga pernah denger tuh.” tanya Mi Jung.

“Itu kakaknya Tae Min, kelas 12-B. Lo gatau?” jawab Myung Soo.

Mi Jung cuma diem. Kenapa dia ga pernah denger yang namanya Byung Hun? Emang culun ya ampe ga terkenal gitu? Ah, dia bukannya ga pernah denger, tapi pernah denger sekilas doang. Entah darimana, dia lupa. Bahkan dia gatau wajah laki-laki itu sama sekali.

Akhirnya, setelah selesai makan malem, mereka naik ke atas buat kerjain urusan masing-masing. Mi Jung jalan di belakang oppanya yang mau masuk ke kamar. Dia tetep ngikutin.

“Eh? Kok lu bisa di sini? Kamar lo di sebelah!” kata Myung Soo, keheranan.

“Byung Hun yang mana sih? Gue penasaran.” tanya Mi Jung sambil nunduk dengan tatapan kosong.

“Yailah, lu udah kayak apa aja. Pokoknya dia jelek, pendek, kurus. Udah deh, ga penting juga lu harus tahu itu anak!” jawab Myung Soo judes. “Udah ya, gue mau kosongin memori kamera buat study tour. Mau ban—“

TEK! (?)

Baru aja pengen minta bantuan adeknya, Mi Jung malah keluar dari kamar Myung Soo. Myung Soo cengo.

“Buset, itu anak kenapa ye?”

Mi Jung langsung masuk ke dalam kamar dan bongkar-bongkar tasnya. Nihil. Barang yang dia cari gaada di tas. Akhirnya, dia bongkar laci meja belajarnya. Dia langsung tersenyum cerah ketika melihat selembar kertas. Dia langsung ambil dan liat isi dari kertas itu.

‘Kelompok Study Tour 2013/2014’

Dia ngeliatin anggota kelompok satu demi satu. Hingga pada akhirnya ..

‘Kelompok 8
Ketua : Lee Byung Hun
Anggota : Kim Mi Jung,…’

Mata Mi Jung langsung berhenti membacanya, karena tidak perlu membaca nama anggota lain, karena nama dia sendirilah yang ia cari dan disebutkan pada pertama. Ia masih menganga mendengar ketua kelompoknya.

“Ohh, jadi dia ketua gue? Ketua gue kakaknya Tae Min? Nanti rese gitu? Nanti disuruh-suruh gitu? Enggak, gue gamau! MYUNG SOO OPPA! GUE GAMAU SAMA KAKAKNYA TAE MIN!”

Mi Jung langsung lari masuk ke dalam kamar Myung Soo. Myung Soo yang lagi asik hapusin memori kamera di laptop langsung kaget.

“Woy, nape—“

“LU KOK MASUKKIN GUE KE KELOMPOK SI BYUNG HUN ITU?!” teriak Mi Jung.

“Lah? Emang lu sekelompok? Mana gue tahu! Kok marah ke gue?!” jawab Myung Soo.

“Kan lo OSIS, OSIS yang milih! Aduh, ntar kalo dia bawel sama resenya sama kayak Tae Min gimana?! Aduh, enggak banget!” teriak Mi Jung frustasi, sambil acak-acakkin rambutnya.

“Kan diundi pinter!” sewot Myung Soo. “Bawel, rese? Err, enggak sih.”

“Lah, terus lu aja kesel, berarti sikapnya sama kan, ya gak?” jawab Mi Jung.

“Ya ga gitu Jung. Ya gue kesel bukan berarti gara-gara dia bawel sama rese kan.” ujar Myung Soo. “Yaudahlah, lu emang kebetulan dapet ketuanya dia, mau gimana? Udahlah, nyamanin aja, dia kagak kayak Tae Min kok seenggaknya. Jujur deh gue.”

Mi Jung menghela nafas. Dia langsung pingsan di atas kasur Myung Soo.

“Eh, Jung, jangan pingsan dong! Ahelah, abis Na Eun si Mi Jung dah.”

