Bloody Camp [Act 1]

20130516_exo_xoxo

“Could You Kill Your Best Friend?”

-Dapatkah kau membunuh sahabatmu sendiri ?-

Author : Fruidsallad

Cast: Exo Members

Genre: Drama, Friendship, Thiller

Length : series

Rating : G (Akan terus naik seiring berjalannya waktu~)

Disclaimer: Cerita ini terinspirasi dari Battle Royale dan Hunger Games.

A/N: Haloo… Masih ingat dengan teaser dari cerita ini? alhamdulillah ya yang dukung banyak hehe. Teasernya aku hapus. Mian banget. Supaya yang lupa sama alur ceritanya ga bisa ingat lagi hahahaha *tawa evil kyu*. Okee langsung saja cekidot!!

[BLOODY CAMP]

Di sebuah ruangan yang gelap – dimana ruangan tersebut  tidak terlihat memiliki ujung,  di bagian tengahnya terdapat seorang lelaki sedang duduk di sebuah kursi.  Lelaki itu dalam kondisi tubuh penuh dengan ikatan. Tali-tali yang diikatkan di tubuhnya, tampak amat erat. Dengan menekuk lehernya, wajah lelaki itu menghadap ke bawah. Dia sangat amat lemah.

“Buka matamu !”

Seruan sebuah suara membuatnya sedikit tersentak.  Namun tak berhasil membuat dirinya membuka mata.

“Hei, buka matamu ! Kau tidak dengar ? ”

Kedua matanya masih tetap tertutup. Seakan enggan melihat apa yang ada di depannya.

“Hei pembunuh ! Pura-pura tidak dengar kau, sialan! ”

DEG

Seruan terakhir membuat jantungnya berdetak dengan cepat. Refleks, lelaki itu pun membuka kedua matanya.

“Sudah ku terka! Kau pasti akan bangun ketika aku menyebutmu ‘pembunuh’!”

Matanya mencoba mencari siapa yang menjadi sumber suara tersebut. Namun hasilnya nihil. Tak ada satu pun orang di tempat itu. Kecuali dirinya. Sejauh mata memandang, hanya kegelapan yang memenuhi ruangan tersebut. Kondisi yang menyedihkan.

Ketika Ia hendak berdiri, kedua matanya membulat sempurna saat menyadari tubuhnya diikat dengan tali. Sehingga untuk menggerikan tangan dan kakinya pun, Ia tak bisa.

“Ap…apa..ini?”

Kata-kata keluar dari mulutnya dengan terbata-bata.

“Akhirnya kau bicara juga pembunuh!”

Tubuhnya bergetar saat kembali mendengar seruan suara wanita yang dari tadi sudah terus bicara.

Kedua tangan lelaki itu menggigil, keringat dingin keluar bercucuran dari wajahnya.

“Santai saja, tak usah tegang begitu!”

“Si..sia…siapa kau?” tanya lelaki tersebut dengan raut wajah ketakutan. Ia kembali mencoba mencari sumber dari suara wanita itu.

“Aku? Aku adalah orang yang akan mengadilimu, tuan pembunuh!”

DEG

Jantungnya berdetak semakin cepat.

CKLEK

Bunyi sekring lampu.

Ruangan yang gelap tadi berubah menjadi tempat yang begitu terang. Karena silau, lelaki itu mengedipkan matanya beberapa kali  untuk memperjelas penglihatannya. Saat semuanya sudah jelas terlihat, Ia memperhatikan seluruh sudut ruangan.

Di depannya, terdapat beberapa orang yang menatapnya dengan tajam. Mereka menggunakan jubah berwarna hitam, di meja mereka terlihat sebuah tulisan yang diukir dari kayu – Hakim Ketua.

Tempat apa ini ? batin lelaki itu.

Disebelah kirinya terdapat beberapa orang yang juga memperhatikannya dengan serius. Kayu ukiran di meja mereka bertuliskan Pengacara.

Lelaki itu mencoba membalikkan wajahnya ke arah belakang, dan tampak orang-orang duduk dan melihatnya penuh dengan tatapan aneh. Orang-orang tersebut dan dirinya dibatasi oleh pagar kecil dari kayu.

“Apa yang kau lihat, tuan?”

Suara wanita yang dari tadi sudah didengarnya itu sukses membuat wajahnya kembali menatap ke depan.  Ternyata ia sudah mampu melihat wajah wanita tersebut. Wanita itu duduk di kursi paling tengah dan menggunakan kaca mata. Dia  adalah seorang Hakim Ketua.

Dibelakangnya, terdapat beberapa pria yang berseragam memegang pistol. Mereka menggunakan kaca mata hitam. Lelaki itu kini sudah  tahu dia berada dimana.

