Who’s the Next? (Chapter 6)

Who's the Next 1

Title : Who’s the Next?

Author : Lathifah Sinarwulan a.k.a Summer Cho (@chosm96)

Main Casts : Jung Yunho, all EXO members

Other Casts : Lee Jinki, Krystal Jung, Yoon Sohee, Lee Jongsuk, Kim Woobin

Genre : family, friendship, siblings, school live, AU

Rating : PG13~

Length : Series

Disclaimer : all casts isn’t mine, but I own the plot and the fanfic so both of them is mine! So, don’t post it in other site without my permission.

Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5 | Chapter 6

Hehe, I’m back! ^^

Mian lama ngga post, baru beres UAS wkwk Habis itu sibuk dengan kegiatan sekolah lainnya, mianhae jeongmal mianhae /bow

Langsung aja ya, happy reading ^^

– Previous

“Sebenarnya apa yang sedang kau lakukan, Luhan-ssi?” tanya Sohee kesal. Kenapa Luhan seenaknya mengajak ia pergi dan mengganti seragamnya lalu mengajaknya pergi lagi?

“Kau akan tau nanti.” Jawab Luhan sambil tersenyum misterius membuat Sohee sedikit takut. Namun, ia berusaha menenangkan dirinya dan menanti Luhan menghentikan mobilnya disuatu tempat.

Ia tercengang ketika Luhan menghentikan mobilnya didepan gedung Sekolah Tinggi SM dan keluar. Tidak lama setelah itu, ia membukakan pintu untuk Sohee dan mengajak gadis itu keluar.

“Selamat datang, yeppeo…”

Gedung Sekolah Tinggi SM berdiri megah dihadapannya dan Luhan merangkul bahunya bangga.

# # # # #

Chapter 6 – Siblings?

“Sohee Noona?” mereka berdua menoleh ke sumber suara dibalik mereka. Kai memandang mereka dengan heran. “Apa yang kau lakukan disini?”

“Ah, Kai-ya…” Sohee terlihat gugup dan senyum Luhan memudar.

“Hyung, kau yang membawanya kemari? Untuk apa?”

“Bukan urusanmu, Kim Jongin.” Jawab Luhan santai. “Cepatlah masuk ke kelas, sebentar lagi bel masuk. Kau pergilah ke ruang guru dan mencari wali kelasmu disana. Annyeong!” Luhan meninggalkan Sohee dan Kai berjalan menuju gedung universitas.

“Noona pindah kemari?” tebak Kai. Ia memandang Sohee dari ujung kaki sampai ujung kepala. Sohee menghela nafas.

“Ne.”

“Wae? Karena permintaan Luhan Hyung?” tanyanya sambil tersenyum miris. “Kenapa giliran Luhan Hyung yang meminta kau langsung pindah? Tapi, ketika aku yang minta kau selalu menolak.”

“Bu–bukan begitu, Kai-ya… Tadi aku–“

“Cepat masuk kelas, Noona. Kau tidak mau telat dihari pertama kan?” Kai berjalan masuk ke gedung sekolah meninggalakan Sohee yang diam menatapnya.

# # # # #

Chanyeol mengerutkan kening melihat Krystal berdiri didepan pintu kelasnya. “Mencari siapa?”

“Baekhyun Oppa ada, Sunbae?” Chanyeol berdehem pelan.

“Hmm, dia sedang sibuk. Apa ada pesan? Sepertinya ia tidak bisa diganggu.” Jawabnya sambil memasang wajah serius. Krystal mendesah lalu memberikan sebungkus roti ditangannya pada Chanyeol.

“Aku janji pada Baekhyun Oppa mau memberikan roti dari toko roti didekat rumahku, ia mau mencobanya setelah kuceritakan. Bisa Sunbae berikan ini padanya?” Chanyeol menerima roti itu lalu tersenyum.

“Tentu saja! Sudah, kembalilah ke kelas. Aku akan memberikannya pada Baekhyun.” Seru Chanyeol. Krystal pun tersenyum dan berlalu meninggalkan kelas Chanyeol dan Baekhyun.

Ketika Chanyeol masuk dengan sebungkus roti ditangannya, Baekhyun yang sedang asyik mengerjakan soal langsung menoleh. “Apa itu?”

“Roti. Mau?” tanya Chanyeol sembari membuka bungkusan roti tersebut. Baekhyun pun menggeser kursinya mendekat.

“Dapat darimana?”

“Rahasia.” Chanyeol memasukkan potongan roti ke mulutnya. Iapun memberikan rotinya pada Baekhyun agar pria itu bisa memotong bagiannya juga.

