Bloody Camp [Act 3]

20130516_exo_xoxo

“Could You Kill Your Best Friend?”

-Dapatkah kau membunuh sahabatmu sendiri ?-

ACT 1 | ACT 2 | ACT 3

Title : Bloody Camp

Author : Fruidsallad

Main Cast: Exo Members

Other Cast : Taecyeon (2PM), Yuri (SNSD), Naeun (APINK), Donghae (Super Junior), Mam Ah Bum (OC), Ji Beum (OC), Lee Sooman (SM)

Genre: Drama, Friendship, Brothership, Thriller, A Little Bit Comedy

Length : series

Rating : PG-15 (Akan terus naik seiring berjalannya waktu~)

Disclaimer: Cerita ini terinspirasi dari Battle Royale dan Hunger Games.

A/N: Haloo… Masih ingat dengan  cerita ini? Berharap semuanya masih suka dan baca  cerita ini hehe^^.  Chapter ini lebih panjang dari biasanya. Siapkan teh, kopi, dan roti untuk membacanya ya. Hehehe. Happy reading my lovely reader!

[BLOODY CAMP]

SM High School – Sebuah sekolah dipinggiran kota kecil Daejun. Sekolah ini berbeda dari sekolah yang lainnya. Karena di setiap angkatannya, sekolah ini hanya terdiri dari dua belas orang pria. Mereka tidak berdasarkan line atau umur yang sama. Sebagai contoh, seseorang yang lahir di tahun 1989 bisa satu angkatan dengan mereka yang lahir di tahun 1993. Sekolah ini hanya mementingkan kapasitas siswanya. Ya. Setiap tahun mereka harus mempunyai dua belas siswa, walaupun berbeda usia. Setidaknya itulah yang disyaratkan oleh Pemerintah Korea terhadap sekolah ini. Namun batas usia yang paling tua adalah 23 tahun. Karena harus diingat, ini adalah sekolah, bukan universitas.

Selain itu sekolah ini hanya menerima murid tiga tahun sekali. Setiap tiga tahun itu sekolah hanya harus memenuhi batas kuota yaitu dua belas siswa. Apabila dalam tiga tahun tersebut belum sampai dua belas, maka pihak sekolah harus mencari siswa agar dapat memenuhi persyaratan. Maka dari itu, tidak peduli apabila siswa itu telah dua tahun atau pun baru dua hari di sekolah ini, yang penting saat hari kelulusan, mereka berjumlah dua belas orang.

Selain itu orang yang masuk ke sekolah ini bukan berdasakan ujian tes tertulis maupun keterampilan , namun alasan yang lain yang membuat mereka ‘diharuskan’ masuk ke sekolah ini. Suatu saat nanti kau akan tahun alasannya.

~~~

Di salah satu ruangan di SM High School yang penuh dengan seperangkat alat komputer, proyektor, dan kursi yang berjejeran. Di setiap kursi, pasti ditemani dengan sebuah meja yang diatasnya terdapat komputer. Kau pasti tahu ini ruangan apa. Ya. Ini Laboratorium Komputer.

Disana terdapat dua orang lelaki sedang sibuk dengan komputer masing-masing. Mereka duduk bersebelahan dengan wajah serius. Salah satu diantara mereka sesekali melihat teman disampingnya. Ia tampak begitu serius memperhatikan temannya tersebut. Kemudian ia menghela napas.

“Kau capek ?” tanya temannya itu. Namun si ‘teman’ masih tetap sibuk menatap layar monitor tanpa melihat ke arah orang yang ditanyanya.

“Menurutmu?” yang ditanya berbalik bertanya. Lelaki berpostur tubuh tinggi yang memiliki ‘badge’ name bertuliskan ‘Park Chanyeol’ itu kembali berbicara,

“Kau yakin dengan rencana kita ini , Baekhyun ?”

Seseorang yang tadinya masih sibuk dengan ‘dunianya sendiri’ itu akhirnya menatap Chanyeol.

“Aku yakin sekali, Park Chanyeol.  Aku sudah hampir berhasil merubah peringkatnya. Kita tunggu lima menit lagi ya.”

“Kau gila, Baekhyun.”

Lelaki manis dan mungil  – yang dikatakan ‘gila’ oleh teman disampingnya itu – membulatkan matanya sempurna.

“Apa kau bilang ?”

“Kau gila, Baekhyun. Aku tak percaya kau berhasil merubahnya.”

Akhirnya Baekhyun – teman yang disamping Chanyeol tadi- tersenyum penuh kemenangan.

Hahahaha… Kau meragukan hacker handal sepertiku rupanya.”

Flashback

Di tengah malam yang sunyi, Dua orang tengah berbaring di ranjang mereka masing-masing. Dua orang tersebut adalah penghuni kamar dengan pintu bertuliskan “Park Chanyeol- Byun Baekhyun.”

Mereka memiliki ranjang bertingkat. Baekhyun yang berada diatas tampak sudah tertidur, sedangkan Chanyeol yang berada di ranjang bawah tampak mengendap-endap ke arah ranjang Baekhyun.

“Ssst…sssst.. Baek..Baek…” desis Chanyeol berharap Baekhyun berbalik dan melihatnya. Namun tidak ada jawaban.

“Baek…Baekhyun… Hei… Bangun…”

Masih belum ada jawaban.

“Baekhyun…”

Masih belum.

“Baekhyun…”

Chanyeol yang sedikit gusar akhirnya bangkit dari ranjangnya, berdiri dan meletakkan mulutnya di dekat telinga Baekhyun yang tengah tertidur lelap.

“Baekhyun!!!!!”

Sontak, Baekhyun terbangun.

“Hei kau, Park Chanyeol!  Apa yang kau lakukan hah?” gerutu Baekhyun,

Chanyeol  hanya tersenyum menampilkan gigi rapinya.

“Mianhae Baekhyun-ah. Aku hanya ingin berbicara denganmu. Dari tadi kau sudah ku panggil secara halus ternyata tak ada jawaban. Karena itulah, terpaksa aku berteriak di telingamu. Mianhae.”

“Cih!” Baekhyun sambil mengerutkan keningnya menatap Chanyeol terpaksa, “Ya sudah, kau mau berbicara tentang apa?”

“Aku ingin jujur padamu, Baekhyun.”

“Maaf aku ini namja sama sepertimu. Jadi aku tidak akan menerimamu.”

Chanyeol melotot,

“Bukan itu maksudku, Baek!”

“Lalu apa?”

“Aku ini malu.”

Tiba-tiba Baekhyun tersenyum tipis,

Haha. Akhirnya kau punya malu.”

“Baekhyun, kau lucu sekali.”

“Baiklah, lanjutkan apa yang ingin kau katakan”

Chanyeol naik ke atas kasur Baekhyun.

“Hei. Mau apa kau?”

“Aku ingin curhat. Memangnya tidak boleh, hah?” Chanyeol mengerutkan kening.

“Bo..boleh kok.”

“Baekhyun. Aku sekarang sedang bingung. Besok adalah upacara kelulusan kita. Pasti akan ada pengumuman mengenai peringkat kita seangkatan.”

“Lalu?” respon Baekhyun.

“Selama di sekolah ini aku lemah dalam pelajaran menembak, bela diri, dan juga keterampilan mengasah senjata. Aku takut bila nanti aku menjadi peringkat terakhir di daftar.”

Baekhyun mendengarkan pernyataan Chanyeol dengan seksama, sedangkan Chanyeol terus saja bercerita, “ Karena itu aku ingin kau melakukan sesuatu dengan daftar itu besok pagi sebelum upacara kelulusan. Aku yakin peringkat itu akan ditampilkan dalam bentuk file atau data.”

Baekhyun mulai mengerti alasan mengapa Chanyeol membangunkannya di malam yang sunyi ini.

“Jadi maksudmu kau ingin aku merubah urutan peringkat agar kau tidak diposisi terbawah?”

Chanyeol mengangguk kegirangan,

“Tidak mau.” Baekhyun hendak tidur lagi dan menarik selimutnya kembali.

Namun bukan Park Chanyeol jika menyerah begitu saja,

“Ku mohon Baekhyun. Tolonglah kawan sekamarmu ini.”

“Kau tidak akan berada di peringkat terbawah, Chanyeol-ah. Kau tidak begitu memalukan dalam pelajaran olah raga, dan sains.”

“Tapi, akan lebih baik kalau kau bisa mengubah ku diperingkat pertama atau kedua.”

Baekhyun memicingkan matanya ke arah Chanyeol,

“Tidak mau.”

“Tolonglah Baekhyun. Aku ingin melihat kemampuan hackermu yang ku dengar katanya sangat menakjubkan itu. Aku ingin tahu apakah itu benar atau hanya omong kosong belaka.”

Mendengar pernyataan terakhir Chanyeol, Baekhyun akhirnya tersentak.

“Apa maksudmu tadi?”

“Aku ingin tahu apa benar kemampuan hackermu begitu menakjubkan atau hanya omong kosong belaka,”

Baekhyun bangkit dan mendekatkan wajahnya ke wajah Chanyeol,

“Jadi kau meragukan kemampuanku ?”

“Kalau kau tidak mau membantuku, berarti kemampuan hackermu hanya omong kosong, nae Baekhyun-ah. Hehehe,” tawa mengerikan terlihat di wajah Chanyeol.

“Baiklah besok pagi akan ku buktikan padamu.”

Nah… Itu baru temanku.” Chanyeol memukul punggung Baekhyun.

“Aduh.”

“Hehe. Mian Baekhyun.”

“Dilain pihak, bagaimana cara kau mendapatkan kunci laboratorium komputer?”

“Aku membantu Dong Hae songsaenim membersihkan labor hingga hampir larut malam. Dong Hae songsaenim tampaknya lebih cepat lelah dari padaku. Akhirnya ia menitipkan kunci labor padaku dan memerintahkanku membersihkannya sendirian.”

“Wah…wah… Kau niat sekali ya,” sindir Baekhyun

“Terima kasih sindiran mu Baekhyun,”

Walau disindir, Chanyeol tetap tersenyum ketika membalas perkataan Baekhyun yang ia yakini besok pagi akan membantunya.

Flashback end

“Terima kasih Byun Baekhyun, karena telah membantuku. Aku semakin sayang padamu.” Tiba-tiba Chanyeol memeluk Baekhyun karena begitu senangnya.

Hahahaha… Kau meragukan hacker handal sepertiku rupanya.”

Chanyeol kembali melanjutkan perkataannya,

“Ia, karena sebegitu handalnya kau, sampai-sampai kau membobol website pemerintahan Korea.”

“Aku hanya iseng waktu itu. Tak ku sangka dapat berakibat fatal. Haha, ” Baekhyun kembali menatap Chanyeol,”lalu… dari tadi apa yang kau lakukan saat aku sibuk merubah peringkat?”

“Aku bermain game.” Kata Chanyeol sambil melepaskan pelukannya.

What?” Baekhyun tampak begitu syok. “Dari tadi kau hanya bermain game? Dengan penuh keringat dan pikiran aku melakukan ini dan kau hanya santai bermain game ? Oh… No way!”

Chanyeol tertawa geli mendengar perkataan Baekhyun yang sedikit berlebihan.

“Habisnya aku tidak berhasil melewati kode pengaman yang dibuat oleh pihak sekolah. Dari pada aku melamun, lebih baik aku bermain game untuk menghilangkan stres. Mianhae ya Baekhyun.”

Baekhyun hanya menghela napas  melihat permintaan maaf Chanyeol. Sedangkan Chanyeol mengambil sebuah gelas berisi air mineral. Tampaknya ia haus.

“Ya sudah. Aku penasaran apa yang membuatmu dimasukkan ke sekolah ini. Kau berkata bahwa alasan kau disini karena sesuatu yang berhubungan dengan komputer, namun kemampuan hacker mu masih payah. Aku curiga jangan-jangan kau membobol situs yadong ya?”

JEBREB…

Chanyeol menyemburkan air yang ada di dalam mulutnya dan terbatuk. Air itu mengenai jas biru yang tengah ia kenakan.

“Ohok…Ohok…. Ohok…”

Baekhyun tertawa geli, “ Sudah kuduga.”

“Enak saja kau, Baekhyun. Aku tidak separah itu, tahu!”

“Oh ya? Lalu karena apa?”

“Kau sangat ingin tahu ya? Tidak baik lho selalu ingin tahu masalah orang hihihi…”

Mendengar pernyataan Chanyeol, Baekhyun pun cemberut kesal.  Chanyeol yang melihat tingkah Baekhyun hanya bisa geleng-geleng kepala.

“Aduh, temanku yang nomor satu ini memang kalau sudah cemberut wajahnya jadi jelek. Senyum dong Baekhyun. Nanti wajahmu tidak baby face lagi lho.”

“Aku bukan yeoja yang mudah kau pengaruhi bodoh!” Baekhyun menjitak kepala Chanyeol

“Aduh sakit!”

“Kalau orang ngomong ‘aduh’ ya pasti sakit. Tidak ada orang yang bilang ‘aduh’ terus senyum bahagia.”

“Tapi aku tidak tuh.” Chanyeol menyela perkataan Baekhyun. Ia langsung tersenyum dengan sangat lebar dan menunjukkan sisi happy virus nya sambil mengeluarkan lidah , “Weeeek!”

Baekhyun membuat senyum yang dipaksakan sebentar, lalu kembali menatap ke arah layar monitor.

“Oke. Prosesnya selesai. Akhirnya!”

Chanyeol melihat ke arah monitor Baekhyun dan disana tampak tulisan “100 % Complete”.

“Wah…wah… kau keren sekali.”

“Hehehe.. . Kita lihat nanti hasilnya ketika di aula!” Baekhyun menampakkan senyum evilnya.

Chanyeol mendongakkan wajahnya ke arah langit-langit ruangan. Ada beberapa CCTV.

“Baekhyun, jangan bilang kita terekam CCTV di ruangan ini.”

“Tenang saja. Aku sudah mematikannya dengan program buatannku sendiri.”

“Kau cetar membahana, Baekhyun. Aku bangga memiliki teman sepertimu.”

“Biasa saja,”  Baekhyun tetap melihat ke arah layar monitor, “Aku tidak yakin kau hanya bermain game saja.”

Chanyeol tersentak,

“Terkaanmu benar. Berarti kita memang sehati , Baek.”

“Lalu apa yang kau lihat?”

“Aku mencari tahu tentang masa lalu kita masing-masing.”

Baekhyun memandang Chanyeol dengan tatapan tidak percaya.

“Apa? Kau tahu kan? Apabila ketahuan menggunakan internet untuk browsing maka kau akan terkena hukuman dari pihak sekolah!”

“Aku tahu. Tapi aku kan punya Baekhyun yang bisa membantuku untuk menghapus jejak setelah browsing.

“Sialan!” cibir Baekhyun

“Lagi pula aku browsing hanya sebentar kok.” Chanyeol meyakinkan teman di sampingnya itu.

“Jadi kau sudah tahu semua masa lalu siswa disini ?”

“Hampir semuanya. Dan aku terkejut dengan identitas salah satu siswa disini.”

Hah ? Identitas siapa?”

“Lihat sendiri.”

Chanyeol duduk sedikit bergeser agar Baekhyun dapat sedikit leluasa melihat layar monitornya. Mata Baekhyun membulat sempurna.

“Dia kan-“

