Black Swan – Chapter 9


Black Swan

| Genre : Life, Romance |

| Rating : General |

| Cast : Lee Taemin, Byun Baekhyun, Song Dayeon |

Disclaimer : Plot, karakteristik, dan cerita sepenuhnya hasil imajinasi saya, Enny Hutami. Seluruh pemeran punya orangtua masing-masing kecuali Song Dayeon yang keberadaannya entah ada atau tidak.

© Copyright EnnyHutami’s Fanfiction 2013

Previous : Chapter 8

~œ Swinspirit œ~

Dering bel membuat Baekhyun yang tengah membuat makanan untuk dirinya sendiri di dapur menoleh, lalu mencuci tangannya di wastafel sebelum membukakan pintu. Begitu ia membuka pintu, tampaklah Dayeon yang masih mengenakan pakaian yang sama dengan yang Baekhyun lihat di televisi.

Meskipun keadaan di luar rumah tidak begitu terang karena hanya diterangi sinar lampu dan bulan, tetapi Baekhyun tahu jika mata Dayeon sembab akibat air mata.

Kemudian Dayeon langsung masuk begitu Baekhyun membukakan pintu, tanpa mengatakan sepatah katapun pada Baekhyun ataupun pada Kris yang tengah menaiki anak tangga dengan membawa tas milik Dayeon.

Baekhyun tidak perlu heran lagi mengapa Dayeon bersikap seperti itu. Ia sudah mengetahui alasan Dayeon menangis. Dari televisi.

“Tolong jaga Dayeon baik-baik.” Suara Kris yang berat dan rendah terdengar.

Baekhyun yang tadinya melihat ke arah menghilangnya Dayeon di dalam rumah, kini menoleh pada Kris yang menjulurkan tangannya ke depan, menyerahkan tas Dayeon padanya. Lalu, “Sangat buruk?” Tanyanya sembari mengambil tas Dayeon dari tangan Kris.

Kris mengangguk. “Mm, dia terus menangis sejak Ayahnya diputuskan bersalah.”

“Kenapa bisa begitu? Memangnya tidak ada yang bisa kalian lakukan—”

“Bukti-buktinya terlalu kuat. Ayahku sudah berusaha semaksimal mungkin meyakinkan para saksi bahwa beliau tidak bersalah.” Potong Kris yang sudah mulai lelah karena seharian ini banyak peristiwa yang tidak diinginkan terjadi.

Baekhyun terdiam dan tidak lagi bertanya. Ia sudah cukup mengerti tentang apa yang terjadi dan tidak perlu ada yang ditanyakan lagi. Sekarang, tugasnya hanyalah membuat Dayeon tidak menjadi lebih buruk.

“Kalau begitu, aku pergi. Aku berharap banyak padamu, Byun Baekhyun,” ucap Kris lagi sebelum berbalik pergi. Lalu, “Tentang Dayeon.” Lanjutnya untuk menyelesaikan kalimatnya, kemudian beranjak pergi menuju mobilnya.

Tanpa menunggu Kris melajukan mobilnya terlebih dahulu, Baekhyun pun kembali masuk ke dalam rumah dan menutup pintu rumah rapat-rapat dengan membawa tas milik Dayeon. Ia meninggalkan masakannya di dapur dan memilih untuk menghampiri Dayeon di kamarnya.

Setibanya di depan pintu kamar Dayeon, Baekhyun mengangkat sebelah tangannya yang kosong untuk mengetuk pintu. Namun, gerakan tangannya itu dihentikan begitu mendengar suara tangis Dayeon dari dalam yang terdengar begitu menyakitkan.

Tangan Baekhyun diturunkan, dan kemudian memegang kenop pintu tanpa langsung memutarnya. Ia masih berpikir apakah dirinya harus masuk ke dalam atau tidak. Dengan keadaan Dayeon yang seperti ini, Baekhyun berpikir untuk meninggalkan Dayeon sendirian sampai dia lebih tenang. Namun, di sisi lain ia ingin sekali menenangkan gadis itu.

Membulatkan tekatnya, Baekhyun pun memutar kenop pintu dan membukanya. Dayeon yang tengah duduk di kasurnya sambil memeluk kakinya sendiri langsung mengelap pipinya yang basah karena air mata dengan punggung tangannya. Tetapi, isakannya masih terdengar jelas dan air matanya terus saja mengalir ke pipinya walaupun ia terus mengelapnya.

Baekhyun meletakkan tas Dayeon di kaki kasur, lalu menempatkan dirinya duduk di tepi kasur, memunggungi Dayeon.

Dayeon tidak sanggup mengucapkan sepatah katapun. Ia hanya menatap punggung Baekhyun heran dengan mata sembabnya. “Kau mendengarnya?” akhirnya, Dayeon membuka suara untuk yang pertama kalinya sejak ia menangis histeris karena Ayahnya dinyatakan bersalah dan harus ditahan, walaupun masih sesenggukan. Suaranya pun masih terdengar tidak jelas.

“Tentang Ayahmu?” Baekhyun balas bertanya. Dayeon pun mengangguk sambil bergumam kecil. Lalu, “Yeah, aku sudah mendengarnya dari televisi.” Lanjut Baekhyun menjawab pertanyaan awal Dayeon.

Kemudian keduanya diam. Dayeon kembali merundukkan kepalanya dan berusaha untuk menghentikan tangisnya, namun begitu sulit. Air matanya tak kunjung berhenti mengalir walaupun ia sudah sangat lelah karena menangis sejak beberapa jam yang lalu.

Selama keduanya saling diam, Baekhyun terlalu sibuk menimbang-nimbang dengan apa yang ia akan lakukan selanjutnya karena sesungguhnya ia belum pernah mendapatkan situasi seperti ini. Situasi dimana ada seorang gadis yang menangis sesedih ini.

