Lucky – Part 6

 

BVy4KrdIUAAMjwN

Previous: Part 1| Part 2| Part 3| Part 4| Part 5|

Cast: Kim Jongin | Kang Ji-Kyung (Oc) | Park Chanyeol | Park Young-Geun| etc

Disclaimer: Fanfic ini terinspirasi dari sebuah anime yang judulnya aku lupa. ._.v cuman dibeberapa bagian ada scene yang sama, tapi kesananya itu hasil imajinasiku. ^^

Warning: Typo, cerita gaje, dan kekurangan yang lainnya. Maaf kalau ada yang tidak suka. DON’T LIKE DON’T READ!

Poster belongs to my friend, Icha. Thanks a lot, babe.

Story

“Aku menang.” Suara berat yang keluar dari bibir seorang pemuda jangkung yang baru saja memasukan bola basket ke dalam ring itu membuat mata Younggeun terbelalak karena tidak percaya.

Jadi ia…kalah?

Gadis itu lalu mengalihkan perhatiannya pada sosok Park Chanyeol yang tengah berjalan kearahnya dengan seringaian puas yang terpampang jelas di wajahnya yang tampan. Younggeun masih diam tidak bergerak, meskipun pemuda itu sudah berada kurang dari tiga puluh senti di hadapannya.

“Kau kalah. Jadi?” Chanyeol sengaja menggantungkan perkataannya. Ia menatap lamat-lamat wajah gadis yang berada di hadapannya, mencoba menilai ekspresi yang ditunjukan gadis itu.

Chanyeol sudah tahu dari awal ia akan menang, hanya saja ia tetap mengajukan tantangan itu pada Younggeun hanya untuk melihat reaksi gadis itu. Tapi ia tidak menyangka kalau Younggeun akan menyetujui tantangannya semudah itu.

“Hmm…” Gumam Younggeun, mengangguk membenarkan. Gadis itu lalu meneguk ludahnya dengan susah payah.

Apakah benar ia harus menjadi kekasih Park Chanyeol? Seharusnya ia sudah siap menerima konsekuensi atas kekalahannya, tapi kenapa ada setitik rasa ragu yang menyelimutinya. Membuatnya ingin mundur dan mengatakan pada Chanyeol untuk melupakan tantangan ini. melupakan semua kesepakatan yang mereka setujui sebelum tantangan tadi dimulai. Tapi kalau ia benar-benar melakukan semua itu, ia akan menjadi gadis pengecut.

Dan Younggeun benci menjadi seorang pengecut.

“Kesepakatan tetaplah kesepakatan. Aku kalah. Aku…,” Younggeun menggerakan bola matanya menatap pemuda itu, ia mencoba untuk memberanikan dirinya, “…akan menjadi kekasihmu.”

Tanpa disangka-sangka, Chanyeol malah mendengus keras dan balas menatap gadis di hadapannya dengan tatapan tak terbaca, “Sudahlah, lupakan. Aku bercanda ketika aku ingin menjadi kekasihmu.”

Chanyeol berbohong, ia tahu itu. Ia serius ketika meminta Younggeun menjadi kekasihnya. Tapi begitu melihat keraguan di bola mata Younggeun, saat itu juga Chanyeol tahu ia tidak berhak memaksa.

Gadis itu tidak mencintainya.

Menghela napas pelan, Chanyeol membalikan badannya hendak berjalan pergi. Tapi baru dua langkah ia melangkah, ada sebuah tangan yang mencengkram ujung kemeja sekolahnya membuat langkahnya seketika terhenti.

“Jangan pergi.” Younggeun berucap pelan. Ia tidak bodoh untuk tidak menyadari kalau sudah lama sekali Chanyeol tertarik padanya, menyukainya. Tapi ia mengabaikan semua itu, selama ini ia terlalu terfokus pada sosok Kim Jongin, berusaha keras untuk membuat sahabatnya itu menoleh padanya dan menyadari perasaannya tanpa pernah sekalipun mempedulikan kalau ada orang lain yang menyukainya.

“Aku akan berusaha.”

