Force Marriage – Part 2

Force-Marriage

Author : Yanlu/@yanlu_arron

Main Cast : Xi Luhan, Chanra (OC), Henry, Im Yoona

Other Cast : find in the story

Genre : Marriage life, romance, life, sad

Rating : PG-15

Disclaimer : This story belongs to me. Cast only my imagination, Don’t try to plagiat

Sekilas previous

Chanra, gadis glamour dengan hobinya yang suka berbelanja dan menghamburkan uang untuk kebutuhan fashionnya. Hidup dengan seorang ayah yang punya bisnis restoran besar. Meskipun ayahnya orang yang punya banyak harta, ia tetap mendidik Chanra untuk tidak mengandalkan kekayaan yang ia miliki. Chanra ditugasi untuk bekerja dan mencari pendapatan sendiri. Seharusnya ia mencari kerja di luar sana tetapi karena gadis itu tidak pernah beres dalam urusan pekerjaan sehingga ia hanya dapat bertahan beberapa hari bekerja ditempat lain. Karena itu, Chanra diberi kesempatan oleh ayahnya bekerja di usaha restorannya sendiri. Ia menjadi karyawan part-time. Menyesuaikan jadwal kuliah.

Suatu saat, ia merasa kesal pada ayahnya. Timbul perasaan ingin diperhatikan, intinya ia membutuhkan sosok orang tua yang menyayanginya dan bisa menjadi tempat curhat. Sayangnya, ayahnya terlalu sibuk mengurus bisnis restorannya, cabangnya yang semakin meluas. Hal itu ia keluhkan pada Henry, koki restoran yang menjadi sahabat curhatnya.

Namun suatu hari, bisnis restoran yang berkembang itu tiba-tiba tumbang karena ayah Chanra jatuh sakit. Selain itu tanpa sepengetahuan Chanra, ayahnya mempunyai hutang besar kepada seorang rentenir. Hal itu semakin membuat usaha restorannya bangkrut dengan cepat. Kini mereka benar-benar hidup kekurangan. Rentenir itu juga mulai menagih hutangnya. Chanra benar-benar bingung, ia ingin marah pada ayahnya tapi tidak kuasa. Ayahnya sakit parah dan mengalami koma. Ia hampir putus asa dan mengakhiri hidup tapi ia urungkan niat tersebut.

Sampai sang rentenir datang dan benar-benar menjebaknya, ia bingung dan ketakutan. Rentenir itu mau menyudahi hutang dengan suatu syarat. Menikahi rentenir tua itu. Tentu saja Chanra menolaknya. Saat gadis itu dipaksa oleh rentenir itu, seorang lelaki bernama Luhan datang menolongnya.

“Gwenchana? hei… pria-pria itu tidak akan mengganggumu lagi, jadi tenanglah” ujar Luhan berusaha menenangkan Chanra tapi gadis itu sedari tadi hanya diam kaku dengan mata berair. Ia juga masih terlihat bergetar padahal ini sudah lewat beberapa menit dan jarak yang mereka tempuh sudah jauh. Luhan mulai bingung, akhirnya ia hanya melajukan mobilnya menuruti jalan.

“Kau tinggal dimana? Aku akan mengantarmu kesana”

Hening, masih tidak ada suara yang didengar oleh Luhan dari gadis itu. Karena hari sudah malam dan mereka sudah terlalu jauh akhirnya Luhan menghentikan mobilnya di pinggir jalan.

“Nona, apa kau tidak mau pulang? Rumahmu dimana? Aku harus mengantarmu kesana‒

Chanra menoleh menatap Luhan dengan tatapan memelas. Air matanya sudah kering tapi masih membekas dipipinya. Membuat Luhan was-was.

“Aku tidak mau pulang. Aku takut” kali ini Luhan berdecak sebal.

