Oh Boy! [Chapter 2]

Ini bukan ff ditjao, melainkan ff titipan dari salah seorang teman. Harap memberikan apresiasi berupa komentar setelah membaca ya, terima kasih sebelumnya.

Author : @pramudiaah

 

Tittle : Oh Boy!

 

Cast : Byun Baekhyun ~ Park Chanyeol ~ Shin Hayoung ~ and Others.

 

Genre : School life, Romance, Comedy (Maybe?).

 

Rating : PG 15 (dan bisa berubah sewaktu-waktu)

 

Leght : Chaptered.

Chapter sebelumnya : Chap 1

Note : Hai~ chapter sebelumnya dan chapter ini sengaja author buat Hayoung’s side, supaya readers lebih penasaran dengan sosok ‘Bad boy’ dan juga ‘Good boy’ sebenarnya. Bad boy itu nggak selamanya identik dengan kejahatan dan kekerasan loh. Bad boy disini juga bisa manis kok sama setiap gadis, justru itu adalah kelebihannya. Jadi ya mungkin semacem.. diam-diam menghanyutkan gitu~

Good boy juga nggak berarti alim dan juga kalem ya, ada saatnya si ‘Good boy’ berbuat sesuatu yang gila-_-

Jadi ya intinya ‘Good boy’ disini.. diam-diam menghanyutkan juga :p

Tapi.. Bad boy tetaplah bad boy, dan Good boy tetaplah good boy^^

Kenapa judulnya nggak ‘diam-diam menghanyutkan’ aja? Hahahah…/abaikan/

Oh Boy! Chapter 2

-o0o-

 

“Kalian tertangkap basah..”

Hayoung mendongakkan kepalanya, sebuah cahaya menyorot dari arah pintu yang terbuka, dan disana berdiri dua laki-laki dengan garangnya. Hayoung berpikir cepat tentang apa yang sedang terjadi.

Sementara Baekhyun? Ia menyadari lebih cepat dari Hayoung, Baekhyun segera menjauh dari gadis itu dan berdiri, disusul dengan Hayoung yang tersadar dan berdiri di detik berikutnya.

-o0o-

“Apa yang sedang kalian lakukan di dalam gudang yang gelap?” tanya seorang guru laki-laki, di hadapannya terduduk dua orang pelaku yang menjadi tersangka utama. Mereka, Baekhyun dan Hayoung, sedang di interograsi layaknya seorang pelaku teroris.

Hayoung panik, gadis itu mencoba mengatur nafasnya agar lebih rileks. Dan sekarang ia mengambil ancang-ancang untuk menjawab.

“Cerita dimulai dari saya yang datang terlambat, saya mendapat hukuman dari guru matematika karena terlambat datang ke kelasnya…” Hayoung mengawali ceritanya, ia kembali mengambil nafas dalam dan membuangnya cepat.

“Karena hukuman yang sangat berat, saya baru menyelesaikannya seusai istirahat. Dan saya tahu saat itu pelajaran biologi sedang berlangsung. Saya pikir, saya akan mendapatkan hukuman lagi jika saya menerobos masuk ke dalam kelas yang sedang berlangsung, dengan kata lain.. saya terlambat.. lagi.” Oke, kali ini Hayoung sedikit mendramatisir keadaan, ia menampilkan wajah menyedihkan.

Sang guru mengernyit mendengar penjelasan Hayoung, ia siap menantikan kelanjutan penjelasan dari gadis itu. Lalu kemana Baekhyun?

Hayoung mencolek lengan Baekhyun yang duduk di sebelahnya, Baekhyun menolehkan kepalanya ke arah Hayoung dengan pandangan malas. Hal seperti itu bukan yang pertama kalinya untuk Baekhyun, beberapa kali Baekhyun duduk ditempat yang sama, guru laki-laki yang sama, dan juga masalah yang hampir sama, di interograsi seperti ini telah membuatnya hampir bosan.

“Katakan sesuatu.” Hayoung berbisik, ia geram karena Baekhyun tak kunjung mengatakan pembelaan atau hal semacamnya.

Baekhyun mengalihkan pandangannya dari Hayoung, ia menatap guru laki-laki dihadapannya, tersenyum miring.

“Jika saya mengatakan pembelaan yang sama, apa anda akan percaya?” tanya Baekhyun datar. Pembelaan apa yang dimaksud Baekhyun?

Guru itu menggeleng, menatap Baekhyun tajam. Hayoung mulai panik.

“Seperti yang biasa saya katakan, apa berdua’an dengan kekasih itu tidak boleh?” dan itulah pembelaan Baekhyun, jadi seperti itulah alasan yang selalu dikatakannya saat dalam masalah yang serupa. Itu artinya, Baekhyun sering ‘tertangkap basah’ bersama seorang gadis sebelumnya.

