THE PORTAL [ Part 10 : The Scandals ]

The Portal new

Title :

The Portal

 

Author : Citra Pertiwi Putri ( @CitraTiwie )

 

Main Cast :

– A Pink’s Jung Eunji / Jung Hyerim as The Princess of Junghwa Kingdom

– INFINITE’s Lee Howon / Hoya as The Bodyguard

– A Pink’s Son Naeun / Son Yeoshin as the Good Witch

– INFINITE’s Kim Myungsoo / L as the Bad Witch

 

Genre : Fantasy, Romance, Friendship, and little bit Comedy

 

Other Casts :

– CNBlue’s Jung Yonghwa as The King / Eunji’s Father

– SNSD’s Seo Joohyun as The Queen / Eunji’s Mother

– BAP’s Jung Daehyun as The First Prince / Eunji’s brother

– F(x)’s Jung Soojung / Krystal as The Second Princess / Eunji’s sister

– BtoB’s Jung Ilhoon as The Second Prince / Eunji’s Brother

– SNSD’s Lee Soonkyu / Sunny as The Palace’s Witch

– B2ST’s Son Dongwoon as Naeun’s Brother

– B.E.G’s Son Gain as Naeun’s Sister

– SNSD’s Kim Hyoyeon as the most mysterious witch in Junghwa

– SNSD’s Kim Taeyeon as L’s Mother & Hyoyeon’s sister (good side : as Kim Haeyeon, Junghwa’s Headmaster)

– A Pink’s Kim Namjoo as Hyoyeon’s foster daughter

– EXO’s Byun Baekhyun as the Prince in another Kingdom

– EXO’s Kim Jongin / Kai as Myungsoo’s brother

– A Pink’s Yoon Bomi as Eunji’s foster sister

– EXO’s Do Kyungsoo / D.O as an ordinary boy

– Girl’s Day’s Bang Minah as Hoya’s partner

– B2ST’s Yoon Doojoon & 4Minute’s Heo Gayoon as Eunji’s foster parents

– INFINITE’s Nam Woohyun as Naeun’s foster brother

– A Pink’s Park Chorong as Myungsoo’s best friend & Woohyun’s Girlfriend

– INFINITE’s Lee Sungyeol as Myungsoo’s best friend

 

Rating : PG15 – NC17

Type : Chaptered

 

Before Story :

Identitas asli L, Howon, Hyerim, dan Yeoshin di dunia nyata sepertinya mulai terancam.

Sungyeol bukanlah cenayang biasa, lelaki misterius dengan segudang rahasia itu lagi-lagi membuat L, yang notabene adalah penyihir hebat kewalahan dan panik setelah tahu bahwa sang cenayang menyimpan mayat Kim Myungsoo yang asli di sebuah tempat yang amat dirahasiakan dan dapat dilacak oleh L melalui kasus Eunji sebab gadis itu yang menemukannya duluan. Tetapi sayang, sebelum mengetahui sendiri mayat siapa yang disimpan oleh Sungyeol, Eunji terhipnotis dan lupa segalanya setelah sempat dianiaya oleh sang cenayang.

Satu hal yang penting, ditemukannya mayat Myungsoo oleh L membuat penyihir itu sadar bahwa masa lalu Myungsoo adalah tanggung jawabnya. Saat ia memutuskan untuk mengabaikan Chorong yang mengungkapkan cintanya pada sosok asli Myungsoo melalui surat, ia justru menemukan surat balasan lelaki itu di dalam saku pakaian yang membalut jasadnya. Kira-kira apakah isi surat balasan tersebut? Apakah Myungsoo asli menerima cinta Chorong? Jika demikian, apa yang harus L perbuat? Apakah ia akan tetap mengabaikannya dan membiarkan Chorong kembali pada ketidak-normalannya? Terlebih ketika diketahui bahwa Chorong mulai menyimpan perasaan terhadap Eunji.

Di sisi lain, menyeruaknya kasus penganiayaan yang dialami Eunji tanpa diketahui pelakunya membuat hampir semua orang terutama Kim Haeyeon, kepala sekolah Junghwa menuduh Woohyun sebagai dalangnya. Tak terima dituduh sembarangan, Woohyun berdemonstrasi dan pergi ke Amerika dengan mengajak Chorong, Sungyeol, dan tentu saja Naeun, hingga membuat gadis itu saling merindukan dengan Myungsoo selama seminggu.

Di saat Naeun memiliki kesempatan untuk lebih mengenal dunia luar dengan bepergian ke Amerika bersama kakaknya yang kaya raya, Eunji justru mengalami penderitaan yang seakan tak ada habisnya. Setelah menerima penganiayaan dari Sungyeol, tanpa sadar ia telah menyakiti hati Howon dengan menerima D.O sebagai kekasihnya hingga membuat Howon kehilangan akal sehat dan mencoba memperkosanya di tempat umum!

 

Dan di lain tempat, tepatnya di kerajaan Junghwa, kehadiran Kai tak hanya membuat hidup Krystal yang sedang mengalami sakit jiwa menjadi sedikit berwarna, tetapi juga membuat Taeyeon tahu keadaan yang sedang berlangsung di dunia nyata. Wanita yang merupakan ibu dari L itu ternyata tak tinggal diam, tanpa ada yang tahu bagaimana prosesnya, ia pergi ke dunia nyata, hendak menggantikan kepala sekolah Kim Haeyeon yang merupakan sisi baiknya dan menemui anaknya, L !

Apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah keadaan akan semakin membaik, atau bahkan semakin memburuk?

 

Selengkapnya :

Part 1 :  I Hate My Life

Part 2 : Big Decision

Part 3A : I Will Find You | 3B : You Will Find Me

Part 4 : Another Me

Part 5 : Over Protective?

Part 6 : Faithfulness

Part 7 : Something New

Part 8 : The Hidden Truths

Part 9 : Unpredictable

 

Sorry for late update.

READY FOR’ THE REAL LONG PART’?? check this out and.. Happy reading! ^^

 

Author POV

 

Friday, 11.30 PM…

 

Seorang gadis nampak duduk seorang diri di pojok sebuah kedai teh yang terletak di tengah kota Seoul malam itu, menatap kaca jendela yang dipenuhi butiran air hujan seraya merapatkan syal dan jaket coklatnya karena dingin yang semakin menusuk tulang. Sesekali ia melirik jam, menunggu seseorang yang sudah berjanji ingin menemuinya di kedai yang buka 24 jam itu.

“ Mianhae, aku datang terlambat. Aku harus mengurusi si brengsek itu dulu. Sudah menunggu lama?”

Gadis itu menoleh, sedikit tertawa lalu menggeleng dan mempersilakan yang ditunggunya itu untuk duduk di depannya.

“ Tidak apa-apa. Kajja, duduklah. Aku sudah pesankan teh untukmu.”

“ Nde. Wah, terimakasih.”

“ Hmm.. rupanya kau masih memanggil dia si brengsek.”gadis itu membuka pembicaraan.

“ Bukankah kau yang memberinya sebutan itu?”

“ Yah, tapi kurasa itu terlalu kasar.”

“ Itu memang pantas untuknya. Hmm.. sudahlah, bagaimana keadaanmu? Sudah membaik?”

“ Sudah….sedikit.”

“ Apa kau sudah memberitahu keluargamu tentang ini?”

Gadis itu menghela nafas berat dan menggeleng pelan.

“ Kurasa itu tidak mungkin, Minah. Mereka pasti akan marah dan membawa kasus ini ke meja hijau, aku malas berurusan dengan hukum. Apalagi yang terlibat adalah orang terkenal.”

“ Aku mengerti, nona Eunji. Tapi aku penasaran, apa yang kau katakan pada mereka saat mereka melihatmu pulang dengan keadaan tidak wajar tempo hari?”

“ Aku hanya bilang aku mengalami sedikit kecelakaan saat Bomi meninggalkan aku, lalu aku bilang bahwa aku demam, jadi mereka mengerti mengapa aku tidak bisa masuk sekolah selama empat hari ini. Bahkan aku beristirahat di rumah saja, tidak ke asrama.”

“ Jadi kau masih belum masuk sekolah sampai sekarang? Kalau begitu sama dengan si brengsek itu, dia mengamankan diri di rumahku dan aku yang kerepotan mengurusnya.”

Minah mengadu dengan sedikit jengkel seraya mengaduk-aduk tehnya yang masih panas, pikirannya tertuju pada Hoya yang saat ini meringkuk di rumahnya empat hari berturut-turut pasca kenekatan lelaki itu mencoba memperkosa Eunji. Entah karena stress atau karena niat jahatnya digagalkan oleh Minah, lelaki itu memilih untuk bermalam di rumah Minah bahkan mengacak-acak rumah gadis itu. Meski kesal, Minah tak tega mengusirnya terlebih setelah tahu bahwa beberapa wartawan telah memotret percobaan pemerkosaan itu dari jauh. Akhirnya dengan keterpaksaan, selama empat hari ini Minah pun memberi tumpangan serta makan minum gratis untuk Hoya.

 

“ Mungkin kau sudah tahu, tapi aku tetap membawanya. Kita tidak bisa membiarkan keadaan ini, apalagi minggu depan aku dan tentu saja Hoya sudah akan tampil lagi di Dance Competition. Hoya akan dicecar jutaan pertanyaan oleh wartawan.”

Minah meletakkan beberapa majalah, koran, dan surat kabar di meja kedai, tepat di hadapan Eunji. Hampir semua headline newsnya menampilkan foto amatir dirinya dengan Hoya saat berada di tribun lapangan sepakbola beberapa hari yang lalu. Foto yang sangat blur dan kurang jelas hingga seluruh media yang membahasnya bertanya-tanya siapa gerangan gadis yang tengah mengalami pelecehan oleh artis bernama Hoya tersebut.

Eunji hanya bisa tersenyum miris melihatnya, meskipun malu setengah mati, setidaknya ia bisa merasa lega karena pemerkosaan yang ia alami belum mencapai klimaksnya. Sebelum lelaki bernama Hoya itu benar-benar merenggut harga dirinya, Minah datang menolongnya, membantunya mengembalikan keadaan sebelum Tuan Doojoon dan Bomi melihatnya.

Dan ia juga bisa merasa lega karena ia mengalami hal ini di dunia nyata. Jika saja hal ini terjadi di negeri Junghwa, Raja Yonghwa pasti sudah menghukum gantung lelaki yang berani menyentuh anak perempuannya.

 

“ Jadi apa yang harus kulakukan?”tanya Eunji putus asa, “…aku tidak mau tampil di depan banyak orang dan mengaku bahwa aku adalah korbannya. Lagipula meski aku sudah hampir dihamili oleh artis sialan itu, aku sama sekali tak ingin mengenalnya. Saat kejadian itupun aku tidak mengenali wajahnya, dia memakai kacamata hitam.”

“ Mwo? Jadi kau tidak melihat wajah Hoya saat kejadian itu?”Minah sedikit terkejut karena baru tahu, “…kau tidak pernah melihatnya di TV?”

Eunji menggeleng, “ Aku tidak pernah menonton TV, aku tidak suka radiasinya.”

“ Aigoo.. hmm.. kalau begitu, kau mau melihat wajah Hoya? Aku punya fotonya.” Minah bersiap mengeluarkan ponselnya, namun Eunji buru-buru menggeleng.

“ Tidak! Tidak usah! Yang ada aku merasa trauma..”

“ Ya sudah.. padahal dia sangat tampan, mungkin saja setelah melihat wajahnya kau bisa sedikit senang.”

“ Hah, setampan apapun tetap saja brengsek.”

Minah tersenyum prihatin dan lantas menepuk bahu Eunji.

“ Aku mengerti apa yang kau rasakan. Kuharap kau tidak terlalu lama merasa trauma. Anggap saja tidak terjadi apa-apa, kau masih suci.”

Eunji mengangguk, merasa sedikit tenang.

“ Aku tahu. Tapi aku tetap saja berpikir, bagaimana jika keluarga angkatku tahu aku pernah mengalami kejadian ini? Bagaimana jika kekasihku juga tahu? Apa dia masih mau bersamaku?”

“ Wah, jadi kau sudah punya pacar?”

Eunji mengangguk, “ Ia salah satu alasan mengapa aku tidak masuk sekolah empat hari ini, aku masih belum siap bertemu dengannya.”

“ Ooh.. jadi dia satu sekolah denganmu?”

“ Ya. Dia seniorku.”

“ Wah.. kelas tiga?”

Eunji mengangguk lagi.

“ Kalau boleh tahu, kau sekolah dimana dan kelas berapa?”tanya Minah lagi.

“ Aku siswi kelas X di Junghwa High School, kau tahu kan?”

“ Mwo? Jadi kau sekolah disana?”

“ Ne. kau sendiri?”

Minah menggaruk pelipisnya dengan sedikit salah tingkah.

“ Dulu..aku juga sekolah disana, kalau sekarang masih sekolah aku sudah kelas tiga. Tapi saat kelas dua, aku keluar.”

“ Jinjja? Jadi kau pernah sekolah disana? Kalau boleh tahu mengapa sampai keluar?”

“ Hmm.. aku hanya tidak suka dengan peraturan asramanya yang terlalu ketat. Aku menyukai kebebasan. Lagipula aku memutuskan untuk menjadi dancer saja, jadi tidak perlu belajar ini itu di sekolah.”

Eunji tak habis pikir, Minah betul-betul santai dengan masa depannya.

“…tapi selama aku sekolah di Junghwa, aku juga punya kekasih disana. Sampai sekarang hubungan kami tetap berlanjut, dia mendukung apapun yang kulakukan.”lanjut Minah.

“ Wah, benarkah? Kelas berapa kekasihmu? Mungkin saja aku kenal.”

“ Dia satu angkatan denganku, sekarang sudah kelas XII.”

“ Ooh…begitu. Sebelumnya aku kira kau berpacaran dengan si brengsek itu.”

“ Hahaha. Tidak. Aku masih setia dengan kekasihku.”

“ Apa kekasihmu tahu kalau sekarang kau sedang menampung si brengsek itu dirumahmu?”

Minah menggeleng, “ Aku sengaja tidak menghubunginya, lagipula dia juga tidak menanyakan kabarku beberapa hari ini, mungkin dia sedang sibuk dengan ekskul musiknya.”

“ Ooh, begitu.”Eunji manggut-manggut, hingga tiba-tiba ia teringat sesuatu.

 

“…eh, ekskul…musik?”

****

“ Merindukan aku, anakku?”

L masih tak bisa bicara, matanya tak berkedip menatap sosok wanita muda yang kini tengah tersenyum kearahnya.

Wanita itu benar-benar Taeyeon. Ibunya. Bukan Kim Haeyeon, kepala sekolahnya. Wanita itu bahkan mengeluarkan tongkat sihir yang sejak tadi ia sembunyikan dibalik punggungnya, untuk membuktikan bahwa ia memanglah seorang penyihir. Empat tato yang perlahan muncul di beberapa permukaan kulitnya pun menegaskan identitas asli wanita itu.

“ T..tidak..tidak mungkin kau bisa ada di…..”

“ Buktinya aku bisa kesini.”wanita itu memotong, perlahan ia mendekati dan mengusap wajah tampan anak semata wayangnya itu.

“…ternyata berbulan-bulan di dunia nyata membuatmu semakin tampan. Tak heran Yeoshin begitu cepat menyukaimu, anakku L..”

“ Tidak.. tunggu dulu.. bagaimana bisa kau kesini? Kau membuat ramuan portal?? Bagaimana bisa? Kau kan..”

“ Ya ampun. Seorang anak yang baik seharusnya menyambut ibunya dulu, apalagi lama sudah tidak bertemu.”

L memutar bola matanya, kesal karena Taeyeon terus-terusan mengalihkan pembicaraan. Meski masih ragu ia pun memeluk ibunya itu, karena di lubuk hatinya yang paling dalam juga ia memang merindukan ibunya, karena terkadang dalam mengambil suatu keputusan ia membutuhkan Taeyeon.

