Lucky – Part 5

Good or bad luck cover

Previous: Part 1| Part 2| Part 3| Part 4| Part 5|

Cast: Kim Jongin | Kang Ji-Kyung (Oc) | Park Chanyeol | Park Young-Geun| etc

Disclaimer: Fanfic ini terinspirasi dari sebuah anime yang judulnya aku lupa. ._.v cuman dibeberapa bagian ada scene yang sama, tapi kesananya itu hasil imajinasiku. ^^

Warning: Typo, cerita gaje, dan kekurangan yang lainnya. Maaf kalau ada yang tidak suka. DON’T LIKE DON’T READ!

***

Hujan lebat yang sejak kemarin mengguyur kota Seoul sudah berhenti pagi itu, matahari perlahan-lahan mulai muncul lewat awan-awan hitam sisa hujan kemarin. Walaupun begitu cuaca hari ini sepertinya akan cerah.

Seorang gadis terlihat menggeliat pelan dari tidurnya, matanya perlahan mulai terbuka dan seketika mengernyit begitu sinar matahari masuk melalui celah-celah jendela yang tirainya sudah dibuka.

Ia menghela napas pelan dan memijat pelipisnya –kepalanya masih terasa sedikit pusing.

“Kau sudah bangun, nona?”

Gadis itu menoleh begitu indera pendengerannya menangkap suara seorang pria yang perlahan memasuki kamarnya.

Kamarnya?

Gadis itu seketika menatap sekeliling ruangan dimana ia berada sekarang. Sejak kapan dinding kamarnya ditempeli salah satu bintang pesepak bola terkenal. Sejak kapan juga ada satu set drum disudut kamarnya, dan hey, seprei dan selimut yang ada di kamarnya bukan berwarna biru gelap tapi biru muda.

Jadi kesimpulannya, ini bukanlah kamarnya.

Seiring otaknya yang mencerna semua itu, seiring itu pula ingatannya kembali ke kejadian sore kemarin. Hujan, main basket dan pingsan. Ya, gadis itu ingat, ia pingsan dipelukan seseorang. Seorang laki-laki…

“Park Chanyeol?!” Pekiknya kaget bangkit terduduk dengan seketika. Menatap tajam pria yang sekarang tengah duduk disisi ranjangnya –ranjang Chanyeol- dan mengulurkan segelas susu kearahnya.

“Astaga, jangan berteriak seperti itu Park Younggeun. Aku tidak tuli!” Sahut Chanyeol mendengus dan kemudian mengendikan kepalanya kearah segelas susu yang sedang di pegangnya, memerintahkan secara tak tersirat supaya Younggeun segera mengambilnya.

Gadis yang disinyalir bernama Park Younggeun itu menurut, mengambil gelas yang berisi minuman berwarna putih itu dan kemudian meneguknya pelan.

“Kepalamu masih terasa pusing?” Chanyeol kembali mengangsurkan semangkuk bubur kehadapan gadis itu yang langsung diterima Younggeun dengan cepat.

“Lumayan.” Sahut gadis itu pendek, menyuapkan sesendok bubur kedalam mulutnya. Mengangguk sekali begitu lidahnya menyukai rasa bubur itu. Ia kembali menyendok bubur itu dan memasukannya kedalam mulutnya. Begitu seterusnya.

“Siapa yang membuat bubur ini?” Tanya Younggeun, setelah menghabiskan setengah dari isi bubur itu dan ia tidak berniat untuk berhenti sekarang. Bubur ini terlalu enak kalau ia menghentikan acara makannya, lagi pula perutnya benar-benar keroncongan karena dari kemarin ia belum makan apa-apa.

“Kenapa? Enak?”

“Hmm…” Angguk Younggeun masih belum mau mendongakan kepalanya, terlalu sibuk dengan bubur di tangannya.

“Bubur itu aku yang membuatnya.” Sahut Chanyeol membuat kepala Younggeun refleks terangkat dan menatapnya tidak percaya.

“Kau?” Younggeun menunjuk Chanyeol dengan sendok yang dipegangnya, sedikit mencibir lebih karena tidak percaya.

“Aku hidup sendiri disini, membuat bubur seperti itu salah satu hal kecil yang sering kulakukan.” Jelas Chanyeol memperlihatkan tatapan bangga akan dirinya sendiri. Younggeun mendengus, merasa sedikit tidak terima kalau Chanyeol bisa membuat bubur seenak ini sedangkan dirinya menggoreng telur untuknya saja kadang gosong.

