[Chamomile/Song Fic] Runaway

[Chamomile] Runaway

(c)missfishyjazz

G-Dragon / Kwon Jiyong | Sandara Park

Hurt, Marriage Life, Romance || Song-Fic || PG-17

Inspired by KARA’s – Runaway

Runaway FFi 

Where are you? When are you coming? Again today, it’s me who is waiting

No, it’s alright, I’m sorry for tactlessly pushing you

 

2018

 

“Berita perceraianmu dengan Dara semakin memasuki kawasan yang tidak masuk akal Jiyong, spekulasi masyarakat terus berkembang. Kiko, wanita jalang itu bahkan masih memposting foto kalian di instagram. Aku harus berpikir dua kali untuk menganggap dia sebagai wanita.” Seunghyun tidak habis pikir dan langsung membanting surat kabar entah yang keberapa hari ini tepat di depan meja Jiyong. Dimulai dari foto yang di dapat seorang wartawan Jepang dimana Jiyong nampak keluar dari hotel bersama Kiko, sampai berita panas lainnya mengenai hubungan terselubung Jiyong selama 2 tahun belakangan. Padahal media Korea beberapa kali menempatkan Jiyong dan Dara sebagai pasangan selebritis yang paling serasi dan semuanya seperti tak berguna sekarang. Hangus. Yang tersisa hanya headline surat kabar yang terus saja menekan Jiyong. Parahnya masih saja ada netizen yang menyalahkan Dara yang belakangan ini memang sibuk dengan proyek filmnya. Dan Jiyong semakin membenci dirinya karena itu.

 

“Aku tidak mengerti kenapa semuanya menjadi seperti ini Hyung. Aku merasa semuanya baik-baik saja—”

 

BRUGHH

 

Jiyong yang baru berdiri mendapatkan pukulan telak di wajahnya. Seungri berdiri di sana dengan mata penuh api dan Chaerin di belakangnya yang sudah hampir menangis melihat kelakuaan kekasihnya.

 

“PRIA BRENGSEK SEPERTIMU,” Seungri menunjuk wajah orang yang selama ini menjadi panutannya dengan raut jijik, “AKU BENAR BENAR MALU, JIJIK, TERHINA MEMILIKI LEADER BAJINGAN SEPERTIMU!!”

“Ri, Sudah. Jangan gunakan kekerasan, oke?” Chaerin berusaha menarik Seungri yang terus saja ingin melampiaskan emosinya kepada Jiyong.

“Jangan coba menghentikan ku Chae, kau sebagai teman dekat Dara seharusnya mendukungku! Apa kau tidak ingat bagaimana Dara terus menangis dan mendapatkan teror karena gagal menjaga suaminya, YANG AKU RASA TIDAK BISA LAGI MENJADI SUAMI!!” Seungri merasa ini semua terlalu tidak adil bagi Dara. Dara sangat bersabar. Dia terlalu sabar. Seungri bisa melihat bagaimanapun mesranya Jiyong dengan gadis-gadis di luar sana baik di media ataupun sekedar bertemu, Dara tetap berdiri tegak dan mendukung suaminya apapun yang terjadi. Dara selalu memantapkan bahu Jiyong agar terus tegap dan penuh kebanggaan. Dan seluruh pengkhianatan ini, seperti harga yang tidak bisa Seungri mengerti. Sama sekali tidak ia mengerti.

 

I wasn’t strong enough so I couldn’t let you go

I know it’s my foolish greed

But I’m erasing my tears and swallowing my words, I can’t watch myself anymore, I can’t watch

 

Saat itu pukul 2 pagi ketika Jiyong mendengar suara berderak dari sekitarnya. Matanya yang sudah terlalu lelah untuk melihat dunia memaksakan diri melihat apa yang terjadi.

 

Dan dia hampir terjatuh dari ranjang ketika melihatnya. Di seberangnya, di sisi lain ranjang di sudut ruangan, ada istrinya yang sedang melakukan sesuatu dengan lemari mereka.