“ Selamat datang kembali di dunia nyata, Kim Taeyeon. Dan.. terimakasih atas rokoknya, aku suka.”

Taeyeon tertawa kecil dan melepas pelukannya lalu menatap L dengan serius sekarang.

“ Soal bagaimana aku bisa kesini bisa dibahas belakangan. Ada yang lebih penting.”

“ P..penting? memangnya.. apa?”tanya L berpura-pura bodoh, meski ia yakin seratus persen yang dimaksud sang ibu pasti tentang Kai yang ia ‘buang’ ke negeri Junghwa. Tidak mungkin Taeyeon belum mengetahuinya.

“ L, kurasa kau benar-benar sudah betah di dunia ini sampai-sampai ramuan portal yang bisa kau gunakan untuk pulang malah kau sia-siakan untuk membuang pemuda dekil ke negeri kita.”

“ Hahaha, sudah kuduga.”L tertawa sinis, “…aku hanya tidak mau terburu-buru. Kalau kau tahu bagaimana posisiku sekarang, kau pasti mengerti mengapa aku tidak mau pulang dulu.”

“ Aku tahu. Aku tahu semuanya. Disini kau menjadi Kim Myungsoo, sisi baikmu yang sudah mati dan kau menipu banyak orang, termasuk istrimu sendiri. Dan pengawal kerajaan bernama Howon itu menjadi orang terkenal sekaligus siswa perempuan di sekolah ini demi menjaga Hyerim. Iya kan?”

L tercengang, “ Bagaimana kau bisa tahu…?”

“ Aku membaca semuanya dari matamu, bahkan semua masalah yang ada disinipun bisa terbaca olehku. Masa lalu Myungsoo sangat menyusahkanmu. Aku tahu itu.”

“ Jadi seharusnya kau paham mengapa aku tidak bisa buru-buru pulang.”

“ Justru kau harus cepat pulang! Masalah Myungsoo bukan urusanmu, kau sudah mendapatkan Yeoshin. Lalu apa lagi!?”

“ Tidak semudah itu, Taeyeon. Aku dan Yeoshin baru saja menjalin hubungan dan jika aku membawanya pulang itu hanya akan membuatnya benci lagi padaku. Bahkan aku bertaruh dia bisa ribuan kali lipat lebih benci dari sebelumnya.”

“ Lalu sampai kapan kau akan berada disini? Keadaan negeri Junghwa semakin tidak karuan, apalagi semenjak pemuda dekil itu datang, dia mengacaukan pasar sampai harus dipenjara di menara istana. Apa gunanya kau membuang dia ke negeri kita!?”

“ Menjauhkannya dari Yeoshin, itu gunanya. Ia ancaman besar bagiku. Dia tahu siapa aku sebenarnya, dan selama dia masih disini Yeoshin tidak bisa membuka hatinya untukku. Aku masih baik hati karena tidak membunuhnya.”

“ Jadi kau tidak akan membawanya kembali ke dunia ini?”

“ Aku tidak tahu. Paling-paling dia sudah membusuk duluan di penjara sebelum aku sempat membawanya pulang kesini. hahahaha.”

“ Kau tidak takut dia bercerita tentang keadaan kau dan Howon disini pada Raja dan Ratu? Mereka pasti akan sangat marah jika tahu kalian berada disini sebagai penipu.”

“ Biar saja mereka marah. Untuk apa aku takut?”                        

“ Mereka bisa mengirim Sunny kesini untuk memberitahu Yeoshin dan Hyerim tentang penipuan kalian. Apa kau tidak berpikir sejauh itu?”

“ Astaga!” L spontan menepuk keningnya, wajahnya mendadak panik, pasalnya ia tahu Madame Sunny bisa membuat ramuan portal, “…aku baru ingat. Apa yang harus kulakukan?”

“ Kau harus bersyukur.”

“ Bersyukur? Kenapa?”

“ Karena Madame Sunny tidak mau kesini. Raja sudah menitahkannya karena satu istana sudah yakin kalau kalian memang benar-benar berada disini. Tapi Madame Sunny benar-benar setengah hati, ia tak ingin kesini.”

“ Syukurlah. Tapi kenapa dia tidak mau kesini? dia takut kubunuh?”

“ Yah. Mungkin itu salah satunya. Tapi yang terpenting, ia memang menginginkan keadaan ini. Ia senang karena kau tak kembali ke negeri Junghwa, karena dengan begitu sekarang ia didaulat menjadi penyihir nomor satu di negeri kita. Ia sudah tahu Howon gagal membunuhmu, jadi ia hanya berharap kau tidak akan pernah kembali.”

“ Hah, sialan. Jadi sekarang Madame Sunny dianggap penyihir nomor satu? Bagaimana dengan bibi?”

“ Hyoyeon? Ck..” Taeyeon langsung berdecak, entah kagum atau kesal.

“…keberadaannya semakin sulit dilacak. Semenjak anak angkatnya mati, tempat tinggal Hyoyeon berpindah-pindah. Yang membuat semua rakyat resah adalah, arwah Namjoo yang bergentayangan di sungai tengah hutan. Hyoyeon membuang jasad anak itu disana.”

“ Namjoo bergentayangan? Astaga.. apa dia mencariku? Dia pasti dendam padaku.”

Taeyeon menghela nafas, mengajak L untuk duduk kembali.

“ L, aku tidak pernah melarang hobimu membunuh orang. Tapi lihat-lihat dulu siapa yang kau bunuh. Kau mengerti maksudku?”

“ Kau marah karena aku membunuh Namjoo? Percuma, dia sudah terlanjur mati dan aku tidak bisa menghidupkannya.”jawab L tak peduli.

“ Aku tahu. Namjoo pasti dendam padamu, tapi yang lebih dendam tentu Hyoyeon. Kau tidak takut dia kesini dan membunuhmu?”

“ Buktinya dia tidak kesini.”

“ Hah, kau masih menganggap enteng rupanya. Terserah, tapi ini adalah salah satu alasan mengapa aku harus datang ke dunia ini. Aku harus melindungimu jika suatu saat Hyoyeon datang tanpa diduga-duga.”

L tersenyum, “ Terimakasih. Sekarang boleh aku tahu bagaimana caranya kau kesini?”

“ Aku mencuri ramuan portal buatan Madame Sunny. Dia diperintahkan raja untuk membuatnya agar dia bisa kesini. tapi karena dia tidak mau meninggalkan Junghwa, setelah membuat ramuan itu dia justru membuangnya.”

“ Hahahaha, penyihir bodoh. Lalu kau mengambil ramuannya?”

Taeyeon mengangguk, “ Dan aku tidak tahu bagaimana caranya pulang ke negeri Junghwa karena ramuan itu sudah habis.”

“ Tidak usah pikirkan itu, nikmati saja kehidupan disini.”L mulai menghasut ibunya itu, “…tapi ada sisi baikmu disini. kepala sekolah ini.”

“ Aku tahu. Aku sudah melihatnya dari kejauhan untuk mengetahui apa yang harus aku kerjakan jika aku menggantikannya.”

“ Jadi kau ingin menyingkirkannya?”

“ Bukan aku.”

“ Lantas?”

Taeyeon tersenyum licik, ia menarik tangan L, membawa anak semata wayangnya itu untuk keluar dari gedung olahraga.

 

“ Bawa aku padanya, sekarang.”

***

 

“ Yeah! Kau berhasil melakukannya!!”

Kai hanya bisa pura-pura tersenyum ketika Krystal bertepuk tangan untuknya, ia masih memegangi pinggangnya yang keseleo karena memanjat tembok penjara dan menerobos lubang kecil untuk memasuki puncak menara tempat Krystal berada. Yah, daripada gadis itu menangis karena permintaannya tidak dituruti, lebih baik Kai berkorban saja mengunjungi gadis itu.

“…selamat datang di istanaku. Selamat datang…!” Krystal heboh sendiri, wajahnya telihat amat ceria.

Kai terdiam, mendadak kaku ketika menatap sosok Krystal yang baru kali ini bisa ia lihat dari ujung kepala hingga ujung kaki, tak hanya mata gadis itu saja seperti yang biasanya ia lihat dari lubang penjara. Rasa sakit di pinggangnya mendadak hilang. Yah, memang kebiasaan. Setiap melihat gadis cantik rasa sakit Kai selalu hilang dan mendadak tak terasa.

Ck, gejala yang aneh.

Krystal begitu cantik, rambut lurus berwarna merah cerah dan gaun coklat yang membalut tubuh kurusnya membuat gadis itu terlihat anggun meski tingkah lakunya sudah menyerupai orang gila, membuat Kai yakin semasa warasnya Krystal pasti senang bersolek.

“ Bodoh sekali L mencampakkan gadis secantik ini. Yah… tapi Naeun juga tak kalah cantik. Ah ya sudahlah, L sudah memilih Naeun, jadi gadis ini bisa saja untukku. Eh! Aku ini bicara apa..” Kai berhenti melamun sebelum Krystal merasa risih karena ditatap tanpa berkedip.

“ Jadi kau yang namanya Kai!? Wah.. kau tampan sekali!!”Krystal memuji Kai duluan sembari dengan wajah tanpa dosa mengelus-elus pipi Kai bahkan mencubitnya sesekali. Kai mendadak berdesir, sekalipun yang memperlakukannya seperti ini adalah gadis gila.

“ T..terimakasih, hehe. Kau juga cantik sekali.”jawab Kai sembari ikut mencubit pipi Krystal, entah ingin sekedar membalas atau ada modus tersendiri.

“ Benarkah?? Aaahh..aku tahu itu.”Krystal nampak centil sekarang lalu bergaya seakan-akan sedang memakaikan bedak di wajahnya.

Kai hanya bisa tertawa miris, ia lantas berjalan menuju jendela menara.

“ Wah, pemandangannya indah ya.”

Adik dari Myungsoo itu mendadak tersihir dengan pemandangan luar istana yang bisa ia lihat dari jendela menara, lampu-lampu rumah penduduk yang berwarna-warni dengan sinar bulan dan ribuan bintang yang menghiasi langit malam itu. Ia kira pemandangan semacam ini hanya bisa ia lihat di dunia nyata.

“ Indah? Tidak.”ucap Krystal sambil menempatkan dirinya di sebelah Kai dan memandangi jendela menara dengan wajah bosan.

“ Yaa.. karena kau sudah terlalu lama disini, terlalu sering memandangi ini. Iya kan?”

Krystal menggeleng, “ Kalau tidak ada kembang api belum indah.”

“ Hmm..kau menyukai kembang api?”

Krystal mengangguk dengan semangat, “ Aku menyukainya sejak L meninggalkan aku. Aku menyukainya agar suatu saat aku bisa balas dendam.”

“ Mwo? Mengapa begitu? Apa maksudmu?”

“ Karena semua penyihir jahat membenci kembang api.”

“ Jinjja??” Kai terkejut. Sial, mengapa ia baru tahu? Seandainya saja ia tahu dari dulu pasti ia akan melawan L dengan kembang api.

“…mengapa mereka membenci kembang api?”tanya Kai penasaran.

“ Entahlah. Kudengar dari Madame Sunny, jika penyihir jahat melihat kembang api, mereka akan kehilangan energi.”

“ Benarkah?” Kai sedikit tak percaya, terlebih yang mengatakannya adalah gadis yang sedang sakit jiwa. Tetapi jika memang benar, hal itu terdengar unik baginya.

“ Ya. Makanya, aku terus membakarnya. Agar suatu saat L melihatnya, dan dia mati. Setelah itu aku bunuh diri agar bisa bersamanya. Hahahahaha!!!!”

“ A..astaga.”Kai hanya bisa cengengesan mendengar lengkingan tawa Krystal. Ia tahu Krystal tentu dilema, perasaan cinta dan benci pada L bercampur aduk dalam hatinya. Memang, saat ini Krystal mengatakan ia membenci L, namun perasaannya masih belum bisa berbohong, goresan-goresan luka yang mengering berbentuk huruf L di seluruh permukaan kulit halus gadis itu membuktikan bahwa ia memang masih mencintai penyihir biadab itu sampai rela menyiksa dan melukai dirinya sendiri.

“ Ayo kita bakar!! Aku mengajakmu kesini agar kita bisa main kembang api bersama-sama! Aku bosan main kembang api sendirian.”Krystal mengambil beberapa batang kembang api yang ia letakkan dibawah selimutnya, membuat Kai tercengang karena persediaan kembang api yang dimiliki gadis gila ini cukup banyak.

“ Apa..apa tidak mengganggu? Ini sudah tengah malam..”Kai mencoba menolak dengan halus, lagipula bermain kembang api membuatnya teringat dengan Myungsoo.

Memang, ia dan mendiang kakaknya itu sering bermain kembang api bersama di depan rumah semenjak kedua orangtua mereka tiada. Lain halnya dengan L yang tentu saja takut kembang api seperti yang dikatakan oleh Krystal, Myungsoo justru sangat menyukai kembang api, sering membeli berbatang-batang tak hanya untuk kesenangannya namun juga untuk menghibur Kai meski terkadang uangnya tidak cukup. Tentu, karena kebahagiaan Kai adalah segalanya bagi Myungsoo.

“ Myungsoo hyung..”

Mata Kai sedikit berkaca-kaca saat menerima sebatang kembang api dari Krystal, pikirannya mulai penuh dengan bayang-bayang sang kakak yang begitu baik padanya. Tak hanya padanya, tapi pada semua orang hingga tak seorangpun rela saat mendengar Myungsoo dinyatakan meninggal di gunung.

Maka itu tak heran, ketika L muncul sebagai Myungsoo, semua menyambutnya dengan penuh kepercayaan tanpa mengetahui seluk beluknya.

“ Hei, kenapa menangis? Kau laki-laki!! Iih.. laki-laki cengeng.. hahaha!”

Kai mendadak tertawa kecil ketika Krystal meledeknya. Ia segera menghapus airmatanya.

“ Mianhae. Kau serius ingin main?”tanya Kai berbasa-basi.

“ Ne! aku selalu bermain kembang api jam segini. Setiap malam!”jawab Krystal bersemangat.

“ Setiap malam? Ooh.. pantas saja.”Kai cengengesan saat melihat beberapa petak apotik hidup yang sudah hangus di bawah menara. Pasti Krystal melempar kembang apinya ke bawah sana.

“ Ng..mana ya?”

“ Mencari apa lagi?”

“ Korek api..” Krystal mendadak panik, seperti kehilangan benda yang sangat berharga. Tentu, karena kembang api salah yang menjadi satu-satunya hiburan bagi dirinya di tempat ini.

“ Tidak ada?”

Krystal menggeleng, ia menghambur-hamburkan tempat tidurnya dan beberapa peti kecil berdebu yang ada disana. Airmatanya mulai menitik dan sepertinya…

Ia akan segera mengamuk.

“ Kau!! Kau pasti mengambilnya dariku kan!!??” Krystal tiba-tiba menunjuk Kai.

“ Hah?? Aku!? Yeee..” Kai mendadak kesal karena dituduh sembarangan, namun mengingat Krystal bukan perempuan waras, ia mencoba untuk tenang.

“…bukan..bukan aku. Mungkin kau lupa meletakkannya dimana..”

“ Aku meletakkannya di dekat kembang api, mana mungkin dia jalan sendiri, kecuali digerakkan oleh sihir. Eh, apa?! Sihir!! Ya!! Apa mungkin L ada disini dan mengambil korek apiku agar aku tidak bisa menyalakan kembang apinya!? Oh tidak!!! Kembalikan!! Kembalikaaaan!!”

Benar saja, Krystal mengamuk. Kuku-kuku panjangnya mulai mencakari dinding menara, sesekali memukuli lantai dengan depresi, dan sekarang Kai yang panik.