“Kau tinggal sendiri disini? Kemana orang tuamu?” Tanya Younggeun memiringkan sedikit kepalanya, pantas saja suasana disini terasa sangat sepi.

“London.”

“London? Untuk apa mereka disana?” Younggeun terlihat masih belum puas dengan jawaban yang dilontarkan Chanyeol.

“Perusahaan keluargaku ada disana.” Sahut Chanyeol pendek, mengangkat kedua bahunya kemudian mengambil mangkuk yang sudah tidak tersisa lagi isinya. Sepertinya gadis itu benar-benar kelaparan.

“Kau tidak pernah bercerita padaku kalau kau hidup sendiri di Seoul.”

“Karena kau tidak pernah bertanya.” Chanyeol dengan sigap mengulurkan dua butir obat kearah gadis itu.

“Untukku?” Younggeun mengernyit bingung menatap dua butir obat berwarna putih yang sekarang berada di atas telapak tangannya.

Untuk apa obat itu? Pikirnya.

“Obat untukmu. Kau tidak ingat kalau semalam kau demam. Panas tubuhmu bahkan bisa membakar kulit tanganku.” Jelas Chanyeol, ada nada sindiran yang tidak kentara didalam suaranya.

Younggeun menyipitkan kedua matanya beberapa saat, menatap pemuda itu dengan pandangan meragukan.

Benarkah? Pantas saja semalam ia merasa ada yang menungguinya.

“Kau yang merawatku?”

“Secara teknis sih tidak, aku memanggil dokter. Aku hanya menjagamu.” Sahut Chanyeol meringis dan mengusap tengkuknya beberapa kali.

Younggeun masih menyipitkan matanya menatap pemuda itu, terasa ada yang ganjil disini. Dan ketika ia menatap sekeliling kamar yang menjadi tempat tidurnya semalam, sekali lagi. Ia tiba-tiba menyadari satu hal.

“Ya! Kenapa aku ada disini? Kenapa kau tidak membawaku pulang? Orang tuaku pasti cemas karena aku tidak pulang.” Cerocos Younggeun cepat dengan serentetan pertanyaan yang membuat Chanyeol hanya bisa meringis di tempat.

“Waktu itu aku panik, dan aku tidak tahu harus membawamu kemana. Jadi kuputuskan untuk membawamu ke apartementku saja.” Jelas Chanyeol mulai bangkit berdiri dengan gelas dan mangkuk kosong di tangannya, “tapi tenang saja, aku sudah mengabari ibumu.”

Younggeun menghela napas kemudian menganggukan kepalanya, mencoba untuk menerima penjelasan Chanyeol dan keadaannya sekarang. Ia sudah cukup beruntung ketika dirinya pingsan Chanyeol berada disitu lalu membawa dirinya ke apartement laki-laki itu kemudian menjaganya semalaman karena ia demam.

Pria itu sudah cukup baik untuk menampungnya disini.

“Sebaiknya kau istirahat lagi.” Chanyeol menepuk pelan kepala Younggeun setelah itu mulai melangkahkan kakinya untuk keluar dari ruangan itu sampai ucapan pelan gadis itu menghentikan lagkahnya.

“Kau tidak ingin tahu kenapa aku bisa ada di tempat it kemarin, hujan-hujanan?” Tanya Younggeun, berharap Chanyeol menjawab ‘ya’ dan ia akan mengatakan alasannya. Younggeun merasa Chanyeol adalah teman yang cukup ia percayai untuk menumpahkan keluh kesah tentang masalahnya.

Pria itu menatap Younggeun untuk beberapa saat, tapi kemudian menggelengkan kepalanya dan tersenyum ke arah gadis itu.

“Lain kali saja aku mendengar alasannya, sebaiknya kau istirahat sekarang. Aku akan mengantarmu pulang nanti.” Dan setelahnya pemuda itu benar-benar beranjak pergi meninggalkan Younggeun dengan tatapan yang ia sendiri tidak bisa mengartikannya.

Padahal ia sudah siap menceritakan alasannya ketika pemuda itu memintanya.

***

Jikyung meringis begitu melihat Kai sudah bersandar di depan gerbang sekolah, memasukan kedua tangannya kedalam saku celananya. Seperti tengah menunggu seseorang, atau dirinya? Setelah ia dan pemuda itu resmi menjadi sepasang kekasih, Jikyung masih belum bisa mempercayai semua ini. Sedikit membuatnya agak canggung untuk bertemu dengan pemuda itu.

