THE SECOND LIFE [PART 14]

THE SECOND LIFE [PART 14]

Image

Author : Keyholic (@keyholic9193)

Main Cast : Byun Baekhyun,Shin Hyunchan

Minor Cast :

Park Chanyeol

Do Kyungsoo

Suho

Yoon Jisun

Lee JinKi as Baekhyun’s Father

Genre : Romance/fantasy

Rating:  PG 16

Poster by : Cute Pixie

Part 1 | Part 2 | Part 3 | Part 4 | Part 5 | Part 6 |Part 7Part 8 | Part 9 | Part 10 | Part 11 | Part 12 | Part 13 |

***

Sebuah mobil sport kuning hitam  yang dimodif ala bumblebee melaju cukup kencang di tengah pusat kota Seoul menuju ke arah selatan.Pemiliknya mungkin merupakan salah satu pecinta transformer ,film yang belakangan ini  digandrungi  hampir semua remaja lelaki terlepas dari adanya sosok Megan Fox yang menjadi pemanis dalam film bergenre action tersebut.Jam di mobilnya menunjukkan pukul 4 sore.Jalan agak sedikit padat mengingat ini sudah waktunya para pekerja selesai dari rutinitasnya dan bersiap kembali keperaduannya.Lagu Nothing On You masih sibuk mengalun dari pengeras suara di mobilnya.Tangan si pengemudi bergerak menekan tombol untuk menurunkan kaca jendelanya.Membiarkan angin senja sore memainkan rambut hitam yang sudah ia gunting beberapa hari yang lalu.

Sesekali ia menatap sosok di sampingnya sambil tetap berusaha membagi konsentrasinya terhadap jalan di depan.Wanita disampingnya tengah memandang keluar jendela,dengan senyuman kecil yang terus terukir dari bibirnya sejak bebrapa saat yang lalu mereka meninggalkan kawasan di pinggiran Gangnam.Ia sedang melamun.Sepertinya masih terbawa suasana bahagia.

Jisun,nama gadis yang tengah memandang jendela itu, masih belum bisa meredam rasa bahagianya setelah apa yang ia harapkan selama bertahun-tahun ini akhirnya tercapai juga.Bertemu ibunya lagi sungguh hal yang  mulai perlahan ia singkirkan untuk menjadi nyata.Ia bahkan sudah menyerah dan berusaha ikhlas jika ibunya itu tak berada di dunia yang sama dengannya lagi.Kejadian 2 hari lalu di rumah sakit sungguh seperti keajaiban.Seperti ketika kau hendak menghadapi kematian mu dan tiba-tiba saja tuhan memberikan mu kesempatan kedua.Yah,mungkin seperti itulah rasanya.

Saking sibuknya bergelut dengan kenangan yang masih segar di rumah ibunya tadi,ia bahkan tak sadar bahwa mobil yang ia tumpangi sedang  berjalan di rute yang tak seharusnya.Kesadarannya kembali terkumpulkan ketika seusai lampu merah,dimana seharusnya mobil itu berbelok ke arah kiri namun malah terus berjan tanpa berbelok.

“Oppa,bukankah rumah sakit ada..”

“Aku ingin ke suatu tempat.Setelah itu baru kita kembali ke rumah sakit.”

Jisun tak bersuara lagi.Ia tak mau mengambil pusing apa motif di balik niat aneh Chanyeol.Pikirannya sedang tertuju pada hal lain.

Oppa.

Kata itu reflex saja meluncur keluar.Rasanya sudah begitu lama lidahnya tak melafalkannya.Belakangan ia hanya memanggil lelaki di sebelahnya dengan nama lengkapnya,Park Chanyeol.Itupun dengan nada tak di bawah 4 oktaf.Bahkan bisa duduk dengan jarak sedekat ini tanpa diselingi dengan amarah dan teriakan penuh benci rasanya sudah seperti mukjizat.Mendadak rasa rindu menyelimutinya akan kenangan masa lalu.Saat dimana semuanya masih baik-baik saja.Saat ketika wanita bernama Jiyeon belum merusak segalanya hingga akhirnya mencapai batas letihnya sebagai bunga matahari yang hanya bisa menatap sang matahari.

Jisun baru sadar ia telah cukup lama bergelut dengan nostalgianya saat mobil sudah tak bergerak lagi dan kini sudah ada Chanyeol yang berdiri di sampingnya membukakan pintu untuknya.Lelaki itu masih memperlakukannya semanis biasanya.Tak ada yang berubah.Dan itu membuatnya sakit.

“kau pasti suntuk berbaring di tempat tidur selama ini.Tak ada salahnya menikmati cuaca cerah ini sebelum kembali meringkuk di dalam rumah sakit,kan?”

Telinga Jisun dapat menangkap dengan jelas tawa bass yang begitu renyah.Ia sungguh rindu suara tawa itu.Mereka mulai berjalan memasuki taman yang luasnya 6 kali lapangan bola itu.Beberapa orang sibuk bersepeda,ada juga yang sedang duduk bercengkrama  di beberapa bangku yang berjejer sepenjang jalan taman itu,selebihnya jalan santai seperti apa yang dilakukan oleh Jisun dan Chanyeol,menikmati pemandangan senja.

“aku lupa kapan kita terakhir kali ke sini.”

Ke sini?

Jisun menggaris bawahi kata itu.Apakah mereka pernah ketempat ini? Dari ungkapan Chanyeol sepertinya dahulu mereka  sering ke tempat ini.Mata bulatnya mulai mengedarkan pandangannya.Berusaha mengumpulkan kepingan memori mengenai tempat ini.Sepertinya ia memang sudah lama tak berkunjung ketemat ini atau mungkin suasananya yang sudah terlalu banyak berubah? Karena ia sungguh tak menyadari pernah bertandang ke tempat ini.Semakin jauh mereka melangkah ke dalam semakin baik pula Jisun mengumpulkan kepingan ingatannya.Ia mulai bisa mengingat masa lalunya dengan tempat ini.Udaranya,pepohonannya,suasana tempat ini seolah membuka kotak ingatan yang ia sendiri tak sadar kapan terkuncinya.Terakhir ia ke sini sesaat sebelum Chanyeol memasuki tingkat akhir di SMA dan itu sudah sangat lama.Chanyeol semakin kerepotan antara membagi fokusnya untuk pelajaran di kelas dan juga pangkatnya sebagai ketua tim basket yang agak sulit untuk dilengserkan meskipun ia sudah memasuki tahun dimana kelengserannya.Selain alasan tak ada waktu lagi,jarak taman yang agak jauh dari posisi mereka berada membuatnya untuk berpikir sekali lagi untuk menginjakkan kakinya di tempat ini.Satu-satunya taman yang masih sering ia kunjungi meski di selah-selah kesibukan hanyalah taman yang tak jauh dari kafe Kyungsoo.Taman kecil tempat dimana Chanyeol selalu  mengayunkannya dengan dorongan pelannya.

Meskipun begitu, bukan berarti taman ini tak berarti banyak bagi mereka.Jelas, setiap tempat yang ia kunjungi dengan Chanyeol selalu berarti dan berkesan termasuk taman ini.Terlalu sibuk berjibaku dengan pikirannya,Jisun tak sadar jika mereka telah berjalan sangat jauh.Di hadapannya sekarang sudah terpampang danau buatan yang semakin menambah kesan indah pada tempat ini.Beberapa orang tampak menduduki bangku yang tengah di sediakan dan memandang ke depan,ke arah danau.Seolah dengan memandang bias cahaya matahari pada air danau,meringankan beban di kepala mereka.

Setelah diperjumpakan dengan dananu ini,ingatan Jisun sudah kembali 100 %.Bagaimana mungkin ia bisa melupakan tempat indah ini? Ketika ke tempat ini,maka pada akhirnya ia dan Chanyeol akan selalu berakhir di danau ini.Seperti apa yang terjadi sekarang.Semuanya tak ada bedanya dengan kenangan masa lalu itu.Hanya saja tak ada lagi senyum ataupun rona merah yang menghiasi.Tak ada lagi degup jantung atau jeritan kegirangan darinya.Semuanya hambar.Bagai menonton melodrama tanpa suara.Tak ada lagi yang bisa merasakan ke dalaman ceritanya.

Kaki-kaki mereka akhirnya terhenti di sebuah tempat yang masih berada di lingkup danau buatan yang luas itu namun dengan tempat yang sedikit memberikan privasi bagi mereka berdua.Mulut keduanya masih terkatup rapat sejak percakapan terakhir,membiarkan hiruk pikuk pengunjung yang samar-samar terdengar mengisi keheningan.Lama mereka terdiam hingga akhirnya Jisun berinisiatif memecahnya.

“kenapa membawa ku ke tempat ini?” selidik Jisun.Sudah cukup dengan nostalgia manis yang membuat dadanya menjadi sesak ini.

“Apa yang kau inginkan?” Dari nada bicaranya sepertinya ia sudah kembali seperti sosok sebelum ia menjadi mayat hidup di rumah sakit.

“Kau sungguh bisa membaca ku layaknya buku yang terbuka.” Pernyataan Chanyeol  itu diakhiri dengan kekehan kecil di balut sedikit rasa pilu.

“Maaf sebelumnya.Aku tahu ini bukan saat yang tepat.Tapi sungguh,aku tak bisa menahannya lagi.Aku ingin memperjelas semuanya,sebelum aku mengambil langkahku.”Suara Chanyeol semakin mengecil menjelang akhir kalimatnya.perlahan ia menatap wanita di sampingnya.Pantulan dari sinar matahari pada air danau memberikan efek bayangan air pada wajah Jisun.Dan itu membuat kulit putinya nampak lebih menawan.

Pada hembusan nafas Jisun yang ke lima kalinya,barulah gadis itu menanggapi.

“Maaf mu kotolak.” Ucapnya dingin tanpa memandang Chanyeol.”kau benar,ini bukan waktu yang tepat.Lagi pula  aku sedang tak merasa butuh memperjelas sesuatu yang sepertinya memang sudah jelas.”Tanpa siapapun sadari,gadis itu menggenggam erat kain dressnya seolah hidupnya bergantung pada benda mati itu.

“Jisun-ah.” Pupil chayeol bergetar.Ia sudah sering mendapat reaksi penolakan yang sama tapi tetap saja itu tak mengurangi keterkejutannya.

“Tadinya kupikir kau beretikad baik dengan niat yang sungguh ingin mengajakku ke sini untuk mengusir kesuntukanku.Tapi,aku salah!”

“Aku ingin pulang! Pemandangan rumah sakit jauh lebih baik dari ini.” Keluhnya seraya berbalik arah.Mungkin ia sudah bisa melangkah jauh jika saja jemari yang sudah lama tak menggenggamnya itu tak menahannya.

“Kumohon Yoon Jisun,kita sudah sangat sering berada di posisi seperti ini dan kau tetap saja berlaku sama.Sampai kapan kau mau seperti ini?” Gusar Chanyeol .Suaranya tak lagi selemah awalnya.

Jisun tertegun.Yah,ia familiar dengan keadaan seperti ini.Dimana Chanyeol mengemis kesempatan untuk memberikan penjelasaan yang Jisun sebut dengan pembelaan diri saja dan Jisun akan selalu bereaksi sama,menolak.

“Entahlah.Aku tak tahu.Aku takut mendnegarnya.Setakut ketika ingin mengorek duri yang tertanam di dalam dagingku.” Suaranya bergetar.Perlahan ia melepas genggaman Chanyeol.Tak satupun tahu betapa ia menginginkan genggaman itu tak terlepas darinya.Tapi kondisinya sudah berbeda.

Lingkaran tangan yang meliliti tubuhnya membuat nafasnya kembali tercekat dan menghentikan kuda-kuda yang ia pasang untuk melangkah.Sepertinya lelaki itu masih tak ingin menyerah.”Kumohon,dengarkan.Masalah ini – “

“Tidak Park Chanyeol,aku sungguh tak bisa.Aku lelah.”

Ia tak ingin tahu kebenaran apa yang tersembunyi dibalik ini semua.Yang ia tahu bahwa ketika Chanyeol mulai menceritakan ulang masa lalu itu,maka di saat itu juga sesak didadanya bertambah berkali-kali lipat.Jika menyembunyikan kisah memilukan beserta rahasia-rahasia di dalamnya  dapat meredam sakit hatinya,maka biarlah itu tetap tersembunyi.Menjadi sebuah misteri layaknya senyuman monalisa ataupun alasan mengapa kapal sedahsyat titanic bisa tenggelam.

Lagipula setelah kebenaran terungkap, lantas apa? Keramik indah itu bukan retak,tapi pecah.Mau menyambungnya dengan cara apapun tetap tak akan seindah sebelumnya.

“Aku juga lelah.Maka dari itu kita harus memperjelas semuanya.Soal perasaan ku,soal aku dan Jiyeon,soal…”

“Hentikan! Jangan mengungkitnya lagi.Sakit…Itu terlalu sakit.” Jisun mulai meronta kesetanan dengan menutup kedua telinganya.Menulikan pendegnarannya dari setiap kata yang meluncur dari mulut Chanyeol.

“Sampai kapan kau mau seperti ini? Sampai kapan kau mau menyiksa dirimu dan aku?” Chanyeol sudah membalikkan tubuh Jisun dan sekarang kedua tangannya mencengkram lengan atas gadis itu,mengguncang-guncangnya.

“waraslah sedikit Yoon Jisun!” Air mata Jisun sudah mulai mengucur sedangkan dirinya sendiri sudah setengah hidup menahan agar ia tak meneteskan air mata di hadapan gadis itu.

“Waktuku tak banyak.Keluarga ku akan segera pindah ke UK sabtu ini.Biarkan aku memperjelas semuanya.Mencari alasan agar diriku tak ikut mereka dan bertahan di Seoul.Jika setelah mendengar semuanya dan kau tetap bersikukuh seperti ini,aku tak akan pernah mengusikmu lagi.”

DEG

Tanpa Jisun sadari ,karbon dioksidanya masih tertahan belum terhembuskan ketika mendengar ucapan Chanyeol.Matanya membulat,memandang ke bawah.Ketakutan menyelimutinya.Apakah ia sungguh menginginkan ini? Berpisah dengan Chanyeol? Berpisah jarak dan tak akan melihatnya lagi?

“Waktu itu Jiyeon mengunjungiku hanya untuk berpamitan.Dia menyerah untuk mengejarku,tapi aku sungguh tak menyangka dia akan menciumku.”Chanyeol mulai menjelaskan ketika Jisun mulai terdiam dan siap mendengarkannya.Atau mungkin lebih tepat jika dikatakan gadis itu sedang dalam pikiran yang kosong.

“Segalanya menjadi salah.Dan kau hadir di detik-detik kesalahan itu.Saat kubilang aku tak punya perasaan lagi padanya,aku sungguh serius dengan kata-kata ku.Begitu pula saat kukatakan bahwa tanpa aku sadari aku mulai mencintai mu.”

Cinta?

Park Chayeol,sang matahari yang selalu ia tatap akhirnya membalas tatapannya? Lelucon hidup macam apalagi ini?

“Sudah pernah ku bilang,jangan memainkan kata-kata sesakral itu—“

“dengar aku dulu!” nafas Chanyeol mulai memburu.

“demi cupid tolol yang telah memanahkan panahnya! Aku tak pernah mempermainkan kata sacral itu Yoon Jisun! Aku mencintai mu. Aku menyayangimu,sangat! Dan sial! Aku baru menyadarinya ketika aku sudah kehilanganmu. Dan semuanya diperparah dengan kondisimu yang tak mau mendengar sepatah kata lagi,menganggap aku sedang membual! Perasaan ini sungguh membuat ku frustasi.” Chanyeol mengatakannya dengan jangka waktu satu kali bernapas.

Nafas mereka beradu seolah mereka atlit marathon yang baru saja melewati garis finish.

“Kalau seperti itu maka patahkan panahnya.Matikan rasanya,karena aku  bukan tuhan yang masih bisa memberikan kesempatan-kesempatan pada umatnya meski mereka kerap kali berbuat dosa.”

“Apa?”Giliran Chanyeol yang tercengang dengan tanggapan Jisun.

“Penjelasannya sudah kan? Sekarang aku ingin kembali ke rumah sakit.”Helaan nafas gadis itu begitu berat.

