We Love Him – Part 3 [Sequel I Don’t Do That!]

WLH cover

Author: Ryana Kim ( @Ryana_Kim )

Cast: Park Ji Yun, Kim Ryeon, Lee Donghae, Lee Hyuk Jae

Support Cast: Park Jungsoo, Lee Sungmin, choi siwon, others

Genre: Friendship, Romance

Lenght: Chapter

Happy Reading 🙂

 Previous : Teaser | 1 | 2

Kendaraan yang berlalu lalang di pusat kota seoul hari ini terlihat sangat ramai dari biasanya. Semua mobil seperti berlomba-lomba menunjukkan betapa nyaringnya suara klakson mereka. Dari dalam mobilnya, seorang pria yang baru saja berhasil keluar dari kemacetan itu menghembuskan nafas lega. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang sambil memperhatikan keadaan sekitar. Di pinggiran jalan terlihat banyak orang-orang asing berkeliaran. Dari yang berkuliat hitam, coklat, sampai putih, dari yang berambut Lurus, kriting, sampai kribo. Sepertinya mereka adalah wisatawan. Mengapa ramai sekali? Terlihat lebih banyak dari biasanya, seperti akan ada….. astaga, bukankah sebentar lagi festival Hi Seoul? Pantas saja ramai sekali. Ia mulai memaklumi. Festival itu adalah satu salah festival yang paling di tunggu para wisatawan asing dan juga penduduk seoul sendiri jadi wajar saja sangat ramai.

Pria itu sedikit menambah kecepatan mobilnya. Jalan yang ia lalui sekarang agak longgar karena sudah mulai jauh dari pusat kota seoul, tapi tidak bisa juga di bilang sepi.

TIIIIIIIINNNNNN………..

Pria itu tersentak ketika tiba-tiba mendengar suara klakson lagi setelah beberapa saat tidak mendengarnya. Suara klakson itu sangat nyaring.

“YAK, APA KALIAN INGIN MEMBUATKU TULI?” Teriak pria itu dari dalam mobil. Sudah jelas tidak akan ada yang bisa mendengarnya karena kaca mobil tertutup rapat. Mukanya terlihat sangat kesal, dia menoleh kebelakang, tidak ada mobil yang tepat di belakangnya, jalan di sebelahnya juga cukup longgar jika ada yang ingin menyalip, kalau begitu suara tadi berasal dari mobil-mobil yang berada di depannya. Pria itu berdoa, semoga klakson mobil orang yang membuatnya terkejut tadi rusak dan tidak bisa di perbaiki.

Ketika mulai konsen menyetir lagi, samar-samar ia melihat sesorang berdiri di bagian jalan raya. Ia sempat terkesiap ketika orang itu hampir saja tertabrak mobil. Awalnya ia berfikir orang tersebut berniat menyebrang jalan. Tapi sepertinya ada yang aneh. Apa orang itu buta? Apa dia tidak memperhatikan keadaan sekitarnya? dia juga tidak terlihat menghindari mobil-mobil yang berlalulalang. Pria itu terus melajukan mobilnya, keningnya berkerut merasa tidak asing dengan orang itu, dan ketika penglihatannya semakin jelas ia menyadari siapa orang di jalan itu. Gadis itu. Seketika wajah kesalnya berubah tegang. Mulutnya menganga lebar. Ia tidak sempat berfikir lagi apa yang lakukan orang itu, dan langsung membanting setir menepikan mobilnya, membuka pintu mobil dengan kasar lalu berlari sekuat tenaga ke arah gadis itu. Di cengkramnya lengan gadis itu, menariknya kuat sampai punggung gadis itu membentur dadanya. Jantung Pria itu ikut berdetak kencang merasakan ketegangan akibat kejadian barusan. Gadis ini benar-benar akan mati jika ia tidak segera menariknya, dan ia tidak bisa membayangkan hal itu.

Dengan sigap di baliknya tubuh gadis itu agar menghadapnya.

“Ji yun ah” Gadis itu masih menunduk.

“Ji Yun ah” di gerakkannya bahu gadis itu, namun sepertinya Ji Yun benar-benar tidak mau menatapnya. Di tangkupnya wajah Ji Yun agar menatapnya. Pria itu teperangah, wajah Ji Yun penuh dengan air mata. Dia tidak tahu apa yang terjadi pada gadis ini tapi ia yakin sesuatu masalah sedang menimpanya. Wajah Ji Yun terlihat sangat menyedihkan. Matanya lemah dan bibirnya bergetar. Hatinya serasa mencelos melihat keadaan gadis dihadapannya sekarang.

“oppa” Bibir Ji Yun semakin bergetar. Pria itu tidak akan tahu apa yang ji yun katakan jika tidak melihat wajahnya. dia hanya mengartikan kata-kata Ji Yun dari gerakan bibirnya karena tidak ada suara yang keluar dari pita suara gadis itu meskipun bibirnya bergerak mengatakan sesuatu.

“Ji..Ji Yun ah, apa yang terjadi?”

***

“kau tidak perlu khawatir, gadismu ini di sayangi banyak orang, jadi akan banyak yang melindunginya” Ryeon tertawa geli memuji dirinya sendiri. Saat ini gadis itu sedang berbincang dengan ibunya.

“ne eomma, aku baik-baik saja”

“ne, aku janji”

“nado bogoshippo”

“arayo, salam untuk appa, saranghe eomma”

Ryeon memutuskan telponnya, menatap layar Hp-nya sebentar ‘aku sangat merindukanmu’. Gumammya sebelum meletakkan hp tersebut. Gadis itu meraih remote TV yang terlatak di meja sofa. Mengganti-ganti channel mencari acara yang menarik. Tapi sepertinya tidak ada yang menarik menurutnya saat ini, terlihat dari pipinya yang mulai menggembung, biasanya dia akan keluar bersama Ji Yun atau Donghae jika weekend seperti ini. Tapi Donghae kemaren berkata akan ke luar kota dan besok baru akan kembali ke seoul, sementara Jiyun, semenjak hari dimana dia melakukan observasi, mereka belum bertemu. Ji Yun mengatakan bahwa ia sedang sibuk dengan tugas-tugas kuliah sehingga tidak ada waktu luang untuk menemuinya. Kebiasaan mereka mengobrol di gazebo dan makan bersama di kantin beberapa hari ini seperti terlupakan. Gadis itu mendesah malas, ia meraih hapenya lagi dan mencari-cari nomor Ji Yun.

“yeobseyo” jawaban dari sebrang

“Ji Yun ah, kau tidak berniat mengunjungiku?” Ryeon memelas. Berharap Ji Yun mau meluangkan sedikit waktu untuk menemaninya seperti biasa.

“apa kau sendiri?”

“ne”

“dimana donghae?”

“Donghae oppa sedang ke luarkota”

Hening sejenak.

“eottoke? Sepertinya aku tidak bisa menemanimu hari ini” Suara Ji Yun juga ikut memelas.

“wae?”

“tugasku menumpuk, otakku terasa penuh dengan angka dan bola mataku sungguh tidak bulat lagi karena terus-terusan berhadapan dengan angka-angka ini. Menghitung begitu banyak jumlah uang tapi tidak ada wujud aslinya itu sungguh menyebalkan” Keluh Ji Yun.

Ryeon memanyunkan bibirnya mendengar keluhan itu. Andai saja dia bisa membantu menyelesaikan tugas-tugas itu, tapi sayangnya dia sedikit ‘tidak pintar’ masalah hitung menghitung.

