Bloody Camp [Act 5]

20130516_exo_xoxo

“Could You Kill Your Best Friend?”

-Dapatkah kau membunuh sahabatmu sendiri ?-

ACT 1 | ACT 2 | ACT 3 | ACT 4 | ACT 5

Title : Bloody Camp

Author : Fruidsallad

Main Cast: Exo Members

Other Cast : Taecyeon (2PM), Yuri (SNSD), Donghae (Super Junior),

Genre: Drama, Friendship, Brothership, Thriller,

Length : series

Rating : PG-17

Disclaimer: Cerita ini terinspirasi dari Battle Royale dan Hunger Games.

A/N: Haloo… Masih ingat dengan  cerita ini? Atau ada yang kangen sama authornya yang ganteng ? hehe. Udah ngilang seminggu nih :). Berharap semuanya masih suka dan baca  cerita ini hehe^^.   Happy reading my lovely reader!

[BLOODY CAMP]

~ Cerita Sebelumnya ~

“Kedua belas peserta Battle Royale tahun ini telah berkumpul.

Peseta Pertama, Suho.

Peserta Kedua, Xiumin.

Peserta Ketiga, Baekhyun.

Peserta Keempat, Chanyeol.

Peserta Kelima, Luhan.

Peserta Keenam, Sehun.

Peserta Ketujuh, Chen.

Peserta Kedelapan, Kai.

Peserta Kesembilan, Yixing.

Peserta Kesepuluh, Tao.

Peserta Kesebelas, Kris.

Peserta Keduabelas, Kyungsoo. “

~~~

[BLOODY CAMP]

Sebuah tempat di ujung Hwangjun – di sebuah pulau tak berpenghuni- , tampak ada bangunan seperti sebuah pangkalan militer. Setiap dinding dilapisi oleh besi dan baja seakan tak ada orang yang dapat menghancurkan tempat tersebut atau dalam artian lain, tidak ada orang yang bisa keluar dari sana.

Kedua belas murid SM High School kini mulai memasuki tempat tersebut. Dengan kedua pergelangan tangan yang masih diborgol dan masing-masing siswa ditemani beberapa tentara, mereka menatap tempat itu dengan tatapan asing.

“Tempat apa ini ?” tanya si lelaki bermata sipit yang sedari tadi sudah mencoba berontak, Xiumin.

“Apa yang akan kalian lakukan kepada kami ?”

“Jangan banyak bicara.” Ujar salah satu tentara yang berada di sampingnya.

Si lelaki nomor lima, hanya menatap kosong ke depan seperti tanpa arah. Ia hanya melangkahkan kakinya mengikuti langkah kaki para tentara yang bagai mengikatnya.

Bekas air mata yang mengalir di pipinya seakan tak mau hilang. Bibirnya kaku. Si lelaki nomor enam, yaitu seseorang yang sangat menyayangi si lelaki nomor lima, melihat punggung hyung nya itu dengan memiringkan alisnya,

“Ada apa dengan Luhan hyung?” batinnya.

Kemudian si lelaki nomor enam menolehkan wajahnya ke arah seorang tentara yang ada disampingnya, ia menunjukkan tatapan tajam seakan ingin membunuh tentara itu. Tentara tersebut sepertinya terkena “sengatan” listrik mata Sehun – si lelaki nomor enam-,  ia akhirnya menatap mata Sehun juga,

“Ada apa, hah?” Dia membulatkan kedua bola matanya seakan mau keluar. Akankah tentara itu ingin membuat Sehun ketakutan ? Entahlah.

Namun Sehun tidak merespon apa-apa. Tidak ada rasa takut yang keluar dari dirinya saat melihat tentara itu, diluar dugaan ia malah semakin membulatkan matanya layaknya mata tentara itu.

“Bisa kau jelaskan apa yang terjadi pada kami ?”

Si tentara hanya tertawa tipis dan kembali menoleh ke depan,

“Cih. Kau akan tahu nanti.”

Sehun ingin marah setelah mendengar balasan si tentara yang sama sekali tidak menyelesaikan masalah baginya. Tidak ingin berbuat masalah, Sehun pun lebih memilih bungkam dan diam serta berusaha sabar.

Ia kembali melihat ke arah punggung hyung sekamarnya itu. Lelaki termuda ini hanya khawatir dengan perubahan sifat hyungnya.

Di belakangnya tampak seorang lelaki yang juga sama seperti dirinya – dijaga oleh beberapa tentara menakutkan-.  Lelaki itu dari tadi terus berbicara dengan nada penuh rasa gusar,

“Hei kalian! Sampai kapan kami akan diborgol ? Aku mohon lepaskan!” tegasnya, namun para tentara yang ada disampingnya tiada yang meresponnya.

“Jangan pikir aku takut padamu! Kalian akan menyesal dengan perbuatan kalian saat ini.”

Lelaki bernama Chen tersebut sudah tidak dapat menahan amarahnya lagi. Wajahnya sudah memerah dan bergetar. Rasa penasaran telah menguasai seluruh benaknya. Karena sudah tidak kuat lagi,  ia pun membenturkan kepalanya sendiri ke salah satu tentara yang ada di sisi kanannya, begitu juga dengan tentara yang ada di sisi kirinya. Spontan karena merasakan rasa sakit yang begitu dalam,  para tentara itu langsung melepaskan genggamannya dari lengan Chen lalu memegang kepala mereka masing-masing,

“Aduh!”

Melihat adanya kesempatan untuk kabur, Chen pun menginjak kaki kedua tentara itu dengan semangat membara.  Setelah tentara-tentara tersebut lengah, Chen pun berlari dengan penuh senyum kemenangan. Kesebelas temannya yang lain hanya memandangnya dengan tatapan tidak percaya.

“Chen! Apa yang kau lakukan ?” Kai berteriak. Ia tidak mengerti apa yang ada didalam pikiran Chen saat ini.

Chen mencoba berlari untuk menjauh dari tempat itu. Walaupun sebenarnya ia tidak tahu mau kemana, namun ia tetap berusaha untuk berlari.

Tampak seorang tentara memberikan perintah kepada para tentara yang lainnya untuk  mengejar Chen.

“Tangkap anak sialan itu!”

Tentara-tentara itu berlari dengan cepat untuk menangkap Chen. Mereka menyerbu Chen secara massal.Karena dirinya masih belum jauh,akhirnya Chen sudah tidak dapat lagi melangkah kemana-mana. Di setiap sisi sudah ada beberapa tentara yang bersiap untuk menyergapnya.

“Kurang ajar kau!”

BUGH…

Salah seorang tentara memukul pipi Chen.

BUGH…

Diikuti oleh pukulan kedua.

BUGH…

Dan pukulan ketiga.

Kai yang melihat teman sekamarnya dipukul dengan mata kepalanya sendiri menjadi histeris,

“Chen!!!! Apa yang kalian lakukan, gila!!!” Kai berusaha untuk berontak agar menolong teman yang sangat disayanginya itu, namun usahanya selalu gagal karena kedua lengannya sudah dikunci dengan para tentara yang ada disampingnya.

BUGH…

Bunyi pukulan terdengar berulang kali. Wajah Chen sudah mulai membengkak dan biru.

“Aarrgghh…” Tak terasa air mata Kai mengalir,

Chen terus dipukuli. Wajahnya, lengan, perut, dan kakinya ditendang.

Teman-temannya yang lainnya hanya syok dan terdiam membeku. Tidak percaya dengan apa yang ada di depan mata mereka saat ini.

BUGH…

“Tidak!! Ku mohon, hentikan!! Jangan sakiti Chen lagi!” Kyungsoo yang berada di baris paling belakang akhirnya ikut berteriak. Sama seperti Kai, akhirnya ia ikut menangis.

BUGH…

Tampak Chen sudah mulai sulit bernapas,

“Berhenti!!” Lengkingan suara Kyungsoo kali ini menggema begitu kuat.

Seluruh tentara yang menghakimi Chen langsung menatap Kyungsoo intens. Mereka akhirnya berhenti memukuli Chen. Tampak Chen melemas.

Salah satu diantara para tentara itu mendekati Kyungsoo,

“Kalau kami tidak ingin berhenti, apa yang akan kau lakukan  wahai anak kecil  ?” tanyanya sinis.

Kyungsoo hanya terdiam tak bisa berkata apa-apa. Ia begitu takut dengan tentara yang tengah berdiri di depannya itu.

“Kalian sampah!” tiba-tiba terdengar suara dari mulut Yixing, ia melirik ke arah seorang tentara yang mendekati Kyungsoo itu , “apa kami didatangkan kesini untuk menjadi bahan pemukulan kalian ? Hanya itu ? Betapa tidak terhormatnya kalian, memukuli anak kecil.Tidak malu memukuli anak kecil ?”

Gaya bicara Yixing ketika berkata ‘anak kecil’ mengikuti cara bicara tentara yang bertanya pada Kyungsoo. Sedangkan tentara itu akhirnya tersentak setelah mendengar perkataan Yixing. Pernyataan itu seakan menusuk jantungnya. Begitu juga dengan para tentara yang lain.

“Betapa tidak terhormatnya kalian, memukuli anak kecil.Tidak malu memukuli anak kecil ?”

Perkataan Yixing terulang sekali lagi di benak mereka. Tentara yang tadinya mendekati Kyungsoo, akhirnya beralih menuju Yixing,

“Kau benar. Siapa namamu ?”

“Yixing.”

Si tentara itu tersenyum sinis,

“Aku menjagokanmu, Yixing. Mulutmu tajam.”

Yixing yang tidak mengerti dengan perkataan si tentara hanya bisa memiringkan sedikit kepalanya sebagai pertanda bahwa ia tidak paham. Namun si tentara malah berjalan menjauh dari Yixing,

“Perhatian untuk kalian semua,” sahut si tentara sambil menunjuk Chen dengan jari telunjuknya,”Jika kalian ada yang mencoba kabur lagi, kalian akan bernasib sama seperti dirinya, mengerti?”

Melihat Chen yang sedang duduk tersungkur babak belur, kesebelas murid SM High School yang lainnya hanya terdiam dan tidak ada yang menjawab sahutan si tentara. Kecuali Kai dan Kyungsoo yang menangis melihat keadaan Chen sekarang. Chen adalah salah satu teman terdekat mereka. Bagaimana mungkin mereka tidak menangis ?

Secara paksa, Chen diharuskan berdiri oleh para tentara. Dengan penuh teriakan kesakitan, Chen diharuskan berbaris lagi di posisi awal- tentunya dengan didampingi tentara.

“Jangan terjadi apa-apa sebelum para murid ini bertemu dengan Tuan Kepala Sekolah,” bisik salah satu tentara ke tentara lainnya yang mengunci lengan Chen.

