Who’s the Next? (Chapter 7)

Who's the Next [3]

Title : Who’s the Next?

Author : Lathifah Sinarwulan a.k.a Summer Cho (@chosm96)

Main Casts : Jung Yunho, all EXO members

Other Casts : Lee Jinki, Shim Changmin, Yoon Sohee, Kim Yoojung

Genre : family, friendship, siblings, school live, some yaoi, AU

Rating : PG13~

Length : Series

Disclaimer : all casts isn’t mine, but I own the plot and the fanfic so both of them is mine! So, don’t post it in other site without my permission.

Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5 | Chapter 6 | Chapter 7

Sebelumnya aku mau curhat dulu~

Komen di chapter 6 agak mengecewakan jadi aku males balesinnya

Isinya pasti ga jauh dari kata, seru, lanjut, nice ff, seru, lanjut, nice ff, komennya ngga berisi sama sekali jadi bikin aku males nulis kkk~

Apa chapter itu yg terlalu mengecewakan ato emang kaliannya?

Jadi tolong ya kalo komen aku pengennya yg bener2 ngebahas isi dari ff tersebut ngga Cuma minta lanjut, aku juga butuh dukungan, kritik, dan saran J

Oke happy reading guys~

– Previous

“M–mianhae, Oh Sehun. Keundae, Ahjusshi harus pergi ke kantor mengurus pekerjaan Abeojimu bersama Chen.” Sehun mendengus lalu membuka pintu kamar Yunho dan masuk. Ia menunjukkan wajah kesalnya dan berjalan menuju ranjang Yunho.

“Hmm, uri Sehunie, wae geuraeyo?” tanya Yunho yang menyadari suasana hati Sehun yang buruk.

Sehun memposisikan dirinya duduk disebelah Yunho yang sedang bersandar pada tumpukan bantal. “Appa…”

“Waeyo?”

“Aku benci Luhan Hyung.”

# # # # #

Chapter 7 – Love Fool

“Sajangnim, waktunya makan malam.” Seorang pelayan berdiri didepan pintu kamar Jung Yunho.

“Jjamkkanman–aish! Ya!” Yunho terlalu serius melawan anak bungsunya, Oh Sehun dalam permainan tinju. Pelayan itu hanya menghela nafas melihat Tuan dan Tuan Mudanya nampak asyik dan tidak memedulikannya.

“Yeeeee, menaaang!” seru Sehun sembari membanting stik Play Station-nya. Yunho menghela nafas lalu menoleh ke arahnya. Akhirnya ia bisa membuat anak bungsunya itu tersenyum.

Setelah mencurahkan semua unek-uneknya pada Yunho, Sehun menjadi lebih tenang dan mengajak ayahnya itu bermain. Tentu saja, Yunho yang juga seorang gamer tidak akan melewatkan tawaran Sehun.

“Appa gomawo!” seru Sehun sebelum turun dari ranjang Yunho. “Ayo makan, Appa.”

Setelah membereskan kamar Yunho dibantu sang pelayan. Sehun mendorong kursi roda Yunho ke ruang makan. Disana, anak-anaknya sudah menunggu. Namun, beberapa kursi terlihat kosong. Kursi Yunho, Sehun, Luhan, Kai, dan Baekhyun.

“Kenapa belum lengkap?” tanya Yunho sembari memandang sekeliling. Namun, tidak ada yang menjawabnya.

“Luhan Hyung pasti belum pulang.” Seru Sehun dengan nada ketus.

“Kai mengurung diri dikamar sejak siang tadi.” Ujar Chen dengan wajah khawatir. “Sepertinya dia tidak enak badan.”

“Keundae, Baekhyun eodi?” tanya Chanyeol cemas. Tadi siang dia masih ada, tapi menjelang sore aku tidak melihatnya lagi.

Kris mengambil ponselnya yang ia letakkan dimeja lalu menekan sebuah nomor, nomor Baekhyun. Iapun menempelkan ponselnya ke telinga. Namun, tidak ada jawaban.

“Ponselnya aktif tapi dia tidak menjawabnya.”

