Family Battle [ Chapter 2 — Change the Love ]

Family Battle—Stroyline by AlinePark @angiiewijaya—

Main Cast

Kim Mi Jung [OC’s] as First Daughter from Kim Family
Lee Byung Hun or L.Joe [Teen Top] as Lee Byung Hun, First Son from Lee Family

Other Cast

Kim Myung Soo or L [Infinite] as Kim Myung Soo, First Son (Eldest) from Kim Family
Kim Ah Young or Yura [Girl’s Day] as Lee Ah Young or Yura
Son Na Eun [A-Pink] as Kim Na Eun, Second Daughter from Kim Family
Lee Tae Min [SHINee] as Lee Tae Min, Second Son from Lee Family
Jung Soo Jung or Krystal [F(x)] as Krystal Kim, Third Daughter from Kim Family
Lee Ho Won or Hoya [Infinite] as Lee Ho Won or Hoya, Myung Soo’s Classmate
Kim Dong Jun [ZE:A] as Kim Dong Jun

Park Cho Rong [A-Pink] as Park Cho Rong or Mrs. Kim, Mi Jung’s Mother
Jung Soo Yeon or Jessica [SNSD] as Jessica Jung or Mrs. Lee, Byung Hyun’s Mother
Yoon Doo Joon [Beast] as Kim Doo Joon, Mi Jung’s Father

Cha Hak Yeon or N [VIXX] as Cha Hak Yeon, Myung Soo’s Classmate
Park So Jin [Girl’s Day] as Park So Jin, History Teacher
Jung Hye Rim or Jung Eun Ji [A-Pink] as Jung Eun Ji, Math Teacher
Jung Taek Woon or Leo [VIXX] as Jung Taek Woon, Myung Soo’s Classmate

Genre
Romance, etc.

Length
Series

Rating
Teenager

Previous
Family Battle [ Chapter 1A — Kim vs Lee Family ]
Family Battle [ Chapter 1B — Kim vs Lee Family ]

Family Battle
Chapter 2 — Change the Love

Happy Reading

Akhirnya, keluarga Lee makan bersama dengan tambahan ‘anggota baru’ di meja makan mereka. Byung Hun cuma diem selama makan. Tapi, Tae Min masih aja dengan wajah pucet saking kagetnya. Sendok garpunya juga bergempa—Tae Min merinding maksudnya—.

“Eh! Ada gempa ya?!” teriak Jessica heboh.

“Gempa apa? Ga ada yang geter-geter kok.” jawab Yura.

“Tapi tangannya Tae Min gemeter.” kata Jessica polos. “Ah, kaget ya ada Yura? Udah nyamanin aja, kan gapapa punya adek cantik kayak dia.” tambah Jessica, Yura diem gara-gara malu.

Selesai makan, Yura duduk di sofa ruang keluarga buat nonton TV. Dia udah cukup gila dibekep di dalam kamar sama eommanya, demi sebuah kejutan untuk kedua oppanya. Tapi, tiba-tiba ada seseorang yang duduk di sampingnya. Matanya juga pantengin acara yang ada di TV.

“Lo kemaren nginep di mana?” tanya orang itu tiba-tiba. Seperti yang kita tahu, kan Yura udah masuk ke sekolah dari kemaren, kenapa baru hari ini tiba-tiba baru di rumahnya?

“Aku nginep di hotel kemaren, soalnya kata eomma baru mau pindahan hari ini.” jawab Yura, menanggapi pertanyaan oppanya yang dingin, Byung Hun.

Byung Hun cuma ngangguk-ngangguk. “Lo mau ngaku kalo lo adek gue sama Tae Min?”

Yura mengerutkan keningnya, terus ngangguk. “Yaiyalah, masa aku gamau ngaku oppaku sendiri? Emang kenapa nanya gitu?”

“Ga takut dibenci orang-orang?”

Yura diem. Dia inget banget kalo Myung Soo itu gasuka sama Byung Hun. Tapi, seketika Yura langsung nunjukkin senyumnya. “Gapapa kok, aku yakin aku bisa tetep kayak biasa—“

Drrt .. Drrt ..

Tiba-tiba ponsel Yura bunyi. Pandangan Byung Hun pun langsung beralih ke ponselnya Yura. Gadis itu langsung ngangkat panggilan tersebut.

“Hallo .. Besok? Boleh aja, mau di mana? .. Ok, di rumahku. Gimana kalo besok pagi jam delapan? Aku jalan pagi, sekalian aku tunggu kamu di depan rumahmu .. Oke, bye!”

TUTT.

Sambungan terputus.

“Siapa?” tanya Byung Hun. Tumbenan bisa bawel dia, daritadi nanya-nanya terus, ngekepo.

“Eh? Temen aku, Mi Jung, mau diajarin PR Fisika.” jawab Yura.

Byung Hun baru aja mau ngangguk-ngangguk ayam matok, tapi tiba-tiba dia kaget sama nama yang disebut oleh Yura. “Siapa tadi?”

“Temen aku.”

“Bukan, namanya.”

“Mi Jung.”

Byung Hun langsung diem. Dia tiba-tiba keinget pas ga sengaja dia nyandung cewek itu. Dan tadi, Yura bilang kalo cewek itu bakal dateng ke rumahnya.

“Eh, aku lupa nanyain alamat rumah Mi Jung! Padahal tadi aku bilang aku mau anterin.” kata Yura polos.

“Rumahnya di sebelah kita.”

“Hah?”

Byung Hun ga jawab dan langsung pergi aja. Yura cuma bisa natep bingung ke arah oppanya itu.

Mi Jung nguap lebar pas keluar dari rumah. Dia nyaris aja kesiangan, padahal udah ada janji sama Yura. Rasanya masih pengen pacaran sama kasurnya itu. Kemaren stress juga, abis siuman langsung keinget tugas Fisika, alhasil nelfon Yura deh buat minta tolong. Tapi, abis itu dia pingsan lagi ..

