A Thousand Paper Cranes | Chapter 5

Image

Title: A Thousand Paper Cranes

Parts: Chapter 1/Prologue | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5

Author: Vanana

Genre: Romance, Drama

Length: Chaptered

Main Casts: Oh Sehun, Ahn Hayeon (OC/You), Kim Jongin

Note: Mohon maaf karena chapternya pendek yah~ aku emang orangnya gak sabaran lol >< semoga suka ya sama chapter yang ini. maaf kalo ceritanya gak seru dll. btw, untuk nulis cerita ini aku berkali-kali liat ke google tentang leukemia, koma, dan tentunya tentang kehidupan di rumah sakit~ hahaha maklum lah, aku gak tau banyak tentang penyakit .__. selamat membaca!

***

Rasa kesepian selama berhari-hari sepertinya terbalaskan oleh kedatangan temanku Kai hari ini. Dia membawakanku bunga mawar juliet, mawar paling cantik yang pernah kulihat. Kai tahu benar bahwa aku sangat menyukai bunga, tetapi ini adalah pertama kalinya ia memberikannya padaku. Sebelum aku divonis menderita leukemia, Kai tidak bersikap sebaik ini terhadapku. Dulu, dia sering sekali mengerjaiku, walaupun aku tahu ia hanya main-main. Namun sekarang, ia menjadi sangat baik. Memang, dulu aku menyukainya, tetapi tidak sampai jatuh cinta padanya. Tapi, sejak aku bertemu Sehun, perasaanku pada Kai mulai menghilang. Ya, karena teman akan selamanya menjadi teman. Dia bukan diciptakan untuk menjadi cinta sejatiku, melainkan hanya untuk kujadikan sahabat.

“Biarkan aku membantumu melipat burung kertas itu,” Kai menawarkan bantuan pada diriku yang sedang melipat burung kertas sambil mengobrol dengannya. Tentu saja aku menerima kebaikannya, karena lebih cepat 1000 burung kertas jadi, lebih cepat sebuah permintaan akan terkabul.

Aku memberikan selembar kertas bekas padanya, untuk ia lipat. Aku memang tidak menggunakan kertas origami untuk membuat burung kertas, karena aku tidak tahu dimana untuk mendapatkan kertas origami di rumah sakit. Lagipula, jenis kertas tidak akan mempengaruhi, kan?

“Jadi… untuk apa kau melakukan semua ini?” tanya Kai disertai tawa meledek. Dia tidak mengerti betapa berartinya 1 burung kertas bagiku.

“Ada seseorang yang koma. Dia belum sempat menyelesaikan 1000 burung kertas, namun ia sudah terlanjur koma. Aku bermaksud untuk meneruskannya karena.. kau tahu mitos ini kan, jika kau melipat 1000 burung kertas, permintaanmu akan terkabul. Aku melakukannya karena sepertinya aku jatuh cinta padanya,” kataku. Aku yakin benar, Kai meragukan perasaanku pada Sehun, karena tidak mungkin seseorang bisa jatuh cinta pada orang yang bahkan belum pernah ia lihat bergerak. Tetapi semua itu salah. Aku adalah bukti bahwa seseorang bisa jatuh cinta pada siapa saja; sekalipun keduanya buta, bisu, dan tuli.

Masih dengan tawa meledeknya, ia kembali bertanya padaku, “bagaimana caramu mencintainya? Kau bahkan tidak tahu bagaimana sifatnya.”

Bagaimana aku mencintainya?

Dengan lelah, lemah, hingga jantungku terbelah. Jika cintaku adalah waktu, maka cintaku padanya adalah keabadian. Jika perasaanku adalah air, maka perasaanku padamu adalah sungai yang tidak berhenti mengalir. Panggil aku gila karena aku telah jatuh cinta pada seseorang yang tak berdaya. Panggil aku bodoh karena aku telah jatuh cinta pada bunga yang hampir layu. Panggil aku dungu karena aku telah jatuh cinta pada tanah kering yang tidak pernah disiram setetes air pun. Apapun yang mereka katakan tidak akan pernah mengubah sedikitpun pandanganku tentangnya. Karena suatu hari orang tak berdaya itu akan menjadi akar pohon akasia yang kuat. Suatu hari bunga layu itu akan mekar kembali dan menjadi sebuah mawar juliet bagiku. Dan suatu hari, tanah kering itu akan menjadi tanah dimana kebun yang indah berpijak.

Bagaimana aku mencintainya?

Dalam cara segila-gilanya seseorang pernah jatuh cinta. Kulit dan wajahnya yang pucat bagaikan intan, berlian, permata, dan semua jenis perhiasan di alam semesta. Saat aku melihatnya, semua hal yang aku punya serasa hilang, karena semuanya telah kuberikan padanya. Aku begitu mengaguminya, dalam cara sebodoh-bodohnya seseorang pernah merasa kagum. Sampai titik dimana aku tidak bisa berpikir dengan benar, sampai titik dimana aku kehilangan akal sehatku, aku masih sanggup mencintainya. Mengapa? Karena dalam mencintai seseorang, kita tidak menggunakan akal pikiran. Kita menggunakan hati.