 

“Sandara..” Wanita itu menengok. Wajahnya terlihat biasa saja. Seperti ketika biasanya ia menata pakaian rumahannya yang tidak terlalu banyak di lemari itu.

“Ya?” Suaranya pun tak berubah. Apa dia tidak merasakan sakit lagi? Atau terlalu terbiasa?

“Apakah ini mimpi?” Jiyong menepuk pipinya dan merasakan air matanya yang entah kenapa mengalir dengan sendirinya.

“Kurasa tidak.” Dara menutup tas besar yang ada di sampingnya dan menentengnya. Ia berjalan dengan langkah standar-nya ke arah pintu yang setengah terbuka.

 

“Sandara..” Wanita itu kembali menengok. Masih dengan senyum yang sama.

“Apa kau akan pergi lagi?” Jiyong merasa jantungnya terlepas begitu saja ketika wanita itu tersenyum sedih dan tidak memberikan reaksi apapun selain menatapnya dalam.

“Tidak ada lagi yang bisa aku simpan di sini Jiyong, tidak ada yang bisa aku ingat lagi dengan baik di sini.”

“Tapi aku mohon jangan pergi, jika kau menginginkan aku kembali menjadi pria rumahan seperti dulu aku bisa. Jika kau ingin aku—”

“Bagaimana jika aku menginginkan waktu yang tidak pernah kita lalui dengan cinta lagi?”

 

Sandara membuka pintu itu dengan lebih lebar dan menghilang di baliknya kurang dari satu menit. Jiyong tidak bisa merasakan apapun yang berdegup di dalam dadanya. Semuanya seperti hilang bersama hembusan angin yang mengikuti kepergiaan gadis itu. Mungkin selamanya.

 

You’d better walk away, I’m all alone, what to do?

Of the two of us, I’m the only one who can’t live without you

But what more is there to do? Now I’ll let you go

There are so many girls like me in this world

 

Unnie..” Ahyoung—istri Sanghyun—melihat Sandara yang tidak berhenti menangis dan tidak ingin masuk ke kamarnya. Sanghyun sudah hampir menyerah dengan kakaknya dan ia rasa istirnya yang selama ini dekat dengan Sandara bisa mengatasinya.

“Ya?”

“Masuklah, aku rasa Daegun dan Yeosin lebih membutuhkan Unnie daripada angin malam.” Ahyoung mencoba tersenyum dan Dara masih saja enggan beranjak.

“Daegun sudah menidurkan adiknya sejak tadi dan aku rasa Daegun juga sudah tidur, besok kan dia ujian.” Ahyoung duduk di samping Sandara dan menggenggam tangan kakak iparnya erat, seolah memberi kekuatan yang mampu ia berikan pada wanita ini. Wanita ini adalah karang di matanya, ia pribadi yang kuat di dalam tubuh rapuhnya. Ia mudah menangis tapi tidak mudah menyerah, seperti yang sering suaminya katakan. Tapi seperti pepatah, sekeras apapun karang di lautan jika terus terkena air akan kikis juga.

“Apa kau pikir aku begitu buruk, Ahyoung-aa?” Ahyoung menoleh dan mendapati Sandara yang menerawang jauh. Menembus hiruk pikuk Busan yang malam ini terasa begitu sendu. Ahyoung tersenyum masam. Bahkan kalau kau tidak memiliki hubungan kekeluargaan apapun dengan Sanghyun, mungkin ia lebih memilih menikahi wanita sehebat Unnie daripada aku.

Unnie, udara malam seperti ini tidak baik untuk calon ibu sepertiku, ayo temani aku masuk!” Dara memalingkan wajahnya melihat Ahyoung mengusap perutnya yang menggelembung. Di sana ada calon keponakannya yang masih harus menunggu dua bulan lagi sebelum melihat indahnya dunia. Dan semoga, dunia itu akan terus indah untuk calon keponaknnya. Tidak seperti miliknya.

