THE PORTAL [ Part 8 : The Hidden Truths ]

The Portal new

Title :

The Portal

 

Author : Citra Pertiwi Putri ( @CitraTiwie )

 

Main Cast :

– A Pink’s Jung Eunji / Jung Hyerim as The Princess of Junghwa Kingdom

– INFINITE’s Lee Howon / Hoya as The Bodyguard

– A Pink’s Son Naeun / Son Yeoshin as the Good Witch

– INFINITE’s Kim Myungsoo / L as the Bad Witch

 

Genre : Fantasy, Romance, Friendship, and little bit Comedy (soon)

 

Other Casts :

– CNBlue’s Jung Yonghwa as The King / Eunji’s Father

– SNSD’s Seo Joohyun as The Queen / Eunji’s Mother

– BAP’s Jung Daehyun as The First Prince / Eunji’s brother

– F(x)’s Jung Soojung / Krystal as The Second Princess / Eunji’s sister

– BtoB’s Jung Ilhoon as The Second Prince / Eunji’s Brother

– SNSD’s Lee Soonkyu / Sunny as The Palace’s Witch

– EXO’s Kim Jongin / Kai as Myungsoo’s brother

– EXO’s Do Kyungsoo / D.O as an ordinary boy

– EXO’s Byun Baekhyun as the Prince in another Kingdom

– A Pink’s Yoon Bomi as Eunji’s foster sister

– B2ST’s Yoon Doojoon & 4Minute’s Heo Gayoon as Eunji’s foster parents

– INFINITE’s Nam Woohyun as Naeun’s foster brother

– INFINITE’s Lee Sungyeol as Myungsoo’s best friend

– B2ST’s Son Dongwoon as Naeun’s Brother

– B.E.G’s Son Gain as Naeun’s Sister

– SNSD’s Kim Hyoyeon as the most mysterious witch in Junghwa

– A Pink’s Kim Namjoo as Hyoyeon’s foster daughter

 

Rating : PG15 – NC17

Type : Chaptered

 

Before Story :

Perlahan tapi pasti, kehidupan di dunia modern sepertinya mulai merenggangkan kedekatan Eunji dan Naeun sebagai sepasang sahabat.

Tentu, semua berawal dari kenekatan Woohyun untuk menjadikan Naeun sebagai adik angkatnya dan mendapat tentangan keras dari Eunji setelah ia tahu latar belakang adopsi tersebut adalah taruhan. Namun meski demikian, Naeun tetap menjadi anggota baru keluarga Nam dan Eunji justru dalam keadaan yang bahaya karena Woohyun telah memasukkan namanya kedalam ‘daftar hitam’ karena ia telah mempermalukan Woohyun didepan warga sekolah.

Pucuk dicinta ulam pun tiba, Eunji yang sejujurnya merasa iri karena Naeun telah diadopsi ternyata diminta oleh Bomi untuk menjadi anggota keluarga Yoon, menggantikan adik laki-laki Bomi yang telah tiada. Dengan demikian, Eunji akan hidup bersama Bomi beserta kedua orangtuanya, Nyonya Gayoon yang berprofesi sebagai bidan dan Tuan Doojoon, yang berprofesi sebagai pelatih klub sepakbola dimana Minah, teman baru Hoya menjadi salah satu pemain disana.

Tak hanya Minah, Hoya pun akan segera menjadi anak asuh Tuan Doojoon. Apakah dengan demikian cepat atau lambat ia dan Eunji akan segera bertemu?

 

Naeun, meski kini ia akan menjalani kehidupannya sebagai gadis konglomerat, batinnya masih merasa tersiksa setelah dipergoki oleh Sungyeol saat ia membuat ramuan portal bahkan dibongkar identitasnya. Tak hanya itu, ia pun terpaksa berbicara jujur tentang perasaannya pada Kai karena tak dapat menerima kenyataan bahwa Kai mencintai Eunji.

L, penyihir terjahat di negeri Junghwa yang  masih dalam tahap proses untuk menduplikasi Myungsoo yang sesungguhnya ini peka terhadap semua permasalahan Naeun. Ia mulai menyadari permasalahan yang dihadapinya cukup serius juga misterius. Tak hanya harus mencari tahu siapa Sungyeol sebenarnya bahkan harus lebih waspada karena Sungyeol telah membongkar identitas Naeun, ia pun harus menahan murka saat melihat Naeun kehilangan akal sehatnya dengan memeluk Kai.

Dan ia mengambil jalan yang keji untuk mengatasi sakit hatinya. Dengan ramuan portal yang ia curi dari Naeun, ia membuang Kai ke negeri Junghwa.

Apa yang akan terjadi selanjutnya?

 

Selengkapnya :

Part 1 : I Hate My Life

Part 2 : Big Decision

Part 3A : I Will Find You | 3B : You Will Find Me

Part 4 : Another Me

Part 5 : Over Protective?

Part 6 : Faithfulness

Part 7 : Something New

 

NB : Halo readers! Merindukan author? Eh, ff author maksudnya.. hehe 😀

Mohon maaf karena lagi-lagi telat update. Tapi seperti biasa author selalu membawa long part ^^, terlebih setelah ini author akan hiatus untuk sementara waktu karena akan melaksanakan UTS.

So, enjoy this part. Part ini panjang sekali (48 halaman Ms.Word), anggap saja kalian sedang membaca novel, hehehe. Semoga terhibur !

 

***

Part 8 : The Hidden Truths

 

Author POV

 

“ Apa kau sudah bisa merasakan betapa banyaknya perasaan itu?”

“…”

“…jika tidak, aku bisa lakukan lebih. Lebih dari ini..”

 

Glek..

Naeun menelan salivanya setengah mati, masih tak sanggup bicara. Tatapan Myungsoo benar-benar mengingatkannya pada L. Ia ingin menangis jika ingat dengan mimpi yang pernah L kirimkan padanya dahulu.

Tetapi cara Myungsoo mengelus wajahnya, bernafas lembut di lehernya, membuka kancing kemejanya satu demi satu, dan ciumannya yang memabukkan membuat Naeun urung memberikan penolakan. Semua terasa sayang jika dilewatkan.

Bercinta dengan senior sebaik, sepintar, dan setampan Myungsoo. Bukankah itu merupakan mimpi di siang bolong? Jika semua siswi tahu, Naeun tak tahu apakah ia masih bisa hidup atau tidak. Mereka pasti akan murka padanya, menuduhnya menggoda Myungsoo, berpura-pura buta kendati tahu Myungsoo yang memulai semuanya.

 

“ Sunbae, aku tidak tahu apakah aku bisa….”

“ Anggap saja kita sudah menikah, dan ini malam pertama kita.”

 

Sial, mengapa Myungsoo harus mengatakan hal semacam ini? Membawa-bawa istilah pernikahan membuat otak Naeun seketika dipenuhi bayangan penyihir biadab bernama L itu sekarang. Haruskah Naeun bersedia menyerahkan harga dirinya pada Myungsoo sebagai pengganti malam pertamanya dengan L?

Naeun memejamkan matanya, mencoba berpikir jernih, mencoba mencari alasan yang benar untuk menolak. Kedengarannya bodoh, gadis mana yang mau menolak diajak berhubungan dengan lelaki setampan Myungsoo? Naeun begitu berat hati, namun ia tak pernah membayangkan jika harus menyerahkan harga dirinya pada manusia biasa.

Meski kelihatannya saat ini Myungsoo lebih seperti penyihir. Tatapan mata elangnya berhasil menyihir Naeun, menghentikan kerja otak gadis itu dan membiarkan nafsu menggantikannya.

 

“ Kiss me more.. treat me well and touch me wherever you want…~”

 

Tatapan sihir Myungsoo berhasil. Kata-kata murahan itu akhirnya keluar dari bibir Naeun, entah karena depresi sebab cintanya pada Kai bertepuk sebelah tangan atau memang Naeun menginginkan sentuhan Myungsoo. Persetan dengan itu semua, Myungsoo punya kesempatan besar untuk melampiaskan obsesinya pada seorang Son Yeoshin malam ini.

“ Ah..”

Naeun mendesah, mendadak menggigil ketika Myungsoo mulai menuruti perkataan kotornya.

Myungsoo mengelus rambut indah Naeun, kembali menyekatkan bibirnya pada bibir gadis itu dengan lebih lembut dan mengutamakan perasaannya. Dengan jantung yang semakin berdebar kencang Naeun membuka mulutnya, mencoba merespon ciuman Myungsoo untuk merasakan apakah benar lelaki itu mencintainya.

Perlahan, jemari Myungsoo mulai menjamah lembut seluruh permukaan bagian-bagian tubuh Naeun yang belum sempat disentuhnya setelah mereka menikah. Mengelus perut halusnya, meraba paha mulusnya, memijat kedua payudaranya yang masih tertutup rapat oleh bra dan mencari nipplenya setelah itu memilinnya dengan lembut dan perlahan-lahan. Myungsoo melakukannya dengan amat hati-hati mengingat dirinya sedang berperan sebagai lelaki baik-baik, yang hanya akan melakukan tindakan seperti ini dengan lembut kepada orang yang ia cintai.

Naeun tersenyum ditengah ciuman mereka, merasa kagum dengan cara Myungsoo memperlakukannya. Merasa tak punya alasan untuk menolak, ia membiarkan Myungsoo melakukan apapun yang ia inginkan.

“ Sunbae.. kita singkirkan dulu semuanya.” Naeun melepas ciumannya sejenak dan sedikit mengkode Myungsoo sembari mengerlingkan mata indahnya.

Baiklah. Seorang Son Yeoshin sudah gila dan ia tahu itu. ia putus asa, ia tak bisa menolak L -atau Myungsoo, seperti yang ia tahu-

Lelaki itu mengangguk, mengerti kegilaan Naeun. Dengan bibir yang kembali berpaut, mereka mulai menanggalkan pakaian satu sama lain. Namun…

 

“ MYUNGSOO?! NAEUN!!?? What the.. S..sedang apa kalian!!??”

 

“ DAMN!”

Myungsoo mengumpat, pupus sudah harapannya melihat tubuh naked istrinya. Naeun mendorongnya, membuatnya berguling dari atas tubuh gadis itu dan akhirnya melihat apa yang menjadi penyebab hal tersebut terjadi.

Park Chorong.

Gadis itu berdiri di ambang pintu, menatap tajam Myungsoo dan Naeun yang masih berada di atas tempat tidur tanpa berkedip. Kedua tangannya mengepal kuat.

“ Brengsek. Aku lupa menutup pintunya!” Myungsoo kembali mengumpat dalam hati. Bodoh sekali ia dan Naeun bercinta dalam keadaan pintu kamar yang masih terbuka lebar. Tetapi yang lebih bodoh lagi, mengapa harus Chorong yang memergoki mereka?

Myungsoo segera turun dari tempat tidur, mengancing kemeja putihnya asal-asalan dan menghampiri Chorong yang masih mematung menahan marah.

“ Chorongie, ini tidak seperti….”

