Two Hearts — Chapter 9: Is This Going To End?

Title: Two Hearts

Author: Bangmil

Rating: PG-15

Genre: Romance

Length: Chaptered

Cast: 

  • Yang Haejin (OC as You)
  • Kris Wu (EXO-M)

Minor Cast:

  • Park Chanyeol (EXO-K)
  • Byun Baekhyun (EXO-K)
  • Park Yoojung (OC / Ibu Kris)
  • Choi Sooyoung (SNSD)
  • Other casts that hasn’t been revealed.

Disclaimer: I own nothing beside OC, poster and the story. Do not plagiarize.

Previous Chapter

Chapter 9: Is This Going To End?

Di dalam ruang kerja Kris malam hari itu, yang terdengar hanyalah suara cetikan bolpoin diselingi suara kertas-kertas yang bergesekan satu sama lain. Setelah serangkaian hal yang terjadi di sekelilingnya kemarin, akhirnya Kris mampu memakai otaknya dengan benar setelah kemarin sempat terguncang karena emosi yang naik-turun. Cukup banyak pekerjaan yang tertinggal, dan mau tak mau, ia harus bekerja dua kali lebih keras agar segalanya cepat terselesaikan, walaupun itu berarti ia harus lembur hari ini.

Mungkin fokus Kris masih tetap terjaga untuk dua jam kedepan kalau saja suara pintu yang dibuka paksa dan derap langkah kaki cepat tidak membuyarkan konsentrasinya. Alis laki-laki itu bergerak sekilas—tanda ia merasa terganggu—sebelum kemudian ia menghela nafas pelan dan menatap sosok seseorang yang berdiri di hadapan meja kerjanya. Ah, entah kenapa setiap kali melihat orang ini, Kris selalu teringat dengan anjing lincah peliharaan keluarganya dulu.

“Apa masih ada yang perlu dilaporkan, Chanyeol?” tanya Kris sekenanya, terdengar malas. Ia memang sedang tidak bersemangat berhubung Park Chanyeol-lah yang menjadi sekertaris dadakannya selama satu hari penuh, bukan Haejin. Selain karena masalah perasaan dan urusan pribadi, Kris memang tidak cocok bekerja dengan Chanyeol karena menurutnya, sepupunya itu terlalu ceria dan berisik. Ya, itu salah Kris juga, sih, karena dirinya sendiri yang memaksa sekertarisnya yang asli, Haejin, libur sehari dari kantor untuk beristirahat sampai gadis itu benar-benar pulih.

“Hyung tidak pulang? Ini sudah hampir jam sepuluh malam,” Bukannya menjawab, Chanyeol malah balik bertanya, dan Kris hanya menanggapinya dengan menunjuk tumpukan dokumen di atas meja, berharap Chanyeol mengerti jawaban tersirat yang ia berikan. Melihatnya, Chanyeol menyilangkan tangan serta mengangguk-angguk pelan. “Aku mengerti, tapi pastikan Haejin tidak kabur dari apartemenmu, hyung.”

Kris mengangkat alisnya, teringat dengan kenyataan bahwa ia meninggalkan Haejin di apartemennya sejak pagi tadi, dan menyuruh gadis itu untuk tidak pergi kemana-mana sampai ia pulang dari kantor. Merasa sedikit khawatir, laki-laki itu seketika memasang posisi duduk dengan benar dan mulai meneruskan pekerjaannya. “Makanya, biarkan aku menyelesaikan semua ini dengan cepat agar aku bisa segera pulang,” ujarnya, sedikit ketus.

Sekilas Kris sempat melihat cengiran Chanyeol, tapi ia terlalu sibuk untuk memikirkan apa yang sekiranya terlintas di otak sepupunya itu.

“Ah, iri sekali. Rasa-rasanya kalian sudah seperti tinggal satu rumah saja,” goda Chanyeol, tapi hanya dibalas dengan anggukan kilat oleh Kris. Tidak puas dengan itu, Chanyeol mencoba menggodanya lagi. “Apa jangan-jangan terjadi sesuatu di antara kalian setelah aku pergi  kemarin malam?”