Dia berada di sebuah pengadilan.

“Dasar pembunuh! Kembalikan istriku!”

Terdengar suara seorang pria dari belakang  lelaki itu duduk.

“Begitu teganya kau membunuh orang yang tidak bersalah! Dasar remaja kurang ajar kau! Huaa…”

Suara seorang wanita paruh baya yang diikuti tangisan itu membuat lelaki itu frustasi. Bibirnya bergetar. Air mata keluar dan membasahi pipinya. Ia membalikkan wajahnya dan menatap wajah wanita paruh baya yang menangis tersebut.

“Bukan aku! Bukan aku yang membunuhnya, nek! Percayalah padaku!”

“Pembohong !”  tegas seorang pria yang duduk di samping wanita paruh baya itu.

“Aku tidak berbohong! Percayalah!”

“Diam kau! Dasar pembunuh!”

“Pembohong!”

“Remaja tak tahu diri!”

Suara-suara yang menyumpah serapah kan lelaki itu semakin bertambah. Ia mencoba memejamkan matanya yang penuh dengan air mata. Menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kasar.

Tidak!

Tidak!

Bukan aku! Batin lelaki itu.

“TIDAK!” teriaknya kuat.

~~~

“TIDAK!”

“Kyungsoo?”

Seorang lelaki bangkit dari tidurnya.  Nafas lelaki itu tidak beraturan.

Mimpi ? tanya lelaki tersebut dalam hati.

Disentuhnya keningnya sendiri. Begitu banyak keringat.

“Kyungsoo?  Kau tidak apa-apa?”

Lelaki itu- Do Kyungsoo – melihat ke arah seorang lelaki lain yang bertanya padanya. Lelaki lain itu  duduk menyamping tepat di sisi kirinya.

“Yixing hyung?” tanyanya dengan suara kecil.

Lelaki lain yang bernama Zhang Yixing itu menyentuh kening Kyungsoo.

“Kau pucat sekali, Kyungsoo. Kau  bermimpi buruk lagi?”

Yixing menatap Kyungsoo dengan tatapan Iba. Wajahnya yang sendu itu akhirnya menyimpulkan senyum kecil pada Kyungsoo dan langsung memeluk lelaki yang baru saja mimpi buruk itu.

“Tenanglah, Kyungsoo. Semua akan baik-baik saja.”gumam Yixing pelan. Yixing mencoba menenangkan Kyungsoo.Ya. Teman sekamarnya itu sering sekali bermimpi buruk.

Yixing melepaskan pelukannya dari Kyungsoo, kini Ia memegang pipi si pemilik mata besar itu.

“Janji padaku. Lupakan mimpi itu. Oke?”

Kyungsoo menatap  Yixing sebentar. Kemudian Ia tersenyum walau tampak sedikit dipaksakan.

Arraseo.. Gomawo hyung.”

“Ne. Cepatlah kau mandi! Banyak keringat yang menempel ditubuhmu! Aroma tubuhmu membuat hidungku mau ku lepas. Bau sekali !”

Mendengar lelucon Yixing, Kyungsoo akhirnya sudah tersenyum tulus. Tidak tampak lagi dipaksakan.  Walaupun lelucon itu bukanlah bualan semata. Tapi kenyataan.

“Baiklah. Aku mandi dulu!”

Kyungsoo beranjak dari tempat tidurnya dan mengambil handuknya yang tergantung di belakang pintu kamar mereka.  Ia kembali memperhatikan Yixing  yang sedang di depan cermin sejenak.

Rapi sekali dia. Batin Kyungsoo.

Yixing yang sadar tengah diperhatikan, menoleh ke arah teman sekamarnya itu dengan tatapan geli.

“Hei! Mengapa kau memperhatikanku seperti itu? Aku tahu aku tampan.”

Kyungsoo tersenyum kecut.

“Percaya diri sekali kau, hyung. Aku cuma heran mengapa kau cepat sekali rapi hari ini.”

“Kau lupa hari ini adalah hari apa?”

Kyungsoo memutarkan bola matanya.

“Ia juga ya. Haha.” Tawanya kecil.

Benar. Yixing sudah sangat rapi.

Seragam sekolahnya sudah terpasang rapi ditubuhnya. Baju putih polos berkerah yang ditutupi jas biru tua memperlihatkan kesannya sebagai seorang terpandang. Ia mengambil dasi hitamnya yang ada di atas meja belajar mereka.  Jika dia telah menggunakan dasinya, tampilannya akan terlihat semakin sempurna.

“Kyungsoo, bisakah kau memasangkan dasiku?”

“Pasang sendiri! Kau pikir aku istrimu? ” tegas Kyungsoo. Lelaki remaja itu langsung masuk ke kamar mandi.

BLAM

Pintu kamar mandi ditutup dengan kuat. Yixing hanya menggelengkan kepalanya sehabis melihat tingkah teman sekamarnya itu.

“Dasar anak kecil!” gerutu Yixing.

“Kau pikir aku tidak dengar,hyung?”

“EH?” lelaki yang dipanggil ‘hyung’ itu tersentak,

“Mian,Kyungsoo. Oh ia, Hyung akan pergi ke kantin dulu ya. Perut hyung sudah berbunyi minta diisi.”

Yixing beranjak menuju pintu kamar,

“Baiklah, hyung. Jangan lupa pintu kamar ditutup ya, hyung.”

“Pasti !”

Cklek

Terdengar suara pintu tertutup.