 ~~~

Empat orang sedang duduk santai di kantin sekolah. Mereka duduk berhadap-hadapan.  Salah satu diantara mereka menyentuh kepala teman yang berada disampingnya,

“Hei Kai! Jangan sentuh kepalaku! Sopan sekali kau!” gerutu lelaki yang kepalanya dipegang oleh lelaki lainnya itu. Lelaki yang disentuh kepalanya itu bernama Chen dan yang dengan usil memegang kepala Chen adalah Kai.

“Sudah Chen. Jangan cepat naik darah dong. Nanti wajahmu semakin cepat terlihat tua. Haha.” Kai tertawa lepas. Lelaki berkulit hitam tan ini sangat suka menjahili Chen.

“Leluconmu begitu garing bagiku Kai. Itulah yang kadang membuatku kesal sekamar denganmu.” Tepis Chen.

“Tapi kemarin adalah hari terakhir kita sekamar lho. Di kemudian hari, kau pasti akan merindukanku. Lihat saja nanti.” Kai tersenyum miring, sambil memandang kedua teman lainnya yang tengah melihat tingkah aneh Chen dan dirinya.

“Ia. Aku pasti akan merindukan sifatmu yang suka mendengkur, meletakkan piring bekas makananmu di samping tempat tidur, dan yang selalu meletakkan celana dalam sembarangan.”

Kini mata Kai membulat sempurna melihat perkataan Chen yang penuh kemenangan.

“Hei, kenapa kau mengatakannya bodoh!”

“Kau mau kartu as mu yang lain aku bongkar di depan mereka berdua hah?” ancam Chen.

Kai tertunduk lesu.

“Baiklah aku kalah.”

Haha… Kalian seperti sepasang suami istri saja. Ya ‘kan, Kyungsoo? ” Sahut salah satu lelaki yang mendengarkan perdebatan Chen dan Kai. Lelaki itu duduk tepat di depan Kai.Dan dia tengah menunggu respon seseorang yang duduk disampingnya.Do Kyungsoo.

“Ia, Yixing hyung. Mereka tampak begitu akrab,”  jawab Kyungsoo.

“Kalian pasti akan merindukan satu sama lain setelah kita lulus dari sini.” Terka Yixing.

“Kalau suami istri harusnya bermesraan, tapi ini setiap hari aku diejek oleh Kai. Suami istri macam apa itu. ” Chen mengeluarkan curahan hatinya.

“Dan kau selalu mengancamku setiap hari.” Tepis Kai.

Haha. Baiklah kalian bukan bagaikan suami dan istri, tetapi majikan dan pembantu.” Yixing menatap Kai dan Chen. Kai langsung kembali berbicara,

“Dia pembantunya,”

“Kurang ajar kau , Kai.”

“Sudah-sudah. Setiap hari kalian hanya berkelahi. Menghabiskan tenaga saja.” Relai Kyungsoo. Sedangkan dua orang yang dituju Kyungsoo hanya terdiam setelah mendengarkan perkataannya.

“Kyungsoo kau memang harus menjadi orang ketiga diantara mereka agar mereka tidak selalu berkelahi.” Yixing hyung memandang ke arah Kyungsoo. Namun Kyungsoo yang mendengar pernyataan Yixing hyung hanya memutarkan bola  matanya seakan tak peduli dengan perkataan hyung-nya itu.

“Kalian tadi bersama siapa ke kantin?” Kai mulai kembali bicara.

“Tadi kami bersama dengan Luhan hyung dan Sehun.” Kyungsoo menunjuk ke arah tempat penjual bertuliskan “Bubble tea here!”. Disana ada dua orang lelaki tengah berdiri.”Namun kami berpisah ketika disini. Mereka hendak membeli sesuatu dan kami bertemu kalian.”

