[4 Season Series] Junie-L’s Story : Fall in L

Fall in L

Author :  Asuchi

Cast :

*) Kim Myungsoo [Infinite]

*) Choi Junhee [Juniel / Solo Singer]

Other Cast :

*) Choi Minhwan [FT Island]

*) Im Chaeri [OC]

Genre : AU, OOC, General, Angst

Rate : PG – 15

Disclaimer : I just own the plot and cover

a/n : akhirnya setelah ngutang cukup lama, setelah musim gugurnya mau berakhir, kelar juga ini ff :p maaf kalo misalnya feelnya kalah jauh sama yg Junhee side, soalnya.. Dibuat dgn ide minim (_ _”) last season dan utang saia lunas, semoga segera rilis.

HAPPY READING ^^

Aishita Season : Autumn, The Last Petals |Irresistable Lover |

Asuchi Season : Spring : Goodbye Days | Summer Rain |

 

.

“Myungsoo-ya.”

“Hmm…”

“Gwenchana?”

Myungsoo menatap ke satu arah. Tempat banyak pasang mata yang lain mengarah. Ke dua orang yang sedang mengucap janji setia di depan Tuhan. “Nan gwenchana.” Jawab Myungsoo kemudian.

“Igo.”

Myungsoo mengalihkan perhatiannya. Dia menatap orang yang dari tadi bertanya padanya, Choi Minhwan, temannya.

“Ige mwo?” Myungsoo bertanya dengan tampang bingung. Dia menerima sebuah CD dari Minhwan.

Minhwan memberikan senyuman sebelum dia menjawab. “Aku pikir perasaanmu akan sedikit lebih baik setelah mendengarnya.” Ekspresi Myungsoo makin terlihat bingung. Minhwan kembali memberikan senyumannya. “Lepaskan Chaeri noona. Kau harus mencari bahagiamu tanpa terus menatapnya. Banyak orang lain yang tanpa kau sadari menaruh hati padamu. Cobalah untuk mendapatkan salah satunya.” Ucap Minhwan sambil menepuk pundak Myungsoo.

Myungsoo hanya tersenyum kecil. “Gomawo.” Dia bicara. Myungsoo kembali menatap perempuan yang dengan mantap menjawab, ‘saya bersedia’ di depan Pendeta. Myungsoo sedang berusaha mengumpulkan perasaan patah hati agar dia bisa melanjutkan hidupnya tanpa harus selalu menatap Chaeri nanti.

.

.

Summer Flashback, One day Before Last Phone Call Myungsoo with Junhee…

“Ya Myungsoo-ya.” Chaeri menghampiri Myungsoo yang sedang duduk menunggu coffe latte pesanan dia.

“Wae?”

Chaeri tidak bicara, dia menunjukkan jari-jari tangannya sambil tersenyum lebar.

“Mwo?” Myungsoo bertanya lagi dengan tampang bingung.

Chaeri memainkan bibirnya kesal. “Masa kau tidak lihat cincin yang melingkar di jariku ini.” Ucapnya. “Sunggyu oppa, dia melamarku semalam. Dan kami akan menikah pertengahan musim gugur depan.” Terang Chaeri saat tahu Myungsoo sama sekali tidak punya ide soal cincinnya.

Myungsoo diam cukup lama. Menatap cincin yang melingkar di jari Chaeri dalam. Dia kemudian tersenyum miris. “Chukkae.” Dia bicara. “Tapi noona, apa noona yakin akan menikah dengan Sunggyu hyung eoh? Noona dan hyung masih suka bertengkar untuk hal-hal sepele.” Dia bertanya. Berharap ada keraguan di diri Chaeri setelah mendengar pertanyaan darinya.

Sebuah gelengan yang Chaeri berikan. “Aku sangat yakin. Dia memang namja yang aku inginkan untuk jadi teman hidup.” Jawabnya mantap.