“ Heii.. sudah.. sudah..” Kai mencoba mendekati gadis itu.

“ Pergiii!!!! Kita tidak bisa main!! Kau pergi saja! Pergi!!!”

“ Aaargh! Sakit bego!” Kai mengerang ketika Krystal mencakar wajah tampannya hingga berdarah. Tapi ia tahan lagi emosinya. Ingat, ia menghadapi orang yang tidak waras, yang tak sadar dengan apa yang dilakukannya.

“ Korek apiku.. korek apiku.. korek apiku diambil L.. tidak boleh.. korek apiku..~”Krystal gemetaran dan menangis, membuat Kai semakin depresi. Ia takut pengawal datang dan melaporkannya pada raja karena dikira telah membuat Krystal menangis.

“ Tidak mungkin, tidak mungkin L disini.. tenanglah.. nanti aku belikan korek api yang baru..ya??ya??” Kai mencoba membujuk dan pasrah jika wajahnya akan dicakar lagi.

“ Huaaaa.. aku ingin sekaraaang!!! Sekaraaang!!”

“ Nanti saja. Kita bisa cari hiburan lain selain kembang api. Ya?”

“ Hiks..hiks.. tidak ada yang bisa kita lakukan! Aku..aku.. eh?”

Tangisan Krystal mendadak terhenti ketika Kai meletakkan ponselnya hingga ia mendengar lagu yang begitu asing membahana di dalam ruangan, wajahnya nampak berseri ketika Kai berdiri didepannya dan mulai menari untuk menghiburnya.

 

“ Woah~ daebak! Tapi…gerakan macam apa itu?”

*****

 

“ Kurasa kita datang tepat waktu, Taeyeon-ah.”

“ Kenapa?”

“ Lihat.”

Taeyeon menoleh kearah kaca jendela ruangan kepala sekolah yang ditunjuk oleh L, nampak seorang wanita dan seorang lelaki bertubuh jangkung didalam sana sedang berbicara serius.

“ Cenayang itu mulai melangkah untuk menghancurkan aku. Dia benar-benar cari masalah.”

Tangan L mengepal, geram melihat Sungyeol yang nampaknya ingin memberitahu kepala sekolah Kim Haeyeon tentang identitas aslinya.

 

“ Kukira kau kemari hanya untuk memberiku oleh-oleh dari Amerika. Jadi kau kemari juga untuk bercerita tentang Myungsoo padaku?”terdengar suara lembut sang kepala sekolah yang sama persis dengan suara Taeyeon.

“ Dia bukan Myungsoo, kepala sekolah.”jawab Sungyeol memotong.

Benar saja, rupanya sang kepala sekolah menjadi orang pertama yang akan Sungyeol beritahu tentang L. Mungkin agar L tak lagi diberi kepercayaan oleh kepala sekolah, karena saat ini L sedang menyelidiki kasus Eunji dan Sungyeol takut tindakannya terhadap Eunji terbongkar.

“ Bukan Myungsoo…? Maksudmu?”kepala sekolah Kim Haeyeon mendadak bingung.

 

“ Astaga. L, kau dalam bahaya.”Taeyeon menegang, namun L berusaha tenang dan membiarkan sejauh mana Sungyeol berani bercerita tentang identitas aslinya didepan sang kepala sekolah.

 

“ Dia seorang penyihir yang menyerupai Myungsoo, dia orang jahat.”

“ A..apa?”

“ Percayalah padaku.”

Haeyeon semakin bingung, “ Kau pasti bercanda.”

“ Mana mungkin aku berani mengajak seorang kepala sekolah bercanda? Apalagi melibatkan siswa kesayangannya.”

“ Jadi atas dasar apa kau mengatakan Myungsoo adalah penyihir? Aku bahkan tidak percaya dengan hal-hal seperti itu.”

“ Ceritanya panjang. Yang jelas dia bukan Myungsoo, dia bernama L dan dia punya tujuan memasuki dunia ini.”

“ Astaga, Lee Sungyeol..”bukannya mencoba mencerna perkataan Sungyeol, Haeyeon justru semakin geli mendengarnya. Wanita itu melirik jam yang tertempel di dinding ruangannya.

“ Pantas saja, sudah jam 1 pagi. Dulu Myungsoo dan Chorong sering bilang padaku kalau sekitar jam segini kau suka bicara melantur, entah dalam keadaan sadar atau sedang tidur. Yah, mungkin karena kau anak seorang cenayang. Aku memaklumimu, Lee Sungyeol. Tapi lebih baik sekarang kau kembali ke kamarmu dan tidurlah, kau pasti lelah baru pulang dari Amerika, makanya sampai-sampai bicara seaneh ini.”

“ Tapi.. tapi kepala sekolah, dengarkan penjelasanku dulu….”

“ Tidak, Lee Sungyeol. Kalau kau ingin melantur silahkan ajak orang lain, aku tidak punya waktu. Aku harus lembur menyusun program untuk acara ulang tahun sekolah.”

“ Sekali ini saja, dengarkan aku dulu!”

“ Maaf, Sungyeol. Aku tidak bisa. Kurasa kau hanya terlalu lelah saja makanya sampai sengaco ini. Istirahatlah, sadar kalau kau sudah berbicara buruk tentang sahabatmu sendiri. Myungsoo adalah Myungsoo. Arasseo?”

“ Terserah!” Sungyeol mendadak jengkel dan berdiri lalu keluar dari ruangan kepala sekolah hingga kemudian ia berteriak cukup lantang.

“…AKU AKAN MEMBUKTIKAN PERKATAANKU!!!”

“ Whatever.”tanggap Haeyeon acuh, ia kembali sibuk dengan beberapa lembar kertas didepannya.

 

“ Brengsek. Dia benar-benar cari masalah denganku. Dia sudah bosan hidup.”L semakin mengepalkan tangannya, gatal ingin membunuh Sungyeol namun rasanya tak bisa merealisasikan hal itu.

“ Bunuh dia.”saran Taeyeon tak tanggung-tanggung, namun L buru-buru menggeleng.

“ Membunuh Sungyeol hanya akan memperpanjang masalah.”

“ Bukan. Bukan dia.”

“ Lantas? Kepala sekolah?”

“ Ya. Agar aku bisa menggantikannya.”

“ Tapi.. tapi kurasa ini akan su….”

Sebelum L menyelesaikan perkataannya, Taeyeon mendadak menghilang. Seketika itu juga L memutar kaki kanannya lalu melangkah menuju pintu ruangan kepala sekolah.

 

“ Annyeong. Myungsoo? Sedang apa kau malam-malam begini? Kau tidak tidur?”

Kepala sekolah Kim Haeyeon sedikit terkejut dengan kedatangan Myungsoo. Sementara yang datang mencoba memasang wajah penuh basa-basi.

“ Aku tahu malam ini kepala sekolah lembur, jadi aku datang untuk menawarkan bantuan.”jawab Myungsoo berbohong, sementara Taeyeon yang mengawasinya dari luar masih penasaran dengan tujuannya.

“ Ya ampun. Kau terlalu baik. Aku bisa mengerjakannya sendiri, lagipula ini memang tugasku. Setiap menjelang ulang tahun sekolah, aku memang selalu lembur.”

“ Hmm.. aku melihat Sungyeol keluar dari sini barusan. Kalau boleh tahu apa yang baru saja ia lakukan disini?”

“ Ng..dia..dia..” Haeyeon mencoba mencari jawaban bohong yang tepat, “…dia memberiku oleh-oleh dari Amerika.”

“ Hanya itu?”

“ Memangnya apa la……”

“ Dia membicarakan aku, iya kan?”

“ Mwo? Tidak.. kau ini bicara ap….”

“ Dia mengatakan aku seorang penyihir jahat yang menyerupai Myungsoo. Iya kan?”

“ B..bagaimana kau bisa……”

“ Karena semuanya benar. Aku memang penyihir, dan aku memang jahat.”

“ Myungsoo!”

“ Apa?”

Haeyeon mendadak panik, terlebih ketika tatapan siswa kesayangannya yang biasanya teduh itu kini menjadi sadis dan nampak siap membunuhnya. Wanita muda itu berdiri dan mundur beberapa langkah karena mulai ketakutan.

“ Kau dan Sungyeol sedang mengerjaiku kan? Kim Myungsoo, ini tidak lucu.”

“ Siapa yang mengerjaimu? Myungsoo sudah mati dan mayatnya ada di ruang bawah tanah asrama putra.”

“ Astaga. Myungsoo, kau sudah keterlaluan. Hentikan leluconmu!”

“ Hahaha. Kau tidak percaya rupanya. Sebentar lagi kau akan melihatnya, kalau perlu aku akan menempatkanmu disamping mayatnya.”

“ M..maksudmu?”

“ Merindukan Myungsoo, kan? Aku akan membawamu bertemu dengannya. Lagipula tak akan ada yang sedih kalau kau mati, ibuku akan menggantikanmu.”

Haeyeon semakin tegang dan terancam, terlebih ketika Myungsoo tertawa licik sembari mengeluarkan pisau panas dari saku celananya.

“ Tidak.. Myungsoo.. sadarlah.. aku kepala sekolahmu, dan kau..kau tidak mungkin seperti ini pada..”

“ Panggil aku L untuk pertama dan terakhir kalinya sebelum kau mati.”

“ L..? arghh!”

BRUK!

 

 “ A..apa yang kulakukan!!??”

L terkejut mendapati tangan kanannya yang sudah berlumuran darah dan memegang erat sebilah pisau, ditatapnya sang kepala sekolah yang sudah mati terkapar di lantai.

Ia baru saja membunuh Kim Haeyeon.

“ Selesai! Mudah saja kan!?”

Taeyeon muncul dibelakang L yang masih lemas lalu tertawa puas melihat sisi baiknya yang sudah tak berdaya. Wanita itu sedikit menghapus peluhnya.

“ Merasuki tubuhmu ternyata tidak sesulit yang kubayangkan, hahaha. Mungkin karena aku ibumu.”

L terbelalak, pantas saja ia tak sadar dengan apa yang telah ia lakukan.

“ Taeyeon.. jadi..kau yang melakukannya?!”

*****

 

Morning, 06.00 AM

 

“ Eunji! Hari ini kau sekolah, kan?”

Eunji memberi anggukan kecil kearah Bomi yang pagi itu menyempatkan diri untuk pulang dan menjemputnya. Hari ini keputusannya untuk kembali masuk sekolah memang sudah bulat, ia tak mau ketinggalan pelajaran hanya karena nasib buruk yang menimpanya beberapa hari silam.

“…Jiwon juga tidak masuk sekolah selama kau tidak masuk, tidak ada yang tahu dia kemana. Aneh sekali, kalian kompak ya. Hahaha.”kata Bomi lagi, membuat Eunji sedikit terkejut.

“ Hah? Jiwon juga tidak masuk? Bolos..? apa kau sudah mencoba mencari tahu dia kemana?”

Bomi mengangguk, “ Sudah. Tapi ponselnya tidak aktif.”

“ Duh.. entah, aku jadi ikut khawatir.”

“ Sudahlah, mungkin dia ada urusan sendiri. Yang penting sekarang kau kembali ke sekolah, kau bisa menemaniku tidur di asrama.”

“ Mwo? Kau lupa aku sudah pindah kamar?”

“ Tentu saja aku ingat. Tapi tidak perlu khawatir, kau sudah bisa kembali ke kamar aslimu.”

“ Hah? Bagaimana bisa? Woohyun sunbae berubah pikiran?”

“ Tidak.. bukan sunbaemu yang bernama Woohyun itu.”

Seorang wanita berdiri diambang pintu dan menjawab pertanyaan Eunji. Nyonya Gayoon, ibu Bomi, ibu angkatnya.

“ Eomma tahu tentang ini?” tanya Eunji tak menyangka.

Nyonya Gayoon mengangguk, “ Bomi menceritakan semuanya pada kami selama kau sakit. Mengapa kau tidak jujur saja dari awal kalau kau diperlakukan seperti itu oleh sunbaemu? Kami bisa menuntutnya.”

“ Yah! Bomi.. sudah kubilang jangan..” Eunji berbisik pada Bomi. Ia jadi malu dan tak enak, sementara Bomi hanya bisa cengengesan karena tak menepati janjinya.

“ Kami memang harus tahu, Eunji. Tapi syukurlah, sebelum kami datang ke sekolah untuk mempermasalahkan ini, seseorang sudah menyelamatkanmu dari hukuman berat sunbaemu itu.”lanjut nyonya Gayoon, membuat Eunji sedikit mengeryitkan dahinya.

“ Maksud eomma?”

“ Seseorang datang kesini kemarin malam, dia mencarimu tapi kau sudah tidur. Dia salah satu sunbaemu juga, dia mengatakan pada kami kalau kau bisa tidur di kamar aslimu lagi jika sudah kembali ke asrama, dia bilang dia yang akan bertanggung jawab jika Woohyun marah nantinya.”

“ Mwo?? Nuguya??” Eunji terkejut. Siapa gerangan sunbae yang sampai-sampai datang ke rumahnya dan menyelamatkan Eunji dari hukuman berat Woohyun?

“…pasti D.O sunbae. Ah, dia begitu perhatian.”ucap Eunji dalam hatinya seraya tersenyum malu.

“ Sunbaemu itu namanya Park Chorong. Dia cantik sekali, baik pula. Sepertinya dia sangat perhatian padamu.”ucap Nyonya Gayoon, membuat Eunji terkejut untuk yang kesekian kalinya.

“ Mwo?? Chorong sunbae??”

“ Ya. Meski perempuan, dia berani mengatakan pada kami kalau dia akan menjagamu selama di sekolah. Dia sunbae yang begitu baik.”

“ Jinjja? Aigoo.. Chorong sunbae ternyata. Aku kira D.O sunbae..”gumam Eunji pelan, dalam hati bertanya-tanya mengapa Chorong mendadak sebaik ini padanya. Apakah ada maksud tersendiri? Entahlah, Eunji tak ingin berpikir negatif karena selama ini Chorong memang selalu baik padanya.

“ D.O sunbae? Hah, jangan harap. Selama kau tidak masuk saja dia sama sekali tidak menanyakan kabarmu.”celetuk Bomi setelah mendengar gumaman Eunji.

“ Benarkah? Oh, mungkin dia sedang sibuk.”Eunji mencoba berpikir positif meski merasa kecewa.

“ Kajja, kita sarapan bersama. Aku sudah menyiapkannya.”ajak nyonya Gayoon, “…soal ini bisa kalian bahas di sekolah dengan Chorong langsung. Jangan lupa berterimakasih padanya.”

Eunji dan Bomi mengangguk, setelah Eunji siap, merekapun keluar dari kamar dan berjalan menuju meja makan.

“ Sebenarnya akhir-akhir ini aku tidak nafsu makan.”bisik Bomi saat mereka tiba di meja makan, ia mendadak lemas dan lesu.

Eunji mengambil tempat disampingnya, “ Memangnya ada apa?”

“ Kau tidak tahu? Beberapa hari ini Hoya tersandung skandal besar. Ia diberitakan tertangkap kamera sedang berhubungan dengan seorang perempuan di tempat umum. Dan kau tahu tempat apa itu? Tribun lapangan sepakbola yang kita kunjungi beberapa hari yang lalu!!”

EHEK!

Eunji langsung tersedak roti nanas yang baru saja hendak ia telan. Sial, baru saja ia ingin membuang masalah itu jauh-jauh dari pikirannya, Bomi justru membahasnya lagi.

“ Hei, kau apakan Eunji sampai tersedak begitu??”Tuan Doojoon yang sudah sejak tadi menikmati kopi panasnya di ruang makan langsung menyalahkan Bomi.

“ Tidak.. bukan Bomi, appa. Aku saja yang makan terburu-buru, hehe.”Eunji yang menjawab sembari meneguk air minumnya banyak-banyak.

“ Kau pasti sudah tahu beritanya kan!”kata Bomi.