“Sehun itu tidak sopan padaku tadi, ” Chen kembali merajuk.

“Sudahlah Chen. Jangan mulai lagi.” Kyungsoo menatap Chen tajam.

“Oke.” Chen mencibir Kyungsoo dan langsung kembali melihat ke arah Kai dan Yixing “Jadi apa yang kalian bicarakan selama kami tidak ada?”

“Kau ingin tahu sekali, Chen.” Kai sudah mulai lagi.

“Kami hanya membicarakan mengenai dance yang sedang kami latih. Kami berencana setelah keluar dari sekolah ini, kami berdua akan kembali mencoba untuk menjadi penari di jalanan. Mana tahu ketika kami menari, ada orang yang akan menawari kami tampil di acara mereka atau menerima kami di agensi.” Jelas Yixing.

Kai dan Yixing memiliki hobi yang sama. Mereka berdua suka sekali menari. Disela-sela istirahat,mereka selalu menari bersama. Walaupun mereka berbeda asal, tetapi keakraban sudah telihat pada mereka.

“Wah kalian sudah berpikir tujuan kedepan ya,” sahut Chen

“Itu harus Chen. Kau juga harus berpikir untuk tujuanmu ke depan ya.” Mendengar perkataan Yixing, Chen hanya mengangguk-angguk.

“Kalian akrab sekali ya hyung.” Kata Kyungsoo ketika melihat Kai dan Yixing.

Haha. Aku dan Kai sudah lama saling kenal Kyungsoo. Kau pikir kapan kami masuk ke sekolah ini?”

Kyungsoo hanya menggeleng.

“Kami masuk bersama-sama ke sekolah ini lho.”

Kyungsoo bingung,

“Maksudnya hyung?”

“Kami berdua ketahuan sedang mencuri di supermarket. Makanya kami dibawa kesini.” Kai tiba-tiba menjawab pertanyaan Kyungsoo.

“Saat itu kami sedang lelah sekali  karena latihan di bawah terik matahari. Karena tidak mempunyai uang, kami nekat untuk mencuri. Dan sialnya, pertama kali mencuri, kami langsung ketahuan. Hahaha… ” Lanjut Yixing.

“Wah…wah.. kasihan sekali hyung.” Tepis Chen.

“Sudahlah, itu sudah lama berlalu.” Kai memandang Chen dengan tatapan ‘killer’.

BRAKK…

Terdengar bunyi sesuatu yang jatuh di tempat Luhan dan Sehun tadi berdiri. Mereka berempat sontak langsung memandang ke arah tempat dua lelaki itu. Disana tampak segelas bubble tea sudah berserakan di  lantai dan seorang lagi tengah berdiri di depan Sehun. Seseorang itu memandang Sehun dengan begitu gusar.

~~~

Luhan POV

“Sehun, bukankah kau bilang tidak akan membeli bubble tea?” tanyaku kesal. Bagaimana tidak, tadi di kamar dia berkata tidak akan membeli bubble tea?

Aku hanya berdiri disamping Sehun yang sedang memilih jenis bubble tea yang hendak dibelinya di daftar menu.

“Saya pesan rasa chocolate-butter, ahjumma.” Kata Sehun. Lalu ia memberikan daftar tersebut kepada ahjumma pemilik tempat jualan ini. Sehun tidak mendengarkan perkataanku?

“Hei Sehun! Jawab pertanyaanku!”

Sehun menoleh ke arahku dan bertanya dengan wajah malas,

“Apa hyung ?”

“Kenapa kau berbohong, Sehun-ah?” aku benci dibohongi.

JEPRET

Tiba-tiba Sehun memotret ku dengan kameranya. Aku langsung syok,

Hah?”

“Kalau foto hyung dengan ekspresi wajah seperti ini kan lucu. Hehehe..” Sehun tersenyum penuh kemenangan setelah melihat hasil fotoku yang aku yakini berwajah jelek karena sedang kesal.

Nih lihat hyung.” Sehun mengarahkan layar kamera digitalnya ke arah ku. Benar saja, wajahku yang sedang cemberut tampak memalukan disana.

“Hapus, Sehun-ah.”

“Tidak akan, hyung. Ini untuk kenang-kenangan. Nanti ketika aku sedang sedih lalu melihat foto ini, maka sedihku akan hilang. Hihi…

Aku geli mendengar tawa dengan suara cemprengnya itu.

“Terserahmu Sehun-ah. Yang aku tanyakan, mengapa kau membeli bubble tea juga pagi ini?”

“Hyung. Sudah ku bilangkan, ini mungkin hari terakhir aku membeli bubble tea di sekolah ini, jadi aku ingin hyung memakluminya. Masalah aku berbohong itu, mohon maaf ya hyung. Habisnya kalau aku tidak berbohong, hyung pasti tidak akan mau menemaniku ke sini.”

“Oke. Baiklah. Kali ini kesempatan terakhirmu berbohong padaku. Aku memaafkanmu. Namun besok tiada maaf bagimu lagi Sehun-ah.”

“Gomawo hyung.”

Lihat saja nanti. Jika kau sakit perut, jangan salahkan aku wahai adikku yang nakal.

Tiba-tiba ahjumma penjual tadi memberikan segelas bubble tea kepada Sehun.

“Ini, nak.”

“Terima kasih, ahjumma. Aku pasti akan selalu merindukan bubble tea buatan ahjumma ketika sudah keluar dari sini.” Jelas Sehun kepada ahjumma. Ahjumma itu tiba-tiba mengeluarkan air mata.

“Ahjumma mengapa menangis?” tanyaku melihat perilaku ahjumma yang berubah.

“Tidak. Tidak ada apa-apa, nak.”  Jawab Ahjumma sambil menyeka air matanya.

“Semoga ahjumma tidak menangis karena kehilangan pelanggan tetap seperti ku.” Sehun membuat lelucon konyol.

Haha. Ia. Ahjumma sedih karena itu.” Balas Ahjumma.

Lebih baik ahjumma ini kami tinggalkan sendiri. Jangan-jangan dia sedang ada masalah dengan keluarganya. Batinku.

“Ahjumma kami duluan ya.” Aku menarik lengan Sehun untuk segara pergi. Kami pun berbalik secara bersamaan.

“Apaan sih hyung?” Sehun terlihat kaget melihat tingkahku.

“Kasihan sekali kalian. Padahal kalian tampan-tampan. Nak Sehun, mungkin ini adalah hari terakhirmu menikmati bubble tea.” Desis ahjumma itu pelan. Namun aku masih dapat mendengarnya. Aku pun menoleh kan kepalaku ke arah ahjumma,

“Maaf ahjumma? Ahjumma bilang apa tadi?”

“Ti..tidak. Tidak ada apa-apa , nak Luhan.”

Mendengar jawaban ahjumma, aku hanya mengangguk pelan sebagai pengganti kata ‘permisi’ dan kembali memandang ke arah depan.

Ada apa dengan ahjumma itu. Aku kembali membatin.

BRAKKKK…

Tiba-tiba Sehun bertabrakan dengan seseorang. Segelas bubble tea yang sedang digenggamnya tadi jatuh berserakan di lantai dan mengenai jas biru seseorang yang ditabraknya itu.

“Hei! Dimana kau letakkan matamu, hah! Lihat jas ku ini jadi basah!” murka seseorang bermata sipit yang ditabrak oleh Sehun tersebut. Di jasnya terdapat ‘badge’ name bertuliskan Kim Min Seok. Namun kami lebih sering memanggilnya Xiumin.

Bukannya meminta maaf, Sehun semakin mendekati Xiumin dan kembali  bertanya,

“Yang tidak punya mata siapa ? Tidakkah kau lihat bubble tea ku berserakan sekarang ?” itulah kelemahan Sehun. Selain padaku, dia tidak akan meminta maaf kepada orang lain sebelum orang itu meminta maaf duluan. Mereka berdua sama-sama saling memandang dengan tatapan mengerikan satu sama lain.

“Kau lebih mementingkan bubble tea itu? Hei lihat jas ku! Mana yang lebih berharga!” Benar. Jas Xiumin terkena noda bekas cairan bubble tea.

“Bubble tea ku lebih berharga.”

“Beraninya kau berkata begitu. Lebih baik kau meminta maaf sekarang!”

“Kau lah yang harusnya meminta maaf. Kau telah menumpahkan bubble tea ku.”

Xiumin yang kesal mendengar perkataan Sehun tidak bisa menahan diri  lagi,

“Dasar anak kecil kurang ajar!”

BUAGH…

Xiumin memukul pipi Sehun dengan kepalan tangannya yang kuat. Sehun pun tersungkur. Aku yang melihat hal itu hanya bisa terdiam dan kaget,

“Apa-apaan ini!!” teriakku.

Sehun kembali bangkit dan mendekat ke arah Xiumin,

“Kau mau apa? Mau minta maaf ?” Xiumin tersenyum penuh kelicikan.

“Tidak akan!”

BUAGH….

Sehun kembali memukul Xiumin.

“Sudah Sehun!!” Aku histeris melihat mereka yang tengah ada di puncak amarah mereka masing-masing.

Mereka kembali saling memukul satu sama lain. Beberapa orang lain yang tadinya hanya duduk akhirnya mencoba melerai.

“Hei.”

Tiba-tiba seseorang datang ke arah Xiumin dan langsung memukulnya.

BUAGH…

Kemudian dia berbalik menuju Sehun dan langsung memukulnya juga.

BUAGH…

Akhirnya Xiumin dan Sehun berhenti berkelahi.

Sambil tersenyum bagaikan malaikat, seorang lelaki yang tadi memukul kedua orang tersebut angkat bicara,

“Hei Xiumin. Hei Sehun. Silahkan terus berkelahi kalau ingin ku laporkan kepada pihak sekolah.”

Ia terus tersenyum. Dengan kulitnya yang putih susu, pasti tidak akan ada orang yang menyangka bahwa dia baru saja memukul dua orang yang sedang berkelahi. Kita pasti akan menganggapnya sebagai orang yang lemah. Padahal tidak, dia begitu kuat. Ya dia adalah ketua kelas kami. Pemimpin kami seangkatan ini. Dia adalah Suho.

Cih! Suho, kau hanya bisa mengadu saja. Apa kalau kami sedang buang air kecil di toilet kau juga akan mengadu ke pihak sekolah?” sindir Xiumin.

“Berarti kau memang ingin ku adukan ke pihak sekolah? Baiklah akan ku adukan saat ini juga!” Suho berlalu dari kerumunan ini, namun Xiumin kembali berteriak,

“Baiklah, jangan kau adukan masalah ini kepada mereka. Dasar pengadu!” Xiumin berjalan dan mengadukan pundaknya ke pundak Suho lalu pergi.

“Anak seperti itu harus diancam dulu baru dia diam.” Suho tersenyum kecil. Aku pun mendekatinya,

“Terima kasih Suho, telah menghentikan perkelahian mereka. Aku tidak tahu seandainya kau tidak ada.”

“Sama-sama Luhan hyung.” Balas Suho. Lelaki ini walaupun lebih muda dariku, dia bisa memimpin anak-anak di sekolah ini. Aku kagum padanya. Tidak salah pihak sekolah menunjuk dia sebagai ketua kelas.

“Ya sudah. Teman-teman semuanya. Ayo kita berkumpul di aula. Acara upacara kelulusan akan segera dimulai.  Aku  tidak ingin ada yang terlambat.” Perintah Suho.

Beberapa diantara kami mengikuti Suho yang berjalan menuju aula dan aku kembali mendekati Sehun,

“Kau tidak apa-apa, kan?”

“Ya. Aku tidak apa-apa, hyung.Walau sedikit sakit di bagian sini.”Sehun menunjuk pipinya yang sedikit memar. Aku mencoba memegangnnya,

“Auw! Sakit, hyung!”

“Maaf. Ya sudah, aku berharap besok setelah lulus emosimu tidak mudah terpancing seperti saat di sekolah ini.”

“Semoga.”

“Dan satu lagi, sepertinya Tuhan memang tidak membolehkanmu minum bubble tea seperti yang aku bilang, makanya kau bisa bertabrakan dengan Xiumin haha.”

“Jahat kau,hyung.” Cibir Sehun.

Aku pun tertawa melihatnya. Saat aku menoleh ke salah satu sisi, aku melihat Kris dan Tao tengah menatap ke arah kami. Pandangan mereka begitu dingin.

DEG…

“Ada apa hyung?” Sehun bertanya padaku.

“Bukan apa-apa.”

Aku harus melupakan pikiran-pikiran negatif ku tentang Kris dan Tao.

