Long-terms Memories – Chapter 3


Long-terms Memories

EnnyHutami’s Fanfiction

| Genre : Family, Romance, Friendship |

| Lenght : Series | Rating : PG-13 |

| Cast : Kim Myungsoo, Kim Jisoo, Jung Soojung, Kim Jongin, Xi Luhan |

The time frame can be very brief; even a few seconds.”

Chapter 2

-Swinspirit-

Di atap sebuah gedung bekas pabrik, di tengah guyuran hujan pertama di musim semi, Jisoo masih berjongkok dengan mulut dibekap oleh Luhan si anak baru yang tengah dikejar-kejar oleh komplotan gangster sekolah lamanya. Sudah hampir lima menit posisi mereka seperti itu, namun Luhan tak kunjung melepaskan tangannya dari mulut Jisoo walaupun tubuh keduanya sudah basah kuyup.

Sampai dilihatnya para gangster sekolah lama Luhan yang masih mengenakan seragam sekolah benar-benar pergi dari gudang itu, barulah Luhan melepaskan tangannya dari mulut Jisoo.

“Maaf.” Ucap Luhan sambil membantu Jisoo berdiri. Rambut pirang Luhan yang biasanya agak mengembang, kini jatuh karena basah.

Dan tanpa menunggu tanggapan Jisoo, Luhan kembali menempatkan tangga seperti posisi awal agar ia dan Jisoo bisa turun tanpa harus melompat dari ketinggian.

“Kau gila atau apa, sih?” omel Jisoo sambil mengusap wajahnya yang basah. “Kenapa kau senang sekali membungkam mulutku?” Itu adalah kenyataan. Fakta bahwa Luhan sudah membungkam mulut Jisoo dengan tangannya dua kali di tempat yang sama membuat Jisoo kesal. Terlebih lagi kini dirinya harus hujan-hujanan karena tidak bisa turun ke bawah.

“Akan kujawab nanti.” Kata Luhan sebelum ia memosisikan dirinya untuk menuruni tangga kayu yang sudah siap dipakainya. “Sekarang turun terlebih dahulu. Nanti kau sakit kalau hujan-hujanan begini.”

Dan, tiba-tiba saja Luhan sudah berada di bawah sana sambil memegangi tangga kayu itu agar tidak jatuh ketika Jisoo turun.

“Jangan lihat ke atas!” Titah Jisoo sambil mengerjapkan matanya karena air hujan yang mengaburkan pandangannya.

Sementara itu, Luhan yang tahu maksud dari perintah Jisoo pun langsung merundukan kepalanya. Tentu saja ia tidak mau dikira lelaki mesum jika ia melihat ke atas sedangkan Jisoo mengenakan rok sekolah yang panjangnya hanya sebatas lutut.

Berkat Jisoo yang kelihatannya memang sudah biasa menaiki dan menuruni anak tangga seperti ini, gadis itu turun dengan mulus tanpa sempat terpeleset. Tentu saja seperti dugaan Luhan sebelumnya, Jisoo tidaklah seperti gadis seumurannya yang manja.

Setibanya mereka berdua di bawah, keduanya langsung mencari tempat berteduh yang bersih sehingga keduanya bisa duduk di sana. Untung saja lantai di bekas pabrik itu bukanlah keramik yang dingin melainkan ubin dari semen. Jadi, pada kondisi seperti ini, keduanya selamat dari kedinginan—walaupun pakaian basah mereka tetap menjadi alasan mereka kedinginan.

Di samping Luhan, Jisoo duduk bersila agar kakinya tetap hangat.

“Luhan, bisa kau jelaskan kenapa kau membungkam mulutku tadi? Dan juga malam itu.” Tuntut Jisoo sambil mendongakan kepalanya pada Luhan.

Luhan menoleh, balas menatap Jisoo. Lalu, “Orang-orang itu mengejarku.” Sahutnya.

“Orang-orang?” Ulang Jisoo dengan mengernyitkan keningnya.

Entah mengapa, Luhan justru tersenyum, membuat Jisoo menyipitkan matanya bingung. “Murid-murid sekolah lamaku.” Jawabnya.

Jisoo hanya mengangguk-anggukan kepalanya sambil ber-Oh ria. Ia tahu di mana batasnya untuk bertanya, jadi, ia tidak melanjutkan pertanyaannya dan diam tanpa pikiran yang jelas yang terlewat di pikirannya.

Luhan juga seperti itu. Ia ikut diam dan hanyut dalam pikirannya sendiri.

Keheningan yang hanya terdengar suara hujan berlangsung cukup lama sampai mereka berdua mendengar suara gaduh yang sepertinya sengaja dibuat.

Dengan gerakan cepat, Luhan dan Jisoo berdiri. Mata mereka berkeliling untuk melihat ke sekitar. Luhan memang tidak begitu yakin, namun ia rasa beberapa orang yang mengejarnya itu menunggunya di sini.

Lalu bunyi sebuah kayu yang diseret dengan ubin terdengar di sebelah kanan mereka. Begitu keduanya menoleh dengan cepat, mereka mendapati empat orang laki-laki yang memakai seragam sekolah yang sama tengah melangkah pelan mendekati mereka dengan sebongkah kayu panjang di tangan.

