[Chapter 4] Love in Love

Title: [Chapter 4] Love in Love

Author: hyeri

Cast:

  • Kim Jong In / Kai (EXO)
  • Lee Taemin as Kim Taemin (SHINee)
  • Choi Sin Ya (OC/You)
  • Krystal f(x) as Jung Soojung / Krystal

Genre: Romance, etc.

Rating: T (PG15)

Length: Chapter 4/?

Disclaimer: Kesamaan nama tokoh atau apapun yang menyakut fanfic ini bukanlah suatu kesengajaan. Cast bias milik Tuhan, kecuali OC. Plot/alur/cerita hanya milikku seorang. Ini semua adalah rangkaian imajinasi yang ku tuangkan melalui kata per kata dalam tulisan.  DON’T BE PLAGIATOR!

A/N: *sembunyi di balik selimut* Maafkan author! Maaf karena lama update-nya. Simple, gak tau kenapa tahun ini saya pengennya diam terus hiatus bentar dari nulis. Selain itu, banyak keperluan sekolah. Maklum, kan udah SMA (yeay!) Saya sungguh berterima kasih untuk para kalian /? yang mau nungguin fanfic keterlaluan ini T-T Ok, happy reading dan semoga fanfic ini suka dan dicintai. So, enjoy this fanfiction and sorry for any typo there. Once again, enjoy!

Prolog | Chapter 1  | Chapter 2 | Chapter 3

***

“Annyeong haseyo (apa kabar)? Nama saya Jung Soojung.”

Begitulah sapaan singkat seorang murid baru Bonsang Senior High School. Seorang gadis cantik pindahan dari Amerika dan mampu membuat semua murid di kelas barunya terpesona. Entah karena kecantikannya atau statusnya sebagai siswa pindahan. Semuanya terlihat menerima gadis bernama Soojung ini dengan baik, bahkan mungkin ia akan menjadi murid populer di sekolahnya.

“Baiklah. Kalian bisa mengenalnya lebih lanjut saat istirahat,” Guru Park langsung mengambil alih pembicaraan.

Sambil menunjuk ke arah belakang kelas, ia melanjutkan, “kau bisa duduk di samping murid bernama Kim Jong In itu. Kebetulan siswa bernama Moonkyu—yang duduk di samping Kai—telah pindah. Jadi, kau bisa duduk di sana dan mulai belajar.”

Soojung membungkuk sopan dan mengucapkan salam kepada wali kelasnya saat ini. Gadis cantik ini pun langsung bergegas menuju bangku kosong di belakang kelas, di mana ia akan duduk di samping lelaki bernama Kim Jong In yang sudah tidak asing lagi baginya.

Semua mata tertuju kepada gadis bernama Soo Jung ini, memperhatikan setiap gerak-geriknya yang entah mengapa menjadi perhatian setiap mata di dalam kelas tersebut. Tak terkecuali sepasang mata yang sedari tadi memang memperhatikannya dengan seksama sampai Soo Jung terduduk manis di bangku barunya.

Soo Jung berpaling dari tatapan mata teman-teman kelasnya ke arah Kai, sambil setengah berbisik ia berkata dengan pelan, “Kau sekolah di sini juga?”

Kai yang sedari tadi mungkin juga memperhatikan gadis tersebut dengan tenangnya menjawab, “Benar. Aku sangat terkejut kau ternyata pindah ke sekolah kami.”

Soo Jung tersenyum dan memperlihatkan sipitan matanya melihat bagaimana cara Kai menjawab pertanyaannya. Terlihat dingin, asik, nyaman dan juga mungkin satu tambahan kata yang terlintas di kepalanya ketika melihat seringai lelaki tersebut. Nakal?

“Kai sangat beruntung karena bisa duduk di sebelah murid baru yang populer itu.” Taemin akhirnya membuka mulutnya, memberi tanggapan singkat miliknya.

Sin Ya pun menyadarkan pikirannya dan hanya terdiam mendengar tanggapan Taemin begitu saja. Entah apa yang harus ia katakan lagi, pikirannya kini sesak dengan Kai dan Soo Jung. Membuat perasaannya semakin rumit.