 

Let go of my hand, look, your heart and my heart are so different

Now I finally realized, I’m sorry it’s so late

 

“..The selfish me, who always only knew myself

The heartless me, who didn’t even know your heart

Even I can’t believe that I changed like this

Your love keeps moving me

 

I stop time and go back to you

I open your page in my book of memories

I am there inside, I am with you

 

A very small and weak person, your love

Has changed everything, all of my life, all of the world..”

 

Jiyong membanting radio di studionya dengan kasar. Siapa lagi orang yang berniat memojokkannya sekarang? Miracles in December, lagu ini sudah hampir berusia 5 tahun, bahkan sudah banyak tergantikan dengan lagu-lagu balada dari grup yang sama. Tapi ada saja orang yang menyanyikan ulang dalam bahasa asing yang membuatnya semakin mengerti artinya. Brengsek.

 

Selfish me. Who always only knew myself. IYA! ITU AKU, DUNIA! ITU G-DRAGON YANG KALIAN ELU-ELUKAN! ITU AKU! Aku yang egois, aku yang tidak berperasaan, aku yang meninggalkan seseorang yang begitu berarti dalam mengisi duniaku selama lebih dari 10 tahun hanya untuk kesenangan dengan seorang wanita jalang!

 

“Jiyong, pengacara keluarga Park datang. Sandara tidak berniat mencabut gugatannya di pengadilan.” Lydia Paek, temannya sesama produser di naungan manajemen yang sama masuk dan sekedar mengabarkan. Sejujurnya, tidak perlu kecakapan membaca wajah orang, Jiyong tahu bahwa Lyd yang dulu teman baiknya kini melihatnya selayaknya sampah busuk yang harus di jauhi.

 

Jiyong menggeret langkahnya dengan kaki seringan kapas yang ingin luluh saat itu juga untuk menemui pengacara keluarga Park.

“Tuan Kwon, Nyonya Sandara tidak mau mencabut gugatannya. Ia tidak ingin menerima syarat pengadilan seperti yang Tuan ajukan, dia lebih memilih surat keputusan.” Pengacara itu menyerahkan sejumlah map berisi hukuman gantung untuk hidupnya dan meninggalkannya seorang diri.

 

Jiyong jatuh terduduk dengan lutut yang bertumpu goyah. Bukan ini. Bukan ini keluarga yang ia dan Sandara rencanakan. Bukan ini. Sungguh. Keluarga bahagia yang akan aman sampai kakek nenek lah yang mereka impikan. Bersama cucu-cucu dari Daegun dan Yeosin. Bahkan sekarang Yeosin baru berusia tiga tahun dan mimpinya masih jauh dari kenyataan.

 

I wasn’t strong enough so I couldn’t let you go

I know it’s my foolish greed

Though it’s a fake love, I swallow it because it’s sweet but I can’t take it anymore, I can’t do this

 

2NE1’s Dara received offers of her fifth movie in Hollywood.

[Hot News] Sandara Park left her family issue in Korea, and flew with her childrens to California today.

[Asian News] Sandara, will meet Jeremy Renner and Jennifer Lawrence in her new project.

Some international brands begin to look for Daegun, Sandara Par’s son, for the latest ads.

 

Jiyong meneguk gelas terakhir vodkanya dengan kepala yang terus berputar. Wartawan-wartawan itu dengan seenaknya mengubah nama Sandara di media massa tanpa mempedulikan status pernikahan mereka yang belum berakhir. 2NE1’s Dara, Sandara Park, bukankah dulu koran-koran dan situs-situs ini yang mengganti nama Sandara menjadi Dara Kwon semenjak pernikahannya naik ke publik, dan kini merekalah yang mengembalikan nama Dara seperti dulu. Jiyong melempar gelasnya ke dinding hingga menambah porak poranda kamarnya. Ia langsung mengernyit karena lengannya yang kemarin ikut dengan wajah dan tubuh bagian depannya habis dihajar Taeyang. Minzy tidak cukup kuat menahan suaminya itu untuk tidak kembali dari New York dan menghabiskannya dalam puluhan kali hajaran.

