20Ca

Ini bukan ff ditjao, eh, becanda ding, ini ff ditjao, kok. Harap memberikan apresiasi berupa komentar setelah membaca ya, terima kasih sebelumnya. Oh ya, mungkin ada beberapa content yang bersifat ensi di sini alias buat yang gak suka ensi sama yang masih di bawah umur tolong jangan buka (yah, walaupun gak ensi-ensi amat, sih). Hepi riding :-* 

Kang Nara (OC), Oh Sehun (EXO), Sunny Lee (SNSD)

Oneshot | Romance, Fluff, Comedy? | a bit NC /eh

* * *

“Cinta kita terpaut jarak 28 cm.”

* * 

Kata ibuku, murid yang tidak memerhatikan gurunya di saat beliau sedang menerangkan materi pelajaran adalah seorang pendosa. Jadi, apakah aku termasuk seorang pendosa sekarang? 

Aku tahu ini buruk—oke, tapi aku tidak bisa menahan hasratku untuk melamun. Melayangkan pandanganku pada jendela untuk menatap langit dan membiarkan Kim Sonsaengnim mengoceh panjang lebar di depan kelas tentang materi massa atom tanpa sedikitpun menaruh perhatian padanya. Satu-satunya hal yang kuperhatikan darinya sekarang hanyalah mulutnya yang berbusa. Ya, sudah barang tentu karena ia terus menjabarkan jenis-jenis unsur tanpa henti sedari mata pelajaran ini berlangsung.

Ia guru yang berdedikasi dalam mengajar—aku akui itu. Hanya maaf saja, kali ini aku lebih tertarik membiarkan mataku bercengkrama dengan langit daripada harus membiarkannya memandang kerutan di wajah Kim Sonsaengnim yang selalu bertambah setiap harinya itu.

Beliau pasti stress memikirkan kami, murid-muridnya yang bandel dan jarang mengindahkan pelajaran yang beliau ajarkan. Makanya, kerutan dan uban di rambutnya juga semakin bertambah. Aku memang bukan murid yang baik, tapi—hei, aku tak selalu seperti ini, kok. Aku pernah beberapa kali berkonsentrasi pada pelajaran—meski mungkin frekuensinya hanya sanggup dihitung oleh jari.

Jadi, mari salahkan kerutan pada wajah Kim Sonsaengnim hingga membuatku malas belajar. Oh, apa aku jahat? Tidak, aku hanya bercanda—sungguh. Ada hal lain saat ini yang menggangguku ketimbang wajah dari wanita paruh baya yang kutaksir umurnya sudah menginjak kepala lima itu. Ya, sangat mengganggu sampai-sampai aku tak bisa berhenti memikirkannya akhir-akhir ini.

Aku sedang diare.

Perutku sakit sekali sampai-sampai tak bisa fokus pada pelajaran. Jadi, jangan salah menaruh prasangka jika aku adalah seorang murid pemalas. Mungkin sifat malasku sering muncul—tapi jarang, oh tidak, maksudku tidak terlalu sering… aish, sudahlah! Memikirkan hal ini hanya semakin membuat perutku bertambah melilit. Susah payah aku mengalihkan perhatianku pada hal lain agar aku lupa pada rasa sakit ini—namun sialnya, mendengarkan ocehan Kim Sonsaengnim tentang nomor-nomor atom semakin membuat perutku tak karuan. Nomor telepon rumah sendiri saja tidak hapal, lantas kenapa aku mesti repot-repot menghapal semua nomor atom dari jumlah keseluruhannya yang ada 118 macam itu (tolong jangan dipikirkan bagian 118 itu karena sesungguhnya aku hanya sok tahu).

Bicara soal diare, mungkin aku tak akan terkena penyakit ini jika aku tak nekat—uhm.., sesungguhnya aku agak malu menerangkannya. Sudah dua minggu ini aku mengonsumsi susu. Tidak, bukan susu basi, susunya juga tidak beracun, aku jamin itu. Hanya saja, aku mengonsumsinya di luar batas kewajaran. Tak aneh, ‘kan, jika penyakit ini menyerangku karena jumlah susu yang aku konsumsi per harinya saja bisa mencapai satu liter—oh, mungkin lebih.

Kata ibu, putrinya ini gila. Beliau sangat syok ketika melihatku mengonsumsi banyak susu, dan tentunya lebih syok lagi ketika mendapati biaya belanjanya membengkak karena aku selalu menambahkan susu dalam daftar belanja keluarga kami. Beliau ingin marah, pada awalnya. Tapi kubilang saja jika susu itu bagus untuk perkembangan otak bagi remaja seusiaku. Meski masih kesal, akhirnya beliau luluh juga. Biaya pengeluaran keluarga kami yang membengkak karena hobi baruku mengonsumsi susu dianggapnya sebagai investasi agar kelak putrinya ini bisa menjadi orang yang cerdas dan berguna bagi nusa dan bangsa berkat khasiat susu. Padahal sesungguhnya, aku tak jamin bisa menjadi orang yang pintar karena susu. Aku hanya asal bicara waktu itu. Mungkin ibu akan membunuhku jika mengetahuinya—jadi, tolong rahasiakan hal ini, oke?

Jadi, kenapa aku mengonsumsi berliter-liter susu jika bukan tanpa alasan?

.

.

.

Aku ingin menaikkan tinggi badan. Hanya itu.

Orang bilang, susu mengandung banyak kalsium yang dapat membantu pertumbuhan tulang. Jadi, dengan banyak mengonsumsi susu, kita akan semakin banyak mendapat kalsium untuk menumbuhkan tinggi badan, bukan begitu?

Oh, mungkin aku belum menjabarkan keinginanku menjadi tinggi secara rinci. Mari salahkan pemuda bernama Oh Sehun dalam kasus ini. Dia yang membuatku terobsesi untuk mengonsumsi banyak susu. Dia yang yang membuatku diare. Dia yang membuat biaya pengeluaran keluarga kami membengkak karena harus terus-terusan membeli susu. Dia yang harusnya dituntut oleh ibu agar mengembalikan kelebihan uang belanja kami yang harus dikorbankan di atas meja kasir supermarket untuk membeli susu.

