THE PORTAL [ Part 7 : Something New ]

The Portal new

Title :

The Portal

 

Author : Citra Pertiwi Putri ( @CitraTiwie )

 

Main Cast :

– A Pink’s Jung Eunji / Jung Hyerim as The Princess of Junghwa Kingdom

– INFINITE’s Lee Howon / Hoya as The Bodyguard

– A Pink’s Son Naeun / Son Yeoshin as the Good Witch

– INFINITE’s Kim Myungsoo / L as the Bad Witch

 

Genre : Fantasy, Romance, Friendship, and little bit Comedy (soon)

 

Other Casts :

– CNBlue’s Jung Yonghwa as The King / Eunji’s Father

– SNSD’s Seo Joohyun as The Queen / Eunji’s Mother

– BAP’s Jung Daehyun as The First Prince / Eunji’s brother

– F(x)’s Jung Soojung / Krystal as The Second Princess / Eunji’s sister

– BtoB’s Jung Ilhoon as The Second Prince / Eunji’s Brother

– SNSD’s Lee Soonkyu / Sunny as The Palace’s Witch

– EXO’s Kim Jongin / Kai as Myungsoo’s brother

– EXO’s Do Kyungsoo / D.O as an ordinary boy

– EXO’s Byun Baekhyun as the Prince in another Kingdom

– A Pink’s Yoon Bomi as Eunji’s foster sister

– B2ST’s Yoon Doojoon & 4Minute’s Heo Gayoon as Eunji’s foster parents

– INFINITE’s Nam Woohyun as Naeun’s foster brother

– INFINITE’s Lee Sungyeol as Myungsoo’s best friend

– B2ST’s Son Dongwoon as Naeun’s Brother

– B.E.G’s Son Gain as Naeun’s Sister

– SNSD’s Kim Hyoyeon as the most mysterious witch in Junghwa

– A Pink’s Kim Namjoo as Hyoyeon’s foster daughter

 

Rating : PG15 – NC17

Type : Chaptered

Author’s note :

Hai hai.. adakah yang merindukan kelanjutan fanfic ini? Semoga ada 🙂

Mohon maaf karena telah membuat kalian menunggu dua minggu lagi seperti part kemarin, sebenarnya author gak punya banyak waktu lagi untuk menulis karena kegiatan begitu padat. Tapi dengan mencuri-curi waktu, akhirnya bisa juga melanjutkan tulisan ini meski dalam waktu yang lama. Sekali lagi mohon maaf yaa^^

Seperti biasa, kalau author telah membuat kalian menunggu, author tebus dengan part yang panjang daaaannn.. part ini adalah part yang sangat panjang, lebih dari part-part sebelumnya. Author sengaja membuat panjang karena setelah ini author kemungkinan akan hiatus untuk persiapan ulangan tengah semester.

Oke, selamat melepas rindu dengan fanfic ini, selamat membaca dan semoga terhibur ^^

 

Before Story :

Permasalahan baru yang harus dihadapi Naeun dan Eunji di dunia nyata nampaknya sudah dimulai. Tak hanya itu, perbedaan nasib yang mereka terima pun sepertinya mulai terlihat.

Naeun, nampaknya ia telah membuka buku baru penderitaannya di dunia nyata. Penderitaan pertamanya dimulai saat ia tahu bahwa Kai nampaknya memberi perhatian khusus pada Eunji, dan penderitaan terbesarnya dimulai setelah ia mengetahui keterlibatannya dalam taruhan Woohyun dan Myungsoo, ia merasakan kecewa yang teramat dalam. Ia mengira Woohyun tulus mengangkatnya sebagai adik, namun kenyataannya tidak demikian. Meski begitu, Naeun tetap menerima tawaran Woohyun karena ingin memperbaiki hidupnya, ditambah dengan pernyataan Chorong yang membuatnya merasa beruntung karena ia tak perlu banyak berkorban untuk menjadi bagian dan keluarga Woohyun. Namun yang menjadi pertanyaan, apakah Chorong memang banyak berkorban untuk menikmati harta Woohyun? Jika benar, pengorbanan apa yang telah ia lakukan?

Kekecewaan Naeun pada Myungsoo jauh lebih besar dari kekesalannya pada Woohyun. Hal ini membuat Myungsoo gusar, ia tak ingin Naeun kembali membencinya seperti di negeri Junghwa dahulu.

Apa yang akan Myungsoo lakukan untuk mengembalikan kepercayaan Naeun padanya?

Meski Naeun adalah perhatian utama Myungsoo, Myungsoo sadar bahwa ada satu masalah serius yang sepertinya harus ia hadapi.

Sungyeol, lelaki yang ia ketahui sebagai sahabat Myungsoo yang asli mulai mencurigai identitasnya. Myungsoo mulai sadar bahwa Sungyeol tak bisa dianggap masalah enteng, sebab sahabat Myungsoo yang asli itu sepertinya kebal akan sihirnya bahkan mengetahui kebiasaan penyihir. Siapakah Sungyeol sebenarnya?

 

Eunji, setelah kemarin mengenal D.O, sang sunbae yang sampai saat ini bersikap hangat padanya, kini Eunji mengenal Kai, dan ia merasakan sesuatu yang berbeda dari lelaki itu. Lelaki yang ia ketahui sebagai orang yang disukai oleh Naeun justru memberi perlakuan khusus dan istimewa padanya, bahkan Kai yang dikenal pendiam dan menyebalkan tak menunjukkan sisinya yang demikian didepan Eunji. Apakah adik kandung Myungsoo itu menyukai Eunji?

Howon yang sebenarnya dalam posisi terancam karena Eunji mulai disukai oleh banyak lelaki justru berkenalan dengan gadis lain bernama Minah, yang ternyata adalah peserta Seoul Dance Competition yang juga lulus audisi dan satu karantina dengannya. Apakah hubungan mereka hanya sebatas perkenalan? Ataukah akan lebih dari itu?

Mulai terhubungnya Eunji dan Howon dengan lelaki dan perempuan lain rupanya belum memudarkan kuatnya cinta mereka. Hal ini terbukti dari pertemuan mereka di koridor asrama, dimana Eunji yang saat itu masih merasakan pusing hebat akibat terkena bola melihat sosok Jiwon sebagai Howon dan mencium lelaki itu tanpa berpikir panjang! Bagaimana reaksi Howon? Akankah ia membalas perlakuan Tuan Putrinya kendati dilanda rasa panik karena rambut palsunya terlepas dan terjatuh ke lantai?

 

Selengkapnya :

Part 1  : I Hate My Life

Part 2  : Big Decision

Part 3A : I Will Find You

Part 3B : You Will Find Me

Part 4  : Another Me

Part 5 : Over Protective?

Part 6 : Faithfulness

 

***

 

Author POV

 

“ Ya Tuhan! Kim Myungsoo, kau tidak lihat ini jam berapa? Sebaiknya kau kembali ke asrama putra sebelum pengawas melihatmu.”

“ Tidak. Sampai Naeun keluar dan mendengar penjelasanku.”

Chorong memutar bola matanya, putus asa.

“ Naeun sudah tidur, besok saja bisa kan?”

Myungsoo menggeleng, bahkan dengan santai ia berbaring diatas karpet depan pintu kamar Chorong dan Naeun lalu memejamkan matanya.

“ Kalau Naeun keluar tolong bangunkan aku.”

“ YA! kau sudah gila!?” Chorong segera menarik Myungsoo agar bangun kembali, “…seperti tidak ada hari esok saja! Lagipula ini salahmu, dari awal aku tidak pernah setuju dengan taruhan itu.”

“ Aku hanya menuruti apa yang diinginkan oleh Woohyun.”

“ Tapi sekarang kau yang rugi, kan?”

“ Aku tahu. Makanya aku ingin minta maaf.”

“ Ya sudah. Biar aku sajalah yang menyampaikan maafmu pada Naeun, kau bisa kembali ke kamarmu sekarang. Kasihan Sungyeol ditinggal sendirian, kau tahu sendiri kan sahabat kita yang satu itu sering sekali berbuat macam-macam kalau sedang sendirian.”

“ Berbuat macam-macam.. bagaimana?” Myungsoo mendadak tertarik ketika Chorong membahas Sungyeol, siapa tahu dengan informasi dari Chorong ia bisa tahu seperti apa Sungyeol sebenarnya.

“ YA! masa’ kau lupa? Kau tahu sendiri kan Sungyeol itu anak dari keluarga cenayang. Ia sering melakukan ritual-ritual aneh.”

Myungsoo terperanjat, sedikit demi sedikit ia bisa menghubungkan mengapa Sungyeol bisa mencurigai dirinya. Yah, rupanya lelaki itu anak dari keluarga cenayang, pantas saja pikirannya kritis dan kelakuannya aneh.

“ Heh, kenapa bengong begitu? Kau benar-benar lupa soal itu? berarti kau lupa dong kalau kita sering memanggil Sungyeol dengan sebutan ‘mbah dukun’, hahaha.” Chorong tertawa kecil, “…aneh kau, Myungsoo.”

“ Eh.. i..iya, hahaha. Maaf, aku memang sering lupa.”jawab Myungsoo sekenanya, dalam hati ia sudah berpikir macam-macam, secepatnya ia harus menyusun rencana untuk menghadapi Sungyeol sebelum identitasnya dibongkar oleh lelaki itu.

“ Yah. Aku memaklumi, mungkin karena kepalamu sempat terbentur saat di gunung.”kata Chorong, “…ya sudah sana ke kamar, biar aku yang bicara pada Naeun nanti.”

Myungsoo jadi bimbang. Satu sisi ia ingin tahu apa yang sedang dilakukan Sungyeol jika sedang sendiri seperti ini, tapi ia tak bisa meninggalkan Naeun, malam ini juga ia harus mendapatkan maaf dari gadis itu.

“ Andwae, aku ingin bicara sendiri dengannya.”

“ Dia masih menangis, kalau kau memaksa yang ada dia malah semakin marah. Lagipula Woohyun yang lebih salah, seharusnya dia yang lebih dulu minta maaf, bukan kau.”

“ Aku juga salah, dan aku tidak bisa tenang membiarkannya menangis.”