 

Daegun, Sandara’s son. Jiyong kembali tertawa pilu. DAEGUN JUGA ANAKKU, BRENGSEK!  Daegun dan Yeosin bahkan dulunya lebih dikenal sebagai anak The Greatest Korean’s Producer, G-Dragon, daripada anak Sandara. Dan sekarang sepertinya nama G-Dragon atau Kwon Jiyong bahkan marganya sudah dilupakan keberadaannya oleh media. Tidak peduli itu media lokal ataupun media internasional.

 

Jiyong memukul dadanya yang sudah sakit. Kenapa ia dengan bodohnya mulai merasa bosan dengan pernikahannya hingga memilih menghamburkan waktunya dengan model yang hanya mengejar ketenaran seperti Kiko? Kenapa?! Jika ia sudah bosan mencintai Sandara, ia kan bisa saja mempetahankan kesetiaan pada keluarga kecilnya dengan mencintai Daegun dan Yeosin. Tapi kenyataannya bahkan ia masih sangat mencintai istrinya, wanita yang dipinangnya dengan sepenuh hatinya. Yang kini tersekiti hatinya. Ia hanya melupakan bahwa memang sudah kewajaran seseorang akan jatuh pada titik jenuh suatu hubungan. Dan sekarang itu tidak lagi sekedar hanya.

 

I can’t let go or hold onto you

My lips dry up and tears keep flowing

Just one way but wrong way, it’s already ruined

 

Sandara menerima panggilan setengah jam yang lalu dari suaminya dan mereka berjanji untuk bertemu di tempat ini. Tempat biasanya mereka menghabiskan waktu bersama. Sandara melirik jamnya, sepertinya kebiasaan terlambat Jiyong masih ada.

 

Trap Tap.. Trap Tap..

 

Sandara menoleh begitu mendengar suara berisik yang begitu familiar. Dulu ketika Jiyong masih belum terkenal dengan gayanya yang luar biasa aneh, Jiyong suka memakai sepatu boot dengan alas yang akan menimbulkan suara berisik jika beradu dengan lantai restoran ini yang terbuat dari kayu.

 

Mata kecilnya langsung membulat begitu melihat siapa pembuat kegaduhan itu. Seorang pria dengan rambut agak kelimis dan gaya jadul. Sepatu boot kusam warna cokelat tua, baju kedodoran khas anak serampangan dan baggy pants warna abu-abu serta sabuk dengan ‘hiasan landak’. Sandara menutup mulutnya nyaris menangis ketika melihat pria itu. Pria itu Kwon Jiyong. Kwon Jiyong nyaris 13 tahun yang lalu. Ketika ia belum debut dan hanya Sandara satu-satunya gadis yang mau meliriknya.

 

“Selamat siang, maaf membuatmu menunggu lama. Aku tidak ingat dimana terakhir kali meletakkan sabuk ini.” Jiyong mengusap belakang kepalanya dan menunduk malu. Persis. Sandara membatin dan mengingat kilasan memori ketika Jiyong masih pribadi canggung yang selalu merasa sangat bersalah ketika mereka dia terlambat datang kencan.

 

“Sandara, aku sudah menandatangi surat itu. Dan mungkin dalam beberapa jam keputusan hakim akan keluar,” Jiyong menatap langit-langit restoran itu dan tersenyum sedih. Ia mengulur waktu sebulan lebih dan membiarkannya dirinya merefleksikan semua hal yang sudah terjadi. Dan ia tidak menyangka hal seperti ini yang akan terjadi. Berpisah dengan wanita paling berarti dalam hidupnya.

 

“Jadi, daripada kita mengakhiri semuanya dengan luka, mari mengakhiri dengan apa yang kita awali.” Sandara tidak bisa menahan air matanya yang sudah membasahi pipi tirusnya. Jiyong mengulurkan tangannya untuk digenggam, “Sandara Park, berkencanlah denganku hari ini.”