Mungkin jika melihat gadis menangis karenanya, Baekhyun tahu apa yang akan dia lakukan; pergi dan meninggalkannya. Terlebih lagi jika gadis itu menangis karena ditolak mentah-mentah olehnya.

Sungguh. Baekhyun sangat tidak menyukai gadis yang semanja itu. Hanya karena ditolak, dia menangis? Uh, menggelikan.

Dan sebelum Baekhyun sempat memutuskan untuk melakukan sesuatu, Dayeon lebih dulu bersuara—dengan sesenggukan.

“Kau tidak menyuruhku berhenti menangis seperti pertama kali aku kemari?” Dayeon bertanya.

Baekhyun terdiam, masih dalam posisi membelakangi Dayeon dengan punggungnya. Kemudian ia berdiri, dan membalikkan badannya sehingga menghadap Dayeon yang masih melipat kakinya.

“Tidak.” Jawab Baekhyun sambil menggelengkan kepala. Lalu, “Menangis saja sampai kau puas.” Ia melanjutkan dan mengangkat kakinya untuk beranjak keluar dari kamar Dayeon.

“Tunggu.” Tetapi, sebelum kaki Baekhyun mencapai daun pintu, Dayeon menahannya. Ketika Baekhyun menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya ke arah Dayeon, barulah Dayeon melanjutkan. “Buat aku berhenti menangis.”

Mendengar permintaan Dayeon yang diucapkan dengan wajah kacaunya, Baekhyun menatap mata Dayeon lama sekali sebelum akhirnya ia mengangguk menyetujui.

Dayeon menatap Baekhyun dengan tatapan tak percaya. Ia sama sekali tidak menyangka Baekhyun akan menuruti permintaannya. Dan kini, satu pertanyaan muncul di benaknya. Mengapa Baekhyun bisa berubah sedrastis ini sejak lelaki itu menciumnya malam festival musim panas di sekolah?

“Ayo.” Baekhyun membuyarkan lamunan Dayeon dengan memiringkan kepalanya. “Selagi aku belum berubah pikiran.” Lanjutnya.

“Ah,” gumam Dayeon sambil mengerjapkan matanya, menyadarkan dirinya kembali bahwa Baekhyun tengah menunggunya. “Mau ke mana?” tanyanya sambil menggeser duduknya hingga ke tepi ranjang.

“Nanti kuberitahu.” Kata Baekhyun lagi sebelum beranjak pergi keluar dari kamar Dayeon. “Kutunggu kau di bawah.” Kemudian Baekhyun keluar dari kamar Dayeon tanpa menutup pintu kamar tersebut.

~œ~œ~œ~

Taemin berdiri di depan sebuah makan yang masih bersih dari rumput liar karena masih di rawat meskipun seseorang yang sudah beristirahat untuk selamanya itu sudah dimakamkan sejak bertahun-tahun yang lalu. Hal ini berkat keluarganya yang rajin kemari satu bulan sekali.

Taemin menaruh setangkai bunga mawar putih di atas gundukan tanah tersebut dan mengulas senyum begitu melihat nama yang tertera pada batu nisan. Byun Jihyun.

Hari ini memang bukan hari kematian Jihyun, melainkan besok. Tetapi, kemungkinan besar Baekhyun akan datang kemari esok hari, dan dirinya tahu bahwa di saat seperti esok hari, Baekhyun sangat tidak ingin melihat wajahnya.

Di depan Baekhyun, Taemin memang bisa terlihat seakan tidak peduli dan tidak sedih akan kematian adik perempuan Baekhyun. Namun, Taemin sangat merasa bersalah karena tidak menolong Jihyun saat kejadian itu terjadi. Seperti yang dikatakan Baekhyun sebelumnya—Taemin lah yang menyebabkan Jihyun meninggal walaupun kejadian itu terjadi bukan karena dirinya.

“Kau… Bagaimana dirimu sekarang, Jihyun-a?” masih sambil mengulas senyumnya, Taemin bertanya pada gundukan tersebut. Seakan-akan berbicara pada Jihyun yang mungkin kini berusia empat belas tahun jika dia masih hidup.

Sampai saat ini, Taemin pun masih mengingat bagaimana sengsaranya Jihyun berbaring di atas bangsal rumah sakit dengan tubuh yang habis terbakar sebelum akhirnya meninggal dunia, dan bagaimana marahnya Baekhyun pada dirinya karena gagal menjaga adik kesayangannya itu sehingga Taemin sama sekali tak berani menunjukan wajahnya pada Baekhyun di rumah sakit.

Bahkan, Taemin masih meningat bagaimana asap putih itu membuatnya sulit bernafas sehingga ia langsung lari keluar dari ruangan dimana dirinya, Baekhyun, dan Jihyun sering bermain bersama karena panik tanpa memikirkan keadaan Jihyun yang masih terperangkap di dalam sambil menangis.

“Jihyun-a!” Teriak Baekhyun yang baru saja datang saat Taemin berhasil keluar dari tempat bermainnya dengan wajah dan pakaiannya yang sudah kotor. Baekhyun yang membawa sepedanya pun langsung melemparkan sepedanya begitu saja dan menghampiri Taemin.

YA! DIMANA JIHYUN?!” Baekhyun berteriak lagi melihat Taemin yang diam saja.

“D-di dalam.” Jawab Taemin gagap. Tanpa banyak bicara, Baekhyun pun bergegas untuk masuk ke dalam ruangan yang berada tepat di samping rumah Taemin untuk menyelamatkan Jihyun. Namun, Taemin menahannya.

Ya, jangan masuk!” Taemin balas teriak.

Sebelum Baekhyun menanggapi larangan Taemin, ibu Taemin pun keluar dari rumahnya begitu mencium bau api yang masuk ke dalam rumahnya. Lalu, menghampiri Taemin dan Baekhyun dengan wajah panik dan khawatir. Ia pun langsung memeluk Taemin seketika ia dapat meraih anaknya.

