Eh?

 

E | fhayfransiska | Horror | PG-17

Park Chanyeol, Kim Minseok

E for Eh?

“Sudah malam, atau sudah tahu?”

_________

Hari sudah menjelang malam ketika pemuda jangkung bernama lengkap Park Chanyeol itu memutuskan pergi ke perpustakaan di daerah kampusnya. Kalau saja ia tidak tiba-tiba teringat soal tugas dari satu mata kuliah yang akan dikumpulkan esok hari, ia pasti sedang enak-enakan bergelung di kamar kosnya yang nyaman dan hangat, bukannya sibuk menggerutu dan merapatkan jaket seperti sekarang. Salahkan Baekhyun yang meminjam jaket kulitnya tanpa izin sehingga kini ia harus berpuas diri dengan jaket tipis yang hampir tidak berguna sama sekali. Udara dingin itu terlampau menusuk, dan Chanyeol pikir malam ini agak aneh. Sebab, tidak biasanya kampus sesepi ini.

Pemuda itu hanya butuh waktu lima belas menit berjalan kaki untuk sampai di perpustakaan kampus. Dan kau tidak akan dapat menghitung sudah berapa kali ia mengomel sepanjang jalan. Cucian yang menggunung dan perut yang keroncongan pun tak lupa turut serta jadi topik omelannya. Ckckckck, kau seperti perempuan, Yeol.

Walaupun sebenarnya, sedari tadi Chanyeol mengomel untuk menutupi rasa takutnya.

Pemuda itu menghela napas lega sesampainya di perpustakaan. Dengan segera ia menyerahkan kartu tanda mahasiswa kepada penjaga perpustakaan, seorang wanita berkaca-mata yang tampak ramah, ia menawarkan jasa membantu Chanyeol mencari buku, tetapi pemuda jangkung itu menolak dengan halus.

Chanyeol menyesalinya saat ia merasakan bulu kuduknya berdiri tatkala pandangan matanya menelusuri keseluruhan isi perpustakaan. Yang sangat sepi, kau tahu. Tidak ada seorang pun di sana, hanya Chanyeol, dan si petugas perpustakaan, tentu saja. Pemuda itu menelan ludahnya dengan susah payah, berupaya menenangkan dirinya sendiri. Apakah perpustakaan di malam hari memang sebegini sepinya?

Tenang Chanyeol, tenang. Tidak ada apa-a—

“AAAAAAAA!!”

Teriakan Chanyeol menggema di seisi perpustakaan, tepat ketika sebuah tepukan mendarat di bahunya yang tinggi. Serta merta ia menoleh, cepat, dan mendapati seorang pemuda bertubuh mungil dan berpipi tembam berdiri di sana. Memasang wajah heran dan mulut menganga, mungkin terkejut dengan respons Chanyeol yang diluar perkiraannya.

“Ya! Minseok-ah! Kenapa mengagetiku begitu?!” teriak Chanyeol lagi begitu benaknya berhasil mencerna keberadaan Minseok, teman sekampusnya yang ia kenal baik. Binar kelegaan di wajahnya tidak bisa disembunyikan.

“Aku tidak mengagetimu bodoh, aku hanya ingin menyapamu,” gerutu Minseok sambil menggelengkan kepala, menurutnya Chanyeol terlalu berlebihan.

“Untung saja, aku pikir kau hantu,” ujar Chanyeol seraya mengelus dada.

“Hah?”

“Lupakan saja! Hei, kau pasti ada di sini karena tugas dari Mr. Kang, kan? Ayo kita kerjakan dan cepat-cepat pergi dari sini!”

“Ah, tugas itu sih sudah selesai satu minggu yang lalu. Aku kemari mencari referensi untuk jurnal mata kuliah berikutnya,” kata Minseok, sebelah tangannya mulai menelusuri jajaran buku-buku di rak, sementara Chanyeol terdiam, tertohok dengan ucapan Minseok baru saja. Terlihat sekali perbedaan tingkat kerajinan di antara keduanya. Minseok memang tergolong mahasiswa yang rajin, tugas dan laporan selalu dikumpulkan tepat waktu. Chanyeol? Jangan tanya, kau sudah tahu sebab ia menggerutu sebelum ini, kan?

Chanyeol mendengus, lalu melangkahkan kaki panjangnya menuju rak buku yang terletak di ujung, agak jauh dari tempat di mana Minseok berada. Ia berkutat di sana selama beberapa waktu hingga menyadari bahwa ada orang selain mereka bertiga di dalam sana.

Ada seorang gadis.

