MY TURN TO CRY


MY TURN TO CRY

Author : Fai

Cast :

  • Oh Sehun | EXO’s Sehun
  • Jung Seulmi | YOU/readers


Genre :
galau? ._.

Rating : T

Length : ficlet (2278 words)

Disclaimer : inspired by EXO’s new song and this is officially mine!

Backsound music : EXO – Miracles in December, EXO – My Turn to Cry

A/N : haha! Udah tiga bulan ngga nongol akhirnya sekarang betelor juga. Maap ya karena fanfic-fanfic yang lain seperti EXO’s Daddy Series dan First Love Forever Love terpaksa harus ditunda dulu. Fai baru banget selesai UAS dan remedial dan TIBA-TIBA ALBUM BARUNYA EXO RILIS, GILA! Belom siap, men! And suddenly the song popped out from yutup. BAH! Kenapa lagu barunya lagu galau semua. /lempar piring/

Intinya, fanfic ini terinspirasi dari lagu-lagu tersebut hahaha. My Turn to Cry bener-bener sadissss! Miracles in December juga sadis sih. Ya, intinya kedua lagu itu bener-bener sadis.

Eniwei, happy readinggggg! *cipok seksi*

.

…I’m sorry, now it’s my turn to cry…

.

Sehun duduk termangu di dalam kamarnya. Ia duduk di samping jendela dengan secangkir green tea di tangannya. Matanya melirik keluar jendela, menatap butiran-butiran salju putih suci yang jatuh dari langit.

Hawa di sekitarnya cukup dingin, maka dari itu Sehun melilitkan selembar syal tebal untuk menghangatkan tubuh kurusnya.

Pemandangan di depannya ini memaksanya untuk memanggil kembali memorinya dua tahun yang lalu.

Hari di saat ia berpisah dengan seorang gadis, tepat di saat salju pertama jatuh dari langit.

Jung Seulmi, gadis yang telah ia tinggalkan dua tahun yang lalu.

Betapa bodohnya Sehun waktu itu. Ia acapkali bersikap dingin kepada gadis itu, ia sering membuat gadis itu bersedih hati dan menangis. Hingga pada puncaknya, Sehun merasa bosan dan memutuskan untuk berpisah dengan Seulmi.

Setelah hari itu, Sehun tidak pernah menghubungi Seulmi lagi. Mereka benar-benar berpisah, dan sekarang Sehun baru menyesali itu semua.

Sehun berharap Seulmi masih mengingatnya. Sehun adalah cinta pertamanya Seulmi, walaupun Seulmi bukan cinta pertamanya Sehun.

Kendatipun begitu, memori yang begitu melekat di benaknya sampai saat ini adalah masa-masa dirinya bersama Seulmi.

Sehun ingat semuanya.

Bahkan, Sehun ingat ketika ia membuat Seulmi menangis tepat di hadapannya.

Sehun baru merasa bersalah pada detik ini.

Sehun betul-betul ingat cara ia mencampakkan gadis itu. Ia betul-betul ingat cara mereka berpisah pada dua tahun silam.

Kini, penyesalan itu terukir di hatinya.

Sehun ingin kembali, layaknya dulu ia masih menggenggam erat telapak tangan Seulmi. Layaknya dulu ia masih memeluk erat tubuh mungil Seulmi.

Sehun mengambil ponsel yang ia simpan di dalam saku celananya, dan dengan ragu ia mencari nomor telpon rumah milik Seulmi.

Walaupun mereka telah berpisah, Sehun masih menyimpan nomor telpon rumah milik Seulmi—dan ia tahu bahwa Seulmi masih tinggal di rumah yang sama seperti dua tahun yang lalu.

Nada tunggu mulai terdengar. Sehun mengetuk-ngetukkan jemarinya di atas meja kayu bercat coklat seraya menunggu telponnya diangkat.

Begitu Sehun menyeruput green tea-nya, terdengar suara lembut seorang gadis dari seberang sana sehingga membuat Sehun tersedak secara tidak sengaja.

“Halo?” ujar gadis itu.

“H—halo?” sahut Sehun kaku.

“Ini siapa?” ujar gadis itu lagi. Bibir Sehun terkatup rapat-rapat. Ia masih ingat suara itu. Suara yang sangat ia rindukan. Sehun terdiam, membiarkan suasana menjadi hening seketika.

“Halo? Ini siapa? Kalau tidak ada kepentingan—”

“Seulmi, ini Sehun.”