“ Tidak! Aku..aku tidak tahu. Tidak penting.”tanggap Eunji.

“ Tapi ini penting bagiku. Aku sakit hati.. sakit sekali..”Bomi nampak sedih, “…aku sama sekali tidak menyangka. Padahal beberapa hari yang lalu juga kita kesana kan, tapi kenapa kita tidak tahu ada kejadian seperti itu..”

“ Yah..yah mungkin itu terjadi saat kita sudah pulang.”jawab Eunji, agar Bomi tak curiga padanya.

“ Masa sih? Aaaahh! Yang jelas aku tidak rela! Siapa perempuan itu!?? Dan apakah dia pacar Hoya..? hiks..” Bomi semakin galau. Maklum, ia sudah sangat mengidolakan Hoya sampai-sampai tak rela jika artis itu berhubungan dengan perempuan lain.

“ Sudahlah Bomi.. untuk apa kau pikirkan? Dia juga tidak kenal denganmu.”ucap Nyonya Gayoon sembari geleng-geleng kepala.

“ Kalau appa sih mau tidak mau harus memikirkannya. Masalahnya itu terjadi di lapangan sepakbola, saat appa sedang melatih disana..”sela Tuan Doojoon, “…padahal saat berkenalan dengan Hoya, appa pikir dia anak yang baik.”

“ Ya mungkin saja dia memang baik, tapi setelah jadi artis kelakuannya berubah.” Nyonya Gayoon berpendapat.

“ Bisa jadi..”

PLEK!

Tiba-tiba terdengar suara jatuh di depan pintu.

“ Koran baru! Ambil sana!”kata Tuan Doojoon, ia memang hafal suara koran yang dilempar oleh loper setiap pagi.

Dengan malas Bomi pun berdiri dan berjalan menuju pintu depan, mengambil korannya.

 

“ APA!??? BANG MINAH!!??? TIDAK!!! TIDAAAAK!!!!”

Bomi mendadak histeris, membuat Tuan Doojoon, Nyonya Gayoon, dan Eunji berlari menghampirinya. Nampak Bomi sudah menangis dengan tangan gemetaran memegang koran barunya.

“ Ada apa Bomi?? Mengapa menangis!?”tanya Eunji, Bomi langsung memeluk Eunji dan menunjukkan headline news koran tersebut. Eunji segera membacanya begitu juga Tuan Doojoon dan Nyonya Gayoon.

“ Astaga. MINAH!?” Tuan Doojoon tak menyangka, “…jadi pihak Seoul Dance Competition mengeluarkan penyataan resmi bahwa gadis yang bersama Hoya itu adalah Minah. Ckckck..”

“ Minah itu salah satu pemain perempuan di klub sepakbolamu kan?”tanya Nyonya Gayoon, Tuan Doojoon mengangguk.

“ Aku membencinya!!! Aku benci Minah!!!!” Bomi geram, sementara Eunji mendadak lemas.

 

“ Bang Minah.. fans Hoya pasti akan membencinya mulai saat ini. Mengapa ia harus berkorban untukku? Apa yang bisa kulakukan untuk berterimakasih?”

*****

 

KLEK..

“ AAAAAA!!!!”

Myungsoo berteriak ketika ia baru saja membuka pintu ruang bawah tanah untuk keluar dari sana, seseorang yang berdiri di muka pintu mengejutkannya.

“ Hei! L?? Sedang apa kau disini? Mengapa berteriak?” yang mengagetkan Myungsoo justru kebingungan.

“ Hah. Kau mengejutkan aku saja, aku kira Sungyeol!” Myungsoo mengelus dadanya, setelah itu melirik lagi orang tersebut.

“…Howon, kemana saja kau empat hari ini!?? Mengapa sekarang baru muncul hah!!?” Myungsoo bersiap untuk mengamuk.

Seseorang berseragam lengkap dengan wig dikepalanya itu tertawa pahit.

“ Kalau kau mengikuti perkembangan media massa, seharusnya kau sudah tahu.”

“ Sayangnya aku tidak punya waktu untuk update ini itu.”

“ Ya sudah.”

“ Sebenarnya kau kemana?”

Jiwon membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah koran lalu meletakkan benda itu di dada Myungsoo. Sang penyihir langsung membaca beritanya buru-buru.

“ Astaga! Howon!!! Kau sinting!!!!!”

Jiwon tertawa sinis, sudah yakin Myungsoo akan menghujatnya setelah tahu masalahnya.

“ Berarti kau juga sinting, L. kau bahkan pernah melakukan hal seperti ini lebih dari satu kali kan?”balas Jiwon sengit.

“ Aku melakukannya karena itu memang hakku sebagai suami Yeoshin!”

“ Terserah apa statusnya. Tapi tujuanmu mencoba memperkosa Yeoshin berkali-kali adalah agar dia menjadi milikmu selama-lamanya kan? Sama halnya denganku. Lagipula pikiranku yang sudah sekotor ini juga adalah akibat bergaul denganmu.”

Myungsoo sedikit meninju perut Jiwon sembari sedikit tertawa, merasa malu dengan masa lalunya sebagai orang bejat yang tak menyerah mendapatkan kehormatan Yeoshin.

“ Jadi kau benar-benar sudah melupakan Hyerim sampai-sampai berbuat seperti ini dengan gadis bernama Bang Minah?”

“ Ck, dasar penyihir bodoh. Mana mungkin aku melupakan Hyerim. Berita di koran itu bohong, gadis itu bukan Minah, dia terpaksa membuat pernyataan palsu demi melindungi gadis yang sebenarnya.”

“ Apa?? Jadi.. jadi sebenarnya siapa…..”Myungsoo kembali heran.

“ Kau boleh sebut aku gila, saat itu aku benar-benar kehilangan akal sehat dan anehnya aku sama sekali tidak menyesal. Justru aku stress karena rencanaku gagal.”

“  Jadi sebenarnya.. siapa…….”

“ Jung Hyerim, dia sudah menjadi kekasih D.O. Dan satu-satunya cara untuk memilikinya seutuhnya hanyalah ini. Seandainya saja tempat ini adalah negeri Junghwa, mungkin raja sudah menjatuhiku hukuman mati.”

“ Hah!? Jadi..gadis yang sebenarnya adalah Hyerim!? Jadi sekarang dia tahu kau ada disini!?” Myungsoo semakin terkejut dan tentu saja bersiap untuk marah, karena jika Eunji tahu Howon berada di dunia nyata, otomatis gadis itu menceritakannya pada Naeun, tamatlah riwayat Myungsoo.

“ Tenang..tenang.. dia tidak mengenaliku, saat itu aku memakai pakaian yang sangat tertutup, lengkap dengan topi dan kacamata hitam. Memang, ini akan menjadi tekanan batin bagi Hyerim karena ia merasa telah dilecehkan oleh orang yang tak dikenalnya, tapi setidaknya itu lebih baik daripada harus membuatnya tahu kalau aku ada disini.”

“ Baguslah. Kuharap ini menjadi pelajaran bagimu. Aku tahu rasanya sakit karena Hyerim sudah mengkhianatimu, tapi kau harus menahan diri.”

“ Mwo? Kukira setelah mendengar ceritaku kau akan berpikir untuk melakukan hal yang sama pada Yeoshin.”

Myungsoo buru-buru menggeleng, “ Tidak semudah itu sekarang. Mulai saat ini aku harus mengikuti perkataan Taeyeon.”

“ Taeyeon?? Ibumu?”

“ Ya. Dia ada disini.”

“ HAH!? Sejak kapan!?”

“ Kemarin malam dia datang, mencuri ramuan portal buatan Madame Sunny. Dia datang setelah tahu Kai kubuang ke negeri Junghwa.”

“ Astaga.. lalu sekarang dimana ibumu itu?”                                                  

“ Dia duduk manis di ruangan kepala sekolah, menikmati peran barunya.”

“ Apa!? Lalu bagaimana dengan kepala sekolah Kim Hae……”perkataan Jiwon mendadak terhenti ketika Myungsoo menunjukkan satu kantung darah yang sejak tadi dipegangnya.

“ Kau membunuhnya!?”

“ Bukan. Tapi Taeyeon sendiri, hanya saja dia merasuki tubuhku saat itu. Makanya, pagi ini aku baru selesai menguras darahnya, lumayan untuk sarapan pagi.”

Jiwon geleng-geleng kepala, “ Mayatnya kau simpan disini!?”

Myungsoo mengangguk, “ Bersebelahan dengan mayat Kim Myungsoo.”

“ Bagaimana kalau Sungyeol tahu!?”

“ Tidak akan. Aku sudah melindungi ruangan ini dengan mantra yang kuat. Sekalipun ia tahu, Taeyeon pasti bisa menghadapinya.”

“ Semoga saja. Asalkan Sungyeol tidak menganiaya Hyerim lagi.”

“ Ya. Ngomong-ngomong.. kau sudah bertemu Hyerim hari ini?”

“ Belum. Aku baru saja datang, sebenarnya aku kesini untuk mencarinya. Tapi dia sudah tidak ada.”Jiwon menatap kamar Eunji yang berseberangan dengan pintu ruang bawah tanah tempat ia dan L berdiri sekarang.

“ Carilah dia. Nanti kita bertemu lagi.”

Jiwon mengangguk, “ Jaga darahnya baik-baik, jangan sampai ada yang melihatnya.”

“ Ya. Aku harus kembali ke kamar dan bersiap-siap ke sekolah sekarang. Aku sudah terlambat, kepala sekolah mengadakan rapat pagi ini.”

“ Bukan kepala sekolah, tapi ibumu.”

Myungsoo tertawa.

“ Ya. Kim Taeyeon, ibuku menjadi kepala sekolah sekarang. Hahaha.”

*****

 

“ Myungsoo.. Kim Myungsoo sunbae?”

Meski masih ragu, Naeun mencoba mengetuk pintu kamar Myungsoo pagi itu. Ia memberanikan diri mengunjungi asrama putra karena khawatir dengan Myungsoo yang belum juga datang ke sekolah.

“ Ada seorang penyihir datang kemari rupanya.”

Pintu terbuka dan muncullah Sungyeol dengan senyum misterius mengembang di wajahnya. Naeun mendadak kaku, ingin balik kanan dan kabur namun rasanya tak kuat. Entah, ia jadi takut pada Sungyeol sekarang, apalagi selama mereka di Amerika Sungyeol terus-terusan mengancamnya.

“…masuk.”sambung lelaki itu sembari memberi jalan untuk Naeun, “…sebelum ketahuan pengawas.”

Naeun berusaha bersikap wajar, ia pun masuk dengan sopan lalu celingukan mencari kekasihnya.

“ Dia sedang mandi. Duduk saja dulu.”ucap Sungyeol tak kalah wajar sembari menepuk pinggir tempat tidur Myungsoo. Dengan canggung Naeun duduk disana dan pura-pura melirik jamnya berkali-kali untuk mengalihkan perhatian.

“ Mengapa jam segini Myungsoo sunbae baru mandi? Tumben..”gumam Naeun, ingin bertanya apakah Myungsoo begadang semalam pada Sungyeol ia tak berani.

“ Ingin kutemani dulu, nona Son Naeun?” Sungyeol kembali tersenyum misterius sembari duduk disamping Naeun, membuat gadis itu semakin waspada dan mengeratkan tongkat sihir yang ia simpan dibalik punggungnya.

“ Terimakasih.”ucap Naeun seadanya, dalam hati berdoa semoga Myungsoo cepat-cepat keluar dari kamar mandinya.

“ Hmm.. sepertinya akan seru jika aku membuat keributan di kamar ini dengan mengatakan sesuatu pada Myungsoo saat ia keluar dari kamar mandi nanti.”

“ M..maksudmu???”

“ Bagaimana jika aku mengatakan pada Myungsoo bahwa siswi cantik bernama Son Naeun didepanku ini ternyata adalah seorang penyihir? Sepertinya akan seru.”

“ TAK AKAN KUBIARKAN!!” Naeun mendadak emosi dan menodongkan tongkat sihirnya kearah Sungyeol dengan panik, tentu saja ia tak mau Myungsoo tahu identitas aslinya –meski kenyataannya Myungsoo memang tahu-.

“…aku terlahir sebagai penyihir baik dan selama ini aku tak pernah membunuh siapapun. Tapi jika kau mengancam kehidupanku, aku tak akan segan membunuhmu.”lanjut Naeun dengan emosi tertahan, namun justru membuat Sungyeol merasa geli.

 “ Hahaha.. santai..santai.. kita bisa berkompromi dulu jika kau mau.. aku akan sangat berdosa jika membuat penyihir baik sampai-sampai harus melakukan pembunuhan.”Sungyeol tertawa meledek, membuat Naeun semakin geram karena merasa tengah dipermainkan.

“ Kompromi apa!?”

Sungyeol tersenyum licik, nampaknya ada sesuatu yang tengah ia rancang dalam otaknya untuk menjebak Naeun sekaligus Myungsoo.

“ Aku bukan orang yang pandai menyimpan rahasia. Jadi jika kau ingin identitasmu aman, kau harus sedikit berkorban.”

“ Apa yang harus aku lakukan? Jangan bilang kau mau…..”

“ Tenang. Aku tak meminta harga dirimu, aku tidak nafsu sedikitpun pada perempuan.”

“ A..apa? Apa aku tidak salah dengar?”

“ Tidak. Kau tidak salah.”

Naeun terperanjat. Ternyata selain menjadi seorang cenayang yang berkelakuan aneh, Sungyeol juga adalah seorang gay? Hal itu membuat Naeun berpikir kemungkinan besar lelaki itu pasti juga adalah seorang psikopat. Naeun tak habis pikir, bagaimana bisa Myungsoo mau bersahabat dengan seorang gay? Ditambah dengan Park Chorong yang juga seorang lesbian. Ck, Myungsoo terlalu baik.

“ Jadi..jadi apa yang harus kulakukan?”tanya Naeun pasrah, berharap Sungyeol tak meminta yang aneh-aneh.

“ Karena kau seorang ahli ramuan, aku ingin kau membuatkan satu ramuan untukku.”

“ Baiklah, semoga ramuan yang mudah dan tidak berbahaya.” harap Naeun dalam hatinya.

“…ramuan apa?”

Sungyeol melirik pintu kamar mandi sejenak, memastikan Myungsoo belum keluar dari sana. Setelah itu ia beringsut, mengarahkan bibirnya menuju telinga Naeun.

“ Ramuan untuk menghidupkan orang mati.”

Wajah Naeun mendadak memucat. Ia bahkan yakin tak ada ramuan semacam itu di daftar jenis ramuan dalam kamus sihirnya.

“ Apa tidak bisa meminta ramuan yang la…..”

“ Jika kau tidak membuatkannya untukku, kupastikan semua orang di sini termasuk ‘Myungsoo’ akan tahu siapa dirimu sebenarnya. Son Yeoshin..”

 

Naeun semakin memucat.

“ Ramuan pembangkit orang mati? Apa yang harus kulakukan?”

****

 

“ Naeunnie.. makanlah. Mengapa melamun daritadi?”

Myungsoo hampir putus asa, berkali-kali tangannya ditepis oleh Naeun ketika ia ingin menyuapi gadis itu. Padahal menu makan pagi yang ia buatkan untuk Naeun bisa dibilang spesial, karena terdapat darah segar kepala sekolah Kim Haeyeon disana. Tapi tentu saja Naeun tidak tahu.

Nafsu makan Naeun memang langsung hilang karena Sungyeol beberapa saat yang lalu. Permintaan Sungyeol membuatnya merasa berat dan terbebani. Ia takut Myungsoo meninggalkannya jika Sungyeol membocorkan identitasnya. Tak hanya Myungsoo, Naeun juga takut kehilangan kasih sayang Woohyun.

“…kau marah karena aku mengajakmu sarapan disini?”tanya Myungsoo lagi sembari menatap lingkungan sekitar mereka. Ruangan rapat.