Ya, Younggeun akan berusaha mencoba untuk balas menyukai pemuda itu. Chanyeol orang yang menyenangkan, dia selalu bisa membuatnya tertawa. Selain itu, Chanyeol pemuda yang tampan, termasuk salah satu orang yang menjadi ‘most wanted’ di sekolah ini. plus, bukankah pemuda itu menyukainya? Seharusnya tidak sulit untuk jatuh cinta pada Park Chanyeol, bukan?

“Tapi, kau—“

“Ssshh, aku serius dengan ucapanku. Aku akan berusaha, okay? Kau bisa memegang perkataanku.”

Chanyeol terdiam selama beberapa saat, menatap mata gadis itu dalam-dalam mencari kebenaran dari kata-kata yang diucapkannya, dan setelah ia menemukannya ia tidak bisa menahan dirinya untuk tersenyum lebar.

“Yeah,” Senyuman Chanyeol semakin melebar, Ia kemudian menangkup wajah Younggeun menggunakan kedua telapak tangannya yang besar dan juga hangat, “Akan kupastikan kalau kau akan segera jatuh cinta padaku.” Yakinnya.

Gadis itu memutar kedua bola matanya, “Oh ya? Kita lihat saja nanti.”

***

“Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau—“

Kai mendengus dan mematikan sambungan telfonnya sebelum suara operator wanita itu menyelesaikan kalimatnya. Ia lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang, menatap tajam layar ponselnya berharap hanya dengan menatapnya benda tipis itu akan terbelah dua. Hah. Konyol.

Pemuda itu lalu menghempaskan tubuhnya di atas ranjangnya, menatap langit-langit kamarnya dengan pandangan menerawang. Ia tidak tahu kesalah apa yang (mungkin) telah ia perbuat sehingga membuat sahabat dari kecilnya itu menjaga jarak dengannya.

Selama beberapa minggun ini Kai selalu bertanya-tanya ada apa sebenarnya dengan Park Younggeun. Kenapa Kai merasa gadis itu menghindarinya. Apa ia sudah melakukan kesalahan yang membuat gadis itu marah padanya? Tapi kesalahan apa yang sudah ia lakukan?

Seberapa keraspun ia berusaha untuk mengingat kesalahan apa yang pernah dilakukannya pada Younggeun, tapi sejauh ia mencoba menggali kenangan dari memori otaknya tidak ada satupun hal yang ia rasa salah.

Apa Younggeun marah karena sering kali Ia pukul? –Demi Tuhan, bukankah dari kecil mereka sudah saling memukul, bahkan gadis itulah yang lebih banyak memukulnya dengan tenaga yang membuatnya sering kali meringis mempertanyakan apa semua gadis memiliki kemampuan untuk memukul seseorang sekeras itu?

Atau apakah Younggeun marah hanya karena ia sering kali mengejeknya? –Tidak masuk akal, sudah jelas kalau gadis itulah yang sering bahkan tiap detik tidak pernah melewatkan waktu untuk mengejeknya.

Lalu kalau begitu apa kesalahannya?

“Haisshh!” Kai mendesis, mengacak rambutnya frustasi. Ia benar-benar tidak bisa menemukan penyebab kenapa gadis itu menjauhinya.

Menghela napas berat, Kai bangkit berdiri lalu menyambar kunci motornya dengan cepat. Kalau seperti ini, satu-satunya cara hanya menemui orang yang bersangkutan secara langsung.

***

“Maaf Jongin-a, Younggeun menolak untuk bertemu denganmu.”

Pernyataan yang baru saja diucapkan oleh nyonya Park –ibu Younggeun membuatnya tidak bisa menahan desahan kecewa meluncur cepat dari bibirnya.

Sesuatu pasti telah terjadi dan Kai tidak tahu itu.

“Baiklah kalau begitu, terimakasih ahjeommonim.” Kai menundukan kepalanya, memaksakan seulas senyum untuk perempuan paruh baya itu.

“Apa kalian bertengkar? Atau ahjeomma paksa saja Younggeun untuk menemuimu?” Tanya nyonya Park dengan nada khawatir, sebelumnya perempuan itu belum pernah melihat anaknya menolak ketika ia mengatakan bahwa Jongin ingin menemuinya.

Biasanya Younggeun akan selalu bersemangat, dan dengan langkah cepat menuruni tangga rumah mereka untuk segera menemui pemuda itu.