Gadis yang tengah merasakan perasaan rumit ini akhirnya membuka lembaran-lembaran buku pelajarannya dan mencoba memaksakan pikirannya agar fokus terharap pelajaran pertama sekolahnya hari ini. Menyampingkan perasaannya yang mungkin baru pertama kali ia rasakan. Tidak peduli pada kenyataannya, dirinya sendiri benci dengan kata ‘paksaan’.

***

Bel istirahat sekolah akhirnya terdengar di setiap penjuru kelas, sekaligus memperdengarkan riuhnya siswa-siswi di kelas yang hendak pergi ke kafetaria sekolah. Tak luput juga, dua manusia yang sedari tadi tengah merapikan buku-buku mereka.

“Kajja (Ayo)! Kita ke kantin.” ajak Taemin kepada Sin Ya sambil merapikan beberapa bukunya.

Sin Ya pun menjawabnya dengan nada kecil sambil merapikan helaian rambutnya. Namun ekspresinya berubah seketika ketika melihat dua teman sekelasnya tengah berjalan bersama, sepertinya hendak ke luar kelas. Tak masalah baginya, jika kedua orang itu adalah Jonghyun dan Se Kyung, karena memang mereka telah berpacaran lama. Namun yang menangkap perhatian matanya kini adalah dua orang yang tidak asing baginya. Kai dan Soo Jung—murid baru di kelasnya. Mereka bahkan terlihat akrab.

Sin Ya langsung berulang kali menyikut siku kanan Taemin dengan keras hingga membuat Taemin meringis kesakitan.

“Ada apa!?” tanya Taemin sambil mengelus siku kanannya.

“Lihatlah,” jawab Sin Ya sambil menunjuk-nunjuk Kai dan Soo Jung. Taemin pun mengikuti arah tunjukan jari Sin Ya dan seperti yang diperkirakan, Taemin dengan seketika menampar pipi kirinya sendiri dan memperlihatkan wajah bingungnya.

“Apakah dia benar-benar Kim Jong In yang kita kenal? Sejarah sekali ia berjalan bersama seorang gadis. Syukurlah.”

Sin Ya langsung kembali menyikut keras lengan Taemin dan bertanya dengan kesal, “Apa maksudmu dengan kata ‘syukurlah,’ huh!? Kai sebelumnya tidak pernah mau diajak jalan bersama dengan gadis! Ini aneh.”

Taemin memiringkan kepalanya sembari memicingkan matanya dan menjawab dengan santai, “Itulah mengapa aku bersyukur. Hal ini menjadi pertanda bahwa Kai itu normal, kan? Aku kira malah dia adalah penyuka sesama jenis karena tidak pernah akur dengan perempuan. Dan akhirnya sekarang dirinya terlihat jauh lebih santai dengan perempuan. Ah, syukurlah.”

Segera setelah namja cantik ini menghentikan omongannya, ia langsung mendapatkan jitakan keras dari Sin Ya. “Aish, cobalah sekali-kali untuk berpikir secara rasional. Dasar lelaki berambut jamur!”

Taemin meringis kesakitan sambil memegangi kepala bagian kanannya. Tapi jitakan itu memang pantas ia dapatkan atas pikirannya yang selalu tidak logis. Apa sebenarnya isi kepala Taemin?

“Sudahlah. Ayo kita ke kantin. Aku lapar sekali, toh nanti kita juga akan bertemu dengan mereka.” kata Taemin sambil menarik tangan kiri Sin Ya dan mereka pun langsung bergegas ke kantin.

***

Sin Ya dan Taemin berjalan menuju kantin bersama. Seringkali mereka terlihat bersama dan menunjukkan rasa cocok satu sama lain, hal ini kerap menimbulkan prasangka di benak siswa-siswa sekolah bahwa mungkin mereka berpacaran—mengesampingkan status sepupu di antara mereka berdua. Tapi mereka tidak pernah menggubris tanggapan teman-temannya, yang mereka pikirkan adalah persahabatan dan keluarga. That’s it. Tapi mungkin tidak bagi Taemin.