“Ya.” Sandara menganggukkan kepalanya dan tersenyum sedih, bagaimana bisa semua kenangan ini sebentar lagi hanya akan menjadi sekedar kenangan?

 

What is love that it ties me up? Why?

Back then, when you looked at me, back then, just for one minute, one second, you should stop that.

 

Sandara menggenggam kembang gula di tangan kirinya dan tangan kanannya menaut dengan tangan Jiyong tanpa ingin lepas. Mereka tadi mengunjungi sebuah taman tempat mereka biasa menghabiskan waktu ketika Jiyong menjelang debutnya. Dan mereka berencana mengunjungi sebuah kedai yang menjual makanan murah, tempat Jiyong dulu biasa mengajak Sandara makan ketika ia tidak memiliki uang cukup banyak di dompetnya.

 

“Kau mau pesan apa?” Jiyong melihat-lihat jejeran makanan ringan dengan saus kemerahan yang menggugah seleranya dan sekali-kali melirik Sandara.

“Kau masih ingat tidak apa yang biasa aku pesan?” Sandara tersenyum menggoda dan menyenggol bahu Jiyong, Jiyong memasang raut berpikir yang membuat siapapun gemas.

Ahh.. Kau pasti tidak ingat.” Sandara mencebikkan bibirnya. Tapi Jiyong justru mengusap kepalanya, seperti ketika Sandara biasa memasang raut jengkel. Menghangatkan hatinya.

 

Ahjumma aku mau bindaeddeok, tteokguk, japchae, dan sundubu jigae jika ada!” Ahjumma yang berada di balik meja penyajinya sebenarnya sadar siapa orang yang memesan kepadanya dan jika ini keadaan normal ingin sekali ia melempar lelaki seperti Jiyong dengan sebaskom kuah jigae agar laki-laki itu tahu bahwa tidak pantas mengkhianati orang sebaik Sandara. Sayangnya Ahjumma masih berperasaan dan melihat kebahagiaan tak langsung dari mata Sang Bintang dan dengan sigap menganggukkan kepala seadanya.

“Aku dengar di sini sekarang menjual patbingsu apa kau mau juga?” Sandara mengangguk antusias mengetahui ada patbingsu di sini, dia sudah nyaris beberapa bulan tidak merasakan manis dan segarnya patbingsu, apalagi sebentar lagi musim panas akan segera berakhir. Itu artinya akan semakin sulit menemukan patbingsu. Saat Sandara sadar dari angan-angannya ia menemukan Jiyong yang baru berjalan masuk ke tenda kedai ini dan mengangkat dua gelas patbingsu. Jiyong langsung menyodorkan salah satunya ke arah Sandara.

 

Sandara menghabiskan patbingsu-nya dengan antusias. Jiyong melihatnya juga ikut antusias, dan memakan setiap kacang merah yang ia lihat dengan penuh semangat. Jika aku tidak bisa membuatmu bahagia seperti dulu biarkan aku memberikanmu kebahagiaan-kebahagiaan kecil yang sekarang bisa ku lakukan.

 

Jiyong menggenggam tangan kanan Sandara dengan erat, ia melihat Sandara yang masih sibuk dengan tangan kirinya yang penuh bungkusan makanan untuk Daegun dan Yeosin tapi juga harus menjunjung kembang gulanya.

“Sandara kita sudah sampai..”

 

I only knew you, I didn’t know the beginning or end

I’m so pathetic for horribly falling for you without fear

 

Dara mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum menyadari tempat ini nyata dan ia berada di tempat ini sekarang.

 

“Jiyong…” Tempat ini, hanya halaman belakang gedung YG Family yang lama. Tempat Sandara pertama kali bertemu Jiyong dan tempat Jiyong melamarnya. Di depan semua YG Family yang lain tentunya. Sandara langsung mengeluarkan air matanya lebih banyak daripada yang ia sempat bayangkan. Destinasi terakhir mereka memang seharusnya tempat pertama kali mereka memulai segalanya.