~~~

Dua belas siswa SM High School berdiri tegap di tengah aula. Di depan mereka terdapat sebuah panggung yang ditutupi oleh sebuah tirai merah. Tak lama kemudian tirai tersebut terbuka, disana terdapat beberapa orang paruh baya dan orang dewasa sedang berdiri menatap mereka.

Di posisi paling tengah panggung tersebut, terdapat sebuah standing mic.

Tidak ada yang berbicara sama sekali, semua senyap dan sepi. Lalu seorang wanita berjalan dan mendekati standing mic tersebut dan mulai berbicara.

“Halo anak-anak didikku semua. Tidak terasa sebentar lagi kalian akan meninggalkan sekolah ini. Saya Kwon Yuri, sebagai guru yang sudah mendidik kalian selama ini di bidang bela diri akan menjadi pembawa acara atau protokol dalam acara upacara perpisahan angkatan keempat SM High School. Beri tepuk tangan untuk saya.”

Para murid pun bertepuk tangan sekilas untuk Yuri songsaenim, kemudian guru yang cantik yang berambut panjang  hitam lurus ini melanjutkan pembicaraannya,

“Terima kasih,” Yuri memandang ke arah salah satu orang paruh baya yang berdiri di belakangnya, “Kepada Tuan Kepala Sekolah, Tuan Lee Sooman, saya persilahkan tempat ini untuk anda,” Yuri sedikit membungkuk dan kemudian berjalan menjauh dari standing mic.

Tuan Lee Sooman – Kepala Sekolah SM High School – berjalan menuju standing mic untuk berbicara beberapa hal.

“Wahai anak didikku, kalian semua adalah para penerus bangsa. Tidak terasa sudah begitu lama kalian  berada di sekolah ini. Walaupun ada beberapa dari kalian yang tidak begitu lama, namun hal itu tidak menjadi masalah. Selain itu sudah banyak yang telah kalian pelajari di sekolah ini. Saya berharap kalian dapat berubah menjadi pribadi yang lebih baik dari masa lalu kalian yang dulu sama sekali tidak patut kalian ulangi. Dan yang paling penting adalah jangan melanggar peraturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah di negeri ini. Karena apabila kalian melanggarnya kalian akan mendapatkan hukuman yang setimpal. Mengerti?”

Kedua belas murid hanya mengangguk bersamaan.

“Bagus. Saya berharap bahwa kalian benar-benar memegang janji kalian.”

Lalu Tuan Lee Sooman mundur beberapa langkah dan Yuri songsaenim kembali mengambil alih standing mic,

“Terima kasih Tuan Lee Sooman. Baiklah kali ini, kita akan mendengarkan kata sambutan dari guru kita yang lainnya. Kepada Ji Beum songsaenim saya persilahkan.”

Ketika salah satu guru yang lainnya sedang memberikan kata sambutan, beberapa murid yang berada di barisan belakang dari dua belas orang itu sedang berbisik-bisik.

“Hei Kyungsoo,” kata Chen pelan,

“Ssst…” Kyungsoo meletakkan jari telunjuknya di mulutnya sebagai pertanda bahwa Chen jangan berbicara lagi.

“Hei Kyungsoo lihat aku.”

Kyungsoo menghela napas dan akhirnya memandang malas ke arah Chen,

“Ada apa Chen? Kau tidak lihat kita sedang upacara ?”

“Coba kau lihat Taecyeon songsaenim, raut wajahnya begitu dingin. Tampaknya dia sedang kesal.”

“Benarkah?”

Kyungsoo mencoba melihat ke arah Taecyeon songsaenim yang berada di ujung panggung. Memang benar, wajahnya begitu dingin dan tampak matanya sedikit merah.

“Hei, Taecyeon songsaenim seperti habis menangis ya?” bisik Chen

“Sssst.. bisakah kau diam , Chen? Kita tidak perlu tahu mengenai Taecyeon songsaenim. Mungkin saja dia sedang ada masalah dengan keluarganya,” balas Kyungsoo. Chen hanya mengangguk-angguk.

“Aku tidak melihat Sooyoung songsaenim. Dimana dia?” Chen kembali mulai bertanya-tanya.

Tuhan, mengapa dia ribut sekali. Batin Kyungsoo.

“Ia aku dari tadi memperhatikan barisan para guru tetapi dia tidak ada.” Tiba-tiba Baekhyun yang baris di depan Chen ikut berbicara juga.

“Betul, Baekhyun.. Aku bingung mengapa dia tidak ada. Padahal aku ingin mendengar kata sambutan darinya.Karena dia adalah guru yang paling dekat dengan kita. Aku yakin kata sambutannya tak akan membosankan seperti Ji Beum songsaenim sekarang.”  Chanyeol yang berada di depan Kyungsoo juga ikut seperti Baekhyun- yaitu ikut berbicara membuka forum sendiri .

“Tolong kalian jangan berbicara lagi. Nanti jika ketahuan akan gawat,” was-was Kyungsoo.

“Kalau kau tidak mau bicara, ya sudah jangan bicara. Hehe.” Chen tertawa kecil, diikuti oleh Baekhyun dan Chanyeol.

“Dasar gila!!” kesal Kyungsoo. Ia tidak sadar bahwa ia sedang berbicara dengan suara yang kuat.

DEG…

Tiba-tiba semua orang memandang ke arah Kyungsoo. Seluruh siswa SM High School, guru-guru, dan Tuan Lee Sooman, serta Ji Beum songsaenim yang tadinya tengah berpidato akhirnya terdiam. Semua tertegun mendengar degungan Kyunsoo.

DEG…

DEG..

DEG..

Kyungsoo pucat.

Chen, Baekhyun, dan Chanyeol juga pucat.

“Siapa yang gila, Kyungsoo ?” tanya Ji Beum songsaenim sinis.

“Em..” Kyungsoo mencoba untuk mencari alasan yang tepat, “Tidak ada, songsaenim. Saya salah bicara. Ma..ma..maafkan saya,”

“Saya serius. Siapa yang gila, Kyungsoo ?”  Ji Beum songsaenim semakin menegaskan pertanyaannya.

“Itu…” Mati aku. Batin Kyungsoo.

“Kyungsoo berkata bahwa Chanyeol, Chen, dan Baekhyun gila, songsaenim. Saya mendengarnya.”