Hayoung mulai kelabakan.

“Tidak bisa! Bukan seperti itu! Itu tidak benar!” Hayoung berdiri dari kursinya saking paniknya.

“Kami ada disana karena tidak ingin tertangkap oleh kalian, karena kami sedang membolos. Dan lagi, awalnya aku tidak tahu laki-laki ini muncul darimana. Di sana tidak terjadi apapun.” Lanjut Hayoung pada akhirnya, matanya sempat terpejam saat mengatakan itu. Baekhyun mendongak melihat ke arah Hayoung.

“Apa kau sudah selesai bicara?” tanya guru itu datar. Hayoung langsung menoleh ke arahnya, ia terkejut.

“Sayangnya saya lebih mempercayai apa yang terlihat oleh indera penglihatan saya, daripada ketidak kompakkan alasan kalian.” Lanjutnya lagi, ia melihat Hayoung dan juga Baekhyun secara bergantian. Hayoung menyerah, tubuhnya meringsut kembali terduduk. Sementara Baekhyun memutar kedua bola matanya malas.

Tidak lama kemudian, muncul guru matematika dan guru bilogi di dalam ruangan itu. Mereka membawakan hukuman untuk Hayoung dan juga Baekhyun, beberapa buku yang didalamnya terdapat setumpuk soal.

“Kalian tidak berniat menghukum kami dengan soal-soal itu kan?” tanya Baekhyun tidak percaya melihat ke arah buku-buku dihadapannya. Selama ia membuat masalah, ini dalah pertama kalinya ia mendapat hukuman seperti itu.

Sementara Hayoung? Gadis itu kesal, ingin rasanya ia menangis sekarang juga. Bukan karena cengeng, tapi karena ia akan gila jika mengerjakan setumpuk soal itu.

-o0o-

Kalian tahu apa yang paling ingin dilakukan Hayoung sekarang?

Membunuh Baekhyun!

Hayoung berlari kecil untuk mensejajarkan langkahnya dengan Baekhyun yang berjalan mendahuluinya, ia menarik dengan kasar lengan Baekhyun untuk menghentikannya. Kemudian Hayoung menyerahkan salah satu buku yang dipegangnya pada Baekhyun.

“Kau kerjakan soal biologi, dan aku soal matematika.” Ujar gadis itu ketus. Baekhyun mengernyit, menatap kebingungan ke arah buku yang sekarang di tangannya.

“Kenapa kita tidak mengerjakannya bersama saja?” balas Baekhyun bertanya.

“Bersama?” ulang Hayoung tidak percaya, gadis itu mendesah. ‘Apa yang dimaksut bersama itu adalah aku mengerjakannya sendiri?’ pikirnya. Ia tahu bahwa mengerjakan soal ‘bersama’ bukanlah hoby Baekhyun.

“Benar, bukankah akan lebih cepat selesai jika dikerjakan bersama?” balas Baekhyun meyakinkan, Hayoung menatapnya penuh selidik.

“Kau tidak perlu takut. Aku.. kau.. kita akan mengerjakannya bersama.” Lanjut Baekhyun menaik turunkan alisnya, Hayoung berdigik melihatnya.

“Sudahlah.. Ayo pacar!” Baekhyun mengalungkan tangannya pada leher Hayoung lalu mengajaknya berjalan. Hayoung menghentikan langkahnya, ia segera melepaskan diri dari Baekhyun. Ia memukul dengan keras kepala Baekhyun menggunakan salah satu buku yang dipegangnya.

Hayoung segera berlalu dari hadapan Baekhyun yang sedang merintih kesakitan memegangi kepalanya. Sebuah seringai penuh arti timbul dari wajah kesakitan milik Baekhyun.

-o0o-

“Sial! Sial! Sial!”  Hayoung tak henti-hentinya mengumpat sejak ia pulang sekolah tadi, bahkan sampai dalam perjalanannya menuju rumah Baekhyun saat ini. Entahlah, ia merasakan kesialan terjadi padanya hari ini.

Hayoung berdiri di depan sebuah pagar tinggi yang didalamnya terdapat rumah yang cukup besar dan megah. Gadis itu meyakinkan dirinya sendiri bahwa alamat rumah ini adalah alamat yang sama dengan yang dikatakan Baekhyun padanya sepulang sekolah tadi.

“Kenapa harus aku yang datang kerumahnya? Kenapa bukan dia yang datang kerumahku?” kira-kira itulah yang ada dipikiran Hayoung sejak tadi. Kenapa dengan bodohnya ia menurut dan datang kerumah Baekhyun begitu saja. Gadis itu mendesah untuk yang ke sekian kalinya, ia bersiap-siap menekan tombol bel rumah yang terletak disudut pintu gerbang.