Luhan pun maju selangkah untuk menempatkan Jisoo di belakang punggungnya.

“Oh~ Kau membawa pacarmu kemari, Xi Luhan?” Ucap seseorang yang berada di tengah, satu-satunya yang mengenakan seragam dengan rapi walaupun dasinya sudah dilepas.

Untuk saat ini, Luhan tidak bisa kabur lagi karena tidak mungkin ia mengajak Jisoo berlari bersamanya. Jika memang begitu, tidak akan diragukan lagi jika Jisoo akan tertangkap karena empat orang di depannya itu dapat berlari dengan sangat cepat.

Sementara itu, Jisoo yang berada di balik punggung Luhan pun diam-diam mengambil ponselnya dari dalam saku seragamnya. Ia mengirimkan pesan singkat pada Kai untuk datang ke sana bersama teman-temannya. Jisoo juga menyuruh Kai untuk melacak keberadaannya dengan ponselnya.

¯

“Kau tidak bilang kalau kau akan melakukan pemotretan bersama Jung Soojung.” Kata Sungyeol ketika dia dan Myungsoo tengah melangkah di jalanan kota Hokkaido yang memiliki penduduk paling rendah di Jepang.

Myungsoo mengangkat bahunya acuh tak acuh. Tangan kanannya mengalungi tali dari kameranya yang cukup panjang seperti tas tangan. “Aku tidak tahu kau penggemarnya.” Balasnya. “Kalau aku tahu, mungkin aku tak akan mengajakmu kemari.”

Ya!” Pekik Sungyeol geram. Sedangkan Myungsoo terkekeh karena kalimatnya itu memancing amarah Sungyeol yang mudah sekali berganti-ganti. “Teman macam apa kau—oh!”

Myungsoo mengikuti arah pandang Sungyeol yang membuatnya memotong perkataannya sendiri. Lalu, “Ya! Kau mau ke mana?” teriak Myungsoo ketika Sungyeol berlari meninggalkannya sendirian.

“Akan kutemui kau di hotel.” Setelah sedikit berteriak, punggung Sungyeol pun terlihat semakin kecil dari pandangan Myungsoo.

Masih di posisi yang sama, Myungsoo pun mendecak sambil menggelengkan kepala melihat tingkah temannya itu. Tidak tahu apa yang baru saja Sungyeol lihat, dan kelihatannya Myungsoo tidak begitu mempedulikannya.

Kemudian Myungsoo melanjutkan langkahnya. Pikirnya, telalu sia-sia jika dirinya sudah jauh-jauh pergi ke Jepang namun tak mendapatkan apa-apa untuk pameran yang mungkin akan diadakan di tahun mendatang.

Selagi Myungsoo mencari inspirasinya, sesekali ia bercengkrama dengan orang-orang di sekitar karena bahasa Jepannya yang lumayan baik. Ia memotret dua anak kecil yang tengah bermain di sebuah taman kecil yang pohon-pohonnya sudah gundul karena musim gugur.

Musim gugur di Hokkaido lebih terasa seperti musim dingin di Seoul. Sayangnya, salju belum turun dan jalanan masih dipenuhi oleh daun-daun kering yang jatuh dari tangkainya, bukan tumpukan es berwarna putih.

Myungsoo melanjutkan langkahnya, ke arah pertokoan yang dibangun berjejer rapi di tengah-tengah kota. Lalu, langkah kakinya pun berhenti ketika ia menoleh ke arah sebuah kafe dengan dinding kaca transparan yang bisa di lihat dari luar.

Ia melihat gadis itu. Gadis berambut merah yang beberapa jam yang lalu duduk di sebelahnya di dalam mobil. Kini gadis itu duduk sendirian dengan mejanya yang dipenuhi oleh buku-buku serta kopi panas.

Bertepatan dengan itu, Myungsoo memiringkan kepalanya begitu Soojung mengeluarkan botol kecil yang berisi sebuah pil berwarna biru. Dilihatnya Soojung berdiri dan menghampiri konter untuk memesan sebotol air mineral dan kembali duduk.

Kemudian, Soojung mengambil satu pil biru tersebut, dan tangan kanannya siap untuk menegak air mineralnya. Namun, ia urungkan niatnya dan melirik ragu ke arah botol pilnya. Soojung mengambil dua pil lagi. Totalnya ada tiga pil yang tengah dipegang oleh tangan kirinya.

Myungsoo harus mengerjapkan matanya begitu dilihatnya Soojung langsung menelan tiga pil tersebut dalam sekali tegak, lalu gadis berambut merah itu menarik salah satu buku tebalnya dan memfokuskan dirinya pada buku di depannya itu.

Setelah itu, Myungsoo pun memutuskan untuk menghampiri Soojung dan menarik kursi yang berada di hadapan Soojung.

Seperti dugaan Myungsoo, Soojung mengangkat wajahnya dan melihat Myungsoo dengan perlahan, dari jarak pandangnya yang masih menatap buku, hingga ke wajah Myungsoo.

