FF : Oramanieyo… [CHAPTER 8]

oramanieyoooo

http://bang2bang.wordpress.com/

TEASER | TEASER 2 | CHAPTER 1 | CHAPTER 2 |  CHAPTER 3  |  CHAPTER 4 | CHAPTER 5 | CHAPTER 6A | CHAPTER 6B | CHAPTER 7

Title : Oramanieyo…

Author : Hayamira

Genre : Romance, Friendship, Tragedy

Rating : PG 16

 Length : Chaptered / Series

Main Cast :

Jung Na Mi (OC)

Kim Him Chan ( B.A.P )

Kim Su Ho ( EXO-K )

Yong Jun Hyung ( BEAST )

Goo Ha Ra ( KARA )

Support Cast    :

Lee Sung Yeol ( INFINITE )

Byun Baek Hyun ( EXO-K )

Krystal Jung ( f(x) )

Disclaimer :

Cast belong to GOD and their entertaintment,  Ide cerita murni pemikiran author, tidak ada unsur plagiat.

Preview :

Keadaan Nami makin kritis. 

Sementara itu, Himchan telah memutuskan untuk memilih Alice dan meninggalkan Nami. Dan, Nami merasa makin terpuruk.

-oOo-

Trrt… Trrrrt…. Trrrrttt….

“Halo? Ini Yong Junghyung…. Jung Nami? Ada bersamaku…. Kenapa? Tunggu, kau tahu tidak soal aturan makan siang? Apa? Mendadak? Ini juga mendadak… Kau mau Nami mati kelaparan? Apa? Pers? POKOKNYA  JANGAN GANGGU KAMI SELAMA MAKAN SIANG!!!”

 

Klik.

 

Junhyung meletakkan kembali ponsel Nami ke meja, sedikit keras sampai sekeliling mereka memandangi Junhyung dengan tatapan aneh. Mungkin saja, Junhyung sedang bertengkar dengan Nami yang –mungkin mereka pikirkan– sebagai sepasang kekasih, sementara Nami hanya terduduk diam menyantap unagi donburimono-nya khidmat dan tenang.

 

Masa bodoh dengan tatapan orang – orang itu, pikir Junhyung. Sekarang, dia mungkin saja sedang dilanda stres berat. Bukan sebuah kemungkinan lagi, tapi memang sudah terjadi. Bagaimana tidak, beberapa hari yang lalu Nami datang kerumahnya, tiba-tiba menangis dan terlihat sangat terpukul tanpa Junhyung tahu apa yang terjadi. Sekarang, Nami bertindak seolah tidak ada yang terjadi. Tenang, diam dan dengan tatapannya yang kosong.

 

Junhyung sudah tidak tahan lagi. “Demi Tuhan ! Apa yang terjadi padamu? Beberapa hari lalu kau menangis, lalu sekarang kau bertingkah seakan tidak terjadi apa-apa padamu. Kau ini kenapa? Ayolah… Katakan padaku agar stresku menghilang sedikit,” Junhyung mengacak-acak rambutnya depresi.

 

“Tidak ada,” Nami menjawab dengan singkat, tanpa memandang Junhyung dan meneruskan makannya.

 

Tidak ada katanya? Apa wanita yang sedang makan didepannya ini mau membuat dirinya gila karena memikirkan diri wanita itu secara berlebihan? Khawatir secara berlebihan yang membuatnya uring-uringan tanpa jelas, bahkan staffnya selalu menanyakan sikapnya yang kacau akhir-akhir ini. Tentu saja, asalannya itu memang Jung Nami.

 

Junhyung tidak tahan dengan sikap dingin nan tenang Nami untuk saat ini. Dia harus memaksa gadis ini menceritakan apa yang telah terjadi padanya secepat mungkin. Tapi kata-katanya tadi seakan-akan Nami tidak mempercayai dirinya lagi. Oh Tuhan !

 

“Kau sudah tidak mempercayaiku lagi?”

 

Mendengar pertanyaan Junhyung, Nami menghentikan makannya dan mendongak menatap Junhyung yang terlihat kesal juga sedih. Ia tidak menyangka Junhyung akan bertanya seperti itu pada dirinya. Nami menghela napas, “Bukan seperti itu…”

 

“Lalu apa?” Junhyung meraih tangan Nami dan menggenggamnya. Dia menatap wajah gadis yang sudah dia anggap sebagai adik kandungnya itu dengan tatapan penuh kasih sayang. Dia tidak bisa melihat Nami sedih maupun menangis dengan sangat pilu seolah ada sesuatu yang berharga direnggut darinya.

 

Mungkinkah…

 

“Aku baru saja tahu bagaimana rasanya kehilangan semangat hidup….” Dirinya kembali menghela napas berat. Sorot matanya berubah. Junhyung semakin mempererat genggamannya, menguatkan Nami untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.

 

“Aku sudah tidak merasakan apa-apa lagi. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Semuanya terkesan salah, bahkan aku tidak tahu apakah langkahku ini benar atau tidak. Semuanya bagaikan berteriak ditelingaku, seakan bersekongkol merencanakan ini dan well, mereka berhasil. Mereka semua tertawa, sementara aku dan hidupku terkesan kosong. Semuanya hampa….”

 

Nami tersenyum. “Ini menyedihkan, ya?

 

“Siapa yang berani membuatmu begini?” Junhyung tetap bertanya dengan lembut, tetap saja ada nada amarah di pertanyaannya. Tapi, walaupun Nami tidak ingin beritahu – dan Junhyung tahu Nami memang tidak ingin melakukannya – Junhyung akan tahu. Entah itu tahu dari siapapun dan bagaimana caranya. Junhyung menjamin itu.

 

Nami memandang Junhyung lekat. Nami berusaha menceritakan apa yang terjadi lewat sorot matanya. Junhyung bisa membaca sorot matanya dan ia tahu itu. Tapi, matanya tidak lagi memandangi mata Junhyung, tapi sesuatu yang dibelakangnya. Mata itu melebar dan menatap objek dibelakang Junhyung tajam.

 

Nami menghela napas lalu menarik napasnya dalam. Memejamkan matanya sesaat, lalu menghela napas lagi. Helaan napas yang berat.

 

Junhyung menoleh kebelakang.

 

Dia tahu jawabannya.

 

-oOo-

“Disini saja, Ya?”

 

Alice menarik tangan Himchan dan berjalan menuju sebuah kedai kecil yang tampak tenggelam dengan gedung-gedung dan bangunan disampingnya, tapi tetap bersinar dengan pesona tersendirinya. Kedainya ramai, terlihat banyak pengunjung yang keluar masuk kedai itu.

 

Himchan mengerutkan dahinya dan memandangi gadis yang notabene adalah kekasihnya itu lekat. “Kau yakin kita makan disini?”

 

Alice mengangguk cepat menanggapinya. “Katanya, kari disini enak sekali. Ayolah kita coba sekali saja. Bukannya kau penggemar Kari?” Alice menarik tangan Himchan sambil memasuki kedai itu, tanpa memerdulikan Himchan yang masih tidak setuju jika kencan mereka harus diawali dengan makan siang di kedai ini. Tapi, inilah Alice. Himchan tersenyum simpul.

 

Ramai, itulah yang dirasakan keduanya saat memasuki venue kedai itu. Orang-orang sedang bercengkrama, makan dan bercakap, kepulan asap makanan dan aroma nya langsung menyapa mereka, membuat perut mereka meronta seakan ingin merasakan makanan yang punya aroma seperti tadi. Sayangnya, tidak ada kursi yang kosong. Baik itu di meja, ataupun di bar.

 

Alice mengedarkan pandangannya dan melihat sesosok yang ia kenali. Tanpa menunggu, Alice menggenggam tangan Himchan dan berjalan ke meja orang itu. Nampak seorang pria yang sedang menggenggam tangan gadis yang ada dihadapannya. Himchan mengikutinya saja.

 

“Hey, Jung Nami.”

 

Himchan sontak menghentikan langkahnya. Jung Nami?

 

Oh, Suasana pun menjadi sulit.

 

“Boleh kami duduk disini?” tanya Alice lagi. Nami mengangguk pelan sementara Junhyung memicingkan mata dan melihat Himchan disamping Alice. Tidak berapa lama Junhyung menatapnya, Junhyung pun menganggukkan kepalanya.

 

Himchan merasa posisinya sangat sulit. Melihat Jung Nami yang memandang dan berbicara kepada Alice seperti biasa seperti tidak terjadi apa-apa diantara mereka berdua, dan Junhyung yang terus-terusan memandangi dirinya dan Alice bergantian, mengerutkan dahi kebingungan.

 

Seusai memesan makanan, mereka mengobrol. Seadanya. Karena Himchan tidak tahu apa yang harus dibicarakan dengan mereka berdua, sementara Alice memandangi Nami dan Junhyung bergantian. Ada yang janggal disini, pikirnya.

 

Junhyung, yang masih menggenggam tangan Nami, menatap mangkuk nasi Nami dan menatap wajah Nami. Tangannya terangkat, lalu menempelkannya ke wajah Nami. Junhyung mendesah, “Sayang, habiskan makananmu lagi. Nampaknya kau kurang sehat akhir-akhir ini,” kata Junhyung melepaskan tangannya. Nami mengangguk saja, dan memakan makanannya tenang. Matanya lurus, menatap isi mangkuk tersebut.

 

Mereka ternyata berpacaran, pikir Alice setelah melihat perlakuan Junhyung ke Nami. Tidak ada yang salah, toh Himchan sudah kembali menjadi miliknya, bukan? Dan, bukan hak nya untuk mencampuri urusan pribadi mereka berdua.