“Oi Yur.” kata Mi Jung, pas udah ngeliat seorang cewek dengan rambut diiket, kaos pink pastel, celana pink stabilo, di leher kegantung handuk berwarna sama dengan kaos, plus sepatu lari warna putih.

Cewek itu langsung ngelambain tangannya sambil tersenyum. Mi Jung samperin Yura.

“Sorry ya nunggu lama. Kita langsung jalan nih?” tanya Mi Jung.

Yura ngangguk dan mulai jalan. Mi Jung pun langsung ikutin. Ga nyampe sepuluh langkah, mereka udah di depan gerbang Yura. Mi Jung nganga.

“Lah, rumah lo di samping gue?” tanya Mi Jung.

Yura ngangguk. Mi Jung cuma ngebentuk mulutnya jadi ‘ooo’, ga ngeh sama kejadian tadi malem, kalo emaknya bilang rumah di sampingnya itu adalah rumah keluarga Lee. Yura ngajak Mi Jung masuk ke dalem.

“Kamu duduk di sini bentar ya, aku mau ambil minum.” kata Yura, sambil nyuruh Mi Jung duduk di ruang keluarga. Mi Jung cuma nurut.

Tiba-tiba, mata Mi Jung terfokus pada sebuah foto seorang anak kecil yang lagi megang gitar. Kayaknya, anak itu bisa main gitar, karena diliat dari fotonya aja udah kayak professional. Terus, di belakang anak kecil itu ada banyak piala. Piala itu mirip dengan piala yang berada di atas meja di depannya.

TAPP .. TAPP ..

Mengira bahwa itu Yura, Mi Jung dengan nyantenya langsung noleh ke arah samping. Tapi, dugaannya salah. Yang muncul adalah sosok laki-laki yang lagi jalan turun tangga. Kaosnya putih oblong plus celana selutut lebih dikit (?) yang warnanya juga putih. Cowok itu lagi ngacak-ngacak rambutnya asal, mukanya keliatan masih kusut banget, alias ngantuk. Tapi, merasa ada yang aneh dengan di sekitar, dia langsung noleh ke arah Mi Jung. Dia natep tajem ke arah Mi Jung, tapi Mi Jung sama sekali ga meleng sekalipun udah ketauan kalo dia lagi merhatiin cowok itu.

Mi Jung kerasa terbius. Tatepan tajem cowok itu kerasa halus dimatanya. Cowok itu juga gamau berhenti natep wajah polos Mi Jung. Hingga akhirnya ..

“LO NGAPAIN DI SINI?!”

Mereka langsung noleh ke sumber suara. Cowok berkulit putih berdiri di ambang pintu.

“Eh! Lu kok bisa di sini?! Ini kan rumahnya Yura!” sewot Mi Jung.

“Ini emang rumah Yura, dan ini juga rumah gue!” jawab cowok itu.

Tiba-tiba, Mi Jung keinget sesuatu. Dia inget kejadian tadi malem. Dia inget kata emaknya.

“Eh, iya, kata emak gue, lu pindah ke sini.” kata Mi Jung, menyetujui perkataan cowok itu alias si Tae Min. “Tapi.., kok Yura bisa tinggal di sini?”

“Dia oppaku Mi Jung.”

Mi Jung langsung noleh ke arah Yura yang udah selese ambil minum plus cemilan.

“WHATT?!” teriak Mi Jung.

“Woy! Ini rumah orang, bukan kebun binatang!” teriak Tae Min.

Mi Jung nganga. Dia kaget. Dia kaget orang sebaik Yura punya dua kakak rese di mata Mi Jung.

Ngeliat suasana yang mendadak kacau balau, Yura langsung angkat bicara. “Jung, mau bikin PR Fisika kan? Ke kamarku aja.”

Dengan bersusah payah—entah gimana caranya, akhirnya Yura nyeret Mi Jung buat ke kamarnya sambil bawa makanan. Sesampainya di kamar, Mi Jung langsung ngoceh.

“Eh, masa mereka berdua beneran oppa lo? Ga mungkin ah! Lo itu kan baik ba—“

“Maksudnya oppaku jahat?” potong Yura. “Ya, aku tahu kalo di matamu oppaku itu rese. Ya, kalo Tae Min oppa emang iya. Tapi, Byung Hun oppa orangnya baik kok. Cuma, dia emang dingin gitu. Kita bertiga sifatnya kebanting semua Jung.”

Mi Jung masih ga terima dengan penjelasan Yura, apalagi ‘Byung Hun itu baik’. “Eh, tunggu deh, terus kenapa lo bisa satu angkatan sama Tae Min?”

“Dulu aku pas SMP cuma dua tahun, karena nilai-nilaiku. Makanya aku bisa seangkatan deh. Aku aja paling muda di kelas.” jawab Yura panjang kali lebar sama dengan luas.

Mi Jung menghela nafas.

Dunia ini gila.

Sekolah pun langsung gempa, tanah longsor, banjir setelah berita Yura adalah adek dari Lee bersaudara tersebar. Mereka ga percaya kalo kakak-kakaknya itu bisa masuk kelas B, sedangkan Yura itu C. Tapi, katanya Yura SMP cuma dua tahun. Apalagi kalo bukan pinter? Kenapa dia masuk ke kelas C?

“Yura, tapi kok lu bisa masuk kelas C sih? Lu kan pinter!” kata Min Ah. Ini cewek mendadak sewot setengah mampus gara-gara ada cewek pinter masuk kelas C. Sumpah, ini gatau juga apa hubungannya sama dia.

Yura cuma bisa angkat bahu. “Aku enggak tahu, aku cuma disuruhnya emang masuk ke kelas sini.”

“Yee, lu bersyukur kek Min Ah! Anak kelas B kan ga bener semua! Dia orang baek-baek asal lo tahu!” sewot Kai, sok gentle sekalian modus gombal gembel.

“Apasih lu tem!” bales Min Ah, gasuka.

