[Chapter 7] The Second of Telepathy

The Second of Telepathy

 Untitled-1-Recovered

AUTHOR: Ifaloyshee // MAIN CAST :  Kim Sumin (OC), Oh Sehun,  Kim Jongin (Kai), Im JinAh (Nana), Choi Junhoong (Zelo), Kim Hyelim (Lime) // GENRE : Fantasy, Romance, Supranatural, Drama // DISC         : The casts are not belong to me. The story-line, plot, ideas are come from my mind. Dont copy  this story without my permission. And dont copy my idea, be creative pls. // RATING: PG. [ bakal sering naik seiring bertambahnya part] , Profanity, bloody and the other things.

Chapter 1 / Chapter 2 / Chapter 3

Chapter 4 / Chapter 5 / Chapter 6

The Second of Telepathy; Chapter Seven

Copyright ©2013 Ifaloyshee

All rights reserved

 

 

 

 

Prev part:

Nana menundukkan tubuhnya untuk berbisik ke telinga Baekhyun, pelan sekali sampai Sehun sendiri tidak bisa menerka apa yang mereka bicarakan. Dan keduanya supernatural maka Sehun tidak bisa membaca pikiran mereka. Sayangnya.

Baekhyun hanya mengangguk – angguk saja, menyeringai, mengangguk lagi lalu keduanya ber high-five. Dan yang lebih mengejutkan, Nana mencium pipi Baekhyun. Jadi Sehun berkesimpulan kalau mungkin keduanya berkencan?

Kemudian Nana berlalu, Baekhyun kembali memutar posisi duduknya seperti semula. Tatapannya hampir bertemu dengan Sehun dan cepat – cepat Sehun mengalihkan pandangannya kearah lain.

Dan saat itu juga secara kebetulan… ia memandang kearah Sumin yang juga sedang memandang kearahnya. Tatapan mereka bertemu diudara selama beberapa menit.

 

***

 

 

 

“Kau tidak tau seberapa bahayanya situasimu saat  ini, Kim Sumin?!”

 

School

10AM.

 

Senin sore sewaktu itu, ketika Baekhyun masih diliputi emosi pasca pertengkarannya dengan Sehun di koridor sekolah, ia melangkah menuju kantin untuk membeli minuman. Sekedar untuk menyegarkan pikirannya dan perasaannya yang panas, pengkhianatan dari tali persahabatan yang pernah ia jalin bersama Sehun membuat hatinya terbakar. Rasa kehilangan atas satu – satunya kakak perempuannya juga membuat Baekhyun semakin merasa buruk. Ia benar – benar dalam kondisi tidak baik sewaktu itu. Lalu kemudian Nana datang dengan pembawaan anggunnya—seperti biasa—dan menghampiri Baekhyun tanpa suara.

Ketika detik dimana Nana menatap kedua mata Baekhyun penuh maksud, ketika itulah Baekhyun memutuskan dimana ia akan berpihak.

Dan tibalah pada scenario menarik—bagi Nana dan Baekhyun—yang membuat gempar seantero Cheongnam high school.

Nana dan baekhyun berkencan.

Tidak ada yang mengantisipasi hal ini sebelumnya, yang murid satu sekolah tau hanya bagaimana bisa Baekhyun bertahan untuk tidak berkencan dengan siapapun selama kurun waktu hampir tiga tahun dan pria yang tidak pernah berkencan itu tiba – tiba saja menggandeng gadis paling popular disekolah, Im Jinah.

Beberapa kecewa karena baekhyun salah satu dari geng Kingkas yang memiliki banyak pengagum. Dan beberapa yang lain kecewa karena Nana akhirnya memutuskan untuk berkencan, memberikan rasa kecewa yang mendalam bagi pria – pria lain yang gencar mengejarnya.

“Aku pernah menjadi sahabatnya.”

“Sehun?” Nana meniup – niup kukunya yang baru saja di beri kuteks glossy pink, senada dengan lipstick-nya. Kemudian mengangkat tangannya untuk melihat hasil karya polesan kuteksnya yang mengagumkan. Dari ujung mata, Nana bisa melihat kalau Baekhyun sedang memandang ke lapangan bawah. Kearah segelintir siswa yang sedang bermain basket.

“Terkadang waktu bukan suatu jaminan bagi keutuhan persahabatan.” Ucap Nana. Baekhyun tertawa remeh. “Seolah – olah kau tau cerita tentangku dan Sehun saja.”

“Aku tau.”

Baekhyun langsung menoleh kearah Nana yang masih meniup – niup kuku jari lentiknya. Memandang kekasih nya itu penuh minat. “Kau tau?”

“Kalau aku tidak tau… untuk apa aku menghampirimu setelah kau bertengkar dengan Sehun lalu membuat suatu kerja sama ini?”

“Kau benar.”

“dan aku tidak peduli darimana kau tau tentang hal itu, namun setidaknya aku tidak usah repot – repot untuk bercerita.” Lanjut Baekhyun sambil melirik sekilas kearah jam tangan yang terpasang di lengan kirinya yang kini berpegangan pada pagar besi balkon sekolah.

Nana, setelah selesai dengan urusan kukunya, ia bersandar pada pagar balkon dengan kedua tangannya yang menopang tubuhnya. “mmm…Byun Sora. Aku tau bagaimana rasanya kehilangan, apalagi di dunia Telepati yang melibatkan banyak tentang sakit secara fisik hanya dengan suatu pikiran. Karena aku pernah kehilangan seseorang… yang terbunuh melalui pikiran.” Nana menunduk lalu terdiam sesaat, raut wajahnya terlihat sedih.

“kau pernah? Karena demon?”

Mendengar nada bicara baekhyun yang terdnegar antusisas, nana menyeringai dibalik bibirnya yang menekuk pura – pura sedih. Ia kemudian mendongak, menoleh karah baekhyun dengan kedua mata berkaca – kaca. “Itu cerita lama. Aku tidak suka membahasnya. Tapi.. Baekhyun, aku sangat simpatik soal kematian Noona-mu. Wanita secantik dia tidak seharusnya mati dengan sia – sia ditangan makhluk menjijikan,kejam,tak berperasaan seperti Demon. Sehun mengatakan padamu kalau Luhan sangat menyesal atas kejadian itu tapi… apakah kau percaya begitu saja? Bagaimana kalau ternyata Luhan sama sekali tidak menyesal dan bisa saja dia sudah mendapatkan wanita lain pengganti Sora unnie. Siapa yang tau kan? Kalau Sehun saja tega tidak memberitahu soal penyebab kematian Sora unnie untuk melindungi Luhan, berarti tidak menutup kemungkinan kalau dia juga berbohong tentang penyesalan Luhan, kan? Coba kau pikir Baekhyun…”

Baekhyun terdiam.