“ Son Naeun. Mengapa kau ada disini?” Chorong memotong perkataan Myungsoo dan melempar tatapan tajam kearah Naeun yang masih sibuk mengaitkan bra dan mengancing kemejanya dengan terburu-buru. Naeun semakin panik, ia segera turun dan ikut menghampiri Chorong.

“ Sunbae, aku.. aku bisa jelaskan.. ini..ini memang tidak seperti…”

“ Pulang! Woohyun mencarimu. Beruntung aku yang menemukan kalian. Kalau Woohyun yang ada disini sekarang aku tak tahu apa yang akan terjadi.” Chorong kembali memotong dan menggenggam pergelangan Naeun kuat-kuat hingga aliran darah gadis itu nyaris terhenti. Jelas, Chorong nampak amat sangat marah.

Naeun pasrah, ia menatap Myungsoo. Lelaki itu mengangguk saja seraya tersenyum tenang.

Chorong menggeser tubuh Naeun dari hadapan Myungsoo dan menggantikan posisi gadis itu, menatap Myungsoo dengan airmata yang mulai berlinang.

“ Pertama, aku menemukan Sungyeol di UKS dalam keadaan tak sadarkan diri. Kedua, aku melihat Naeun di asrama putra. Dan yang ketiga, ternyata ia sedang ada bersamamu dan kalian……” Chorong memutus perkataannya, merasa tak sanggup melanjutkan. Myungsoo memutar otaknya, mencari alasan untuk mengklarifikasi.

“ Ini..ini tidak seperti..”

“ Seperti inikah Kim Myungsoo yang kukenal sekarang!? Yang mendadak berubah karena seorang siswi kelas 10?! Seperti inikah dirimu kalau sedang jatuh cinta, Kim Myungsoo??”

Sudah diduga, Naeun pasti yang disalahkan. Gadis itu menunduk pasrah dan tentu saja merasa bersalah.

“ Kita bisa bicarakan nanti. Pulanglah. Ini sudah malam.” Myungsoo mengalihkan pembicaraan. Chorong terpaksa menurut karena tahu Myungsoo akan lebih banyak berbohong padanya jika ia menuntut penjelasan sekarang juga.

Chorong mendekat, menatap Myungsoo lebih dalam dan membiarkan sahabatnya itu melihat airmatanya yang mengalir.

“ Sekarang aku tahu. Kau belum membacanya, atau kau sudah membacanya tapi kau tidak mengerti. Atau mungkin, kau melupakannya.”

“ M..maksudmu apa?” Myungsoo tak mengerti arah pembicaraan Chorong.

“ Itu berarti kau melupakannya.” Chorong putus asa, ia berbalik dan menarik tangan Naeun untuk segera keluar dari kamar Myungsoo. Myungsoo masih tak mengerti apa maksud gadis itu.

“ Na..Naeun..” Myungsoo memanggil Naeun sebelum gadis itu benar-benar ditarik keluar oleh Chorong.

“ Ne?”Naeun berbalik, membuat Chorong menghentikan langkahnya dan ikut menunggu apa yang ingin Myungsoo lakukan pada gadis itu.

“ Sampai bertemu nanti.” Myungsoo menghampiri Naeun dan mengusap puncak kepala gadis itu dengan lembut, Naeun mengangguk dengan canggung dan wajahnya bersemu merah ketika Myungsoo mengecup keningnya singkat.

“…good night, Son Naeun. I love you.”

 

Rahang Chorong mengeras, merasa muak. Ia semakin menguatkan genggamannya di pergelangan tangan Naeun. Gadis itu hendak menjerit namun tak mau membuat masalah, ia takut Myungsoo memarahi Chorong. Maka itu ia pasrah, keluar dari kamar Myungsoo dengan tarikan kasar Chorong. Ia tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, ia tak tahu apakah Chorong akan memberitahu Woohyun tentang ini semua.

Myungsoo masih mematung, menatap Naeun yang semakin menjauh dari kamarnya. Entah ini sudah yang keberapa kalinya ia gagal menyentuh istrinya sendiri. Tetapi setidaknya ia sudah menyingkirkan Kai, jadi ia tak perlu takut kehilangan kesempatan.

Justru yang menjadi pikiran Myungsoo saat ini adalah Chorong. Mengapa gadis itu begitu marah saat melihatnya dengan Naeun? Apa maksud perkataan gadis itu pada Myungsoo?

Apa mungkin gadis itu pernah memberikan sesuatu untuk dibaca kepada Myungsoo yang asli?

 

Penyihir L akan mencari tahu semua itu, secepatnya.

*

“ Sunbae.. percayalah, aku.. aku dan Myungsoo sunbae tidak melakukan apapun.. kami tidak..”

“ Bukan tidak, tapi belum. Iya kan?!”

“ T..tapi.. tapi kami..”

CKIT!!!

“ Arrgh!! Shit!”

Chorong menginjak rem secara mendadak karena hampir saja menabrak mobil yang melintas di depan mereka.

Naeun terdiam. Tahu Chorong sedang tak sudi berbicara dengannya, gadis itu memilih untuk mengencangkan sabuk pengamannya karena Chorong kembali membawa mobil dengan ugal-ugalan. Ribuan mantra ia ucapkan dalam hati agar mereka bisa selamat di jalan. Chorong benar-benar kehilangan kendali, puluhan rambu lalu lintas ia langgar dan membuat kacau jalanan.

Perlahan, buliran-buliran bening mulai keluar dari sudut mata indah Naeun. Gadis itu merasa sedih dan tersentak karena sempat dibentak-bentak oleh Chorong. Rasa sesal pun tertinggal dalam dirinya, tak seharusnya ia terhanyut dalam sentuhan Myungsoo saat itu, meski tentu saja rasanya sangat sulit menolak lelaki setampan Myungsoo, yang terlebih menyerupai L.

“ Heh, kenapa menangis!? Myungsoo menyakitimu? Aku tidak yakin, ia pasti memperlakukanmu dengan lembut.”ucap Chorong sengaja, meski ucapannya menyakiti hatinya sendiri.

Naeun buru-buru menggeleng dan menyeka airmatanya meski setelahnya buliran bening itu keluar dengan lebih deras. Ia menunduk.

“…kurang beruntung apa lagi kau, Son Naeun? Diadopsi oleh keluarga kaya dan menikmati harta melimpah tanpa harus banyak berkorban, lalu merebut hati seorang lelaki yang nyaris sempurna hanya dengan perkenalan singkat bahkan hampir berhubungan dengannya. Apa daya tarikmu, Son Naeun?”

Naeun masih diam, membiarkan Chorong meluapkan emosinya.

“…Nam Woohyun dan Kim Myungsoo bukan lelaki sembarangan, mereka dambaan semua siswi Junghwa High School. Butuh banyak pengorbanan untuk mendapatkan mereka. Tapi kau mendapatkan perhatian dan kasih sayang mereka dengan sangat mudah. Bagaimana aku tidak marah? Semua ini tidak adil! Aku mendapatkan mereka dengan banyak pengorbanan sedangkan kau tidak. Apalagi mendapatkan Woohyun..”

Tak lama setelah itu Chorong menghentikan mobilnya dan menangis, membenamkan wajah cantiknya diantara kedua tangannya yang masih memegang setir. Airmatanya bercucuran dan tangisannya begitu memilukan, membuat Naeun semakin dan semakin merasa bersalah.

“ Maafkan aku, Chorong sunbae.. maafkan aku..”

“ Aku tahu ini bukan salahmu. Tapi mau tak mau aku harus membencimu, Naeun. Kau mendapatkan apa yang kuinginkan dengan mudah. Ini semua tidak adil..”

Naeun tak tahu lagi apa yang harus ia perbuat. Ia sendiri masih tak mengerti sebesar apakah pengorbanan Chorong untuk menjadi sahabat Myungsoo dan kekasih Woohyun. Mengapa ia begitu iri pada Naeun yang menjadi adik Woohyun dan kekasih Myungsoo dengan mudah?

*

“ Hah, sialan. Kim Myungsoo, mengapa kau suka sekali menaruh hartamu di tempat-tempat tersembunyi. Aku malas rebutan dengan adikmu yang dekil itu, untung saja sekarang ia sudah kusingkirkan!”

Sang penyihir tampan nampak sedang menggerutu memaki-maki sosok asli Kim Myungsoo sembari membuka dompet yang ia temukan di bawah lemari kamar asramanya. Untuk kesekian kalinya, ia menemukan benda peninggalan Myungsoo, berupa dompet berukuran besar berwarna putih yang berada di tempat yang tidak diduga. Untung saja Kai tidak menemukannya duluan.

“ Wow, uangnya banyak juga. Kalau begini aku tidak perlu repot-repot melanjutkan pekerjaan manusia yang sudah mati ini..” L menyunggingkan senyum liciknya, mengambil berlembar-lembar uang yang ada didalam dompet tersebut lalu memindahkan uang itu ke dompetnya.

“…dan.. apa ini?”

L mengalihkan perhatiannya menuju beberapa lembar foto yang juga berada di dalam dompet itu. Foto-foto yang hampir semuanya menunjukkan kedekatan tiga sahabat yang tak lain dan tak bukan adalah Myungsoo, Chorong, dan Sungyeol. Mereka bertiga nampak begitu dekat, foto-foto tersebut diambil di berbagai tempat dan Myungsoo nampak selalu terlihat sebagai pemegang kamera, tentu karena ia menyukai fotografi semasa hidupnya.

L membalik foto tersebut, membaca tulisan tangan mendiang Myungsoo disana.

Kim Myungsoo. Park Chorong. Lee Sungyeol. Our friendship is one of the precious gift from God. Please don’t forget me even if I die.

L sedikit tersenyum, membayangkan jika ia berada ditengah tiga sahabat itu. Mungkin rasanya menyenangkan, memiliki orang yang sayang padanya hingga tak melupakannya meski ia telah tiada.

Lelaki itu menarik selipat kertas  yang terselip ditengah foto-foto tersebut. Sebuah surat. Surat lama.

 

Seoul, 10th of January 2013…

Teruntuk sahabat tampanku yang akan pergi hiking, Kim Myungsoo…

Sebelumnya maaf karena telah membuatmu bingung mengapa aku memberikanmu surat sebelum kau berangkat ke gunung. Apa yang aku tulis diatas kertas surat ini tak hanya berasal dari otakku, tetapi juga dari hatiku.

Aku juga minta maaf jika tulisan tanganku ini tidak sebagus tulisan tanganmu. Aku menyempatkan diri menulis surat ini  dalam keadaan sakit dan lemas karena aku baru saja menggugurkan kandunganku.

Ya. Aku hamil, Myungsoo.

Tolong untuk tetap membaca surat ini. Jangan terpancing emosi, sahabatku. Aku tahu kau marah, tetapi aku bisa meyakinkanmu bahwa aku baik-baik saja. Kuharap kau tak membenci Woohyun setelah mengetahui ini semua, kau harus tetap menjaga hubungan yang baik dengannya sebagai President dan Vice President School. Maaf karena aku baru berani mengungkapkan hubunganku dengan Woohyun yang sudah sejauh ini padamu sekarang. Aku memberitahumu tentang ini lebih dulu daripada Sungyeol karena aku yakin kau lebih bijak dalam bereaksi. Jika aku memberitahu Sungyeol lebih dulu tentang ini semua, aku takut Sungyeol mencelakai Woohyun dengan berbagai ritual anehnya.