Ia duduk di meja berderet di samping rak nomor satu. Sebelah tangannya menopang dagu dan rambut panjangnya yang hitam legam jatuh, menutupi hampir seluruh wajahnya. Chanyeol memandangi tampak samping wajah gadis itu, dan ia harus menahan napas sewaktu si gadis menyampirkan beberapa helai rambutnya ke belakang telinga. Pemuda Park itu bahkan tidak menyadari rona merah yang muncul di kedua belah pipinya.

Oh, gadis yang manis.  

Chanyeol cepat-cepat mengambil beberapa buku—entah benar yang ia cari atau tidak—dan beranjak, setengah berlari menuju meja berderet tempat di mana si gadis berada. Pemuda itu memilih meja yang berhadapan dengan si gadis, hingga kini keduanya terpisahkan oleh dua buah meja. Dari sini, Chanyeol bisa melihat si gadis dengan jelas. Beberapa saat kemudian, Minseok datang mendekat. Pemuda tambun itu memilih duduk di samping Chanyeol.

“Hei, coba lihat!” Chanyeol berbisik sepelan mungkin sambil menunjuk si gadis di seberang dengan dagunya. Wajahnya berbinar senang sementara Minseok mengerutkan dahi, “Kenapa?”

“Cantik.”

Minseok terlihat ragu selama beberapa saat hingga akhirnya mengangguk. “Seleramu cukup bagus juga,” katanya kemudian dengan nada menggoda. Chanyeol meringis, memperlihatkan sederet gigi putihnya yang tertata rapi.

“Bagaimana kalau aku menyapanya? Terdengar anehkah?”

Yang ditanya lantas menaikkan kedua alisnya tinggi, “Oh, tentu saja tidak. Kapan lagi kau dapat pacar, Chanyeol. Lihat, sekarang sudah semester lima dan kau belum laku juga. Mungkin ini kesempatan bagus untuk mendapat pacar.”

Chanyeol langsung memicingkan mata pada Minseok yang tertawa, sakit hati. “Kau menyebalkan, lihat saja, akan aku tunjukkan kalau aku bisa mendapatkan gadis itu. Minimal mengajaknya berkenalan.”

Minseok menaikkan kedua bahunya, masih tertawa, “silakan.”

Pemuda Park itu kelihatan bingung pada awalnya, namun kemudian ia memberanikan diri berdeham, agak keras. Dalam upaya membuat perhatian si gadis teralihkan. Dan … berhasil! Si gadis mengangkat kepalanya dan mereka tepat bertemu pandang. Minseok sampai harus menyenggol pelan lengan Chanyeol agar pemuda itu tersadar akan mulutnya yang nyaris menganga. Karena asal kau tahu, si gadis benar-benar cantik. Matanya bulat dan kulitnya yang terkena paparan lampu terlihat indah. Ia mengenakan pakaian sederhana yang pas di tubuh, cocok dengan warna kulitnya. Gadis itu terlihat bingung selama beberapa saat.

“Ah … ah… bukunya bagus?”

Chanyeol ingin memukul dirinya sendiri sewaktu bertanya seperti itu. Tolol! Pertanyaan macam apa itu, Chanyeol? Kau memang benar-benar payah! Chanyeol mengejek dirinya sendiri. Minseok yang duduk di sampingnya terkikik.

Namun si gadis hanya melempar senyum. Tidak menertawakan pertanyaan Chanyeol. Dan kenyataan itu membuat si pemuda nyaris terbang ke langit ke tujuh. Senyum yang menawan, ya Tuhan!

“Ya, buku karya Agatha Christie memang selalu menarik. Aku tidak pernah melewatkan satu pun karyanya,” balas si gadis kemudian dengan senyum merekah.

Kemudian mereka melanjutkan perbincangan itu. Saling berkenalan dengan malu-malu. Chanyeol yang menggebu-gebu dan si gadis yang tenang. Rasanya semuanya jadi cocok, pas, setidaknya begitu yang dipikirkan Chanyeol.

Mungkin, mungkin, ia boleh berharap kalau sebentar lagi ia bisa mendapat pacar, bukan?

“Aku ingin cari buku yang lain dulu, ya,” si gadis bangkit dari tempatnya duduk, berniat beranjak, berjalan menuju rak-rak yang tinggi.

Chanyeol mengangguk dengan antusias. Tapi ia masih ingin melanjutkan proses pendekatannya, jadilah ia berdiri dari kursinya. Kelewat menggebu-gebu hingga pahanya menabrak meja dengan keras. Dan sukses membuat pensil milik Minseok yang tergeletak di meja, menggelinding dan jatuh.

