Oh Boy! [Chapter 4]

Ini bukan ff ditjao, melainkan ff titipan dari salah seorang teman. Harap memberikan apresiasi berupa komentar setelah membaca ya, terima kasih sebelumnya.

 

Oh Boy!_副本_副本 (1)

Author : @pramudiaah

 

Tittle : Oh Boy!

 

Cast : Byun Baekhyun ~ Park Chanyeol ~ Shin Hayoung ~ and Others.

 

Genre : School life, Romance, Comedy (Maybe?).

 

Rating : PG 16

 

Leght : Chaptered.

 

Chapter sebelumnya[1] [2] [3]

 

A/N : Hai~ tidak tahu ingin berkata apa. Asalkan readers senang membaca chapter ini, author juga turut senang. Selamat membaca ‘diam-diam menghanyutkan’ chapter 4, hahahah…

Maafkan jika banyak typo dan kesalahan, hati-hati dengan adegan terakhir ._.V

-Oh Boy! Chapter4-

 

Hayoung terlihat kesulitan memanjat punggung Baekhyun untuk melewati pagar yang terbilang cukup tinggi di depan mereka, sementara segerombolan murid itu semakin mendekat.

“Cepatlah.” Suruh Baekhyun, ia juga mengalami kesulitan dengan tubuh Hayoung yang sekarang naik ke atas punggungnya, sesekali ia mengeluh tentang berat badan gadis itu.

Hayoung telah sampai di atas pagar, namun gadis itu lantas kebingungan mengenai caranya melompat ke luar sana, pagar itu cukup tinggi, dan bisa dipastikan kalau gadis itu akan terjatuh jika melompat.

Baekhyun sedikit lega saat gadis itu berhasil mencapai atas pagar, setidaknya ia bisa mengambil nafas untuk segera melompat ke atas pagar. Itu bukanlah hal yang sulit untuk Baekhyun, ia biasa melakukannya saat akan melarikan diri dari penjaga sekolah yang mengejarnya karena membolos, atau juga saat Baekhyun datang terlambat.

Baekhyun lantas melompat ke luar pagar, ia mendongakan kepalanya dan menghela nafas ketika melihat Hayoung masih setia di atas sana.

“Apa yang kau lakukan disana?” tanya Baekhyun kesal, ia merasa kalau Hayoung lah yang sejak tadi membuang-buang waktu.

“Bagaimana ini? Aku tidak berani melompat.” Gadis itu mulai panik, ia memandang Baekhyun yang berada di bawahnya dengan penuh harap.

Baekhyun menghela nafas untuk yang ke sekian kalinya.

“Cepatlah melompat dan aku akan menangkapmu.” Ujar Baekhyun pada akhirya, ia rasa dengan begitu maka mereka akan segera cepat melarikan diri. Namun gadis itu melotot, memandang Baekhyun dengan setumpuk rasa tidak percaya.

“Atau aku akan meninggalkanmu.” Melihat pandangan dari Hayoung, Baekhyun sedikit menggertak gadis itu. Sesungguhnya, ia tidak benar-benar akan meninggalkan gadis itu.

Hayoung menutup matanya, bersiap untuk melompat. Baekhyun juga telah siap dengan posisinya, untuk menangkap gadis itu. Baiklah, semoga saja mereka berdua bisa selamat.

 

-o0o-

Berbeda dengan Baekhyun dan juga Hayoung yang terjebak di dalam pekarangan sekolah, sekarang Chanyeol dan Minhee bersembunyi di sebuah gang kecil yang sepi, itu artinya mereka sempat keluar dari sekolahan.

Chanyeol dan juga Minhee sedang mengatur nafas sekarang, mereka berdua berlari hingga tak terhingga jauhnya.

“Kenapa mereka mengejar kita?” tanya Chanyeol setengah berbisik, nafasnya masih tersengal-sengal. Ia juga tidak terlalu berharap kalau Minhee akan mengetahui jawaban dari pertanyaannya tersebut.

“Aku juga tidak tahu, Oppa.” Balas Minhee singkat, gadis itu juga terlihat berkeringat di sekitar wajahnya. Mereka berdua bersender pada dinding di dalam sebuah gang sempit, berharap jika orang-orang tadi tidak menemukan mereka.

Chanyeol sedikit mengintip ke arah jalanan, dan melihat beberapa orang yang mengejar mereka tadi masih berkeliaran disana.

“Sial! Mereka masih disini.” Chanyeol sedikit mengumpat, namun pandanganya segera beralih ke arah gadis di sebelahnya, Minhee terlihat ketakutan.

“Bagaimana dengan Baekhyun dan juga Hayoung, Oppa?” gumam gadis itu. Chanyeol sedikit terhenyak, mungkin ia sedikit melupakan keadaan dua makhluk itu. Entah kenapa ia mulai khawatir, berharap agar Baekhyun dan Hayoung baik-baik saja sekarang.