“Apa itu jawaban mu?” Chanyeol berusaha mengorek kebenaran ucapan gadis itu melalui bola matanya.Namun bahkan melalui bola mata gadis itu tak bisa di baca.Entah karena gadis itu telah mentamengi semuanya atau Chanyeollah yang tak bisa membaca Jisun,tak akan pernah memahaminya.

“Bohong! Kau bohong,kan? Kau masih punya kesempatan untuk ku.” Terka lelaki itu.

“Kau belum memberitahu ayah soal pembatalan pertunangan kita.Itu artinya kau masih memliki harapan pada hubungan ini.”Chanyeol baru saja hendak menunjukkan senyum kemenagannya ketika ia meliha garak-gerik Jisun mengambil ponselnya,menekan tombol dan menunggu seseorang di seberang sana untuk menjawab panggilannya.

“Halo ayah.Aku ingin membatalkan pertunanganku dengan Chanyeol.” Ucapnya langsung tanpa basa-basi.

“apa?Halo?Jisun-ah?kau baik-baik saja kan? Jangan bercanda,ayah sedang sibuk saat ini.” Ia bisa mendnegar suara ayah Jisun gelagapan dari panggilan yang sengaja di speaker itu.

“apa aku terdengar seperti bercanda? Akan kuhubungi ayah malam nanti untuk memperjelas semuanya.” Jisun langsung memutus panggilan itu ketika ayahnya masih ingin memberondonginya dengan sejumlah pertanyaan keterkejutan.

Chanyeol tak bisa berkata apa-apa lagi.Jisun sungguh gila!

“Lihatkan? Aku serius dengan kata-kata ku.” Senyumnya sinis.Meski dibawah,tangannya bergetar menggenggam ponselnya.

“Aku ingin pulang! Kalau kau tak juga mau mengantarku,aku bisa naik taksi.” Jisun berjalan tanpa menghiraukan Chanyeol yang masih tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.

Kesadarannya mulai terkumpul.Kakinya berhenti melangkah sejenak.Apa yang baru saja ia lakukan? Penyesalan mulai menyelimuti hati gadis itu.Ia tak bermaksud bertingkah seperti tadi.Menelpon ayahnya dan memutuskan pertungan mereka,sungguh itu semua berdasar atas amarah belaka.Tapi soal hatinya yang merasa kecewa,tersakiti,dan merasa dipermainkan,ia serius dengan itu.Mungkin balutan amarahnya yang membuatnya berbuat sesuatu yang entahlah,bagaiman efek kedepannya.Mau diapa lagi? Semuanya kepalang tanggung.Ia baru saja membuka gerbang kehancurannya.

Jisun benar-benar tak mengerti apa mau dirinya.Apa yang diharapkan dari Park Chaneyol selama ini  sudah ia dapatkan,cintanya.Jika dipikir secara logika kenapa tak mempermudah segalanya saja dengan kembali bersama dengan Chanyeol ? Toh, dia mencintai namja itu dan namja itu akhirnya membalas cintanya.Apa lagi yang ia tunggu?

Tapi ini menyangkut hati dan perasaan dan jika sudah menyangkutnya kedua hal itu maka selalu ada kata rumit mengiringinya.Serumit memahami perasaan seorang fans yang rela menghabiskan waktu ,tenaga dan uang untuk seseorang yang hanya mengenal mereka dengan satu nama,penggemar.

Sungguh senja yang kelam.Matahari mulai kembali keperaduannya.Menyembunyikan sinarnya yang samar-samar mulai tampak padam.Haruskah ia memadamkan cintanya seperti itu juga? Itulah batin Chanyeol.

Kaki jenjangnya melangkah pelan mengikuti Jisun.Memandang pungungg gadis itu yang tak setegak biasanya.Seolah ia sedang memikul beban yang berat.

“jadi seperti inikah kau selalu memandangku?” Sungguh ironis pikirnya.

Ibaratnya, selama bertahun-tahun itu Jisun memandanginya seperti ini.Terus memandnagnya tanpa ketahuan,tanpa lelah meski pemilik dari sang punggung masih belum ingin menoleh.Meski kaki kecilnya tersandung batu,matanya tak pernah lepas dari punggung itu.Meski si pemilik punggung mulai mendengar rintihan dari arah belakangnya,tapi ia tetap tak ingin menoleh.Sungguh kejam.Hingga kemudian mata yang selalu memandangi punggungnya itu harus terhenti untuk memandang karena si pemilik mata itu tersandung batu yang besar hingga ia tak bisa bangkit lagi.Matanya terluka parah.Dan akhirnya memilih untuk menyerah.Tak lagi menjadi mata yang hanya bisa menatap punggung dari seseorang yang tak akan pernah menoleh padanya,meski ia meringis kesakitan.Sayangnya ketika si pemilik punggung menoleh,semuanya sudah terlambat.Persis dengan nasib Chanyeol.Ia sudah terlambat untuk menolehkan kepalanya.

Perjalanan menuju rumah sakit hanya dibaluti kediaman yang pekat.Masing-masing bergelut dengan pikirannya.Jisun menghentikan langkahnya sejenak sebelum memasuki pintu ruang inapnya.”Aku hampir lupa mengatakannya.Makasih atas semua bantuan mu selama ini…”Ia terdiam untuk mengeluarkan kata-kata yang tepat.”Terima kasih untuk segalanya..” Ucapnya tulus.

Belum sempat ia menarik nafas tiba-tiba ia merasakan sebuh tangan memutar badannya,mendorong belakangnya menghantam pintu yang hendak ia buka.Sedetik kemudian sesuatu yang basah menyerang daerah sekitar mulutnya.

Kiss

Kemana ciuman pertama yang seharusnya lembut,romantis,penuh dengan keluguan dan malu-malu kucing? Kemana ciuman pertama yang memberikannya semburat merah,gejolak di perut hingga suara tak karuan kembang api halusinasi?

Yang dapat ia rasakan justru sebaliknya.Amukan,pemberontakan,kekesalan,amarah,sedih,kekecewaan semuanya bercampur aduk dari sentuhan bibir yang diberikan Chanyeol.Tak ada degup jantung yang berdetak tak karuan,yang ada hanyalah sebuah rasa sesak didadanya seolah ada  sumpalan di sana.

Tangan lelaki itu menekan belakang kepalanya seolah masih belum merasa cukup dengan jarak sedekat ini.Lidahnya  sudah memberontak ingin masuk, ingin mencari sesuatu yang bisa menenangkan dirinya.Membuatnya bisa mengikhlaskan sang pemilik. Ciuman pertama seharusnya menjadi sesuatu yang menyenangkan,bukannya menyedihkan.Pertama dan terakhir.Ironis.

Koridor yang begitu sunyi membuat detak jantung dan deru nafas yang memburu memenuhi tempat itu.Setelah malam ini berakhir,mereka akan kembali menjadi orang asing satu sama lain.Atau bahkan terburuknya, mereka tak akan bertemu untuk jangka waktu yang lama.Jadi apa salahnya memberikan persembahan terbaik untuk malam terakhir ini?

Tanpa gadis itu sadari kedua tangannya sudah mengalung di leher namja jangkung di hadapannya.Ini adalah pengalaman pertama,namun entah bagaimana Jisun mengetahui cara membalas perlakuan Chanyeol.Mungkin insting ditambah arahan dari hatinya.Kau tak butuh tekhnik-tekhnik yang tertera di buku ataupun meminta bantuan google ketika hatimu berbicara.

Jika memang takdir sudah menentukan jalan seperti inilah yang harus mereka tempuh,apa boleh buat? Mungkin mereka memang mebutuhkannya sebagai bagian dari pengalaman hidup dan proses pendewasaan dari apa yang mereka sebut dengan cinta.Mereka masih terlalu beliah untuk memahami filosofi cinta.Bahkan untuk memasuki tahap pertungan saja itu seperti olok-olokan.Orang dewasa saja butuh waktu yang lama untuk masuk ke dalam komitmen yang dinamakan pertunangan.Jadi jangan salahkan remaja belasan tahun ini jika mereka tak sanggup memikul beban itu.Mereka masih muda.Terlalu muda.Perjalanan terasa masih sangat panjang kedepannya.Akan ada sesuatu yang baru.Tahap kehidupan yang baru,lingkungan yang baru,kenalan baru,dan mungkin cinta yang baru ataupun cinta lama namun dengan suasana yang baru? Siapa yang tahu? Takdir masih mempunyai segudang kotak kejutan.

Air mata yang tanpa mereka sadari mengalir sepertinya merupakan awal dari kesediaan mereka untuk mulai mecoba apa yang selama ini tak mereka lakukan.Mengikhlaskan.Pasrah terhadap takdir.

***

Langkah Hyunchan terhenti  sebelum sempat memasuki lift penghubung antara basement dan lantai tempatnya bermukim.Suasana di sekitar sini memang sedikit membuat bulu kuduk meremang.Ini bukan apartemen type mewah yang bahkan basemen tempat memarkir kendaraan sang penghuni menjadi tempat yang sedap di pandang mata.Apartemennya hanya berada di kelas standar dengan tanpilan yang serba biasa.Suasana yang sunyi, penerangan yang redup yang sepertinya lalai dari perhatian teknisi apartemen ini ditambah derap langkah kaki yang tiba-tiba terdengar mendekatinya membuatnya berekspresi seperti tokoh utama wanita dalam Insidious.

Keberaniannya ia kumpulkan untuk menengok siapakah pemilik suara itu.Mungkinkah arwah penasaran penghuni apartemen ini? Tapi tunggu dulu,bukankah sekarang ini ia juga merupakan bagian dari hal-hal mistis? Tubuhnya yang lain sedang terbaring di tempat lain,sedang tubuhnya yang lain lagi sedang berada di kehidupan lain,menjalani perjalanan 49 hari.Jadi apa bedanya Hyunchan dengan mereka?

Ia melihat sebuah bayangan lelaki tak jauh darinya.Penerangan yang buruk menyebabkan ia sulit mengenali siapakah sosok itu.Namun satu yang pasti,kakinya masih menapak tanda dia bukan bagian dari kelompok makhluk halus penghuni kuburan.Ia melangkah mendekat,padahal seharusnya ia mengerti satu hal dari film horror.Ketika kau ragu apakah itu manusia atau bukan,orang baik atau orang jahat,jangan mendekat! Berlarilah secepat mungkin!.. Oh dan sayangnya Hyunchan lupa mengutip itu.

Saat perlahan-lahan sosok nyata bayangan itu mulai nampak,bukannya merasa lega justru Hyunchan semakin tegang dibuatnya.

“B –Baek..hyun?” Kagetnya,meski dengan intonasi suara yang rendah.

Terakhir ia melihatnya pada malam itu,setelahnya ia kembali mengacuhkannya atau lebih tepatnya Baekhyunlah yang menghilang darinya.Dan oh astaga! Ia sungguh tak menyangka ada gejolak aneh yang membuat dadanya sesak.Ia merindukannya.Kerinduan bak seorang kekasih yang bertahun-tahun lamanya tak saling bertemu.Padahal seingatnya ia masih melihat namja itu menangis 2 hari yang lalu.Efek virus yang mereka sebut ‘cinta’ sungguh mengerikan.

Diaturnya nafasnya,dan berusaha sebaik mungkin menyembunyakan ekspresi sebenarnya.”Apa yang kau lakukan…”

Tubuhnya yang tiba-tiba teremas dengan kuatnya membuat nafasnya tercekat dan tak  bisa lagi menuntaskan kalimatnya.Lingkaran tangan itu sungguh melilit tubuhnya dengan erat.Bagaimana mungkin Baekhyun memiliki kecepatan bak super hero? Seingatnya waktu menegur lelaki itu jaraknya masih lebih dari 10 langkah.Bagaimana bisa dalam beberapa detik berikutnya ia merasa diterjang hingga kakinya harus bergerak mundur dan sepersekian detik berikutnya lelaki itu sudah memeluknya begitu erat?

“Apa yang…” Baekhyun semakin mengeratkan tangannya seolah melarang gadis itu untuk bicara.

Semakin erat pelukan namja itu semakin berdesir dadanya ia rasakan.Bulu romanya meremang bukan karena ketakutan tapi efek dari sengatan listrik kecil yang menjalari tubuhnya.Perasaannya ini sungguh membuatnya ngeri.Ia benar-benar takut sekarang.Bahkan lebih takut dari harus mengalami hal seperti di film The Conjuring.

Ini salah.Ia menyadari betul ini salah.Sebentar lagi permainan akan berakhir dan perasaannya terus membesar tak terkendali.Ia mulai ketakutan ketika ia mulai merasakan keegoisan muncul dalam dirinya.Ia tak ingin kehilangan Baekhyun.Ia tak bisa meninggalkan lelaki ini.

Perawakan Baekhyun yang lebih tinggi darinya,membuatnya hanya bisa tersandar pada dada lelaki itu.Ia dapat mendengar dentuman yang berasal dibaliknya.Berdentum sangat kuat dan cepat, secepat miliknya.Tak butuh lagi kata rindu yang terucap dari bibir mereka,karena apa yang mereka rasakan sekarang sudah lebih dari cukup untuk melontarkan kata-kata itu dalam kebisuan.

Kedua remaja itu terdiam untuk beberapa saat tanpa suara.Membiarkan hati mereka menikmati setiap detik yang terlewatkan.

“Sudah kukatakan,jangan terlalu dekat dengan Kyungsoo.”  Ada kecemburan yang terselip disetiap kata –kata itu.

Hyunchan tak berkata apapun.Selain itu bukan pertanyaan yang membutuhkan jawaban,ia juga tak tahu bagaimana cara meresponnya.Jadilah ia tetap memilih bergabung dengan kediamannya.Membiarkannya tetap menikmati momen-momen ini.Hangat dan menenangkan.Membuatnya untuk beberapa saat melupakan siapa dirinya dan bagaimana posisinya.Ia merasa seperti seorang gadis biasa yang sedang mendapat pelukan dari pacarnya.Tak ada kehidupan 49 hari.Tak ada batas waktu yang mengikatnya.Tak ada larangan dirinya untuk jatuh hati pada Byun Baekhyun.Semua terasa normal.Andai saja waktu bisa berhenti sejenak dan membiarkannya damai seperti ini.

Hingga tiba-tiba saja ada sesuatu didalam dirinya yang seakan menohoknya, memecahkan impian kecilnya.Membuatnya tersadar akan siapa dirinya dan apa yang akan terjadi beberapa hari kedepan.Ia Shin Hyunchan.Gadis aneh yang memiliki kehidupan yang kelam yang suatu hari ketika ia kecelakan dan hampir meninggal karena menolong seekor anjing,tiba-tiba saja didatangi sosok yang mirip malaikat bernama Suho yang menawarkannya perjalan 49 hari.Perjalanan yang jika kau berhasil menjalankan misimu selama 49 hari maka kau akan mendapatkan hidup kedua mu.Ia di beri syarat,ada 3.Dan semuanya ia penuhi dengan baik hingga hari ini,kecuali salah satu syaratnya.Mencintai orang yang akan menjadi misinya.Tak ada hukuman fisik yang ia dapatkan jika melanggar syarat tersebut,namun batinnya yang menerimanya.Seperti apa yang ia alami sekarang.

Kenyataan pahit itu tanpa ia sadari membuat matanya memanas.Tak butuh waktu lama untuk cairan bening itu membentuk aliran kecil di pipinya.Tangannya secara otomatis melingkar di dipinggul lelaki itu,membalas pelukannya.Ia tak ingin melepaskan lelaki ini.Ia tak bisa melepaskannya dan membiarkan ingatan akan dirinya terbang begitu saja seperti debu.Gadis itu menangis dalam diam sembari memohon untuk tetap berada di sisi lelaki ini lebih lama lagi, meski itu percuma.

***

Bekhyun segera berbaring di sofa coklat yang sudah familiar dengannya.Ia merebahkan tubuhnya sambil menghela nafas berat seolah dia habis menguras tenaganya menjadi kuli bangunan.Tangan kirinya ia selipkan di bawah kepalanya,menjadikannya bantal.Sedangkan salah satu tangannya bertengger manis di atas jidatnya.Ia mecoba menutup matanya sembari menghirup aroma yang ia rindukan ini.Tempat tinggal Hyunchan.