Baru saja tangannya akan menekan tombol bel itu, tiba-tiba pintu gerbang terbuka dan itu sedikit membuatnya terkejut.

Seorang laki-laki keluar dari dalam, laki-laki itu mengenakan celana pendek dan kaos oblong yang sedikit kebesaran, dan dengan tong plastik sampah ditangannya. Laki-laki itu mengamati Hayoung dari bawah sampai atas. Dan mereka saling terkejut begitu pandangan mereka saling bertemu.

“Sun.. bae?”  tanya Hayoung terkejut, ia bahkan tergagap. Hayoung dapat menebak bahwa ia pasti salah rumah. Laki-laki dihadapannya tak kalah terkejut, namun kemudian kebingungan.

“Apa yang kau lakukan di depan rumahku?” tanyannya, ia mengamati Hayoung yang mengenakan setelan rapi dan juga tas dipunggungnya.

“Ah.. sepertinya aku salah rumah, aku tidak tau kalau ini adalah rumah Chanyeol sunbae. Sebenarnya, aku ingin kerumah salah seorang teman, aku rasa rumahnya di sekitar sini.” Balas Hayoung kikuk, gadis itu terlihat salah tingkah berada berhadapan dengan  laki-laki itu.

Chanyeol menahan tawanya mendengar jawaban dari Hayoung. Entah ada yang lucu dengan jawaban itu, atau memang ada yang lucu dengan ekspresi gadis itu.

“Kau tidak sengaja ‘salah rumah’ kan?” tanya Chanyeol dengan penekanan pada ‘salah rumah’.

Ia sedikit tersenyum jahil. Hayoung segera menggeleng, gadis itu tidak tahu jika seniornya itu juga memiliki kepede’an yang berlebihan.

“Sungguh. Aku ingin kerumah Baekhyun. Apa kau tahu dimana rumahnya?” balas Hayoung, kepalanya celingukan melihat rumah di sekitar rumah Chanyeol.

“Baekhyun?” ulang Chanyeol, memastikan dirinya tidak mengalami gangguan pendengaran. Hayoung mengangguk cepat.

“Kau ‘pacar’ Baekhyun?” tanya Chanyeol penuh selidik, dengan penekanan pada kata ‘pacar’. Chanyeol menatap Hayoung penasaran. Tentu saja gadis itu terkejut mendengarnya, ia langsung mengelaknya habis-habisan.

“Apa? pacar Baekhyun? Laki-laki itu? Sama sekali bukan! Sunbae, tolong percaya padaku!” Hayoung mengelaknya dengan menggebu-gebu, gadis itu meyakinkan seniornya itu agar percaya padanya, ia cukup trauma dengan guru yang tidak mempercayai ucapannya itu.

“Aku percaya padamu.” Chanyeol mengagguk-angguk dan juga tersenyum, Hayoung lega mendengarnya. Tapi yang menjadi pertanyaan Hayoung sekarang adalah, apa Chanyeol mengenal Baekhyun?

“Tapi.. kau tau dimana rumah Baekhyun kan?” tanya Hayoung –lagi. Chanyeol tersenyum jahil, gadis itu melihatnya aneh.

Tiba-tiba seorang laki-laki menyembul keluar dari dalam, dan itu membuat tubuh Chanyeol sedikit terdorong kedepan.

“Hyung.. Apa yang kau lakukan disini?” tanya laki-laki itu pada Chanyeol, sepertinya ia belum menyadari keberadaan Hayoung. Hayoung mengenal dengan betul siapa laki-laki itu.

Sistem otaknya segera mencerna apa yang ditangkap oleh indera penglihatannya. Hayoung melongo setelah mengetahui jawaban di dalam otaknya.

‘Tolong jangan bilang kalau Baekhyun adalah.. adik Chanyeol!” batin Hayoung, mengelak habis-habisan kenyataan yang –mungkin akan segera di dengarnya.

“Kau.. sudah datang?” tanya Baekhyun sedikit terkejut, ia baru menyadari keberadaan Hayoung.

Hayoung’s Pov.

Jadi benar, aku tidak salah melihatya kan? Laki-laki itu.. Baekhyun?

“Kalian akan pergi keluar atau apa?” pertanyaan Chanyeol sunbae membuatku segera tersadar, aku menatap kedua laki-laki dihadapanku kebingungan. Salah satu dari kalian, tolong jelaskan sesuatu padaku!