Dengan ragu gadis itu turun dari mobil yang biasa mengantarkannya itu, menghela napas sebelumnya dan kemudian melangkahkan kakinya menghampiri Kai.

“Annyeong!” Sapa Jikyung canggung, Kai membuka kedua matanya dan melepaskan headset yang tersumbat di kedua telinganya.

“Annyeong!” Sahut pemuda itu memberikan senyum pertamanya untuk Jikyung pagi ini.

“Jalan bersama?” Tawar Kai, dengan agak ragu Jikyung menganggukan kepalanya.

“Boleh.” Sungguh situasi yang benar-benar membuat canggung untuknya.

Mereka berdua lalu mulai berjalan beriringan memasuki sekolah, tapi tiba-tiba saja Jikyung merasakan tangan Kai menggenggam tangannya. Terkejut, Jikyung kemudian menolehkan kepalanya menatap Kai, yang hanya dibalas pemuda itu dengan mengangkat kedua bahunya.

“Bukankah bergenggaman tangan adalah hal yang wajar dilakukan pasangan kekasih? Aku hanya melanjutkan kebiasaan.”

Jikyung tersenyum kemudian mengangguk malu-malu. Membiarkan tangan besar Kai menggenggam tangannya. Sebenarnya ia agak sedikit risih ketika perhatian seluruh murid tertuju pada mereka. Tapi Kai berkali-kali mengingatkan dirinya untuk menghiraukan murid-murid itu.

“Gomawo.”

“Tidak masalah, aku hanya mengantar sampai didepan kelasmu.” Kai mengangkat kedua bahunya santai, Jikyung tersenyum kemudian menganggukan kepalanya. Gesture yang sering ia lakukan akhir-akhir ini.

“Kalau begitu aku masuk ke kelas dulu.” Pamit Jikyung menunjuk kelas yang berada dibelakangnya.

“Belajar yang baik, Kang Jikyung.” Kai mengacak rambut Jikyung pelan dan setelah itu mulai melanjutkan langkahnya menuju ke kelasnya, tapi baru beberapa langkah, ia berhenti kemudian menoleh kebelakang membuat Jikyung yang akan masuk kekelasnya menghentikan gerakannya dan menatap Kai bingung.

“Wae?”

“Ani, aku hanya ingin memberitahumu bahwa mulai sekarang aku akan mengantarmu pulang. Arraseo?”

Jikyung menatap Kai beberapa saat dengan tatapan tidak yakin, walau bagaimana pun ia takut orang tuanya tidak akan suka ketika mereka melihat dirinya di antar oleh seorang namja. Tapi Jikyung tidak bisa menyangkal bahwa ia senang dengan permintaan pemuda itu, ia menyukai perhatian yang diberikan oleh kekasihnya –kalau boleh dibilang begitu.

Pada akhirnya keinginannya berhasil mengalahkan rasa takutnya. Gadis itu menganggukan kepalanya.

“Arraseo.”

Kai tersenyum lebar kemudian melambaikan tangannya pada Jikyung dan perlahan mulai membalikan tubuhnya lalu berjalan menjauh menuju ke kelasnya.

***

Di bangku penonton di lapangan basket sekolahnya itu Younggeun dan Chanyeol tidak saling berbicara hampir sepuluh menit sejak kedatangan mereka kesini. Perhatian mereka lebih terfokus memperhatikan pemain-pemain junior yang baru masuk, bertanding dengan para senior sebagai tes ujian masuk ke klub basket mereka.

Sebenarnya Younggeun tidak terlalu memperhatikan jalannya pertandingan, pikirannya dari tadi sibuk melanglang buana memikirkan berbagai macam hal. Terutama tentang sahabat sedari kecilnya itu.

Kai

Younggeun menggelengkan kepalanya, berhenti memikirkan tentangnya Park Younggeun, batin gadis itu. Ia lantas mengalihkan perhatiannya pada pemuda disebelahnya, melirik Chanyeol melalui ekor matanya.

Park Chanyeol sahabat terbaiknya selain Kim Jongin. Park Chanyeol selalu ada di saat ia membutuhkannya, disadari atau tidak olehnya.

Tapi…

…kenapa ia tidak bisa jatuh cinta pada pria sebaik dia?

Andai saja ia bisa menentukan kepada siapa ia akan jatuh cinta, sudah dapat dipastikan kalau Park Chanyeol akan berada diposisi teratas dalam daftarnya. Tapi kenapa ia harus merasakan perasaan itu pada teman sedari kecilnya, kenapa harus Kim Jongin. Terlebih lagi kenapa harus pada pria yang sudah menyukai gadis lain?