Myungsoo, kau satu-satunya alasan mengapa aku belum menyatakan bahwa hidupku telah hancur karena kehormatanku yang telah direnggut oleh Woohyun. Saat aku berpikir untuk mengakhiri hidupku ketika aku mengetahui bahwa aku sedang mengandung, aku mengingatmu. Dan aku urungkan niat itu lalu memilih untuk membunuh janin tak berdosa demi bertahan hidup untukmu.

Ya, untukmu, Kim Myungsoo..

 

It’s me, a strange girl ..

I never want this thing

But my love towards women increasingly large even it’s wrongful

Like a flower that loves another flowers, I can’t open my heart for beetles

 

Until one day, a strange phenomenon has come into my life, into my heart without control

I tried to say hello to the strains of grass that looked down, seemed to provide an answer about this strange feelings

I admit, I think I already feel it for a long time

Trying to defeat the logic that echoed in my brain

But you’re like a candle lights who always touched me gently when I fell on the repulsive world

When everybody called me a lesbian, you never felt disgust about me..

You just took me into a real delusion, and make you painted beautifully in my heart

Do you know what I mean?

I’m falling in love with you, and please forgive my feelings

I’ve felt guilty for falling in love with my best friend

But you mean that much to me

Love is so unpredictabble, do you ever think that I will fall for you?

 

Sudah hampir tiga tahun aku, kau, dan Sungyeol menjalin persahabatan. Sudah hampir tiga tahun pula kau menerima aku dan Sungyeol apa adanya, menjadi sahabat terbaik tanpa memandang status hina yang aku dan Sungyeol miliki.

Dan kuharap, untuk kali ini kau juga bisa menerimaku. Menerima kesembuhan bersyaratku, dimana aku hanya ingin bersamamu jika aku tak bisa bersama perempuan-perempuan yang aku sukai. Maafkan aku Myungsoo, perasaan ini muncul dan mengalir apa adanya. Aku tak pernah bisa mencintai Woohyun, ia lelaki terjahat yang pernah kutemui seumur hidupku. Jika bukan karena hartanya yang selama ini menghidupiku, aku takkan pernah sudi menyerahkan harga diriku padanya apalagi sampai harus mengandung anak dari benihnya.

Aku begitu hina. Hidupku begitu menyedihkan. Namun kau satu-satunya kunci kebahagiaanku, kuingin kau bisa merasakan betapa besarnya harapanku untuk bersamamu lebih dari sekedar sahabat, meski sebenarnya lelaki sesempurna dirimu tak pantas dengan perempuan hina seperti aku.

Dan kuberharap setelah membaca surat ini, kau tak mengubah pandanganmu tentangku. Tetaplah melihatku sebagai Park Chorong yang ceria dan selalu tersenyum kearahmu.

Selamat bersenang-senang di gunung, sahabatku. Aku mencintaimu, sekarang dan selamanya.

 

Park Chorong.

 

“ Yah. Myungsoo pasti tak sempat membalasnya karena kecelakaan di gunung.”

L melipat kembali suratnya, menyembunyikan rasa syok yang bergejolak dalam dadanya, tak menyangka nasib Chorong sedemikian naasnya. Namun apa yang bisa ia perbuat? Untuk kali ini tentu ia tak bisa memosisikan dirinya sebagai Myungsoo asli yang mungkin jika masih hidup akan bersedia membahagiakan Chorong. Bagaimanapun juga ia adalah L, penyihir yang hanya menduplikasi sosok Myungsoo demi mengejar istrinya, Naeun, satu-satunya gadis yang ia cintai.

Tangan L kembali membuka satu per satu isi dompet Myungsoo, berharap menemukan kertas surat lagi. Namun sebelum ia menyelesaikan kegiatannya menjarah dompet Myungsoo, sebuah tangan merampas dompet tersebut dari tangannya dengan cukup kasar.

Emosi L mendadak tersulut terlebih ketika tahu sang perampas adalah Sungyeol, cenayang itu cepat sekali sadar dari pingsannya.

 

“ Jangan sentuh benda ini. Ini privasi.”ucap Sungyeol dingin sembari mengamankan dompet itu di saku celananya.

“ Hei, benda itu milikku! Itu dompetku!”jawab L cepat, meski ia yakin Sungyeol sudah tak percaya lagi bahwa ia adalah Myungsoo.

“ Ini dompet Kim Myungsoo. Dan kau, aku tidak kenal denganmu.”

L tertawa sinis, mencoba untuk sedikit sabar. Ia pun berdiri dan menatap Sungyeol tajam.

“ Kau tidak kenal? Aku sahabatmu, Kim Myungsoo.”L masih mencoba meyakinkan Sungyeol dengan unsur membuat jengkel cenayang itu, sekaligus memancingnya seberani apakah ia mengungkapkan identitas asli L.

“ Oh ya? setahuku, Kim Myungsoo yang kukenal tak mempunyai tato di leher dan dadanya.”

L tersenyum sinis, ‘terkesima’ dengan Sungyeol yang mulai mengungkapkan kebenaran. Lelaki itupun berbalik dan menunggu Sungyeol berbicara lagi.

“ ….dan.. Kim Myungsoo yang kukenal adalah Myungsoo yang tak pernah berani melukai sahabatnya sendiri sebesar apapun kesalahan sahabatnya itu.”jawab Sungyeol sembari menunjuk lebam di wajahnya akibat pukulan L beberapa saat yang lalu ketika ia memergoki Naeun.

“ Tetapi sayang, aku bukan Kim Myungsoo yang kau maksud. Kau tahu itu kan?” L berbalik lagi, kini menatap Sungyeol dengan tatapan sadis khas penyihirnya namun masih tertawa sinis. Seakan meremehkan Sungyeol yang jelas-jelas sudah mengetahui penyamarannya.

“ Siapa kau sebenarnya?”tanya Sungyeol dingin, mencoba memberanikan diri menatap wajah sadis L.

“ Kukira dengan melihat tanda kehebatan ini kau sudah tahu siapa diriku.” L menunjuk tato di leher dan dada bidangnya, “…sebenarnya aku sudah menghilangkan tanda ini, tanda ini hanya akan muncul saat bulan purnama. Tapi mengapa kau bisa melihatnya? Kurasa kau cenayang ulung, Lee Sungyeol. Dan seorang cenayang dengan ilmu tinggi seharusnya tahu apa arti dari tanda ini..”

“ Kau.. seorang.. penyihir?”

L kembali tertawa sinis, dengan gerakan cepat ia memunculkan sebatang tongkat sihir di tangannya, mengarahkan benda itu ke wajah Sungyeol.

“ Ya. penyihir terhebat dan terjahat dari semua penyihir yang ada, tepatnya.”ucap L sinis, “…dan asal kau tahu.. siapapun yang mengenalku akan lebih memilih mati daripada berurusan denganku.”

“ A..apa maksudmu?”

“ Kau sudah terlanjur berurusan denganku, anak cenayang. Kau sudah lancang membongkar identitasku. Kalau kau tak ingin menderita atau mati mengenaskan, silahkan tutup mulut dan jangan pernah campuri urusanku dengan Naeun. Paham?”

Sungyeol membeku, tak menggeleng ataupun mengangguk. Ia tetap mematung dalam waktu yang lama meski L sudah menghilang dan meninggalkan asap didepan wajahnya..

****

 

“ Ya Tuhan.. semoga besok aku mendadak dapat uang banyak biar bisa beli tiket live Seoul Dance Competition. Amin.”

“ Yoon Bomi..~ tak adakah permohonan yang lain?”

 

Bomi tertawa kecil ketika Eunji mengomentari doa sebelum tidurnya.

“ Hanya itu yang kuinginkan saat ini. Sebenarnya nonton di TV juga bisa sih. Tapi pasti kau tidak mau ikut menonton dengan alasan tidak suka dengan radiasi TV..”

“ Ooh.. jadi kau ingin kita menonton secara langsung besok agar aku bisa melihat si Hoya-Hoya itu?”Eunji geleng-geleng kepala, “…heh, walaupun kau punya uang aku tetap tak mau menonton secara langsung. Aku tidak suka berada di tengah keramaian.”

“ Ya! mengapa kau susah sekali? Kajja.. kalau begitu kita nonton di TV besok. Kau harus lihat Hoya! Dia tampan sekali, kau pasti akan jatuh cinta seperti aku!”

“ Ini sudah keseribu kalinya kau memaksa dan jawabanku tetap…tidak mau!”

Eunji pun membalikkan badannya dan memeluk gulingnya erat lalu mencoba tidur karena tak mau mendengar celotehan Bomi lagi. Ia memang sama sekali tidak tertarik dengan artis bernama Hoya itu. Di hatinya masih terukir nama Howon. Selain memang tak suka dengan radiasi televisi, ia juga tak mau melihat artis bernama Hoya itu karena takut merasakan hal yang sama seperti Bomi -jatuh cinta-.

“ Pokoknya kau harus nonton besok. Di TV ataupun live kalau doaku terkabul! Kalau kau tidak mau aku akan memaksamu. Titik!”

Bomi ikut membalikkan badannya lalu tidur karena tak sabar menunggu hari esok. Eunji tertawa kecil, saudara angkatnya ini benar-benar lucu. Sepertinya ia butuh teman untuk spazzing dan menjerit-jerit bersama saat melihat artis idolanya itu.

Tapi sayang sekali, Eunji tetap pada pendiriannya. Ia sudah punya rencana untuk menghabiskan hari libur terakhirnya besok. Bukan menonton kompetisi dance itu, melainkan berangkat ke sekolah untuk mengikuti ekskul musiknya setelah itu mengunjungi Naeun ke rumah keluarga Nam.

Sudah tiga hari Eunji tak bertemu Naeun. Meski tiga hari terakhir ini ia habiskan dengan bersenang-senang bersama keluarga barunya yang ramah dan menerimanya dengan sangat baik -keluarga Yoon-, ia tetap merindukan Naeun, ia bahkan memikirkan apakah Naeun benar-benar sudah bahagia sekarang.

 

“ Tinggal bersama keluarga sederhana ini saja aku sudah sangat bahagia. Apalagi tinggal di keluarga konglomerat. Aku berharap Naeun jauh lebih bahagia dari aku, sama seperti kebahagiaanku saat masih tinggal di istana bersama keluarga kerajaan..”

***

 

“ Sudah jam satu pagi. Akhirnya kau pulang. Darimana saja kau, hah?”

Woohyun merangkul Naeun ketika gadis itu baru saja turun dari mobil Chorong, ia terlihat khawatir.

“ Aku..aku dari..”

“ Aku menemukannya di asrama, dia tidur disana karena katanya disini berisik.” Chorong memotong dan menjawab pertanyaan Woohyun. Naeun tersenyum lega karena Chorong sama sekali tak bicara tentang Myungsoo.