“ Ooh.. ternyata setelah kecelakaan di gunung kau jadi seperti ini pada perempuan? Biasanya kau tidak pernah peduli dengan perempuan. Mengapa sekarang kau begini, Myungsoo? Kau menyukai Naeun?” tembak Chorong tiba-tiba, membuat Myungsoo sedikit gelagapan mendengar pertanyaannya.

“ B.. bukan begitu.. aku..aku kan memang salah jadi aku harus minta maaf.”

“ Oh ya? yah… terserahlah. Kalau kau bohong, aku juga tahu. Aku hafal sekali gelagatmu kalau sudah berbohong, hahaha.” Chorong pun berdiri dan merapikan bajunya sejenak.

“…aku ingin ke kamar Woohyun, aku ingin menyuruhnya tanggung jawab atas semua ini. Aku juga tidak bisa tidur tenang kalau Naeun menangis terus.”lanjut Chorong, “…kalau kau masih ingin disini terserahlah, aku tidak bisa melarangmu lagi, tapi jangan salahkan siapa-siapa kalau ketahuan pengawas.”

Myungsoo mengangguk cepat.

Chorong pun pergi, sesekali menoleh kebelakang, menatap Myungsoo yang masih betah berdiri di depan pintu kamarnya menunggu Naeun memaafkannya.

 

“ Myungsoo, kau benar-benar berubah sekarang. Aku tidak tahu apakah aku siap jika kau memang menyukai Naeun..”

*

 

Naeun masih saja berguling-guling diatas tempat tidurnya, ia tak bisa tidur tenang. Tak hanya karena Myungsoo yang masih menungguinya di luar, tetapi juga ketika ia menyadari atmosfer di dalam kamarnya mulai menghangat dan perlahan berubah panas. Gadis itu menatap benda panjang yang tertempel di dinding, benda yang kata Chorong namanya ‘AC’, setahu Naeun, benda itu mengeluarkan udara dingin.

Ingin merubah temperatur ACnya dengan remote, Naeun takut. Sama seperti Eunji, ia memang masih ragu menggunakan benda-benda elektronik.

Gadis itupun bangkit dari tempat tidurnya, ingin mendekati pendingin ruangan tersebut. Namun langkahnya terhenti ketika ia melintasi suatu benda yang ia yakini menjadi penyebab utama panasnya kamar ia sekarang.

Kulkas.

Keringat Naeun bercucuran ketika ia semakin mendekati benda itu, ia tak mengerti mengapa kulkas kamarnya bisa seperti ini. Apa karena tongkat sihirnya yang masih ia simpan di dalam freezer? Apa itu artinya tongkat tersebut masih mengeluarkan panas?

 

“ AAHHH!!!!” Naeun memekik kesakitan ketika membuka pintu kulkasnya. Benar-benar panas, tangannya melepuh.

 

“ Yeoshin! eh, Naeun!” Myungsoo terkejut mendengar suara Naeun dari dalam. Tak peduli dengan pintunya yang terkunci, dengan sekuat tenaga ia mendobrak pintu kamarnya dan masuk untuk menolong Naeun.

 

“ YA! API!!!”

Naeun semakin menjerit dan tak peduli dengan tangannya yang melepuh ketika melihat api yang mendadak muncul dan membakar kulkasnya ketika Myungsoo masuk. Myungsoo segera menarik gadis itu untuk menjauh agar tidak terkena apinya, setelah itu mencoba mematikan api tersebut dengan tangannya sendiri.

“ Sialan, jangan-jangan dia menaruh tongkatku disini!” batin Myungsoo, ia masih mencoba mematikan apinya dengan mantra-mantra yang ia ucap dalam hati.

Naeun berlari ke kamar mandi, mengambil satu ember air dan membantu Myungsoo memadamkan apinya, namun api tersebut semakin besar saja. Myungsoo mencari-cari tongkatnya yang sudah pasti dalam keadaan panas luar biasa karena ia berada dalam jarak yang begitu dekat dengan benda sihir miliknya itu.

“ Sshh.. aku menemukanmu. Sekarang berhenti.” dengan sembunyi-sembunyi dan berhati-hati, Myungsoo meraih tongkat sihirnya yang masih tetap utuh dan tak terbakar. Ketika tangannya menyentuh tongkat tersebut, benda itu tak lagi mengeluarkan panas, tentu karena ia telah kembali ke tangan pemilik aslinya.

Setelah menyembunyikan tongkat tersebut kedalam bajunya, kini Myungsoo membantu Naeun memadamkan apinya dengan air hingga tak lama api tersebut padam dan meninggalkan kulkas yang kini telah menjadi puing-puing.

“ Huh.. akhirnya..” Naeun merasa lega, namun buru-buru ia dekati puing-puing kulkasnya, mencari tongkat sihirnya.

“…aigoo.. mana tongkatnya!?” Naeun panik dalam hatinya, dan Myungsoo tahu itu.

“ Hei, tanganmu kenapa?” Myungsoo mencoba mengalihkan perhatian Naeun dengan meraih tangannya yang melepuh.

“ Aku baik-baik saja!” Naeun menarik tangannya lagi, namun Myungsoo buru-buru meraihnya lagi. Lelaki itu mengambil sisa air yang mereka gunakan untuk memadamkan api barusan dan dengan pelan membasahi bagian tangan Naeun yang melepuh seraya meniupnya dengan lembut.

Hati Naeun mulai berdesir. Bagaimana bisa ia tetap pada aksi marahnya jika Myungsoo memperlakukannya seperti ini?

“ Besok akan kubawakan obat untukmu. Lain kali hati-hati ya.. ”Myungsoo berjanji, ia lantas mengusap puncak kepala Naeun pelan.

“…dan.. maafkan sunbae, ya?”

“ Ng..” Naeun sedikit salah tingkah, seharusnya ia tahu diri karena sudah ditolong. Tetapi ia masih tak bisa memaafkan Myungsoo yang sudah taruhan dengan Woohyun dengan melibatkan dirinya.

“…pulanglah, aku ingin tidur. Terimakasih atas bantuanmu, sunbae.” Naeun menunjuk pintu, mengusir Myungsoo secara halus.

Myungsoo menolak, ia lantas mendudukkan Naeun di pinggir tempat tidur dan berlutut didepan gadis itu agar mereka bisa melakukan kontak mata dengan lebih nyaman. Namun tindakan Myungsoo yang sedikit memaksa itu membuat Naeun tak tahan dan akhirnya menangis lagi.

“ Son Naeun, sunbae bisa jelaskan..”

“ Jelaskan apa!?”tanya Naeun parau, “…aku tahu kau kalah taruhan, tapi aku tetap tidak suka..”

Gadis itu semakin menangis, membuat Myungsoo gusar dan terus mengumpat Woohyun dalam hatinya, seharusnya ia tak perlu menerima taruhan itu, kalau begini kejadiannya, ia takut Naeun membencinya sama seperti di negeri Junghwa.

“…aku menyesal terlalu percaya padamu. Padahal kita baru saling kenal dua hari, seharusnya aku sadar kebaikanmu itu hanya untuk memenangkan taruhan..” Naeun mengeluarkan amarahnya.

“ Tidak! tidak.. kau salah paham!” Myungsoo segera mengklarifikasi, karena memang perlakuannya pada Naeun sama sekali tak ada hubungannya dengan taruhan itu, “…semua itu aku lakukan karena aku memang menginginkannya, karena aku punya perasaan khusus padamu, bukan karena taruhan itu. Ketahuilah, aku tak pernah peduli dengan jabatan president school.”

“ Bohong! Kita baru saling kenal dua hari, tidak mungkin secepat ini kau punya perasaan khusus padaku.”jawab Naeun. Tentu, ia tak akan semudah itu yakin Myungsoo menaruh perasaan padanya, mengingat auranya yang sudah direnggut oleh L, ia tak akan disukai oleh lelaki manapun.

“ Perasaan seseorang tidak tergantung oleh berapa lama kita saling mengenal, tetapi seberapa sering kita bicara, bertemu, dan saling menatap satu sama lain. Dua hari sudah lebih dari cukup bagiku untuk mengenalmu. Aku seperti sudah mengenalmu selama dua belas tahun.”

Naeun tercengang pada tiga kata terakhir yang Myungsoo ucapkan. Dua belas tahun. Mengapa begitu tepat? Dua belas tahun yang lalu adalah masa dimana Yeoshin baru saja mengenal L.

Bayang-bayang L membuat Naeun sulit membenci Myungsoo. Naeun bahkan sering berpikir dan menganggap Myungsoo adalah suaminya meski hatinya masih lebih mengarah pada Kai. Dan sekarang, meski sudah kecewa karena merasa dipermainkan, Naeun tak bisa lagi membantah perkataan Myungsoo.

Myungsoo mengangkat wajahnya. Suasana hening sejenak dan mereka saling bertatapan.

 

“ Kau mau memaafkan aku, kan?”

***

Morning, 05.25 AM

 

“ Jung Eunji.. ireonna..”

“…”

“ Ji, kau dengar aku kan? Ireonna..”

Samar-samar suara khas Bomi memasuki rongga telinga Eunji yang masih terbaring lemas diatas tempat tidurnya. Gadis itu mengerjap-ngerjapkan matanya lalu merintih kesakitan memegangi kepalanya.

“ Argh.. sakit..”

“ Masih sakit?” Bomi khawatir, Eunji mengangguk cepat.

“ Bahkan sekarang.. kepala bagian belakang juga sakit.”

“ Mwo…? bagaimana bisa?”                                                                               

 

Jiwon membuka knop pintu kamar mandinya sedikit, dengan tubuh penuh busa ia mengintip kearah tempat tidur ketika tahu Tuan Putrinya sudah siuman.

“ Ya Tuhan, kepala bagian belakangnya juga sakit sekarang. Ini salahku..” Jiwon merasa sangat bersalah.

Mendorong seorang putri raja bernama Jung Hyerim sampai jatuh adalah dosa terbesar bagi Jiwon. Apalagi putri raja itu sedang memberikan ciumannya secara cuma-cuma, Jiwon justru menolaknya dan mendorongnya sampai jatuh dan pingsan di lantai. Betapa tololnya dia.