“Ah, sudah lama sekali aku tidak makan pisang.” kata Taemin diselanya ia mengambil pisang untuk makan siangnya.

“Menu buah-buahan hari ini ternyata pisang. Kau menyukai pisang, kan?” balas Sin Ya sambil memperhatikan pisang miliknya dengan rasa sedikit jijik dan merasa tidak nafsu makan.

Taemin mengangguk semangat dan menjawab, “Tentu saja!”

Sin Ya tersenyum dan langsung mengambil pisang miliknya dari piring makannya hingga meletakkannya di atas piring makanan Taemin, “Kalau begitu, ambilah pisang milikku ini dan makanlah sepuas hatimu.”

Taemin berdecak sambil bergumam, “Jangan pura-pura baik. Kau begini karena kau memang tidak menyukai pisang, iya ‘kan? Aku tahu itu, aish.”

Sin Ya tertawa kecil menanggapi perkataan Taemin. “Hehe, kau memang pengertian.”

Terlihat sekilas kuluman senyum Taemin saat memperhatikan lucunya wajah Sin Ya ketika tertawa dengan jarak sedekat ini. Melihat gadis itu tertawa seperti ini, dengan seketika membuat jantung Taemin berdetak lebih cepat. Itulah mengapa ia sering membuat Sin Ya tertawa, karena dirinya menyukainya.

“Sudahlah. Kalau begitu, kita akan makan di mana? Mejanya hampir penuh.” ucap Taemin seraya mengedarkan pandangannya mencari-cari meja kosong untuk tempat makannya bersama Sin Ya.

Sin Ya pun ikut mencari-cari tempat yang pas untuk mereka makan dan pencariannya terhenti oleh suara Taemin yang tiba-tiba.

“Itu dia!” kata Taemin dengan cukup keras.

Sin Ya mengikuti arah pandang mata Taemin dan menemukan meja yang sudah ditempati oleh dua orang.

Kai dan Soo Jung? ─batin Sin Ya.

“Aa-apa tidak ada ada meja lain?” tanya Sin Ya dengan hati-hati sambil mengedarkan pandangannya keliling.

“Kau gila? Meja di sini penuh. Mau tidak mau kita harus bersama mereka, toh masih cukup. Ayolah, aku lapar.” jawab Taemin.

Sin Ya menelan ludahnya berat dan dengan sedikit kaku berjalan menuju meja pojok kantin—di mana Kai sering menempatinya jika sendirian.

“Lihat ini! Lucu, kan? Hahaha,” ucap Soo Jung sembari tertawa seraya memperlihatkan ponselnya ke arah Kai di depannya.

Kai ikut tertawa dan langsung balik memperlihatkan ponsel miliknya ke arah Soo Jung sambil berkata, “Lihat foto ini! Lebih lucu, kan? Kau kalah! Haha,”

Dari kejauhan Kai dan Soo Jung yang terlihat asyik saling memamerkan foto-foto masa kecil mereka, Sin Ya dan Taemin tengah berjalan menuju arah mereka. Sin Ya memicingkan matanya melihat Kai dan Soo Jung yang terlihat akrab. Entah ada api muncul dari mana, hatinya terasa panas sekarang. Dirinya bahkan mengigit bibir bagian bawah dalamnya terus-menerus. Sementara Taemin terlihat lebih santai dan bahkan terus memasang senyum manisnya di setiap langkah kakinya.

Tatapan mata Sin Ya pun akhirnya bertemu dengan mata Soo Jung, hingga membuat keramaian Kai dan Soo Jung terhenti. Soo Jung tersenyum sambil melambaikan tangannya ke arah Taemin dan Sin Ya yang tepat di depan mejanya sekarang.

Kai yang duduk membelakangi sedari tadi akhirnya menyadari keberadaan Taemin dan Sin Ya tengah berdiri di belakangnya kali ini.

“Annyeooong!” sapa Taemin dengan nada khasnya, sapaannya pun disambut baik oleh Soo Jung dan dengan dingin oleh Kai. Terutama ketika melihat Sin Ya bersama saudara kembarnya kini, membuat perasaan Kai kembali dingin seperti biasa. Sepertinya roh asli miliknya telah kembali.