“Sampai kapan kau akan berdiri disana?” sahut Baekhyun ketus, aku segera menoleh ke arahnya. Kenapa tidak ada yang mengerti dengan tatapan ‘minta penjelasan’ ku ini?

“Ayo cepat masuk!” lanjut Baekhyun. Baiklah aku akan menahan umpatanku dalam hati saja.

Aku mengekor mengikuti Baekhyun yang berjalan mendahuluiku. Tapi sebelum itu, aku sempat menoleh ke arah Chanyeol sunbae.

“Aku akan membuang ini terlebih dulu.” Katanya meringis, menunjukan kantong plastik yang sejak tadi di tangannya. Oh Tuhan.. aku bahkan terpesona hanya karena melihat deretan giginya. Laki-laki itu segera berlalu dan aku kembali melanjutkan langkahku mengikuti Baekhyun.

Walaupun pekarangan rumah Baekhyun cukup luas, namun tidak dibutuhkan banyak waktu untuk mencapai teras rumahnya.

‘Dug’

Aku tidak tahu jika Baekhyun menghentikan langkahnya di depanku, dan itu membuat kepalaku terpentok punggungnya. Baekhyun berbalik dan aku telah bersiap untuk memukulnya atau sekedar berteriak di depan wajahnya.

“Hei, seharusnya kau mengatakan jika kau ingin berhenti!” teriakku di depan wajahnya, aku mengelus keningku yang sebenarnya tidak terasa pening, hanya sedikit panas.

Sudah kuduga, dia tidak akan peduli dengan keluhanku. Sekarang, Baekhyun malah menampilkan wajah panik.

“Aku akan masuk terlebih dulu, kau tunggu disini sebentar.” Baekhyun terlihat panik, tangannya menyentuh kedua bahuku seolah menahanku agar tetap disini. Tapi sungguh aku tidak mengerti, keningku mengernyit.

Baekhyun segera masuk ke dalam dan tidak lupa menutup pintunya kembali, menyisakan aku sendiri yang sekarang berdiri di depan rumahnya.

Ini sudah beberapa detik dan pemuda itu tak kunjung keluar. Apa rumahnya begitu berantakan hingga dia tidak mau aku melihatnya?

Tunggu.. aku jadi curiga.

Astaga, jantungku hampir melompat keluar saat seseorang menepuk bahuku. Aku berbalik dan.. Oh Chanyeol sunbae. Aku tidak bisa untuk ‘tidak salah tingkah’ di depannya. Sungguh, aku tidak bisa mengendalikan perasaanku. Perasaan? Entahlah..

“Kau tidak masuk kedalam?” suara bass nya kembali membuatku tersadar. Aku tak kunjung menjawab hingga beberapa saat, dia malah menarik tanganku untuk masuk ke dalam rumahnya. Oke, siapapun.. tolong tahan aku agar tidak melayang-layang.

Normal Pov.

Hayoung mengedarkan pandangannya ke setiap sudut rumah Chanyeol dan juga.. Baekhyun –mungkin.

“Tidak ada yang aneh.” Gumam gadis itu, ia kembali mengingat saat Baekhyun menahannya agar tidak masuk ke dalam.

Hayoung melirik Chanyeol yang sedang berada di dapur, sekarang Hayoung berkeliaran seorang diri di ruangan yang ia tebak sebagai ruang keluarga.

Gadis itu kembali mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan. Dimana makhluk itu? –emm Baekhyun maksutnya.

Sebuah pintu terbuka, Baekhyun dan juga.. seorang gadis keluar dari dalamnya. Hayoung sempat terkejut melihatnya.

“Apa gadis itu juga bagian dari keluarga ini?” pikirnya, namun Hayoung segera mencoret pikirannya itu ketika melihat pakaian yang di kenakan gadis itu sedikit.. berantakan. Pakaian Baekhyun juga tak kalah berantakan.

Hayoung segera menggeleng-gelengkan kepalanya, ia sedang tidak ingin menera-nerka apa yang baru saja mereka lakukan didalam sana, di kamar Baekhyun –mungkin.

Gadis itu menyadari keberadaan Hayoung, dan memandangnya dengan tatapan tidak suka. Sementara Hayoung segera mengalihkan pandangannya, ia mencoba untuk tidak peduli.

Gadis itu berpamitan dengan mesra pada Baekhyun, Hayoung benar-benar muak mendengarnya.

“Sayang, aku pulang dulu. Apa nanti malam aku harus datang kesini?” gadis itu bergelayut manja pada lengan Baekhyun.

“Kau tidak perlu datang kesini lagi.” Balas Baekhyun datar. Diam-diam Hayoung mendengarkan percakapan mereka, ia tidak bisa mengabaikannya begitu saja.