 

Himchan merasa khawatir. Mendengar kata-kata Junhyung soal Nami yang kondisinya tidak baik akhir-akhir ini, Himchan jelas saja mengkhawatirkannya. Bisa jadi, itu terjadi karena Himchan. Kepalanya pun berdenyut memikirkan hal ini.

 

Dia pikir, selama ini, Nami bisa bertahan dan bisa menjaga segalanya tetap pada jalannya. Namun, dia salah. Nami adalah wanita, mahluk yang paling sensitif terhadap perasaan. Pasti Nami juga sangat sedih dengan keputusan Himchan, mungkin. Hatinya kini penuh dengan rasa bersalah yang mendalam. Dia akan mengutuk dirinya sendiri kalau memang Nami seperti ini karena dirinya.

 

Matanya melihat Alice. Kekasihnya tidak boleh tahu kalau dirinya sedang merasa bersalah kepada orang lain. Lebih tepatnya, merasa khawatir dengan wanita lain.

 

Himchan ingin merengkuh Nami yang semakin kurus dan tampak lemah itu ke pelukannya, memberikannya rasa aman dan hangat. Namun, semuanya sudah berbeda lagi sekarang. Statusnya sudah berbeda dengan dulu saat Himchan masih bisa memeluk Nami dan membuatnya nyaman berada disampingnya.

 

Setelah menghabiskan makanan, Nami dan Junhyung langsung pergi setelah berpamitan. Mata Nami sempat bertemu pandang dengan mata Himchan. Himchan menatap mata Nami lekat.

 

Oh… Betapa dirinya merindukan sorot mata itu.

 

Gadis itu menatapnya… Tapi dengan pandangan yang jauh berbeda dari pandangan yang biasanya ia lihat.

 

Nami seakan tidak mengenali Himchan, seakan Himchan adalah orang yang asing dan baru bagi gadis itu. Kemudian Nami berjalan, tanpa menoleh atau sekedar memberikan senyumannya ke Himchan maupun Alice. Ia berjalan, menggenggam tangan Junhyung erat dan menghilang dibalik pintu kedai itu.

 

Hatinya tiba-tiba terasa sakit.

 

Himchan masih belum bisa bernapas lega. Entah kenapa, jantungnya berdegup keras dan otaknya mulai berpikir yang aneh-aneh lagi. Rasa khawatir menyerangnya.

 

Apa Jung Nami baik-baik saja?

 

“Chan-a, Chan-a?”

 

Himchan mengerjapkan matanya. Alice ternyata daritadi memanggil namanya. Himchan tersenyum memandangi wajah Alice, menunjukkan kalau dia baik-baik saja.

 

“Ya?”

 

Alice menyuap makanan ke mulutnya, mengunyahnya sebentar lalu mengatakan sesuatu ke Himchan. “Besok kita langsung ke New York. Kau sudah minta izin dengan atasanmu?”

 

Himchan mengerutkan dahinya. Besok? “Secepat itu?”

 

Alice mengangguk, “Ada acara bagus menunggu kita di Manhattan. Kau tidak mau ikut bersamaku?” tanya Alice dengan mata yang penuh harap. Himchan yang melihat mata itu, serasa tidak tega menolak ajakan Alice.

 

Dia tidak pernah tega menolak sesuatu dari gadis ini dari dulu sampai sekarang.

 

“Baiklah. Lagipula hanya liburan, kan?”

 

“Kita tinggal disana 2 minggu, sambil kau mengurus kepindahanmu ke New York.”

 

“Baik baik, nona muda.”

 

Himchan berharap bisa melupakan kerumitan masalah yang dia alami di Tokyo. Ia mencela dan tertawa sinis atas sikapnya sekarang. Dulu, dia ‘lari’ dari New York untuk menghindari Alice. Sekarang, dia juga ‘lari’ dari Tokyo untuk menghindari Nami.

 

Miris.

 

-oOo-

 

“Sesuai dengan jadwal, Nami akan menginap di hotel selama berada di Osaka.”

 

Hara mengamati Nami yang barusaja keluar dari sebuah kedai itu dengan tatapan tajam. Dua minggu kedepan, Gadis itu akan ada di Osaka untuk pameran salah satu designer yang merupakan kolega Nami dan pemotretan untuk koleksi terbarunya. Selama satu minggu lebih, Jung Nami akan berada di Osaka.

 

Hara tentu saja pintar dalam mengumpulkan informasi dan menyimpulkan keadaan yang terjadi. Selama ini, dia telah mengirim orang-orangnya untuk memata-matai Nami. Mulai dari saat Nami pulang dari pulau Hateruyama, dia sudah menyuruh orang-orang suruhannya memata-matai setiap gerak-gerik Nami. Tentu saja, Hara mengganti orang suruhannya setiap hari untuk menghindari kecurigaan Junhyung yang sangat sensitif dan punya kaki tangan yang terpercaya, juga Sungyeol yang selalu melindungi Nami. Mereka berdualah yang harus disingkirkan untuk menghancurkan Nami. Setelah mereka berdua pergi, Hara dengan mudah akan menghancurkan Nami karena Nami lemah tanpa mereka. Sempurna.

 

Dewi fortuna berpihak padanya kali ini. Hara juga berhasil mendapatkan info penting lainnya, yang bisa menguntungkannya. Kim Himchan yang akan kembali ke New York bersama kekasihnya Alice Song, yang akan membuat ‘tameng perlindungan’ Nami semakin menipis dan membuat Hara semakin lihai menerobos dan menghancurkan Nami.

 

Hara tertawa. Nampaknya, sahabat lamanya itu sedang patah hati karena Himchan. Akhirnya kau merasakan bagaimana sakitnya patah hati, batin Hara tersenyum licik.

 

Dia juga mengetahui jadwal Nami secara lengkap dengan cara membobol situs JNM, menyabotase input data yang pegawai Nami masukkan sehingga data tersebut masuk juga ke komputer Hara. Juga jadwal harian yang sudah terangkum rapi di dokumen yang kini ada di genggamannya. Rencana yang akan dia laksanakan kini sudah sempurna, tinggal menunggu hari H dan semuanya akan berjalan sesuai rencananya.

 

Semuanya harus berjalan sesuai rencananya. Ini semua Hara lakukan demi memberikan Nami sedikit ‘bumbu pedas’ di kehidupannya yang sangat manis dan bahagia. Hidup gadis itu terlalu bahagia dan lurus, tanpa ada masalah dan keperihan hidup. Sebagai sahabat yang baik, Hara ingin mengajari Nami nilai-nilai kehidupan, mungkin seperti itu.

 

Lebih tepatnya tentang nilai karma dan kesengsaraan. Seperti yang Hara alami dulu dikarenakan Nami.

 

Tangan Hara mengepal membayangkan penderitaan yang dia lalui selama ini. Kehilangan Suho, kekasihnya, merupakan sebuah pukulan yang keras untuknya. Seseorang yang Hara rebut dari sahabatnya sendiri, yang membutuhkan pengorbanan yang besar, kini pergi. Hidupnya kacau sejak saat itu. Dirinya bagaikan tidak punya arah dan tujuan hidup. Dan, ini semua karena Jung Nami.

 

Gadis itu telah merenggut semuanya. Kenapa dunia selalu berlaku tidak adil bagi Hara? Nami, gadis itu pintar, cantik, terkenal dan sering mengukir prestasi waktu sekolah dulu. Sementara dirinya hanya seorang ‘bayang-bayang’ Jung Nami. Awalnya, Hara tidak merasa cemburu dengan Nami dan segala kesempurnaannya. Namun semua itu berubah semenjak Nami dan Suho berpacaran.

 

Suho Kim, lelaki yang sudah dari dulu Hara sukai, tiba-tiba menyatakan cinta ke Nami dihadapannya. Semenjak saat itu, Hara mulai menjauhi Nami. Terlebih, teman-temannya dulu menghasut dengan kata kata ‘bayangan Nami’ yang membuat Hara semakin gerah dan menusuk sahabatnya sendiri dari belakang. Lebih memilih melakukan banyak hal agar bisa merebut kebahagiaan Nami daripada mempertahankan persahabatan mereka.

 

Dan kini, ketika dia sudah mendapatkan apa yang dia inginkan, kenapa semuanya pergi? Hara menggertakkan giginya. Amarah meletup-letup dikepalanya memikirkan hal itu.

 

Hara merogoh tasnya lalu mengeluarkan botol dan tersenyum memandanginya.

 

“Dengan botol ini, dan sedikit lagi, maka bersiaplah hidupmu hancur. Terima itu, Nami.”

 

-oOo-

Osaka, 2 Minggu Kemudian

 

“Kang, apa di Tokyo berjalan lancar?”

 

Nami menekan password kamar hotelnya dan segera masuk kedalam kamarnya. Hari ini dia menghadiri fashion catwalk koleganya, lalu rapat dengan stylist dan hair-makeup stylist,  ke toko perhiasan untuk mengecek perhiasan yang akan digunakan untuk pemotretan koleksinya sudah siap, mengunjungi lokasi pemotretan, mengecek setlight dan memastikan para modelnya akan datang tepat waktu. Dia melakukan itu semua seorang diri. Nami bagaikan berlari kesana kemari, ke setiap bagian kota Osaka untuk memastikan semuanya berjalan lancar pada hari H nya, walaupun itu memakan waktu dari pagi hingga kepagi harinya lagi.

 

“Lancar? Syukurlah. Tidak ada kendala yang terjadi disana?”

“Tidak ada, Nona. Nona Nami sebaiknya istirahat sekarang. Ini sudah pagi, pasti nona belum tidur sama sekali.”

Nami mendesah, “Bagaimana kau bisa tahu hal ini? Aku baru saja menyelesaikan setumpuk kegiatanku. Baiklah, sampai jumpa.”