Terdengar ucapan dari seseorang yang berada di depan Chanyeol. Lelaki itu membalikkan kepalanya ke arah Kyungsoo,

“Ya kan, Kyungsoo ?” tanyanya sinis seperti Ji Beum songsaenim. Dia adalah Tao. Ia mengadukannya di depan semua orang yang ada di aula ini.  Licik.

“Apa?” Chanyeol tersentak.

“Benarkah itu, Chanyeol ? Baekhyun ? Chen ?”  Ji Beum songsaenim melihat ke arah mereka bertiga.

“Ti..tidak.. songsaenim,” Chen mencoba berbohong,

“Jangan berbohong padaku, Chen. Aku tahu ciri-ciri orang berbohong. Apa kau lupa aku adalah guru dalam mata pelajaran kepribadian?”

Chen hanya terdiam mendengar kalimat Ji Beum songsaenim yang seakan menusuk jantungnya.

“Aku mendengarnya songsaenim, Tao benar.” Sahut seseorang di samping Tao, Kris.

Akhirnya Kris mengeluarkan suara, dia hanya mengeluarkan suara sesekali saja. Namun apabila dia berbicara, perkataannya itu hanya untuk mendukung teman sekamarnya, Tao.

“Aku juga mendengarnya songsaenim!” tegas Xiumin yang berada di posisi baris paling depan.

Baekhyun melotot sempurna mendengar pernyataan Xiumin,

“Apa ? Cih, Dasar pembohong. Kau berdiri paling depan tidak mungkin bisa mendengarnya.” Desis Baekhyun pelan.

“Dia hanya ingin menjatuhkan kita, Baek.” Chanyeol berkata dengan suara pelan juga.

Tiba-tiba Luhan yang berada di belakang Xiumin angkat bicara,

“Tapi aku tidak mendengar apa-apa lho. Kau kok bisa mendengarnya , Xiumin?”

Xiumin tersentak mendengar ucapan Luhan,

“Kau ini, Luhan!”

“Benar lho. Aku juga tidak mendengar apapun,” bela Sehun,

“Aku juga ya. Padahal aku di sampingmu, Xiumin.” Suho penasaran.

Ji Beum songsaenim yang bingung karena para murid banyak yang berbicara, akhirnya berteriak,

“Sudah-sudah!! Kalian malah menjadi ribut begini!! Saya ingin tahu  apa yang kalian bicarakan di belakang!”

Tao menyilangkan kedua tangannya di dadanya,

“Mereka penasaran mengapa Taecyeon songsaenim  berwajah begitu dingin dan matanya sedikit memerah. Dan mereka juga penasaran dimana Sooyoung songsaenim.” Sahut Tao. Tao benar-benar mengucapkan semua yang didengarnya.

Seluruh guru kaget mendengar ucapan Tao. Termasuk Ji Beum songsaenim dan Tuan Lee Sooman, dan Taecyeon songsaenim sendiri.  Kini semua pandangan tertuju pada songsaenim berpostur tubuh tinggi dan tegap itu.

Taecyeon songsaenim berjalan dengan kaku dan tatapan kosong. Ia mendekati Ji Beum songsaenim yang tengah berdiri di depan standing mic.

“Boleh saya berbicara?”tanyanya singkat. Tuan Lee Sooman angkat bicara,

“Apa yang hendak kau katakan?”

Taecyeon songsaenim memandang ke arah Tuan Lee Sooman dan tersenyum tipis,

“Tenang saja, Tuan. Aku tidak akan berbicara macam-macam, kok.”

Ji Beum songsaenim mundur dari tengah panggung dan digantikan oleh Taecyeon songsaenim. Dengan tatapan kosong, Taecyeon songsaenim memulai ‘kata sambutannya’,

“Selamat pagi semuanya. Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih karena kalian semua telah mengkhawatirkan saya. Saya senang karena kalian hanya melihat ke arah saya, walaupun Ji Beum songsaenim sedang berpidato di depan kalian,”

Ji Beum songsaenim yang mendengar pernyataan itu terhenyak,

“Saya lanjutkan. Alasan mengapa saya begini dan mata saya agak memerah adalah saya sedih karena sebentar lagi saya akan kehilangan kalian. Kalian sudah lama menjadi bagian dari sekolah ini dan sudah saya anggap sebagai anak saya sendiri. Kemarin saya menangis semalaman hanya  karena memikirkan itu.Sekian dari saya,  terima kasih.”

Saat Taecyeon songsaenim hendak menjauh dari standing mic, Tao kembali bertanya,

“Bagaimana dengan Sooyoung songsaenim ? Dimana dia? Bukankah anda adalah orang yang paling dekat dengannya?”

Langkah Taecyeon songsaenim terhenti. Ia menatap ke arah Tao,

“Dia sudah pergi. Kalian akan segera menyusulnya.”

Taecyeon songsaenim langsung melangkah cepat turun dari panggung dan keluar dari aula.

BLAM…

Bunyi pintu tertutup.

Seluruh murid bingung dan heran melihat apa yang dilakukan dan dikatakan oleh Taecyeon songsaenim.

Dengan penuh rasa kebingungan, Yuri songsaenim mengambil alih standing mic dan kembali berbicara,

“Oke… Sepertinya kalian tidak perlu memikirkan apa yang baru saja dilakukan oleh Taecyeon songsaenim,” Yuri songsaenim mengatakannya dengan senyum penuh dipaksakan, “Ia sepertinya baru ditolak oleh Sooyoung songsaenim sehingga sifatnya berbeda hari ini. Jadi kita lupakan saja. Hehehe”

“Tawamu membuat aku geli,” Xiumin tiba-tiba kembali berbicara lagi,

“Hei Xiumin. Kau harus sopan,” Yuri songsaenim kaget mendengar perkataan Xiumin.

“Tadi Taecyeon songsaenim bilang Sooyoung songsaenim sudah pergi ke suatu tempat dan kami akan menyusulnya. Memangnya dimana tempat tersebut? Apa kami juga akan kesana?” tanya Xiumin lagi.

“Ini baru saja saya akan menjelaskannya. Jadi dimohon kepada Xiumin dan murid yang lain agar sabar dan diam.” Yuri songsaenim sudah mulai naik darah, “Setelah acara ini kalian akan pergi ke suatu pulau yang sangat mengasyikan, kalian akan menghabiskan waktu disana untuk beberapa hari.”

Baekhyun yang tadinya pucat setelah mendengar kata ‘pulau yang sangat mengasyikan’ beruah kembali ceria,

“Benarkah ? Pulau apa itu?”

“Tenang Baekhyun. Nanti kau akan tahu sendiri. Sooyoung songsaenim sudah menunggu kalian disana. Bukan begitu, Tuan Lee Sooman?”

Tuan Lee Sooman yang ditanya oleh Yuri songsaenim hanya menjawab dengan anggukan.

“Ini seperti liburan?” tanya Chanyeol kegirangan.

“Ya bisa dibilang begitu.”

“Wah apa disana ada hotel juga?” tanya Chen yang terkena virus Chanyeol dan Baekhyun.

“Nanti kalian akan melihat sendiri, wahai murid-murid yang kusayangi.”  Yuri songsaenim tersenyum sinis.

“HORE!!!!” teriak mereka bertiga.