Setelah memberitahu bahwa Jihyun masih terjebak di dalam sana, ibu Taemin pun langsung berlari dan menembus api untuk menyelamatkan Jihyun tanpa menunggu pemadam kebakaran karena menurutnya akan lama jika ia berdiam diri menunggu petugas pemadam kebakaran walaupun ia sudah menelepon mereka.

Dan, Jihyun dapat keluar dari ruangan tersebut walaupun tanpa kesadaran dirinya.

“Apa kau pikir kakakmu tidak akan pernah memaafkanku?” lagi. Taemin bertanya walaupun ia tahu tak akan ada yang menjawabnya. Lalu, “Terlebih lagi, sekarang kami berdua menyukai gadis yang sama.” Ia melanjutkan.

~œ~œ~œ~

Dayeon menyeka air matanya ketika lampu di studio satu di gedung bioskop perlahan kembali menyala. Di sampingnya, Baekhyun hanya menatap Dayeon dengan wajah ajaibnya karena ia tahu kali ini Dayeon tidak menangis karena kejadian yang menimpa ayahnya, melainkan karena terharu dengan film yang sangat sangat membosankan bagi Baekhyun.

Rencana awal, Baekhyun ingin mengajak Dayeon untuk pergi ke rumah hantu. Namun, alih-alih pergi ke rumah hantu, Dayeon justru ingin menonton sebuah film yang baru saja diputar di bioskop di seluruh Korea Selatan. Dan, akhirnya, Baekhyun pun tertidur di tengah film sangking bosannya ia.

Begitu keluar dari gedung bioskop, udara malam yang agak dingin menyambut mereka berdua, membuat Dayeon menarik lengan sweater-nya agar telapak tangannya yang telanjang tidak kedinginan. Baekhyun yang melihat gerak-gerik Dayeon pun langsung meraih telapak tangan Dayeon dan menggenggamnya, membuat Dayeon langsung menoleh dengan cepat.

“Lebih baik, bukan?” tanya Baekhyun acuh.

Selama mereka berdua berjalan berdua di bawah langit yang gelap tanpa terlihatnya bintang, tangah mereka tetap bertautan seperti itu. Dan, Dayeon bisa merasakan jantungnya mulai berdetak lebih cepat dari normal.

Kenapa denganku

Diam-diam, Dayeon mencuri pandang ke arah Baekhyun sambil bertanya-tanya mengapa Baekhyun bersikap seperti ini. Dan, mengapa dirinya merasakan perasaan yang aneh saat tangan hangat Baekhyun menggenggam tangannya.

“Baekhyun-a,” akhirnya Dayeon angkat suara.

“Hm?” balas Baekhyun sambil menoleh ke arah Dayeon.

“Boleh aku bertanya?” Dayeon meminta izin Baekhyun untuknya menanyakan hal yang membuatnya penasaran.

Baekhyun diam sejenak sebelum ia mengiyakan permintaan Dayeon untuk bertanya. “Tanya apa?” katanya.

Kali ini giliran Dayeon yang terdiam sejenak, memikirkan lagi keraguannya untuk bertanya. Namun, jika ia tidak bertanya, tentu saja ia akan terus penasaran dan akan terus menduga-duga saja. Dan, ia juga ingin tahu bagaimana reaksi Baekhyun atas pertanyaannya. Lalu, “Kenapa kau… berubah?” tanyanya, masih sedikit ragu untuk bertanya, namun akhirnya ia menyuarakan pikirannya itu.

Mata Baekhyun mengerjap. Seakan tidak mengerti dengan pertanyaan yang baru saja diajukan oleh Dayeon. Jadilah Dayeon membuka mulutnya lagi untuk berbicara lagi, menjelaskan lebih rinci maksud dari pertanyaannya.

“Maksudku, dari awal aku pindah ke rumahmu… kau sama sekali tidak bersikap ramah padaku. Tetapi, belakangan ini kau berubah. Apa ada alasannya?”

Baekhyun diam, tidak berniat untuk langsung menjawab pertanyaan Dayeon dan terus melangkahkan kakinya pelan untuk menyamakan langkah kaki Dayeon yang tangannya masih digenggam oleh Baekhyun di dalam saku jaketnya.

“Aku hanya ingin tahu…,” lanjut Dayeon karena Baekhyun yang tak kunjung menjawab pertanyaannya.

“Aku tahu.” Sela Baekhyun, membuat Dayeon langsung diam tetapi masih terus mendongakan kepalanya menatap Baekhyun.

“Apa… karenaku?” Dayeon bertanya lagi dengan ragu. Takut Baekhyun menganggapnya terlalu percaya diri.

Baekhyun menganggukkan kepalanya perlahan. Lalu, “Ya, karenamu.” Jawabnya.

Dayeon tidak mengerjapkan matanya untuk beberapa detik karena terlalu terkejut dengan pengakuan Baekhyun yang sangat tidak terpikirkan oleh Dayeon sebelumnya. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa Baekhyun benar-benar akan berubah karena dirinya.

“Kenapa?” tanya Dayeon lagi dengan bingung.

Kali ini, Baekhyun menghentikan langkahnya, membuat Dayeon juga ikut menghentikan langkahnya. Baekhyun juga melepaskan genggaman tangan Dayeon. Lalu, “Karena aku menyukaimu.”

Begitu mendengar ucapan Baekhyun, Dayeon terdiam di tempatnya dengan mata menatap Baekhyun dengan pandangan terkejut. “A-apa?”

“Mulai sekarang, kau milikku.” Ucap Baekhyun tegas.

Di saat Dayeon belum pulih dari keterkejutannya, Baekhyun pun mengulas senyum mahal yang jarang sekali diperlihatkan Baekhyun (mungkin ini pertama kalinya Dayeon melihat Baekhyun tersenyum seperti ini). Lalu lelaki itu pergi lebih dulu dengan senyumannya yang mungkin hanya diperlihatkan pada Dayeon.