Selain itu, Mi Jung yang lagi maen di kelas kakaknya, langsung diintrograsi sama si hoyayahoya.

“Eh, Yura beneran adeknya Tae Min sama Byung Hun? Kok bisa sih?” tanya Hoya.

“Yee, mana gue tahu! Emaknya emang ngelahirin mereka bertiga mau diapain lagi?! Masa Yura dimasukkin ke perut emak orang lain biar mereka enggak kakak-adekan gitu?!” jawab Mi Jung asal.

Myung Soo yang biasanya suka nimbrung arisan orang, kali ini cuma diem sambil megang pulpen. Ternyata, keluarga Lee pindah membawa keberuntungan, kalo dia bisa sering ketemu Yura. Tapi, di satu sisi, karena Yura adeknya Byung Hun, dia jadi berpikir berkali-kali buat ..

Buat deketin Yura?

Myung Soo gelengin kepalanya. Dia kemudian noleh ke Hoya yang lagi sibuk intrograsi adeknya. Dia gaboleh makan temen sendiri. Enggak, enggak boleh. Mungkin karena Yura terlalu baek kali, makanya gue ga rela dia punya abang kayak begitu. Pikirnya.

“Eh, terus, dia kan pinter katanya, bahkan ampe SMP dua tahun. Kenapa dia masuk C Jung?” tanya Hoya.

“Buset deh, itu mah urusan kepsek deh, bukan urusan gue! Lagian, emang lu mau dia masuk B?! Rela lu?!” jawab Mi Jung, sewot terus daritadi.

“Iya sih..” gumam Hoya. “Tapi kan tetep membingungkan Jung. Patut dibingungin.”

“Ah, rempong lu! Gue sih gamau peduliin deh. Gue bersyukur kok dia masuk C, dia bahagia, gue bahagia punya temen baek yang baru, terus temen yang bisa bantuin gue kerjain Fisika. Buat apa dimasalahin.” jawab Mi Jung, ketawan masih ada niat busuknya.

“Busuk lu pengen ngemanfaatin temen sendiri!” bales Hoya.

“Haloo kalian orang-orang payahh, ada yang punya gitar ga? Ada pelajaran art nih, gue ga bawa gitar.” kata seorang cowok tiba-tiba dari ambang pintu. Dong Jun.

Yang cowok-cowok—plus Mi Jung—langsung ganas.

“Payah?! Maksud lo apa ya anak kelas B?!” teriak Myung Soo.

“Tahu lu, anak kelas D itu di atas B!” nyosor Mi Jung.

“Bilang aja deh lo ga punya gitar! Miskin aja belagu lu odong-odong!” sewot Hoya.

Trio itu langsung ngedorong Dong Jun secara paksa dari ‘markas’ mereka.

“Udah ye, gitar gue terlalu mahal buat lu. Elu kagak level, ntar pasti karatan semua senarnya. Gue beli di Amerika gabisa dipinjem-pinjem.” kata Myung Soo lebay.

“Nah, kalo gue gaada gitar. Udah yee, jangan ngemis gitar sama kita, ok?” sosor Hoya, sambil ngedorong paling kenceng. Pas itu mahluk keluar, mereka langsung nutup pintu dengan kencang.

“Eh, perasaan kita berantemnya ada yang kurang, apa ya?” ujar Mi Jung udah kayak lagi masak kurang bumbu.

“Ho’oh, kok kurang asik ya?” respon Hoya.

“Hak Yeon mana?” tanya Taek Woon tiba-tiba yang abis nutup buku Fisikanya.

“Oh, iye, ilang tuh mahluk! Pantesan berantemnya kurang, biasanya kan dia yang paling bawel.” ujar Myung Soo, enggak ngejawab pertanyaan Taek Woon.

Eh, dasar itu si ketua kelas keder, dia lagi jalan di belakang So Jin sambil megang sebuah buku tulis yang keliatan cukup seger kayak ikan. Mukanya dimelas-melasin kayak orang ga makan setengah abad *buset*.

“Sonsaengnim, ayolah jangan nyalin lima bab. Kan ini gara-gara tulisannya ga rapi doang.” ujar Hak Yeon. So Jin mendadak menghadap ke arah Hak Yeon.

“NO! Harus ngulang, gamau tahu! Harusnya kamu tuh bersyukur pas saya kasih tugas pas besoknya minggu!” jawab So Jin, sambil balikkin badannya lagi, mulai jalan lagi. Hak Yeon masih ngekor.

“Ayolah, sonsaengnim. Kan capek sonsaengnim. Sonsaengnim kan tahu saya udah kelas duabelas, nanti kalo tambah stress gimana?” tanya Hak Yeon, sok So Jin bakal peduliin dia. Tapi, So Jin enggak lembek sama sekali digituin.

“NO!” jawabnya setengah noleh ke arah Hak Yeon sambil buka pintu kelas 12-D. Kebetulan, daritadi udah bel cuma para murid-muridnya aja budek.

Semua murid kelas 12-D langsung duduk di tempat masing-masing. Mi Jung yang masih di sana, langsung duduk di tempat Hak Yeon yang kebetulan kosong. So Jin pun mulai berdiri di depan kelas dan Hak Yeon berdiri di sampingnya *astoge*.

“Sonsaengnim, saya jangan ngulang ya.” bisik Hak Yeon pantang nyerah.

So Jin langsung melototin Hak Yeon ampe itu cowok ngompol. Kemudian, dia keinget kalo dia kasih hukuman juga ke Myung Soo.

“Oh, iya, Myung Soo, mana hukumanmu?” tanya So Jin.

Myung Soo langsung ngerutin dahi. “Hah? Hukuman apaan sonsaengnim?”

“Yang nyatet tiga bab. Kan saya udah nyuruh Hak Yeon sampein.” jawab So Jin.

DEG!