Sebuah tangan yang melingkar di lengannya segera menyadarkan lamunannya. Chanyeol melirik lengannya itu, tangan Minhee berada disana, tangan gadis itu bergetar. Chanyeol tidak tahu harus berbuat apa, ada sebuah sensasi bergejolak di dalam hatinya. Laki-laki itu susah payah menelan ludah, jantungnya semakin berdetak cepat, hingga ia merasa akan terkena serangan jantung saat itu juga.

Mungkinkah perasaan itu masih tersisa? Perasaan?

 

-o0o-

 

“Kenapa anak-anak tadi mengejar kita? Memangnya kesalahan apa yang telah kita perbuat?” gadis itu mendumel sejak tadi. Sementara Baekhyun yang berjaan di sebelahnya, terlihat acuh tak acuh, sesekali ia melirik gadis di sebelahnya yang sangat berisik menurutnya. Baekhyun terlihat sangat lelah karena berlari cukup jauh bersama Hayoung. Dan sekarang, mereka harus berjalan kaki malam-malam seperti ini.

“Apa gadis itu tidak lelah?” pikirnya, melirik gadis yang berjalan di sebelahnya dengan ekor matanya.

“Kakiku terasa akan lepas dari tempatnya!” keluh Hayoung, sekarang gadis itu berjalan dengan menyeret kakinya. Baekhyun tersenyum tipis, entah tulus atau mengejek.

“Tapi bagaimana dengan Minhee dan Chanyeol Oppa!” pekik Hayoung histeris, seperti baru saja mengingat harta karun yang tertinggal olehnya. Baekhyun geli dengan reaksi Hayoung itu, padahal baru saja Chanyeol mengirimiya sms bahwa ia dan Minhee baik-baik saja. Tapi ia tidak berniat memberitahukan mengenai hal itu pada Hayoung.

Namun kemudian Baekhyun mengerutkan keningnya.

“Chanyeol oppa? Sejak kapan kau memanggilnya oppa?” tanya Baekhyun kebingungan, sebenarnya ia sedikit risih mendengar Hayoung memanggil Chanyeol dengan sebutan ‘oppa’.

“Itu bukan urusanmu Baekhyun-shi!” Balas Hayoung ketus. Baekhyun mendengus, ia juga tidak habis pikir, bisa-bisanya ia melarikan diri bersama gadis yang sangat tidak tahu berterima kasih itu. Tapi ia tidak bisa menyalahkan Hayoung begitu saja. Kenyataannya, ia sendiri yang menarik Hayoung untuk melarikan diri bersamanya. Kenapa ia melakukan itu? Entahlah.

“Tunggu dulu.. Bukankah kau dan Chanyeol itu saudara? Lalu kenapa marga kalian berbeda?” tanya Hayoung antusias, sebenarnya ia ingin menanyakan hal ini sejak lama, tapi entah kenapa ia selalu melupakannya.

Baekhyun meliriknya sekilas, tersenyum tipis.

“Itu bukan urusan mu Hayoung-shi.” Seperti sebuah pembalasan dendam, laki-laki itu menjawab menggunakan kalimat yang sama dengan kalimat yang dilontarkan oleh gadis itu sebelumnya. Hayoung menghentakan kakinya karena kesal.

“Seharusnya aku menanyakan nya pada Chanyeol oppa.” Balas Hayoung kesal. Baekhyun tersenyum lebar dan tidak peduli, bahkan saat gadis itu menghentikan langkahnya karena kesal dengan ulah Baekhyun itu.

 

-o0o-

 

Baekhyun dan Hayoung menghentikan langkahnya di perempatan jalan. Sekilas Baekhyun melirik gadis di sebelahnya, ia dapat melihat gadis itu dengan penerangan yang cukup sekarang, entahlah apa yang sedang ada dalam pikiran Baekhyun saat ini.

Hayoung menganga lebar, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang, dua makhluk di seberang sana. Penerangan di perempatan jalan itu cukup terang, cukup untuk melihat dengan jelas dua orang di seberang sana, dan apa yang mereka lakukan.

“Chanyeol oppa.” Gumam Hayoung dengan suara lirih. Baekhyun yang sejak tadi memandang ke arah lain, segera mengalihkannya ke depan. Dan matanya melihat dua orang yang sama dengan yang ditangkap oleh indera penglihatan Hayoung.

Chanyeol yang menyadari kehadiran dua orang di seberang jalan, segera melepaskan genggaman tangannya dengan Minhee. Minhee juga terkejut melihat Baekhyun yang bersama dengan Hayoung.

Hayoung merasakan dadanya terasa ngilu, seperti seseorang baru saja menggoreskan pisau pada hatinya tersebut, terasa perih. Ia berusaha keras agar air matanya tidak menerobos keluar saat itu juga.

Sementara Baekhyun? Laki-laki itu memandang datar dua orang di seberang sana yang berdiri seperti patung sejak tadi. Jangankan isi hatinya, siapapun tidak akan dapat membaca raut wajahnya saat ini.

Mereka berempat sibuk dengan pikirannya masing-masing hingga beberapa saat.

 

-o0o-

 

“Baekhyun, apa kau marah?” Chanyeol sedikit berteriak, berharap laki-laki yang baru saja masuk ke dalam rumah itu dapat mendengarnya. Sedangkan yang dipanggil bersikap acuh dan tidak peduli, Baekhyun sama sekali tidak berniat untuk menoleh atau menyahut panggilan dari kakaknya itu.