“Tidak untuk nanti malam? Berarti iya untuk besok?” tanya gadis itu lagi, sedikit memaksakan senyumnya. ‘Dasar ular!’ pikir Hayoung.

“Tidak untuk kapanpun! Kau tidak perlu datang kerumahku lagi.” Balas Baekhyun malas, itu pasti terdengar kejam untuk gadis itu.

Kali ini gadis itu tidak bisa menahan emosinya lagi, ia murka.

‘Plak!’

Sebuah tamparan mendarat di pipi sebelah kanan Baekhyun. Bahkan Hayoung dapat merasakan betapa ngilunya tamparan itu.

“Dasar brengsek! Setelah kau melakukan semuanya padaku, kau ingin membuangku begitu saja ha?” gadis itu berteriak penuh emosi. Baekhyun acuh tak acuh, ia memegangi pipinya yang memerah akibat tamparan.

Gadis itu pergi dari hadapan Baekhyun dan berlalu di depan Hayoung, Hayoung melihat iba kepergian gadis itu. Ini kedua kalinya ia melihat Baekhyun menghancurkan hati seorang gadis. Sebenarnya.. siapa yang pantas di sebut ular? Baekhyun? Atau gadis-gadis itu?

“Berbagai cara aku lakukan agar dia bisa berubah, tapi sepertinya itu memang sulit.” Ujar sebuah suara di sebelah Hayoung. Hayoung menoleh, ia tidak tahu sejak kapan Chanyeol berdiri disana.

“Sebagai kakak, aku tidak bisa terus-terusan membiarkannya selalu mempermainkan wanita seperti itu.” Lanjut Chanyeol lagi. Akhirnya Hayoung menemukan jawaban dari pertanyaannya saat melihat Baekhyun berada di rumah yang sama dengan Chanyeol tadi. Tapi bukan itu yang membuatnya tertarik sekarang, tatapan penuh kasih sayang dimata Chanyeol lah yang membuatnya tertarik saat ini.

“Apa kalian sedang membicarakanku?” suara seseorang membuat Chanyeol dan Hayoung terkejut. Baekhyun, yang tidak tahu kapan datangnya, sudah berdiri di depan Chanyeol dan juga Hayoung.

-o0o-

Suasana di ruang keluarga rumah Baekhyun dan juga Chanyeol sangat hening sekarang. Mereka bertiga sibuk dengan kegiatannya masing-masing, Hayoung sibuk memecahkan rumus pada soal matematikanya. Sementara Baekhyun mengamati gadis yang nampak berpikir keras itu, Chanyeol malah melihat aneh ke arah adik laki-lakinya itu. Chanyeol merasa ada yang aneh dengan pandangan Baekhyun pada Hayoung.

Hayoung segera tersadar bahwa sejak tadi Baekhyun mengamatinya, ia segera memukul kepala laki-laki yang duduk berhadapan dengannya itu menggunakan pulpen. Baekhyun meringis kesakitan memegangi dahinya.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Baekhyun ketus, kemudian ia mengeluh kesakitan.

“Seharusnya aku yang bertanya, apa yang sedang kau lakukan huh?” balas Hayoung tak kalah ketus, memandang sebal ke arah Baekhyun.

“Aku geli melihat wajah kakumu saat mengerjakan soal.” Ujar Baekhyun sekenanya, tentu saja ada seringai dibalik wajahnya itu, Hayoung segera merengut.

“Kau bahkan mengejekku saat aku hampir gila karena tidak bisa mengerjakan ini!” teriak Hayoung kesal, kemudian mendesah keras.

Chanyeol yang sejak tadi melihat keributan antara Hayoung dan juga Baekhyun akhirnya turun tangan. Ia yang tadinya duduk di sofa, sekarang mengambil posisi duduk di lantai, di sebelah Hayoung.

“Apa hukumannya akan selesai hanya dengan bertengkar?” tanya Chanyeol datar. Hayoung tersentak setelah tahu Chanyeol duduk di sebelahnya.

“Yang ini.. kita bisa mencari X nya terlebih dulu, baru kita memasukannya ke dalam rumus yang ini..” Oke, Hayoung sama sekali tidak memperhatikan ataupun mendengarkan penjelasan Chanyeol. Yang ada di dalam pikirannya sekarang adalah.. deru nafas Chanyeol yang terasa di sekitar telinga hingga pipi kanan nya, kepala Chanyeol sangat dekat saat menjelaskan rumus matematika itu.

Beberapa kali tangan Chanyeol dan tangan Hayoung ‘tidak sengaja’ saling bersentuhan, dan itu sukses membuat jantung Hayoung mendesir, gadis itu bahkan menelan ludahnya dengan susah payah.