Sementara Hyunchan sendiri,tak jauh dari posisinya.Gadis itu duduk di dekat kaki Baekhyun dengan kaos kaki Donald ducknya.Konyol.Suara tivi dengan volume sedang sengaja gadis itu nyalakan untuk mengisi keheningan yang mencekat ini.

Tak satupun dari mereka berbicara banyak setelah insiden pelukan di basemen tadi.Keduanya sama-sama saling mengerti akan maksud pelukan tadi tanpa perlu diterangkan melalui kata demi kata.Sesaat setelah memasuki apartemen Hyunchan,Baekhyun langsung merebahkan dirinya di sofa milik Hyunchan dengan alasan  lelah menunggu Hyunchan di parkiran.Seperti biasa,Baekhyun dengan segala macam alasannya yang dipakasa untuk masuk di akal.

Sedari tadi gadis itu belum membiarkan bola matanya beralih dari sosok di hadapannya.Diamatinya lelaki yang kini telah membuka matanya dan melemparkan pandangan ke arah tv,seolah acara di tv tersebut merupakan acara paling menarik yang pernah ia lihat.Padahal itu hanya acara berita yang membahas mengenai pergolakan saham.

Entah sejak kapan ia terakhir melihat bola mata itu berbinar. Belakangan ini tatapan mata Baekhyun selalu sendu dan suram.Garis hitam di bawah lengkungan kelopak matanya menandakan tidurnya yang kurang di setiap malam.Gurat di wajahnya membuatnya nampak memiliki beban yang coba ia pikul sendiri.Sudah sangat lama ia tak melihat wajah lelaki itu ceriah dengan senyuman merekah memamerkan deretan gigi gigi putinya yang tersusun rapi.

Mungkinkah ini masih menyangkut masalah Chanyeol,Jisun dan ibunya? Terka Hyunchan

Baekhyun tiba-tiba saja meliriknya,membuatnya gelagapan melempar sembarangan tatapan matanya.Bisa ia rasakan  wajahnya mulai memanas dan pasti sudah memerah.

“A—Akan kubuatkan kau coklat panas.Sepertinya aku punya beberapa persediaan.” Gumamnya sembari melangkah melewati tubuh Baekhyun yang masih berbaring dengan bola matanya yang terus mengikuti pergerakan Hyunchan.

Entah bagaimana semuanya bisa terjadi,tiba-tiba saja tangan Baekhyun dengan gesitnya menarik Hyunchan terduduk di samping badannya dan detik berikutnya lelaki itu sudah memaksanya untuk berbaring disampingnya.Hyunchan benar-benar mulai meyakini Baekhyun memiliki kecepat super hero.Yang ia sempat tangkap dari kejadian bak film yang sedang di percepat itu hanyalah jeritan keterkejutannya.

Di sofa lebar itu Hyunchan sudah terbaring terlentang .Matanya yang belum berkedip memandang kosong ke arah langit-langit apartemennya.Rongga dadanya membesar dan mengecil tak karuan seperti ia baru saja melakukan estafet jarak jauh.

“Apa-apaan ini ?!” Hyunchan berusaha membuat suaranya tegas seperti biasa tapi kegugupannya yang berefek pada hasil yang dikeluarkan pita suaranya membuatnya gagal.

“Kalau kau berpikiran untuk berbuat mesum di sini,kurasa kau salah tempat.”Gadis itu ingin bangkit,namun sesuatu yang berat di atas perutnya menahannya.

“Singkirkan tangan mu Byun Baekhyun! Aku serius!”cobanya mengancam.

Bukannya ketakutan dan segera mengangkat lengannya yang melingkar di atas perut Hyunchan,namja itu malah terkekeh pelan sembari memiringkan posisinya dan mempererat rangkulannya.

“Ini sungguh tak lucu! Menyingkir!” Hyunchan mencoba membangkitkan badannya,namun terhenti ketika sebuah tangan menarik lehernya untuk tetap menepel pada sofa tersebut.

“Sshhh,tenanglah Shin Hyunchan.Aku belum berencana berbuat mesum pada mu sekarang .” Ucap Baekhyun berbisik nakal di telinga gadis itu.

Bukannya malah tenang dan tergoda Hyunchan malah membenturkan kakinya dengan kaki Baekhyun yang berada di sampingnya sekeras mungkin hingga Baekhyun sedikit meringis kesakitan.

“Apa? Belum kata mu? Berarti ada kemungkinan—“ Ucapan Hyunchan terhenti ketika ia mendengar gelak tawa yang besar dari arah samping telinganya.Seolah lewat tawanya ia berusaha menyampaikan ‘terima kasih sudah meringankan beban ku’.

“Kau sungguh lucu Shin Hyunchan.Apa ini skinship terjauhmu dengan seorang lelaki sehingga kau mengakatagorikannya sebagi tindakan mesum? Bagaimana mungkin berpelukan di atas sofa di kategorikan tindakan mesum?”

Hyunchan memiringkan badannya ,memunggungi Baekhyun.Ia tak tahu bagaimana warna wajahnya sekarang.Salah satu hal yang bisa membuatnya bungkam dan terhipnotis adalah tawa Byun Baekhyun.Karena ketika lelaki itu tertawa ,seolah ia sedang membunyikan lonceng di dalam dirinya yang membuatnya bahagia seperti hayalannya waktu kecil, meluncur di atas pelangi.

“Kau berharga lebih dari wanita-wanita yang pernah ku kenal.Jika aku bisa meletakkan mu di dalam sebuah kaca agar kau tak ternodai,maka akan kulakukan itu.” Tanpa sadar Tawa Baekhyun sudah sedari tadi menghilang.Hyunchan terlalu keasyikan menenangkan dirinya.

“Bagi ku kau berbeda dengan mereka.Aku tak akan memperlakukan mu  sama dengan perlakukan ku pada mereka.Kau paham maksud ku kan?”

Jika ini drama mungkin sudah sedari tadi Hyunchan menampilkan wajah yang ingin mengeluarkan muntahan dari perutnya.Seharusnya ia tidak melupakan fakta bahwa Baekhyun ini seorang playboy dan otomatis ia mempunyai segudang syair untuk merayu wanita.Untuk sesaat mereka terdiam.Tak dipungkiri dadanya berdesir mendengar rayuan maut ala Byun Baekhyun itu.Karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya ada seseorang yang menghargainya sebesar itu.

“Rayuan dari buku mana lagi yang kau kutip?”  Ejek Hyunchan membelah keheningan.

“Hey,aku serius! Dan itu bukan kutipan dari manapun.”

Hyunchan terkekeh pelan.Meski ia tengah memunggungi Baekhyun tapi ia bisa membayangkan bagaimana lelaki itu memanyunkan mulutnya seperti anak kecil yang merajuk ketika ingin di belikan barang kesenangannya.

“Apa aku baru saja mendengar kau tertawa?” Ujar Baekhyun membuat Hyunchan terdiam.

Bahkan dirinya sendiri tak sadar kalau ia sedang tertawa meski pelan.Ia bahkan tak ingat lagi kapan ia terakhir  mendengar tawanya sendiri.Sesuram itukah hidupmu Shin Hyunchan?

“Kau tahu,kau harus sering-sering melakukannya.” Namja itu semakin merapatkan jarak mereka hingga rambut Hyunchan menyapu wajahnya.

Mereka tak butuh kata-kata ‘Aku mencintaimu.Apa kau mau menjadi pacar ku?’ atau ‘mulai detik ini kita pacaran.’ Mereka sungguh tak memerlukan kata-kata klasik itu hanya untuk bisa menikmati momen-momen sekarang ini.Mungkin inilah yang dimaksud orang ‘biarkan hati mu berkata dan menuntun mu’.Sepertinya paham itulah yang sedang dianut kaum adam dan hawa ini.

Seulas senyum tersimpul di wajah Baekhyun sambil memejamkan matanya.Mengendus aroma segar dari rambut Hyunchan.Ia yakin aroma rambut yang dikenakan wanita ini bukanlah aroma pewangi import dengan harga yang membelalakkan mata seperti yang biasa dikenakan gadis-gadis yang dikencaninya.Namun entah mengapa aroma itu justru membuatnya merasakan ketenangan.Ketenagan yang beberapa hari ini sulit ia dapatkan.

Belakangan ini,sejak insiden pertengkarannya dengan Chanyeol dan Jisun perasaannya selalu gelisah.Otaknya seolah tak bisa berhenti berfikir.Jiwanya berkecamuk terutama mengenai ia dan ibunya.Entah sudah berapa botol vodka dan aspirin yang ia habiskan selama 2 hari itu.Jika saja hari ini Hyunchan kembali menghindarinya,ia tak akan tahu bagaiman ia bisa melewati malam ini.

Keduanya kembali terdiam dalam keheningan membiarkan sayup-sayup suara pembawa berita merambat ke lubang telinga mereka meski otak mereka menolak untuk memikirkan apa yang dikatakan si pembawa berita.Saking terlarutnya dalam pikirannya,Hyunchan bahkan sudah lupa bahwa seharusnya ia masih memberontak dan melepaskan dirinya dari Byun Baekhyun.Ini bukan posisi yang baik bagi mereka.Ia terlalu terbuai dengan perasaannya sendiri.

“Hyunchan-ah.” Baekhyun memecah keheningan.

“uhm..”  Gumam Hyunchan sekenanya.Dirinya belum pulih dari pertengkaran perasaan dan logikanya mengenai situasi mereka.

“Menurutmu apakah aku ini orang yang jahat?”

Alis Hyunchan mengkerut.Otaknya mulai berusaha untuk menerjemahkan.Di dekat perutnya,ia bisa melihat Baekhyun sedang bermain dengan jemarinya sendiri.

“Aku kurang pandai dalam menilai seseorang.Memangnya kenapa?” Hyunchan mulai merasa ada sesuatu yang aneh.Reaksi Baekhyun sama persis sebelum ia menumpahkan emosinya di atas bukit beberapa hari yang lalu.Apakah ini masih masalah yang sama?

“Belakangan aku merasa aku adalah orang yang sangat jahat.” Ujarnya seolah menjawab sendiri pertanyaannya.”Aku telah mengecewakan orang-orang yang menyayangiku.”

Dan sekarang Hyunchan tahu kemana arah topic ini.Masih jelas  diingatannya pertengkaran antara Baekhyun dan Chanyeol di koridor rumah sakit dan alasan dibaliknya.Refleks jemarinya yang sedari tadi tak bergerak,menyentuh permukaan  ruas-ruas jemari lentik Baekhyun.Jari-jari kurus nan panjang itu sontak berhenti melakukan aktivitasnya.

“Aku tak bisa mengatakan kau ini lelaki baik-baik,karena apa yang menjadi persepsi orang-orang di sekitarmu hampir sama seperti diriku.Kau seorang playboy,tukang bolos,orang kaya yang tahunya hanya bersenag-senang,dan itu semua tak bisa dikategorikan sebagai perbuatan lelaki baik-baik,kan? Tapi aku juga tak bisa mengatakan bahwa kau lelaki jahat.Mana ada lelaki jahat yang menolong anak baru aneh di kelasnya dan memaksanya kerumah sakit ketika kakinya hanya berdarah sedikit?”

“Luka mu parah waktu itu,bodoh!” Selanya di antara kalimat Hyunchan.Mereka berdua tertawa mengenang masa itu.

“Aku tak bisa mengelompokkan mu ke kategori baik ataupun jahat.Terkadang manusia baikpun punya sisi jahat,dan manusia jahatpun punya sisi baik.Yang pasti, belakangan ini kau menjadi sosok yang lebih baik dari sebelumnya.Itu penilaian ku.”

“Tapi aku telah mengecewakan mereka dan aku merasa buruk karenanya.Chanyeol,Jisun,dan wanita itu…” ucapannya di biarkan menggantung.Pikirannya mulai melakukan flashback secara acak pada kejadian-kejadian yang belakangan terjadi.

“Aku yakin,kau punya alasan yang jelas di setiap tindakanmu yang kau anggap mengecewakan orang-orang yang kau sayangi itu. Mereka hanya tak bisa membaca alasan mu itu dengan baik.”

Hyunchan bisa merasakan tangan Baekhyun meremas kain bajunya.Perlahan tangannya mengusap jemari panjang itu hingga kembali melunak.

“Oleh karena itu sepertinya kau harus dengan sendirinya menjelaskan alasan-alasan itu.Kau perlu berbicara dengan mereka secara baik-baik.Selesaikan ini dengan kepala dingin.”

“Dengan Chanyeol dan Jisun mungkin aku bisa.Tapi apakah aku harus ..maksudku wanita itu..”

“Soal ibu mu,aku tak bisa memaksamu harus bertindak seperti apa.Bagaimana dengan ide berdamai dengan dirimu sendiri dulu? Aku yakin ada sisi diri mu yang masih menginginkan mu untuk bisa menerima ibu mu kembali.Manusia punya dua sisi,punya hal yang dinamakan perasaan dan logika.Saat sisi yang satu mengatakan ‘tidak’ maka ada sisi yang lain yang mengatakan ‘ya’.Pikirkanlah yang mana yang harus kau ikuti.Oh dan satu hal,jangan menggunakan gata ganti ‘ibu’ dengan sebutan ‘wanita itu’.Itu wujud protesku sebagai sesama wanita.”

Tak ada balasan lagi dari Baekhyun.Yang bisa gadis itu rasakan hanyalah pelukan Baekhyun yang semakin erat dan jidat lelaki itu yang mulai mengusap pelan belakang kepalanya hingga menimbulkan bunyi gesekan rambutnya.

“Aku tak bisa menjamin dapat melaksanakan masukan yang kau berikan.Tapi …. Terima kasih.” Bisik Baekhyun pelan lalu sedetik kemudian ia bisa merasakan sesuatu menyentuh belakang telinga.Kecupan yang singkat namun tetap membuatnya merasa geli.

Tanpa Hyunchan bicara pun Baekhyun sudah tahu apa balasan dari ucapan Hyunchan . Jemari gadis di depannya sedang memainkan jemarinya maka itu adalah balasan dari ucapan terima kasih Baekhyun.

Puas memainkan jemari Baekhyun dengan wajah bersemu merah akibat efek yang ditimbulkan kecupan singkat namja itu,kini Hyunchan kembali terdiam.Membiarkan tangannya kembali menggenggam tangan Baekhyun.Ia menatap lama jemari yang begitu lentik menari diatas tuts-demi tuts piano.Si pemilik tangan sepertinya sudah berada di alam mimpinya.Ia bisa merasakan dari hembusan teratur nafas Baekhyun yang memukul punggung lehernya.

Jari jari ini,sebentar lagi ia akan melupakan bagaimana lekuknya.Ia akan lupa bagaimana hanya dengan menyentuhnya saja bisa membuatnya merona dengan jantung yang berdetak lebih cepat.Sebentar lagi ia akan menjadi jemari biasa yang tak ada bedanya dengan yang lain.

Pikirannya kembali terinterupsi ketika ada kejanggalan yang tertangkap oleh matanya.Entah ini efek kelelahan atau apa,namun ia mendapati tangannya menjelma menjadi sesuatu yang tipis hingga ia tak merasakan sentuhan kulit Baekhyun lagi.Ia mengangkat tangannya tepat ke depan wajahnya.Matanya melotot ketakutan ketika mendapati telapak tangannya hingga ke lengan menjadi tembus pandang.

Keringat dingin mulai membanjirinya.Pertukaran karbon dioksida dengan oksigen yang sedari tadi masih berjalan lancar kini tersendat.Seolah ia mendadak lupa bagaimana cara bernapas.Apakah ini salah satu pertanda waktunya tak lama lagi?

Perlahan ia kembali menurunkan tangannya mencoba menggenggam tangan Baekhyun.Ia harap-harap cemas,takut bahwa ia tak akan bisa menggenggam jemari itu lagi dan dalam sekejap tubuhnya akan menghilang tanpa bekas dan permainan pun selesai.

Syukur terucap dari mulutnya ketika tangannya masih bisa kembali merasakan sentuhan kulit Baekhyun.Tak menunggu waktu yang lama bagi gadis yang ketakutan setengah hidup itu untuk kembali menggenggam jemari lelaki di belakangnya.Bahkan sekaranag ia menggenggamnya dengan kedua tangannya.Sangat erat.Seolah jika tak menggenggamnya sekuat mungkin,hal serupa macam tadi dapat terulang kembali.