Chanyeol menyusul Baekhyun masuk ke dalam rumah mereka. Menahan bahu Baekhyun agar menoleh ke arahnya.

“Apa kau marah?” Chanyeol mengulang pertanyaannya sebelumnya. Baekhyun menatap Chanyeol dengan pandangan marah dan juga kesal.

“Untuk apa aku marah?” balas Baekhyun dingin. Padahal hanya dengan melihat saja, Chanyeol dapat mengetahui kalau Baekhyun sedang kesal padanya. Tapi ia tidak tahu apa yang telah membuat Baekhyun marah padanya.

“Apa kau masih menyukai Minhee? Lalu untuk apa kau mendekati Hayoung?” tanya Chanyeol lagi, kali ini memandang Baekhyun dengan tajam, hal itu memang telah menganggu pikiran Chanyeol akhir-akhir ini.

“Seharusnya aku yang bertanya, siapa yang kau sukai sebenarnya? Aku tahu kau menyukai Minhee sejak dulu, dan kemarin kau bilang kau menyukai Hayoung.” Balas Baekhyun dengan dingin, melihat Chanyeol datar, sama sekali tidak ada kata ‘respect’ di dalam kalimatnya itu. Mungkinkah hal itu yang membuatnya marah dan juga kesal?

 Seperti sebuah bumerang yang di lempar oleh Chanyeol, dan sekarang pertanyaan itu berbalik ke arahnya.

Chanyeol sedikit terkejut dengan pertanyaan Baekhyun barusan, sejak kapan adiknya itu mengetahui tentang perasaannya.

Baekhyun tersenyum meremehkan, seperti dapat membaca raut wajah Chanyeol.

“Kau tidak bisa menjawabnya bukan? Aku benci mengatakan hal ini, kau bahkan tidak mempunyai hubungan darah denganku. Jadi, berhentilah ikut campur mengenai urusan pribadiku kali ini.” ujar Baekhyun dingin, entah karena saking kesalnya atau apa. Dan ia langsung berlalu begitu saja. Tentu saja, itu sangat terdengar kejam di telinga Chanyeol, bagaimana bisa seorang adik mengucapkan kalimat seperti itu kepada kakaknya?

Chanyeol’s Pov.

Rasanya seperti tersambar petir mendengar Baekhyun mengucapkan kalimat itu padaku. Bagaimana bisa ia mengingatkanku kembali dengan kenyataan yang bahkan telah aku lupakan. Aku memang telah melupakan kenyataan kalau dia bukanlah adik kandungku. Karena sekarang, aku menganggapnya sebagai laki-laki yang lahir dari rahim yang sama denganku.  Kalimatnya barusan, membuatku kembali berpikir, bahwa tidak seharusnya aku melupakan mengenai kenyataan itu.

Flasback.

“Mungkin saja aku bisa menerimanya menjadi suamimu, Bu. Tapi tolong jangan menyuruhku untuk menerimanya sebagai pengganti ayah. Sampai kapanpun ayahku hanya Park Taesan, dan bukan siapapun!” mungkin diumurku yang masih sepuluh tahun, tidak sepantasnya melontarkan kalimat sekasar itu pada seorang ibu, pantas saja ibu langsung menamparku dengan keras saat itu juga.

Namun bagaimana bisa ibu menikah berselang beberapa bulan saja dari kematian ayah. Bagaimana bisa ia menemukan pengganti ayah dengan begitu cepat?

Aku tidak bisa menerima ini semua. Aku tidak bisa menerima Tuan Byun sebagai pengganti ayahku. Aku tidak bisa!

“Tolong Bu, sekali saja. Namaku adalah Park Chanyeol dan selamanya akan seperti itu, tolong jangan membuang marga Park dari namaku, aku mohon.” Pintaku dengan suara yang bergetar, ibu mendelik ke arahku dengan setumpuk rasa tidak percaya. Ia ingin menamparku lagi, namun sebuah tangan besar segera menahannya.

“Biarkan saja.” Ujar laki-laki di sebelah ibu, laki-laki yang baru beberapa jam yang lalu dinikahi ibuku.

Aku tidak tahan lagi, aku segera berlari ke kamar untuk meluapkan seluruh emosiku.

Aku membanting seluruh isi kamarku, meluapkan semua emosi di dalam dadaku. Seorang anak lelaki menatapku dengan wajah polosnya, berdiri di ambang pintu kamarku. Aku ingin sekali mengusirnya, namun kenapa wajahnya begitu mirip?

Wajahnya mengingatkanku dengan adik kandungku yang meninggal beberapa bulan yang lalu karena kecelakaan mobil bersama ayahku. Aku begitu mencintai adik yang berselisih dua tahun dari ku itu. Aku begitu mencintainya, hingga aku hampir gila saat mendengarnya meninggalkanku untuk selamanya.