“Mmm, mashita!” gumam Baekhyun sembari mengunyah. Tanpa sadar Chanyeol pun ikut tersenyum.

“Baekhyun-a…” panggilnya. Pria cantik itupun menoleh.

“Waeyo?”

“Kau…belum minta maaf pada Kris Hyung?” Baekhyun menurunkan tangannya lalu memandang ke arah lain.

“Untuk apa aku minta maaf? Bukan aku yang salah.” Jawabnya membuat Chanyeol menghela nafas. Ia menatap pria disampingnya itu.

“Kau tetap harus meminta maaf padanya, Baekie… Aku tau kau merasa bersalah, aku bisa lihat itu dimatamu.” Ujarnya lalu melanjutkan, “Kris Hyung ada dikantor. Ia menggantikan jadwal Sehun, hari ini rapat. Kau bisa datang kesana.”

“Untuk apa?” Baekhyun bangkit dan menggeser kembali kursinya ke tempatnya semula lalu berlalu dari kelasnya.

Chanyeol hanya memandangnya hingga menghilang ke balik pintu kelas dan menghela nafas.

# # # # #

Kini Baekhyun sedang berdiri didepan gedung kantor SM Group sembari memasukkan kedua tangannya ke saku.

“Aish! Aku pasti sudah gila mau datang kemari.” Dengusnya sebelum berbalik pergi meninggalkan gedung. Namun, ketika Baekhyun berbalik, seorang pria jangkung berpakaian rapih keluar dari pintu utama gedung.

“Baekhyun?”

Yang dipanggil pun menoleh dan tertegun. “Apa yang kau lakukan disini?” tanya pria jangkung itu yang tak lain adalah Kris. Baekhyun menggerak-gerakkan kakinya tidak nyaman tanda ia gugup. “Kau sudah makan?” tanya Kris yang menyadari kegugupan Baekhyun. Pria mungil itu menggeleng pelan. “Ayo makan, kebetulan aku keluar untuk makan.”

Kini mereka tengah duduk berhadapan disebuah restoran yang tidak jauh dari kantor. Baekhyun terus menundukkan kepalanya dihadapan Kris membuat pria jangkung itu bingung harus bagaimana.

Pesanan mereka pun datang. Baekhyun nampak diam memerhatikan hidangan dihadapannya, Kris yang hendak mengambil garpu pun mendesah dan berkata, “cepat makan.” Pria mungil itu mengangguk lalu mengambil garpu dan memakan pastanya.

“Hyung…” Baekhyun akhirnya membuka suara ditengah makan siang mereka.

“Hmm?” balas Kris tanpa mendongak. Baekhyun mendesah lalu meletakkan garpunya.

“Apa bungkusan kemarin itu milikmu?” tanyanya hati-hati. Kris terdiam sejenak lalu kembali melanjutkan makannya.

“Ne.”

“Kau memakainya?” tanya Baekhyun lagi.

Dengan santainya Kris tetap melanjutkan makannya dan menjawab, “anni. Aku belum pernah memakainya. Kau bisa memeriksanya secara medis. Aku belum pernah memakainya.”

Entah mengapa Baekhyun menghela nafas lega mendengar jawaban Kris. Ia tersenyum dan melanjutkan makannya yang sempat tertunda. Diam-diam, Kris meliriknya dan tersenyum kecil.

Tanpa permintaan maaf pun mereka sudah bisa dikatakan berbaikan saat ini.

# # # # #

Orang-orang yang berada dirumah mendesah lega melihat Baekhyun yang pulang bersama Kris. Itu tandanya mereka sudah berbaikan. Buktinya, mereka bahkan memasuki rumah sambil mengobrol dan Baekhyun nampak tertawa. Mereka terlihat akrab, seperti biasa.

Chanyeol yang memandang mereka dari lantai 2, tersenyum simpul. Diam-diam diperhatikannya terus Baekhyun yang masih mengobrol dengan Kris dan sesekali tersenyum atau tertawa. Benar-benar manis.

Tiba-tiba Chanyeol menggeleng-gelengkan kepala cepat dan menepuk-nepuk pipinya beberapa kali. “Hiiih, sadarlah, Park Chanyeol. Dia memang manis tapi dia itu namja.” Serunya pada diri sendiri. Ia tidak sadar kalau ia diperhatikan oleh Luhan dari belakang dengan kening berkerut.

“Ada apa denganmu, Chanyeol-a?” pria jangkung itu tersentak dan langsung berbalik ke arah Luhan yang masih memandangnya keheranan.

“A–anniyo, Luhan Hyung! Kau sendiri sedang apa?” Chanyeol balas bertanya dengan gugup. Luhan berjalan menghampirinya dan ikut memandang ke lantai bawah disamping Chanyeol.

