Distance

Distance

Title : Distance (Oneshoot)

Author : Asuka

Casts : Lee Hongki (FT Island) | Kwon Mina (OC) | Lee Jae Jin FT Island (Cameo) | Choi Jong Hun FT Island (Cameo) | Oh Won Bin (Cameo) | Lee Jungshin CN Blue (Cameo)

Genre : Angst-Sad

Rate : PG-15

Disclaimer : Sedikit banyak, FF ini terinspirasi dari FT Island’s MV DISTANCE, so dont bashing me, okey?! I just own OC, Poster, and Plot!

Asuchi Note : ini bukan ff aku, tapi ff titipan org nyasar ke twit aku, hehe.. becanda dink… mohon komen saran jempol dan lainnya yaa~ makasih ^^

A/N : Makasih banyak buat eon Asuchi yg udah ngebolehin ff gagal (?) ini posting di FFINDO *big hug* Maaf ya eon udah ngerepotin ^^ hihihi~ dan buat reader, happy reading ya! Aku author freelance di sini yg nebeng dipostingin sm eon Asuchi hehe. Ur comment like oxygen for me 🙂

This fiction was posted on : http://azmahwanbi.wordpress.com/ (visit my blog juga yaa~ hoho *promo*)

 

*

          PLAK! Satu tamparan cukup keras mendarat mulus di permukaan kulit wajahku sebelah kiri. Rasa perih itu langsung menjalari setiap pori, menyisakan bekas kemerahan di sana. Lee Jae Jin, pria yang mengantarku terkesiap lalu segera melakukan aksi pencegahan agar hal tersebut tidak diulangi lagi dengan cara menenangkan paruh baya di depanku—pelaku yang menamparku.

          Aku hanya diam mendengar rentetan kalimat yang diucapkan Jae Jin pada perempuan tersebut, sebuah pembelaan atas diriku. Namun aku sadar, aku memang pantas menerima semua perlakuan ini. Juga merupakan sebuah bayaran bagiku yang telah melakukan kesalahan teramat fatal di masa lalu. Maka dengan segenap kerendahan hati, aku menguraikan kata maaf sedalam-dalamnya padanya.

           “Mianhada. Jeongmal mianhae…” Ringisku menahan perasaan ngilu, lebih perih daripada tamparannya. Perempuan yang sedari tadi ditahan-tahan oleh lengan Jae Jin itu menatapku penuh luka, pilu bersembunyi di balik tatapannya yang basah. Bibirnya bergetar menahan tangis saat aku memberanikan diri menengadahkan wajah ke arahnya, sementara Jae Jin hanya bisa bersiaga penuh. Khawatir bibi-nya itu akan mengamuk lagi padaku.

           “Bibi dengar sendiri, bukan? Mina sudah meminta maaf, dia juga pasti sangat menyesal. Jadi aku mohon, bi. Jangan perlakukan dia dengan kasar, hyung juga tak akan senang jika melihat ini.” Pinta pria bertubuh tinggi itu sambil memegangi tangan bibinya yang dingin karena cuaca.

          Aku tetap berusaha menahan agar air mataku tidak tumpah, bersikeras mendengar penuturan beliau tanpa isak tangis terlebih dahulu. “Kwon Mina-Ssi, aku menamparmu bukan karena aku membencimu. Bukan pula karena kematian putraku…” Kalimatnya terhenti sejenak, ia mengangkat dagunya ke atas, mencegah kristal asinnya terberai menjadi butiran air mata. Setelah menarik nafas sekali, ia melanjutkan.

           “…Aku hanya tidak percaya kau adalah gadis yang dicintai olehnya, sekaligus orang yang meremukkan harapannya. Apa kau tahu, bagaimana menderitanya Hongki setelah kepergianmu tiga tahun lalu? Ia bahkan kehilangan senyumnya, celotehan usilnya dan segala tingkah riangnya yang mencuat sejak kau hadir di kehidupannya. Aku.. Aku.. Tak percaya ia begitu mencintaimu lebih dari dirinya sendiri…” Tangisan ibu Hongki akhirnya terdengar, membuatku tak sanggup untuk terus menahan diri. Aku turut berderai air mata, penuh sesal.

           “Y-ya… Jadi, bagaimana..? Aku- Bibi, jangan bersedih lagi. Mina-Ssi, kuatkan dirimu. Jebal-yo.” Mimik memelas dan serba salah di raut muka Jae Jin tak kami hiraukan sama sekali. Pria itu menatap kami secara bergantian dengan wajah keruh, hampir tersugesti untuk melakukan hal yang sama—menangis. Dengan segala cara ia berupaya menenangkan aku dan juga ibu Hongki.

           “Bibi, terlepas kau membenciku atau tidak, tetapi tolong izinkan aku melihat makamnya. Aku ingin meminta maaf sekali saja padanya, sekarang…”

 

***

 

-3 years ago-

 

          Aku baru saja menuntaskan satu pertemuan mata kuliah terakhir hari ini dan bergegas meninggalkan area universitas. Kusapa beberapa kenalan yang kebetulan melintas di koridor utama, tak kerepotan sedikitpun meski ada diktat dan paper terkepit di tangan kanan serta tas yang tersampir di bahu kiriku.

          Dalam hitungan detik, hamparan hijaunya dedaunan serta mekarnya bunga-bungaan menyambutku di halaman universitas yang bisa dikatakan luas ini. Ada banyak pemandangan yang nyaman untuk dilihat pada waktu musim semi seperti sekarang. Butuh waktu beberapa menit bagiku untuk keluar dari area asri tersebut untuk mencapai jalan raya, banyak dari mahasiswa menghabiskan waktu istirahatnya di taman universitas sembari mengulang materi kuliah.

          Hampir separuh perjalanan aku meninggalkan pelataran utama, instingku mengatakan ada seseorang tengah membuntuti langkahku. Karena penasaran, maka aku berbalik untuk memastikan. Sayang, kalah cepat. Tak ada seorang pun yang mencurigakan sedang menguntit di belakang sana. Atau memang hanya perasaanku saja, mungkin.

          Kulanjutkan hentakan sepatu di atas tanah, namun sedikit kupercepat hingga pagar dengan mudah kucapai. Perasaan itu masih ada, bahkan sekarang lebih kuat ketika memasuki jalan raya. Aku yakin ada orang yang sengaja mengikutiku sejak dari kelas tadi. Kali ini kau akan tertangkap, tuan penguntil!