Sementara Hayoung sibuk mengendalikan perasaannya, Chanyeol yang tidak menyadari akan perubahan sikap Hayoung, terus saja menjelaskan tentang ‘ini dan itu’ tanpa berhenti. Benar, kemampuan matematikanya memang lebih baik dibandingkan dengan Baekhyun.

Baekhyun yang melihat semua pemandangan ini, hanya bisa mendengus dan memutar bola matanya beberapa kali.

“Apa sekarang kau sudah mengerti?” tanya Chanyeol setelah mengakhiri penjelesannya. Tentu saja Hayoung tersentak, ia menolehkan kepalanya ke arah Chanyeol yang berada disebelahnya. Dan saat itulah wajahnya hanya berjarak beberapa senti saja dengan wajah Chanyeol. Pandangan mereka bertemu untuk beberapa detik, hingga akhirnya Chanyeol tersadar dan segera menjauhkan diri dari Hayoung.

“Lalu bagaimana dengan biologinya?” sahut Baekhyun bertanya pada Chanyeol, tangannya menyodorkan sebuah buku ke arah Chanyeol. Ia sama sekali tidak mengerti –atau mungkin tidak peduli dengan kecanggungan yang baru saja terjadi.

“Eh?” Chanyeol belum sembuh dari kecanggungan yang baru saja tercipta, dan sekarang Baekhyun menyodorkan sebuah buku ke arahnya. Sementara Hayoung? Gadis itu mengalihkan wajahnya untuk menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah itu.

“Ah.. aku akan mengambilkan buku catatan biologiku, sebentar..” Chanyeol –mungkin beralasan untuk mengambil buku catatan biologinya di kamar yang terletak di lantai dua rumahnya.

Baekhyun memandang datar kepergian Chanyeol yang sekarang sedang menaiki anak tangga. Entah kenapa.. Baekhyun merasa kakaknya itu terlihat salah tingkah sekarang.

-o0o-

Hayoung’s Pov.

Entah kenapa, perasaanku sangat berbunga-bunga malam ini. Aku menggulingkan tubuhku kesana-kemari di atas kasur, dan sesekali tersenyum dan juga tertawa keras. Bukankah aku seperti orang gila sekarang?

Baiklah, aku tidak peduli karena tidak ada siapa-siapa di dalam kamarku ini.

Ponselku berdering, dan sungguh. Itu sangat mengganggu untukku sekarang. Tolong biarkan aku menikmati ‘perasaan’ ini dengan tenang!

Aku sedang malas bergerak, aku meraba kasur disekitar tempatku berbaring sekarang. Aku pikir, aku meletakan ponselku di sekitar tempat ini tadi. Ponsel itu berhenti berdering sebelum aku sempat menemukannya, baiklah.. itu memang lebih baik.

Sial! Ponselku kembali berdering, dan mau tidak mau aku harus mencarinya sekarang. Aku akan menyumpahi penelpon itu karena berani menggangguku malam-malam seperti ini.

Aku segera mengambil ponselku yang ternyata terjatuh ke kolom tempat tidur.

“Nomor baru?”

Baru saja aku akan menekan tombol hijau pada ponselku, ponsel itu kembali berhenti berdering.

“Sial!”

Aku membuang kembali ponselku ke sembarang arah, aku tidak peduli saat ponselku kembali terjatuh ke kolom tempat tidur.

Aku kembali merebahkan tubuhku di atas tempat tidur, melanjutkan sesuatu yang sempat terhenti karena ponselku yang berdering. Melanjutkan sesuatu?

Emm.. memikirkan Chanyeol maksutku, hahaha..

Sungguh, aku-sedang-jatuh-hati dengan seniorku itu sekarang. Uwaa~ memikirkannya saja membuat hatiku ingin meledak.

Mengingat kejadian yang terjadi hari ini bersama Chanyeol, tidak henti-hentinya membuat bibirku tersenyum. Tidak ada yang istimewa memang, laki-laki itu hanya mengajarkan secuil rumus matematika, tapi kesabarannya mengajari gadis bodoh sepertiku yang membuatnya terlihat mempesona, dan juga.. aku sempat bertukar nomor ponsel dengannya.

Tunggu, bertukar nomor ponsel? Jangan-jangan..

Aku segera mengambil ponselku yang berada di kolom tempat tidur, dan 5 panggilan tak terjawab tertera di layarnya. Dan aku berani bertaruh, bahwa si penelpon telah menyerah menghubungiku sekarang. Bagaimana ini? Bagaimana jika si penelpon itu adalah Chanyeol sunbae?