Chaeri tidak tahu. Banyak hari Myungsoo lewatkan dengan sakit hati melihat Chaeri-Sunggyu. Banyak hari Myungsoo meyakinkan diri kalau dia punya kesempatan. Banyak hari Myungsoo berharap akan ada waktu dimana Chaeri bisa menatapnya, melihat cinta yang dia punya untuknya. Tapi sekarang, sematan cincin di jari Chaeri jadi bukti kalau harapan Myungsoo sia-sia.

“Noona yakin eoh?” Myungsoo bertanya lagi. “Terakhir kali, noona sampai memohon, memaksaku menemani noona. Noona bahkan membuatku membatalkan pertemuanku dengan teman.”

“Mianhae untuk yang waktu itu.” Chaeri memperlihatkan rasa bersalahnya. “Tapi kau tidak perlu khawatir. Aku sudah sangat yakin sekarang. Aku tidak akan menyusahkanmu lain kali. Kau bisa bertemu dengan, siapa namanya? Ah, Junhee. Kau bisa bertemu Junhee tanpa rengekanku. Aku janji.” Lanjutnya lengkap dengan senyum janjinya.

Myungsoo mendesah sangat pelan. Chaeri benar-benar mematahkan perasaanya. Dan yang paling tidak menyenangkan, Myungsoo harus sekuat tenaga berusaha menyembunyikan perasaannya.

Flashback end

.

.

Myungsoo membolak-balik CD yang dia dapat dari Minhwan. Sama sekali tidak ada petunjuk soal isi CD tersebut.

“Aku pikir perasaanmu akan sedikit lebih baik setelah mendengarnya.” Ucapan Minhwan berputar begitu saja di pikiran Myungsoo.

Myungsoo memasukkan CD itu ke dalam CD Player dan memutarnya dengan rasa penasaran.

‘Ehm.. Myungsoo oppa, na ya.’

Myungsoo hafal suara orang yang bicara itu, Choi Junhee.

‘Juni-chan, ganbatte!’

‘Junhee-ya, aku akan urus Shida. Kau lanjutkan saja.’

Myungsoo tersenyum mendengar kegaduhan dari dalam CD itu. Dia bisa membayangkan saat Junhee sedang merekam suaranya dan Shida tiba-tiba berteriak dari balik pintu. Kemudian Taeri menyeret Shida pergi.

‘Ukh, aku harus menghapus bagian ini nanti.’

Myungsoo mencoba mendengarkan lebih jeli. Dia penasaran dengan apa yang akan Junhee ucapkan. Isi CD itu jelas adalah untuknya. Myungsoo baru sadar, dia tidak bisa memenuhi janjinya pada Junhee musim panas kemarin.

‘Ehm… Myungsoo oppa, na ya. Hm, oppa apa kabar? …… Ukh, aku bingung harus bicara apa…….. Oppa dengarkan saja ini, lagu yang aku buat untuk oppa. Maaf, aku membuatnya dalam bahasa jepang. Karena di Jepang, semuanya dimulai.’

Myungsoo menaikkan kedua alisnya. Dia tidak mendengar suara Junhee setelah itu. Tapi dia tahu kalau Junhee masih merekam, terdengar suara di sekitar Junhee saat rekaman itu dibuat.

Jreengg…

Myungsoo mendengar petikan gitar.

Intro berjalan. Dan kemudian, Myungsoo mendengar suara lembut Junhee mengalun.

Juniel - Falling in Love

Juniel – Falling in Love

Suara nyanyian berhenti dilanjut dengan sunyi seperti sebelumnya.

Myungsoo oppa. Aku minta maaf karena tidak bisa mengatakan perasaanku langsung. Aku terlalu malu untuk melakukannya. Myungsoo oppa, nan neol saranghae.’

Myungsoo hanya diam. Dia terus diam meski tahu kalau isi rekaman itu sudah habis. Dia menatap kosong sekitarnya. Dia merasa buruk.