Myung Soo langsung mengkeret. Faktanya, dia lupa kerjain hukuman itu. Padahal, Hak Yeon udah kasih tahu dia. Kalo gue kasih tahu bisa mampus gue. Ntar kalo tiba-tiba gue dikejar lagi gimana? Kalo tiba-tiba gue nabrak kucing lagi gimana? Duh, image gue jangan sampe rusak.

Tiba-tiba dia kepikiran sesuatu ..

“Hak Yeon belum kasih tahu sonsaengnim! Dia mah emang suka sengaja sonsaengnim, pengen temennya sengsara! Saya gatau kalo ada hukuman dari sonsaengnim.” ujar Myung Soo keluarin ide busuknya.

“HEH! BOONG LU KUPRET! GUE UDAH KASIH TAHU LU! GUE INGET KOK, LU LAGI BOKER GUE TELFONIN, SAKING KENCENGNYA RINGTONE LU, ITU HAPE DI KANTONG CELANA JATOH KE KLOSET BERCAMPUR DENGAN ISI-ISINYA!” kata Hak Yeon, sukses buat sekelas natep ilfil ke arah Myung Soo.

“Loh, bukannya hape Myung Soo oppa udah kebagi dua ya?” tanya Mi Jung dengan polosnya.

“Diselotip.” jawab Hoya, nimbrung.

“Udah, cukup-cukup!” ujar So Jin. “Hak Yeon, bagus ya kamu enggak kasih tahu kalo ada hukuman dari saya! Kamu nyatet tujuh bab sekarang di luar! Kalo ga selese selama pelajaran saya, Myung Soo saya kasih kucing!”

“Lah?! Kok saya?!” kata Myung Soo sambil naek-naekkin kaki, takut mendadak ada kucing dari bawah kolong meja. Benci banget dia ama binatang berbulu yang satu itu, baru aja dia sembuh dari demamnya, udah diancem pake kucing lagi.

“Ga adil kalo buat Hak Yeon kalo dia doang yang dihukum, jadi kamu jaminannya aja.” jawab So Jin gajelas, dapet ide busuk darimana.

“Bahh, demam, demam dah tuh!” kata Mi Jung puas. Adek durhaka ..

“Ehh, ngapain kamu di sini?! Mau saya hukum juga hah?!” teriak So Jin, baru ngeh ada murid asing masuk di kelas 12-D.

“Eh, e-e-enggak kok sonsaeng—“

“Dia tadi minta diajarin Biologi sama saya sonsaengnim, tenang aja, dia ga ngerusuhin kelas kok.” bela Hoya.

“Eh, ngapain lu bela-belain adek gue?! Kayak lu bisa Biologi aja!” nimbrung Myung Soo, ga terima adeknya itu diapa-apain sama Hoya *emang diapain?*.

“Tau, kayak bisa Biologi aja. Semua orang tahu kali kalo yang pinter Biologi itu Taek Woon.” gumam So Jin ga seneng. “Yaudah, kamu balik ke kelas sana! Jangan sampe kamu telat masuk, takutnya udah ada guru di kelas kamu.”

“Iya sonsaengnim.” jawab Mi Jung sambil bangkit berdiri. Dia jalan dengan perlahan ke arah pintu kelas. Tapi, pas dia buka, dia bertemu dengan sepasang mata tajam nan teduh yang mengejutkannya. Otomatis, tubuhnya itu langsung berhenti bergerak dan matanya terfokus kepada sepasang mata itu.

“Heh, kenapa malah berhenti?! Cepet ke kelas!” tegur So Jin.

Mi Jung langsung salting dan berniat lewat samping, tapi orang itu malah bergeser ke arah yang sama. Pas Mi Jung coba ke arah yang lain, orang itu malah ke arah yang sama lagi. Mi Jung geser lagi, sama lagi. Sumpah, udah kayak ada magnetnya.

“Woy Byung Hun! Modus amat sih lu ama Mi Jung! Mau berantem?!” sewot Hoya.

“Heh! Mustinya gue yang ngomong gitu odong!” protes Myung Soo, ga terima posisinya sebagai kakak terkalahkan.

“Tau nih! Lu mau ngapain sih? Ini kan bukan kelas lu!” bentak Mi Jung, padahal aslinya salting.

Byung Hun gedeg juga. Jelas-jelas si Mi Jung lagi di kelas orang. Tapi, dia berusaha menghindari perdebatan yang ga penting.

“Gue mau pinjem gitar.” jawabnya dengan tenang.

“Oh, Myung Soo oppa punya kok.” jawab Mi Jung ceplas-ceplos telor ceplok.

“Enak aja!” ujar Myung Soo sambil meluk gitarnya kayak guling. “Miskin amat sih kelas lu gaada yang punya gitar daritadi! Lagian, emang lu bisa main gitar?!”

“Lebih tepatnya satu kelas gabisa.” nimbrung Hak Yeon yang masih berdiri di samping So Jin.

“Udah deh, pinjemin aja kek oppa! Alay banget sih lu, ga bakal rusak kali!” kata Mi Jung. “Udah ah, ntar gue gabisa ikut pelajaran lagi. Saya duluan sonsaengnim.”

Akhirnya, Mi Jung pergi dengan agak salting yang mendadak baik ke Byung Hun. Ah, palingan gue kasian di kelas mereka miskin gaada yang punya gitar.

Mi Jung berjalan ke arah kelasnya yang tumbennya keliatan sunyi senyap. Mendadak, perasaannya gaenak. Keringet ngucur dari atas ke bawah kayak air terjun. Dengan tangan yang udah basah, dia ngetok pintu disusul membukanya.

Seketika tiga puluh satu kali dua mata—maksudnya mata para murid sama guru ada kan masing-masing ada dua, jadi dikali dua—menatap ke arah Mi Jung. Tentu mata si guru yang paling serem ampe bikin nyaris ngompol. Mi Jung nyengir kambing.