~œ~œ~œ~

Sepulangnya Baekhyun dan Dayeon, jam dinding yang tergantung sudah menunjukan jam sebelas malam. Untung saja kedua orangtua Baekhyun sedang tidak ada di rumah. Jika ada, mungkin mereka berdua diomeli dan mendapatkan ceramah singkat—atau mungkin tidak. Baekhyun belum pernah pulang larut malam, jadi ia tidak tahu apakah orangtuanya akan memarahinya atau tidak.

Dayeon langsung bergegas masuk ke dalam kamarnya tanpa mengatakan sepatah katapun pada Baekhyun. Setelah berada di dalam kamar, Dayeon cepat-cepat menutup pintu kamarnya dan menguncinya agar Baekhyun tidak bisa membukanya dengan tiba-tiba.

Lalu Dayeon merebahkan dirinya di atas ranjangnya sambil menatap langit-langit kamarnya yang berwarna putih polos. Ingatannya kembali pada saat Baekhyun yang mengatakan suka padannya dan mengatakan bahwa dirinya adalah milik Baekhyun.

“Apa dia salah makan obat?” tanya Dayeon lebih kepada dirinya sendiri.

Kemudian tangannya menyentuh dadanya, bagian dimana ia merasakan perasaan yang aneh. “Apa ini?” tanyanya lagi.

Ia memang pernah jatuh cinta, tetapi untuk yang satu ini, ia sama sekali tidak yakin. Masalahnya, yang ia membuat jantungnya berdebar adalah Byun Baekhyun. Lelaki yang setengah mati membuatnya kesal akibat ucapan-ucapan pedasnya.

~œ~œ~œ~

Dayeon menggeliat dari dalam selimutnya ketika mendengar suara ketukan pintu. Gadis itu menyibakkan selimutnya dan turun dari ranjangnya dengan keadaan tidak manusiawi. Rambut yang berantakan, piyama berwarna hijau yang agak lusuh dan terlipat di beberapa bagian, serta mata yang belum sepenuhnya terbuka.

Ketika Dayeon membuka kunci pintu kamarnya, ia pun mendapati Baekhyun berdiri di depan pintu dengan celana jeans biru dongker panjang serta kemeja putih polos dengan pendek sembari memandang Dayeon dengan sebelah alih terangkat.

Dayeon mengucek matanya ketika menyadari siapa yang berdiri di depannya. “Wae?” tanyanya tanpa mengingat kejadian kemarin. Bukannya ia melupakannya, tetapi, ia baru saja bangun dan nyawanya belum sepenuhnya terkumpul kembali.

Tanpa menjawab pertanyaan Dayeon, Baekhyun justru masuk ke dalam kamar Dayeon tanpa permisi dengan menggeser posisi tubuh Dayeon. Lalu menyambar handuk merah yang tersampir di belakang pintu kamar.

“Kau tega membiarkanku kelaparan?” ucap Baekhyun setelah ia memindahkan handuk tersebut dari gantungan di belakang pintu menjadi di atas kepala Dayeon.

Dari balik handuk yang menutupi seluruh kepalanya, Dayeon mengerang. Sebelumnya Baekhyun tidak pernah bertingkah seperti ini. Menyuruhnya mandi dengan mengambilkan handuknya secara tidak wajar, dan menyuruhnya membuatkan makanan tanpa mengatakan kata-kata pedas dan menyebalkan.

Namun Dayeon tidak banyak memprotes dan menurut saja ketika Baekhyun mendorongnya keluar kamar agar masuk ke dalam kamar mandi karena tubuhnya masih terlalu malas untuk berdebat atau berpikir lebih lanjut.

Setelah membersihkan dirinya dan mengenakan pakaian santai untuk di rumah, Dayeon pun turun ke lantai bawah untuk membuat sarapan.

Dayeon berpikir, memangnya Baekhyun benar-benar tidak bisa membuat satupun makanan? Kenapa dia tidak membuat roti saja? Toh hanya tinggal memasukkan roti ke mesin dan menunggu sampai lampu menyala dari merah ke hijau. Seperti yang Dayeon lakukan saat ini.

Sambil menunggu perubahan warna lampu pada mesin pemanggang roti, Dayeon pun membuatkan dua gelas susu putih untuk dirinya sendiri dan juga untuk Baekhyun. Ia pikir, sekali-kali Baekhyun harus meminum susu agar tubuhnya bisa menjulang tinggi seperti Kris Wu, sepupunya. Selama Dayeon tinggal di sini, ia tidak pernah melihat Baekhyun meminum susu. Pantas saja…

“Susu?” kening Baekhyun berkerut saat Dayeon meletakkan dua gelas susu yang baru saja dibuatnya di atas meja makan.

Dayeon kembali lagi ke meja makan dengan membawa dua piring berisikan roti panggang serta selai nanas kesukaannya. “Yeah,” ia tersenyum sembari mengangguk untuk menjawab pertanyaan Baekhyun.

Kelihatan sekali Baekhyun ingin memprotes Dayeon, namun ia hanya menghela nafas berat tanpa melakukan apa-apa. Ini adalah pemandangan langka bagi Dayeon. Baekhyun menurutinya dan tidak mengatakan sesuatu yang tajam ataupun menyindirnya.

Dayeon bertanya-tanya. Apa ini karena pernyataan Baekhyun kemarin? Apa sikap manis Baekhyun ini ada hubungannya dengan perkataannnya yang kemarin, atau Baekhyun hanya tidak ingin membuat Dayeon merasa lebih tertekan dengan semua kalimat pedas Baekhyun?

Mulai sekarang, kau milikku.

Kalimat itu kembali terngiang di telinga Dayeon ketika dirinya tengah menyuap roti ke mulutnya. Ia pun melirik Baekhyun yang juga tengah melakukan hal yang sama dengannya, menyuap roti ke dalam mulutnya.