Gadis itu terdiam. Suasana kembali hening.

Sehun mengerti, gadis itu pasti kaget, maka dari itu ia ikut terdiam. Sehun menarik napas panjang, dan menghembuskannya.

“Kau pasti masih ingat denganku, ‘kan?” tanya Sehun seraya terkekeh pelan.

Belum ada jawaban. Sehun menghela napas pelan. Debur napasnya melayah di udara.

“Bagaimana kabarmu selama dua tahun terakhir ini?” Sehun kembali memecah keheningan.

Eoh? Ah, a—aku baik-baik saja,” jawab Seulmi—terdengar sangat canggung. “Bagaimana dengan kabarmu, Sehun?”

Sehun tersenyum tipis. “Sama sepertimu.”

Suasana kembali hening. Keduanya sama-sama tidak tahu harus membicarakan apa. Suasana canggung pun menyelimuti mereka berdua akibat keduanya telah lama tidak bersiborok ataupun bercengkrama selama dua tahun silam.

“Aku.. ingin minta maaf,” ujar Sehun secara tiba-tiba.

“Maaf?” ulang Seulmi—seolah tidak percaya. “Untuk apa?”

“Untuk hal yang telah berlalu,” jawab Sehun ragu.

“Maksudmu?” tanya Seulmi—memastikan. Sehun tersenyum bisu. “Maaf karena dua tahun yang lalu aku telah menyakitimu.”

Seulmi kembali terdiam. Sehun masih menunggu tanggapan dari Seulmi, tapi gadis itu tak kunjung bicara.

“Kau mau memaafkanku, ‘kan?” tanya Sehun ragu.

Terdengar suara kekehan kecil dari seberang sana.

“Aku sudah memaafkanmu, Oh Sehun.”

Sehun terkejut. Wajahnya berseri-seri dan perasaannya menjadi sangat bahagia. Senyum lebar kini menghiasi wajahnya. Ia benar-benar merasa bahagia.

“Kau benar-benar sudah memaafkanku?” ulang Sehun.

“Ya, Sehun. Kau tidak perlu khawatir, oke?” tutur Seulmi. Suaranya begitu lembut dan menghangatkan. Sehun benar-benar masih menyayangi gadis ini.

“Seulmi, apakah aku boleh mengunjungimu? Malam ini? Tentunya jika kau mengizinkanku untuk datang,” tanya Sehun.

Suasana kembali hening. Seulmi pasti sedang memikirkan sesuatu.

Umm.. Baiklah, tidak masalah,” jawab Seulmi.

Senyuman di wajah Sehun semakin melebar. Perasaan bahagia kini mengalir ke dalam seluruh jaringan yang ada di dalam tubuhnya. Perasaan bahagia yang menggebu-gebu itu menghangatkan tubuhnya dan membuat wajahnya merona merah.

“Baiklah, tunggu aku pada jam tujuh nanti,” ujar Sehun.

“Pasti,” sahut Seulmi. “Sampai bertemu nanti malam.”

Sambungan telpon terputus. Sehun menaruh kembali ponselnya ke dalam saku celananya. Senyuman yang sama masih terukir di wajahnya. Perasaan hangat menjalar-jalar di sekujur tubuhnya. Begitu pula dengan rasa bahagia yang kini merasuki tubuhnya—hingga mengalir di dalam nadinya.

“Ini awal yang baik untuk memperbaiki semuanya. Aku harus mempersiapkan sesuatu,” gumam Sehun pada dirinya sendiri.

Ia menghabiskan green tea-nya dan mengambil selembar sweater tebal dari dalam lemarinya. Ia memakai sweater berwarna beige-nya dan memasukkan dompetnya ke dalam saku celananya. Sehun keluar dari pekarangan rumahnya dengan menaiki sebuah sepeda. Salju di sekitar rumahnya masih sangat tipis.

Sehun ingin membeli sebuket bunga untuk Seulmi—sebagai permintaan maaf.

 

+++

 

Pada malam harinya, Sehun sudah berpakaian rapi. Rambutnya disisir, bahkan hari ini ia memakai perfume breath mist dengan aroma mint. Ia juga menyemprotkan parfum aroma mint ke sweater yang malam ini ia pakai.

Setelah merasa semuanya sudah siap, ia keluar dari pagar rumahnya dengan membawa sebuket bunga mawar putih yang dikombinasikan dengan bunga baby’s breath.