Gadis itu menghela nafas berat “arraseo” jawabnya pasrah.

“mianhae eoh?”

“ne, gwenchana” Ryeon memaklumi lalu memutuskan sambungan telponnya.

Kyaa aku benar-benar bisa mati bosan hari ini, Jerit gadis itu dalam hati, apa aku kerumah jongwoon oppa saja? Pikirnya. Dua orang yang paling dia andalkan untuk menemaninya sibuk masing-masing. TV tidak akan mampu menghiburnya, ia lebih memilih di temani satu orang dari pada beberapa alat elektronik seperti laptop,TV dan sebagainya.

Ketika akan bangkit menuju kamar, hapenya berbunyi menandakan pesan masuk.

From: my fishy

Buka pintunya

Kening Ryeon terlihat berkerut pertanda tidak mengerti maksud dari sms Donghae.

Buka pintunya, pintu apa yang harus aku buka? Apa dia salah kirim, bukankah dia sedang di luar kota.

Ryeon masih memandangi sms donghae saat hapenya kemudian berbunyi lagi, panggilan masuk.

“yeoboseo” angkatnya.

“ya, kenapa belum membuka pintunya” Donghae sedikit berteriak

“eoh? Apa kau tidak salah kirim, pintu apa yang harus aku buka?”

Donghae mendengus “pintu mobil, pintu apartemenmu bodoh”

Ryeon melonjak kaget dari sofa, Gadis itu langsung berlari ke arah pintu dan segera membukanya.

Terlihat Donghae sudah berdiri di depannya mengenakan  kaos berwarna hitam di balut  jaket putih tulang.

“kenapa kau ada disini? Bukankah kau bilang ada urusan di luar kota?” tanya Ryeon bingung.

“kapan aku bilang begitu?” Donghae balik bertanya sambil berjalan masuk tanpa menunggu di persilahkan, baginya apartemen ini sudah sudah seperti rumahnya sendiri.

Ryeon masih berdiri di depan pintu sejenak sebelum kemudian menutupnya.

“kemarin kau bilang akan ke luar kota dan baru kembali besok?” Gadis itu membuntut di belakang Donghae.

Pria itu berhenti kemudian berbalik menatap Ryeon “jinjja? Aku lupa sudah mengatakanya” jawabnya santai, Ryeon masih belum puas, dia memutar bola matanya dan berfikir.

“eoh? Kau membohongiku?”

Donghae hanya tersenyum  lalu menjatuhkan tubuhnya di sofa.

“Aku tidak membohongimu”

“lalu?”

“Aku benar-benar ada urusan, tapi hanya sehari dan langsung pulang. Aku tahu kau akan mati bosan jika sendiri saat weekend seperti ini.”

Mendengar itu, bibir Ryeon tertarik membentuk senyuman, Donghae selalu bisa membuatnya senang.

kau sangat memahamiku Lee donghae. Batin ryeon. Matanya, bibirnya, hatinya, semua sedang tersenyum saat ini.

“Kemana kita hari ini?” Tanya Donghae

Ryeon ikut menjatuhkan tubuhnya di sebelah kekasihnya “aku tidak ingin kemana-mana”

*

Ryeon pov

Aku berdiri di balkon kecil yang langsung mengarah ke jalan raya. Melihat mobil berlalulalang di bawahku. Ini sudah sore, cahaya matahari sudah mulai menghilang sementara lampu-lampu kota mulai menyala. Tiba-Tiba aku teringat kejadian beberapa hari yang lalu, saat aku dan teman-temanku mengunjungi sebuah panti usahan untuk melakukan observasi. Gadis bernama amaya itu, apa dia sungguh-sungguh saat mengatakan permintaannya itu? Aku selalu tersenyum tiap kali teringat kata-kata gadis kecil itu. Aku ingin mengunjunginya. Tapi dia memintaku membawakan appa untuknya, siapa yang akan aku bawa? Donghae? Apa tanggapan Donghae oppa jika aku memberitahunya tentang hal ini? aku lebih senang jika saat itu ia memintaku membawakan oleh-oleh untuknya.

Ditengah lamunan memikirkan amaya, aku merasakan sepasang tangan melingkar di perutku, aku tahu itu pasti Donghae sehingga aku membiarkannya.

“kau sudah selesai mandi?”

“Hmm” Jawab Donghae kemudian meletakkan dagunya di pundakku, aroma sabun langsung menyergap hidungku, sangat segar.

Hening, tidak ada yang berbicara di antara kami. Perasaanku sangat tenang saat dia memelukku seperti ini, bisa kurasakan detak jantungnya di punggungku dan itu membuatku sangat bahagia.

Donghae menggerakkan kepalanya. Menelusupkan wajahnya perlahan keleherku dan menghirupnya dalam-dalam membuatku merinding. Tubuhku seperti tersetrum tapi tetap berusaha tenang.

“Ryeon ah” desisnya.

“hmm”

“Saranghae” lanjutnya lagi. Entah kenapa akhir-akhir ini ia lebih sering mengatakan kata-kata itu padaku, Donghae seolah meyakinkanku bahwa dia benar-benar mecintaiku, padahal tanpa dia mengucapkan kata-kata itu aku sudah bisa merasakan cintanya setiap hari. Donghae oppa adalah milikku dan tidak boleh ada yang mengambilnya dariku.

Perlahan aku melepaskan pelukannya. Membalikkan tubuhku dan langsung mendapati wajah tampannya. Oh apa dia tidak menyisir rambutnya setelah mandi? Rambutnya terlihat berantakan dan masih sedikit basah, membuatnya terlihat….. sexy? Tidak.

“oppa”

“hmm?”

Aku menimbang-nimbang, memikirkan kata-kata yang tepat untuk memberitahu Pria ini masalah amaya.

“oppa, kau tau kan beberapa hari yang lalu aku melakukan observasi di sebuah panti asuhan?”

Ia mengangguk.

“disana aku mengenal gadis kecil bernama amaya”

“lalu?”

“dia memintaku menjadi orang tuanya”

“ne?” Donghae oppa terlihat terkejut, dia diam menatapku.  “apa kau bisa menjadi orang tua? sifatmu bisa jadi masih sama anak-anaknya” Ujarnya seolah tak percaya. Nada bicaranya terdengar mengejek. Baiklah sifatku mungkin masih seperti anak-anak, tapi aku bisa membedakan jika sedang bersama anak kecil. Aku memukul kesal dadanya dan ia tertawa.

“terus?”

“apa kau mau menemaniku mengunjunginya?“

“kenapa tidak?”

“tapi…. “ aku ragu-ragu ingin mengatakan permintaan amaya yang lain, mungkin bukan ragu, tepatnya malu. “mmhh.. apa kau mau berpura-pura menjadi appanya?” Tanyaku hati-hati.

Tidak ada jawaban langsung darinya, tapi tangannya bergerak menarik pinggangku agar lebih dekat dengannya. “jadi kau menjadi eommanya dan aku appanya, begitu?” tanyanya tepat di depan wajahku. Aku mengangguk pelan, rasanya malu sekali.

“kenapa kita tidak menikah saja dan membuat anak sendiri?” mataku membulat mendengar pertanyaan itu. Ku dorong bahunya agar menjauh. Jangan sampai wajahku memerah, pria ini, selalu saja.

“hahahaa…. yak, aku hanya bercanda” ia tertawa kemudian menarik pinggangku lagi.