“Ambil, Chanyeol!” perintah Minseok sementara pandangannya tidak beralih dari buku.

Chanyeol mendengus, menurut walau dengan setengah hati. Ia berjongkok dan berniat mengambil pensil milik temannya. Sempat mencari-cari dulu sebelum akhirnya pensil berwarna biru itu berhasil ia temukan di sudut meja seberang. Pemuda Park itu baru berniat menjulurkan tangan untuk mengambilnya ketika sudut matanya menangkap sesuatu.

Jantungnya nyaris berhenti berdegup.

Di sana, tepat di sebelah salah satu rak tinggi … ada kaki yang melayang. Ada kaki pucat yang tidak berpijak di tanah.

Eh?

Chanyeol belum sanggup untuk berkata-kata sebab terlalu terkejut. Kaki itu berada tepat di tempat si gadis tadi berhenti untuk mencari buku, Chanyeol yakin itu.

“Hei, apa yang membuatmu begitu lama, Yeol ah!”

“Bu … bukan manusia,” kata Chanyeol dengan bibir bergetar.

“Hah!? Maksudmu!?” pekik Minseok heran.

Kali ini Chanyeol berdiri dengan lututnya yang bergetar hebat. Jantungnya lagi-lagi nyaris berhenti berdetak sewaktu melihat si gadis kembali mendekat, dengan beberapa buku baru di tangannya. Ia masih tersenyum. Dan Chanyeol langsung merasa itu adalah senyuman paling seram yang pernah ia dapat.

Atmosfernya berubah. Semuanya mendadak terasa berat, apalagi begitu si gadis menyeret kursinya untuk duduk, deritnya jadi menyeramkan. Bulu kuduk Chanyeol berdiri. Namun anehnya tatapan pemuda itu tak kunjung beralih, terpaku pada si gadis.

Oh, Tuhan.

Dengan tangan yang masih gemetaran, Park Chanyeol membereskan buku-buku yang berserakan di depannya, buku-buku yang masih belum sempat ia baca. Ia mengangkat kepalanya lagi, bertatapan langsung dengan si gadis yang balik menatapnya heran, dengan alis berkerut. Aliran darahnya seolah berhenti.

Chanyeol tidak tahu mengapa ia kemudian berkata demikian, “ma … mau pulang, su … sudah malam.”

Dan gadis itu tersenyum lagi.

“Sudah malam, atau sudah tahu?”

 

___FIN___

Baru dapet cerita dari temen soal perpustakaan kampus yang punya cerita kayak gini, langsung kepikir buat dibikin FF, tentu dengan perubahan di sana-sini. Haha, thanks buat Diba yang udah cerita dan mau-maunya aku recokin kayak ‘pensilnya warna apa’, ‘seberapa jauh jarak si cewek hantu sama mas-mas yang digodain’ dan lain-lain.

Untuk judul, aku stuck, dan akhirnya kayak gitu -___-

And for my lovely readers, please comment and be nice^^

PLEASE READ MY ANOTHER FANFIC TOO ^^/

54 responses to “Eh?

  1. karena ff riddle mu yg menarik bgt, aku tergoda cari yg lain
    hehe
    ff yg ini bikin aku tertarik krna bagian “sudah malam atau sudah tahu”
    itu persis bgt sm rumor yg beredar di kampusku
    dan ceritanya tnyta jg mirip2
    bedanya, kalau yg di kampusku, ada mahasiswa ke perpus malem2, trs smbil ngerjain tgs dia ngobrol sm mahasiswa2 lain
    jd dia sok2an kenal gitu
    duduk 1 meja sm mereka
    trs pulpennya jatuh kan, dia ambil
    pas ambil itu dia lihat semua mahasiswa yg di meja itu gak punya kaki semua
    dia lgsg pamit plg alesan udah malem
    tp mereka pd senyum2 menyeringai (?) dan salah 1 dr mereka nanya “udah malem apa udah tau?”
    wahahahahaha
    sumpah merinding
    *knp jd cerita
    dan sekedar info, author cantik
    tnyata rumor kayak gini jg ada di kampus2 lain
    entah bener apa gak, aku jg gak tau dan gak mau tau
    haha
    seru seru
    mau menjelajah ke ff mu yg lain
    terus berkarya ya
    semangat!🙂

  2. Huuuaaaaahhhh!! Sereeeemm!! Tp rada2 kocak jg dgn klkuan si Chanyeol!! hahaha..

    Trus ituu Chanyeol nya plg sndri?! Minseok nya gmn??
    Ditinggal?! Yaaahhhh… >_<

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s