Someone Inside of Me – Part 3

someone inside of me

-A storyline by infinitejjong-

 Someone Inside of  Me

Genre: Romance,Angst,Mystery, thrill

Main cast: -Lee Jaehwan  (Ken of VIXX)

                               -Park Chanhyo   (OC/imagine as You)

               -Jung Taekwoon ( Leo of VIXX)

-Lee Hongbin  (Hongbin of VIXX)

Minor Cast: VIXX’s members,etc

                                                                                                              Length: Chaptered                    

Rating: PG+15

Previous chapter: Chapter 1 ; Chapter 2 

Love is to be patient, love is kind. It does not envy, it does not boast, it is not proud. It does not dishonor others, it is not self-seeking, it is not easily angered, it keeps no record of wrongs. Love does not delight in evil but rejoices with the truth.It always protects, always trusts, always hopes, always perseveres.

…………But I can’t do any of it anymore. Although I can’t, with all of this feeling that makes me crazy. I believe it is still love. Isn’t it?

✧♦✧

Namanya Park Chanhyo, dia bukan orang yang bisa bergaul dengan baik bersama orang-orang baru. Dalam kehidupanya tidak terlalu banyak orang yang silih berganti datang. Kehilangan adalah ketakutan utamanya. Kadang ia terlalu sering berprilaku baik pada orang disekelilingnya. Perlahan ia menyadari, bahwa Cinta tidak memperlukan alasan. Kini ia mencoba untuk bertahan, tapi apa yang terjadi kalau sekarang ia terperangkap dalam kisah yang awalnya ia buat sendiri? Sebenarnya siapa orang yang ia cintai dan apa yang telah ia perbuat? 

Chanhyo membuka tirai merahnya , membiarkan sedikit cahaya masuk ke dalam ruangannya yang terasa begitu gelap.

“salju…….” desahnya pelan. tak terasa hari begitu cepat berlalu, dinginya semilir angin yang beberapa hari yang lalu terasa menusuk kini berubah menjadi kristal-kristal putih cantik yang mulai turun dan menumpuk. Menghalangi hijaunya dedaunan yang akan ia rindukan. hanya ada Chanhyo dan dia disini. melewati hari-hari mereka dengan kesepian yang kadang tak terasa.

Ia tidak bisa menyebut harinya berlalu dengan menyedihkan……

Tetapi ia juga tidak bisa mengatakan bahwa harinya berlalu dengan menyenangkan

Aneh.

ia tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi tapi itu semua membuat chanhyo berpikir. keberadaan mereka yang kini hanya berdua, tanpa berhubungan dengan siapa siapa lagi seakan dunia terasa semakin sepi. bahkan jaehwan tidak membiarkan chanhyo untuk memegang ponselnya, untuk sekedar membalas beberapa pesan singkat dari hongbin atau teman-teman yang lain. Jaehwan melarangnya untuk pergi keluar dan kadang itu semua menimbulkan perselisihan di antara mereka. Semuanya terlihat seperti gerak gerik yang penuh tanda tanya tapi tak ada jawabanya.

Chanhyo menghelakan nafasnya, berusaha membuat segala pikiran yang membuatnya pusing terasa lebih lega. Lalu ia sedikit tersenyum kala merasakan kehangatan ditubuhnya. “hey…… apa kau ingin main keluar? salju pertama baru saja turun” tanya chanhyo kepada Jaehwan yang sudah lebih dulu melingkarkan tangannya di pinggang chanhyo.

“hm….. tentu”

 

Chanhyo dan jaehwan mulai bergegas, mengambil syal dan sarung tangan mereka masing masing. mengambil jaket tebal yang lebih hangat juga kaus kaki yang membuat mereka merasa nyaman.  Dulu mereka tidak akan berani pulang dengan sarung tangan yang basah kuyup. Tapi kini mereka keluar untuk membuat sarung tangan mereka basah.