~~~

Di sebuah ruangan seperti pangkalan militer itu, terdapat beberapa layar kecil yang tersusun rapi di salah satu sudut dinding. Lewat CCTV, setiap layar memperlihatkan situasi dan kondisi di setiap ruangan yang ada di pangkalan militer tersebut.  Ruangan ini adalah ruangan yang mengawasi seluruh kegiatan yang ada di tempat ini. Disana, tampak seorang lelaki paruh baya sedang menatap salah satu layar yang memperlihatkan salah satu peserta yang mencoba melarikan diri dari para tentara.

Lelaki paruh baya tersebut hanya tersenyum sinis,

“Beraninya dia mencoba untuk melarikan diri. Rasakanlah pukulan itu.”

Beberapa orang yang mendengar sahutan lelaki paruh baya itu hanya bisa terdiam kikuk.

BLAM…

Seorang wanita cantik masuk ke dalam ruangan itu, terlihat ia berjalan dengan sedikit tergesa-gesa,

“Mianhae, Tuan kepala sekolah. Saya terlambat.”

Si lelaki paruh baya yang dipanggil ‘Tuan Kepala Sekolah’ oleh wanita cantik tersebut, membalikkan badannya,

“Mengapa kau terlambat, Yuri songsaenim ?”

Yuri songsaenim– wanita cantik tadi- menggigit bibir bawahnya,

“Mianhae, Tuan Kepala Sekolah. Tidak kusangka di dalam bus ada sedikit insiden yang disebabkan oleh para murid.”

“Apa yang terjadi padamu ?” tanya Tuan Kepala Sekolah sekali lagi.

“Aku dihina dan dikerjai oleh mereka. Aku yakin mereka adalah peserta yang paling berulah diantara tiga angkatan sebelumnya.”

