Sunshine : Eleven (FINAL) :

sunshine-choi-soo-joon-storyline-3

SUNSHINE

EXO Kai | Park Haera (OC/You) | EXO Suho

Author : @MinhoNoona (Choi Soo Joon)

Genre : Romance,Angst,Life.

Rate : PG-15

Length : Seriesfic

Summary :

I want to be sun for both of you,but what it could be? -Haera-

Poster : Lee YongMi @ http://cafeposterart.wordpress.com/

Previous Chapter :

Nine-A | Nine-B | Ten |

JONGIN

“Aku pulang,” ujarku saat sampai di rumah.

Suasana begitu sepi,maklum Appa & Eomma tengah sibuk mengecek persiapan gedung resepsiku besok,sementara kuliahku yang padat akhir-akhir ini membuatku tak bisa berbuat banyak. Akhirnya aku memasrahkan semua persiapan pada kedua orangtuaku,Haera dan Park Eomma. Aku menghempaskan diri di sofa dan menyalakan TV. Ah,sebentar lagi aku tidak akan tinggal disini.

“Ternyata kau sudah pulang,” kulihat sosok Joonmyun turun dari lantai dua,ia duduk disampingku.

“Ternyata besok kau akan menikah dan mendahuluiku,” ucapnya.

“Apa kau keberatan?” tanyaku.

Joonmyun tersenyum kecil.

“Tidak,aku tahu ini berat untukku tapi kebahagiaanmu kini segalanya,Jongin-ah. Kurasa Tuhan juga sudah mempersiapkan yang terbaik untukku,” jelasnya.

Aku menghembuskan nafas panjang. Entah kapan terakhir kali aku mengobrol seperti ini dengannya.

Jeongmal mianhae,Hyung..,” ucapku lirih.

“Kau bilang apa?” mata Joonmyun mengerejap tak percaya.

“Aku minta maaf karena selama ini sudah membencimu,mungkin tidak seharusnya aku begitu. Seharusnya aku juga bisa memahami posisimu,maaf kalau sikapku begitu menyiksamu,”

Joonmyun menatapku haru,ia memelukku erat dan menepuk punggungku.

“Aku juga minta maaf,Jongin-ah. Aku tidak menjadi kakak yang baik untukmu,aku tidak memahamimu dan begitu egois. Maaf juga karena aku sempat berniat untuk merebut Haera darimu,tapi sekarang tidak lagi. Aku yakin kau bisa menjaganya dengan baik,kau mencintainya begitupun dengan dia,kalian berdua hiduplah dengan bahagia. Maka dengan begitu aku akan tenang,”

“Jeongmal gomawo,Hyung,” aku ikut menepuk punggungnya juga.

Joonmyun melepas dekapannya,kulihat ia menangis.

“Apa kau akan benar-benar pindah ke Beijing?” tanyaku.

“Kenapa? Kau tidak mau aku pergi? Tapi ini sudah tugas dari Appa,” Joonmyun terkekeh pelan.

“Hhmm…hanya saja kurasa kita lebih baik jika bekerja sama,aku tidak tahu bagaimana cara menjalankan perusahaan,Hyung,”

“Nanti juga kau akan tahu dan terbiasa,aku yakin kau bisa. Bukankah adikku ini cerdas,hm?”

“Kau bisa saja,Hyung,” aku mendorongnya pelan.

Kami berdua tertawa bersama dan setelah itu obrolan hangat mengalir.

HAERA

“Nak..,” kudengar suara Eomma dari balik pintu kamar.

“Masuk saja,Eomma,” sahutku.

Jgrek !!! Eomma membuka pintu kamarku dan masuk. Ia menghampiriku yang sudah bersiap dalam posisi tidur.

“Kenapa kau belum tidur?” tanyanya.

“Aku sulit tidur Eomma,aku tegang untuk besok,” tanggapku.

Eomma tersenyum kecil dan membelai rambutku sayang.