“Ahjumma, bisa kau carikan Baekhyun untukku?” tanya Suho pada pelayan pribadinya. Ahjumma itu mengangguk lalu pergi dari ruang makan.

“Baiklah. Ayo kita makan duluan sambil menunggu Baekhyun. Ah, Ahjumma tolong bawakan makan malam ke kamar Kai.” Seru Yunho. Mereka pun memulai makan malam mereka.

# # # # #

“Ne, Baekyunie. Aku menyukaimu…”

“M–MWO?! Haha, kau selalu pintar bercanda, Park Chanyeol! Hahaha!”

“Aku serius Byun Baekhyun! Tiap malam aku hampir gila memikirkan masalah ini!”

“Ah!”

BRUKK

Baekhyun terjatuh dari bangku kayu ke lantai kayu yang dingin. “Ahh, appo…” Baekhyun bangun dan mengusap-usap lengannya yang lecet akibat bergesekkan dengan lantai kayu.

Ia memandang sekelilingnya. Tidak terasa sudah malam. Ia sudah menghabiskan waktu berjam-jam dirumah pohon favorit Chen itu. Ia bangkit dan berjalan menuju sebuah kamar. Dulu, ia selalu tidur dikamar ini dengan Chanyeol, Kris, dan Sehun.

Lagi-lagi ia teringat Chanyeol.

Baru ia sadari ternyata perhatian-perhatian Chanyeol padanya begitu besar. Dan, kenapa ia baru menyadari ini semua sekarang? Kenapa ini sangat-sangat terlambat?

Malam yang sangat dingin di bulan Januari. Baekhyun berdiam diri dikamar seharian karena ia tidak tahan dengan hawa dingin yang berada disekitarnya. Ia membungkus dirinya dengan selimut dan menyalakan pemanas. Namun, itu semua belum cukup. Ia terus bersin-bersin sejak tadi.

Tok Tok Tok

CKLEK

“Baekhyunie, gwaenchana?” kepala Chanyeol menyembul dari balik pintu. Iapun masuk dan menghampiri Baekhyun yang berbaring dikasurnya.

“Angwaenchana….” Chanyeol meringis melihat keadaan Baekhyun yang begitu kacau. Rambut acak-acakkan, wajah pucat, hidung merah, dan tisu bertebaran dimana-mana.

“Sudah sepanas ini dan kau masih merasa kedinginan?” Chanyeol melepas sweater yang dikenakannya karena merasa panas. Baekhyun hanya mengangguk lemah.

“Aigoo, sini sini.” Chanyeol mendudukkan dirinya di atas kasur Baekhyun dan merengkuh tubuh mungil itu. Ia mendekap tubuh Baekhyun erat berusaha memberikan kehangatan untuknya.

Baekhyun yang terlalu lemah dan sakit tidak ambil pusing dengan tindakan Chanyeol dan memilih memejamkan mata.

Baekhyun bersin. Ia baru menyadari ternyata dirumah pohon itu hawanya sangat dingin. Ia naik ke kasur yang ada dikamar tersebut dan membungkus dirinya dengan selimut. Tapi, itu tidak cukup. Sialnya, tidak ada pemanas ruangan dirumah pohon ini.

Baekhyun terlalu malas untuk bangun dan melangkahkan kakinya menuju rumah yang lebih hangat. Ia diam membeku. Giginya beradu. Tanpa disadarinya, tubuhnya menggigil. Ia merapatkan selimutnya.

Disaat seperti ini ia baru menyadari ia sangat membutuhkan pria itu.

“Chanyeol-a…”

# # # # #

Tok Tok Tok

“Masuk.”

Seorang pelayan masuk dengan sebuah nampan ditangannya. Pelayan itu meletakkannya dimeja belajar Kai lalu membungkuk hormat dan pergi.

Kai menghela nafas memandang makan malamnya yang ada dimeja. Ia terlalu malas untuk bergerak dari kasur. Ia meraih ponselnya disamping jam weker dan menekan sebuah nomor, nomor Yoon Sohee.

“Yeoboseyo!”

“Noona, eodiya?”

“Aku sedang diluar, Kai-ya, waeyo?”

“Dengan Luhan Hyung?”

“Ne. Bagaimana kau bisa tau?”