“Tidak, tidak perlu ahjeommonim. Hubungan kami baik-baik saja, tidak perlu cemas.” Sekali lagi pemuda itu menyunggingkan senyuman kecil, pamit pergi, tapi sebelum itu ia menyempatkan diri untuk mendongak kearah jendela yang tertutup tirai. Menatap kamar Younggeun.

Menghela napas berat entah untuk yang keberapa kalinya, Kai kemudian melajukan motornya menjauhi rumah dimana sahabat kecilnya itu tinggal.

Di lain tempat, Younggeun yang dari tadi mengintip dibalik jendela mendengus ketika melihat Kai akhirnya pergi dari rumahnya. Ia kemudian berbalik dan duduk di kursi belajarnya. Ia tidak bermaksud menolak Kai, hanya saja ia perlu waktu sendiri untuk menata kembali hatinya dan mencoba untuk menghilangkan perasaan suka itu dari dalam hatinya.

Akan menjadi hal yang sia-sia kalau Kai berada disekelilingnya. Lagipula ada seseorang di sampingnya sekarang, seseorang yang dengan sabar mendengarkan keluh kesahnya, mencoba menghiburnya ketika ia benar-benar terjatuh.

Tanpa sadar bibirnya melengkung membentuk senyuman manis. Lalu dengan gerakan cepat, tangannya mengambil ponselnya yang tergeletak begitu saja di sampingnya. Younggeun menekan beberapa kombinasi angka, lalu menempelkan benda tipis itu ke telinga kanannya.

“Hmm?”

Younggeun tergelak, ketika gumaman tak jelas lah yang ia dengar untuk pertama kalinya ketika sambungan terhubung.

“Sepertinya aku mengganggu tidurmu, aku tutup—“ Belum sempat gadis itu menyelesaikan kalimatnya, ia mendengar suara debumam keras dan geraman tertahan lalu disusul oleh erangan kesakitan.

Ups. Sepertinya Park Chanyeol baru saja terjatuh dari kasur.

“Tidak…uh…jangan tutup telponnya. Kau tidak mengganggu, aku sudah bangun sekarang.”

Younggeun benar-benar tidak bisa menahan kekehan gelinya dan beberapa detik kemudian ia tersenyum tulus pada pemuda itu. Tidak menyangka sekaligus terharu ketika Chanyeol sampai memaksakan dirinya untuk terbangun dari tidurnya hanya karena tidak ingin memutuskan sambungan telpon mereka.

Ah, tapi sayang Chanyeol tidak bisa melihat senyuman itu.

Untuk sesaat suasana hening menyelimuti mereka berdua, sampai suara deheman Chanyeol menginterupsi keterdiaman mereka, “Ada apa?”

Younggeun meringis, kenapa pemuda itu selalu bisa tahu apa yang tengah mengganggunya. Apa Park Chanyeol seorang cenayang?

Gadis itu menggigit bibirnya ragu, apakah ia perlu menceritakan padanya apa yang mengganggu pikirannya sekarang?

“Tugas pertamaku sebagai kekasihmu adalah mendengar hal apa yang sedang mengganggumu. Jadi ceritakan apa masalahmu miss, konsultan Chanyeol disini.” Suara lembut dan tenang yang dikeluarkan Chanyeol membuat Younggeun yakin untuk menceritakan semuanya.

Dan mulailah gadis itu bercerita, menceritakan tentang bagaimana dengan tiba-tiba Kai datang ke rumahnya dan bagaimana dirinya menolak pada Ibunya untuk menemui pemuda itu. Ia bersyukur mempunyai Park Chanyeol disampingnya.

***

Sekali lagi Kang Jikyung memperhatikan penampilannya di depan cermin, dalam kaca besar itu ia bisa melihat gadis di hadapannya tengah tersenyum manis dengan seragam sekolah yang sudah melekat sempurna di tubuhnya. Sudah siap untuk berangkat sekolah.

Jikyung juga bisa melihat kalau gadis dalam cermin itu terlihat…bahagia.

Ia bahagia?

Jikyung bergeming, kapan terakhir kali ia merasakan perasaannya begitu ringan dan juga bahagia? Satu tahun yang lalu, dua, tiga, empat…Jikyung tidak tahu. Rasanya sudah sangat lama sekali, dan ketika perasaan itu perlahan mulai hadir di hatinya, ia merasa sangat nyaman. Perasaan dimana tidak ada lagi rasa bersalah, tertekan, beban, tanggung jawab dan tuntutan.