“Lalu kau mau kubiarkan disini? Aku benar-benar letih sekarang, ayo pulang. Aku akan mengantarmu”

Sekali lagi Chanra menatapnya dengan pandangan memelas dan takut. Luhan benar-benar bingung sekarang. Gadis itu tidak berani untuk pulang karena ia akan sendirian disana karena ayahnya sekarang sakit keras dan berada disana. Tidak ada yang bisa menolongnya kalau tiba-tiba pria-pria itu mendobrak rumahnya. Ia trauma akan kejadian tadi.

“Kalau begitu aku akan ikut denganmu. Kemanapun kau membawaku asalkan aku tidak pulang. A-aku ta-takut, jebal….” kini Chanra mengepalkan kedua tangannya seraya memohon pada Luhan. Namja itu seketika membulatkan matanya terkejut.

Shireo, aku tidak bi

Jebal, aku takut…mereka akan terus mengejarku sampai mendapatkan apa yang mereka mau” mohon Chanra. Posisinya yang sedang jongkok langsung berdiri mendekati Luhan yang kini hendak membuka pintu mobil.

Luhan semakin bingung, ia tidak mungkin meninggalkan gadis ini disini. Nalurinya menolak keras perbuatan tersebut. Sebagai namja ia tidak bisa membiarkan seorang gadis sendirian tengah malam dengan keadaan seperti itu. Namun ia juga merasa berat jika harus membawa gadis ini ke apartemennya.

Chanra mulai menangis lagi sembari berjongkok. Gadis itu sukses membuat Luhan frustasi. Tidak ada alternatif lain, akhirnya ia membolehkan gadis itu untuk ikut bersamanya.

“Kita akan ke apartemenku, malam ini kau menginap saja disana. Aku lelah sekali jadi jangan menyuruhku untuk terus berada diluar. Ini sudah terlalu malam”

“Nd-nde? Apartemenmu? Geure, asalkan tidak pulang” ujarnya dengan nada khawatir.

“Tenang saja, aku tidak akan macam-macam. Aku bukan pria seperti itu” celetuknya tiba-tiba, seperti tahu akan kekhawatiran gadis itu

Sesampainya di pintu apartement Chanra mematung, seperti menimbang sesuatu. Tapi kemudian ia masuk ke dalam apartement. Ruangan itu didominasi warna putih dan coklat pastel. Memasuki ruang pertama terdapat sofa besar yang terlihat empuk serta TV home theater . Sepertinya itu ruang tamu. Dilanjutkan ruang makan dan meja bar dekat dapur. Apartemen ini tergolong mewah. Meskipun kecil tapi tersusun dengan elegan.

“Oya, kamarmu ada disana. Kalau kau butuh bantuan ketuk saja pintuku. Kamarku ada diseberang sana”

Chanra memperhatikan dengan baik, ia mengangguk setelahnya lalu segera memasuki kamar yang ditunjuk Luhan.

Sejenak gadis itu menatap kamar itu dengan pandangan kagum. Meskipun ia hidup kaya tapi ruang kamarnya tidak semewah ini. Dekorasinya begitu elegant. Didepan tempat tidur ada jendela super besar yang menampakkan pemandangan kota Seoul. Kamar itu kecil tapi mewah, begitu pikirnya.

Chanra langsung merebahkan tubuhnya diatas kasur yang sudah pasti sangat empuk itu dan memejamkan matanya. Tapi tak lama kemudian bunyi perut mengganggunya. Membuat ia mau tidak mau harus bangun. Ia kelaparan karena tadi tidak sempat mampir ke supermarket karena kejadian menakutkan tadi. Kepalanya menggeleng pelan, mengingat hal itu lagi. Mendadak trauma.

“Akh…kenapa tidak ada makanan? Ck…haruskah aku membangunkan namja itu? Tidak…tidak sepertinya ia sangat capek, aku takut dia marah. Hm…lebih baik aku memasak mie instan saja” gumamnya, seraya menyiapkan panci untuk memasak.

Beberapa saat mie tersebut jadi. Chanra segera makan dengan lahap.

“Ukh…kenyangnya!” Ia menepuk perutnya lalu mengelap sudut bibirnya dengan tisu. Lalu mengedarkan pandangan sekali lagi ke sekeliling ruangan untuk melihat apartemen itu.