“Maaf sonsaengnim saya te—“

“KELUAR KAMU! CEPAT! SAYA HITUNG SAMPAI SATU, SATU! WAH, BERANI KAMU YA MASIH BERADA DI SINI!” kata guru yang lagi ngajar gajelas. Sumpah, ya dia baru kasih aba-aba buat ngitung sampe satu, terus tiba-tiba langsung ngomong ‘satu’, ya mana sempet orang keluar.

“Sonsaengnim, hitungnya sampe tiga kali. Mana sempet orang keluar.” telor ceplok, eh ceplos Jung Kook dengan nasi goreng ga pake sambel, eh polos maksudnya. Maklum, Author lagi laper *apasih*.

“Iya, sonsaengnim, saya keluar.” jawab Mi Jung dengan lemes, kemudian berjalan keluar. Tapi, seketika wajahnya mendadak cerah kayak lagi dapet ilham dari langit. Itu guru Biologi dia, kebetulan papernya ketinggalan, jadi nyawanya selamat gara-gara dikeluarin. Dia tersenyum penuh dengan kemenangan.

Gue masih bisa nafas.

Saking senengnya, Mi Jung jalan jingkrak-jingkrak ngelilingin lorong. Tapi, dia langsung berhenti ketika mendengar langkah seseorang. Pas dia noleh, dia ketemu cowok yang sangat ia kenali sambil bawa sebuah gitar dari kelas 12-D. Siapa lagi kalo bukan Byung Hun. Ternyata, engkonya Mi Jung pasrah juga dan ngasih pinjem gitarnya ke Byung Hyun. Mungkin dia berpikir buat amal *iniapa*.

Byung Hun yang liat Mi Jung langsung berjalan mendekat ke arah cewek itu. Mi Jung cuma bisa diem, bingung kenapa dideketin. Tiba-tiba, tangan putih Byung Hun nyerahin gitar itu ke Mi Jung.

“Nih gitar kakak lo. Gua gaenak sama dia.” katanya.

Mi Jung cengo, tapi kemudian ketawa sok asik. “Udahlah, engko gue ga sejahat itu kok. Jangan dirusakkin aja yang penting.” jawabnya, sambil duduk di kursi panjang depan kelas 12-B. Kebetulan, tadi dia udah jingkrak-jingkrak cukup jauh.

Tiba-tiba Byung Hun duduk di kursi yang sama, cuma jaraknya jauh. Cowok itu kemudian main gitar, sukses buat Mi Jung merhatiin Byung Hun. Dia mendadak kepo dan langsung deketin cowok itu.

“Lo ga masuk?” tanya Mi Jung, basa-basi dulu.

Byung Hun berhenti maen. “Gue tadi kena marah gara-gara ga bawa gitar. Gue minjem cuma buat ilangin bosen. Makanya, kalo ga dipinjemin juga gapapa.”

“Oh, gitu.” gumam Mi Jung. “Eh, ajarin gue maen gitar dong! Gue baru hafal beberapa doang kuncinya.”

Byung Hun kaget. Seingetnya, Mi Jung itu seharusnya kesel sama dia. Mi Jung sendiri malah salting dengan ekspresi Byung Hun yang kayak ga percaya gitu. Dia juga ga nyangka kalo tiba-tiba bisa sok akrab gitu sama cowok itu. Dia masih inget kejadian di rumah Yura.

Senjata ini cowok kayaknya matanya deh.

“E-e-ehh, ga boleh ya? Maap.” ujar Mi Jung, salting.

“Boleh kok.” jawab Byung Hun sambil natep tepat di mata Mi Jung, sukses bikin cewek itu agak ngefreeze. Tapi, Mi Jung berusaha ngontrol emosinya, sambil ambil gitar yang berpindah dari tangan Byung Hun ke tangannya.

“Eh, kunci A itu gimana ya? Seinget gue itu gampang deh.” ujar Mi Jung. Gampang tapi gatau ..

“Kayak gini.” jawab Byung Hun, sambil gerakkin tangannya dengan cuek. Dia ngatur posisi jari Mi Jung. Tiga jari cewek itu bersejajar nahanin senar gitar.

DEG!

Seketika mereka berdua salting—lagi dan lagi. Jari kurus Byung Hun nempel sama jari halus Mi Jung. Wajah cewek itu langsung memerah.

Ga, ga boleh! Masa gue salting gara-gara Byung Hun! Lagian, gue aneh banget sih, masa gue minta dia ajarin gue main gitar?! Engko gue kan udah jago!

Hati sama otak Mi Jung ga singkron. Di dalam hatinya, dia merasa ada perasaan yang mengganjal, tapi otaknya menyuruhnya untuk tidak menerima perasaan itu.

“Eh, sorry.” ujar Byung Hun, sambil lepasin tangannya. Sumpah, dia malu banget, image dinginnya bener-bener hancur.

“Oi, malah pacaran!” seru Hak Yeon tiba-tiba yang baru keluar kelas. Dia nyamperin dua orang itu sambil bawa buku Sejarah. Ya, dia mau kerjain hukuman nyalinnya itu. Dia sengaja nyamperin itu dua mahluk biar ada temen dan ga cenga-cengo. Dia duduk di lante samping Byung Hun.

“Apa sih lu! Udah deh, mending lu kerjain hukuman lu sono!” ujar Mi Jung.

“Diem lu! Gara-gara abang lu nih, hukuman gue tambah banyak!” sewot Hak Yeon.

“Ya itu mah nasib e—Eh, elu ngapain kerjain sunbae!” kata Mi Jung tiba-tiba.

“Maksudnya?” tanya Hak Yeon. Jujur aja, dia bingung, masa dia ga kerjain hukumannya? Mau dibunuh So Jin?

“Kan kalo lu ga kerjain ntar si Myung Soo dikasih kucing! Nah, si Myung Soo kan nimpalin kesalahannya ke elu! Nah, lu bales ke dia sekarang! Ngapain lu kerjain coba? Mending sekarang lu belajar gitar juga, kan lo jagonya di olahraga terus!” kata Mi Jung, ngeluarin akal busuk—yang merupakan berkat buat Hak Yeon.