Itu semua berkat Kai atau Kim Jongin, penyelamatnya.

Disadari atau tidak oleh pemuda itu, Kai adalah penyelamatnya. Orang yang bersedia mengulurkan tangannya untuk menariknya keluar dari dunia kesendirian, dan memperlihatkan hal-hal menyenangkan yang sudah lama hilang dari hidupnya dan orang yang perlahan mengembalikan senyumannya lagi.

Ya, itu semua karena keberadaan Kim Jongin-nya.

Jongin-nya?

Bolehkah untuk sekali ini saja ia bersikap egois dengan mengklaim pemuda itu sebagai miliknya? Kekasihnya?

Tersenyum untuk terakhir kalinya pada cermin besar di hadapannya, Jikyung menyambar tas sekolahnya dan dengan tergesa keluar dari kamarnya, berjalan terburu-buru menuruni tangga bahkan Ia sampai melompati dua anak tangga sekaligus hanya agar bisa cepat sampai di bawah.

Senyuman lebar tak pernah lepas dari bibirnya. Ia merasa sangat senang pagi ini terutama ketika…

“Selamat pagi nona…”

Jikyung menghentikan langkahnya, melihat Go ajussi sudah siap untuk mengantarnya pergi sekolah seperti biasanya. Supir keluarganya itu tersenyum ramah menyambut kedatangan yang dibalas Jikyung dengan sebuah senyuman yang tak kalah ramahnya dan juga tulus.

Untuk sesaat Go ajussi terlihat terhenyak mendapat balasan senyuman dari nona mudanya, biasanya Jikyung hanya akan membalasnya dengan tatapan datar yang kosong atau maksimal senyum tipis yang bahkan tidak sampai ke matanya. Tapi apa yang dilihatnya pagi ini, nona mudanya tersenyum hangat. Hangat. Dan entah kenapa supir yang sudah bekerja selama dua puluh tahun lebih di keluarga ini sangat merindukan senyuman itu sekaligus sangat bersyukur senyuman itu kembali hadir.

“Selamat pagi ajussi.” Balas Jikyung, astaga, betapa dirinya merindukan sosok hangat majikan mudanya.

“Kita berangkat sekarang nona?” Tawar Go ajussi, membukakan pintu penumpang mempersilahkan Jikyung untuk masuk. Alih-alih melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam mobil, Jikyung malah menggelengkan kepalanya.

“Hari ini ajussi tidak perlu mengantarku.” Tolak Jikyung halus yang langsung membuat kerutan samar di kening Go ajussi.

“Kenapa?”

Jikyung tersenyum, “Karena hari ini…umm…temanku akan menjemputku.” Jikyung masih belum bisa mengakui Kai sebagai kekasihnya pada orang-orang yang terlibat dengan orang tuanya, maksudnya orang-orang yang berada dekat dilingkungan rumahnya. Walaupun ia sangat ingin mengatakan pada semua orang bahwa ia telah mempunyai kekasih. Seseorang yang benar-benar peduli padanya dan juga menyayanginya.

Untuk beberapa saat Go ajussi menatap Jikyung, tersenyum begitu melihat binar kebahagiaan disorot matanya ketika gadis itu membicarakan ‘temannya’ dan saat itu juga ia paham bukan hanya sekedar ‘teman’ yang Jikyung bicarakan.

Nona mudanya sedang jatuh cinta.

“Baiklah.” Angguk Go ajussi terlampau semangat.

“Gomawo ajussi.” Jikyung hampir saja tidak bisa mengendalikan dirinya untuk memekik senang.

Go ajussi tersenyum geli, sungguh sangat bersyukur sifat asli Jikyung sedikit demi sedikit mulai kembali. Ia masih mengawasi kepergian Jikyung sampai sebelah alisnya terangkat ketika melihat gadis itu menghentikan langkahnya dan sedetik kemudian menolehkan kepalanya menatap dirinya.

“Aku mohon ajussi, jangan katakan pada appa dan juga oemma kalau aku berangkat sekolah bersama temanku.” Ada nada ketakutan dan juga kecemasan dalam suaranya, dan seketika hati Go ajussi terenyuh melihat ekspresi takut itu hadir di wajah cantik nona yang sangat disayanginya.