✧♦✧

Chanhyo menghepaskan dirinya dan mulai berlari diantara hamparan salju putih yang melintang luas. Jalanan terasa seakan lebih sepi daripada biasanya. belum ada orang yang mulai membersihkan salju di pekarangan rumah mereka masing-masing. hari masih terlalu pagi, dingin juga terasa lebih membeku tapi jaehwan menyukainya. Dingin yang menusuk,mendinginkan pikiranya.

Bruk!

Sebuah bola salju kecil mengenai kepalanya. Tak begitu keras, tapi cukup membuat jaehwan kaget

“tamparan kecil untuk orang yang terlihat muram di pagi hari!” Pertarungan singkat diantara merekapun dimulai. saling melemparkan bola bola putih dingin ke arah yang berlawanan dengan mereka masing-masing.

“Yah Park Chanhyo!” Jaehwan berseru mengejar chanhyo dari belakang, mendekapnya hangat dan mulai mencium wangi rambutnya perlahan. Ia menyukainya, bahkan ragu untuk melepaskanya. He definitely addicted to her. 

Jaehwan POV

sungguh lembut….. sungguh mempesona berapa beruntungnya aku memilikinya. Ungkapku untuk yang sekian kalinya dalam hati, lalu kumulai melihatnya berlari menjauhiku dengan tawaan manisnya.

“Yah Park Chanhyo!” Aku berteriak, berusaha berlari dengan lebih cepat. Dengan jantung yang seperti ini kurasa ini cukup sulit kemudian mendekap tubuhnya hangat dengan lenganku. Aku menciumi wangi kepalanya, seakan tak pernah berubah yang selalu kucium adalah wangi yang sama. Vanilla lembut yang memikau.

“mengapa kau selalu kuat mengejarku ya?” Chanhyo terkekeh kecil, memeluk lenganku dengan jari lentiknya. Ini baru permulaan, sentuhan kecilnya bahkan dapat membuat jantungku berdetak sekencang ini. Tapi entah mengapa, aku tak bisa menjawab namun tersenyum.

“Tapi aku tidak pernah kuat mengejarmu, seperti saat itu” Ia melepas dekapanku, meraih tangan kiriku dan menautkan jari jarinya diantara miliku. Aku tau topik apa yang sebenarnya chanhyo tuju, pasti saat kumenemukanya pingsan di taman tak terurus waktu itu. Tsk mengapa ia bisa berhalusinasi sudah mengejarku sejauh itu? Apa aku benar-benar menyeramkan?

“Buatkan aku boneka salju kecil Ken, kumohon?” Ia menatap kearahku dalam dengan bola mata berbinar yang membuatku tak sanggup menolak. Tidak. Tidak lagi. Jangan menatapku seperti itu. “B-baiklah”

Aku berjongkok dan mulai membuat boneka boneka salju kecil dengan kedua tangan yang tak kumengerti mengapa terus bergetar. Chanhyo melakukan hal yang sama, ia berada dihadapanku dan mulai menatapku lekat-lekat. Bahkan mataku tak cukup kuat untuk menatapnya, tangan ini hanya bisamembuat beberapa boneka salju yang sebentar lagi akan selesai. Bibir ini ikut membeku, hal hal aneh yang tubuhku buat saat berada di dekat chanhyo, aku benar-benar membencinya.

“Ah, bermain boneka salju seperti ini aku jadi mengingat sesuatu. Tapi rasanya, aku…… tak benar-benar ingat”

Disaat ia mengatakan itu, aku bisa merasakan keanehan yang kembali muncul di dalam kepalaku. Memori-memori yang kurasa tak pernah terjadi sebelumnya, terus berputar dan membayangiku, Sial. Mengapa rasanya detakan jantung ini terasa lebih cepat?  

“Tunggu, whoa whoa! Jae-”

“Ken” Potongku tungkas lebih dulu sebelum chanhyo benar-benar menyelesaikan kalimatnya. Kata kata itu kembali keluar dari mulutku dengan sendirinya.