Pertanyaan Chanyeol cukup membuat orang yang mendengarnya terkejut tapi Kris tetap berusaha untuk fokus. “Aku tidak mungkin melakukan sesuatu pada orang yang sedang sakit, Chanyeol,” ujarnya sambil memberi tekanan pada kata ‘sesuatu’, berharap sepupunya bisa berhenti berpikir yang tidak-tidak.

“Tapi, hyung, aku dengar dari orang-orang kalau obat yang paling manjur untuk sepasang kekasih adalah—”

“Kalau tidak ada hal penting yang ingin dibicarakan lebih baik kau pulang saja,” potong Kris cepat, tidak peduli apakah itu akan menyinggung perasaan Chanyeol atau tidak.

Dan kenyataannya memang sebaliknya, suara galak Kris justru membuat hormon jahil laki-laki itu bertambah dua kali lipat. “Kalau aku ingin memberitahu tentang hal penting bagaimana?”

“Hal penting apa?” ujar Kris, masih berkutat dengan pekerjaan, tidak tertarik barang sedikit pun.

Senyum Chanyeol mengembang. “Hyung, hyung tahu ‘kan kalau dulu aku sering main bisbol? Masih ingat kejadian di lapangan sekitar tiga tahun yang lalu?”

Tiba-tiba Kris menghentikan gesekan penanya, pandangannya beralih menuju Chanyeol yang sedang menunggu reaksinya. Baru saja laki-laki itu akan membuka mulut, ia dikejutkan lagi oleh getaran ponsel yang berasal dari saku jasnya. Seketika perhatiannya beralih ke sana, dengan cepat ia menjawab telepon dan menempelkan ponsel ke telinga.

“Oh, wae?” Kris melontarkan sapaan biasa dan terdiam, mendengar perkataan orang di seberang sana sebelum kemudian raut wajahnya berubah terkejut. “K-kau serius? Baiklah, aku akan pulang sekarang.”

Entah berita apa yang ia dapat, Kris dengan cepat merapikan barang-barang di atas mejanya dan bergegas pulang tanpa mempedulikan Chanyeol yang tiba-tiba kebingungan. Sepupunya itu berkali-kali memanggil namanya tapi entah kenapa telinga Kris sedang tidak berfungsi dengan baik.

“Hyung? Hyung mau kemana? Dengarkan ceritaku dulu, hyung! Hyung!”

Seruan Chanyeol hanya terdengar samar-samar di telinga Kris, seiring dengan semakin jauhnya Kris melangkah meninggalkan sepupunya. Ia berjalan cepat menuruni tangga, menuju basement tempat mobilnya diparkir. Di otak Kris sekarang hanya ada satu hal, yaitu pulang ke rumah secepatnya.

***

“Kau tidak perlu repot-repot meneleponnya, Haejin.”

Walaupun gugup, Haejin membalas perkataan seseorang yang duduk di seberangnya dengan gelengan dan senyuman. “Anieyo, eomeoni. Kalau tidak diberi tahu bisa-bisa sajangnim tidak akan pulang hari ini,” ujarnya, setengah bercanda.

Tawa renyah terdengar mengisi ruangan. “Kau benar. Kris itu memang suka lupa waktu kalau sudah bekerja,” timpal wanita yang sedari tadi diajak bicara. Park Yoojung, ibu Kris.

Beberapa menit yang lalu, mental Haejin sempat kacau balau karena tiba-tiba Park Yoojung muncul di apartemen Kris, dan sangat tidak mungkin bagi Haejin untuk tidak membukakan pintu untuknya. Tentu saja Haejin harus bersiap dari puluhan pertanyaan dari ibu Kris—eh, calon mertuanya—tentang bagaimana gadis itu bisa berada di apartemen puteranya, dan menyiapkan berbagai macam sangkalan untuk menangkal kecurigaan Park Yoojung bahwa Kris dan Haejin sudah tinggal bersama. Dengan penjelasan panjang, didukung oleh wajah pucat Haejin, akhirnya Park Yoojung mau menerima cerita bahwa Haejin sedang sakit.