Di belakang Yuri songsaenim – lebih tepatnya disamping pintu- tampak seorang pria yang tertawa tipis setelah mendengar pernyata wanita cantik itu,

“Donghae songsaenim, mengapa kau tertawa ?” Yuri songsaenim sedikit naik darah karena merasa dialah yang menjadi objek tertawaan pria tersebut.

Donghae songsaenim melepaskan kacamata yang sedang digunakannya lalu memasukkannya ke dalam salah satu saku di jas lab nya yang berwarna putih.

“Aku tertawa karena berpikir bahwa kau sama sekali tidak mempunyai wibawa di depan mereka, sehingga dengan seenak hati, para murid tersebut bisa menghina dan mengerjaimu. Haha..”

Bagai jarum, pernyataan Donghae songsaenim seakan menusuk jantung Yuri songsaenim. Wanita itu menatap lelaki yang bersandar di samping pintu itu dengant tatapan tajam,

“Oh ya? Terima kasih atas ucapan yang kuanggap pujian untukku itu,” Yuri songsaenim melanjutkan perkataannya,”Aku tidak seperti kau yang bermuka dua. Berusaha menjadi seorang songsaenim yang lugu, culun, dan seakan tidak tahu apa-apa di sekolah. Namun kenyataannya kau adalah seorang lelaki bejat yang tidak segan-segan membunuh orang demi kepentinganmu sendiri.”

Donghae songsaenim menghela napas lalu menatap Yuri songsaenim nakal,

“Haha. Kau tahu banyak tentangku ya. Tak kusangka aku mempunyai seorang penggemar.”

Kedua bola mata Yuri songsaenim membulat sempurna setelah mendengar pernyataan Donghae songsaenim yang begitu percaya diri,

“Terserah kau mau bicara apa.”

Yuri songsaenim pun kembali melirik ke arah Tuan Kepala Sekolah,

“Apa yang bisa saya lakukan saat ini , Tuan? “

Tuan Kepala Sekolah hanya menggelengkan kepala. Tiba-tiba seorang songsaenim berbadan tegap masuk ke dalam ruangan itu. Tampak wajahnya begitu dingin,

“Tuan Kepala Sekolah, mereka semua telah berkumpul di ruangan 301.”

Tuan Kepala Sekolah menatapnya tajam dan lalu menoleh ke salah satu layar kecil. Disana tampak kedua belas murid SM High School yang telah menjadi “peserta” tengah duduk di kursi dengan pergelangan tangan masih diborgol. Kemudian lelaki paruh baya itu kembali menoleh ke arah songsaenim berbadan tegap itu,

“Terima kasih informasinya, Taecyeon songsaenim.”

Yuri songsaenim menatap lelaki berbadan tegap itu dengan pandangan merendahkan,

“Wah…wah… tak kusangka kau masih mau berada disini. Ku pikir, karena Sooyoung songsaenim yang sangat kau cintai itu sudah mati, kau akan pergi juga dan tidak akan menginjakkan kaki disini lagi.”

Si pria berbadan tegap bernama Taecyeon itu hanya memandang Yuri songsaenim dengan tatapan membunuh,

“Aku menunggu kenyaataan dari pernyataanmu sebelumnya, Yuri songsaenim.”

Wanita itu hanya mengerutkan dahinya,

“Apa? Memangnya apa yang aku katakan sebelumnya ?”

“Kau bilang bahwa di pulau ini mereka akan bertemu dengan Sooyoung songsaenim lagi. Aku akan menagih janjimu itu.”

Yuri songsaenim tampak kebingungan,

“Ah… It…itu, kau kan sudah tahu aku hanya berbohong.”

“Kalau kau hendak berbohong, gunakan juga otakmu.” Taecyeon songsaenim kembali melanjutkan ucapannya,”Kalau kau tidak bisa memperlihatkan Sooyoung songsaenim, kau akan ku habisi.”

Perkataan terakhir Taecyeon songsaenim seakan membuat Yuri songsaenim terhenyak.

“Saya akan menemui mereka dulu, Tuan. Permisi.”

Taecyeon songsaenim membungkukkan badannya sedikit kepada Tuan Kepala Sekolah lalu pergi dari ruangan tersebut.

Bagaimana ini ? Batin Yuri songsaenim.

Tuan Kepala Sekolah dan Donghae songsaenim dapat menangkap kegelisahan yang sedang dirasakan Yuri songsaenim.

“Jangan khawatir, Yuri songsaenim.” Ujar Tuan Kepala Sekolah.

“Kami telah mempersiapkan semuanya. Termasuk masalah Sooyoung songsaenim.” Lanjut Donghae songsaenim sinis.