“Sepertinya namja itu sangat jorok, meja saja masih banyak piring dan gelas kotor, ck…” komentarnya. Matanya terus menelisik menyapu seluruh ruangan.

Saat menemukan sebuah lemari besar, matanya sontak melebar melihat beberapa piala dan piagam penghargaan yang sangat banyak. Piagam penghargaan yang mencantumkan tentang segudang prestasi yang lelaki itu dapatkan.

“Editor film termuda…mm…sepertinya namja itu keren juga dan sangat kaya” bisiknya seraya tersenyum lebar.

***

Pagi itu, suasana musim gugur sangat terasa. Luhan mendekap selimutnya dan tidak berharap bangun secepat biasanya setelah merasakan udara musim gugur yang menusuk kulit. Namun bau harum yang dirasakannya membuat ia akhirnya terbangun.

“Siapa yang memasak‒

Luhan menghentikan ucapannya begitu melihat masakan tersaji cukup banyak di meja pagi itu. Ia tercengang saat itu juga. Bagaimana mungkin mejanya penuh dengan makanan sedangkan…

Oh. Ia baru ingat, seorang gadis ada di apartemennya sekarang dan dia sedang tersenyum begitu manis disana seolah menunggunya. Manis? Oh, apa yang baru saja kau pikirkan Luhan

“Pagi um…aku menyiapkan makanan untukmu. Kemarilah, duduk disini”

Chanra menunjuk kursi yang ada dihadapannya. Luhan masih mematung di tempat karena terlalu syok. Namun beberapa detik kemudian ia duduk.

“Kenapa kau menyiapkan semua ini?” ujarnya dengan nada sedikit sinis.

“Aku hanya merasa perlu berterima kasih padamu” sahutnya, masih tersenyum lebar. Membuat Luhan akhirnya diam dan pasrah saja. Ia merasa tidak yakin dengan masakan yang dibuat gadis itu tapi baunya yang harum setidaknya sedikit meyakinkan.

“Baiklah,  aku tidak akan keracunan karena makan ini kan?”

“Tentu saja tidak! Memangnya aku orang jahat?” sahutnya seraya mengerucutkan bibirnya.

Luhan mulai membalikkan piringnya lalu mengambil nasi tapi begitu selesai ia malah menyerahkan piring berisi nasi itu pada Chanra. Sontak gadis itu mengerutkan dahi bingung. Ia menatap Luhan dengan pandangan bertanya yang kini sedang menyilangkan kedua tangan di depan dada.

“Sebelum aku mencicipi masakanmu, kau lebih dulu harus mencobanya”

“Mwo?! Memangnya kenapa?” tanya Chanra, bingung. Tapi akhirnya gadis itu menurut saja dan makan sebelum Luhan mencicipinya. Benar saja, setelah itu Luhan segera mengambil makanan-makanan yang tersaji di meja lalu mencium baunya sebelum mengambil dan merasakan masakan itu dilidahnya.

Tidak buruk, gadis ini punya bakat juga, pikir Luhan. Tanpa sadar, ia sudah menghabiskan setengah dari makanan yang tersaji. Terlihat dari meja yang mulai bersih dari makanan. Chanra sampai tersenyum begitu lebar karena merasa senang. Berarti ia berhasil memasak dengan baik.

“Ngomong-ngomong, kenapa kartu kreditmu kosong? Kau sengaja menipuku ya?” ujar Luhan, membuat Chanra tersedak dan akhirnya batuk. Tawanya yang sempat mengembang langsung memudar. Ia berusaha menghindari tatap muka dengan Luhan. Meskipun namja itu sedang tidak menatapnya tajam.

“It..itu…aku tidak tahu. Kukira kartu kreditnya masih terisi” dustanya, ia sengaja menyibukkan diri dengan berpura-pura makan. Padahal ia gugup setengah mati terhadap topik pembicaraan yang satu ini. Ia terus merutuki ingatan Luhan yang sangat baik.