“Komohon jangan mempersulitku untuk melepas genggaman ini.” Lirihnya.

***

Hyunchan merasakan hawa dingin menerpa tubuhnya ketika ia baru saja menutup pintu apartemennya,mengantar Baekhyun yang baru saja pulang.Kejadian semalam merupakan hal yang terindah yang pernah terjadi selama 18 tahun hidupnya.Ia tertidur begitu saja di atas sofa dengan tangan Baekhyun yang masih bertengger di perutnya hingga pagi ia terbangun.Rasa kantuk menyerangnya ketika ia mulai sibuk bergulat dengan ketakutan-ketakutannya.Syukurlah,semalam tidak terjadi sesuatu diluar kendalinya.Semuanya aman-aman saja.Mereka hanya bergelut dengan mimpinya masing-masing hingga sinar matahari menyeruak dari sela-sela tirai putihnya.Satu hal saja yang menganggunya pagi itu,tulang-tulang yang nyeri akibat tidur di sofa.Sepertinya ini harus dijadikan catatan penting,jangan pernah tidur di sofa lagi.Akan lebih baik jika ia tertidur di lantai beralaskan tikar dari pada di atas sofa meski sofa itu empuk.

Kembali ke sumber angin yang membuatnya sedikit menggigil padahal seingatnya ia belum membuka sama sekali jendelanya.Wajahnya tak bisa menyembunyikan ekspresi keterkejutannya ketika mendapati Suho dengan baju serba putihnya sedang berdiri di hadapannya memerkan senyuman yang biasa ada di iklan pasta gigi.Sepertinya ia tahu bersumber dari mana angin tadi.

Tak banyak yang berubah dari perawakan pembimbing perjalanan 49 harinya ini.Masih dengan wajah seputih bajunya,senyuman malaikatnya dan tatapan bersahabatnya .Memang apalagi yang bisa berubah dari Suho?

Tak mungkinkan tiba-tiba saja setelah lama tak bertemu dan sekalinya muncul wajah Suho langsung di penuhi oleh kumis ataupun janggut-jannggut kecil? Dia itu malaikat.

“lama tak melihat mu Suho-ssi.” Sapa Hyunchan sekilas lalu segera berjalan ke arah meja makannya,membereskan sisa makanannya dengan Baekhyun tadi.Mendadak ia jadi teringan rajukan Baekhyun yang masih ingin berlama-lama di sini ketika ponselnya berdering dan ayahnya menyeruhnya segera ke Ilsan untukmengurus sesuatu.Sepertinya ini ada hubungannya dengan bisnis keluarga Byun itu.

“Aku sedang sibuk belakangan ini.Mengurusi para pendatang dan peninggal 49 hari.” Ucapnya santai sambil berlenggang menyusul Hyunchan ke dapur lalu duduk di salah satu kursi makan berwarna putih tulang.”Tak kusangka kesibukan pemandu 49 hari bisa sesibuk para pekerja kantoran itu.” Keluhnya tanpa menyadari bahwa dari tadi Hyunchan hanya terdiam di dekat wastafel pencuci piringnya ketika lelaki itu menyinggung soal pendatang dan peninggal 49.

Ia menatap punggung gadis itu dengan tatapan sendu.Tatapan yang ia lemparkan kepada setiap peserta 49 hari yang sebentar lagi mengakhiri permainan.

“Hyunchan-ssi,kau baik-baik saja kan?” itu adalah bentuk lain dari kata ‘sebentar lagi permainan berakhir,apakah kau sudah siap?’.

Hyunchan mulai menyalakan keran airnya dan menggosok perabot makan itu satu persatu.

“Sekalipun aku bilang tak baik-baik saja,toh permainan tetap akan berakhir kan?” Ucapnya dingin.Entah mengapa sekarang ia menyesali keputusannya mengikuti fase mistis yang konyol ini.Jika ia langsung saja mati waktu itu dan mengikhlaskan semuanya,maka ia tak perlu semenderita ini.

Suho berjalan mendekati sosok itu,menyentuh pundaknya seolah memberikan dukungan ‘semuanya akan baik-baik saja’,meskipun kenyataannya tidak seperti itu.Lelaki itu menarik nafasnya dalam-dalam untuk menghembuskannya lagi.Pembicaraan mereka sepertinya menjadi sedikit berat.

“Tubuh yang tiba-tiba menjadi transparan,rasa lelah yang jauh lebih dahsyat dari biasanya,itu adalah tanda-tanda yang akan kau dapatkan menjelang batas akhir perjalananmu.Jadi kalau kau mulai merasakannya,tenanglah itu hal yang sudah biasa.” Balasnya mengalihkan topik ke arah yang sedikit ringan.

Hyunchan tak merespon, namun Suho tahu bahwa gadis itu mendengarkannya.Ia memutuskan kembali ke tempat duduknya.Salah satu tangannya mengganjal dagunya sedang tangan yang satu membiarkan jemarinya mengetuk meja perlahan.Suasana cukup hening,sampai-sampai Hyunchan dapat menangkap suara kicauan burung milik nenek di sebelah apartemennya di sela-selah deru air yang berkucuran.

“Belakangan ada sesuatu yang mengganjal dipikiranku.”Suho nampak sedikit ragu ingin mengeluarkan pertanyaan yang menghuni otaknya.”Aku tahu ini bukan urusan ku tapi… “ bola matanya memandang ke arah jemarinya yang sibuk mengetuk-ngetuk di atas meja,menimang-nimang haruskah ia menanyakan ini? Ketukan itu terhenti seiring dengan keyakinannya.

“apakah kau memiliki perasaan yang tak seharusnya pada Byun Baekhyun?”

Dan pertanyaan itu sukses membuat dentingan perabot makan itu terhenti.Bahkan bukan itu saja,untuk sepersekian detik seolah ada yang menyumbat salauran udaranya.Tak ada jawaban yang keluar dari mulut Shin Hyunchan.Ia tetap bersikukuh dalam kebisuannya.

“Sepertinya aku benar.” Suho tertawa kecil namun ada yang  lain kali ini.Itu bukan tawa bersahabat seperti biasanya melainkan tawa yang menunjukkan kekhawatiran.

“Tak sedikit orang yang terlibat kasus seperti mu.Meski tak ada hukuman secara fisik namun secara jiwa pasti kau sudah mengalaminya,kan? Ini seperti kasus dimana kau memasukkan air ke dalam botol yang berlubang.Pada akhirnya air itu akan terkuras habis tak tersisah.Intinya, sesuatu yang hanya membuang-buang waktu dan percuma.Tapi…”

Suho lagi lagi menarik nafas.

“Aku tak bisa menyalahkan siapapun.Ini urusan hati dan tak seorang pun manusia yang bisa mngontrol kemana hati mereka akan terpikat.Urusan cinta tidak seperti membeli ice cream*perumpamaan yang aneh*.Ketika kau menginginkan ice cream rasa coklat,vanilla,atau apapun itu  maka kau bisa mendapatkannya.Tapi cinta,sekalipun kau ingin memilih untuk jatuh cinta pada pemuda baik-baik dengan segudang prestasi,namun bisa saja hati mu justru memilih untuk tersangkut pada pria berandalan yang jauh dari kesan baik-baik.”

“Aku tak bisa membantu mu apa-apa.Semuanya sudah kuperingatkan sejak awal.Tapi sepertinya takdir punya jalannya sendiri.” Ucapan Suho terpotong ketika ada sebuah bunyi yang entah dari mana asalnya menginterupsinya.Hyunchan dapat menagkap desahan mengeluhnya.”Ah,ck.Panggilan lagi.” Gumamnya merutuki.

“Sepertinya aku harus pergi.” Decitan kursi yang di geser terdengar menandakan lelaki itu sudah bangkit dari posisi duduknya.Ia sudah hampir menghilang lagi ,namun memutuskan untuk menoleh sejenak.

“Tak seorang pun tahu apa yang terjadi di hari esok.Kau pun tak bisa mencegahnya.Tapi paling tidak kau masih memiliki hari ini.Persetan dengan hari esok.Yang harus kau lakukan adalah menikmati apa yang kau miliki hari ini.Jika itu kenangan,maka buatlah kenangan yang indah.Puaskan dirimu dengan kenangan indah sehingga jika hari esok kau tak memiliki kenangan itu lagi,maka tak akan ada penyesalan.Karena kau sudah menikmatinya hari ini.”

“Sampai jumpa di hari penentuan.” Pamitnya.Tak lama setelahnya,tiba-tiba saja hembusan angin yang kencang terasa menyambar Hyunchan dan dalam sekejap Suho tak tampak lagi.

Keran air masih terus mengucurkan air.Busa-busa putih itu belum beranjak dari sekitar jemari –jemari Hyunchan.Matanya belum berkedip sedari tadi.Tubuhnya masih membeku seperti sebuah kaset yang sedang di pause.Otaknya terlalu sibuk mencerna kata-demi kata yang keluar dari mulut Suho.

***

Black audi keluaran terbaru itu menjadi primadona diantara tunggangan yang berada di sekitarnya,terparkir indah di jalanan yang lebarnya hanya cukup untuk dua mobil .Bagaimana tidak,sepanjang jalan yang terparkir hanyalah mobil bak ataupun jejeran sepeda motor pengantar pesanan.Baekhyun masih belum beranjak dari tempatnya sejak ia tiba semenit yang lalu.Wajahnya terlihat sedikit gugup seperti mahasiswa yang sebentar lagi memasuki ruang sidang skripsi.

Ia sudah berada di tempat ini,tinggal turun dari mobilnya,melangkah sedikit untuk mencapai warung yang tak jauh dari pandangannya,dan bertemu dengan seoranga wanita.Tinggal langkah-langkah itulah yang perlu ia lakukan agar masalah ini lebih cepat selesai.Kali ini ia harus bisa menyelesaikan semuanya dengan kepala dingin dan tidak berakhir seburuk yang terjadi di taman belakang rumah sakit waktu itu.Entah sudah berapa kali ia menghela nafas berat selama semenit ini.Rasanya segalanya menjadi berat.

“Hey,kalau kau belum siap hari ini kau bisa melakukannya besok.Kau ingat kan masalah ini harus di selesaikan dengan pikiran tenang?” Gadis yang sedari tadi menemaninya  di kursi penumpang menatapnya sedikit khwatir.Suaranya lembut mencoba menenangkan Baekhyun.Jemarinya mengusap pelan jemari lelaki yang sedang berpegangan erat pata stir mobil seolah hidupnya bergantung pada alat pengendali itu.

“Tidak apa-apa,Hyunchan-ah.Lebih cepat menyelesaikannya akan lebih baik ,bukan?” Ia menoleh pada gadis di sebelahnya, memamerkan senyumannya bahwa ia sungguh baik-baik saja.

Niatnya sudah bulat untuk kembali bernegosiasi dengan ibunya mengenai masalah belakangan ini.Ia sudah yakin tak akan semeledak seperti waktu dulu.Ia bahkan sudah beryoga terlebih dahulu sebelum datang ke tempat ini untuk mencegah hal-hal yang melibatkan emosi terjadi.

Seiring dengan ucapannya yang selesai akhirnya kaki itu melangkah keluar,menyambut udara yang sedikit berbeda dengan yang di timbulkan penghangat mobilnya.Sepatu Nikenya  melangkah demi selangkah menuju ke sebuah warung yang agak dipenuhi oleh mobil para pengangkut barang.Kakinya mendadak terhenti ketika bola matanya telah menangkap sosok yang dicarinya,bahkan sebelum ia mencapai pintu masuk.

Dari kejauhan ia bisa melihat bagaimana wanita yang telah mengandungnya selama 9 bulan itu tengah sibuk-sibuknya sambil sesekali mengusap peluh yang membanjiri jidat dan pelipisnya.Wajahnya letih,terlihat sedikit pucat.Dandannanya sama seperti ajjumma pelayan seperti biasanya.Pakaian dengan warna yang telah memudar,alas kaki murahan,dan rambut yang sedikit awut-awutan,tak akan ada yang menyangka bahwa wanita yang hampir tak ada bedanya dengan gelandangan yang biasa tertidur di emperan bangunan kosong,dulunya adalah istri orang yang berpengaruh pada ekonomi korsel saat ini.Orang hanya akan tertawa terpingkal-pingkal  ketika mendengar bahwa wanita itu adalah  menantu –terbuang- keluarga Byun .Istri dari CEO perusahaan Byun, Jinki.

Entah kenapa melihat wanita itu dengan susana hati yang berbeda,maksudnya tak diawali rasa emosi seperti sebelum-sebelumnya seakan membuka penutup mata yang menutupi matanya selama ini.Secercah rasa iba menghampirinya.Jika saja tak ada konspirasi dari mendiang neneknya,mungkin wanita itu sudah menjadi golongan kaum sosialita,yang mengenakan pakaian bermerek ternama.Mungkin ia sekarang berada di spa,atau salon kecantikan untuk mempermulus kulitnya yang kini tampak menua lebih cepat di banding umurnya.

Ia tersadar seketika dari lamunanya saat mendadak di dalam warung itu terjadi kegaduhan dengan beberapa orang yang tergesa-gesa menghampiri satu titik.Titik dimana wanita yang sedari tadi dipandanganya tengah terkapar di lantai tak sadarkan diri.

Ia tak terlalu bisa mennagkap bagaiman reaksinya beberapa saat yang lalu ketika ia menyadari ibunya jatuh pingsan.Yang ia tahu sekarang ia tengah berada di sebuah rumah sakit, berjalan begitu cepat mengiringi sebuah tempat tidur berjalan dengan ibunya yang terbaring di atasnya, masih tak sadarkan diri.Jantungnya berdetak tak karuan,entah ini efek khawatir atau pengaruh ia berjalan cepat menyeimbangi kecepatan temapat tidur berjalan tersebut.

Langkahnya terhenti ketika ibunya  lenyap di balik pintu ICU.Ia menyandarkan kepalanya ketembok sambil memejamkan matanya.Kedua tangannya mencengkram rambutnya erat,tak peduli jika sebelumnya ia cukup menghabiskan waktu untuk mengatur rambutnya hanya karena Hyunchan ikut bersamanya.Oh dasar playboy!

“Ibu~kumohon bangunlah.Jangan tinggalkan aku bu~” matanya terbuka ketika kupingnya menangkap suara rintihan.Kepalanya celingak-celinguk mencari sumber suara tersebut.Hingga matanya tertancap pada sebuah tempat tidur berjalan dengan sebuah gundukan di balik kain putih bersiap-siap melintasinya.Disampingnya terlihat remaja sekitar 14 tahun berusaha mensejejerkan langkahnya yang terseok-seok.Wajahnya memerah di penuhi banjir air mata.Suaranya sudah setengah serak ditambah tangisnya yang sesenggukan.Matanya sembab,  bola mata  memerah.

“Ibu~ buka mata mu! Jangan tinggalkan Yuki.Jangan biarkan Yuki sendirian disini.”

DEG

Baekhyun memandangi adegan memilukan itu hingga semuanya mulai menghilang dari pandangannya.Sayup-sayup ia masih dapat menangkap rintihan gadis belia itu dari kejauhan.Tubuhnya mendadak gemetar.Bola matanya belum berkedip sekalipun sejak kejadian itu.Ketakutan  meneyelimutinya.Ketakutan yang sama dengan 11 tahun silam ketika sang ibu hendak meninggalkannya.Namun yang kali ini tingkatnya jauh lebih besar.Bayangan ia harus mengahadapi tubuh ibunya yang tinggal berbalut kain kafan memenuhi otaknya.Masih bisakah ia memendam rasa benci pada ibunya jika ibunya akan meninggalkannya selamanya?

Meski selama ini ia sudah menganggap ibunya telah tiada namun ketika anggapan itu menjadi kenyataan,jujur ia belum siap.Ia belum siap bertemu ibunya bukan dalam bentuk manusia namun sebuah nisan beralaskan gundukan tanah.

“Hyunchan-ah…a.. aku..aku takut … kehilangan ibu ku.” Bisiknya bergetar tanpa ia sadari.

Gadis yang sejak ibu Baekhyun memasuki ruang ICU terus memanjatjkan doa,perlahan membuka matanya mendengar suara Baekhyun.Ia membiarkan doa-doanya terputus dan memilih untuk menoleh sejenak,melihat keadaan Baekhyun.