“DIAM!!!” teriak Yuri songsaenim.

~~~

Kyungsoo POV

Setelah mendengar teriakan Yuri songsaenim, mereka bertiga akhirnya diam juga. Aku heran dengan tingkah mereka ini. Tadi ketakutan sekarang sudah berubah ceria lagi. Entah mengapa mereka bisa kompak bertiga.

Aku masih mengingat tingkah laku Taecyeon songsaenim yang menurutku sangat aneh tadi. Apalagi saat berhubungan dengan Sooyoung songsaenim. Tapi sudahlah aku tidak harus memikirkan itu lagi. Tidak ada  gunanya, lagi pula di pulau yang akan kami datangi yang katanya sebagai liburan itu sudah ada Sooyoung songsaenim disana. Ya. Guru yang sangat kami sayangi. Dia sangat perhatian dan lembut. Ah… Aku ingin sekali bertemu dengan Sooyoung songsaenim.

Aku kembali melihat ke arah Yuri songsaenim, tampak ia menghela napas sebentar lalu kembali berbicara,

“Baiklah… Saya lanjutkan. Sebelum kita membahas mengenai kepergian kalian ke pulau nanti, kali ini saya akan mengumumumkan peringkat kalian di sekolah ini. Bagi kalian yang berada di peringkat pertama saya minta untuk memberikan kesan dan pesan selama di sekolah ini.”

“Ini dia saatnya , Baekhyun! Aku penasaran!” Chanyeol memegang pundak Baekhyun.

“Ssst. Biasa saja, Chanyeol.” Baekhyun menyisihkan tangan Chanyeol dari pundaknya.

Aku heran melihat tingkah kedua orang ini.

Kemudian di depan kami – lebih tepatnya di belakang para guru, terdapat sebuah layar besar berwarna putih. Dibagian atas layar tersebut bertuliskan “Peringkat Murid SM High School,”

Di peringkat pertama aku sudah yakin siapa orangnya. Ya, siapa lagi kalau bukan ketua kelas kami. Suho hyung. Suho hebat dalam segala hal. Bela diri, menembak, keterampilan,  kepribadian, dan yang lainnya. Aku belum pernah melihatnya mengulang satu pelajaran pun. Selalu sempurna. Aku heran bagaimana bisa ada manusia seperti dia.

Saat ini dia sedang duduk di barisan paling depan dan tersenyum bahagia seakan sudah tahu bahwa dialah yang akan menempati posisi pertama.

“Posisi Pertama adalah….” sahut Yuri songsaenim. Di layar tampak sebuah foto dan nama seseorang.

Sudah ku bilang,

Siapa lagi,

Kalau bukan dia,

Suho hyung.

“Suho!!!!” teriak Yuri songsaenim,

Suho hyung pun tertawa dan bersalaman dengan beberapa murid disampingnya. Ia naik ke atas panggung dan berdiri di depan standing mic. Tidak lupa, diperjalanannya dia selalu membungkukkan badan ketika melewati guru satu per satu.

“Terima kasih kepada semuanya. Aku tidak menyangka akan mendapatkan peringkat pertama. Aku sangat berterima kasih kepada Yuri songsaenim, Ji Beum songsaenim, Dong Hae songsaenim, Taecyeon songsaenim dan guru-guru yang lainnya. Serta kepada Tuan Lee Sooman selaku kepala sekolah. Terima kasih atas ilmu yang kalian berikan kepada saya, sehingga saya dapat menjadi pribadi yang lebih baik. Tidak seperti yang dulu, saat dimana saya selalu menyusahkan keluarga saya sendiri,” tak terasa Suho hyung meneteskan air mata.

“Namun disini, saya dipercaya menjadi ketua kelas. Dan saya sangat memegang amanah tersebut karena itulah saya berusaha sekuat tenaga menjadi yang terbaik. Dengan penuh rasa syukur, akhirnya saya mendapatkannya. Sekali lagi terima kasih.” Suho hyung kembali membungkukkan badan.

Yuri songsaenim memberikan sesuatu seperti piala kepada Suho hyung, “Gomawo songsaenim!” Suho menerima piala tersebut dengan penuh air mata.

“Saranghae Suho hyung!” tiba-tiba Chanyeol kembali berulah. Ia membentuk lambang hati dengan kedua tangannya.

“Saranghae Suho hyung!” Baekhyun dan Chen mengucapkannya secara bersamaan. Apa mungkin terharu ? Entahlah.

Suho hyung turun dari panggung dan kembali berdiri di barisannya. Xiumin hyung langsung mengambil pialanya karena penasaran, Suho hyung hanya menghela napas saja seakan sudah bisa menerima sifat Xiumin hyung yang selalu seenaknya.

Yuri songsaenim kembali berbicara,

“Baiklah kita masuk ke peringkat kedua. Siapakah dia?”

Layar yang tadinya terisi dengan wajah Suho hyung,  berubah menjadi wajah seseorang yang lain. Ya, aku sangat kenal wajah itu. Wajah senyum evilnya yang terkenal. Senyum happy virus.

“Park Chanyeol!!!” Chanyeol meneriakkan namanya sendiri,

Semua orang memandang ke arah Chanyeol seakan tak percaya,

Hah?” Yuri songsaenim dan beberapa guru lainnya kaget.

“Ada apa?” tanya Tuan Lee Sooman.

“Tunggu dulu saya cek ulang.” Yuri songsaenim membalik-balikkan kertas yang sedang dipegangnya.

Senyum Chanyeol yang tadinya lebar kemudian terdiam sejenak kemudian diikuti lototan mata Baekhyun.

“Kemarin pagi kami sudah mencetak data peringkatnya di kertas ini. Namun hasilnya berbeda dengan apa yang ada di layar.”

“Maksudmu?” Tuan Lee Sooman bingung,  Ia mengerutkan dahinya,

“Peringkat kedua di kertas ini adalah Do Kyungsoo namun di layar adalah Park Chanyeol. Bagaimana ini bisa terjadi ?” Yuri songsaenim juga tampak heran dengan hasil ini.

Aku tersentak mendengar perkataan Yuri songsaenim. Aku berada di peringkat kedua ?

Aku mendengar Baekhyun dan Chanyeol tengah berbisik-bisik,

“Ssst.. Baek, bagaimana ini?”

“Bagaimana apanya?”

“Kita akan ketahuan?”

“Entahlah. Kenapa kau tak bilang Yuri songsaenim sudah mencetak datanya?”

“Mana ku tahu bodoh!”

Apanya yang ketahuan ? Batinku mendengar percakapan mereka berdua.

Dong Hae songsaenim,” sahut Tuan Lee Sooman pada Dong Hae songsaenim yang berdiri di sampingnya,

“I..ia. Tuan,”  Dong Hae songsaenim tampak menunduk pada Tuan Lee Sooman

“Kunci Laboratorium Komputer dengan siapa?”

Dong Hae songsaenim menatap ke arah Chanyeol,

“Chanyeol Tuan.”

DEG…

Chanyeol tampak kebingungan,

Jangan bilang bahwa…

“Chanyeol… Baekhyun… nanti setelah acara upacara selesai ikut ke ruangan saya!” tegas Tuan Lee Sooman

“Sudah kuduga,” kataku dalam hati.

~~~

Beberapa menit setelah acara upacara selesai, kami masih berkumpul di aula. Kecuali Baekhyun dan Chanyeol yang dibawa ke ruangan kepala sekolah. Tapi aku bingung mengapa Baekhyun juga ikut, entahlah mungkin ia membantu Chanyeol merubah urutan peringkat tadi.

Aku memutuskan untuk mendekat ke arah Suho hyung dan memberikan selamat,

“Hyung. Selamat ya!” Aku menjabat tangan seseorang yang lebih tua dua tahun dari ku ini.

“Terima kasih, Kyungsoo. Selamat juga untukmu ya karena telah di peringkat dua. Hehe.”

“Sama-sama hyung.”

Tiba-tiba Sehun mendekati kami berdua,

“Halo. Aku ingin mengambil foto dua orang terpintar di sekolah ini. Senyum ya! Cis!”

Cis..

JEPRET

Aku dan Suho hyung tersenyum menghadap kamera Sehun.

“Kalian mau lihat?”

Sehun memberikan kameranya kepada kami,

“Wah bagus sekali hasilnya Sehun.” Kata Suho hyung.

“Kalau aku yang ambil, foto apapun bagus!” Tegas Sehun dengan penuh rasa bangga.

Di foto tersebut tampak kami tengah memegang piala kami masing-masing dan sama-sama tersenyum.

“Hai aku tidak ikut difoto?”  seseorang mendekati kami bertiga. Seseorang berkulit hitam tan itu juga memegang sebuah piala. Ya, dia adalah seseorang yang menempati peringkat ketiga.

“Wah wah. Tiga besar berkumpul disini.” Sahut Luhan hyung yang tiba-tiba juga ikut menghampiri kami.

“Hyung bisa saja.” Balas si lelaki berkulit tan itu,

“Jangan-jangan Kai juga curang seperti Chanyeol tadi,” tepis Sehun.

Kai – si peringkat ketiga-, langsung menjitak jidat Sehun,

“Enak saja. Aku murni tahu. Aku saja tidak menyangka bisa di peringkat ketiga.”

“Tapi tidak usah menjitak kepala ku juga!”  Sehun kembali menjitak kepala Kai.

“Aduh!”

Kami hanya tertawa melihat tingkah mereka.

“Pantas saja Chanyeol dan Baekhyun sudah pergi duluan pagi-pagi. Ternyata mereka ke Laboratorium komputer dulu.” Luhan hyung memegang dahinya.

“Aku rasa juga begitu,” sahut Sehun setuju dengan Luhan hyung,

Di salah satu sisi aula terdapat speaker yang terpasang di dinding, speaker tersebut tiba-tiba mengeluarkan suara Yuri songsaenim.

“Perhatian buat seluruh murid, setengah jam lagi kita akan berangkat ke pulau dengan menggunakan bis. Saya harap kalian langsung bergegas menuju bis. Karena perlengkapan baju kalian sudah kami persiapkan semuanya. Terima kasih.”

“Wah baik sekali sekolah ini, baju kita di koper yang tadinya masih di kamar sudah diurus oleh mereka semua.” Kata Luhan hyung dengan mata berbinar.

“Ya sudah ayo kita masuk ke dalam bus,” lanjutnya.

“Tunggu dulu, aku ambil gitar Chanyeol dulu ya, dia sudah pesan padaku tadi. Daah..” Kai pergi meninggalkan kami.

“Kyungsoo!” Chen menghampiriku, napasnya tampak tak beraturan.

“Ada apa , Chen?”

“Aku bisa minta tolong padamu untuk mengambil cake buatan kita tadi malam di toko kue  Mam Ah Bum ? Aku ingin buang air besar dulu di toilet, jadi tidak bisa menemanimu.”

Oh ia benar, aku dan Chen tadi malam telah membuat cake untuk di makan bersama-sama setelah upacara kelulusan. Tapi ternyata kami hendak liburan, jadi cake itu bisa kami makan di perjalanan. Aku hampir lupa mengenai cake itu.

“Astaga. Aku hampir melupakan kue itu. Baiklah biar aku ambil sendiri. Kau pergilah ke toilet. Harus cepat ya buang air besarnya ! Agar kau tidak terlambat.”

“Oke. Gomawo ya Kyungsoo. Bye bye!” Chen menghilang dari pandanganku.

Suho hyung kembali menegurku,

“Hei, jadi kami duluan ke bus?”

“Ia hyung, silahkan. Aku sendiri saja. Lagi pula mengambil kuenya hanya sebentar kok.”