Yah, tapi ia punya alasan untuk itu. Ia tak mau penyamarannya terungkap, itu saja.

 

“ Siapa yang membawaku kesini? Kai?” tanya Eunji pelan, Bomi menggeleng.

“ Bukan. Jiwon.”

“ Hah? Jiwon? Dia..menggendongku kesini?” Eunji menunjuk pintu dengan tak percaya.

Bomi mengangguk, “ Dia hebat. Kuat sekali menggendongmu, apalagi sampai naik tangga lima kali, padahal dia kan perempuan.”

“ Benarkah? Wow..aku harus berterimakasih padanya.”

“ Ah sudahlah.. Bagaimana ini? Kau mau sekolah atau tidak? Kusarankan kau istirahat saja dulu, hari ini hanya acara penutupan MOS kok.”

“ Justru karena hari ini penutupan MOS, aku tidak enak kalau harus absen. Aku sudah baikan kok.”

“ Benar nih? Ya sudah, bersiaplah ke sekolah.”

 

TOK! TOK! TOK!

Tak lama, terdengar suara pintu diketuk agak keras. Bomi segera berdiri untuk membukakan pintunya.

“ Ck, siapa sih pagi-pagi begini sudah gedor-ged… eh?” Bomi terkejut saat membuka pintunya, “…k..kamu ngapain kesini? Gimana caranya masuk kesini?”

“ Siapa, Bbom?” tanya Eunji lemas.

“ Aku! Akuuu!” yang ditanyakan malah menjawab, “…boleh aku masuk?”

“ Tentu saja tidak! Ini asrama putri! Kau nekat sekali ya!” Bomi heran, “…mau apa kau kesini!?”

“ Aku hanya ingin memastikan Eunji ada atau tidak..”

“ Dia ada. Sudah kan? Pergi sana!”

“ Yaelah jutek banget sih.”

“ Bbom,siapa sih?” Eunji bertanya lagi.

“ Ini lho, adiknya Myungsoo sunbae.”

EHEK!

Jiwon tersedak busa odolnya ketika mendengar jawaban Bomi.

“ Kai? Mau apa dia kesini?!” Jiwon geram, ia kembali membuka pintu kamar mandinya sedikit dan mengintip. Benar saja, lelaki dekil itu bahkan sudah memasuki kamarnya dan duduk disamping tempat tidur Eunji.

 

“ H..hai. S..selamat pagi.”dengan sedikit salah tingkah Kai membuka pembicaraan.

“ Ng..i..iya, pagi.”jawab Eunji canggung, Bomi masih keheranan karena baru kali ini Kai berani mengunjungi perempuan pagi-pagi.

“ Aku kaget saat bangun kau sudah tidak ada di UKS. Kalau mau balik ke kamar seharusnya bangunkan aku dulu..”Kai sedikit mengeluh pada Eunji.

“ Iya nih, dia sampai pingsan lagi di tengah jalan loh. Untung ada Jiwon.”timpal Bomi.

“ Hah? Jadi kau pingsan?”Kai semakin khawatir, Eunji mengangguk pelan.

“ Tapi.. bukan karena aku pusing. Aku seperti didorong oleh..seseorang.”jawab Eunji polos, Jiwon mulai salah tingkah dan menyembunyikan kepalanya yang sejak tadi menyembul dari dalam kamar mandi.

“ Didorong seseorang? Siapa?” tanya Kai dan Bomi kompak, Eunji menggeleng lemas.

“ Aku..lupa.”jawab Eunji sekenanya, sebenarnya ia masih ingat kelakuannya semalam saat matanya melihat sosok Howon. Ia mencium kekasihnya itu, tetapi anehnya ia malah didorong sampai terhempas ke lantai dan pingsan -dan ketahuilah setelah itu Howon buru-buru memungut wignya-. Agar tak dihantui pikiran negatif, Eunji memilih untuk menganggap kejadian kemarin hanya sekedar fatamorgana akibat dari kepalanya yang pusing hebat.

 

“ Aneh, mungkin pengaruh kepalanya kali ya.”kata Bomi, Kai mengangguk.

“ Apa masih pusing?” tanya Kai.

Eunji mengangguk kecil, rautnya sedikit canggung ketika Kai menyingkirkan poninya dan mengelus keningnya yang kemarin terkena bola.

“ Aigoo.. sampai benjol begini. Sudah jenong makin jenong.”

“ Iih! Awas kau!” Eunji langsung memukulnya, Kai tertawa karena candaannya berhasil membuat Eunji sedikit ber-aegyo. Sementara Bomi nampaknya senang karena Kai, yang notabene temannya sejak lama kini sudah berubah ceria lagi seperti dulu.

“ Kau sudah bisa bercanda ya sekarang. Aku senang. Jangan sok cool lagi, tidak pantas tahu.”sekarang Bomi yang menggoda Kai, “..sudah seharusnya kau merasa senang setiap hari, hyung-mu kan sudah kembali.”

Kai hanya tersenyum kecut, siapa yang tahu bahwa didasar batinnya masih tersimpan tekanan yang cukup dalam? Bagaimana bisa ia merasa senang sedangkan yang kembali bukanlah hyungnya, melainkan penyihir jahat yang menyerupai hyungnya dan memperlakukannya dengan semena-mena.

Jika bukan karena Eunji, mungkin Kai masih menjadi pemurung sampai saat ini. Memang, kedengarannya lucu, mengingat baru kemarin ia mengenal Eunji. Namun sikap dan pembawaan Eunji yang menyenangkan membuat Kai lebih nyaman bergaul dengan gadis itu ketimbang dengan Naeun, yang sebetulnya baik tetapi cenderung polos dan pendiam. Apalagi setelah tahu Naeun adalah Yeoshin, istri L, Kai tak punya keberanian lagi mendekati gadis itu walau hanya sekedar menyapa.

 

“ Oh iya, mana hyungmu?”tanya Bomi, menghancurkan momen Kai dan Eunji yang masih asyik mengobrol.

“ Tidak tahu. Aku belum mengunjungi kamarnya hari ini. Kenapa memang? Kau masih suka padanya?”jawab Kai, membuat Bomi sedikit tersipu malu, dari pembicaraan itu Eunji akhirnya tahu bahwa Bomi menyukai Myungsoo.

“ Sebenarnya aku sedang berusaha untuk tidak menyukainya lagi. Aku sedang menyukai lelaki lain.”jawab Bomi, menutupi salah tingkahnya.

“ Mwoya? Siapa? Apa dia tak kalah tampan dari hyungku?” tanya Kai penasaran.

“ Yah, tentu saja! Orangnya juga keren, sopan, dan berbakat..” jawab Bomi sembari menatap langit-langit kamar, pikirannya mengawang-awang mengingat lelaki yang ia sukai itu.

“ Siapa? Sungyeol sunbae??”

“ YA! amit-amit!” sahut Bomi, “…tentu saja bukan!”

“ Si Hoya-Hoya itu ya?” tebak Eunji, wajah Bomi memerah mendadak.

“ Hah!? Hoya? Calon artis yang baru audisi sudah terkenal itu ya?” tanya Kai sinis, tentu karena ia sebal sebab tak jadi mengikuti audisi dance tersebut. Sementara Jiwon yang masih berada di kamar mandi tersenyum lebar karena menjadi bahan pembicaraan.

“ Iya! Dia keren sekali kan!? Ahh..~” sahut Bomi, jiwa fan-girlnya mulai kambuh.

“ Heh, mendapatkan Myungsoo hyung yang bukan artis saja susah, apalagi si Hoya itu, ngarep gak usah ketinggian.”ledek Kai, Bomi langsung mencubitnya.

“ Biarin! Siapa tahu Hoya itu jodohku! Kan kita tidak tahu.”jawab Bomi delusional, membuat Kai dan Eunji tertawa.

“…ya! mengapa menertawakan aku!? Awas ya kalau nanti aku menikah dengan Hoya! Kalian tak akan aku undang!”Bomi kesal, namun Kai dan Eunji justru semakin tertawa.

 

“ Annyeong haseyo..”

 

“ Eh?” tawa Kai dan Eunji mendadak berhenti dan suasana kamar sunyi seketika saat seorang gadis muncul di ambang pintu dan mengucap salam.

“ Naeun? M..masuk..masuk sini!” Eunji buru-buru mempersilakan Naeun untuk masuk meski perasaannya tak enak karena ada Kai disana, ia yakin Naeun pasti berpikiran macam-macam.

Benar saja, saat melihat Kai duduk sedemikian dekat dengan Eunji, wajah Naeun nampak semakin muram. Perasaannya semakin buruk, seharusnya ia senang melihat Kai yang kini sudah seperti yang ia inginkan -ceria dan tak lagi murung-, tetapi jika lelaki itu hanya bisa tertawa disamping Eunji, Naeun belum bisa rela melihatnya.

“ Bagaimana keadaanmu? Sudah membaik, kan? ini, aku bawakan susu dan roti untukmu.” kata Naeun berbasa-basi seraya menyentuh kening Eunji dan meletakkan sebotol susu murni beserta satu kotak makanan berisi roti diatas meja dekat tempat tidur Eunji, “…susu dan rotinya sudah kucampur ramuan obat agar kau bisa sembuh.”bisik Naeun sepelan mungkin, Eunji tersenyum.

“ Terimakasih ya, aku sudah baikan. Tapi.. aku ingin cerita sesuatu padamu nanti.” jawab Eunji, ia tentu ingin menceritakan tentang pertemuannya dengan Howon semalam, mungkin saja Naeun bisa menerawang apakah memang Eunji menemui lelaki itu semalam.

“ Arasseo. Ng..” Naeun melirik Kai sekilas, Eunji mulai panik.

“ Aku bisa jelaskan..”bisik Eunji.

“ Tidak perlu.”

“ Naeun, duduklah.”Bomi mempersilakan Naeun untuk duduk.

“ Oh, tidak usah. Aku mau ke sekolah.” Naeun buru-buru pamit, membuat Eunji semakin tidak enak.

“ Yah, padahal kami ingin tahu soal Woohyun sunbae kemarin. Apa kau tetap resmi menjadi adiknya walaupun latar belakangnya taruhan?” tanya Kai blak-blakan, membuat Naeun terkejut sekaligus tersinggung.