          Dengan gerakan super cepat aku menoleh dan benar saja. Ada seorang pemuda berpenampilan sedikit aneh—menurutku—berhenti dengan gugup sekaligus salah tingkah, sekitar satu meter dariku. Ia terus-terusan membetulkan letak kacamatanya yang tidak tahu salahnya dimana, tangan kanannya yang menggenggam tali postman-bag bergerak-gerak gelisah.

           “Ya! Chogiyo!” tahanku ketika ia akan kabur. Aku berhasil menggagalkan niatnya untuk melarikan diri. “Hey kau. Apa tadi kau mengikutiku, huh?” Tanyaku tanpa basa basi ketika sampai di hadapannya yang langsung terkejut seperti anak ayam ketahuan bergerombol di antara anak itik. Sepasang mata di balik lempengan mika bening berbingkai tersebut menatapku sambil berkedip. Ia menelan ludahnya, gugup.

           “Ah.. Eh.. Ani-yo, aku hanya.. Ng, tidak tahu hendak bertanya pada siapa.” Jawabnya masih dengan ekspresi linglung. Aku melihatnya dari atas hingga bawah, penampilan yang tidak biasa. Sweater tebal berkerah tinggi, rambut kecoklatan yang agak ikal—seperti tidak disisir, ditambah lagi kacamata full-frame menenggeri tulang hidungnya.

           “Kenapa tidak langsung saja memanggilku? Jika benar ada yang ingin ditanyakan, kau bisa langsung utarakan. Setidaknya kita bisa beriringan, tidak seperti pencopet dan targetnya, bukan?” Gurauku ingin mencairkan suasana yang canggung. Jujur, aku tidak biasa memperlakukan seseorang dengan kasar tanpa alasan.

           “Oh ya, kau ini mahasiswa pindahan yang tadi masuk di kelas yang sama denganku ‘kan? Kenapa sungkan begitu?” Sambungku yang baru menyadari bahwa pemuda berkacamata ini adalah pindahan di universitas. Hanya saja, sepertinya kami beda fakultas.

          Kulihat ia mengangguk, “Ah, itu benar. Kebetulan tadi mata kuliah acuan yang kita ambil sama.” Sedikit demi sedikit ketegangan di wajahnya berkurang, itu membuatku penasaran untuk terus menanyainya. “Geureom, kenapa kau memilih untuk membuntutiku?” dengan senyum usil aku mendekat ke arahnya.

          Ia menggeser tubuhnya beberapa inci, menjaga jarak agar posisi kami tak lebih pendek lagi. Hey, ayolah! Aku tak serius, ini hanya sekedar kejahilanku saja. Dehemannya tertangkap oleh telingaku, agaknya kegugupan kembali menyantroninya. “Ige.. Karena kupikir, kau cukup baik dan kau orang pertama yang menyapaku di kelas tadi.”

          Aku kembali pada posisi normalku, “Kau ini cepat sekali menarik kesimpulan. Tentu saja aku memberi salam padamu tadi, kau ‘kan duduk di sebelah bangkuku. Tidak etis rasanya bersikap acuh pada seseorang yang duduk di dekatmu.” Jelasku dengan nada santai. Tak lagi menyorotinya, beralih mengamati ke jalan yang dilalui beberapa kendaraan.

           “Habis mau bagaimana lagi? Ini hari pertama kepindahanku, wajar jika aku tak punya teman seorangpun.” Kilahnya memaksaku untuk menoleh padanya lagi. “Lagi-lagi kau berspekulasi awal. Setelah beradaptasi di lingkungan ini, aku yakin kau bisa mendapatkan teman walau hanya satu orang.” Kuberikan ia senyum simpul sebagai penekanan bahwa perkataanku bisa dipercaya. Meski sempat terdiam, ia kemudian mengangguk kecil, menyetujuiku.

           “Omong-omong, apa kau sedang sakit? Di musim semi seperti ini, kenapa berpakaian serba tebal?” Aku tak dapat menahan rasa ingin tahu tentang style-nya sekarang. Seketika bola matanya bergerak-gerak, seakan mencari-cari jawaban apa kiranya yang tepat.

           “Tidak! Aku tidak sakit, hanya saja.. suhu badanku sedikit di atas normal..” Ia menunjukkan suatu ukuran dengan jempol dan telunjuknya yang sengaja didekatkan. Aku hampir tersedak menahan tawa, “Itu sama saja! Kau ini lucu juga ternyata!” Ringkingku kegelian saat cengiran konyol terpatri di bibirnya, menampilkan deretan gigi-geliginya yang putih. Kami tertawa tanpa dikomando, suasana mendadak cair begitu saja.

           “Haish, sejak tadi kita bahkan belum berkenalan satu sama lain. Kwon Mina imnida.” Aku mengulurkan tangan, bermaksud mengajaknya berjabat tangan usai menuntaskan tertawaan. Lima detik ia menatap tanganku yang tergantung di udara, detik berikutnya tangan besar pemuda itu menaut telapak kananku.

           “Lee Hongki, panggil saja Hongki.”

 

*

 

          Sejak pertemuan hari itu, aku dan Hongki menjadi teman bicara. Meski benar kami beda fakultas, setidaknya dalam satu hari ada saja kesempatan untuk bersua. Ia juga tak pernah absen menyapaku ketika berpapasan di koridor maupun kantin. Dan, seperti tebakanku. Hongki bukanlah pemuda buangan yang terus menerus diabaikan. Buktinya saja, setelah tiga bulan masa penyesuaian dirinya di universitas, ia sudah mendapatkan tiga orang teman dari fakultas yang sama dengannya. Jong Hun, Won Bin dan entah aku lupa nama satu orang lagi yang jelas Hongki tak sendirian seperti pertama kami bertukar nama dulu. Ia pandai bergaul hanya saja kurang percaya diri.

          Hari libur pekan ini, ia mengajakku pergi keluar. Dengan dandanannya yang biasa, Hongki menungguku di stasiun kereta. Entah dia ingin menuntunku kemana, belum dikatakan olehnya. Setelah langkah kami bertemu, dia langsung memberiku sebuah tiket kereta dan menunjuk ke arah pintu gerbong yang terbuka.

          Ternyata tujuannya hari ini adalah sungai Cheonggyecheon yang merupakan aliran sungai di tengah kota Seoul. Tidak heran jika sungai Cheonggyecheon yang memiliki panjang enam kilometer serta ditata dengan apik ini menjadi salah satu tujuan wisata di Seoul. Tak terkecuali juga bagi Lee Hongki. Cukup banyak pengunjung yang datang seperti kami.