Yuri songsaenim hanya terdiam.

~~~

Kyungsoo POV

Di lorong, tampak kami akan melewati sebuah ruangan bertuliskan 301.

Tidak berusaha melawan, aku mencoba untuk mengikuti apapun yang dilakukan para tentara. Selama belum ada yang membahayakan nyawaku.

Aku menoleh ke arah Chen, tampak wajahnya sudah begitu babak belur.

Benar saja, kami masuk ke dalam ruangan 301 itu, dan disana tampak beberapa tentara sedang berdiri menunggu kedatangan kami dan di tengah –tengah ruangan tersebut, terdapat dua belas kursi berjejer ke samping dengan rapi.

“Ayo cepat!”

Salah satu tentara lansung menarik lenganku dengan kasar dan membuatku terduduk di salah satu kursi tersebut. Aku menduduki kursi yang berada paling ujung di sebelah kiri.  Disamping ku, tampak Yixing hyung duduk dengan ekspresi wajah penuh rasa gusar.

“Apa-apaan mereka ini!”  terdengar keluhan dari seseorang yang di samping Yixing hyung – Baekhyun. Ia terlihat sedang mencoba melepaskan borgol yang mengunci pergelangan tangannya, tapi tetap tak bisa.

“Sabar Baekhyun.”  Yixing hyung mencoba menenangkannya.

Aku melihat ke arah teman-temanku yang lain, mereka tampak gusar dan tidak ada yang bisa tenang. Kecuali Kris, Luhan hyung dan Chen. Kris hanya menatap apa yang ada di depan matanya. Sedangkan Chen yang duduk di posisi paling ujung sebelah kanan hanya terdiam karena merasa sakit dari kondisi tubuhnya yang babak belur.

Kai yang berada di samping Chen selalu melihat ke arah teman sekamarnya itu,

“Kau tidak apa-apa kan, Chen ?” Kai tampak khawatir.

Chen hanya menjawabnya dengan anggukan. Namun ia masih menutup matanya seakan mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri.

Di lain pihak , Luhan hyung hanya memancarkan pandangan kosong.  Aku tidak tahu kemana arah pandangan Luhan hyung. Tampak bekas air mata mengalir di samping pipinya.

Luhan hyung begitu syok ? batinku.

Aku melirik ke arah Tao. Anak itu berbeda dari biasanya. Mengapa tiba-tiba ia terlihat menggigil ketakutan ? Bukankah dia bersikap dingin seperti rekannya yang bernama Kris itu ?

“Ayo semuanya duduk yang rapi! Jangan ada yang membangkang!” sahut salah satu tentara yang berdiri tepat di depan kami.

“Sialan!” Xiumin hyung kembali berulah dengan teriakannya, tiba-tiba perutnya langsung dipukul oleh seorang tentara yang berada di depannya.

Akhirnya, para tentara yang tadinya berada di depan kami berjalan lalu berdiri tepat di belakang kursi kami masing-masing. Sehingga kami tidak bisa melihat apa yang mereka lakukan.

CKLEK…

Tiba-tiba di leher kami telah terpasang sebuah kalung yang sedikit tebal seperti selang air. Kalung ini berwarna silver seperti sebuah aluminium. Ditengah-tengahnya terdapat lingkaran berwarna merah seperti darah.

Kalung apa ini ? batinku.

Mengapa para tentara memasangkan kalung ini di leher kami ?

“Hei, kalung apa ini ?” tanya Xiumin penasaran, ia mencoba memegang kalung itu tetapi cukup sulit. Karena pergelangan tangannya masih diborgol.

“Hei jelaskan ini kepada kami!” sahut Baekhyun.

Aku kembali diselimuti rasa bingung. Mengapa kami masih diborgol dan tiba-tiba diberikan kalung seperti ini?

Tiba-tiba masuk tiga orang lelaki dan seorang wanita dari balik pintu. Di belakang mereka ada beberapa tentara yang mengikuti.

Kedua bola mataku membulat sempurna.

Aku tahu siapa mereka.

Dan aku kenal siapa mereka.

Mereka kan-

“Tuan Kepala Sekolah!” teriak beberapa temanku dengan begitu syok,

“Yuri songsaenim!”

“Taecyeon songsaenim!”

Dan yang membuat ku cukup kaget adalah salah satu lelaki lainnya yang aku kenal juga sebagai salah satu songsaenim yang mengajarkanku banyak hal di sekolah. Namun penampilannya berubah seratus delapan puluh derajat.  Ia tidak menggunakan kacamata lagi.

“Dong…Donghae songsaenim ?” ujarku pelan. Donghae songsaenim hanya tersenyum ke arahku.

Tuan Kepala sekolah berdiri di depan kami. Dibelakangnya berdiri secara berjejeran Taecyeon songsaenim, Yuri songsaenim, dan Donghae songsaenim.

“Hei, Tuan Kepala Sekolah! Jelaskan apa yang sebenarnya terjadi kepada kami!” teriak Xiumin hyung lagi.

“Aku mohon tolong jelaskan.” Suho hyung akhirnya angkat bicara.

“Aku bisa mati penasaran kalau seperti ini!” Baekhyun menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Jelaskan kepada kami!” ujar Kai.

“Jelaskan sekarang juga!!!!” teriak Tao. Kami semua terdiam setelah mendengar teriakan Tao. Tidak biasanya ia seperti ini.

Aku hanya menatap empat orang yang berada di depanku ini dengan penuh rasa penasaran.

“Selamat datang, wahai anak-anakku!”

Suara Tuan Kepala Sekolah menggema di ruangan ini.

“Selamat datang di kehidupan yang sesungguhnya!”

Apa ?

Apa maksud ucapannya?

“Apa maksudmu ? Katakan saja ke intinya langsung!” sahut Xiumin hyung gusar.

“Kau bisa diam, Xiumin?” Tuan Kepala Sekolah menatap Xiumin hyung tajam. Xiumin hyung pun kembali terdiam.

“Inilah kehidupan kalian yang sesungguhnya.” Tuan Kepala Sekolah tampak berjalan mendekat ke arahku.

“Kalian tahu kenapa kalian kami berikan pelatihan mengenai kepribadian, bela diri, menembak, memanah, dan yang lainnya ?”

Tuan Kepala Sekolah bertanya sambil melihat ke arahku. Seakan pertanyaan itu hanya diarahkan untukku. Aku hanya menggelengkan kepala dengan ragu.

Kemudian Tuan Kepala Sekolah beralih dan berjalan menuju Yixing hyung,

“Kalian tahu mengapa kami memasukkan kalian ke sekolah kami tanpa tes dan bisa hidup enak disana?”

Yixing hyung hanya diam saja. Lelaki paruh baya itu kembali berjalan ke arah temanku yang lainnya. Ternyata ia berjalan mendekati kami satu per satu.

“Kalian tahu mengapa kami mengambil kalian dari penjara dan memasukkan kalian ke sekolah kami untuk dibina?”

“Kalian tahu mengapa kami tidak meminta bayaran dari kalian?”

Tuan Kepala Sekolah menghentikan langkahnya,

“Jawabannya adalah hari ini.”

Apa ?

Aku semakin tidak mengerti.

“Kalian tahu ? Kalian pasti berpikir bahwa kalian masuk ke sekolah kami untuk direhabilitasi. Disayang, dibina, dan dikasih apapun yang kalian minta, itu yang dinamakan rehabilitasi? Tidak.. Untuk sebuah rehabilitasi, itu terlalu manja.”