“ Eh, taruhan apa??” Eunji terkejut, tentu karena ia tak mendengar pengumuman Woohyun kemarin.

“ Aku.. aku permisi!” Naeun buru-buru balik kanan dan meninggalkan kamar Eunji karena panik, ia juga merasa kecewa dengan Kai yang membahas taruhan itu didepannya. Mimpi apa Naeun semalam sampai-sampai menyukai lelaki kelewat kurang ajar seperti itu?

 

“ YA! tunggu!”

Naeun yang baru saja hendak menuruni tangga memperlambat langkahnya ketika mendengar suara seseorang memanggilnya dari belakang dan berlari kearahnya lalu berjalan beriringan dengannya.

“ Eh, kau marah padaku?”

“ Kai?” Naeun mengerutkan keningnya, bingung -atau mungkin senang- karena lelaki itu menyusulnya.

“ Kau marah padaku?”Kai mengulang pertanyaannya.

“ Marah?”Naeun malah salah tingkah dan lupa dengan kekesalannya barusan.

“ Iya. Gara-gara aku bicara soal taruhan itu.”

“ Tidak.. aku tidak marah.”

“ Benar nih?”

Naeun buru-buru mengangguk.

“ Syukurlah kalau begitu. Hmm.. aku ingin bicara denganmu.”

“ Bicara apa?”

“ Rahasia. Kalau sekarang mungkin tidak sempat. Kapan-kapan deh, kalau kau ada waktu. Kurasa hari ini kau sibuk dengan keluarga barumu.”

“ Padahal sekarang saja, tidak apa-apa.”

“ Sudahlah, nanti saja.”

Naeun jadi penasaran, apa yang ingin Kai bicarakan padanya? Apa lelaki itu hendak menyatakan cinta padanya? Hmm, walau kedengarannya mustahil, sedikit berharap tidak ada salahnya, kan?

***

 

Jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh, upacara penutupan MOS akan segera dimulai namun Naeun masih berada di dalam ruangan, tepatnya ruangan kerja president school.

Woohyun memperbolehkan bahkan menyuruhnya untuk tidak mengikuti upacara karena cuaca panas, ia justru disuruh menunggu upacara selesai di ruangan president school yang sangat luas dan nyaman. Meski merasa tak enak diperlakukan berbeda dengan teman-temannya yang lain, Naeun sedikit bersyukur karena Woohyun menepati janji untuk bersikap selayaknya seorang kakak padanya.

Namun pikiran lain kembali menghantui Naeun. Tongkat sihirnya mendadak hilang pasca kebakaran kulkas semalam. Apa mungkin Myungsoo yang mengambilnya? Naeun tak bisa menuduhnya tetapi siapa lagi yang ada bersamanya saat kebakaran kulkas itu selain Myungsoo? Tapi bagaimana bisa Myungsoo memegang tongkat sihir itu tanpa merasakan panas? Yang bisa meredakan panas tongkat itu hanyalah L, pemilik aslinya. Dan Naeun tak pernah berpikir Myungsoo adalah L.

“ Apa tongkat itu ikut membakar dirinya sendiri? Tidak mungkin..”

“ Annyeong haseyo. Eh, Naeun?”

Naeun berhenti berbicara sendiri ketika menyadari seseorang masuk ke dalam ruangan president school yang tengah ia tempati.

Myungsoo, lelaki tampan itu nampak heran melihat Naeun berada di dalam ruangan yang notabene tak bisa dimasuki oleh sembarang orang. Tetapi mengingat Naeun adalah adik Woohyun sekarang, Myungsoo bisa memakluminya.

Naeun membuang muka dan membalikkan badannya, pura-pura sibuk membaca kalender yang ada di meja kerja Woohyun. Meski semalam sudah ditolong dan dirayu dengan kata-kata manis, Naeun masih saja belum memaafkan Myungsoo.

“ Ini, sesuai janjiku semalam.” Myungsoo meraih tangan Naeun yang masih terdapat luka lepuh dan mengoleskan obat berbentuk gel disana dengan lembut.

Naeun menarik kembali tangannya, lalu kembali sibuk membaca kalender tanpa mengucapkan terimakasih. Ia masih bertahan pada aksi jual mahalnya, ingin tahu seberapa sabar Myungsoo menghadapinya. Namun sesekali ia lirik lelaki itu. Myungsoo masih kelihatan sabar.

“ Sedang apa kau disini?”tanya Myungsoo pelan.

“ Kau sendiri?”Naeun tak menjawab dan malah balik bertanya.

“ Aku ingin menukar papan namaku dengan Woohyun.” Myungsoo mengambil papan nama yang ada di meja lalu menukarnya dengan papan nama yang ada di meja seberang, “…sekarang kan aku dan Woohyun bertukar jabatan, dia president school sedangkan aku wakilnya.”

“ O..oh.”tanggap Naeun datar, malas bertanya tentang itu karena membuatnya ingat dengan taruhan kemarin.

“ Naeun..”

“ Apa?”

“ Sampai kapan kau akan terus marah padaku?”

“ Aku..tidak tahu.”

“ Kau lupa dengan janjimu?”

“ Janji apa?” Naeun pura-pura tak tahu, meski kenyataannya ia sangat mengingat janji itu, janjinya untuk terus dekat dengan Myungsoo meski telah menjadi adik Woohyun.

“ Rupanya kau benar-benar lupa.”Myungsoo nampak pasrah, “…aku akan menunggu sampai kau ingat.”

“ Aku tidak akan ingat.”jawab Naeun ketus.

“ Sialan. Kalau ini negeri Junghwa mungkin sudah kuhabisi kau, Son Yeoshin.” Myungsoo menahan kekesalannya, namun ia kembali melunak saat membaca pikiran Naeun yang rupanya sedang risau memikirkan tongkat sihirnya yang hilang.

“…aku menemukan ini saat memadamkan api di kulkasmu. Aku tidak tahu benda apa ini, tapi kurasa ini milikmu.” Myungsoo mengeluarkan satu batang mungil dari tasnya lalu menyerahkannya pada Naeun, membuat Naeun terkejut dan buru-buru mengambilnya.

“ T..terimakasih.”ucap Naeun gugup. Diperhatikannya tongkat itu lekat-lekat hingga ia menyadari tongkat itu bukanlah tongkat L, melainkan tongkatnya sendiri yang notabene seharusnya berada di tangan L karena sebelum ia kabur ke dunia nyata ia bertukar tongkat dengan suaminya itu.

Tapi mengapa sekarang tongkat aslinya kembali?

“ Mungkin L melakukan praktik sihir dengan melibatkan panas api untuk menukar tongkat kami, mungkin.” Naeun mencoba menduga dalam hatinya karena ia tak mungkin menuduh Myungsoo. Myungsoo yang bisa membaca isi hatinya hanya bisa tertawa licik dalam hatinya, karena sebenarnya ia sendiri yang menukar tongkat mereka.  

 

“ Permisi!”

Pintu ruangan mendadak terbuka dengan agak kasar dan masuklah seorang gadis berponi dengan emosi membara, ia menarik Naeun untuk menjauh sedikit dari Myungsoo.

“ Eunji? ada apa kau kemari??” Naeun terkejut.

“ Aku sudah tahu semuanya dari Bomi! Jadi Woohyun sunbae mempermalukanmu didepan banyak siswa?! Ini tidak bisa dibiarkan, Naeun. Aku tidak terima!” Eunji langsung marah-marah tak karuan, “…dia kira dia siapa!?? Jangan mentang-mentang punya jabatan tinggi dan kaya raya dia bisa mempermainkanmu seperti ini!! Kau, kau juga!! Kau juga kenapa mau-mau saja taruhan dengan Woohyun hah!!??” Eunji menunjuk Myungsoo, membuat Naeun semakin panik.

“ Ssstt.. Eunji.. sudahlah..” Naeun berusaha untuk membekap mulut Eunji yang terus saja menghujat Woohyun, ia takut kakak angkatnya itu datang dan mendengar semuanya.

“ Sudah apanya!!??? Kau tidak marah sudah dipermalukan seperti itu!? Seharusnya kau yang lebih senewen daripada aku!”Eunji semakin jengkel, “…sebagai sahabat tentu aku tidak terima!”

“ Aku tahu.. tapi mau bagaimana lagi? Semuanya sudah terlanjur.. tidak ada gunanya dipermasalahkan lagi..”jawab Naeun pelan.

“ Aku tetap mempermasalahkannya! Harus kumarahi dia! Aku tidak peduli dia president school atau orang terkaya di negara ini!”

“ Ya! jangan.. tidak usah..”

“ Kalau kau melarangku, aku tidak akan pernah memberimu darah untuk makan dan minum lagi. Kau mau?” Eunji mengancam sekarang, membuat Naeun terdiam dan tak lagi berani meredam emosi sahabatnya itu.

Naeun semakin panik ketika pintu ruangan panitia terbuka kembali, masuklah beberapa anggota panitia MOS termasuk Woohyun, lelaki itu nampak terkejut melihat Eunji.

“ Naeun, bukankah oppa menyuruhmu untuk datang sendiri saja ke ruangan ini? Mengapa kau mengajak temanmu? Ruangan ini bukan ruangan sembarangan yang bisa dimasuki oleh siapa saja.”kata Woohyun, namun Eunji memotong.

“ Aku yang datang sendiri kesini! Kenapa? Kau tidak suka!?”potong Eunji galak, membuat anggota panitia yang lain tercengang karena ia sangat berani pada Woohyun, yang notabene disegani oleh seluruh warga sekolah.

“ Hei, kenapa kau galak seka…..”

“ Kau sudah mempermalukan sahabatku! Menjadikannya barang taruhan, apa itu bagus!?”Eunji memotong lagi, suaranya yang keras dan menggelegar mengundang banyak siswa yang tadinya sudah bersiap untuk upacara di lapangan bergerombol didepan pintu ruangan panitia dan menyaksikan kenekatannya berbicara dengan intonasi tinggi kepada Woohyun.

Woohyun mencoba tenang. Sekarang ia yang dipermalukan, dimarahi oleh adik kelas dan disaksikan oleh banyak siswa.