“Kami menumpang duduk di sini, ok? Tempat lain penuh. Kami tidak akan menganggu kalian, yang kami inginkan hanya makan dengan tenang, selesai.” ucap Taemin yang terdengar sok asik di telinga Kai.

Akhirnya, tanpa menunggu balasan dari Kai dan Soo Jung, Taemin mengambil tempat untuk duduk di samping Kai sementara Sin Ya di samping Soo Jung. Mereka semua merasa canggung satu sama lain, mereka semua diam tanpa mengeluarkan omongan sepatah kata apapun. Mungkin ini wajar bagi Soo Jung yang notebene murid baru, namun bagaimana dengan tiga makhluk lainnya?

“Err, cha! Selamat makan! Aku akan menghabisinya!” kata Taemin yang mencoba memecahkan keheningan. Dia dan Sin Ya pun akhirnya menyantap makan siang mereka. Sementara Kai dan Soo Jung yang sebelumnya asyik mengobrol kini ikut diam.

“Kau mau, Kai?” tanya Taemin sambil mengarahkan nasinya kepada Kai di sela makannya.

“Kau tidak melihat piring makananku? Huh?” jawab Kai dengan dingin sambil menunjuk ke arah piring makanannya yang kosong, pertanda ia telah memakannya semua.

Taemin terdiam dan merasa kikuk, hingga ia akhirnya memutuskan melanjutkan makannya. Sin Ya terlihat seperti robot yang diprogram untuk makan, karena terlihat jelas betapa kakunya ia ketika menyantap makan siangnya. Dia terus diam tanpa kata-kata, tidak seperti biasanya yang terlihat cerewet bahkan saat makan. Matanya terus tertuju ke arah makanan dan enggan mengadahkan kepalanya sekedar untuk bertatap muka dengan ketiga makhluk di sekitarnya kini. Ada apa dengannya?

Namun tanpa sepengetahuan gadis bernama Sin Ya ini, Kai adalah satu-satunya orang yang tengah memperhatikan gerak-geriknya. Kai seperti tengah memasang poker face-nya ketika memandangi yeoja yang duduk di depan kanannya kini. Wajahnya terlihat dingin namun tidak dengan perasaannnya saat ini. Di satu sisi, ia merasa senang karena bisa lama-lama memandangi wajah Sin Ya tanpa keributan ataupun gangguan Taemin. Bahkan ketika melihat sebutir nasi menempel di sudut bibir gadis itu, ia ingin sekali meraihnya dan membuangnya agar tidak mengganggu wajah gadis yang selalu ia pikirkan setiap saat, sayangnya ia tidak bisa. Dan di satu sisi lagi, ia harus ingat bahwa perasaan rumitnya ini tidak boleh terjadi. Bagaimana pun itu, dirinya harus mencoba melupakan perasaan ini demi menjaga perasaan saudara kembarnya, Taemin.

“Krystal, ayo kita ke kelas.” ajak Kai dengan tiba-tiba, membuat Taemin dan Sin Ya berhenti menguyah makannya.

Taemin segera mungkin menelan habis nasi dalam mulutnya dan akhirnya bertanya dengan bingung, “Keu… risseu… tal? Siapa itu?”

“Itu aku. Nama panggilanku Krystal. Maaf sebelumnya aku tidak memberitahu nama panggilan ini di perkenalanku sebelumnya.” jawab Soo Jung sambil tersenyum sopan.

“Eugh? T-tapi mengapa Kai mengetahuinya? Kalian kan baru saja bertemu … secepat itu, kah?” timpal Taemin seperti seorang penyidik.

Krystal sedikit tertawa melihat tingkah laku lucu Taemin dan menjawab, “Aku dan Kai sudah pernah bertemu sebelumnya─”

“Uhuk!”

Semua pasang mata tertuju kepada Sin Ya karena tiba-tiba dirinya tengah tersedak makanan. Sin Ya pun segera minum dan melancarkan nafasnya yang tersengal.

Taemin langsung kembali bertanya tanpa basa-basi lagi, “DI MANA?!”