“baiklah kapan kau akan mengunjunginya segera beri tahu aku”

“Jinja? gomawo” aku melonjak senang lalu memeluk pria tampan di hadapanku ini. Tanganku melingkar di lehernya, bahagia sekali rasanya, Kapan aku tidak bahagia saat bersama pria ini? tidak pernah, dia selalu bisa membuatku bahagia.

“oh aku lupa kau belum mengatakannya” Ucap Donghae tiba-tiba.

aku berfikir sejenak, belum mengatakan apa? Pelukanku di lehernya melonggar untuk menatap wajahnya “mwoga?” tanyaku tak mengerti

“aku tampan” (read: WLH Part 1)

Hhh.. aku membuang nafasku. “kau sungguh percaya diri tuan lee”  ucapku sinis. Ku lihat Donghae menyeringai “Sudah ku bilang aku akan membuatmu mengatakannya”

“apa lagi kali ini? dulu kau hampir melemparku ke sungai Han karena tidak mau memanggilmu oppa, dan sekarang, apa kau mau melemparku ke bawah karena tidak mau mengatakan kau tampan?” benar, dulu dia hampir melemparku ke sungai han karena tidak mau memanggilnya oppa, karena tidak bisa berenang jadi terpaksa aku mengatakannya. Tapi aku tidak yakin apa dia akan benar-benar melemparku ke sungai jika aku tetap tidak memanggilnya oppa, dia tidak mungkin setega itu.

“aku akan memaksamu dengan cara lain” ucapanya lalu mendekatkan wajahnya ke wajahku membuatku reflek memundurkan kepalaku.

“yak yak, kau mau apa?” tanyaku gugup, dia menunjukkan senyum setannya, senyum yang jarang sekali dia tunjukkan kecuali saat …..  aku terkesiap ketika tiba-tiba ia menarik pinggangku dengan cepat hingga tidak ada jarak antara tubuh kami.

kurasakan bibirnya menyentuh keningku dan mengecupnya sekali.

“katakan aku tampan” ucapnya tanpa melepaskan bibirnya dari keningku

“Andwe” aku masih keuhkeuh. Gengsiku terlalu tinggi untuk mengakui hal itu langsung dihadapannya. Meskipun sebenarnya itu benar.

Bibirnya turun perlahan, sangat pelan dan lembut, bibir tipisnya seolah menyapu wajahku melewati mataku membuatku terpejam dan kemudian berhenti di pipi lalu mengecupnya sekali seperti yang ia lakukan di keningku.

“Ayolah..” desisnya seperti bisikan. Aku tertawa geli, dadaku bergemuruh tidak karuan. Apa dia menggodaku?  Aku tidak akan mengatakannya tuan lee.. Aku tidak menjawab, darahku berdesir-desir, bulu romaku mulai bangkit merasakan nafas hangatnya menyapu wajahku. Ia menggeser wajahnya lagi, sepertinya aku tahu kemana tujuan bibirnya selanjutnya. Tangannya mengelus punggungku dan menekan agar lebih dekat lagi dengannya. Kali ini wajahnya tepat berada di depan wajahku, hanya berjarak beberapa senti, bahkan aku bisa merasakan nafasnya yang hangat dan berat. Dia tersenyum sebelum kemudian bibir kami bertemu.

Sial. Jantungku.

Donghae mendiamkannya sejenak lalu mengecup bibir bawahku dan melumatnya lembut. Lembut, sangat lembut. Ciri khas ciuman Donghae. Apa ada benda lain yang lebih lembut selain bibirnya? Sepertinya tidak.

“Cepat … katakan” ucapnya di sela-sela lumatannya. Tangannya semakin erat melingkar di pinggangku.

“shi..shireo” jawabku tanpa melepas bibirku darinya. Sepertinya aku mulai masuk dalam perangkap pria ini. Tidak sanggup menahan godaan bibirnya dan mulai membalas ciumannya. Donghae tidak suka makanan manis tapi kenapa bibirnya begitu manis?

“baiklah” Dia bicara lagi sambil terus melumat pelan bibirku “kalau begitu..kita akan begini sampai pagi”

“mwo?”

***

Aku berlari-lari kecil di gedung fakultas ekonomi, mencari-cari sesorang yang hampir seminggu ini tidak aku temukan. Bukankah Ji Yun berkata dia kuliah seperti biasa? Sudah hampir seminggu aku tidak bertemu dengannya, setiap aku menghubunginya, Ji Yun selalu meminta maaf karena belum bisa menemuiku dengan alasan tugas yang benar-benar menumpuk dan harus cepat di selesaikan, membuatnya tidak ada waktu untuk bersantai atau sekedar mengobrol. Meskipun dia sudah berkata akan menghubungiku jika semua tugas-tugasnya beres, tetap saja, aku merindukannya.

Tubuhku terhempas di salah satu kursi taman. Menghembuskan nafas pasrah, lelah mengelilingi gedung fakultas Ji Yun yang cukup besar itu, bahkan aku sudah mencarinya di taman-taman kampus tempat biasa Ji Yun berada atau tempat kami biasa bertemu, tapi tetap aku tidak menemukannya.

Ji Yun ah, neo eodiso ? aku benar-benar merindukannmu, sehari saja tidak bertemu maka keesokan harinya biasanya kami akan menghabiskan waktu bersama. Dan ini sudah hampir seminggu. Tidak terhitung berapa kali aku menghubunginya hari ini tapi nomernya tidak aktif. Aku diam sejenak memikirkan sesuatu.

Jungsoo oppa. Ya, kenapa aku tidak berfikir untuk menghubungi Jungsoo oppa.

 Aku mencari-cari nama jungsoo oppa di kontak hapeku dan segera menekan icon call saat menemukannya.

“yeobseo”

“oppaa, kau dimana?” tanyaku segera ketika mendengar suara jungsoo oppa.

“di rumah, waeyo?”

“oppa, apa Ji Yun di rumah?” aku berharap jungsoo oppa berkata iya dan aku akan langsung menuju rumahnya.

“eobseo” Jawabnya kemudian. Tubuhku melemas bersandar di sandaran kursi, kecewa dengan jawaban jungsoo oppa.

“Bukankah seharusnya dia masih berada di kampus?”

“Ne, tapi aku tidak menemukannya.”

“Kau sudah menghubunginya?”

“hmmh, tapi nomernya tidak aktif”

“Jinjja?” Jungsoo oppa terdengar terkejut

Aku mengangguk pelan.

“Ryeon ah” panggilnya ketika tidak mendengar jawaban dariku, tentu saja, dia tidak mungkin melihatku mengangguk.

“Apa terjadi sesuatu?” Tanya jungsoo oppa, membuat dahiku mengernyit.

“sesuatu? Maksud oppa?”

“Ji Yun terlihat berbeda akhir-akhir ini. Apa kalian baik-baik saja?”

Aku terkesiap mendengar perkataannya, Ji Yun berbeda? Berbeda sepeti apa maksudnya? Otakku berputar mengingat hari-hari terakhir bertemu Ji Yun.Tidak ada apa-apa. Kami baik-baik saja. Lalu kenapa Jungsoo oppa berkata begitu? Ada apa dengan Ji Yun? Tiba-tiba aku merasa tidak tenang. Aku khawatir akan sesuatu tapi tidak tahu apa.

“Ani,kami baik-baik saja” Jawabku pelan.

“baiklah, jangan sungkan bercerita padaku jika terjadi sesuatu,kalian berdua adikku”

Aku tersenyum kecil, ya, selama ini aku sudah menganggap jungsoo oppa sebagai oppa kandungku, keluarga Ji Yun sudah seperti keluargaku.