“ Aku memang sudah mempermalukan sahabatmu, menjadikan dia barang taruhan, tapi aku akan tebus kesalahanku dengan memberikan apapun yang dia inginkan karena dia sudah menjadi anggota keluargaku. Hidup sahabatmu akan bahagia. Sekarang kau paham?”

Eunji menahan emosinya, ia ingin kembali mendebat Woohyun, namun merasa tak enak karena telah mengacaukan suasana sekolah.

“ Aku simpan kata-katamu, Nam Woohyun. Jika kau dan keluargamu tidak memperlakukan Naeun sebagaimana mestinya, aku tidak akan tinggal diam. Dan kuharap kau tidak lagi berlaku licik hanya demi jabatan president school. Aku tahu kau tidak bisa sebaik Myungsoo sunbae, jadi kau mengambil cara picik untuk mengalahkannya.” Eunji mengeluarkan kata-kata terakhirnya, setelah itu keluar dari ruangan dan menerobos gerombolan siswa dengan wajah penuh kekesalan.

Woohyun menatap Eunji yang sudah berjalan pergi dengan penuh dendam. Tangannya mengepal, tak terima dengan perlakuan Eunji yang sudah mempermalukannya.

 

“ Kau akan menyesal seumur hidup karena telah mempermalukan aku, siswi Jung Eunji. lihat saja nanti.”

***

 

Evening, 04.00 PM

 

Eunji masih berdiri di balkon kamarnya, menatap Naeun yang tengah memasuki sebuah mobil limousine yang baru saja datang menjemput. Sore ini Naeun pergi bersama Woohyun ke rumah keluarga Nam, menikmati akhir pekan di rumah mewah mereka dan membuat Eunji teringat akan istana megah negeri Junghwa yang ia tinggalkan.

Sebagai seorang sahabat, seharusnya Eunji merasa senang karena Naeun akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Namun entah, ia masih belum rela Naeun menjadi anggota keluarga lain.

“ Hei, masih sedih? Atau masih marah?”

Eunji tersenyum kecil ketika Jiwon menghampirinya, “ Semuanya percuma.”

“ Aku mengerti perasaanmu, aku tahu kau takut Naeun menjauhimu atau mungkin melupakanmu jika sudah bersama dengan keluarga barunya.. tapi..”

“ Hiks..” Eunji mendadak menangis karena Jiwon tahu apa yang ia rasakan saat ini, gadis itu memeluk Jiwon erat untuk menumpahkan kesedihannya.

Jantung Jiwon mendadak berdebar. Apa-apaan ini? Kalau begini sering-sering saja Eunji sedih, dengan begitu Jiwon jadi lebih sering mendapat pelukan darinya.

“ Kau benar, aku takut itu terjadi..” tangis Eunji, Jiwon segera mengelus punggungnya, menenangkannya.

“ Kau tidak perlu takut, masih ada yang mau menjadi sahabatmu.. disini kau tak hanya punya Naeun, kau punya aku..”

“ Dan punya Bomi!” sahut Bomi dari dalam, yang rupanya mendengar pembicaraan Jiwon dan Eunji. ia tengah sibuk membereskan barang-barangnya karena akan pulang ke rumahnya dan menghabiskan akhir pekannya disana.

Eunji tersenyum, merasa beruntung memiliki Jiwon dan Bomi. Tak hanya mereka, ia juga sadar ia memiliki Kai, D.O, bahkan Chorong yang baik dan perhatian padanya. Ia tak sendiri. Namun ia tidak bisa mencurahkan isi hatinya tentang Howon pada siapapun kecuali Naeun, itulah yang membuat Eunji sedikit berat melepas Naeun untuk menjadi anggota keluarga lain, ia takut pertemuannya dengan Naeun nanti jadi tak seintens dulu.

Jiwon perlahan mengendurkan pelukannya, sedikit merasa bersalah karena disaat seperti ini ia tak bisa menemani Eunji. Sebentar lagi ia akan pergi ke tempat karantina, dan selama akhir pekan ia akan berada disana sampai penampilan pertamanya di panggung nanti.

“ Maaf, aku tidak bisa menemanimu hari ini. Kau benar-benar ingin di asrama saja selama akhir pekan? Tidak ingin kemana-mana?” tanya Jiwon cemas, Eunji mengangguk lemas.

“ Sebenarnya kau mau kemana sih? Kalau tidak mendesak kau temani saja Eunji disini.”saran Bomi, ia juga mencemaskan Eunji karena ia pun tak dapat menemani gadis itu, ia akan pulang ke rumahnya dan baru akan pulang hari senin nanti.

“ Mendesak, mendesak sekali.”Jiwon buru-buru menjawab, ia tak mungkin tak pergi ke karantina meski rasanya berat juga meninggalkan Eunji. ia memutar otaknya, mencari jawaban yang tepat karena tak mungkin ia bilang bahwa ia akan mengikuti pelatihan kompetisi dance itu.

“ Yaa.. kalau mendesak, memangnya kau mau kemana? Dan ada kesibukan apa?” Bomi bertanya lagi.

“ Aku..aku bekerja.. di toko bunga. Sampai.. akhir pekan.”jawab Jiwon asal-asalan, karena itu saja yang melintas di kepalanya, Bomi dan Eunji keheranan.

“ Ooh, jadi kau bekerja? Ya sudahlah, tidak apa-apa.”kata Eunji pasrah, Bomi mengangguk. Jiwon lega karena mereka tak memaksanya untuk tidak pergi.

“ Kalau begitu.. aku pamit ya. sampai jumpa!” Jiwon berpamitan dan mengambil ranselnya, ia menepuk bahu Bomi lalu mengacak-acak rambut Eunji dan meninggalkan ciuman kecil di kening gadis itu.

“ Ya! mengapa kau menciumku!?” Eunji terkejut, sama halnya dengan Bomi.

 

“ Itu tanda persahabatan!”

***

 

“ Hei, jadi tempat dandanmu di bawah pohon? Jenius.”

“ Eh?!” Hoya terkejut ketika mendapati seorang gadis memergokinya. Minah, sejak kapan gadis itu ada disini? Untung saja Hoya sudah selesai merubah dirinya.

“ Hahaha, santai.. kaget ya?” gadis itu tertawa, “…sejak kapan kau ada di bawah pohon ini?”

“ Baru saja.”jawab Hoya sekenanya, “…kau sendiri sejak kapan ada disini?”

“ Dari tadi. Aku menunggumu..”

“ Mwo? menungguku?”

“ Ya. bukankah tempat ini adalah tempat kita pertama bertemu? Aku yakin kau lewat jalan ini lagi, makanya aku kesini. Aku ingin kita berangkat bersama.”

“ Ooh. Terimakasih sudah menungguku.”

“ Ngomong-ngomong mengapa harus dandan di bawah pohon? Kau tidak punya rumah?”canda Minah, membuat Hoya merasa malu.

“ YA! sembarangan! Aku buru-buru makanya dandan di luar.”jawab Hoya seadanya, “…ayo berangkat, aku sudah siap.”

“ Hahaha, mengapa harus buru-buru? Jadwal latihan kita tidak seketat kemarin. Baru jam segini, bagaimana kalau kita jalan-jalan ke tempat lain dulu?”

“ Hah? Mau kemana? Tidak mau ah, capek jalan kaki.”

“ Nanti kutunjukkan tempatnya. Tak usah manja, kita tidak akan jalan kaki. Pakai ini.” Minah meletakkan sebuah skateboard didepan Hoya lalu ia sendiri naik keatas skateboardnya, “…kajja! Jangan bilang kau tidak bisa menggunakan skateboard!”

“ Hee.. jangan meremehkan aku!” Hoya tak mau kalah, meski ia sama sekali tak tahu bagaimana cara menggunakan papan beroda itu, ia mencobanya karena kelihatannya mudah.

“ Ya sudah, cepat susul aku!” Minah melaju duluan, Hoya pun menaiki skateboardnya.

“ Hahaha!! Lihat! Aku bisa kan!? Ah..eh..”

 

BRAK!

“ HAHAHAHA!!!!” Minah tertawa terbahak-bahak dan tak menolong Hoya yang jatuh terjungkang, “…kalau kau sudah jadi artis dan media melihat kejadian seperti ini, aku pasti sudah dikutuk oleh fans-fansmu, Hoya! Hahaha!”

“ YA!! jangan tertawakan aku!” Hoya segera bangkit dan mengejar Minah, gadis itu semakin mempercepat laju skateboardnya.

“ YAAA!!! Jangan kejar akuuu!!!”

***

 

“ Eunji.. jujur saja padaku, aku bisa melihat jelas di matamu. Kau tak hanya mencemaskan Naeun, kau juga iri kan karena dia sudah memiliki keluarga baru?”

Eunji masih diam, ini sudah kesekian kalinya Bomi memintanya untuk bicara jujur. Dugaan Bomi memang benar, tetapi Eunji masih malu mengungkapkannya, ia merasa berdosa telah merasa iri pada Naeun, sahabatnya sendiri.

“…kalau memang demikian, aku bisa membantumu.”sambung Bomi, membuat Eunji sedikit tak mengerti.

“ Membantuku? Maksudmu?”

“ Maksudku..kalau kau ingin juga memiliki keluarga baru, aku bisa memberikannya untukmu.” jawab Bomi misterius.

“ Memangnya ada keluarga yang mau menerimaku?”

“ Ada.”

“ Siapa?”

“ Keluargaku.”

“ HAH?”

Bomi tertawa kecil, “ Maaf kalau aku mendadak mengatakannya. Tapi ketahuilah, aku sudah bercerita banyak tentangmu pada ayah dan ibuku lewat telepon setiap harinya. Dan mereka akan sangat senang jika kau mau masuk kedalam keluarga kami dan menjadi saudaraku.”

Eunji masih terkejut, tak menyangka Bomi punya rencana untuk menjadikannya saudara. Pantas saja selama ini Bomi selalu baik dan perhatian padanya.