“Uh- iya, Ken kau membuat 4 boneka salju! hebat sekali, lihat!” Chanhyo mulai mendekati boneka-boneka tadi, menunjuknya satu dan mulai berpikir. “Mengapa kau membuat begitu banyak padahal tadinya aku hanya memintamu membuat 2 buah boneka. Satu Chanhyo dan satunya lagi kau” Chanhyo berkata, aku mengerutkan dahiku. Tunggu mengapa aku membuat sebanyak ini? bukankah aku hanya berniat membuat dua boneka? 

“Hey Ken. mengapa kau diam saja? jangan marah mereka terlihat lucu kok! Lihat yang satu ini terlihat sepertimu, Jaehwan!” Chanhyo meraih sebuah boneka dan mengusap kepala boneka salju tersebut, aku mencoba tersenyum dan ikut meraihnya. Tapi di detik berikutnya aku baru sadar. Bukan hal itu yang kulakukan. 

Jantungku berdebar begitu kencang, tunggu mengapa hal ini kembali terjadi. Sepertinya aku harus segera kembali bersama chanhyo sekarang juga aku perlu obatku.

obat? Apa yang kau bicarakan? kau tidak lihat aku sedang bersenang-senang disini? Berhenti bertindak hal-hal bodoh dan membuat kebisingan, Jaehwan.  

Chanhyo POV

“Hey Ken. mengapa kau diam saja? jangan marah mereka terlihat lucu kok! Lihat yang satu ini terlihat sepertimu, Jaehwan!”  ujarku sambil mengelus kepala boneka salju yang baru saja Jaehwan buat. Itu terlihat benar-benar lucu, walaupun bentuknya tak benar-benar bagus. Ranting yang menempel pada wajah boneka tersebut terlihat seperti hidung ken yang khas. Aku tidak bisa menahan tawaku, tapi hal yang berikutnya kusadari adalah.

Jaehwan mengambil boneka tersebut dan meremukanya dengan sekali kepalan tangan.

“Aku tidak menyukainya.” Jelasnya, tanpa senyuman dan tidak menatap kearahku. Suasana terasa lebih mencekam Apa aku baru saja…… mengatakan suatu hal yang salah?

apa karena aku memanggilnya dengan jaehwan? tidak mungkin.

“a-ah benar, lagipula kita masih punya 3 boneka disini! Ini terlihat sepertiku iya kan?” aku meraihnya dan sedikit memainkanya. Tapi ia bahkan kembali tidak merespon.

“dan ini terlihat sepertimu k-ken! Ah! yang ini terlihat seperti hong-”

“mengapa kau selalu berbicara tentang hongbin?” ia bertanya, kali ini menoleh ke arahku dan menatapku dengan tatapan yang gelap mata itu kembali muncul, bersamaan dengan angin yang berhembus lumayan keras secara tiba-tiba. Tatapan yang ia berikan begitu terasa tajam dan berbeda. Mata itu, mata itu lagi

“d-dia sahabatku Ken, apakah yang salah dengan itu?” aku kembali bertanya, sedikit bernada tinggi karena aku cukup lelah akan hal ini. Pembicaraan tentang ini, dengan topik yang sama. Tapi ken hanya bangkit dari posisi awalnya, lalu membersihkan beberapa salju yang menempel pada celananya.

“aku tidak tahu kau ternyata bisa jadi teman yang baik, Hyo.” ucapnya getir, dengan punggung yang membelakangiku. Perkataan yang ia katakan seakan selalu memiliki makna di baliknya. Ditambah ketika mata itu juga muncul, aku bisa merasakan atmosfir yang terasa berbeda.

rasa takut tiba tiba saja menyelimutiku “a-apa maksudmu? Kita memang selalu menjadi sahabat yang baik bukan?” ujarku ragu. Tapi ia hanya kembali membisu, aku bisa melihat caranya mengepalkan tanganya keras dari sini. Disaat urat-uratnya muncul, menahan sesuatu. Dari dulu, tidak ada benar-benar hubungan yang jelas antara kami berdua. Tapi aku tidak bisa mengelak bahwa aku……. Mencintainya, entah apa yang dia perbuat tapi disetiap hal yang ia lakukan sulit untuk membuatku membencinya.