Kai yang ikut terseret dalam topik pembicaraan ini terlihat malas untuk ikut menanggapi pertanyaan demi pertanyaan yang dilontarkan Sang Penyidik Taemin. Dirinya hanya menopang dagunya malas.

Krystal melanjutkan omongannya, “di … Pantai Haeundae, kemarin─”

“Uhuk!”

Kembali, Sin Ya merasa sesuatu di kerongkongannya terhambat sesuatu hingga membuatnya terbatuk. Entah apa yang salah dengan dirinya. Seperti otak dan sistem kerja otot pencernaannya tidak sinkron.

“Kau tidak apa-apa, Sin Ya-ssi?” tanya Krystal yang menyadari sedari tadi Sin Ya selalu tersedak.

Kai pun kali ini ikut angkat bicara sambil tersenyum meremehkan kepada Sin Ya, “Makanya, sebelum makan berdoa-lah dulu, ck.”

Sin Ya membalas perkataan Kai dengan pelototan matanya yang terlihat kesal di sela ia minum. Sementara itu Krystal merasakan ada yang aneh dengan kelakukan Kai, sangat berbeda ketika Kai bersamanya.

“Tapi mengapa, kami tidak melihatmu? Kemarin, kami bertiga jalan bersama ke pantai,” Taemin lagi-lagi bertanya.

Krystal dengan sabarnya kembali menjawab, “Nado molla (aku juga tidak tahu). Aku bertemu dengan Kai hanya sebentar, kami mengobrol dan bercerita─”

“UHUK!”

“BERCERITA?!”

Respon batuk Sin Ya kembali lagi terdengar bersamaan dengan teriakan kaget Taemin yang cukup keras ketika mendengar penjelasan Krystal. Kai kali ini benar-benar kesal dengan Taemin dan Sin Ya. Sebegitunya-kah mereka ketika mendengar penjelasan Krystal mengenai pertemuannya dengan dirinya?

Mengapa aku harus hidup bersama dengan dua makhluk heboh seperti ini, ugh! ─batin Kai dalam hatinya.

“Sudahlah, Krystal, ayo kita ke kelas. Dua manusia ini biarkan saja di sini!” ucap Kai dengan kesal.

Kai yang tak tahan lagi akhirnya mengajak Krystal pergi hanya sekedar meninggalkan Taemin dan Sin Ya. Sebelum tangan Krystal ditarik oleh Kai, ia dengan sopannya membungkuk dan tersenyum ke arah Taemin dan Sin Ya hingga akhirnya harus menyamakan langkah kakinya dengan Kai yang cepat.

Tinggal-lah dua makhluk yang sedari tadi berhenti menguyah makanan mereka, menatap dua punggung yang menjauh dari mereka. Taemin dan Sin Ya sama-sama terdiam dan terus mengedipkan mata mereka—masih merasa tidak percaya—dengan Kai dan Krystal.

Sin Ya langsung menyadarkan pikirannya yang sempat kosong tadi dan bergumam, “Jadi … perempuan yang aku lihat bersama Kai di pantai kemarin adalah Krystal, suatu kebetulan yang aneh.”

Taemin menoleh ke arah Sin Ya dan ikut berpikir, “Sekali lagi aku bersyukur karena Kai mulai tertarik dengan wanita.”

Ttak!

Sin Ya kembali menjitak kepala Taemin dengan sedikit lebih keras. Sungguh, Taemin merusak segala pemikiran penasaran Sin Ya tentang hubungan Kai dan Krystal. Lagi-lagi apakah setiap hari Sin Ya harus memikirkan tentang manusia bernama Kai yang harus diakui akhir-akhir menarik perhatiannya? Bahkan dirinya sendiri tidak mengerti mengapa, sesulit menjawab pertanyaan ‘mengapa’ tanpa jawaban ‘karena’.

***

Waktu sekolah berlalu begitu cepat. Semua murid beserta guru Bonsang Senior High School kini berangsur-angsur meninggalkan sekolah dan pergi pulang ke rumah. Tak luput juga Taemin dan Sin Ya. Keduanya terus berjalan bersama sampai di depan gerbang sekolah, hingga akhirnya Taemin memulai pembicaraannya dengan nada sedikit kesal.