“Tapi, Haejin. Ngomong-ngomong kalau boleh tahu, sudah sejauh mana hubungan kalian berdua?”

N-ne?” Haejin tersentak dengan pertanyaan Park Yoojung yang menurutnya sedikit ambigu. Sejauh yang dimaksud itu sejauh yang bagaimana?

Park Yoojung perlahan mendekatkan kepalanya pada Haejin. “Maksudnya, kalian tidak melakukan hal-hal di luar batas, kan?” bisiknya.

Seketika alis Haejin terangkat. “T-tentu saja tidak, eomeoni! Saya hanya akan melakukannya setelah menikah!” jawab Haejin lantang, membuat tawa wanita di hadapannya pecah sekali lagi. Oh, tidak. Apa Haejin salah bicara?

“Kau tidak perlu gugup begitu, Haejin. Santai saja, santai saja,” ujar Park Yoojung di sela-sela tawanya. Ia mencoba melanjutkan berbicara sambil sesekali menyeka air mata yang keluar tanpa sengaja. “Aku hanya penasaran, bagaimana hubungan kalian yang awalnya pura-pura bisa—”

Park Yoojung tampak terkejut dan buru-buru menutup bibirnya. Matanya terbelalak, menunjukkan ekspresi yang tak kalah syoknya dengan Haejin. “Ah… aku keceplosan, ya?” ucapnya lirih, disertai dengan senyum kecut yang tidak menunjukkan adanya penyesalan sama sekali.

Di hadapan Park Yoojung, ada Haejin yang hampir saja pingsan terkena serangan jantung. Bibir gadis itu terbuka, hendak mengatakan sesuatu, tapi suaranya tidak keluar. Meskipun begitu, sepertinya Park Yoojung mengerti keabstrakan ekspresi Haejin yang menurutnya menuntut sebuah penjelasan.

“Kau pasti bingung bagaimana aku bisa tahu?” Wanita paruh baya itu tersenyum lebar, tampak puas dengan respon yang ia dapat. “Beginilah insting seorang ibu. Menakutkan, bukan?”

Dalam hati Haejin mengangguk, iya, memang menakutkan, tapi kenyataannya, ia hanya bisa mengedipkan mata beberapa kali karena dirinya masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Otaknya berpikir keras untuk menjawab berbagai pertanyaan yang tiba-tiba menyeruduk pikirannya. Bukankah itu berarti Park Yoojung sudah tahu sejak awal? Lalu kenapa ia masih membuat Haejin dan Kris bertunangan?

“Saat aku memergoki kalian berdua di sini pagi itu, aku sempat percaya kalau kalian benar-benar punya suatu hubungan,” ujar Park Yoojung tiba-tiba, seolah mendengar perdebatan yang terjadi di pikiran Haejin. Ia melanjutkan, “Tapi setelah dipikir-pikir, Kris bukanlah laki-laki yang mudah dekat dengan perempuan. Entah sudah berapa puluh kali aku membuatnya ikut kencan buta, tapi semuanya berakhir sia-sia. Aku sempat terkejut karena pada akhirnya Kris memperkenalkanmu sebagai seorang kekasih, jadi walaupun curiga, aku pura-pura tidak tahu dan mengamati seberapa jauh langkah yang kalian ambil.”

Park Yoojung menghela nafas dan melanjutkan, “Awalnya aku melihat ini sebagai sesuatu yang menguntungkan, karena itu berarti aku sudah tidak perlu menjodoh-jodohkan Kris lagi. Sambil mengamati dari jauh, aku senang melihat perubahan yang terjadi pada diri Kris. Syukurlah kalau akhirnya kalian benar-benar jatuh cinta, sepertinya aku memang tidak salah pilih,” lanjut Park Yoojung, sukses membuat pipi Haejin berubah kemerahan. “Mungkin kalian tidak sadar, tapi aku punya banyak spy dimana-mana.”

Mata Haejin terbelalak, sedangkan Park Yoojung memandang gadis itu sembari tersenyum tipis. “Haejin, sebenarnya aku juga sudah tahu tentang masa lalumu. Waktu itu eomma hanya berniat untuk mencari tahu, tapi… maaf jika eomma terlalu lancang, ya?”