“Begitu ya? Kalau begitu kapan kau akan membayar uang ganti rugi itu?” kali ini pertanyaan Luhan tepat sasaran dan mampu menghentikan gadis itu untuk makan. Chanra mendadak malas makan. Ia kembali terpikirkan masalah hutang ayahnya yang sangat besar.

Chanra menghela nafas. “Akan ku ganti kapan-kapan, tapi tidak sekarang. Aku tidak punya uang” sahutnya, memilih menyembunyikan masalahnya. Ia tidak mau orang lain tahu masalah dirinya, terlebih orang asing yang baru ditemuinya ini.

Jam menunjukkan pukul 9 pagi, mata Luhan membulat begitu melihatnya. Ia langsung menenggak susu yang berada di meja tanpa memperhatikan. Chanra hampir saja berteriak tapi tertahan begitu Luhan menenggak habis susu tersebut. Ia menggigit bibirnya sendiri begitu punggung Luhan terlihat menjauh.

“Pabo! Kenapa kau meminum yoghurt itu!” gumam Chanra, sembari memukul meja lirih.

Begitu berada di kantor, Luhan langsung berhadapan dengan direktur. Ia menyesal bangun terlambat dan inilah akibat yang harus ditanggungnya. Direktur perusahaan mengomelinya sepanjang dua puluh menit tanpa henti. Sialnya, perut namja itu mendadak sakit. Peluh keringat sampai membasahi pelipisnya karena menahan sesuatu dalam perutnya. Sepertinya ia akan melakukan pembuangan ‘wajib’ dan ia tak tahan menahannya lebih lama lagi. Secepatnya ia harus mengalihkan perhatian direktur itu dan kabur dari sana. Ia yakin direktur itu tidak akan berhenti mengomel sebelum setengah jam.

Sajangnim! Ada yang memanggilmu, itu…dibelakang…

“Mana?…Yak! Luhan, aku belum selesai berbicara! Main kabur saja…kembali kesini, yak!” teriak direktur itu saat sosok Luhan menghilang begitu saja dari hadapannya. Berusaha kabur darinya.

“Huh…kalau tidak begitu, kapan ia berhenti bicara?! AKHH!! Kenapa tiba-tiba perutku mulas ya?” gumam Luhan. Ia tidak tahan dan akhirnya masuk ke toilet.

Aku makan apa ya? Kenapa jadi ingin buang kotoran? Jangan-jangan…masakan Chanra benar-benar beracun. Aish…gadis itu! Tidak tahu terima kasih sekali!

Luhan tidak sempat menggerutu lama dalam hati karena ia harus menahan kotorannya yang memaksa ingin keluar kembali saat ia baru saja duduk manis di kursi kantor. Pegawai-pegawai yang lain sampai memperhatikan tingkahnya yang mungkin terlihat aneh bagi mereka.

“Hei, man! Kau sakit? Wajahmu pucat sekali” ujar Xiumin saat ia melihat wajah pucat Luhan. Ia menyentuhkan telapak tangannya pada kening namja itu dan langsung ditepis lemah olehnya.

“Entahlah, perutku rasanya seperti dikocok. Berkali-kali ke toilet tapi rasanya sama saja. Perutku masih saja ingin mengeluarkan semuanya” ungkap, Luhan. Suaranya terdengar lemah karena tenaganya benar-benar terkuras habis  sekarang.

“Oya, jam sebelas nanti ada meeting klien. Apa kau berniat ikut dengan keadaanmu yang lemah seperti itu?” tanyanya. Luhan mengerutkan dahinya dan terlihat masih sengal-sengal mengatur nafasnya.

“Ah ya! Meeting itu sangat penting, aku harus hadir nanti. Semoga perutku berhenti mulas nanti”

Pada kenyataannya dalam meeting itu, Luhan memaksakan diri untuk ikut. Menyebabkan ia kurang konsentrasi mengikutinya. Pikirannya kembali tertuju pada kejadian tadi pagi. Mengecap Chanra sebagai pelakunya. Gadis itu benar-benar berniat membuat masalah padanya dan ia akan segera membereskan masalah itu dengan mengusirnya keluar.