“Eh, iya bener juga!” ujar Hak Yeon, setuju sama akal Mi Jung.

Seketika, mereka berdua langsung ketawa penuh kemenangan—licik—sampe bikin Byung Hun cuma bisa cengo. Sesat banget ini dua mahluk ..

“HEH! UDAH DIHUKUM MASIH BISA RIBUT, HAH?!” teriak So Jin sama guru yang ada di kelas Mi Jung berbarengan. Kebetulan, mereka bisa denger itu dua ketawa setan dari luar.

Tapi, yang terjadi mereka malah tetep ketawa sampe keluar api-api.

Senar Myung Soo pun meleleh satu ..

Na Eun yang kebetulan lagi jalan-jalan—sambil cari perhatian dengan gaya centilnya—tiba-tiba ketemu sama beberapa murid kelas 11-B yang lagi duduk di lante melingker. Penasaran, dan nyoba ngecek ada Tae Min atau enggak, dia langsung nguping apa yang mereka bicarain.

“Emang Tae Min nyampein rencana apa ke lo?” tanya seorang cowok yang duduk di antara yang lain. Na Eun tahu itu adalah teman Tae Min.

“Nih, liat aja.” jawab seorang cowok sambil kasih selembar kertas, yang tampaknya ngelead dalam perbincangan itu. “Gue sih ga yakin bakal lakuin itu.”

Semua murid-murid yang ada di situ langsung baca dalam diam. Tak berapa lama, ekspresi mereka langsung berubah terkejut.

Apa Tae Min oppa ngerencanain sesuatu? Batin Na Eun. Dia harus ikut dalam rencana itu, agar Tae Min bangga sama dia. Salah satunya, ngebully Yura adalah tugas yang harus dia lakuin, dan dia udah sukses ngelakuin itu sekali. Ya, dia yang bikan Yura jatoh waktu itu.

“Gila lo, Tae Min kan abangnya! Masa dia masih mau ngelakuin rencana beginian?!” kata cowok yang nanya sebelumnya. Ternyata bener, rencana itu tentang Yura. Na Eun semakin coba ngefokusin dengerin.

“Makanya gue mau bahas itu sekarang!” kata cowok yang dikasih sebuah rencana dari Tae Min. “Jadi, berhubung si Tae Min ngilang sama dia abangnya, mending kita gausah lakuin rencana ini. Gue cuma mau bilang itu aja, gue takut malah kenapa-napa lagi.”

“Ya, baguslah, ga mungkin kita lakuin ini.” kata cowok kedua yang sedaritadi bawel. Dia langsusng robek kertas itu dan masukkin ke tong sampah yang ada di deketnya. Kemudian, mereka langsung bubaran ke arah yang berlawan dari Na Eun.

Na Eun langsung keluar dari lorong di mana dia ngumpet. Dia samperin tempat sampah, di mana si murid cowok ngebuang kertas rencana Tae Min. Dia mastiin dulu kalo gaada orang yang ngeliat dia. Setelah itu, dia ngambil beberapa potong kertas yang udah robek-robek dan ia yakini kalo itu rencana Tae Min. Dia langsung duduk di bawah dan susun kertas itu seperti semula. Dia baca perlahan-lahan isi dari kertas itu.

Senyum licik muncul dari bibirnya.

Mi Jung duduk di kantin sambil ngeliat air yang turun dari langit alias hujan. Dia sama sekali gabisa pulang gara-gara jalan kaki. Temen-temennya udah pada balik gara-gara tadi ga hujan. Terus, kenapa dia ga balik tadi? Itu semua gara-gara tadi tasnya dibongkar pas pelajaran Biologi. Eh, ternyata ketawan gaada papernya. Akhirnya, si sonsaengnim killer tanpa nama itu langsung ngehukum Mi Jung bikin paper selama setengah jam dalam pengawasan dia. Gila, nyaris mau abis napas dia gara-gara itu guru. Dia mikir, kenapa ga sekalian mati aja *bukannya sama aja?*.

Akhirnya, untuk ‘tidak merasakan’ bosan, dia milih buat nyenderin kepalanya ke meja, mejemin mata, pergi ke dunia lain *alam mimpi maksudnya*. Daripada dia cenga-cengo, mending dia nyiapin tenaga buat nonton bola *buset*.

Pada saat itulah, ada orang yang duduk di sampingnya. Hoya. Itu cowok kayaknya pas-pasan mulu sama si Mi Jung. Si Mi Jung sendiri kagak sadar ada itu cowok. Suara hujan bikin kuping budek.

“Oi, tidur mulu lu.” kata Hoya, sukses bikin Mi Jung kesentak kayak liat setan.

“Heh! Ganggu orang tidur aja lu!” jawab Mi Jung. “Sejak kapan coba lu di sini?”

“Ah, lu tidur nyenyak banget sampe ga nyadar ada gue! Lu tidur ato apa sih?!” ujar Hoya gedeg.

“Ahelah, gue aja belom tidur daritadi!” jawab Mi Jung, gamau kalah. “Lu nape belum pulang coba?”

“Gue tadi main tennis meja di lante tiga, eh sekarang malah hujan.” jawab Hoya. “Lu sendiri kenapa?”

“Gue dihukum disuruh bikin paper Biologi.” jawab Mi Jung. “Ah, males nih pake acara hujan segala! Abang gua mana sih kagak keliatan daritadi?! Gue kan pengen nebeng pulang.”

“Myung Soo harusnya masih ada, tadi dia ikut tennis meja kok. Tapi tiba-tiba ilang gitu aja.” jawab Hoya.

Mi Jung cuma menghela nafas sambil nompang dagu.

“E-e-eh, mau jalan-jalan ga? Bosen nih, masa duduk gini-gini doang?” ajak Hoya tiba-tiba.

“Jalan-jalan? Kan hujan.” jawab Mi Jung.