“Baekhyun…” Nana berangsur mendekat lalu berdiri dihadapan baekhyun, menggapai kedua tangan pria itu. “Kalau aku jadi kau… dari awal aku tidak akan pernah membiarkan Sora unnie untuk berhubungan dengan demon. Semua demon memang memikat, tidak ada alasan untuk tidak menolaknya, tetapi sekali terjerat.. tidak akan bisa keluar dan akan berlutut sampai mati ditangan mereka. Bukankah itu keji?” Nana mengelus permukaan tangan Baekhyun beberapa kali lalu memeluknya. Membuat Baekhyun mabuk karena aroma tubuh Nana yang memikat dan bagaimana Nana memeluknya yang membuat Baekhyun menurut saja seperti anjing kecil.

“Seberapa besar kau menyayangi noona-mu? Apa sampai sekarang kau masih menerima dengan lapang dada soal kematian sia – sia itu? Apakah menurutmu sebuah maaf saja cukup bagi kematian seseorang yang sangat berarti untukmu? Kau tau, sebuah gelas jika dijatuhkan maka akan pecah berceceran dan dengan mengucapkan maaf, apa pecahan tersebut akan kembali utuh? Tidak..kan.”

Ada jeda waktu yang cukup lama untuk terdiam ketika Nana menyelesaikan ucapannya. Baekhyun membeku dipelukan Nana dengan beribu hal yang ia pikirkan, dan apa yang Nana ucapkan benar, kan?Baekhyun tidak boleh sebodoh itu untuk memaafkan Luhan dan Sehun begitu saja.

Tidak…bisa.

“Yah Baekhyun—oh maaf.”

Tiba – tiba seruan seorang pria terdengar, membuat Baekhyun perlahan melepas pelukannya lalu kembali ke mode normal setelah beberapa menit yang lalu ia terdiam digurui oleh Nana. Pria berambut blonde dan bertubuh pendek berdiri tidak jauh didepannya, Nampak agak terkejut dengan Baekhyun yang berpelukan dengan Nana.

“Kau dipanggil oleh Kepala Sekolah soal pemindahan kelas. That’s all.”

“Pemindahan kelas?” Tanya Baekhyun tidak mengerti, ia menolehkan wajahnya kearah nana.

“Aku yang mengajukan. Kita berdua.” Jawab nana santai. “Aku yang akan mengurusnya nanti, Ljoe. Terimakasih.” Nana tersenyum. Ljoe menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal, agaknya gugup dengan senyuman gadis tercantik di Cheong-nam itu. Kemudian ia berlalu. “kalau begitu sampai jumpa di kantin nanti!”

Nana melambaikan tangannya kemudian menoleh lagi kearah Baekhyun. “Kau setuju kan?”

Butuh waktu beberapa detik bagi Baekhyun untuk menimbang – nimbang, namun ketika melihat langsung ke kedua mata nana, dirinya mengangguk saja. “Tentu saja.”

“Bagus. Kalau begitu aku akan membereskan barang – barangku!” setelah memberikan sebuah kecupan singkat di pipi Baekhyun, Nana berbalik kemudian berjalan menjauh. Baekhyun masih berdiri ditempatnya, memperhatikan punggung Nana yang semakin lama semakin menjauh.

“Im Jinah.”

Nana menghentikan langkahnya.

“Apa kau mencintaiku?”

Nana terdiam selama beebrapa detik. Tidak tau harus menjawab apa.

Sementara, Baekhyun, masih terdiam dibelakangnya menanti jawaban.

“Tentu saja.” Ucap Nana tanpa menoleh kebelekang. Namun nadanya cukup meyakinkan dan nyaris terdengar tulus.

“Itu saja cukup.” Sahut Baekhyun, tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum. Kemudian ia berlalu, meninggalkan nana yang masih terdiam sendiri disana.

“Maaf…Maaf baekhyun… tapi sampai saat ini Kai masih menjadi satu – satunya.” Suara nana terdengar pelan dan kosong.

***

 

10.30 AM

 

“Sampai jumpa nanti!”

Sumin melambaikan tangannya dengan seulas senyuman singkat diwajahnya ketika Lime berjalan mundur dengan satu tangan memegangi buku dan tangan yang lain memberikan kiss-bye pada Sumin. Lalu ketika Lime berbalik dan berjalan menjauh, Sumin langsung menoleh kearah Lokernya lalu memutar beberapa kali kenop loker tersebut.

Dan Sumin baru sadar kalau lokernya tidak terkunci, padahal ia tidak pernah lupa untuk mengunci lokernya setiap selesai meletakkan pakaian olahraga atau mengambil beberapa buku perpustakaan yang harus ia kembalikan. Ini berarti kalau seseorang pasti ada yang membuka lokernya, dan entah kenapa Sumin merasa agak gelisah.

Mengesampingkan kegelisahannya, Sumin menahan tangannya selama beberapa saat pada kenop loker lalu dengan sekali putaran, pintu loker tersebut menjeblak terbuka.

“Aaaaaaarrrrrrrrrrrrrrrgh!”

Sumin berteriak, nyaris kehilangan keseimbangan. Tubuhnya secara reflek mundur beberapa langkah, menghindari sebuah kantong pelastik putih yang jatuh bebas kelantai. Mulutnya terkesiap. Secara reflek tangan Sumin menutupi mulutnya sendiri, menyaksikan bagaimana cairah merah kental berbau amis yang berceceran dilantai, yang keluar dari dalam plastic bening yang sudah pecah itu.

Darah.

Belum sempat Sumin terbangun dari keterkejutannya, ia sudah kembali terkesiap oleh sebuah pisau yang tergeletak didalam lokernya dengan ujung pisau yang menjulur keluar. Dengan tangan bergetar, Sumin mengambil pisau tersebut lalu segera melemparkannya ke lantai.

Sumin memperhatikan lagi lokernya yang kini sudah bersih dari benda – benda bukan miliknya itu. Hanya ada buku – bukunya disana. Syukurlah. Pisau dan darah ini sudah cukup mengejutkannya.