           “Inilah salah satu alasan kepindahanku kemari… Tatanan kota yang apik dan indah.” Gumam Hongki sambil menempelkan telapak tangannya pada tembok harapan atau yang biasa disebut Wall of Hope yang menampilkan sekitar dua puluh ribu potongan porselen keramik yang setiap potongannya memuat gambar dan pesan-pesan dari warga Korea dari seluruh penjuru dunia.

           “Apa Andong tak lebih indah dari Seoul, huh?” Aku mempertanyakan perihal tempat tinggalnya yang dulu sembari ikut memperhatikan tembok yang panjangnya mencapai 50 meter tersebut. “Bukankah Andong masih mempertahankan tradisionilnya? Kurasa itu jauh lebih baik dan unik.” Tambahku mengiringi di sisi kanan Hongki yang masih betah menyentuh porselen dingin tembok di dekatnya.

           “Ada alasan tertentu mengapa aku lebih memilih Seoul sebagai tempat tinggal.” Jawabannya terdengar menggantung, ada sesuatu yang tersembunyi di dalamnya.

           “Oke, semua orang berhak memilih alasan. Omong-omong, mau makan sesuatu tidak?” Aku menyentuh bahunya hingga sepasang mata minus itu menatapku. Ia berpikir sejenak, “Apa kau kelaparan?” Ia balik bertanya.

           “Sedikit. Hehehe…” Cengirku yang dibalas tertawaan renyah (?) darinya. “Baiklah, Kwon Mina-Ssi. Haja mogeul jangsol-eul chajeul! (Ayo kita cari tempat makan!)” Aku mengikutinya meninggalkan area sungai Cheonggyecheon yang masih dipadati pengunjung.

           “Kau yakin tak apa hanya makan tteokbokki?” Hongki belum menyantap kudapannya saat aku sudah dengan lahap mengunyah kue beras yang direbus bersama saus pedas gochujang tersebut. Ia melihatku dengan ragu.

           “Gwaenchana. Kau khawatir aku tak biasa jajan di pinggir jalan seperti ini? Itu bukan masalah besar.” Sahutku yang mulai kepedasan dan mencari-cari sesuatu untuk diminum. Secara tanggap Hongki memberiku segelas kecil air dingin yang disediakan oleh pemilik tenda tempat kami bernaung sekarang.

           “Oh, begitu rupanya. Ya sudah, makan yang banyak.” Ujarnya jenaka membuatku tersenyum dengan mulut penuh makanan. Hongki mengunyah tteokbokki-nya perlahan, bahkan meneguk air putihnya saja hati-hati. Adakah yang salah dengan dirinya? Mengingat sejauh aku mengenalnya selama ini, rasa-rasanya Hongki tak pernah sekalipun mengenakan t-shirt tipis atau kemeja biasa seperti kebanyakan orang. Ia selalu diselimuti pakaian nan tebal dan rapat, serta botol kecil yang—secara tak sengaja kulihat—selalu dibawa olehnya dalam tas.

           “Hongki-Ssi, bolehkah aku bertanya?” Izinku seusai meminggirkan wadah tteokbokki yang sudah habis. Hongki menengak air putihnya kemudian mengangguk. “Kuharap kau tidak tersinggung, tapi.. tidakkah kau merasa mode berpakaianmu itu jauh dari kebiasaan orang pada umumnya?”

           “Kenapa dengan aku yang sekarang? Apa terlihat jelek? Yah, mungkin ada benarnya. Aku sama sekali tidak mengerti mode berpakaian, aku hanya tahu jika nyaman dikenakan itulah gayaku.” Sahutnya bijak. Tak terpikirkan olehku sebelumnya, kukira ia akan murung saat aku mengkritik cara berpakaiannya. Nyatanya tidak, ia seperti orang yang menjalani hidup tanpa protes apapun.

           “Ani, aku tidak bilang kalau kau jelek. Kau sebenarnya cukup tampan jika tanpa kacamata tebal dan rambut ikal ini.” Kucondongkan tubuh ke arah meja, memperhatikan setiap inci di wajahnya. Jakunnya bergerak naik-turun sekali ketika jariku menyentuh rambut coklatnya.

           “Tarawa (ikut aku). Aku tahu kau harus diapakan.” Kutarik lengannya berdiri dari kursi, “Kemana?” Ia mengerem kakinya. Aku menoleh lagi, “Ke tempat yang tak pernah kau bayangkan.” Sahutku cepat lalu menyeretnya pergi setelah meninggalkan uang di atas meja sebagai pembayaran.

          Hongki menatapku bingung, ia hampir menolak ketika dipaksa duduk menghadap cermin besar di sebuah salon. Aku memerintahkan seorang hair-stylish merapikan tatanan rambut seorang Lee Hongki. Ketika ditanya apakah pemuda itu akan direbonding, aku menolak. Ia hanya perlu dipangkas sedikit agar tidak terkesan gondrong.

           “Tolong rapikan di beberapa bagian saja,” Titahku sambil menggerakkan telunjuk dan jari tengah layaknya gunting potong. Hair-stylish tersebut mengangguk paham, sementara Hongki terperangah menatapku. “Kau hanya perlu duduk manis dan diam, Tuan Lee Hongki.” Aku melepas kacamata minus dari wajahnya.

          Tak sampai setengah jam, permak itu selesai. Rambutnya jauh lebih baik sekarang, tanpa menghilangkan sifat aslinya—ikal. Kulihat Hongki merengut sembari merebut kacamata dari tanganku, namun dengan cepat aku mengambilnya kembali. Ia melihatku dengan tatapan: sekarang-apa-lagi-rencanamu.

           “Tinggal satu lagi. Kau hanya perlu mengganti kacamata dengan benda ini!” Kusodorkan sebuah kotak kecil berisi soft-lens padanya yang menganga untuk kesekian kalinya. Aku mengangguk mantap, meyakinkan Hongki agar memakai benda kecil tersebut sebagai ganti kacamatanya.

           “Lebih praktis, bukan? Kau tak perlu repot-repot menutupi wajahmu dengan lempengan mika bening itu terus menerus.” Imbuhku sepanjang perjalanan pulang hari itu. Hongki mendesah berkali-kali, tapi aku yakin ia tak dirugikan atas hal ini. Buktinya, sudah ada lebih dari 5 orang wanita yang menyapanya di jalan. Sudah kubilang ‘kan dia itu tampan!?

           “Bukan itu masalahnya. Kenapa kau melakukan ini untukku? Kau bahkan baru mengenalku tiga bulan yang lalu, tidakkah ini berlebihan?” Ada nada memprotes dalam kalimatnya. Yah, aku sendiri kurang paham mengapa ini kulakukan. Aku hanya merasa ingin melakukan sesuatu untuk seseorang dan membuatnya senang.