“Ada apa?” tanya Soojung dengan bahasa Jepangnya yang bisa dibilang cukup fasih. Dari caranya berbicara, sepertinya Soojung tidak ingat bahwa dirinya pernah duduk di sebelah Myungsoo beberapa jam yang lalu.

Sebelum menjawab pertanyaan Soojung, Myungsoo meletakkan kameranya di atas meja yang masih kosong. “Dari luar, aku melihatmu sendirian—”

“Tidakkah kau lihat bahwa aku sedang sibuk?” potong Soojung, masih dengan bahasa Jepangnya karena Myungsoo yang menanggapi pertanyaan awal Soojung dengan bahasa yang sama. “Bisakah kau pergi? Sekarang juga?” lanjutnya untuk mengusir Myungsoo dengan cara yang sangat tidak halus.

Myungsoo terdiam. Niat awalnya memang hanya untuk menemani gadis berambut merah ini. Namun, tidak seperti gadis lainnya yang pasti akan menerima dengan senang hati atas kehadirannya, justru gadis ini menolaknya secara mentah-mentah.

Jadi, Myungsoo pun berdiri dan beranjak pergi. Namun, sebelum ia benar-benar pergi, ia menambahkan, masih dalam bahasa Jepang. “Sampai bertemu besok.”

¯

Empat orang laki-laki itu mulai berpencar memojokan Luhan dan juga Jisoo yang memang sudah terpojok. Bahkan punggung Jisoo sudah mengenai tembok yang masih kasar.

“Luhan, temanku, kenapa kau dan kekasihmu itu terlihat takut begitu?” Kata lelaki lainnya yang berada di ujung dengan pandangan mengejek.

“Empat lawan dua.” Kata Jisoo. “Kalian pikir dengan mengeroyok seperti ini kalian terlihat keren?”

Perkataan Jisoo barusan membuat empat lelaki tersebut tertawa, dan membuat Luhan menoleh dengan pandangan terkejut. Luhan tidak menyangka bahwa Jisoo akan seberani ini.

“Oh~ Xi Luhan, pacarmu berani sekali, ya? Tidak seperti dirimu yang selalu kabur jika kami ingin berkunjung melihatmu.”

Luhan sama sekali tidak terpengaruh dengan ejekan-ejekan keempat orang itu yang tengah memancing amarahnya. Dia justru semakin memperkuat pertahanan dirinya untuk melindungi Jisoo di belakang punggungnya.

“Tentu saja, dia tidak sepengecut kalian yang selalu mengeroyok orang-orang, bukan?” Entah dari mana keberanian itu datang, Luhan justru membalas ejekan keempat orang itu sehingga mereka mengeratkan kepalan tangan mereka marah.

Salah seorang pun maju sambil mengayungkan kayunya, dan dengan gerakan yang gesit, Luhan menghindarinya dengan cukup mudah.

Sementara itu, Jisoo langsung melepaskan tas punggungnya untuk menjadi senjata jika salah seorang di antara mereka akan datang padanya.

Luhan terus menghindar dan menangkis kayu yang terus diarahkan padanya. Namun, lawannya terlalu berat. Tiga orang dengan kayu di tangan mereka masing-masing sedangkan Luhan hanya sendiri dengan tangan kosong. Jadi, tidak mustahil jika saat Luhan hendak menghindar, kayu dari arah lainnya datang dan mengenai tepat pada perutnya, membuat Luhan jatuh dengan setengah kakinya tertekuk. Pada saat itu juga, seseorang lainnya menendang pundak Luhan sehingga Luhan agak terpental ke belakang.

Bersamaan dengan itu, seorang laki-laki yang menghadapi Jisoo mengambil tas Jisoo dan melemparnya ke sembarang arah. Lalu ia menarik kedua tangan Jisoo ke belakang, membuat gadis itu mengerang kesakitan.

“Luhan!” Teriak Jisoo ketika matanya melihat langsung ketika ketiga orang yang mengeroyok Luhan tengah menginjak dan menendang bagian tubuh Luhan. “Argh, appo!” teriak Jisoo lagi sembari memberontak agar tangannya bisa terbebas.

Dalam hati, Jisoo terus menanyakan keberadaan Kai dan berharap agar Kai segera datang menyelamatkannya dan Luhan yang kini tengah dikeroyok.

“Aku sangat benci melihat seseorang menyentuh gadisku.”

Suara yang sangat ditunggu-tungu oleh Jisoo akhirnya terdengar, membuat Jisoo—dengan rambut basahnya—menoleh ke arah sumber suara dengan senyum leganya. Dilihatnya Kai datang sambil mengulas senyum miringnya, meremehkan keempat orang itu.

“Jongin-a!” teriakan Jisoo membuat lelaki yang memegangi tangan Jisoo lengah. Tanpa menyia-nyiakan waktu yang ada, Jisoo pun langsung berbalik dan menendang organ penting dari semua laki-laki dengan keras.

Lelaki itu mengaduh keras sekali sembari memegangi miliknya. Melihatnya, Jisoo pun memungut tasnya kembali dan bersorak, “Rasakan itu!” Teriaknya. Lalu sedikit berlari menghampiri Kai.