“Baekhyun-a,” panggil Dayeon.

Baekhyun mengangkat kepalanya dan menatap Dayeon untuk menunggu gadis itu melanjutkan apa yang ingin dikatakannya.

“Tentang kemarin… apa kau serius?” tanya Dayeon ragu.

Masih dengan gaya santainya, Baekhyun tetap menatap Dayeon dan mengunyah rotinya. “Apa aku kelihatan bercanda?” begitu Baekhyun membalas dengan pertanyaan, Dayeon cepat-cepat menggelengkan kepalanya.

Sepengetahuan Dayeon, Baekhyun tidak memiliki sisi humor—lebih tepatnya sisi humornya resesif. Tidak seperti sifat dingin dan juteknya yang lebih dominan.

Setelah itu, tak ada lagi yang berbicara. Bahkan Dayeon tak tahu harus mengatakan apa lagi. Dirinya merasa canggung. Tidak seperti Baekhyun yang kelihatannya santai-santai saja.

“Setelah selesai, ganti pakaianmu. Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat.”

Mendengar perkataan Baekhyun, Dayeon mengangkat wajah dan mengerutkan dahinya. “Kemana?” tanyanya penasaran. Baekhyun ingin mengajaknya pergi? Lagi?

Jangan bilang… kencan?

Oh, tak ada alasan untuk Dayeon tidak berpikir bahwa Baekhyun akan mengajaknya kencan. Toh, Baekhyun sendiri yang bilang bahwa Dayeon milik lelaki itu. Dan… Dayeon sendiri tidak memprotes pernyataan sepihak itu.

~œ~œ~œ~

“Ini… makan siapa?” tanya Dayeon hati-hati begitu dirinya berdiri di depan sebuah makam yang ukurannya kecil.

Baekhyun tidak langsung menjawab pertanyaan Dayeon dan justru berjongkok di depan makan tersebut untuk mencabuti rumput liar yang mulai tumbuh di sekitar makan tersebut. Lalu, “Byun Jihyun,” jawabnya. “Adik perempuanku.”

Mata Dayeon mengerjap karena terkejut.

Adik perempuan?

“Kau… punya adik?” sungguh. Dayeon tidak tahu menahu tentang keluarga Byun yang memiliki anak perempuan. Dia tidak pernah tahu walaupun dirinya sudah tinggal di rumah keluarga Byun lebih dari satu bulan.

Dan lagi pula, di foto berukuran besar yang dipajang di ruang tamu pun tidak ada sosok anak perempuan. Hanya ada Baekhyun dan kedua orangtuanya.

“Siapa yang datang kemari?” alih-alih menjawab pertanyaan Dayeon, Baekhyun justru bergumam pada dirinya sendiri sembari tangannya meraih setangkai bunga mawar putih.

Di belakang Baekhyun, Daeyeon bergeming walaupun ia mendengar gumaman Baekhyun. Dirinya sama sekali tidak memiliki ide dengan apa yang tengah terjadi.

Mata Dayeon beralih ke tulisan di nisan tersebut. Byun Jihyun.

Jihyun… Dayeon merasa ia pernah mendengar nama itu. Jihyun… Jihyun…

“Apa?” Baekhyun yang tengah berjongkok di depan gundukan tanah yang ditutupi rumput hijau terawat itu menoleh pada Dayeon yang tanpa sengaja menyuarakan pikirannya.

“Kamar yang kau tempati sekarang itu kamar adikmu?” tanya Dayeon sambil merunduk untuk melihat wajah Baekhyun.

“Yeah,” jawab Baekhyun. Lalu, “Kamar yang kau tempati tadinya milikku.”

“Ah,” Dayeon bergumam, tak tahu harus mengatakan apa. Lalu, “Boleh aku tahu penyebab kematiannya?”

Mendengar pertanyaan Dayeon, Baekhyun tak langsung menjawab dan menatap lurus ke depan tanpa fokus tertentu. Ingatan akan suara adik kecilnya terakhir kali kembali terdengar di telinganya.

Menyadari perubahan suasana di antara keduanya, Dayeon pun merasa bersalah dan menarik pertanyaannya agar Baekhyun tidak perlu menjawabnya. Namun Baekhyun tak mengidahkannya dan tetap menjawab pertanyaan Dayeon dengan suara datar dan terkesan dingin. Seperti suara Baekhyun waktu pertama kali menyuruh Dayeon untuk diam dan berhenti menangis.

“Kebakaran.” Katanya.

Mata Dayeon tak mengerjap menatap Baekhyun yang masih berjongkok di depannya. Ia seperti ikut merasakan perasaan sedih Baekhyun. “Maafkan aku.” Katanya menyesal dengan tiba-tiba, entah untuk apa.

Mendengar permintaan maaf dari Dayeon, Baekhyun justru tertawa lalu berdiri dan menempatkan dirinya menghadap Dayeon. “Untuk apa meminta maaf?” kata Baekhyun. Suara dinginnya lenyap dan digantikan dengan suara Baekhyun yang lembut dan hangat—Dayeon merasa seperti itu belakangan ini.

Lalu Baekhyun melanjutkan, “Orang yang menyebabkan Jihyun meninggal saja tidak meminta maaf sama sekali.”

Karena Dayeon tidak tahu apa yang harus dilakukannya, akhirnya ia lebih memilih untuk diam lalu mengangkat sebelah tangannya untuk menautkan jari-jari tangannya pada jari-jari tangan Baekhyun—untuk meredam emosi Baekhyun yang mungkin akan muncul beberapa menit lagi.

Entah apa yang membuat Dayeon seberani ini, namun ia tidak memedulikannya. Dayeon sendiri melakukan itu untuk menguji perasaannya sendiri pada Baekhyun yang semakin hari semakin terasa aneh. Ia ingin tahu apakah dirinya memang menyukai Baekhyun atau karena dirinya terlalu menuruti suasana dengan Baekhyun yang terkadang membuatnya seperti orang yang sedang jatuh cinta.