.

.

“Aku menemukannya di atas meja di kamar Junhee. Kupikir itu kumpulan lagu-lagu yang dibuat Junhee, makanya aku meminjamnya. Meski tanpa ijin karena dia sudah kembali ke Jepang saat aku berkunjung. Ternyata, itu untukmu. Maaf karena sudah mendengarnya lebih dulu.”

Myungsoo menatap Minhwan, mendengarkan penjelasan yang diberikan oleh temannya itu.

Minhwan memberikan senyumannya. “Aku memberikannya padamu karena kupikir dia tidak sempat memberikan CD itu langsung.” Ucapnya sambil menepuk pundak Myungsoo. “Bersenanglah. Kau menemukan satu yeoja yang menyukaimu.” Lanjutnya.

Myungsoo memasang wajah suram. Dia menunduk.

“Wae?” Minhwan bertanya sambil bingung.

“Aku sudah membuat Junhee patah hati.” Ucap Myungsoo.

“Maksudmu?” Minhwan bertanya lagi, masih bingung.

“Aku yakin Junhee menganggap Chaeri noona adalah pacarku. Aku membuat kesan seperti itu saat pertemuan kami musim panas lalu.” Terang Myungsoo.

Mereka berdua sama-sama diam. Minhwan tidak tahu harus bicara apa. Dia tidak tahu soal itu. Myungsoo, pikirannya kembali kalut seperti setelah dia mendengar rekaman dari Junhee.

Helaan nafas panjang keluar dari mulut Minhwan. “Kalau begitu. Aku tidak bisa berkomentar apapun.” Ucapnya setelah sekian lama bungkam. “Dia memang sepupuku, tapi aku hanya sepupunya. Kau tenang saja, aku tidak akan berubah sikap padamu.” Kata Minhwan.

“Mianhae.”

.

.

Musim gugur sudah hampir berakhir. Cuaca di luar sudah mulai mendingin dan pemanas ruangan sudah diminati oleh kebanyakan orang. Myungsoo menikmati cuaca dingin di sekitarnya. Dengan kamera yang menggantung di leher, Myungsoo berjalan menyusuri taman kota. Dia sedang ingin mengabadikan apa yang dia lihat di taman itu.

“Ne eomma, aku sedang mencari udara segar. Setelah aku merasa baik, aku akan langsung berangkat kesana.”

Perhatian Myungsoo beralih pada seseorang yang duduk di bangku taman yang akan dia lewati. Seorang gadis yang dia kenal sedang duduk di sana. Myungsoo buru-buru berbalik. Dia merasa tidak ingin keberadaannya diketahui.

“Myungsoo oppa?”

Degg…

Myungsoo berbalik dengan sedikit kaku. “Oh, Junhee-ya. Annyeong.” Ucapnya sambil mengangkat sebelah tangannya, dengan sedikit senyum memaksa.

Junhee memberikan senyumannya, dia berjalan menghampiri Myungsoo. “Annyeong haseyo. Ternyata benar oppa. Oppa mau memotret eoh?” Dia bertanya.

Perasaan Myungsoo sedikit terusik dengan sikap Junhee. Perempuan di depannya itu bersikap sangat normal, terlalu normal untuk berhadapan dengan seorang laki-laki yang menolaknya. Meski tidak secara langsung.

Myungsoo kemudian mengangguk sebagai jawaban. “Kau… Pulang dari Jepang?”

“Ne. Appa dirawat di rumah sakit. Aku pulang karena tidak tenang.” Junhee menjawab. “”ku istirahat di sini sebelum pergi menjenguk appa.” Terangnya.

Tebakan Myungsoo, Junhee terlalu memikirkan ayahnya. Dia lupa dengan perasaannya pada Myungsoo atau Junhee sudah berhasil melewati masa patah hatinya. Myungsoo bingung. Dia sadar kalau Junhee tidak tahu kalau dia sudah tahu perasaan Junhee padanya. Myungsoo tidak tahu sikap mana yang harus dia tunjukkan pada Junhee.