“ Mwo? jadi begitu? Sudah kuduga. Maaf ya sayang, oppa tidak tahu kalau kau tidak suka ada party di rumah ini.” Woohyun mengusap puncak kepala Naeun pelan. Naeun mengangguk saja, tidak enak dengan Chorong yang nampak tak suka melihat perlakuan lembut Woohyun padanya.

“…dengan siapa Naeun di asrama?”tanya Woohyun kemudian.

Naeun menegang, berharap Chorong tak menyebut Myungsoo.

“ Dia..dia bersama.. Eunji.”jawab Chorong berbohong, Naeun menghela nafas lega. Meski Chorong masih belum memaafkannya, ia masih menyelamatkan Naeun.

“ Eunji? Jung Eunji?”ulang Woohyun, wajah tampannya mendadak kesal. Chorong mengangguk.

“…Naeun, oppa tahu dia sahabatmu. Tapi mulai saat ini kau harus menjauhinya.” ucap Woohyun tiba-tiba, membuat Naeun bahkan Chorong terkejut mendengarnya.

“ M..mengapa aku harus menjauhinya??”Naeun sudah bersiap untuk menolak.

“ Dia sudah mempermalukan oppa di depan banyak orang. Kau lupa itu?”

“ Tapi..”

“ Oppa tak mau mendengar bantahanmu. Sudah sana tidur.” Woohyun memotong dan segera menunjuk tangga rumahnya agar Naeun segera naik dan masuk ke kamarnya.

“ Tapi oppa.. aku..”

Party-nya sudah selesai. Aku tak jadi mengadakannya sampai pagi. Kau bisa tidur tenang.”Woohyun memotong lagi. Naeun pun pasrah dan berjalan menuju kamarnya setelah mengucapkan terimakasih pada Chorong yang sudah menjemputnya -sekaligus menggagalkan kegiatan mesumnya dengan Myungsoo, tentunya-.

 

“…karena party-ku tak jadi sampai pagi, sekarang aku ingin bersamamu saja sampai pagi. Kau bisa kan, honey?”

 

Naeun yang sudah tiba di lantai atas mengurungkan niatnya untuk masuk kamar ketika mendengar Woohyun mengatakan hal itu pada Chorong. Melalui balkon, ia mengamati gerak-gerik sepasang kekasih itu, berharap menemukan jawaban atas rasa penasarannya terhadap pengorbanan yang Chorong maksud.

 

“ Nanti saja. Aku lelah. Aku mau pulang.”jawab Chorong datar. Jelas, moodnya sedang sangat buruk, dan penyebab utamanya tentu saja tindakan Myungsoo dan Naeun yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri beberapa saat yang lalu.

“ Dengan apa kau akan pulang jika mobilmu kuambil?”

Skak mat. Chorong memucat, dan dari situ Naeun pun akhirnya tahu mobil mewah Chorong adalah pemberian Woohyun.

“ Tapi aku benar-benar lelah, Woohyun. Aku..aku ingin tidur.”Chorong masih mencoba menolak.

I know. Just sleep with me, baby. Please..”

Sorry. No.”

“ Apa aku harus memaksamu, hm?” Woohyun nampak memegang kedua lengan Chorong erat, membuat gadis itu sulit melepaskan diri. Bahkan dengan mudahnya Woohyun melecehkan kekasihnya itu, mencium bibir dan menyentuh titik-titik sensitif tubuh Chorong tanpa izin dan berhasil membuat Naeun bergidik karena Chorong hanya diam dan tak melakukan perlawanan, seakan hal itu sudah biasa terjadi padanya.

Ini gila.

Apa ini pengorbanan yang Chorong maksud?

Mungkin..

***

 

Morning, 07.15 AM…

 

“ Aaaa!! Sudah siang!!!! Aku terlambat ke sekolah!!”

Seorang lelaki terbangun dari tidurnya lalu gelagapan sendiri mencari perlengkapan sekolahnya.

“…handukku mana?? Duh tidak ada! Ah sudahlah tidak usah mandi! Eh tasku mana?? Seragamku mana? EH… ini..ini DIMANA?”

BRUK!

Lelaki itu terduduk kembali di tanah, menyadari ketololannya.

“ Bodoh! Aku kan sedang berada di tempat asing ini. Kenapa aku sibuk mau ke sekolah? Lagipula ini hari minggu -_-“

Kai menatap sekelilingnya, masih sama. Pepohonan lebat dan bebatuan. Ia masih di tempat yang sama, di tengah hutan.

“…sekarang aku harus berbuat apa? portalnya tidak dibuka juga. Penyihir sialan!” Kai menendang tembok tempat ia keluar, dan..

“…AAAA!!!! SAKIT!!!! SAKIIIIT! AAAA!!!” Kai mendadak menjerit dan memegangi kakinya karena terlalu keras menendang temboknya, jemari kaki kanannya itu membiru dan membengkak.

“ YA! siapa disana!?”

“ Eh?”

Kai mencoba menghentikan erangannya meski kakinya masih terasa sangat sakit. Ia mendengar suara seseorang selain dirinya di dalam hutan.

“ Duh, aku kedengeran..”Kai gelagapan, takut-takut yang mendengar jeritannya barusan adalah penyihir yang kejam seperti L, ia takut dibunuh.

“ Siapa disana?!”suara itu terdengar lagi bahkan semakin mendekat.

“ T..tidak ada siapa-siapa!”sahut Kai.

“…eh? YA! TOLOL!” Kai menampar mulutnya sendiri, “…seharusnya aku tidak usah bilang!” lelaki itupun mulai mencari semak-semak untuk bersembunyi karena terdengar suara sepatu kuda mendekatinya.

 

“ Hei.. kau!”

“ YA!! ampun! Ampuuun!! Aku tidak bermaksud apa-apa. ampuuun!!” Kai melindungi kepalanya dengan kedua lengannya dan terus menunduk ketakutan ketika melihat sepasang kaki dengan sepatu boots didepan kedua kakinya.

“ Ya! tenang.. aku tidak akan menyakitimu.”sang pemilik kaki memperhalus nada suaranya dan mencoba melihat wajah Kai karena penasaran.

“ S..siapa..siapa kau?” tanya Kai takut-takut.

“ Aku? Aku Byun Baekhyun, pangeran negeri Gwangdam.”

“ M..mwo?? p..pangeran?” Kai mengangkat wajahnya dan matanya pun menangkap seorang lelaki tampan dengan pakaian yang cukup aneh dimatanya, bahkan saking anehnya Kai sendiri tak tahu jenis pakaian apakah yang dikenakan oleh lelaki yang mengaku sebagai pangeran itu. Disebut jas bukan, disebut kemeja ya mungkin sedikit. Hanya saja yang menonjol dari pangeran itu ialah sepatu boots dan topi-bulu-angsanya, yang membuat ia terlihat amat gagah dan sukses membuat Kai iri.

“ Ya. ng.. kukira kau sudah kenal denganku. Negeriku cukup terkenal.”ucap sang pangeran sedikit polos, “…kalau boleh tahu, kau siapa?”

“ Aku?? Aku.. yang jelas.. aku manusia biasa!” jawab Kai cepat, membuat Baekhyun tertawa karena lelaki itu masih terlihat panik.

“ Syukurlah. Kalau kau penyihir mungkin aku tidak berani menghampirimu.”

“ M..mengapa begitu?”

“ Yah.. kau tidak tahu kalau semua penyihir di dunia ini jahat? Apalagi penyihir muda bernama L yang tinggal di negeri ini. Kudengar ia hobi membunuh orang. Makanya aku sedikit takut mengembara ke tempat ini.”

Kai membeku mendengar perkataan Baekhyun.

Benar. Benar sekali, bahkan pangeran di negeri seberang saja mengakui kejahatan L. penyihir sialan itu benar-benar famous di dunianya.

“…tapi kudengar dia sudah menikah dengan Son Yeoshin, satu-satunya penyihir baik hati di dunia ini. Haha.. apa penyihir itu sudah gila? Seorang penyihir terjahat dan penyihir terbaik menikah, apa jadinya? Ckckck..” sambung Baekhyun sembari tertawa kecil lalu duduk disamping Kai, melepas topinya dan menggunakan penutup kepalanya itu sebagai kipas.

“ K..kau benar, hehe.”sahut Kai seadanya, membuat Baekhyun berpikir kalau anak ini cenderung pemalu, meski kenyataannya mah malu-maluin.

“ Dan.. yah, meski aku sebenarnya takut mengembara kesini karena ada penyihir bernama L itu, aku tetap nekat demi satu tujuan. Menemui calon istriku, seorang putri yang masih menungguku disana.” Baekhyun menunjuk bangunan istana Junghwa nun jauh di sana, “…saking megahnya, istana itu terlihat sejauh mata memandang. Namun sudah lima hari aku berjalan mendekatinya, istana itu bukannya semakin dekat, malah seperti menjauh.”

“ Oh. Jadi kau akan menikah dengan putri raja? Wow..”Kai berdecak kagum. Pantas-pantas saja, seorang pangeran memang seharusnya bersama seorang putri.

“ Yah, begitulah. Hmm.. oh iya, tadi kau belum jawab pertanyaanku, kau siapa?”

“ Namaku Kai.”jawab Kai seadanya, “…dan seperti yang kukatakan barusan, aku..manusia biasa, hehe.”

“ Hmm.. rakyat jelata?”

“ -_-“

“ Eh.. m..maaf, maksudku.. kau..rakyat biasa di negeri ini?”

“ Hah, tampangku memang pantas menjadi rakyat jelata. Tapi beruntungnya, aku orang kota. Aku tidak tinggal di negeri ini bahkan tidak tahu tempat apa ini.”

“ Mwo..? orang kota? Maksudmu?”

“ Kau..tidak tahu yang namanya..kota?”

Dengan polosnya Baekhyun menggeleng, membuat Kai mendadak gemas.

“ Kota itu tempat yang ramai dan modern. Penduduknya gaul-gaul seperti aku!” jelas Kai, namun membuat Baekhyun semakin bingung.

“ Aku tidak mengerti.”

“ Ah yasudahlah lupakan.”Kai jadi malas, “…kau tahu dimana letak kamar mandi di sekitar sini? Aku ingin mandi.”

“ Mwo? kalau di sekitar sini kau bisa mandi di..sungai.”

“ Sungai?! Tidak!” Kai buru-buru menolak, dalam bayangannya sungai adalah tempat yang kotor. Seburuk-buruk apapun dirinya, ia tak pernah sudi mandi di sungai.

“ Ya! mengapa? Aku yang seorang pangeran saja sering mandi disana selama mengembara, mengapa kau yang rakyat jelata kelihatannya tidak sudi?”

“ Ck, lagi-lagi mengataiku rakyat jelata -_-“ Kai dongkol, ia pun berdiri. “…ya sudah, tunjukkan padaku dimana sungainya!”

“ Nah. Disana!” Baekhyun menunjuk kearah kanan, “…kajja, kutemani. Aku juga ingin sekalian memandikan kudaku.”

“ Hah!!? Ya! tidak bisa! Masa iya aku mandi dengan kuda??!”