~œ~œ~œ~

Awal musim gugur menjadi hari pertama dimana para pelajar kembali masuk ke sekolah setelah menghabiskan sisa musim panas mereka di rumah. Orangtua Baekhyun sudah kembali beberapa hari sebelum liburan berakhir, tepat dua hari setelah hari kematian adik Baekhyun—Byun Jihyun.

“Jangan terlalu baik padaku di sekolah.” Kata Dayeon ketika dirinya dan Baekhyun tengah berjalan beriringan menuju sekolah.

Baekhyun yang mendengarnya pun langsung menoleh dengan alis yang terangkat sebelah. “Kenapa tidak?” tanyanya penasaran dengan alasan gadis yang sudah resmi—bukan dalam artian hukum seperti pernikahan—menjadi gadisnya itu.

Bibir Dayeon mencebik sebelum ia menjawab pertanyaan Baekhyun. Lalu, “Memangnya kau tidak ingat bagaimana kelakuan para penggemarmu di sekolah?” Ia mengingatkan. “Aigoo, bagaimana jika kau menjadi idol seperti BigBang, ya?”

Mendengarnya, Baekhyun pun terkekeh kecil. “Bukankah kau suka dikurung di kamar mandi berjam-jam?” Dayeon mendelik karena ia tidak tahu apakah Baekhyun tengah mengejeknya atau menyindirnya karena Baekhyun yang selalu bertanya apakah Dayeon tahu siapa yang menguncinya di kamar mandi waktu lalu.

Tidak mungkin jika Dayeon tidak mengingat bagaimana perasaannya saat seseorang menguncinya di dalam kamar mandi sehingga ia tidak bisa menari. Dan bagaimana orang itu memberinya sebuah surat yang isinya terkesan kejam. Dirinya memang tidak tahu siapa orang yang menguncinya tersebut, tetapi ia memiliki firasat bahwa ini berhubungan dengan kedekatannya dengan Baekhyun—walaupun saat itu tidak sedekat ini.

“Sebenarnya…,” Dayeon membuka mulutnya ragu. Dalam hati ia bertanya-tanya apakah lebih baik untuk memberitahu surat yang didapatnya saat dirinya terkunci pada Baekhyun atau tidak.

Baekhyun menoleh, dan menunggu Dayeon melanjutkan kalimatnya.

“Seseorang yang mengunciku itu memberi pesan di kertas,”

“Tulisan tangan?” Baekhyun menyela. Dan dengan takut-takut Dayeon menganggukkan kepala menjawab pertanyaan Baekhyun. Lalu, “Sekarang di mana kertas itu?” tanya Baekhyun lagi. Kali ini dengan nada mendesak dan terburu-buru.

“K-kenapa?” alih-alih menjawab, Dayeon justru balik bertanya dengan takut-takut. Memangnya apa yang akan Baekhyun lakukan jika melihat kertas itu? Mencari tahu siapa si pemilik tulisan tangan?

Dan, jawaban Baekhyun pun persis sama dengan apa yang sudah diduga Dayeon: mencari si pelaku pengurungan Dayeon dan juga si penulis berkata-kata tajam di meja Dayeon. Katanya, Baekhyun menduga bahwa orang yang menulis di meja Dayeon hanya satu orang. Walaupun warna tinta dan ukurannya berbeda-beda, Baekhyun tetap bisa mengenali bahwa bentuk tulisan tersebut serupa.

“Ah, sudah aku buang…,” ucap Dayeon sambil menunjukkan cengirannya dan menggaruk belakang kepalanya.

Ya! Dasar bodoh!” Umpat Baekhyun kesal dengan sikap Dayeon yang tidak terlalu mempedulikan dirinya sendiri seraya menjitak kepala gadis itu, sehingga membuatnya mengaduh dan mengumpat dalam hati atas jitakan Baekhyun yang mengenai kulit kepalanya.

Melihat Dayeon meringis dan mengusap kepalanya yang menjadi sasaran tangannya, Baekhyun tidak melembutkan hatinya. Ia lebih dulu kesal karena Dayeon yang dengan seenaknya menghilangkan bukti penting untuk membuktikan seseorang yang tengah ia curigai. Lalu, “Kenapa kau buang? Aish!” ia berkata sebelum beranjak lebih dulu.

Di belakang, Dayeon tak banyak berkomentar ataupun memprotes Baekhyun. Sejujurnya Dayeon tidak benar-benar telah membuang kertas tersebut—ia tidak sebodoh itu. Bukan ingin membohongi Baekhyun, tetapi dirinya takut jika Baekhyun akan melakukan sesuatu yang tidak diinginkan. Dilihat dari cara berbicara Baekhyun dulu, tidak mungkin jika Baekhyun akan berbicara baik-baik dengan orang itu.

Jadi Dayeon berpikir untuk mencari tahu lebih dulu siapa pelakunya dan menanyakan alasan kenapa dia melakukan itu. Dengan cara yang lebih baik.

Mungkin.

~œ~œ~œ~

Dayeon membeku di daun pintu kelas. Pandangannya terpaku pada tulisan-tulisan yang memenuhi papan tulis yang tengah dibersihkan oleh Baekhyun dan Eunji. Matanya yang melebar dan sedikit basah menatap lurus-lurus sebuah tulisan yang tertera di sana, mengabaikan tatapan orang lain yang menatapnya dengan pandangan rendah dan hina.

Dasar anak koruptor! Pergi kau dari sekolah ini!

Jadi… murid-murid di sekolah ini sudah tahu tentang ayahnya?

“Hei, Song Dayeon,” seorang gadis berambut sebahu memanggil Dayeon dengan menatap Dayeon dengan pandangan mengejek. “Apa alasan kau pindah kemari di akhir semester, huh?”