Namun seperti bangkit dari kubur, aku seperti melihat adikku kembali di depan mataku. Wajah polosnya mengingatkanku akan adikku. Warna rambutnya, tinggi badannya yang sebatas hidungku, bahkan matanya. Aku tidak bisa menahan tangsiku, aku terisak. Aku tidak ingin anak laki-laki itu melihat atau mendengarku menangis, sebisa mungkin aku menyembunyikan wajahku dan juga membungkam mulutku menggunakan kedua tanganku.

Namun aku lantas menghentikan seluruh kegiatanku saat mendengar anak itu malah menangis. Aku melihatnya dengan bingung, karena aku tidak tahu dengan pasti penyebabnya menangis. Bahkan sekarang ia menangis lebih keras di bandingkan denganku sebelumnya.

Ayahnya segera menghampirinya dan berjongkok di sebelahnya.

“Baekhyun, kenapa kau menangis?” tanyanya lembut. Tentu saja, karena dia adalah anaknya. Lalu bagaimana denganku? Mungkin saja anak itu akan mengadukan hal yang tidak-tidak tentangku kepada ayahnya itu.

“Anak itu menangis.” Anak itu sesegukan sembari menunjuku, aku jadi kasihan melihatnya. Tapi kenapa harus menunjukku. Ayahnya tertawa, memangnya ada yang lucu?

“Jadi kau menangis karena hyung mu menangis?” tanya ayahnya. Hyung apanya?

“Hyung?” anak itu memastikan pada ayahnya. Entah perasaanku saja atau apa, tapi matanya berbinar-binar. Aku memandang mereka berdua dengan tatapan protes. Namun siapapun tidak ada yang peduli akan tatapanku itu.

Dan sejak saat itu, anak laki-laki itu selalu memanggil ‘Hyung’ padaku. Kemanapun aku pergi, ia akan mengekor di belakangku. Aku sempat  kesal pada awalnya, tapi anak itu terus menempel seperti permen karet, dan itu cukup membuat ku kesal sekaligus gemas secara bersamaan.

Aku terbiasa dengan kehadirannya di bulan berikutnya. Dan aku semakin akrab, bahkan bermain bersama dengannya setiap hari tanpa jeda. Tahun demi tahun, aku semakin tidak bisa lepas darinya.

Mungkin sekarang aku lah yang menjadi permen karet, terus menempel padanya. Aku tidak akan pernah bisa tidur jika tidak bersamanya. Aku melakukan semuanya agar dia senang. Sebisa mungkin aku mengalah agar dia tidak marah padaku. Termasuk, membiarkan cinta pertamaku –Minhee untuk bersama dengannya.

Aku tidak peduli asalkan dia bahagia, karena dia –maksudku Baekhyun… adalah adikku.

Flashback end.

Sungguh, aku ataupun Baekhyun tidak pernah membahas tentang hal ini sebelumnya. Baiklah, Baekhyun mengingatkanku untuk selalu mengingatnya. Dan mulai sekarang, aku tidak akan pernah melupakan mengenai kenyataan itu, kenyataan kalau Baekhyun bukan lah adik kandungku. Aku adalah Park Chanyeol dan dia adalah Byun Baekhyun. Setetes pun, kami tidak mempunyai hubungan darah.

Normal’s Pov.

Chanyeol tersenyum miris, matanya berkaca-kaca. Rasanya seperti saat terakhir kali adiknya meninggal, seperti sesuatu baru saja terlepas dari hidupnya. Kali ini, ia kembali kehilangan adiknya.

 

-o0o-

 

Hayoung berjalan lemas di koridor sekolah, bahkan gadis itu malas menggendong tas ranselnya, ia menenteng tasnya menggunakan tangan kanannya. Matanya menatap lurus ke depan sambil terus berjalan. Dan seorang gadis yang tengah berbincang dengan salah seorang murid di ujung koridor, lantas membuat Hayoung menghentikan langkahnya, gadis itu tersentak. Dengan cepat ia memutar tubuhnya untuk berbalik arah. Sungguh Hayoung belum siap untuk bertemu dengan gadis itu –Minhee.

Hayoung mendengus, menghela nafas, mengeluh, dan sebagainya. Karena berniat menghindari Minhee, sekarang ia harus berjalan lebih lama untuk menuju kelasnya. Tentu saja, karena ia harus berjalan memutari gedung sekolahannya itu untuk mencapai ke kelasnya yang memang terletak di paling ujung.

“Sial!”

Hayoung kembali memutar tubuhnya untuk berbalik. Seseorang yang berdiri beberapa meter di depan gadis itu kembali membuat Hayoung untuk melakukan itu.

“Sungguh. Aku sedang tidak ingin bertemu denganmu, Chanyeol.” Gumam Hayoung, berharap agar Chanyeol belum sempat melihatnya. Gadis itu segera berjalan cepat menjauhi laki-laki itu. Terlambat, Chanyeol telah melihat semuanya, bahkan sejak gadis itu mulai berbalik dan mematung beberapa saat. Laki-laki itu mengernyit kebingungan. Menurutnya, Hayoung berusaha melarikan diri setelah melihatnya.