***

“Cha! Bersih semua!”

Chanra berhasil membersihkan seluruh ruangan di apartement Luhan kecuali kamar namja itu. Ia takut dianggap kurang ajar karena kamar adalah ruang pribadi apalagi itu kamar seorang lelaki. Ia tidak berani masuk begitu saja.

Ruang TV yang tadinya terlihat kumuh. Penuh dengan sisa jajanan snack serta cangkir kopi yang sepertinya sudah lama berada disana kini berubah 180 derajat menjadi bersih dan rapi. Gadis itu sangat bisa diandalkan dalam hal bersih-bersih. Padahal ini kali pertama Chanra melakukan hal semacam ini. Biasanya ia menggunakan pembantu dirumah. Sekarang ia harus melakukan itu dengan suatu tujuan tentunya.

Namun sepertinya ia kecapekan. Badannya merosot dilantai depan TV karena pekerjaan bersih-bersih ternyata menguras tenaga. Ia baru merasakannya sekarang dan ia menyesal tidak pernah belajar ataupun memperhatikan pembantunya jika sedang bersih-bersih.

BRAK!…

Pintu apartement terbuka dengan cukup keras, mengejutkan Chanra yang sedang bersender di dekat sofa. Sebelah alisnya terangkat begitu mendapati raut tidak menyenangkan Luhan. Tatapan matanya menusuk tajam. Sepertinya sebentar lagi ia akan meledak karena marah.

Chanra mulai menahan nafas begitu Luhan sampai dihadapannya dengan pandangan yang begitu sarat benci. Namja itu benar-benar kesal dengannya. Ia menarik Chanra yang sedang duduk lemas dilantai tanpa menghiraukan keadaan gadis itu yang tampaknya kewalahan untuk melawan Luhan. Membiarkan Luhan menuntunnya sampai ke depan pintu.

Chanra panik setelah tahu maksud Luhan menariknya tadi. Ia akan diusir.

Chankaman! Chankamannyo! Apa kau akan mengusirku?”

“Seharusnya kau tahu itu. Aku hanya mengijinkanmu tinggal semalam dan sekarang sudah hampir malam lagi. Jadi, tidak ada alasan lagi untukmu tinggal disini lebih lama” terang Luhan.

Chanra membelalakkan matanya, ia mulai panik. Otaknya mulai berpikir cepat untuk mencari-cari alasan lain.

“Mmm…ku-kupikir akan beresiko kalau kau menyuruhku pulang sekarang karena malam hampir tiba. A-aku takut kejadian waktu itu terulang lagi. Aku trauma”

“Sebenarnya kau itu kenapa?! Apa kau tidak punya tempat tinggal, huh?!” sentaknya, mulai emosi. Chanra mau tidak mau harus menunduk dan menghindari tatapan matanya. Namja itu sudah habis kesabarannya mendengar permintaan dan alasan Chanra.

Sejenak Chanra tak bergeming sama sekali dari tempatnya, membuat Luhan jengkel dan akhirnya sedikit mendorong bahu gadis itu sebagai tanda mengusir. Tiba-tiba Chanra bersimpuh dihadapan lelaki itu. Menyebabkan ia mematung di tempat, tak tahu harus bagaimana.

“Apa aku harus percaya begitu saja setelah kau membohongiku waktu itu, hm? Kurasa kau paham itu, Aku tidak akan tertipu lagi, jadi cepat keluarlah!!” bentak Luhan, sinis.

Saat Luhan akan menutup pintu, Chanra menahannya dengan sekuat tenaga. Ia tidak siap untuk diusir sekarang. Jujur ia masih takut. Terlebih rentenir itu punya anak buah yang sangat banyak. Mereka ada dimana-mana. Bisa saja ia diculik atau dipaksa seperti kemarin.

Brak!