“Ya sudah, kami duluan ya.” Suho hyung pun pergi diikuti oleh Luhan hyung dan Sehun.

~~~

Aku kini sudah berada di depan toko kue Mam Ah Bum. Mam Ah Bum adalah koki handal yang berada di sekolah ini. Dia sangat ahli dalam berbagai masakan, terutama dalam membuat cake. Miss Ah Bum sudah ku anggap seperti ibuku sendiri. Dulu, setiap pulang sekolah, aku selalu ke toko ini untuk minta diajari membuat kue. Asal kau tahu, hobi utamaku adalah memasak dan membuat kue. Jadi aku sangat beruntung ada toko kue di sekolah ku sendiri. Hehehe.

“Mam Ah Bum!! Ini Kyungsoo!” sahutku sambil menggedor pintu toko kue Miss Ah Bum ini.

Tidak ada jawaban,

“Mam Ah Bum! Halo! Ada orang kah?”

Tumben sekali toko kue Miss Ah Bum kosong. Kalau tidak ada dia, biasanya ada anak gadisnya.

Tiba-tiba seorang gadis membuka pintu toko kue ini.

“Eh Kyungsoo Oppa!”  tegurnya dengan ramah

“Hai Naeun!” Aku melambaikan tanganku ke arahnya.

“Ada yang Oppa cari disini?” tanya gadis berambut panjang ini. Ya, dia adalah anak dari Miss Ah Bum, bernama Naeun.

“Oppa ingin mengambil cake yang Oppa buat tadi malam bersama salah satu teman Oppa dan Eomma mu disini. Oppa menyimpan kuenya di lemari pendingin toko ini.”

Naeun memukul jidatnya sendiri,”Oh ia, Naeun hampir lupa! Eomma tadi berpesan bahwa Oppa Kyungsoo akan datang mengambil kue disini. Ayo Oppa masuk dulu!”

Naeun mempersilahkan aku masuk dan duduk disalah satu kursi. Tiba-tiba Naeun pergi ke belakang,

“Eomma mu dimana , Naeun ?”

Tidak ada jawaban dari Naeun.  Mungkin Ia sudah di dapur sehingga tidak mendengar suaraku.

“Ini dia Oppa!” tiba-tiba Naeun datang dengan membawa kotak berukuran cukup besar yang dipangku oleh kedua telapak tangannya. Kotak tersebut berwarna ungu dan mengkilat.

“Apa ini?” tanyaku penasaran,

“Di dalam kotak ini ada kue buatan Oppa. Eomma yang mempersiapkan kotak ini untuk Oppa, Eomma bilang bahwa hari ini adalah hari terakhir kemungkinan bertemu dengan Oppa, karena Oppa sudah lulus. Jadi Eomma ingin membuat sesuatu yang spesial.”

Mendengar perkataan Naeun membuat ku hendak menangis,

“Sampaikan terima kasihku pada Eomma mu, Naeun.” Air mataku menetes.

“Pasti, Oppa.” Naeun hanya tersenyum tipis.

Ketika hendak keluar dari toko kue itu tiba-tiba seorang wanita paruh baya keluar dari bagian belakang toko dan datang ke arah kami,

“Ada siapa Naeun?” tanpa melihat ke arah kami dia tetap bertanya,”Apa anak itu belum da-“ perkataannya terhenti saat melihat wajahku.

Aku menatapnya dengan seksama, dia adalah Mam Ah Bum.

“Mam Ah Bum.” Tiba-tiba saja kata itu keluar dari mulutku. Mengapa dia tidak dari tadi saja menemuiku?

Mam Ah Bum kemudian mengalihkan pandangannya ke lantai. Air matanya entah mengapa mengalir.

“Kyung..Kyungsoo akhirnya kau datang juga.”

Mam Ah Bum tidak melihat wajahku lagi. Ia terus memandang ke bawah. Mengapa begini ?

“Mam Ah Bum, ada apa? Mengapa Mam tidak mau melihat ke arah ku?”

Aku meletakkan kotak yang berisi kue itu di atas meja dan mendekat ke arah Mam Ah Bum,

“Jangan mendekat!” tiba-tiba Mam Ah Bum berteriak, kemudian ia kembali menangis, “Hiks…hiks…”

“Eomma…” Naeun hanya memandang Eommanya dengan tatapan iba.

“Mam Ah Bum,  apa aku ada salah?  Bilang saja padaku Mam Ah Bum.”

Aku tidak mengerti mengapa Mam Ah Bum menjauhiku seperti ini, dia sudah ku anggap seperti ibuku sendiri. Sangat menyayangiku dan sabar dalam mengajarkanku membuat kue.

“Mam…” air mataku mengalir karena tidak mengerti apa yang terjadi.

Tiba-tiba Mam Ah Bum mendekatiku dan memelukku,

“Kyungsoo anakku sayang… Hiks…hikss..”

Aku tidak bisa berbicara.

Aku terdiam membeku.

Aku merasakan pelukan Mam Ah Bum begitu hangat. Seperti pelukan ibuku sendiri.

“Aku pasti akan selalu merindukanmu, sayang. Kyungsoo kau harus selalu kuat!”

Mam Ah Bum melepaskan pelukannya dan ia memegang wajahku,

“Apapun yang terjadi nanti kau harus bisa melewatinya.. Hikss..hikss. Oh Tuhan, mengapa anak sebaik seperti mu harus melewati hal seperti ini?”

Aku semakin tidak mengerti perkataan Mam Ah Bum, namun aku hanya mengangguk-angguk saja agar bisa menenangkannya.

“Kau harus bertahan. Apapun yang terjadi. Berjanji padaku kau akan menjadi yang tetap bertahan hingga akhir.”

“Maksud Mam?” aku bertanya penasaran. Karena sekali lagi aku katakan, aku tidak mengerti perkataan wanita ini.

Tidak menjawab pertanyaanku, Mam Ah Bum langsung pergi meninggalkanku dan masuk kembali ke belakang tokonya.

“Mam Ah Bum!” Saat aku hendak mengejar Mam Ah Bum, Naeun menghentikan langkahku.

“Sudahlah Oppa. Aku ingin Eomma menenangkan diri. Oppa lebih baik segera pergi.”

Naeun berjalan sambil berdiri di depan pintu tokonya seakan memberikan isyarat bahwa aku harus segera pergi dari toko mereka.

“Maafkan aku , Naeun. Atas  ketidak lancanganku.”

Naeun terkejut mendengar permintaan maafku dan akhirnya ia mengeluarkan air mata juga,

“Ma..maafkan Naeun juga Oppa. Maafkan Naeun tidak bisa berbuat apa-apa. Maafkan Naeun.” Naeun membungkuk.

Aku memutuskan pergi dari toko itu disaat pikiran tentang Naeun dan Mam Ah Bum yang seperti menutupi sesuatu dariku memenuhi benakku.

Normal POV

“Dia sudah pergi?” tanya Madam Ah Bum pada anaknya,

“Sudah Eomma. Baru saja.” Naeun memperhatikan Kyungsoo yang melangkah menjauhi toko mereka dari balik jendela.

“Semoga anak itu beruntung.”

“Semoga saja Eomma.”

“Tuhan… Selamatkanlah anak yang baik hati itu.”

~~~

Kyungsoo POV

Aku sudah semakin dekat dengan bus yang akan kami gunakan untuk pergi ke pulau itu. Di depan pintu bus, tengah berdiri Yuri songsaenim yang menatapku dengan tatapan mengerikan.

“Dari mana saja kau? Kau tahu bus ini sudah akan berangkat!”

“Maafkan saya songsaenim. Saya tadi habis mengambil kue untuk dimakan bersama-sama di bus ini.” Aku beralasan dengan jujur.

“Ya sudah silahkan masuk. Hanya kau saja yang belum masuk. Hampir saja kau tertinggal.”

“Terima kasih songsaenim.”

Aku pun langsung masuk ke dalam bus, di dalam sana sudah tampak seorang pengemudi bus yang menggunakan baju layaknya seragam tentara, masker,  dan kacamata hitam.

Dia pikir dia mau kemana ? Batinku.

Sadar tengah ku perhatikan, ia menoleh ke arahku.

DEG

Aku pun jadi kikuk kemudian langsung berjalan ke dalam bus.

Di dalam bus,  aku langsung disambut dengan Chanyeol yang sedang berdiri sambil bermain gitar,

“So baby don’t go” terdengar salah satu bait lirik yang dinyanyikannya. Bukankah tadi dia dan Baekhyun sedang ada di ruangan Kepala Sekolah,

“Hei Chanyeol!” Sapaku

Chanyeol membalikkan badannya dan melihat ke arahku dengan senyum evilnya.

“Hei Kyungsoo! Kau lama sekali sih.”

“Apa yang terjadi di ruangan kepala sekolah tadi?”

“Oh,” sambil tangannya tetap asik memetik gitar, ia menjawab pertanyaanku,”kami hanya tidak boleh mengulanginya lagi, berhubung ini hari terakhir sekolah jadi perbuatan kami dimaafkan.”

“Kami?”

“Ya. Baekhyun yang membantuku mengganti urutan peringkat dengan kemampuan hackernya. Maaf ya aku berusaha mengganti posisimu.”

Aku menatap Chanyeol bingung, kemudian aku melihat di kursi dibelakang si pengemudi bus ada Baekhyun yang sedang menatap jendela,

“Hei, Chanyeol. Jangan bilang-bilang masalah hacker itu!”

Chanyeol melihat ke arah Baekhyun yang sedari tadi hanya memandang ke arah jendela,

“Mian hae, nae Baekhyun-ah.”