“ Ya. Kalau rapatnya sudah mau mulai kau terpaksa mengusirku kan?”jawab Naeun berbohong.

Myungsoo menggeleng seraya mengelus rambut indah Naeun, ia tahu Naeun sedang berbohong padanya namun ia tetap menanggapi kebohongan tersebut.

“ Tidak akan, sayang. Kalau rapatnya sudah mau mulai, aku akan mengantarmu dulu ke kelas.”

“ Oh, begitu.”Naeun hanya menjawab dengan kikuk.

“ Lalu apa lagi masalahnya?”

Naeun menggeleng, membuat Myungsoo semakin penasaran sebenarnya apa yang sedang menjadi pikiran Naeun saat ini. Ia yakin ini ada hubungannya dengan Sungyeol, karena pikiran Naeun begitu abstrak saat Myungsoo mencoba membacanya. Sepertinya Sungyeol ahli dalam hal seperti ini.

“…kalau tak ada masalah, sekarang makanlah.”Myungsoo kembali mengarahkan kimbap yang ia pegang menuju mulut kecil Naeun, dan kali ini gadis itupun mau membuka mulutnya, menerima suapan Myungsoo hingga pipinya membesar karena mulutnya penuh makanan.

“ Sunbae..”ucap Naeun pelan dengan nada yang lucu karena sedang mengunyah segenggam kimbap dalam mulutnya.

“ Habiskan dulu makanannya, nanti tersedak.”

Naeun menggeleng dan tetap melanjutkan perkataannya sembari memegang erat tangan lebar Myungsoo, “ Dengarkan aku.”

“ Ya. Apa?”

“ Berjanjilah untuk tidak meninggalkan aku, apapun yang terjadi.”

Myungsoo terhenyak, mengapa Naeun sampai berkata seperti itu? Apa yang telah Sungyeol lakukan padanya? Namun jika Myungsoo boleh menduga, sepertinya Naeun takut identitas aslinya sebagai seorang penyihir disebarluaskan oleh Sungyeol. –dan..yah, dugaan Myungsoo benar, karena naluri kuatnya sebagai suami Naeun-.

“ Aku tak ingin hanya aku yang berjanji. Aku ingin kita sama-sama memegang janji itu.”ucap Myungsoo sengaja, agar jika suatu saat Naeun tahu bahwa ia adalah L, gadis itu tak bisa meninggalkannya. Meski kemungkinan besar Naeun akan melanggar janjinya.

“ Ya. Aku setuju.”Naeun mengangkat kelingkingnya tanda siap memegang janji itu.

“ Ayo ucapkan janji itu bersama.”Myungsoo mengangkat kelingkingnya dan mengaitkannya pada kelingking Naeun.

 

“ Kim Myungsoo dan Son Naeun, tidak akan saling meninggalkan satu sama lain, apapun yang terjadi..”

 

Keduanya tersenyum, menguatkan tautan kelingking mereka dan mendekat, mengakhiri pengucapan janji mereka dengan ciuman rasa kimbap..

***

Evening, 04.50 PM..

 

“ Lee Jiwon!!! Ah! Kemana saja kamu?? Aku rindu sekali.. sudah sekitar empat hari kita tidak bertemu. Iya kan??”

Jiwon sedikit terlonjak dari tempat tidurnya, terkejut dengan kedatangan Eunji yang tiba-tiba. Ia hanya bisa tertawa canggung sementara jantungnya berdebar keras karena rasa rindu sekaligus bersalah dalam benaknya. Ia tak menyangka Eunji masih bisa ceria meski sudah mengalami kejadian yang hampir mengancam kehormatannya.

“ Jiwon juga baru masuk sekolah hari ini. Kalian kompak sekali ya!”kata Bomi pada Eunji seraya membantu gadis itu meletakkan tas-tasnya, membuat Jiwon berpikir nampaknya Eunji kembali lagi ke kamar mereka.

“ Iya. Kenapa bisa pas sekali ya? Memangnya kau kemana?”tanya Eunji pada Jiwon yang sejak tadi salah tingkah.

“ Ng..anu..aku…aku terpaksa bekerja full time empat hari kemarin.”jawab Jiwon berbohong, karena memang selama ini ia mengatakan pada Bomi dan Eunji bahwa ia bekerja di sebuah toko bunga.

“ Oh ya? Kalau begitu mengapa tidak izin ke sekolah? Kau kena alpa loh.”kata Bomi tak habis pikir.

“ Sudahlah biar saja, aku malas izin-izin, birokrasinya berbelit-belit.”jawab Jiwon seadanya, namun membuat Eunji tertawa.

“ Lalu mana hasil kerja full time-mu?”tanya Bomi iseng, namun Jiwon benar-benar mengeluarkan sesuatu dari laci mejanya.

“ Ini saja. Tapi ini untuk Eunji.”Jiwon mengeluarkan satu buket bunga dan menyerahkannya pada Eunji. Bukan sekedar oleh-oleh, namun ada permintaan maaf juga disana, meski Eunji tak tahu.

“ Ahh.. bagus sekali!!” wajah Eunji nampak berbinar, tanpa canggung ia lantas memeluk Jiwon, “…kau teman yang sangat baik. Terimakasih ya. Sebenarnya aku masih sakit, tapi setelah menerima bunga ini aku merasa seperti sudah sembuh!”

DEG.

Jantung Jiwon semakin berdebar. Rasa bersalah semakin merajainya, ia tak bisa membayangkan keceriaan Eunji yang seperti ini hilang begitu saja jika saat itu ia berhasil memperkosanya.

“ Hei! Kenapa hanya Eunji? Untukku mana??” Bomi cemberut, membuat Jiwon kebingungan mencari sesuatu yang bisa ia berikan.

“ Ada cokelat di dalam tasku, ambil saja sana.”kata Jiwon, karena hanya itu yang bisa ia berikan.

Bomi buru-buru membuka tas Jiwon dan mencari-cari cokelatnya, hingga ia menemukan sesuatu.

“ Wah, aku baru tahu kau menyimpan kaos laki-laki! Dan kau juga.. kau.. kau menyimpan rokok? Kau merokok?”

“ Eh? Sial!” Jiwon panik, ia lupa menyembunyikan kaos-kaos latihan dancenya serta beberapa bungkus rokok dari L. meski ia bukan perokok, akhir-akhir ini ia mencoba-coba batang tembakau itu karena depresi dengan berbagai media massa yang memberitakan skandalnya.

“ Itu.. itu bukan punyaku. Pemilik toko bunga menitipkannya padaku.”kata Jiwon beralasan, meski alasannya sama sekali tak bermutu.

“ Yah, aku percaya padamu. Mana mungkin perempuan merokok.”kata Eunji, membuat Jiwon merasa lega.

“…tapi kau menyimpan kaos laki-laki! Untuk apa?”sambung Eunji dibarengi anggukan Bomi, membuat Jiwon merasa panik lagi.

“ Ng.. anu.. anu.. eh, kau sedang apa kemari? Bukankah kau sudah pindah kamar?” Jiwon mengalihkan pembicaraan, membuat kedua gadis didepannya merasa sedikit kecewa karena pertanyaannya tak dijawab.

“ Eunji diperbolehkan keluar dari kamar gudang itu, Chorong sunbae yang mengizinkannya!”kata Bomi, Eunji hanya mengangguk membenarkan.

“ Wah..”Jiwon merasa sangat senang, itu artinya ia bisa melihat Eunji lebih sering lagi.

“…tapi.. Chorong?” Jiwon tersadar, mulai merasa sedikit bingung dan langsung merasa waspada, pasalnya ia masih ingat perkataan Bomi bahwa Chorong adalah seorang lesbian. Bagaimana jika hal ini Chorong lakukan hanya untuk menarik perhatian Eunji?

“ Aku tahu kau pasti curiga. Aku juga.”Bomi mendekat dan berbisik pada Jiwon, “…tapi kita tidak usah berpikir negatif dulu, yang penting maksud Chorong sunbae baik.”

“ Ya..ya.. aku mengerti.”

Tok..tok..

Tak lama, terdengar suara pintu diketuk. Eunji buru-buru berdiri dan membuka pintunya.

“ Chorong sunbae?”

“ Eunji? Kau ada disini?”

Jiwon dan Bomi buru-buru berdiri dan beringsut mendekati Eunji yang kini tengah berhadapan dengan Chorong yang datang ke kamar mereka sore itu.

“ Ya. Aku sudah pindah lagi kesini. terimakasih, sunbae. Maaf karena tadi siang tidak menemuimu, aku tahu seharian kau rapat untuk ulang tahun sekolah.”kata Eunji sopan sembari membungkukkan badannya.

“ Ya. Tidak apa-apa. Tapi.. tidak seharusnya kau pindah kesini.”kata Chorong hati-hati, gadis itu nampak grogi saat berbicara dengan Eunji. Apa mungkin karena ia benar-benar sudah tertarik pada gadis itu? Entahlah.

“ Mwo?  Jadi seharusnya aku pindah kemana?”tanya Eunji tak mengerti.

“ Aku memintamu untuk pindah ke..kamarku.”

“ Kamar sunbae??”

“ Tuh kan..tuh kan..”Bomi menyenggol-nyenggol Jiwon sembari berbisik, Jiwon juga jadi khawatir.

“ Jadi seharusnya Eunji pindah ke kamar sunbae? Hm.. aku ikuti perintah saja, sunbae. Tidak masalah.”kata Eunji enteng, justru ia merasa senang jika memang bisa pindah ke kamar Chorong, karena disana ada Naeun, ia bisa bertemu lagi dengan sahabat sehidup sematinya itu.

“ Bagus kalau begitu. Ayo pindah sekarang, biar kubantu membawakan barang-barangnya!”ucap Chorong bersemangat, ia langsung masuk dan mengambil beberapa tas Eunji, membuat gadis itu berpikir bahwa Chorong memang senior yang sangat baik.

“ Mianhae, Bomi-ah, Jiwon-ah. Aku harus pindah. Tapi aku akan sering-sering kesini”kata Eunji. Bomi mengangguk kesal sementara Jiwon nampak sangat kecewa, tetapi ia juga memikirkan kebahagiaan Eunji, ia tahu gadis itu pasti akan senang karena bisa bertemu lagi dengan Naeun.

*

 

“ Naeun-ah! Buka pintunya!”

Naeun beranjak dari meja belajarnya, menutup kamus sihirnya lalu sedikit memijat kepalanya akibat pusing memikirkan komposisi-komposisi ramuan yang bisa dijadikannya pembangkit orang mati. Sejak pulang sekolah ia terus berkutat dengan buku-buku ramuannya, namun tak juga ia temukan ramuan-pembangkit-orang-mati yang diinginkan Sungyeol.

Gadis itu membuka pintu kamarnya.

“ Hyer.. eh.. EUNJI?!” rasa lelahnya mendadak hilang saat melihat siapa yang berdiri di ambang pintu kamarnya. Rasanya seperti mimpi, setelah berminggu-minggu dijauhkan oleh Woohyun, kini ia bisa lagi melihat sosok sahabatnya itu.

“ Yeosh…eh..N..Naeun..~”Eunji tak kalah gembira, dengan airmata penuh haru ia dan Naeun pun berpelukan dengan amat erat bahkan sambil melompat-lompat saking senangnya.

“ Heh, sudah sudah! Biarkan kami masuk! Eunji harus membereskan barang-barangnya!” Chorong melepaskan pelukan mereka karena merasa sedikit..ehm, cemburu.

“ Kau pindah kesini??” Naeun nampak tak percaya, Eunji mengangguk semangat dan lagi-lagi mereka melompat kegirangan hingga membuat Chorong semakin muak.

“…ayo! Aku bantu beres-beres!! Setelah ini aku mau cerita banyak!”kata Naeun tak sabaran.

“ Aku juga!”sahut Eunji cepat, ia pun masuk ke kamar diiringi Chorong.

“ Terimakasih, sunbae. Kau yang meminta Eunji pindah kesini, kan?”bisik Naeun.

“ Ya. Tapi ini untukku, bukan untukmu.”jawab Chorong sinis kemudian berlalu dan mendekati Eunji, membuat Naeun sedikit tersentak.

 

“ Jangan bilang ini salah satu strateginya mendekati Eunji. Tidak akan kubiarkan, Chorong sunbae.”

***

Night, 10.30 PM…

 

Naeun dan Eunji belum bisa memejamkan mata mereka, meski harus berjejal-jejalan tidur bertiga diatas satu ranjang bersama Chorong, mereka tak bisa menyembunyikan rasa senang mereka karena bisa bertemu lagi. Berjam-jam waktu mereka habiskan untuk saling berbagi cerita, untuk hari itu mereka sepakat untuk saling bercerita pengalaman mereka yang menyenangkan dan baik-baik saja, seperti kebahagiaan mereka yang telah diangkat oleh dua keluarga yang berbeda. Mereka tak ingin berbagi kesedihan dahulu di hari pertama mereka bertemu lagi.

“ Aku tahu banyak yang harus kita saling ketahui, aku tahu berbagai hal buruk telah menimpamu. Tapi entah, aku belum siap mendengarnya hari ini.”ucap Naeun setengah berbisik karena ia berbaring tepat disamping Eunji, ia tak ingin membangunkan Chorong yang sudah tertidur pulas tepat di sebelah Eunji.

“ Ya. Aku juga tahu banyak rahasia yang ingin kau bagi padaku, tapi kurasa tempat ini tidak memungkinkan kita untuk mengobrol bebas.”jawab Eunji pelan.

“ Bagaimana kalau besok kita pergi bersama?”

“ Mwo? Tapi besok kan jam sekolah.. mana mungkin kita bisa keluar asrama.”

“ Bisa. Aku akan mengaturnya. Bagaimana kalau kita pergi piknik?”

“ Ide bagus. Hmm.. kalau boleh tahu, apa hal yang paling penting yang akan kau sampaikan padaku?”tanya Eunji penasaran, “…kudengar Kai sudah pindah sekolah. Apa kau akan bercerita tentang dia?”

Naeun terdiam, lalu menggeleng pelan.

“ Tidak, Jung Hyerim. Ada yang lebih penting. Tentang……”Naeun menggantung perkataannya karena mendadak takut melihat sesuatu yang terjadi didepannya.

“ Tentang apa?”tanya Eunji heran karena wajah Naeun nampak menatap miris kearahnya.

“ Tentang kau, dan..dia.”ucap Naeun sembari menunjuk kedua tangan Chorong  yang ternyata sedang melingkar di pinggang Eunji.

Eunji terkejut, sedikit menoleh kebelakang, memastikan Chorong sudah tertidur pulas.

“ Hei, mengapa dia memelukku?”

*****

Esok harinya…

 

“ Jadi sekarang kau berpacaran dengan D.O sunbae? Kukira kemarin kau hanya bercanda..”

Naeun mengalihkan pandangannya dari pegunungan di depannya dan menatap Eunji yang duduk disampingnya. Yang ditatap sejenak menunduk dan berhenti memakan perbekalan pikniknya.

“ Ya. Aku menerimanya. Bahkan besok aku akan berdansa dengannya di acara ulang tahun sekolah.”jawab Eunji singkat.

“ Kau..sudah..melupakan Howon?”tanya Naeun hati-hati.

“ Kesannya begitu ya?”

“ Tentu saja, menerima yang baru sama dengan melupakan yang lama, kan?”

“ Aku lelah, Yeoshin. Aku dan Howon memang tak bisa bersatu. Dunia kita sudah berbeda, sudah saatnya aku move on. Howon tak mungkin menemuiku kesini, dia kan bukan penyihir yang bisa melakukan ini itu.”

“ Jadi kau tidak mencintainya lagi?”

“ Yah.. tidak begitu juga. Malahan, sampai saat ini rasa bersalahku padanya masih saja ada. dan bahkan aku sudah kualat karena melanggar janjiku dengannya.”