“…dulu, aku punya adik laki-laki, tapi di umur sebelas tahun dia meninggal karena sakit jantung. Akhirnya aku jadi anak tunggal. Aku merasa sangat kesepian..”Bomi memulai sesi curhatnya, Eunji mendengarkannya dengan seksama agar bisa ia jadikan bahan pertimbangan untuk menerima tawaran Bomi atau tidak.

“…mendiang adik laki-lakiku ini.. dia sangat menyukai sepakbola, dia juga orang yang ceria. Aku melihat dua hal utama dari adikku itu dalam dirimu, Eunji. meski kau perempuan, kau mengingatkanku pada adikku itu.”lanjut Bomi, matanya mulai berkaca-kaca.

“…makanya, saat aku bercerita tentangmu pada orangtuaku, mereka sangat antusias dan mendukung aku untuk mengangkatmu sebagai saudara. Sekarang tergantung padamu saja, mau atau tidak.”sambung Bomi, ia memegang tangan Eunji erat, “…aku sangat senang jika kau mau menjadi saudaraku.”

“ Aku..aku masih bingung…”

“ Mungkin karena aku menyampaikannya tiba-tiba ya?”potong Bomi, “…sedikit saja kuceritakan tentang keluargaku agar kau bisa mengenalinya. Jadi.. keluargaku hanya keluarga sederhana. Ayahku, Yoon Doojoon, beliau seorang pelatih sepakbola. Dan ibuku, Heo Gayoon, adalah seorang bidan. Meski kami tidak sekaya keluarga Nam, tapi aku bisa menjamin keluargaku bisa memberikan kebahagiaan untukmu, Eunji.”

Titik-titik airmata kembali membasahi pipi Eunji, gadis itupun memeluk Bomi erat dan menangis haru.

“ Terimakasih, Bomi.. aku tidak menyangka..”

“ Sama-sama. Aku juga berterimakasih karena kau tidak menolak.”

“ Sekarang.. boleh aku ikut denganmu dan bertemu dengan ayah dan ibumu?”

Bomi mengangguk semangat, “ Tentu saja! Ayo kita habiskan akhir pekan bersama-sama di rumah.”

***

 

“ Hah? Jadi ini tempatnya?”

Dengan nafas yang terengah-engah karena kebanyakan berlari, Hoya menatap kearah lapangan luas yang ada di depannya sekarang.

Minah mengangguk semangat, “ Ya, ini lapangan sepakbola. Ayo kesana! Kita lihat yang lagi latihan!”

“ Wah.. ternyata kau suka juga dengan sepakbola.”

“ Tentu saja. Ini tempatku biasa latihan, hanya saja sudah beberapa hari aku absen karena sibuk dengan pelatihan.”

“ Mwo?? jadi kau berlatih sepakbola?”Hoya tak menyangka, tapi setelah memperhatikan penampilan Minah yang terkesan cuek dan berandal, ia tak kaget lagi. Minah termasuk gadis yang tomboy, sama seperti Eunji -atau Hyerim-.

“ Yaa.. aku striker di klub sepakbola yang sedang latihan ini. Klub kami adalah klub yang paling terkenal di Seoul, lho..~” Minah sedikit pamer, membuat Hoya berdecak kagum.

“ Wah.. aku jadi penasaran seperti apa latihannya.”

“ Makanya, kajja! Kita lihat.” Minah mengajak Hoya untuk mendekat ke lapangan, tepatnya menghampiri seorang pria muda berseragam olahraga lengkap dengan topi dan stopwatch di tangannya, nampaknya beliau sedang mengawasi para pemain yang tengah berlatih.

“ Annyeong, Yoon Doojoon ssaem..”sapa Minah, pria itu segera berbalik.

“ Annyeong. Wah! Bang Minah! Akhirnya datang juga..” pria itu nampak senang dan langsung mengacak-acak rambut Minah, “…kau tidak ke karantina? Bukankah tinggal beberapa hari lagi kau tampil di televisi? Hehehe.”

“ Ini mau ke karantina, ssaem. Tapi aku sengaja mampir kesini dulu, ingin memperlihatkan klub kita pada teman baruku.”jawab Minah sembari menepuk bahu Hoya yang sejak tadi mehe-mehe memperhatikan para pemain yang berlatih dengan tertib.

“ Siapa? Ini? Wah.. eh.. ini.. ini kan Hoya!! Wah.. ternyata memang keren ya orangnya!” pelatih sepakbola yang akrab disapa Tuan Doojoon atau Doojoon ssaem itu terkejut melihat Hoya, Minah tertawa karena sudah menduga pelatihnya itu pasti kenal dengan Hoya.

“ Haha, rupanya kenal juga denganku.” Hoya salah tingkah, ia segera bersalaman dengan Tuan Doojoon, “…aku Hoya.”

“ Ya, aku Yoon Doojoon, pelatih disini. Kau bisa memanggilku Tuan Doojoon. Atau Doojoon ssaem, jika kau mau bergabung menjadi pemain disini, hehe.”

“ Wah, memangnya boleh?” Hoya nampak berseri-seri. Jika di sekolah ia tak bisa ikut ekskul sepakbola karena masalah gender(?), ia akan sangat senang jika bisa diterima di klub luar.

“ Hahaha.. kalau kau punya basic tentu saja boleh.”jawab Tuan Doojoon mantap.

“ Nah, pertanyaannya kau punya basic atau tidak?”tanya Minah.

“ Jangan ragukan aku, aku bahkan punya lebih dari basic. Sejak kecil aku sudah berlatih sepakbola.”jawab Hoya percaya diri, karena memang sebelum menjadi pengawal di kerajaan Junghwa, kerjaannya hanyalah bermain bola.

“ Wah, bagus kalau begitu. Kau boleh bergabung dengan kami. Soal jadwal latihan, sama seperti Minah, kalian boleh datang disaat tidak sibuk dengan kompetisi yang kalian ikuti.”putus Tuan Doojoon.

“ Terimakasih, ssaem. Aku jadi tidak sabar ingin ikut berlatih disini!” Hoya tersenyum senang.

“ Ya.. tapi untuk sekarang, lebih baik fokus dulu dengan kompetisi kalian.”

“ Nah, ngomong-ngomong soal kompetisi.. Doojoon ssaem tolong dukung aku ya, kirim dukungan sms untukku!”Minah mempromosikan dirinya.

“ YA!! tidak bisa! Doojoon ssaem, dukung aku saja ya!”Hoya tak mau kalah.

“ Heh, aku sudah kenal lama dengan Doojoon ssaem, jadi aku yang harus didukung!”

“ Tapi aku yang lebih terkenal, jadi dukung aku saja!”

“ Ih! Tidak bisa! Harus aku!”

“ Aku!”

“ Akuu!!”

“ YA!! kenapa jadi berkelahi?? Kalian ini..” Tuan Doojoon tertawa dan geleng-geleng kepala, heran karena lelaki dan gadis yang notabene adalah calon artis itu malah bertengkar dan saling meledek seperti anak kecil.

***********

 

Saturday Night

 

“ Ahh! Akhirnya!”

Seorang gadis menghempaskan tubuhnya keatas tempat tidur mewahnya, menatap langit-langit kamar seraya berusaha mengatur nafasnya.

Son Naeun, gadis itu.

Meski sudah tiga hari tinggal di rumah keluarga Nam yang besar dan serba mewah, gadis itu belum bisa menikmati kehidupan barunya. Dan ini adalah contoh kecilnya, ia membersihkan kamar pribadinya yang sangat luas sendirian sampai lelah tanpa meminta bantuan pembantu karena sudah menjadi kebiasaannya membereskan segala sesuatu sendiri.

Tetapi setidaknya, Naeun bisa merasa bersyukur karena keluarga Nam menyambutnya dengan baik, meski setelah itu Tuan Nam dan Nyonya Nam pergi meninggalkannya dengan Woohyun ke Perancis. Ayah dan Ibu barunya memang sangat sibuk karena memiliki banyak cabang perusahaan di Eropa.

Dan karena kesibukan Tuan dan Nyonya Nam, Naeun jadi mengerti mengapa hidup Woohyun cenderung bebas. Karena tak ada pengawasan orangtua, Woohyun bisa melakukan apapun yang ia mau, termasuk mengadakan party malam ini.

Ya, lantai empat rumah keluarga Nam saat ini disulap menjadi club malam bintang lima, Woohyun mengundang semua temannya untuk clubbing sampai pagi, dan hal itu membuat Naeun merasa sangat terganggu karena suara berisiknya.

Sebenarnya sudah berkali-kali Woohyun memanggilnya, menyuruhnya untuk ikut bergabung, namun Naeun menolaknya mentah-mentah. Yang gadis itu inginkan saat ini hanyalah mendapatkan ketenangan.

Dan ia menyadari, ketenangan yang ia inginkan adalah ketenangan yang berasal dari tatapan teduh sunbaenya yang sudah tiga hari tak ia temui, Kim Myungsoo.

Ya, meski belum memaafkan Myungsoo, saat ini Naeun benar-benar merindukan lelaki itu. Walau Naeun lebih menaruh perhatian pada Kai, namun saat ini Myungsoolah yang memenuhi pikirannya.

Sedang apa Myungsoo sekarang? Dimana ia menghabiskan akhir pekannya? Apakah lelaki itu juga merindukan Naeun?

“ Ah! tidak.. aku tidak boleh memikirkannya. Aku harus mengalihkan perhatian..”Naeun berusaha menepis pikirannya, hingga matanya menangkap sebuah buku yang terletak diatas meja belajarnya.

Buku Rahasia Dunia Luar milik Hyoyeon yang masih ia simpan rapi. Ditatapnya buku itu lekat-lekat hingga suatu ide gila muncul di otaknya.

 

“ Aku ingin membuat ramuan portal. Siapa tahu suatu saat bisa aku gunakan.”

***

 

“ Jebal, L.. kali ini saja. Aku tidak akan menggunakan uangnya untuk pribadi. Aku janji..”

Kai masih berusaha melindungi satu kotak berisi uang jutaan won yang ada di tangannya meski badannya sudah babak belur karena Myungsoo -atau L- memukulinya. Kotak berisi uang tersebut adalah harta terpendam milik Myungsoo asli yang baru saja Kai temukan di rumah mereka. Ini sudah hari ketiga dimana Kai tinggal serumah dengan Myungsoo untuk mengisi akhir pekan mereka, dan sudah tiga hari pula Kai menderita lahir batin. Myungsoo memperlakukannya dengan semena-mena dan Kai hanya bisa pasrah. Namun soal uang yang ia temukan kali ini, Kai tak bisa pasrah, ia tak akan memberikannya pada Myungsoo.