          Dua puluh satu tahun hidup dalam kekangan ayahku, membuatku tak pernah merasa bebas berteman. Beliau membatasi pergaulanku dengan alasan status keluarga kami yang kaya raya. Jadi, ayah akan memperingati setiap orang yang berteman denganku jika mereka tak sebanding maka tak perlu terus berada di sekitarku. Tidak heran jika temanku hanya terbatas pada kalangan atas saja. Kali ini aku hendak memasuki dunia yang selama ini tak pernah kujelajahi. Berharap Hongki bisa mengajakku menyelami dunianya yang sepintas lalu sangat sederhana tetapi aku yakin menyimpan kehangatan tersendiri.

           “Eum, perlukah alasannya? Karena kau temanku, mungkin?” Jawabku seadanya. Yah, mungkin itu alasannya—untuk saat ini. Aku ingin berbuat sesuatu untuk ‘teman’ku ini. Hongki menyerah, ia tahu aku tak akan menjawab pertanyaannya lebih jelas lagi. Maka yang ia lakukan sekarang adalah menerima penampilan barunya yang menurutku jauh lebih keren dari sebelumnya.

          Obrolan kami tak berhenti sampai di situ, ocehan demi ocehan keluar dari lisanku, disahuti Hongki. Seakan tak pernah kehabisan bahan pembicaraan. Ketika akan turun dari trotoar melintasi zebra-cross, aku yang kurang berhati-hati dengan mudahnya tersandung kakiku sendiri hingga hampir terjatuh jika saja Hongki tidak segera menopang perutku. Kedua lengannya refleks melingkari pinggangku dengan rapat.

           “Gwaenchanayo?” Tanyanya dengan nada cemas. Aku tak langsung menjawab, telingaku dipenuhi bunyi dentuman jantung yang tiba-tiba saja bertalu cepat. Hey, ada apa ini? Begitu kagetnya kah aku hingga adrenalinku seperti dipacu ketakutan? Sialnya lagi, dalam jarak yang—tanpa disengaja—menjadi sedekat ini dengannya membuatku gugup setengah mati. Padahal biasanya aku yang sering menggoda Hongki dengan berpura-pura memepetinya. Kenapa sekarang aku salah tingkah?

           “Eung, gwaenchana! Se-sepatuku sedikit licin. Te-terima kasih atas bantuannya.” Bodoh! Sekarang aku terbata-bata. Hongki sadar kemudian segera melepaskan tangannya dari tubuhku, selanjutnya pemuda itu mengambil jarak dariku sembari mengusap tengkuknya sungkan. Aku sendiri mendadak kegerahan, bagaikan ada ceret uap di wajahku.

           “Lain kali, perhatikan jalan di depanmu. Kalau tidak kau bisa celaka.”

 

*

 

           “Siapa dia?”

           “Siapa apanya?” Aku yang tadinya asik membaca pesan dari Hongki mengubah ekspresi saat mendengar pertanyaan aneh pria bersetelan rapi yang kupanggil ayah selama belasan tahun itu. Beliau yang baru datang langsung melonggarkan dasi yang melingkari kerah kemeja putihnya lalu menanggalkan jas licinnya ke sofa.

           “Pria aneh yang sering bersamamu belakangan ini. Ayah harap kau tak memiliki hubungan khusus dengannya. Mina-ya, kau harus selalu ingat posisi keluarga kita.” Penekanan yang ayah berikan membuatku muak. Selalu mengaitkan segala hal dengan kedudukan, apa hebatnya itu?! Ingin rasanya aku memprotes jika saja ibu ada di sini sekarang. Namun perempuan yang melahirkanku dari rahimnya itu sedang pergi ke rumah nenek di Incheon. Aku tak akan bisa mengeluh di pundaknya jika kalah beradu argumen dengan ayah.

           “Lee Hongki? Appa, dia itu teman universitasku dan dia bukanlah orang jahat. Mengapa appa tak pernah sekali saja melihat seseorang dengan sisi positifnya?” Aku menegakkan posisi dudukku menghadapnya.

           “Cih,  mendengar pembelaanmu terhadapnya, aku yakin kau menyukai pria itu. Kuharap kau tak terlalu bodoh hingga berhasil dimanfaatkan olehnya.” Sindiran itu membuat kupingku panas. Tak lama berselang, seorang pria yang seumuran denganku muncul di belakang ayah. Senyum liciknya menyiratkan bahwa ia adalah dalang kekacauan yang terjadi hari ini.

           “Jungshin yang melapor padaku, beberapa hari yang lalu ia melihat kau keluar dari kios penjual jajanan di pinggir jalan bersama seorang pria berkacamata. Jungshin bilang, pakaiannya bahkan tak bermerk. Jadi, apa kau bisa menyembunyikannya dariku?” Dengan sorot mata tajamnya, ayah mengintimidasiku. Sial, pria berambut sebahu yang menggariskan senyum ejekan di bibirnya itu kesenangan melihat penderitaanku sekarang. Lee Jungshin, dia adalah sepupuku yang tak pernah suka melihatku hidup tenang. Ada saja tindakannya untuk memojokkanku, bahkan oleh ayahku sendiri. Dasar penjilat!

           “Mengapa appa lebih percaya perkataan bocah pengadu itu ketimbang anak sendiri? Dia bahkan tak tahu bagaimana caranya memperlakukan teman! Appa, kau—” Perkataanku segera dipotong. “Tak peduli aku mengetahui masalah ini dari siapa, yang pasti kau tak boleh bergaul lagi dengan pria siapalah namanya itu! Aku tak setuju sekalipun kau mengatakan seribu kebaikan tentangnya!” Bentak ayah dengan suara besarnya. Aku terkesiap, kepalan tanganku menggenggam kuat, menahan segala kekesalan. Tak memperdulikan Jungshin yang melipat tangannya santai menghadapi pertengkaranku bersama ayah.

           “Mengapa appa tak pernah membiarkanku hidup dengan pilihanku sendiri?! Aku bukan boneka yang bisa seenaknya diatur-atur!” Raungku menumpahkan seluruh emosi yang selama ini kupendam. Tak bergeming, hanya rahangnya saja yang mengeras, ayah menatapku lekat dan berkata: “Kau akan segera ditunangkan dengan putra sulung kolega-ku, dia adalah anak dari pemilik sebuah brand pakaian ternama di Jepang. Persiapkan dirimu karena dua bulan dari sekarang pertunanganmu akan dilaksanakan.”