“ne oppa, Gomawo” Balasku sebelum mematikan telpon.

Aku kembali mengingat-mengingat apa yang terjadi saat terakhir bertemu Ji Yun. Benar-benar tidak ada apa-apa. Kami seperti biasanya.

Ji Yun ah, sebanyak apa tugas yang kau dapat eoh? Sampai tidak ada waktu sedikitpun untuk bertemu denganku. Gumamku kesal.

*

Author POV

“Kau kenapa?” Pertanyaan keluar dari mulut donghae saat Ryeon duduk di sebelahnya setelah menutup pintu mobil dengan kasar. Mukanya memberengut dan terlihat sangat suntuk. Tidak ada jawaban dari Ryeon, tangan gadis itu bersedekap dan wajahnya menekuk, matanya menatap kesal ke depan sedikit sarat emosi tapi justru membuat pria yang ada di sebelahnya ingin tertawa. Donghae mendekatkan tubuhnya, menyampirkan tangannya di kursi sebelahnya dan menatap Ryeon dengan senyum di buat-buat. “ada apa?” tanyanya lagi

Ryeon menghembuskan nafas dengan kasar. “Kapan terakhir kau ke rumah jungsoo oppa?”

“sekitar empat hari yang lalu, wae?”

“apa kau bertemu Ji Yun disana?”

Donghae diam sejenak untuk mengingat empat hari yang lalu. “tidak, tapi aku tahu dia ada di rumah, hanya saja saat itu dia tidak keluar kamar. waeyo?”

Ryeon menoleh menatap donghae dengan ekspresi melas dan bibir manyun, membuat donghae ingin mengecupnya, namun segera mengubur niat itu, bukan waktu yang tepat, batinnya.

“sudah hampir seminggu aku tidak bertemu dengannya”

“mwo? seminggu?” Pria itu terkejut, tapi sedetik kemudian terkekeh “aku bahkan mengira kalian tidak bisa tidak bertemu sehari saja” lanjutnya sambil tertawa membuat Ryeon menggembungkan pipinya.

“Apa terjadi sesuatu pada kalian?”

“dia bilang sedang banyak tugas”

“Lalu? Kenapa kau seperti ini?” Donghae menaikkan satu alisnya. Gadis itu mendengus “Dia tidak pernah seperti ini oppa, kau tau Ji Yun cukup pintar, dia tidak pernah terbebani dengan tugas-tugasnya meskipun temannya banyak mengeluh. Apalagi sampai tidak menemuiku seperti ini. dia juga biasa mengerjakan tugas di apatemenku saat aku memintanya menemaniku”

Donghae diam mendengar kekasihnya menggerutu, membiarkan Ryeon berbicara semaunya. Menurutnya adalah hal wajar jika seorang mahasiswa terlalu sibuk karena tugas-tugasnya dan tak terkecuali mahasiswa pintar sekalipun. Sepertinya gadis ini perlu di beri sedikit pengertian.

“ini pertama kalinya dia seperti ini, aku merindukannya” Kata Ryeon lirih. Gadis itu sudah terbiasa dengan Ji Yun di dekatnya. Apalagi semenjak dia tinggal sendiri di apartemen. Mereka menjadi semakin akrab. Ji Yun sangat dewasa dan perhatian, ji Yun sering mengomel seperti ibunya, tapi dia menyukainya, Ji Yun pandai membaca suasana hatinya, Ji Yun bisa menjadi kakaknya dan juga temannya. Membuatnya nyaman berada di dekatnya, dan menimbulkan sedikit ketergantungan.

Setelah yakin Ryeon sudah selesai berbicara, Donghae mulai membuka mulut “apa Ji Yun tidak mengatakan apa-apa lagi?”

“hanya akan menghubungiku setelah tugas-tugasnya beres”

Donghae tertawa dan menggeleng kecil, begitu seharusnya dia tahu bahwa Ji Yun benar-benar sibuk dan memberi sahabatnya itu sedikit pengertian bukan malah menggerutu seperti ini.

“oppa ayo kerumah Ji Yun sekarang”

“untuk apa?”

“untuk apa? Tentu saja menemui Ji Yun” Gadis itu merasa semakin kesal.

“kau yakin dia tidak akan semakin menjauhimu?” Ryeon terkesiap menatap Donghae, tidak mengerti maksud pertanyaan pria di sebelahnya.

“menjauhiku?” tanyanya bingung. Donghae menghela nafas lalu meraih wajah Ryeon, menangkupnya dengan kedua tangannya.

“bagaiama jika dia merasa terganggu karena kedatanganmu? Bagaimana jika dia bukan hanya tidak mau bertemu denganmu tetapi juga marah karena kau telah menganggunya dan membuat tugasnya selesai lebih lama? Apa kau tidak memikirkannya?” Donghae berusaha membuatnya mengerti. Ryeon menurunkan bahunya yang tadi tegang. Melepaskan wajahnya dari tangan donghae lalu bersandar di sandaran kursi. Berfikir, sepertinya apa yang dikatakan Donghae cukup masuk akal, apa dia harus menunggu sampai Ji Yun sendiri yang menghubunginya? Tapi bagaimana jika sangat lama? Dia hanya ingin bertemu sebentar sudah cukup.

“tapi oppa…”

“bagaimana jika besok kita mengunjungi anakmu?”

“eoh?”

Donghae mememotong ucapan Ryeon. Ia tahu gadis itu akan terus memaksa jika tidak di alihkan kehal lain.

“bagaimana jika besok kita mengunjungi amaya?” Donghae memperjelas kalimatnya ketika melihat raut tidak mengerti di wajah Ryeon. Mata gadis itu mengerjap. Ya, dia sangat ingin mengunjungi amaya, dia sudah berjanji pada gadis kecil itu untuk mengunjuginya. Bibir Ryeon tertarik sedikit membentuk senyuman kecil.

“bagaimana? Kita bisa mengajaknya jalan-jalan jika kau mau” Ujar Donghae. Senyum gadis itu semakin mengembang, ia mengangguk setuju.

Donghae mengacak rambut ryeon sayang lalu mulai melajukan mobilnya untuk pulang.

***

Suara gemerisik daun-daun kering yang tertekan dua pasang kaki manusia tidak dapat mengusik keseriusan gadis kecil yang sedang duduk di atas rerumputan halaman ‘tempat tinggalnya’. Tangannya memegang sebuah pensil warna dan terlihat beberapa pensil warna yang lain berserakan di sekitar kertas putih yang ada di depannya. Entah apa yang ia gambar, wajahnya terlihat begitu serius.

“amaya”

Gadis kecil itu menoleh ketika mendengar seseorang memanggil namanya. Ia tertegun sejenak seperti mengingat sesuatu, lalu kemudian wajah seriusnya berubah cerah.

“eonniiieee” seru gadis itu sembari bangkit dan berlari menghampiri Ryeon, seseorang yang baru saja memanggilnya. Ryeon menurunkan tubuhnya dan dengan senang hati menyambut gadis kecil itu dalam pelukannya. Entah kenapa rasanya Ryeon ingin menangis. Gadis kecil itu memeluknya begitu erat seperti orang yang sudah lama saling mengenal, kemudian terpisah dan di pertemukan kembali. Padahal mereka baru dua kali bertemu terhitung dengan hari ini.