Dengan senyuman menenangkan Ia berkata, “Tenang saja nona, saya tidak akan mengatakan tentang ini pada Tuan dan Nyonya.” Janjinya.

Tanpa Jikyung harus mengatakannya pun ia tidak berniat melaporkan masalah ini pada majikan besarnya. Demi mempertahankan senyuman bahagia itu selalu hadir di wajah nona mudanya, Ia rela untuk menyembunyikan hal kecil ini.

“Gomawo ajussi.” Ekspresi sedih itu dengan cepat berganti dengan senyuman berseri-seri, Jikyung kemudian membalikan badannya dan kembali melanjutkan langkahnya.

Go ajussi tersenyum miris, Ia salah satu orang yang tahu alasan dibalik perubahan drastis nona mudanya yang awalnya adalah gadis kecil ceria penuh senyuman menjadi sosok gadis yang dingin, datar, dan penuh kekosongan. Ia tahu dengan sangat jelas, ia masih saja tidak menyangka kalau Tuan besar dan Nyonya besarnya masih menyalahkan Jikyung dengan perbuatan yang tidak sengaja dilakukannya.

Mereka menuntut dan memaksa Jikyung untuk menjadi sempurna. Dan dirinya tahu tidak ada yang sempurna di dunia ini.

Gadis malang.

***

Beberapa kali Kai melirik tidak sabar kearah gerbang tinggi di hadapannya yang masih tertutup rapat, belum mau terbuka. Berharap sosok yang sangat dinantinya itu keluar dan menghampirinya.

Dan beberapa saat kemudian harapannya benar-benar terwujud ketika pintu gerbang itu terbuka dan menampakan sosok Jikyung yang tengah tersenyum kemudian berjalan kearahnya.

Kai menegakan tubuhnya yang bersandar di motor sportnya, melambaikan tangannya menyambut kedatangan gadis itu, ia tidak mengerti kenapa dirinya begitu antusias hanya karena melihat sosok Jikyung.

“Hai.” Ia menyapa terlebih dahulu. Kai tahu seharusnya bukan sapaan ‘hai’ yang ia ucapkan, tapi ‘selamat pagi’ untuk saat ini pikirannya benar-benar blank dan hanya sosok gadis itulah yang memenuhi semua ruang di otaknya. Ini terdengar gila memang, tapi itulah kenyataannya.

Kim Jongin sudah jatuh terlalu dalam pada pesona Kang Jikyung.

Menghembuskan napas pelan, Kai mengambil helm diatas jok motornya dan kemudian memasangkan helm itu di kepala Jikyung. Kai lalu membungkukan sedikit tubuhnya untuk mensejajari kepalanya dengan kepala gadis itu, hanya untuk membuat pandangan mereka sejajar.

Kemudian pemuda itu menyunggingkan senyuman paling manis juga mempesona yang ia miliki hanya untuk Kang Jikyung. Seorang.

Dan hasilnya? Sesuai harapannya, pipi gadis itu memerah dan mencoba berkali-kali untuk mengalihkan tatapan dari dirinya. Dan Kai tidak membiarkan hal itu, melihat Jikyung tersipu malu seperti itu adalah tontonan yang sangat menarik dan sayang kalau dilewatkan.

“Jangan menatapku dengan senyuman seperti itu terlalu lama.” Ringis Jikyung.

Kai mengangkat sebelah alisnya, “Senyuman seperti itu apa?” Godanya.

“Yah senyuman…jenis senyuman yang membuat perempuan terpesona.” Aku Jikyung dengan suara pelan.

Gotcha. Kai menyeringai kecil, “Aku tidak mendengarnya, bisa kau ulangi?”

“Kai-ssi…” Rengek Jikyung tanpa sadar. Malu.

Kai tidak bisa menghentikan dirinya untuk terkekeh geli, betapa ekspresi yang ditampilkan Kang Jikyung sekarang sangat menggemaskan.

“Kau tahu, Jikyung?”

“Apa?”

“Aku ingin menciummu.”