          Bagaikan disambar petir yang amat dahsyat, aku mematung dengan tatapan nanar. Raut keterkejutan bisa kutangkap dari muka Jungshin, sepertinya ia tidak terima. Akan tetapi dengan angkuhnya ia bersikukuh menganggap jika ini adalah petaka bagiku. Ya, benar. Ini adalah bencana untukku. Mengapa ayah tak berperasaan? Memutuskan hubungan pertemananku secara paksa! Aku tak tahu apa yang sebenarnya ia inginkan dariku. Kebahagiaanku, ataukah keuntungan baginya?

           “Appa! Kau tak bisa memutuskan sendiri! Aku belum mengatakan aku menyetujui pertunangan itu!” Seperti ada batu besar menohok jantungku, perasaan bahagia serta ketenangan yang kudapatkan selama berada di sekitar Hongki seakan lumer. Aku terus menolak, namun ayah selalu memiliki alasan untuk berkelit dan membantah pertahananku. Jungshin menjadi audiens pasif yang hanya pro kepada satu pihak, yaitu ayahku.

           “Tinggalkan dia atau aku yang akan menyuruh orang memperingatinya agar menjauhimu.” Ancam ayah membuatku tak berkutik. Jika sudah begini, Hongki tak akan selamat. Ayah punya anak buah yang tak terhitung jumlahnya sehingga cukup untuk membuat lelaki keturunan Lee itu babak belur jika melawan atau tak patuh. Tidak! Aku tidak mungkin membiarkan orang tak bersalah terlibat di sini. Hongki tak boleh dilukai atau diancam siapapun.

           “Jangan sakiti dia. Aku akan berhenti menemuinya jika itu keinginanmu. Aku yang akan mengatakan salam perpisahan padanya. Apa appa merasa puas sekarang?” Tegasku sembari menahan sesak di rongga dada. Mengatakan hal yang tak diinginkan itu sama sulitnya seperti mematahkan lempengan besi dengan tangan kosong. Hampir tidak mungkin.

          Garis tipis melengkung di wajah ayah, tampaknya ia senang aku mentaatinya untuk kesekian kalinya. Gurat ketegangan tak lagi membekas di kulit tuanya. Dengan ringan, tangan besarnya mendarat di bahuku. Menepuk pundakku yang bergetar pelan. “Appa bersyukur memiliki putri penurut sepertimu, Kwon Mina. Lakukan secepatnya, jangan sampai kau berubah pikiran. Beristirahatlah sayang, untuk hari esokmu.”

          Setelah mengatakan itu, ayah meninggalkanku sendiri di ruang tamu bersama Jungshin yang masih saja menyeringai ke arahku. “Benarkah kau bisa melakukannya? Sungguh aku sangsi. Semoga kau bisa meyakinkan orang itu bahwa ia belum cukup pantas untuk seorang anak konglomerat sepertimu. Oh ya, kuucapkan selamat untuk rencana pertunanganmu. Tuan Putri Kwon. Annyeong.” Tutup Jungshin sembari berlalu di sampingku. Tak ada yang benar-benar peduli padaku di rumah ini!

*

 

          Keesokan harinya, sepanjang jalan menuju universitas otakku sudah menyusun berbagai rencana untuk menghadapi Hongki hari ini. Entah apa yang bisa kulakukan agar ia yakin bahwa aku bukan gadis baik dan segera menjauhiku setelah ini. Yang pasti aku tak ingin ia sampai berurusan dengan para pengawal ayahku yang buta belas kasihan.

          Tadinya aku berniat menghubunginya, meminta waktu untuk bertemu sepulang kuliah. Tetapi semua dipermudah saat di lantai dua aku melihatnya bersama dua rekannya dari fakultas seni. Sungguh, ada yang berubah darinya. Sebut saja sisi penampilan—selain gaya rambut. Hongki jauh lebih kasual dengan balutan jaket hitam bermotif animal serta postman-bag bergambar tengkorak. Mereka tampak santai saling melempar gurauan.

          Langkahnya terhenti saat sosokku telah ditangkap oleh indera penglihatannya. Dua orang temannya itu ikut memperhatikan objek—diriku—yang membuat Hongki tertegun sejenak dalam jejaknya. Mereka berbisik satu sama lain kemudian mendorong Hongki agar menghampiriku. Sedikit sungkan, pemuda itu berjalan lambat ke arahku. Ia melambai terlebih dahulu sebelum akhirnya tiba di depanku.

           “Annyeong, Mina-Ssi. Kebetulan kita bertemu…” Sapanya sangat ramah, meski bisa kutebak ada sesuatu hal mengganggu pikirannya sekarang. Itu terlihat dari caranya menggerakkan bola mata ke samping lalu bersikeras memfokuskan kembali padaku.

           “Annyeong, Hongki-Ssi. Kau terlihat jauh lebih bersemangat hari ini.” Apa yang keluar dari lisanku terdengar seperti ucapan selamat tinggal. Hongki tak menyadari itu. Ia terus tersenyum lebar dan meneruskan maksudnya. “Aku merasa bersyukur bisa bertemu di sini. Apa kau punya waktu sepulang kuliah? Ada yang ingin kubicarakan denganmu.” Hongki mengalihkan rasa nervous-nya sembari membetulkan lipatan cappucin jaketnya. Hey, kebetulan itu terkadang buruk.

           “Tentu. Kita bertemu di taman kota saja, bagaimana?”

           “Joa! Pukul lima sudah harus di sana, ok?” Hongki segera mengakhiri pembicaraan karena dilihatnya Jong Hun dan Won Bin sudah mengisyaratkannya agar bergabung. Agaknya jam kuliah mereka akan segera dimulai. Aku hanya mengangguk sebagai tanda persetujuan, hingga punggung lebarnya mulai menjauh dari pandangan. Sebuah senyum getir tercover di wajahku. Mungkin ini akan menjadi pertemuan terakhir kami.

@Central Park

          Suasana di taman kota tak seramai biasanya. Matahari sore masih memanggang bumi dengan panasnya yang tak seberapa, menyisakan semburat kemerahan di langit yang bersiap melengserkan si raja siang tak sampai dua jam lagi. Aku melangkah masuk dari arah utara, mencari sosok Lee Hongki. Hanya perlu lima belas detik bagiku menemukannya dengan gestur khasnya—tak bisa diam—bersandar di bangku taman.

          Aku tidak tahu pasti perihal apa yang akan ia katakan padaku nanti, namun aku sangat yakin pernyataanku sebentar lagi akan sangat buruk di telinganya. Maaf, Hongki-Ssi. Aku harus melakukannya agar kau tak terusik. Kumantapkan hati dan berjalan mendekatinya. Dari kejauhan ia sudah melihat sosokku, spontan pria itu berdiri lalu melambaikan tangan padaku sambil tersenyum jenaka. Akh, aku pasti akan sangat menyesal kehilangan senyum dan keceriaannya.