Untuk kesekian kalinya di hari itu, batin Haejin berteriak tak percaya. Ia menatap Park Yoojung yang memandangnya tulus. Tanpa perlu diminta, Haejin tentu saja akan memaafkannya, tapi yang Haejin takutkan sekarang bukanlah itu…

“Setelah mengetahui semuanya, apa eomeoni masih merestui hubungan kami berdua?”

Pertanyaan itu sukses terlontar dari bibir Haejin, dan mau tidak mau kewaspadaannya bertambah dua kali lipat. Ia menunggu jawaban dari wanita di hadapannya, dan untung saja kecemasannya tidak berlarut-larut karena Park Yoojung baru saja melempar senyum padanya.

“Tentu saja, Haejin. Aku tidak melihat seseorang dari latar belakangnya. Justru hal yang bagus jika masa lalu itu membuatmu menjadi sosok yang lebih kuat sekarang,” ujar Park Yoojung dengan nada keibuannya, membuat Haejin bernafas lega. Tiba-tiba Park Yoojung tertawa kecil sembari melanjutkan, “Lagipula, aku yakin kau bisa memberikan cucu-cucu yang menggemaskan.”

N-ne?” Tanpa disadari Haejin memekik, terkejut, sekaligus tersipu mendengar pernyataan yang baru saja ia dengar. Gadis mana yang tidak malu jika topik yang dibahas sudah menyinggung tentang keturunan? Apalagi kalimat itu datang langsung dari calon ibu mertua, dan Haejin sendiri bingung apakah hal itu merupakan suatu pujian?

Baik Haejin dan Park Yoojung, mereka berdua tiba-tiba dikejutkan oleh suara pintu depan yang dibuka, dan menunjukkan sosok laki-laki yang sedari tadi diharapkan Haejin untuk segera datang sebagai penolongnya.

“Oh, Kris!” Park Yoojung berseru senang, membiarkan anak laki-lakinya menghampirinya dan mencium pipinya sekilas. “Kau tahu, kita sedang membicarakan sesuatu!”

Layaknya kilat, Haejin menoleh ke arah Park Yoojung dengan cepat, berpikir bahwa ibu Kris itu akan segera menceritakan kembali bagaimana dirinya bisa tahu rahasia mereka dan sebagainya.

Senyum jahil mengembang di bibir Park Yoojung. “Tadi Haejin bilang ia sudah tidak sabar ingin segera menikah dan memberikan eomma banyak cucu yang menggemaskan!” ujarnya tanpa dosa, tidak lupa memberi tekanan pada kata ‘banyak’ yang membuat dua insan di hadapannya berubah merah padam.

Kris memandang ibunya dan Haejin bergantian dengan pandangan tak percaya, begitu juga dengan Haejin yang merasa bahwa dirinya telah menjadi korban kejahilan Park Yoojung. Haejin sama sekali tidak ingat ia pernah mengatakan hal itu. Pernikahan, cucu, bukankah kalimat itu keluar dari bibir Park Yoojung sendiri?

“T-tunggu, aku tidak—”

“Ah, sepertinya eomma harus pergi sekarang!” Park Yoojung tiba-tiba berdiri, dengan sengaja membuat Haejin tidak bisa menyelesaikan kalimatnya. “Sampai bertemu besok, sayang-sayangku!” ujarnya lagi, melambaikan tangan dengan cepat seraya berjalan keluar apartemen Kris.

Haejin hanya bisa meronta dalam hati karena sang pelaku tiba-tiba melarikan diri dari tempat kejadian perkara secara tidak bertanggung jawab. Secepat kilat ia menoleh ke arah Kris, dan mendapati laki-laki itu menatapnya dengan ekspresi yang… tidak bisa dideskripsikan. Astaga, apa yang dipikirkan laki-laki itu…

“Jangan melihatku seperti itu, Kris!” ujar Haejin lantang, entah karena marah atau malu.

Kris hanya terdiam dan tidak bergeming. “Tadi itu… kau benar-benar mengatakannya?” tanya laki-laki itu dengan polosnya, membuat Haejin merasa ingin melemparnya dengan sesuatu.