Aku sangat terkejut ketika ponsel ditanganku kembali berdering, dan secepat kilat aku menekan tombol hijau.

“Hallo?” suaraku sedikit tergesa-gesa memang. Seseorang di seberang telepon terdengar membuang nafas lega.

“Akhirnya kau mengangkat telponku juga.” Ujarnya, sedikit terdapat nada frustasi di dalamnya. Dan sekarang aku yakin bahwa seseorang di seberang sana adalah.. Sunbae!

Bagaimana ini? Rasanya aku ingin meledak dan melompat kegirangan.

Tapi oke, aku harus menahan semua itu sekarang. Aku sedikit berdehem sebelum akhirnya membalas ucapannya.

“Maaf sunbae, aku sedang berada di kamar mandi saat ponselku berdering.” Aku mencoba berbicara ‘sebiasa’ mungkin, aku tidak ingin Chanyeol mengetahui perasaan ku sekarang.

“Baiklah, aku tidak mempermasalahkan itu sekarang.” Balasnya. Aku hanya tertawa garing, tidak bisa dipungkiri bahwa aku sedang gugup sekarang.

Hening beberapa saat, aku sedang sibuk mengendalikan perasaanku hingga aku tidak tahu harus berkata apa. Chanyeol? Aku hanya bisa mendengar deru nafasnya lewat ponselku, pria itu juga tak kunjung membuka suaranya.

“Malam ini, dia pergi bersama wanita yang berbeda lagi.” Ujarnya pada akhirnya. Aku sedikit terkejut.

“Eh?” maksutku, siapa yang dimaksut oleh Chanyeol.

“Aku tidak bisa terus-terusan membiarkan Baekhyun seperti itu. Aku bukanlah kakak yanng baik.” Lanjutnya dengan nada frustasi. Apa dia sedang mengungkapkan isi hatinya selama ini?

Baiklah, aku ‘sedikit’ mengerti tentang perasaannya. Kakak mana yang tahan membiarkan adiknya menjadi seorang yang jahat –pada wanita.

“Kau pasti telah menjadi kakak yang baik selama ini.” Aku sedikit menghiburnya, beberapa saat kemudian aku mendengarnya terkekeh pelan. Setidaknya aku berhasil membuatnya tertawa ‘kan?

“Dan sekarang, aku pikir Baekhyun mengincarmu.” Kata Chanyeol setelah hening beberapa saat. Dan sungguh, ucapannya barusan membuatku hampir tersedak ludahku sendiri. Aku membalasnya dengan tertawa keras.

“Kau pasti sedang bercanda. Kalaupun benar, aku yang akan membuat Baekhyun bertekuk lutut padaku.” Balasku dengan penuh percaya diri, sebenarnya aku tidak berpikir dulu sebelum meluncurkan kalimat itu, tapi ya sudahlah.

Aku mendengar Chanyeol kembali terkekeh, aku sungguh lega mendengarnya.

“Apa kau yakin? Setelah kau terjerat dalam pesona nya, kau akan kesulitan untuk melepaskan diri. Bahkan hingga Baekhyun sendiri yang mencampakanmu, kau akan terus menempel padanya.” Balas Chanyeol, terdengar miris memang. Tunggu.. pesona apanya?

Justru dimataku, kau lah yang lebih mempesona, Chanyeol-shi!

Sebenarnya, apa inti dari pembicaraan kami malam ini adalah.. Baekhyun?

“Baiklah sunbae, kalaupun benar Baekhyun tengah mengincarku, aku akan pastikan bahwa adikmu itu akan bertekuk lutut padaku.” Sungguh, aku berbicara seperti itu hanya untuk menghibur Chanyeol, aku sama sekali tidak berniat mempunyai hubungan dengan Baekhyun.

“Benarkah? Baekhyun adalah bad boy, kau mungkin akan terluka.” Balasnya. Ya, aku tahu betul dia memang sedang tidak berbohong ataupun berniat menjelek-jelekan adiknya, tapi memang itulah kenyataanya.

“Itu bukan maslah untukku.” Balasku. Sungguh, aku lupa berpikir setiap kali ingin berbicara, dasar gadis bodoh!

“Kalau begitu, maukah kau membantuku untuk merubah sikap bad boy nya itu?” kata Chanyeol bertanya. Aku mulai mengernyit. Tunggu sebentar, bisakah aku mencabut semua perkataanku tadi, aku sungguh menyesal karena telah mengucapkannya. Bagaimana ini? Aku harus menjawab iya atau tidak?

-o0o-

‘Duagh!’