Sementara itu, ketika orang yang mengeroyoki Luhan menghentikan aktivitasnya, membuat Luhan memiliki kesempatan bernapas dan mengerang. Ketiga orang itu hendak kabur karena mereka tahu dan pernah mendengar tentang Kai dan Tao yang memang jago berkelahi, namun Tao, Kyungsoo, dan Sehun sudah mengerubungi mereka seperti yang telah mereka lakukan terhadap Jisoo dan Luhan tadi.

Salah seorang di antara ketiga orang itu mengayunkan kayunya pada Tao, namun bukan Tao namanya jika dia menghindar. Tao justru melawan kayu tersebut dengan kaki panjangnya sehingga kayu tersebut terlepas dari tangan lelaki itu.

“Tao, kakimu tidak sakit, bukan?” tanya Sehun yang berdiri di samping Tao sambil tertawa. Bukan jenis pertanyaan khawatir, namun hanya untuk menakuti ketiga orang yang kini sudah terpojok itu.

Tao tidak menjawab. Dia hanya menoleh sekilas pada Sehun dengan pandangan tanpa ekpresi seperti biasa.

Di sisi lain, Kai melepas jaketnya dan memberikannya pada Jisoo. Lalu ia menghampiri laki-laki yang tadi membuat Jisoo mengerang kesakitan. Kai memutar pergelangan tangannya kemudian membuat isyarat dengan tangannya pada lelaki itu supaya dia menyerangnya lebih dulu.

Kemudian, kecuali Jisoo dan Luhan yang kini sudah berdiri dengan berjalan tertatih-tatih, semua mulai melayangkan tinju dan tendangan pada lawan masing-masing. Satu lawan satu. Tetapi jelas sekali bahwa orang-orang yang tadi mengeroyok Luhan kalah telak.

Lalu seseorang yang tengah berhadapan dengan Tao menyelipkan sebelah tangannya untuk mengambil sesuatu dari balik saku seragamnya. Jisoo yang melihat kelipan cahaya dari benda yang diambil orang tersebut pun membulatkan matanya dan berlari ke arah Tao.

YA!” Jisoo berteriak saat seseorang itu hendak menusukan pisau lipatnya ke bagian tubuh Tao. Namun kejadian terjadi begitu cepat saat itu. Entah bagaimana caranya Tao bisa tersungkur ke samping hanya karena Jisoo yang biasanya tidak lebih kuat dari Tao itu mendorongnya, sementara Jisoo sendiri berdiri di tempat Tao sambil memegangi sebuah benda yang terasa dingin di kulitnya.

Sambil mengigit bibir bawahnya untuk menahan rasa sakit karena darah segar yang mengalir dari perutnya, Jisoo melepas pisau yang ada di sebelah kanan perutnya. Air mata pun tak bisa ditahan oleh pelupuk matanya karena rasa sakit yang amat sangat.

“Kim Jisoo!” Kai berteriak sembari berlari menghampiri Jisoo.

“Jisoo-ya!” Disusul oleh suara Kyungsoo.

Sementara itu, para brandalan itu langsung kabur tanpa menghiraukan Jisoo yang hampir terjatuh ke ubin jika Luhan tidak bangun dan menahannya karena kekuatan kaki Jisoo yang terkuras.

Segera saja Kai mengambil alih posisi Luhan dan langsung menggendong Jisoo dengan kedua tangannya, kemudian ia berlari secepat yang ia bisa menuju keluar dari bangunan tersebut menuju mobil Tao yang diparkirkan di depan gerbang.

Tidak seperti biasanya, kali ini Tao berlari dan langsung membuka pintu untuk Kai dan Jisoo tanpa diteriaki terlebih dahulu oleh Kai yang panik.

“Sakit…,” Erang Jisoo dengan suara lirih yang terdengar bagai bisikan angin sambil menutup matanya rapat-rapat menahan sakit. Darah terus menembus dari balik kemeja putih Jisoo.

“Aku tahu, aku tahu.” Balas Kai sambil mencoba menghentikan keluarnya darah dari perut Jisoo dengan memegangi perut Jisoo dengan tangannya. “Tetap sadar sampai di rumah sakit—Tao, lebih cepat!”

Saat ini, mobil yang tengah dikendari oleh Tao hanya menumpangi Jisoo dan Kai di kursi tengah. Sedangkan yang lainnya ditinggal di bangunan tersebut karena Kai yang terlalu panik.

Kini telapak tangan Kai sudah penuh darah. Sebelah tangannya menggenggam erat tangan Jisoo (mungkin lebih tepatnya Jisoo yang memegang erat tangan Kai karena menahan sakit). Dia terus mengatakan kata ‘tidak apa-apa’ sepanjang jalan sampai mereka sampai di rumah sakit yang berada di dekat sana.

¯

Butiran putih mulai turun ketika Myungsoo berjalan dari mobil yang ditumpanginya. Di bagian paling utara Hokkaido, jalanan sudah tertutup oleh salju. Dengan mantel hitamnya yang berada di luar dari tumpukan pakaian di dalamnya, Myungsoo mengusap telapak tangannya yang tertutup sarung tangan.