“aku kira kau berbohong akan datang lagi mengunjungiku” Gadis itu masih memeluk Ryeon erat. Ryeon tersenyum dan mengelus punggungnya “aku bukan pembohong”

“aku tidak percaya akhirnya ada yang kemari mengunjungiku” Ucapnya polos setelah melepas pelukannya. Ryeon menatap dalam gadis kecil itu, hatinya terhenyak mendengar setiap kata yang keluar dari bibir mungil amaya. Ia merutuki siapapun yang tega meninggalkan gadis ini disini. Apa orang tuanya sudah meninggal? Lalu dimana keluarganya? Kenapa tidak keluarganya saja yang merawatnya? Apa dia sama sekali tidak memiliki keluarga? Ryeon menyimpan semua pertanyaan itu di otaknya, ia akan menunggu waktu yang tepat untuk bertanya tentang semua itu, tentu dia tidak akan bertanya pada gadis ini langsung, tetapi pada pengurus panti ini.

“berarti mulai sekarang kau harus percaya padaku”

Amaya mengangguk cepat “mulai sekarang kau adalah orang yang paling aku percaya” ujarnya. Ryeon tersenyum mendengar ucapan gadis kecil itu. Tidak lama amaya menyadari sesuatu, ada orang lain selain mereka. dia mendongak untuk menatap orang itu. Amaya menatapnya lama tapi tidak menunjukkan ekpsresi apa-apa. Membuat Donghae, pria yang sedari tadi hanya memperhatikan keakraban kekasihnya dengan gadis itu mengernyitkan dahi. Ia melihat amaya membisikkan sesuatu kepada Ryeon dan tidak lama setelahnya Ryeon tertawa kecil. Apa yang mereka bicarakan? Batin Donghae.

“ya, apa yang kalian bicarakan?” Pria itu tidak bisa menahan rasa penasarannya karena sepertinya dialah yang menjadi objek pembicaran kedua gadis itu. Amaya dan Ryeon saling pandang lalu mereka sama-sama tertawa. “aniyo oppa” jawab Ryeon sembari berdiri. “amaya, kenalkan, oppa ini bernama Lee Donghae” Ryeon memperkenalkan sebagai oppa, gadis itu berharap semoga amaya tidak mengungkit masalah ‘membawakan appa untuknya’ karena ia pasti akan merasa sangat malu. Meskipun yang amaya inginkan adalah ia menjadi orang tuanya tapi ia tidak berharap amaya memanggilnya eomma atau memanggil donghae dengan appa. Pasti akan sangat aneh.

Amaya mengulurkan tangannya kepada Donghae, pria itu menyambutnya lalu berjongkok menyetarakan tingginya dengan gadis itu.

“Hai gadis cantik” sapa Donghae

“Hai Pria tampan” balas amaya. Donghae sontak tertawa mendengarnya. Mata gadis ini sangat sehat. Pikirnya.

“amaya, hari ini eonni akan mengajakmu jalan-jalan, apa kau mau?” Ryeon memberitahu rencana mereka.

“jalan-jalan? Kemana?”

“yang jelas kita akan bersenang-senang” Sambar Donghae.

Gadis itu diam, Ryeon merasa sedikit khawatir, apa gadis ini tidak suka ia mengajaknya jalan-jalan? Dia bahkan sudah meminta izin pada pengurus panti ini untuk membawa amaya keluar sebentar. Sepertinya dirinya terlalu percaya diri, asal mengajak gadis ini keluar tanpa mencoba mengenalnya lebih dekat terlebih dahulu.

“mmmhh aku harus minta izin kepada…”

“tidak perlu” potong Donghae. “kita sudah meminta izin dan mereka mengizinkan” Donghae mengerti apa yang dipikirkan amaya.

“Jeongmal?” wajah amaya terlihat berbinar lagi dan Ryeon mendesah lega. Tadinya dia mengira gadis ini akan menolak, ternyata dia hanya takut tidak diizinkan.

Donghae yang berada di depan gadis kecil itu menangguk cepat.

“chankama eonni, oppa, tunggu aku” ucapnya semangat dan buru-buru berlari memasuki panti.

*

Jika bertanya dimana kita memutuskan liburan dengan membawa anak kecil? Maka Lotte World sepertinya pilihan yang tepat. Lotte World adalah satu tempat rekreasi ternama di seoul. Terdiri dari taman bermain indoor dan outdoor. Tempat ini tidak pernah sepi pengunjung karena tidak hanya untuk bermain, disana juga ada pusat perbelanjaan, museum rakyat Korea, fasilitas olahraga, dan bioskop serta tempat bermain ice skating, tidak salah jika lotte world menjadi tempat rekreasi favorite.

Di tengah keramaian itu, Donghae, Ryeon dan gadis kecil amaya baru saja keluar dari wahana The Adventure of Sinbad, ini sudah wahana ke empat yang meraka coba.

“eonni, oppa, lihat itu” Amaya tidak henti-hentinya menjerit senang ketika melihat berbagai macam hal menarik di sekitarnya. Membuat donghae dan Ryeon tersenyum puas. Sekarang mereka sedang berjalan di arena outdoor, hanya sekedar melihat-lihat karena wahana di luar kebanyakan adalah wahana ekstrim yang tidak di izinkan untuk anak seumur amaya. Lagi pula mereka sudah melihat keselururan yang ada di tempat ini dengan World Monorail. Wahana yang mengitari seluruh arena indoor dan outdoor. Donghae menggendong amaya karena kasihan semenjak tadi gadis itu selalu berjinjit-jinjit dan moloncat-loncat agar pandangannya bisa lebih luas.

siapapun yang melihatnya pasti menganggap mereka pasangan yang menikah muda atau bisa saja MBA, karena mereka terlihat belum pantas memiliki anak seumuran amaya.

“Kau mau?” Ryeon menyodorkan es krim yang sempat di belinya tadi kepada Donghae.

“Ani” Donghae menggeleng, dia tidak terlalu suka makanan manis.

“pantas saja kau tidak ada manis-manisnya oppa” Ryeon menarik es krimnya lagi.

Donghae menoleh memandang Ryeon. Pria itu tidak kelihatan tersinggung sama sekali. “Benarkah aku tidak manis?” tanya Donghae santai “ne, kau pahit seperti americano yang sering kau minum” jawab Ryeon sambil menikmati es krimnya.

“jinja? Tapi kenapa kau selalu menerima ciumanku?”

“uhuk” Ryeon tersedak, cukup syok dengan kata-kata Donghae barusan, ia salah tingkah. Ucapan donghae langsung tetap sasaran membuatnya bisu seketika. Heish namja ini bagaimana bisa berkata seperti itu? Apa dia tidak sadar sedang membawa anak kecil? Tapi sepertinya amaya tidak mendengar atau mungkin tidak peduli, dia masih asik memakan eskrimnya sambil melihat-lihat sekitar. Sedangkan Donghae tersenyum puas melihat wajah Ryeon yang merona merah karena malu.

“amaya, kau tidak lelah?” Gadis itu mengalihkan perhatiannya mendengar Donghae menyebut namanya. Bibir kecilnya belepotan eskrim membuat ‘kedua orang tuanya’ tertawa. Ryeon mengambil tissue di tasnya dan membersihkan mulut amaya.

“lelah? Tidak, aku sangat senang, lagi pula aku tidak berjalan dengan kakiku sendiri jadi meskipun mengelilingi tempat ini sepuluh kali sepertinya aku tidak akan lelah” Ujar amaya dengan menyungingkan senyumnya. Senyum jahil. Donghae tahu gadis kecil itu sedang menggodanya. Ia tidak menurunkannya dari gendongan sejak tadi. Dan amaya tidak mau repot meminta donghae menurunkannya karena ia lebih puas melihat apa saja saat berada dalam gendongan donghae.