Selama perjalanan menuju rumah Seulmi, Sehun tidak dapat berhenti memikirkan Seulmi. Ia terus memikirkan apa saja yang harus ia katakan pada Seulmi nanti. Ia berusaha sekeras mungkin untuk tetap tenang dan berusaha untuk mengendalikan detak jantungnya yang bekerja lebih cepat dari biasanya.

Tidak lama kemudian, langkah kaki Sehun berhenti di depan sebuah rumah bercat warna putih. Sehun benar-benar masih mengingat rumah itu. Rumah yang dulunya kerap ia kunjungi, rumah yang entah mengapa kini sangat ia rindukan.

Sehun menghirup aroma buket bunga di tangannya—memastikan apakah bunganya masih segar atau tidak—kemudian ia menekan bel yang ada di depan pintu.

Beberapa detik kemudian, pintu bercat putih tersebut terbuka dan seorang gadis melongokkan kepalanya dari dalam.

Napas Sehun tercekat, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Ia benar-benar ingin segera memeluk gadis itu.

“H—hai, lama tidak berjumpa,” sapa Sehun—setengah gugup. Ia menggaruk tengkuknya. “Apa kabar?”

“Sangat baik,” jawab gadis itu dan tersenyum tipis. Ia membuka pintu rumahnya lebih lebar. “Ayo, masuk.”

Seulmi mengajak Sehun masuk ke dalam rumahnya dan mereka berdua duduk di ruang tengah dengan posisi berhadapan.

Sehun membersihkan kerongkongannya untuk memulai pembicaraan—lebih tepatnya ia merasa gugup. Sehun mengulurkan buket bunga yang daritadi ia pegang ke depan wajah Seulmi.

“Untukmu,” ujar Sehun. “Sebagai permintaan maafku.”

Seulmi melirik buket bunga itu dan menatap tajam ke dalam kedua bola mata milik Sehun. Sehun benar-benar terlihat menyesal, hal itu terbukti dari tatapan kedua matanya yang sendu.

“Terima kasih, Sehun,” ujar Seulmi lalu mengambil buket bunga itu dari tangan Sehun. Gadis itu tersenyum. Sebelum Seulmi berdiri untuk menyimpan buket bunga itu ke dalam kamarnya, Sehun menggenggam telapak tangan Seulmi dan menahan gadis itu untuk tetap di situ. Seulmi menghirup aroma tubuh Sehun. Aroma yang sangat dirindukannya.

“Apa kau tahu arti dari bunga mawar putih yang dikombinasikan dengan bunga baby’s breath?” tanya Sehun—suaranya sangat rendah.

Seulmi berbalik dan menatap kedua bola mata Sehun lagi. Kali ini tatapan matanya sangat teduh dan hangat. Tatapan yang selama ini juga sangat ia rindukan.

“Tidak,” jawab Seulmi singkat kemudian ia duduk lagi di depan Sehun.

“Bunga mawar putih dapat berkata ‘aku sangat tulus mencintaimu’, dan bunga baby’s breath terkadang dapat melambangkan kematian. Tapi, bunga mawar putih yang dikombinasikan dengan bunga baby’s breath dapat berkata ‘aku sangat tulus mencintaimu.. sampai mati’.”

Seulmi tertegun. Ia tidak tahu harus bicara apa.

“S—Sehun..”

Sehun terdiam.

“Maaf, kalimat itu tiba-tiba saja keluar dari mulutku. Aku tidak bermaksud untuk—”

“Tidak apa-apa, Sehun,” ujar Seulmi—memotong kalimat Sehun yang belum selesai. “Aku.. mengerti. Sangat mengerti.”

Sehun tersenyum tipis.

“Aku merindukanmu, Seulmi.”

Seulmi tidak menjawab. Ia memilih untuk diam dan menunggu kalimat berikut yang akan diucapkan oleh Sehun.

“Semalam aku tidak bisa tidur karena aku terus memikirkanmu. Aku bahkan menemukan foto lama kita saat kita sedang berada di festival musim dingin. Sangat menyakitkan untuk melihatnya, karena mungkin sekarang kita tidak bisa kembali lagi ke masa itu. Akhirnya aku duduk di atas kasurku, melukis wajahmu di dalam benakku. Aku masih mengingat senyummu, wajah anggunmu, bentuk mata dan bibirmu, pun suara lembutmu.”

Seulmi masih terdiam.