“ Berikan kotak itu padaku atau kusihir kau!” kali ini Myungsoo mengancam sembari menodongkan tongkatnya kearah Kai yang kini meringkuk dibawah meja makan.

“ Sihir saja aku! Sihir kulitku biar jadi putih!”sahut Kai.

“ Enak saja!”

“ Emang enak ._.”

“ Heh, kau berani melawanku!?”

“ Bukan begitu, aku terpaksa melakukannya. Uang ini tidak bisa kau gunakan!”

“ Memangnya untuk apa uang itu!?”

“ Untuk…”

 

GDOR! GDOR! GDOR!

Tiba-tiba terdengar suara pintu digedor dengan amat keras dan kasar. Myungsoo mendadak emosi karena si pengetuk pintu benar-benar tak sopan, memanggil nama Myungsoo dari luar dengan keras berkali-kali.

“ Nah, untuk mereka.”sambung Kai.

“ Mereka siapa??”tanya Myungsoo tak mengerti.

“ Mereka yang menggedor pintu itu. debt collector..nagih uang kontrakan rumah ini.”

“ Hah?? Jadi kakakmu yang sudah mati itu masih punya hutang!?”

“ T..tidak. sebenarnya dia sudah melunasinya, tapi dia menitipkan uang pelunasan itu padaku untuk dibayarkan. Dan.. aku.. aku malah memakai uangnya untuk bersenang-senang, jadi hutangnya menumpuk.”jelas Kai dengan penuh rasa bersalah, ia menyesal karena sudah membohongi mendiang kakaknya hingga sekarang ia yang takut sendiri didatangi oleh debt collector yang terdiri dari preman-preman berbadan besar semua.

“ Ck, adik macam apa kau ini!? Kalau aku jadi Myungsoo asli mungkin sudah lama kau kubunuh.”dengus Myungsoo, ia pun segera berdiri dan membuka pintunya karena debt collector itu semakin kasar memanggilnya.

“ HEH!!! KIM MYUNGSOO! KELUAR KAU!! LUNASI HUTANGMU ATAU KAMI KOSONGKAN PAKSA RUMAHMU!!!”

“ Myungsoo yang kalian maksud sudah mati, bodoh.”batin Myungsoo geram, ia membuka pintunya dengan tak kalah kasar dan pasang wajah menantang didepan para preman tersebut.

“…ada apa?”tanya Myungsoo tenang, satu tangannya meremas tongkat sihirnya kuat-kuat dibelakang punggungnya.

“ NAH! Ini orangnya!! Kemana saja kau, hah!!??? Bayar hutangmu sekarang juga!!!!”

“ Aku tidak punya uang.”

“ Kami tidak mau tahu!!! Bayar sekarang juga atau….”

“ Atau apa?”

Para preman tersebut semakin geram, salah satu dari mereka pun mengeluarkan sebilah pisau dan menodongkannya kearah wajah tampan Myungsoo, sementara preman yang lain membentuk formasi mengelilingi Myungsoo dan bersiap mengeroyok lelaki itu.

Myungsoo tersenyum sinis, dengan mudah ia mengeluarkan tongkat sihirnya dan mengayunkannya kearah para preman tersebut satu per satu.

BRUK! BRUK! BRUK! BRUK! BRUK!!

 

“ L!! apa yang kau lakukan!??” Kai terkejut mendengar suara jatuh beberapa kali di depan rumahnya, ia segera berdiri dan berlari menuju Myungsoo.

“ Kuburkan mereka, kemana saja yang penting aman.”dengan santai Myungsoo berbalik dan mengambil jaketnya lalu bersiap untuk pergi, “…aku ingin ke asrama. Sungyeol ada disana dan aku ingin tahu apa yang sedang dia kerjakan.”

“ YA! L..kau.. tidak bisa begini..” Kai masih terkaget-kaget, semua debt collectornya sudah terkapar dan mati dengan mata terbuka.

 

“…L!!! JANGAN TINGGALKAN AKU!! AKU TAKUT!!!!” Kai mengambil ranselnya dari dalam rumah lalu buru-buru melangkahi mayat-mayat didepannya dan berlari mengejar L yang sudah berjalan beberapa meter didepannya.

***

 

“ Voila! Ramuannya jadi!”

Naeun tersenyum senang melihat ramuan portalnya yang berhasil dengan sempurna meski ia membuatnya tak secepat Hyoyeon. Membuat satu botol saja Naeun menghabiskan waktu selama tiga jam, ditambah lagi proses pemasukan mantra rahasianya yang cukup sulit.

Namun rasa lelah Naeun membuat ramuan portal tersebut telah hilang karena keberhasilannya, ia merasa sangat puas dan ingin rasanya pulang ke negeri Junghwa barang sebentar untuk memberitahu Hyoyeon bahwa ia sudah bisa membuat ramuan portalnya sendiri.

Gadis itu melirik jam, sudah menunjukkan pukul dua belas malam.

Hawa dingin mendadak melintasi tengkuknya, perasaannya mendadak tak enak. Naluri penyihirnya mengatakan bahwa sejak tadi sebenarnya ada seseorang yang mengawasinya secara sembunyi-sembunyi, entah siapa dia.

Naeun mencoba tenang. Ia kira kabur dari rumah Woohyun dan memilih dapur asrama sebagai tempat teraman untuk membuat ramuan adalah ide yang cukup bagus, tetapi ternyata ia masih dihantui rasa cemas, ia takut praktik sihir rahasianya ini diketahui oleh orang lain.

“ Tidak. Tidak ada siapapun. Semua penghuni asrama kan sedang berlibur akhir pekan, asrama ini kosong. Hanya ada aku disini.” Naeun mencoba bersugesti, namun rasa takutnya lama kelamaan semakin menjadi.

 

“ Apa yang sedang kau kerjakan tengah malam begini, Nona?”

“ YA!” Naeun buru-buru berbalik dengan panik, seorang lelaki jangkung berkacamata besar berdiri diambang pintu dapur dan bertanya dengan nada datar kepadanya.

“…bukankah seharusnya kau berada di rumah mewah keluarga Nam? Mengapa kau ada disini?” Sungyeol perlahan mulai memasuki dapur dan mendekatinya, Naeun segera menyembunyikan botol ramuan portal itu dibalik punggungnya.

“ Aku..aku merindukan asrama, jadi..aku kesini.”jawab Naeun seadanya, ingin rasanya ia berlari dan kabur, namun ia tak kuasa.

“ Oh ya? lalu apa yang kau kerjakan disini?”

“ Aku..masak.”jawab Naeun putus asa, membuat Sungyeol semakin gencar menginterogasinya.

“ Oh ya? boleh kulihat hasil ‘masakan’mu?”

Naeun menggeleng kuat-kuat.

“…mengapa tidak boleh? Aku ingin lihat.”

“ T..tidak. jangan..”

“ Apa perlu aku memaksamu?”

Naeun semakin panik, ia terus menggeleng dan mencoba mengambil aba-aba untuk kabur. Namun sebelum keinginannya untuk melarikan diri terlaksana, Sungyeol sudah menahan lengannya terlebih dahulu.

“ Kau membuat ramuan sihir kan? Tunjukkan padaku!” Sungyeol menatapnya tajam, Naeun mendadak panik dan ketakutan. Bagaimana bisa lelaki itu tahu? Ini masalah besar.

“ T..tidak! kau ini bicara apa!?” Naeun mencoba berdalih, namun Sungyeol semakin tajam menatapnya.

“ Kau. Gadis penyihir, seorang ahli ramuan. Iya kan?”

Naeun serasa ingin menangis, semakin takut dengan Sungyeol yang mulai membongkar identitasnya.

“ Lepaskan aku!” Naeun mencoba meloloskan tangannya, namun pegangan Sungyeol begitu kuat.

“ Tidak sebelum kau berikan aku ramuan itu.”

“ Tidak akan!”

“ Kalau begitu aku akan memaksa.”

“ Tidak.. jangan!” Naeun terus berusaha menjauhkan botol ramuannya dari jangkauan Sungyeol. Ia tak bisa menggunakan tongkatnya untuk melakukan perlawanan karena satu tangannya ditahan oleh Sungyeol.

“ Berikan padaku!!”

“ TIDAK AKAN!!”

 

“ YA! apa yang kau lakukan?!”

Seseorang memasuki dapur dan tanpa basa-basi menarik Sungyeol, menjauhkan lelaki itu dari Naeun dan memukulinya hingga pingsan. Naeun meringkuk ketakutan di sudut dapur menyaksikannya.

“ Cukup, Myungsoo sunbae! Cukup!!” Naeun akhirnya berdiri dan menahan tangan Myungsoo yang masih saja memukuli Sungyeol meski lelaki itu sudah tak sadarkan diri. Myungsoo pun menghentikan aksinya dan langsung menarik Naeun ke pelukannya.

“ Kau tidak apa-apa, kan?”tanya Myungsoo cemas, Naeun mengangguk meski masih merasa trauma. Myungsoo menatap sekitar dapur, mencoba membaca situasi yang terjadi sebelum ia datang.

“ Jadi tadi Yeoshin membuat ramuan portal dan Sungyeol memergokinya? Ini gila.” Myungsoo berhasil membaca situasinya, kini ia mencari-cari botol ramuan tersebut. Ia ingin mencurinya agar bisa keluar-masuk negeri Junghwa sesuka hatinya. Atau bila perlu ia bisa langsung pulang dengan membawa Naeun jika keadaan di dunia nyata sudah tak memungkinkan lagi bagi penyihir seperti mereka.

Perlahan tapi pasti, Myungsoo mengambil botol ramuan yang ada di tangan Naeun disaat gadis itu masih menangis dalam pelukannya. Lelaki itu tersenyum licik menatap ramuan tersebut.

 

“ Haruskah aku membawamu pulang, Son Yeoshin?”