“Gue bawa mobil kok.” ujar Hoya.

Mi Jung tampak mikir. Tapi kemudian dia langsung natep Hoya. “Enggak ah, mending lu anterin gue balik.”

“Ayolah, pergi aja dulu. Bosen gue gaada temen. Emang lu ada ulangan ato tugas?” rayu Hoya. Gatau kenapa, ini cowok kecewa banget denger jawaban Mi Jung.

“Ya gaada sih..”

“Nah, yaudah, jalan aja yuk. Ke mall kek, pergi makan kek. Daripada di rumah suntuk.” rayu Hoya untuk kedua kalinya.

“Tapi..”

“Ayolah Jung.”

“Ya gue males.”

“Ahelah, kan gaada tugas, gue bosen nih gaada temen.”

“Ya tapi gue lagi ga pengen.”

“Ayolah.”

“Kagak ah.”

“Gue bayarin deh.”

“Ka—“ seketika kata-kata Mi Jung terputus. “Apa tadi?”

“Hah! Elu denger mau gue bayarin aja, langsung deh.” ujar Hoya sok kesel, padahal sebenernya seneng juga sih akhirnya si Mi Jung mau.

“Oh, lu mau bayarin gua? Ayo deh, let’s go!” kata Mi Jung langsung bangkit berdiri.

Hoya langsung menghela nafasnya sambil geleng-geleng kepala. Dia langsung ikut berdiri sambil jalan bareng Mi Jung ke parkiran. Untungnya parkirannya ada atep-atep (?) jadinya ga perlu kena hujan. Mi Jung langsung masuk ke dalem mobil pas Hoya udah buka kunci pintu mobilnya. Hoya juga ikut masuk ke dalem.

“Mau ke mana nih?” tanya Hoya sambil nyalain mesin mobil.

“Makan yuk, di kafe gitu.” jawab Mi Jung yang emang lagi laper sekalian memanfaatkan kesempatan emas alias ditraktir.

“Ok.” jawab Hoya singkat dan langsung jalanin mobilnya.

Selama perjalanan, mereka cuma diem sambil nikmatin musik di mobil yang ketutup sama suara hujan sebenernya. Hoya sendiri gatau kenapa malah nahan senyum terus daritadi. Sesekali, dia ngeliatin terus wajah Mi Jung, apalagi kalo pas lagi lampu merah.

Ini cewek cantik sih ya.

Dia langsung berusaha ilangin pikiran itu. Masa dia suka ama Mi Jung? Yura gimana? Ahelah, paling perasaan semu doang. Pikirnya.

Ga berapa lama, mereka udah sampe di depan kafe yang dituju. Kebetulan, mereka deket sama pintu  masuk, jadi langsung nekat lari aja masuk ke dalam menembus hujan. Pas udah di dalem, mereka langsung duduk ga jauh dari sebuah panggung kecil yang dipenuhi beberapa alat musik. Seorang pelayan nyamperin mereka dan memberikan dua buah menu.

Mi Jung lagi liat menu dan di saat itulah Hoya diem-diem merhatiin cewek itu. Dia bisa liat rambut Mi Jung yang ga terlalu tebel tergerai dan keliatannya halus banget. Mata indah cewek itu juga keliat bergerak membaca menu yang dipegang.

“Saya pesen capuccino aja deh sama kentang goreng.” kata Mi Jung. “Lu pesen apa oi?”

“Eh?” Hoya tersentak. Dia langsung buru-buru liat menu, salting gara-gara Mi Jung. “Toast sama capuccino.”

“Ok, harap tunggu sebentar ya.” kata sang pelayan, meninggalkan mereka berdua.

Mi Jung cuma celingukan sambil main hape. Hoya malah tegang, berasa canggung sendiri. Kafe yang rame gabisa nutupin suara hujan yang cukup membuat canggung buat Hoya. Di panggung juga gaada yang nyanyi. Mendadak, dia malah nyesel kagak bisa main musik, seenggaknya kan dia bisa izin main alat musik gitu di atas panggung. Caper ke cewek dikit gapapalah.

Panjang umur ato apa, tiba-tiba ada yang naik ke atas panggung dan sukses bikin kafe riuh sama suara cewek-cewek. Kayaknya nih, cowoknya ganteng kali ya ampe pada heboh. Hoya langsung noleh, di sana ada dua cowok yang udah duduk di kursi, yang satu megang gitar, yang satu megang mic. Alangkah kagetnya dia pas liat salah satunya ..

“Jung, itu Byung Hun kan?”

Mi Jung langsung noleh ke panggung pas denger Hoya nanya gitu. Bukannya ngejawab, matanya malah terpaku sama cowok yang lagi main gitar dengan cool-nya. Cowok yang satunya lagi sebenernya juga ga kalah keren, manis bangettt. Tapi, yang jadi perhatian Mi Jung cuma si cowok yang megang gitar itu.

Byung Hun.

Byung Hun mulai main gitarnya dan cowok yang satunya langsung nyanyi. Suaranya yang halus sukses bikin para cewek teriak-teriak gajelas.

“Eh, ternyata Byung Hun bisa main gi—“

Hoya langsung diem begitu ngeliat mata Mi Jung yang terfokus ke arah panggung. Rasanya mulai agak sakit. Apa cewek itu lagi merhatiin Byung Hun? Dan faktanya emang iya.

Byung Hun melakukan solo gitarnya sebagai ending lagu, dan cowok yang nyanyi itu tiba-tiba turun dari panggung, semacam bakal narik salah satu orang yang ada di kafe itu. Yang cewek udah pada semangat banget pengen ditarik. Tapi, cowok itu tiba-tiba menarik seorang cewek. Mi Jung.

Mi Jung langsung terkejut dan tersadar dari lamunannya. Hoya pun cuma bisa nganga. Byung Hun yang udah selesai main gitar langsung melotot ngeliat rekannya itu narik seorang cewek yang sangat dia kenal itu.