Uap putih keluar dari mulut Sungyeol yang sudah menempatkan dirinya di sebelah Myungsoo. Sama seperti Myungsoo, Sungyeol juga mengenakan pakaian bertumpuk-tumpuk untuk menjaga agar tubuhnya tetap hangat.

“Bagaimana keadaan saat musim dingin di sini?” Sungyeol bergumam.

Myungsoo menoleh, lalu mengangkat bahunya acuh tak acuh dengan wajah setengah tertawanya melihat Sungyeol yang menatap ngeri keadaan di sekitar mereka yang sudah benar-benar tertutup salju. Setelah itu, seseorang wanita yang lebih tua darinya beberapa tahun pun menghampirinya dan mulai menjelaskan hal-hal yang mereka akan lakukan di sana.

Wanita itu pun mengajak Myungsoo dan Sungyeol berjalan ke tempat yang akan menjadi lokasi pemotretan. Sebuah ladang yang kini sudah tertutup salju dengan jalanan yang dibatasi oleh kayu-kayu. Di sana terdapat sebuah rumah yang terbuat dari kayu dan sebuah pohon yang hanya tinggal rantingnya saja.

Sungguh. Di mata Myungsoo, pemandangan seperti ini sangat-sangat indah. Setelah pemotretan atau ditengah-tengah waktu istirahat, Myungsoo berniat untuk berkeliling melhat-lihat.

Sampai di tempat yang dituju, Myungsoo pun melihat banyak staff yang sudah menunggu dengan pakaia berlapis tebalnya dan juga Jung Soojung si gadis-berambut-merah-yang-meminum-pil-biru-di-kafe. Baik. Baru kali ini Myungsoo memberi julukan nama untuk seseorang, dan julukan ini sangat panjang.

“Jung Soojung, ini dia fotografer untuk pemotretan kali ini.” Wanita yang tadi berbicara dengan Myungsoo pun mengenalkannya dengan Soojung yang mengenakan sepatu bot hitam sepanjang betis dengan gaun berwarna putih yang hanya sepanjang setengah paha—tentu saja saat ini Soojung tengah memakai mantel hitam tebal di luar gaunnya.

Melihat wajah Myungsoo, Soojung langsung membulatkan matanya terkejut dan menutup matanya sejenak untuk menahan rasa kurang ajar yang telah ia lakukan pada Myungsoo kemarin.

“H-halo,” sapa Soojung dengan bahasa Jepang sambil membungkukan badannya.

Mendengar bahasa yang digunakan Soojung, wanita yang tadi berbicara pada Myungsoo—yang ternyata adalah manager dari Soojung sendiri—itu terkekeh pelan. Myungsoo pun tersenyum puas karena itu.

“Tidak ada orang di sini yang tidak bisa bahasa Korea.” Kata lelaki itu.

Soojung memejamkan matanya sejenak menahan malu, lalu menatap Myungsoo dengan pandangan tidak suka. Terlebih lagi saat Myungsoo menertawainya. Jelas Soojung tahu bahwa Myungsoo tengah mengerjainya kemarin.

Setelah itu, Myungsoo menyuruh Soojung bersiap di tempatnya untuk segera memulai pemotretan. Soojung pun melepas mantelnya dan Myungsoo sedikit terenyak begitu melihat pakaian Soojung.

Dress sepanjang lutut yang berwarna putih tulang—agar terlihat jika ia berada di sekitar salju—yang modelnya persis seperti pakaian yang dikenakan Hyeju ketika gadis itu selalu muncul di mimpinya.

Bedanya, Hyeju tidak mengenakan sepatu boot sepanjang mata kakinya dan rambutnya tidak berwarna merah.

“Aku harus ke mana?” tanya Soojung yang sudah siap untuk melakukan pemotretan.

Entah mengapa, di mata Myungsoo Soojung terlihat seperti Kang Hyeju. Walaupun hanya sejenak saja.

“Kim Myungsoo,” tepukan tangan Sungyeol pada pundak Myungsoo membuat Myungsoo mengerjapkan matanya untuk mengembalikan konsentrasinya. “Jangan melamun begitu. Jung Soojung bertanya apa yang harus dia lakukan sudah dua kali.” Tegur Sungyeol pada temannya yang kelihatannya tengah memikirkan hal lain.

“Ah, maaf.” Ucap Myungsoo. Lalu, “Soojung-ssi, kau bisa berjalan ke tengah sana—dekat pohon itu.” ia menunjuka sebuah pohon yang berada di tengah sebuah ladang yang sudah tertutupi oleh tumpukan salju.

¯

Kelopak mata Jisoo perlahan bergerak begitu kesadarannya muncul kembali. Sinar lampu dan penghangat ruangan menyapa indranya begitu Jisoo mulai bisa beradaptasi dengan keadaan di sekitarnya. Sebuah ruangan serba putih yang tak lain adalah ruang rawat rumah sakit. Dan Kai yang tertidur di sofa yang tersedia di dalam ruangan tersebut.

Kemudian ia menoleh ke arah jendela yang berada di sebelah kanan tubuhnya yang tirainya tetap dibuka. Keadaan malam kota Seoul terlihat dari tempatnya berbaring.