Namun ketika Sumin menoleh kearah pintu lokernya, barulah ia sadari kalau ada sederet kalimat yang tertulis dengan tinta merah—atau darah?—disana. Dibalik pintu lokernya.

Devil in the flesh.

BRAK.

Dengan kasar Sumin langsung menutup pintu lokernya, menahan tangannya selama beberapa detik disana dengan emosi yang tak terkendali. Beberapa kali ia menggumamkan kata sial sambil menggigiti bibir bawahnya. Sumin tau ulah siapa ini.

Ia menggelengkan kepalanya. Benar – benar kelewatan.

kau menyimpan pisau dibalik lokermu, Kim Sumin?”

Suara seorang wanita terdengar dibelakang Sumin, lalu diikuti oleh tawa singkat yang menyebalkan. Sumin tidak berpikir dua kali untuk segera berbalik dan menghadap wanita dihadapannya. Melemparkan tatapan sinis kearahnya.

“Im jinah.”

“Ya?” Nana menaikkan sebelah alisnya lalu menyeringai. Ia sedang memegang sebuah notes dan pena. Seketika tubuh nana merasakan hawa dingin… namun nana yakin kalau hal itu hanya desiran angin saja. Ia menghela nafas. “Aku habis mencatat daftar beberpaa murid yang berpotensi untuk menjadi cover majalah mingguan sekolah. Mungkin kau mau juga? Aku bisa memotretmu dengan…” Nana menatap jijik darah dibawah kaki Sumin. “dengan cairan itu. Atau sekalian dengan pisaunya?”

Darah Sumin mengalir cepat dari ujung kepala sampai ujung kakinya, membuat ia mendidih dan ingin menampar nana saat ini juga. Tapi ia tau… ia tidak akan bisa mengendalikan dirinya kalau sudah seperti itu.

“Apakah kau mengiris tanganmu sendiri demi mempermalukanku?  Betapa menyedihkannya… kalau darah itu adalah darahmu sendiri.” Sumin maju beberapa langkah, mendekati nana, secara otomatis nana menarik langkah mundur… step by step.

Tiba – tiba tangan nana menahan tubuh Sumin, membuat gadis itu menghentikan langkah. “Lihat sekitarmu.” Bisiknya. Sumin menolehkan wajahnya kesekitarnya, mendapati murid – murid lain yang terdiam dengan ekspresi takut menatap kearahnya.

Tentu saja, ini hipnotis Nana.

Sumin merasa seperti seekor Singa yang sedang ditatap gelisah oleh rusa – rusa disekitarnya. Terlalu mengintimidasi, Sumin merasa menjadi gadis paling mengerikan di dunia. Dia tidak suka tatapan seperti ini. Dia benci tatapan ini.

“Kau sungguh menarik perhatian.” Bisik nana lagi dengan ekspresi mengasihani. Sumin menatapnya dengan kedua mata berkilat, rahangnya mengeras, tapi dari sudut mata gadis itu terdapat air mata yang tertahan. Ia menghempaskan tangan Nana dengan keras kemudian berlalu.

Ini tidak adil… ini sungguh tidak adil.

***

 

Oh Sehun’s POV

 

Class.

11 AM.

 

Sumin melintas dihadapanku dengan sekilas menatapku lalu duduk dibangkunya dengan bahu lemas. Rambut panjangnya bergerak kedepan bahunya ketika gadis itu menunduk dengan satu tangan memijit keningnya. Kemudian tangannya yang lain mengikutinya. Ia tampak berantakan. Meskipun aku tahu apa yang terjadi dengannya, aku tidak memiliki keberanian untuk mendekatinya dan menenangkannya. Aku pengecut… tidak. Aku hanya terlalu gengsi. Atau aku takut penolakan lagi.

Tidak lama setelahnya Zelo muncul didepan meja Sumin dengan kedua tangan mengepal, pandangannya lepas keluar jendela. Lalu ia menunduk dan begitu melihat wajah Sumin, ekspresi Zelo melunak. Dia segera memposisikan dirinya duduk disebelah Sumin.

Zelo menengok kearahku, bertanya dalam pikirannya apakah aku sudah mengetahui tentang kejadian itu dan aku mengangguk. Zelo kembali menoleh kearah Sumin, mengelus punggung gadis itu.

‘oh man, ini kelewatan. Kalau saja kau kekasih Sumin, pasti kau sudah menghajar Nana habis- habisan tidak peduli dia itu wanita. Tapi kau bukan kekasihnya, man.’

Aku tau apa yang Zelo katakana dalam pikirannya tentu saja untukku. Aku hanya bisa merasakan perasaan sesak dibagian dadaku, karena disaat seperti ini aku tidak memiliki hak untuk melindungi Sumin. Belum. Tapi aku pasti akan memiliki hak sebagai pria yang patut melindunginya.

Aku mengunci pikiran Zelo dari Sumin sudah agak lama, ketika mereka berdua bertengkar, aku sudah mengunci pikiran Zelo dari Sumin sehingga Sumin tidak bisa membaca pikiran Zelo. Aku rasa ini suatu hal yang perlu karena Zelo sangat gamblang dalam berpikir, terlalu terbuka dan jika aku tidak menguncinya maka semua rahasia tentang siapa aku sebenarnya akan ketahuan oleh Sumin. Aku pernah melakukan hal yang sama pada Baekhyun terhadap Luhan hyung dulu. Aku mengunci pikiran Baekhyun agar tidak bisa terbaca oleh Luhan hyung sehingga yang Luhan hyung tau, Baekhyun tetap baik padaku.

Meskipun kenyataannya sama sekali tidak.

Beep.

“Halo, Luhan hyung?”

kapan kau akan pulang?”

aku…seperti biasanya. Kenapa?”

apa kau ada janji dengan partner belajarmu itu?”

hari ini…tidak.”

mungkin kau bisa mengerjakan tugas dirumah dengan partnermu itu.”

tapi hari ini tidak ada janji mungkin besok atau lusa. Entah.”

Sehun..”

Memang ada apa hyung?”

Bisa kau ajak Kim Sumin kerumah? Aku ingin bertemu dengannya.”

“Kau ingin bertemu dengannya?”

ya. Bukankah dia seorang demon?”