“apa kau lelah?” amaya mengalungkan satu tangannya di leher Donghae. Pria itu menggeleng

“sepertinya kau harus banyak makan, aku seperti menggendong kapas” Jawab Donghae.

“benarkah? Kau tidak merasa berat sama sekali?” amaya menanggapi perkataan Donghae dengan serius.

“tidak, aku sangat kuat seperti popeye”

“waah.. apa kau juga kuat menggendong eonni?” Tanya amaya dengan mata membulat kagum.

Donghae melirik Ryeon. Menatap tubuh kekasihnya dari atas kebawah. Ryeon balas menatap Doghae dengan alis terangkat.

“mungkin badannya terlihat kecil, tapi kau tahu? Dia itu sangat berat” Bisik Donghae di telinga amaya, gadis kecil itu tertawa, sementara Ryeon memicingkan matanya menatap curiga kedua orang itu. “eonni, oppa berkata kau sangat berat, hahahaha”

“mwo?” Ryeon berkacak pinggang kemudian menyerang pinggang donghae dengan cubitan-cubitan kecil. “apa kau bilang oppa?”

“hahahhaaa” amaya tertawa senang, mengeratkan rangkulannya di leher Donghae agar tidak jatuh karena donghae bergerak-gerak menghindari tangan Ryeon. “ya ya ya amaya kenapa kau mengatakannya” eluh Donghae. Amaya semakin tertawa.

Tiba-tiba handphone Ryeon berbunyi. Membuatnya terpaksa melepaskan Donghae dan aktivitas mereka terhenti, namun Donghae dan amaya masih menyisakan tawanya.

Ryeon mengambil hapenya, senyum gadis itu mengembang ketika melihat nama yang tertera di layar hapenya, Park Jiyun. Tanpa menunggu apa-apa lagi dia langsung menjawab telpon tersebut.

“sudah selesaikah semua tugas-tugasmu itu Ji Yun ah?” Tanya Ryeon dengan nada menyindir ketika menjawab panggilan Ji Yun. Tapi tetap tidak bisa menyembuyikan senyum senangnya.

“Ryeon ah”

Ekspresi Ryeon tiba-tiba berubah saat mendengar suara orang di sebrang bukanlah suara Ji Yun.

“Jungsoo oppa?” Ucap gadis itu ragu-ragu.

“ne, ini aku, kau bisa ke rumah sakit sekarang?”

*

Donghae dan Ryeon berlari-berlari di koridor rumah sakit mencari kamar yang telah di beritahukan Park Jungsoo. Setelah mendengar kabar bahwa Ji Yun mengalami kecelakaan mereka segera mengantar amaya kembali ke panti asuhan meskipun sebelumnya terjadi sedikit perdebatan karena Ryeon memaksa langsung menuju rumah sakit, tapi donghae berfikir lebih panjang, ia tidak mungkin membawa amaya ke dalam urusan mereka.

Ji Yun ah Ji Yun ah, Ryeon terus menggumam nama Ji Yun, ia sangat cemas, bahkan hampir menangis. Sudah hampir seminggu mereka tidak bertemu dan sekarang mendapat kabar bahwa Ji Yun mengalami kecelakaan? Park Ji Yun apa yang sebenarnya terjadi padamu?

Langkah mereka terhenti ketika melihat Park Jungsoo berdiri di depan sebuah kamar dan dengan cepat menghampirinya, sepertinya jungsoo sengaja menunggu mereka.

“Hyung”

“oppa, dimana Ji Yun? Bagaimana keadaannya? Apa dia parah?” Ryeon bertanya dengan nafas tersenggal-tersenggal. Ia sangat panik. Jantungnya berdebar menunggu jawaban Jungsoo namun jungsoo tidak langsung menjawab.

“hyung bagaimana kejadiannya?” Donghae tidak kalah cemasnya. Bagaimanapun dia juga termasuk dekat dengan Ji Yun.

“Ji Yun belum sadar. eomma dan appa menemaninya di dalam” ucap jungsoo pelan. Terlihat kesedihan di raut wajahnya.

Ryeon segera beranjak ingin masuk kedalam namun Jungsoo menahan lengannya.

“Ryeon ah.. bisa kita bicara sebentar?”

Ryeon menatap jungsoo dengan penuh tanda tanya. Dia ingin segera bertemu Ji Yun untuk melihat keadaannya, tapi dia juga penasaran dengan apa yang ingin di katakan park jungsoo. Ini sudah pasti berhubungan dengan Ji Yun. Ryeon mengalihkan pandangannya menatap donghae.

“Donghae boleh ikut” ucap jungsoo mengerti maksudnya.

*

Mereka berada di kafe yang tidak jauh dari rumah sakit. Jungsoo mencari tempat yang nyaman untuk mereka berbicara. Sejujurnya mereka tidak berniat memesan apapun tapi harus tetap membeli sesuatu sebagai syarat. Ryeon terlihat tidak sabar menunggu Jungsoo berbicara. Wajah Donghae juga terlihat tegang.

“hyung” Donghae mulai tidak sabar. Dia cemas dan juga kesal karena Jungsoo belum juga berbicara.

Jungsoo menyesap minumannya sedikit. Lalu meletakkannya kembali.

“Ryeon ah, apa Ji Yun pernah bercerita sesutu padamu?”

Gadis itu mengerutkan keningnya.

“tentang apa oppa?”

“entahlah, tapi Ji Yun sepertinya mengalami masalah yang sangat berat baginya.”

Kening Ryeon semakin berkerut. Sangat banyak yang mereka ceritakan satu sama lain selama ini. Ryeon berfikir untuk menggali ingatannya. Apakah Ji Yun penah bercerita sesuatu masalah yang penting? Tapi sepertinya tidak. Dia berusaha keras mengingat-ingat segala sesuatu yang pernah ji Yun ceritakan padanya. Tapi lagi-lagi dia tidak mendapatkan apapun.

“maksud oppa?” Gadis itu benar-benar bingung.

“dia terserempet mobil kemaren saat pulang kuliah. Maaf tidak langsung memberi tahu kalian karena kami sangat panik. Tidak ada luka serius di tubuhnya. Tapi dia belum sadarkan diri hingga sekarang”

‘Tidak ada luka serius yang Nona Ji Yun alami.

Sepertinya ada masalah lain yang membuatnya belum sadarkan diri hingga sekarang.

Apa Nona Ji Yun sedang mengalami masalah?

Jika tidak seharusnya Nona Ji Yun sudah sadarkan diri sekarang.

Saya yakin pasti ada masalah lain.

Saran saya mintalah orang-orang terdekatnya untuk membantu, dan juga, sebaiknya anda mencari tahu apa masalah yang sedang di alami adik anda. Karena dengan begitu kita bisa mencoba merangsang kesadarannya. Satu-satunya yang paling bisa membuatnya sadar adalah keinginan kuat dari dirinya sendiri

Jungsoo menceritakan apa yang telah dikatakan dokter padanya.

Ryeon melemas. dadanya sesak dan matanya mulai memanas. Donghae menggenggam erat tangan gadis itu untuk memberianya kekuatan, meskipun sebenarnya dia tidak kalah syoknya mendengar semua yang dikatakan Park Jungsoo.