“Menurutmu?” tanya Haejin retoris. Ia menghela nafas panjang sambil mengusap wajahnya karena frustasi. “Astaga, aku bahkan hampir lupa tadi ada hal yang lebih mengejutkan lagi terjadi.”

Alis Kris terangkat mendengarnya. “Apa? Apa yang terjadi?”

Masih berlindung di balik kedua telapak tangannya, Haejin menghela nafas. “Eomeoni, dia…”

Dengan perasaan campur aduk, Haejin mulai menceritakan kembali apa saja yang terjadi selama Park Yoojung ada di sana. Kris mendengarkan dengan seksama, sesekali terkejut, namun masih bisa mengontrol pikirannya untuk tetap tenang, tidak seperti Haejin yang serba melongo tadi.

“Oh, jadi begitu…” ujar Kris, menutup cerita Haejin yang panjang. Ia berpikir sebentar, lalu melanjutkan, “Tapi bukanlah hal ini justru melegakan? Berarti sudah tidak ada yang kita sembunyikan dari eomma, kan?”

Haejin menatap Kris sesaat, lalu menghela nafas. “Memang benar, sih. Tapi tetap saja…” ujarnya lirih.

“Yang lebih penting dari itu,” Kris melanjutkan bicaranya, sambil menarik kursi untuk duduk di hadapan Haejin. “Kau benar-benar sudah tidak apa-apa? Kau terlihat seolah tidak ada yang terjadi kemarin.”

Haejin menghela nafas. Ia senang karena Kris mengkhawatirkannya, tapi di sisi lain ia bosan juga mendengar Kris menanyakan hal yang sama terus-menerus. “Aku sudah tidak apa-apa, Kris. Sungguh. Aku harus bilang apa sampai kau bisa percaya?”

Kris hanya memiringkan kepalanya, tampak tidak begitu puas dengan jawaban Haejin. “Tapi entah kenapa, sedari tadi aku merasa ada yang janggal,” ujarnya, membuat Haejin menengok ke arahnya bingung. “Eomma itu, setiap dia menghubungiku, aku selalu merasa akan ada suatu hal besar yang terjadi.”

Alis Haejin mengerut, mencoba memikirkan perkataan Kris. Memang benar rasanya seperti deja vu, ketika dulu Park Yoojung tiba-tiba muncul dan keesokan harinya berita mereka akan bertunangan sudah menyebar kemana-mana. Dan lebih anehnya lagi, kata-kata Park Yoojung sebelum pulang tadi, ia bilang ‘sampai bertemu besok’. Apa itu artinya besok Park Yoojung sudah berencana untuk bertemu dengan mereka lagi?

Kris dan Haejin seketika berpandangan, menatap satu sama lain dengan mata terbelalak. Dalam hitungan sepersekian detik, mereka menyerukan kalimat yang sama.

“Eomma tidak berpikir untuk membuat kita benar-benar segera menikah, kan?”

***

Niga neomu gomapjana… oh baby… niga neomu yeppeujana…

Haejin menghela nafas, bahunya bersandar dengan pasrah di sudut ruangan tertutup itu. Hari ini, ia sudah bekerja lagi, dan memang benar dugaannya, hampir seluruh staf perusahaan memberondonginya dengan ucapan selamat. Ya, apalagi kalau bukan ucapan selamat atas pernikahan anda.

“Bagaimana, bagaimana? Lagu Baby Baby dari 4MEN pas ‘kan?”

Sekali lagi Haejin hanya mengangguk pasrah untuk menjawab pertanyaan Park Chanyeol yang sibuk berlatih menyanyi. Laki-laki itu, dengan antusiasnya bilang kalau ia akan menyanyikan lagu sebagai ucapan selamat pada pernikahan Kris dan Haejin nanti. Padahal asal tahu saja, suara Chanyeol itu… ah, sudahlah, bahkan Haejin sendiri belum bisa benar-benar menerima kenyataan kalau minggu depan ia akan menikah.