 

Sandara memutar semua memori di tempat ini secepat mungkin. Dari ia yang hanya sekedar trainee dengan bakat seadanya namun semangat juang tinggi dan Jiyong yang akan segera debut. Sore itu sekitar waktu yang sama dia berada sekarang, Jiyong yang notabene lebih muda namun seniornya mendatanginya.

 

2005

 

“Kau Sandara Park?”

“Ya, itu aku, ada apa Sunbae?

“Aku tidak tahu bagaimana kita bisa dipasangkan bahkan ketika kau masih di Filipina dan aku baru mengetahui kau sekarang.” Sandara langsung menunduk resah setelahnya, matilah dia. Dia sendiri kan tidak tahu sebenarnya siapa G-Dragon yang selalu dipasangkan dengannya entah kenapa.

“Maafkan aku, Sunbae.”

“Tidak apa sebenarnya, kau ternyata lebih menarik daripada yang orang-orang katakan. Mari berkenalan, aku G-Dragon, tapi kau bisa memanggilku Kwon Jiyong atau Jiyong jika kau mau.” Jiyong membungkukkan badanya dan langsung mengulurkan tangannya pada Sandara, Sandara langsung membungkuk kaku dan menjabat tangan Jiyong, “namaku Sandara Park, kau bisa memanggilku Dara atau Sandara.. Dan jangan menyebutku noona, itu benar-benar membuatku merasa tua.” Lalu mereka tertawa bersama dan menandai cahaya pertama dalam lembar kehidupan keduanya.

 

Dara benar-benar tidak bisa melupakan semuanya. Dan dalam dirinya benar-benar tidak bisa melepaskan Jiyong. Tidak dengan semua memori yang terkenang dalam hidupnya. Sepahit dan sesakit apapun luka yang Jiyong berikan, entah kenapa hatinya lebih baik seperti itu daripada berdiri tanpa Jiyong. Dara tersentak kaget begitu ponsel di sakunya bergetar. Nama Jiyong tertera di sana, ia baru sadar, ia belum melihat Jiyong sama sekali.

 

“Sandara, aku baru menerima telepon dari pengacaramu, dia bilang proses perceraian kita sudah selesai. Kita tidak lagi memiliki ikatan apapun sekarang. Dari awal aku ingin meminta maaf padamu, maaf untuk semua kesalahan dan pengkhianatan yang kulakukan,” suara di seberang sana tiba-tiba berhenti dan menyisakan ruang yang pilu dan menyakitkan. Tidak hanya bagi Jiyong tapi bagi Sandara yang sekaan dipaksa meminum sayak saat itu juga.

 

Sandara..”

“Ya?”

Maukah kau mengulang waktu bersamaku?” Sandara sadar sesuatu yang tiba-tiba masuk dalam intuisinya. Jika ia dan Jiyong tidak bisa bertahan dengan kondisi sekarang, maka ia akan membiarkan Jiyong mengulangnya dari awal, di posisi awal mereka sanggup bertahan dan menguatkan segalanya dari awal.

“Ya.”

 

Sambungan telepon diputus, Sandara meletakkan kembali ponselnya di saku celana, dan menatap matahari yang sudah nyaris tenggelam. Nafasnya seakan berhenti begitu mendengar ranting berderak, menunjukkan seseorang yang berjalan dari tikungan gedung di sampingnya. Jiyong di sana, mungkin tidak dengan penampilan pertama kali mereka bertemu, tapi dengan penampilan ketika pria itu melamarnya. Rambut hitam spike normal, kemeja warna biru langit, dan celana jeans gelap.

 

“Kau Sandara Park?” Perasaan itu. Perasaan yang sama ketika pertama kali mereka bertemu meletup lagi dalam dada Sandara.

“Ya, itu aku, ada apa Sunbae?” Sandara dan Jiyong tidak melepaskan tatapan mereka, sama sekali tidak.