Ryeon sedikit tidak percaya dengan apa yang telah di dengarnya. Dia sangat dekat dengan Ji Yun. Bagaimana mungkin Ji Yun tidak menceritakan padanya jika sedang mengalami masalah yang berat sedangkan ia selalu bercertia apapun pada Ji Yun. Apa selama mereka tidak bertemu ada sesutu yang terjadi pada sahabatnya? Tidak mungkin jika Ji Yun seperti ini hanya karena tugas-tugasnya. Pasti ada sesuatu yang Ji Yun sembunyikan.

*

Mereka sudah kembali ke rumah sakit. Jungsoo menyuruh Ryeon dan Donghae menunggunya di luar sebentar. Tidak lama setelah itu orang tua Ji Yun keluar. Park jungsu menyuruh orang tuanya pulang dan beristirahat di rumah karena mereka sudah berada di rumah sakit sejak kemarin. Mata eomma Ji Yun terlihat sembap, masih ada sisa air mata di sudut matanya. dia menatap ryeon sayu. Berusaha tersenyum kemudian mengelus kepala Ryeon. Senyum itu justru membuat gadis itu semakin sedih. Tidak tega melihat kesedihan eomma sahabatnya yang sudah di anggap seperti eommanya sendiri.

“eommo mohon bantuannmu sayang.” Pinta eomma Ji Yun lembut penuh harapan.

“ne eomma” jawab Ryeon pelan.

Mata eomma Ji Yun terlihat mulai berkaca-kaca lagi. Tapi dia segera mengalihkan wajahnya agar air matanya tidak jatuh.

“eommo pulang dulu,” pamit eomma Ji Yun yang hanya di balas Ryeon dengan anggukan

Appa Ji Yun menepuk bahunya pelan. Menatap Donghae dan Ryeon bergantian.

“appa titip Ji Yun” appa Ji Yun berusaha setenang mungkin, dia tidak mungkin mau terlihat lemah, begitulah seharusnya.

“ne ahjussi” Donghae mengangguk

Ryeon pov

Aku segera masuk kedalam setelah eomma dan appa Ji Yun pergi. Jungsoo oppa terlihat duduk di samping Ji Yun dan segera berdiri setelah mengetahui kami masuk.

Kakiku perlahan melangkah mendekati ranjang tempat Ji Yun berbaring. Ku perhatikan wajahnya lekat-lekat. Nafasnya terlihat teratur dan tenang.

“aku akan menunggu di luar” ucap jungsoo oppa lalu pergi meninggalkanku. Aku bahkan tidak tahu Donghae masih berada di belakangku atau ikut bersama jungsoo oppa keluar. Yang ada di pikiranku sekarang hanya Ji Yun, sahabatku yang berbaring tak sadarkan diri di hadapanku.

“Ji Yun ah” aku berjalan pelan agar lebih dekat lagi. Memperhatikan wajahnya dengan seksama. Dia terlihat pucat. Dan matanya sedikit bengkak. Tubuhku begetar dan air mataku mulai menggenang. Hatiku sakit melihat keadaannya seperti ini. Bagaimana mungkin aku tidak tahu  Ji Yun sedang mengalami suatu masalah yang sangat berat? Sahabat macam apa aku ini? Aku memaki diriku sendiri. Perlahan duduk di kursi yang ada di sebelanya. Lalu memegang tangannya, terasa hangat. Aku mulai tidak bisa menahan air mataku yang dari tadi mendesak ingin keluar dari tempatnya.

“Ji Yun ah, kau kenapa?” Air mataku mengalir bersamaan dengan suara yang keluar dari mulutku.

“Apa yang terjadi?”

“mengapa.. kau tidak menceritakannya.. padaku?” kalimatku terputus-putus karena menahan isakanku.

“Ji Yun ah….” aku tertunduk tidak sanggup melanjutkan kata-kataku lagi. Aku merasakan seseorang mengelus punggungku pelan, membuatku mendongakkan dan mendapati donghae sedang menatapku nanar. Ternyata dia masih berada di ruangan ini.

“oppa, eottoke ?” ucapku menahan tangis. Air mataku mengalir lebih deras lagi. Aku melihat Donghae juga mulai berkaca tapi ia menahannya. Donghae memeluk leherku. Meletakkan dagunya di puncak kepalaku sambil menepuk nepuk pelan bahuku berusaha menenangkan. “kita cari tahu bersama eoh”

***

 Author POV

Ryeon menginap dirumah sakit semalam, gadis itu bersikeras tidak mau pulang namun Donghae dan Jungsoo memaksanya, Ryeon terlihat sangat lelah. Matanya bengkak karena menangis semalaman. Dia terus memikirkan masalah apa yang kira-kira menimpa sahabatnya. Dia tahu Ji Yun sama dengannya, Ji Yun tidak memiliki teman dekat lain selain dirinya jadi tidak mungkin dia menceritakan kepada orang lain.

Ryeon ke kampus hari ini tapi dia tidak mengikuti kuliah, di pikirannya saat ini hanya ada Ji Yun Ji Yun dan Ji Yun, Ia yakin tidak akan konsen jika memaksa mengikuti kuliah. Gadis itu  menghabiskan waktunya untuk mencari orang-orang yang mungkin dekat dengan Ji Yun dan berharap mendapat informasi penting namun hasilnya nihil. Teman-temannya hanya menjawab kalau Ji Yun terlihat murung dan menyedihkan akhir-akhir ini. Tapi tidak ada yang tahu apa masalahnya.

“kau sudah makan?” tanya donghae sambil melajukan mobilnya. Seperti biasa, dia menjemput Ryeon di kampus.

Ryeon tidak menjawab, raut wajahnya dingin. Donghae prihatin melihat keadaan kekasihnya sekarang. Benar-benar sangat menyedihkan. Dia sendiri penasaran apa yang sebenarnya terjadi pada Ji Yun, Jika sahabatnya dan keluarganya sendiri tidak tahu lalu kemana dia harus mencari tahu.

“Ryeon ah”

Ryeon menundukkan kepalanya membuat Donghae semakin khawatir.

“aku tidak menemukan apa-apa oppa, aku tidak menemukan informasi apa-apa tentang masalah Ji Yun” Suaranya terdengar sangat kecewa dan putus asa.

Hati Donghae sakit melihat Ryeon tidak punya semangat sama sekali, Dia juga lelah, semalaman dia juga tidak bisa tenang karena memikirkan Ji Yun. Dan sekarang di tambah melihat Ryeon seperti ini. dia tidak bisa dan tidak ingin melihat orang yang ia cintai seperti ini.

Pria itu melihat sekeliling, mereka sedang melewati daerah Chungdam-dong, tidak jauh dari sini ada Restoran favorit Ryeon. Dia yakin Ryeon belum makan, gadis ini tidak akan makan jika tidak di paksa melihat bagaimana keadaannya sekarang. Pria itu membelokkan mobilnya ketika mendapati tempat yang ia cari, The Barn Prime steak House, salah satu restoran steak favorit kekasihnya. Donghae keluar dari mobilnya setelah terparkir dengan benar. Lalu membuka pintu untuk Ryeon. Namun gadis itu masih enggan untuk turun.

“oppa aku..”

“aku tidak akan mengantarmu ke rumah sakit jika kau tidak mau makan” Potong Donghae cepat.

Ryeon pasrah. Dia keluar dari mobil dengan malas. Donghae merangkulnya dan membawanya masuk kedalam.