Kenapa Oh Sehun?

Karena dia jelek, payah, cadel, menyebalkan, dan—sialnya, tampan—juga tinggi. Oke, yang terakhir itu sama sekali tak memiliki korelasi dengan umpatan yang sempat kuucapkan di awal kalimat barusan. Abaikan saja, dan mari dengarkan penuturanku selanjutnya. Jadi, begini, kami adalah teman sepermainan. Ya, kami bertetangga karena rumah kami bersebelahan. Dulu, kami seringkali bermain bersama. Meski dia menyebalkan, tapi karena hanya dia satu-satunya yang saat itu sebaya denganku, jadi aku tak punya pilihan selain mengajaknya bermain (hehe).

Dia pendek, selalu ada ingus di hidungnya, sering mengompol, dan sering menangis jika aku mengatainya Si Bocah Susu karena ia selalu membawa botol bayi berisikan susu tiap kali kami bermain bersama. Bayangkan, umurnya saat itu sudah menginjak lima tahun dan dia masih menggunakan botol bayi untuk meminum susu. Tidakkah itu konyol? Tapi, meski begitu, aku senang karena dengan begitu aku selalu mempunyai alasan untuk terus mengejeknya dan mengatainya Anak Mama.

Tapi sekarang, siapa yang tahu jika tingginya tiba-tiba saja sudah mampu melewati tinggi badanku? Waktu itu, kalau aku tak salah, adalah sekitar tahun terakhir kami di bangku SMP ketika aku mulai menyadari jika Sehun sudah beranjak tinggi. Dan sekarang, aku bahkan harus menengadah jika aku ingin melihat wajahnya dengan posisi kami yang sama-sama berdiri.

Dan hal yang lebih membuatku kesal, adalah kenyataan di mana wanita ditakdirkan berhenti bertumbuh tinggi di usianya yang menginjak 18 tahun. Sedangkan pria, mereka masih akan bertambah tinggi meski sudah melewati usia 18. Bukankah itu tak adil? Apa Tuhan tidak menerapkan prinsip emansipasi sewaktu menciptakan kami?

Tinggi badanku sekarang 157 cm, dan Sehun 185 cm. Sekarang, aku sudah berusia 18 tahun, di mana itu artinya tidak ada harapan lagi untukku bisa bertambah tinggi. Sehun juga berusia 18 tahun, tapi dia masih bisa bertambah tinggi.

Kenapa takdir begitu kejam?

Roda kehidupan memang akan selalu berputar sebagaimana mestinya. Kalau dulu, akulah yang mengatainya pendek, sekarang gantian ia yang menjulukiku pendek. Yah, tak apa. Karena pendek masih lebih baik dibandingkan sebutan Anak Mama. Benar, kan? Setidaknya aku juga tidak ingusan dan cengeng sepertinya ketika masih kecil dulu. Intinya, aku masih seribu kali lipat lebih baik dari Sehun.

Tapi, bukan itu inti masalahnya.

Dua minggu yang lalu, Sehun menyatakan perasaannya padaku.

.

.

.

Sebentar, perutku sakit jika harus kembali mengingat kejadian itu. Tolong beri aku waktu untuk tertawa, oke?

.

.

.

Nah, kembali lagi pada inti permasalahan. Tinggi badan kami timpang. Kata ibu, selisih yang ideal untuk setiap pasangan kekasih itu adalah 20 cm. Mengerti maksudku, ‘kan? Batas tinggi badan si wanita maksimal hanya boleh 20 cm lebih pendek dari si pria. Mari libatkan matematika dalam hal ini. Tinggiku 28 cm lebih pendek dari Sehun. Ini buruk—tentu saja. Dua puluh delapan hampir mendekati angka 30, dan hal itu semakin memperjelas selisih tinggi badan kami yang terpaut cukup jauh.

Kesimpulannya, kami tak cocok—kami tak bisa bersama.

Mungkin—uhm, bisa. Hanya saja aku harus menaikkan tinggi badanku sebanyak 8 cm, baru aku bisa memutuskan apakah aku akan menerimanya atau tidak.

Bicara soal Sehun, oke, ini mungkin terdengar agak menggelikan, tapi aku memang suka—sebentar, aku ingin batuk—ehem, padanya. Maksudku, ayolah. Kami sudah bersama sejak kecil. Ditempatkan di taman kanak-kanak yang sama, SD yang sama, SMP yang sama, bahkan hingga sekarang, bohong jika aku sama sekali tak memiliki rasa terhadapnya. Aku tak menyangka jika pemuda itu juga akan memiliki perasaan yang sama, dan aku benar-benar tak menduga ketika pada akhirnya dia menyatakan perasaannya terhadapku dua minggu yang lalu. Saat itu adalah waktu pulang sekolah, ketika Sehun malah menyeretku ke dekat toilet, bukannya mengajakku pulang bersama ke rumah seperti hari-hari biasanya. Sialan memang, dia tak bisa memilih tempat yang memiliki nilai lebih romantis.

Saat itu aku terlampau syok hingga hanya bisa mematung lantas berbalik meninggalkannya setelah pemuda itu bilang bahwa ia menyukaiku. Saat tersadar, tahu-tahu aku sudah dalam perjalanan pulang menuju rumah. Aku melupakan Sehun yang masih tertinggal di sekolah yang mungkin tak kalah syoknya melihatku yang langsung melenggang pergi meninggalkannya begitu saja saat itu, bahkan tanpa sempat mendengarkan sepatah katapun dariku terlebih dahulu. Dia pikir dirinya ditolak. Aku buru-buru mengirimkan pesan kepadanya bahwa aku akan menjawab pernyataan darinya itu nanti—ketika aku telah siap dan meyakinkan diriku sendiri jika Sehun tak salah minum obat ketika dia menyatakan perasaannya kepadaku.