Byun Baekhyun,ia tak pernah melihat lelaki itu dengan ekspresi ketakutan dan tubuh yang menggigil hebat.Genangan air keringat yang kecil memenuhi jidatnya.Nafasnya tidak teratur seperti orang normal kebanyakan.Ia segera mengusir keheranannya dan bergerak cepat menenangkan Baekhyun.Tangannya mengusap pelan lengan atas lelaki itu.Membuat gesekan antara kulit dan lengan baju menimbulkan bunyi.

“Tenanglah,ibu mu akan baik-baik saja.” Hyunchan mengusap lengan lelaki itu,berharap lelaki di hadapannya dapat sedikit lebih tenang.

Bukannya malah tenang,Baekhyun justru menarik tanganHyunchan dari lengannya kemudian menggenggamnya erat.”Aku takut…” Bisiknya masih dengan suara bergetar.

Tak tahu harus bagaimana menghadapi Baekhyun,ia akhirnya menuntun lelaki itu duduk di tempat duduk terdekat.Genggaman Baekhyun belum melonggar sedikit pun.Kepala lelaki itu perlahan bersandar di bahu Hyunchan.

“Tenanglah,Ibumu orang yang kuat.Jadi jangan befikir yang macam-macam .Oke?”  Tak ada jawaban dari Baekhyun,lagi pula Hyunchan tak butuh itu.Itu juga bukanlah kata yang mengharuskan adanya jawaban.Ia hanya ingin mempertegas kalimatnya saja. Jemarinya yang lain mulai sibuk mengusap pelan kepala Baekhyun membiarkan kulitnya bersentuhan dengan rambut yang telah terbahsahi oleh keringat dingin itu.

Ia masih ingat betul ibu pantinya selalu mengelus-elus rambutnya seperti ini ketika dirinya sedang berkecamuk ataupun dilanda rasa takut setelah mimpi buruk.Dan ia merasa tenang sesudahnya.Makanya ia berharap hal ini bisa berefek sama pada Baekhyun juga.

Ia terus mengusapnya untuk jangka waktu yang lama.Nafas Baekhyun sudah mulai teratur,genggaman tangannya juga sudah mulai menghangat,tak sedingin tadi.Ia melihat kearah pundaknya,ternyata namja itu tengah tertidur pulas di pundaknya.

Masih ingin dia menikmati momen-momen indah itu,namun pintu ICU  tengah terbuka disertai munculnya seorang pria perawakan 50 tahun dengan jas putih ala dokternya.

“saya ingin berbicara dengan keluarga nona Yeonhi.”

Ucapan sang dokter yang cukup besar untuk pembicaraan normal itu sukses mengusik tidur indah Baekhyun di pundak Hyunchan.Matanay perlahan terbuka,dari buram hingga akhir ia merasa jelas dengan posisinya sekarang dan apa yang terjadi barusan.

“saya anaknya,dokter.” Spontan ia langsung berdiri,seolah otaknya langsung dengan kecepatan tinggi mentransfer pertanyaan itu keotaknya.

“Nona Yeonhi sebentar lagi akan di pindahkan ke kamar inap pasien.Tak lama lagi ia akan sadar.Saya perlu keluarganya untuk membicarakan sesuatu yang cukup penting .”

***

Baekhyun menatap  tubuh lemah yang terbaring di ranjang bersepraikan kain warna putih itu.Disalah satu lengannya menancap selang infuse yang terhubung dengan botol infuse di atasnya.Tetes-demi tetes cairan infuse memenuhi penampungan kecil di bawah botol infuse yang nantinya akan dialirkan kedalam tubuh pasien.

Ia memandangi lekat-lekat tubuh yang belum sadarkan diri itu.Ia masih ingat sewaktu kecil,tak sekalipun ia melihat ibunya sakit hingga terbaring lemah seperti ini.Ibunya adalah orang yang kuat.Namun ketika melihat sosok yang kuat dan tegar itu kini terbaring tak berdaya,membuat perasaan dosa menghantamnya.Tiba-tiba segala tindakan arogannya selama ini terflashback secara cepat membuatnya akhirnya menyadari ia seperti Hitler ke dua.Ia menatap jari-jari ibunya yang terbuka  setengah.Seoah ada ikatan kuat yang menarik tangannya untuk memegang jemari yang telah merawatnya dahulu.

DEG

Ia  seperti tersengat listrik kecil.Segala kenangannya dengan sang ibu tiba-tiba terputar dengan cepat secara acak-acakan.Tangan itu seolah mengantarkannya kembali melihat,mengingat,merasakan, masa lalu.Tangan inilah yang selalu merawatnya,menyuapinya,mengobati luka kecil,mengusap air matanya,melindunginya.Tangan inilah yang selalu membelainya dengan penuh kasih sayang,selalu terbuka lebar untuk menyambutnya ke dalam pelukan sang ibu. Dia hampir melupakan bagaimana tangan itu memiliki arti begitu besar.Dan beberapa waktu yang lalu dia bahkan menepis tangan itu,sampai mengharamkannya untuk menyentuh dirinya..Oh Tuhan ! amarah dan dendam betul-betul mebutakannya.

“maafkan aku.”Bisiknya.

Tangan ibunya terasa bergerak.Baekhyun segera menyingkirkan tangannya ketika kelopak mata ibunya perlahan-lahan terbuka.Ditengadahkannya wadanya ke atas untuk menarik masuk air mata yang tengah menggenang di pelupuknya.Telingan dapat menangkap nada rintihan pelan dari sang ibu.

“Baru saja Jisun keluar dari rumah sakit kemarin,sekarang ada yang masuk rumah sakit lagi.Menyebalkan!” Ucapnya sok galak untuk menetralkan kembali perasaaannya.

“Baekhyun-ah,kau kah itu?… kenapa aku..kau—“

“Sudahlah jangan banyak tanya!” Ucapnya memutar bola matanya.

“Kata dokter salah satu ginjalmu sudah tak berfungsi lagi.” Ia mendengus kesal.Tapi tak ada reaksi keterkejutan dari si pasien.

“Aku betul-betul tak mengerti,kau bahkan sudah tak terbebani dengan tanggungan mengurus aku dan Jisun.Tapi kenapa kau masih tak becus juga untuk mengrusi diri mu sendiri?”

Pikirannya kembali melayang akan percakapannya dengan dokter Kim beberapa saat yang lalu.Ia masih ingat bagaimana dokter itu memperlihatkan hasil ronsen yang menunjukkan ibunya hanya bisa bergantung pada satu ginjalnya.Bahkan ini sudah berlangsung cukup lama dan ucapan itu semakin membuat mata Baekhyun terbelalak lebar di banding ketika pengumuman bahwa ginjal ibunya sudah tak berfungsi salah satunya.Alasan-alasan yang menjadi factor penyebabnya juga tak luput mebuatnya terkejut.Konsumsi obat-obat dokter yang dilakukan secara sering,pemforsiran tenaga hingga menyebabkan keletihan,konsumsi minuman beralkohol dalam intensitas yang sering,kurangnya jam tidur,dan  asupan gizi yang masuk ke dalam tubuh,itulah beberapa faktor penyebab yang dituturkan sang dokter.

Ia sebenanya sangat khawatir dan berniat menyampaikan kekhawatirannya pada sang ibu namun sepertinya ia salah dalam menyampiakannya.Jadi yang ada hanayalah kesan bahwa dia tengah marah dan mengomel-ngomel seperti ibu-ibu di pasar.

“apa kau mengkhawatirkan ibu?”

Naluri seorang ibu memang dahsyat.Bakehyun tanpak gelagapan.

“Bukan mengkhawatirkan,tapi dengan kau jatuh sakit maka kau sukses membuatku repot dan bergelut dengan aroma rumah sakit yang menyebalkan!”

Tanpa lelaki itu sadari meski sedari tadi ia tereksan jutek dan sedikit kasar namun tak ada amarah yang terselip di setiap omongannya.Ia seperti anak kecil yang sedang ngambek sama ibunya ketika ibunya tak membelikannya ice cream favoritnya.

Yeonhi tersenyum senang melihat tingkah anaknya.“Terima kasih Baekhyun-ah.” Ucapnya pelan dan lembut.

Setelah itu keheningan kembali menemani mereka.Hyunchan belum juga kembali dari mengurus administrasi dan obat-obatan yang perlu diambil buat ibu Baekhyun.Sekarang Baekhyun merasa membutuhkan Hyunchan agar ia tak salah mengambil langkah.

“dulu setelah meninggalkan kalian, itu merupakan saat –saat terberat dalam hidup ibu.Hampir setahun lebih ibu menjadi pecandu alcohol,berharap rasa bersalah dan penyesalan telah meninggalkan kalian segera lenyap.Namun hasilnya sama sekali nihil.Tablet-tablet penenang aku konsumsi layaknya permen tanpa mengkhawatirkan efeknya nanti seperti apa.Rasanya hidup enggan matipun tak mau.Itulah yang aku rasakan dari dulu bahkan hingga kini.Ibu tak tahu apa tuan ibu bertahan lagi,harta yang paling berharga…keluargaku , sudah kutinggalkan dan telah membenciku.Jadi ketika kudengar dokter mengatakan salah satu ginjalku telah rusak,aku sama sekali tak peduli.Malah itu lebih baik.Dengan begitu perlahan hal itu akan membunuhku dan aku tak perlu lagi menanggung dosa akibat bunuh diri.”

“Bodoh!” Hardik Baekhyun.

Yeonhi cukup terkejut dengan umpatan kasar yang meluncur dari mulut Baekhyun.

“Seharusnya kau mencari laki-laki lain dan memulai kehidupan barumu dengan bahagia.Kenapa kau tak  melaukannya? Toh tak ada harapan juga kau bisa kembali ke keluarga ini.Kenapa kau harus menyiksa dirimu?”

Yeonhi tersenyum getir.”kuharap aku bisa melakukannya,tapi sayangnya tidak.”

Ucapan yang hampir bermakna sama ketika sewaktu dulu Baekhyun mempertanyakan kenapa ayahnya tak mencari wanita lain dan kawin lagi.Sepertinya kedua orang tuanya mewarisi cinta sejati Juliet dan romeo.

Mata Yeonhi menengadah ke langit-langit ruangan itu seolah sebuah film dari masa lalunya sedang tampak di atas sana.Ada tatapan kesakitan yang terpancar di wajahnya.Ia melakukannya cukup lama sebelum akhirnya ia tersadar kembali dan menerima kenyataan bahwa itu hanyalah kenangan masa lalu dan dia sedang tak hidup di masa lalu itu lagi,melainkan masa sekarang dimana semuanya terasa pahit.

“Sepertinya aku sudah baikan.Aku harus kembali bekerja—“

“Apa kau betul-betul ingin bunuh diri?” Baekhun bangkit dari posisi duduknya sambil menahan tangan ibunya yang hendak melepas jarum infusnya.

“Apa kau tahu seberapa parah penyakitmu ? dan konyolnya kau masih memikirkan pekerjaan mu yang bahkan gajinya tak tahu mau kau apakan?” Baekhyun tertawa sarkastik menggeleng-gelengkan kepalanya frustasi.Ia sudah beridiri berkacak pinggang sambil menengadah keatas berusaha untuk menghilangkan emosinya.Bukan emosi penuh kebencian seperti biasanya namun lebih kearah emosi karena ia mengkhawatirkan wanita dihadapannya itu.

“Aku sama sekali tak mengerti apa yang ada di pikiran mu.Bermasa bodoh dengan hidupmu sampai berfikir ingin mati,apa kau tak memikirkan bagaimana reaksi orang-orang yang kau sayangi? Bagaimana dengan Jisun? Bagaimana dengan ayah?” Dadanya naik turun berusaha mengatur nafasnya begitu kalimatnya sleesai.

Ruangan yang tadinya di penuhi oleh nada tingginya seketika menjadi hening.Keduanya saling bertatapan.Yang terdengar hanyalah tarikan dan hembusan nafas dari Byun Baekhyun.

Yeonhi meluruskan punggungnya dengan bersandar pada sandaran tempat tidurnya.Ia meletakkan bantal untuk membuatnya sedikit merasa nyaman.Raut terkejutnya akan reaksi Baekhyun barusan berangsur menjadi normal.Ia kembali dengan tatapan sendunya.

“Bagaimana dengan mu?”

Siapapun dapat menagkap ekspresi kekagetan di wajah anak tertua keluarga Byun itu ketika pertanyaan itu terlontar dari mulut sang ibu.

“Apakah kau juga mengkhawatirkan ibu?” Alis wanita itu menekuk kebawah menandakan kesedihannya.Bola matanya berbicara seolah di dalamnya tersimpan harapan akan jawaban Byun Baekhyun.

Hampir semenit berlalu namun mulut Baekhyun masih terkatup rapat tanpa mengeluarkan sehuruf pun.Yeonhi mulai memasang tampang kecewanya dan bersiap-siap menyerah untuk angannya yang sedikit muluk-muluk.

“Mungkin ‘tidak’ sekarang bagi Byun Baekhyun yang tengah berdiri di hadapan mu,namun yang aku yakini Baekhyun kecil di dalam sini memiliki perasaan seperti itu.” Suaranya begitu pelan sambil menepuk-nepuk dadanya.Seolah ia mengatakan bahwa jauh di dalam hatinya sebenarnya masih ada hati milik Byun Baekhyun kecil.Byun Baekhyun yang sangat menyayangi ibunya.Ia yakin Baekhyun kecil akan jauh lebih khawatir dari siapapun jika mengetahui bagaimana ibunya sungguh masa bodoh dengan hidupnya.

“Baek..hyun-ah..” Suara sang ibu terbata-bata tak percaya dengan apa yang di ucapkan anak sulungnya.kata ‘tidak sekarang’ dari Baekhyun memberikannya secercah harapan bahwa ia memiliki kesempatan untuk memperbaiki hubungannya dengan anak lelakinya ini.Meski bukan sekarang namun apa yang ditunjukkan Baekhyun selama ini sudah lebih dari cukup dibanding dengan pertama kali ia menyambut kedatangannya kembali.Membayangkan ia akan hidup di dalam kebencian dari darah dagingnya snediri sungguh membuatnya ngeri.

Seperti tahu akan maksud dari ekspresi ibunya,Baekhyun akhirnya sadar mungkin inilah waktu yang tepat untuk ia melakukan hal yang sejak di warung tadi ia lakukan.Atau bahkan sejak dahulu ia kerjakan.

“Ma..Ma..Maafkan aku.” Wajahnya menatap kelantai.Perasaannya bergejolak,berkecamuk hingga berefek pada pita suaranya yang bergetar.”Maafkan aku selama ini…”nafasnya seolah tertahan.Tinggal satu kata yang sudah menempel di ujung lidahnya bersiap untuk diluncurkan,namun entah mengapa seolah ribuan batu tengah menindih lidahnya membuatnya susah berkata bak orang yan terkena struk.”Bu.” Kalimat itupun selesai secara sempurna berkat dorongan entah dari mana.Mungkin itu dari hati Baekhyun kecil yang masih melekat dengannya.

“hanya itu yang bisa kulakukan sejauh ini.Mungkin aku tak langsung bisa menerima mu sepenuhnya,menerima keselahan di masa lalu yang kelam itu sebagai bagian dari cobaan sang pencipta.Tapi,aku sedang berusaha melakukannya.”

Lelaki itu masih tertunduk menatap pantulan dirinya di keramik tepat di bawah kakinya.Tangannya sudah sedari tadi mengepal,mengumpulkan tenaga di balik saku jaketnya.

Suasanan kembali hening.Masing-masing sedang bergelut dengan pikirannya.Sesekali teriakan kepanikan para dokter dan suster mengisi koridor di depan kamar.

“Baekhyun-ah,kemarilah.” Yeonhi mematahkan kesunyian itu.Ia menatap anak pertamanya dengan tatapan penuh kasih sayang.Tangannya ia gerakkan seperti orang yang tengah memanggil seseorang ketika Baekhyun telah mengangkat wajahnya dan menatapnya.

Lelaki itu perlahan mendekat meski ada raut keraguan,ketakutan,dan kecemasan yang menghiasi wajahnya.Untuk sekian detik berikutnya lelaki itu sudah berada kembali di pelukan ibunya.Pelukan yang 11 tahun ini telah menghilang dari hidupnya.Pelukan yang dulunya selalu menengkannya,penuh kasih sayang,dan melindunginya.