“Tenanglah,semuanya akan baik-baik saja dan berjalan lancar,”

“Eomma…,”

“Ne?”

“Apa Eomma tidak sedih?”

“Kenapa harus bersedih? Tentu saja Eomma senang,karena besok putri Eomma akan menikah,”

“Apa setelah aku menikah Eomma tidak akan merasa kesepian? Aku akan pindah ke rumah yang baru dengan Kai,Eomma,”

Lagi-lagi Eomma tersenyum. Aku tahu kali ini senyumnya lebih mirip seringaian,ia berusaha menahan tangis.

“Andai saja Appa masih ada,Eomma tidak akan sendirian,”

“Kau merindukan Appamu?”

Aku mengangguk.

“Kebahagiaanku akan terasa semakin sempurna jika ada Appa disampingku,”

“Eomma yakin,Appamu akan ikut berbahagia dimanapun dia berada sekarang,”

“Eomma,apa kehidupan pernikahan itu sulit?”

“Tenanglah,Eomma yakin kau dan Jongin bisa melewati segala masalah yang ada. Kalian berdua akan baik-baik saja,”

Aku bangkit dari tidurku dan memeluk Eomma erat.

Eomma,saranghae,” 

Nado saranghae,Haera-ya,” 

***

Esok Harinya,07.30 KST…

Kini Audi hitam yang kutumpangi bersama Eomma,melesat cepat menembus hiruk pikuk kota Seoul. Ya,kami dalam perjalanan menuju gereja,sedari tadi aku tidak bersuara dan melempar pandanganku keluar jendela. Aku menggosok kedua tanganku yang terasa dingin,rasa-rasanya aku tidak pernah merasa setegang ini. Setengah jam berlalu akhirnya mobil sudah terparkir manis di depan gereja,ternyata sudah banyak keluarga Jongin yang menunggu disana. Aku dan Eomma keluar dari mobil,disusul oleh saudara-saudaraku yang lain.

“Kau cantik. Sangat cantik,” senyum manis Joonmyun langsung menyambutku.

“Terimakasih banyak,Oppa,” ucapku.

“Ayo,dia sudah menunggumu,” Joonmyun membimbingku untuk masuk kedalam gereja.

Kurasakan pandangan banyak orang tertuju kearahku,tapi sebenarnya aku tidak terlalu merasakannya. Karena kini kedua bola mataku tertumbuk pada sesosok laki-laki yang memunggungiku,walaupun sekarang aku melihatnya dari belakang tapi dia tetap terlihat mempesona dengan balutan tuxedo putihnya. Joonmyun melepas genggaman tangannya saat aku hampir mendekatinya,setelah beberapa langkah kini aku benar-benar berada disampingnya. Aku meliriknya. Dia tampan. Tampan sekali. Kulit cokelat,badan atletis dan goresan wajah itu tampak berpadu sempurna.

“Jangan terus-terusan melihatku,aku malu,” tanggapnya tanpa menoleh sedikitpun.

Aku tertawa kecil,biasanya akulah yang akan salah tingkah tapi kini ia yang merasakannya. Suasana langsung terasa khidmat kala seorang pendeta hadir dihadapan kami berdua. Upacara pernikahan pun dimulai.

“Aku bertanya padamu,Kim Jongin apa kau bersedia mengambil Park Haera sebagai istrimu?”

Suasana hening sejenak. Kulihat ia mengangguk.

“Ya,saya bersedia,” ucapnya tegas.

“Aku bertanya padamu,Park Haera apa kau bersedia mengambil Kim Jongin sebagai suamimu?”

Aku menghembuskan nafas panjang.

“Ya,saya bersedia,”

“Silahkan kalian berdua bersumpah,”

Jongin meraih tanganku dan memutar badanku hingga aku menghadapnya.