“Aah, akhirnya mereka berbaikan juga. Rasanya tidak enak melihat anggota keluarga kita saling bermusuhan, bukankah begitu, Chanyeol-a?” Chanyeol mengangguk pelan. Benar, mereka keluarga.

Ingat Chanyeol, kita adalah keluarga. Serunya didalam hati terus menerus.

“Oh iya, besok giliranmu bekerja dikantor.” Seru Luhan membuat Chanyeol terbelalak.

“M–mwo? Na?!” tanyanya tidak percaya. Yang ditanyai mengangguk mantap. “S –shirreo…” tolak Chanyeol dengan wajah sedih. Entah kenapa ia lebih menginginkan sekolah daripada datang ke tempat kerja.

“Ya! Ini kan giliranmu, lagipula hanya sehari apa susahnya sih, Park Chanyeol?” gerutu Luhan lalu pria cantik itu berjalan menuruni tangga meninggalkan Chanyeol yang lemas.

“Tidak akan ada Baekie dikantor…” gumam Chanyeol dengan wajah sedih.

# # # # #

Seorang pria kantoran yang berpenampilan rapih nampak keluar dari mobilnya yang diparkirkan dipinggir Sugai Han lalu bersandar pada body mobilnya. Ia mengeluarkan seputung rokok dari sakunya dan menyalakannya.

Tidak lama kemudian datanglah sebuah mobil yang berhenti tepat disamping mobilnya. Keluarlah dua orang murid sekolah yang memiliki tinggi tidak jauh dari pria kantoran tadi. Mereka pun menghampiri pria yang lebih tua dari mereka itu sambil tersenyum lebar.

“Kalian sudah memberikannya?” tanya si pria kantoran tersebut sambil membuang putung rokoknya ke tanah dan menginjaknya. Salah satu dari murid dihadapannya mengangguk.

“Sudah, tapi dia menolaknya. Tapi, untung saja Jongsuk sempat memasukkan bungkusan itu ke saku blazernya. Jadi, bisa dipastikan salah satu anggota keluarganya menemukan itu nanti.”

“Bagus. Teruslah berusaha cekoki dia. Aku ingin dia benar-benar hancur. Dan, aku akan mengurus sisanya.”

“Arraseo, Ahjusshi. Kalau begitu kami pergi dulu.” Kedua murid itu kembali memasuki mobilnya dan melaju pergi meninggalkan Sungai Han.

Pria kantoran itu menyeringai sembari menatap hamparan Sungai Han dihadapannya.

“Akan kurebut semuanya, Jung Yunho…”

# # # # #

Sore yang hangat ini banyak murid yang nampak menghabiskan waktunya disekolah. Perpustakaan, ruangan-ruangan klub, lapangan, nampak banyak murid yang muncul. Begitu pun dengan aula musik.

Diatas panggung yang ada didalam aula tersebut, sebuah kelompok pemegang biola nampak bermain lengkap dengan cello, drum, piano, gitar, dan instrumen modern lainnya, membentuk sebuah orchestra.

Bisa terlihat Lay, Baekhyun, Suho, Luhan, dan Xiumin berada di antara mereka. Xiumin memainkan drum dibelakang para pemain biola itu, Luhan bermain piano, Suho berada ditengah memainkan cello, sedangkan Lay dan Baekhyun berdiri didepan kelompok orchestra itu menjadi visual, Lay memegang sebuah biola coklat dan Baekhyun memegang biola putih andalannya. Mereka memainkan variasi dari kelompok biola dibelakang mereka membuat instrumen yang dimainkan semakin keren.

Mereka nampak serius memainkan lagu yang pernah dimainkan grup biola yang beranggotakan empat wanita, Bond, yang berjudul Explosive. Instrumen yang benar-benar kuat itu berhasil dibawakan oleh mereka.

Tepuk tangan seseorang menggema ketika mereka menyelesaikan permainan mereka. Ia duduk ditengah-tengah tribun penonton, yang tidak lain tidak bukan adalah Jung Yunho. Sang pemilik sekolah.

Kemarin, ia terus memaksa Suho dan Lay untuk membawanya ke sekolah dan mendengarkan permainan dari orchestra ternama dari Sekolah Tinggi SM itu, SM Academy Orchestra.

“Kerja bagus anak-anakku…” seru Yunho bersemangat. Padahal ia masih terlihat lemah karena penyakitnya. Kelima anaknya yang berada disana langsung menghampiri ayah mereka itu dengan wajah cemas.

“Appa sudah melihatnya kan? Sekarang ayo kembali ke rumah sakit.” Ajak Suho yang sampai terlebih dahulu. Namun, Yunho menggeleng.