“ Kualat? Maksudmu?”

“ Apa kau tahu perkembangan media massa akhir-akhir ini?”

“ Yaa.. semua memberitakan tentang artis bernama Hoya itu kan? Kurasa itu tidak penting, memangnya kenapa?”

“ Itu penting, Yeoshin. Gadis yang hampir diperkosa oleh artis sialan itu adalah aku.”

EHEK!

“ APA!? KAU!?” Naeun mendadak tersedak makanan piknik yang sedang ia makan, ditatapnya Eunji dengan tak percaya. “…benar ini kau!? Bukan gadis bernama Bang Minah yang disebutkan dalam media massa?!”

Eunji menggeleng, “ Minah yang menolongku, dan setelah itu aku bilang aku tak mau tampil di depan orang banyak dan mengaku. Aku tak ingin berurusan dengan media. Dan ternyata..Minah mau berkorban untukku.”

“ Astaga. Lancang sekali si Hoya itu! Sebenarnya apa modus dia berbuat seperti itu!? Apa perlu kusihir dia jadi katak?! Biar media semakin ramai!” Naeun kesal dan menggenggam tongkat sihirnya kuat-kuat.

“ Sudahlah, Naeun. Aku baik-baik saja. Aku hanya perlu berterimakasih dengan Minah sekarang.”ucap Eunji tenang, “…hmm.. ngomong-ngomong tentang penyihir, kau masih sering menggunakan tongkatmu untuk melakukan sesuatu?”

“ Ooh..  tidak. Aku hanya membawanya untuk berjaga-jaga saja. Aku berada di bawah ancaman Sungyeol sunbae, dia sudah tahu penyihir.”

“ APA!? Dia sudah tahu!? Bagaimana bisa!?”sekarang Eunji yang terkejut, dan ketika mendengar nama Sungyeol, entah mengapa sakitnya luka-luka yang Eunji terima saat ia dianiaya terasa lagi. Meski Eunji benar-benar telah lupa dengan apa yang ia alami.

“ Dia seorang cenayang dan pernah memergoki aku membuat ramuan portal.”

“ Tidak mungkin.. lalu..lalu mana ramuan portalnya!? Kau berhasil membuatnya!?”

“ Aku berhasil membuatnya. Tapi…ramuannya..hilang.”

“ Hah!?” Eunji makin terkejut saja, “…Sungyeol sunbae mengambilnya!?”

“ Bukan..bukan dia. Aku tidak tahu. Saat Sungyeol sunbae pingsan karena dipukuli oleh Myungsoo sunbae, aku masih memegang botol ramuannya.”

“ Jadi Myungsoo sunbae yang mengambilnya?”

“ Hei! Kau ini bicara apa!? Mana mungkin dia..”Naeun sewot. Padahal pada kenyataannya memang Myungsoo yang mencurinya untuk membuang Kai ke negeri Junghwa.

Eunji terdiam sekarang. Nampak memikirkan kata-kata yang sekiranya tidak menyinggung sahabatnya itu.

“ Kau percaya sekali dengan Myungsoo sunbae. Kau tidak pernah merasa curiga sedikitpun padanya?”

“ Maksudmu?”

“ Hmm..maksudku.. aku..aku sedikit tak percaya saat mendengar kau sudah berpacaran dengannya. Kau..kau tahu maksudku kan?”

“ Memangnya kenapa?”

“ Kau lupa Hyoyeon pernah mengatakan sesuatu padamu sebelum kita pergi ke dunia ini?”

Naeun mencoba mengingat-ingat, hingga setelah itu wajahnya mendadak murung dan pucat, ditatapnya Eunji dengan kesal karena sahabatnya itu sudah membuka kembali luka lamanya.

“ Tentang perenggutan aura yang dilakukan L lewat mimpi itu?”tanya Naeun pelan.

“ Bagus kalau kau masih ingat.”

“ Padahal aku tak ingin mengingatnya.”

“ Kau harus mengingatnya. Hyoyeon yang memintamu untuk begitu, kan? Agar kau bisa berhati-hati dan curiga terhadap siapapun yang mengaku menyukaimu.”

“ Jadi maksudmu aku harus curiga pada Myungsoo sunbae!?”nada suara Naeun meninggi.

Eunji mulai merasa bersalah karena telah membuat sahabatnya marah dan membuat keruh suasana piknik mereka yang seharusnya menyenangkan. Tapi ia tetap melanjutkan perkataannya karena hal itu memang penting untuk Naeun.

“ Maaf jika aku terlalu jujur. Ya, kau memang harus curiga padanya. Meski ia kelihatan begitu baik karena ia adalah sisi baik L. tapi.. apa kau tidak heran mengapa ia menyukaimu? Bukankah auramu sudah dimiliki L seutuhnya?”

“ Mungkin sisi baiknya juga bisa merasakan aura itu.”ucap Naeun beralasan.

“ Tidak. Hyoyeon tidak pernah menjelaskan hal itu.”

“ Jadi pada dasarnya kau tidak suka aku berhubungan dengan Myungsoo sunbae!? Begitu!?”tanya Naeun sengit, membuat Eunji tersentak.

Baiklah, perdebatan dimulai.

“ Bukan tidak suka. Aku hanya ingin kau waspada. Apalagi sebelumnya Myungsoo sunbae dikabarkan hilang di gunung, kau tidak curiga mengapa ia datang tiba-tiba?”

“ Tentu saja tidak, dia sudah bercerita bagaimana ia kembali kesini!”

“ Bagaimana kalau itu hanya..skenario?”

“ Pikiranmu terlalu negatif, Hyerim!”

“ Aku berpikir senegatif ini demi kebaikanmu. Akhir-akhir ini aku sering curiga. Meski aku sendiri sedang banyak masalah, aku terus memikirkanmu. Berpikir apa yang Myungsoo sunbae lihat darimu kalau kau saja tidak punya aura lagi untuk memikat lelaki manapun.”

Seandainya saja Eunji benar-benar melihat mayat yang disimpan Sungyeol saat itu, tentu saja ia sudah bisa memastikan Myungsoo yang masih hidup saat ini adalah L. Tetapi ingatannya yang sudah dibuang oleh Sungyeol membuatnya kesulitan. Hanya rasa curiga dan feeling yang kuat kini tertanam dalam benaknya.

“ Jangan bilang kau menduga Myungsoo sunbae adalah…..”

“ L. sebenarnya aku sendiri tidak yakin, tapi..feelingku berkata demikian.”ucap Eunji hati-hati, karena menyebut nama penyihir biadab itu di depan Naeun bisa membuat sahabatnya itu mendadak paranoid.

“ Tidak! Tidak.. Myungsoo adalah Myungsoo. L ada di negeri Junghwa, ia tak mungkin kesini!”

“ Tapi dia penyihir, Yeoshin. Jangan kau kira hanya karena dia tidak bisa membuat ramuan, dia menyerah mencarimu. Dia licik, bisa menggunakan cara yang lain. Dia penyihir yang hebat, kau tahu itu kan?”

“ Tidak!!!! Tidak mungkin! Kau hanya ingin menakutiku, iya kan!!??” Naeun mendadak depresi, ia takut sekali jika memang perkataan Eunji benar adanya.

“ Tapi Yeoshin, coba pikirkan hal ini baik-baik. Ini demi kebaikanm…….”

“ CUKUP! Aku kecewa padamu!” Naeun memotong dan berdiri dengan tangan mengepal, ia sudah terlalu percaya dengan Myungsoo dan memutuskan untuk tutup telinga mendengar peringatan Eunji yang sebenarnya penting untuk ia camkan.

Gadis penyihir itu memasuki mobil mewahnya dengan marah, meninggalkan Eunji dan tak peduli akan pulang dengan apa sahabatnya itu.

Mata bening Eunji berkaca-kaca, merasa bersalah karena telah mengacaukan piknik mereka, namun lebih merasa kecewa karena Naeun tak lagi mendengarkan perkataannya dan lebih percaya pada Myungsoo.

 

“ Eunji-ah? Kau kenapa? Hei.. kau sedang piknik sendirian?”

Eunji terkejut karena tak lama kemudian seseorang menemukannya, ia kira tempat yang ia dan Naeun pilih untuk piknik sudah tepat dan jauh dari sekolah.

“ Chorong sunbae?”Eunji segera berdiri dan menghapus airmatanya, “…aniya, aku dengan Naeun. Hanya saja.. dia sudah pergi.”

“ Pergi? Hei!! Adikmu itu aneh sekali! Mengapa dia meninggalkan Eunji sendirian disinI!?” Chorong langsung berteriak kearah mobil yang terparkir tak jauh dari tempatnya berdiri, rupanya ia datang bersama Woohyun.

“ Mana kutahu. Baguslah kalau begitu, kurasa Naeun memang tak mau lagi bersahabat dengan dia.”jawab Woohyun sinis.

“ Ehm.. sunbae.. mengapa bisa menemukanku disini?”Eunji mencoba tak peduli dan berbasa-basi.

“ Kebetulan lewat saja, aku dan Woohyun sedang mencari kembang api ntuk puncak perayaan ulang tahun sekolah besok.”

“ Ooh.. begitu.”

“ Mau ikut pulang ke asrama dengan kami?”

“ TIDAK BOLEH!”teriak Woohyun dari dalam mobilnya.

“ Benar tidak boleh!? Baiklah.. besok akan ada berita besar!”balas Chorong, dan Eunji sama sekali tak mengerti apa maksudnya.

“ Eh.. y..ya.. ya cepat masuk!”Woohyun mendadak menyerah dan terpaksa mengizinkan.

“ Kajja..”Chorong merangkul dan memegang tangan Eunji dengan lembut, membawa gadis itu masuk ke dalam mobil Woohyun.

Tak peduli dengan rasa risihnya, Eunji menatap jalanan yang lengang dengan sedih, menyesali Naeun yang sudah pergi meninggalkannya.

 

“ Jika sesuatu yang buruk terjadi padamu. Jangan cari aku lagi, Son Yeoshin..”

*

 

Saturday Night, 09.00 PM…

Junghwa High School’s Birthday Party

 

Seluruh siswa Junghwa High School nampak sudah berada di dalam aula bersama pasangan mereka masing-masing.

Pesta dansa dalam rangka hari ulang tahun sekolah sudah dimulai lima belas menit yang lalu, namun Nam Woohyun, sang president school masih resah menunggui Chorong yang belum juga datang.

“ Hai, orang kaya. Mau berdansa denganku?”

Seseorang datang dan mengulurkan tangannya kearah Woohyun, membuat lelaki itu spontan bergidik.

“ Tidak mau! Dasar gay! Ajak saja Myungsoo!”

Sungyeol tertawa, “ Kau merasa jijik dengan gay, seharusnya kau juga jijik dengan lesbian seperti Chorong.”

“ Dia sudah normal.”

“ Benarkah? Lalu itu apa?”Sungyeol menunjuk kearah pintu masuk aula, terlihat Chorong memasuki gedung dengan mengaitkan lengannya dengan lengan Eunji. Kedua gadis itu nampak cantik dengan gaun mereka masing-masing, terlebih Eunji yang memakai gaun putrinya dari negeri Junghwa, membuat semua mata tertuju pada mereka. Namun tak hanya sekedar kagum, tapi juga merasa aneh dengan kehadiran mereka yang terlihat seperti pasangan.

“ Gila. Tidak bisa kubiarkan!” Woohyun meletakkan gelas winenya dan segera berjalan menuju Chorong sebelum orang-orang mengira yang tidak-tidak.

“…Park Chorong, ayo.”tanpa banyak basa-basi Woohyun meraih tangan Chorong, berusaha memisahkan kekasihnya itu dengan Eunji. Namun tak disangka-sangka Chorong menolak dengan tegas.

“ Kita sudah sering berdansa bersama, aku ingin dengan Eunji!”jawab Chorong, membuat orang-orang semakin berpikiran negatif.

“ Mwo? Jadi kita akan berdansa?”Eunji sendiri kaget, sejak tadi ia pasrah saja diajak oleh Chorong karena ia memang tak punya teman untuk menghadiri pesta. Bomi mendapatkan uang dan memilih untuk menonton Seoul Dance Competition live, bahkan ia juga punya niat buruk untuk mencelakai Minah karena kekesalannya dengan skandal yang menimpa Hoya. Salah satu alasannya tidak hadir dalam pesta di sekolah pun karena ia tidak punya pasangan.

Lalu kemana D.O?

Eunji kesal sekesal-kesalnya, sebelumnya D.O sudah berjanji akan ikut hadir di acara pesta dan berdansa dengannya, namun tadi sore D.O merubah keputusan secara mendadak dengan beralasan ia memiliki urusan penting di luar sana, entah apa itu.

Ingin mengajak Jiwon tak mungkin, tentu saja karena ‘gadis’ itu sedang berubah menjadi Hoya dan tampil di Seoul Dance Competition malam ini.

“ Jadi.. aku harus berubah tak normal dulu agar tidak kesepian malam ini? Hah..” Eunji tak bisa membayangkan jika ia harus berdansa dengan Chorong, kalau begini lebih baik ia ikut saja dengan Bomi yang mengajaknya menonton Seoul Dance Competition, hitung-hitung bisa balas dendam dengan melempar Hoya dengan tomat ketika artis itu tampil.

“ Kajja, kita dansa bersama.”Chorong mengajak Eunji ke tengah-tengah aula sembari menyingkirkan Woohyun dari hadapannya. Padahal Woohyun sudah tampil maksimal malam itu, Eunji yang benci saja mengakui dalam hatinya kalau malam ini Woohyun begitu tampan.

“ Hei, Chorong.. apa kau sudah gila!?”Woohyun tak terima, namun Chorong membungkamnya dengan satu ancaman.

“ Kalau kau tak mau aku mengumumkan berita besar tentang itu, menurut saja!” bisik Chorong, membuat Woohyun terdiam dan merelakan gadis itu mengajak Eunji berdansa.

Eunji semakin penasaran saja, ada rahasia apa diantara Woohyun dan Chorong?

*

 

“ Astaga! Naeun, kukira kau sudah ke aula duluan. Rupanya kau masih disini!”

“ Oh my.. kepala sekolah!” Naeun terkejut ketika mendapati sang kepala sekolah muncul di ambang pintu kamarnya, gadis itu bahkan refleks bersembunyi dibalik lemari karena malu. Mengapa kepala sekolah sampai-sampai mengunjunginya?

Haeyeon –atau Taeyeon- tertawa kecil, gemas dengan menantunya yang begitu polos dan pemalu. Wanita itupun memasuki kamar dan menarik Naeun yang meringkuk dengan wajah merah padam dibalik lemari.

“ Ada apa, cantik? Mengapa bersembunyi?”tanya Taeyeon heran, ia segera membantu Naeun berdiri, “…kemana Eunji dan Chorong?”

“ Mereka sudah berangkat duluan. Hmm.. kepala sekolah, ada apa kau kemari?”jawab Naeun malu sembari terus memegangi gaun hitamnya yang belum selesai ia pakai dengan sempurna. Eunji dan Chorong memang meninggalkannya karena ia memakai gaun terlalu lama. Karena Chorong tak lagi simpatik padanya dan Eunji yang sedang berselisih dengannya, tak satupun dari mereka yang membantu Naeun berdandan dan memasang gaunnya.

“ Yah, mengapa mereka meninggalkanmu? Aku kesini karena Myungsoo mencarimu. Dia sudah tak sabar ingin berdansa denganmu. Aku juga tak sabar ingin melihat kalian berdansa.”

Wajah Naeun semakin bersemu merah, “ Wah.. aku menyesal membuat Myungsoo sunbae menunggu lama sampai kau mencariku kesini. maaf, kepala sekolah.”

“ Gwenchana. Kalau boleh tahu mengapa kau lama sekali?”