Aku terdiam beberapa saat. Luhan hyung ingin bertemu dengan Sumin. Makhluk dengan insting, kekuatan dan pemikiran yang sama. Keduanya demon. Aku tidak tau apa maksud Luhan hyung…. Tapi ketika ia meminta suatu hal, tidak ada yang tidak bisa aku lakukan selain mengabulkannya.

“Baiklah, hyung.”

***

 

 

Sumin terdiam sambil menunduk mengamati sepatu ketsnya yang berwarna cokelat krem, sambil meremas kain rok seragam dalam genggaman tangannya, ia terus berpikir dan berpikir. Ia sudah setuju dengan ajakan Sehun, ketika sepulang sekolah tadi Sehun mengajak Sumin untuk pergi kerumahnya, Sumin menyetujui hal itu. Tapi kenapa ia ragu sekarang?

Suara rintik hujan membangunkan Sumin dari pemikiran panjangnya, ia mendongak mendapati gerimis yang turun secara teratur membasahi kaca mobil.

“Bisa kita masuk sekarang? Kau bisa kehujanan.”

Disebelahnya, Sehun berucap sambil menoleh kearah Sumin. Kedua tangan Sehun masih memegang setir mobil dan selama beberapa menit terakhir ia hanya terdiam memperhatikan Sumin yang menunduk tanpa bicara.

Kemudian Sumin mengangguk.

Sejurus kemudian keduanya sudah keluar dari dalam Ferrari merah mengkilap milik Sehun dan berlarian kecil kearah sebuah rumah besar yang diiringi oleh pohon – pohon pinus yang menjulang tinggi. Sumin mengangkat tangannya untuk menutupi rambutnya—sebuah gerakan reflek yang selalu ia lakukan setiap kali ia kehujanan—sambil melangkahkan kaki jenjangnya diatas genangan air. Bau petrichor tercium jelas di penciumannya.

Sebuah genggaman tangan dengan tegas tiba – tiba saja menggenggam tangan Sumin yang bebas. Ketika Sumin mendongak, Sehun tersenyum miring dengan rambut yang agak basah. Selama dua detik Sumin hanya mampu tertegun mengagumi betapa tampannya pria yang sedang menggenggamnya ini…namun sebatas dua detik saja. Setelahnya Sumin kembali menoleh kedepan, namun tetap membiarkan Sehun menggenggamnya.

Sehun menariknya menuju beranda depan rumahnya, berlindung dibawah atap kayu yang melindungi keduanya dari rintik hujan. Tangan Sumin masih berada dalam genggamannya dan…

Sehun tidak ingin melepaskannya.

Ia tidak ingin. Bisakah seperti ini selamanya?

Tetapi perlahan jari – jari Sumin bergerak menarik diri dari dalam genggaman Sehun, dan berakhir dengan tangan Sehun yang terkulai pasrah. Sumin menarik kedua tangannya untuk memeluk tubuhnya sendiri. Menghalau udara dingin yang menusuk menembus kulitnya.

Ketika memasuki rumah Sehun, yang bisa Sumin lakukan hanya berjalan perlahan dengan mata tertegun. Seolah menyerupai Lucy ketika pertama memasuki Narnia. Karena menurut Sumin rumah ini unik, desainnya modern dan old-fashioned disaat yang bersamaan.

Terdapat sebuah lampu gantung berukuran besar yang menggantung ditengah ruangan, menyinari lantai kayu bersih dibawahnya. Dan sebuah perapian serta sofa – sofa panjang yang terlihat begitu nyaman. Di dinding dipasang lukisan – lukisan bergaya Eropa 70-an yang Sumin kira pasti sangat mahal nilainya.

Sehun melemparkan ranselnya asal – asalan hingga jatuh dan membentur karpet. Ia berjalan kearah dapur dan meminum segelas air disana. Diperhatikannya Sumin yang masih berjalan mengitari ruangan, mengamati setiap hiasan yang ada. Dan begitu sampai didepan sebuah pigura besar dengan gambar seorang wanita yang hanya mengenakan bikini dengan manic – manic mengkilap, serta sepasang sayap putih yang terpasang dipunggung, Sumin mengeluarkan suara tawa pelan.

“Miranda Kerr?” Tanya Sumin dengan tawa gelinya. “Kau suka Victoria’s Secret?”

Sehun meletakkan gelasnya. “Uhm….Ya.”

Sumin menoleh kearah Sehun. “Mungkin seharusnya kau tidak memajangnya di ruang utama.” Lalu ia tertawa geli lagi.

Sehun hanya bisa tertegun ketika melihat Sumin tertawa. Wajah Sumin sesegar tetesan hujan dan semanis bunga primrose. Ia merasakan kehangatan dan perasaan membuncah disaat yang bersamaan.

“Dia…cantik sekali.” Guman Sehun pelan, namun Sumin dapat mendengarnya.

“Miranda kerr? Memang. Dia memang cantik sekali.” Sumin mengangguk – angguk setuju, tidak menyadari kalau sebenarnya yang Sehun maksud adalah dirinya. Bukan model Victoria’s secret dalam pigura itu.

Samar – samar terdengar alunan suara piano didalam ruangan. Sumin terdiam dan menajamkan pendengarannya untuk memastikan lebih jelas lalu ia menoleh kearah Sehun dengan pandangan bertanya.

“itu hyung-ku. Aku akan perkenalkanmu padanya. Come on.”

Sehun menghampiri Sumin lalu berjalan didepannya, memandunya menuju ruang tengah dimana Luhan biasa bermain dengan piano tuanya. Sumin membuntuti Sehun dibelakang, merasakan adanya emosi tersembunyi dari setiap nada yang terdengar melalui tuts piano itu. Ketika suara piano tersebut terdengar lebih jelas, secercah memori datang menusuk hati nya dalam – dalam. Perih. Namun Sumin menggelengkan kepalanya. Ia tidak boleh lemah.

Ini hanya instrumental piano.

Sehun menghentikan langkahnya, lalu berbalik untuk menghadap Sumin.

Yang pertama kali Sumin lihat adalah sebuah piano berwarna cokelat kelam yang terlihat lusuh namun mewah disaat yang bersamaan. Pandangannya terus naik keatas sampai ia menemukan seorang pria berambut blonde pendek yang memainkan tuts piano dengan mahir disana.