 

Setelah menutup telepon, ia langsung menaruh tasnya disofa kamar itu, melepas boots sert mantel dan syal yang membungkus dirinya dari dinginnya cuaca musim gugur, membuka koper dan mengambil baju tidurnya. Dirinya sangat membutuhkan tidur kalau mau semua yang direncanakan berjalan sesuai rencana.

 

Setelah membersihkan badannya yang sangat lengket, Nami berjalan menuju tempat tidur. Matanya benar-benar butuh waktu untuk beristirahat. Baru saja Nami akan merebahkan badannya, muncul Yong Junhyung dari balik pintu kamarnya.

 

“Jangan bilang kau barusaja mau tidur,” seru Junhyung langsung menghampiri Nami dan duduk ditepi kasur.

 

“Kegiatanku sangat padat kemarin. Dari pagi sampai pagi lagi aku harus berlari kesana kemari memastikan semuanya berjalan lancar,” kata Nami berusaha membela diri. Junhyung menggeleng.

 

“Masa kau harus mengurus sendirian? Segalanya? Semuanya? Ayolah, sayang, kau ini Jung Nami pemilik JNM! Tidak adakah satupun karyawanmu yang bisa membantumu?”

 

Nami hanya bisa pasrah mendengar omelan Junhyung. Ia tahu, Junhyung sangat marah dengannya saat ini.  Ini semua memang salahnya karena Nami tidak akan tidur tenang kalau tidak memastikan semuanya berjalan sesuai rencana dengan dirinya sendiri. Sama saja, bukan?

 

“Kau tahu aku seperti apa, jadi sudahlah,” gumam Nami sambil memeluk Junhyung erat. “Bagaimana dengan rapat mu?” tanyanya lagi mengalihkan pembicaraan dengan melepaskan pelukannya.

 

“Lancar-lancar saja. Direktur Yong tahu apa yang dia lakukan,” kata Junhyung dengan mengacungkan jempolnya dan tersenyum lebar, yang membuat Nami ikut senang.

 

Suara pintu yang diketuk membuat perhatian mereka teralih ke pintu kamar itu. Junhyung langsung berdiri dan berjalan kearan pintu itu, kemudian membukanya. Ternyata seorang pelayan kamar yang membawakan sarapan untuk Nami.

 

“Sarapan pagi, tuan?”

 

“Sayang, kau mau sarapan hotel?” seru Junhyung kepada Nami.

 

“Aku lapar,” jawab Nami.

 

Tadinya, pelayan tersebut ingin masuk ke kamar tapi Junhyung mencegah dan mengambil nampan berisi sarapan pagi juga teko yang berisi espresso lalu membawanya ke dalam kamar. Junhyung membuka nampan dan melihat isinya. Egg Benedict yang pucat.

 

Yang benar saja, kenapa saus Hollandaise nya pucat seperti mentega beku?

 

“Junhyung?”

 

Junhyung langsung menoleh dan mendapati Nami telah berdiri disampingnya. “Kau mau makan ini?” kata Nami lagi seraya duduk di kursi, bersiap untuk menikmati sarapannya. Junhyung menggeleng.

 

“Aku tidak suka egg benedict,” gumam Junhyung.

 

“Astaga…. Kau benar. Bagaimana mungkin aku lupa tentang kau yang tidak suka makan kuning telur yang meleleh?”

 

Nami tertawa pelan kemudian mengamati sarapannya. Matanya tertuju pada espresso yang mengepulkan asap dari cangkirnya. Memorinya kembali memutar film lama tentang espresso dan orang yang berkaitan erat dengan espresso. Kim Himchan pun muncul dalam frame-frame di otaknya, mulai bermain dengan perannya dulu.

 

Memorinya mengingatkan bagaimana Himchan menyukai espresso dan seringnya mereka menghabiskan waktu berdua. Hanya berdua di coffee shop.

 

Nami menghela napas. Sayang, itu hanya sebuah memori masa lalu. Masa lalu yang tidak akan bisa ditembus kembali. Masa lalu yang hanya bisa menjadi masa lalu, terkubur dan hanyut oleh arus waktu dan zaman.

 

Pikirannya kembali membawanya ke sosok Himchan. Nami tidak akan berbohong, dia sangat merindukan sosok lelaki itu. Sudah 2 minggu mereka tidak bertemu. Sudah 2 minggu pula mereka saling mengucapkan selamat tinggal dan mulai menjalani hidup mereka masing-masing, tidak ingin tahu urusan orang lain dan berjanji tidak akan berbagi.

Nami memang tidak percaya akan pepatah, tapi ada sebuah pepatah cinta yang terus berputar dikepalanya sejak dia membacanya. Stuck on her mind.

 

“Semakin besar kau merindukan seseorang, sebesar itulah dia tidak memikirkanmu.”

 

Sepertinya, pepatah itu memang tepat untuk kondisinya saat ini. Nami teratwa sumbang didalam hati. Mungkin, kan kalau Himchan sudah tidak memikirkannya lagi?

 

Nami memandangi sarapannya dan mulai memotong telurnya. Kuning telur yang meleleh membuat nafsu makannya naik dan sedikit melupakan perasaannya tentang Himchan. Dia pun memotong muffin beserta smoked beef dan menyuapkannya.

 

Sensasi kuning telur meleleh memang menakjubkan. Namun, ada yang aneh terasa di lidahnya.

 

“Junhyung… tolong ambilkan aku minum,” ucap Nami.

 

Rasa aneh itu terus menempel di lidahnya. Lama kelamaan muncul rasa mual. Nami menghembuskan napas mengendalikan rasa mualnya itu dan melanjutkan makannya.

 

Junhyung menyodorkan segelas air putih ke Nami dan Nami menerimanya. Nami menoleh, tersenyum kepada Junhyung agar terlihat baik-baik saja dihadapan sahabatnya itu. Namun, rasa ual itu semakin menjadi-jadi. Perutnya bergejolak, rasanya ingin muntah. Nami terus menghembuskan napasnya dan berusaha menanhan mualnya itu.

 

“Kau baik-baik saja?” Junhyung bertanya ketika melihat Nami yang nampak gelisah. Nami pun menoleh kembali, ingin menjawab Junhyung namun perutnya bergejolak.

 

Nami menutup mulutnya rapat, berusaha menahan sesuatu yang akan keluar dari mulutnya namun gagal. Nami pun memuntahkan semua isi perutnya secara tiba-tiba. Badannya mendadak lemas, seluruh tubuhnya kram, dan dia tidak dapat mengendalikan tubuhnya sendiri.

 

Pandangannya mulai memburam seiring semakin banyak cairan yang keluar dari mulutnya disertai buih-buih putih.

 

“Jung Nami !!!”

 

Junhyung langsung menghampiri Nami. Apa yang terjadi? Apa-apaan ini?

 

Nami terus muntah, wajahnya memerah dan mengucurkan keringat dingin yang banyak. Buih-buih itu makin banyak keluar. Junhyung panik, tidak tahu apa yang terjadi, langsung memberikan Nami air putih. Nami ingin mengambil air putih itu, namun tangannya tidak bisa meraih justru menjatuhkan gelas itu. Junhyung semakin panik, berusaha meraih ponselnya dan menghubungi siapa saja, siapapun itu agar membantunya menolong Nami. Tidak berhasil, Junhyung melempar sembarang ponselnya.

 

Junhyung kalang kabut. Dia berteriak, menepuk-nepuk pipi Nami dan mengguncang badan Nami. Sementara Nami merasakan sakit yang luar biasa entah dari mana.

 

Tubuhnya semakin lemas. Kesadarannya semakin jauh.

 

Nami bisa mendengar teriakan panik Junhyung memanggil namanya.

 

Sedetik kemudian, pandangannya berubah menjadi hitam dan Nami kehilangan kesadaran.

 

 

 

-oOo-

 

 

Sudah dua minggu mereka tinggal kembali di apartemen mereka yang dulu. Rencananya, Himchan akan kembali bekerja di New York dan akan menetap disini. Alice tentu saja menjadi orang pertama yang sangat senang akan hal ini. Kehidupannya pun kembali seperti dulu, yang telah dia mimpikan kembali dan menjadi kenyataan. Tidak ada hal yang lebih membahagiakan dari mimpi yang menjadi kenyataan.

 

“Joohee?” Himchan mengibas-ngibaskan tangannya, melihat Alice yang daritadi hanya melihat piring makannya dengan tatapan kosong. Alice hanya tersenyum lebar kepada Himchan dan meminum teh nya. Tapi pikirannya sama sekali tidak ada di tempat itu, daerah salah satu restoran fine dining di Brooklyn.

 

Mungkin saja Alice akan merasa lebih bahagia jika Himchan bersikap seperti dulu kepadanya. Bersikap manis, romantis dan gentle. Seorang tunangan yang patut dipamerkan keseluruh dunia. Orang yang pertama kali mencium keningnya ketika sinar matahari mulai menyinari bumi, yang selalu memeluknya apabila ia butuh pelukan atau kehangatan, yang selalu menyediakan waktu untuk dirinya, yang selalu tersenyum kepadanya dan yang selalu bisa mengerti kondisi dan keadaannya apapun itu. Sungguh, Alice bahagia.

 

Dia memang bahagia karena keberadaan Himchan disampingnya. Tapi, hatinya sedih melihat Himchan yang sekarang. Dia memang memiliki Himchan, melihat fisik Himchan dengan matanya, tapi entah kenapa hatinya mengatakan kalau jiwa Himchan tidak ada disampingnya. Hati Himchan ada disuatu tempat, yang jelas itu bukan disampingnya.

 

Hati Himchan memang sudah ada yang memilikinya, tapi bukan Alice. Ada orang lain yang mengisi seluruh ruang hati Himchan yang kosong. Hal itu yang membuat Alice sedih. Yang ada dihadapannya hanyalah raga dari Kim Himchan yang tidak ditemani jiwanya.