Dan sekarang, dua minggu telah berlalu. Aku belum membalas pernyataannya, dan si bocah penggila susu itu juga tak kunjung menagih jawaban. Aku ragu jika pengakuannya tempo hari itu benar-benar serius, tapi aku juga tak bisa membohongi diriku sendiri jika aku memang benar menyukai Sehun. Dua minggu ini bahkan sebisa mungkin kupakai untuk berusaha menambah tinggi badan dengan mengonsumsi banyak susu—walaupun, hasilnya sia-sia. Aku ingin mengimbangi tinggi badan bocah itu. Aku tidak ingin orang-orang yang nanti sewaktu-waktu melihat kami berjalan bersama, menyebut kami sebagai Putri Salju dan Kurcaci yang sedang memadu kasih karena tubuhku yang kelewat pendek jika disandingkan dengan Sehun.

Dan sialnya, pastilah aku yang akan dijatuhi peran kurcaci.

Mungkin, ini salahku sendiri karena sedari dulu aku selalu malas mengonsumsi susu, jadinya pertumbuhanku sekarang tampak signifikan. Susu itu tak enak—menurutku. Aku harus dibujuk mati-matian oleh orangtuaku dulu setiap kali akan meminum susu. Dan sekarang, aku harus kembali berurusan dengan cairan menyebalkan itu karena Sehun. Bocah itu adalah penggemar susu nomor satu. Dari dulu hingga sekarang, yang kutahu kebiasaan meminum susu setiap harinya itu tak pernah hilang. Sehun bilang, kalsium dalam susu mempunyai banyak sekali manfaat selain hanya untuk pertumbuhan tulang dan gigi. Seperti misalnya,

“..kalsium juga berfungsi untuk mencegah osteoporosis.”

Oh, terima kasih untuk Kim Sonsaengnim yang ada di depan karena telah menimpali.

“Juga membantu penyimpanan glikogen. Bila tak ada kalsium, tubuh akan merasa lapar terus-menerus karena tidak dapat menyimpan glikogen.”

Oh, jadi begitu. Tunggu—apa pula itu glikogen?

“Juga melancarkan fungsi otak, otot, dan sistem syaraf.”

Baiklah, aku mulai mengerti alasan kenapa Sehun begitu mencintai susu.

“..dan kalsium juga dapat membantu memulihkan gairah seks yang menurun.”

Oke, se—eh, apa?

Sehun dan se—astaga, apa yang aku pikirkan, sih?

.

.

.

Oh, sial. Perutku semakin sakit.

.

.

.

“Remaja seusia kalian dianjurkan untuk mengonsumsi 1.200 mg kalsium per harinya. Bila tidak mendapat cukup asupan kalsium dari makanan, maka tubuh akan mengambilnya dari ‘bank kalsium’ pada tangan, kaki, dan tulang panjang lainnya. Kekurangan konsumsi kalsium dalam waktu lama akan mengakibatkan tubuh mengambilnya langsung dari tulang-tulang padat. Hal ini dapat menyebabkan tulang keropos dan mudah patah yang istilahnya akrab kita kenali sebagai osteoporosis.” terang Kim Sonsaengnim lagi.

1.200 mg? Aku bahkan tak tahu tepatnya jumlah kalsium yang sudah masuk ke dalam tubuhku selama ini. Ah, iya! Kenapa aku tidak bertanya saja pada Kim Sonsaengnim? Mungkin beliau tahu kadar kalsium yang pas jika ingin menambah tinggi sebanyak 8 cm.

“Tugas kalian setelah ini adalah membuat laporan secara berkelompok mengenai apa yang kalian ketahui dari salah satu jenis unsur yang sudah saya jelaskan tadi. Jangan lupa juga untuk menjabarkannya secara rinci, sebutkan fungsinya, bagaimana terciptanya, dan yang lainnya. Sampai sini, apa ada yang kurang jelas? Ada yang ingin bertanya? Dan—oh, Kang Nara-ssi, apa pertanyaanmu?”

“Begini, Saem. Saya—“

Oh, sial.

Tidak.

Tolong.

Jangan sekarang.

“Kang Nara-ssi?” Kim Sonsaengnim memandangku cemas lantaran bukannya melontarkan pertanyaan, aku malah terdiam dengan wajahku yang memucat. Otomatis, semua yang ada di kelas pun langsung memusatkan seluruh perhatiannya ke arahku. Pasti semuanya sedang bertanya-tanya melihatku yang sekarang malah terlihat seperti sedang meringis.

“Bo..bolehkah saya ke kamar kecil, Saem?” tanyaku sambil menahan sakit.

Perutku kembali berulah di tengah-tengah pelajaran. Oh, aku benar-benar butuh kamar mandi sekarang!

Uhm, ya. Tentu saja, silakan.”

Tanpa ba-bi-bu lagi aku segera berlari meninggalkan kelas dengan tergesa.

Hah, aku harus menuntut ganti rugi terhadap Sehun atas hal ini!

* * *

Jam pelajaran Kim Sonsaengnim masih tersisa sepuluh menit lagi sebelum bel istirahat berbunyi. Urung kembali ke kelas, akhirnya aku malah membelokkan kakiku ke UKS. Ya, perutku masih sakit. Aku tak mau memaksakan diri untuk menerima asupan materi pelajaran di saat kondisi tubuh sedang tak baik seperti ini. Jadi, bukankah lebih baik aku menghabiskan waktu dengan tidur di UKS sampai jam pulang tiba? Tidak, tolong jangan sebut aku pemalas. Ini wajar untuk orang yang diserang diare sepertiku, oke?