“Aku mengambilmu Park Haera sebagai istriku,aku bersedia menemanimu dalam keadaan sehat maupun sakit,kaya maupun miskin. Aku berjanji dihadapan Tuhan dan jemaat-Nya,”

“Aku mengambilmu Kim Jongin sebagai suamiku,aku bersedia menemanimu dalam keadaan sehat maupun sakit,kaya maupun miskin. Aku berjanji dihadapan Tuhan dan jemaat-Nya,”

Pendeta mencipratkan air suci dan membacakan doa-doa. Suasana haru langsung terasa. Jongin membuka tiara yang menutupi wajahku dan mencium keningku. Lembut dan hangat.

Jeongmal saranghae,Park Haera,” bisiknya lembut.

Nado,saranghaeyo yeongwonhi,” aku tersenyum lebar.

JONGIN

Kulihat banyak tamu-tamu yang berada di ballroom,sebagian besar merupakan kolega Appa. Teman-teman sekampus hanya beberapa yang datang kesini karena terbatasnya undangan. Aku melirik Haera yang berdiri manis disampingku,malam ini gaun yang dipakainya jauh lebih simpel dengan panjang selutut dan berwarna pink baby,sementara aku memakai setelan tuxedo hitam.

“Apa kau tidak pegal,hm?” bisikku pelan.

Aku memberinya segelas wine yang sudah disediakan,kebetulan antrian tamu memang sedang berhenti. Haera menyesap wine itu pelan dan menatapku.

“Yah,sedikit. Tapi ini menyenangkan kok,” ujarnya.

“Tapi akan lebih menyenangkan setelah ini,”

“Ya !!! Dasar otak yadong,” ia terkekeh pelan sambil mencubit pipiku gemas.

“Aigooo..pasangan baru,mesra sekali,” ternyata sosok Naeun,Dasom & Hara sudah menghampiri kami.

“Haha,terimakasih banyak atas kehadiran kalian,” ujar Haera.

“Jangan lupa kuliah,Haera-ya. Dosen-dosen sudah menanyakanmu,” ucap Hara.

“Oke,silahkan nikmati pestanya,ladies,” ucapku.

“Yak,sekarang saatnya acara dansa. Kepada pasangan pengantin dan para tamu silahkan ke lantai dansa,” ujar MC.

“Ayo,kita turun,” aku menarik Haera untuk turun dari pelaminan.

Tak sampai semenit,kami sudah berbaur dengan tamu undangan lainnya. Terdengar alunan piano,aku meraih tangannya dan memeluk pinggangnya,kini jarak kami berdua tak lebih dari lima senti.

“Kau cantik,” pujiku.

“Sudah berapa kali kau bilang itu hari ini,Kai? Tentu saja,aku cantik karena aku memakai make-up,”

Aku menggeleng dan tersenyum.

“Kau memang cantik,tanpa make up-pun kau sudah cantik,sayang,”

“Aigooo..berhentilah menggodaku,”

Suasana hening sesaat,kami berdua tak lepas saling pandang.

“Kenapa kau mencintaiku?” tanyanya.

“He? Kenapa kau tanya itu?” aku mengerenyit.

“Aku tak menyangka saja,bahwa akhirnya aku akan menikah denganmu,”

“Kau tidak menyesal kan?” tanyaku.

“Tentu saja tidak,entahlah rasa-rasanya aku sendiri pun tidak punya alasan untuk tidak balas mencintaimu,”

“Kau tidak punya alasan,apalagi aku. Aku hanya mencintaimu,itu saja,” ucapku.

Haera tersenyum dan lalu memelukku erat. Rasa-rasanya aku tidak ingin hari ini berlalu begitu saja.

***

Cahaya matahari pagi menelusup ke celah jendela,aku yang tengah terlelap jelas terusik. Saat aku membuka mata,pupil mataku membesar karena tiba-tiba ada cahaya yang masuk.

“Eungh..,” aku menggeliat.