“Satu lagu lagi bagaimana? Ah, Duel. Lagu itu Xiumin akan menjadi DJ kan? Dan, uri Baekhyun uri Suho seperti berduel dalam lagu itu. Ah, ayo lakukan.” Mau tidak mau mereka harus menuruti keinginan ayahnya tersebut.

Mereka kembali dan kini Baekhyun dan Suho yang mengambil posisi berdiri di depan. Lay duduk ditempat Suho duduk tadi dan Luhan mengambil biolanya dan mengambil posisi disamping Lay.

Mereka pun memainkannya dengan sangat-sangat baik, tanpa cacat sedikitpun seperti orang-orang yang terlatih. Padahal, Orchestra ini hanya klub bukan pelajaran wajib. Lagi-lagi Yunho memberikan aplaus nya dengan semangat.

Tiba-tiba pintu aula terbuka dan muncullah Kris. Ia langsung menghampiri Yunho dan berdiri tepat disamping ayahnya itu. “Apa yang Abeoji lakukan disini?”

“Aku menonton mereka, Kris-a. Sekarang, Abeoji akan pulang ke rumah sakit.” Melihat ayahnya itu kesusahan berpindah dari bangku penonton ke kursi rodanya, Kris langsung membantunya. Lay pun berlari meninggalkan biolanya begitu saja untuk membantu Kris memapah ayahnya.

“Gomawo, Adeul-a… Aku sangat senang hari ini.” Ujar Yunho sambil tersenyum kepada anak-anaknya.

“Cheonmaneyo, Appa. Sekarang, ayo kita kembali ke rumah sakit.” Ujar Baekhyun sambil tersenyum manis. Ia mendorong kursi roda yang dinaiki ayahnya itu keluar dari aula.

“Biar aku saja.” Kris mendorong Baekhyun lalu mengambil alih ayahnya. Baekhyun hanya mengangkat bahu lalu mengikuti Kris yang berjalan menuju pintu utama sekolah. Disana, Lee Jinki sudah menunggu dengan mobil pribadi Yunho.

Setelah memasukkan Yunho ke dalam mobil. Jinki, Baekhyun, dan Kris saling memberi hormat dan mobil itupun meluncur menuju rumah sakit.

“Hhh, sebenarnya Appa sakit apa…” gumam Baekhyun lesu. Kris meliriknya lalu berbalik menuju gedung sekolah.

“Abeoji merahasiakannya demi kebaikan kita, kita doakan saja dia agar cepat sembuh.” Tutur Kris ketika Baekhyun berjalan menyusulnya. Ia mengacak rambut pria mungil tersebut lalu tersenyum. “Ngomong-ngomong permainanmu tadi sangat hebat.” Puji Kris membuat Baekhyun tersenyum.

Mereka berpisah didepan ruang siaran. Baekhyun melangkahkan kakinya masuk ke ruang siaran dan mendapati Krystal yang sedang membaca beberapa kertas. Gadis itu tersenyum melihat kedatangan Baekhyun. Belum sempat pria itu melangkah masuk, ponselnya berdering.

“Ne, Chanyeol-a?”

“Baekhyun-a, cepat ke kantor.”

“Untuk apa? Memangnya kau tidak sibuk?”

“Anni. Aaaah, aku mati ke bosanan disini. Cepatlah datang.”

“Keundae, aku harus siaran sore.”

“Baiklah kalau begitu aku yang kesana dan menyeretmu pergi.”

“A–arraseo! Aku akan kesana, tunggu ne.”

“Ne, annyeong.”

PIP

“Oppa mau pergi?” tanya Krystal ketika Baekhyun memasukkan ponselnya ke saku.

“Ne, mianhae, Krystal-a. Kau siaran sendiri lagi bisa kan? Si cerewet Chanyeol membutuhkanku.” Senyum Baekhyun tersungging ketika menyebutkan nama Chanyeol. Krystal bisa melihat perubahan ekspresi Baekhyun. “Annyeong!” Baekhyun bergegas pergi dari sekolah menaiki taksi menuju kantor.

Sesampainya dikantor, ia langsung berjalan menuju ruangan Presiden Direktur. Dan betapa terkejutnya ia ketika mendapati Chanyeol terlelap disofa yang ada diruangan tersebut dengan kaki ditekuk. Benar-benar lucu.

Ia berjongkok disamping sofa tempat Chanyeol menidurkan dirinya dengan nyaman. Ia tersenyum melihat wajah Chanyeol yang tidur seperti bayi. “Baby Chanyeol…” gumam Baekhyun sembari menyentuh bulu mata Chanyeol, membuat kelopak mata pria itu bergerak.