“Dan saat aku tertidur, mimpi buruk itu menghampiriku. Kali ini, kau yang meninggalkanku. Aku sangat ingin memelukmu, tapi aku tidak bisa meraihmu. Aku menangis. Menangisi kebodohanku yang lalu, menangisi diriku yang malang.”

“Aku tidak akan pergi, Sehun,” sahut Seulmi lembut.

“Aku masih mengingat ciuman pertama kita, bahkan aku masih bisa merasakannya di bibirku. Aku ingat saat kita berdua berdansa tanpa ada musik yang mengiringi. Aku ingat ketika aku memelukmu di saat kau merasa sedih atau takut. Aku ingat semua hal yang pernah kita lewati,” lanjut Sehun dengan kedua mata yang mulai berkaca-kaca. Ia hampir menangis.

“Aku juga ingat saat aku membuatmu menangis. Aku ingat semua hal yang telah kulakukan padamu. Aku ingat saat kau meminta maaf padaku dengan air mata yang membasahi wajahmu,” lanjut Sehun dan ia mulai menangis.

“Aku sangat bodoh karena dulu aku sering menyakitimu. Aku bodoh karena aku telah mencampakkanmu. Aku bodoh karena aku telah melepasmu. Aku benar-benar bodoh,” ujar Sehun. Ia menangis sesenggukkan. “Aku sangat menyesal.”

Seulmi menatap sendu kedua mata Sehun. Gadis itu mendekati Sehun dan menghapus air mata yang membasahi wajah Sehun dengan kedua ibu jarinya.

Uljimayo, Oh Sehun..”

“Aku menyesal karena telah membuatmu menangis. Aku benar-benar minta maaf,” pinta Sehun.

Di luar dugaan, Seulmi malah memeluk Sehun dengan erat, menenangkan Sehun yang masih menangis. Sehun benar-benar tidak menduga hal ini akan terjadi.

“Tidak apa-apa, Sehun. Aku sudah memaafkanmu,” bisik Seulmi.

Sehun membalas pelukan Seulmi dan berbisik di telinganya, “Terima kasih, Jung Seulmi. Terima kasih.”

Beberapa detik kemudian, Seulmi melepas pelukannya dan kembali menghapus air mata dari wajah Sehun.

Uljimayo, Sehun-ah. Laki-laki hebat tidak menangis,” gurau Seulmi—berusaha membuat Sehun tersenyum—padahal ia sendiri juga ingin menangis.

Sehun terkekeh kecil seraya menghapus air matanya. “Aku laki-laki yang hebat dan aku tidak menangis.”

Sehun melirik jam tangannya, dan ia rasa ini saatnya untuk pulang—kendatipun sebenarnya ia tidak ingin pulang.

“Aku harus pulang, Seulmi. Maaf karena aku telah mengganggumu. Maaf karena aku telah menangis di hadapanmu. Aku minta maaf untuk semuanya,” ujar Sehun tulus.

“Kau adalah yang terbaik, Oh Sehun,” ujar Seulmi dengan sebuah senyuman yang kembali menghiasi wajahnya. Sehun tersenyum hangat—jauh lebih baik dari sebelumnya.

Seulmi mengantar Sehun keluar dari rumahnya sebelum Sehun pulang.

“Oh, tunggu di sini sebentar, Sehun. Aku ingin memberikan sesuatu untukmu,” ujar Seulmi lalu berlari masuk ke dalam rumahnya—untuk mengambil sesuatu.

Sehun menunggu di depan pintu dengan hati yang tidak tenang. Apa yang akan Seulmi berikan padaku?

Sehun memainkan jari-jari tangannya seraya menunggu Seulmi kembali. Ia bertanya-tanya dalam hati, kira-kira apa yang akan diberikan Seulmi padanya. Apakah hal yang baik, atau sebaliknya?

“Ini, untukmu.”

Seulmi tiba-tiba muncul di hadapannya dengan sebuah amplop berwarna krem di tangannya. Ia mengulurkan amplop itu tepat di depan wajah Sehun. “Untukmu.”

Sehun mengambil amplop itu dengan ragu. “Terima kasih.”

“Selamat malam, Sehun,” aku selalu menyayangimu.

“Selamat malam, Seulmi,” sahut Sehun—dengan suara rendahnya.

Secara tiba-tiba, Seulmi mencium lembut pipi Sehun dan tersenyum tipis sebelum akhirnya ia menutup pintu rumahnya—tanpa menunggu reaksi Sehun setelahnya.