Aku melirik kesamping,sosok Haera yang semalam tidur disampingku kini tidak ada. Aku bergegas menuju kamar mandi untuk cuci muka dan sikat gigi,setelah itu aku keluar kamar dan berjalan menuju dapur. Semakin dekat dengan dapur,hidungku tergelitik dengan bau aroma pancake dan kopi. Kulihat Haera yang tengah sibuk di depan wajan.

“Pagi,sayang,” aku memeluknya dari belakang.

“Pagi juga,Kai,” ia tersenyum kecil sambil menatapku sesaat dan lalu kembali fokus pada masakannya.

“Kelihatannya enak,hm,”

“Hehe,begitu ya. Kenapa kau tidak bersiap-siap ke kantor? Bukankah ini hari pertamamu bekerja?” ujarnya.

“Aku malas pergi,” ucapku manja.

“Hey,Appa akan memarahimu. Cepat siap-siap sana,” ucapnya.

“Apa aku tidak boleh libur sehari saja? Aku ingin menghabiskan waktu denganmu,”

“Sebentar lagi weekend,kita akan berlibur bersama. Bagaimana?”

“Oke,jangan lupa akan janjimu itu,sayang,” aku mencium pipinya dan lalu bergegas kembali ke kamar.

HAERA

“Sarapannya sudah siap,dear,” jeritku.

“Ya,sebentar lagi aku selesai,” jerit Kai dari kamar.

Aku menata dua pancake diatas piring,menyiramnya dengan sirup maple dan beberapa potong buah diatasnya. Tak lupa aku menyiapkan secangkir moccacino latte kesukaannya. Wangi parfum langsung menyeruak kala Kai keluar dari kamarnya,priaku itu tampak begitu tampan dengan setelan kemeja biru dongker,dasi dan celana pantalon hitam. Ia membawa tas jinjing laptop di tangan kanannya. Aku terkikik pelan.

“Kenapa? Apa aku aneh?” tanggapnya.

“Hihi,kau tampan sayang. Hanya saja aku belum terbiasa melihatmu dengan setelan rapi seperti ini,”

Kai menggaruk kepalanya malu,ia duduk manis lalu menikmati pancakenya.

“Bagaimana? Enak kan?” tanyaku.

Kai mengacungkan jempolnya,tak sampai sepuluh menit sarapan paginya sudah habis. Aku mengantarnya hingga kedepan pintu apartemen. Aku membetulkan letak dasinya dan merapikan kemejanya.

“Nah,sekarang kau sudah tampan,” aku tersenyum kecil.

“Tunggu aku pulang dan hati-hati di rumah,” Kai mencium bibirku lembut.

“Dan semoga harimu juga lancar,dear,”

Kai melambaikan tangannya hingga sosoknya menghilang saat pintu lift tertutup. Aku kembali ke dalam dan melanjutkan pekerjaan rumahku yang sempat tertunda.

Beberapa bulan kemudian,Seoul Internasional Hospital…

“Aku lelah,Kai,” ujarku lirih. Pelan sekali.

“Jangan biarkan dia tertidur,Tuan Kim. Itu akan membahayakan bayi kalian,” ujar dokter Tiffany.

“Ayo sayang kau pasti bisa,” kudengar suara Kai ditelingaku.

Aku mengenggam tangannya erat dan menarik panjang nafasku.

“Aarrgghhhh..!!!” ujarku sekuat tenaga.

“Owaaaaa…!!!” tak lama terdengar jerit tangisan bayi di ruang persalinan.

Pegangan tanganku mengendur,rasa-rasanya tenagaku seperti disedot sedemikian rupa. Kai menyeka keringat yang bercucuran di pelipisku. Ia tersenyum.

“Kau benar-benar hebat,sayang,” pujinya.

Aku tersenyum,dokter Tiffany mengeluarkan bayi dari rahimku. Bayi itu masih berlumuran darah.

“Selamat,kalian berdua mendapatkan anak laki-laki yang tampan,” ujarnya.