“B–Baekhyun?” Chanyeol membuka mata dan mendapati Baekhyun tersenyum dihadapannya. Iapun duduk dan mengusap matanya. “Sudah datang?”

“Eoh, kenapa menyuruhku kemari? Kau tau aku sangat sibuk hari ini.” Canda Baekhyun sembari mengambil posisi duduk disebelah Chanyeol. Pria tinggi itu langsung mengerucutkan bibirnya.

“Apa tidak ada waktu sebentar saja untukku, eoh?”

“Kau kan sudah sering bersamaku, apa tidak bosan?” tanya Baekhyun dijawab gelengan oleh pria disampingnya itu.

“Apa kau sudah bosan menemaniku, Byun Baekhyun? Atau kau terlalu sibuk dengan Krystal?” Chanyeol balas bertanya dengan wajah serius.

Baekhyun tertawa. “Anniyo! Aku tidak pernah merasa bosan, dan aku juga tidak sesibuk itu dengan Krystal. Wae? Kau sepertinya tidak suka aku dekat-dekat dengan Krystal, apa kau menyukainya?” canda Baekhyun tidak mengubah mimik serius Chanyeol. Itu membuatnya merasa canggung dan menghentikan tawanya.

“Ne, aku tidak suka kau dekat-dekat dengan Krystal.” Baekhyun terkejut mendengarnya. “Keundae, aku tidak menyukai yeoja itu sama sekali.”

“Lalu, kenapa kau tidak suka? Apa….” Baekhyun tiba-tiba terdiam. Mulutnya menganga tidak percaya. Ia benar-benar terkejut dan tidak memercayai hal yang terlintas di otaknya. Sedangkan Chanyeol terus menatapnya dalam.

“Ne, Baekyunie. Aku menyukaimu…”

“M–MWO?! Haha, kau selalu pintar bercanda, Park Chanyeol! Hahaha!” elak Baekhyun berusaha mengusir pikiran negatifnya. Namun, Chanyeol malah menggenggam tangannya erat membuatnya terdiam lagi.

“Aku serius Byun Baekhyun! Tiap malam aku hampir gila memikirkan masalah ini!” seru Chanyeol kesal. Pria mungil dihadapannya itu diam, terlalu syok untuk bicara.

“N–na…” ucap Baekhyun terbata-bata. Tiba-tiba saja matanya menyiratkan tatapan kebencian dan takut. “Park Chanyeol shirreo…” pria itu mendorong Chanyeol dan berlari pergi keluar ruangan.

“Aaarrggghhh! Michyeoseo!” seru Chanyeol frustasi sembari mendorong meja dihadapannya dengan kaki.

# # # # #

“Oh, wasseo.”

Lee Jinki membungkuk hormat pada Yunho setelah menutup pintu ruangan. Yunho tersenyum dan menekan sebuah tombol yang membuat ranjangnya agak naik sehingga ia bisa duduk.

“Silakan duduk.” Jinki menurut dan menarik kursi ke dekat ranjang untuk ia duduki. “Bagaimana perkembangannya?”

“Belum ada masalah yang berarti, sepertinya para pemegang saham dan ketua-ketua juga tidak keberatan. Anak-anakmu cukup bisa diandalkan.” Lapor Jinki sembari mengeluarkan sebuah map dari tasnya dan iapun menyerahkan map itu pada Yunho. Sebuah laporan yang orang awam tidak akan mengerti.

“Hmm, terus saja bimbing mereka. Sejauh ini, siapa yang terlihat bisa diandalkan?”

“Kris, kerjanya sangat cepat dan benar. Ia juga menggantikan jadwal Sehun kemarin, juga sempat membantu Tao. Lalu, Suho, ia orang yang teliti, dan sepertinya pekerjaan ini cocok untuknya. Hanya saja, aku belum melihat kerja Chen.”

Yunho tersenyum lalu menutup map ditangannya dan menyerahkannya pada Jinki. “Kau belum melihat manajemen Chen yang begitu sempurna. Ia berbakat dalam organisasi dan ia juga tertarik dengan bisnis.” Puji Yunho.

“Jadi, sudah kau tetapkan?” tanya Jinki memastikan dan Yunho membalasnya dengan anggukan.

“Ne. Aku akan memberi mereka kesempatan untuk memperebutkan kursi presiden direktur.”

# # # # #

Keduabelas anak itu makan dengan tenang. Hanya terdengar dentingan sendok sumpit yang beradu dengan mangkuk dan piring dimeja. Seorang pelayan tiba-tiba datang menginterupsi kegiatan makan malam mereka.

“Tuan Lee Jinki datang.” Seorang pria paruh baya pun masuk ke ruang makan dan tersenyum ke arah duabelas anak atasannya itu.