Younggeun berdesis pelan, mengusap buliran air disudut matanya kasar. Ia tidak sadar kalau sedari tadi Chanyeol sudah menatapnya dengan begitu intens.

“Kenapa kau menangis?” Suara bass dan dalam Chanyeol membuat Younggeun tersentak. Gadis itu lalu memalingkan sedikit wajahnya.

“Tidak, mataku hanya kemasukan sedikit debu.” Sangkal Younggeun, mengerjap-ngerjapkan matanya.

Chanyeol mendengus pelan, “Alasan yang payah.” Pemuda itu mengelus pelan puncak kepala Younggeun, setelah itu turun untuk menyentil kening gadis itu. Hanya terkekeh ketika mendapat delikan tajam dari sang gadis, Chanyeol mengambil tasnya lalu bangkit berdiri berniat untuk berjalan pergi meninggalkan lapangan ini. tapi baru selangkah ia berjalan, langkahnya harus terhenti karena tangan gadis itu.

“Aku menangis.”

Chanyeol menoleh menatap Younggeun yang sedang menundukan kepalanya, kemudian ia menghela napasnya pelan, “Aku tahu.”

“Aku menyukai Kai.”

“Aku tahu.”

“Tapi Kai menyukai orang lain.”

“Aku juga tahu itu.”

Sepuluh detik mereka terdiam, sampai Younggeun mulai membuka suaranya kembali sembari mendongakan kepalanya menatap Chanyeol, “Hatiku sakit.”

Chanyeol terdiam, mulutnya tidak langsung menyahut cepat seperti tadi. Ia pandangi wajah Younggeun lamat-lamat, “Kalau itu aku tidak tahu.”

Younggeun menggigiti bibir bawahnya, sekuat tenaga ia mencoba untuk menahan air matanya supaya tidak tumpah, setidaknya tidak dihadapan pria itu. Tapi sepertinya usahanya itu membuahkan hasil yang sia-sia, karena beberapa detik kemudian cairan bening itu dengan sukses jatuh membasahi pipinya.

Ia mencengkram jas sekolah yang Chanyeol kenakan erat, menahan isakannya supaya tidak keluar sekaligus terdengar oleh orang-orang yang ada di lapangan –dibawah mereka. Chanyeol lagi-lagi menatap Younggeun selama beberapa detik, setelah itu ia memutuskan untuk menarik tangan Younggeun keluar dari ruangan besar ini.

Karena terkejut, gadis itu hanya membiarkan dirinya ditarik oleh pemuda itu. Ia tidak tahu Chanyeol akan membawanya kemana.

***

Jikyung melepaskan helm yang melekat pada kepalanya kemudian menyerahkan benda itu pada Kai.

“Gomawo.”

Kai mengangguk, menerima helm dari tangan Jikyung dan menyimpannya di atas motornya.

“Kalau begitu aku masuk dulu.” Ucap Jikyung setelah beberapa detik mereka diam, karena tidak ada respon yang berarti dari Kai, Jikyung perlahan mulai membalikan tubuhnya tapi tangan Kai menahan dirinya.

Jikyung kembali membalikan badannya dan menatap Kai dengan tatapan bertanya, bukannya menjawab pemuda itu malah mempererat genggamannya dan tiba-tiba saja menarik tubuh Jikyung mendekat ke arahnya sampai ia bisa merasakan hidung mereka sedikit bertabrakan.

Kai menarik sebelah sudut bibirnya ke atas membentuk sebuah seringaian yang mempesona begitu melihat keterkejutan di raut wajah Jikyung.

Kau akan lebih terkejut lagi setelah ini, batin pemuda itu.

Kai sedikit memiringkan kepalanya dan dengan cepat menempelkan bibirnya di permukaan bibir Jikyung.

Ciuman pertama untuk mereka berdua.

Jikyung benar-benar terkejut dengan apa yang sedang Kai lakukan, Ia bisa melihat dengan jelas Kai menatapnya dengan intens disela ciumannya membuat jantung Jikyung berdetak tidak karuan sekarang. Karena tidak ingin ditatap dengan tatapan seperti itu terlalu lama oleh kekasihnya, Jikyung menutup kedua matanya cepat. Kai yang melihat ingin sekali tertawa geli, reaksi gadis itu sesuai dengan harapannya.