Pria ini, Xi Luhan, mengenakan kaus hitam polos dengan celana jeans. Sebuah syal melingkar dilehernya. Wajah Luhan pucat pasi dengan bibir kemerahan, rahangnya tegas dan kulitnya tidak kalah putih pucat dengan wajahnya. Luhan memejamkan matanya, terlihat menikmati permainan pianonya dengan penuh emosional.

Ada perasaan ramah yang menghinggapi Sumin ketika menyaksikan Luhan. Seperti.. aura familier dari seseorang yang sejak kecil dikenalnya. Didalam lantunan instrumental piano tersebut, ada emosi mendalam yang agaknya sama dirasakan oleh Sumin.

Perasaan bersalah.

Sumin tidak tau pertanda apa ini. Mungkin ia pernah mengenal pria ini sebelumnya?

Ia tidak tau.

Dan memilih diam saja. Sementara Sehun mengamati perubahan air wajah Sumin yang menandakan suatu hal, mempelajari ekspresi gadis itu ketika melihat Luhan. Dan Sehun sepertinya mengerti kenapa Luhan ingin bertemu dengan Sumin.

Permainan piano selesai. Luhan membuka matanya dan tiba – tiba saja tangannya meraih sebuah bingkai foto yang terletak diatas permukaan piano, Luhan membanting bingkai itu ke permukaan piano hingga kacanya pecah tercerai berai menusuk kulit Luhan. Suara pecahan terdengar menggema diantara keheningan dan suara tetesan air hujan.

Sumin hanya bisa menggigit bibir bawahnya, kedua tangannya meremas kuat kain roknya. Sehun langsung menghampiri Luhan dan memegangi pundak kakaknya itu. Berusaha menenangkan Luhan yang masih meremas – remas pecahan kaca dalam genggamannya seolah kaca tersebut tidak tajam sama sekali.

Luhan membenamkan wajahnya di kedua lengannya sendiri, serphan kaca pigura melukai lengannya dan mengeluarkan darah segar dibalik kulit putih porselennya namun secepat kolat luka – luka tersebut menutup kembali dan lenyap tak berbekas.

Sehun memegangi pundak Luhan dengan kuat – kuat, sambil berbisik ditelinga Luhan tentang suatu hal yang bisa menenangkan kakaknya itu. Naas. Setidaknya dua kali dalam satu minggu Sehun harus melakukan hal yang sama dan setiap dua kali dalam seminggu juga sebuah pigura jatuh tercerai – berai. Member obat penenang pun tidak akan mempan, Luhan tetap begini. Luhan bukan manusia. Mentalnya terganggu. Mental seorang demon. Bodoh jika kau berpikir obat penenang mampu menenangkan seorang demon.

***

Kim Sumin’s POV

 

Gemerisik air hujan masih terdengar jelas dari dalam ruangan. Namun tidak sedikitpun membuyarkanku dari keadaan yang ada dihadapanku saat ini. Pria berkulit porselen dan pucat itu masih meronta – ronta dalam genggaman Sehun yang sudah menahannya begitu kuat—aku bisa melihat otot- otot Sehun yang tampak jelas. Kini pria itu memukul – mukul pianonya, dari mulutnya keluar suara erangan yang menyakitkan. Sungguh menyakitkan sampai aku bisa merasakan perih di ulu hatiku, dan aku bahkan secara reflek mengangkat satu tangan untuk menyentuh dadaku. Karena… kenapa rasa sakitnya begitu nyata?

“Luhan hyung! Tenanglah!”

Suara retakkan tembok terdengar, aku meremas ujung seragamku dengan kuat – kuat sampai buku –buku jariku memutih. Pandanganku tidak lepas sedikitpun dari pria ini… pria yang maisih meronta marah dan hendak menusukkan satu pecahan kaca kearah nadinya. Namun ketika ujung kaca tersebut menggores kulitnya, lukanya kembali menutup. Darah yang mengalir dilengannya kembali masuk kedalam tubuhnya.

Ini aneh.

Sehun membisikkan sesuatu persis ditelinga pria itu… kemudian ia perlahan menoleh kearahku.

Kedua mata tajam dengan bola mata berwarna merah pekat—sepekat warna darah—bertemu dengan tatapanku. Rasanya seperti ada suatu hal besar yang menghantamku melewati kedua mata itu dan membuat dadaku sesak. Tatapan yang sinis, keji, mengerikan dan menusuk. Aku yang seorang demon bahkan mau bergidik menyaksikannya. Tetapi kedua tatapan pria ini sepertinya familiar….

Aku pernah melihatnya…

Sedetik setelahnya aku serasa ditarik oleh suatu mesin waktu dan berhenti didepan cermin riasku yang berada didalam kamar. Didalam cermin itu aku menyaksikan diriku sendiri yang pucat dengan rahang lebih tegas dan kedua mataku yang lebih tajam. Kedua bola mataku berwarna merah gelap, dibagian bawah kelopak mataku terdapat eyeliner alami dengan warna hitam tebal dan memanjang ke ujung mataku. Aku tampak kejam. Lalu tiba – tiba muncul seorang pria, berdiri tepat disebelahku dengan kulit putih pucat yang sama, dan…tatapan yang sama. Pria ini. Kakak dari Oh Sehun. Dan ada semacam aura yang sama diantara kami berdua, sebuah kemiripan yang tidak bisa dilihat secara kasat oleh mata. Seperti hanya aku yang merasakannya. Kemudian aku menoleh dan tanpa kuduga, pria ini juga menoleh kearahku. Kami berdua bertatapan heran satu sama lain. Lalu sedetik setelahnya visualisasi dirinya hilang, dan aku seperti ditarik kembali oleh dimensi waktu dan kembali berdiri diruang piano milik Sehun. Kedua kakiku kembali menapak pada karpet beludru dibawahku dan aku masih menatap pria ini.

Tatapan pria ini berubah menjadi sayu dan menyedihkan. Namun tetap tidak menghilangkan ketegasan warna merah gelap dikedua bola matanya. Aku terdiam, masih benar – benar terdiam dan merasakan aura lain yang menyelimutiku. Menatap pria ini membuatku familiar akan sesuatu tapi anehnya aku tidak tau itu apa.

Setelah kesedihan, lalu ada penyesalan, rasa bersalah, rasa cinta yang tulus dan marah disaat yang bersamaan. Perasaan pria ini seperti di transfer kedalam tubuhku dan lagi – lagi aku bisa merasakan perih di ulu hati. Aku bisa merasakan kesedihannya, rasa sesalnya, rasa cinta tulusnya, aku bisa membaca perasaan pria ini sepenuhnya dan sangat jelas sampai aku merasa sesak karena….aku merasakan hal yang sama?