***

 

Naeun mencoba duduk dengan tenang di atas tempat tidur kamar Myungsoo, meski rasanya canggung memasuki asrama putra.

Ia tak bisa ke kamarnya sendiri, ia masih trauma sendirian. Saat ini saja ia merasa takut karena Myungsoo belum juga kembali, lelaki itu sedang keluar sebentar untuk membawa Sungyeol yang masih pingsan ke ruang kesehatan sekolah.

“ Sepertinya ada yang kurang. Apa ya?” perasaan Naeun mulai tak enak lagi, namun ia belum menyadari bahwa ia telah kehilangan botol ramuannya. Disaat sedang mengingat-ingat, pikirannya buyar seketika saat melihat seorang lelaki berkulit eksotis memasuki kamar Myungsoo.

“ Ya! Naeun? Bagaimana bisa kau ada disini? sedang apa kau disini? Mana Myungsoo hyung?”tanya Kai, lelaki itu.

Naeun terpaku, menatap Kai dengan tatapan penuh kekaguman, meski tak jelas apa yang sedang ia kagumi dari lelaki itu.

“ Kau pernah bilang padaku kalau kau ingin bicara sesuatu, kan? Bicara sekarang saja.”

Kai mengerutkan keningnya karena Naeun tak menjawab pertanyaannya dan malah membahas perkataan Kai beberapa hari yang lalu.

“ Hmm.. bagaimana ya.. aku malu.”kata Kai sedikit salah tingkah, membuat Naeun semakin geer kalau Kai ingin menyatakan cinta padanya.

“ Tidak apa-apa. bicara saja.”desak Naeun, akhirnya Kai bersiap untuk memulai pembicaraannya.

“ Hmm..kau kan bersahabat dengan Eunji, kau pasti tahu banyak tentang dia. Nah, apa dia sudah punya kekasih? Kalau belum, lelaki seperti apa yang ia sukai?”

Naeun membeku seketika, hatinya mendadak sakit mendengar pertanyaan Kai. Sudah jelas, Eunjilah orang yang disukai oleh Kai, bukan Naeun. Padahal Naeun sudah menunggu-nunggu hal apa yang sebenarnya ingin Kai bicarakan padanya. Namun ternyata, Kai ingin bicara tentang Eunji, ingin mengetahui banyak hal tentang gadis itu dari Naeun.

“ Aku..tidak tahu.”jawab Naeun ketus, tak sudi menjawab karena hanya akan menyakitkan hatinya.

“ Tidak mungkin, kau pasti tahu. Ayolah.. jawab. Aku benar-benar butuh informasi darimu agar aku tidak salah cara saat mengungkapkan perasaanku pada Eunji nanti.”desak Kai, membuat hati Naeun semakin sakit saja.

“ Sudah kubilang aku tidak tahu!” Naeun semakin meninggikan nada suaranya karena kesal, membuat Kai menyerah.

“ Sahabat macam apa kau ini, Naeun. Seharusnya aku tanya Bomi saja soal ini, kau tidak bisa diandalkan.” Kai pun berdiri, hendak meninggalkan kamar karena sudah tak berguna lagi bicara dengan Naeun.

“ Kai!”

“ Apa lagi ha… eh.. Naeun?!”

Kai terkejut, Naeun berlari dan memeluknya dengan sangat erat. Gadis itu nampak kehilangan akal sehatnya.

“ Kau tidak sadar kalau selama ini aku memperhatikanmu? Aku menyukaimu! kau cinta pertamaku.. tapi kenapa kau malah menyukai sahabatku? Dunia ini tidak adil…!” Naeun menumpahkan seluruh isi hatinya dan menangis pilu, membuat Kai merasa kasihan tetapi bingung harus berbuat apa. Ia sama sekali tak pernah menyangka Naeun menyukainya.

“ Kau..kau terlalu sempurna untuk menyukai lelaki seperti aku. Kau lebih pantas dengan Myungsoo hyung, dia jauh lebih baik dariku..”kata Kai pelan, dan jantungnya berdebar seketika saat menyebut nama Myungsoo, karena sang pemilik nama sudah berdiri di ambang pintu dan menatapnya dengan geram karena Naeun memeluknya..

*

 

“ L, kau boleh memukulku, menyiksaku, menyihirku jadi apapun yang kau mau. Tapi sebelumnya berikan aku kesempatan dulu untuk menjelaskannya!” Kai masih berusaha meminta pengertian Myungsoo, namun penyihir itu sama sekali tak mau mendengarkannya dan tetap menyeretnya menuju gudang asrama.

“ Aku sudah malas menyiksamu! Sebabak belur apapun dirimu kusiksa tapi jika kau masih ada disini, perasaan Naeun tak akan pernah berubah. Jadi jalan satu-satunya adalah..” Myungsoo mengeluarkan botol ramuan portalnya dan menyiramkannya ke dinding gudang.

“ A..apa yang mau kau lakukan…L?”

“ Menurutmu?”

“ A..aku tahu. T..tidak.. aku tidak mau..! jangan..!” Kai beringsut mundur namun Myungsoo berhasil menarik tangannya sekuat tenaga.

 

“ Kau harus mau, Kim Jongin.”

*

 

“ Mana Kai?”

Myungsoo mencoba sabar ketika pertanyaan itu yang pertama kali ia terima dari Naeun saat ia baru saja kembali ke kamar. Lelaki itu mendekati Naeun yang masih duduk diatas tempat tidurnya.

Myungsoo tak menjawab, ia lantas menyentuh wajah Naeun yang masih pucat, “ Kau sudah merasa tenang?”

Naeun mengangguk saja, setelah itu bertanya lagi.

“ Mana Kai?”

“ Untuk apa kau mencarinya?”

“ Aku…”

“ Maaf jika tadi aku menghancurkan momen kalian. Tapi aku tidak bisa tahan melihatmu seperti itu dengan adikku sendiri.”potong Myungsoo, membuat Naeun keheranan.

“ Mengapa begitu?”

“ Karena aku punya perasaan khusus padamu. Bukankah aku sudah pernah bilang?”

“ Tapi….”

“ Bisakah sedikit saja kau melihat kearahku? Apa bedanya aku dengan Kai?” Myungsoo kembali memotong, membuat Naeun merasa bersalah karena ia tahu Myungsoo pasti merasa semuanya tidak adil. Myungsoo jauh lebih baik dan memperhatikannya bahkan sering menolongnya, tetapi ia justru menyukai Kai yang jelas-jelas tak pernah peduli padanya bahkan lebih menyukai Eunji.

“ Mianhae.. mianhae, sunbae..”Naeun semakin merasa bersalah dan tak sanggup menatap mata elang Myungsoo yang terus menatapnya tanpa berkedip.

“ Kau percaya kan kalau aku punya perasaan khusus padamu? Tak peduli sudah berapa lama kita saling mengenal.”

Naeun tersenyum kecil, “ Tunjukkan aku seberapa banyak perasaan itu.”

 

Tanpa banyak bicara, Myungsoo mendekat, menyatukan bibirnya dengan bibir Naeun dengan sempurna dan memberikan lumatan-lumatan lembut yang membuat Naeun mendadak gemetaran namun tak sanggup menolak.

Rasanya sama seperti ciuman L saat hari pernikahan mereka. Namun kali ini, perasaan Naeun jauh lebih damai dan sama sekali tak diliputi rasa takut seperti dulu. Bahkan gadis itu tak melakukan perlawanan saat Myungsoo membaringkannya dengan pelan ke tempat tidur dan memberinya ciuman yang lebih dalam dari sebelumnya…

 

“ Istriku Son Yeoshin, haruskah kita merealisasikan malam pertama pernikahan kita yang tertunda?”

***

 

“ Argh!! Tidak! Buka! Buka portalnya!!!”

Kai masih terus memukuli tembok tua didepannya, perasaan takut menjalarinya karena kini ia terdampar di tempat yang benar-benar asing baginya.

Lelaki itu berhenti memukuli temboknya, dengan takut-takut berbalik dan mencoba memperhatikan lingkungan sekelilingnya hingga matanya menangkap satu bangunan megah yang nampak terang dan bersinar meski sedikit tertutup daun-daun pepohonan dan berada dalam jarak yang mungkin cukup jauh darinya.

Bangunan itu, sebuah istana.

Lutut Kai melemas.

 

“ Tempat apa ini?”

 

_To be Continued_

 

Tak bisa berkata-kata banyak lagi, intinya author lega bisa menyelesaikan part yang amat panjang ini~ 🙂 mohon maaf jika banyak kekurangan..

Karena partnya panjang, semoga komen readers juga panjang ya..^^ *modus*

Masih banyak tanda tanya di part ini? Tenang.. karena author akan menjawabnya di part 8, masih banyak rahasia dan kejutan yang belum author ungkap. So, ikuti terus fanfic ini yaa. Jika ada plot yang membingungkan, silakan tanya 🙂

 

COMMENT and LIKE juseyo!! Komentar kalian adalah sumber semangat, motivasi, dan inspirasi author. Author tidak mengharapkan adanya silent readers. Sampai jumpa di part berikutnya^^

 

Next >> Part 8 : The Hidden Truths

Advertisements

153 responses to “THE PORTAL [ Part 7 : Something New ]

  1. Pingback: THE PORTAL 2 [[PART 8 : Sacrifices [PRE-FINAL]] | FFindo·

  2. Pingback: THE PORTAL 2 [[PART 8 : Sacrifices [PRE-FINAL]] | citrapertiwtiw·

  3. eciiieee… naeun myungsoo poppoan/? xD
    aaaaa suka emesh sama sikapnya naeun…
    malu2 dan suka sok jual mahal…
    wkkkkk~ kenapa juga naeun mesti meluk kai ??? kan kasihan myungsoo terbakar cemburu…
    tp kasihan juga sihhh sama kai.. suka disiksa sama myungsoo

    makin kesini makin demen sama couple emesin myung-eun xD

  4. Pingback: THE PORTAL 2 [Part 9 : The Real Ending] [FINAL] – FFindo·

  5. Pingback: THE PORTAL 2 [Part 9 : The Real Ending] [FINAL] [LATEPOST] | citrapertiwtiw·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s