Tanpa ia sadari cairan bening sudah menghiasi wajah putinya.Lagi-lagi ia kembali dalam pelukan ini dengan sebuah air mata.Persis ketika ia dijahili oleh temannya dan begitu pulang ia langsung mengadu sambil menangis di pelukan sang ibu.Namun bedanya,kali ini ia air mata itu bukan karena ia disakiti oleh orang lai,namun  karena ia telah menyakiti dirinya sendiri,menyakiti ibunya,menyakiti orang-orang di sekitarnya.Ternyata betul kata orang,sebenci-bencinaya anak pada orang tuanya,tetap saja mereka masih memiliki ikatan darah,ikatan batin yang tak bisa diputuskan oleh apapun dan dengan cara apaun. Ikatan batin yang melunturkan segala amarah dan dendam bertahun-tahun,seberapa besarpun itu.Pada intinya,seorag anak tak akan pernah bisa membenci ibunya,seberapa keras ia mencobanya.Pasti  hati kecilnya akan menjerit kesakitan dan itulah yang membuat hidupnya tak akan tenang sebelum memaafkan ibunya.

Ibu adalah sosok yang berharga bagi kehidupan.Pengorbandannya mengandung kita selama 9 bulan tak akan sepadan dengan apapun.Seberapa jahatnya perlakuan dia terhadap anaknya tapi sungguh tak pantas jika harus membenci sang ibu begitu dalam.Karena tanpanya seorang anak tak akan terlahir ke dunia.Itulah yang harus kita tanamkan baik-baik.

Baekhyun keluar dari ruangan itu setelah perasaan haru menyelimutinya.Dengan alasan ingin mencari Hyunchan yang mungkin kesusahan dalam pengambilan obat karena sedari tadi belum juga muncul di kamar inap Yeonhi,Baekhyun meninggalkan ruangan ibunya.Tangannya belum beranjak dari gagang pintu membayangkan apa yang baru saja terjadi.Ia sungguh tak akan pernah membayangkan bisa kembali kepelukan ibunya setelah sekian tahun lamanya.Berada kembali ke pelukan itu seperti hanya sebatas mimpi.Ia menghembuskan nafas.Seolah onggokan batu-batuan raksasa barusaja terangkat dari saluran pernapasannya.Beban-beban berat yang dipikulnya selama ini menghilang begitu saja.Segala sesuatunya jadi terasa ringan.Begitu ia berbalik,didapatinya Hyunchan yang tengah bersandar di tembok dengan beberapa bungkusan obat dan surat-surat dari rumah sakit di tangannya.Senyumnya semakin merekah lebar memamerkan deretan gigi-gigi kecilnya yang rapi.

Gadis itu menoleh ,ketika ekor matanya menagkap ada bola mata lain yang tengah memperhatikannya.Ia mendapati Baekhyun berdiri tak jauh darinya,sekitar 3 langkah.Dilemparkannya senyuman pada lelaki.Mulutnya baru saja hendak melontarkan pertanyaan pada kondisi Baekhyun,namun lelaki itu sudah terlanjur menghambur ke arahnya dan memeluk tubuhnya begitu erat.

Pelukan itu sudah cukup menjelaskan semua pertanyaan di otak Hyunchan sebelumnya.”Semuanya berjalan lancar,yah?” tanyanya memastikan yang kemudian hanya di jawab dnengan gumamn dan anggukan pelan dari Baekhyun.

Bibirnya semakin memperlebar senyumannya mendengar kabar baik itu.Tangannya perlahan bergerak naik mengelus-elus punggungg Baekhyun.”Akhirnya.” Ucap gadis itu legah.

“terima kasih Shin Hyunchan.”

Gadis itu hanya membalsanya dengan gumaman kecil yang lebih terdengar seperti berbisik.

“paling tidak ini hal terakhir yang bisa kulakukan untukmu… untuk merubah masa depan mu.” Ucapnya dalam hati.

Suho dulu pernah meberitahunya bahwa kejadian-kejadian ataupun perubahan-perubahan yang terjadi selama perjalanan 49 hari dapat berefek pada kehidupan setelahnya.Maksudnya ketika perjalan 49 hari telah berakhir dan semua kehidupan telah berjalan normal,maka perubahan yang terjadi pada saat perjalan 49 hari dahulu,akan memiliki pengaruh pada kehidupan setiap tokoh di dalamnya.Ingatan mereka mungkin akan terhapus tapi tidak begitu dengan kepribadian atau apapun itu selain ingatan mereka.Jadi jika di masa 49 hari Baekhyun dan ibunya bisa hidup rukun maka bisa di jamin di kehidupan normal setelah 49 tak akan adanya namanya perceraian ataupun permasalahan dendam antara ibu dan anak .Mereka akan menjadi keluarga normal yang bahagia tanpa adanya bagian dimana ibunya akan meninggalakannya lalu membuat keluarga Byun menjadi hancur.

Tiga manusia telah berbahagia pada hari itu.Menyadari bagaimana rasa bahagia ketika satu persatu masalah terselesaikan.Setelah badai berlalu akan muncul  mentari.Setelah kesedihan akan muncul kebahagiaan.Itulah kehidupan.Sedih tak akan selamanya sedih dan bahagia tak akan selamanya bahagia.

***

Baekhyun berdiri menatap bangunan mewah di hadapannya.Tempat yang luas ini sudah seperti rumah keduanya.Ia banyak menghabiskan masa kecilnya di tempat ini.Masa ketika ia harus mengalihkan pikirannya soal sosok ibu.Rumah keluarga Park,atau lebih tepatnya kediaman Chanyeol.

Kali ini ia tak mengajak Hyunchan.Ini urusan laki-laki dan akan sedikit aneh jika ia melibatkan seorang gadis di sini.Jemari kata orang sangat lentik itu perlahan memencet tombol.Pada tekanan yang ketiga sebuah suara menjawab dari intercom.

“Kediaman keluarga Park di sini.Siapa disana?” Baekhyun terkekeh mendengar suara itu.Bagaimana mungkin ia bisa melupakan bibi Yong .Wanita tua itu sering dibuat repot dengan kenakalan Baekhyun dan Chanyeol ketika kecil dulu.Bahkan sepertinya itu masih berlangsung hingga sekarang.Hanya Kyungsoolah anak kesayangan bibi itu.Padahal waktu itu ia baru mengenal anak itu tapi katanya diantara semua teman Chanyeol Kyungsoo lah yang paling sabar dan baik,makanya ia menyebutnya sebagai anak kesayangan.

“Ini Baekhyun,Bi.Bisa bukakan pagarnya?”

“Baekhyun-ah? Oh tunggu sebentar!” Tak lama kemudian wanita tua dengan rambut yang mulai beruban ditambah keriput yang menghiasi wajahnya telah menyambutnya.Ia melangkah melewati taman besar yang dipenuhi tumbuhan bermacam-macam jenis.Ibu Chanyeol memang pecinta tanaman.Pernah sekali ia merusak kumpulan tanaman mawar kesayangan ibu Chanyeol dan ia bersama Chanyeol akhirnya mendapatkan omelan yang memekakkan telinga.Meski begitu keesokan harinya ibu Chanyeol mentraktir mereka ice cream sepuasnya.Wanita itu memang sering tak tega pada anak kecil.

“ Chanyeol ada di kamarnya.Kau ke atas saja.” Ucap si bibi ketika mereka telah memasuki rumah Chanyeol yang nampak sunyi tanpa ada tanda-tanda kehidupan.

“baiklah.” Angguk Baekhyun mengerti.

“Oh iya kau mau minum apa?” Tanya wanita itu lagi.

“Seperti biasa saja,bi.”

Begitu si bibi sudah mengangguk paham Baekhyun pun melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga menuju kamar Chanyeol.Dia sudah hapal seluk beluk rumah ini bahkan jika di suruh menutup mata. Rumah ini sungguh sunyi,sepertinya orang tua Chanyeol sedang banyak urusan.

Ia berhenti di salah satu ruangan besar yang pintunya terbuka cukup lebar hingga menampilkan apa yang dilakukan sang pemilik di dalam sana.Baekhyun mendekatkan dirinya.Matanya menangkap beberapa pelayan sibuk mengambil pakaian dari dalam ruang penyimpanan pakaian Chanyeol  dan memasukkannya kedalam koper-koper besar yang telah berjejer.Ada juga yang sedang membereskan barang-barang berharga Chanyeol.

Sepertinya lelaki itu sedang berkemas-kemas.Mungkin ingin liburan.Seperti itulah yang di pikirkan Baekhyun meski untuk hal sebatas liburan jumlah koper dan pakaian yang dibawa sedikit berlebihan.

Chanyeol menghentikan kesibukannya mememerintahkan barang-barang apa saja yang harus di kumpulkan,ketika matanya menangkap sosok teman lama yang berdiri mematung di ambang pintu kamarnya.Ia cukup terkejut dan tak menyangka setelah insiden perkelahian itu dan ia betul-betul kehilangan kabar soal Baekhyun,sekarang teman baiknya itu mengunjungi rumahnya.Padahal ini bukan kali pertama Baekhyun ke sini.Bahkan ia hampi-hampir mati kebosanan dengan Baekhyun yang seringkali mampir kerumahnya,entah itu hanya ingin bermain game,music,mengusik Chanyeol,makan gratis,numpang mandi ataupun numpang tidur.

“Kurasa semuanya sudah cukup.Biar akau yang memasukkan beberapa sisa pakaian ini.Kalian bisa istirahat dulu.Aku akan memanggil jika perlu bantuan.” Chanyeol tersenyum ramah dan dengan usiran halus itu pelayan yang tadinya sibuk seketika berhenti dari aktivitasnya dan meninggalkan Chanyeol.Beberapa dari mereka tunduk hormat ketika melihat Baekhyun,bersikap ramah dengan bocah yang mungkin telah di kenali oleh semua pelayan di tempat ini.

Keduanya saling bertatapan dari jarak jauh untuk sepersekian detik.”jadi… apa aku bisa masuk?” Tanya Baekhyun berusaha santai meski di dalam ia sungguh gugup.

“Terserah.” Ucap Chanyeol acuh.Ia kembali memutar badannya memasuki ruang pakaiannya untuk melanjutkana aktivitas beres-beresnya.

Baekhyun mendengus kesal.Ia benci ketika Chanyeol sudah berlagak sok jutek padanya padahal wajahnya sama sekali tak cocok untuk itu.Akhirnya Baekhyun memutuskan untuk masuk saja.Masa bodoh dengan Park Chanyeol.

Hingga menit-menit berlalu tak satupun dari keduanya mengeluarkan suara.Keegoisan keduanya terlampau tinggi.Chanyeol tetap sibuk dengan acara beres-beresnya sedangkan Baekhyun duduk di pinggiran tempat tidur Chanyeol yang bisa membuat matanya melihat apa yang dilakukan temannya di dalam ruangan pakaian yang hampir sama besar dengan miliknya di rumah.Ia memanyunkan mulutnya,karena sedari tadi Chanyeol sungguh menganggapnya tak ada di tempat ini.Sekarang ia sungguh menyesali amarahnya yang tak terkendali waktu itu sehingga menyebabkan ia  dan Chanyeol harus terlibat pekelahian kecil dan bermusuhan seperti ini.

Ia hampir putus asa ketika sebuah ide terlintas di otaknya.Yah, ada satu hal yang selalu berhasil membuat Chanyeol memaafkannya,seberapa besar kesalahannya.

Kakinya perlahan berjalan mendekati tubuh Chanyeol,masuk ke dalam ruang pakaian lelaki itu.Ia sekarang sudah berdir tepat di belakang lelaki jangkung itu.Diangkatnya kedua lengannya lalu detik berikutnya sudah melingkar bebas pada perut Chanyeol.Ia bisa merasakan tubuh Chanyeol menegang,mungkin efek terkejut dengan tindakan Baekhyun yang tiba-tiba saja memeluknya dari belakang.

“Baek,apa yang—“

“Maafkan Baekhyunnie,Chanyeollie~” Ucapnya dibuat-buat seperti anak kecil yang tengah merajuk.

“Mwo? Ya! Apa-apaan kau Byun bakehyun?”  ujarnya begitu geli mendengar Baekhyun.

“Baekhyunnie sedang ingin meminta maaf pada Chanyeollie~”Suaranya lebih ia imutkan lagi.

“Ya! Lepaskann bodoh! Kau ini apa-apaan sih?” Lelaki jangkung itu merontah.

“Baehyunnie tidak mau melepaskan sebelum Chanyeollie memaafkan Baekhyunnie.”Chanyeol bisa merasakan kepala Baekhyun menggeleng-geleng di belakang sana.

Astaga siapa yang bisa melupakan cara mujarab ini? Baekhyunnie dan Chanyeollie adalah nama panggilan sayang yang diberikan kepada keduanya ketika mereka masih kecil dulu.Setiap kali Baekhyun melakukan kesalahan sefatal apaun itu terhadap Chanyeol,cara yang dilakukan Baekhyun sekarang ini selalu manjur.Ia akan memeluk Chanyeol,entah itu dari belakang,depan ataupun samping dan setelahnya ia akan berbicara sok imut menggunakan nama kecil mereka.Baekhyun tahu kelemahan Chanyeol adalah keimutan Baekhyun.Dulu setelah Baekhyun merusak mobil-mobilan kesayangan Chanyeol ia hanya perlu melakuakn buing-bung lalu memeluk Chanyeol  dan berkata seimut mungkin.Setekahnya Chanyeol akan pasrah dan akhirnya kembali memafkan Baekhyun.

“Oh astaga! Hentikan Byun Baekhyun! Demi apapun ! kau ini bukan anak kecil lagi, jadi berhentilah bertingkah seperti ini! Ini sudah tidak cocok dengan usia kita.” Chanyeol berusaha melepaskan lengan Baekhyun yang melingkar di perutnya tapi lingkaran Baekhyun terlalu kuat.

“Shireo! Baekhyunnie akan terus begini jika Chanyeollie masih marah pada Baekhyunnie.”

Jujur di dalam hatinya Chanyeol sudah tak marah lagi dengan Baekhyun sejak insiden itu selesai.Ia tahu bagaimana labilnya seorang Byun Baekhyun kala itu.Toh dia juga masih remaja yang sedang dalam proses kematangannya,jadi wajar saja jika emosinya masih meledak-ledak.Ia segaja tidak menghubungi Baekhyun atau pun membuat komunikasi dengan lelaki itu karena ia ingin melihat bagaimana lelaki itu bisa dewasa dalam minta maaf.Tapi yang ada malah ia menggunakan cara kuno ini dan cara ini memang sungguh membuatnya bertekuk lutut.Ia tak tahu kenapa hatinya yang tadinya panas,namun ketika Baekhyun sudah bertingkah imut lagi seketika salju seperti turun dan mendinginkan hatinya.

“Sial! Lagi-lagi aku terjebak dalam hal bodoh ini.” Umpatnya kesal sendiri.

“Baiklah ! baiklah ! terserah kau saja.”ucapnya pasrah mengibas-ngibaskan tangannya.

“Dan apa maksud dari ‘terserah kau saja’? Aku butuh jawaban yang pasti.”Bakehyun semakin menempelkan kepalanya di punggung Chanyeol

“AKU MEMAAFKAN MU BYUN BAEKHYUN BODOH!  PUAS?!”

Baekhyun hanya menanggapinya dengan tawanya yang memenuhi kamar Chanyeol.

“Hey,aku ada di belakangmu.Tak berteriak pun aku masih bisa mendengarnya.” Komentar Baekhyun.

“Terserah!” Lelaki jangkung itu memutar bola matanya. “Jadi apa sekarang kau sudah bisa melepaskan tangan mu?” Ucapnya ketus tak sabaran.

“Tunggu beberapa saat lagi.Jarang-jarangkan aku bisa memelukmu? Apa kau tak merindukan ku?”

“Tidak.” Jawab Chanyeol singkat padat dan jelas.

Dan Chanyeol tahu betul apa akibat dari jawabannya. Satu.. dua.. tiga..