Lututku lemas. Aku hampir jatuh terduduk ke lantai namun tatapan Sehun membuatku kembali berdiri tegak. Aku tidak tau apa yang Sehun lakukan terhadapku.

“Kim Sumin?”

Suara dengan nada dingin yang jelas dilontarkan oleh pria ini. Namun aku bisa merasakan kesedihan didalam nada suaranya. Begitu peka aku terhadapnya sampai rasanya mau melarikan diri saja karena apa yang ia rasakan sama sepertiku, dan membuat lukaku yang belum sembuh kembali tergores lagi.

Xi luhan, membunuh istrinya. Xi luhan menyesal. Kim Sumin membunuh Kai, Kim Sumin menyesal.

Ada suara yang berbisik didalam pikiranku.

“Xi Luhan…” ucapku dengan nafas tertahan. “Demon…”

Lalu aku bisa melihat sebuah tato di lehernya yang menyala ketika aku menyebut kata demon. Begitu pula tato di punggungku.

***

 

“Aku meninggalkannya di apartemen saat itu juga, bahkan aku belum sempat melihat wajah wanita itu. Aku hanya pergi. Selama ini aku selalu bertanya – Tanya kenapa wanita begitu sensitive ketika terhianati, seolah dunia mereka hancur hanya karena pengkhianatan. It’s ridiculous, I thought. Tapi akhirnya aku mengerti perasaan itu. Kai tidak pernah mencintaiku lagi.” Sumin memainkan jari – jari mungkil Mingzi ditangannya. Pandangannya kosong kearah piano yang sedang dimainkan Luhan. Lagi – lagi ia harus mengingat masa lalu dan…sesungguhnya Sumin benci membawa kembali cerita masa lalunya untuk dibicarakan dengan orang lain.

Namun Luhan sepertinya pengecualian.

Berada didekat Luhan rasanya sangat familiar, seolah Luhan adalah kakak laki-laki sekaligus sahabat dan berada didekatnya membuat Sumin bisa menceritakan topic yang tabu sekalipun. Karena mereka berdua, secara harafiah, sama. Mereka melalui hal yang sama. Merasakan hal yang sama.

Penyesalan.

“apakah kau sudah selesai dengannya?” Luhan memainkan tuts piano, menciptakan instrument indah yang bercampur dengan suara rintik hujan dan gemuruh kecil petir.

“Aku tidak pernah selesai dengannya. Sampai saat ini, masih banyak hal yang ingin aku lakukan dengannya maksudku… seberapa jahatnya Kai mengkhianatiku tetap saja aku butuh penjelasan dan ucapan selamat tinggal yang lebih pantas. Tapi aku sadar, waktu tidak akan kembali. Yang bisa aku lakukan hanya—“

“menyesal.” Ucap Sumin dan Luhan disaat yang bersamaan.

Lalu keduanya terkekeh.

“jangan pernah menyesal. Jangan mengingat apapun yang berhubungan dengannya. Jangan seperti aku yang sudah terlanjur tenggelam dalam penyesalan yang terlalu dalam. Kau tidak boleh menjadi aku yang kedua.”

Mingzi mengulurkan tangannya untuk meraih wajah Sumin, terlalu tinggi sehingga tidak mampu menggapainya. Sumin menatapnya kelewat gemas. “Aku tau. Tapi ini cukup sulit, bukan?”

Mungkin pesona kecantikan seorang demon wanita juga tidak bisa ditolak oleh anak kecil sekalipun, Mingzi terus berusaha untuk melompat dari pangkuan Luhan untuk menggapai wajah Sumin hingga bocah itu hampir saja jatuh. Luhan segera menariknya lalu mencubit pipi anak perempuannya itu. “ey!” Luhan pura – pura marah. Mingzi hanya mengerucutkan bibirnya lucu.

“Kau akan melupakannya. Sehun akan membantumu.”

“Sehun?” tanpa sengaja Sumin memutar kedua bola matanya.

Luhan terkekeh. “Kau membencinya? Aku tahu itu.”

“mmmm…maaf. Hanya saja..” Sumin mengedikkan bahu. Mingzi memandangi Sumin dengan focus, kedua mata bulatnya terlihat inosen sekali lalu ia ikut mengedikkan bahu, mengikuti aksi Sumin. “Astaga kenapa kau lucu sekali!” Sumin mencium pipi Mingzi, kali ini lebih gemas lagi.

he’s a good boy.

“kau bisa berbicara seperti itu karena kau kakaknya.”

“haha ya benar. Tapi soal dia adalah pria yang baik, I mean that.”

just because?”

Kau akan tau diakhir nanti, percayalah, dia melakukan hal yang baik. Meskipun terkadang terlalu over-protektif. Sangat protektif. Jadi ketika kau menemukan dia mengikutimu kemanapun, dia sedang mengawasimu.”

“mmm…oke.”

Luhan melirik Sumin dari sudut matanya, menangkap ekspresi gadis itu yang tidak begitu puas. Tapi Luhan bisa mengerti, dia memahami kalau Sumin memang belum menemukan siapa Sehun sebenarnya. Apa yang Sehun maksud. Tapi ketika Sumin menemukan itu nanti, dia pasti akan berterimakasih penuh pada Sehun.

“Bisa kau bantu aku?” Luhan menggoyangkan tubuh Mingzi, member isyarat pada Sumin untuk memangkunya. Sumin dengan senang hati membawa Mingzi keatas pangkuannya dan tersenyum senang. Ia tidak memiliki saudari perempuan, dan menemukan Mingzi seperti menemukan seorang sosok gadis kecil. Disamping itu, kenyataan bahwa Mingzi tidak akan pernah merasakan kasih sayang seorang ibu sampai besar nanti membuat dirinya iba dan ingin melindunginya.

Luhan kini menggunakan dua tangannya untuk memainkan piano. Dengan nada baru yang berbeda dari yang ia mainkan sebelumnya dan semuanya…indah didengar.

“Apa kau memiliki judul untuk semua instrument yang kau mainkan?”

Luhan mengangguk. “Baby don’t cry. Aku sedikit geli mengatakannya tapi… yeah, aku memainkan instrument ini dulu setiap kali Sora sedang marah. Lalu dia akan luluh dengan sendirinya.”