 

-o0o-

 

Hayoung terus saja berjalan cepat, takut jika Chanyeol mengejar atau mengekor di belakangnya. Entah, telah berapa murid yang di tabraknya sejak tadi, tentu saja karena gadis itu berjalan dengan tergesa-gesa.

Dan kali ini Hayoung kembali menabrak seorang murid, gadis itu hingga terjatuh ke belakang saking kerasnya. Namun anehnya, laki-laki yang ditabraknya tetap berdiri kokoh di tempatnya. Hayoung mendongakkan kepalanya, bersiap memprotes laki-laki di hadapannya.

Bukannya segera memprotes, Hayoung malah melongo tidak percaya melihat laki-laki itu.  Rasanya seperti baru saja terlepas dari mulut buaya, dan sekarang ia seperti telah berada di ambang mulut harimau.

“Apa yang kau lakukan?” tanya laki-laki itu datar. Kemudian ia menarik lengan Hayoung agar gadis itu berdiri.

“Bukan urusan mu Baekhyun-shi!” balas Hayoung ketus, lantas gadis itu segera memungut tas nya yang kini tergeletak di lantai, dan berniat untuk segera berlalu dari hadapan Baekhyun saat itu juga.

Namun Baekhyun segera menahan lengannya. Hayoung sedikit merintih karena Baekhyun memegang lengannya dengan kuat. Gadis itu berusaha menghempaskan tangan Baekhyun, namun laki-laki itu malah semakin kuat memcengkeram lengannya.

“Baekhyun sa-kit!” Hayoung meringis kesakitan dan tetap berusaha melepaskan diri dari Baekhyun.

Seperti tersadar, Baekhyun sedikit mengendurkan cengkeramannya pada lengan gadis itu, namun Bukan berarti Baekhyun lantas melepaskannya.

“Baekhyun, aku akan ke kelas. Jadi, lepaskan aku!” teriak Hayoung kesal, Baekhyun hanya diam saja seperti batu sejak tadi, hingga gadis itu mendorong Baekhyun dengan kuat karena tidak tahan lagi.

Kali ini Hayoung berhasil terlepas dari Baekhyun. Gadis itu segera berlalu dari hadapan Baekhyun.

“Baekhyun terlihat aneh.” Pikir gadis itu sambil terus berjalan dengan cepat, meninggalkan Baekhyun di belakangnya, dan sekarang laki-laki itu memandang kepergiannya dengan pandangan penuh arti.

 

-o0o-

 

Pada jam istirahat, Hayoung segera meninggalkan kelas, gadis itu berniat melarikan diri. Sebelum Minhee menahan lalu mengajaknya ke kantin. Masih sama dengan alasan sebelumnya, ia sedang tidak ingin bertemu Minhee.

Memang hanyalah perpustakaan yang mengerti perasaannya saat ini, gadis itu bisa bersembunyi di dalam sana. Namun baru saja ia ingin memasuki perpustakaan, matanya membulat melihat laki-laki yang paling tidak ingin ia temui saat ini, tengah berbincang-bincang dengan penjaga perpustakaan. Secepat kilat ia berbalik dan segera melarikan diri. Namun laki-laki itu menyadari keberadaan Hayoung, ia segera beranjak dari tempat duduknya saat ini.

“Shin Hayoung!”

Hayoung menutup matanya dan seketika menghentikan langkahnya, setelah seseorag meneriakan namanya hingga suaranya menggema ke sudut-sudut koridor. Jantungnya berdetak cepat ketika langkah seseorang semakin mendekat di belakangnya. Dan Hayoung  hampir terkena serangan jantung ketika seseorang menyentuh bahunya.

Gadis itu mulai mengambil nafas, mencoba untuk bersikap se-tenang dan se-biasa mungkin. Dan gadis itu berbalik dengan perlahan.

“Annyeong Chanyeol sunbae.” Ujar Hayoung menyapa seseorang di hadapannya. Gadis itu berusaha menampilkan senyum se-manis mungkin, mencoba bersikap se-biasa mungkin. Tapi tetap saja, wajah tegangnya dapat terbaca oleh Chanyeol.

“Kau sedang tidak berusaha menghindariku, bukan?” tanya Chanyeol sedikit menundukan kepalanya, karena ia kesulitan melihat wajah Hayoung yang menunduk sejak tadi. Hayoung hanya menggeleng, masih dengan menunduk. Chanyeol semakin curiga melihatnya.

“Apa aku melakukan hal yang salah? Apa kau marah?” tanya Chanyeol khawatir, ia sedikit menyibakan rambut Hayoung, karena ia benar-benar kesulitan untuk melihat wajah gadis itu.

Hayoung semakin gugup dan sedikit memundurkan tubuhnya. Mungkin karena menyadari Chanyeol berada sangat dekat dengannya. Dan entah sengaja atau tidak, sekarang Chanyeol memajukan tubuhnya agar semakin dekat dengan gadis itu. Hayoung semakin frustasi di balik wajahnya yang menunduk itu.

“Hei, apa kau sakit?” Chanyeol berusaha memeriksa kening Hayoung, namun gadis itu segera menepis tangannya.