“Sin Ya … sepertinya kau harus pulang sendirian kali ini.” ucap Taemin sambil menggaruk kepalanya yang bahkan tidak gatal.

Sin Ya langsung menghadap ke arah Taemin sambil membalas, “Ada apa?”

Taemin berdecak, “Aku harus ke rumah Minho untuk mengerjakan tugas kelompok Biology. Kau tahu, sebentar lagi ujian kenaikan kelas, dan Guru Song memberikan kita tugas kelompok untuk penambahan nilai jika mungkin kelak nilai ujian kita merah. Ya … mau tidak mau, aku harus mengerjakannya, apalagi nilai Biology-ku selalu rendah.”

Segera setelah mendengar penjelasan panjang dari Taemin, Sin Ya mendadak lemas dan berulang kali menghelakan napasnya panjang.

“Baiklah.” jawab Sin Ya singkat.

***

Perjalanan pulang Sin Ya sedikit sepi dan datar ketika mengetahui bahwa Taemin tidak dapat pulang bersamanya. Sering kali dirinya mendengus kesal sambil melangkahkan kakinya. Gadis ini mengembungkan kedua pipinya dan mengedarkan pandangan matanya menyusuri jalanan Yangjeong, ia dapat menangkap beberapa toko yang buka. Hasratnya untuk berkeliling dan mencari pernak-pernik wanita akhirnya muncul. Walaupun dirinya tidak girly seperti yang terlihat, setidaknya hanya satu jepitan rambut sudah cukup, bukan?

Kringgg

Sin Ya memasuki toko aksesoris terdekat. Nuansa penuh pink dan girly langsung menyapa matanya. Tak luput juga sebuah lagu K-pop terbaru diputar sebagai latar musiknya. Sin Ya berjalan menyusuri setiap lorong toko tersebut. Sesekali dirinya berdecak kagum melihat pernak-pernik yang lucu sekaligus indah di matanya. Namun kini matanya menangkap satu benda mengkilau yang menarik perhatiannya. Sebuah kalung dengan liontin buah apel. Sekilas pikiran gadis ini mengingat Kai, makhluk yang akhir-akhir mencuri perhatiannya. Ia teringat bagaimana cintanya Kai dengan buah apel. Ah, haruskah Sin Ya mengingat lelaki yang telah membuatnya rumit di saat-saat menyenangkan seperti ini?

Kringgg

Lonceng pertanda orang masuk ke dalam toko pun berbunyi. Dengan refleks, Sin Ya menolehkan matanya ke arah pintu masuk. Matanya kini membulat sempurna dan dadanya tiba-tiba berdetak dengan kencang hingga merasakan sesak. Di depan matanya kini, terlihat Kai bersama Krystal berdua. Pandangan matanya bertemu dengan Kai dan mereka saling menatap lama. Sedangkan Krystal masih belum menyadari keberadaan Sin Ya di dalam toko tersebut. Matanya masih terpukau melihat langit-langit toko yang indah dan mengkilau.

Sedangkan Sin Ya dan Kai masih saja saling menatap. Kai memicingkan matanya ke arah Sin Ya, melihatnya dengan detail dan baru ia sadari, bahwa Taemin tidak ada di sana bersama gadis ini. Sin Ya masih saja terpaku di tempatnya. Kesan dingin Kai selalu melekat pada dirinya dan itulah yang dapat ditangkap pandangan mata Sin Ya.

Kai dengan perlahan menggenggam tangan kiri Krystal dengan erat dan sengaja memperlihatkannya kepada Sin Ya. Krystal pun bergidik dan merasakan sengatan listrik yang menjalar dari tangannya ketika itu Kai menggenggam tangannya erat. Apa arti sengatan itu? Apakah ini mengartikan perasaan Krystal? Namun, ada apa dengan Kai yang tiba-tiba seperti ini?