Setelah helaan nafas untuk kesekian kalinya, pandangan Haejin beralih ke arah laki-laki yang duduk di kursi kebesarannya, sedang sibuk menanggapi pertanyaan Chanyeol dengan senang hati. Entah Kris sedang pura-pura atau ia memang benar-benar ceria, yang jelas sama sekali tidak terlihat adanya kecemasan di raut wajah laki-laki itu,  berkebalikan dengan Haejin.

Yah.”

Satu kata itu sukses membuat Kris menoleh ke arahnya. “Wae?”

Haejin mendesis. “Maksudmu ‘wae’? Kau tidak mencoba menelepon eomeoni? Minta penjelasan atau bagaimana?” tanyanya retoris. Chanyeol baru saja keluar dari sana sehingga mereka bisa bicara dengan bebas.

“Oh, itu sudah. Eomma bilang semua akan baik-baik saja. Ia menyuruhku untuk tidak usah khawatir karena ia sudah menyiapkan segalanya. Gedung, resepsi, gaun, tamu undangan, semua sudah beres,” jelas Kris santai. Aneh, ia sama sekali tidak terlihat syok atau semacamnya.

Haejin menatap laki-laki itu untuk beberapa detik. “Kau sungguh yakin tidak apa-apa dengan hal ini?”

Kris mengendikkan bahunya sambil tersenyum. “Kenapa tidak? Bukankah kau sendiri yang bilang ingin segera menikah dan memberi ibuku banyak cucu?”

Yah!” Haejin refleks berteriak dan mengangkat satu tangannya tanda mengancam. Rasa-rasanya ia ingin mengangkat semua barang di sekitarnya dan melempari Kris dengan itu. “Sungguh, aku tidak mengatakan itu, Kris!” ujarnya membela diri.

Tapi sepertinya laki-laki itu kehilangan indera pendengarannya untuk sementara. Ia lagi-lagi mengendikkan bahu dan masih tersenyum-senyum, membuat Haejin lama-kelamaan bergidik ngeri.  Gadis itu akhirnya tahu barang apa yang sekenanya bisa ia lempar, dan alhasil, sebuah pulpen hitam mendarat dengan sukses di wajah Kris.

Yah!” Kini giliran Kris yang berteriak, dan kini giliran Haejin yang mengendikkan bahu. Gadis itu berjalan keluar ruangan tanpa mempedulikan Kris yang mengoceh, walaupun ia samar-samar mendengarkan salah satu seruan Kris yang mengingatkannya untuk tidak lupa akan janji makan malam bersama Park Yoojung nanti.  Sebagai calon menantu yang resmi… astaga, Haejin masih tidak percaya kalau hal ini sungguh akan terjadi.

***

“Aku tidak mau! Pokoknya harus gendong! Gendong, gendong!”

Kris menghela nafas pelan, pasrah dengan gadis di hadapannya dan bau alkohol yang menyeruak dari dalam mobilnya. Berkali-kali Kris mengajak Haejin untuk keluar dari mobil, tapi gadis itu terus  saja merengek dan tetap teguh dengan posisinya. Kalau tahu begini, ia tidak akan membiarkan Haejin minum tadi. Siapa yang tahu kalau gadis itu bisa mabuk hanya dengan tiga kali teguk?

Arasseo…” Kata itu keluar dari bibir Kris pelan, sebelum akhirnya ia mengangkat Haejin lewat punggungnya dengan satu tarikan nafas. Butuh kesabaran dan kekuatan tingkat tinggi hingga akhirnya ia berhasil membawa Haejin pulang ke apartemen gadis itu.

“Kris, air! Aku mau minum!”

Belum ada satu menit Haejin ditidurkan di sofa, gadis itu sudah bangun kembali dan melolong minta minum. Di sisi lain Kris hanya mampu menghela nafas, berusaha untuk sabar, sesekali membiarkan dirinya diperintah oleh Haejin.

“Apa lebih baik aku menumpahkan air ini ke wajahnya agar dia sadar…” keluh Kris sesaat setelah ia memberikan segelas air putih ke Haejin.