Perlahan ia melepaskan pangutan bibir mereka dan menatap gadis yang masih diam membeku di tempatnya itu dengan geli. Terkekeh pelan, Kai memeluk tubuh Jikyung dan setelahnya mengacak rambutnya pelan.

“Kalau begitu aku pulang.” Tidak ada respon dari Jikyung, Kai kembali tersenyum geli kemudian bergegas menaiki motor sportnya.

Menatap sekilas Jikyung, pemuda itu segera mesin motornya dan memacu motornya untuk meninggalkan tempat itu. Meskipun Kai sudah tidak terlihat lagi oleh jarak pandang matanya, Jikyung masih terdiam kaku di atas kakinya.

Ia memegang bibirnya, merasakan jejak hangat yang ditinggalkan oleh bibir pemuda itu.

Ia…berciuman?

Jikyung menggelengkan kepalanya dan mau tak mau ia menyunggingkan sebuah senyuman, dengan segera ia membuka gerbangnya dan masuk kedalam rumah mewah itu.

***

Younggeun menatap sekeliling begitu Chanyeol membawanya ke tempat ini. tempat ini tidak asing lagi untuknya, bahkan hampir setiap hari ia datang kesini. Lapangan basket umum.

Masih dengan rasa bingungnya, Younggeun melangkahkan kakinya ketengah lapangan dan memperhatikan Chanyeol yang sedang menaruh tas dan jas sekolahnya, menggulung seragam putihnya sampai siku kemudian mengambil bola basket yang sengaja dibawanya lalu melemparkannya pada gadis itu.

Younggeun mengerutkan kedua alisnya, memandang Chanyeol dengan ekspresi bingung.

“Aku mempunyai satu tantangan untukmu.” Ujar pemuda itu, menjelaskan kebingunan di raut wajah gadis itu.

“Tantangan?” Younggeun mengerutkan kedua alisnya semakin dalam, masih belum mengerti sepenuhnya.

Chanyeol mengangguk, “Tertarik?” ia memutar bola basket di ujung telunjuknya, memandang Younggeun meremehkan.

Merasa tertantang, Younggeun mengangguk dan mengambil bola basket itu dari tangan Chanyeol, “Baik, apa tantangannya?”

“Kau harus merebut bola itu dari tanganku.” Sahut Chanyeol santai, berjalan dan merebut dengan mudah bola di tangan Younggeun kembali padanya. Kali ini ia lemparkan pandangan mengejek pada gadis itu –hanya untuk membuat gadis itu tertantang.

“Cih, hanya itu? Itu sangat mudah Park Chanyeol.” Cibir Younggeun, berniat untuk merebut kembali bola basket itu dari Chanyeol. Tapi sayang, pemuda itu dengan mudah bisa menghindar.

Dengan sengaja Chanyeol mendekatkan dirinya dengan gadis itu, merendahkan tubuhnya, pemuda itu berbisik di telinga kanan Younggeun.

“Jangan terlalu percaya diri nona.” Setelah itu Chanyeol meniup telinga Younggeun dengan kepelanan yang disengaja, sehingga membuat gadis itu bergidik untuk sesaat. Sejak kapan Chanyeol bisa melakukan itu padanya.

“Jika aku bisa merebut bola darimu. Apa yang kuterima?” Younggeun benar-benar merasa tertantang sekarang, ia kembali mencoba untuk merebut bola yang sekarang berada dihadapannya –karena Chanyeol sengaja menghadapkannya- tapi lagi-lagi pemuda itu berhasil berkelit.

“Apapun yang kau inginkan.” Jawab Chanyeol mengangkat sebelah alisnya, Younggeun mendengus.

“Begitu yakinnya kau kalau aku tidak bisa merebut bola darimu.”

Seringaian dari pemuda itu semakin bertambah lebar, “Tentu saja.”

Berdecak keras, Younggeun menyimpan tas dan blazer sekolahnya lalu mengikat rambut panjangnya asal.

“Percaya diri sekali tuan.” Mendelik kesal, dengan cepat Younggeun merebut bola di tangan Chanyeol, kali ini berhasil, “tapi aku tidak akan kalah. Jika aku kalah, apa yang kau inginkan?”

Chanyeol melangkahkan kakinya mendekat ke arah gadis itu dan menatapnya serius, “Jadilah pacarku.”

~To be Continue~

.

.

.

 A/N: Sebenarnya part 5 ini udah lama selesai, tapi karena aku UTS ya jadi di cancel dulu. u,u so, enjoy reading!

Story

89 responses to “Lucky – Part 5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s