Tuhan tolong, apakah aku telah membuat sesuatu yang salah?

kau selalu melupakan sesuatu bodoh. Ah, apakah kau masih ingat apa bintangmu?” tanyanya, perkataanya membuatku tertegun tanpa alasan. Disaat seperti ini apa gunanya ia menanyakan bintangku?

Aku lahir 19 tahun yang lalu, di luar dugaan di bulan…… Agustus

“Leo……..” kini aku menyadari bahwa ken berada dihadapanku, masih dengan mata yang sama tapi senyuman yang kurasa menyeramkan. Aku merasakan hatiku yang ikut bergetar, beberapa memori terlintas dikepalaku, memaksaku untuk mengingatnya tapi semuanya terlihat kabur.

Chanhyo ayo ingat…. Ada sesuatu dipikiranku. Tapi aku tidak benar-benar mengingatnya. 

“Lebih baik kita kembali sekarang juga” Ken meraih lenganku keras, entah seberapa tebal sweaterku tapi aku bisa merasakan genggaman itu tidak memiliki kehangatan sama sekali. Ia tidak memakai sarung tanganya, kulitnya tampak putih pucat. Dan dengan itu semua ia menariku masuk kedalam rumahku tadi. Ada yang salah disini.

✧♦✧

Chanhyo terus berjalan mengitari kamarnya, ia sedang berpikir keras akan hal hal aneh yang terjadi pada Jaehwan. Ia bisa merasakan, ada suatu hal yang salah dengan itu. Chanhyo menghelakan nafasnya, ia tidak tau bagaimana jalan untuk bisa mengutarakan kerisauannya kali ini. Ah, Hongbin!

Hongbin adalah satu-satunya orang yang bisa mengerti perasaanya yang tidak bisa dijelaskan. Tapi bagaimana cara mengambil ponselnya? Jaehwan menyimpanya dan ia sama sekali tidak berani untuk memintanya kembali. Mengingat amarah jaehwan saja sudah cukup membuatnya ketakutan. Belum lagi fakta bahwa Jaehwan tidak begitu menyukai Hongbin. Ini akan membuat resiko amarah Jaehwan bertambah dua kali lipat.

Chanhyo tidak mengerti apa yang bisa membuatnya begitu takut seperti ini, dia tidak bisa mengatakan bahwa ia takut akan Jaehwan. Yang ia takut hanyalah kehilangan. Ia tidak ingin mengulanginya lagi

Knock Knock Knock!

Seseorang mengetuk pintunya, siapa lagi kalau bukan Jaehwan?

“Hey chanhyo ya bisakah kau bukakan pintumu untuku?” Ucapnya dari luar, dengan ragu tapi pasti chanhyo segera membuka pintunya. Menampakan senyuman seorang jaehwan, Ia tidak melihat aura aneh yang menyelimutinya jaehwan seperti tadi lagi.

“Ah, a-ada apa?” tanya chanhyo ragu

“aku ingin mandi, tapi kurasa aku sedikit terkena flu. Tampaknya water heater kita rusak aku baru saja mencoba membenarkanya. Apakah kau mau membuatkanku air hangat untuku mandi?”

Chanhyo mengangguk. “Kalau begitu aku ke kamarku sebentar” Ia mengedipkan sebelah matanya kearah chanhyo lalu pergi.

✧♦✧

Tak butuh waktu lama untuk mendapatkan satu ember air panas yang kini tengah chanhyo bawa untuk jaehwan juga handuk yang melilit di lehernya, Ia tidak merasa sungkan sama sekali.  Walaupun ember ini cukup berat tapi Chanhyo tetap berusaha untuk membawanya dengan susah payah.