“Wow. Lalu untuk Mingzi?”

“Ada banyak sekali. Aku akan menunjukkan padamu dilain waktu nanti.”

“mmm…baiklah. Apa Sehun bisa bermain piano?”

“Tidak.”

“Tidak?”

Luhan tertawa. “Ya. Tidak bisa. Jangan kecewa, Sumin.”

Sumin mengerutkan alisnya. “Kenapa aku harus kecewa.”

“Siapa tau kau beharap dia memainkan  piano untukmu?”

“Aish!!”

“Kalian membicarakanku?” tiba – tiba Sehun muncul dengan segelas kopi ditangannya, ie menyesap kopi tersebut lalu menawarkannya pada Luhan. Luhan menerimanya lalu meletakkan cangkir kopi tersebut diatas meja. “Dia membicarakanmu.” Ucap Luhan setengah tersenyum meledek, mengedikkan kepalanya kearah Sumin yang kini melemparkan death glare kearahnya.

Handphone Sumin berdering, gadis itu langsung mengeceknya dan mendapati satu pesan masuk berasal dari kakaknya. “mmm… aku rasa aku tidak bisa berlama – lama lagi disini.” Gumamnya dengan mendesah pelan. “aku mau bertemu dengan Myungsoo oppa.”

its okay.” Sahut Luhan. “lalu bagaimana dengan tugas sekolah kalian?” kini Luhan melirik kearah Sehun yang sedang memandangi Mingzi yang tertidur dipangkuan Sumin entah sejak kapan. Sehun agaknya cukup heran juga dengan Mingzi yang bisa tertidur pulas dipangkuan orang lain selain Luhan.

“Kami bisa atur jadwal lain hari. Ya?”

Sumin mengangguk. “Myungsoo oppa sudah menunggu. Bisa aku pulang sekarang?”

Luhan sedang menolehkan wajahnya kearah jendela, kedua pandangannya lepas keluar jendela seolah sedang memikirkan suatu hal. Kedua alisnya berkerut dan matanya menyipit. Sehun menangkap sinyal ini sebagai peringatan cukup berbahaya sedang berada diluar sana. Tapi Sehun tidak tau pasti itu apa. “hyung?”

“Tentu. Kau boleh pulang sekarang.” Ucap Luhan sambil menolehkan wajahnya kembali kearah Sumin. “Kau bisa main kesini lagi kapanpun kau mau… dan maaf soal tadi, aku harusnya bisa mengontrol emosiku ketika ada seorang tamu datang.” Jelas yang Luhan maksud adalah insiden ketika dirinya memecahkan pigura tadi. Sumin hanya mengangguk lalu tersenyum.

“aku akan mengantarmu.” Tawar Sehun, ketika Sumin bangkit berdiri dan Sehun hendak melangkahkan kakinya namun tangan Luhan segera menahan Sehun.

“Sehun menolehkan kearah Luhan dengan pandangan bertanya.

“Kita ada janji untuk bertemu dengan teman lama, kan?” Luhan menatap ke kedua mata Sehun dengan ada maksud tertentu yang Sumin tidak mengerti itu apa. Sehun segera menangkap sinyal ini, mengerti apa yang Luhan maksud lalu kembali menoleh kearah Sumin. “Ya. Aku ada janji. Maaf..”

“Tidak apa – apa, aku bisa pulang sendiri. Tidak usah repot – repot.” Sumin memikul ranselnya lalu tersenyum.

“Kau bisa pesankan taksi untuknya.” Ucap Luhan pada Sehun.

Lalu Sehun mengangguk.

***

 

 

Didalam sebuah taksi, musik barat dengan genre Alternative 90-an mengalun memecah sunyi. Sumin duduk di kursi penumpang dengan pandangan lepas keluar jendela. Melihat kerlap – kerlip lampu kota yang tampak blur seiring dengan kecepatan taksi yang semakin bertambah cepat. Ia memejamkan mata, mencoba mengingat kembali memori tetang pertemuannya dengan Luhan. Yang bernasib sama dengannya. Dan menemukan ada seorang ‘Krystal’ yang lain entah mengapa sedikit membuatnya lega, setidaknya ia tidak sendiri di dunia ini.

Dan ketika lamunanannya hendak membawanya ke dalam mimpi, tiba – tiba saja taksi mengerem dengan mendadak, membuat Sumin langsung membuka matanya dan menatap antusias kearah sang pengemudi.

Agasshi, aku rasa ada masalah dengan taksi ini…”

“Wae?”

Mollayo. Terpaksa kau harus turun disini, agasshi, mungkin taksi ini perlu dibawa ke reparasi terdekat.”

Sumin menghela nafas panjang lalu mengambil beberapa won dari dalam tasnya dan memberikan pada sang pengemudi, setelahnya ia turun. Membiarkan taksi melaju meninggalkannya. Setelah memperhatikan taksi tersebut secara intens, rasanya tidak ada yang salah. lalu kenapa ia diturunkan disini? Pikirnya.

“Aish, sudahlah..” Sumin menghela nafas panjang lagi, memikirkan bagaimana caranya ia pulang kalau jalanan disini sepi dan hari sudah petang. Mungkin ia harus menelfon Myungsoo oppa?

Melihat kapasitas baterai handphone nya yang diperkirakan hanya bisa bertahan selama beberapa menit saja membuat Sumin ragu untuk menghubungi Myungsoo, takutnya, sebelum ia memberitahu dimana Myungsoo harus menjemputnya malah handphonenya sudah mati terlebih dahulu. Jadi Sumin memutuskan untuk mengetik pesan saja untuk kakaknya sambil menyusuri trotoar dengan santainya.

Tidak mengantisipasi sama sekali bahwa baya sedang mengejarnya.

Lagipula Sumin tidak pernah peduli, walaupun ia supernatural namun kebanyakan Sumin selalu bertingkah layaknya manusia biasa. Ia tidak tau bagaimana resiko lain dari seorang demon selain kekuatan yang bisa membunuh tanpa meninggalkan jejak. Ia belum tahu.

Angin berhembus menggelitik tengkuk Sumin yang tertutupi oleh rambut hitamnya, membuat dirinya terkesiap selama beberapa detik. Jari – jarinya yang sedang mengetik di screen ponselnya berhenti selama beberapa saat. Lalu ia kembali melanjutkan kegiatannya.