“ Ck, orang kota ini cerewet sekali. Ikut aku dulu!” Baekhyun menarik Kai lalu membawa lelaki itu ke sungai sembari menggiring kudanya.

*************

Afternoon, 12.15 PM

 

Seorang gadis dengan sweater biru dan skinny jeans itu masih berdiri di teras sebuah kedai teh sembari memeluk tubuhnya yang menggigil. Menunggu hujan yang sudah sejak dua jam yang lalu mengguyur Seoul itu berhenti. Satu-satunya hal yang ia lihat saat ini adalah banyaknya orang lalu lalang sampai membuat jalanan dan trotoar sesak. Dan mayoritas orang-orang tersebut tengah berjalan menuju tempat yang sama.

Studio 1 Seoul TV, lokasi dimana pentas pertama Seoul Dance Competition dilaksanakan.

Untuk kesekian kalinya, Jung Eunji menggeleng-gelengkan kepalanya. Tak habis pikir mengapa banyak sekali orang yang berdatangan, rela berhujan-hujanan dan merogoh kocek dalam-dalam untuk membeli tiket demi melihat acara yang dianggapnya tak penting tersebut. Seandainya doa sebelum tidur Bomi semalam terkabul, mungkin saudara angkatnya itu menjadi salah satu dari orang-orang yang sedang mengantri tiket sekarang. Namun saat ini Bomi hanya duduk manis di rumah, menanti penampilan idolanya -Hoya- di televisi dan membiarkan Eunji pergi dengan memakai sweater dan skinny jeans miliknya.

Eunji baru saja menyelesaikan ekskul musik pertamanya. Sebenarnya moodnya sedang sangat buruk karena sepanjang kegiatan ia terus dimarahi dan dibentak oleh Luna, seniornya yang sejak awal bertemu memang sudah sentimen padanya. Namun Eunji berusaha untuk kembali tersenyum karena setelah hujan berhenti ia akan mengunjungi Naeun di rumah keluarga Nam, ia tak sabar untuk bertemu dengan sahabatnya itu.

Sebuah mobil melintasi kedai teh tempat Eunji berada, membuat jalanan mendadak semakin penuh dan ramai ketika semua tahu bahwa yang berada di dalam mobil tersebut adalah Hoya, salah satu peserta kompetisi yang sudah terkenal sebelum naik pentas karena wajah tampan, bakat, dan attitudenya saat audisi. Eunji mencibir, meski sedikit penasaran ia tak sudi bergabung dengan gadis-gadis yang nampak rela berhujan-hujanan untuk melihat sosok Hoya melalui kaca mobil.

 

“ Ya! bodoh!!! Ini mobil hotel! Bisa-bisa tergores kalau dikerubuti seperti ini!!”

Hoya tersentak ketika mendengar sang supir mengamuk, lelaki itupun menatap jendela, menyadari begitu banyak gadis bahkan ibu-ibu berdesakan dan memaksanya untuk membuka jendela. Namun yang lebih menarik perhatiannya adalah sesosok gadis dengan sweater biru dan skinny jeans yang tengah berdiri dengan wajah bosan di teras kedai teh yang tepat berada didepannya saat ini.

“ Hyerim!”

Hoya sedikit mendongak, kesulitan menatap Tuan Putrinya sebab terhalang oleh fans-fans yang masih mencegat mobilnya.

“ Darimana dia? Mengapa sampai harus berteduh disana? Apa dia tidak bawa payung? Apa dia bawa jaket?” Hoya mendadak khawatir dengan Eunji, hingga tanpa pikir panjang ia menepuk bahu sang supir.

“…turunkan aku disini.”

“ YA! kau ini bagaimana?? Mau cari mati? Tidak lihat betapa banyak fans diluar sana?”sang supir menolak mentah-mentah bahkan dibumbui dengan nada yang galak.

“ Tapi aku harus.. eh..” Hoya tak jadi menyelesaikan perkataannya ketika ia kembali menatap jendela.

Dilihatnya Eunji dihampiri oleh lelaki lain, lelaki itu membawa segelas minuman hangat dan sebuah payung untuk Tuan Putrinya…

 

“ D.O sunbae? Sedang apa kau disini?” Eunji sedikit terkejut namun tetap menerima segelas cappuccino hangat yang disodorkan sang senior padanya.

“ Aku? Hmm.. aku sama sepertimu, baru pulang dari kelas musik dan terjebak di sekitar sini.”jawab D.O seadanya, “…kau sudah lama disini?”

“ Ya.. lumayan.”

“ Hujan mempertemukan kita lagi, Eunji.”

“ Hahaha..” Eunji tertawa kecil, “…tapi sunbae kan bawa payung. Sebenarnya sunbae bisa saja pulang.”

“ Tadinya sih sudah niat ingin pulang. Tapi saat melihatmu sendirian disini aku jadi tidak tega. Bagaimana kalau kau kuantar? Jangan bilang sebenarnya kau ingin menonton live acara ini.”

“ Hahaha, tidak sunbae. Aku tidak ingin menonton kok, setelah hujan reda aku ingin mengunjungi Naeun dulu, tidak langsung pulang.”

“ Mengunjungi Naeun? Adik baru Woohyun?”

Eunji mengangguk, “…Naeun kan sahabatku. Sudah tiga hari aku tidak bertemu dengannya..”

“ Hmm..aku mengerti. Kalau begitu ayo kuantar ke rumah keluarga Nam. Kebetulan aku tahu dimana, aku sering berkunjung kesana.”

“ Oh ya? kau teman Woohyun sunbae, ya?”

“ Yaa.. bisa dikatakan begitu. Kajja, kita kesana.” D.O membuka payungnya dan menarik Eunji agar merapat padanya, Eunji mengangguk dan mulai berjalan beriringan dengan D.O menggunakan satu payung.

 

Hoya, meski mobilnya sudah jauh melintasi kedai teh tersebut, namun ia masih bisa menangkap sosok Tuan Putrinya, kekasihnya itu berjalan menjauhi lokasi performnya bersama D.O. membuat hati Hoya mendadak kacau.

 

“ Meski saat ini keadaan memisahkan kita. Kau tetap milikku, Jung Hyerim..”

****************

 

“ Hah?? Jadi begitu!? Jadi kau mengenal L dan dia yang membuangmu kesini??”

Kai mengangguk cepat, mulutnya terasa kering karena bercerita panjang lebar tentang urusannya dengan L pada Baekhyun. Untung saja air sungai didepannya bisa diminum, jadi Kai bisa membasahi tenggorokannya.

“…gila, L ternyata lebih jahat dari yang kubayangkan..”Baekhyun geleng-geleng kepala, merasa prihatin dengan Kai, “…coba saja penyihir itu tidak perlu menciptakan ramuan portal, hal seperti ini tidak akan terjadi.”

“ Penyihir itu? siapa? Kim Hyoyeon?”tanya Kai memastikan, sebab ia sudah mengetahui sedikit tentang Hyoyeon dari L sebelumnya.

“ YA! jangan sebut namanya di dalam hutan. Itu bahaya!” Baekhyun menginjak kaki Kai, “…beberapa penyihir mengatakan bahwa ia sudah kembali dari dunia nyata dan tinggal di hutan bersama anaknya. Dan kau lihat sungai yang ada didepanmu ini? Banyak penyihir yang mengatakan bahwa Hyoyeon yang membuat sungai ini, sebelumnya sungai ini tidak ada di tengah hutan..”

“ Wow, keren. Ngomong-ngomong mengapa kita tidak boleh menyebut namanya?”

“ Ya.. bahaya saja. Ia penyihir yang lebih hebat dari L, bisa jadi jahatnya melebihi L. kan kita tidak tahu.”

“ Tapi sepertinya dia baik. Buktinya dia membuat sungai sebersih ini..”kata Kai sotoy, karena ia tak yakin ada orang yang jahatnya melebihi L di dunia ini.

“ Entahlah. Ah sudahlah, aku takut kalau sudah membahas tentang penyihir. Aku ingin tidur, nanti siang ingin melanjutkan perjalanan menuju istana.” Baekhyun pun berbaring di tanah, menutup wajah tampannya dengan topi lalu tertidur pulas.

Sementara Kai memegangi perutnya. Dia mulai lapar.

“ Duuuh.. aku harus bagaimana?” Kai bingung, ia merasa tak enak membangunkan Baekhyun untuk meminta makanan, lagipula ketika ia mengintip tas sang pangeran, tak ada makanan di dalam sana.

Hingga ketika Kai melihat seekor kuda gagah milik sang pangeran yang sedang menganggur di tepi sungai, ia mendapat ide gila. Perlahan-lahan ia beringsut dan tanpa pikir panjang menunggangi kuda tersebut.

 

“ Bawa aku kemana saja kau mau, asal di tempat itu ada makanan.”

*

“ YA! kuda jenius!! Ini dia!!!”

Kai nampak sumringah ketika kuda Baekhyun yang ia tunggangi berhenti di depan pintu masuk sebuah pasar yang cukup ramai. Tanpa pikir panjang lelaki itu segera turun dari atas kuda dan memasuki pasar tersebut, mencari makanan.

“…wah, jadi orang-orang yang memakai baju hitam ini penyihir.”Kai memperhatikan orang-orang yang lalu lalang didepannya, “…bahkan toko khusus penyihir pun ada. Wow..”

“…dan..mengapa banyak yang menatapku seperti ini? Apa aku kelihatan aneh?” Kai bingung karena orang-orang di dalam pasar mulai memperhatikannya. Apa karena kaos abu-abu dan celana jeans yang ia kenakan? Mungkin..

“….ah, persetan. Aku mau makan!” Kai mencoba untuk tak peduli, ia mulai menghampiri salah satu pedagang ikan bakar dan dengan wajah tanpa dosa mengambil salah satu piring berisi ikan yang sudah selesai dibakar lalu duduk dan makan dengan lahap.

“…wah! Ikan di negeri ini enak juga ya..”

“ Semuanya dua emas tiga perak, terimakasih.”sang pedagang meletakkan sebuah catatan kecil di meja Kai. Orang-orang di dunia modern sih menyebutnya bill.

“ D..dua emas tiga perak??” Kai tak mengerti, si pedagang mengangguk.

“ Kenapa? Murah kan..”

“ B..bukan soal murahnya. Aku tidak punya emas ataupun perak. Tapi aku punya uang kok. Aku bayar pakai uang saja ya!”

“ Hah!?? Hei orang asing, kau ini bagaimana? Kalau bayar ya harus pakai emas dan perak, bukan pakai udang!”

“ Uang woy uang, udang dari Hongkong -_-“

“ Ah ya gitulah pokoknya! Aku tak tahu benda apa yang kau maksud. Yang jelas kau harus bayar dengan emas dan perak!”

“ Ck! Sudah kubilang aku tidak punya! Kau ini aneh ya, masa’ tidak tahu uang?? Ini.. ini uang namanya!” Kai mengeluarkan selembar uang dari saku celananya lalu menunjukkan benda itu pada si pedagang.