“Oh, halo, Nara-ya? Ada apa kemari? Kau sakit?” sapa Sunny, sang penunggu UKS—maksudku, dokter muda di sekolah kami. Sifatnya kelewat ceria, mungkin terdorong oleh usianya yang hanya terpaut jarak beberapa tahun dari kami, jadi kami pun tak sungkan ketika gadis itu bersikap sok akrab.

“Hmm, ya. Kau punya obat? Perutku sakit.” aku mengabaikan pertanyaan basa-basinya dan lekas naik menuju tempat tidur.

“Maag? Sembelit? Atau tamu bulanan?”

“Tidak ketiganya. Diare.”

“Oh, kebetulan sekali aku punya obat yang cocok!” serunya riang. Gadis itu kemudian berjalan menuju rak obat dan kembali menghampiriku dengan sebungkus kemasan obat.

“Ini produk baru. Minumlah. Ini bisa membantumu agar tak harus bolak-balik ke kamar mandi.”

“Oh, bagus.”

Tentu saja semua obat diare mampu melakukan itu.

Aku mengambil alih obat itu dari tangan Sunny lantas segera membuka kemasannya. “Boleh minta segelas air?”

“Tentu.” Sunny tersenyum sebelum melaksanakan permintaanku.

“Terima kasih banyak, Sunny.” aku menyodorkan kembali gelas yang tadi sempat kupakai untuk membantuku meminum obat kepadanya. Mendadak alisku mengernyit ketika obat tablet itu melewati kerongkonganku.

“Tunggu. Apa ini hanya perasaanku saja atau memang benar obatnya rasa stroberi? Aku bahkan merasakan rasa susu ketika menelannya.”

“Itu obat diare varian baru yang sedang kukembangkan. Aku memang menambahkan perisa stroberi dan susu ketika membuatnya. Rencananya, obat ini kutargetkan untuk anak-anak. Tapi mengingat usiamu yang masih remaja, kurasa obat ini juga masih tetap akan bisa bekerja.” jelas Sunny.

“Bukankah penderita diare tidak diperbolehkan mengonsumsi susu?” tanyaku heran.

“Kan sudah kubilang hanya perisa. Tentu saja tak akan berpengaruh, kecuali untuk rasanya.” Sunny terkekeh.

“Oh.” aku hanya menganggut-anggutkan kepala. “Kau hebat bisa menciptakan obat sendiri.”

“Ah, tidak.” Kulihat wajah dokter muda itu langsung tersipu begitu aku melontarkan pujian untuknya. “Aku masih harus banyak belajar. Doakan saja obat ini segera mendapatkan izin dari badan kesehatan Negara agar bisa cepat-cepat dipasarkan.”

“Oke—APA?! MAKSUDMU OBAT INI MASIH ILEGAL?!”

“Meski belum mendapat izin resmi, tapi sudah ada beberapa orang yang kuujicobakan dan semuanya berhasil, kok. Jadi, tenanglah.”

“Oh, sulit dipercaya! Kalau aku meninggal, kau yang harus menanggung segala biaya untuk pemakamanku kelak!” aku bersungut kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuhku. Meski khawatir, tapi yang bisa kulakukan sekarang hanyalah diam dan menunggu. Sulit, namun aku mencoba untuk percaya jika obat Sunny ini akan bekerja sebagaimana mestinya—semoga tidak sampai memakan nyawaku.

“Kau berlebihan, Nara-ya. Oh, apa kau mau tidur?”

Aku kembali menyingkapkan selimutku dan memberinya pandangan datar. “Tidak, aku mau meneliti amoeba. Apa kau punya mikroskop?”

“Oh, kau ini lucu sekali! Tidurlah selagi menunggu obatnya bekerja. Jangan khawatir, kau pasti akan baikan setelah bangun nanti. Ada beberapa persediaan obat yang habis, jadi aku akan keluar sebentar untuk membelinya. Tak apa, ‘kan, jika kutinggal sendirian di sini?”

Sendirian tanpa kehadiran Sunny di sini? Kedengarannya cukup bagus.

“Ya.”

“Oke, aku pergi dulu. Selamat beristirahat.”

“Selamat jalan.”

Dan jangan pulang sebelum aku cukup merasa baikan untuk keluar dari sini.

Selanjutnya, kudengar pintu UKS ditutup oleh Sunny dari luar. Aku sedang tak berminat melakukan apapun, jadi setelah kepergiannya aku memutuskan untuk berbaring seperti ini saja. Tidak, bukan tidur. Hanya menerawang menatap langit-langit ruangan.

Sepuluh menit telah berlalu, aku bisa mendengar sayup-sayup bel istirahat berkumandang dan sorak-sorai para murid yang riang gembira keluar dari kelas.  Well, agak sangsi mengakui ini, tapi sepertinya obat Sunny memang benar-benar manjur. Buktinya, perutku mulai terasa baikan dibanding sebelumnya, padahal aku baru saja meminumnya. Kelihatannya Sunny memang harus segara mengenalkan produknya ini ke pasaran. Aku jamin, pasti nantinya akan laku keras. Kalau sewaktu-waktu obat ini diiklankan di televisi, aku bersedia dikontrak menjadi bintang iklannya.

KRIET.

Pintu UKS tiba-tiba terbuka. Kenapa Sunny sudah kembali?

“Sunny? Kenapa cepat sekali?”

Aku langsung diam begitu melihat siapa yang sebenarnya datang. Oh, sial. Bocah ini..

“Hei, pendek. Kau sakit?”

Aku menyibakkan selimutku ke atas, enggan menyambut kehadirannya dan lebih memilih untuk pura-pura terlelap.

“Di mana Sunny?” tanyanya sambil menutup pintu kemudian berjalan menghampiri tempat tidur.

“Jangan ganggu aku. Aku sedang tidur.”

“Tidak ada orang yang bicara selagi tidur, kau idiot.”

“Kau lebih idiot. Mau apa kemari?”

Posisiku kini berbaring membelakanginya. Kudengar ia menarik kursi untuk kemudian duduk di samping tempat tidur.