Sembari mencoba untuk bangun, Jisoo mengerang dan langsung memegangi perutnya yang terasa sangat sakit saat ia menggerakkannya. Ia pun mengangkat kaus rumah sakit yang tengah dipakainya dan mendapati kain kasa yang melilit di perutnya. Di bagian yang terasa sakit, ditambahi sesuatu seperti kapas—Jisoo tidak tahu namanya apa—sehingga dibagian tersebut lebih sedikit menonjol ketika disentuh.

Perutnya tidak dijahit, bukan? Pertanyaan itu terlintas begitu saja di benak Jisoo saat ia mengingat rasa sakit yang dirasakannya saat pisau itu menembus perutnya. Kemudian ia bergidik ngeri saat mengingat banyak darah yang keluar dari perutnya.

“Kau sudah bangun?”

Ketika mendengar suara Kai, Jisoo langsung melepaskan tangannya dari atas perutnya dan mendongak menatap Kai yang tengah melangkah menghampirinya lalu membantunya menaikkan bagian kepala bangsal agar Jisoo bisa bersandar.

“Perutmu sakit lagi?” tanya Kai cemas. Jisoo pun hanya menganggukkan kepalanya pelan sambil mengigit bibir bawahnya menahan sakit.

Kemudian Jisoo mengulurkan tangannya menuju gelas berisi air minum yang diletakkan di atas nakas, dan dengan cekatan Kai lebih dulu meraih gelas tersebut dan memberikannya pada Jisoo.

Gomawo.” Ucap Jisoo dengan senyum kecilnya yang manis. Lalu menegak air minumnya.

Kai menunggu Jisoo yang tengah meneguk air minumnya sambil memperhatikan wajah gadisnya itu yang agak pucat. Betapa menyesalnya Kai tentang kejadian hari ini. Seharusnya ia tidak mengizinkan Jisoo berada di tempat itu sendirian, dan seharusnya ia mencari tahu tentang tempat kesukaan Jisoo yang selalu menjadi rahasianya. Tidak peduli Jisoo akan senang atau tidak.

Setelah Jisoo menghabiskan setengah dari air minum di gelasnya, Kai pun mengambil gelas tersebut dari tangan Jisoo dan menaruhnya di nakas seperti semula.

“Bagaimana perasaanmu? Sudah lebih baik?” tanya Kai lagi khawatir bagai seorang ayah yang menghawatirkan anak gadisnya.

Dengan senyum kecil yang terlihat rapuh, Jisoo menganggukkan kepalanya. “Lebih baik.” Katanya. Lalu, “Bagaimana dengan Myungsoo oppa? Apa kau memberitahunya?”

Kai menggeleng. “Aku mencoba memberitahunya. Tetapi, ponselnya tidak aktif.” Jawabnya.

“Kalau begitu jangan beritahu dia.” Sahut Jisoo cepat. Bahkan terlalu cepat sehingga Kai menaikkan sebelah alisnya.

“Kenapa jangan?” tanya Kai. Dari suaranya yang sedikit serak, ia terdengar lelah.

“Dia akan marah,” jawab Jisoo. “Padaku.” Ia melanjutkan dengan kepala yang dirundukkan.

Mendengarnya, Kai justru meluncurkan tawanya. “Biar saja kau dimarahi olehnya. Dengan begitu, kau akan berhenti berpergian ke tempat-tempat bahaya sendirian, bukan?”

Jisoo memanyunkan bibirnya mendengar perkataan Kai yang sangat akurat mengenai itu. Dan yang membuat ia memanyunkan bibirnya adalah kekasihnya itu setuju-setuju saja jika kakak lelakinya mengurungnya dan melarangnya pergi sendirian.

Kemudian ia memperhatikan wajah Kai yang terdapat garis-garis hitam tanda bahwa kekasihnya itu lelah. Lalu, “Jongin-a, lebih baik kau pulang dan beristirahat. Aku tidak apa-apa sendirian.” Katanya, mencoba membujuk Kai untuk mengutamakan dirinya sendiri untuk kali ini.

“Bagai—”

“Sudah kubilang, aku baik-baik saja. Kau tidak dengar, ya?” Jisoo memotong kalimat Kai dengan kedua tangan bertolak pinggang. Ia sedikit geram dengan sikap keras kepala Kai terkadang.

“Baiklah, baiklah. Aku pulang.” Kai menyerah. Ia tidak ingin berdebat dengan Jisoo yang baru saja mendapat tiga jahitan di perutnya itu. “Tetapi, besok pagi aku akan kemari lagi.” Tambahnya.

Kening Jisoo berkerut menatap Kai. Lalu, “Kau berniat membolos?” tuduhan yang tepat, sebenarnya.

Kai tidak menjawab tuduhan Jisoo. Ia hanya tersenyum penuh arti sambil menaikkan bahunya. “Kalau ada sesuatu, beritahu aku.” Katanya lalu mengelus puncak kepala Jisoo sebelum ia keluar dari kamar rumah sakit berkelas VIP itu.

“Mm. Kau hati-hati di jalan.” Ucap Jisoo dengan mengulas senyum yang selalu menjadi kesukaan Kai sambil melambaikan tangannya.