“Oh, Lee Ahjusshi, waeyo?”

“Oraemanida, Lee Ahjusshi! Silakan duduk.” Seru Chen sembari menunjuk salah satu kursi yang kosong. Kursi itu biasanya dipakai kalau Lee Harabeoji datang ke rumah mereka.

“Apa tidak apa-apa aku duduk disana?” tanya Lee Jinki sungkan. Chen bangkit dan menarikkan kursi itu untuknya. Iapun duduk dan menatap mereka satu persatu.

“Apakah ada hal penting yang ingin kau bicarakan, Ahjusshi?” tanya Kris sembari meletakkan gelasnya.

“Sebenarnya aku ingin memberitahukan kalian kalau mulai besok, Jung Sajangnim akan menjalani perawatan dirumah.”

Wajah Sehun berubah ceria. “Jadi Appa akan pulang?” tanyanya bersemangat. Jinki tersenyum mengiyakan. “Aaah, akhirnya bisa berada dirumah bersama Appa lagi.”

“Kau tetap saja tidak bisa mengajaknya bermain, Sehunie.” Tutur Luhan sambil tertawa kecil. Sehun mendengus mendengarnya.

“Tidak apa-apa, setidaknya aku ada teman dirumah.” Sehun bangkit dan meninggalkan meja makan menimbulkan tanda tanya besar pada benak saudara-saudaranya dan Lee Jinki.

“Ya, Xi Luhan. Kau menyakiti hatinya.” Seru Suho pada Luhan yang memasang tampang bersalahnya.

“Aku tidak bermaksud–aish! Aku susul dia dulu.” Luhan pun bangkit dan menyusul Sehun yang pergi.

Suho menatap kepergian Luhan lalu menoleh pada Lee Jinki. “Jadi, pukul berapa Abeoji akan sampai ke rumah?”

# # # # #

Luhan kebingungan mencari Sehun. Ia sudah menghilang dari pandangannya. Ia tidak menemukan adiknya itu dikamarnya maupun dihalaman belakang. Tidak ada tempat lain yang sering dikunjungi Sehun. Sehun tidak mungkin berada diruang musik atau perpustakaan. Apalagi dirumah pohon, hanya Chen yang sering mengunjungi tempat itu sekarang.

Luhan tertegun melihat pintu sebuah ruangan sedikit terbuka. Padahal, ruangan itu tidak pernah ditempati lagi sekarang. Iapun membuka pintu itu lebih lebar untuk melihat ke dalam. Terlihat 13 ranjang melingkar dan salah satu ranjang yang berada disamping ranjang paling tengah terisi oleh seorang pria.

“Sehunie?” panggil Luhan memastikan. Ia menyalakan lampu ruangan itu, dan benar saja. Itu Sehun. Iapun berjalan mendekati ranjang tersebut, tempat Sehun tidur membelakanginya. “Oh Sehun? Kenapa tidak menjawabku, huh?”

“Shikkeureo.” Luhan mendesah mendengar Sehun berbicara dengan nada ketus. Pria cantik itu memposisikannya duduk diranjang sebelah ranjang yang ditempati Sehun. Ranjangnya ketika masih kecil.

“Kau marah pada Hyung, eoh?”

“Ne.”

“Waeyo? Apa Hyung mengatakan hal yang menyakitkan padamu?”

“Ne.”

“Apa itu?”

“Hyung bisa menebaknya sendiri.”

Luhan mendesah. “Hyung tidak bisa, Sehun-a. Beritahu Hyung.” Sehun diam tidak menjawab membuat Luhan semakin merasa bersalah. “Kalau memang ucapan Hyung tadi salah, maafkan Hyung. Sehun mau kan memaafkan Hyung?”

“Dengan satu syarat.” Sahut Sehun membuat Luhan mendongak.

“Mwo?”

“Bermain game denganku sepulang sekolah besok.”

Luhan tersenyum kecil. “Arraseo. Besok kita akan bermain game.” Luhan bangkit dan mengelus rambut adiknya itu. “Ayo turun, makanmu belum habis.”

# # # # #

Mereka memutuskan untuk pulang cepat karena Yunho akan keluar dari rumah sakit siang ini. Mereka sudah berada dirumah menunggu kedatangan ayah mereka. Bahkan, Baekhyun dan D.O. membereskan kamar Yunho yang sebenarnya sudah dirapihkan oleh pelayan-pelayan mereka.

“Abeoji belum datang?” tanya Kris yang sedang bersantai didepan televisi dengan Chanyeol yang duduk disebelahnya.