Phew~” Chanhyo menghelakan nafasnya ketika ia berhasil menaruh ember penuh dengan air panas tadi di depan kamar mandi.

Ken! kau di dalam?” Tak ada sahutan, chanhyo berusaha mengetuk pintunya tapi hasilnya sama, dengan ragu chanhyo membuka pintu kamar mandi itu pelan. Memastikan sekali lagi bahwa kamar mandi itu memang benar-benar kosong tapi ternyata tidak.

“Ke-”

Ken ada disana, ia sedang membuka t-shirtnya. Menunjukan tubuhnya yang atletis. Reflek chanhyo menutup wajahnya dengan kedua tanganya.

“Ah kau disini, kukira kau tidak akan memasak air hangat untuku” Suara itu terdengar begitu dekat, Ken sudah menyadari keberadaanya. Memalukan. Batin chanhyo dalam hati

“I-iya ini air hangatmu, Ken” Chanhyo mendekatkan ember itu ke arah Jaehwan, berharap jaehwan tidak melihat pipinya yang memerah padam tapi rasanya percuma saja.

“Terima kasih!” Hening, itu yang terjadi berikutnya. Chanhyo bisa melihat dengan jelas ken yang tengah shirtless Suasana terasa begitu canggung bagi chanhyo tapi jaehwan rasa ini biasa saja. Chanhyo membalikan tubuhnya menuju pintu, berniat untuk segera pergi tapi ia mendengar suara langkahan kaki ken di belakangnya

“Ah tunggu chanhyo! Bisakah kau memanggilku Jaehwan saja? Aku lebih senang mendengarnya.” ungkapnya. Chanhyo segera menoleh ke arah Jaehwan sambil mengerutkan dahinya.

H-huh? Bukankah kau yang memintaku untuk memanggilmu Ken?”

“Hahaha! Kau ini pelupa ya” Jaehwan berdiri tepat dihadapan chanhyo, ia mengacak rambut chanhyo.

“Kurasa waktu itu aku sudah pernah bilang aku lebih senang dipanggil Jaehwan, Tapi kalau kau senang memanggilku begitu ya sudah tidak apa apa” Chanhyo kemudian menatap Jaehwan dari ujung kakinya, hingga chanhyo mendongkakan kepalanya untuk melihat wajah jaehwan yang sudah lebih dulu tersenyum dengan lebar kearahnya.

A-ah begitukah? oh iya ini handukmu” chanhyo melepaskan handuk yang sebelumnya melilit di pundaknya. Chanhyo menaruh handuk tersebut pada pundak Jaehwan dengan rapih hingga ia menyadari terdapat bekas jahitan di dadanya. Aku tidak tau ia mempunyai bekas jahitan disitu. Batin chanhyo

Tangan Chanhyo bergetar ragu, tanpa bertanya mengapa tanda itu bisa ada chanhyo melangkah mundur menjauh. “C-cepatlah mandi hari ini benar-benar dingin.” Chanhyo berjalan menjauh menghindari Jaehwan yang menatapnya dengan bingung.

Oh iya Chanhyo! kurasa ponselmu tertinggal di kamarku! Jika kau mencarinya ponselmu ada di laci!” Ia berseru sekali lagi. Chanhyo berhenti berjalan, sebelum chanhyo sempat menoleh ke arahnya Jaehwan sudah lebih dulu menutup pintu kamar mandinya.

Ia diam ditengah keheningan. Semilir angin berhembus tepat di leher Chanhyo. Jaehwan meninggalkan begitu banyak tanda tanya pada dirinya sekarang.

“Mengapa ia tidak mengingat semuanya?”