“Tentu saja untuk mencari korban baru.” Seorang laki-laki di sampingnya menyahut. Membuat air mata Dayeon lolos begitu saja mendengar ejekan dari teman sekelasnya itu. Dan Dayeon harus merundukkan kepala melihat sepatunya untuk menutupi wajahnya.

Bahkan Dayeon tak mengangkat kepalanya ketika Baekhyun berteriak marah dan melempar pengapus yang tengah dipegangnya itu ke arah lelaki yang mengejek Dayeon sehingga rambut dan wajah lelaki itu dipenuhi serbuk kapur berwarna putih.

Kemudian Baekhyun menghampiri lelaki itu dengan pandangan tajam yang seakan memancarkan sinar laser yang akan membelah tubuh orang yang dilihatnya. “Jaga ucapanmu.” Ancamnya dengan suara yang sangat dingin bagai es di kutub selatan. Lalu menghampiri Dayeon dan mengajaknya keluar dari kelas.

Tepat pada saat Baekhyun menarik Dayeon keluar dari kelas, Taemin pun datang dengan tas di punggungnya. Matanya menatap bingung ke arah Baekhyun dan Dayeon, kemudian masuk ke dalam kelas dan merasakan atmosfir tidak nyaman di kelasnya. Bahkan murid pengacau di kelasnya itu tengah mengumpat sambil mencoba menghilangkan debu kapur yang membuat rambut dan wajahnya putih sebagian.

Setelah meletakkan tasnya di atas meja, Taemin pun mengalihkan pandangannya kepada Eunji yang tengah menghapus papan tulis. Kemudian ia menghampiri Eunji dan membantunya membersihkan papan tulis yang masih ada beberapa huruf tertinggal di sana.

“Ada apa?” tanya Taemin pada Eunji. Mencoba bersahabat pada gadis sahabat Baekhyun yang juga tidak menyukainya.

Eunji menghentikan aktivitasnya dan meletakkan penghapusnya di sana. “Lihat saja blog sekolah.” Katanya ketus lalu kembali menuju kursinya.

Taemin memaklumi sikap Eunji dan tidak ingin mempedulikannya juga. Ia pun kemudian mengambil ponselnya dan membuka blog sekolah yang dipegang oleh klub informatika yang diketuai oleh sepupunya, Choi Minho.

Setelah melihat sekumpulan gambar dan tulisan yang tertera di beranda dari blog tersebut, mata Taemin membelalak. Ia tidak tahu apakah berita yang dimuat seseorang di blog sekolah itu fakta atau bukan, tetapi setidaknya ia tahu apa yang harus dilakukannya saat ini. Menyuruh Choi Minho untuk menghapus berita tersebut secepat mungkin.

~œ~œ~œ~

Baekhyun membiarkan Dayeon menangis sesenggukkan ketika mereka berdua sampai di atap sekolah yang biasanya selalu sepi jika pagi hari. Dan agar tidak ada murid yang berniat bolos dan kabur kemari, Baekhyun pun mengunci pintu dengan menggunakan kayu dari luar agar tidak ada yang bisa masuk.

Untuk saat ini, Baekhyun tahu bahwa dirinya tidak mungkin menyuruh Dayeon diam dan mengajaknya kembali ke kelas. Dan sialnya lagi, cuaca hari ini tidak terlalu bagus untuk terus-terusan berada di luar ruangan.

Akhirnya Baekhyun menyerah dengan semua pergulatan dalam pikirannya. Ia pun menghampiri Dayeon yang berdiri memunggunginya, melepaskan blazernya, lalu menaruh blazernya tersebut ke atas kepala Dayeon sehingga menutupi wajah gadisnya itu.

“Aku tidak ingin masuk kelas.” Kata Dayeon dengan suara parau saat Baekhyun menyentuhkan kedua tangannya di pundak Dayeon.

“Aku tahu,” balas Baekhyun pengertian. “Tetapi, di sini dingin. Lebih baik kita ke ruang kesehatan saja.”

Dengan wajah yang ditutupi dengan blazer milik Baekhyun, Dayeon mengikuti saja arahan dari Baekhyun yang tengah membawanya ke ruang kesehatan di lantai dua. Sesekali ia menghapus air mata di pipinya dengan telapak tangan.

Dalam hati, Dayeon bersyukur ada Baekhyun di sampingnya. Jika tidak, ia tidak tahu bagaimana nasibnya sekarang. Apakah satu sekolah akan memusuhi dan membencinya, serta akan membulinya.

Ia tidak tahu.

Sesampainya di ruang kesehatan, seperti dugaan Baekhyun, ruangan tersebut sepi. Sama sekali tidak ada orang, juga tidak ada seorang perawat Han yang biasanya membantu murid yang sakit.

“Sekarang tidur.” Perintah Baekhyun membuat Dayeon mengerutkan keningnya bingung.

“Tidur? Sekarang masih sangat pagi.” Protes Dayeon.

“Kalau begitu, ayo kembali ke kelas.”

Ya!” Belum sepuluh menit lewat setelah Dayeon menangis, kini gadis itu tengah meraih pergelangan tangan Baekhyun yang hendak pergi dengan buru-buru. “Aku tidak ingin ke kelas.” Pintanya dengan wajah memelas.

Sebelum mengiyakan, Baekhyun butuh menghela nafas terlebih dahulu. Bukan karena ia keberatan untuk meninggalkan kelas, tetapi, ekpresi Dayeon. Gadisnya itu terlihat takut dan khawatir.

“Kalau begitu, kau yang mengajakku membolos.” Kata Baekhyun dengan santainya lalu duduk di atas salah satu tempat tidur.