“Tentu saja. Kami kan se rumah, Noona.”

“Haha, arra. Ada apa meneleponku?”

“Hmm, hanya ingin mendengar suaramu.”

“M–mwoya… Aku tidak ada waktu untuk itu, huh. Ah, kututup dulu ya, kita mau naik jet coaster. Annyeong!”

“Ah ne–“

PIP

Kai menjauhkan ponselnya dari telinga sembari menghela nafas berat. Sohee bahkan terlalu sibuk dengan Luhan untuk menerima panggilannya. Menyebalkan.

Tiba-tiba Kai bangkit dan membanting ponselnya ke lantai hingga hancur berkeping-keping. Nafasnya memburu menahan emosi. Matanya terpaku pada sebuah figura didinding kamarnya yang memajang fotonya dengan Luhan. Matanya tertuju pada potret pria cantik tersebut.

“Yoon Sohee naekkeoya… hhh hhh.”

# # # # #

Jam dinding menunjukkan pukul 9 malam. Beberapa orang sudah menghabiskan waktunya dikamar, kecuali Chen dan Xiumin yang sedang menonton pertandingan sepak bola di televisi dan Chanyeol yang mondar-mandir dibelakang mereka.

Berkali-kali Chanyeol menghubungi ponsel Baekhyun, namun tetap tidak ada jawaban. Sebenarnya kemana pria mungil itu pergi?

“Baekhyun belum kembali?” tanya Lay yang sedang menuruni tangga. Chanyeol menoleh ke arahnya lalu mengangguk. “Kemana dia sebenarnya?” Lay berjalan menuju pantry didapur lalu menuangkan air ke sebuah gelas dan meminumnya.

“Kau sudah mengeceknya ke kamar?” tanya Suho yang baru keluar dari perpustakaan. Chanyeol mengangguk.

“Sudah berkali-kali aku mengecek ke kamarnya, dia tetap tidak ada.” Jawab Chanyeol sembari menghempaskan tubuhnya ke sofa yang berada didepan televisi.

“Nanti kalau dia sudah kembali, beritahu dia kalau besok adalah gilirannya bekerja.” Seru Suho sebelum menaiki tangga menuju kamarnya. Lay pun berjalan mengikutinya dari belakang. Chanyeol hanya menghela nafas.

“Tidak ada tempat lain yang biasanya Baekhyun datangi kecuali kamarnya, perpustakaan, ruang musik, dan taman belakang, bukan?” tanya Chen memastikan. “Kau sudah memeriksa semuanya?”

“Sudah. Bahkan, tempat-tempat rahasia yang kalian tidak tahu pun aku sudah memeriksanya.”

“Hmm, kalau aku yang menghilang sepertinya, kalian akan mudah menemukanku.”

“Tentu saja. Kau pasti akan berdiam diri di rumah pohon, kan?” sahut Xiumin sembari merebut snack dari tangan Chen. Mereka hanya terkekeh.

Tiba-tiba Chanyeol bangkit dan berjalan menuju halaman belakang. Lebih tepatnya menuju rumah pohon tua itu. Terlihat gelap dari luar. Chanyeol jadi tidak yakin ada Baekhyun disana. Karena pria itu tidak suka gelap dan dingin.

Namun, Chanyeol memutuskan untuk tetap kesana. Ia menaiki tangga kayu menuju rumah pohon dan membuka pintu rumah tersebut. Gelap. Iapun menyalakan lampu.

“Baekhyun-a?” panggil Chanyeol. Tidak ada jawaban. Sepertinya orang yang dicarinya itu tidak disana.

Chanyeol baru saja akan menutup pintu ketika ia mendengar deru nafas seseorang. Ia menoleh, menoleh ke arah sebuah kamar. Tanpa banyak pikir, Chanyeol bergegas memasuki ruangan itu. Dan benar saja. Baekhyun tengah meringkuk diatas kasur kecil itu dengan selembar selimut tipis yang membungkusnya.

“Baekhyun!” Chanyeol menghampiri pria mungil itu dan langsung mengangkatnya. “Ya! Gwaenchana?!”