“Aku tidak tahu bagaimana kita bisa dipasangkan bahkan ketika kau masih di Filipina dan aku baru mengetahui kau sekarang.” Sandara tersenyum malu dengan air mata terakhir yang menetes di pipinya.

“Maafkan aku, Sunbae.”

“Tidak apa sebenarnya, kau ternyata lebih menarik daripada yang orang-orang katakan. Mari berekenalan, aku G-Dragon, tapi kau bisa memanggilku Kwon Jiyong atau Jiyong jika kau mau.”  Jiyong mengangsurkan tangannya untuk dijabat.

 

Dan disinilah kita, memutar lagi waktu yang sebenarnya tidak pernah terputar lagi, memulai apa yang telah terakhiri. Sandara tersenyum. Jiyong turut di dalamnya. Mereka tersenyum, tersenyum begitu manis, seperti senyum di hari pernikahan mereka. Mengumpulkan semua hal dalam kenangan manis di hari ini, di hari yang harusnya membuat mereka berhenti tersenyum.

 

“Namaku Sandara Park, kau bisa memanggilku Dara atau Sandara.. Dan jangan menyebutku noona, itu benar-benar membuatku merasa tua.”

 

Just love me like you love me now, if only you don’t change

The person who could have all of me is you, I won’t be shaken

Sometimes, you feel sorry about your future that’s not set

But don’t forget, I love you, if I’m with you, it’s a happy me

 

I want to throw away the love that the world decided upon with many expectations

Like your heart, I want to always stay at the same place

And be another you, for the precious you

—Lim Kim – Happy Me

 

.THE END.

Couple_10Blur

 

HAHH! AKHIRNYA AKHIRNYA! Happy Ending, Happy Ending! *ayo semua cium saya* *ayoo semua*  /apasihyaampun/ Berapa banyak coba ini yang mikir saya bakalan sad-ending?! Uehehehehe sebenarnya dari awal nulis udah positif sad-ending, eh dalam pembuatannya enggak tau kenapa kok bisa saya iseng dengerin Dal Shabet – Be Ambitious, dan waktu lihat liriknya. Benar-benar kaget dan terinspirasi buat happy-ending. Para boys harus berjuang, seperti Be Ambitious.

 

Oh dan kenapa belum sampai pertengahan bulan ff ini udah keluar? Karena ternyata udah ada yang berhasil nebak judul lagunya TT.TT Jadi sebenarnya ada perjanjian tak tertulis gitu antara nana dan ff (?) kalau ada yang berhasil nebak judulnya pengerjaannya bakalan dicepetin.

 

Okay, so, komen-komen, dan kritik-kritik dan lain sebagainya ya! Sangat ditunggu!

Next : D – Rhgehi 16 votes

Advertisements

55 responses to “[Chamomile/Song Fic] Runaway

  1. Serius saya selalu suka tulisan dari author yang satu ini. Dan…dan lagi ini daragon huaaah ^o^ Saya salut sama penulisan author yang pinter bawa orang nyantai dalam setiap narasi yang dibuat. Jujur missfishyjazz jadi patokan saya buat belajar buat song fic, hehe, tak apa kan ? Fighting yah thor ! Dan semoga ada lagi ff daragon yang dibuat.

  2. nice~~~.. berasa real gt daragon d kehidupan mendatang..
    tp jgn sampe jiyong gt deh.. ._.

  3. astaga keren ini.. ff daragon emang keren ^^ aku pikir sad ending tp ternyata diluar dugaan, terharu banget pas bagian akhir.. jiyong yg niat berubah dan mulai dari awal itu bener” sweet nya kerasa bgt :” karya selanjutnya selalu ditunggu

  4. nanaaa aku baru liat post an ff kamu, kayanya ketinggalan jauh banget ff2 kamu :”(( aaa daragon! shipper nih! aduh kenapa ceritanya sedih sih, tp aku udah trlanjur cinta ama semua ff mu nana 😦 next yaaa, eh nana bagi pw kaieunhan dong 😦 nanti aku mention 😀 (pixiewolf19)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s