           “Maaf, aku terlambat.” Haturku setiba di depannya. Hongki menggeleng pelan, “Gwaenchana. Aku pasti menunggu karena kau sudah berjanji.” Hatiku terasa miris mendengar jawabannya. Seolah perhatiannya untukku adalah pisau dua sisi, yang akan melukaiku juga dirinya sendiri.

          Ia mempersilakanku duduk di sebelahnya, lalu dimulai dengan obrolan ringan. Aku menanggapinya secara wajar, menunggu saat yang tepat untuk mengucapkan ‘selamat tinggal’. Entah bagaimana caranya, pembicaraan kami menjadi lebih serius hingga mencapai topik perasaan. Hey, ini sensitif bagiku ayolah!

           “Mina-Ssi, aku.. aku tak yakin bisa menyampaikannya dengan baik padamu. Aku bukan pria populer dan pandai seperti kebanyakan, tapi bisakah kau mendengarkan hatiku? Aku harus jujur karena.. karena semakin aku memendamnya maka semakin berkurang keberanianku. Aku menyukaimu sejak pertemuan pertama kita di kelas beberapa bulan yang lalu..”

          Aku terbelalak. Hongki menyatakan perasaannya padaku? Ya Tuhan, kenapa harus sekarang? Apa yang bisa kukatakan padanya? Kalau pun aku juga memiliki perasaan yang sama terhadapnya, ini sudah sangat terlambat dan tak mungkin terwujud.

           “Jangan menyukaiku. Jangan pula mencintaiku, Lee Hongki.” Seruan dingin itu terlontar dari mulutku, membeliakkan kelopak sipit bola matanya. Ia harusnya sadar itu adalah sebuah penolakan dariku. Benci saja aku, itu lebih baik daripada kau berurusan dengan ayahku.

           “Mi-Mina-Ssi.. Aku hanya ingin kau tahu isi hatiku, bukan memintamu untuk melarangku atas perasaan ini. Tak apa jika kau tak menyukaiku, itu hakmu sepenuhnya. Tetapi aku tentu tidak ingin membuang perasaan ini meski atas perintahmu.” Tolaknya disertai pandangan nanar. Aku tak sanggup menatapnya seperti itu, ia tak boleh tahu hatiku yang sebenarnya.

           “Mengapa kau menyukaiku? Apakah kau terlalu bodoh untuk mengetahuinya bahkan ketika aku memberitahumu? Lee Hongki-Ssi, mengertilah. Aku bukan gadis baik seperti yang kau pikirkan.” Tubuhku bergerak naik, menegakkan seluruh tungkai penyangga. Hongki mengikuti pergerakanku.

           “Jika tujuanmu mengatakan ini adalah agar aku membencimu, itu tidak akan berhasil Mina—”

           “Lupakan aku!” Potongku cepat. “Benar, apa kau lupa bahwa hari ini aku juga akan mengatakan sesuatu padamu? Aku akan segera bertunangan dua bulan lagi, kuharap kau tidak mengekori kegiatanku seperti dulu. Bukankah aku harus menjaga perasaan calon tunanganku?” Semampuku aku mengatakan seluruh hal yang sesungguhnya kubenci. Aku ingin berontak namun tak bisa! Ayah terlalu menguasai kehidupanku sekarang—bahkan sejak dulu.

          Kusaksikan pandangan mata Hongki berubah menjadi kosong. Ia mematung tanpa sepatah katapun. Agaknya ia kehabisan frasa untuk membalas bantahanku. Aku sendiri membuang muka, sesal tiada guna. Semuanya sudah kuutarakan secara jelas.

           “Mianhamnida. Mungkin aku menyakitimu, tapi ketahuilah aku tak pantas menerima seluruh ketulusanmu itu. Masih banyak gadis di luar sana yang jauh lebih baik daripada diriku, jebal.. Jangan mencariku lagi setelah ini.” Setelah mengucapkan salam formal, aku berbalik namun kurasakan sebuah lengan mencekal pergelangan kiriku. Kali ini apa lagi, Lee Hongki?

           “Jangan katakan kau akan menghilang… Setidaknya, kita bisa menjadi sepasang teman, bukan?” Bisiknya lirih. Kutarik nafas sekali lalu berbalik menghadapnya dengan ekspresi dingin yang benar-benar kupaksakan.

           “Jikapun itu benar, tak ada yang bisa kulakukan. Mengenai permintaanmu, kurasa aku menolaknya. Selama ini aku tak pernah tulus menjadi temanmu, kau tahu? Aku hanya merasa kasihan padamu, Lee Hongki.” Bohongku sembari menyingkirkan kekangan pria yang tatapannya kini sudah dijejali oleh lapisan kristal tipis. Bisa kurasakan ia menahan emosi sekuat tenaga, itu jelas dari getaran tangannya yang terkepal saat kulemparkan begitu saja. Tanpa penjelasan lebih lanjut aku meninggalkannya.

          Dalam hitungan langkah aku sadar, perasaanku telah tumbuh menjadi sebentuk rasa yang lain. Aku menyukainya, aku menyukai Lee Hongki! Hanya saja aku tak ingin jiwanya terancam, aku ingin melindunginya meski aku sendiri yang harus berkorban. Ayah tak boleh melakukan itu padanya. Tidak boleh! Hanya dengan cara ini, ia akan selamat dari ancaman ayah. Selamat tinggal, Lee Hongki. Jaga dirimu baik-baik.

-Author POV-

          Hongki tak lagi menyaksikan punggung Mina yang menjauh lalu ambruk ke tanah sekitar lima meter dari tempatnya berdiri. Pria itu terlalu sibuk mencari di mana letak kesalahannya hingga gadis yang ia sukai sejak pertemuan pertama itu mengubah sikap 360 derajat terhadapnya. Beberapa hari yang lalu hubungan mereka baik-baik saja, itu membuat Hongki tidak percaya Mina benar-benar mengatakan kejujuran padanya beberapa menit yang lalu.

          Sementara itu, Mina yang terjatuh bersimpuh di sekitar tanah terisak hebat. Ia hendak mengusir rasa sesak yang menyiksa, rasa ketidakmampuan terlepas dari doktrinan sang ayah yang membuatnya harus menyakiti Lee Hongki.

          Kedua insan yang tak digariskan oleh takdir untuk bersama itu perlahan tenggelam dalam kesedihan yang sunyi satu sama lain. Mina meremas kerah pakaiannya berikut tangisan, dan Hongki terduduk lunglai di bangku taman sendiri dengan kepala tertunduk dalam. Bahkan jarak yang tak seberapa itu kini telah menjelma menjadi bentangan mil dengan tembok yang menghiasi sepanjang alurnya.