Setelah perginya Kai dari kamar rawatnya, Jisoo langsung meringis karena menahan rasa sakit yang masih terasa di perutnya. Tangan kanannya memegang sekitar daerah perutnya yang dijahit, dan memejamkan matanya begitu rasa sakit itu kembali muncul.

Ketika rasa sakit di perutnya berkurang, ia melepaskan tangannya mengambil ponselnya yang diletakkan di nakas di sebelah bangsal oleh Kai. Ia ingin menghubungi kakaknya.

Ketika deringan kedua, barulah teleponnya dijawab oleh kakaknya. Namun yang membuat keningnya berkerut adalah suara seorang laki-laki yang terdengar dari seberang telepon. Jelas sekali bahwa itu bukanlah suara kakak lelakinya, Kim Myungsoo.

Nuguseyeo?” tanya Jisoo hati-hati.

“Oh, Jisoo-ya, ini aku Sungyeol. Kakakmu tidak bisa menjawab teleponmu untuk saat ini. Dia sibuk sekali—oh, tidak—” dan hubungan telepon pun terputus, membuat Jisoo menatap ponselnya dengan bingung.

Apa yang terjadi dengan kakaknya?

Kemudian Jisoo kembali mencoba untuk menghubungi ponsel kakaknya lagi, namun percuma. Teleponnya diabaikan.

¯

Myungsoo tahu ada yang tidak beres dengan Soojung sedari tadi. Tubuh gadis itu terlihat pucat dan sepertinya gadis itu menahan sesuatu yang entah apa itu.

Dan pada akhirnya, saat gadis itu tengah menjadi model Myungsoo, gadis itu ambruk di tengah-tengah tumpukan salju sehingga tanpa sadar Myungsoo melepaskan kamera dari tangannya sehingga jatuh ke tumpukan salju putih dan berlari menghampiri Soojung yang kehilangan kesadarannya di dekat pohon tak berdaun.

“Soojung-a!” terdengar suara wanita yang merupakan manager Soojung dari kejauhan ketika Myungsoo hendak menggendong Soojung dengan kedua tangannya.

Karena tumpukan salju yang menutupi tanah, itu membuat Myungsoo sedikit kesulitan untuk berlari sambil membawa Soojung yang kini memejamkan matanya dengan rambut merahnya yang menutupi sebagian wajahnya.

“Siapkan mobil!” titah Myungsoo ketika dirinya merasa bisa di dengar orang-orang. Dan dengan gesit beberapa kru mulai berlari ke parkiran untuk menyiapkan mobil.

Sesampainya Myungsoo di tanah setapak yang bebas dari tumpukan salju, sebuah mobil menghampirinya dan seseorang membantunya untuk memasukkan tubuh Soojung ke dalam mobil.

Myungsoo memilih untuk tidak ikut masuk ke dalam mobil dan meminggirkan dirinya dari pintu mobil agar manager Soojung dapat masuk ke dalam mobil.

“Kim Myungsoo,” begitu mendengar suara Sungyeol yang memanggil namanya, Myungsoo segera menolehkan kepalanya dan mendapati Sungyeol tengah membawa kamera miliknya yang tadi ia biarkan terjatuh di atas gundukan salju.

“Ah,” Myungsoo mendesah begitu teringat bahwa dirinya telah menjatuhkan kamera kesayangannya begitu saja tadi. Lalu ia mengambil kameranya dari tangan Sungyeol dan mengelap lensa kamera tersebut dengan hati-hati.

“Apa yang terjadi?” tanya Sungyeol dengan wajah serius.

Myungsoo mengangkat pundaknya tak peduli sambil terus mengelap bagian-bagian kameranya.

“Myungsoo, tadi itu bukan seperti dirimu, kau tahu? Menjatuhkan kameramu—”

“Aku tahu.” Sela Myungsoo dengan nada malas sebelum Sungyeol melantur kemana-mana. Lalu ia berlalu untuk menghampiri mobil yang akan membawanya kembali ke hotel.

Toh, sesi pemotretan akan ditunda satu atau dua hari, jadi lebih baik dirinya kembali ke hotel dan menjernihkan pikirannya.

Alasan mengapa ia langsung berlari ke arah Soojung yang tiba-tiba ambruk adalah… karena dari kejauhan seperti itu, Soojung mengingatkannya pada mantan kekasihnya. Kang Hyeju.

¯

Dengan tubuh penuh memar seperti ini, Luhan tetap berniat untuk keluar rumah dan pergi ke kawasan Gangnam. Baru saja seseorang meneleponnya, dan seseorang itu menyuruhnya pergi ke sebuah alamat yang akan dikirimnya lewat pesan singkat.

Dan di sinilah ia, berdiri di depan sebuah gedung tinggi yang telihat mewah jika dilihat dari arsitekturnya. Gedung ini adalah sebuah apartemen, ia tahu itu. salah satunya adalah apartemen dari Kim bersaudara.

Kim Myungsoo dan Kim Jisoo.

Bagaimana Luhan tahu bahwa gedung menjulang tinggi ini merupakan gedung apartemen yang ditempati oleh Myungsoo dan Jisoo? Tentu saja karena ia pernah mengikuti Jisoo pulang. Dan, bagaimana Luhan bisa tahu bahwa kakak laki-laki Jisoo bernama Kim Myungsoo? Jelas karena Myungsoo lah Luhan pindah ke sekolah Jisoo dan mendekati Jisoo.