“Aku tidak apa-apa sunbae.” Balas Hayoung lirih, kali ini mendongakkan kepalanya untuk melihat Chanyeol. Sekarang Chanyeol baru tersadar kalau ia terlalu dekat dengan Hayoung, buktinya wajah mereka hanya berjarak beberapa senti saja ketika gadis itu mendongakkan kepalanya. Chanyeol segera menjauh, entah mengapa.. ia mulai gugup.

Baiklah, satu hal yang Hayoung sadari, ia tidak akan pernah bisa menghindari Chanyeol, sekeras apapun usahanya.

 

-o0o-

 

Sehun dan juga Jongin, memandang intens sahabat yang kini duduk di hadapannya. Mereka memiringkan kepala untuk mengamati Baekhyun dengan intens, dan mereka melakukan itu hingga beberapa kali. Baekhyun yang sedang meminum air mineral, melihat risih ke arah dua sahabatnya itu.

“Kenapa kalian melihatku seperti itu?” tanya Baekhyun galak, kedua sahabatnya itu langsung tersadar dan segera menghentikan kegiatan mereka –mengamati Baekhyun.

“Apa kau sedang dalam masalah? Akhir-akhir ini aku sering melihatmu melamun.” Ujar Sehun penuh selidik, memang Baekhyun sering melamun akhir-akhir ini, bahkan saat mereka bertiga sedang berkumpul.

“Sejak beberapa hari yang lalu, aku tidak pernah melihatmu bersama gadis.” Jongin ikut menimpali. Matanya menerawang, mengingat beberapa hari ini Baekhyun mulai melupakan kebiasaannya ‘bermain dengan gadis’.

Baekhyun menghela nafas, seperti tengah ada masalah yang besar di dalam hidupnya yang kini memenuhi otaknya.

Belum sempat Baekhyun membalas pertanyaan dua sahabatnya itu, ponselnya berdering hingga ia kembali menelan kalimat yang tadinya ingin diucapkannya.

Kening Baekhyun berkerut membaca sms dari nomor baru yang sekarang tertera di layar ponselnya. Baekhyun segera beranjak dari tempat duduknya dan berpamitan kepada dua sahabatnya untuk pergi ke suatu tempat.

Sehun dan Jongin melihat kepergian Baekhyun dengan pandagan aneh, kemudian mereka saling melempar pandang, seolah saling menyiratkan,

“Semakin hari, Baekhyun semakin aneh.”

 

-o0o-

 

Baekhyun celingukan ke kanan dan ke kiri, kini ia tengah berada di atap gedung. Seseorang mengiriminya sms untuk datang ke tempat itu. Namun Baekhyun kebingungan karena tidak ada seorang pun di sana.

Tiba-tiba seorang gadis, yang entah muncul darimana, sekarang berdiri di hadapan Baekhyun. Gadis itu tersenyum manis ke arah Baekhyun. Baekhyun terhenyak melihat kedatangan gadis itu, terpana beberapa saat. Namun ia segera menyadarkan perasaannya.

“Baekhyun-ah, kau tau berapa besar aku merindukanmu?” gadis itu bergerak seperti menari dengan ceria, dan senyuman tidak pernah hilang dari wajahnya. Baekhyun benar-benar kebingungan melihat gadis di hadapannya itu.

“Aku.. Kim Min Hee.. merindukanmu, Baekhyun.” Lanjutnya, sepertinya gadis itu sangat bahagia dapat melihat Baekhyun kembali. Saking bahagianya, ia sampai menari-nari dan sekarang ia hampir mirip seperti orang gila.

“Dasar gila! Apa yang kau lakukan?” Balas Baekhyun datar, terdengar kejam memang. Gadis itu langsung menghentikan kegiatannya dan merengut.

“Kau jahat, apa kau benar-benar tidak bisa memaafkan aku.” Gadis itu memandang Baekhyun dengan mata berkaca-kaca dan juga penuh harap. Kali ini Baekhyun merasa tak enak, apa memang ini terlalu kejam?

Minhee berjalan ke arah tepi atap gedung. Baekhyun mulai gelisah melihat kelakuan gadis itu. Baekhyun melotot ketika melihat gadis itu memanjat pagar pembatas di pinggir atap gedung. Baekhyun segera menghampiri gadis itu, berniat menghentikan kegiatan Minhee.

“Kim Min Hee, apa yang kau lakukan?” Baekhyun khawatir dan menahan lengan gadis itu agar tidak memanjat. Gadis itu melirik Baekhyun sekilas, namun kembali melanjutkan kegiatannya.

“Hei, jangan bunuh diri di hadapanku!” teriak Baekhyun dengan panik, karena gadis itu berposisi seperti akan melompat. Baekhyun berusaha menarik Minhee untuk turun dari pagar, tapi gadis itu tetap bersikukuh.

“Apa kau sudah memaafkan aku?” tanya Minhee berbinar-binar. Baekhyun melongo, namun pada akhirnya ia hanya dapat menghela nafas.

Merasa Baekhyun menyiratkan pandangan ‘ya’. Lantas gadis itu segera berteriak kegirangan dan perlahan turun dari pagar. Baekhyun mendengus dan mengalihkan pandangannya dari gadis itu. Kini, pandangannya menuju ke arah dua orang yang sedang duduk pada sebuah bangku di bawah sana.