Setengah jam berlalu,seorang suster membawa bayi itu masuk kedalam ruangan.

“Dia memang benar-benar tampan,” ujarku saat bayiku sudah berada disampingku.

“Ya,seperti Appanya,” ujar Kai penuh percaya diri.

“Hihihi,kau ini percaya diri sekali,Jongin Appa,”

Kami berdua asyik memandangi malaikat kecil itu,rasa-rasanya tak percaya bahwa ada anggota baru diantara kami berdua. Dan kini aku sudah berstatus sebagai seorang Ibu.

“Kim Hyun Woo. Ya,namanya Kim Hyun Woo,” ucap Kai mantap lalu mencium pipi Hyun Woo lembut.

JONGIN 

Seoul,2034…

“Appa..,” tak biasanya Hyun Woo masuk ke ruang kerjaku.

“Ada apa,Nak?” tanyaku.

“Aku ingin bercerita,apa Appa sedang sibuk?” tanyanya.

“Tentu saja tidak,memangnya kau mau bercerita apa?”

“Aku sedang jatuh cinta dengan seseorang,”

“Ah? Benarkah? Wah,ternyata anak Appa sudah besar,”

“Aku sudah menyatakan cinta padanya,kurasa dia tidak mencintaiku tapi dia menerima pernyataanku,”

“Lalu? Bukankah itu bagus?”

“Aku takut hingga di hari-hari kedepan dia tidak akan pernah mencintaiku,”

“Tenanglah,kau hanya perlu melakukan yang terbaik. Cintai dan sayangi dia sepenuh hati,maka dia akan membalas perasaanmu dengan cara yang sama. Dan satu pesan dari Appa,jangan pernah ambil kehormatannya sebelum kalian menikah. Arraseo?”

Hyun Woo mengangguk. Ia mencium pipiku lembut.

“Eomma pasti bangga dengan Appa,karena Appa sudah membesarkanku dengan baik,” ujarnya lalu meninggalkan ruang kerjaku.

Sepeninggal Hyun Woo aku melirik foto kami bertiga yang terpajang manis di mejaku. Kurasakan air mataku mengalir perlahan.

***

Esok Harinya,Taman Pemakaman Umum…

Aku melangkahkan kaki sambil membawa seikat bunga mawar putih,aku berjongkok di hadapan sebuah nisan mengilat bertuliskan :

RIP

Park Haera

Our beloved Mom,Wife and Daughter

Aku menaruh bunga diatas makam tersebut dan menuangkan soju ke cawan. Sesaat aku larut dalam doa.

“Apa kabarmu,sayang? Kau sudah bahagia kan di surga sana?” tanyaku.

Tak ada jawaban. Haera memang tidak akan pernah menjawab karena ia sudah berada di alam berbeda denganku.

“Hyun Woo sudah tumbuh dengan baik,ia laki-laki tampan juga bertanggung jawab seperti harapanmu. Kedua bola mata dan senyumnya mengingatkanku padamu,sayang. Kuharap kau bisa terus mendoakan kami agar bisa menjalani kehidupan dengan lebih baik lagi,kurasa sebentar lagi Hyun Woo akan lulus kuliah dan lalu menikah. Kita akan memiliki cucu setelah itu,kau senang kan? Seperti janjiku padamu,aku tidak akan pernah mengikat janji dengan siapapun lagi selain denganmu,kau mau menungguku hingga aku menemuimu di surga,kan? Semoga kau selalu tenang dan bahagia,sayang,” aku mengecup nisan Haera lembut.