Ia jadi ingat tentang kejadian sewaktu itu, dimana sekelompok pria tidak bertanggung jawab hendak melakukan sesuatu yang hina padanya. Saat itu Sumin takut sekali dan tidak bisa berbuat apa – apa, sampai rasanya mau menyerah sebelum Sehun datang menyelamatkannya. Dan kali ini seperti de javu, perasaan takut itu muncul lagi.

Dan walaupun Sumin mencoba untuk tidak peduli, kali ini ia yakin kalau sesuatu akan terjadi padanya.

Dan saat ini benar – benar terasa jelas kalau ada aura lain yang sedang berdiri dibelakangnya, entah menguntit atau apa dan entah siapa, Sumin tidak memberanikan diri untuk berbalik. Ia tetap berjalan dengan langkah semakin dipercepat…semakin dipercepat…

“Aaa…”

Tiba – tiba ada suatu hal yang menghentikan langkahnya, seperti dinding tak terlihat yang tiba – tiba berada dihadapan Sumin.. membuatnya tidak bisa melangkah kedepan lagi. Sumin mencoba melangkahkan kakinya lagi namun tidak bisa, ia mengulurkan tangannya kemudian merasakan ada sesuatu yang keras dihadapannya… namun tak ada wujudnya.

Keringat dingin menetes dari pelipis Sumin.

“Ada masalah, Kim Sumin?”

Sumin hampir melonjak kaget karena suara yang tiba – tiba terdengar ditengah suasana sepi ini. Ia langsung membalikkan tubuhnya, mendapati seorang pria berdiri tidak jauh didepannya dengan mimic tegas. “B..Baekhyun?”

Byun Baekhyun, tersenyum setengah hati. Ia mengamati Sumin dari ujung kaki sampai ujung rambut lalu mendecak. “Masih mengenakan seragammu? Dari mana saja kau, cantik?”

Ada nada tidak suka didalam perkataan Baekhyun. Tentu saja. Jelas sekali. Dan kedua pupil mata Baekhyun yang berwarna biru tua dibagian luarnya, mengelilingi warna biru mengkilap yang berada didalamnya membuat Sumin terheran – heran. Ia tidak pernah melihat Baekhyun dengan kedua warna pupil seperti ini sebelumnya.

Perlahan Sumin melangkah mundur, namun lagi – lagi langkahnya tertahan oleh dinding tak terlihat itu.

“Apa maumu?”

“Mauku?” Baekhyun melangkahkan kakinya mendekati Sumin, sampai benar – benar dekat dan Sumin bahkan bisa merasakan nafas Baekhyun diwajahnya.

“Menghancurkanmu.”

Bisiknya jelas, lalu Baekhyun menyeringai dan perlahan wajahnya lenyap beriringan dengan badannya lalu kakinya, membentuk suatu kepulan asap tipis berwarna abu – abu kemudian asap tersebut menyatu kembali membentuk suatu siluet tubuh seseorang.

Nana.

Sumin butuh mengerjapkan matanya dua kali untuk memastikan bahwa seseorang yang berdiri dihadapannya kali ini adalah Nana, bukan Baekhyun. Nana dengan rambut blonde dan eyeliner tebalnya itu kini berdiri dihadapan Sumin dengan ekspresi jenaka. Menertawai dalam hati reaksi Sumin yang terheran – heran.

Namun seringaian itu lama kelamaan kian melenyap, nana mendecak kesal. “sial, guardian mu datang.” Desisnya. Sedetik kemudian Nana lenyap menjadi kepulan asap dan kembali dalam wujud sebagai Byun Baekhyun. Sumin tidak bisa lebih kaget lagi dari saat ini.

Baru lima detik yang lalu Sumin menyaksikan Nana berdiri dihadapannya, kini sudah beralih menjadi Baekhyun kembali. Sumin tidak mengerti siapa manusia ini sebenarnya. Nana atau Baekhyun?

Baekhyun mengangkat sebelah alisnya.

“Menarik bukan?” ucapnya sebelum menghilang dalam sekejap saja. Begitu sosok Baekhyun lenyap, Sumin merasakan ada sesuatu yang mengganjal tenggorokannya, membuatnya kesulitan bernafas. Ia tersedak kemudian memegangi lehernya, mencoba menghirup oksigen namun hasilnya nihil.

Lama kelamaan rasa sakit itu menjulur semakin kebawah, mengarah pada tubuhnya yang kini dilanda sakit luar biasa dari dalam. Kedua lututnya lemas, dan Sumin terjatuh dengan menopang pada lututnya.

H-Help…”

 

 

TBC

 

 

Hai <33 maaf ya soal keterambatan publish, lagi sibuk ujian praktek + persiapan UAS huhuhu semoga memuaskan ya walau ga sepanjang part sebelumnya. Terus mau minta maaf soal Chapter 6 kemarin ada nama Minho disana dan aku bener2 lupa kalo Minho udah aku pake di telepathy 1 hiks jadi itu murni my fault…. Kapan – kapan ya aku edit deh kalo lagi ga mager. Btw readers!! The Telepathy Book version udah rilis yuhuu /throws confetti/ dan aku lagi buka system PO nih di blog pribadi dan sisa 40 buah jadi ayo grab it as soon as possible! :’’’)

Kalo yang berminat silakan klik disini!

(note; Part 8 diproteksi, silakan kunjungi page ini untuk minta password.)

Advertisements

213 responses to “[Chapter 7] The Second of Telepathy

  1. author yg baik hati dan selalu menghibur para readernya melalui goresan tangan yg indah*haha maafkan reader yg sedang saraf ini*, anyeong! aku sebenarnya baru dapet ff thelepathy baru” ini, truss ngebut sampe deh di ff second thelepathy, author mengalami banyak peningkatan di ff second thelepathy ini dan sebelumnya maafkan readermu ini yg dr ff thelepathy sampe second thelepathy br memberikan satu komentar, sebenarnya aku nggak bermaksud cuma karena kelewat penasaran jd br bisa komend disini, jeongmal mianhee*bow*, pokoknya terus kembangkan ff ini benar” daebak deh ceritanya, oh iya author waktu nulis ini lagi sibuk sama uas sama dengan aku yg skrg sedang sibuk uas cuma penasaran banget dari kemarin mau baca lanjutnya, salam kenal buat author

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s