“Kai-ssi!” Geram Jikyung dengan pipi memerah bagaikan kepeting rebus, dan untuk kedua kalinya Kai terkekeh tapi kali ini dengan refleks ia memeluk tubuh mungil di hadapannya.

“Aigoo~ gadisku.” Laki-laki itu mengusap kepala kekasihnya sayang, mendekapnya semakin erat tidak menyadari kalau sekarang tubuh gadis itu menegang kaku.

Kai berbicara apa tadi? Gadisku?

Tanpa sadar Kang Jikyung tersenyum lembut merasa senang bahwa Kai mengklaim dirinya. Dengan ragu, ia menggerakan kedua tangannya untuk balas memeluk tubuh yang lebih besar darinya itu. Perasaan hangat itu menyebar dengan cepat di dadanya.

“Terimakasih Kim Jongin…”

***

Sekarang Kang Jikyung mengerti bagaimana perasaan seorang gadis yang sedang jatuh cinta. Perasaan dimana seorang gadis sudah tidak sabar untuk bertemu lagi dengan laki-laki yang dicintainya, perasaan dimana seorang gadis sudah sangat merindukan laki-laki yang dicintainya, walaupun tadi pagi mereka baru saja bertemu.

Ya, perasaan-perasaan semacam itulah yang kini tengah Jikyung rasakan untuk Kai. Ia tidak sabar ingin bertemu lagi dengan pemuda itu.

Maka disinilah Jikyung sekarang, memberanikan diri mendatangi lapangan basket indoor hanya untuk bertemu pemuda itu. Terdengar sangat nekat, dan bukan kebiasaan Kang Jikyung untuk mendatangi seseorang, apalagi seorang laki-laki. Ia juga tidak mengerti apa yang sedang terjadi dengan dirinya, melakukan tindakan-tindakan di luar kebiasaannya.

Jikyung menghentikan langkahnya begitu telinganya menangkap suara-suara yang tengah berdebat atau…bertengkar? dan Jikyung mengenali salah satu pemilik dari suara-suara itu.

Itu suara Kai.

Dengan langkah pelan Jikyung mendekat masuk ke dalam ruangan, dan memang benar suara itu milik Kai. Ia bisa melihat pemuda itu tengah berbicara serius dengan seorang gadis di tengah lapangan. Jikyung mencoba mengingat-ingat pemilik wajah itu, ketika ia mengenali wajah itu sebagai Park Younggeun sahabat Kai, Jikyung langsung tersenyum dan berniat untuk berjalan mendekati mereka. Sudah lama sekali ia ingin berkenalan dengan gadis itu.

Tapi belum sempat ia sampai di tempat tujuannya, langkahnya langsung terhenti begitu mendengar pernyataan mengejutkan yang keluar dari mulut Younggeun.

“Kau bertanya apa salahmu? Dan kenapa aku menjauhimu? Kau ingin tahu Kim Jongin?” Jikyung bisa melihat mata Younggeun berkaca-kaca, gadis itu menggertakan giginya sesaat, “KARENA AKU MENYUKAIMU, KAI!! AKU MENYUKAIMU DARI DULU!”

Bukan hanya Kai yang terkejut, tapi juga Jikyung yang belum mereka sadari keberadaannya. Lutut Jikyung bergetar dengan mata yang terbelalak menatap mereka berdua.

“Apa?” Kai setengah bergumam tidak percaya, ia hanya bisa membuka mulutnya bingung.

“Sudah kuduga kau akan terkejut.” Younggeun tertawa sinis, menatap Kai yang hanya bisa diam terpaku dengan wajah pucat.

“Youngie…” Kai berusaha berucap di tengah tenggorokannya yang terasa tercekat. Tapi sebelum ia bisa berbicara lebih jauh, Younggeun mengangkat tangannya menginterupsi.

“Kau tidak pernah melihatku benar-benar sebagai perempuan, kau hanya melihatku sebagai teman kecilmu, sahabat baikmu. Itulah hal yang menyebabkan kau tidak pernah peka dan tidak menyadari perasaanku selama ini, bahwa aku disini, menunggumu untuk dilihat!” Younggeun menggigit bibir bawahnya keras, ia sudah terlanjur mengungkapkan perasaan yang sebenarnya kenapa tidak sekalian saja ia mengungkapkan semuanya. Ia hanya ingin membuat perasaannya sedikit lebih ringan.