Chanyeol dan Hayoung tengah saling bercanda satu sama lain, bahkan sesekali Chanyeol mengalungkan tangannya pada leher Hayoung. Entah kenapa, Baekhyun memanas melihatnya. Sekuat tenaga ia mengusai perasaannya saat ini.

“Munafik!” pikirnya.

Sebuah tangan yang melingkar di pinggangnya segera menyadarkannya. Baekhyun menolehkan kepalanya, gadis di sebelahnya sedang memeluknya erat. Tidak ada yang bisa dilakukan Baekhyun sekarang. Namun tidak dapat dipungkiri, jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari sebelumnya. Sungguh, Baekhyun sendiri juga tidak tahu, jatungnya berdetak cepat untuk siapa.

Ini benar-benar bukan Baekhyun yang biasanya.

 

-o0o-

 

Baekhyun’s Pov.

Aku melihatnya baru saja datang. Entah kenapa ia pulang terlambat. Dan dia benar-benar mengabaikanku sekarang, padahal aku sengaja berada di ruang tamu ini hanya untuk menunggunya pulang. Namun apa yang ia lakukan sekarang?

Melewatiku begitu saja dan seolah tidak melihat keberadaanku, yang jelas-jelas sangat menonjol di ruang tamu ini.

Ucapanku semalam memang terlalu kejam, tidak sepantasnya aku mengucapkan itu pada Chanyeol – maksudku pada kakakku, itu memang tidak seharusnya aku lakukan. Entah setan  mana yang merasuki ku malam itu. Yang pasti, sejak kejadian itu, seperti ada garis pembatas di antara kami, setidaknya sekitar sepuluh meter jarak yang harus tercipta di antara kami.

Aku marah bukan tanpa sebab. Jujur, melihatnya menggenggam Minhee, membuatku sedikit sesak. Chanyeol bilang ia menyukai Hayoung beberapa hari yang lalu, awalnya aku kira ia hanya bercanda, tapi aku berubah pikiran setelah melihatnya bersama Hayoung siang tadi. Melihat semua sentuhan yang dillakukannya dengan Hayoung, kembali membuatku sesak.

Bukan, bukan karena aku cemburu karena seseorang akan merebut Chanyeol. Namun karena, mungkin aku masih menyukai Minhee dan mungkin aku mulai menyukai Hayoung sekarang, itu hanya ‘mungkin’. Bagiku kedua gadis itu.. entahlah, sudah sangat lama sejak terahir kali aku mengalami hal semacam ini. Aku merasa hampir gila saat ini. dan tentang Chanyeol, aku tidak tahu harus melakukan apa. Dia tetaplah kakakku. Bagaimana ini?

Baiklah, aku ingin semua kegundahan ini menghilang malam ini juga. Dimana aku bisa melampiaskan semua masalahku ini?

 

-o0o-

 

Normal’s Pov.

Baekhyun minum-minum di kedai soju pinggir jalan. Ini masih jam delapan malam dan jalanan masih terlihat padat merayap. Hiruk pikuk dan kebisingan jalan raya itu sama sekali tidak dipedulikan oleh Baekhyun. Baekhyun kembali meneguk sojunya, dan itu adalah botol keduanya. Baekhyun berniat untuk tidak mabuk,  namun setidaknya ia bisa melupakan masalahnya walau hanya sesaat.

Baekhyun belum benar-benar mabuk, ia masih sanggup untuk berdiri dan meninggalkan kedai soju itu. Baekhyun berjalan sempoyongan, pikirannya kosong. Ya memang itu yang di inginkannya, melupakan masalahnya untuk sesaat. Tapi yang menjadi masalah, bagaimana Baekhyun bisa pulang?

Oke, Baekhyun mulai kebingungan ketika sampai di perempatan jalan. Ia tidak dapat lagi berpikir dengan jernih. Dimana arah pulang ke rumahnya? Ia tidak ingat lagi. Ia memutuskan untuk duduk di trotoar pinggir jalan, kepalanya juga mulai berat dan terasa pening.

“Dimana rumahku?” gumam Baekhyun kebingungan. Baekhyun meneggelamkan kepalanya ke dalam siku dan lututnya. Benar-benar terlihat menyedihkan.

“Hei Baekhyun!” dengan rasa tidak percaya, seorang gadis menggerakan tubuh Baekhyun menggunakan kakinya, memastikan seseorang yang sedang meringkuk itu, adalah seseorang yang di kenalnya. Baekhyun mendongak dan mengernyit. Gadis itu itu menganga, tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.

“Jadi kau benar-benar Baekhyun?” Lanjut gadis itu histeris. Baekhyun menyipitkan matanya, berusaha mengenali wajah gadis di hadapannya.

“Shin-ha-young.” Baekhyun mengenali wajah itu, dan sekarang mengingat namanya. Hayoung menggeleng-gelengkan kepalanya melihat keadaan Baekhyun sekarang.

“Dasar pemabuk!” cecar Hayoung dengan nada mengejek dan juga tersenyum meremehkan.