 

Apa ini semua ada sangkut pautnya dengan Jung Nami? Bagaimanapun juga, Alice pernah menemukan kumpulan foto-foto Himchan bersama Nami di sebuah taman bermain. Mereka tampak sangat dekat difoto itu. Sangat terlihat bahwa ada yang lain dari keduanya. Ada yang istimewa dari keduanya. Sebuah hubungan yang bisa terlihat hanya dari tatapan mata keduanya. Alice tidak bodoh. Dia menyadarinya dan dia tahu pasti kalau Himchan memang menyukai Nami. Hanya saja, Alice berusaha menepis itu semua dan berusaha mendapatkan Himchan kembali dan dia berhasil.

 

Sama saja. Dia punya raga Himchan, tapi jiwa Himchan tidak bersamanya. Sakit rasanya.

 

“Joohee,” panggil Himchan membuyarkan pikiran Alice. Alice menoleh. Senyum terkembang diwajahnya lagi, berusaha menunjukkan dirinya baik-baik saja.

 

Himchan menengok keluar jendela. Tidak ada yang berubah dari Brooklyn. Semuanya persis seperti saat terakhir dia kesana. Secara keseluruhan memang tidak ada yang berubah secara signifikan dari New York.

 

Ia merasa memang ada yang berubah. Bukan kota ini, bukan pula Alice. Tapi dirinya. Himchan lah yang berubah. Ia tahu itu. Ada yang hilang dari dirinya. Sudut hatinya yang tiba-tiba kosong begitu meninggalkan Tokyo itulah yang berubah. Ada seseorang disana, yang kini tidak ada lagi disana. Dia telah tergantikan, namun entah kenapa dia tidak bisa digantikan. Bahkan oleh mantan tunangannya sendiri.

 

Terlebih, Himchan merasa gelisah akhir-akhir ini. entah karena sudah lama dia tidak mendengar kabar orang itu atau melihatnya. Mungkin sekedar mendengar suaranya berbicara untuk memastikan kalau dia baik-baik saja.

 

“Semoga kau baik-baik saja.”

 

 

-oOo-

 

Nami terbaring lemah di kasur. Pihak forensik telah mengambil makanan yang tadi pagi dia makan dan telah memeriksanya. Ditemukan racun berupa campuran garam sianida dan garam arsen yang menjadi alasan Nami muntah-muntah tadi pagi. Kini, pihak polisi sedang menyelidiki pihak hotel dan staff yang bersangkutan.

 

Ada yang berniat membunuh Nami.

 

Disamping Nami berdiri Junhyung yang baru datang dari kantor polisi mengurus kasus ini juga dokter yang memegang hasil pemeriksaan Nami.“Bagaimana keadaannya?”

 

Dokter itu membuka berkasnya lalu menjawab, “Ditemukan racun sianida juga arsen didalam makanan itu. Untung saja, kami telah memberikan penawar racunnya dan racun itu baru masuk sedikit ketubuhnya. Jika dia memakan satu suap lagi, maka kita akan kehilangan Jung Nami.”

 

Junhyung mengepalkan tangannya, “Kapan dia sembuh?” Junhyung bertanya tanpa melihat dokter itu. Pandangannya terus tertuju pada Nami.

 

“Sekarang ini bergantung pada daya tahan tubuh Nami. Kami tidak tahu kapan, tapi kami akan berusaha terus memantau perkembangan Nami.”

 

“Tolong jaga dia,” kata Junhyung. Pandangan Junhyung beralih ke dokter itu. Junhyung menatap dokter itu tajam, “Dia sangat penting untukku,” katanya rendah dan pelan lalu berjalan keluar ruangan.

 

Selang 3 jam sejak kepergian Junhyung, Nami pun sadar. Kepalanya berdenyut, tubuhnya lemas dan pandangannya kabur. Nami harus berkali-kali mengerjapkan matanya untuk bisa memastikan dimana dia berada lalu mengerutkan dahinya begitu mengenali suasana disekitarnya.

 

Kamar rumah sakit. Dia berada dirumah sakit. Nami memerhatikan objek disekelilingnya lagi. Ada selang inpus yang berhubungan dengan tangannya. Nami melepas jarum inpus dari tangannnya, dia selalu tidak suka memakai inpus jika tidak diperlukan. Sekarang dia tidak memerlukannya, mungkin.

 

Nami perlahan beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan menuju dispenser yang ada dikamarnya tersebut. Dia dalam piyama rumah sakit. Nami menghela napas dan meminum airnya. Matanya menatap keluar jendela. Sudah malam. Ternyata jam dinding menunjukkan pukul 2 malam.

 

Dia tidak mengingat apa yang terjadi tadi pagi. Kesadarannya memburam. Yang masih ia ingat hanya sarapannya, lalu kegiatannya yang super sibuk. Hanya itu. Dia tidak tahu mengapa ia sekarang ada dirumah sakit. Mungkin, ia bisa meminta kejelasan tentang ini ke Junhyung. Karena Junhyung pasti tahu apa yang terjadi.

 

Nami duduk dipinggir ranjangnya. Bosan dengan suasana kamarnya, Nami pun keluar dari kamarnya. Dia berjalan ke koridor rumah sakit yang nampak sepi. Dia pun berjalan menuju jendela besar di ujung lorong itu. Mengamati suasana malam yang gelap dari situ.

 

Tidak lama Nami berdiri disitu dan memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Dia ingin tidur.

 

Begitu dia membalikkan badannya, ada sesosok bayangan besar yang langsung menyergap dan memeluknya, menahan setiap gerakan Nai dengan otot besar dan lengan yang kokoh itu. Nami memberontak, berusaha melepaskan diri dari orang yang tidak dikenalinya itu. Nami menjerit ketakutan.

 

Orang itu langsung membekap Nami dengan saputangan yang telah disemprotkan obat bius. Perlahan, tubuh Nami jatuh terkulai.

 

Orang itu langsung membawa Nami kabur keluar kerumah sakit. Untungnya, penjagaan rumah sakit itu tidak seketat pada pintu belakang, jadi orang itu keluar lewat pintu belakang. Melempar Nami ke dalam mobil dan orang itu sendiri masuk ke mobil, lalu membawa Nami jauh dari rumah sakit.

 

-oOo-

 

Junhyung berjalan sambil membawa makanan untuk Nami. Setidaknya, begitu Nami sadar, ada sesuatu yang bisa membuatnya kenyang. Junhyung sendiri masih trauma dengan makanan pemberian hotel dan ia masih takut kalau makanan rumah sakit bisa membuat Nami keracunan atau bahkan mati.

 

Yang jelasnya, ada seseorang yang menginginkan Nami mati. Tapi, Junhyung tidak akan membiarkan orang itu bisa menjalankan rencananya.

 

Tangan Junhyung langsung membuka kamar rawat Jung Nami. Begitu masuk, Junhyung tidak menemukan sosok Nami berbaring di tempat tidur. Junhyung mengerutkan keningnya, lalu mencari Nami ke kamar mandi. Tidak ada. Nami tidak ada dikamarnya.

 

Junhyung panic, langsung berlari keluar dan menarik suster yang berjalan dekatnya. Dengan nada panik, Junhyung bertanya, “Apa suster melihat pasien kamar ini?”

 

Suster itu berpikir sejenak, lalu menggeleng. “Aku tidak melihatnya,” katanya lagi.

 

Tidak, tidak mungkin, batin Junhyung.

 

Junhyung kembali ke kamar Nami dan dia menemukan sepucuk surat yang tergeletak di meja. Junhyung segera mengambil dan membacanya. Begitu selesai, Junhyung menjatuhkan surat itu dan langsung berlari ke sekuriti rumah sakit itu.

 

Jung Nami diculik.

 

-oOo-

 

Di pinggir kota Osaka, ada sebuah rumah kosong yang ditinggal pergi oleh pemiliknya selama lebih dari sepuluh tahun. Rumah itu seakan terpencil, jauh dari pusat kota. Ditumbuhi ilalang yang tinggi, membuatnya seakan bersembunyi oleh ilalang itu. Suasana menyeramkan semakin terasa dengan pepohonan yang mengelilingi rumah itu.

 

Sebuah mobil berhenti tepat didepan rumah itu, begitu mesinnya dimatikan, orang itu masuk kedalam rumah itu sambil membawa seorang wanita yang tak sadarkan diri yang barusaja ia culik dari rumah sakit. Orang itu langsung menyalakan lampu satu-satunya di ruang besar ditengah rumah itu, langsung mengikat wanita yang ia culik ke tiang besar rumah tersebut dan menutup mulutnya dengan plester. Dia melakukan pekerjaannya sempurna sesuai seperti orang yang menyuruhnya.

 

“Kau melakukannya dengan sempurna,” seru seorang wanita yang berjalan mendekat. Suara sepatunya menggema diruang yang kosong itu. Langkahnya semakin mendekat.

 

“Aku lakukan sesuai perintah, bukan?” tanya orang itu lagi.

 

Wanita itu berdiri dihadapan orang itu. “Tidak ada cela. Kau bagus juga,” ucap wanita itu memerhatikan siapa yang terikat tak berdaya itu tersenyum licik.

 

Jung Nami.

 

Wanita itu kemudian berjalan mendekati Nami yang terikat. Dia meraih wajah Nami dan memandanginya dengan tatapan penuh kebencian. “Kau berhak mendapatkan ini,” kata wanita itu lagi.

 

Wanita itu adalah Goo Hara. Dia yang merencanakan ini semua. Dia yang memberikan racun ke sarapan Nami dihotel dan dia jugalah yang menyuruh lelaki berotot ini untuk menculik Nami dan membawanya ketempat itu, tempat dimana Hara akan membalaskan dendamnya sepuasnya dan semaunya.