“Kamu mau aku nyanyiin apa?” tanya cowok itu pas udah sampe di atas panggung. Matanya tepat menatap mata Mi Jung.

“E-e-eh? Gausah!” jawab Mi Jung gugup. Entah karena malu ditarik ke depan, ato karena diperhatiin sama Byung Hun.

“Oh, gara-gara ada pacar kamu ya, makanya kamu ga berani aku nyanyiin?” tanya cowok itu, sambil ngelirik Hoya.

“Dia bukan cowok aku kok!” jawab Mi Jung.

“Oh, bukan? Kalo gitu, aku nanya aja deh. Kamu pilih aku, ato temen aku yang main gitar? Kalo kamu ga jawab, kamu gaboleh turun dari panggung.” kata cowok itu sambil tersenyum manis.

“Ya Byung Hun lah!” ceplos Mi Jung. Tapi, dia langsung nutup mulutnya begitu tahu dia keceplosan ngomong itu. Byung Hun natep Mi Jung ga percaya. Yang cewek-cewek langsung pada jerit-jerit, entah iri ato seneng liat moment yang ada di depan.

“Kamu udah kenal sama yang main gitar? Kamu suka ya?” tanya cowok itu, kepo.

“Suka? E-e-enggak kok.” jawab Mi Jung salting. “Aku udah bisa turun kan?”

Hoya terdiam ngeliat Mi Jung yang salting. Rasanya makin sakit aja.

“Boleh kok.” jawab cowok itu dan Mi Jung langsung berusaha untuk berlari turun dari panggung. Tapi, cowok itu langsung narik dan ngedeketin telinga Mi Jung ke mulutnya.

“Namaku Xi Lu Han. Semoga kita bertemu lagi ya.”

Hoya nganter Mi Jung ke rumah. Cowok itu langsung bukain pintu buat Mi Jung sambil berusaha menunjukkan wajah ‘enggak-apa-apa’.

“Thanks ya udah traktir gua! Tumben banget lu baik!” kata Mi Jung sambil tersenyum puas.

Hoya bales senyum. “Gue balik dulu ya.”

Mi Jung ngangguk dan Hoya langsung masuk ke dalam mobil. Hoya nyalain mesinnya dan buru-buru jalanin mobilnya.

Rasanya masih sakit.

Mi Jung terbangun dari tidurnya dan berjalan mengarah ke jendela. Tapi, beberapa kali dia nabrak barang-barang yang ada di kamarnya. Sesampainya di jendela, dia langsung buka jendela dan malah buka jendela rumah sebelah.

Tunggu, dia mau ngapain emang? Nyolong? Ngebakar? Dan lebih anehnya lagi…matanya  merem!

Dengan santai alias enggak sadar, Mi Jung loncat ke dalam ruangan kamar sebelah. Entah gimana, jendela itu ga dikunci sama si pemilik ruangan.

Sesampainya di dalam, Mi Jung langsung berjalan ke arah ranjang yang ada di ruangan rumah sebelahnya itu. Dengan santainya, dia berbaring di sana dan menyelimuti tubuhnya. Enggak lupa, dia meluk orang yang ada di sampingnya. Orang yang dipeluk itu sama sekali ga kebangun dari tidurnya.

Mi Jung pun berhenti ngigo.

“Mmm..”

Mi Jung denger sebuah gumaman dan merasakan ada sinar matahari masuk ke dalam matanya. Dia dengan santainya ikut bergumam dan mencoba membuka matanya perlahan. Dia langsung kebingungan. Kok beda sama kamarnya ya? Dia lagi di mana? Kenapa ada suara orang lain? Kenapa rasanya dia kayak lagi meluk orang? Dia langsung ngeliat ke samping dan mendapati seorang cowok tidur di sampingnya ..

“AAAAAA!”

Cowok itu langsung terbangun. Mi Jung langsung mengubah posisinya jadi duduk sambil ketakutan. Cowok itu langsung duduk dan menatap Mi Jung kaget.

“Kok lu bisa di kamar gue?!” teriak cowok itu.

“Mana gua tahu! Lu yang bawa gue ke sini ya, hah?!” bales Mi Jung.

“BYUNG HUN! YURA DIBAWA KE RUMAH SAKIT!” teriak seorang wanita paruh baya, sambil masuk ke ruangan Mi Jung berada. Dia ga nyadar di situ ada Mi Jung.

“APA?!” teriak Mi Jung bareng cowok itu, alias Byung Hun.

To be Continued

HOLLA, HELLO, HELLI~ SUDAH BERAPA LAMA AUTHOR BELUM LANJUTIN FF INI *dibakar Readers*. Ok, Author buntu, Author akuin -_- Tapi, pada malam ini, akhirnya Author bisa mendapatkan ide :’) Maaf ya Author telat, maaf mengecewakan, maaf Author jadinya bikinnya ga bagus T____T Duhh, sumpah, maaf <////3 Dan gatau nanti bakal lanjutin kapan *nyengir kambing*. Yaa, pokoknya Author minta maaf banget-banget deh yaa. Kalo ada kesamaan itu ga disengaja, dan langsung bilang aja yaa ❤ Mihihihihi~ Dan, tolong jangan ada SIDERS, Author butuh penyemangat T_____T

JANGAN JADI SILENT READERS, COMMENT AND LIKE KALO UDAH BACA. JIKA ADA KESALAHAN, SILAHKAN LAPOR!

Thanks for Reading ^^

37 responses to “Family Battle [ Chapter 2 — Change the Love ]

  1. thor.. lanjutin ya.. udah nunggu 22 tahun 2 bulan 22 hari nih ._.
    ok? ok? Author sibuk atau lagi gak punya Ide? aku penasaran sama Rencananya Taemin nih.. kayaknya ada apa apa nya deh.. ._. Yaudah thor cepet lanjutin yah… Fighting!

  2. Pingback: Family Battle [ Chapter 3 — Because of Eyes ] | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s