Pintu menutup dengan sempurna tanpa sedikitpun memberi celah untuk Chanra. Kekuatannya tidak sebanding dengan seorang lelaki. Akhirnya ia memilih duduk didepan pintu apartement. Tidak peduli dengan tatapan aneh dan remeh dari orang-orang yang lewat. Ia cuek saja dan tetap menunggu disana sampai larut malam.  Menunggu kelunakan hati Luhan. Seperti dalam cerita-cerita novel. Seorang gadis yang terus bersikeras menunggu didepan tempat tinggal seorang namja pasti tak lama kemudian namja itu akan mengalah dan akhirnya membiarkannya masuk. Ia pikir akan seperti itu.

Tetapi kenyataan adalah kenyataan. Sampai jam menunjukkan pukul dua belas malam Luhan tidak juga keluar. Membuat Chanra kesal setengah mati. Matanya mulai terasa berat. Berkali-kali kepalanya tertunduk lalu mendongak kembali untuk menahan kantuknya. Namun sekuat apapun Chanra mencoba menahannya akhirnya ia tertidur juga dengan posisi duduk.

***

Suara ketikan pada notebook masih terdengar. Padahal jam menunjukkan pukul satu pagi. Jemari-jemari lentiknya sangat lincah mengetik sederet huruf pada keyboard . Menggelitik malam yang sunyi.

Luhan sesekali merilekskan tengkuknya yang tegang karena berhadapan dengan notebook. Padahal beberapa kali matanya terpejam. Sampai akhirnya ia memutuskan untuk menyejukkan pandangannya, keluar menuju balkon. Warna warni lampu jalan dari lantai delapan begitu mempesona. Jalan raya masih ramai oleh lalu lalang kendaraan, khas ibukota.

Perlahan-lahan kantuknya hilang setelah menikmati panorama itu. Ia menghembuskan nafasnya panjang sebelum kembali.

Tiba-tiba ia menghentikan langkahnya. Hawa kantuk masih menyergapi, ia butuh minuman panas untuk menahannya. Karena seharian  tidak merebus air, akhirnya ia terpaksa keluar. Namun begitu pintu terbuka, kakinya terasa berat saat kepala seseorang jatuh menimpanya. Ia sampai berjengit kaget karena tiba-tiba ada seseorang di depan pintu selarut ini.

Penasaran, ia mendekat dan betapa terkejutnya Luhan mendapati wajah tertidur Chanra. Gadis itu ternyata berada didepan pintu apartemennya sedari tadi.

Ck…gadis ini keras kepala sekali!  Aish, apakah aku harus membawanya kedalam?!

Luhan menatap gadis itu dengan kesal dan enggan.

~To be Continue~

Waaaa…..setelah sekian lama mendekam dalam kamar, bersama tugas-tugas yang menggila selama kuliah akhirnya author comeback T.T I miss u my beloved reader, mian ya *puingpuing #jangantimpuksaya. >.<
Oya rencananya cerita yang temperament cool boy bakal dilanjutin tapi sama author lain, jadi sabar menunggu ya #emangadayangnunggu? *hikseu TT

Author juga mau minta maaf, sepertinya tahun-tahun kedepan author bakalan sibuk, kemungkinan mengepost ff sangat jarang, atau ngeposnya sekalian kalau udah numpuk beberapa part jadi kalau reader nggak sabar buka aja blog pribadiku, tapi tetep harus komen ya 🙂

45 responses to “Force Marriage – Part 2

  1. Chanra kasian bnget…
    Luhan tega ngusir chanra, malah baru bersih2 lagii chanra pasti capek bnget..
    Lagian chanra kan cewe’ masa tega sihh liat dia tidur d’luar….

    Ceritanya tambah seru;)
    daebakk, daebakk….

  2. Aigoo aku baru nemu ini ff di chap 4 jd aku cari ternyata ini di post taun lalu .. Hhehhee
    Aku tadinya coment di wp nya author tp aku buka disini jd pindah hehhehwe
    Bagus thor , lanjut yah :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s