“ Ng.. ini..” dengan malu Naeun menunjukkan gaun hitam elegan-tipisnya yang sedikit complicated, “…Woohyun oppa membelikan gaun ini saat di Amerika kemarin, gaunnya aneh dan aku.. tidak tahu caranya memakainya, hehe.”

“ Hahaha. Kasihan sekali. Sini kubantu.” Taeyeon tertawa kecil dan langsung membantu Naeun memasang gaunnya sementara gadis itu menyisir dan menata rambut indahnya.

“ Kurasa gaun ini terlalu tipis dan pendek. Aku malu..”

“ Memang. Tapi Myungsoo pasti akan menyukainya.”

“ Hm, semoga saja.”

“ Selesai! Wow.. kau cantik sekali.”Taeyeon nampak kagum, Naeun benar-benar tampil maksimal malam ini, membuat seorangpun pasti tak menyangka bahwa gadis itu adalah seorang penyihir.

*

“ L, lihat siapa yang datang.”setibanya di halaman depan aula, Taeyeon berjalan pelan dan menepuk bahu Myungsoo yang berdiri membelakanginya lalu berbisik pelan ke telinga anaknya itu.

Myungsoo berhenti memainkan tongkat sihirnya, segera dimasukkannya tongkat itu dibalik jas hitamnya lalu ia berbalik untuk melihat.

 

“ S..Son..Son.. Yeosh.. aaa!! Naeun! Ya.. Naeun..” Myungsoo buru-buru tersadar ketika Taeyeon menginjak kakinya. Jangan sampai Naeun mendengar Myungsoo menyebut nama aslinya.

“ Sunbae.. kau tampan sekali.”Naeun malah memuji Myungsoo duluan, terpesona melihat Myungsoo yang nampak rapi dengan setelan jas dan celana hitam malam itu. Sedikit mengingatkannya pada L, namun tak mengurangi kekagumannya.

“ Kau..kau..cantik sekali.”

“ Terimakasih.”

“ Bisa kita masuk dan berdansa..sekarang?”

Naeun mengangguk, menyambut tangan Myungsoo dan bersiap memasuki aula.

“ Jangan lupa untuk pergi saat pesta kembang api sudah mau dimulai.”Taeyeon mendekat dan berbisik. Ia dan Myungsoo memang sangat menghindari kembang api –seperti yang dikatakan Krystal bahwa penyihir jahat membenci kembang api-

“ Taeyeon.”Myungsoo membalas bisikan Taeyeon.

“ Apa?”

“ Apa Naeun juga takut dengan kembang api?”

Taeyeon menggeleng, “ Ini adalah letak keistimewaannya. Sebagai penyihir yang baik, selain tidak punya sisi jahat, Naeun juga tidak takut pada kembang api. Karena kembang api hanya akan menghisap energi jahat yang ia tidak punya.”

“ Gawat. Bagaimana jika dia mengajakku melihat kembang apinya?”

“ Kau harus pergi, bagaimanapun caranya.”

“ Jadi aku harus meninggalkannya?”

“ Terserah. Yang jelas, malam ini perlakukanlah istrimu dengan jahat.”

“ Tidak dengan baik?”

“ Kau terlahir untuk menjadi jahat, jadi aku tak pernah mengizinkanmu untuk berbuat baik.”

“ Jadi apa yang harus kulakukan untuk memperlakukannya dengan..jahat?”

“ Ck, jangan banyak tanya. Biasanya kau punya banyak ide untuk berbuat jahat lebih dari aku.”Taeyeon sedikit mendorong Myungsoo karena sejak tadi anaknya itu tidak masuk-masuk juga ke aula.

“…malam ini Yeoshin sangat cantik, sama seperti di hari pernikahan kalian dulu. Kurasa kau tahu apa yang bisa kau lakukan padanya.”bisik Taeyeon untuk terakhir kalinya sebelum ia menghilang.

Myungsoo menatap Naeun yang nampak jenuh menungguinya di pintu masuk aula, ditatapnya gadis itu dari atas ke bawah sembari memikirkan kata-kata terakhir Taeyeon barusan.

 

“ Perlakukan dia dengan jahat. Baiklah.”

***

11.45 PM…

 

“ Pesta kembang api akan dimulai lima belas menit lagi. Untuk menutup pesta dansa, lampu aula akan dimatikan selama beberapa detik, dan kalian diizinkan untuk mencium pasangan kalian!”

Aula mendadak riuh ketika kepala sekolah memberi pengumuman dari atas panggung aula, karena baru kali ini kepala sekolah mereka yang dianggap berwibawa itu memberi mereka perintah yang menyimpang seperti ini.

Namun siapa yang tahu hal ini dilakukan Taeyeon agar ia dan Myungsoo bisa kabur saat aula dalam keadaan gelap? Ia memang penyihir yang jenius.

Myungsoo sudah membaca-baca mantra saja dalam hatinya agar ia bisa menghilang pada saat yang tepat, sedikit kasihan juga pada Naeun yang sepertinya sudah tak sabar ingin melihat kembang api setelah sesi berciuman massal ini.

BET!

Aula mendadak gelap dan suasana begitu hening, hanya sedikit terdengar suara-suara ‘aneh’ dari beberapa pasangan yang berdiri tak jauh dari Myungsoo dan Naeun.

Naeun sudah memejamkan matanya sejak sebelum lampu dimatikan, namun hingga saat ini ia sama sekali tak merasakan lembut bibir Myungsoo menyentuh bibirnya. Tangannya bahkan sampai meraba-raba kesana kemari.

Dan ketika ia membuka matanya saat lampu dinyalakan kembali, Myungsoo sudah menghilang dari hadapannya, membuatnya bingung sekaligus kecewa.

“ Sunbae..kau kemana?”

***

BRUK!

“ Aish.. eh.. dimana ini!?”

L terkejut ketika mendapati dirinya muncul di ruang bawah tanah milik Sungyeol, bahkan tepat di depan mayat Myungsoo dan Haeyeon. Bulu kuduknya mendadak berdiri semua.

“ Brengsek! Aku salah mantra!” umpatnya, namun bisa sedikit bernafas lega karena berhasil menghilang dan menghindari kembang api yang sebentar lagi akan menghiasi langit malam.

L berdiri, memutuskan untuk keluar namun matanya kembali terpaku pada jasad Myungsoo yang tersenyum, apa karena mayat Kim Haeyeon datang menemaninya? Entahlah.

Hingga setelah menatap jasad Myungsoo lama kelamaan, L teringat sesuatu.

Kertas yang ia temukan di saku pakaian Myungsoo seminggu yang lalu, surat balasannya atas surat cinta Chorong.

L merogoh saku jasnya, mencari-cari kertas tersebut. Selama ini ia terus membawa surat itu kemanapun ia pergi, namun sama sekali belum ia baca surat tersebut karena masih belum siap menerima masalah baru jika isi suratnya tidak sesuai dengan keinginannya.

Namun malam ini, sepertinya L harus tahu apa isinya agar ia bisa memperlakukan Chorong dengan seharusnya. Ia sedikit merasa bersalah karena melihat Chorong bersama Eunji di pesta barusan, ketidak-normalan Chorong kembali kumat tentu karena dirinya.

Perlahan, L membuka surat tersebut, senyum di wajah tampannya mengembang ketika menatap tulisan Myungsoo yang begitu rapi dan indah, menunjukkan kepribadian sang penulis yang baik dan lembut.

 

Teruntuk gadis cantik yang kukenal ceria namun memiliki segudang rahasia pahit, Park Chorong..

Maaf jika tulisanku kurang rapi, aku menulisnya dalam keadaan menggigil karena udara di gunung begitu dingin. Tapi aku tak ingin menunda waktu untuk membalas suratmu, yang bagiku menjadi hal yang sangat penting setelah selesai membacanya.

 

Terimakasih atas puisimu yang indah, Chorongie. Kemampuan menulis puisi menggunakan bahasa asingmu semakin meningkat, aku bangga padamu.

Dan apa kau tahu? Rasa banggaku padamulah yang membuatku sulit untuk merasa kecewa meski aku sudah tahu banyak hal  yang kau sembunyikan dari aku dan Sungyeol. Disaat kau sudah tenggelam terlalu dalam, kau baru mengungkapkan semuanya. Aku tak akan mempertanyakan mengapa kau tidak mengatakannya sejak dulu, karena semua sudah berlalu dan percuma.

Tahukah kau, Chorongie? Saat ini pena yang kupegang semakin panas dan membuat tanganku berkeringat, aku tak tahan ingin menulis berbagai hujatan untuk Woohyun yang sudah berani merenggut kehormatanmu. Namun karena kau memintaku untuk tetap menjaga hubungan baik dengannya, aku mencoba menahan diri. Tapi jika sesuatu yang lebih buruk terjadi lagi padamu, aku tak akan segan menghadapinya, siapapun dia. Karena inilah tugasku sebagai sahabatmu, yang bahkan lebih kau percayai dari Sungyeol, dan aku berterimakasih untuk itu.

Lalu, bagaimana keadaanmu sekarang? Apa kau baik-baik saja? Aku tak bisa membayangkan kau terpaksa melakukan aborsi. Aku tahu kau gadis yang kuat, namun aku tak tega jika kau harus mengalami hal seperti ini. Aku begitu menyesal mengapa aku atau Sungyeol tak peka dengan keadaanmu. Apa mungkin kau yang pandai menutupinya? Disini letak kesalahanmu, Chorongie. Tapi aku tidak bisa menyalahkanmu karena jika aku yang berada di posisimu, mungkin aku akan melakukan tindakan yang sama.

Oh, ya. Mari kita tinggalkan sejenak masalahmu. Ini akan menjadi urusanku dengan Woohyun secara jantan. Tolong jangan lagi merasa khawatir karena aku akan melindungimu tanpa henti mulai saat ini.

Aku begitu senang ketika tahu kau mulai bisa membuka hati untuk lawan jenismu ketika kau mengenal aku. Karena memang itulah salah satu tujuanku merangkulmu sejak awal, aku ingin menghilangkan ketertarikan khususmu pada perempuan.

Meski pada akhirnya hasil yang kudapatkan adalah ini. Dimana perasaanmu jatuh kepadaku.

Mencintai dan dicintai adalah hak semua manusia, dan aku tidak bisa melarangmu, siapapun dirimu bagiku, bagaimanapun status yang ada di antara kita. Aku bahkan merasa bangga menerima kenyataan ini. Meski di sisi lain aku masih menyimpan rasa sesal karena Sungyeol..

Ya, Sungyeol. Sahabat kita yang satu itu.

Ia melakukan hal yang sama sepertimu, ia juga mengirimiku surat sebelum aku berangkat ke gunung, dan tanpa kuduga.. ia mengatakan bahwa hubungannya dengan Yookyung kandas bukan karena mantannya itu pindah ke Amerika, tapi karena Sungyeol…

Jatuh cinta padaku. Bukankah ini gila?

Ketika aku membaca surat darimu, aku berpikir kau dan Sungyeol sedang mengerjaiku. Bagaimana bisa orang biasa seperti aku merubah seorang lesbian menjadi normal, dan merubah seorang yang tadinya normal menjadi gay? Rasa bangga dan menyesal bercampur aduk dalam hatiku. Tapi aku kembali pada pernyataanku, bahwa semua manusia memiliki hak untuk mencintai dan dicintai.

Namun jika aku harus memilih, tentu saja aku memilih yang lebih tepat untukku, dan untuk kita semua.

Aku ingin kau dan Sungyeol menjadi normal, dan apapun akan kulakukan untuk itu. Agar orang-orang tak memandang kita dengan sebelah mata lagi.

 

Terutama untukmu, Park Chorong. Jika kesembuhanmu kau percayakan padaku, aku akan menjadi kekasih dan pelindung yang baik bagimu. Tak peduli kau sudah disentuh oleh Woohyun, aku akan belajar mencintaimu dan membuatmu bahagia.

Jangan menangis lagi, aku hanya hiking sebentar di gunung dan aku akan membawakan bunga untukmu ketika aku kembali.

 

Yang selalu mengutamakan kebahagiaanmu,

Kim Myungsoo

 

“ Terlambat. Lagipula kau bodoh, Myungsoo. Chorong sudah tidak suci lagi, mengapa kau mau menerimanya!?”

L melipat kertas suratnya sembari meminimalisir rasa syoknya dan menatap heran kearah jasad Myungsoo, tak habis pikir mengapa sisi baiknya itu memiliki hati yang terlalu mulia.

“…sebelum kenyataan ini diketahui orang lain, aku harus membuangnya!”

*

Pesta kembang api sudah dimulai, seluruh siswa sudah berkumpul di lapangan sesuai perintah Woohyun selaku president school, nampak bersemangat dan kagum menatap puluhan kembang api yang menghiasi langit. Meski sudah badmood karena selama pesta Chorong berdansa dengan Eunji, Woohyun tetap memimpin acara.

Naeun nampak memojok di pintu barat aula sendirian karena Myungsoo pergi meninggalkannya saat lampu aula dimatikan sejenak. Ingin menghampiri Woohyun ia takut karena kakaknya itu sedang bersama Sungyeol, ia hanya tak mau Sungyeol menagih ramuan pembangkit orang mati itu padanya karena ia sama sekali belum menemukan komposisinya.

Saat ini mata indah Naeun tertuju pada Eunji yang duduk dengan canggung bersama Chorong di pinggir lapangan. Wajah Eunji nampak pucat karena saat lampu aula dimatikan, Chorong benar-benar menciumnya. Naeun sangat prihatin dan ingin menolong sahabatnya itu, namun pertengkaran mereka saat piknik kemarin membuatnya gengsi.

Meski demikian, Naeun terus waspada, ditatapnya Chorong yang saat ini memegang erat tangan Eunji. Sepertinya gadis itu ingin mengatakan sesuatu pada Eunji.

“ Sebaiknya kau putuskan saja D.O, dia bukan lelaki yang baik dan bertanggung jawab. Dia sama saja dengan Woohyun.”terdengar samar-samar suara Chorong memasuki rongga telinga Naeun.

“ Tidak semudah itu, sunbae..”jawab Eunji seadanya karena sudah merasa risih setengah mati. Hanya saja karena ia menghormati Chorong sebagai senior, ia terpaksa pasrah.

“ Tapi masih ada yang lebih baik dari dia.”

“ Siapa?”

“ Aku.”

“ Hah??” Eunji terkejut, Naeun semakin waswas saja.

“ Jung Eunji, kuberitahu kau. Lelaki di dunia ini sudah tidak ada lagi yang baik, mereka semua sama saja.”Chorong mulai mengeluarkan modusnya dan mencoba melakukan cuci otak terhadap Eunji.

“…lebih baik kau denganku saja. Kita sama-sama perempuan dan pasti akan lebih mengerti satu sama lain. Jika kau ingin menjadi namjannya, aku akan menjadi yeoja yang manis untukmu. Tapi jika kau ingin menjadi yeojanya, aku akan menjadi namja yang selalu melindungimu. Bagaimana?”

“ Haish!! Gila!!”Eunji terkejut, “…sunbae, kau sedang sakit?”

“ Tidak. Aku serius, Eunji. Aku..aku..m..me..menyukaimu.”

“ Ck, Lee Howon, kekasihmu terancam..”Naeun rungsing sendiri, berharap Eunji masih punya akal sehat dan menolak Chorong.

“ Aku tahu ini hakmu, sunbae. Tapi maaf, aku tidak bisa membalasnya. Sekalipun lelaki di dunia ini sudah habis, aku tak mungkin bersamamu. Sekali lagi dengan penuh rasa hormat, maafkan aku sunbae.”

Benar saja, Eunji menolak mentah-mentah, membuat wajah cantik Chorong mendadak muram dan meneteskan airmata bahkan terlihat depresi mendadak.