“Sebut saja menjenguk. Kau sakit?”

“Kelihatannya bagaimana?”

“Kau lebih mirip gelandangan yang tidak punya rumah kalau seperti ini.”

“Sialan!” aku membalikkan badan untuk melemparinya dengan bantal. Lemparan yang cukup jitu. Kulihat bocah sialan ini langsung meringis menerima lemparanku.

“Kau betul-betul tak tahu terima kasih terhadap orang yang telah berbaik hati menjengukmu!” protesnya.

“Aku tak butuh dijenguk. Pergi saja dari sini. Melihat wajahmu perutku jadi tambah sakit.”

Aku serius dengan yang satu ini. Melihat wajah dari pemuda bermarga Oh ini membuatku teringat kembali pada susu, dan ya, susulah yang membuatku sakit perut. Kalian tentu bisa menarik kesimpulan sendiri, ‘kan?

Melihat Oh Sehun dapat menyebabkan sakit perut.

“Tidak mau. Aku mau di sini.”

“Kenapa?”

“Menemanimu. Tidak boleh?”

“Kurang kerjaan.”

Wajahku memanas di waktu yang tak seharusnya. Jangan sampai Sehun melihat hal ini. Jangan sampai ia sadar kalau wajahku sekarang mungkin sudah hampir memerah. Nanti bisa-bisa dia besar kepala.

“Jadi..,” pemuda itu kembali membuka suara.

“Jadi apa?”

“Jawaban.”

“Jawaban apa?”

“Idiot.”

“Idiot a—hei! Kurang ajar!”

“Aku sedang tak mau berdebat denganmu, Kang Nara. Baiklah, tujuanku ke sini memang bukan sepenuhnya untuk menjengukmu. Ingat jawaban yang kau janjikan dua minggu yang lalu, bukan?” tudingnya.

Aku diam.

Oh, sial. Kenapa harus sekarang? Kenapa dia tidak melihat situasi terlebih dulu? Kenapa dia harus menagih jawabannya ketika aku terserang diare? Kenapa—

—kenapa dia sangat tidak romantis?

“Aku.., akan jawab. Tapi tidak sekarang. Nanti—“

“Kapan?”

“Nanti, mungkin—“

“Dua minggu lagi?”

“Bisa jadi.”

“Oh, astaga! Kau benar-benar menguji kesabaranku, Kang Nara!” ujarnya sambil menepuk dahi. Mungkin terlihat tak habis pikir dengan rentetan jawabanku barusan.

“Kau tidak mengerti, aku hanya masih butuh waktu untuk—“

“Untuk?”

“Untuk, uhm… memikirkan.”

“Memikirkan apa?”

Err.., kita?”

“Kita? Lalu, kenapa nada suaramu terdengar tak yakin begitu?” responnya curiga.

Aku menyengir kaku. Mungkin keputusanku berdiam diri di UKS adalah keputusan yang salah. Seharusnya setelah meminum obat yang diberikan Sunny aku langsung saja kembali ke kelas. Ah, bodoh. Tiada guna menyesali keadaan. Aku sudah terlanjur berhadapan dengan Sehun sekarang. Dan pemuda ini masih menyerangku dengan tatapan penuh tanda tanya.

“Dengar, begini, uhm.. bagaimana aku menjelaskannya, ya? Uhm, kau tahu? Belakangan ini aku selalu berpikir jika kita tak cocok..”

Tatapan curiganya kepadaku barusan langsung memudar, dan sekarang sorot matanya seakan berganti pancaran. Entah pancaran yang seperti apa, bahkan aku sendiri sulit membaca ekspresi Sehun saat ini. Mungkin ini terdengar sedikit percaya diri, tapi kurasa dia sedikit—sedih?

“Nara, apa kau membenciku?”

“Ti..tidak! Tentu saja tidak! Aku tidak membencimu! Maksudku—“

“Tidak menyukaiku, apa itu yang ingin kau katakan?”

“Tidak! Dengarkan dulu sampai selesai! Aku menyukaimu! Sangat menyukaimu bahkan—oh, shit!” aku langsung refleks menutupi wajahku dengan kedua telapak tangan. Bisa-bisanya aku mengatakan bahwa aku menyukai Sehun secara blak-blakan seperti ini. Kujamin, bocah itu pasti sudah besar kepala sekarang. Sial, bagaimana ini? Wajahku pasti sudah memerah sejadi-jadinya.

“Baiklah. Jadi?” ujarnya lagi dengan suara tertahan. Mungkin ia hampir tertawa barusan ketika mendengarkanku berucap bahwa aku menyukainya secara gamblang.

“Oh, anggap kalimat barusan tidak pernah keluar dari mulutku! Sudah kubilang, kita tak cocok!” ujarku frustasi.

“Baiklah jika kau berpikir seperti itu. Tapi tentunya kau punya alasan, ‘kan? Apa yang melatarbelakangimu hingga berpendapat bahwa kita tak cocok?” tudingnya lagi.

Aku menatapnya ragu. Aku tak percaya pada akhirnya akan mengeluarkan semua keluh-kesah yang kurasakan terhadapnya kali ini.

“Kita tidak cocok, karena..”

“Karena apa?”

Err.., tinggi badan.” jawabku pelan.

“Tinggi—apa?” tanyanya, sambil berusaha memastikan pendengarannya. Kurasa ia tak bisa menangkap jelas jawabanku tadi.

“Tinggi badan, apa kau tuli?!” aku bergegas melemparinya dengan bantal kemudian kembali beranjak berbaring membelakanginya. Persetan dengan Oh Sehun. Aku hanya tak mau melihat wajahnya kali ini. Aku merasa lucu kalau harus mengingat dialah yang menyebabkanku terkena diare.

“Tunggu. Tinggi badan? Maksudmu?” tanyanya dengan ekspresi heran.

“Tinggiku 157 cm, dan kau 180 cm lebih..,” jawabku lirih, masih enggan berbalik ke arahnya.