“Beliau dalam perjalanan.” Jawab Baekhyun yang baru saja meletakkan cemilan dimeja dihadapan mereka. Chanyeol langsung mengambil cemilan tersebut dan memakannya. Diam-diam ia curi pandang ke arah Baekhyun yang sama sekali tidak menoleh ke arahnya.

“Ah, tadi Lee Ahjusshi bilang ditelepon, nanti temui Appa dan Lee Ahjusshi dikamar. Dengan Chen dan Suho Hyung.” Tutur Baekhyun dibalas anggukan oleh Kris.

“Apa aku juga disuruh?” tanya Chanyeol. Baekhyun meliriknya sekilas.

“Hanya Kris Hyung, Suho Hyung, dan Chen.” Baekhyun berjalan meninggalkan Chanyeol yang mendengus kesal dan Kris yang melirik heran kearah Chanyeol.

“Ya, kalian ada masalah?” tebak Kris tepat sasaran. Chanyeol hanya terus memakan cemilan dengan beringas sembari matanya lurus menatap televisi dihadapannya. “Ya, aku juga mau itu.” Chanyeol tidak menghiraukannya.

Karena kesal, Kris merebut cemilan ditangan Chanyeol dan pergi meninggalkan pria yang sepantar dengannya itu.

Ting Tong

Semua mata langsung tertuju kearah pintu utama. Salah satu pelayan buru-buru membukanya dan munculah Lee Jinki yang mendorong sebuah kursi roda yang diduduki oleh Jung Yunho.

“Appa!”

“Abeoji!”

“Appa wasseo?!”

“Appaaa bogoshippeo!”

“Selamat datang Abeoji.”

“Aku pulang…” ujar Yunho lirih sambil terus tersenyum. Ia memeluk Sehun, D.O., Baekhyun, Luhan, dan semuanya yang bergantian memeluknya. “Senang bisa kembali dirumah…”

“Abeoji harus banyak istirahat dirumah ne.” Nasihat Suho dibalas anggukan oleh Yunho.

“Appa sudah makan? Kyungsoongie masak makanan yang banyak untuk Appa!” seru Xiumin sembari menunjuk D.O.

“Hentikan dulu pertanyaan-pertanyaan kalian itu, Appa kalian harus beristirahat…” Jinki memotong pembicaraan mereka lalu mendorong kursi Yunho menuju kamarnya. “Ah ne, Kris, Chen, Suho, ttarawa.”

Mereka pun bubar dan Kris, Chen, juga Suho mengikuti Lee Jinki dan Jung Yunho menuju kamar Yunho. Setelah memindahkan Yunho ke ranjang, Jinki pun menyuruh Kris, Chen, dan Suho untuk duduk.

“Ada hal penting yang aku ingin beritahu pada kalian…” Yunho memulai pembicaraan. “Jinki-ya, aku tidak ada kekuatan untuk berbicara banyak, maukah kau menjelaskannya untukku?”

Lee Jinki mengangguk lalu menaruh tas kerjanya dimeja. “Sebelum aku memberitahu hal yang penting, aku ingin menjelaskan dulu mengenai pembagian saham. Saham SM Group, 50% milik keluarga dan 50% lagi milik orang asing. Kalian berduabelas akan diberi saham secara merata masing-masing 5%, tapi, akan ada beberapa orang yang memiliki saham lebih tergantung dengan bagaimana usahanya untuk memiliki saham terbanyak.”

“Jamkkanman, jadi, beberapa diantara kita berduabelas akan mendapat saham lebih?” Jinki mengangguk mengiyakan pertanyaan Suho.

“Tidak semua diantara kalian memiliki minat terhadap dunia bisnis. Jadi, jika kalian tertarik pada bisnis, kalian bisa memiliki saham lebih dari 5%.”

“Lalu, untuk apa Abeoji memanggil kami? Bukankah, masalah ini menyangkut kita berduabelas?” tanya Kris bingung.

Jinki tersenyum lalu meneruskan, “aku melihat potensi dibidang bisnis yang sangat baik dari diri kalian. Kalian sepertinya benar-benar tertarik dan niat untuk melanjutkan bisnis Abeoji kalian ini. Untuk itu Sajangnim memanggil kalian bertiga.”

“Untuk?”

“Berusahalah semaksimal mungkin bekerja menggantikan Jung Sajangnim untuk mendapatkan posisi Presiden Direktur di SM Group.”

# # # # #

Luhan mendudukkan dirinya disofa dengan tangannya yang memegang ponsel dan mengetikkan sesuatu diponselnya. Sepertinya ia sedang mengirim pesan untuk Yoon Sohee.

Neo eodiya? Sibuk?

Tidak lama kemudian muncul balasan dari Sohee.