 

Ia maju, meraih botol yang tak jauh dari tempat berdirinya tadi  lalu menyiramkan isinya ke wajah Nami. Nami mengerjapkan matanya, bangun dari ‘tidurnya’ ketika ada rasa dingin dan basah yang menyentuhnya.  Ketika kesadarannya pulih seluruhnya, Nami segera sadar,  posisinya saat ini sedang terikat di tiang. Sementara mulutnya tertutup dengan plester yang merekat kuat membuatnya sulit berteriak.

 

Nami menggeliat berusaha membebaskan diri dari tiang. Lilitan tali mengikat kuat badannya, sementara tangannya juga terikat. Kakinya kram, ikatannya terlalu kuat. Tubuh Nami masih lemas karena efek racun dan obat bius tadi.

 

Dia ingat. Dirinya ada di rumah sakit, keluar sebentar dari kamarnya dan kesadarannya hilang. Begitu dia bangun, dirinya justru terikat seperti ini. terduduk dilantai, kaki dan tangan terikat satu sama lain sementarabadannya terikat dengan tiang kokoh ruangan yang tak dikenalinya.

 

Siapa yang melakukan ini padanya?

 

Dia kemudian menatap lurus dua orang yang ada dihadapannya.

 

Betapa kagetnya Nami begitu tahu siapa yang sedang berdiri dihadapannya. Sosok itu… Ia sangat mengenal sosok itu. Sudah lama sejak kepindahannya ke Tokyo, namun dia tidak pernah lupa akan sesosok wanita yang dulu adalah sahabatnya. Goo Hara.

 

Nami berusaha berteriak. Dia menatap Hatra tidak percaya. Apa salahnya? Apa yang telah Nami lakukan sampai Hara berbuat sejauh ini?

 

Hara membalas tatapan amarah Nami, “Bertanya kenapa aku melakukan ini kepadamu, Jung Nami sahabatku tersayang?”

Hara berjalan maju menghampiri Nami. Kemudian ia berjongkok, membuat pandangannya sejajar dengan mata Nami. Hara meraih wajah Nami dan langsung menamparnya keras. Tidak puas hanya sekali, Hara sampai menampar Nami sampai lima kali. Setetes darah segar mengucur dari sudut pipi Nami yang membiru.

 

“Kau masih tidak tahu apa salahmu?” tanya Hara lagi. Amarah dan bencinya berkumpul, dia ingin melampiaskan segalanya kepada Jung Nami.

Nami menggeleng pasrah. Dia tidak tahu salahnya apa dan apa yang telah dia perbuat kepada Hara sehingga Hara menculiknya dan kini menyiksanya juga memukulnya.

Hara meludahi Nami, “Kau selalu tidak tahu. Itulah Kau. Sang Jung Nami yang sempurna. Kau mengambil semua kesempurnaan dari lingkunganmu, kau tahu?”

Nami mulai berkaca-kaca mendengar pernyataan Hara. Hara tidak merasa berbelas kasih kepada Nami yang sudah berkaca-kaca itu. Ia justru menampar Nami lagi sampai Nami terpekik. Setelah itu, dia menjambak rambut Nami dan membenturkan kepala Nami ke tiang itu keras. Lagi-lagi Nami terpekik menahan rasa sakit yang timbul.

Nami terkulai lemas. Kepalanya pusing akibat serangan bertubi-tubi Hara. Kini, kepalanya mengucurkan banyak darah dan ia mulai tidak bisa melihat jelas lagi karena kekurangan darah yang banyak. Hara hanya memandangi Nami sekilas, lalu berjalan dan duduk dikursi. Ia tetap menghadap kearah Nami.

“Kau ingat ketika kau dikabarkan adalah seorang lesbian? Atau kau masih ingat ketika ada penyerangan butikmu di Gangnam-do? Dan serentetan kasus lain yang selalu saja membuat hidupmu tidak tenang akhir-akhir ini?”

Nami menggeleng pelan.

Hara tersenyum licik. “Akulah pelakunya,” katanya lagi. Nami menatap Hara kaget. Hara membalas tatapan Nami dengan guyuran air yang menyiram tubuhnya lagi.

“Atau kau masih ingat ketika ada kabar kalau suami adikmu itu tidak mencintai adikmu tercinta, Nana?”

Nami tahu. Kabar itu ditahunya dari Suho yang sukses membuatnya panic dan ketakutan. Tapi, apa hubungannya dengan Hara?

Rasa ngeri, ketakutan dan kengerian mulai menggerogoti Nami. Napas Nami mulai tidak terkendali.

Hara beranjak berdiri, berjalan memutari Nami. Suara high heelsnya menggema diseluruh ruangan itu. “Kau pikir Suho dapat darimana info mendetail tentang adikmu itu?”tanya Hara berhenti tepat dihadapan Nami. Hara berjongkok, mengelus-elus pipi Nami dan tersenyum. “Tentu saja dari aku.”

Nami membelak kaget. Ternyata Suho juga mendapat info itu dari Hara?

“Tentu saja bukan aku yang memberitahukannya langsung, bodoh!” Hara bangkit dan menendang kaki Nami keras. Nami tidak bisa berbuat apa-apa. Rasa sakit yang dialami fisiknya juga ia alami pada psikisnya. Badannya kini gemetaran, keringat dingin muncul dipelipisnya.

Hara kembali berjongkok dan menatap Nami. “Seharusnya Suho berterimakasih kepadaku. Tapi, kenapa justru dia pergi meninggalkanku saat rencananya berhasil?”

“KAU SELALU SAJA MENDAPATKAN APA YANG AKU INGINKAN !!! KAU SELALU SAJA SEMPURNA !!! SEMENTARA AKU HANYA BAYANGANMU SEMATA !!! KAU SELALU MENGATAS NAMAKAN HUBUNGAN KITA SEBAGAI PERSAHABATAN !!! TAPI NYATANYA KAU MENGAMBIL SEMUANYA DARIKU!!! BAHKAN SUHO JUGA KAU AMBIL!!!” Hara berteriak keras diwajah Nami. Nami yang mendengarnya semakin tenggelam dalam ketakutannya.

“KAU TAMAK, JUNG NAMI!!! TAMAK!!!”

Nami terisak mendengar pengakuan Hara namun dirinya juga masih bertarung dengan delusinya. Kini, akibat teriakan Hara, semua yang ada diotak Nami seakan berputar.

Di otak Nami, terbayang semua orang sedang berdiri dihadapan Nami, menatapnya dengan tatapan keji dan mencemooh. Terus berbisik, lalu kemudian orang-orang itu mulai berteriak dan mencemoohnya. Melemparinya dengan sampai bahkan meludahinya.

Kau Tamak

Kau Keji

Kau Dingin

Kau Kejam

Kau hanya menuntut kesempurnaan dengan memperbolehkan segala cara

Kau kejam

Kau…. Kejam

Jung Nami, kau kejam

Kau tidak punya perasaan

 

Kau bengis

 

Keringat Nami mengucur deras. Tatapannya kini berubah menjadi liar, tidak peduli seberapa Hara berteriak atau memukulnya. Isakan Nami semakin menjadi-jadi. Dia menjerit, walaupun mulutnya tertutupi oleh plester itu.

 

“Gadis gila,” ucap Hara melepas plester mulut Nami karena muak mendengar suara cempreng Nami yang menjerit-jerit.

 

“LEPASKAN AKU!!!” seru Nami begitu Hara melepaskan plester di mulutnya.

 

Hara meledek Nami, “Lepaskan? Berikan dulu semua yang telah kau ambil,” lanjutnya lagi. Nami menggelengkan kepalanya. Air mata terus mengucur dari sudut matanya, berbaur dengan keringat yang deras mengalir dari pelipisnya.

 

“Aku tidak mengambil apa-apa darimu,” kata Nami memohon. Hara tetap tidak perduli. Hara melihat wajah Nami, gadis itu menangis dengan wajah datar. Apa-apaan ini? Nami menangisi dirinya?

 

“Kau,” Hara langsung meraih baju Nami dan menatapnya sementara Nami terus menatap Hara datar dan mengucurkan air matanya. “GADIS MACAM APA KAU YANG MENANGIS SEDATAR ITU,” kata Hara lagi.

 

Nami terus menggeleng. Bagi Hara, Nami terlihat sedang mempermainkannya. Tapi, bagi Nami, justru dia sedang memohon kepada Hara.

 

Skizofrenia nya mempersulit dirinya saat ini.

 

Hara langsung mencekik leher Nami keras, membuat Nami tercekat tidak bisa bernapas. Hara mencekik Nami penuh amarah dan dendam. Nami harus mati ditangannya.

 

“Ha…ra…” Nami memegang tangan Hara, “Le….pas…kan… i…ni… sak…it…”

 

“RASA SAKIT INI TIDAK SEBANDING DENGAN APA YANG KAU PERBUAT!!!”

 

Nami kesulitan bernapas. Stok oksigen di paru-parunya mulai habis. Dia mulai kehabisan napas. Wajahnya memerah.

 

“Ku….mo…hon…”

 

“BERMOHONLAH KEPADAKU !!!”

 

Nami menutup matanya. Dia mulai kehilangan kendali atas tubuhnya. Pikirannya mulai dikuasai oleh delusi aneh yang menakutkan. Jiwanya rasanya akan ditarik saat itu juga, lalu Hara melepaskan cengkramannya.

 

Nami merasakan sakit yang amat sangat pada lehernya. Tubuhnya kini menahan segala rasa sakit yang Hara berikan.