Pria itu membuka mata dan tersenyum ketika melihat Chanyeol. Wajahnya begitu pucat dan ia menggigil. “Chanyeol-a…”

“Jamkkanman, aku panggil yang lain!” Chanyeol merogoh sakunya dan mengeluarkan ponsel.

“Chanyeol-a… Mianhae…” gumam Baekhyun membuat pergerakan Chanyeol terhenti. Mata Baekhyun terpejam tak sadarkan diri.

“Baekhyun-a, bertahanlah sebentar. Kajja.” Chanyeol menaikkan Baekhyun ke punggungnya dan menggendongnya keluar.

“Byun Baekhyun!”

“Apa yang terjadi?!”

Chen dan Xiumin langsung panik ketika Chanyeol datang dengan menggendong Baekhyun. Chanyeol langsung merebahkan tubuh Baekhyun disofa dan memanggil beberapa pelayan. “Tolong selimut tebal dan kompres. Obat dan makanan juga.”

Karena teriakan Chen dan Xiumin, beberapa orang dilantai atas pun keluar dari kamarnya. Lay, Suho, Kai, dan Tao, satu persatu turun menuju ruang tengah.

“Baekhyun Hyung gwaenchana?”

“Kau menemukannya dimana?”

“Aigoo, ppali Ahjumma. Dia menggigil!”

“Apa yang terjadi?” Kai hanya memandang mereka kebingungan. Pasalnya, ia tidak tahu kalau tadi Baekhyun menghilang.

“Tadi dia dirumah pohon… Aigoo, tangannya dingin sekali.”

“Tolong telepon Kim Uisa kemari, Ahjumma.” Pinta Lay. Seorang pelayan mengangguk lalu bergegas menelepon dokter.

Tidak lama kemudian Kim Uisa datang dan memeriksa Baekhyun. “Bagaimana keadaannya, Uisa?” tanya Suho.

Kim Uisa menghela nafas lalu menjawab, “hipotermianya kambuh, Suho-ssi. Aku akan memberikan resep obatnya, bisa kau ke apotek sekarang juga?” Kim Uisa membuka notesnya dan mulai menulis. Suho mengangguk.

Setelah memberikan resep obat, Kim Uisa pun pulang di antar Suho dan Lay yang akan pergi ke apotek.

“Baekhyunie, pasti sedang ada masalah, benar tidak?” gumam Kai yang duduk disamping Baekhyun. Pria mungil itu masih belum siuman. “Belakangan ini dia diam dan tidak sesemangat biasanya.”

Chanyeol hanya diam terduduk dilantai memandang wajah Baekhyun yang pucat dan damai. Ini adalah momen favorit Chanyeol, melihat Baekhyun yang tertidur seperti bayi dan kadang seperti anak anjing.

“Cepat sembuh, Baekhyunie…” gumam Chanyeol sembari mengusap kepala Baekhyun dan menaikkan selimutnya.

# # # # #

“Kamsahamnida, Ahjusshi!” Chen memberikan beberapa lembar uang pada sang supir taxi lalu turun dari taxi tersebut.

Ia kini tengah berada didepan gedung kantor SM Group. “Hahhh, ayo kita lihat apa yang bisa kulakukan disini. Fighting!” seru Chen menyemangati dirinya sendiri. Iapun melangkah masuk ke gedung tersebut menuju ruangan ayahnya berada.

“Lho? Apa yang kau lakukan disini, Chen-a?” Lee Jinki keheranan melihat Chen berkeliaran dikantor.

“Aku menggantikan Baekhyun hari ini. Dia sakit.”

“Ah, kalau begitu ayo masuk.” Jinki membukakan pintu ruangan Jung Yunho.

“Ah, siapa lagi ini?” mereka menoleh bersamaan ke sumber suara. Shim Changmin datang dengan senyum lebarnya.

“Annyeong haseyo.” Chen langsung membungkuk hormat. “Kim Jongdae imnida. Chen.”

“Ah, aku dengar banyak tentangmu! Kau ketua OSIS di sekolah kan? Reputasimu benar-benar bagus. Banyak yang membicarakanmu disini karena anak-anak mereka sekolah disana.” Seru Changmin. Wajah Chen semakin cerah.