Mata Sin Ya kini mulai berair dan tak sanggup untuk berkata-kata lagi. Mulutnya tertutup rapat, namun tidak dapat dipungkiri bahwa tubuhnya kini gemetar hebat. Dada gadis cantik berambut panjang ini pun terasa semakin sesak, tatkala dirinya melihat suatu hal yang tidak ingin dirinya lihat. Ketika lelaki yang disukainya bersama gadis lain, bahkan melakukan kontak fisik—bergandengan tangan. Sekujur kakinya lemas seketika. Ia tidak bisa bertahan lebih lama lagi di sana.

Krystal yang akhirnya menyadari keberadaan Sin Ya, cepat-cepat mencoba melepaskan genggaman tangan Kai. Walaupun ia sangat menikmatinya, namun ia menyadari bahwa gadis di depan matanya kini terluka. Krystal berusaha dengan sekuat tenaga melepaskan genggaman Kai, tapi dirinya tidak bisa. Sekali dirinya mencoba, semakin kuat pula genggaman Kai terhadap dirinya. Apakah Kai sengaja?

Krystal kini terjebak dalam dunia percintaan rumit antara Kai dan Sin Ya. Ia merasa seperti setan di antara orang-orang ini. Posisinya kini sangat tidak menguntungkan. Rasanya seperti dirinya dipaksa untuk terlibat dalam keadaan mereka. Dia sungguh tidak menyukai hal ini.

Sin Ya sudah tidak tahan lagi. Daripada pemilik toko tiba-tiba memanggil ambulan karena mungkin saja Sin Ya akan pingsan di tempat, dirinya memutuskan harus cepat-cepat pergi dari tempat ini. Sin Ya melangkahkan kakinya dengan berat karena butuh waktu lama untuk mengumpulkan tenaga baginya sekedar menggerakkan kakinya yang lemas. Ia melewati tubuh Kai yang tegap. Tanpa sesekali pun memandang ke arah lelaki itu.

Hatinya terlalu sakit sekarang. Cukup untuk dirinya merasakan hal seperti ini.

-To be continued.

Cuap-cuap Author:  Huaaaa! Makasih banyak pake bingit buat kalian yang udah mau nungguin fanfic keterlaluan ini dan terima kasih karena sudah meluangkan waktu buat baca{} Maaf karena laaaaaaaama gak update dan baru diupdate sekarang Chapter 4-nya. Sedih banget sih ;~; Semoga para kalian /? tidak bosan menunggu kelanjutan fanfiction Love in Love dan mudahan kalian mendapatkan berkah dan hidayah-Nya ._. Takut karena udah lama gak lanjutin, jadi karakter cast-nya bakal berbeda, tapi, mudahan gak yaaa. So, doain yang terbaik dan tunggu Chapter-Chapter selanjutnya ^^)/
Part 5 bakal muncul sebuah permasalahan yang mudahan greget. Dan satu lagi, doain please cepat publish ;_; Silahkan RCL ^o^)/ Saya menerima kritik dan saran, asalkan bukan nge-bash aja -.-
Sampai jumpa di Part selanjutnya!

PS. Oh ya, untuk kalian yang mau titip fanfic sama saya (yang mau aja sih -.-), bisa kirim aja ke email: ria.aswidyanti@gmail.com – Tulis selengkap2nya. Pakai poster lebih bagus ._.)b Saya tunggu~ Tapi maaf, kalau agak lama balasnya, hehe.

51 responses to “[Chapter 4] Love in Love

  1. Kai nyebelin ih -___- gatau perasaan yeoja!
    babo babo babo ..
    bikin Kai nya kehilangan Sin Ya thor …
    aaah! itu sebenernya Kai sama Sin Ya sepupuan sedarah? atau gimana? semoga aja enggak hahaha …. ^^

    chapter 5 nya jangan lama-lama ya thor ^^

  2. Pingback: [Chapter 5] Love in Love | FFindo·

  3. Pingback: [Chapter 6] Love in Love | FFindo·

  4. Sabar yaa Shin Ya *pukpuk* >.<
    Yang aku harapkan, Kai berubah -_- Jangan sok dingin kalau bareng Shin Ya -_-
    Jadi sedih kan Shin Ya nya … -___________-
    Dan dan dan.. Krystal paham perasaan Shin Ya -_-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s