Tuan Kepala Sekolah menatap kami satu per satu secara intens,

“Ya, kami memanjakan kalian hingga hari ini.”

“Aku tidak mengerti maksud, Tuan.” Suho kembali berbicara.

“Wah…wah… si peringkat pertama tidak tahu apa arti dari ucapanku.” Tuan Kepala Sekolah melirik Suho tajam,

“Kau masih ingatkan tentang masa lalumu?”

DEG…

Suho hyung langsung pucat.

“Kalian semua masih ingatkan dengan masa lalu kalian masing-masing ?”

DEG…

Aliran darah di tubuhku mengalir cepat dan begitu juga dengan detak jantungku.

Aku ingat.

Aku ingat apa yang membuatku masuk ke sekolah ini.

“Pembunuh!”

“Pembunuh!”

“Hei kau pembunuh sialan!”

Seruan-seruan itu kembali menggema dibenakku. Aku menggeleng-gelengkan kepala sebagai upaya untuk menghilangkan seruan-seruan tersebut.

“Kalian itu hanya sampah masyarakat. Kalian masih kecil namun sudah berani berbuat kriminal. Dimana otak kalian?”

Yuri songsaenim melihat ke arah Tuan Kepala Sekolah yang dari tadi sedang berbicara,

“Untuk itulah, hari ini adalah hari pembalasan kalian.”

“Hari pembalasan ?” Mata Kai membulat sempurna.

“Ya. Hari ini adalah hari yang harus kalian jalani sebagai balasan atas apa yang kalian lakukan di masa lalu.”

“Ta…tapi…  Bukankah kami dimasukkan ke sekolah kalian agar kami bisa beru…bah menjadi seseorang yang lebih baik ?” Baekhyun bertanya dengan rasa ketakutan.

“Baekhyun, yang namanya manusia bisa kembali mengulangi apa yang diperbuatnya di masa lalu. Sehingga kami tidak bisa memaafkan kalian. Kehidupan kalan di sekolah kemarin hanyalah untuk persiapan kalian menghadapi hari ini.”

Tiba-tiba Tuan Kepala Sekolah menunjuk ke arah layar besar yang ada di salah satu dinding di ruangan ini.

“Coba kalian lihat!”

Tampak di layar tersebut foto seorang wanita cantik yang tengah tersenyum tulus. Wajahnya seakan begitu bersinar dan memberikan kesejukan bagi siapapun yang melihatnya.

“Sooyoung songsaenim?” ujar Sehun.

Benar, wanita yang menjadi objek di foto tersebut adalah Sooyoung songsaenim.

Aku begitu rindu dirinya.

Dimana dia ?

Bukankah dia ada disini ?

“Dimana Sooyoung songsaenim ? Dia ada di pulau ini juga, kan?” tanya Kai.

“Aku tidak melihatnya dari tadi.” Sahut Chanyeol.

Tampak Taecyeon songsaenim tidak mau melihat layar tersebut. Pandanganya hanya lurus ke depan, tidak mau menghadap ke layar.

“Taecyeon songsaenim, ini adalah wajah wanita yang ingin kau lihat disini kan? Ayo lihat layar ini!” ajak Tuan Kepala Sekolah. Taecyeon songsaenim akhirnya mau melihat layar. Tampak wajah seorang wanita yang begitu cantik – sedang tersenyum- bagaikan malaikat. Air mata songsaenim berbadan tegap itu tiba-tiba mengalir. Mengapa ?

“Kalian tahu dia , kan ? Ya. Dia adalah Sooyoung songsaenim. Dia adalah wanita yang mencoba untuk membela kalian agar kalian tidak  perlu menghadapi apa yang akan kalian rasakan hari ini nantinya. Dia berusaha meyakinkanku bahwa kalian sudah berubah.”

Kami semua menatap layar tersebut, tiba-tiba gambar di layar tersebut berubah menjadi foto seorang wanita tengah terbujur kaku dengan banyak darah di sekitar baju yang tengah dikenakannya.

Wajah wanita itu tampak dengan jelas. Kedua matanya tertutup. Aku kenal dengan wanita tersebut.

Sangat kenal.

“Sooyoung songsaenim!!” teriak beberapa dari kami secara bersamaan,

“Tidak mungkin, wanita itu pasti bukan dia!” Chanyeol tampak frustasi.

“Apa yang terjadi pada Sooyoung songsaenim? Huaaa…” Baekhyun kembali menangis.

Sooyoung sonsaenim…

Mengapa…

Apa yang terjadi padamu…

Itu bukan tubuhmu , kan…

Songsaenim…

Songsae-

Air mataku mengalir.

Teringat saat Sooyoung songsaenim mengajariku dengan penuh senyum tulus.

Teringat saat Sooyoung songsaenim mau mendengarkan keluh kesal kami selama di sekolah.

Teringat saat Sooyoung songsaenim yang selalu perhatian dengan kami.

Tidak!!

Sooyoung songsaenim masih hidup….

Foto ini palsu, kan ?

Songsae-

Taecyeon songsaenim yang melihat foto tersebut langsung pingsan. Beberapa tentara mengangkat tubuhnya yang berat itu keluar ruangan.

“Dia adalah orang yang mencoba menolong kalian. Ia percaya bahwa kalian sudah berubah dan tidak akan mengulangi perbuatan kalian di masa lalu. Karena dia mencoba berontak dari program pemerintah, maka wanita cantik ini harus kami singkirkan.”

DEG…

Apa maksudnya?

“Apa maksud anda dengan kata singkirkan , hah?” Xiumin tampak begitu marah.

“Dia sudah kami singkirkan agar tidak menggangu rencana pemerintah.”

“Jadi, maksud dari kata singkirkan adalah ‘membunuh’?”  mata Kai membulat sempurna.

“Bisa dibilang begitu.”

DEG…

Seakan tersambar petir, mendengar Sooyoung songsaenim yang dibunuh oleh mereka membuat hatiku seakan teriris-iris.

“Kenapa… Kenapa… kenapa songsaenim sebaik dirinya harus kalian bunuh?” tiba-tiba pertanyaan itu keluar dari mulutku.

“Kalian gila! Kalian tidak punya hati!” Kai menangis sejadi-jadinya.

“Sooyoung songsaenim! Tidak mungkin!” Tampak Chanyeol menarik rambutnya sendiri walaupun kondisi pergelangan tangannya masih diborgol.

“Apa kalian manusia ? Seenaknya saja membunuh orang! Aku pikir kalian binatang!” Xiumin hyung mengatakannya dengan mata yang membulat sempurna.

DOR!

Tuan Kepala Sekolah menembakkan pistolnya ke arah  kaki Xiumin hyung namun tidak mengenainya. Sepertinya lelaki paruh baya ini sengaja melesetkan arah pelurunya.

“Sekali lagi kau berbicara kurang ajar, kau akan bernasib sama dengan songsaenim kesayanganmu itu!”

Xiumin hyung pun kini mulai pucat. Ia tidak menyangka bahwa dia akan ditembak seperti tadi.

“Maaf, Tuan.” Suho  hyung kembali berbicara,” apa maksud dari Sooyoung songsaenim yang memberontak dari program pemerintah ? Program pemerintah apa itu?”

Pertanyaan Suho hyung merasuki benakku. Benar juga, program pemerintah apa yang membuat mereka tega membunuh Sooyoung songsaenim.

“Apa kalian tidak tahu ? Oh ia, aku lupa. Selama di sekolah, kalian memang tidak diperbolehkan menonton televisi. Program pemerintah itu dinamakan Battle Royale.”

Chanyeol tersenyum tipis,

“Sudah kuduga.”

Tuan Kepala Sekolah menatap ke arah Chanyeol,

“Apa yang kau duga , Chanyeol?”