Setelah mengunci pintu rumahnya, tiba-tiba saja Seulmi memerosotkan tubuhnya di depan pintu dan menyenderkan kepalanya ke pintu.

Cairan kristal bening itu mulai membasahi wajah putihnya. Ia menangis, benar-benar menangis dengan suasana hati yang kacau.

“Maafkan aku, Sehun. Maafkan aku. Aku benar-benar minta maaf.”

 

+++

 

Dalam perjalanannya menuju rumah, Sehun masih tersenyum-senyum sendiri. Ia sangat senang karena tadi Seulmi mencium lembut pipinya. Semburat merah kini menghiasi wajahnya.

Sehun memegangi pipinya yang tadi dicium oleh Seulmi seraya menerka-nerka apa isi dari amplop yang tadi diberikan oleh Seulmi. Karena rasa penasaran itu telah mengusiknya, akhirnya Sehun membuka amplop tersebut dan mengeluarkan isinya.

Selembar undangan. Undangan pernikahan.

Sehun melihat nama calon mempelai laki-lakinya. Di situ tertulis nama Kim Jongin.

Dan Sehun yang malang terbelalak ketika melihat nama calon mempelai wanitanya.

Jung Seulmi.

Seulmi yang ia kenal. Seulmi yang ia rindukan. Seulmi yang ia butuhkan. Seulmi yang ia sayangi. Seulmi yang ia cintai.

Itu artinya, Seulmi akan segera menikah dengan seorang laki-laki yang bernama Kim Jongin, bukan Oh Sehun. Dan Sehun tidak akan pernah bisa memiliki Seulmi lagi. Mereka benar-benar telah berpisah.

Sesaat lamanya, Sehun merasa tubuhnya melemas. Ia memerosotkan tubuh kurusnya di tepi jalan dan kedua lututnya menghantam keras aspal yang tidak terlapisi salju. Rasanya sakit dan panas—walaupun suhu di sekitarnya sangat dingin.

Air mata kembali membasahi wajahnya. Hatinya hancur berkeping-keping, dan Sehun yakin bahwa ia tidak dapat menyatukan kembali kepingan-kepingan hatinya. Karena yang dapat menyatukan kembali kepingan-kepingan hatinya hanyalah Seulmi.

Tapi, Seulmi tidak mungkin dapat menyatukan kembali kepingan-kepingan hati tersebut. Karena, Seulmi-lah yang telah menyebabkan hati itu hancur berkeping-keping.

Sehun hanya bisa menangisi kemalangannya.

 

I had a nightmare
Before I could hug you, who was crying
I woke up

Remember, when things were hard
I always turned your tears into smiles
Don’t cry in places without me, don’t cry
Because you always had a lot of tears

The faded photos that I almost threw away
It hurts so much that I can’t look at them now

It’s another sleepless night
I sit in my dark room with opened eyes
Drawing out your face

Your shy smile and gentle eyes
I want to hug you, what do I do?

I love you, I still love you so much, I miss you
Don’t cry, please be happy in that place

No, it’s my turn to cry, I’ll cry now
I’ll take all of your tears
It’s my turn to cry, give them to me

Don’t cry, baby
It’s my turn to cry, I’ll cry now
I’ll take all of your tears
It’s my turn to cry, give them to me
Even those tears, this time
I love you, I love you
I love you, I love you, don’t cry
Give them to me

(My Turn to Cry – EXO)

 

-FIN-

HAHA! Ini fanfic apa? XD

Yaudah, feel free to comment-lah. Yang mau ninggalin komen, nanti dilamar sama Sehun :’) /pukpuk Sehun(?)/

 

 

P.S. : kalo ada typo, maapin typo-nya yah. Typo tidak berdosa, yang berdosa keyboard-nya.

Advertisements

89 responses to “MY TURN TO CRY

  1. ini nyeseknya sampe ketulang…. tapi ada sedikit sweetnya tetep yah kamu jago bangett aaahh tapi aku sih udah ngira bakal dikasih undangan tapi teteplah aku mau kasih semua jempolku buat tulisan kamu

  2. ini nyesek.. sampe bikin aku pilek T-T
    uh, sehun kasian *hug*
    perkiraan aku bener, kalo seulmi pasti mau nikah.. tapi bukan sama sehun /-\
    penyesalan memang selalu datang belakangan~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s