Aku hanya menggelengkan kepala saja melihat tingkah mereka. Mereka yang tadinya ketakutan sekarang sudah kembali seperti semula.

Aku melihat ke arah sudut paling belakang, tampak Kris dan Tao menatapku tajam. Entah apa tujuan mereka menatapku seperti itu.

Tiba-tiba Chen menghampiriku lagi,

“Sudah diambil cakenya?”

“Eh, Chen.. Sudah ini.”

“Baiklah mari kita buka!”

“Hei tunggu dulu!”

“Hei teman-teman! Kalian mau cake buatan aku dan Kyungsoo, nggak? Enak lho. Dijamin kalian akan minta tambah! Hehe.”

Tiba-tiba hampir seluruh orang yang ada di dalam bus mengambil cake buatan kami dengan tergesa-gesa. Mungkin mereka berpikir akan kehabisan. Padahal kami membuat sekitar lima belas cake. Jadi pasti setiap orang akan dapat bahkan berlebih.

“Ayo diserbu!” sahut Chen semangat. Semua yang ada di dalam bus memakan cake itu,

“Enak sekali!” komentar Luhan,

“Ia hyung,” lanjut Sehun,

“Aku tak percaya kau yang membuatnya , Chen.” Cibir Kai , “namun kalau Kyungsoo aku percaya,”

Aku tersenyum mendengar perkataan Kai.

“Kurang ajar kau, Kai. Jangan mulai lagi. Tolong!” Chen membalas perkataan Kai. Ia tampak lahap memakan kue buatannya sendiri. Aku pun mengambil satu dan  memakan kue buatanku sendiri  ini juga.

Hm…

Rasanya memang enak.

“Hei jangan makan berdiri, ayo duduk disampingku! Sudah aku persiapkan kursi untukmu.”kata Yixing hyung mempersilahkan kursi disampingnya untukku.

“Terima kasih hyung.”

“Kue buatan mu ini enak lho. Aku minta tambah boleh ya?” tanya Yixing hyung, aku dengan senang hati menganggukkan kepala dan memberikan satu cake lagi pada hyung sekamarku ini.

“Baiklah ayo kita berangkat!!!” teriak Yuri songsaenim dibagian depan bus. Aku heran mengapa Yuri songsaenim sekarang suka sekali berteriak.

Bus kami pun berangkat. Chanyeol tetap dengan alunan gitarnya mengiringi perjalanan kami.

Ketika aku melihat ke arah Yuri songsaenim aku sedikit terhenyak, wanita cantik ini menggunakan masker. Apa dia flu? Tapi dari tadi kondisi tubuhnya tampak seperti tidak ada apa-apa.

“Kau memikirkan apa?” tanya Yixing hyung yang melihatku

“Tidak bukan apa-apa.”

Terdengar perdebatan di bagian belakang bus, aku menoleh ke arah belakang. Ternyata perdebatan kecil  Chen bersama Kris dan Tao. Apa anak ini sedang mencari masalah?

“Hei kalian berdua. Kalian berdua harus memakan cake ini sebagai salah satu wujud persahabatan.” Chen menawarkan dua cake yang tersisa.

“Aku tidak mau.” Sahut Tao. Kris hanya memandang Chen tajam.

“Aku tidak akan takut dengan pandanganmu, Kris.” Tepis Chen.

Kris pun membisikkan sesuatu kepada Tao, dan kemudian Tao pun mengambil cake itu,

“Baiklah akan kami makan.”

Kris pun mengambil satu cake yang tersisa dan  mereka memakannya.

“Enak kan? Tidak percaya sih!” Chen pun berbalik dan duduk dikursinya – disamping Kai.

Akhirnya, kue buatan kami habis semua. Syukurlah.

Waktu terus bergulir, Chanyeol tetap berdiri sambil memainkan gitar dan Luhan hyung bernyanyi. Perpaduan yang begitu bagus. Diikuti oleh Baekhyun dan Chen yang sesekali menari konyol. Kai dan Yixing hyung menampilkan robotic dancenya namun tetap duduk di kursi mereka. Suho hyung tertawa lepas melihat tingkah mereka semua dan Xiumin hyung menikmati pemandangan. Sementara aku  sesekali ikut bernyanyi mengikuti alunan lagu.

“Suaramu bagus lho, Kyungsoo.” Puji Yixing hyung setelah mendengar suaraku

“Terima kasih, Hyung.”

Huah… Kok aku mengantuk ya.”  Yixing hyung tampak mengantuk diikuti oleh aku. Boleh dikatakan aku benar-benar mengantuk. Apa karena kelelahan ya?

Tiba-tiba Yuri songsaenim berteriak lagi,

“Perhatian semuanya, silahkan duduk dikursi kalian masing-masing! Sekarang juga!”

“Jangan berteriak begitu dong, songsaenim yang cantik. Oh ia cantik mu hilang lho kalau kau menggunakan masker untuk menutupi mulutmu begitu,” Chanyeol mencoba melucu setelah mendengar perintah dari Yuri songsaenim.

“Tidak lucu Park Chanyeol! Saya bilang, ayo duduk di kursi kalian masing-masing sekarang juga! Dan jangan ada yang berdiri!”

Mau tidak mau akhirnya kami semua menuruti perintah guru kami ini dan mencoba duduk santai di kursi kami masing-masing. Walaupun suasana sunyi, kami masih bisa menikmati pemandangan di sekitar jalan lewat jendela.

Tak terasa kami melewati sebuah terowongan,

“Terowongan ini cukup panjang, jadi sekitar lima belas menit, kita akan gelap gulita!” jelas Yuri songsaenim.

Dan benar saja, ketika masuk ke terowongan, suasana sangat gelap. Bahkan aku tidak bisa melihat apa-apa.

Sedikit menakutkan.

Namun aku harus tenang karena hanya lima belas menit.

BISSSS….

Bunyi sesuatu jatuh di dalam bus. Tiba-tiba aku mencium bau tidak sedap,

“Bau apa ini?”

“Iya, bau nya menyengat sekali.” Yixing hyung merespon.

“Bau sekali!”

“Apa-apaan ini!”

“Hei, siapa yang kentut!”

“Tunggu! aku bisa sesak karena sebau ini!”

Terdengar suara-suara temanku yang lainnya. Tidak, ini bukan bau biasa. Ini seperti bau gas atau asap.

“Hei ini seperti bau asap!”

“Tapi mengapa begitu menjijikkan!”

Songsaenim! Bau apa ini!”

Songsaenim!!”

Songsaenim!!”

“Songsae…”

Tiba-tiba semuanya terasa pusing dan kesadaranku menghilang.

~~~

Aku membuka mataku dan masih dalam kondisi duduk. Aku melihat ke arah jendela. Dunia kembali cerah. Sudah keluar dari terowongan rupanya.

Aku juga memandang ke bagian dalam bus juga, betapa kagetnya aku melihat seluruh temanku dalam kondisi tertidur.

Ya!

Semua dari mereka tertidur.

Semuanya tertidur.

Semua.

Namun mengapa bisa secara bersamaan ?

“Yixing hyung, bangun!” Aku memukul-mukul pundak Yixing hyung, namun ia tetap tidak bangun-bangun.

“Hyung!” Aku mencubit pipinya dan hasilnya masih tetap sama.

Kemudian aku berdiri dan bangkit dari kursi hendak melihat ke arah Yuri songsaenim. Tampak Yuri songsaenim menatap lurus ke depan sambil menyilangkan tangannya di dadanya.

“Yuri songsaenim,” kataku pelan, mungkin guruku ini tidak dengar karena mengira semuanya sudah tertidur.

Songsaenim?” aku berkata dengan nada suara sedikit dinaikkan,

Yuri songsaenim pun membalikkan badannya dan menatap ke arahku. Aku tersenyum ternyata masih ada orang yang belum tidur.

Yuri songsaenim seperti mengeluarkan sesuatu dari sakunya, aku pun terus memperhatikannya.

Sontak mataku membulat sempurna saat ku tahu ia mengeluarkan pistol dan mengarahkannya padaku.

Songsaenim?”

Aku pucat…

Ini hanya mimpi kan?

Songsaenim ?”

DOR!!

Aku tersungkur.

Semua kembali gelap.

~~~

Untuk saat ini tertidurlah. Karena saat kalian terbangun, pesta telah dimulai.

“Could You Kill Your Best Friend?”

~~~

Halo… kembali lagi? hehehe. Gimana chapter ini ? Cukup panjang kan? Hehe. Dimohon komen, kritik, saran, dan likenya.  Berharap bagi chingu chingu yang sehabis baca dapat memberikan komentar. Komentar sangat berarti untuk aku karena sebagai penyemangat untuk melanjutkan cerita ini hehehe :D. Aku sangat menghargai mereka yang mau memberikan komentar 😀

Jadi, kalau misalnya ceritanya tidak ingin lanjut, keep “silent” saja terus ya silent reader :D. Buat silent reader, apa kabar? hehehe.

Ada yang sudah menebak kelanjutan ceritanya gimana? Hehe. Buat yang lagi ujian atau UAS, good luck ya! semoga hasil yang kalian dapatkan bisa memuaskan :D.

Salam author ganteng,

Fruidsallad.

Advertisements

80 responses to “Bloody Camp [Act 3]

  1. sumpah, ngeri .______.
    authornya cowok ya? aku baru sekali ini ketemu author cowok ^^
    semangat, keep writing ^^9

  2. Pingback: Bloody Camp [Teaser Next Act 8] | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s