“Oke. Lantas? Aku masih tak bisa menangkap di mana letak masalahnya.”

“Kita tak cocok. Harus berapa kali, sih, aku mengatakannya, dasar idiot!”

“Orang yang mengemukakan pendapat tanpa bisa menyertakan alasannya kurasa dia lebih pantas disebut idiot.”

Oke, aku mengalah. Dia menang.

Aku lantas membalik posisiku sekarang untuk menghadapnya, “Kuulangi sekali lagi, kita sama sekali tak cocok, Oh Sehun-ssi. Tinggi badan kita timpang. Aku 157 cm, dan kau 185 cm. Kata ibuku, selisih tinggi badan sepasang kekasih yang ideal itu maksimal adalah 20 cm. Sementara selisih tinggi badan kita—hmmpphh!”

“Jangan diteruskan. Aku sudah mengerti maksudmu.” ujarnya datar dengan tangannya yang tiba-tiba ditempatkannya untuk menutupi mulutku.

Tak lama setelahnya, Sehun melepaskan tangannya dari mulutku lantas beranjak dari kursinya menuju pintu keluar. Ekspresi wajahnya masih sedatar barusan. Tunggu, apa ia mau pergi? Apa ia merasa patah hati?

Kulihat pemuda itu membuka pintu UKS, namun tak lekas menutupnya. Ia diam di ambang pintu dengan posisinya yang membelakangiku. Oh, tidak. Apa dia terpukul? Apa dia merasa dirinya telah ditolak? Apa kata-kataku barusan ada yang menyakiti hatinya? Sehun, maaf, aku tak bermaksud—

“HAHAHAHAHAHAHAHAHAHA.”

Aku melongo sekarang.

Sehun? Tertawa? Kenapa? Dan kenapa kencang sekali?

Tak disangka-disangka, pemuda itu kembali berbalik—ditambah dengan seringaian yang kini terlukis di wajahnya. Oh Sehun, uhm, kau mulai menakutiku.

“HAHAHAHAHA, AKHIRNYA DUNIA BERBALIK. TUHAN MEMANG MAHA ADIL. SEKARANG KAU MENGERTI, ‘KAN, BAGAIMANA MENDERITANYA MENJADI ORANG PENDEK? RASAKAN. HAHAHAHAHAHAHAHAHA—akh!” serunya sambil tertawa puas ke arahku, namun buru-buru kulempar ia dengan sepatu agar tak bisa tertawa lebih keras. Bingo. Sepatuku berhasil meluncur dengan bebas mengenai kepalanya.

“RASAKAN ITU, IDIOT! AKU BENCI KAU!” seruku tak kalah keras.

Aku langsung menenggelamkan wajahku ke bantal. Rasanya bodoh sekali karena telah menaruh simpati terhadap bocah sialan itu. Hah, kusumpahi kau setelah ini terserang diare lebih parah dariku!

“Oke, oke. Aku minta maaf, tapi aku benar-benar tak bisa menahan tawaku barusan.” katanya sambil kembali menutup pintu UKS lalu berbalik menghampiriku.

“Lagipula, apa yang harus dipermasalahkan dari tinggi badan, huh?” tanyanya yang kini sudah kembali duduk di kursi.

“Kau tak mengerti.., aku..,” aku mengangkat wajahku dari bantal untuk menghela. Wajahku pasti sudah lucu sekali sekarang. Mungkin warnanya sudah bisa menyaingi tomat, ditambah lagi dengan rambutku yang terlihat acak-acakan. Siapapun, tolong bawa aku pergi dari Sehun. Aku tak mau dia melihat penampilanku yang layaknya orang bodoh seperti ini.

“..orang-orang pasti akan berkomentar ketika melihat kesenjangan tinggi badan kita.”

“Lalu? Kenapa harus peduli apa kata orang?”

“Aku tak tahu.” Aku kembali menghempaskan tubuhku untuk berbaring di kasur seraya menutupi wajahku dengan bantal. “Kau seharusnya membagi sedikit saja kalsium yang ada di tubuhmu itu untukku. Kau itu sudah kelewat tinggi. Tubuhmu serakah sekali dalam menyerap kalsium.” ujarku lagi. Bantal yang menutupi wajahku sekarang membuat suaraku terdengar sengau. Aku makin merasa seperti orang bodoh.

“Membagi kalsium? Bagaimana caranya?”

“Aku hanya bercanda, bodoh. Jangan dianggap serius.”

“Dengar, aku tak peduli kau mengkhawatirkan pendapat orang atau apa, tapi yang jelas kau sudah mengatakan bahwa kau juga menyukaiku. Bukankah itu sudah cukup?”

Aku menggeser bantalku sedikit untuk melirik Sehun. Wajah pemuda itu terlihat begitu serius. Baru kali ini aku melihatnya memasang mimik seperti itu. Agak aneh rasanya, tapi kurasa dia terlihat semakin—tampan.

.

.

.

KAU PASTI SUDAH GILA, KANG NARA.

“Aku tak mau mendengar alasan konyol lagi darimu. Mau berapapun tinggi badanmu, yang kusukai darimu ya adalah kau, dirimu, kepribadianmu. Tinggi badan sama sekali tak ikut campur dalam hal ini, kau mengerti?” ujar Sehun lagi.

Aku menghela lagi. Walaupun dia sudah berkata begitu, tetap saja..

“Sebenarnya bukan hanya itu..,” balasku lirih.

“Lantas? Apa lagi?” tanyanya tak sabar.

Aku menghela lagi. Rasanya semakin menjadi orang bodoh. Memang ada hal yang mengganjal yang kupikirkan jika aku bersikukuh menerima pemuda ini sebagai kekasihku. Tapi, kelihatannya aku harus berpikir dua kali untuk mengutarakannya secara langsung di hadapan Sehun sendiri.

“Jadi, uhm, begini.., aku..“

“Ya?”