“Bagaimana aku mencintainya?” sebelum menjawab pertanyaan Kai, aku balik bertanya padanya. Lalu, dengan senyum pada wajahku, aku menjelaskan, “dalam cara terbaik seseorang bisa jatuh cinta, sampai perasaannya tidak bisa dijelaskan.”

“Maksudku… mengapa itu semua bisa terjadi?” Kai terlihat sangat penasaran. Ekspresinya yang tadinya mengejekku seketika berubah menjadi wajah penuh pertanyaan.

Sebenarnya aku sendiri pun tidak terlalu yakin mengapa aku bisa setertarik ini pada Sehun. Tidak semua hal di dunia ini bisa dijelaskan, bukan? Mungkin aku jatuh cinta padanya karena ia sebaya denganku, dan kami sama-sama berada di rumah sakit. Mungkin aku jatuh cinta padanya karena wajahnya yang tampan. Mungkin aku jatuh cinta padanya karena ia terlihat seperti orang baik. Atau mungkin, semuanya adalah takdir. Mungkin aku memang ditakdirkan untuk jatuh cinta padanya.

“Semuanya terjadi begitu saja,” jawabku, “aku pun tidak mengerti.”

Kai hanya terdiam dan memberikanku tatapan sedikit terkejut. Sepertinya, ia tidak mampu berkata-kata karena… yah. Dia tidak tahu apa yang harus ia komentari.

Kami melanjutkan melipat burung kertas sambil bicara tentang hal-hal yang tidak terlalu penting. Dia menceritakan tentang sekolah, dan teman-teman lain yang sudah lama tidak aku jumpai. Pada awalnya, mereka memang rajin menjengukku. Tetapi lama kelamaan, mereka semakin sibuk dan tidak memiliki waktu untuk mampir kesini. Ya, tugas sekolah memang menyebalkan.

Aku menceritakan padanya tentang keseharianku di rumah sakit. Membosankan, dan tidak ada hal spesial yang bisa diceritakan. Sama saja seperti libur panjang, hanya bedanya kau tidak bisa pergi kemana-mana. Terjebak di rumah sakit hampir sama dengan berada di penjara. Perbedaannya hanyalah fasilitas dan bagaimana orang memperlakukanmu.

Langit sudah mulai mendung. Aku menyukai langit mendung ini, tapi dalam sisi lain aku tidak menyukainya karena itu berarti Kai harus segera pulang. Jika ia tidak pulang, ia akan terjebak hujan. Orang tuanya pasti mengkhawatirkannya.

“Aku harus segera pulang,” kata Kai sambil beranjak dari tempat duduknya dan membereskan barang-barangnya, “lain kali aku akan kesini dan membantumu melipat burung kertas lagi.”

“Ya… Aku sangat mengharapkan kedatanganmu,” aku tersenyum padanya. Sebenarnya berat juga rasanya ketika ia harus pulang. Karena itu berarti aku akan kembali kesepian.

“Sampai jumpa,” ujar Kai sambil melangkah menuju pintu. Aku tidak bisa menyuruh Kai untuk tetap disini karena dia juga memiliki sebuah kehidupan.

Ketika Kai pergi, tiba-tiba saja aku teringat akan keluargaku. Sudah lumayan lama orangtuaku tidak menjengukku. Baru saja aku hendak menelepon mereka, Kahi datang ke kamarku dengan membawa sebuah map biru.

“Yang tadi itu temanmu ya?” tanya Kahi padaku.

Aku mengangguk, “Iya, dia teman sekolahku.”

“Kau pasti senang seseorang datang menjengukmu,” kata Kahi, “oh iya, aku kesini bukan untuk memberimu obat atau memeriksamu. Tapi aku ingin menceritakan sesuatu padamu.”

Kahi segera duduk di kursi tamu. Aku beranjak dari tempat tidurku dan duduk di sebelah Kahi.

“Kita banyak berbicara tentang Sehun, bukan?” kata Kahi, “dan sepertinya kau bertanya-tanya kapan dia akan bangun.”

“Lebih dari sekedar bertanya-tanya,” balasku dengan sedikit tawa.

Kahi membetulkan posisi duduknya, lalu ia angkat bicara. “Kau tahu apa itu koma?”

“Sebenarnya aku tidak yakin…” Aku menunduk. Yang aku tahu, koma adalah keadaan dimana seseorang tertidur untuk waktu yang sangat lama dan tidak dapat dibangunkan. Tetapi sepertinya aku salah.

Kahi membuka map biru yang dari tadi dipegangnya. Ia buka lembar pertama. Yang ia tunjukkan adalah illustrasi otak manusia yang terdiri dari beberapa bagian.