Yura memilih untuk pergi ke perpustakan pas makan siang. Dia lagi ga mood makan dan pengen nyari tempat sepi. Pas dia lagi jalan nyari buku, dia ngeliat seorang murid cowok yang lagi nyari buku. Dia langsung nyamperin cowok itu. Otomatis, pas cowok itu lagi ngadep samping buat ke kursi kosong, dia malah langsung ketemu sama Yura.

“Eh, makasih ya kamu udah kasih handuk kemarin. Maaf aku langsung pergi, aku ga bermak—“

“Gua udah tau kok, gapapa.” jawab cowok itu, dingin. Ya, cowok itu Byung Hun.

Byung Hun langsung pergi ninggalin Yura gitu aja. Yura mendadak freeze. Dia ngeliat ke belakang buat ngeliat punggung cowok itu. Auranya dingin. Tatapannya tajam.

Byung Hun ga ngeh kalo Yura merhatiin dia. Dia malah jalan sampe ga keliatan lagi dari cewek itu. Pas dia pengen belok ke rak yang lain, dia dikejutin oleh seseorang yang lagi nyari buku, karena tiba-tiba orang itu malah jatohin bukunya. Dia ambilin buku itu buat orang itu. Sedangkan orang itu, langsung noleh ke arah Byung Hun. Baru aja mau ambil buku di tangan cowok itu, dia langsung natep datar ke arah Byung Hun.

“Lo…, Byung Hun kakaknya Tae Min?”

Byung Hun cuma ngangguk, kemudian pergi ninggalin orang itu.

Dia beneran kakaknya Tae Min? Kenapa dia seserem itu?

To be Continued

AUTHOR COMEBACKK UYEAHHH (?) Ya, pertama-pertama, Author minta maaf lah FF nya ancur, namanya juga Chapter 1 -_-v Dan kedua, Author ini mendadak terinspirasi gara-gara For You In Full Masem, FF yang di FFindo itulohhh *Author lupa nama yang bikin* *plakk*, tapi Author baca novelnya bukan di FFindo nya sih, hehehe. Terinspirasinya sebenernya cuma di bahasanya aja, kalo ada kesamaan lainnya, Author minta maaf, tapi plotnya itu emang Author mikir sendiri. Mungkin karena tipe-tipe FF teenager, jadi khas-khasnya mirip (?) Yang jelas, Author sangat berterimakasih sama FF itu, ya sampaikan sajalah ke Authornya, hehehe ^^v Yang ketiga, Author akan melanjutkannya sesuai dengan minat para Readers ya. Ya, kalo dikit Author akan menimbangkan untuk melanjutkannya atau tidak. Kalo banyak, Author akan melanjutkannya secepatnya ^^

JANGAN JADI SILENT READERS, COMMENT AND LIKE KALO UDAH BACA. JIKA ADA KESALAHAN, SILAHKAN LAPOR!

Thanks for Reading ^^

51 responses to “Family Battle [ Chapter 1A — Kim vs Lee Family ]

  1. Ngakak malem malem baca ini doh :v
    si myung tukeran ama tetem coba :v biar cucok/?
    next part ditunggu yaa’-‘)/
    keep writing!!

    • Dohh, hati-hati dicurigain dohh malem-malem *iniapa*
      Duh, tapi feelingnya kedapet Myung Soo ya tetep Myung Soo._.)v
      Udah ada lohhh, dibaca yaaa 😀
      Makasih udah baca dan komen ^^

  2. Pingback: Family Battle [ Chapter 1B — Kim vs Lee Family ] | FFindo·

  3. semalem aku baca ini, ketawa2 sendiri. demi apapun kenapa mereka para idol jd somplak gtu XD comedinya dapet dn penasarannya jg dapet. jujur aja aku nemu ff ini krn cari castnya VIXX, eh ternyata ada Neo, kyaaa~ dn trnyatanya lgi L.Joe main castnya, kyaa kyaa kyaaaa~ XD dn jujur lagi, aku baca ff ini musti naik turunin lembar laman krn banyaknya cast, haha~ tp ini bagus dn patut dpt jempol ^^)b

  4. Pingback: Family Battle [ Chapter 2 — Change the Love ] | FFindo·

  5. Pingback: Family Battle [ Chapter 3 — Because of Eyes ] | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s