Gadis itu menggelengkan kepalanya dengan kuat. “Eyy! Kau jahat sekali, aku ‘kan tidak mabuk!” ujarnya lantang, walaupun kenyataannya sangat terlihat jelas sebaliknya. Ia bergelayut di lengan Kris dengan manja. “Yang mabuk itu kau. Kalau saja aku tidak menjemputmu malam itu, mungkin semua ini tidak akan terjadi,” ujar Haejin sambil tertawa-tawa tidak jelas.

Kris mengerutkan alisnya bingung. Malam itu, kapan ia mabuk? Maksudnya malam sebelum Haejin yang tiba-tiba tidur bersamanya dan entah bagaimana caranya… itu?

“Kau berubah seperti orang lain,” ujar Haejin lagi. “Waktu itu kau menangis dan merengek padaku minta ditemani. Kita bahkan berciuman di bawah sinar rembulan…”

Batin Kris tersentak mendengar celotehan Haejin. Yang benar saja, malam itu ia menangis? Merengek? Dan… mereka berciuman? Kenapa ia tidak ingat sama sekali? Tapi bukannya orang mabuk itu justru bicara jujur…

“Jadi, Kris,” Laki-laki itu terkejut untuk keduakalinya ketika Haejin tiba-tiba semakin mendekatkan tubuhnya pada Kris. “Tadi kau bilang ‘kan kalau aku ini mabuk…”

Jemari gadis itu perlahan membelai pipi Kris, terus ke bawah menuju lehernya. Hembusan nafas yang sudah tak lagi berjarak membuat degupan jantung Kris berubah tidak karuan. “Apa aku boleh…” Tangan Haejin menarik leher Kris semakin dekat, dan ketika kedua pasang bola mata itu bertemu, Haejin tersenyum. “Temani aku malam ini.”

Seolah terbius dengan mantra, Kris memejamkan matanya dan membiarkan gadis itu menangkup kedua pipinya semakin dekat. Baru ketika ia merasakan bibir mereka berciuman, Kris buru-buru membuka matanya dan menarik diri menjauhi Haejin. Seperti orang yang baru saja lari maraton, Kris terengah-engah sambil mengusap keringat yang membasahi pelipisnya.

“Astaga, hampir saja…” Kris berkali-kali menarik nafas dalam-dalam, berusaha menenangkan detak jantungnya yang masih berpacu cepat. Matanya menatap Haejin yang sekarang tertidur pulas di hadapannya, sama sekali tidak berontak dengan penolakan yang baru saja ia berikan. “Dasar, perempuan ini memang berbahaya,” ujarnya lagi, membayangkan apa dan sejauh mana yang bisa terjadi jika tadi ia tidak mampu menarik diri.

Selesai menenangkan dirinya, Kris menghela nafas panjang sekali lagi dan menggendong Haejin, membawanya menuju kamar tempat seharusnya gadis itu tidur. Ia menarik selimut, menutupi Haejin bahkan sampai setengah wajahnya. Takut suatu masalah akan terjadi lagi jika ia lama-lama berada di sana, Kris buru-buru melarikan diri, keluar dari kamar yang penuh dengan bisikan setan itu.

Baru saja ia hendak menghampiri pintu keluar, langkahnya terhenti oleh penampakan baju bisbol yang tergantung di kursi dapur. Entah apa yang membuat Kris tersentak, tapi laki-laki itu berjalan mendekatinya, menghampiri baju bisbol bernomor punggung sembilan yang tampak familiar.

“Rasanya aku pernah melihat ini, tapi dimana?” gumam Kris, matanya menerawang mencoba mengingat-ingat.

Tiba-tiba perkataan Chanyeol tempo hari terdengar di pikirannya, tentang bagaimana sepupunya itu ingin memberi tahu hal penting soal bisbol dan kejadian yang menimpanya beberapa tahun lalu.

(flashback)

Kau dimana? Aku sudah di lapangan, cepatlah datang!

Kris mengetik SMS dengan cepat, dan tampak kasar berhubung ia sedang kesal. Park Chanyeol, sepupunya yang sering datang menganggu ketentraman hidupnya itu bilang kalau kemarin, ia tidak sengaja ia membawa flashdisk milik Kris yang berisi file penting kuliahnya. Kris harus segera mengambil data itu karena sang profesor sudah menunggunya, dan jika ia tidak tepat waktu, bisa saja profesor itu mengurungkan niatnya untuk meluluskan Kris tahun ini.