 

Kau Jahat

 

Kau jahat

 

Kau keji

 

Sementara delusi di otaknya terus membuat bayangan yang aneh. Nami menangis lagi. Dia tidak sanggup berada di situasi ini. Dimana sekujur tubuhnya merasakan sakit, sementara ia harus bertarung dengan delusinya sendiri.

 

“Aku pergi.”

“Aku juga. Biar anak buahku saja yang berurusan dengan wanita ini.”

 

Sepeninggalan itu, orang yang menculik Nami dan Hara meninggalkan rumah itu.

 

Sementara Nami dalam kesulitan. Dia tidak bisa lagi memperhatikan kondisi sekelilingnya. Dia tidak bisa melihat dimana kehadiran Hara. Dia juga tidak mendengar suara Hara. Hara tiba-tiba menghilang.

 

“Mau bermain bersama kami?”

 

Sebuah suara membuat Nami mengadahkan kepalanya keatas. Ada dua orang laki-laki yang sedang memandangi Nami dengan tatapan aneh. Nami mulai merasakan ketakutan.

 

Pria itu melepaskan semua ikatan Nami, tapi perlahan mendekati Nami. Nami beringsut mundur, tapi dia mulai terpojokkan oleh mereka.

 

Pria itu mulai mengelus-elus tubuh Nami membuat Nami merinding. Pria yang satunya lagi mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Nami. Nami langsung membuang muka.

 

Tak mau kalah, pria yang satu langsung meninju Nami sehingga Nami tergeletak ditanah tak berdaya. Nami masih berusaha bangun. Dengan samar dia bisa mendengar percakapan pria ini.

 

“Aku duluan. Perawan Tokyo yang nikmat,” kata pria itu tersenyum licik kepada temannya.

 

“Baiklah,” temannya yang lain mengalah.

 

Pria itu mulau merangkaki naik ke tubuh Nami. Nami bisa merasakan bau napas yang membuatnya ngeri. Pria itu langsung berusaha membuka baju Nami secara paksa, namun Nami memberontak. Dia meninju dengan sekuat tenaga wajah pria itu sampai tersungkur disampingnya.

 

Nami berusaha bangkit, namun pria yang satunya lagi tidak akan membiarkannya begitu saja. Dia menarik Nami, namun dengan cepat Nami mengambil tongkat kayu dan memukulkan ke kepala pria itu keras.

 

Dia harus keluar dari sini, pikir Nami begitu melumpuhkan keduanya dan langsung berlari dari rumah itu.

 

Suasana diluar rumah itu sangatlah sepi. Nami lari sekuat tenaga yang tersisa menuju jalan raya. Dia terus berlari. Keinginan hidupnya sangatlah besar, dia tidak ingin diperkosa lalu mati dengan cara seperti ini.

 

Lari Nami terhenti begitu ditarik paksa oleh pria yang tadi ia tinju. Nami langsung didorong jatuh ke tanah, dan pria itu langsung menyergap Nami dibawah lengannya.

 

“Mau kemana kau, perempuan gila?”

 

Pria itu mulai melepaskan celananya dengan tangannya, sementara tangan yang lain menahan lengan Nami. Nami tidak menyerah. Dia melihat ada botol minuman kaca yang tidak jauh disampingnya. Dia berusaha mengambilnya.

 

Pria itu melihat Nami yang melihat botol itu, menampar Nami dan menyergap kedua tangan Nami.

 

“Maafkan aku,” kata Nami dan langsung menendang kemaluan pria itu telak. Pria itu langsung menjerit kesakitan. Ini dimanfaatkan Nami. Nami langsung beranjak berdiri, mengambil botol itu dan memukulkannya sekeras mungkin ke kepala pria itu. Pria itu langsung pingsan ditempat.

 

Nami langsung lari dari rumah itu. Dia terus berlari dan menangis. Langkahnya terus terpacu untuk menjauh dari rumah itu. Walaupun ia berlari tanpa alas kaki, Nami terus berusaha berlari. Melawan hembusan angina musim gugur yang menusuk, melangkahkan kakinya diatas aspal yang dingin.

 

Sorot lampu membuat langkah Nami terhenti. Begitu tahu bahwa lapu itu adalah lampu dari mobil polisi, Nami jatuh terduduk dan pingsan.

 

-oOo-

 

New York

 

Himchan memotong sayuran untuk makan malamnya secara hati-hati. Sesekali dia mengamati Alice yang terduduk di di ruang tamu flat mereka lalu perhatiannya kebali fokus pada papan pemotong dan pisau yang ada dihadapannya. Setelah selesai, Himchan menyisihkan semua sayuran itu dan mulai mengiris daging. Dia akan memasak wagyu saus lada hitam dengan pasta Agnolotti.

 

Saat mengiris tipis daging wagyu nya, pisau tersebut tidak sengaja mengiris jemari Himchan. Himchan langsung menjauhkan tangannya dari papan pemotong itu dan menyiram luka sayatnya di wastafel. Ia meringis. Lukanya sangat perih. Ini dikarenakan tadi dia barusaja mengiris jalapeno.

 

Prrrangg

 

Himchan langsung berlari kearah sumber suara pecah tadi. Ternyata berasal dari ruang tamu. Alice nampak kaget.

 

“Aku minta maaf…” bisik Alice memandangi bingkai foto yang barusan ia jatuhkan. Himchan memungut bingkai foto itu. Kacanya tidak pecah. Hanya retak disalah satu sisi, dan Himchan bersyukur akan hal itu.

 

Alice menjatuhkan bingkai foto yang cukup besar. Himchan menatap foto itu. Suasana saat Tokyo Fashion Week. Terpampang jelas nama designer yang sedang melakukan fashion runaway hari itu. JNM.

 

Himchan kemudian mengerutkan dahinya. Memang, foto itu adalah self camera dirinya berdiri dihadapan gedung yang cukup ramai diluarnya. Dan bingkai itu sama sekali tidak pecah. Tapi, ada bagian yang retak. Dan bagian itu persis mengenai foto Jung Nami.

 

Pertanda apa ini?

 

“Chan-a maafkan aku,” gumam Alice menundukkan kepalanya. Himchan menoleh dan mendapati Alice yang menunduk. Tatapan Alice langsung tertuju ke tangan Himchan yang mengucurkan banyak darah.

 

“Himchan kau kenapa?” tanya Alice langsung menarik tangan Himchan untuk diobati. Sementara Himchan gelisah dengan pertanda yang barusan dia alami. Memang, ia bukan tipe orang yang percaya terhadap kebetulan atau hal-hal gaib tapi untuk rasa kegelisahan yang tiba-tiba menyergapnya,nampaknya dia harus percaya.

 

Semoga Nami baik-baik saja di Tokyo, itu yang diharapkannya.

 

-oOo-

 

“Polisi Osaka langsung menangani kasus ini cepat. Kasus yang melibatkan seorang designer ternama Jepang yang membuat dunia fashion dan entertaintment heboh ini telah menyedot seluruh perhatian warga Jepang dan luar Jepang. Kabar yang berdesus adalah seorang designer J yang menjadi korban penculikan dan pembunuhan berencana ini ditemukan dalam keadaan yang berantakan pada hari Sabtu, dipinggir jalan. Bajunya koyak, rambutnya acak-acakan dan terdapat banyak bekas pemukulan disekujur tubuhnya.”

 

“Pihak polisi telah melakukan visum kepada korban dan telah menangkap 4 orang yang menjadi tersangka dalam kasus ini. 3 orang pria yang menjadi suruhan dari 1 orang wanita. Diduga, wanita ini telah menjadi otak dari pembunuhan berencana ini. Motif wanita berinisial H ini dikarenakan balas dendam pada J yang tak kunjung terwujudkan setelah sekian lama. Polisi sedang menyelidiki kondisi psikis wanita ini lebih lanjut. ”

 

“Hasil dari investigasi, pihak polisi melanjutkan, bahwa kasus yang belakangan ini selalu melibatkan J dalam keadaan sulit seperti skandal-skandal yang melibatkan J dan penyerangan butik yang terjadi di Seoul, direncanakan oleh H. sampai saat ini, J masih dirawat secara intensif di Instalasi gawat Darurat sebuah rumah sakit di Osaka.”

 

Sungyeol merinding membaca artikel menyolok di surat kabar Jepang pagi itu. pembunuhan berencana yang direncanakan seorang wanita itu terdengar gila. Ternyata, dampak balas dendam sangat besar.

 

Sungyeol melipat koran yang telah dibacanya dan menghampiri Junhyung. “Duduklah,” kata Sungyeol menyodorkan kursi. Tanpa banyak bicara, Junhyung langsung mengambil kursi itu dan menariknya kesamping ranjang Nami.

 

Junhyung, orang pertama yang ditelpon oleh pihak kepolisian Osaka langsung syok begitu mengetahui bahwa Jung Nami ditemukan di pinggir jalan. Junhyung memang segera menghubungi polisi untuk mencari Nami yang diculik, berdasarkan surat yang ia temukan dikamar Nami.

 

Junhyung begitu terpukul begitu tahu kondisi saat Nami ditemukan. Dia langsung membentak dan memarahi polisi yang ia lihat, berkata tidak becus dalam mengurus kasus ini. Junhyung menjadi temperamental. Saat orang yang menculik Nami telah ditemukan, nyaris saja Junhyung membunuh orang itu kalau saja pihak polisi tidak menahannya.

 

Setelah dari kantor polisi, dia terus diam. Junhyung hanya diam. Matanya terus mengamati Nami, tidak terlepas dari sosok yang terbaring itu. Sesekali Junhyung membelai wajah Nami yang penuh lebam itu. Matanya memancarkan kesedihan melihat lebam diwajah Nami.