Kai masih terdiam membisu tidak sanggup mengeluarkan suara sepatah katapun. Mencoba mencerna semua perkataan mengejutkan yang dikeluarkan sahabatnya.

“Aku masih tidak menyerah dengan perasaanku, aku masih mempunyai harapan. Harapan bahwa suatu saat kau akan melihatku, menyadari perasaanku!” Gadis itu mengusap dengan kasar air mata di pipinya, ia menguatkan dirinya untuk kembali melanjutkan kata-katanya.

“Dan kau tahu, ketika kau memintaku untuk menemuimu di kafe pada saat itu aku berniat menyatakan perasaanku padamu, dan sebelum aku sempat mengatakan perasaanku kau sudah menghancurkan hatiku tanpa kau sadari,” Younggeun tertawa sarkastik, “Kau mengatakan dengan senyuman lebar bahwa kau jatuh cinta pada seorang gadis, menyukainya. Dan gadis itu adalah Kang Jikyung.”

Bagaikan ditampar dengan keras oleh tangan tak terlihat, hati Jikyung berdenyit sakit. Ia tidak sadar kalau setetes air mata jatuh dari pelupuk matanya.

“Hatiku hancur Kai! Dan pada saat itu aku tahu, aku tidak punya harapan lagi. karena kau sudah menyukai gadis lain!”

Tidak. Tidak. Jikyung menggelengkan kepalanya beberapa kali. Kenapa ia bisa begitu bodoh sampai tidak menyadari kalau dialah penyebab retaknya persahabatan mereka! Persahabatan yang sudah mereka berdua jaga dari kecil hancur karena ketidakpedulian dirinya pada sekitar. Dialah orang ketiga yang merusak persahabatan diantara mereka.

Kenapa ia begitu egois sampai tidak mengetahui kalau seorang gadis yang sudah menyukai Kai dari dulu harus merasakan patah hati bahkan sebelum ia mengungkapkan perasaannya, dan itu semua karena dirinya. Tidak seharusnya Jikyung hadir diantara mereka, dan yang lebih penting tidak seharusnya ia menerima perasaan Kai.

Perasaan bersalah seketika menghantamnya dengan telak.

Jikyung menutup mulutnya menggunakan kedua telapak tangannya, berusaha keras menahan isakannya agar tidak terdengar. Perlahan ia memundurkan langkahnya, Jikyung benar-benar ingin keluar dari tempat ini sekarang.

Tapi ketika ia membalikan badannya, kakinya tidak sengaja menendang keranjang yang berisi banyak bola basket sehingga bola berwarna orange itu berhamburan dan menimbulkan suara gaduh yang membuat dua orang lainnya yang ada di ruangan itu menatap Jikyung terkejut.

Hati Kai benar-benar mencelos sakit begitu menyadari kalau Jikyung ada disitu, berdiri beberapa meter di hadapannya dengan lelehan air mata di pipinya dan yang paling buruk dari semua itu; Jikyung mendengar semua percakapan mereka.

Kai meringis, melihat berbagai macam ekspresi di wajah itu, ekspresi shock, bingung, sedih, kecewa, marah, terluka, dan rasa bersalah. Ketika Kai ingin menghampiri gadis itu, sosok Jikyung sudah berlari keluar meninggalkan mereka berdua.

“Tunggu…JIKYUNG!!” Seru Kai, berlari mengejar kekasihnya.

~To be Continue~

83 responses to “Lucky – Part 6

  1. Pingback: Lucky – Part 7 | FFindo·

  2. Uwooa.. Tambah keren FF nya thor, daebakk!! Konfliknya dapet banget. jadi pengen cepet ke next chapter cepet-cepet.. Dan lagi2 aku semakin pensaran. Okay “keep writing and hwaiting thor!!!

  3. Pingback: Lucky – Part 8 | FFindo·

  4. Ya Allah, feel nya dapet banget pas scene terakhir :”
    beneran itu Young Geun nyatain perasaannya. Gila ! bebannya dia udah berkurang tuh.
    Duh, Ji Kyung <//3 remuk sudah hati nyaaaa

  5. Eh sumpah ya aku kasihan bgt sama Young Geun. Yang dialami Young Geun itu menyakitkan, sangat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s