“Kau tahu, ‘kan, jika kita mengobrol sambil berdiri aku harus selalu memandang wajahmu sambil menengadah..”

“Iya?”

“Leherku pegal..”

“Lalu?”

“Lalu aku berpikir..”

“Apa?”

“Bagaimana jika suatu hari kau..”

“Aku?”

“…”

“Kang Nara?”

“Kalau kau..”

“Aku? Aku kenapa?”

“Itu..”

“Itu apa?”

Aku menghela lagi, “Itu.., kalaukaumenciumkupastiakuharusberjinjitdantinggibadankutidakakansampai, mengerti?” aku menjawabnya dalam satu kali tarikan napas lantas buru-buru kembali menutup wajahku dengan bantal.

Oke, aku sudah berhasil mengutarakannya, lalu sekarang bagaimana? Apa di sini ada lubang? Kalau iya, aku akan langsung melompat di dalamnya dan mengubur diriku hidup-hidup. Demi Tuhan, aku malu sekali! Sehun pasti akan bereaksi sama seperti sebelumnya—menertawakanku keras-keras.

Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Sepuluh detik telah berlalu dan pemuda itu sama sekali tak menunjukkan reaksi apapun. Apa ia tidak mendengar dengan jelas ucapanku barusan? Oh, sial! Aku tak akan sudi kalau ia memintaku untuk mengulang!

“Nara-ya, kau..,” panggilnya kemudian.

“Apa?! Mau menertawakanku lagi?! Mau mengataiku idiot lagi, iya?! Terserah—hei, apa yang kau lakukan?!” seruku panik ketika Sehun malah mendekatkan wajahnya ke wajahku dengan kedua tangannya yang masing-masing mengunci pergelangan tanganku. Oh, ini gawat. Posisi Sehun sekarang telah berpindah tepat ke atas tubuhku. Apa yang harus kulakukan??

“Jangan macam-macam, atau aku akan berteriak—hei, jangan mendekat!” aku semakin meronta ketika Sehun menabrakkan ujung hidungnya ke hidungku. Demi Tuhan, mau apa, sih, bocah ini?!

“Untuk alasan pertama, mungkin aku masih bisa memberimu toleransi, Nona. Tapi untuk alasan yang satu ini, perutku hampir sakit ketika mendengarmu mengucapkannya. Harus dengan apa lagi aku memanggilmu selain idiot, huh? Berciuman tidak harus dilakukan sambil berdiri. Bukankah kita bisa mencari posisi lain yang lebih nyaman?” tanyanya sambil menyeringai penuh arti.

Dia—menyeramkan. Oh, tidak. Dia seperti ingin memakanku hidup-hidup.

.

.

.

SIAPAPUN TOLONG AKU.

“O..Oh Sehun.., aku akan menendangmu kalau kau tidak segera menyingkir dari sini..,” ujarku takut-takut.

“Kau tidak sedang mengancamku, ‘kan? Aku bisa melakukan hal yang lebih dari sekedar ciuman kalau kau melawan atau berteriak.” balasnya sambil memasang senyum penuh kemenangan.

Aku meneguk ludah dengan susah payah. Tubuh kami sekarang saling berhimpit, dengan wajah kami yang hanya dipisahkan jarak beberapa cm. Tidak, ini tidak boleh. Kata ibu, hal seperti ini berbahaya. Aku tidak boleh membiarkan Sehun menyentuhku seperti ini. Tidak boleh!

Jemari Sehun beralih pada bibirku, mengusapnya perlahan sembari menatapnya intens. Aku tak tahu mengapa, tapi tiba-tiba saja fokusnya beralih ke sana.

“Di sini..,” katanya pelan.

“Sehun, jangan! Kau.., tidak benar-benar akan menciumku, ‘kan? Sadarlah! Ini tidak baik! Aku akan lapor pada ibumu jika kau berbuat macam-macam supaya kau dimarahi!” ujarku panik. Wajah kami terlampau dekat sampai-sampai aku bisa merasakan deru napasnya menyapu sekitar wajahku. Astaga! Aku sendiri bahkan lupa bagaimana caranya bernapas sekarang.

“Kenapa di sini aku seperti mencium bau susu?” tanyanya. Jemarinya masih singgah di bibirku, enggan bergerak. Sepertinya dia masih belum bisa melepaskan fokusnya dari sana. Oh, tidak! Ini akan menjadi ciuman pertamaku, dan aku belum siap! Sehun, kumohon sadarlah!

“Susu..,” gumamnya lagi. Kulihat lidahnya mulai bergerak keluar untuk membasahi bibirnya yang kering. Tidak, tolong. Kenapa setelah melihatnya, aku malah jadi ikut terbuai? Oh, astaga. Tubuhku benar-benar tidak bisa bergerak sekarang. Apa aku telah dihipnotis?

“Aku mau susu..,” gumam Sehun lagi. Wajahnya semakin mendekat dan aku tak kuasa melawan. Aku tak bisa berbohong jika aku juga tidak ikut menginginkannya. Aku pasti sudah gila karena membiarkan bocah sialan ini menciumku. Oh, ibu. Aku mau mati saja.

“Bau stroberi.. Aku suka susu stroberi..”

Pertemuan bibir kami tak dapat terelakkan. Bibir Sehun telah mengunci milikku dengan sempurna, mengecupnya berkali-kali lantas melumatnya pelan. Dosaku hari ini mungkin telah bertambah karena setelah mengabaikan pelajaran Kim Sonsaengnim di kelas, aku membiarkan Sehun menciumku. Di samping itu, aku juga menikmatinya. Seperti ada sengatan listrik di sekujur tubuhku ketika bibir kami saling bertemu untuk pertama kali. Kenapa semuanya jadi seperti ini? Kenapa pada akhirnya aku takluk di bawah bocah yang dulu sering kusebut sebagai Anak Mama? Sehun yang sekarang benar-benar berbeda dari Sehun yang kukenal dulu. Dia telah tumbuh menjadi pemuda dengan sejuta pesona, dan aku membencinya—karena aku temasuk ke dalam salah satu yang telah terjerat oleh pesonanya.