 

Nami sadar setelah 12 jam pingsan. Saat dia bangun, dia langsung menangis keras. Junhyung langsung memeluk Nami, namun Nami masih menangis keras. Begitu Junhyung melepaskan pelukannya, Nami justru bergetar dan berteriak histeris.

 

“TOLONG AKU!!! JUNHYUNG TOLONG AKU!!”

 

Junhyung langsung memeluk Nami lagi, berusaha menenangkan Nami yang terus saja menangis. Nami juga tidak mau ditinggal sendirian di kamarnya. Dia akan langsung melepas inpusnya dan berlari keluar, mencari Junhyung atau Sungyeol dan langsung memeluknya begitu menemukan mereka.

 

“Tolong… aku takut sendirian… Mereka semua berteriak padaku…” kata Nami terus menerus. Sungyeol sudah bertanya siapa, namun Nami hanya menjawab ‘mereka’ . Nami juga menjadi lebih penyendiri, sangat sulit diajak berbicara karena perhatiannya tidak fokus pada satu hal.

 

Jadi, Junhyung pun meninggalkan pekerjaannya di Tokyo untuk sementara dan menemani Nami full. Dia tidak membiarkan Nami luput dari pengawasannya lagi. Bahkan, sudah 3 hari sejak Nami sadar, Junhyung pun tidak pernah tidur selama itu. dia meminum satu botol besar kopi untuk mencegah kantuknya. Dia melakukan apa saja untuk tetap terjaga. Jika pihak polisi menghubungi Junhyung untuk kelanjutan kasus, pasti ia menyuruh Sungyeol ataun asistennya yang datang. Bagi Junhyung, semua ini adalah salahnya. Meninggalkan Nami sendirian adalah salahnya. Maka dari itu, dia tidak akan melakukan hal itu lagi.

 

Hati Sungyeol miris melihat Nami dan Junhyung. Nami, yang sudah mendekati gejala depresif dan Junhyung yang kesehatannya memburuk akibat kurang istirahat. Dia tidak bisa membiarkan hal ini terjadi terus menerus. Ia harus melakukan sesuatu.

 

Sungyeol juga tidak bisa terus menerus memberikan obat kepada Nami. Walau sudah berjalan hampir seminggu, dan kondisi Nami membaik tapi tidak kunjung membuatnya berhenti menarik diri dan berdelusi.

 

Maka, ia telah memutuskan apa yang akan dilakukannya. Pertama, meminta izin Junhyung terlebih dahulu.
“Aku tahu kau tidak akan suka hal ini,” kata Sungyeol menarik kursi dan duduk disamping Junhyung. Junhyung hanya melirik Sungyeol. Sungyeol lalu melanjutkan kata-katanya, “Tapi, sudah saatnya kita harus melepaskan Nami dari semua ini.”

 

“Maksudmu?”

 

“Kondisi Nami semakin memburuk. Apalagi kasus ini, kasus baru ini, yang membuatnya mengalami gejala trauma depresif.”

 

“Apa yang harus dilakukan?” Junhyung menatap Nami yang terbaring lemah ditempat tidur. Ia sudah lelah melihat Nami diperlakukan seperti ini. Sudah cukup baginya.

 

“Kita bawa Nami menjauh. Jauh dari jangkauan lingkungan yang bisa mengingatkannya terhadap trauma dan kejadian ini.  Sekaligus, menyembuhkan skizofrenia nya secara total.”

 

Junhyung tampak tidak yakin. “Mau dibawa kemana Nami?”

 

“Sebuah negara dengan tingkat kesejahteraan dan kesehatan terbaik di dunia,” kata Sungyeol mantap

-oOo-

 

Alice mempererat gulungan syal di lehernya. Temperature kota New York hari ini cukup dingin, 100C . Cukup dingin untuk musim gugur. Orang-orang mulai membungkus diri mereka dengan mantel musim gugur dan membebat leher mereka dengan syal.

 

Alice terus melangkahkan kakinya cepat. Matanya memandangi jalan dengan kosong. Akibat melamun, Alice menabrak seorang dan terjatuh ke tanah. Ia langsung bangkit dan meminta maaf. Ia lalu memandangi orang yang barusan dia tabrak tadi dan menghela napas berat.

 

Maaf, aku sedang sedih, batin Alice melanjutkan langkahnya ke Central Park.

 

Ia langsung menuju sudut taman yang tersembunyi dan duduk di bangku panjang yang ada ditaman itu. Dedaunan kering memenuhi taman itu. Pohon yang daunnya menguning. Semuanya akan jatuh. Entahlah, namun Alice merasa musim ini tidak cocok untuknya. Musim yang terlalu dingin, padahal bukan musim dingin.

 

Alice merogoh sakunya dan mengeluarkan ponsel. Ia menimang sebentar apakah harus menghubungi Himchan atau tidak. Tapi, ia sudah merasa jenuh dengan semua ini. Dia harus menghubungi Himchan dan berbicara di taman ini.

 

Dengan helaan napas, Alice pun menghubungi Himchan. Jantungnya berdebar menunggunya.

 

“Halo? Chan-a? Ke Central Park…. Kumohon….Ada yang ingin kubicarakan padamu…”

 

-oOo-

Himchan masih bingung, kenapa Alice mengajak bertemu di Central Park?

Begitu melihat sosok Alice, Himchan langsung menghampirinya dan duduk disampingnya. Alice, yang terlambat menyadari kehadiran Himchan, kaget melihat Himchan sudah ada disampingnya. Seperti biasa, Alice tersenyum dan mencium pipinya.

 

“Ada apa?” tanya Himchan langsung kepada intinya. Alice mengendus, “Kau ini, tidak bisa romantis sedikit ya?”

 

Himchan tersenyum sinis mendengarnya. Alice kemudian kembali memerhatikan orang-orang dihadapannya. Mereka diam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Himchan sendiri merasa gelisah.

 

Ternyata firasatnya benar. Nami menjadi korban pembunuhan berencana namun berhasil selamat. Ia membaca info itu pada surat kabar elektronik Jepang. Sejak saat itu, dia terus memikirkan Nami sepanjang hari. Bahkan saat bersama Alice pun, Himchan tidak bisa melepaskan Nami dari pikirannya.

 

Semakin ia memikirkan Nami, semakin besar rasa khawatir yang ada dihatinya. Semakin besar keinginannya untuk bertanya langsung kepada Junhyung atau Sungyeol ataupun Nami. Namun, ia sadar betul kalau ia sudah mengucapkan selamat tinggal.

 

Himchan tidak bisa menarik kata-katanya dulu. Ia sangat menyesalinya. Itulah penyesalan terbesar seumur hidupnya.

 

Semakin lama, Himchan semakin sadar kalau dia benar-benar merindukan gadis dingin itu. Ia semakin sadar akan perasaannya sendiri dan menyadari bahwa pendapat Baekhyun ternyata salah.

 

Alice memang telah kembali. Ya, dia senang akan hal ini. Tapi, semuanya telah berubah. Jantung yang selalu berdebar saat berdekatan dengan Alice kini tak berdebar lagi. Rasa hangat saat memeluk Alice kini tak sehangat dulu. Senyum yang bisa membuatnya nyaman, kini sudah tidak berlaku lagi.

 

“Aku ingin menanyakan sesuatu. Kumohon, jawab dengan jujur.”

 

Alice menatapnya dalam. Himchan mengerutkan dahinya tidak mengerti namun sedetik kemudian mengangguk pelan tanpa melepaskan matanya dari Alice.

 

Alice menghembuskan napasnya pelan.

 

“Maafkan aku.”

 

Alice meneteskan air matanya.

 

Himchan langsung meraih wajah Alice dan menghapus air matanya. Alice terus meneteskan air matanya semakin lama dia melihat wajah khawatir Himchan itu.

 

“Joo Hee, ada apa?”

 

Alice menggenggam tangan Himchan. Tubuhnya bergetar. Ia harus sanggup mengatakan ini.

 

“Maafkan aku telah menjauhkanmu dari Nami.”

 

Himchan tersentak mendengar Alice yang berbicara seperti itu. Alice melanjutkan kata-katanya, “Aku egois… Sangat egois telah menjauhkan kalian berdua… Maafkan aku…Maaf…”

 

“Apa maksudmu?” tanya Himchan menyela Alice.

 

“Aku memintamu kembali ke sisiku setelah aku meninggalkanmu semaunya… Tanpa peduli kalau ada pihak yang terluka… Aku… kau… dan Nami… kita semua terluka karena perbuatanku, chan-a,” lanjut Alice berusaha mengontrol tangisnya.

 

Himchan tidak bisa berkutik lagi. Perkataan Alice memang benar. Secara tidak langsung, Alice sudah menyakiti Nami yang kehilangan Himchan juga menyakiti Himchan yang kehilangan Nami.

 

“Aku terluka… Aku memang memilikimu. Tapi aku tidak memiliki hatimu. Aku hanya memiliki ragamu… dan itu sama saja. Aku…tidak sanggup lagi…”

 

“Orang bodoh pun tahu kalau kalian saling…membutuhkan…”

 

Alice menyeka air matanya, berusaha tersenyum. Himchan memandangi Alice perih. Ia tidak menyangka, kisahnya akan serumit ini.

 

“Aku sadar… tapi aku tidak mau tahu…Aku terlalu egois…”

 

Himchan memejamkan matanya. Dia tidak sanggup melihat gadis ini menangis. Kepalanya pusing memikirkan ini semua.

 

Apakah ia harus jujur?

 

Apakah ia harus memercayai hatinya, bukan logikanya?

 

“Sekarang… Jujurlah…” Alice menghembuskan napas berat. Ia menatap Himchan.

 

Ia mencintai lelaki ini. Tapi, apa gunanya kalau lelaki ini tidak mencintainya dan justru mencintai orang lain? Kini, dirinya tahu betul bagaimana hancurnya hati Himchan saat ia mencampakkannya.