Dengan tatapan kosong, tanpa meninggalkan sepatah katapun Chorong berdiri, mengangkat gaunnya dan berlari menjauhi lapangan sambil menangis. Eunji hanya bisa diam karena masih tak menyangka, sementara Naeun yang penasaran justru melepas high heelsnya dan berlari mengejar Chorong…

*

 

BRUK!!!

“ Chorong?”

Myungsoo terkejut ketika seorang gadis muncul dari gerbang asrama dan berlari menabraknya hingga mereka sama-sama terjatuh.

“ Sedang apa kau disini?”gadis itu malah bertanya. Myungsoo terdiam, bingung untuk menjawab, hingga tanpa ia sadari Chorong memungut kertas yang jatuh di depan mereka.

“…apa ini? Suratmu? Untuk..aku?”

“ YA!! JANGAN!!” Myungsoo panik mendadak, namun Chorong segera menghindar dan menjauhkan kertas itu dari jangkauan Myungsoo, membacanya setengah mati karena penasaran.

“…Park Chorong! Berikan padaku!” Myungsoo mulai ketakutan karena Chorong serius membacanya. Namun meski sedang serius, Chorong tetap pandai menghindar darinya.

“ Kau..ini..sungguh?”Chorong nampak speechless, ternyata ia cepat juga membaca surat yang padahal cukup panjang itu.

“ T..tidak..b..begini..aku..”Myungsoo semakin gelagapan. Namun sebelum kalimat gagapnya selesai, Chorong mendekat dan memeluk tubuhnya.

“ Kau jahat, Myungsoo! Kau sudah mempermainkan perasaanku. Tapi aku bahagia, aku tak akan marah..”ucap Chorong dengan nada penuh haru, patah hatinya karena ditolak Eunji mendadak hilang dan berganti kebahagiaan setelah selesai membaca surat balasan tersebut. Ia memeluk Myungsoo erat, seakan tak ingin melepaskan lelaki itu.

“ Tapi Chorong..ini…”

“ Sstt.. aku tahu kau malu, aku juga malu.”Chorong memotong perkataannya dan mengeratkan pelukannya.

“…terimakasih sudah membalas cintaku, Kim Myungsoo..”

 

“ MYUNGSOO SUNBAE!? CHORONG SUNBAE??”

“ Yeoshin? Eh.. NAEUN?!” Myungsoo semakin kacau, mengapa kekasihnya itu harus ikut datang disaat-saat seperti ini? Tamatlah riwayatnya.

“ Sedang apa kau disini, Naeun!? Myungsoo hanya mencintaiku, dia menipumu! Lihat, dia membalas suratku!! Dia membalas cintaku!!!”teriak Chorong, gadis itu nampak kehilangan akal sehatnya karena terlalu bahagia dengan surat balasan yang baru saja ia baca.

Myungsoo menggeleng kuat, mencoba meyakinkan Naeun. Namun gadis itu sudah terlanjur menangis dan sakit hati, dengan tangan mengepal dan airmata berlinang ia pergi meninggalkan kedua seniornya itu.

“ AKU MEMBENCIMU, MYUNGSOO SUNBAE!!”

“ YA!!! Yeoshin!” Myungsoo panik, dengan sedikit rasa tega ia melepas pelukan Chorong dan berlari mengejar Naeun.

“ Kau mau kemana, Myungsoo!?”

“ Bukan urusanmu!!”

*

“ Tidak. Naeun.. dengarkan aku dulu..”

“ Apa? Semuanya sudah jelas! Seharusnya aku sadar dari awal, aku tidak pantas denganmu, kita terlalu cepat menjalin hubungan. Aku juga sadar mengapa Chorong sunbae benar-benar marah saat menemukan kita waktu itu, ternyata karena kalian…..”

Ucapan Naeun mulai tersendat, airmata mulai turun dan membasahi pipi mulusnya. Gadis itu bahkan semakin lemah untuk melanjutkan langkahnya. Ia menyandarkan tubuhnya di dinding koridor dan menangis sejadi-jadinya.

“ Dia milik Woohyun, jadi mana mungkin…….”

“ Tentu saja mungkin! Buktinya kalian bisa saling berkirim surat! Iya kan!?”

Suara Naeun semakin parau, airmatanya semakin deras. Jelas bahwa ia benar-benar cemburu. Dengan kuat Myungsoo memegang kedua bahunya.

“ Dulu saat kau masih suka pada Kai, apa pernah aku marah? Padahal kau sendiri tahu meski saat itu kita belum menjadi sepasang kekasih, aku sudah menyukaimu dari awal, hanya saja kau yang pura-pura bodoh.”

“ Tapi..tapi kan..”

“ Bahkan dulu kau sering bertanya tentang Kai padaku, meski aku sudah terlihat cemburu kau tetap melanjutkan ceritamu tentang Kai. Apa pernah aku marah saat kau seperti itu?”

Naeun terdiam, ingin mencoba melawan namun sadar perkataan Myungsoo ada benarnya.

“…dan sekarang, disaat semuanya belum jelas, disaat aku belum diberi kesempatan untuk mengklarifikasi, kau sudah semarah ini. Aku kira kau adalah gadis yang dewasa, yang menanggapi hal semacam ini dengan kepala dingin..”

“ Kalau aku memang belum dewasa bagaimana? Kalau kau ingin gadis yang dewasa, silahkan pilih Chorong sunbae.”ucap Naeun sinis seraya memalingkan wajahnya.

Myungsoo mencoba tenang. Sebisa mungkin ia tahan sifat aslinya yang jika dalam situasi seperti ini seharusnya sudah mencoba melakukan tindakan-tindakan tidak manusiawi terhadap Yeoshin. Dengan pelan ia alihkan lagi wajah cantik istrinya yang sudah berlumuran airmata itu kearahnya.

“ Maaf, aku tidak bisa. Aku hanya ingin denganmu, Son Naeun. Sebenci apapun kau padaku, sesering apapun kau menyakiti hatiku, seburuk-buruknya prasangkamu terhadapku, aku hanya mencintaimu. ini kesalah pahaman..”

Naeun menunduk, kembali menangis. Secinta itukah Myungsoo padanya? Perkataan lelaki itu membuatnya semakin tidak bisa mempercayai perkataan Eunji yang jelas-jelas sudah pernah disampaikan Hyoyeon sebelumnya.

“…jika memang auraku sudah hilang dan direnggut oleh L, mengapa masih ada yang jatuh cinta padaku? Bahkan orang itu adalah sisi baik dari penyihir biadab itu sendiri. Apa jangan-jangan mereka orang yang sama?”

Naeun mulai berpikir dalam benaknya, dan Myungsoo dapat membacanya.

“ Kurasa kau sedang memikirkan orang lain.”

“ Apa? Tidak!” Naeun buru-buru menjawab. Myungsoo tersenyum, sengaja menanyakan hal itu agar Naeun kembali beranggapan bahwa ia bukanlah L.

“ Jadi bagaimana?”

“ Bagaimana..apa?”

“ Kau percaya padaku, kan?”

Naeun menunduk dengan pelan-pelan menjauhkan Myungsoo dari hadapannya, bersiap untuk pergi.

“ Maaf, sunbae. Aku tidak tahu. Perkataanmu tentang sosok gadis yang dewasa membuatku merasa bahwa gadis yang kau cari adalah gadis seperti Chorong sunbae, bukan aku. Jadi.. permisi.”

Naeun bergegas meninggalkan Myungsoo sebelum airmatanya jatuh lagi.

Tetapi tentu saja Myungsoo tak tinggal diam, sebelum Naeun semakin jauh, ia menarik lengan gadis itu dengan sedikit paksaan setelah itu mendorongnya ke tembok dan segera memenjarakan gadis itu dengan kedua lengannya agar tak bisa pergi darinya.

Apa lelaki itu akan menjadi L untuk saat ini? Entahlah.

“ Ada apa lagi sun…—“

Ternyata Myungsoo tak tinggal diam, tangannya meraih jemari Naeun yang masih ada dalam jangkauannya, menarik tubuh gadis itu agar merapat di dadanya dan menguncinya dengan lengan kanannya. Satu tangannya menekan kuat leher belakang Naeun, dan ia segera memiringkan kepalanya, menjatuhkan bibirnya di bibir cherry Naeun dengan sengaja, memotong perkataan gadis itu dengan ciuman yang cenderung kasar dan terlalu seduktif.

Naeun mendorong tubuh lelaki itu sekuat tenaga hingga ciuman mereka terlepas. Bukan karena gadis itu menolak, tetapi ia hanya tak ingin melakukannya di tempat umum.

Tetapi Myungsoo rupanya tak peduli, tangannya merengkuh tubuh Naeun agar lebih dekat lagi padanya dan ia kembali memiringkan kepalanya, mencium bibir cherry Naeun dengan ganas tanpa memberi kesempatan gadis itu untuk bernafas. Kali ini Naeun tak bisa melepaskan diri, gadis itu memilih untuk memejamkan matanya, menikmati sentuhan gila dari Myungsoo dan berharap tak ada yang menyaksikan mereka.

Dengan bibir yang masih saling berpaut, Myungsoo menyeret Naeun, mendorong tubuh langsing gadis itu menuju pintu suatu ruangan yang masih terkunci, ketika ciuman mereka terlepas sejenak Myungsoo nampak kesetanan mencari dan menciumi lagi bibir Naeun dengan semakin memaksa agar gadis itu mau membalasnya.

“ S..sunbae.. enough.. sunbae..kau mau apa!??” Naeun berusaha untuk bicara, namun Myungsoo tak peduli dan justru menggunakan kesempatan itu untuk lidahnya memasuki mulut kecil Naeun. Sementara itu satu tangannya membuka kunci ruangan tersebut dengan terburu-buru.

 

“ Kurasa kau benar, Kim Taeyeon. Ini saat yang tepat sebelum dia membenciku lagi. Aku harus memperlakukannya dengan jahat.”

 

SKIP ! wanna read the ‘smut’ scene? Click here and enter the password.

(password : check on my twitter’s bio : @CitraTiwie)

******************************************************

 

Night, xx.xx PM..

 

Seorang gadis berjalan sembari merapatkan sweater hitamnya, menerobos udara dingin menyusuri koridor sekolah dengan kaki gemetaran dan peluh dingin membasahi pelipis putihnya. Tangannya nampak sibuk mengetik pesan singkat yang ia tujukan untuk kekasihnya.

“ Tunggu aku disana. Jangan kemana-mana.”

“ With pleasure, Son Naeun.”

 

Naeun mempercepat langkahnya ketika menerima pesan balasan dari Myungsoo yang sudah menunggunya di dekat laboratorium sekolah. Padahal yang ingin mengadakan pertemuan adalah Naeun. Ada hal penting yang harus ia sampaikan pada kekasihnya itu.

“ Pelan-pelan Son Naeun. Jangan menangis..”

Gadis itu mencoba menguatkan dirinya ketika ia hampir tiba di dekat laboratorium. Nampak sosok Myungsoo berdiri membelakanginya. Gadis itu tak kuat, tak tahu harus bicara mulai dari mana.

“ Sunbae.. sudah menunggu lama?”gadis itu berbasa-basi sembari meremas-remas sebatang alat kontrasepsi di balik punggungnya.

“ Tidak.”Myungsoo menjawab dengan singkat dengan tubuh yang masih tetap membelakanginya.

“ Sunbae..”

“ Hm?”

“ Apa aku mengganggumu?”

“ Kau mau bilang apa?”

“ Sunbae? Kau merokok?”Naeun terpaksa mengalihkan pembicaraan ketika menghirup asap yang membuat sesak paru-parunya. Terkejut karena baru kali ini melihat kekasihnya yang baik menghisap batang tembakau. Seperti.. L?

Aih, jangan ingat-ingat penyihir biadab itu disaat-saat seperti ini.

“ Kau mau bilang apa?”tanya Myungsoo, tak peduli dengan pertanyaan Naeun barusan.

Naeun semakin ragu saja, sedikit kesal dengan sikap Myungsoo yang sedikit berbeda –tidak menghargainya, merokok, dan tidak membalikkan badan saat berbicara-. Jangan bilang ini tanda-tanda lelaki itu tak mau bertanggung jawab. Naeun siap membunuhnya jika Myungsoo seperti itu.

“ Aku…”

“ Biar kutebak.”

“ Apa?”

“ Kau sedang terkejut dan bingung.”

“ M..maksudmu?”

“ Kau bingung mengapa kau hamil, iya kan?”

DEG.

Naeun mendadak tersentak. Bagaimana Myungsoo tahu?

“…kau rela kusentuh karena kau berpikir bercinta dengan manusia biasa tak akan membuatmu hamil. Iya kan?”

Perasaan Naeun semakin tak enak. Myungsoo membuatnya hampir jantungan, apakah lelaki itu sudah mengetahui identitas aslinya dari Sungyeol karena ia tak juga membuatkan ramuan pembangkit orang mati itu? Atau…

“…tapi sekarang kau hamil, iya kan?”Myungsoo melanjutkan perkataannya sembari tertawa misterius, membuat jantung Naeun semakin berdebar.

“ N..ne.. sunbae, aku..hamil.”ucap Naeun dengan airmata tertahan dan rasa penasaran yang sangat besar karena kemisteriusan Myungsoo saat ini. Ketika ia ingin mendekati lelaki itu, langkahnya terhenti saat Myungsoo membuang puntung rokoknya ke belakang, tepat di depan kakinya.

“ Kau tahu kenapa kau hamil?”

“ K..karena..”

 

“ Karena kau melakukannya denganku, Son Yeoshin.”

Lelaki itu berbalik dan menyunggingkan senyum sadis khasnya kearah Naeun, menunjukkan dengan terang-terangan kedua tato di leher dan dada bidangnya dengan membuka sedikit kancing kemejanya, membuat gadis itu mendadak melemas dan paranoid hebat.

L. Naeun bahkan tak berani menyebut namanya, wajah gadis itu benar-benar sudah memucat dan rasanya ingin mati saat itu juga.

Lelaki itu mendekatinya, menatap wajah cantiknya dan menyeringai.

 

“ Merindukan aku, istriku?”

 

_To be Continued_

 

Wow, what a long part ._.

Bagaimana, readers? Puaskah dengan part super panjang beserta bonus ensinya? Semoga puas karena author akan hiatus dalam waktu yang lama dan tidak bisa menjanjikan update cepat untuk part 11, yang sudah mendekati ENDING dari cerita ini. Jika ada yang kalian pertanyakan di part ini, sesuatu yang mengganjal dan sebagainya, akan author jawab di part 11^^

READ, LIKE, and COMMENT juseyo! Jangan jadi silent readers ya.. hargai author yang sudah sempatkan menulis ditengah kesibukan sebagai siswi kelas XII ini :’)

Okay, that’s all. See you later!! Doakan author yang sedang UAS dan akan Try Out ini ya. Semoga kita bisa cepat bertemu di part 11 🙂

Sekali lagi, thank you and RCL juseyo!! ^^

 

Next >> Part 11 : Reality

Advertisements

229 responses to “THE PORTAL [ Part 10 : The Scandals ]

  1. Pingback: THE PORTAL 2 [Before Story & Preview of Part 4] | citrapertiwtiw·

  2. Pingback: THE PORTAL 2 [ Part 4 : Secret Page ] | FFindo·

  3. aku skip aja deh yaa smut scene nya, soalnya aku cek dibio twitter ngga ada haha, ini kenapa eunji sama naeun udah jauhan, naeun nyesel dong waktu tau myungsoo itu L? aaaaa

  4. Pingback: citrapertiwtiw·

  5. Pingback: THE PORTAL 2 [Part 5 : Helpless] | FFindo·

  6. Pingback: THE PORTAL 2 [Part 5 : Helpless] | citrapertiwtiw·

  7. Pingback: THE PORTAL 2 [Part 6 : Destiny] | FFindo·

  8. Pingback: THE PORTAL 2 [Part 6 : Destiny] | citrapertiwtiw·

Leave a Reply to vivinvynrie Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s