Di toko buku. Anni, wae?

Luhan pun menekan nomor Sohee dan menghubunginya.

“Yeoboseyo…”

“Sohee-ya, kau di toko buku mana?” mendengar nama Sohee disebutkan, Kai yang berada tidak jauh darinya, bereaksi.

“Didekat sekolah. Wae?”

“Sudah makan siang?”

“Belum. Aku tidak lapar.”

“Aku ingin mentraktirmu ramen, otteyeo?”

“Hmm, kedengarannya bagus. Kapan?”

“Sekarang. Aku akan kesana, annyeong!” Luhan pun memutuskan panggilan dan bergegas ke kamarnya untuk berganti baju dan mengambil kunci mobilnya.

Sehun yang memerhatikannya sejak tadi hanya diam. Ia menunggu Luhan dibawah tangga menunggu pria cantik itu turun. “Hyung, ayo main!” seru Sehun begitu Luhan menuruni tangga dengan berpakaian rapih.

“Nanti saja ne, Sehunie. Hyung sedang sibuk sekarang.”

Sehun menghela nafas. “Keundae, Hyung sudah berjanji mau main game denganku kemarin. Kau tidak ingat?”

Bukannya menjawab Luhan malah memakai jaketnya dan berjalan menuju pintu. Setelah Luhan menutup pintu dari luar Sehun menggeram kesal. Ia berjalan mendekati Kai yang tidak jauh darinya.

“Kai-ya, main denganku?” Kai menggeleng lalu berjalan menuju kamarnya dan mengunci dirinya dikamar. Namun, Sehun tidak menyerah. Ia berjalan menghampiri Kris Chanyeol yang sedang menonton televisi. “Hyung, main game denganku ya?”

“Aku sedang tidak ada mood bermain game, Sehunie.” Jawab Chanyeol tanpa mengalihkan pandangannya dari televisi. Sebenarnya ia fokus pada Baekhyun yang duduk didepan grand piano dibelakang televisi.

Sehun menoleh ke arah kamar Yunho. Kris, Suho, dan Chen baru saja keluar. Sehun langsung menghampiri mereka. “Hyungdeul! Ayo main game dengan Sehun!” serunya. Namun, tidak ada satupun yang memerhatikannya. Mereka terlalu sibuk dengan pikiran mereka mengenai penawaran menarik dari ayahnya itu.

Jinki tidak lama kemudian keluar dari kamar Yunho dan tertegun melihat Sehun yang berwajah dingin. “Lee Ahjusshi juga tidak mau bermain denganku?”

“M–mianhae, Oh Sehun. Keundae, Ahjusshi harus pergi ke kantor mengurus pekerjaan Abeojimu bersama Chen.” Sehun mendengus lalu membuka pintu kamar Yunho dan masuk. Ia menunjukkan wajah kesalnya dan berjalan menuju ranjang Yunho.

“Hmm, uri Sehunie, wae geuraeyo?” tanya Yunho yang menyadari suasana hati Sehun yang buruk.

Sehun memposisikan dirinya duduk disebelah Yunho yang sedang bersandar pada tumpukan bantal. “Appa…”

“Waeyo?”

“Aku benci Luhan Hyung.”

# To Be Continued #

Hahaha, otteyeo? Semoga tidak mengecewakan buat kalian yang sudah menunggu lama ;;

Komentarnya jangan lupa ^^

50 responses to “Who’s the Next? (Chapter 6)

  1. dugaanku bener banget, chanyeol suka sama baekhyun,.
    kayaknya yg bakal menduduki posisi presiden direktur Chen deh? cuman kira2 thor :D.

    thor… bikin cerita antara lay sama Xiumin dongg kayaknya bagus tuh…

    next part ditunggu ya eon…
    fighting…

  2. Pingback: Who’s the Next? (Chapter 7) | FFindo·

  3. Pingback: Who’s the Next? (Chapter 8) | FFindo·

  4. ceritanya okeee..
    tapi ada sedikit kekurangan nih.. di bahasa koreanya.. cuman mau kasih tau.. akhiran -yo dalam korea diperuntukan untuk bicara formal..
    Pas tadi aku baca ada bahasa korea yang informal dibikin formal.. dan yang seharusnya formal dibikin informal..
    gitu aja sih.. selebihnya okeee bangeuuutt.. tulisanmu rapi..

  5. Pingback: Who’s the Next? (Chapter 9) | FFindo·

  6. Pingback: Who’s the Next (Chapter 11) | FFindo·

  7. ya ampun.. itu chanyeol beneran suka baekhyun.. /.\
    wah luhan parah nih masak udah janji sama sehun malah pergi sama sohee.. ;3
    next yah thor..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s