 

Sakit. Sakit sekali. Nyeri di dada semakin menjadi-jadi.

 

“Himchan Kim… Bagaimana perasaanmu terhadap Jung Nami?”

 

Alice bertanya dengan nada pasrah. Sebersit harapan muncul dihatinya. Harapan kalau Himchan akan tetap memilihnya. Alice menanti jawaban Himchan bagaikan berdiri dipinggir jurang yang terjal.

 

Himchan diam.

 

Perlahan, dia kembali menatap Alice yang menantikan jawabannya. Dia telah menetapkan jawabannya.

 

“Apa yang kau pikirkan itu benar,” jawab Himchan pelan.

 

Alice belum mengerti kata-kata Himchan sepenuhnya. Wajahnya menunjukkan ekspresi tanya.

 

“Aku memilih Nami.”

 

Alice mencerna kata-kata Himchan perlahan. Kemudian, ia hanya bisa menerita kenyataan dengan senyuman walaupun terasa menyakitkan.

 

Harapan Alice hancur.

 

“Aku tahu,” kata Alice menunduk. Air matanya tidak bisa dihentikan. Ternyata, memang benar kalau Himchan membutuhkan Nami, bukan dirinya.

 

“Maafkan aku, Joohee.”

 

Alice terus menundukkan kepalanya. Ia tidak sanggup menatap Himchan saat ini.

 

Himchan merasa sangat bersalah membuat Alice menangis seperti ini. Tapi inilah kenyataan yang harus mereka hadapi. Himchan menarik Alice kedalam pelukannya, berusaha membuat tangisan Alice mereda.

 

-oOo-

Himchan telah menginjakkan kakinya di Tokyo lagi. Begitu sampai di Tokyo, ia tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Karena dia ingat, kesempatan ini tidak datang dua kali didalam hidupnya.

 

Selama perjalanan, dia mengkhawatirkan Alice. Sebenarnya, dia ingin tinggal lebih lama dengan Alice namun Alice tiba-tiba datang ke flatnya dengan membawa tiket ke Jepang. Ya, sejak hari itu mereka resmi berpisah. Himchan meninggalkan flat Alice di New York dan kembali ke flat lamanya di Manhattan.

 

Untungnya, hubungan mereka tidak memburuk. Alice justru membantu Himchan kembali ke Jepang walau terkesan terlalu cepat, tapi Himchan mengerti. Alice hanya ingin tidak melihat wajahnya. Alice ingin melupakan perasaannya kepada dirinya.

 

Sehari sebelum Himchan pindah ke Jepang, Alice datang ke flatnya. Dia lalu menyerahkan bungkusan coklat yang berisikan foto yang ternyata merupakan foto Himchan dan Nami di taman bermain. Himchan memang selalu mencarinya.

 

“Maafkan aku. Aku menyembunyikannya.”

 

Himchan pun mengangguk pelan dan menyimpan foto itu di tasnya. Saat itu, ia menatap Alice. Alice sepertinya punya sesuatu yang harus dikatakan.

 

“Kau menyembunyikan sesuatu?”

 

“Bolehkah kita tetap berteman?”

 

Alice menunduk ketika menanyakannya. Himchan mendengus geli, kemudian tertawa dan mengangguk mengiyakan.

 

Ia masih ingat pesan terakhir Alice untuknya.

 

“Hiduplah bahagia dengan Jung Nami.”

 

“Aku berusaha meraihnya,” kata Himchan pelan. Himchan kemudian mengadahkan kepalanya. Dia sudah sampai di kantor Nami rupanya.

 

Rasanya sudah sekian lama Himchan meninggalkan kantor ini. Himchan langsung masuk dan berjalan menuju resepsionis.

 

“Jung Nami ada?”

 

Resepsionis itu langsung bermuka murung. Dia nampak berusaha mencari alasan. Himchan mengerutkan dahinya.

 

“Nona Nami tidak ada disini,” kata resepsionis itu terbata-bata.

“Keluar kota atau keluar negeri?”

 

“Maaf, tuan. Kali ini, saya tidak tahu nona Nami kemana.”

 

Hicmhan heran. Bagaimana mungkin, resepsionis Nami tidak tahu Nami ada dimana. Himchan pun menjauhi resepsionis itu, berjalan menyusuri koridor kantor Nami. Ia pun mendengar bisik-bisik. Himchan menghentikan langkahnya lalu menguping pembicaraan orang itu.

 

“Kudengar, Nona Nami menghilang. Tidak ada yang tahu dia dimana sekarang.”

“Oh ya? Tuan Junhyung tidak tahu?”

“Wah… Junhyung-sama tidak mau berbicara mengenai hal ini. Sayang sekali, ya.”

“Iya. Mungkin Nona Nami menghilang untuk melarikan diri dari skandal dan kasus yang menimpanya.”

“Padahal Nona Nami orang yang baik. Walau sedikit dingin, memang.”

“Iya. Semoga Nona Nami cepat menyelesaikan masalahnya.”

 

Nami menghilang?

 

Seakan tidak percaya, Himchan berusaha menghubungi ponsel Nami. Ia masih menyimpan nomornya. Namun, sayang, nomor tersebut tidak aktif. Himchan mencoba menghubungi Junhyung, hasilnya sama.

 

Apa-apaan ini?

 

Himchan keluar dari kantor Nami. Dia berjalan tanpa arah. Apa ini karma untuknya?

 

Ia sudah mencampakkan Nami. Tidak ada disisi Nami saat Nami membutuhkannya. Membuat Nami menangis. Dan mungkin banyak hal yang Himchan tidak tahu.

 

Kaki Himchan membawa dirinya ke coffee shop langganannya dengan Nami. Himchan memasuki coffee shop itu, memesan caffee latte dan espresso. Ia duduk ditempat dirinya dan Nami biasa duduk.

 

Matanya memerhatikan dua gelas kopi itu. Ia mengambil espressonya, menyesapnya pelan.

 

Himchan meletakkan kembali gelasnya. Dia memandangi kursi dihadapannya. Kosong.

 

Himchan terus menatap kursi itu. Matanya terpaku pada kursi itu. Ilusi matanya menciptakan bayangan Nami yang menyeruput caffee latte nya. Mata Himchan memanas. Perlahan, Himchan meneteskan air matanya.

 

그리워해요, 청 나 미

-oOo-

NEXT PREVIEW : 

485463_594011743943967_56439425_n

SKY20090618120020AL

IMG03580

bisang_12

INFINITE CALENDAR 2014 4

himchan 5

aaa

Im sorry for late posting, guys T^T

Part ini, aku bener-bener pusing dan harus baca banyak buku supaya kerasa real. Ini juga mungkin salah satu FF terpanjangku kkkk~~~~

Maaf banget udah buat para readers nunggu, aku ga maksud Cuma beneran aku sibuk >.<v tapi aku udah janji, Insya Allah bulan desember FF ini bakalan habis ^^ Dan mungkin setelah ini, aku, Hayamira, ga posting FF sesering dulu. Mungkin ya, soalnya au belajar ^^)9 tapi diliat aja nanti. siapatu aku pengen nulis, kan kan ^_^ 

Oh ya, soal part ini, Aku recommended dengerin lagunya 2NE1 yang missing you, Urban Zakapa yang I Hate You dan 2AM Regret, Younha Real Reason Why We Broke Up (lagu ini nemenin aku nulis FF ini kkkk thanks to them)

Oh ya, aku juga lagi banyak masalah dan pusing sendiri (?) tapi aku kepikiran soal Myungsoo T^T)9 tyaudah, Keep Support Myungsoo Oppa ~~~~ 

Makasih banget udah mau nunggu FF aku. I Love You guys ~~!!!!! ❤ ❤ ❤

xoxoxo, Hayamira

 

33 responses to “FF : Oramanieyo… [CHAPTER 8]

  1. Pingback: Bloody Camp [Act 1] | FFindo·

  2. astaga miris bnget nasib nami tp untung mash ada junhyung yg stia merawat dan menemani nami g kya himchan , mash sbel sma himchan yg ninggln nami gtu aja skarang gliaran cri nami, naminya g ada . Tp smoga himchan bisa smbuhn nami dr traumanya dia.
    Well ditnggu next chap author-nim. Hwaiting

  3. astaga miris bnget nasib nami tp untung mash ada junhyung yg stia merawat dan menemani nami g kya himchan , mash sbel sma himchan yg ninggln nami gtu aja skarang gliaran cri nami, naminya g ada . Tp smoga himchan bisa smbuhn nami dr traumanya dia.
    Well ditnggu next chap author-nim. Hwaiting

  4. Akhirnya setelah lama nunggu ngepost juga serius baca ini nangis feelnya dapet banget pas bagian hara ngeculik nami hara pengen banget dibuang kejurang (?) *eh XD Jahat banget sama nami hara gak tau ya kalo nami sakit? Okee ditunggu next part ^^

  5. Ahhhhhh geregetannnnnnn, kasian Nami, hampir di perkosa dan di bunuh, miris banget 😦
    itu ada Namu nyempil, ada apakah gerangan di last part?
    Keep writing ya,tetap ditunggu

  6. Pingback: FF : Oramanieyo… [CHAPTER 9] | FFindo·

  7. Kira-kira Nami pergi ke mana ya, jadi penasaran sendir nih haha Terus Nami mau nerima Himchan lagi gak ya? Atau Nami justru jadi benci sama Himchan? Arghhh ceritanya makin complicated banget nih 😀

  8. I am really loving the theme/design of your blog. Do you ever run into any browser compatibility issues?

    A number of my blog audience have complained about my blog not working
    correctly in Explorer but looks great in Safari.

    Do you have any solutions to help fix this issue?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s