“Setelah melihat bus yang kami naiki, para tentara, dan banyaknya orang yang menunggu kami di jembatan tadi. Ini sama seperti acara yang sering ku tonton tiga tahun lalu. Acara ini terkenal di seluruh Korea dan disiarkan di televisi. Acara tersebut dinamakan Battle Royale. Tak kusangka acara itu adalah program pemerintah.”

“Wah… kau pintar sekali , Chanyeol.  Apa kau masih ingat apa yang terjadi di acara itu?”

Chanyeol berusaha berpikir,

“Acara tersebut kalau tidak salah-”

DEG…

Chanyeol tersentak, padahal dia belum melanjutkan perkataanya,

“Mengapa Chanyeol?” tanya Tuan Kepala Sekolah.

“A… acara sa…saling membu…nuh satu sa…ma lain.” Ujar Chanyeol dengan terbata-bata.

“Apanya yang membunuh satu sama lain ?” Yixing hyung penasaran. Memang benar, dia tidak tahu apa-apa karena dia berasal dari China.

Aku samar-samar ingat acara itu.

Acara yang ditonton oleh orang tua ku setiap jam dua belas malam. Dari balik pintu kamar, aku mengintip mereka yang sedang menonton acara tersebut. Aku hanya tahu  acara tersebut penuh dengan teriakan.

“Apa acara itu nyata ?” Chanyeol kembali bertanya dan terlihat frustasi.

“Ya. Acara itu asli, tanpa akting dan script.”

Chanyeol kembali menggelengkan kepalanya  berulang kali dengan kasar,

“Ti…tidak mungkin. Aku pikir acaranya hanya akting dan tidak benar-benar nyata.”

“Acara apa itu, Chanyeol ?” ujar Yixing hyung.

“Acara dimana para pesertanya harus membunuh satu sama lain hingga tersisa satu orang.”

DEG…

Apa ?

“A..Aku ingat,  tiga tahun lalu pemenangnya adalah se…seorang bernama Cho Kyuhyun. Ia berhasil membunuh ke sebelas teman lainnya selama dua hari.”

DEG…

DEG…

DEG…

Benarkah ? batinku.

“Ya. Acara ini dibuat oleh Pemerintah Korea sebagai salah satu upaya mengurangi sampah masyarakat.” Sahut Tuan Kepala Sekolah.

Sampah Masyarakat ?

Jadi maksudnya mereka yang saling bunuh itu adalah ‘sampah masyarakat’ ?

“Tahun ini, kalianlah yang menjadi pemain dalam acara tersebut.”

DEG…

Apa ?

Tidak mungkin!

“Ka..kami harus saling bunuh ?” tanya Tao dengan penuh rasa ketakutan.

“Ya, benar. Hingga tersisa tiga orang sampai akhir.”

“Dasar gila! Ini tidak mungkin!” Tampak Xiumin hyung semakin frustasi. Suasana sudah semakin mencekam.

“Ya. Kalian harus saling membunuh di suatu tempat yang sudah kami sediakan.”

Gila!!!

Orang-orang disini benar-benar gila!

“Ini hanya kebohongan belaka, kan?” Kai tampak bingung,

“Ini tidak benar, kan?”

“Tidak. Ini adalah kenyataannya.”

Seperti terkena sambaran petir, aku hanya terdiam membeku. Tidak mungkin kami saling membunuh satu sama lain.

“Kalian harus saling membunuh hingga tersisa tiga orang hingga akhir.”

Chanyeol menatap Tuan Kepala Sekolah dengan tajam,

“Namun mengapa tahun lalu hanya satu orang saja yang selamat ?”

“Tahun ini spesial dan kami berikan pengecualian. Kau mau tetap satu orang saja yang bertahan  hingga akhir ?”

DEG…

Aku tidak mau hanya satu mau pun tiga orang. Aku ingin semunya yang selamat!

“Bila kami tidak ingin saling bunuh, apa yang akan terjadi ?” tiba-tiba Luhan hyung angkat bicara, namun pandangan matanya masih tetap saja kosong. Sedangkan Sehun menatap hyung yang disayanginya itu dengan tatapan iba,

“Hyung…”

Tuan Kepala Sekolah mendekati Luhan hyung,

“Jika kalian tidak saling bunuh dalam waktu dua hari,” Tuan Kepala Sekolah melanjutkan ucapannya sambil memegang kalung yang melingkari leher Luhan hyung, “Didalam kalung ini ada sebuah pisau kecil. Apabila melewati batas waktu dua hari seperti yang ku katakan tadi, pisau lipat ini akan keluar dengan sendirinya dan langsung menembus leher kalian.”

“Apa?” ujar Sehun seakan tidak percaya.

Walaupun Tuan kepala Sekolah sudah sedekat itu dengan Luhan hyung, namun lelaki berdarah China ini tetap memberikan tatapan mata yang kosong, seakan tidak peduli dengan ucapan lelaki paruh  baya itu.

Di dalam Kalung ini ada pisau kecil ?

Oh Tuhan.

Mengapa ini terjadi kepada kami?

“Tidak mungkin! Tolong ampuni kami!” Baekhyun menangis dengan tatapan penuh belas kasihan.

Tuan Kepala Sekolah berjalan menjauhi mereka dan mendekat ke arah layar besar.

“Welcome to Battle Royale.”

Para tentara dan beberapa songsaenim yang ada di depan kami bertepuk tangan.

Apa mereka semua gila ?

“Yuri songsaenim katakan peraturannya.” Sahut Tuan Kepala Sekolah.

Yuri songsaenim  sedikit membungkukkan badannya ke arah Tuan Kepala Sekolah lalu mendekat ke arah kami.

“Baiklah saya akan menyampaikan peraturan Battle Royale angkatan keempat yang akan dilaksanakan tahun ini. Kalian harus menerimanya, mau atau tidak mau.”

Kami semua hanya menatap Yuri songsaenim dengan tajam,

“Sebelum saya menyampaikan peraturannya, saya akan menyampaikan inti dari acara ini, bahwa kalian harus membunuh satu sama lain hingga hanya tersisa tiga orang. Acara ini terdapat di salah satu stasiun televisi pemerintah dan akan disiarkan tengah malam.”

“Kalian semua gila.” Bisik Kai.

“Pertama, kalian hanya memiliki waktu dua hari untuk membunuh satu sama lain. Jika lebih dari dua hari, kalian semua akan mati karena kalung yang melilit di leher kalian akan mengeluarkan sebuah pisau kecil yang bisa menembus leher kalian.”

“Kedua, kalian akan dibagi menjadi beberapa kelompok yang didasari oleh urutan peringkat kalian ketika di sekolah kemarin.”

Apa?

Kami akan dibagi dalam beberapa kelompok ? Berdasarkan urutan peringkat ?

“Ini semua bohong.” Baekhyun mencoba menutup telinganya.

“Ketiga, kalian akan diberikan senjata untuk bertahan. Satu peserta mendapatan satu senjata. Tidak semua peserta mendapatkan senjata yang sama. Karena  kami menyediakan beberapa jenis senjata.”

Aku berharap semua ini hanya mimpi.
“Ada yang ingin ditanyakan?” tanya Yuri songsaenim.

“Apa ini semua benar-benar harus kami lakukan ?” Kai tiba-tiba bertanya secara spontan.

“Ya. Kalian harus melakukannya.”

BRUAGH…

Tampak seseorang bangkit lalu berdiri membelakangi kursinya yang terjatuh.

Dia adalah seseorang yang wajahnya penuh babak belur.

Ya, dia adalah Chen.

Wajahnya tampak begitu kesal. Tatapan matanya begitu tajam,