~~~

Kyungsoo POV

Yixing hyung sudah pergi?

Huft.

Aku menghela napas. Terima kasih, Tuhan. Aku memiliki teman sekamar yang begitu pengertian.

Ku perhatikan kamar mandi yang sudah biasa ku pakai selama dua tahun belakangan ini.

Di depanku terdapat sebuah cermin kecil yang digantungkan di dinding. Ku perhatikan pantulan wajahku yang terlihat di cermin.

“Pembunuh!”

“Pembohong!”

“Kurang ajar!”

Seruan-seruan itu kembali memenuhi pikiranku. Aku hanya dapat menggelengkan kepala.

Bukan,

Bukan aku yang salah.

Bukan aku yang telah membunuhnya.

Percayalah.

~~~

Setelah selesai mandi, ku kenakan seragam sekolah yang “tidak biasa” ini.

Mengapa tidak biasa?

Ya. Kali ini kami akan menggunakan jas.

Di hari-hari biasa, kami hanya menggunakan pakaian bebas tanpa ditentukan warna dan jenisnya. Semua yang kami pakai sesuai dengan selera kami sendiri.  Namun khusus untuk hari ini, kami akan memakai kemeja putih polos dan jas berwarna biru tua yang sudah lama “tertakhta” rapi di lemari. Tidak lupa dasi hitam yang sudah ku siapkan tergantung di sampingnya.

Aku berdiri di depan cermin. Saat hendak memasang jas, terdengar suara ‘tok…tok…tok..’ dari pintu.

Tanpa menoleh ke arah pintu, aku mempersilahkan orang yang mengetuk pintu tersebut untuk masuk.

“Masuklah!”

CKLEK

“Selamat pagi !” sapanya hangat.

“Pagi.” Tatapanku tetap ke arah cermin.

“Hei! Lihatlah aku, Kyungsoo!”

Lelaki ini menyuruhku untuk menatapnya. Aku pun menoleh. Tampak Ia sedang tersenyum. Dia terlihat begitu bahagia.

“Bagaimana penampilanku hari ini?” tanyanya sambil mendekat ke arahku.

“Lumayan.”

Dia berhenti.

“Hanya itu?” tanyanya sekali lagi.

Aku menganggukan kepala. Ia langsung memiringkan alisnya.

“Kau jahat, Kyungsoo.”

“Eh,’’ aku membulatkan mata.

“Kau tidak melihat dasi kupu-kupu ini?”

Ia memegang dasi kupu-kupu yang telah ia kenakan. Dasi kupu-kupu itu berwarna orange terang dengan motif bunga mawar berwarna merah yang sangat jelas – tidak serasi.

“Kau tidak menggunakan dasi hitam dari sekolah, Jongdae?”

Lelaki dengan dasi kupu-kupu bernama Kim Jong Dae tersebut langsung tertawa.

“Haha. Untuk apa aku menggunakannya. Hari ini kan hari terakhir kita bersekolah disini. Aku harus terlihat memiliki penampilan yang terbaik dan berbeda dari yang lain.”

“Tapi mungkin hari ini merupakan hari terakhir kau menggunakan dasi hitam dari sekolah ini.” Tepisku.

Kini Ia duduk di tempat tidurku.

“Ah! Itu tidak penting.  Untuk apa terlihat formal! Kita kan sebentar lagi bukanlah siswa sekolah ini lagi.Selain itu  ada alasan lain mengapa aku mengenakan dasi kupu-kupu ini.”

Aku memicingkan mata.

“Apa itu?”

“Aku ingin terlihat lebih imut dari Baekhyun.”

DUAR!

Oke. Alasan yang terakhir merupakan alasan yang paling di luar logika seorang manusia. Ya, terutama logika seorang namja.

Ap..Apa maksudmu?” Aku tak bisa  berkata secara normal. Speechless.

“Setiap hari orang selalu berkata bahwa Baekhyun adalah yang paling imut disini. Kadang aku ingin menjadi seperti dirinya. Setiap kali dia membuat suatu lelucon orang selalu tertawa lepas. Sedangkan aku? Setiap kali aku melucu, mereka hanya diam. Bahkan ada yang tertawa penuh paksaan.”

Aku menebak bahwa Jong dae sedang mengucapkan apa yang tersimpan di hatinya selama ini.

“Kau terlalu berlebihan,  Kim Jongdae. Hal seperti itu saja kau pikirkan.”