✧♦✧

Sudah sekitar 5 menit chanhyo menghabiskan waktunya di kamar Jaehwan untuk mencari ponselnya. Dilaci, ucap Jaehwan. Tapi ia tidak mengatakan dengan tepat laci yang mana, seakan dari awal ia memang berencana menyembunyikanya. Chanhyo mengacak rambutnya kesal. Ia takut Jaehwan akan kembali sebelum ia mendapatkan ponselnya, entah mengapa tapi ia memiliki perasaan yang tidak enak.
“Laci laci, ah!” Chanhyo menemukanya, ponselnya berada di laci lemari baju jaehwan. Ia menghelakan nafasnya lega, chanhyo segera membuka ponselnya.

57 missed calls

13 messages

“hongbin…” ringis chanhyo. semua pesan dan telepon tidak terjawab itu berasal dari hongbin. Hatinya semakin terasa berat, chanhyo berniat menutup laci tersebut tapi sesuatu mencegat matanya. Beberapa bungkus obat-obatan terdapat disana.

Chanhyo meraih obat-obat tersebut dan membacanya dengan seksama.

“penahan rasa sakit……..? pemberhenti detakan jantung yang berdebar-debar…..? Apa semua ini milik Jaehwan? T-tidak mungkin.” Chanhyo menaruh obat-obatan itu kembali ketempat asalnya. Perasaan buruk itu tak kunjung hilang dalam hatinya, malah terasa semakin berat.

Jaehwan menyembunyikan sesuatu dibaliknya.

Itulah inti yang ia dapatkan sekarang. Sesuatu telah terjadi dan ia harus mengerti dengan jelas apa sebenarnya itu. Chanhyo segera menutup pintu itu rapat, rapat disaat yang sama ia bisa merasakan getaran di saku celananya.

‘Umma’

Chanhyo menelan ludahnya, dengan ragu ia mengangkat telepon tersebut.

Chanhyo POV

“Annyeonghaseyo umma?” ucapku

“Chanhyo kau disana?”

“Iya ini aku umma, ada apa?”

“A-ah tidak, kau baik-baik saja kan?”

“Iya umma. Aku baik-baik saja bagaimana denganmu?” Bohong, tidak ada yang berjalan baik disini. Aku memiliki beribu pertanyaan diotaku. Aku merasakan aura-aura aneh disekelilingku. Dan juga, Jaehwan. Tapi aku tidak pernah bisa mengatakan semua hal itu padanya.

“Aku baik-baik saja, tapi Appa….. Dia terkena stroke”  disini. Aku bisa merasakan air mata yang mengalir pada pipiku. Tidak, jangan membuat semuanya berlalu semakin buruk Umma. Kau pasti berbohong kepadaku.

“Hey! Jangan menangis, aku bisa mendengar isakanmu disini. Syukur, kami sedang perjalanan pulang. Chanhyo-ya. Appamu tidak bisa berbicara untuk beberapa minggu karena ototnya melemah. Tapi percaya pada Umma semuanya akan baik-baik saja. Ada Jaehwan disana bukan? Apa dia menjagamu dengan baik? Aku mempercayakanmu padanya.” Perkataan Umma entah mengapa terasa menyentuh, mereka akan kembali. Lalu apa yang harus kukatakan jika Jaehwan masih seperti ini?

“Ne umma.” Hanya itu yang bisa kujawab. Lidahku terlalu kelu, aku bingung. Apa yang harus kukatakan lagi padanya. Di detik kemudian ia mengakhiri pembicaraan kami. Aku menggigit bibir bawahku, dilemma akan ini semua aku harus mengetahui apa yang sebenarnya terjadi disini. Mencari jalan keluarnya, dan membuka seluruh ceritanya.

Bodoh. Tanpa disadari aku masih berada di kamar Jaehwan sedari tadi, mungkin itu alasan mengapa aku merasa seseorang tengah memperhatikanku? Tunggu…….

Aku menoleh kebelakang lemah, dan benar saja jaehwan ada beberapa langkah dibelakangku dengan tatapan kosong tapi tak begitu terlihat menyeramkan seperti biasanya dengan rambut yang sedikit basah juga handuk yang ia lilitkan dipinggang.Tapi tetap saja Jangan bilang ia mendengar semuanya, jangan.