“A jinjjayeo? Hahaha, aku tidak menyangka aku sepopuler itu!” sahut Chen dengan pembawaannya yang riang.

“Bagaimana kalau siang nanti kita makan bersama? Kau bersedia?” tawar Changmin.

“Tentu saja aku mau! Kamsahamnida, err…”

“Changmin, Shim Changmin.”

“Ah, ne.” Changmin pun pergi meninggalkan mereka.

“Ayo cepat masuk, Chen-a.” Ajak Jinki yang terus memerhatikan mereka sejak tadi. Mereka pun masuk dengan Jinki yang terus memandangi kepergian Changmin.

# # # # #

Baekhyun terbangun dengan kepala yang pening. “Aduh…” ia berusaha mendudukkan dirinya dikasurnya itu.

“Sejak kapan aku disini?” ia ingat sekali terakhir kali ia berada dirumah pohon.

Tok Tok Tok

Seorang pria jangkung masuk dengan membawa sebuah nampan. Baekhyun hanya memandang kedatangan pria itu dengan tenang.

“Pagi, Baekhyunie…” sapa pria itu sambil meletakkan nampan tersebut dimeja disamping ranjang.

“Pagi, Chanyeol-a.”

“Aku buatkan bubur untukmu, dimakan ya. Nanti minum obatnya juga.” Jelas Chanyeol singkat sembari membuka mangkuk bubur. Baekhyun hanya memandanginya.

“Memangnya aku kenapa?”

“Semalam hipotermiamu kambuh. Kau ketiduran dirumah pohon dengan cuaca seperti itu. Ini obat dari Kim Uisa jadi kau harus memakannya dengan teratur.” Chanyeol mendudukkan dirinya disisi ranjang dan memberikan mangkok bubur itu pada Baekhyun.

Baekhyun hanya memandang isi mangkuk itu dengan tatapan kosong membuat Chanyeol gemas. “Jangan membuatku khawatir, Byun Baekhyun… Tolong jangan menyiksa dirimu hanya karena ingin menghindar dariku.” Chanyeol meraih kedua tangan Baekhyun untuk menerima mangkuk bubur tersebut.

“Bukan begitu, Chanyeol-a…”

“Lalu apa? Kalau kau benar-benar tidak ingin melihatku lagi, aku bersedia pergi.” Chanyeol berdiri lalu berbalik. “Kau tahu? Aku kemarin ingin menghukum diriku sendiri kalau sampai terjadi apa-apa padamu. Aku benar-benar takut.” Pria jangkung itu menghela nafas. “Jadi tolong, izinkan aku untuk melindungimu.”

Baekhyun menatap kepergian Chanyeol dengan mata berkaca-kaca. Ia berusaha menahan rasanya yang bercampur aduk antara haru, sedih, takut, kesal, dan bahagia. Perlahan namun pasti, Baekhyun melahap bubur yang sudah susah payah dibuatkan oleh Chanyeol itu.

# # # # #

Yoon Sohee dikejutkan oleh keberadaan Kai didepan rumahnya pagi-pagi. “Kai-ya, apa yang kau lakukan disini?”

Kai mendongak. “Berangkat sekolah bersamamu.”

“Aigoo, kau tidak perlu repot-repot. Kajja! Nanti kita terlambat!” mereka pun berjalan beriringan menuju halte bus.

“Belakangan ini aku jarang ada waktu denganmu…” gumam Kai ditengah perjalanan. Sohee pun menoleh.

“Ah, jinjjayeo?”

“Ne, kau terlalu sibuk dengan Luhan Hyung.”

“M –mianhae, Kai-ya… Aku tidak bermaksud –“

“Gwaenchana! Lagipula sekarang kan kau berangkat bersamaku!” seru Kai dengan senyum yang dipaksakan. Iapun meraih tangan Sohee dan menggenggamnya. “Kajja!” ia menarik Sohee menuju halte bus yang ada didepan mereka.

Tanpa mereka sadari, tidak jauh dari mereka sebuah mobil yang familiar terparkir. Didalamnya Luhan tengah menggenggam stir dengan erat menahan kesal melihat Kai menggandeng tangan Sohee.