“Chen, kau mau apa?” tanya Kai yang berada disampingnya.

“Diam, Kai.” Chen menatap Kai dingin, kemudian ia berjalan menuju Tuan Kepala Sekolah, seorang tentara berusaha menariknya untuk kembali duduk,

“Biarkan saja anak itu.”  Sahut Tuan Kepala Sekolah.

Tentara yang hendak menarik Chen akhirnya menjauh darinya. Chen berjalan dengan langkah kaki terbata-bata dan sempoyongan,

“Apa kau pikir kami adalah tikus percobaan? Apa kau tidak punya hati nurani lagi, hah?”

Chen sudah semakin dekat dengan Tuan Kepala Sekolah. Kini ia tepat berada di hadapan lelaki paruh baya itu.

“Kami berharap setelah keluar dari sekolah, kami akan menjadi pribadi yang lebih baik. Memulai kehidupan baru, memulai hari baru, dan membuka lembaran yang baru. Bukankah itu yang kau katakan kepada kami, Tuan Kepala Sekolah!” Chen berteriak tepat di wajah Tuan Kepala Sekolah. Namun Tuan Kepala Sekolah hanya diam saja.

“Dasar Lelaki tua bangka!”

“Chen, apa yang kau kata-“ perkataan Kai terhenti saat melihat Chen yang menoleh ke arahnya,lalu Chen tersenyum tulus,

Tersenyum amat tulus.

 

DOR!!!

 

DOR!!!

 

DOR!!!

Terdengar bunyi tiga tembakan yang diarahkan Tuan Kepala Sekolah.  Tiga peluru itu bersarang di dada  Chen. Aku melihatnya dengan bola mataku sendiri. Tampak Yuri songsaenim dan Donghae songsaenim juga kaget setelah melihat tindakan lelaki paruh baya itu.

“Cih, Kau mengganggu.”

DEG…

DEG…

DEG…

Tampak darah bercucuran dari dada Chen.

“Chen!!!!” Kai berteriak histeris, ia berusaha mendekati tubuh Chen, namun dirinya dihalang oleh beberapa tentara yang berdiri di belakang kursinya.

“Jongdae!!!! Tidak!!” aku juga berteriak.  Aku mencoba untuk mendekatinya juga, namun tubuhku juga ditahan oleh tentara sialan ini.

“Tidak mungkin!!!!”

“Chen!!!”

“Jongdae!!!”

Arghhhh….”

Aku mendengar teriakan para teman-temanku yang lain.

Kai tampak menangis begitu kuat seperti orang gila yang juga histeris. Aku juga bisa merasakan apa yang dia rasakan. Sahabat yang begitu dekat dengan kami ditembak begitu saja seperti tak ada harganya.

Tidak…

Tidak mungkin…

Chen tidak mungkin mati…

Di depan mataku , ada tubuh Chen yang sudah terbujur kaku, matanya tertutup namun sama sekali tidak dalam keadaan damai.

“Chen!!!!!”

Aku menangis. Air mataku bercucuran. Teringat perkataan Chen padaku saat di kamar sebelum kami ke sini,

“Setiap hari orang selalu berkata bahwa Baekhyun adalah yang paling imut disini. Kadang aku ingin menjadi seperti dirinya. Setiap kali dia membuat suatu lelucon orang selalu tertawa lepas. Sedangkan aku? Setiap kali aku melucu, mereka hanya diam. Bahkan ada yang tertawa penuh paksaan.”

Aku menebak bahwa Chen sedang mengucapkan apa yang tersimpan di hatinya selama ini.

“Kau terlalu berlebihan,  Chen. Hal seperti itu saja kau pikirkan.”

“Habisnya aku kesal.”

“Kesal yang kau dapatkan itu hanyalah rasa kesal yang dibuat oleh pikiran negatif-mu sendiri. Kita akan segera berpisah. Tak baik kau berbicara seperti itu. Apalagi rasa iri mu terhadap Baekhyun itu.”

“Benar juga ya,” Chen bangkit dari duduknya dan langsung mendekat ke arahku, “Hanya kau dan Kai yang paling mengerti aku. Senang bisa berteman denganmu selama dua tahun terakhir ini.”

Aku melihat ke arahnya. Senyumnya begitu menawan dan tampak tulus.  Aku pun membalas perkataannya,

“Aku juga senang berteman dengan teman berselera aneh sepertimu!”

“Hanya kau dan Kai yang paling mengerti aku.”

Kalimat itu selalu terbayang di benakku. Air mata mengalir deras.

Aku melihat Chanyeol terlihat kembali frustasi.

“Tidak mungkin anak itu mati! Tidak mungkin!” Chanyeol menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kasar.

Apa maksudnya ?

Aku tidak mengerti dengan sikap Chanyeol. Lelaki ini menatap ke arah Baekhyun,

“Baekhyun, katakan apa yang kita lihat kemarin adalah sebuah mimpi atau tidak pernah terjadi.”

Baekhyun menoleh dan menatap Chanyeol. Lelaki yang mudah rapuh ini kembali menangis,

“Ak..aku tidak tahu Chanyeol… Aku juga tidak bisa mempercayai ini! Huaaa…”

“Apa-apaan kau ,Tuan Kepala Sekolah! Bangsat!” Kai semakin histeris. Teman sekamar yang ingin dilindunginya itu kini sudah tidak bernyawa lagi.

“Apa yang kalian lihat, Baekhyun, Chanyeol ?” Suho kembali penasaran. Matanya tak bisa beralih dari tubuh Chen.

“Ketika di laboratorium Komputer…” Chanyeol melanjutkan ceritanya,

FLASHBACK

Di ruang Laboratorium Komputer terlihat Chanyeol dan Baekhyun sedang serius memperhatikan layar monitor,

“Lagi pula aku browsing hanya sebentar kok.” Chanyeol meyakinkan teman di sampingnya itu.

“Jadi kau sudah tahu semua masa lalu siswa disini ?”

“Hampir semuanya. Dan aku terkejut dengan identitas salah satu siswa disini.”

Hah ? Identitas siapa?”

“Lihat sendiri.”

Chanyeol duduk sedikit bergeser agar Baekhyun dapat sedikit leluasa melihat layar monitornya. Mata Baekhyun membulat sempurna.

“Dia kan-“

“Chen ?”

“Ya, dia Chen. Coba kau lihat nama aslinya.”

Baekhyun pun melihat kearah biodata teman  yang dianggapnya aneh tersebut.

Disana tertera nama asli Chen adalah Lee Jongdae. Bukan Kim Jongdae.

“Apa-apaan ini! Berarti selama ini dia berbohong?” tanya Baekhyun,

“Ssstt. Bukan itu Baekhyun. Coba kau lihat siapa nama ayahnya!” sahut Chanyeol.

Baekhyun melihat siapa nama ayah Chen, dan ternyata disana tertulis,

“Lee Sooman?  Tuan Kepala Sekolah? Tidak mungkin!”

Chanyeol mengarahkan mouse komputer ke arah nama ayah Chen, dan terlihatlah foto seorang lelaki paruh baya yang tak lain adalah Kepala Sekolah mereka sendiri.
“Chen adalah anak dari Lee Sooman?” Baekhyun seakan tak percaya

“Jangan katakan ini pada siapapun! Kita bisa gawat nantinya.” Chanyeol meyakinkan Baekhyun.

FLASHBACK END

 

Setelah mendengar perkataan Chanyeol,  Tuan Kepala Sekolah menatap lelaki tersebut tajam,

“Ti…tidak mungkin…” aku tidak percaya dengan apa yang diceritakan Chanyeol.

“Katakan semua itu bohong!” Suho teriak seakan tidak yakin dengan apa yang Chanyeol katakan.

Baekhyun hanya menangis, ia kembali mengatakan sesuatu dengan nada bergetar,

“Tidak mungkin seorang ayah tega menembak dan membunuh anaknya sendiri.”