“J-jaehwan, kau sudah lama disitu eo?”

“tidak juga.”

“Oh….. Ah ngomong ngomong aku sudah mendapatkan ponselku! A-aku harus pergi ke kamarku” aku berjalan dengan cepat melewatinya. Kemudian  berlari dengan cukup cepat menuju kamarku yang hanya beberapa langkah dari sini.

Ketika aku masuk, aku segera menguncinya cepat dan membiarkan badanku merosot turun bersandarkan pintu. Aku menghelakan nafasku. Merasa lebih lega daripada sebelumnya. Tapi tak berarti aku tidak memikirkan hal-hal aneh yang jaehwan katakan. Dibagian dia lupa akan beberapa hal yang ia lakukan, obat-obatan, dan bekas jahitan itu. Semuanya masih penuh akan tanda tanya. Tapi kembali ke topik awal, aku harus segera menghubungi hongbin. Aku membuatnya khawatir.

Author POV

Chanhyo menekan angka 2 diponselnya, dimana ia menaruh nomor hongbin untuk speed dialnya disaat telepon itu mulai tersambung, semakin keras jantungnya berdebar.

“Ayolah, angkat!” Chanhyo menggigit bibir bawahnya, jantungnya terasa berdebar seakan sesuatu tengah mengejarnya saat ini.

“Annyeong? Chanhyo kau disana?!” Finally, suara yang ia tunggu akhirnya menyahut. Tapi kesenangan dalam hatinya kini hanya berlangsung sementara.

Hongbin-ah, maaf aku tidak menghubungimu.Aku membutuhkanmu Hongbin”

“baik baik saja bukan? Chanhyo ayo jelaskan!” Hongbin tidak sabar untuk mendengar penjelasan chanhyo, nada suaranya terdengar sedikit tinggi menunjukan kekhawatiranya. Semenjak kejadian hilangnya Jaehwan tiba-tiba, ia bahkan tidak tahu chanhyo sudah menemukanya. Dan saat hongbin pergi menuju rumah Chanhyo semuanya selalu tampak sepi. Sampai saatnya hongbin semakin disibukan akan pemotretanya.

Yang terdengar berikutnya adalah isakan. Isakan yang mengiris hati hongbin dalam. Dengan setia hongbin menunggu chanhyo menjawab pertanyaanya. “…..aku takut. Ia aneh hongbin, ia menyembunyikan sesuatu”

“mengapa kau tidak menghubungiku dari awal? mengapa kau tidak menjawab pesan dan teleponku? Aku khawatir kau tau?!”

“Ceritanya panjang hongbin, aku tidak bisa menceritakan semuanya sekarang. Maaf…..”

“apa yang kau katakan? Kau tidak bisa diam terus chanhyo-ah. Aku akan menunggumu di coffee shop biasa jam 4 sore.”  Hongbin menutup teleponnya, ia tidak sanggup mendengar isakan chanhyo semakin jelas ia mendengarnya semakin besar amarah yang ia timbulkan.

Chanhyo melipat kakinya, terus menangis tanpa suara. Ini lebih sulit dari apa yang ia bayangkan.

✧♦✧

Tidak! Aku mencintainya, aku tidak membencinya. Kau mengatakan hal yang tidak-tidak!” Lelaki itu sudah lebih dulu mengunci kamarnya, dan mengeluarkan seluruh amarahnya disitu. Ia berteriak, tapi tidak ingin ada yang mengetahuinya.

Mengapa kau terlahir bodoh ? Dia membencimu, bagaimana bisa kau percaya kepada orang yang tidak bisa memegang janjinya? Dia hanya akan membunuhmu. Sebelum itu terjadi lebih baik kau menerkamnya lebih dulu.

sialan, aku tidak akan membunuhnya! Kau  yang harus kubunuh!” Lawanya keras, tapi bagi lawan bicaranya omongan itu sama sekali tak berarti apa-apa. Ia yang berkuasa disini.