“Pada orang yang tidak sedang dalam keadaan koma, bagian-bagian otak berfungsi dengan baik. Tetapi pada pasien koma, banyak aktivitas otak menjadi gelap. Biasanya daerah gelap ini berada di perifer. Menariknya, pasien koma tersebut memiliki pusat kegiatan yang sedikit di wilayah precuneus yang dikenal berperan penting dalam kesadaran dan ingatan,” Kahi menjelaskan padaku dengan beberapa istilah medis yang tidak terlalu kukenal, “koma biasanya hanya berlangsung selama 4 minggu. Tetapi, orang dalam keadaan koma presistent vegetative bisa tertidur selama bertahun-tahun. Bahkan, sampai beberapa dekade.”

Aku menatap Kahi dengan tatapan bingung. Aku tahu apa yang diceritakan oleh Kahi, tetapi semuanya kurang jelas. Apa maksud dia menceritakan semua ini padaku?

“Aku bicara tentang Sehun. Aku menemukan sesuatu yang menarik di elektrokardiogram-nya,” kata Kahi dengan senyum di wajahnya.

“Elektrokardiogram?” aku tidak mengerti apa yang diceritakan oleh Kahi.

Kahi menunjukkan sebuah gambar lagi dari map birunya. Yang kulihat adalah sebuah mesin rumah sakit, sama persis seperti salah satu mesin yang ada di kamar Sehun, “ini adalah elektrokardiogram. Gunanya untuk mengukur detak jantung seseorang. Jika yang terlihat di monitor elektrokardiogram adalah sebuah garis lurus, berarti jantung orang tersebut sudah berhenti berfungsi.”

Kahi membawaku ke kamar sebelah, yaitu kamar Sehun. Dia menunjukkan monitor elektrokardiogramnya, dan dia juga memperlihatkan sebuah gambar padaku. Tepatnya, sebuah salinan dari elektrokardiogram.

“Bandingkan detak jantungnya sekarang dengan apa yang kau lihat di gambar.”

Aku membandingkannya. Sangat berbeda. Tetapi aku tidak bisa menerjemahkannya. Aku tidak mengerti bagaimana cara membaca elektrokardiogram, kecuali garis lurus.

“Kemarin, aku melihatmu keluar dari kamar Sehun. Ketika kau sudah keluar, aku masuk ke kamarny. Aku mengecek elektrokardiogramnya dan monitornya menunjukkan bahwa ketika kau disana, jantungnya berdetak dengan sangat kencang. Dan ketika kau pergi, jantungnya kembali berdetak seperti biasa.”

“Mengapa bisa seperti itu?” Aku tidak percaya mendengar apa yang dikatakan oleh Kahi.

“Beberapa orang yang dalam kondisi koma juga membuat gerakan, mengeluarkan suara dan punya pengalaman spiritual. Pasien koma juga terkadang memiliki gerakan refleks yang meniru kegiatan orang sadar. Aku tidak tahu jelas mengapa detak jantungnya sangat cepat ketika kau datang. Ini bisa jadi hanya sebuah kebetulan…”

Setelah menjelaskan semuanya, Kahi meninggalkanku di kamar Sehun. Seperti biasa, aku duduk di sampingnya sambil melihatnya dan bicara padanya. Menceritakan betapa kesepiannya aku disini dan betapa ketika aku berada dengannya, kesepianku hilang dengan begitu saja.

“Temanku datang tadi. Dia membantuku melipat burung kertas untukmu,” kataku pada Sehun.

Aku terus saja memperhatikannya. Aku sangat ingin memberitahu pada dunia betapa berharganya dia. Tapi, aku kehabisan kata-kata. Seakan-akan, tidak ada satu kata pun di dunia ini yang mewakilkan betapa sempurnanya dia di mataku.

Aku memperhatikannya bernafas. Indah sekali, pikirku. Aku tidak tahu bahwa bernafas adalah sebuah seni, hingga saat aku melihatnya terbaring disini, tidak melakukan apa-apa kecuali bernafas. Caranya menghirup dan menghembuskan udara bagaikan angin laut yang bertiup dan membawa kedamaian bagi siapapun yang ada.

Aku mengecek elektrokardiogramnya. Aku ingin tahu apakah jantungnya berdetak dengan kencang lagi seperti yang ditunjukkan Kahi tadi, seperti bagaimana jantungnya berdetak kemarin. Tetapi sayangnya, aku tidak bisa menerjemahkan elektrokardiogram tanpa bantuan Kahi.

Aku masih penasaran, maka aku mengeceknya dengar mendengarkan detak jantungnya. Aku memosisikan kepalaku tepat pada daerah jantungnya, lalu mendengarkan denyutnya. Namun, jantungnya tidak berdetak dengan kencang seperti apa yang Kahi bilang.  Menurutku, detak jantungnya sangat tidak stabil.

Aku, masih dengan kepala yang berbaring di atas dadanya dan senyuman kecil di bibirku, berkata dengan pelan, “jika kau ingin tahu detak jantungku saat ini… aku akan memberitahumu. Detakannya sangatlah kencang. Kau tahu kenapa?”

Aku menjawab pertanyaanku sendiri dalam hati, “Karena aku bersamamu.

56 responses to “A Thousand Paper Cranes | Chapter 5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s