“Susu..,” dia terus bergumam di sela-sela ciuman kami. Lidahnya berusaha keras untuk menyusup masuk ke dalam mulutku, seperti ingin meraih sesuatu.

“Se..Sehun, ber..henti..”

Sehun memakai kesempatan itu untuk memasukkan lidahnya dan ciuman kami pun berlanjut semakin dalam. Dia menggunakan lidahnya untuk menjelajah seluruh bagian dalam mulutku tanpa terkecuali. Tunggu, apa tadi dia bilang susu? Oh, sial. Aku lupa jika barusan aku baru saja meminum obat berperisa susu stroberi yang diberikan oleh Sunny. Dan Sehun adalah penggemar susu nomor satu. Ini sungguh perpaduan yang buruk. Pantas saja ia bertingkah seperti ini karena mencium aroma susu dari mulutku.

Uhm, tapi, mungkin.. aku harus berterima kasih kepada Sunny nanti karena telah memberikanku obat ini.

KRIET.

Pintu UKS tiba-tiba terbuka, menghadirkan sosok Sunny yang langsung mematung begitu melihat kami. Sehun langsung menghentikan kegiatannya dan menoleh ke arah dokter muda itu, begitu juga denganku yang hanya bisa terperangah di tempat.

“Apa yang kalian lakukan?!” tanyanya syok.

Oh, tidak.

.

.

.

Kami tertangkap basah.

“Ti..tidak, Sunny. Dengarkan aku, ini tidak seperti yang kau pikirkan! Aku—maksudku, kami hanya, err.., kami hanya sedang berbagi! Ya, berbagi kalsium! Ini cara baru untuk mentransfer kalsium, kau tidak tahu?! Benar begitu, ‘kan, Sehun?! Hei, katakan sesuatu, Sehun-ah!” desakku padanya.

Sehun bergeming dengan pandangan matanya yang masih lurus menatap Sunny.

“Mentransfer.. kalsium?” tanya Sunny heran.

“Be..benar! Cepat katakan sesuatu, bodoh! Jangan buat Sunny salah paham!” seruku kesal. Rasanya aku ingin sekali menggunduli pemuda yang masih berada di atas tubuhku ini karena terus-menerus diam dan terkesan tak peduli.

“Aku sedang menikmati susu. Tolong jangan mengganggu. Terima kasih.” balas Sehun datar.

Aku syok. Begitu juga dengan Sunny. Kantung plastik berisi obat-obatan yang dipegang gadis itu seketika jatuh ke lantai.

“Me..menikmati.. susu?” Sunny melotot.

OH.

SEHUN.

IDIOT.

fin

YA ALLAH SETELAH LIMA (APA ENAM SAYA LUPA) BULAN HIATUS DAN KERJAANNYA CUMA NGE-POST FF ORANG AKHIRNYA BISA NGE-POST FF SENDIRI DAN SEKALINYA KAMBEK MALAH BAWA FF MACAM GINI LOL AMPUNI SAYA OTL

Tbvh, karena udah lama gak nulis, jadi pas sekalinya coba nulis lagi, aku ngerasa kaku. Entah harus mulai dari mana dan menyusun diksinya gimana pun aku bingung. Tapi insya Allah mulai dari sekarang aku akan coba latihan lagi. 

Kabar baik buat yang nungguin Team XOXO, ff itu akan saya lanjutkan dalam waktu dekat ini. Kabar buruknya, harus nunggu saya selesai uas dulu mengingat ini aja bisa nulis lagi karena lagi minggu tenang, doain ditjao dapet ipk bagus ya /sobbing.

Oh ya, ff ini inspired dari manga apa gitu, lupa. Pokoknya pas jaman aku SD. Yang jelas tipe-tipe shoujo manga alias serial cantik. Maklum aja, aku suka baca komik model begitu jadi jangan heran kalau ff yang aku buat kebanyakan berkesan fluffy dan menye-menye hehe.

Dan, makasih buat Juo yang namanya udah aku nistakan di sini hehehehehe seharusnya aku bikin yang cast-nya tao, ya. Tapi karena inspirasinya emang dari sehun, jadi aku buat cast-nya juga sehun hehe maafin ya juo 😳

Terakhir, saya akan sangat senang kalau kalian berkenan meninggalkan komentar. Anyway, terima kasih sudah mau menyempatkan diri untuk membaca :mrgreen:

223 responses to “20Ca

  1. Pingback: How To Love | FFindo·

    • Halo, inhan. Tolong abaikan saja dialog di akhir cerita ya hehe aku baik kok, kamu? Anyway, terima kasih sudah mau menyempatkan diri untuk membaca :mrgreen:

      • Hi hehehe
        Aku ngakak itu baca dialognya huahahaha
        Ya , sama aku juga baik XD
        Ne sama-sama , ehm…. Kapan Cinderella Next Doornya dilanjut chapt 3 ???

        • Team XOXO lagi dilanjut, aku belum bisa ngejanjiin kapan tapi memang ada niatan buat posting lanjutannya dalam waktu dekat ini hehe berhubung lagi liburan jadi memang diusahakan untuk menyelesaikan hutang, ditunggu aja ya. Makasih banyak, inhan 🙂

  2. –ehm,
    HAHAHAHA~ YA AMPUN! NGOMONG APA KAMU NAK? MENIKMATI SUSU KATANYA? ish, bener-bener! *jewer kuping sehun*
    btw, ini endingnya ngegantung._. karena.. SEHUN JADIAN GA SAMA NARA? Aahh, aku kepo!! >_<
    uh, maafkan tulisanku yang besar kecil kaya anak alay gini yaa thor ;_; maklum, keyboard-nya abis ketiban botol susu._. wkwk XD
    lope lope lah sama nih ff ❤

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s