Hadapi kenyataan,kau tidak suka melihat hongbin dengannya bukan? Lagipula aku akan meraihmu lebih dulu sebelum kau membunuhku. Karena jika kau membunuhku kau juga mati, bukan begitu?

“Apa yang kau mau?!” Tak ada jawaban, yang ia rasakan berikutnya adalah sesuatu yang mengikat dadanya keras, Jantungnya terus berpacu memompa darahnya terlalu cepat. Semuanya memberi efek menyakitkan pada tubuhnya, getaran pada jantungnya membuatnya merasa begitu sesak. Ia mencoba berdiri, menopang tubuhnya dengan memegang benda-benda disekelilingnya.

Ia membuka lacinya dan meraih beberapa obat dan menelanya sekaligus, ia duduk dipinggir kasur dan mengatur nafasnya. Menatap pantulan dirinya sendiri di hadapan cermin, untuk beberapa alasan bayanganya bahkan tidak tampak seperti dirinya. Rasa sakit yang dideritanya perlahan mereda tapi tak hilang sama sekali.

Aku ingin ia menyadari keberadaanku, menyadari apa yang telah ia perbuat padaku dan kau harus sadar bagian terpenting dalam tubuhmu sesungguhnya miliku. Aku akan merusak hidupmu. Dan dia akan menjadi miliku seutuhnya.

“Diam brengsek! Aku Lee jaehwan bukan yang lain dan kau tidak akan bisa merusak hidupku!Jangan ganggu aku dan chanhyo! ” Jaehwan menarik nafasnya, ia meraih kaleng minuman yang ada disampingnya meremukanya lalu melempar kaleng tersebut keras pada pantulan dirinya di cermin.

Prang!

Beberapa bagian dari kaca tersebut retak, sisanya pecah dan berjatuhan. Jaehwan mencoba beranjak dari duduknya,  ia berusaha mengontrol dirinya dan mencari keberadaan Chanhyo hingga ia akhirnya menyadari.

Ia hanya sendiri disini.

 

Lihat? Apakah ini salah satu tanda ia sudah berlatih meninggalkanmu?

 

-TBC-

Finally!! Part 3 is out bam bam! saya rasa ff ini akan berlanjut hingga 4/5 chapter. Maaf sekali baru update kemarin saya sibuk dengan ujian dan yang lainya lol. Please enjoy and do leave a comment 🙂 untuk yang mau request ff juga boleh. Thank you happy reading !

Advertisements

9 responses to “Someone Inside of Me – Part 3

  1. hoa!!
    Jaehwan penerima donor jantung ya??
    Aku ga baca dari part 1 sich.. Tapi seru kok..
    Next ditunggu, ya..

  2. Ini lama-lama jadi scary .-. Ken bener-bener punya alter ego yang switching nya nggak kekira baget.-.
    semakin deg”an.-.
    ohh anyway itu 1 korintus 13 : 4 – 8 kan? tadi pagi aku baca itu soalnya.-. hehehe ^^

  3. Baru baca FF ini dari awal, dan maap komennya langsung di sini ^^v Jujur aja, ini serem banget Jaehwan nya ._. Oh, iya, kok penulisannya berantakkan atau aku yang aneh ya? .-. Tapi aku masih bisa ngerti sih, hehe. I like you fanfic! Keep writing! ;D

  4. Akhirnya keluar juga lanjutnnya…
    Jadi Jaehwan nerima donor jantung..? Terus jantung itu punya ken?
    Masih agak bingung thor.. Jelaskan di part selanjutnya ya^^
    Fighting..

  5. kok aku nyari2 yg chapter4 engga ada yah !!!!!!!!!
    plisssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssssss
    authornya kemana?knp menghilang TT
    padahal ini FF bagus bgt,,, seriusssss

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s