 

*

 

          Ada yang berbeda pada pribadi Hongki semenjak kepergian Mina. Pancaran semangat semakin pudar di wajahnya dan Hongki kembali seperti semula—berpenampilan seadanya. Kacamata minus hadir kembali menutupi raut tampannya, bahkan sesuatu hal yang selama ini tidak (sempat) Mina ketahui semakin parah.

          Jong Hun dan Won Bin tak pernah absen memperhatikan kondisi rekan sefakultas mereka itu. Keduanya tampak khawatir menyaksikan kesehatan Hongki yang semakin hari semakin memburuk. Dalam seminggu, Hongki bisa jatuh pingsan sebanyak tiga kali disebabkan penyakitnya.

           “Jonghun-ah, tidakkah kau merasa beban Hongki terlalu berat untuk ia tanggung sendiri?” Sikut Won Bin pada Jong Hun. Keduanya berdiri tak jauh dari Hongki yang duduk menyendiri di bawah pohon maple yang daunnya terus menerus rontok. Pertengahan musim gugur benar-benar menjadi ‘musuh’ bagi tanaman berdaun lebat.

           “Kita bisa apa? Ia bahkan tak mau mendengar perkataan yang kuucapkan, seperti angin lalu saja. Kurasa hanya Mina yang bisa mengembalikan sosoknya seperti dulu lagi.” Sahut Jong Hun penuh rasa iba, tak melepas tatapannya dari Lee Hongki yang memunguti daun kekuningan di sekitarnya.

           “Gadis yang dengan tega menolaknya lalu pergi begitu saja itu? Aku benar-benar benci tipe seperti Kwon Mina!” Umpat Won Bin menggeram kesal, membela secara moril atas penderitaan Hongki. Pria tampan bermarga Choi itu tersenyum kelu, pikirnya seberapa benci pun Won Bin pada Mina, Hongki akan tetap menunggu gadis itu kembali—tak peduli kapan. Jong Hun sempat membaca isi hati Hongki berupa tulisan di sebuah buku catatannya yang mengatakan ‘kebencian tak bisa menghalau cinta karena aku telah tetapkan hati ini untukmu, Mina-ya’.

          Keduanya mendadak panik ketika menyaksikan tubuh Hongki oleng kemudian tersungkur ke tanah. Penyakit paru-paru yang diidapnya sejak kecil kambuh lagi. Jong Hun berusaha menahan tubuh Hongki sementara Won Bin lekas-lekas menelpon ambulans.

          Genap memasuki awal musim dingin, Hongki resmi menjadi pasien opname rumah sakit Seoul. Sang ibu mulai meratapi mengapa Hongki lalai mengkonsumsi obatnya dan check-up rutin ke rumah sakit. Sebelumnya—saat Mina masih ada—Hongki tak pernah lupa pergi ke rumah sakit dan senantiasa menelan racikan kimia berupa obat-obatan meski ibunya atau bahkan Mina tak pernah mengingatkannya.

          Satu hal yang Hongki sembunyikan dari Mina, yaitu penyakitnya. Ia tak pernah berterus terang perihal yang satu ini. Salah satu alasan kepindahannya dari Andong ke Seoul adalah untuk mempermudah pengobatannya. Akses menuju bangunan medis tidak lagi terkendala jarak jika ia menetap di ibukota Korea Selatan tersebut. Namun sayang, Mina tak pernah mengetahui kenyataannya hingga kepergian mendadaknya hari itu.

           “Bibi, kalau butuh bantuan apapun katakan saja pada kami. Aku dan Won Bin akan memenuhinya selama masih mampu.” Tekan Jong Hun yang berdiri di ambang pintu kamar rawat Hongki. Ibu Hongki mengangguk kecil sembari berterima kasih. Won Bin hanya bisa menghela nafas melihat keadaan sahabatnya yang termenung menyandarkan bahu di jendela menatap tembok bisu.

           “Bibi benar-benar tak tahu lagi harus bagaimana menghadapi Hongki. Dia hanya akan bicara saat bibi mengajaknya bicara.” Ungkap ibu Hongki dengan mirisnya. Memupuk kesedihan yang lebih mendalam di benak Jong Hun maupun Won Bin. Mereka menyesal tak bisa berbuat banyak.

           “Percayalah, Bi. Tuhan akan memutuskan yang terbaik untuk umat-Nya.” Hanya itu kalimat penguat yang Won Bin punya sekarang, selain belas kasihannya yang tulus. Jong Hun mengangguk setuju sambil mengusap lengan atas paruh baya yang secara hukum dan kodrat adalah ibu dari sahabatnya tersebut.

 

*

 

          Satu hari di penghujung senja musim dimana salju masih sanggup menebar hawa bekunya. Sesosok tubuh tinggi mematung diam di taman kota yang hari ini entah kenapa menjadi sepi tak berpenghuni. Mungkin cuaca menjadi penyebabnya. Hanya Lee Hongki, ya hanya pria ini yang sudi memajang dirinya di bawah guyuran kristal-kristal es yang sejak tadi berguguran sambil menatap nanar bangku kosong yang pucat di hadapannya.

          Bangku panjang itulah satu-satunya saksi bisu pertikaiannya dengan Mina. Di sinilah gadis itu membangun sebuah pembatas yang kini menjadi jarak antara mereka. Hongki kalut kala mengingatnya, ia yakin Mina bukan gadis jahat seperti yang dikatakan olehnya namun entah untuk alasan apa hingga gadis itu melontarkan kata-kata kejam—perpisahan—padanya.

           “Mina-ya, tahukah kau sosokmu begitu lekat di pikiranku? Terlalu sulit menghapus tentangmu. Aku tidak peduli kau akan menoleh atau tidak saat aku memanggilmu, yang aku tahu aku tidak boleh menyerah. Biarkan aku bertanya satu kali saja padamu, huh? Benarkah kau menginginkan persimpangan ini hadir di tengah-tengah kita?” Rintih Hongki dengan suara parau. Ia memaksa tungkainya menegak meski getaran dingin merambahi tubuhnya.

          Sang ibu sudah melarangnya untuk bepergian di tengah cuaca tak bersahabat seperti ini, mengingat baru seminggu yang lalu Hongki keluar dari rumah sakit karena kesehatannya yang berangsur-angsur pulih. Khawatir paru-paru akut itu tiba-tiba terbangun dan merajainya lagi. Hongki berkeras hati, ia berjanji tak akan lama dan mengenakan pakaian tebal—bahkan lebih tebal. Ia hanya ingin mengenang waktu terakhir penglihatannya dapat bersitatap pada wajah gadis bernama Mina.