“ Hah!?? Ini?? Ini hanya kertas! Tak ada gunanya!” si pedagang emosi dan merobek uang Kai, membuat Kai gelagapan.

“ YA!!!!! OON!!!! UANGKU DISOBEK!!! DASAR GILA!!!! AAA!! INI SERATUS RIBU WON TAHU!!!” Kai ikutan emosi, uang dengan nominal cukup besar yang satu-satunya ia miliki disobek seenaknya.

“ Dasar manusia aneh!! Itu hanya kertas, bodoh!”

“ Kertas pala lu peang! Auk ah! yang jelas aku tidak punya emas atau perak!! Titik!!”

Dan dengan liciknya setelah itu Kai berdiri dan membawa lari piring makanannya, melahap ikannya sambil berlari menjauhi tempat makan tersebut agar tak ditagih lagi.

“ YAAAA!!!!! MALING!!!!”pedagang ikan tersebut spontan berteriak agar orang-orang menangkap Kai.

“ AAAAAA!!!! EHEK EHEK!!!!” Kai semakin panik ketika seisi pasar mulai mengejarnya, terlebih ketika tenggorokannya tersedak duri ikan yang ia makan. Dengan terburu-buru, ia menunggangi kudanya dan memukul kuda itu agar segera membawanya pergi.

Namun tak disangka-sangka, sang kuda justru mengamuk dan berlari sekencang-kencangnya menerobos pasar, membuat tempat itu hancur dalam sekejap. Kai semakin panik dan jantungnya serasa hendak copot karena bergoyang hebat diatas kuda tersebut. Tetapi setidaknya ia bisa bernafas lega karena bisa melarikan diri…

***

 

BRUK!!

“ AAAAA!! PUNGGUNGKU!! EHEK! EHEK!”

Kai mengerang ketika tubuhnya terhempas ke tanah, ia terjatuh dari atas kudanya yang semakin mengamuk.

Lelaki itu mencoba mengatur nafasnya, tenggorokannya masih terasa sakit karena menelan beberapa duri ikan. Ia memegangi punggungnya yang terasa nyeri lalu menoleh kesemua arah dan ia tak tahu ada dimana ia sekarang. Ingin melanjutkan perjalanan, kuda yang ia tunggangi sudah kabur entah kemana.

“ Ah! harusnya aku menunggu pangeran itu bangun saja tadi!” sesal Kai, “…lalu sekarang apa yang harus kulakukan?? Aku benar-benar jadi gelandangan di negeri antah berantah ini! Ck, sialan!”

 

“ NAH! Ini dia orangnya!”

 

“ Eh?” Kai terkejut karena mendengar suara berat beberapa orang di belakangnya. Ia buru-buru menoleh.

Pria-pria berseragam aneh dan berbadan besar mendekatinya dan tanpa banyak basa-basi menahan kedua lengannya dengan kuat, membuatnya berontak.

“ HEI!! SIAPA KALIAN HAH!? LEPASKAN AKU!”

“ Kami tentara kerajaan Junghwa. Kami menerima laporan bahwa kau telah mengacaukan pasar. Jadi sekarang kau harus dipenjara!”

“ A..apa!? di..dipenjara!?”

“ Ya!! ikut kami!!!!!”

“ AAAA!!! TIDAAAKK!!!” Kai terus berontak namun hasilnya nihil, para tentara itu memasukkannya kedalam kereta kuda dan membawanya ke istana…

*

BRUK!!

“ YA!! SAKIT!”

Kai memegangi lengan kanannya yang keseleo akibat dorongan kasar pengawal kerajaan yang menjebloskannya ke dalam penjara. Sebelum ia mencoba untuk kabur, pintu jeruji sudah terlebih dahulu dikunci oleh sang pengawal.

“ Besok kau baru disidang oleh Raja. Jangan berisik atau kau akan dirantai!” ancam si pengawal sebelum pergi meninggalkan penjara.

“ Grr!! Mengapa aku sial terus!?” umpat Kai, dengan pasrah duduk dibalik jeruji karena tak tahu lagi harus berbuat apa.

 

“ Hiks..hiks..hahahaha!! hahaha!!!”

“ YA! suara apa itu?” Kai mendadak paranoid saat mendengar suara tangis sekaligus tawa seorang perempuan yang begitu jelas memasuki rongga telinganya.

“ Ahahaha..hahaha.. hu..hu..hiks..hiks..huaaaaaa..”

“ Aish!! Perempuan gila! Ketawa nangis ketawa nangis, aneh..” Kai mulai berdiri dan mencari-cari sumber suara tersebut hingga ia menemukan sebuah lubang kecil diatas tembok penjaranya.

Dengan hati-hati, Kai memanjat tembok dan mengintip melalui lubang itu. Hingga ia menyadari bahwa penjara tempat ia berada sekarang ternyata terletak di dalam menara, dan lubang tempatnya mengintip adalah penghubung penjaranya dengan puncak menara.

Lelaki itu menangkap sosok seorang gadis berambut merah cerah bergaun abu-abu tengah duduk di pojok ruangan sembari memeluk lututnya rapat-rapat, sesekali tertawa melengking namun setelah itu mendadak menangis histeris dan memukul-mukul bahkan menendang-nendang tembok.

Kai merasa miris melihatnya, ia yakin gadis yang dilihatnya itu sedang mengidap sakit jiwa.

“ Sebenarnya siapa dia? Apa dia orang gila meresahkan yang diamankan di istana ini? Atau.. dia seorang putri?”pikir Kai, “…kalau dilihat dari gaunnya, sepertinya dia seorang putri. Tapi masa iya putri raja gila begini?”

“ Hei!! Siapa disana!!!!???? SIAPA!!??”

“ M..mampus aku..” Kai terkejut karena sang gadis mendengar suaranya, ia pun memutuskan untuk turun saja daripada mencari masalah.

“ Mau kemana kau, orang asing?”

Terlambat, sang gadis sudah beringsut menghampiri lubangnya dan menatap mata Kai yang masih berada disana. Kai ikut menatap mata sang gadis hingga mereka terlibat dalam kontak mata yang cukup lama.

“ Kau siapa?”tanya gadis itu pelan.

“ Aku? Namaku Kim Jongin. Tapi aku dipanggil Kai. Kau sendiri?”

Gadis itu tersenyum tipis dan tertawa tanpa sebab dulu sejenak, membuat Kai lagi-lagi merasa prihatin.

“ Aku Krystal, Putri Krystal..”

*************

 

“ Sudahlah.. jangan menangis. Woohyun memang seperti itu, kau harus memakluminya..”

Eunji menggelengkan kepalanya dan semakin membenamkan wajahnya dalam dekapan D.O, menangis sejadi-jadinya hingga sweater D.O basah oleh airmatanya.

D.O mengelus punggung gadis itu lembut, merasa prihatin. Eunji baru saja menerima perlakuan kasar dari Woohyun karena ia berani mengunjungi Naeun ke rumahnya. Sejak saat Eunji memarahi Woohyun didepan banyak siswa beberapa hari yang lalu, Woohyun memang menyimpan dendam pada Eunji. Sebagai sahabat dekat Woohyun, D.O tahu itu. Namun ia tak menyangka Woohyun akan berbuat sejahat ini pada Eunji.

Eunji tak bisa menemui Naeun, sahabatnya itu dilarang keras untuk menemuinya. Ia justru menemui Woohyun saat memasuki rumah keluarga Nam. Dan dengan penuh rasa tega, Woohyun mengusirnya bahkan menyiramnya dengan sebotol bir. Akhirnya, sampai saat ini Eunji masih saja tak bisa menghentikan tangisnya, membuat D.O merasa bersalah karena ia tak bisa berbuat apa-apa saat itu. Ia tak ingin persahabatannya dengan Woohyun hancur karena ia membela Eunji.

“ Apa yang harus kulakukan? Aku tidak bisa hidup tanpa Naeun, ia sahabatku.. orang yang paling dekat denganku..” isak Eunji, ia memang tak siap jika harus dijauhkan dengan Naeun. Dengan siapa lagi ia bercerita tentang apapun yang ada di negeri Junghwa selain dengan Naeun? Pada siapa lagi ia meminta ramuan-ramuan berguna jika bukan pada Naeun? Dan bagaimana ia bisa kembali ke negerinya jika tanpa bantuan Naeun sebagai pembuat ramuan portalnya?

“ Kau punya aku. Mulai saat ini aku akan terus melindungimu, dimanapun dan kapanpun. Percayalah, semuanya akan baik-baik saja. Aku akan memberi pengertian pada Woohyun..”jawab D.O, membuat perasaan Eunji sedikit tenang.

“ Benarkah? Janji?” Eunji mencoba memastikan seraya menghapus airmatanya agar ia benar-benar bisa tenang.

D.O tersenyum dan menatapnya.

“ Aku janji, tetapi dengan satu syarat.”ucap lelaki itu misterius.

“ Syarat..apa?”

“ Kau harus menjadi kekasihku. Dengan begitu aku punya alasan mengapa aku harus menjaga dan melindungimu. Bagaimana?”

Eunji tersentak.

Menjadi kekasih D.O? lantas bagaimana dengan lelaki bernama Howon yang namanya masih terukir dalam hati Eunji?

 

Eunji melepas pelukannya, kembali menghapus airmatanya dan tanpa pamit pergi menjauhi halte, meninggalkan D.O dan berlari menerobos hujan..

********

 

Monday Morning…

 

Seorang gadis baru saja turun dari Lamborghini milik kakak angkatnya dan menggiring koper hitamnya menuju gedung asrama putri. Hari ini ia kembali ke asrama, tinggal disana dan memulai pembelajarannya sebagai siswa kelas X.

“ Naeun, kau bisa membawa kopermu sendiri? Kalau tidak biar oppa..”

“ Aku bisa, oppa. Kau boleh langsung ke asrama putra.” Naeun memotong perkataan Woohyun dan buru-buru menjauh dari kakak angkatnya itu. Perasaan marah dan kesalnya pada Woohyun masih tersisa dalam benaknya. Bagaimana tidak? Woohyun telah menjauhkannya dari Eunji bahkan mengusir dan menyiram sahabatnya itu dengan sebotol bir. Sungguh perlakuan yang tak bisa Naeun maafkan.

Woohyun menurut saja, ia tahu Naeun masih marah padanya namun ia tak peduli. Tetapi matanya terus mengawasi Naeun hingga sosok adiknya itu hilang ditelan gerbang asrama putri, ia hanya tak ingin sang adik bertemu lagi dengan Eunji.

 

Naeun berjalan menyusuri koridor asrama dengan langkah pelan, menikmati udara pagi dan kesunyian asrama sebab belum banyak siswa yang datang. Matanya sesekali menoleh ke berbagai arah, mencari Eunji, namun tak ia temukan sosok sahabatnya itu.

Ia justru mendapati seorang lelaki tampan duduk di tangga dan tersenyum kearahnya, membuat perasaannya yang masih kacau mendadak berbunga.

Kim Myungsoo, lelaki itu.