“Apa kau tidak bisa pulang sekarang?” lanjut Hayoung tetap mengejek, Baekhyun memandangnya tidak peduli. Namun akhirnya Hayoung merasa iba melihat kondisi Baekhyun itu.

 

-o0o-

 

Dengan susah payah Hayoung membantu memapah Baekhyun untuk mengantarkannya pulang. Sejak tadi gadis itu tidak henti-hentinya mengumpat dan mengeluh. Menurutnya, Baekhyun selalu membuatnya mengalami banyak kesulitan. Hayoung kelelahan dan memutuskan untuk beristirahat di sebuah bangku di pinggir jalan yang sepi.

Sesekali Baekhyun membuka matanya dan melirik Hayoung sekilas. Baekhyun menggeliat hingga membuat Hayoung terkejut.

“Kau tidak merasa malam ini terasa sangat dingin?” mendengar pertanyaan Baekhyun, Hayoung segera menoleh ke arah laki-laki di sebelahnya. Bukankah Baekhyun telah memakai mantel yang tebal saat ini?

Hayoung mengerutkan kening, memandang Baekhyun aneh.

“Kau belum mati?” tanya Hayoung asal. Baekhyun terkekeh. Hayoung semakin melihat aneh ke arah Baekhyun.

“Maksudku kau.” Balas Baekhyun menunjuk tubuh Hayoung. Memang gadis itu hanya mengenakan kaos panjang yang sedikit tipis. Memang tadinya ia hanya ingin berbelanja di supermarket, bukan mengantarkan Baekhyun pulang ke rumah seperti ini.

Hayoung memang kedinginan, gadis itu mengusap-usap bahunya sendiri. Baekhyun merapat ke arah Hayoung, dan gadis itu menggeser tubuhnya untuk menjauh dari Baekhyun.

Baekhyun tidak menyerah, ia kembali merapat ke arah Hayoung, dan Hayoung kembali menggeser duduknya. Terus saja seperti itu hingga beberapa kali, hingga sekarang Hayoung telah duduk di pucuk bangku, gadis itu tidak memiliki tempat untuk menggeser tubuhnya lagi.

Baekhyun tersenyum penuh kemenangan, tersenyum sangat lebar. Hayoung mendelik ke arahnya dengan garang, namun itu sama sekali tidak membuat Baekhyun menciut. Baekhyun merangkul gadis itu dan mendekatkan wajahnya ke wajah gadis itu. Hayoung langsung berdiri untuk mengalihkan Baekhyun.

Laki-laki itu menarik tangan Hayoung hingga gadis itu kembali terduduk. Baekhyun semakin mendekap gadis itu.

“Hei Baekhyun, apa yang kau lakukan?” tanya Hayoung ketakutan, apalagi setelah Baekhyun hanya membalasnya dengan seringaian mengerikan.

“Aku bisa saja meneriakanmu sebagai tukang cabul!” ancam Hayoung, ia berusaha mendorong Baekhyun untuk menjauh. Meskipun mabuk, Baekhyun tetaplah lebih kuat di bandingkan dengan Hayoung.

“Disini tidak ada siapa-siapa.” Balas Baekhyun semakin menyeringai jahil, mendekatkan kepalanya ke wajah Hayoung. Baekhyun memegang kedua tangan Hayoung hingga gadis itu tidak dapat berkutik lagi

“Hyaa toloong.” Hayoung beusaha berteriak sekencang mungkin.

“Sekali berteriak, aku akan mencium bibirmu sekali.” Ancam Baekhyun. Hayoung memejamkan matanya saat nafas Baekhyun terasa di sekujur wajahnya. Gadis itu langsung menciut dengan ancaman Baekhyun barusan.

“Berteriaklah!” suruh Baekhyun, tersenyum jahil. Hayoung tidak berkutik, bahkan hanya untuk membuka matanya ia tidak berani. Baekhyun menghentikan senyuman jahil yang sejak tadi mengukir wajahnya. Awalnya, Baekhyun hanya ingin menggoda gadis itu, namun wajah gadis yang berada sangat dekat dengan wajahnya, kini membuatnya menelan ludah.

Baekhyun mendekatkan wajanya, berusaha menahan detak jantungnya yang tidak beraturan. Baekhyun mengecup bibir gadis itu, hanya menempelkannya. Mungkin ia akan bermain gila jika dengan gadis lain. Namun entah kenapa, ia hanya ingin menikmati sensasi ini untuk waktu yang cukup lama, bukan karena nafsu.

Hayoung membulatkan matanya, tidak percaya jika Baekhyun benar-benar akan menciumnya. Dan sekarang Baekhyun benar-benar sedang menciumnya. Di butuhkan waktu yang sedikit lama, untuk Hayoung menyadari sepenuhnya tentang apa yang sedang terjadi.

.

.

.

TBC~

Advertisements

276 responses to “Oh Boy! [Chapter 4]

  1. Hiyaaaa….. Ada yg curi curi kesempatan… Hahahahaha….
    Btw ahkirnya tau juga silsilah kel Chanyeol dan baekhyun…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s