“Yeol~”  Lihatkan? Baekhyun merajuk layaknya bocoh lima tahun.Tak satupun orang yang tahu sisi Baekhyun yang satu ini.Sifat manja yang hanya ia tunjukkan jika berdua saja dengan Chanyeol.Dahulu Baekhyun selalu menganggap Chanyeol itu kakaknya meskipun aslinya adalah Baekhyun yang lebih tua.Saat ditanya kenapa seperti itu,Baekhyun hanya menjawab karena Chanyeol lebih tinggi darinya dan ia bisa melindungi Baekhyun.Layaknya kakak yang melindungi adiknya.

“Ya Ya Ya,aku juga merindukan mu Byun Baekhyun.”

Baekhyun tertawa puas menaggapinya.Ia senang jika Chanyeol mulai dibuat kesal olehnya.

“Sekarang main homo-homo dan manja-manjaannya sudah kan? Jadi lepaskan tangan mu sebelum seseorang melihat kita dan beranggapan yang aneh-aneh.”

“Wae? Bukannya skinship seperti ini lagi digandrungi gadis-gadis di luar sana? Apa kau tidak lihat bagaiman mereka menjerit histeris ketika para idol kpop yang lelaki saling melaukan skinship?”

“tapi kita bukan idol kpop Byun Baekhyun.Kau adalah playboy sekolahan dan aku adalah orang yang berteman dengan playboy busuk itu.Itulah kita.”

Tawa Baekhyun sudah meledak sehingga tangannya akhirnya tak memeluk Chanyeol lagi.Melihat Baekhyun yang tertawa gila-gilaan meski ia sendiri yakin tak ada dari kalimatnya yang menurutnya pantas mendapatkan gelak tawa heboh itu,ia akhirnya memtuskan untuk ikut tertawa.Dan beginilah selalu akhir dari permusuhan mereka.Sepertinya Chanyeol harus mencari penangkal untuk menghadapi aegyo Baekhyun.

“Maafkan aku juga telah memukul mu.” Ucapnya berusaha menghentikan tawanya sambil menepuk-nepuk pelan pipi Baekhyun.

“hei jangan keras-keras,hasil bedah plastiknya belum sembuh total.”

“Dasar diva! Kau berlebihan.” Ia tahu Baekhyun hanya bercanda karena sepertinya semua yang ada pada namja itu bukan hasil buatan manusia dan itu masih asli ciptaaan sang pencipta.

Mereka menghempaskan tubunya di kasur empuk Chanyeol membuat tubuh mereka memantul pelan beberapa kali.Pikiran Baekhyun sekarang sudah mulai kembali fokus.Ia masih penasaran dengan jejeran koper yang sepertinya sangat tidak pantas jika ditujukan untuk liburan semata.

“Yeol~”

“uhmm”

“ada apa dengan koper-koper ini?”

Chanyeol mendadak terdiam, yang tersisa hanyalah nafasnya yang terengah-engah kerena tertawa yang berlebihan.

“Ayah dan ibu ingin mengembangkan bisnis resortnya di beberapa wilayah di jepang dan…”

“kaupun ingin ikut pindah ke sana?” Baekhyun menolehkan kepalanya pada Chanyeol.Raut ceriah itu dalam sekejap berganti menjadi kesedihan.

“Memangnya kau tak bisa di sini saja? Kita bisa berada di universitas yang sama lagi dengan Kyungsoo juga.” Ujarnya seolah mengetahui jawaban Chanyeol sebelumnya.

Yang ditanya kembali terdiam.Matanya terpaku pada langit-langit kamarnya.Hembusan nafas berat Chanyeol bisa tertangkap oleh telinganya.

“Aku tak punya alasan lagi untuk tetap di sini.” Jawabnya sedih.

“Mwo? Maksudmu? Bagaimana dengan Ji— “ Mulutnya mengaga untuk bebrapa saat terkejut dengan apa yang baru saja melintas di pikirannya.

“Kami sudah berakhir dan aku sepertinya sudah tak punya harapan lagi.Aku gagal menciptakan kesempatan ketiga ku,seperti yang kau perintahkan untuk ku dulu.”

Ia bisa menagkap gurat ksedihan di mata sahabatnya itu.Bahkan sekalipun Chanyeol tak berkata ia sedang terluka parah,Baekhyun bisa melihat dengan jelas luka itu.Rasa sedih juga menghampirinya.

“tapi apa kau tak memikirkan kami? Bagaimana dengan sahabat-sahabatmu? Aku,Kyungsoo?”

Ada rasa tak rela harus berpisah dengan sahabatnya.Chanyeol sudah ia anggap seperti keluarga sendiri.Dan ia belum siap jika harus berpisah jarak dengan Chanyeol dan hanya melihataya melalu layar monitor saja.

“jaman sudah canggih Byun Baekhyun.Kita bisa bermain skype atau apalah itu.Kalau kau mau kau bisa mengunjungiku dan aku pun bisa mengunjungi mu kapan pun.Kita masih bisa berlibur bertiga.Jalan-jalan,bersenang-senang.Dan aku yakin kau sama sekali tak ada masalah dengan tiket ke Jepang kan?” Chanyeol terkekeh pelan.

“Mungkin ini bisa menjadi cara agar aku terbiasa tanpanya.Agar aku bisa lebih cepat melupakannya.”

Baekhyun terdiam sejenak memahami ekspresi Chanyeol.Ekspresi yang sama ketika Jiyeon,cinta pertama sahabatnya itu memutuskan untuk melanjutkan sekolah ke luar negeri.

“Kuharap itu memang yang terbaik mu.” Ujarnya simpati sambil menepuk pelan pundak Chanyeol.

Chanyeol hanya tersenyum simpul.Seolah mengutarakan bahwa dibalik senyumannya ia berterima kasih atas keprihatinan Baekhyun.

Seharian itu mereka menghabiskan waktu bersama.Bermain layaknya mereka tak punya masalah sebelumnya.Malam harinya Kyungsoo ikut bergabung.Meski Baekhyun merasa hubungannya dengan Kyungsoo belakangan ini seperti seorang saingan,tapi diluar itu semua Kyungsoo tetaplah sahabatnya.Ia tak akan membiarkan rasa cemburunya terhadap kedekatan Kyungsoo dan Hyunchan mempengaruhi persahabatan mereka.Toh itu haknya Kyungsoo jika ingin tertarik dengan Hyunchan atau tidak.Ia tak punya hak untuk melarang-larang lelaki itu.

Entah mengapa malam itu Nampak seperti malam reuni dengan teman sekolah yang bertahun-tahun tak bertemu.Padahal hampir setiap hari mereka masih saling bercakap meskipun tak berkumpul dengan anggota lengkap seperti sekarang ini.Masa-masa SMA itu sebentar lagi akan berakhir.Di masa depan mungkin tak banyak lagi waktu untuk  mereka berkumpul bersama seperti sekarang.Masing-masing sedang mempersiapkan masa depan mereka dengan menempuh jalan yang berbeda.Tawa itu,lelucon yang terlempar dari mulut mereka,cemilan-cemilan yang kerap kali menemani mereka setiap berkumpul,cerita tentang masa-masa SMA yang tak pernah habis untuk di bahas kembali,semuanya sebentar lagi hanya akan menjadi memory masa lalu yang tak akan bisa terulang lagi.

***

Baekhyun berjalan menuju halaman belakang rumahnya.Sudah hampir sebulan ia tak mengunjungi rumah ini.Rumah peninggalan neneknya.Tanaman-tanaman yang biasanya di rawat oleh neneknya masih tumbuh subur dan terawat.Mata sipitnya menyapu pandang,mencari sosok saudari kecilnya.Taman ini memang salah satu temapt favorit adiknya.Tak berapa lama mencari,bibirnya tersenyum simpul ketika ia berhasil mendapati sosok wanita muda sedang terduduk menyeduh tehnya sambil memandang kosong ke arah  kolam ikan besar yang berisi bebrapa koleksi ikan ayahnya.

Sejak keluar dari rumah sakit,Jisun lebih sering menghasbiskan waktunya di tempat ini dalam diam.Sepertinya sekarang ia tahu alasan kenapa adiknya yang cerewet,manja dan menjengkelkan itu berubah 180 derajat.Paling tidak curhatan Chanyeol kemarin sudah memperjelas semuanya.Ini semua akibat berakhirnya hubungan Jisun dan Chanyeol.Kalaupun putus dan hanya semakin memberikan luka mengagah pada mereka ,kenapa masih melakukannya? Egoisme keduanya terlalu tinggi.

Tapi ia tak perlu memikirkan itu sekarang,hubungannya saja dengan Jisun belum membaik.

Kakinya perlahan mendekati gadis itu.Ia tersenyum licik sebelum menarik paksa tangan Jisun hingga membuat gadis itu terbelalak.

“Byun Baekhyun! Apa-apan kau—“

“temani aku ke suatu tempat.” Ucapnya terus menarik Jisun hingga masuk ke rumah menuju halaman depan tempat mobilnya terparkir.

“Jangan bercanda! Aku sedang tidak ingin bercanda!” Jisun mencoba untuk mematung di tempatnya namun tarikan Baekhyun terlalu kuat.Meskipun keduanya sama-sama berbadan kurus tapi tetap saja Baekhyun punya kekuatan lebih berdasarkan gendernya sebagai laki-laki.

“Aku juga sedang tidak bercanda,bodoh! Ada sesuatu yang ingin kubicarakan juga.”

“yasudah ! bicara saja di sini.Aku sedang tak mood untuk memulai pertengkarn lagi.”

“Hey! bisakah kau lebih sopan sedikit? bagaimana pun juga aku ini kakak mu.Bahkan kau tak memanggil ku oppa seperti Chanyeol padahal aku jelas-jelas lebih tua darinya.” Baekhyun sibuk mengeluh tanpa namja itu sadari bahwa ia baru saja menyebut nama yang belakangan ini sensitive di pendengaran Jisun.

Wanita itu tak bersuara lagi seolah nama itu menyuruh mulutnya untuk terbungkam rapat-rapat.Kakinya masih saja berjalan terseok-seok akibat ditarik paksa oleh Baekhyun.Tapi ia tak lagi merasakan apapun.Tubuhnya seolah di kirim ke dimensi lain.Masa lalu.Saat semuanya masih baik-baik saja dan mulutnya masih terlalu sopan untuk bertutur kata pada seorang Pria bernama park Chanyeol.

“Masuk!” Baekhyun mendorong pelan tubuh adiknya masuk ke kursi penumpang.Ia cukup heran dengan kediaman Jisun yang mendadak.Tapi ia tak ingin mengambil pusing soal itu.Yang penting rencananya sudah berjalan setengah lancar.

Mereka menuju ke suatu tempat yang tak akan pernah terhapus di ingatan mereka.Tempat yang pernah ditinggali oleh sebuah keluarga sederhana namun penuh kebahagiaan.Semakin memasuki tempat itu,mobil pun tampak mulai jarang terlihat.Seoul dengan segala hiruk pikuk dan kebisingannya baru saja tertinggalkan  berganti dengan suguhan pemandangan alam berbalut kesunyian dan angin sepoi-sepoinya.Butuh waktu sekitar dua jam untuk akhirnya memasuki daerah tujuan mereka.

“bukankah ini jalan..” Jisun mengedarkan pandangannya kesamping kanan dan kiri dipenuhi oleh padang luas yang di tumbuhi ilalang-ilalang , tertupi oleh beberap tumpukan salju.”ini jalan kerumah kan?”

Ketika Jisun menyebut rumah,maka rumah dalam makna sebenarnya.Tempat keluarga berkumpul,tempat yang hangat,tempat yang membuat mereka merasa nyaman dan bahagia.Rumah yang jauh berbeda dengan sebuah bangunan megah nan luas yang ia sebut ‘rumah’ di ibukota sana.

Baekhyun hanya mengangguk pelan.Lagu masa kanak-kanak  mereka tiba-tiba mengalun di radio yang sadari tadi mereka dengarkan.Begitu melewati jalan menuju rumah mereka, di saat yang sama itupula masa lalu menghampiri mereka.Membuat pikiran Jisun tak  lagi bersama dengan bayang-bayangan Chanyeol.Yang ada hanyalah ilusi anak sekolah yang saling berboncengan.Ilusi dirinya dan Baekhyun ketika masih sekolah dasar.Jisun kecil memeluk erat punggung kakaknya dari belakang karena takut terjatuh.Kincir angin plastic yang terpasang tepat di sepeda mereka berputar menyambut datangnya angin senja hari.Mereka terlihat seperti kakak-beradik yang akur dan saling menyayangi.Baekhyun dulu memang penuh kasih sayang.Ia masih ingat bagaimana kakaknya memukul anak lelaki berbadan gempal yang dengan sengaja merusak gantungan kunci kesayangan Jisun.Meski akhirnya  luka Baekhyun lebih banyak di banding anak berbadan gempal itu,tapi Jisun terharu dengan keberanian kakanya.

Tapi sejak ibu mereka pergi tanpa alasan,di situlah titik balik berubahnya Byun Baekhyun.Mereka pindah ke Seoul.Ibu kota dengan segala kesibukannya.Tak ada lagi Byun Baekhyun yang mau memboncengnya dengan sepeda ketika pulang sekolah.Nenek mereka telah menyediakan jemputan mobil masing-masing.Tak ada lagi Byun Baekhyun yang akan berdiri menjadi tamengnya,melindunginya ketika seseorang mengusilinya.Ia merasa sosok kakanya yang penyayang dan perhatian itu menghilang tanpa bekas,bergantikan dengan seseorang yang sama sekali tak ia kenal.

Ia merindukan kakaknya sejak itu bahkan sampai sekarang.Hingga suatu ketika ia menemukan sosok yang hampir sama dengan Byun Baekhyun kecilnya,Park Chanyeol.Teman baik Baekhyun ketika SMP.Ia menemukan sosok kakak yang penyayang,berjiwa pelindung,perhatian,pada diri lelaki itu.Tapi saat itu ia tak pernah mengira bahwa rasa sayang kakak-adik itu akan berubah menjadi rasa sayang antara pria dan wanita.

Roda mobil terhenti tepat di depan sebuah rumah dengan model hunian tradisional korea,terlihat sangat usang dengan halaman yang tak terawat.Tanaman yang mati,potongan-potongan kayu dan sampah-sampah yang bertebaran.Sebenarnya rumah ini sudah hampir di jual oleh neneknya sewaktu mereka pindah namun ayahnya bersikukuh mempertahankan rumah ini dan mebiarkannya begitu saja.Ia tak pernah ke sini lagi sejak kepindahannya.

Lagi-lagi ia menangkap ilusi ibunya yang menyambutnya di depan pagar saat sepeda yang ia naiki bersama Baekhyun terhenti memasuki pekarangan rumahnya,mencium pipi mereka satu persatu sambil memeluk keduanya.Setelah itu meraka akan segera ganti baju dan berkumpul kembali di meja makan dengan hidangan lezat yang telah di sajikan oleh ibu mereka.Sore hari ketika ayahnya pulang,maka ia dan Baekhyun akan berlomba berlari keluar dan memeluk ayah mereka di sertai gelak tawa renyah sang ibu dari ambang pintu rumah.

Tanpa ia sadari kenangan itu membuat air matanya sudah menggenang.Tak ada lagi sambutan hangat yang menyambutnya sekarang.Tak ada lagi sosok ibunya yang sedang asik menyirami bunga-bunga di pekarangan sempit mereka.

Hatinya semakin teriris tatakala matanya menagkap sepeda kecil dengan kincir angin yang biasanya berdiri kokoh menyambut datangya angin,kini telah patah.Karat memenuhi hampir seluruh bagian sepeda mungil itu.Kedua banya sudah kempis.Sepeda yang berjasa banyak mengantarkan ia dan Baekhyun kesekolah ataupun kemana saja Jisun ingin pergi.

Jisun ingin membuka pagar rumah itu namun tangan Baekhyun menahannya.Lelaki itu tahu bagaimana rumah dan kenangan di dalamnya membuat mereka akan lebih emosional apalagi ketikamenginjakkan kakinya di dalam rumah.

“Bangunannya sudah sangat rapuh.Akan bahaya jika kita masuk ke dalam.”Baekhyun memberikan alasan yang cukup logis.”Kita ke padang di belakang rumah.Aku ingin bicara di sana.” Ajak Baekhyun melembut.Ternyata bukan hanya Jisun saja yang merasa terhisap oleh nostalgia konyol ini,namun Baekhyun pun tak luput darinya.