 ~~~

Tidak ada yang boleh melawan peraturan pemerintah. Walaupun darah dagingmu sendiri.

“Could You Kill Your Best Friend?”

~~~

Halo… kembali lagi? hehehe. Gimana chapter ini ? Cukup menegangkan ? atau cukup panjangnya ? hehehe #ditabok

Sekali lagi dimohon komen, kritik, saran, dan likenya.  Berharap bagi chingu chingu yang sehabis baca dapat memberikan komentar. Komentar sangat berarti untuk aku karena sebagai penyemangat untuk melanjutkan cerita ini hehehe :D. Aku sangat menghargai mereka yang mau memberikana komentar :D. Buat yang kritik, aku mohon kritik yang membangun yaa, biar epep ini semakin baik untuk kedepannya. Kira-kira ada yang bisa mengomentari dimana kekurangan epep ini, biar bisa aku perbaiki lagi untuk next chapternya hehe.

Jadi, kalau misalnya ceritanya tidak ingin lanjut, keep “silent” saja terus ya silent reader :D.

Oh ia gimana ujiannya ? rapornya bagus ga? udah mau libur kan ? Semoga yang juara kelas bisa cepet ketemu biasnya hahahaha.

Oh ia aku minta doanya, soalnya lagi kena diare, semoga aku cepat sembuh haha. Ga enak banget bolak-balik kamar mandi hahahaha #authorstres. Tapi udah lumayan sih hari ini.

Ada yang bisa menebak selanjutnya gimana ? main tebak-tebakkan lagi yok. Gimana selanjutnya nasib mereka ? dan bagaimana mengenai senjata dan kelompok yang akan mereka dapati ? JENG JENG JENG… #tawaevilkyu

Kalau mau komentar lewat twitter boleh juga , silahkan. monggo :D. @dalmahamas

Salam author ganteng, Fruidsallad.

152 responses to “Bloody Camp [Act 5]

  1. Pingback: Bloody Camp [Teaser Next Act 8] | FFindo·

  2. uh-,-… kesel bgt sma sooman.. dasar bapak durhaka–.. sejahat apapun chen ga harus kayak gitu.. jahat.. *nangisdipojokan

  3. uh-,-… kesel bgt sma sooman.. dasar bapak durhaka–.. sejahat apapun chen ga harus kayak gitu.. jahat..
    langsung baca part selanjutnya bye.. *nangisdipojokan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s