Luhan tidak langsung masuk ke dalam gedung tersebut melainkan hanya menunggu seseorang di depan pintu masuk. Alasannya? Karena seseorang yang menyuruh Luhan kemari tidak memberitahu nomor apartemen yang ditinggalinya.

Ekpresi wajah Luhan berubah ketika melihat sosok pria jangkung yang mengenakan pakaian rapih dengan kemeja putih serta jas berwarna hitam. Lelaki itu melempar senyumnya pada Luhan seketika ia melihat Luhan di luar.

“Kau benar-benar kemari, Kris.” Ucap Luhan pada pria yang lebih tua beberapa tahun di atasnya itu dingin.

“Tentu saja,” balas Kris, masih dengan senyum yang terlihat aneh oleh Luhan tanpa menggubris memar-memar yang terlihat di wajah Luhan. “Ayo bicara sebentar.” Katanya lagi sambil berlalu mendului Luhan.

Luhan tidak dapat banyak berkata-kata dan hanya mengikuti Kris dari belakang.

Dari dulu hingga sekarang, Luhan tidak tahu apa yang ada di pikiran Kris. Jalan pikiran lelaki itu sangat berbeda dari orang-orang. Dan terkadang terlalu ekstrim.

Namun, Luhan tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya mengikuti kemauannya. Ini sudah menjadi perjanjiannya semenjak beberapa tahun yang lalu.

Tak disangka, ternyata Kris mengajak Luhan ke gedung tua yang kemarin menjadi tempat penusukan Jisoo. Luhan tidak tahu bagaimana Kris bisa tahu mengenai tempat ini, namun ia juga tidak memiliki niat untuk bertanya.

Kemudian Kris mengajaknya ke atap dan menaiki tangga kayu seperti yang Luhan dan Jisoo lakukan kemarin di tengah hujan. Karena tidak tahu apa maksud dibalik ini semua, Luhan tidak ikut menaiki anak tangga dan hanya menunggu Kris kembali dengan membawa sesuatu di tangannya.

Alis Luhan naik ketika Kris menunjukkan sebuah kamera polaroid milik Jisoo yang dihadiahkan olehnya. “Bagaimana kau…,” kali ini Luhan tidak sanggup menahan dirinya untuk tidak bertanya.

Alih-alih menjawab, Kris hanya mengangkat bahunya acuh tak acuh. Sama sekali tak ada niatan untuk menjawab pertanyaan Luhan. Lalu ia menyodorkan kamera itu pada Luhan.

“Kembalikan ini pada Jisoo, dan…,” Kris memberi jarak dengan apa yang akan dikatakan selanjutnya. “Dan, buat Kai memutuskan gadis itu.”

Luhan membelalakan mendengar kalimat yang barusan diucapkan Kris. Itu bukan permintaan—itu perintah. Luhan tidak tahu bahwa Kris bisa mengetahui apapun tentang Jisoo, temasuk Kai yang notabenenya adalah pacar gadis itu.

-To be continue-

Hai readers-nim~ kalo boleh jujur, sebenernya aku agak ragu buat ngelanjutin ff ini, soalnya peminat untuk chapter 2 sangat jauh dari apa yang aku harapkan. Tapi, aku coba berpikir positif aja. Mungkin aja karena masih chapter 2 dan blm keliatan konfliknya, jadi mungkin blm ada yg minat. Jadi, mulai chapter 3 aku udah mulai masukin sedikit konflik dan sedikit rahasia. Nah, buat yg tanya siapa sih cowok yg ada di bagian terakhir chapter 1, di sini udah ke jawab: Kris. Entah kenapa, aku selalu mikir Kris cocok jadi orang jahat jahat baik gimana gitu(?) muahaha. Buat fans Kris, maafin aku ya._.v

Buat chapter berikutnya, aku gak janji bakal dipublish apa engga. Aku mulai liat dari chapter ini apakah peminatnya sama kayak intro dan chapter 1 atau enggak. Mungkin aku lanjut, atau mungkin gak aku lanjut:/ jadi, siders, tolong ya hargai waktuku yg udah aku luangin buat nulis. Terima kasihJ

Salam hangat, dari aku~ ppyong~~~!

Advertisements

20 responses to “Long-terms Memories – Chapter 3

  1. keren kok thor ceritanya
    makin kesini makin bikin penasaran lho
    aku ngikutin dari awal lho
    meski g rajin komen gegara masalah koneksi tapi beneran aku interest bgd kok sama karyanya author
    ditunggu next chapnya ya thor :3

  2. jangan bilang kris ini adalah musuh myungsoo dan menyukai kang hyeju sehingga kris ingin balas dendam dg melukai adik myungsoo yakni Jisoo!
    *sok analis*
    please cepat selesaikan authornim. aku suka FF ini.
    udah nunggu black swan lama ini juga digantung. aku bisa jadi penasaran setengah mati.
    author tolong! jgn mengerjakan sesuatu yg setengah2 hahahaha #ancamauthor

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s