“Kalau begitu, aku pergi dulu ya oppa. Eomma pasti menungguku.” Pamit Junhee.

Junhee setengah membungkuk di depan Myungsoo. Meski pembicaraan mereka masih terdengar akrab, tapi Junhee bersikap lebih sopan pada Myungsoo. Tidak seperti sebelumnya.

“Oppa wae?” Tanya Junhee.

Mata Myungsoo menatap ke arah tangannya. Tangan yang tanpa sadar sudah berada di lengan Junhee, menahan gadis itu untuk pergi. “Oh, anni. Mianhae.” Ucap Myungsoo gugup.

Junhee menatap Myungsoo dengan penuh selidik. Tapi kemudian dia kembali berjalan begitu Myungsoo melepaskan lengannya.

“Junhee-ya!” Myungsoo memanggil Junhee yang sudah berjalan beberapa langkah. “Oppa antar ya. Oppa bawa motor kemari.” Tawar Myungsoo begitu Junhee berbalik.

Sebuah gelengan jadi jawaban Junhee. “Aku tidak ingin membuat pacar oppa salah paham.” Ucapnya.

Entah kenapa, Myungsoo merasa sangat tidak enak mendengar jawaban yang diberikan Junhee. Hatinya terasa ada yang menggelitik. Tapi tidak menyenangkan.

“Choi Junhee!” Myungsoo memanggil Junhee lagi, dengan suara yang agak keras karena Junhee sudah kembali berjalan beberapa langkah. “Dia bukan pacarku. Aku menyukainya sepihak. Dia tidak pernah membalas perasaanku karena dia tidak pernah tahu. Dan sekarang, aku sedang berusaha untuk melupakan perasaanku padanya. Aku sama sekali tidak punya pacar.” Myungsoo berjalan terus mendekati Junhee. Suaranya mulanya cukup keras, memelan seiring semakin kecil jarak dia dengan Junhee. “Aku, ingin kau tahu itu. Kalau begitu, hati-hati di jalan. Semoga appamu bisa cepat sembuh.” Lanjutnya dengan wajah sedikit memerah dan gugup kembali mendominasinya.

Tanpa cermin pun Myungsoo tahu, dia sudah memberikan senyuman dia yang biasa. Senyuman yang sering Junhee lihat saat mereka berada di Jepang. Senyuman yang sejak musim panas lalu Myungsoo lupakan karena Im Chaeri.

“Aah. Ne. Gomawo oppa.” Junhee terlihat bingung saat mengatakannya.

Myungsoo kembali tersenyum. “Kalau kau masih ada waktu, bisakah kita bertemu? Sebelum kau kembali ke Jepang. Oppa janji, kali ini tidak akan membatalkannya.” Ucapnya.

Junhee masih terlihat bingung. Tapi dia kemudian mengangguk. “Ne.” Ucapnya pelan.

Myungsoo menatap punggung Junhee sampai benar-benar tak terlihat oleh kedua matanya. Dia tersenyum. Myungsoo memasang headset ponselnya. Mendengarkan satu lagu yang dia suka akhir-akhir ini.

Suara Junhee mengalun dengan indah di gendang telinga Myungsoo. Myungsoo berbalik melanjutkan tujuannya mencari spot yang bagus untuk dia potret. Perasaannya terasa sangat nyaman. Lebih nyaman sejak beberapa tahun terakhir.

Myungsoo baru menyadari, kalau jatuh cinta itu sangat mudah dan bisa juga menjadi sesuatu yang indah.

-Autumn Story end-

30 responses to “[4 Season Series] Junie-L’s Story : Fall in L

  1. author kok belum dilanjut sih.. udah mau winter lagi nih.. gk kasian apa hubungan mereka (Junie-L) jadi gantung gitu.. 😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s