“Habisnya aku kesal.”

“Kesal yang kau dapatkan itu hanyalah rasa kesal yang dibuat oleh pikiran negatif-mu sendiri. Kita akan segera berpisah. Tak baik kau berbicara seperti itu. Apalagi rasa iri mu terhadap Baekhyun itu.”

“Benar juga ya,” Jong dae bangkit dari duduknya dan langsung mendekat ke arahku, “Hanya kau dan Kai yang paling mengerti aku. Senang bisa berteman denganmu selama dua tahun terakhir ini.”

Aku melihat ke arahnya. Senyumnya begitu menawan dan tampak tulus.  Aku pun membalas perkataannya,

“Aku juga senang berteman dengan teman berselera aneh sepertimu!”

YA!” Jongdae terlihat kaget dengan ucapanku. Kedua bola mata sipitnya membulat sempurna.

Haha… Baru kali ini aku melihat seorang pria memakai dasi-dasi kupu bermotif dan berwarna aneh seperti itu. Sangat tidak serasi dan tidak cocok dengan jas yang kita gunakan.”

“Benarkah?”

“Coba lihat dirimu sendiri,” aku menggeserkan posisiku sehingga Jong dae dapat melihat dirinya sendiri di cermin. “Apakah cocok?”

Tampak Jong dae tengah berpikir. Ia melihat dirinya sendiri di cermin. Sesekali Ia memegan dasi kupu-kupunya. Lalu menoleh ke arahku kembali,

“Lalu apa yang harus ku lakukan?”

“Lepaskan.”

“Eh?”

“Lepaskan dasi itu! Lebih baik kau tidak usah mengenakan dasi. Kau ingin menjadi bahan lelucon mereka lagi?”

Jongdae diam sejenak.”Tidak sih,”

“Ya sudah, Lepaskan saja.  Aku tidak ingin kau bersedih di hari terakhir sekolah kita.”

Jong dae tidak merespon perkataanku. Dia kembali menatap cermin. Lalu menghela napas,

“Baiklah. Aku akan melepaskannya.”

“Begitu lebih baik! Anak pintar! Hehe~ ”

Setelah ia melepaskan dasinya, Jong dae membantuku memasang jas,

“Terima kasih atas sarannya, Kyungsoo. Di lain pihak, kau lama sekali memasang jasnya.Sini,  Biar ku bantu!”

“Aku lama memasang jas ini karena mengikutimu berbicara, Jong dae.”

Jong dae mencibir ucapanku namun tetap membantuku memasang jas.

“Oh ia, mengapa kau tidak bersama Kai?” tanyaku sebagai pembuka cerita kali ini.

“Kai sudah bangun lebih dulu. Ia bilang bahwa dirinya ada urusan di kantin.”

“Oh. Sama saja seperti Yixing hyung.”

“Mereka akrab sekali ya.”

“Begitulah.” Terpaku singkat.

“Oke! Sudah selesai. Ada yang kurang?” tanya Jong Dae dengan senyum berbinar.

“Sudah semua, Jong dae.”

“Ayo kita ke aula! Lebih cepat lebih baik. Tentunya sebelum upacara dimulai.”

“Oke.”

Aku dan Jong dae bergegas keluar dari kamar. Jong dae keluar terlebih dahulu. Sebelum aku menutup pintu kamar dan menguncinya, Jongdae memegang pundakku. Aku tersentak,

“Apa?”

“Tolong jangan panggil aku Jong dae. Sudah dua tahun kita bersama-sama kau selalu lupa.”

“Baiklah. Aku akan memanggilmu dengan sebutan yang kau minta.”

“Kau masih ingatkan nama panggilanku?”

“Tentu, Chen.”

~~~

Tiga dari dua belas tikus telah bertemu. Tikus manakah yang kau jago, ‘kan?

“Could You Kill Your Best Friend?”

Ayo, ada yang nebak story-nya gimana ? hehe. Oh ia ada yang nungguin exo comeback gak selain saya?

Salam author ganteng,

Fruidsallad.

73 responses to “Bloody Camp [Act 1]

  1. Akhirnya ketemu juga ffini dari kemaren nyari nyari ga ketemu baru ketemu sekarang sebenernya waktu itu udh pernah dibaca eh lupa jadinya baru ketemu ffnya
    ffnya keren bgt menarik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s