“Ige mwoya…”

Ia terus membuntuti bus yang dinaiki Kai dan Sohee sampai ke sekolah. Dan ketika mereka berjalan memasuki area sekolah, Luhan mengklakson dengan keras dan memacu mobilnya dengan kencang.

“Awas!” Kai langsung menarik Sohee yang secara tidak sengaja terjatuh ke pelukannya. Mereka terdiam beberapa saat lalu saling melepaskan diri. Kai tahu itu mobil Luhan yang biasa dinaikinya dan Sehun. “Gwaenchana?”

“Gwaenchana…” ujar Sohee sambil tersenyum, mereka pun berjalan masuk seperti biasa seperti tidak terjadi apapun.

# # # # #

Di jam istirahat, kesepuluh anak itu menghabiskan waktunya di basecamp. Chanyeol yang melempar bola basket berkali-kali ke ring tanpa semangat, Suho yang asyik membaca, D.O. yang menggambar disebelah Luhan pada sketchbook miliknya, Kris yang bermain game diponsel, Luhan yang menulis-nulis tidak jelas, Sehun yang tertidur disofa, Tao yang sedang mendengarkan ponsel, Lay dan Xiumin yang sedang bermain tenis meja, tunggu, dimana Kai?

“Hey, ada yang melihat Kai?” tanya D.O. tanpa menoleh dari sketchbooknya. Gerakan tangan Luhan yang menulis disebelahnya langsung terhenti.

“Sepertinya dia sedang makan siang, dengan siapa itu, yang dibawa Luhan Hyung waktu itu, aaah… Yoon Sohee!” seru Sehun dengan mata terpejam.

“Kukira dia kekasihmu, Luhan.” Celetuk Kris membuat Luhan menggenggam pulpennya erat.

“Hmm, dari hasil pengamatanku, sepertinya kalian memperebutkan Yoon Sohee ya?” tanya Suho sambil membalik halaman yang selesai dibacanya.

“Jinjjayeo?” Chanyeol langsung berbalik dan menatap Luhan.

“Tebakanku benar kan?” Luhan masih terdiam. “Hhh, kalau aku tidak ada waktu untuk seperti itu.”

“Apa yang kau tahu? Jangan sok pintar.” Seru Luhan dengan ketus. Iapun bangkit dan berlalu dari basecamp.

“Suho…” tegur Xiumin. Suho melirik ke arahnya.

“Wae? Aku mengatakan yang sebenarnya.” Balas Suho cuek lalu kembali membaca bukunya. Xiumin mendesah lalu kembali memainkan tenis meja bersama Lay.

Luhan melangkahkan kakinya ke arah kantin sekolah. Begitu sampai, ia langsung memandang sekeliling mencari seseorang. Ketika ia menemukannya, ia langsung menghampiri meja tersebut.

“Yoon Sohee.” Gadis itu terperajat akan kedatangan Luhan. Kai yang duduk berhadapan dengannya hanya menoleh dengan santai.

“L –Luhan Oppa… Waeyo?” tanya gadis itu gelagapan. Luhan hanya tersenyum sinis.

“Jadi ini? Kita belum apa-apa saja kau sudah berani bermain dibelakangku, bagaimana nanti?” Luhan berjalan meninggalkan Sohee dan Kai yang kebingungan akan perkataannya. Luhan berjalan keluar sekolah dan memacu mobilnya pulang. Ia muak melihat saudara dan orang yang disukainya itu bersama.

Sesampainya dirumah ia langsung masuk dan membanting pintu dengan kasar, membuat pelayan-pelayan dirumah terkejut. Ia berjalan naik menuju kamarnya dan membanting pintunya lagi.

Baekhyun yang berada dikamarnya terlihat penasaran. Iapun bangkit dan membuka pintu kamarnya. “Siapa tadi yang datang?” tanyanya pada salah satu pelayan yang lewat.

“Tuan Muda Luhan yang datang.” Baekhyun pun mengangguk dan berjalan menuju kamar Luhan yang berada disebelahnya. Ia membuka pintu kamar itu perlahan dan mengintip ke dalam. Terlihat Luhan berdiri didepan jendela dengan pandangan kosong dan tangan mengepal.