Suara pintu yang di tendang segera membuyarkan lamunanku, aku memang sedang memikirkan perbimcanganku dengan Chanyeol sunbae semalam. Ku benarkan posisi dudukku dan juga seragamku. Aku mengalihkan pandanganku ke arah pintu kelas. Siapa yang membuat keributan pagi-pagi seperti ini?

Dan ternyata.. Baekhyun bersama dua orang temannya, maksutku teman sekelasku juga, mereka bertiga masuk ke dalam kelas dengan langkah menawan –setidaknya bukan untukku, tapi untuk gadis-gadis penghuni kelas yang melihat mereka dengan tatapan berbinar-binar.

Oh God, sungguh aku tidak mengerti kenapa gadis-gadis itu begitu menyukai mereka bertiga. Trio, maksutku mereka bertiga, yang tersusun dari pemuda sok imut yang selalu tersenyum manis kepada setiap gadis yang memanggil namanya –Baekhyun, laki-laki dengan tatapan sangat dingin dan juga berkulit err.. gelap –Jongin kalau tidak salah namanya, dan juga pemuda dengan kulit seputih susu dan wajahnya yang terlihat kaku, selalu memaksakan senyumnya pada setiap gadis –Oh.. oke, aku lupa namanya. Aku berani bertaruh bahwa mereka bertiga adalah ‘Bad boy’.

Mereka bertiga berjalan menuju bangkunya masing-masing, tidak.. Baekhyun berjalan ke arahku, aku segera mengalihkan pandanganku yang memang sempat tertuju padanya. Aku dapat melihat dengan ekor mataku kalau dia mendudukan tubuhnya pada bangku di sebelahku.

Sejak kapan bangku itu menjadi miliknya?

Normal Pov.

“Hei Shin Hayoung, kau tidak perlu pura-pura tidak peduli padaku.”ujar Baekhyun membuka suara, Hayoung menolehkan kepalanya.

“Aku memang tidak peduli padamu, kenapa harus berpura-pura?” balas Hayoung ketus, hal itu justru membuat Baekhyun terkekeh. Hayoung kembali menoleh ke arah Baekhyun, melihatnya dengan tatapan aneh.

Baekhyun menarik kursinya untuk mendekat pada kursi Hayoung. Pemuda itu sedikit mendekatkan kepalanya pada wajah gadis itu, membuat Hayoung harus sedikit menjauhkan kepalanya dari Baekhyun.

“Aku peringatkan padamu, kau harus menjaga jarak denganku, kalau tidak.. kau akan terjerat pesonaku.” Ujar Baekhyun dengan kepercayaan diri yang berlebihan. Oke, Hayoung mengaukui tentang kepercayaan diri Baaekhyun yang luar biasa itu.

“Baekhyun-shi, jangan samakan aku dengan gadis-gadis lain. Karena kau.. sama sekali bukan tipeku.” Balas Hayoung dengan penuh penekanan, ia menjauhkan kepala Baekhyun menggunakan telunjuknya. Baekhyun menjauhkan tubuhnya, kepalanya manggut-manggut, Hayoung kebingungan melihatnya.

Mereka berdua harus segera menghentikan kegiatan mereka saat seorang guru perempuan memasuki kelas, bersama seorang gadis di sebelahnya.

Semua mata tertuju ke arah guru perempuan dan gadis di sebelahnya. Semua siswa laki-laki melihat ke arah gadis itu dengan tatapan berbinar-binar, mungkin karena gadis itu terbilang cukup cantik. Hayoung menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan teman-teman sekelasnya itu.

Tapi yang paling membuat Hayoung tertarik adalah tatapan Baekhyun pada gadis itu, bukan tatapan berbinar-binar ataupun kagum, tatapannya sangat tajam dan raut wajahnya juga  berubah. Apa itu hanya perasaan Hayoung saja?

.

.

.

TBC~

Note –lagi : Berhubung saya sedang dalam UAS, saya tidak membaca ulang chapter ini, jadi.. tolong dimaklumi jika banyak typo dimana-mana :’)

Dan mohon untuk memberikan komentarnya, agar author tetep semangat melanjutkan chapter berikutnya. /nyengir/

309 responses to “Oh Boy! [Chapter 2]

  1. Gapapa ya aku telat baca gapapa hahhaa.. lama gabaca karya diah nih. Kangen gt. Keren sih. Itu ceye jadi abangnya bbh eaaaak… (aneh karna biasanya aku baca ff chanbask *lol) tp tetep keren sih ya. Anjirr itu bbh playboy bgt ><

  2. Hayoooo siapa gadis itu? Masa lalu baekhyun kah?
    Kepengennya hayoung sama chanyeol tapi sama baekhyun kayaknya lebih gimanaaaaa itu lebih greget

    Huhuuuu sama siapa hayoung nanti yaaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s