Naeun menghentikan langkahnya ketika Myungsoo berdiri dan menghampirinya, senyum malu mengembang di wajah cantiknya. Entah, kejadian sabtu malam itu membuat Naeun merasa canggung lagi dengan senior yang menyerupai suaminya ini.

 

Good morning, love.

 

Semburat merah semakin nampak di pipi Naeun, gadis itu menunduk malu. Myungsoo tersenyum, baru tahu seperti ini ekspresi istrinya jika sedang salah tingkah.

“ Namaku Son Naeun, bukan love.”ucap Naeun malu-malu seraya terkekeh pelan, membuat Myungsoo merasa gemas.

“ Aku menggantinya dengan kata lain karena aku gugup jika harus menyebut namamu.”jawab Myungsoo lembut, membuat Naeun blushing untuk yang kesekian kalinya.

“ Aih.. kau berlebihan.”

Myungsoo tersenyum kecil, perlahan ia menyentuh dagu mungil Naeun, mengangkat wajah gadis itu dan mendekat.

Cup~

Sebuah ciuman mendarat di bibir cherry Naeun selama beberapa detik, membuat jantung gadis itu berdebar tak karuan karena ia tak sempat menutup matanya. Mengapa Myungsoo begitu lancang?

Yah. Kelancangan yang nikmat, tidak ada salahnya bagi Naeun untuk saat ini.

“ Hei, mengapa kaku sekali? Bukankah dua hari yang lalu kita sudah latihan?” Myungsoo berhenti mencium Naeun dan menggoda gadis itu lagi.

“ Aigoo.. jangan bahas itu lagi, sunbae..”Naeun semakin malu dan sedikit memukul bahu Myungsoo.

“ Tidak mungkin aku tidak membahasnya. Itu momen terindah dalam hidupku.”

Naeun tertawa kecut, “ Ya, sekaligus terburuk.”

“ Mengapa begitu? Apa karena Chorong?”

Mau tak mau Naeun mengangguk lemas, membuat Myungsoo khawatir.

“…jangan bilang Chorong memarahimu habis-habisan. Apa yang ia lakukan padamu? Apa dia melaporkannya pada Woohyun?”

Naeun buru-buru menggeleng, “ Chorong sunbae tidak melakukan apapun, ia melindungi kita. hanya saja.. aku sangat malu padanya..”

Myungsoo mengusap puncak kepala Naeun pelan dan mendekap gadis itu dengan lembut.

“ Aku juga. Tapi tidak perlu khawatir, semuanya akan baik-baik saja.”

“ Ya.. kuharap demikian. Memang tidak seharusnya kita melakukan hal itu, sunbae..”

“ M..maksudmu.. kita tak akan melakukan hal itu lagi nanti?”

“ Tentu saja.”

“ Oh, damn!” batin Myungsoo, ia kira di lain waktu Naeun tetap mau melakukan hal itu dengannya. Tetapi nyatanya gadis itu merasa trauma. Sepertinya Myungsoo harus menyusun rencana baru untuk merayu gadis itu.

“ Ngomong-ngomong mengapa kau ada disini, sunbae? Ini kan asrama putri..”Naeun baru sadar Myungsoo berada di tempat yang tidak seharusnya.

“ Mengapa menanyakan hal itu? tentu saja karena aku menunggumu, sayang. Aku merindukanmu.”

“ Ooh, Myungsoo sunbae.. berhentilah menggodaku. Kau tidak lihat wajahku sudah semerah ini?” batin Naeun, ia baru tahu Myungsoo bisa seromantis ini.

“…ah.. Seandainya saja L yang berlaku seperti ini padaku.. eh.. apa? L? tidak. Penyihir biadab itu mana mungkin punya bakat menjadi orang romantis. Ck, berhenti memikirkannya!”

“ Hei, mengapa melamun..?” Myungsoo melambaikan tangannya didepan wajah cantik Naeun, membuat gadis itu tersadar.

“ Eh.. t..tidak.. aku hanya sedang..memikirkan.. Eunji.”jawab Naeun berbohong, meski ada benarnya juga. Ia memang masih belum bisa berhenti memikirkan sahabatnya itu.

“ Eunji? ada apa dengannya?”

“ Woohyun oppa sangat dendam padanya, kemarin Eunji diusir dari rumah kami bahkan disiram bir oleh Woohyun oppa, bagaimana aku tidak sedih..” mata Naeun mulai berkaca-kaca, Myungsoo semakin mengeratkan dekapannya, mencoba membujuk gadis itu agar tidak menangis.

Gila. Berani sekali Woohyun. Bagaimana kalau dia tahu Eunji adalah seorang putri Raja?” pikir Myungsoo, “…aku harus beritahu Howon, siapa tahu dia marah dan melabrak Woohyun. Bisa jadi perkelahian hebat, hahaha.”

“ Tolong jangan beritahu Kai tentang Eunji ya, sunbae. Aku tahu Kai pasti marah kalau tahu semua ini, dia kan suka pada Eunji..”ucap Naeun pelan meski rasanya masih sedikit sakit mengatakan hal itu.

“ Tenang saja, Kai tak akan tahu. Dia sudah tidak ada lagi disini.”jawab Myungsoo tenang, namun sukses membuat Naeun terkejut.

“ Hah?? Kai sudah tidak ada disini?? Maksudmu?”

Myungsoo memutar otaknya, mencari kebohongan setepat-tepatnya.

“ Ia keluar dari sekolah ini. Aku memindahkannya ke sekolah lain.”jawab Myungsoo berbohong, mana mungkin ia mengatakan bahwa Kai ia buang ke negeri Junghwa.

“ K..keluar dari sekolah ini?? Pindah ke sekolah lain? Mengapa tiba-tiba sekali?”

“ Ada masalah. Aku belum bisa menceritakannya, maaf..” Myungsoo mencoba berdalih, ia sedang tak bisa menyusun skenario kebohongan hari ini.

“ Yah.. padahal aku ingin tahu. Mengapa mendadak sekali..”ucap Naeun cemas, “…tapi kau akan menceritakannya nanti kan, sunbae?”

Myungsoo mengangguk, “ Sudahlah, jangan dibahas dulu. Aku jadi sedih mengingat Kai. Dan..aku jadi sedikit cemburu, sepertinya kau sangat mencemaskan dia.”

“ Mengapa kau cemburu?”

“ Ya! karena aku kekasihmu, Son Naeun~”

“ Mwoya? Memangnya kita berpacaran?”

Ck, mengapa Naeun begitu polos dan lugu? Myungsoo mencoba sabar.

“ Kalau bukan berpacaran apa lagi namanya? Suami-istri?”jawab Myungsoo tak mau kalah sekaligus memancing, membuat Naeun mendadak ingat dengan L.

“ Ya ya ya aku mengalah. Kita berpacaran. Aku tahu itu.”Naeun tak mau lagi melanjutkan misinya menggoda Myungsoo, yang ada ia akan semakin ingat dengan L.

Myungsoo tersenyum penuh kemenangan, “ Nah, kalau begitu jangan panggil aku sunbae lagi.”

“ Tidak mau. Aku sudah terbiasa memanggilmu sunbae.”

“ Ya! tapi itu sama sekali tidak romantis.”

“ Siapa bilang? Itu panggilan yang romantis. Aku memanggilmu sunbae karena aku menghormatimu.”

“ Yaa.. aku tahu, tapi..—”

“ Ssst!” Naeun buru-buru meletakkan telunjuknya di bibir Myungsoo, menyuruh lelaki itu untuk berhenti bicara setelah itu mengganti telunjuknya dengan bibirnya. Meski harus sedikit berjinjit untuk menyentuh bibir Myungsoo, Naeun menikmati pengalaman pertamanya mencium seorang lelaki untuk pertama kalinya.

“…menghormati seseorang yang kita cintai adalah hal yang romantis, kan? Jadi jangan cerewet, sunbae.” Naeun melepas ciumannya dan tersenyum menggoda kearah Myungsoo, setelah itu berbalik dan melanjutkan perjalanannya menuju kamar.

Myungsoo terdiam, ia bahkan bisa mendengar suara debar jantungnya saat ini. Hatinya berdesir.

 

“ Aku tak salah menikahimu, Son Yeoshin..”

****

11.20 AM

“ Kepala sekolah kita yang baru saja datang dari Jepang bukannya memberikan kita oleh-oleh malah marah-marah karena kita bertukar jabatan tanpa seizinnya. Aku sudah memberi penjelasan tapi dia tidak mau dengar. Sebaiknya kau saja yang memberi penjelasan, kau pasti didengar karena kau anak kesayangannya.”

Tanpa pembukaan dan basa-basi Woohyun menghampiri Myungsoo yang siang itu tengah berada di UKS, menyuruh lelaki itu untuk menemui kepala sekolah, membicarakan perihal pertukaran jabatannya dengan Woohyun.

“ Anak kesayangan? Maksudmu?”tanya Myungsoo tak mengerti, tentu karena ia saja tidak kenal siapa kepala sekolahnya.

“ Hah, jangan pura-pura. Sejak kelas X kau sudah disayang olehnya. Katanya karena kau tampan, pintar, dan baik hati.”jawab Woohyun malas dan sedikit mengejek, “..sudah sana, temui kepala sekolah.”

Karena tak mau mencari masalah lagi dengan Woohyun, Myungsoo pun menurut.

“ Sebaiknya kau juga ikut denganku.”ajak Myungsoo.

Woohyun buru-buru menggeleng, “ Kau saja sana. Aku sedang ada urusan dengan siswi Jung Eunji.”

“ Mwo? urusan apa?”

“ Nanti kau tahu..” Woohyun hanya tersenyum licik lalu berbalik dan meninggalkan Myungsoo, memasuki lift sekolah untuk mencari Eunji yang kelasnya terletak di lantai tiga. Myungsoo tak peduli, ia hanya tinggal menunggu kapan Howon melabrak Woohyun karena ia sudah menceritakan tentang penderitaan Eunji pada sahabatnya itu.

Sebelum berangkat menuju ruangan kepala sekolah, Myungsoo melanjutkan kegiatannya sebentar di UKS. Lelaki itu ternyata sedang mencuri beberapa kantong stok darah milik sekolah, untuk apa lagi kalau bukan untuk makannya setiap hari, dan untuk Naeun juga tentunya.

Selesai mengambil kantong-kantong darah tersebut, Myungsoo buru-buru keluar dan berjalan menuju ruangan kepala sekolah.

 

“ Annyeong haseyo..”

“ Ne. annyeong.. Kim Myungsoo?”

“ Ya, ini aku.”jawab Myungsoo awkward ketika sang kepala sekolah yang ternyata adalah seorang wanita itu menyambutnya dengan nada yang sangat ramah.

“ Hai, akhirnya kita bertemu lagi, nak. Apa kabarmu?”sang kepala sekolah memutar kursinya menghadap Myungsoo dan tersenyum lebar menatap siswa kesayangannya itu.

Tubuh Myungsoo mendadak kaku, matanya membesar seketika saat melihat sosok sang kepala sekolah. Bagaimana tidak? Myungsoo benar-benar mengenali wajahnya..