“Hyung, boleh aku masuk?” tanya Baekhyun hati-hati. Luhan pun tersadar dan menoleh.

“Ah, masuk saja. Kau sudah sembuh?” tanyanya sambil berjalan menuju ranjangnya. Baekhyun pun masuk dan menutup pintu. Ia melihat penampilan Luhan yang begitu kacau. Rambut berantakan, wajah yang unmood.

“Sudah. Keundae, apa yang terjadi, Hyung? Ini kan belum jam pulang.” Baekhyun mendudukkan dirinya disamping Luhan yang menunduk. Ia memandangi Hyungnya yang terlihat aneh itu.

“Hhh, Baekhyun-a… Hyung patah hati.” Luhan menghela nafas. Ia menyalakan ponselnya dan melihat wallpaper ponselnya. Foto Sohee dengannya. “Mau segiat apapun aku mendekati dia, Kai selalu ada dipikirannya.”

“Apa maksud Hyung?” tanya Baekhyun tidak mengerti.

“Apa kau tau? Tiap kita jalan-jalan, yang dibicarakannya hanya Kai, Kai, dan Kai. Aku muak mendengarnya.”

“Hyung…” Baekhyun menatap Luhan prihatin. Luhan tersenyum sedih.

“Padahal dia adalah yeoja pertama yang menarik perhatianku…”

Baekhyun menepuk-nepuk punggung Luhan. Ia belum pernah melihat Luhan sesedih ini kecuali pada saat Moon Ahjumma meninggalkan mereka.

Ia ingat dulu Luhan mengalah banyak untuk yang lain. Dan, dulu Luhan dan Kai sangat dekat. Mereka benar-benar akrab dan kadang membuat Sehun iri. Luhan sering mendahulukan Kai daripada dirinya. Namun, ketika mereka dewasa, balasan Kai adalah seperti ini.

“Hyung, mungkin dia bukan jodohmu…” ujar Baekhyun. “Himnae, Hyung…”

# # # # #

“Benar kau tidak mau bersama kami?” tanya Lay memastikan. Xiumin tersenyum.

“Duluan saja. Aku ingin pulang berjalan kaki.” Lay pun melambai ke arah Xiumin dan memacu mobilnya keluar area sekolah. Xiumin memilih berjalan pulang ke rumah sore itu. Udaranya begitu enak untuk berjalan kaki.

Ia keluar dari gerbang sekolah dan berjalan menuju minimarket, ia ingin membeli sekaleng soda rupanya. Setelah membeli, iapun kembali berjalan menuju tempat penyebrangan. Ia berdiri menunggu lampu lalu lintas berubah hijau.

Disebrang jalan, seorang gadis yang memakai mantel berwarna coklat muda juga nampak menunggu untuk menyebrang. Tanpa sadar, Xiumin memerhatikan gadis itu. Ditangan gadis itu ada sebuah tongkat panjang yang menyentuh lantai. Ah, orang buta rupanya. Pikir Xiumin.

Paras gadis itu manis. Rambutnya coklat bergelombang tergerai dengan rapih. Sepertinya ia murid sekolah. Ia memakai stocking karena udaranya cukup dingin.

Lampu pun berubah menjadi hijau. Xiumin pun mulai berjalan, gadis itupun juga. Ketika mereka berpapasan ditengah jalan, Xiumin terus memandang gadis itu sambil meminum sodanya. Yang ditatap hanya berjalan lurus dengan bantuan tongkatnya.

Xiumin sempat melirik nametag seragam gadis itu. Kim Yoojung. Hmm, tanpa sadar ia pun mengingatnya.

Ketika Xiumin sampai disebrang ia berbalik dan memandang gadis itu yang mulai menjauh. “Sampai bertemu lagi, Kim Yoojung.” Gumamnya sambil tersenyum tipis.

# To Be Continued #

Otte otte?? Jangan lupa komennya yang berisi ne ^^

Oh iya gimana poster baruku bagus ngga? Wkwk

Gomawo buat yg udah mau baca dan komen ^^

 

Advertisements

68 responses to “Who’s the Next? (Chapter 7)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s