Tangan Ryeon bergerak lemah mengiris steaknya, dia seperti tidak punya tenaga untuk sekedar memotong dan mengangkat tangannya menyuapkan potongan daging itu ke mulutnya.

Donghae sendiri belum menjamah makanannya. Dia terus memperhatikan Ryeon untuk memastikan gadis itu benar-benar menelan makanannya. Ryeon sadar dia sudah membuat Donghae khawatir dan ia tidak ingin membuatnya lebih khawatir lagi. Gadis itu berusaha menghabiskan makanannya meskipun lidahnya terasa kaku.

*

Donghae langsung pergi menuju rumah Ji Yun ketika mengetahui Jungsoo ada di rumah untuk mengambil pakaian. Dia meninggalkan Ryeon di rumah sakit bersama eomma Ji Yun. Siwon dan sungmin juga berada disana. Sementara lee hyukjae, dia sedang dalam perlajanan dari busan. Dua hari yang lalu dia pergi ke busan dan segera kembali setelah mendengar Ji Yun mengalami kecelakaan. Beberapa kerabat kantor park jungsoo yang telah mendegar kejadian itu juga datang untuk mengunjungi Ji Yun.

“hyung, kau benar-benar tidak mengetahui apa-apa?” Donghae resah, dia tahu dia juga harus melakukan sesuatu, tidak bisa hanya menunggu.

Jungsoo menghela nafas berat dan menggelangkan kepalanya.

“apa Ji Yun tidak mempunyai buku diary atau semacamnya?”

Pria itu tersentak dan langsung menatap Donghae.

Bodoh, kenapa aku tidak memikirkannya dari kemarin. Umpat jungsoo dalam hati.

“Donghae ah, tunggu disini, aku akan mencoba mencari di kamarnya.” Jungsoo segera bangkit menuju kamar Ji Yun.

Beberapa saat kemudian jungsu keluar. Keningnya terlihat berkerut memikirkan sesuatu.

“apa kau menemukannya?” tanya Donghae penasaran.

“aku tidak menemukan apa-apa, tapi aku yakin Ji Yun memilikinya. Aku pernah melihatnya menulis dan langsung menyembunyikan buku yang ia gunakan saat aku memasuki kamarnya. Ji Yun berkata itu bukan buku apa-apa, tapi sekarang aku jadi berfikir itu adalah buku diarynya”

“tapi…. sejak dulu Ji Yun tidak pernah memiliki buku-buku seperti itu” Kening Jungsoo semakin berkerut karena berfikir semakin keras.

Donghae menghembuskan nafas sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa. Sedikit kecewa.

“aku akan mencoba menggeledah kamarnya lagi nanti, setelah mengantarkan baju ganti ke rumah sakit, aku yakin Ji Yun pasti menyembunyikannya di suatu tempat. ” lanjut jungsoo.

***

Ji Yun pov

Aku mendengar suara eomma menangis. Aku juga mendengar suara appa dan Jungsoo oppa. Aku yakin mereka pasti sangat khawatir. Tapi aku benar-benar tidak sanggup membuka mataku. Aku takut, aku takut melihat sesuatu yang menyakitkan lagi, aku tidak mau. Tubuhku terasa kaku. Aku tidak merasakan apa-apa selain hatiku yang sangat sakit. Hatiku benar-benar telah menyakiti jiwa dan tubuhnya sendiri. Apa aku mati? Aku tidak merasakan adanya tubuh lagi di jiwaku. Mengapa begitu menyakitkan?

Eomma jangan menangis, tolong, jangan menangis, appa, oppa, mianhe.

Ji Yun ah

Ryeon, aku mendengar suara Ryeon

Ji Yun ah

Aku mendegarnya memanggil namaku lagi.

Apa yang terjadi ?

Suara Ryeon bergetar. Sepertinya jiwaku masih berada di tubuhku. Aku bisa merasakan  seseorang menyentuh tanganku.

mengapa kau tidak menceritaknnya padaku?

Ji Yun ah….

Aku mendengarnya terisak. Ryeon menangis. Andwe. Jangan mengangis Ryeon ah, kau tidak pantas menangisiku. Ku mohon, jangan menangis. Jangan buat aku merasa lebih bersalah lagi.

Aku juga ingin menangis. Tapi sepertinya air matiku benar-benar telah habis. Aku tidak berhenti menangis sampai sebelum aku terbaring di tempat ini.

Oppa eottoke?

Oppa? Siapa yang Ryeon panggil. Apakah jungsoo oppa disini? Atau…

Kita cari tahu bersama eoh..

Terjawab sudah pertanyaanku, suara itu. Aku mengenal suara itu. Donghae. Donghae disini. Tuhan, Mengapa rasa ini begitu dalam, mengapa aku sangat mencintai namja ini. Kenapa harus Donghae? kenapa harus kekasih sahabatku? Tapi aku lebih dulu mengenalnya. aku sudah menyukainya jauh sebelum Ryeon mengenal Donghae. dan aku juga yang telah membuat mereka bertemu. Hukum aku Tuhan, hukum aku, hukum aku jika menyesali perbuatanku yang telah membuat mereka bertemu. Ryeon ah mianhe, jeongmal mianhe.

Mengapa mencintai begitu menyakitkan? Bukankah cinta itu sesuatu yang indah?

Apa aku akan mati begini? Apa aku akan mati karena memendam cinta yang begitu dalam? Andwe.

Aku juga menginginkan kebahagiaan. Tapi kebahagiaanku ada pada Pria itu.

Tuhan, aku menginginkan Donghae, Ryeon ah, jeongmal mianhe.

 

Mati rasa, ya, mungkin itu yang terjadi padaku sekarang

Kisah yang aku alami terlau berkisah

Sakit yang aku alami terlalu meyakitkan

Sedih yang aku alami terlalu menyedihkan

Sampai hatiku tidak kuat untuk menanggungnya

hingga membuatnya tidak bisa merasakan apapun lagi

mati, apakah benar hatiku telah mati?

lalu apakah aku hidup sekarang tanpa hati?

bagaimana mungkin aku bisa hidup tanpa hati?

aku yakin

cepat atau lambat hati ini akan menyakiti  jiwa dan tubuhnya sendiri

TBC

Note: sedikit cerita, kejadian seperti ini pernah dialami teman aku, hanya saja ceritanya beda, tapi kasusnya sama ‘memendam perasaan yang terlalu dalam’ dan kata-kata dokternya juga seperti itu cuma ya ada aku edit sedikit.. hehee..

awalnya aku kira kejadian seperti itu cuma ada di film2, tp setelah melihat langsung akhirnya aku percaya kalau ‘cinta’ itu emnk bener2 ‘WOW’.. jadi jgan memendam cinta terlalu dalam ya..bahaya..kkk~

Thanks for reading

aku menunggu komen, kritik dan saran kalian.. J

LOVE

 

 

13 responses to “We Love Him – Part 3 [Sequel I Don’t Do That!]

  1. oh ayolah author —
    miris kali hidup si Jiyun ini -.-
    pertemukanlah dia dengan samwan _._ aku ndak mau Ryeon sm Donghae misah

  2. Ini uda ª̤Ќϋ tunggu2 “̮♡hϱ♡hϱ♡hϱ♡”̮ ​
    Kenapa ceritanya jd sedih banget gini sie (⌣́_⌣̀)

  3. Pingback: We Love Him – Part 4 [Sequel I Don’t Do That!] | FFindo·

  4. Pingback: We Love Him – Part 5 [Sequel I Don’t Do That!] | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s