“ Taeyeon?”ucap Myungsoo tak percaya, ia benar-benar seperti sedang melihat sosok ibunya itu saat ini. Mengapa mereka begitu mirip?

“ Aigoo~ separah itukah kecelakaan yang kau alami saat di gunung sampai-sampai kau sedikit lupa dengan namaku? Aku kepala sekolah Kim Haeyeon, bukan Taeyeon..”jawab sang kepala sekolah dengan nada prihatin.

Myungsoo terkejut. Jelas, ini adalah salah satu bukti lagi atas teori dua sisi Hyoyeon.

Kepala sekolah Kim Haeyeon adalah sisi baik dari ibu L, Kim Taeyeon..

********

 

“ Ia menjauhkan aku dari Naeun, menyiramku dengan sebotol bir, lalu sekarang menyuruhku untuk pindah kamar ke tempat ini! Ke asrama putra!!! Apa yang dia inginkan?? Satu perlakuanku dibalas oleh tiga tindakan yang tidak manusiawi!”

Eunji nyaris putus asa, gadis itu menghempaskan tubuhnya keatas kasur kamar barunya yang pengap dan sempit, merasa malas membereskan kembali barang-barangnya.

“ Makanya kubilang, kita laporkan saja pada Doojoon appa!”sahut Bomi yang masih sibuk membantu Eunji menata buku-buku di meja belajar.

“ Andwae, Bomi-ah. aku tidak mau merepotkan orangtuamu..”

Eunji pasrah meski rasanya tak siap. Tadi pagi, saat selesai upacara pembukaan tahun ajaran baru, Eunji dipermalukan balik oleh Woohyun. Merasa sebagai president school yang bisa berbuat apapun sesuka hati, Woohyun menitahkan Eunji untuk pindah kamar ke lantai dasar asrama putra untuk tinggal disana sendirian. Jika tidak, Eunji diancam akan dikeluarkan dari sekolah.

Kamar baru Eunji benar-benar jauh dari kata layak, sebenarnya kamar itu adalah kamar cleaning service asrama putra yang sudah lama tak terpakai karena sang cleaning service pindah ke kamar lain. Terang saja,kamar tersebut memang sudah tidak memungkinkan lagi untuk dihuni. Pintunya sudah rusak dan tak bisa dikunci, kaca jendelanya pecah, kamar mandi yang tak berpintu, lemari dan meja belajar yang rapuh, tempat tidur yang sempit dengan matras sebagai kasurnya, tak ada fasilitas televisi, kulkas, ataupun pendingin ruangan, dan yang paling nampak adalah kotornya kamar tersebut karena sudah lama tak dihuni. Bomi dan Jiwon sampai bersimbah keringat membantu Eunji membersihkan kamar tersebut.

“ Tapi Woohyun sunbae memang sudah keterlaluan. Jika saja bisa aku ingin menghajarnya!”Jiwon buka suara, sejak tahu Eunji tengah menjadi sasaran kekejaman Woohyun, ia memang tak bisa tinggal diam. Hanya saja ia tak tahu apa yang harus ia lakukan mengingat ia adalah perempuan di sekolahnya. Andai saja ia bisa menampakkan diri sebagai Howon, ia tentu tak mengulur-ulur waktu lagi untuk menghabisi Woohyun yang telah berbuat sedemikian jahat terhadap Tuan Putrinya.

“ Hei, kau berani menghajar laki-laki? Woohyun sunbae bukan orang sembarangan, dia guru di kelas taekwondo. Kau mau mati?”sahut Bomi.

Dengan satu tusukan pedang kerajaan dia sudah bisa mati. Untuk apa aku takut?”ucap Jiwon dalam hatinya, ia memang membawa pedang kerajaan sebelum ke dunia nyata namun ia sembunyikan di tempat yang aman, pada awalnya pedang itu ingin ia gunakan untuk membunuh L atas perintah Madame Sunny tetapi tak jadi ia lakukan.

“ Sudahlah.. sudah terlanjur.”jawab Eunji menengahi dengan nada pasrah, ia pun kembali bangkit dan membereskan barang-barangnya yang belum ditata.

“ Annyeong.. belum selesai beres-beresnya?”

Eunji, Jiwon, dan Bomi kompak menoleh kearah pintu ketika seseorang datang dan berdiri disana, nampaknya hendak menawarkan diri untuk ikut membantu.

“ Chorong sunbae?”

“ Ya.. aku datang untuk mewakili Naeun, ia dilarang Woohyun untuk mengunjungi kamar ini. Jadi.. aku boleh ikut membantu?”

Ketiga gadis itu mengangguk, Chorong pun masuk dan memperhatikan setiap penjuru kamar dengan prihatin.

“ Tidak seharusnya kau tinggal disini, apalagi ini asrama putra. Woohyun memang sudah keterlaluan.. aku tak menyangka ia bisa setega ini padamu.”ucap Chorong, merasa iba pada Eunji. Eunji hanya mengangguk pelan.

“…kalau ada apa-apa, bilang saja padaku. Aku pasti datang dan membantumu.” kata Chorong lagi seraya memegang bahu Eunji, membuat Bomi beringsut mendekati Jiwon dan berbisik pelan.

 

“ Hei, kita harus jaga Eunji baik-baik dari Chorong sunbae..”bisik Bomi.

“ Memangnya kenapa?”tanya Jiwon tak mengerti.

“ Gosipnya nih ya.. aku dengar katanya Chorong sunbae itu penyuka sesama jenis.” Bomi semakin memperpelan suaranya agar tidak ketahuan.

Jiwon mengangkat kedua alisnya, terkejut.

“ Hei, kau serius? Dia kan sudah punya Woohyun sunbae, itu artinya dia normal kan?”

Bomi mengangkat bahunya, “ Mana kutahu. Yang jelas aku sering dengan gosip dari beberapa orang kalau Chorong sunbae itu lesbian..”

“ Ah, tidak mungkin.”

“ Terserah mau percaya atau tidak. Yang jelas kita harus menjaga jarak Eunji dan Chorong sunbae, aku takut Eunji jadi sasarannya. Eunji kan disukai banyak lelaki, bagaimana kalau pesonanya juga memikat Chorong sunbae?”

“ Yaa.. Yoon Bomi, berhenti bicara macam-macam.”

“ Aku hanya mengingatkanmu, Lee Jiwon.”

***

 

Night, 11.00 PM…

 

Eunji masih berguling-guling diatas tempat tidurnya, ia tak bisa tidur tenang. Selain tak betah dengan kamar barunya, banyak juga pikiran yang berputar-putar di kepalanya, mulai dari Naeun sampai D.O, yang seharian ini ia diamkan karena ia belum menjawab keinginan lelaki itu untuk menjadi kekasihnya.

Gadis itu mencoba memejamkan matanya, namun perasaan waswas mendadak menghampirinya saat ia ingat bahwa pintu kamarnya tak bisa dikunci. Ia takut siswa asrama putra memasuki kamarnya.

Dug..dug..dug..

Paranoid Eunji mulai memuncak ketika ia mendengar suara langkah kaki yang cukup keras di luar. Langkah kaki siapa gerangan itu? apa yang dilakukannya tengah malam begini?

Sebagai gadis yang punya keberanian besar, Eunji bangkit dan tempat tidurnya dan mencoba mengintip.

Langkah kaki itu berasal dari salah satu sunbaenya.

Lee Sungyeol.

 

“ Sedang apa dia?”pikir Eunji saat melihat Sungyeol nampak sedang membuka sebuah pintu tua yang letaknya tepat berada di depan pintu kamar Eunji. Eunji berpikir tempat itu adalah gudang, namun saat melihat seberkas cahaya dari dalam pintu tersebut, Eunji mulai berasumsi bahwa tempat itu sepertinya adalah ruangan penting bagi Sungyeol.

Dengan nekat, Eunji membuka pintu kamarnya, dengan langkah kecil keluar untuk mengintip isi ruangan tersebut.

“ Aigo! Aku baru tahu ada ruangan seperti ini..” Eunji terkejut ketika yang ia lihat pertama kali adalah tangga panjang yang tepat berada di mulut pintu. Ternyata pintu tua didepan kamarnya ini adalah akses menuju ruang bawah tanah.

Karena rasa penasaran yang semakin besar, Eunji mulai menuruni tangga tersebut dengan hati-hati, ia hanya ingin tahu ada apa di ruangan tersebut, dan mungkin..ingin tahu apa yang sedang Sungyeol lakukan.

 

“ Hei, apa kabar? Sudah lama aku tidak mengunjungimu. Aku sangat merindukanmu, kau juga merindukan aku kan?”

 

Setelah menyusuri lorong yang agak panjang dengan bantuan lampu remang-remang yang ada di ruang bawah tanah tersebut, Eunji mendengar suara Sungyeol dari balik tembok. Perkataan aneh Sungyeol membuat gadis itu semakin penasaran dan berniat untuk mengintip.

 

“…aku berada dibawah ancaman sekarang. Ia akan membunuhku jika aku membocorkan semuanya. Tapi selama kau masih ada bersamaku, aku masih bisa merasa tenang. Aku akan melindungimu. Aku mencintaimu..”

 

“ Dia bicara dengan siapa, sih? Kekasihnya? Atau..”Eunji mencoba mengintip sedikit demi sedikit hingga ia melihat Sungyeol yang tengah duduk membelakanginya.

Lelaki itu sedang berbicara dengan sesuatu yang terbaring didepannya. Sesekali mengelus sesuatu itu bahkan menciumnya.

Sesuatu itu..

“ Mayat…?”

 

_To be Continued_

Mari sama-sama mengucapkan ‘finally..~’ 😀

Bagaimana, readers? Panjang kan? Panjang dong 😀 apa masih kurang? Kekeke~ ini part terpanjang yang pernah author tulis karena author gak janji bisa update minggu depan, mulai besok author sudah mulai hiatus karena akan disibukkan dengan UTS, Try Out, dan lomba^^

Author akan kembali dengan kejutan baru di part 9. Akan tetapi update/tidaknya author tergantung pada berapa banyaknya RCL para readers untuk part ini. So, jangan jadi silent readers, author mengharapkan like dan comment yang banyak serta panjang, hehehe 😀

Sampai jumpa dia part 9, doakan author juga ya semoga UTS, Try Out, sama lomba yang author ikuti bisa berjalan dengan lancar 🙂 !

RCL juseyo !!! ~

 

Next >> Part 9 : Unpredictable

 

Advertisements

189 responses to “THE PORTAL [ Part 8 : The Hidden Truths ]

  1. Pingback: THE PORTAL 2 [Part 7 : Dream] | citrapertiwtiw·

  2. Pingback: THE PORTAL 2 [[PART 8 : Sacrifices [PRE-FINAL]] | FFindo·

  3. Pingback: THE PORTAL 2 [[PART 8 : Sacrifices [PRE-FINAL]] | citrapertiwtiw·

  4. Pingback: THE PORTAL 2 [Part 9 : The Real Ending] [FINAL] – FFindo·

  5. Pingback: THE PORTAL 2 [Part 9 : The Real Ending] [FINAL] [LATEPOST] | citrapertiwtiw·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s