Mereka duduk di bawah pohon besar yang sekarang terlihat membesar dibanding ketika mereka bermain di sini.Biasanya Jisun akan bermain masak-masak di sini sedangkan Baekhyun akan bersepedah mengelilingi padang ini atau permain bola dengan anak laki-laki di sekitar sini.

“Ingat,dulu ketika hari menjelang malam ibu akan keluar dari pintu belakang dan meneriaki kita untuk segera masuk ke rumah.” Ujarnya sembari melihat ke hamparan padang luas di hadapannya sambil membayangkan kejadian itu.

“dan ayah akan datang memarahimu ketika kau menghiraukan panggilan ibu dan tetap asik bermain bola.”sambung Jisun.

Mereka berdua tertawa pelan.Rasanya seolah kembali ke masa lalu.Kembali ke posisi Baekhyun kecil dan Jisun kecil.Ia bahkan sudah lupa kapan ia berbicara hangat begini dengan saudari satu-satunya.Ia dan Jisun tak pernah benar-benar terlibat dalam percakapan berdua.Kalau bukan ada Chanyeol di tengah-tengah mereka,topic yang mereka bicarakan lebih ke arah ngelantur tak jelas dan akan secepatnya berakhir.

“Tidak kah kau merindukan masa-masa itu?”

Itu hanya sebuah gumaman kecil dari Jisun tapi sanggup membuat Baekhyun tertegun mendnegarnya.Iya akan berbohong jika ia mengatakan ia sama sekali tidak merindukannya.Tapi mulutnya seolah keluh ,hingga pertanyaan itu dibiarkannya mengambang.Mentari sore sudah berada di ufuk barat membuat bayangan-bayangan dari daun-daun pohon menghiasi wajahh mereka.Angin winter sore yang sedikit sejuk menyapu wajah keduanya ,memainkan ekor-ekor rambut mereka.

Meski penasaran akan motif dibalik bakehyun mengajaknya ke tempat ini,tapi ia memilih untuk tak menanyakan hal itu.Karena ia pun senang Baekhyun berinisiatif mengajaknya ke tempat ini apapun alasannnya nanti.

“maafkann aku…”

Jisun menatap kakak satu satunya.Tatapan Baekhyun yang tengah memandang lurus ke depan seolah mengingatkannya dengan tatapan yang ia rindukan selama ini.

“Selama ini aku terlalu egois dan menumpahkan kekesalan yang tidak seharusnya kutumpahkan pada mu.”Baekhyun menjedahinya dengan hembusan karbon dioksidanya.”malam itu ibu mendorong ku hingga tersungkur kebelakang sehingga aku bisa melepaskannya untuk pergi dan tidak menghalang-halanginya.” Bola mata hitam pekatnya menerawang ke langit senja yang berwarna seperti susu vanilla.

”Tahu kah kau bagaimana sakitnya diperlakukan seperti itu oleh wanita yang selama ini kau anggap malaikat mu? Aku terluka.Aku kecewa.Hingga kebencian itu mulai tumbuh.Saat itu kurobek satu satunya foto peniggalan ibu untuk mu karena aku tak ingin kau mengingatnya lagi dan membuat mu bertopang hidup dalam kenangan masa lalu.Untuk seseorang yang dengan sengaja menelantarkan kita,ia tak pantas mendapat penghargaan sebesar itu.Aku hanya ingin kau mengiklaskan keputusannya untuk pergi dan mulai hidup tanpa bayang-bayangnya.Ia meninggalkan kita dan ia pasti sudah tahu konsekuensinya.Itulah dulu yang kufikirkan.Namun sekarang aku sadar bahwa aku terlalu egois.Mensugestimu untuk membencinya seperti yang kulakukan pada diri ku.” Baekhyun tertunduk penuh penyesalan menatap rerumputan yang menggelitik sepatunya.

“maaf akan hal-hal yang telah aku perbuat selama ini.”ia pun mengakhiri kalimat panjangnya dengan helaan nafas.

Jisun tak berkomentar apapun.Ia lebih memutuskan untuk diam.Tangannya bergerak menepuk pundak yang biasanya terlihat kokoh namun sekarang terlihat begitu lemah dan penuh beban.Ia tak menyangka separah itukah luka yang tersisakan oleh kepergian sang ibu?  Mungkin wajar saja,dibanding dirinya Baekhyun jauh lebih dekart dengan ibunya.Jadi ketika sang ibu pergi bisa bayangkan bagaimana kekecewaan yang ia rasakan.Apa lagi kejadian malam itu.Meski ia masih sangat kecil saat itu dan sama sekali tak mengerti apa yang terjadi,ia masih dapat mengingat dengan jelas rekaman adegan demi adegan.Ia ingat bagaimana Baekhyun menangis meremas kain baju ibunya,bagaimana bocah itu tersungkur ke tanah,dan bagaimana kakaknya hanya tinggal diam mematung di bawah guyuran hujan deras setelah ibunya telah menghilang.Andai  kebiasaan usilnya yang selalu mengikuti Baekhyun dari belakang saat itu tidak ada, mungkin ia tak akan menjadi saksi lain dari kejadian memilukan hati itu.Namun ia memilih bungkam untuk cerita rahasia yang satu itu.

“Seharusnya sebagai saudara mu satu satunya aku lebih bisa memahami mu.Bukannya membuatmu semakin bersalah.” Bayangan pertengkaran hebat mereka di rumah sakit kembali terputar.

“Maafkan aku.”Jisun meremas lengan Baekhyun.Seolah meminta kekuatan dari rasa bersalah yang menyelimutinya.

Bakehyun melirik tangan Jisun lalu mengalihkannya ke wajah adiknya yang sudah tertunduk.

“Aku tahu,selama ini aku tidak pernah lagi menjadi seseorang yang pantas menyandang gelar ‘kakak’.Aku bertingkah tidak seperti tingkah layaknya seorang kakak laki-laki.Maafkan aku sudah lari dari tanggung jawabku.”

Bakehyun menatap wajah adiknya.Wajah adik kecilnya yang baru ia sadari sudah berubah banyak.ia menjadi gadis yang cantik dan tegar.Sosok gadis kecil cengeng dan manja itu telah lenyap.Anehnya,ia baru menyadarinya sekarang,padahal hampir setiap hari ia bertemu dengan Jisun.

Dan detik-detik ketika Jisun memandang mata kakaknya,saat itulah senyumannya merekah lebar.sorotan mata itu.Soratan mata yang penuh kehangatan dan kasih sayang.Akhirnya Byun Baekhyun,kakaknya yang sleama ini menghilang telah menemukan jalannya untuk kembali.

Lengan kurus Jisun spontan memeluk lelaki di sampingnya.ia tak pernah memeluk Baekhyun lagi setelah masa-masa kecil itu berlalu.Seolah Baekhyun selalu memberikan punggung dingin padanya.

“terima kasih kau sudah kembali,oppa.” Bisiknya pelan sekaligus merupakan sebuah bentuk kalimat penerimaan maaf secara tidak langusng.

Bakehyun membalas pelukan adiknya.Pelukan yang ia berikan ketika tengah malam Jisun terbangun karena mendengar bunyi petir dan ia ketakutan.pelukan yang ia berikan ketika Jisun menangis entah itu karena diganggui oleh temannya,pekerjaan rumahnya yang tak bisa ia selesaikan,atau di marahi oleh ibu.Pelukan yang mengatakan ‘tenanglah,aku akan slelau berada di sini untuk melindungi mu’.

Susana sore itu mendadak mengahangatkan.Padahal ini musim dingin dan summer masih akan sangat jauh.Matahari perlahan mengeluarkan bias-biasnya bersiap menghilang dari balik garis bumi.Perasaaan bahagia menyelimuti mereka dan seolah ingin ikut merayakan akurnya kakak-beradik itu tawa khas dari Baekhyun kecil dan Jisun kecil menggema di padang luas itu.Mereka seolah teratwa snenag melihat jiwa mereka di masa depan yang akan akur layaknya jiwa mereka di masa kecil.

***

Susana hening kembali menyelimuti penghuni kamar inap 18.Papan nama yang bertuliskan Kwon yeonhi itu sedikit bergoyang ketika sang penghuni tempat tidur bergerak untuk membetulkan posisinya.Jisun –anak gadisnya— baru saja beranjak pergi,setelah susah payah Yeonhi membujuknya untuk segera pulang ke rumah dan beristirahat di sana.Udara diluar sepertinya bagus untuk berjalan-jalan  di area rumah sakit.Sayangnya , kondisinya tak mendukungnya untuk melakukan hal tersebut.Ia mendesah pelan.Matanya belum terlepas dari jendela yang tak jauh darinya,memandang kumpulan taman bunga di luar sana.

Meskipun ia tengah dirumah sakit,namun ia sungguh tak merasa seperti orang yang sedang sakit.Perasaannya sungguh bahagia persis ketika ia meraih gelar sarjananya.Bisa berkumpul dengan anak-anaknya dan berdamai dengan anak lelakinya sudah cukup sebagai alasan mengapa sedari tadi senyumnya terkembang menghiasi bibirnya.Walaupun sebenarnya jauh dilubuk terdalam hatinya ia masih memiliki satu keinginan,berdamai dengan Jinki.Namun meski begitu,ia sudah berjanji tak akan tamak lagi.Ia tak akan rakus untuk memaksa Tuhan mengabulkan permohonannya yang satu itu.

Perlahan ia mengubah posisinya dari yang duduk bersandar menjadi posisi terlentang.Rasa kantuk mendadak menyerangnya.Mungkin ini efek dari obat yang ia minum.Badan kurus itu memeiringkan posisinya,membelakangi jendela yang menampilkan pemandangan indah di liar sana.Selimutnya ia rapatkan lalu sedikit demi sedikit kelopak matanyapun menutup.

Belum sempat ia sampai ke dalam alam mimpinya,ia mendnegar suara deritan bersumber dari pintu kamarnya.Tak ada suara sapaan,yang ada hanyalah ketukan demi ketukan sepatu yang melangkah semakin dekat dengannya.

“Jisun-ah,bukannya ibu sudah menyuruhmu—“ kepalanya berhenti tepat ketika ia setengah menoleh dari balik punggungnya dan melihat siapa manusia di ujung sana yang baru saja ia sebut dengan panggilan ‘Jisun’.

Tak ada lanjutan kalimat yang keluar setelah itu.Ia dan sang pengunjung saling melemparkan tatapan mereka.Seolah kedua pasang mata itu tengah berkata apa yang mulut mereka tak mampu ucapkan.

Udara menjadi lebih dingin diruangan ini,padahal ia yakin sudah mematikan pendingin ruangan  dan menggantikannya dengan udara yang keluar masuk dari jendela yang terbuka lebar.Jantungnya mencelos,berdetak tak karuan.

Detakan yang tak pernah berubah sejak mereka bersama.Detak yang hanya bisa ia dapatkan ketika menatapa kedua bola mata hitam pekat itu.Bola mata yang seolah mampu membuatnya tenggelam di dalam sana.

“Lama tak bertemu,Kwon Yeonhi.”

***

TBC

ANNYEONGGG SAYA DATANG LAGI !!!

OK!! TAHAN KOMENTARNYA SEMUA !!

PASTI PADA RINDUIN AUTHOR KECE YANG SATU INI KAN?? *ditimpuk granat sama readers* WKAKAKAK

TENANG YAH SEMUANYA,BIAR AUTHOR GAJE INI NGOMONG DULU

EHEMMM…

SIAPA YANG SUDAH LUMUTAN DAN JAMURAN NUNGGUIN FF GAJE INI ??? AYO ANGKAT JEMPOL KAKI SEMUANYA !!! *eh jangan deh..pada bauuu semua hahah /dibantaireaders/ *

PERTAMA TAMA TAMA MAU BILANG MAKASIH BUAT SEMUA READERS NYATA MAUPUN YANG GAK NAMPAK  YANG MASIH SETIA NUNGGUIN FF SAYA *hiks terharu*

TRUS BUAT READERS YANG UDAH NGEDEMO SAYA DI TWITTER SAMBIL BAKAR BAN DI MENTION SAYA #PLAK*bo’ong* MAKASIH BANYAK!!!  JUJUR TADINYA INI FF MAU SAYA LANJUTIN PAS LIBURAN SMESTER 5 ENTAR WKWKWK TAPI KARENA MENSYEN MENSYEN KALIAN, JADI SEMACAM TERMOTIVASI UNTUK LEBIH CEPAT UPDATE *cieilehh bahasanya*

Bagaimana tanggapannya dengan part ini?? Alay kah,terlalu sinetron,atau gimana nih? *awas lo,komen jelek gue santet!*#ngancem  Hahaha

Part yang ini sengaja aku buat panjang biar readersnya pada senang semua gara2 capek nungguin update-an heheh

BUAT YANG  KOPELIN CHANYEOL-JISUN TOLONGGG JANGAN BUNUH SAYA!! WOLESS YAH SEMUANYA!! SABAR,INI BLOM AKHIR KOK..TENANG YAH *sujud sujud*

BUAT BAEK-YEOL atau CHAN-BAEK shipper gimana suka gak dengan partnya mreka???  saya sengaja kasih momen mreka berdua,biar semua pemegang shipper di sini bahagia *tsaaah* ,termasuk baekyeol shipper hahaha

DAN YANG SUKA HYUNCHAN-BAEKHYUN ntah kenapa sedikit geli nulis adegan mreka,apalagi yang disofa itu hahaha maaf yah kalo feelnya ga dapet,maklum authornya kagak bakat nulis adegan adegan sok romantis itu wkwkwkwk

Trus  SOAL KOMEN kalian di ff sebelumnya maaf yah terlambat ngebalesnya hehe saya baru bisa ngebales kalau publish ff,soalnay udah jarang bgt main ke sini..Komen komennya pada seru seru semua wwkwk sampe kadang ngakak bacanya haha MAKASIH BANYAK YAH SEMUANYA 😀

Maap ya kalo TYPOnya banyak wkwk kagak sempat ngedit bersih semuanya heheh

Uhmm sekarang waktunya buat KABAR BURUK *putar music seram*

Rencananya tinggal satu part lagi dan ff ini bakal tamat tapi masalahnya saya gak bisa kasih waktu pasti kapan part endnya bakal kepublish..Jangankan publish,ngetik aja susah.Selain susah cari ide ,nyari waktu yang pas itu juga susah. Soalnya sekarang tugas kampus udah gak ngijinin buat santai santai *hiks* /Jyaah authornya curcol/ wkwkwk

Okedeh mungkin itu pesan pesan saya,tapi tenang aja sebisa mungkin saya usahain part endnya bisa selesai gak lama-lama hehe

Kalau ada yang mau ditanyain,curcol,nagih utang,pengen merusuh bisa berkunjung ke twitter saya,tapi di twitter saya kaga punya kue yah Cuma kumpulan huruf huruf,jadi jangan ada yang datang minta-minta makanan #plak wkwkwkwk

OKEDEH KOMEN SAYA UDAH SELESAI 😀
SEKARANG WAKTUNYA BUAT READERS YANG Ninggalin jejaknya dan numpahin unek uneknya ahhaa

ANNYEONGG~~

100 responses to “THE SECOND LIFE [PART 14]

  1. huhft.. rumit banget cerita keluarganya >.< tapi akhirnya semua sepertinya mulai membaik ^^ penasaran nih
    semangat thor ! ^^b

  2. Astagaaaaa taugak thor ini kan lagi puasa yah, tapi mata ini berkaca2 teruss😭😭hampir semua adegan disitu bikin nangissss😢😢

  3. Huaaa ka aku udah komen panjang tapi kayanya masuk ke spam deh😭 soalnya komen aku ga muncul :” atau ga ke kirim? Huaaaa… Aku ga bisa ngomen kaya komentar yang sebelumnya (yg ga kekirim atau mungkin masuk ke spam) soalnya panjang banget ka, inget ya, pke banget.
    Dan aku ga bakal curcol di sini karena masih terlalu emosi karena komentar yg ga muncul :”
    Intinya emosi aku kepancing pas bagian terakhir, dimana itu pasti JINKI kan? JINKI KAN YANG BILANG “LAMA TAK BERTEMU, KWON YEONHI.” IYA KAN?
    Dan aku dibuat penasaran jga sama perjalanan 49 hari hyunchan :”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s