          Musim dingin menjadi lebih dingin dan membekukan hati seorang Lee Hongki. Memori singkatnya bersama Mina beranjak pergi bersama cintanya dalam kehampaan. Hongki sulit memalingkan hatinya yang bergoncang ketika kali pertama menemukan sosok Kwon Mina. Gadis itu masuk begitu saja ke kehidupannya, namun secepat itu pula ia menghilang.

           “Haruskah aku berlari agar dapat mencapai tempatmu? Selamanya aku akan menyimpanmu di sini…” Imbuh Hongki seraya menaruh telapak tangannya di atas dada sebelah kiri. Air matanya tak mampu dibendung, perlahan jatuh ke atas tumpukan salju di bawah kakinya. Rasa rindu yang dipendamnya terus dicurahkan pada lokasi beralaskan salju.

          Selain desiran rindu, sensasi menggelitik juga menyakitkan menyerang paru-parunya secara tiba-tiba. Hongki tersentak, kemungkinan terburuk yang ditakutkan oleh ibunya mungkin akan terjadi. Fisiknya yang rentan pada cuaca dingin, tak memperbolehkannya lebih lama lagi berada di luar. Sambil berusaha menyeimbangkan diri, kedua kaki Hongki melangkah terseok-seok meninggalkan taman.

          Tak sampai satu meter, kekuatannya benar-benar menghilang. Setelah tersengal karena menahan batuk, Hongki terjatuh ke atas gundukan salju dengan nafas yang teramat sesak. Ia tak mampu lagi menggerakkan mulut untuk bersuara, hanya ponsel yang berhasil ia raih dari saku mantel dan menekan sembarang kontak. Sebelum sempat menyahuti sambutan dari sang penerima telepon, ia sudah lebih dulu menutup mata dengan guratan air mata yang mengering.

          Tubuh itu bergeming di antara salju yang kian menebal. Hanya terdengar sayup-sayup panggilan penuh kecemasan yang terlantun dari speaker ponselnya. Sang empu sudah tak bisa lagi menjawab seruan.

           “YA! Hongki-ah! Neo gwaenchana? Jigeum eodini? Hey bersuaralah!!! LEE HONGKI!!!

 

***

 

-Kwon Mina POV-

          Tak henti-hentinya mataku memproduksi air mata setelah selesai kisah dari Nyonya Lee, semakin menambah deretan rasa bersalahku padanya. Pada Lee Hongki. Melihat makamnya membuatku mengutuk dalam hati, menyadari betapa jahatnya diriku. Ya Tuhan, aku tak sanggup jika kenyataannya seperti ini.

           “Aku tahu hingga tutup usianya, Hongki terus memikirkanmu. Dia bahkan berulang kali mengucap kata ‘aku baik-baik saja’ saat kuminta ia melupakanmu. Ibu mana yang sanggup membiarkan putranya terlunta-lunta dalam perasaan tak berbalas? Hongki… Ia- melakukan itu sebab percaya kau akan kembali.” Nyonya Lee menutup mulutnya tak kuasa menahan tangis. Jae Jin segera merangkul dan membisikinya kalimat penenang. Aku bangkit dan menghampiri mereka.

           “Tak ada pilihan lain bagiku kala itu, Hongki akan celaka jika ia memaksa untuk terus berada di dekatku. Ayah telah mengancam akan memperingatinya jika aku tak segera meninggalkan Hongki. Maaf, bi, aku dan ayahku benar-benar jahat..” Kuseka guliran air mata menggunakan punggung tangan dan seketika itu juga aku tersentak kaget. Nyonya Lee memelukku erat, seakan aku adalah anaknya yang telah lama hilang.

           “Arasseo, Mina-Ssi. Menurut cerita Hongki kau bukanlah gadis yang jahat, dan aku percaya itu. Berhenti menyalahkan dirimu, aku sudah memaafkanmu. Tadi hanya seluap emosiku sebagai seorang ibu. Manusia tak bisa menampik takdir Tuhan.” Bisik beliau sedikit melegakan hatiku, setidaknya salah seorang anggota keluarga terpenting Hongki sudah membuka pintu maaf untukku. Aku balas memeluknya, “Aku tak bermaksud menyakitinya bi, karena aku juga menyayanginya. Gomapseumnida, aku takut kau membenciku, bi.”

          Nyonya Lee melepas pelukannya, kemudian menatapku hangat. “Tuhan saja Maha Pemaaf, sebagai manusia aku mana mungkin melangkahi sifat-Nya itu. Mari kita buka lembar kehidupan yang baru tanpa dendam dan luka.”

          Aku mengangguk, terharu akan kebesaran hati ibunda mendiang Lee Hongki tersebut. Jae Jin yang sejak tadi tegang menunggu akhir pembicaraan kami, mengembangkan senyum cerianya. Ia akan jadi orang pertama yang melerai jika terjadi perselisihan lagi di antara kami.

          Nyonya Lee mengajakku untuk pergi setelah menyudahi kegiatan doa di depan makam. Jae Jin mendahului langkah kami. Baru tujuh langkah aku meninggalkan makamnya, kepala ini refleks menoleh kembali pada nisannya. Entah hanya halusinasiku saja atau ini memang nyata, kulihat sosok Lee Hongki dalam bentuk yang sedikit tembus pandang berdiri di samping gundukan tanah makamnya, senyum kelegaan terpancar dari wajahnya yang terus mengiringi kepergian kami.

          Aku hanya bisa membalas senyumnya, sambil bergumam tanpa suara. ‘Mi-an-ha-da.’ Kemudian mengangguk sekali, ‘Sa-rang-hae-yo.

          Hongki menganggukkan kepala, ‘Na-do. Nan gwaen-cha-na.’ Ujarnya sejauh yang bisa kutangkap. Perlahan tubuhnya mulai menghilang, menipis lalu terberai seperti asap tertiup angin. Kini Hongki telah benar-benar pergi. Menenangkan dirinya di surga.

          Aku tahu pengakuanku amatlah terlambat, akan tetapi aku percaya Hongki telah mengetahuinya. Maaf harus membuatmu menunggu selama ini, membiarkan jarak memisahkan kita. Semoga kita bisa bertemu di kehidupan selanjutnya.

 

END

 

Gimana? Alurnya mudah ditebak ya? XD oke saya tunggu responnya, kritik dan saran juga diterima 🙂 Gamsa-desu ^^

One response to “Distance

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s