Ya,Haera memang sudah meninggal dunia. Ia kehilangan nyawanya saat kami dalam perjalanan pulang dari Beijing menuju Seoul. Kala itu,kami bertiga berlibur dan mengunjungi Joonmyun Hyung yang memang sudah menetap disana,tak disangka pesawat yang kami tumpangi mengalami kecelakaan. Aku dan Hyun Woo selamat tapi tidak dengan Haera. Kala itu Hyun Woo baru saja duduk di bangku Junior High School. Kami berdua begitu terpukul atas kematian Haera yang terasa begitu tiba-tiba,beberapa bulan bahkan setahun setelah kematiannya aku merasa begitu depresi. Beruntung masih ada Park Eomma dan kedua orangtuaku yang menguatkanku,mereka bilang aku harus bertahan demi Hyun Woo. Sejak itulah aku menata kehidupanku dan Hyun Woo yang sempat berantakan,aku membesarkan Hyun Woo sendirian. Entah berapa banyak yeoja yang singgah di hidupku dan menginginkanku hidup bersama salah satu dari mereka. Yah,beberapa dari mereka memang begitu menyayangiku dan Hyun Woo. Tapi aku menolaknya,sungguh aku tidak bisa membayangkan mencintai orang lain selain Haera. Aku merasakan seseorang berdiri di belakangku,Haera tengah tersenyum kearahku. Ia memakai baju serba putih,rambut hitamnya tergerai indah. Ia melambaikan tangan,aku membalas lambaian tangannya.

“Park Haera,you’re my sunshine. Forever,” ucapku pelan.

[All] So I pray for you, oh, so I
So I promise you, oh, so I
[Ryeowook] Yaksokhaeyo modeungeoshi
Geudaerago mideulkkeyo ([Kangin] Geudaerago mideulkkeyo~)
Will you come to me,
Na jogeuman deo geudaepume
O saranghaeyo geudae my love
Na eonjekkajina, ireohke

Geudae bbunijyo dugeungeorineun mamdo
Na ireohke so I love you
Saranghandago neul gomapdago neomu

 

So I pray for you (oh) so I
So I promise you (oh) so I
I promise you everything.
I am going to believe that it’s you (I’m going to believe that it’s you)
Will you come to me
I want to be just a little closer to your embrace
Oh I love you my love
I’m always going to be this way

You’re the only one who makes my heart race and the only one for me
I love you so much like this
I love you, and I’m always so thankful

(So I,Super Junior)

_________________________________________________________________________________

Yaaaay…akhirnya tamaaaat !!! Maaf kalau tidak sesuai harapan,kurang feelnya,kurang nendang dll dsb dst !!! Hehe makasih atas apresiasinya selama ini,semoga setelah ini saya bisa bikin FF-FF yang lebih menarik. Comment readers sangat berharga,gomawo ^^

 

105 responses to “Sunshine : Eleven (FINAL) :

  1. thor,, aku gak setuju haera meninggal huwaaaa #mewek bareng kai
    tapi seru kok, walaupun alurnya kecepetan. keep writing and fighting

  2. aku baru baca ff ini. yaahh kenapa endingnya gitu thorr??? kan kesian kainya *seret kai pulang* tapi ff ini keren.. aku ampe terharu campur bahagia/? campur gimana gitu bacanya wkwk. pokoknya keep writing buat authornya:D

  3. Thor maaf aku reader baru dan comment nya sekalian, dari awal ceritanya udah seru thor.. Aku suka cerita gini. Tapi aku kasihan juga sama joonmyunnya akhirnya dia gak jadi memiliki haera 🙂
    Awalnya sih envy banget ya kalo aku jadi joonmyun, tapi akhirnya sadar juga.. Kalo sebenernya harus ngalah gitu. Good job author buat ff ini ^^ keep writing yaa thor, semoga bisa menghasilkan ff sebagus ini lagi atau bahkan lebih bagus lagi FIGHTING !!

  4. Prok… prok… prok….
    Mian thor, br koment skrng. ceritax daebak!!! aq sll mnungg ffmu thor, :))

  5. Huhuhu *ngabisi tisu sekotak*
    yah kenapa haeranya meninggal?
    Tp ceritanya bagus kok.
    Author keep writing
    hwaiting!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s