Dan entah kenapa, dari semua tempat di Seoul, Chanyeol menyuruhnya untuk bertemu di lapangan ini. Katanya, ia akan bermain bisbol di sini untuk reuni bersama tim bisbol SMA-nya dulu. Memang sih, dari tempat Kris berdiri ia bisa melihat sekumpulan orang sedang bermain bisbol, komplit dengan seragamnya. Lalu apa peduli Kris? Ia paling tidak suka berpanas-panasan seperti ini, dan Chanyeol membuat suasana hatinya semakin burun karena ia tidak kunjung datang.

“Awas!”

Teriakan itu terdengar jelas di telinga Kris, namun ia tidak mengerti apakah teriakan itu ditujukan kepadanya. Baru ketika sekelompok pemain bisbol itu menatapnya dengan panik, ia baru sadar dan mendongak, hanya untuk terlambat menyadari bola kecil yang melaju kencang ke arahnya.

Duak!

“A-aduh…” Kris hanya mampu merintih kesakitan setelah pelipis kanannya sukses terhantam bola bisbol. Ia terhuyung, jatuh di rerumputan, matanya berkunang-kunang.

Gwenchanayo?”

Samar-samar Kris dapat melihat sesosok orang berseragam bisbol berlari menuju ke arahnya, sesaat setelah orang itu melempar baton ke sembarang tempat. Sial, orang bernomor sembilan itu pasti pelaku yang membuatnya jadi seperti ini.

Belum sampai orang itu lari setengah jalan, Kris buru-buru berdiri dan mengangkat tangannya. Ia berjalan cepat meninggalkan lapangan, meninggalkan sekumpulan orang yang melihatnya bingung dan si nomor sembilan yang merasa bersalah. Aiss, Kris memang paling tidak suka jika ia dipermalukan di depan umum, apalagi dikasihani.

Dengan kecepatan tinggi ia berjalan menuju mobilnya, langsung tancap gas tanpa mempedulikan rasa sakit di pelipisnya. Ia memang menyayangkan datanya yang masih terbawa oleh Chanyeol, tapi bagi laki-laki itu, masalahnya bukan lagi itu sekarang. Setelah ini ia akan menyuruh Chanyeol mencari si nomor sembilan, laki-laki itu yang sudah melayangkan bola ke arahnya yang menyebabkan ia meninggalkan datanya, dan juga profesornya.

(flashback ends)

“Jadi?”

Kris meletekkan sebelah tangan di dahinya, terkejut dengan ingatan yang kembali terputar di otaknya. Astaga, kalau benar baju bisbol ini milik Haejin, berarti si nomor sembilan yang ia sangka laki-laki itu…

Dengan cepat jemari Kris mengambil ponselnya, mengetik nama seseorang di daftar kontak. Ia menempelkan ponsel ke telinganya, berharap orang yang ada di seberang sana segera mengangkat teleponnya.

“Oh, Chanyeol ah? aku harus bertemu denganmu sekarang… apa? di mana? oke, aku segera ke sana.”

Dengan itu Kris berjalan ke luar apartemen Haejin—tak lupa menutup pintunya dengan erat—kemudian menghampiri mobilnya yang terparkir di luar. Ia segera menginjak gas, melajukan mobilnya menyusuri jalan raya malam Seoul, menuju tempat yang ditujukan Chanyeol tadi.

Kris harus segera bertemu dengan Chanyeol, menanyakan kebenarannya, karena jika memang apa yang dipikirkan Kris benar, hal ini akan jadi sesuatu yang hebat. Sesuatu yang mengejutkan bagi dirinya, tentang bagaimana ia dan calon istrinya, terhubung dalam suatu kenangan masa lalu.

(to be continued…)

***

Maafkan jika ada typo, author belum sempet ngecek ulang berhubung lagi buru-buru (/u_u\)
Semoga terhibur~

153 responses to “Two Hearts — Chapter 9: Is This Going To End?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s