Dayeon mendengus. “Kau menyebalkan.” Gerutunya. Hanya selang beberapa menit saja, berkat Baekhyun, semua kepanikan, ketakutan, dan kekhawatiran Dayeon berubah menjadi kekesalan pada setiap kata yang diucapkan Baekhyun. Namun walaupun begitu, Dayeon tetap mengikuti Baekhyun dan duduk di tempat tidur di sebelah tempat tidur yang diduduki oleh Baekhyun.

“Jadi,” Baekhyun memulai. “Apa yang membuat mereka semua tahu?” pertanyaan yang dilontarkan Baekhyun hanya mendapat balasan gelengan kepala dari Dayeon yang juga sama tidak tahunya dengan Baekhyun. Lalu, “Kurasa, kau jangan terlalu dekat dengan anak itu.” Katanya setelah teringat sesuatu.

Dayeon yang tidak mengerti maksud dari kalimat Baekhyun hanya mengerutkan dahi dan menatap Baekhyun meminta penjelasan. “Anak itu siapa?”

~œ~œ~œ~

Taemin menatap tidak percaya pada seseorang lelaki muda tampan yang lebih tinggi darinya. Baru saja lelaki bernama Choi Minho itu memberitahunya bahwa seseorang murid dari kelas satu lah yang meminta salah satu anggota klubnya untuk mempublikasikan berita yang membuat satu sekolah ini membicarakan Dayeon.

“Kau serius?” tanya Taemin yang masih juga belum bisa mempercayai situasi ini.

“Kau pikir aku bercanda?” balas Minho tak terima bila ia dikira bercanda.

Taemin menggeleng lalu menepuk lengan atas Minho. “Tidak. Terima kasih infonya, hyung.” Katanya, lalu bergegas pergi ke sebuah kelas di lantai dua sebelum bel berderang.

Sesampainya di kelas tujuannya, mata Taemin mengedar ke seluruh sudut kelas tanpa mengindahkan tatapan heran yang ditunjukkan oleh hampir seluruh murid di kelas tersebut. Dan di sanalah ia menemukan seorang gadis berambut panjang yang ia cari.

Park Hyeju.

Tanpa memedulikan sekelilingnya, Taemin langsung menghampiri Hyeju yang duduk di bangkunya sambil mengobrol bersama teman di sebelahnya, lalu menarik tangan Hyeju dengan kasar dan membawa gadis itu pergi keluar kelas.

Sunbaenim, ada apa?” tanya Hyeju terlihat bingung.

Taemin tidak langsung menjawab pertanyaan Hyeju. Namun begitu keduanya sampai di sebuah koridor di paling ujung di mana tak ada murid yang lewat, barulah Taemin melepaskan tangan Hyeju dan berbicara. Tetapi, alih-alih menjawab pertanyaan Hyeju tadi, Taemin justru balik bertanya.

“Apa maksudmu menyebar berita seperti itu?” tanya Taemin dengan nada menuntut.

Hyeju mengerutkan dahinya bingung. “Kau menuduhku melakukan itu?” tanyanya balik dengan nada tak percaya dengan tuduhan yang diacukan olehnya.

“Aku tidak menuduhmu, Park Hyeju. Aku tahu kau lah pelakunya. Kau menyogok Moon Injae untuk mempublikasikan berita itu di blog sekolah.” Sembur Taemin. Lalu, “Apa yang membuatmu melakukan itu? Kau tidak menyukai Dayeon, huh?”

Mulut Hyeju bergerak-gerak tertahan untuk membalas semua kalimat yang ditunjukkan oleh Taemin padanya. “Mana mungkin aku yang melakukannya?” bantahnya. “Dayeon sunbae sangat baik padaku. Jadi, untuk apa aku melakukannya? Apakah aku kelihatan—”

“Jangan mengelak dan jawab yang jujur!”

Hyeju terenyak ketika mendengar teriak Taemin. Ini pertama kalinya melihat Taemin semarah ini. Terlebih lagi, Taemin berteriak marah padanya.

“Aku sudah tahu apa alasanmu tidak menyukai Dayeon. Dan bahkan, aku juga tahu bahwa kau lah yang mengunci Dayeon di kamar mandi.”

Mendengar semua kalimat yang diucapkan Taemin membuat Hyeju membesarkan matanya menatap Taemin. Dia sangat tidak mempercayai kalimat yang baru saja diucapkan Taemin. “Sunbae… kau…,” ucapnya, tak tahu lagi harus mengatakan apa. Lalu, “Bagaimana mungkin kau bisa menuduhku sepe—”

“Kau menyukai Baekhyun, bukan?” Hanya dengan karena kalimat yang membuat ucapan Hyeju terpotong, Taemin dapat membuat gadis itu diam dan memperlihatkan wajah aslinya. Berkebalikan dengan wajah ceria yang sering ditunjukkannya kepada Taemin dan Dayeon, ekpresi wajah Hyeju kini terlihat dingin dan licik.

Taemin harus menunggu lama sebelum Hyeju menawab pertanyaannya. Butuh beberapa menit setelahnya, barulah gadis itu kembali berbicara.

“Kau benar. Aku memang menyukai Baekhyun sunbae.” Katanya. Lalu, “Dan kau juga benar bahwa aku tidak menyukai Song Dayeon—bahkan aku membencinya.”

~œ To be continue œ~

50 responses to “Black Swan – Chapter 9

  1. Tuh kan apa kataku juga di part sebelum sebelumnya aku udh punya perasaan kalo hyeju itu pelakunya,awalanya sih perkiraan ku salah soalnya pas part sebelumnya yoomi yg gelagatnya aneh ,hyeju—dirimu nak -_-

  2. Nah loo… Tuh kan, bener kan. Sbenernya udah ngira kalo itu perbuatan Hyeju waktu Chapt sebelum-sebelumnya, setelah ngebaca kalo yoomi gelagatnya aneh gitu jadi agak berkurang tudahanku sama hyeju.

    Regina eonnie, kita sependapat ya, cieee.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s